Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6
bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di atas 38oC,
dengan metode pengukuran suhu apa pun) yang tidak disebabkan oleh proses
intrakranial. Kejang yang dimaksud adalah kejang yang terjadi karena kenaikan
suhu tubuh, bukan karena gangguan elektrolit atau metabolik lainnya. Bila ada
riwayat kejang tanpa demam sebelumnya maka tidak disebut sebagai kejang
demam.1 Anak berumur antara 1-6 bulan, masih dapat mengalami kejang demam,
namun jarang sekali. Bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam
rekomendasi ini, namun termasuk dalam kategori kejang neonatus.2 Insidensi
kejang demam terjadi pada 2-5% anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun.3
Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih
sering (biasanya 3 kali atau lebih) dalam 1 hari. Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokkan dalam 6 golongan besar, yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri,
virus, atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi, dan
sebab-sebab lainnya. Penyebab yang paling sering ditemukan adalah infeksi dan
keracunan. Jenis diare ada dua, yaitu diare akut dan diare persisten atau diare
kronik. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sementara
diare persisten atau diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.4
Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari
tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR
penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk,
tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000
penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR
yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah
kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di
24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR
1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah
penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %).5
Diagnosis klinis diare dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang. Diare akut, ditandai dengan buang air besar dengan
konsistensi cair yang berlangsung 3 kali atau lebih dalam sehari, yang kejadiannya
tidak lebih dari 14 hari. Pada pemeriksaan fisik bisa ditemukan anak dengan tanda
dehidrasi, adanya ekskoriasi anus.4 Pada pemeriksaan penunjang, dapat dilakukan
feses rutin, untuk mengetahui salah satu penyebab dari diare tersebut.6

1
Pada tulisan ini akan disajikan kasus “Seorang Anak Perempuan 13 Bulan
dengan Kejang Demam Simpleks, Diare Akut Tanpa Tanda Dehidrasi dan
Observasi Vomitus dengan Gizi Baik Perawakan Normal” yang mendapatkan
perawatan rawat inap di bangsal anak C1L1 RSUP Dr. Kariadi Semarang.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui cara
mendiagnosis dan mengelola pasien secara komprehensif dan holistik berdasarkan
data yang diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
serta kepustakaan serta mengetahui prognosis penyakit pasien.

1.3 Manfaat
Penulisan laporan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media belajar agar
dapat mendiagnosis dan mengelola pasien dengan tepat dan komprehensif, serta
mengetahui prognosis penyakit.

2
BAB II
PENYAJIAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. MSAP
Umur : 1 tahun, 1 bulan ( 11 November 2016)
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Ngadirgo 3/1 Mijen, Semarang Jawa Tengah
Agama : Islam
No. CM : C667xxx
Bangsal : CI L1
Tanggal Masuk : 4 Desember 2017
Tanggal Keluar : 15 Desember 2017

IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ibu : Ny. U
Umur : 35 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SD
Nama Ayah : Tn. M
Umur : 27 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMP

B. DATA DASAR
1. ANAMNESIS
Anamnesis
Dilakukan alloanamnesis dengan orang tua penderita di Bangsal Anak C I L1
RSDK, tanggal 12 Desember 2017 pukul 07.30 WIB.
a. Keluhan Utama: Kejang

b. Riwayat Penyakit Sekarang


1 hari SMRS pasien mengalami demam (+), menggigil (+), suhu tidak
diukur dan belum diberi obat apapun, pasien dikeluhkan lemas (+), batuk (-),
pilek (-), muntah (-), kejang (-), bintik merah pada kulit (-), gusi berdarah (-),
ruam pada tubuh (-), BAB dan BAK baik.
6 jam SMRS pasien mengalami kejang berupa seluruh tubuh, kaku (+),
mata melirik ke atas (+), kejang kurang dari 5 menit, sebelum dan setelah kejang
anak sadar, kejang tidak berulang dalam 24 jam, kejang berhenti tanpa pemutus
kejang, saat kejang anak masih dalam keadaan demam, suhu tidak diukur.

3
Kemudian pasien dibawa ke Puskesmas Mijen dan disana diberi obat penurun
panas, kemudian pasien dirujuk ke RS Tugu. Di RS Tugu, pasien berikan anti
kejang lewat dubur dan puyer. Pasien direncanakan mondok, namun karena
tempat di RS Tugu penuh, pasien dirujuk ke RSDK.
Saat hari permeriksaan (HP 9), pasien tidak mengalami kejang dan tidak
demam. Sejak tadi pagi, pasien dikeluhkan muntah-muntah sebanyak 6 kali. Isi
muntahan menyerupai bubur seperti apa yang dimakan. Lendir (-) darah (-).
BAB cair (+), kekuningan, lendir (+), nyemprot (+), ampas (-), darah (-),
sebanyak 9x sedikit-sedikit. Batuk (-), pilek (-). BAK normal. Makan dan
minum baik.

c. Riwayat penyakit dahulu :


 Riwayat kejang disertai demam disangkal
 Riwayat kejang tanpa demam sebelumnya disangkal.
 Riwayat trauma kepala sebelumnya disangkal.
 Riwayat asma disangkal, alergi disangkal.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat kejang disertai demam (+) kakak pasien
 Riwayat kejang tanpa demam pada keluarga, disangkal

Kakak pasien Pasien

Keterangan:
 Kakak pasien mengalami kejang demam saat usianya 1 tahun,
sekarang usia kakak pasien 5 tahun
 Pasien mengalami kejang demam saat usianya 13 bulan
e. Riwayat Sosial Ekonomi

4
Ayah bekerja sebagai wiraswasta, Ibu tidak bekerja. Penghasilan ± Rp
500.000-1.000.000/bulan. Menanggung 2 orang anak yang belum mandiri, 2
anak belum bersekolah.
Pembiayaan pengobatan menggunakan BPJS non PBI.

Kriteria Sosial Ekonomi menurut BPS (Badan Pusat Statistik)7


Jumlah anggota keluarga (4)
1. Luas lantai bangunan :
a. < 8 m2 per kapita
b. > 8 m2 per kapita (skor : 1)
2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terluas :
a. Bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa diplester
b. Semen/ keramik/ kayu berkualitas tinggi (skor : 0)
3. Jenis dinding bangunan tempat tinggal terluas :
a. Bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah
b. Tembok/ kayu berkualitas tinggi (skor : 0)
4. Fasilitas untuk buang air besar :
a. Bersama/ umum/ lainnya
b. Sendiri (skor : 0)
5. Sumber air minum :
a. Sumur atau mata air tak terlindungi/ sungai/ air hujan
b. Air kemasan/ledeng/pompa/sumur atau mata air terlindungi (skor : 0)
6. Sumber penerangan utama :
a. Bukan listrik
b. Listrik (PLN/non PLN) (skor : 0)
7. Jenis bahan bakar untuk memasak sehari-hari :
a. Kayu/ arang/ minyak tanah
b. Gas/ listrik (skor: 0)
8. Berapa kali dalam seminggu rumah tangga membeli daging/ susu/ ayam :
a. Tidak pernah membeli/ satu kali (skor : 1)
b. Dua kali atau lebih
9. Berapa kali sehari biasanya rumah tangga makan :
a. Satu kali/ dua kali (skor : 1)
b. Tiga kali atau lebih
10. Berapa stel pakaian baru dalam setahun biasanya dibeli oleh/ untuk setiap/
sebagian besar anggota keluarga :
a. Tidak pernah membeli/ satu kali (skor : 0)
b. Lebih dari satu kali
11. Apabila ada anggota keluarga yang sakit apakah mampu berobat ke
Puskesmas atau Poliklinik :

