Anda di halaman 1dari 11

24

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Pelaksanaan Kegiatan

1. Perencanaan

Pada perencanaan, proses kegiatan terdiri dari pengajuan kegiatan dan

permohonan izin kepada puskesmas, diskusi dengan dokter pembimbing dan

pegawai puskesmas yang menjadi pemegang tugas program TB, persiapan bahan

penyuluhan, survei dengan kuesioner, penentuan waktu dan tempat pelaksanaan.

Pada proses perencanaan pelaksanaan, kendala yang dihadapi dalam proses

perencanaan ini adalah penentuan tempat pelaksanaan. Hal ini dikarenakan tempat

yang direncanakan tidak cukup untuk pelaksanaan penyuluhan. Namun, hal ini

disiasati dengan mengadakan penyuluhan di posyandu teratai RT.46 di wilayah

Puskesmas Pemurus Dalam yang tempatnya cukup untuk pelaksanaan

penyuluhan.

2. Pengorganisasian

Kerjasama dengan dokter pembimbing dan petugas pemegang program TB

sehingga permasalahan dapat teridentifikasi dengan baik. Kerjasama yang baik

juga terjalin antara kepala puskesmas, dokter pembimbing dan petugas pemegang

program TB yang sangat mendukung diadakannya kegiatan penyuluhan tentang

deteksi dini TB ini.

Dalam pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan terorganisasi dengan baik.

Tidak terdapat kendala yang berarti dalam pelaksanaan kegiatan karena tiap
25

panitia memiliki tugasnya masing-masing yang berjumlah 4 orang dan terdiri dari

petugas pemegang program TB (1 orang), penyampaian materi penyuluhan

sekaligus seksi acara (1 orang), seksi dokumentasi (1 orang), dan seksi konsumsi

(1 orang) sehingga tidak terjadi overlapping tugas.

3. Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan PBL berupa penyuluhan tentang pengetahuan dan

deteksi dini TB pada kader posyandu, penderita TB dan masyarakat yang

dicurigai TB paru di wilayah kerja Puskesmas Pemurus Dalam. Pada kegiatan ini

dilakukan pengisian lembar pretest, penyampaian materi pengetahuan tentang

penyakit hingga deteksi dini TB, pembagian leaflet, sesi diskusi serta tanya jawab

dan pengisian lembar posttest.

Kegiatan dilaksanakan di Posyandu Teratai RT.46 Kelurahan Pemurus

Dalam pada hari senin tanggal 22 Juli 2019 pukul 09.00 WITA s.d 12.00 WITA

dan 30 orang yang di undang dalam kegiatan penyuluhan ini. Dari segi tempat

pelaksanaan Posyandu tersebut merupakan rumah warga dengan kapasitas

ruangan tempat dilakukan penyuluhan sudah cukup untuk menampung 30 orang

peserta. Peserta hanya duduk lesehan di ruang tamu yang beralas karpet dan tidak

tersedia meja atau alas untuk mengerjakan pretest dan posttest.

Pada tahap awal pelaksanaan, peserta melakukan registrasi dan pemberian

snack kemudian dilanjutkan dengan pemberian kata sambutan oleh ketua

pemegang program TB dan ketua acara. Pada saat registrasi peserta yang datang

hanya 22 orang, tetapi 8 orang sisanya datang pada pertengahan acara sehingga

tidak sempat melakukan registrasi. Setelah itu dilakukan pengisian lembar pretest,
26

kemudian dilanjutkan dengan pembagian leaflet dan pemberian materi dengan

durasi 25 menit mengenai pengetahuan dasar tentang TB dan pentingnya deteksi

dini TB paru, kemudian dilanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab dengan peserta.

Setelah penyampaian materi dan diskusi tanya jawab selesai, dilanjutkan dengan

pengisian lembar posttest. Setelah semua peserta menyelesaikan posttest,

dilanjutkan dengan penutupan dan doa. Sebelum pulang dilakukan sesi foto

bersama dengan peserta kegiatan penyuluhan.

4. Evaluasi
a. Gambaran Karakteristik Peserta Penyuluhan

Dalam kegiatan penyuluhan tentang pemberian pengetahuan dan deteksi

dini TB berjumlah 30 orang peserta yang terdiri dari 30 orang Kelurahan Pemurus

Dalam.
b. Gambaran Hasil Penyuluhan
Pada kegiatan ini, dilakukan pre test sebelum pemberian materi dan post

test setelah pemberian materi melalui kuisioner (lampiran 2) tentang pengetahuan

dan deteksi dini TB didapatkan hasil seperti tabel 4.1 mengenai perbandingan

nilai pre test dan post test.