5
a. Ya (skor : 0)
b. Tidak
12. Lapangan pekerjaan utama kepala rumah tangga :
a. Tidak bekerja/ pertanian padi/ palawija
b. Perkebunan/ peternakan/ perikanan/ industri/ perdagangan/ angkutan/
jasa lainnya (skor : 0)
13. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan kepala keluarga :
a. SD/ MI ke bawah/ SLTP
b. SLTA ke atas (skor : 1)
14. Apakah keluarga memiliki barang-barang berikut yang masing-masing
bernilai paling sedikit Rp 500.000,- :
a. Tidak ada
b. Tabungan/emas/TV berwarna/ternak/sepeda motor (skor : 0)

Jumlah skor : 4
Kriteria BPS: Jumlah skor <9 = tidak miskin, jumlah skor ≥ 9 = miskin. Keluarga
ini termasuk dalam keluarga tidak miskin menurut kriteria BPS.7
Kesimpulan : Keluarga tidak miskin menurut BPS.

f. Riwayat pemeliharaan prenatal


Pemeliharaan prenatal (ANC) di bidan 4x. Selama hamil ibu penderita tidak
sakit, tidak pernah minum jamu. Minum vitamin dan tablet tambah darah yang
diberikan bidan saat usia kehamilan 38 minggu, tidak pernah mengonsumsi obat
diluar resep dokter.

g. Riwayat kelahiran
No Kehamilan dan Persalinan Usia sekarang
Perempuan, aterm, lahir spontan ditolong bidan,
1. BBL 3000 gram, PBL 47 cm, lahir langsung 13 bulan
menangis, kuning (-), biru (-)

Bayi perempuan lahir dari ibu G2P1A0, usia saat melahirkan 34 tahun,
spontan, ditolong bidan, trauma dalam kehamilan disangkal, infeksi selama
kehamilan disangkal, riwayat tekanan darah tinggi selama kehamilan disangkal,
riwayat kejang selama kehamilan disangkal, riwayat ketuban pecah dini disangkal,
riwayat minum jamu-jamuan disangkal, riwayat demam tinggi disangkal, riwayat
foto rontgen selama hamil disangkal.

6
h. Riwayat Pemeliharaan Postnatal
Anak dipantau pertumbuhannya di Posyandu yang diadakan setiap bulan di
RW setempat. Anak dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan imunisasi, anak
dalam keadaan sehat.

i. Riwayat kontrasepsi
Saat ini ibu pasien menggunakan KB suntik 3 bulan.

j. Riwayat Imunisasi
 BCG : 1 x, scar (+) (1 bulan)
 DPT : 3x (2, 3, 4 bulan)
 Polio : 4x (1, 2, 3, 4 bulan)
 Hepatitis B : 4x (0, 2, 3, 4 bulan)
 HIB : 3x (2, 3, 4 bulan)
 Campak : 1x (9 bulan)
Kesan : Imunisasi dasar lengkap sesuai usia

k. Riwayat Makan dan Minum anak


0 - 6 bln : ASI 9x per hari
6 - 10 bln : ASI 8x per hari + bubur bayi cerelac 3x per hari habis
10 – 13 bln : ASI 8x per hari + bubur bayi cerelac 3x per hari habis +
bubur pisang 1x perhari ad libitum

l. Pertumbuhan dan Perkembangan


Pengukuran Anthropometri ( 12 Desember 2017)
Berat Badan Sekarang = 7,8 kg
Tinggi Badan = 73 cm
Lingkar Kepala = 43 cm
Lingkar Lengan Atas = 13 cm

Pertumbuhan :
Longitudinal :
Berat badan lahir 3000 gram, panjang badan 47 cm
Berat badan dan tinggi badan sebulan lalu tidak diukur
Berat badan sekarang 7,8 kg, tinggi badan sekarang 73 cm
Kesan : tidak dapat dinilai
Cross Sectional :
Berdasarkan status athropometri dengan WHO anthro :
Berat badan : 7,8 kg
Tinggi badan : 73 cm

7
Lingkar Kepala : 43 cm
Lingkar Lengan Atas : 13 cm
WHZ : - 1,32 SD
WAZ : - 1,34 SD
HAZ : - 0,85 SD
HC-Z score : -1,60 SD
MUAC : -1,12 SD
BMI : -1,20 SD
Kesan : Gizi baik, perawakan normal, BB sesuai usia, mesosefal

Gambar 1. Berat Badan Menurut Umur. WAZ : - 1,34 SD

8
Gambar 2. Panjang Badan Menurut Umur. HAZ : -0,85 SD

Gambar 3. Berat Badan Menurut Panjang Badan. WHZ : -1,32 SD

9
Gambar 4. Lingkar Kepala Menurut Usia. HC-for age : -1,60 SD

Overview pertumbuhan:
Gizi baik, perawakan normal, berat badan normal, mesosefal
Perkembangan:
- tersenyum : 2 bulan - gigi keluar : 7 bulan
- miring : 3 bulan - merangkak : 8 bulan
- tengkurap : 4 bulan - berbicara : 9 bulan
- duduk : 6 bulan - berjalan : 13 bulan
Saat ini anak sudah bisa :
Duduk, berbicara (dalam bentuk kata per kata) dan berdiri
Kesan: tumbuh kembang anak sesuai usia

Kuesioner Pra Skrining Perkembangan Usia 12 Bulan8


Pernyataan/pertanyaan Jawaban

1. Jika anda bersembunyi di belakang sesuatu/di pojok, Ya


kemudian muncul dan menghilang secara berulang-
ulang di hadapan anak, apakah ia mencari anda atau
mengharapkan anda muncul kembali?
2. Letakkan pensil di telapak tangan bayi. Coba ambil Ya
pensil tersebut dengan perlahan-lahan. Sulitkah anda
mendapatkan pensil itu kembali?
3. Apakah anak dapat berdiri selama 30 detik atau lebih Ya
dengan berpegangan pada kursi/meja?
4. Apakah anak dapat mengatakan 2 suku kata yang Ya
sama, misalnya: “ma-ma”, “da-da” atau “pa-pa”.

10
Jawab YA bila ia mengeluarkan salah—satu suara
tadi.
5. Apakah anak dapat mengangkat badannya ke posisi Ya
berdiri tanpa bantuan anda?
6. Apakah anak dapat membedakan anda dengan orang Ya
yang belum ia kenal? la akan menunjukkan sikap
malu-malu atau ragu-ragu pada saat permulaan
bertemu dengan orang yang belum dikenalnya.
7. Apakah anak dapat mengambil Benda kecil seperti Ya
kacang atau kismis, dengan meremas di antara ibu jari
dan jarinya seperti pada gambar?

Ya
8.
Apakah anak dapat duduk sendiri tanpa bantuan? Ya
9.
Sebut 2-3 kata yang dapat ditiru oleh anak (tidak perlu
kata-kata yang lengkap). Apakah ia mencoba meniru
menyebutkan kata-kata tadi ? Tidak
10. Tanpa bantuan, apakah anak dapat mempertemukan
dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan
bertangkai dan tutup panel tidak ikut dinilai.
Skor KPSP: 9
Kesan: Perkembangan anak dalam batas normal

2. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 12 Desember 2017 pukul 7.30 WIB (di bangsal Anak C1L1)
Keadaan umum : sadar, aktif, tidak kejang, tidak sesak, terpasang infus, nafas
spontan adekuat.
Tanda vital : Nadi: 110 x / menit, isi dan tegangan cukup
RR: 32 x / menit
Suhu: 36,7°C.
Kepala : Mesosefal, lingkar kepala : 43 cm. Ubun-ubun belum
menutup, tidak cekung.
Rambut : Hitam, cukup banyak, tidak mudah dicabut.
Mata : Conjungtiva palpebra tidak anemis, sklera tidak ikterik,
pupil isokor  2 mm/2 mm, reflek cahaya +/+ (normal),
reflek kornea +/+ (normal), mata cowong (-/-)

11
Telinga : nyeri tekan tragus -/-, discharge -/-
Hidung : discharge (+) cair tak berwarna; nafas cuping (-),
epistaksis (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-),
lidah tremor (-).
Tenggorok : T1-1, eksudat (-), faring hiperemis (-), membran keputihan
(-)
Leher : simetris, pembesaran kelenjar limfe (-), kaku kuduk (-)
Dada
Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis, tak ada bagian yang tertinggal
waktu bernafas, retraksi (-).
Palpasi : Stem fremitus kanan sama dengan kiri.
Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru.
Auskultasi : Suara dasar vesikuler +/+

Suara tambahan: wheezing -/-, ronkhi -/-, hantaran -/-.

Vesikuler Vesikuler
Vesikuler
Paru depan Paru belakang

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga V, 2 cm medial linea
medioklavikularis sinistra, tidak kuat angkat, tidak melebar.
Perkusi : Konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi : Suara jantung I dan II normal, irama reguler, gallop (-),
bising (-).
Abdomen
Inspeksi : datar
Palpasi : supel, lemas, nyeri tekan (-), turgor cukup, hepar dan lien tidak
teraba.
Perkusi : tympani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)
Auskultasi : bising usus (+) meningkat.
Ekstremitas
superior inferior
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-

12
Edema -/- -/-
Capillary refill <2”/<2” <2”/<2”
Genital : perempuan, dalam batas normal, OUE hiperemis (-)

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
Pemeriksaan Motorik
Pergerakan +/+ +/+
Kekuatan 5-5-5/5-5-5 5-5-5/5-5-5
Tonus N/N N/N
Trofi Eutrofi/Eutrofi Eutrofi/Eutrofi
Reflek fisiologis +N/+N +N/+N
Reflek patologis -/ - -/-
Klonus -/-
Tanda rangsang meningeal :
Kaku kuduk (-)
Brudzinski I (-)
Brudzinski II (-)
Test Kernig (-)
Test Laseque (-)
Pemeriksaan Nervus Kranialis
Nervus Olfaktorius : Sulit dinilai
Nervus Opticus : refleks cahaya +N/+N
Nervus Ocullomotorius : pergerakan mata normal, bebas kesegala arah
Nervus Troklearis : pergerakan mata ke medial bawah normal
Nervus Trigeminus : reflek kornea +N/+N
Nervus Abdusen : pergerakan mata ke lateral normal
Nervus Fasialis : tersenyum simetris, kelopak mata menutup secara
sempurna
Nervus Vestibulokoklear: pendengaran kedua telinga dalam batas normal
Nervus Glosofaringeus : deviasi uvula (-)
Nervus Vagus : tidak ada gangguan menelan
Nervus Assessorius : tidak ditemukan kelainan
Nervus Hipoglosus : deviasi lidah (-)

3. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
a. Pemeriksaan darah rutin ( 10 Desember 2017 )
HEMATOLOGI PAKET
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Keterangan
Hemoglobin 11 gr% 11,0-13 N
Hematokrit 36,1 % 36-44 N

13
Eritrosit 4,81 juta/mmk 3,6 – 6,2 N
MCH 23 Pg 23-31 N
MCV 78 fL 77-101 N
MCHC 30,2 g/dL 29-36 N
Leukosit 7,9 ribu/mmk 6-17 N
Trombosit 196 ribu/mmk 150-400 N
RDW 14,9 % 11,6-14,8 N
MPV 10,7 fL 4-11 N
Kesan : Pemeriksaan darah rutin: dalam batas normal

KIMIA KLINIK
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Keterangan
Calcium 2,23 mmol/L 2,12-2,52 N
GDS 122 Mg/dL 80-160 N
Natrium 137 mmol/L 136-145 N
Kalium 4,6 mmol/L 3,5-5,1 N
Chlorida 105 mmol/L 98-107 N
Kesan : Pemeriksaan kimia klinik: dalam batas normal.

HITUNG JENIS LEUKOSIT


Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Keterangan
Eosinofil 0% 0-5 N
Basofil 0% 0-4 N
Batang 0% 0-5 N
Segmen 66 % 25-70 N
Limfosit 24 % 20-40 N
Monosit 10 % 5-15 N
Kesan : Pemeriksaan hitung jenis leukosit: dalam batas normal

b. Pemeriksaan Urin rutin (5-12-2017)

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan

Warna Kuning
Kejernihan Jernih
Berat jernih 1.015 1,003-1,025
pH 6 4,8-7,4
Protein NEG mg/dl NEG
Reduksi NEG mg/dl NEG

14
Urobilinogen NEG mg/dl NEG
Bilirubin NEG mg/dl NEG
Aseton NEG mg/dl NEG
Nitrit NEG NEG
Sedimen
Epitel 4,3/LPK /uL 0,0-40,0
Epitel tubulus 3,5 /uL 0,0-6,0
Leukosit 11,2/LPB /uL 0,0-20,0
Eritrosit 7,2/LPB /uL 0,0-25,0
Kristal 0,1 /uL 0,0-10,0
Silinder NEG /uL 0,0-0,5
Pathologi
Granula kasar NEG /LPK NEG
Granula halus NEG /LPK NEG
Silinder hialin NEG /uL 0,0-1,20
Silinder epitel NEG /LPK NEG
Silinder eritrosit NEG /LPK NEG
Silinder leukosit NEG /LPK NEG
Mucus NEG /uL 0,0-0,50
Yeast cell NEG /uL 0,0-25,0
Bakteri 97,7 /uL 0,0-100,0
Sperma NEG /uL 0,0-3,0
Kepekatan 4,6 mS/cm 3,0-27,0
Kesan : Pemeriksaan urin rutin: dalam batas normal

C. DAFTAR MASALAH
No. Masalah Aktif No Masalah Pasif
.
1 Diare akut tanpa tanda 1 Kejang demam
dehidrasi (11/12/2017) (4/12/2017)
2 Observasi vomitus tanpa 2 Febris 7 hari (perbaikan)
tanda dehidrasi (11/12/2017) (4/12/2017)

D. DIAGNOSIS
1. DIAGNOSIS BANDING
1. Kejang dengan demam
DD/ ekstrakranial DD/ Kejang Demam Simpleks
DD/ Gangguan Metabolik
DD/ intrakranial DD/ Meningitis

15
Meningoensefalitis
Ensefalitis
2. Diare akut
DD/ viral
DD/ bakterial

2. DIAGNOSIS KERJA
1. Kejang demam simpleks
2. Diare Akut Tanpa Tanda Dehidrasi
3. Observasi Vomitus Tanpa Tanda Dehidrasi
4. Gizi baik, BB sesuai, Perawakan normal, Mesosefal