Tabel 4.1 Distribusi Nilai Pre test dan Post test tingkat pengetahuan tentang TB
paru
Nilai Pretest % Posttest %
100 1 3,3% 17 56,6%
95 3 10% 3 10%
90 3 10% 5 16,6%
85 3 10% 3 10%
80 1 3,3% 1 3,4%
75 2 6,7% 1 3,4%
70 7 23,4% 0 0
65 3 10% 0 0
60 0 0% 0 0
55 0 0% 0 0
27

50 5 16,7% 0 0
45 0 0% 0 0
40 2 6,6% 0 0
Total 30 100% 30 100%
Rerata 71,83 94,83

Ketika dilakukan penilaian pre test dan post test, didapatkan ada 452

jawaban yang benar pada pre test dan meningkat menjadi 569 pada post test.

Distribusi jawaban pre test dan post test kuesioner dilihat pada gambar 4.1

Gambar 4.1 Distribusi Jawaban Benar Pretest dan Posttest

Keterangan :
1. Yang diketahui tentang penyakit TB Paru adalah bakteri Mycobacterium
tuberculosis.
2. Gejala TB paru adalah batuk berdahak selama 3 minggu atau lebih
3. Batuk pada TB Paru yaitu batuk berdarah dan nyeri dada
4. Gejala dari TB paru.
5. Penularan TB paru yaitu melalui percikan dahak
6. Pencegahan TB paru dengan minum obat yang teratur
7. Lama pengobatan TB yaitu 6 bulan
8. Pasien dicurigai TB paru jika batuk bercampur darah disertai penurunan berat
badan yang drastis
9. TB paru dapat diperiksa melalui pemeriksaan dahak/sputum BTA.
10. TB paru adalah penyakit yang dapat menular dan mematikan apabila tidak
diobati dengan teratur.
11. TB paru dapat menyerang organ paru-paru
12. Penyebab TB paru yaitu kuman TB paru.
13. Yang bukan gejala TB paru yaitu sering kencing pada malam hari.
28

14. Yang harus dilakukan ketika batuk dan bersin adalah menutup mulut.
15. Pencegahan TB paru yaitu menutup mulut sewaktu batuk dan bersin, tidak
meludah sembarang tempat dan makan makanan yang bergizi.
16. Makanan yang bergizi untuk pencegahan TB paru adalah makanan yang
tinggi kalori dan protein.
17. Penyakit TB ditandai oleh batuk terus-menerus dan dapat disembuhkan
dengan pengobatan teratur.
18. Tanda terjadinya TB paru adalah berkeringat saat malam hari.
19. Yang harus dilakukan ketika ada orang yang terkena TB paru adalah
menggunakan masker
20. Jika 2 minggu pengobatan TB membaik, maka harus melanjutkan pengobatan
dan kontrol rutin sampai dinyatakan bebas TB.

Data diuji statistik menggunakan software IBM SPSS Statistics 16 untuk

melihat adanya perbedaan antara kelompok. Data yang sudah dikumpulkan diolah

dalam bentuk deskriptif dengan dilakukan uji normalitas data dengan

menggunakan uji Saphiro-Wilk untuk mengetahui sebaran data karena jumlah

subjek penelitian <50. Hasil uji Saphiro-Wilk didapatkan p=0,097 pada nilai pre

test dan p=0,000 pada nilai post test menunjukkan bahwa sebaran data

terdistribusi normal karena p > 0,05 seperti terlihat pada tabel 4.2 dan tabel 4.3.

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas Data Menggunakan Uji Saphiro-Wilk

Jumlah (n) Rerata p value

Nilai Pre Test 30 71,83 0,097

Nilai Post Test 30 94,83 0,000

Setelah melakukan uji normalitas menggunakan uji Saphiro-Wilk kemudian

dilakukan analisis data menggunakan uji T berpasangan untuk mengetahui

terjadinya perubahan tingkat pengetahuan setelah diberikan penyuluhan mengenai

TB. Hasil uji T berpasangan didapatkan p=0,000 menunjukkan bahwa terdapat


29

perubahan bermakna tingkat pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan

penyuluhan mengenai TB kepada penderita TB karena p < 0,05 seperti pada tabel

4.4 sehingga kegiatan penyuluhan ini dapat dikatakan berhasil.