E. RENCANA PEMECAHAN MASALAH ( INITIAL PLAN )


1. Assesment : Kejang demam simpleks (perbaikan)
Initial Dx : S: -
O : Konsul THT, Cek GDS evaluasi, Cek elektrolit
Tx :
 Infus D5 ½ NS 480/20/5 tpm
 Jika dehidrasi, rehidrasi RL 75 cc/kgBB/4 jam
 Injeksi diazepam 2,5 mg IV bolus pelan (bila kejang)
 Paracetamol syr 90 mg/ 4-6 jam (bila demam t≥38C)

Mx : Keadaan umum, tanda vital, kejang berulang,


kesadaran , defisit neurologis, efek samping obat
Ex :
- Menjelaskan orang tua untuk lapor kepada petugas kesehatan
bila kejang berulang (pada saat dirawat di RS)
- Bila anak demam segera kompres pada dahi, leher, ketiak,
dan lipat paha, serta memberi penurun panas bila panas
tinggi, sehingga langsung memutus kemungkinan terjadinya
kejang.
- Menyarankan orang tua untuk selalu mengukur suhu tubuh
anak dengan termometer tiap kali anak demam, dan segera
memberikan obat penurun panas apabila suhu anak ≥38oC
- Bila anak kejang di rumah, dianjurkan mengusahakan jalan
nafas tetap lancar, memposisikan anak dengan posisi miring,
memutus kejang dengan stesolid per rectal bila tersedia, dan
segera membawa ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan
terdekat.

16
- Menjelaskan kepada orang tua mengenai pola hidup bersih
dan sehat.

2. Assessment : Diare akut tanpa tanda dehidrasi


Initial Dx :S:-
O : Darah rutin, elektrolit, GDS, feses rutin
Tx :

 Jika dehidrasi, rehidrasi RL 75 cc/kgBB/4 jam


 Zinc syr 20 mg/24 jam
 Oralit 200 cc/ diare

Mx : KU, TTV, frekuensi diare, tanda dehidrasi


Ex :
- Menjelaskan kepada orang tua tentang penyakit anaknya yaitu
diare akut.
- Menjelaskan bahwa diare pada anak kemungkinan
penyebabnya adalah karena virus atau bakteri, sehingga
dibutuhkan serangkaian pemeriksaan tambahan untuk
membantu menegakkan diagnosis.
- Menjelaskan kepada ibu untuk ikut memantau kondisi
anaknya, dan segera melaporkan apabila kondisi anaknya
mengalami perburukan.
- Pemberian makan dan minum harus lebih sering dari biasanya
pada saat anak sakit.
- Menjelaskan kepada ibu untuk menjaga pola makan anak
untuk tidak mengkonsumsi makanan yang dapat menambah
peradangan pada sistem pencernaan seperti makanan pedas,
cokelat, minuman es, makanan berminyak, dan sebagainya.
- Menjelaskan kepada orang tua mengenai pola hidup bersih dan
sehat.

3. Assessment : Observasi vomitus tanpa tanda dehidrasi


Initial Dx :S:-
O:-
Rx : Oralit 200 cc/ muntah
Domperidon syr 1 ml/8 jam

Mx : KU, TTV
Ex :

17
- Menjelaskan kepada orang tua tentang penyakit anaknya yaitu
diare-muntah akut.
- Menjelaskan bahwa diare-muntah pada anak kemungkinan
penyebabnya adalah karena virus atau bakteri, sehingga
dibutuhkan serangkaian pemeriksaan tambahan untuk
membantu menegakkan diagnosis.
- Menjelaskan kepada ibu untuk ikut memantau kondisi
anaknya, dan segera melaporkan apabila kondisi anaknya
mengalami perburukan.
- Pemberian makan dan minum harus lebih sering dari biasanya
pada saat anak sakit.
- Menjelaskan kepada ibu untuk menjaga pola makan anak
untuk tidak mengkonsumsi makanan yang dapat menambah
peradangan pada sistem pencernaan seperti makanan pedas,
cokelat, minuman es, makanan berminyak, dan sebagainya.
- Menjelaskan kepada orang tua mengenai pola hidup bersih dan
sehat

4. Assessment : Gizi baik, perawakan normal,BB normal, mesosefal


Initial Dx :S:-
O : akseptabilitas gizi
Rx :
BB sekarang : 7,8 kg BB ideal : 8,9 kg
Cairan Kalori Protein
Kebutuhan per
780 cc 890 kkal 10,94
hari
Diet yang diberikan
D5% ½ NS 120 20,4 -
Susu 350 350
ASI 3x40 cc 320 26,8 0,52
LLS 3x1/2 150 508,5 21,63

Total 890 905,7 22,15

AKG 114,1% 101,7% 202,46%

Jalur : oral

Mx : Kenaikan berat badan, toleransi diet

18
Ex : Menjelaskan kepada ibu agar anak menghabiskan makanan dan
susu yang diberikan dari rumah sakit

F. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

G. HASIL KUNJUNGAN RUMAH


Kunjungan rumah pada tanggal 17 Desember 2017 pukul 20.00 WIB.
Alamat: Ngadirgo 3/1, Semarang

I. Keadaan Rumah
Status rumah : Rumah sendiri
Ukuran : 10 m x 5 m
Penghuni : 5 orang penghuni
Teras rumah : tidak terdapat teras
Halaman depan : tidak mempunyai halaman depan, pintu rumah langsung
menghadap jalan.
Ruang tamu : ruang tamu menyatu dengan kamar tidur, beralaskan tikar,
kebersihan sangat kurang.
Kamar : memiliki 2 kamar tidur dengan ukuran masing-masing
± 5m x 4m, kamar tidur pertama menjadi satu dengan
ruang tamu. Kamar tidur tersebut ditempati oleh ayah,
ibu dan juga pasien. Terdapat satu jendela.
Kamar tidur kedua, bersebelahan dengan dapur,
ditempati oleh anak pertama dan kedua, tidak terdapat
jendela.
Ruang keluarga : menjadi satu dengan kamar tidur
Kamar mandi : terdapat 1 kamar mandi, 2 m x 1 m, air ditampung dalam
ember, sumber air dari sumur, air bersih dan jernih, air
dialirkan ke selokan samping rumah, kloset jongkok,

19
lantai semen dan dinding dari batu bata, kamar mandi
juga digunakan untuk tempat mencuci piring, kebersihan
sangat kurang.
Dapur : 2 m x 1 m, lantai keramik, dinding diplester, terdapat
banyak peralatan masak & makan yang tidak ditata rapi,
tidak terdapat tempat sampah, lantai sangat kotor dan
banyak barang berserakan, sumber air untuk memasak dan
minum dari air sumur.
Atap rumah : dari genting dan tidak mempunyai plafon, sebagian dari
seng.
Pencahayaan : kurang
Sumber air : Sumber air sumur
Tempat sampah : kurang memadai, jumlah 1, terbuat dari ember bekas cat,
letak di depan rumah, dibiarkan terbuka
Selokan : Bersih, mengalir lancar
Kesan : Rumah kurang layak dihuni, ventilasi dan pencahayaan
kurang, kebersihan sangat kurang.

II. Kebiasaan sehari-hari


Asuh
Setiap hari pasien tinggal bersama dengan ibu, ayah, dan kedua kakaknya
di rumah. Ayah bekerja sebagai wiraswasta dan ibu adalah seorang ibu rumah
tangga. Jam kerja ayah tidak menentu sehingga dalam sehari pasien lebih sering
diasuh dan dirawat oleh ibu.
Pasien sejak lahir diberi ASI sampai usia 6 bulan. Setelah itu pasien
diberikan bubur cerelac.
Keluarga mandi 2 x sehari dengan air sumur dan sabun, kamar mandi
kesan kotor, pakaian kotor dicuci setiap hari. Rumah disapu dan dipel 1 hari
sekali. Tempat sampah 1 buah diletakkan di depan rumah, tidak mempunyai
tutup. Peralatan makan dicuci di kamar mandi, pakaian dicuci di tempat cucian

20
yang terdapat di depan rumah. Lingkungan rumah kesan kotor. Jika sakit
keluarga pasien berobat ke puskesmas di dekat rumahnya dan anak rutin dibawa
ke posyandu.

Asih
Kasih sayang diberikan sepenuhnya oleh ibu, ayah, dan kedua kakak
pasien walaupun waktu bertemu dengan ayah jauh lebih sedikit dibandingkan
dengan ibu. Ibu yang mengasuh berusaha memberi rasa aman, nyaman,
melindungi dan memperhatikan keinginan anak.

Asah
Setiap hari pasien bermain dengan kedua kakaknya dan tetangga sekitar.
Biasanya pasien bermain masak-masakan di tanah, menggambar dan bermain
boneka. Pasien juga bermain dengan ayahnya. Anak dapat berinteraksi dengan
baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Di rumah tempat tidur menjadi
satu dengan ruang keluarga dimana terdapat TV yang digunakan setiap hari.
Sehingga keluarga sering berkumpul sambil menonton TV setiap hari.

III. Lingkungan
Rumah pasien terletak di daerah Mijen, Semarang. Rumah ukuran ± 10 m
x 5 m. Rumah yang satu dengan yang lain berdempetan tanpa jarak. Di depan
rumah pasien adalah jalan yang dapat dilewati mobil. Rumah berdinding batu
bata, diplester dan dicat tetapi catnya sudah memudar. Atap dari genting dan
sebagian seng, lantai menggunakan keramik, terdapat 1 jendela di bagian ruang
tamu, ventilasi dan pencahayaan sangat kurang. Terdapat 1 kamar mandi yang
juga digunakan untuk tempat mencuci piring. Pakaian dijemur di depan rumah
dan sebagian di kamar tidur. Terdapat WC dalam rumah. Penghuni rumah ada 4
orang yaitu, pasien, ibu, ayah, dan kakak perempuan pasien. Kesan lingkungan
rumah kotor.

21
DENAH RUMAH

Kamar tidur Dapur


Kamar
mandi

Kamar tidur Ruang tamu

Pintu

Denah Rumah Pasien

22
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kejang Demam


3.1.1 Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6
bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di atas 38oC,
dengan metode pengukuran suhu apa pun) yang tidak disebabkan oleh proses
intrakranial. Kejang yang dimaksud adalah kejang yang terjadi karena
kenaikan suhu tubuh, bukan karena gangguan elektrolit atau metabolik lainnya.
Bila ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya maka tidak disebut sebagai
kejang demam.1

Pada kasus ini, pasien berusia 13 bulan, mengalami kejang dengan demam,
suhu tubuh tidak diukur.

3.1.2 Klasifikasi
Kejang demam terbagi dalam 2 klasifikasi, yaitu:1
1) Kejang demam sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit), bentuk
kejang umum (tonik atau klonik), serta tidak berulang dalam waktu 24 jam.9,10
2) Kejang demam kompleks
Kejang demam dengan salah satu dari ciri: kejang lama lebih dari 15 menit,
kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial,
berulang atau lebih dari 1 kali dalam waktu 24 jam.

Pada kasus ini, pasien mengalami kejang kurang dari 15 menit, kejang
seluruh tubuh dan tidak berulang dalam waktu 24 jam.

3.1.3 Epidemiologi
Insidensi kejang demam terjadi pada 2-5% anak berusia 6 bulan sampai 5
tahun.3 Kejadian kejang demam di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan
Eropa Barat diperkirakan 2-4% dalam 25 tahun terakhir. Angka kejadian
kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Di Asia angka kejadian
kejang demam dilaporkan lebih tinggi dan sekitar 80% - 90% dari seluruh
kejang demam sederhana. Hasil rekam medis Rumah sakit Anak dan Bunda

23
Harapan Kita Jakarta tahun 2008 -2010, terdapat 86 pasien dengan kejang 41
(47,7 persen) pasien diantaranya mengalami kejang berulang.
Angka mortalitas akibat kejang demam relatif rendah. Berdasarkan studi
kohort yang dilakukan di Denmark selama 28 tahun diperoleh Case Fatality
Rate kejang demam 0,42%. Berdasarkan penelitian Rani S di RSUD Dr.
Pirngadi Medan diperoleh penderita kejang demam pada balita yang dirawat
inap pada tahun 2010 sebanyak 47 orang dan pada tahun 2011 sebanyak 63
orang.11

3.1.4 Patofisiologi
Kejang merupakan manifestasi klinik akibat terjadinya pelepasan muatan
listrik yang berlebihan di sel neuron otak karena gangguan fungsi pada neuron
tersebut baik berupa fisiologi, biokimiawi, maupun anatomi.12
Pada demam, kenaikan temperatur tubuh berpengaruh terhadap nilai
ambang kejang dan eksitabilitas neural, karena kenaikan suhu berpengaruh
pada kanal ion dan metabolisme seluler serta produksi ATP. Setiap kenaikan
suhu tubuh 1oC akan meningkatkan metabolisme karbohidrat 10-15% sehingga
terjadi peningkatan kebutuhan glukosa dan oksigen. Pada demam tinggi terjadi
hipoksia jaringan termasuk jaringan otak. Pada keadaan metabolisme di siklus
kreb normal, satu molekul glukosa akan menghasilkan 38 ATP, sedangkan
pada keadaan hipoksia jaringan, metabolisme berjalan anaerob, 1 molekul
glukosa hanya menghasilkan 2 ATP, sehingga pada keadaan hipoksia akan
kekurangan energi. Hal ini akan memngganggu fungsi normal pompa Na+ dan
reuptake asam glutamat oleh sel glia. Kedua hal tersebut mengakibatkan
masuknya ion Na+ ke dalam sel meningkat dan timbunan asam glutamat ekstra
sel.
Timbunan asam glutamat ekstra sel akan mengakibatkan permeabilitas
membran sel terhadap ion Na+ sehingga semakin banyak ion Na+ yang masuk
ke dalam sel. Masuknya ion NA+ ke dalam sel dipermudah dengan adanya
demam, sebab demam akan meningkatkan mobilitas dan beturan ion terhadap
membran sel. Perubahan konsentrasi ion Na+ intrasel dan ekstrasel akan
mengakibatkan perubahan potensial membran sel neuron sehingga membran
sel dalam keadaan depolarisasi. Disamping itu demam dapat merusak neuron
GABA-ergik secara tidak langsung sehingga fungsi inhibisi terganggu dan
menurunkan nilai ambang kejang dan memudahkan untuk timbul bangkitan
kejang demam.13

24
3.1.5 Faktor Risiko
Terdapat enam faktor risiko yang dapat berperan dalam terjadinya kejang
demam antara lain:13
1. Faktor demam
Pada umumnya demam yang dapat menimbulkan kejang adalah pada suhu
diatas 38ºC diukur pada bagian tubuh manapun.1 Demam dapat disebabkan
oleh beberapa etiologi, namun pada anak, yang Bangkitan kejang yang terjadi
pada suhu tubuh di atas 38oC terjadi sebanyak 11% dan sebanyak 20% pada
suhu tubuh diatas 40oC.14 Tidak diketahui secara pasti kapan timbul bangkitan
kejang. Namun dari berbagai hasil penelitian dan percobaaan binatang dapat
dikatakan bahwa kejang terjadi tergantung dengan kecepatan waktu antara
mulai timbul demam hingga mencapai suhu puncak dan tingginya suhu tubuh
tergantung dari nilai ambang kejang tiap individu.15
Pada kasus ini, pasien mengalami demam saat mengalami kejang.