Tabel 4.3 Hasil Uji T berpasangan pada hasil Pre Test dan Post Test

Jumlah (n) p value

Pre Test 30
0,000
Post Test 30

B. Pembahasan

1. Perencanaan

Pada tahap perencanaan, dukungan pemegang program TB dari puskesmas

sangat mempengaruhi kelancaran dari suatu kegiatan. Pihak puskesmas sangat

mendukung terlaksananya kegiatan ini dengan harapan dapat meningkatkan angka

CDR TB. Program P3M yang ada di Puskesmas Pemurus Dalam tentang

penanggulangan TB sejauh ini masih kurang memuaskan karena masih terdapat

individu yang dicurigai TB di masyarakat tetapi masih enggan untuk periksa ke

fasilitas kesehatan. Oleh karena itu dari pihak panitia, pemegang program TB,

serta dokter pembimbing sepakat menjadikan angka CDR TB paru yang rendah

sebagai masalah yang paling diprioritaskan, sehingga kendala yang ditemui dalam

menentukan fokus materi dapat teratasi dengan benar. Tahap perencanaan ini

mencakup kegiatan-kegiatan pemilihan (perumusan) masalah sampai dengan

penyusunan instrumen (pengumpulan data).


30

Berdasarkan hasil survei dengan sampel masyarakat di wilayah kerja

Puskesmas Pemurus Dalam sebanyak 30 orang, didapatkan 66,6% memiliki

pengetahuan tentang TB paru yang kurang dan 66,6% sosialisasi TB Paru yang

kurang.

Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan rata-rata pasien TB Puskesmas

Pemurus Dalam mempunyai masalah pada pengetahuan. Oleh karena itu, penting

untuk memberikan materi yang berfungsi untuk meningkatkan pengetahuan

tentang TB, dimana ketika pengetahuan membaik, maka perilaku akan semakin

bai dan budaya setempat mendukung pengobatan TB. Fokus materi yang

diberikan meliputi pengetahuan dasar dan deteksi dini TB.

2. Pengorganisasian

Pengorganisasian dalam kegiatan ini tidak mengalami kendala yang berarti.

Hal ini dikarenakan panitia sangat terbantu dengan kebijakan puskesmas yang

mendukung kegiatan ini dengan membantu perizinan serta proses kegiatan dari

awal hingga akhir, sehingga dapat terbentuk koordinasi yang baik antara panitia

dan pihak puskesmas. Masing-masing panitia pun dapat menjalankan tugasnya

dengan baik.

3. Aktualisasi

Perencanaan yang matang dan dukungan dari pihak terkait membuat proses

penyuluhan berjalan lancar. Penyuluhan dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2019 di

Posyandu Teratai Kelurahan Pemurus Dalam dari pukul 09.00-12.00 WITA.

Pada pukul 09.00 WITA peserta yang berhadir hanya 22 orang saja, kemudian 8
31

orng sisanya datang pada saat pertengahan acara sehingga tidak sempat

melakukan registrasi. Pada tahap awal pelaksanaan, peserta melakukan registrasi

dan diberikan snack kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan oleh

seksi acara. Kemudian panitia membagikan soal pretest sebanyak 20 soal untuk

dijawab oleh peserta. Setelah semua peserta selesai menjawab soal, dilanjutkan

dengan pembagian leaflet dan terlihat para peserta antusias membacanya. Setelah

selesai, panitia memberikan materi penyuluhan mengenai TB paru dan deteksi

dini selama 25 menit dengan menggunakan media leaflet. Lalu peserta diberikan

waktu selama 20 menit untuk tanya jawab dan diskusi dengan pemberi materi.

Dilanjutkan dengan pembagian soal posttest untuk dijawab oleh peserta, soal

tersebut sama seperti soal sebelumnya. Lalu dilanjutkan dengan penutupan dan

doa. Sebelum peserta keluar dari ruangan, kemudian dilanjutkan dengan foto

bersama. Dari awal acara hingga akhir acara, jumlah peserta yag hadir seluruhnya

berjumlah 30 peserta. Kendala yang dialami pada kegiatan ini adalah tempat,

dimana terjadi dilakukannya penyuluhan tidak terlalu luas namun cukup untuk 30

orang.