2. Faktor usia
Tahap perkembangan otak dibagi menjadi enam fase yaitu fase neuralasi,
perkembangan prosensefali, proliferasi neuron, migrasi neural, organisasi, dan
mielinisasi. Kejang demam terjadi pada saat perkembangan fase organisasi
(sekitar usia kurang dari 2 tahun) menjadi mielinisasi.15 Pada fase tersebut
terjadi diferensiasi neurotransmitter eksitator dan inhibitor. Apabila pada fase
organisasi ini terjadi rangsangan berulang-ulang seperti kejang demam
berulang, dapat mengakibatkan penurunan fungsi GABA-ergik dan densitasi
reseptor GABA serta sensitisasi reseptor eksitator. Kadar Corticotropin
Releasing hormon yang merupakan neuropeptid eksitator yang tinggi di
hipokampus berpotensi menjadi bangkitan kejang apabila terpicu demam.
Mekanisme homeostatis pada otak belum matang masih lemah, akan berubah
sejalan dengan perkembangan otak dan pertambahan usia, akan meningkatkan
eksitabilitas neuron. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada masa otak belum
matang, eksitabilitas neural lebih tinggi dibandingkan otak yang sudah matang.
Eksitator lebih dominan dibandingkan inhibitor, sehingga tidak ada
keseimbangan antara eksitator dan inhibitor sehingga anak rentan untuk terjadi
bangkitan kejang.13
Pada kasus ini, pasien berusia 13 bulan, sehingga mungkin terjadi kejang
demam saat fase organisasi, dimana masa otak belum matang dan
eksitabilitas neural lebih tinggi.

3. Faktor riwayat keluarga13


Pada umumnya terdapat pewarisan genetik secara autosomal dominan.
4. Faktor riwayat prenatal12,13

25
a. Usia ibu saat hamil
b. Kehamilan dengan preeklampsia dan hipertensi
c. Kehamilan primipara dan multipara
d. Riwayat konsumsi bahan toksik saat hamil
5. Faktor riwayat perinatal12
a. Asfiksia
b. BBLR rendah
c. Kelahiran prematur dan post matur
d. Partus lama
e. Persalinan dengan tindakan
6. Faktor riwayat pascanatal13
a. Infeksi SSP
b. Riwayat trauma kepala
c. Konsumsi bahan toksik
d. Gangguan metabolic

3.1.6 Pemeriksaan Penunjang1


1) Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan rutin pada kejang demam,
tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab
demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan atas indikasi
misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.
Pada kasus ini, dilakukan pemeriksaan darah perifer, elektrolit dan
gula darah.

2) Pungsi lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Berdasarkan bukti-bukti
terbaru, saat ini pemeriksaan pungsi lumbal tidak dilakukan secara rutin
pada anak berusia <12 bulan yang mengalami kejang demam sederhana
dengan keadaan umum baik.
Indikasi pungsi lumbal:
1. Terdapat tanda dan gejala rangsang meningeal
2. Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis
3. Dipertimbangkan pada anak dengan kejang disertai demam yang
sebelumnya telah mendapat antibiotik dan pemberian antibiotik
tersebut dapat mengaburkan tanda dan gejala meningitis.
3) Elektroensfalografi

26
Pemeriksaan ini diperlukan bila bangkitan bersifat fokal untuk
menentukan adanya fokus kejang di otak yang membutuhkan evaluasi
lebih lanjut.
4) Pencitraan
Pemeriksaan neuroimaging (CT scan atau MRI kepala) tidak rutin dilakukan
pada anak dengan kejang demam sederhana. Pemeriksaan tersebut dilakukan
bila terdapat indikasi, seperti kelainan neurologis fokal yang menetap,
misalnya hemiparesis atau paresis nervus kranialis.1
3.1.7 Penatalaksanaan
Pada umumnya kejang berlangsung singkat (rerata 4 menit) dan pada waktu
pasien datang, kejang sudah berhenti. Apabila saat pasien datang dalam
keadaan kejang, obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah
diazepam intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,2-0,5 mg/kg perlahan-
lahan dengan kecepatan 2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis
maksimal 10 mg.1
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orangtua di rumah (prehospital)
adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau
diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan 10
mg untuk berat badan lebih dari 12 kg.1
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat
diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.
Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan
ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena.1
Saat anak demam, berikan antipiretik yaitu parasetamol dengan dosis 10-
15mg/kg/kali diberikan tiap 4-6 jam. Bila menggunakan ibuprofen, dengan
dosis 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Selanjutnya diberikan antikonvulsan
dengan pembagian sebagai berikut:
1) Antikonvulsan intermiten
Yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat
antikonvulsan yang diberikan hanya pada saat demam. Profilaksis
intermiten diberikan pada kejang demam dengan salah satu faktor
risiko di bawah ini:
• Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
• Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun
• Usia <6 bulan
• Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius
• Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh
meningkat dengan cepat.
Obat yang digunakan adalah diazepam oral 0,3 mg/kg/kali per oral
atau rektal 0,5 mg/kg/kali (5 mg untuk berat badan <12 kg dan 10 mg
untuk berat badan >12 kg), sebanyak 3 kali sehari, dengan dosis
maksimum diazepam 7,5 mg/kali. Diazepam intermiten diberikan

27
selama 48 jam pertama demam. Perlu diinformasikan pada orangtua
bahwa dosis tersebut cukup tinggi dan dapat menyebabkan ataksia,
iritabilitas, serta sedasi.
2) Antikonvulsan rumat
Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan
penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak
diinginkan, maka pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus
selektif dan dalam jangka pendek.
Indikasi pengobatan rumat:
1. Kejang fokal, kejang seperti ini menunjukkan bahwa anak
mempunyai fokus organik yang bersifat yang bersifat fokal.
2. Kejang lama >15 menit
3. Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah
kejang, misalnya palsi serebral, hidrosefalus, hemiparesis.
Keterlambatan perkembangan saja bukan merupakan indikasi
pengobatan rumat.
Pengobatan rumat yang ada adalah pemberian obat fenobarbital atau
asam valproat setiap hari, yang dapat efektif dalam menurunkan risiko
berulangnya kejang. Namun, pemakaian fenobarbital atau asam
valproat setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar dalam 40-50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah
asam valproat, namun pada sebagian kecil kasus dapat mengganggu
fungsi hati. Dosis asam valproat adalah 15-40 mg/kg/hari dibagi
dalam 2 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis.
Pada kasus ini, pasien tidak diberikan obat antikonvulsan intermiten
maupun rumatan.

3.2 Diare
3.2.1 Definisi
Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan
konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 14 hari. Pada hasil riskesdas
2097, diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada
anak usia 1-4 tahun.16
Pada kasus ini, anak mengalami diare sebanyak 9x dalam 24 jam dengan
konsistensi cair dan berlangsung selama 1 hari (kurang dari 14 hari).