4. Evaluasi

Berdasarkan tabel 4.1 diatas, didapatkan untuk nilai 100 pada pre test

sebanyak 1 orang (3,3%), sedangkan pada post test sebanyak 17 orang (56,6%).

Nilai 90 pada pre test sebanyak 3 orang (10%), sedangkan post test sebanyak 5

orang (16,6%). Nilai ≤ 70 pada pre test sebanyak 10 orang dan pada post test

tidak ada. Berdasarkan hasil yang didapatkan menunjukkan adanya peningkatan


32

pengetahuan responden berdasarkan nilai rerata post test (94,83) dari nilai pre test

(71,83).

Kemudian data diatas dilakukan uji normalitas dengan uji Shapiro-Wilk.

Hasil uji normalitas data, pada pre test dan post test didapatkan nilai p>0,05

menunjukkan data terdistribusi normal. Kemudian dilakukan analisis data

menggunakan uji T berpasangan dan didapatkan hasil p=0,000. Dari uji ini

menunjukkan bahwa terdapat perubahan bermakna tingkat pengetahuan antara

sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan yang diketahui dari hasil post test

karena p < 0,05.

Berdasarkan distribusi jawaban pada gambar 4.1 dari 20 soal yang dijawab

sebelum penyuluhan terdapat jawaban benar terendah pada poin soal 6 dan 15

tentang cara pencegahan penyakit TB paru. Sedangkan jawaban benar tertinggi

pada poin soal 4 dan 5. Setelah penyuluhan dilakukan, berdasarkan gambar 4.1

didapatkan peningkatan tingkat pengetahuan pada semua poin soal.

Hasil data diatas menunjukkan terdapat peningkatan nilai pengetahuan

sesudah diberikan penyuluhan.

Lokasi penyuluhan sangat penting dalam mendukung terlaksananya

penyuluhan yang efektif. Jika lokasi penyuluhan tidak berada di tengah-tengah

suatu desa, maka masyarakat tidak bisa mengakses ke tempat tersebut dan

masyarakat enggan untuk datang ke tempat penyuluhan. Lokasi yang dipilih juga

harus memenuhi kriteria seperti mampu menampung orang banyak, nyaman, dan

terpenuhinya fasilitas yang mendukung jalannya penyuluhan. Kemudian untuk

penyuluhan tentang penyakit dan deteksi TB paru bisa diikutsertakan di program


33

Posyandu,Pusling, dan Puskesdes sehingga dapat meningkatkan pengetahuan

masyarakat terhadap penyakit TB paru.

Banyak faktor yang mendukung suatu penyuluhan dapat dikatakan berhasil

diantaranya yaitu dalam pemilihan metode. Pemilihan metode penyuluhan yang

digunakan adalah metode penyuluhan kelompok. Penyuluhan kelompok ini lebih

menguntungkan karena memungkinkan adanya umpan balik, dan interaksi

kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun pengaruh

terhadap perilaku dan sikap masyarakat. Dari media yang digunakan, disini

menggunakan media berupa leaflet dan juga penyampaian secara langsung

tentang penyakit TB paru kepada masyarakat. Disini lebih efektif dikarenakan

penyampaian langsung akan terjadi interaksi antara petugas kesehatan dengan

masyarakat serta pembagian leaflet agar memudahkan masyarakat dalam

mengingat apa yang sudah disampaikan oleh petugas kesehatan serta leaflet

tersebut bisa dibawa pulang agar masyarakat yang sudah diberikan materi bisa

menyampaikan ke keluarga tentang penyakit TB paru.

Untuk materi yang digunakan pada saat penyuluhan yaitu tentang

pengetahuan tentang penyakit dan deteksi dini TB paru. Disini kami

menambahkan materi tentang gejala-gejala penyakit TB paru, penularan, cara

pemeriksaan dahak, pengobatan dan pencegahan terhadap TB paru. Tujuan dari

penyampaian materi tersebut agar masyarakat bisa mendeteksi gejala-gejala TB

paru serta menghimbau agar masyarakat yang terkena TB paru segera

memeriksakan ke puskesmas atau fasilitas kesehatan yang terdekat serta

mendapatkan pengobatan.
34

Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan pemberian penyuluhan

bermanfaat terhadap sasaran. Hal ini membuktikan bahwa pentingnya

meningkatkan pengetahuan sebagai langkah meningkatkan angka kesembuhan

TB.