3.2.2 Diagnosis
1) Anamnesis16
 Lama diare berlangsung yaitu kurang dari 14 hari, frekuensi
diare sehari lebih dari 3x, warna dan konsistensi tinja ciar, lendir
dan darah dalam tinja

28
 Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun,
buang air kecil terakhir, demam, sesak, kejang, kembung
 Jumlah cairan yang masuk selama diare
 Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare,
mengonsumsi makanan yang tidak biasa
 Penderita diare di sekitarnya dan sumber air minum
2) Pemeriksaan Fisik16
 Keadaan umum, kesadaran dan tanda vital
 Tanda utama: keadaan umum gelisah/ cengeng atau
lemah/letargi/koma, rasa haus, turgor kulit abdomen menurun
 Tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata,
mukosa bibir, mulut dan lidah
 Berat badan
 Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti
nafas cepat dan dalam (asidosis metabolik), kembung
(hipokalemia), kejang (hipo atau hipernatremia)
 Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria
berikut:
o Tanpa tanda dehidrasi (kehilangan <5% berat badan)
 Tidak ditemukan tanda utama dan tanda
tambahan
 Keadaan umum baik, sadar
 Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak
cowong, air mata ada, mukosa mulut dan bibir
basah
 Turgor abdomen baik, bising usus normal
 Akral hangat
o Dehidrasi ringan sedang/ tidak berat (kehilanan 5-10%
berat badan)
 Apabila didapatkan 2 tanda utama dan 2 atau
lebih tanda tambahan
 Keadaan umum gelisah atau cengeng
 Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sediikit
cowong, air mata kurang, mukosa mulut dan
bibir sedikit kering
 Turgor kurang, akral masih hangat
o Dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% berat badan)
 Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah 2
atau lebih tanda tambahan
 Keadaan umum lemah, letargi atau koma

29
 Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cowong,
air mata tidak ada, mukosa mulut dan bibir santa
kering
 Turgor sangat kurang, dan akral dingin
 Pasien harus rawat inap

Gambar 5. Klasifikasi tanda dehidrasi


Pada kasus ini, pasien tidak mengalami tanda-tanda dehidrasi. Pasien dalam
keadaan sadar, mata tidak cowong, turgor kembali segera.

3) Pemeriksaan Penunjang16
 Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pad diare akut, kecuali
apabila tanda intoleransi laktosa dan kecurigaan amubiasis
 Hal yang dinilai dari pemeriksaan tinja:
o Makroskopis: konsistensi, warna, lendir, darah, bau
o Mikroskopis: leukosit, eritrosit, parasit, bakteri
o Kimia: pH, clinitest, elektrolit (Na, K, HCO3)
o Biakan dan uji sensitivitas tidak dilakukan pada diare
akut
 Analisis gas darah dan elektrolit bila secara klinis dicurigai
adanya ganguan keseimbangan asam basa dan elektrolit

30
Pada pasien ini, telah dilakukan pemeriksaan laboratorium
darah perifer, elektrolit dan gula darah sewaktu. Saat ini
sedang diprogramkan untuk feses rutin.

3.2.3 Penatalaksanaan
Diare tanpa tanda dehidrasi: rencana terapi A
Diare dengan dehidrasi ringan sedang: rencana terapi B
Diare dengan dehidrasi berat: rencana terapi C

31
32
33
Lintas diare:4
1) Berikan oralit
Oralit adalah campuran garam elektrolit, seperti natrium klorida,
kalium klorida, dan trisodium sitrat hidrat serta glukosa anhidrat.
Diberikan segera setelah anak diare, sampai diare berhenti.
2) Berikan tablet zinc selama 10 hari berturut-turut
Dosis zinc (1 tablet = 20 mg), usia < 6 bulan: ½ tablet per hari, usia ≥
6 bulan 1 tablet per hari.
3) Teruskan ASI-makan (nutrisi)
4) Berikan antibiotik secara selektif
Antibiotik hanya diberikan pada diare dengan indikasi, seperti diare
berdarah atau diare karena kolera.
5) Berikan nasihat pada ibu/keluarga

Pada kasus ini, pasien diberikan tatalaksana rencana terapi A, dimana


pasien diberikan terapi cairan, zinc syrup, oralit, dan nutrisi yang cukup.

34
BAB IV
RINGKASAN
Telah dilaporkan seorang anak perempuan usia 13 bulan dengan kejang
demam sederhana dan diare akut tanpa tanda dehidrasi serta observasi vomitus
tanpa tanda dehidrasi.

Dari anamnesis didapatkan anak mengalami demam menggigil 1 hari


SMRS, suhu anak tidak diukur dan belum diberi obat apapun, anak dikeluhkan
lemas. Kemudian 6 jam SMRS anak kejang seluruh tabuh, kaku, mata melirik ke
atas dan kejang kurang dari 5 menit, sebelum dan setelah kejang anak sadar, kejang
tidak berulang dalam 24 jam, berhenti tanpa pemutus kejang, saat kejang anak
demam dan suhunya tidak diukur. Anak kemudian dibawa ke Puskesmas Mijen dan
diberi obat penurun panas kemudian dirujuk ke RS Tugu, anak diberi anti kejang
lewat dubur dan juga puyer. Pasien direncanakan mondok, namun karena tempat di
RS Tugu penuh, pasien dirujuk ke RSDK. Saat hari pemeriksaan (HP9), anak tidak
mengalami kejang dan tidak demam, anak dikeluhkan muntah sebanyak 6x,
muntahan berupa makanan yang anak makan, tidak ada lendir maupun darah. Anak
juga BAB cair kekuningan disertai lendir dan nyemprot, tidak ada ampas dan
ampas, sebanyak 9x dalam sehari, sedikit-sedikit. Dari riwayat keluarga, didapatkan
kejang serupa dari kakak pasien saat usia 12 bulan.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya bising usus meningkat, dari


pemeriksaan penunjang laboratorium darah rutin, kimia klinik, hitung jenis dan urin
di dapatkan hasil yang normal. Pemeriksaan yang diajukan yaitu feses rutin untuk
melihat adakah penyebab tertentu untuk diagnosis darie akut pada anak ini.
Pemeriksaan penunjang lumbal pungsi dan EEG tidak dilakukan karena tidak ada
indikasi.

Tatalaksana yang diberikan kepada anak ini saat ini dalah berupa infus D5
½ NS 480 ml per 24 jam, zinc syrup 20 mg/ 24 jam, domperidon syrup 1 ml per 8
jam dan oralit setiap kali diare. Pasien ini tidak membutuhkan antikonvulsan
rumatan karena tidak ada indikasi. Diet yang diberikan adalah berupa susu, ASI dan
LLS. Rencana terapi gizi telah mencukupi kebutuhan energi anak dalam 24 jam.

Prognosis pada pasien ini untuk kehidupan (quo ad vitam) adalah dubia ad
bonam, untuk kesembuhan (quo ad sanam) adalah dubia ad bonam, dan untuk
fisiologi tubuh (quo ad fungsionam) adalah dubia ad bonam

35
PROGRESS NOTE
Tanggal Keadaan Umum Keadaan klinis Terapi dan diet Tindakan
13/12/2017 S: demam (-), Kepala : mesosefal Infus D5 ½ NS 960/40 ml/jam -
kejang (-), BAB Mata : konjungtiva palpebra PO:
4x/24 jam, anemi (-/-), mata cowong (-/-), Paracetamol 90 mg/4-6 jam
lembek (+), pupil isokor 2mm/2mm, R. t≥38ºC
ampas (+) batuk cahaya +/+ Zinc syr 20 mg/24 jam
Telinga : discharge (-/-)
(-) pilek (-) Domperidon syr 1 ml/8jam
Hidung : napas cuping (-),
muntah (-) discharge (-/-), epistaksis (-) k/p muntah
Mulut : sianosis (-), mukosa Oralit 100-200 cc/tiap
O: kering (-) muntah/diare
KU : sadar Tenggorok : T1-1 faring
TTV: hiperemis (-)
HR: 120x /min, Leher : pembesaran kelenjar
RR: 25x /min, limfe (-/-), kaku kuduk (-)
T: 36,7 0C, Thorax:
N: regular, isi dan Cor : BJ I-II normal, bising (-),
tegangan cukup thrill (-), gallop (-)
Pulmo :
SpO2: 99%
Inspeksi: simetris saat statis dan
dinamis, retraksi subcostal (-),
retraksi epigastrial (-), retraksi
suprasternal (-)
Auskultasi :
 SD vesikuler (+/+)
 ST wheezing -/-, ronkhi -/-,
hantaran -/-, stridor
inspirasi (-)

36
Abdomen : datar, supel, bising
usus (+) meningkat, hepar dan
lien tidak teraba
Genital : perempuan

Ekstremitas Sup. Inf


Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Oedem -/- -/-
CRT <2” <2”
R. fisiologis +/+ +/+
R. patologis -/-
Tonus +N/+N +N/+N
Klonus -/-

Assesment:
 Diare akut tanpa tanda
dehidrasi
 Kejang demam
simpleks (perbaikan)

14/12/2017 S: demam (-) 1x24 Kepala : mesosefal Infus D5 ½ NS 960/40 ml/jam Program:
07.00 jam, kejang (-), Mata : konjungtiva palpebra PO: Jika demam t≥38ºC mulai
BAB 5x/24 jam anemi (-/-), mata cowong (-/-), Paracetamol 90 mg/4-6 jam diberikan injeksi cefriaxon
terakhir kemarin pupil isokor 2mm/2mm, R. t≥38ºC 600mg/24 jam (advis DPJP)
sore, muntah (-), cahaya +/+ Zinc syr 20 mg/24 jam Jika tidak demam, tidak diare,
Telinga : discharge (-/-)
BAB 1x pagi Domperidon syr 1 ml/8jam usul pualng
Hidung : napas cuping (-),
lembek (+), ampas discharge (-/-), epistaksis (-) k/p muntah

37
(+) batuk (-) pilek Mulut : sianosis (-), mukosa Oralit 100-200 cc/tiap Evaluasi KU, TV, frekuensi
(-) kering (-) muntah/diare diare, muntah, tanda dehidrasi,
Tenggorok : T1-1 faring kejang
O: hiperemis (-)
KU : sadar Leher : pembesaran kelenjar
limfe (-/-), kaku kuduk (-)
TTV:
Thorax:
HR: 118x /min, Cor : BJ I-II normal, bising (-),
RR: 24x /min, thrill (-), gallop (-)
T: 36,8 0C, Pulmo :
N: regular, isi Inspeksi: simetris saat statis dan
dan tegangan dinamis, retraksi subcostal (-),
cukup, retraksi epigastrial (-), retraksi
SpO2: 99% suprasternal (-)
Auskultasi :
 SD vesikuler (+/+)
 ST wheezing -/-, ronkhi -/-,
hantaran -/-, Stridor
inspirasi (-)
Abdomen : datar, supel, bising
usus (+) meningkat, hepar dan
lien tidak teraba
Genital : perempuan
Ekstremitas Sup. Inf
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Oedem -/- -/-
CRT <2” <2”
R. fisiologis +/+ +/+
R. patologis -/-

38
Tonus +N/+N +N/+N
Klonus -/-

Assesment:
 Diare akut tanpa tanda
dehidrasi
 Kejang demam
simpleks (perbaikan)

15/12/2017 S: Mata cowong -/- - Program:


07.00 Bebas demam Hidung nafas cuping -/- Pulang hari ini
2x24 jam, BAB Mulut sianosis -/- Aff infus
2x/24 jam Thorax: Obat pulang:
konsistensi Simetris, retraksi (-) Zinc syr 20mg/24 jam
lembek, muntah (- Cor: BJ I-II normal, bsing (-)
), kejang (-), Pulmo: SD vesikuler +/+
batuk (-), pilek (-) ST -/-
Abdomen: datar, hepar dan
O: lien tidak teraba, bising usus
Sadar, (+) normal
HR: 125x/menit Ekstremitas:
RR: 28x/menit Akral hangat +/+ +/+
T: 36,6ºC CRT <2”/<2” <2”/<2”
N: reguer isi dan
tegangan cukup A:
Diare akut tanpa tanda
dehidrasi (perbaikan)

39
Kejang demam simpleks
(perbaikan)

40
DAFTAR PUSTAKA

1. Arief, R. F. Penatalaksanaan Kejang Demam. Cdk 42, 658–661 (2015).


2. Doiron, O. Febrile Seizures: Controversy and Consensus. Natl. Cent.
Biotechnol. Inf. 29, 94–97
3. Piecuch, S. Febrile Seizures: Guideline for the Neurodiagnostic Evaluation
of the Child With a Simple Febrile Seizure. Am. Acad. Pediatr. Clin. Pract.
Guidel. 127,
4. Jenderal, D., Penyakit, P. & Lingkungan, D. P. Departemen Kesehatan RI
Buku Saku Petugas Kesehatan. (2011).
5. Kementerian Kesehatan RI. Situasi diare di Indonesia. Bul. jendela data Inf.
Kesehat. 2, 1–44 (2011).
6. Deshpande, A. & Lever, D. S. Acute Diarrhea. Clevel. Clin. Cent. Contin.
Educ.
7. Isdijoso, W., Surhayadi, A. & Akhmadi. Penetapan Kriteria dan Variabel
Pendataan Penduduk Miskin yang Komprehensif dalam Rangka
Perlindungan Penduduk Miskin di Kabupaten/Kota. Smeru Res. Inst. (2016).
8. Kpsp, C. Menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan ( Kpsp ).
9. ILAE GUIDELINES. Commision on Epidemiology and Prognosis,
International League Against Epilepsy. Guidelines for Epidemiologic
Studies on Epilepsy. Int. Leag. Against Epilepsy 592–6 (1993).
10. Febrile Seizure. Am. Acad. Pediatr. Clin. Pract. Guidel. 389–94 (2011).
11. I, Y. Korelasi Kadar Seng Serum dan Bangkitan Kejang Demam. Sari
Pediatr. 12, 50–156
12. Pohan. Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Mengenai Kejang
Demam pada Anak di Kelurahan Tembung. Fak. Kedokt. USU (2011).
13. Fuadi. Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak. Fak. Kedokt.
Undip (2010).
14. Okusiaa A, Ishiguro Y, Sofue A, Suzuki Y, Maruyama K, K. T. Treatment
and outcome in patients with febrile convulsion associated with epileptiform
discharges on electroencephalography. Brain Dev. 204, 241–44 (2013).
15. Jensen FE, S. R. Why Does the Developing Brain Demonstrate Heightened
Susceptibility to Febrile and Other Provoked Seizures? Acad. Press 153–62
(2011).
16. Idai. Pedoman pelayanan medis. Pedoman pelayanan medis 58–61 (2009).
17. Tatalaksana Anemia. Hospotal Care Child. (2017).
18. Kumar, Abbas & Aster. Buku Ajar Patologi Robbins Edisi 9. (2011).

41