Anda di halaman 1dari 10

Penyakit TB Paru merupakan penyakit menahun/kronis (berlangsung lama) dan menular.

Penyakit ini dapat diderita oleh setiap orang, tetapi paling sering menyerang orang-orang yang
berusia antara 15 – 35 tahun, terutama mereka yang bertubuh lemah, kurang gizi atau yang
tinggal satu rumah dan berdesak-desakan bersama penderita TBC. Lingkungan yang lembap,
gelap dan tidak memiliki ventilasi memberikan andil besar bagi seseorang terjangkit TBC.
Penyakit Tuberkulosis dapat disembuhkan. Namun akibat dari kurangnya informasi
berkaitan cara pencegahan dan pengobatan TBC, kematian akibat penyakit ini memiliki
prevalensi yang besar. Indonesia berada dalam peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah
penderita TB. Setiap tahun muncul 500 ribu kasus baru dan lebih dari 140 ribu lainnya
meninggal.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

PENGERTIAN
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru-paru yang
disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis.

ETIOLOGI
Jenis kuman berbentuk batang, ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Sebagian
besar kuman berupa lemak/lipid sehingga kuman tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap
kimia , fisik. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang banyak oksigin,
dalam hal ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya yaitu. daerah apikal
paru, daerah ini yang menjadi prediksi pada penyakit Tuberkulosis.

PATOFISIOLOGI
Penyakit ini dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel efektor (makrofag),
sedangkan limphosit (sel T) adalah sel imonoresponsifnya. Imunitas ini biasanya melibatkan
makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limfosit dan limfokin, respon ini disebut sebagai
reaksi hipersensitifitas ( lambat). Basil Tuberkel yang mencapai permukaan alveolus akan
diinhalasi sebagai suatu unit (1-3 basil), gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan
disaluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Yang berada
dialveolus dibagian bawah lobus atas paru basil tuberkel ini membuat peradangan.
Leukosit polimorfonuklear nampak pada tempay tersebut dan mempagosit, namun tidak
membunuh basil. Hari-hari berikutnya leukosit diganti oleh makrofag, alveoli yang terserang
mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumoni akut. Pneumoni selluler ini dapat sembuh
dengan sendirinya. Proses ini dapat berjalan terus, dan basil terus dipagosit atau berkembang
biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui kelenjar getah bening. Makrofag yang
mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel
epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan waktu 10-20 hari). Nekrosis bagian sentral
lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju (nekrosis kaseosa) . Daerah yang
mengalami nekrosis dan jaringan granulasi yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblas akan
menimbulkan respon berbeda. Jaringan granulasi akan lebih fibroblas membentuk jaringan parut
dan ahirnya membentuk suatu kapsul yang dikelilingi tuberkel..

TANDA & GEJALA


Keluhan dapat bermacam-macam atau malah tanpa keluhan, yang terbanyak adalah :
1. Demam : subfebril, febril ( 40-41derajat C) hilang timbul.
2. Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, batuk ini untuk membuang /mengeluarkan
produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulenta (menghasilkan sputum)
3. Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.
4. Nyeri dada : ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis.
5. Malaise : ditemukan beripa anorexia, nafsu makan menurun, BB menurun, sakir kepala, nyeri
otot, keringat diwaktu malam hari
Pada Atelektasis terdapat gejala manifestasi klinik yaitu: Sianosis, Sesak nafas, Kolaps. Bagian
dada pasien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong kesisi yang sakit. Pada Foto
Torak tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diagfragma menonjol keatas.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan fisik :
 Pada tahap dini sulit diketahui.
 Ronchi basah, kasar dan nyaring.
 Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara
umforik.
 Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.
 Bila mengenai Pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak)
Pemeriksaan Radiologi :
 Pada tahap dini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas.
 Pada kavitas bayangan berupa cincin.
 Pada Kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi
Bronchografi :
Merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.
Laboratorium :
 Darah : leukosit meninggi, LED meningkat
 Sputum : pada kultur ditemukan BTA
 Test Tuberkulin : mantoux test (indurasi lebih dari 10-15 mm)

PENATALAKSANAAN
 Penyuluhan
 Pencegahan
 Pemberian obat-obatan :
1. OAT (obat anti tuberkulosa) :
2. Bronchodilatator
3. Expektoran
4. OBH
5. Vitamin
 Fisioterapi dan rehabilitasi
 Konsultasi secara teratur

MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN


PENGKAJIAN
a. Pola aktifitas dan istirahat
Fatique, Aktivitas berat timbul sesak (nafas pendek), Sulit tidur, Berkeringat pada malam hari
b. Pola Nutrisi
Anorexia, Mual, tidak enak diperut, BB menurun
c. Respirasi
Batuk produktif (pada tahap lanjut), sesak nafas, Nyeri dada.
d. Riwayat Keluarga
Biasanya keluarga penderita ada yang mempunyai kesulitan yang sama (penyakit yang sama)
e. Riwayat lingkungan
Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman padat, ventilasi rumah yang kurang,
jumlah anggauta keluarga yang banyak.
f. Aspek Psikososial
 Merasa dikucilkan
 Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri.
 Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.
 Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya
yang bayak.
 Masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien.
 Tidak bersemangat, putus harapan.

g. Riwayat Penyakit sebelumnya


 Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh sembuh.
 Pernah berobat, tetapi tidak sembuh.
 Pernah berobat tetapi tidak teratur (drop out).

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL


1. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :
 Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap.
 Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar.
 Daya tahan/ resistensi terhadap infeksi rendah
 Malnutrisi
 Terkontaminasi oleh lingkungan.
 Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman.
2. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan :
 Sekresi yang kental, lengket dan berdarah
 Lelah dan usaha batuk yang kurang
 Edema trachea/larink.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko :
 Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis.
 Kerusakan membran alveolar kapiler.
 Sekret yang kental
 Edema Bronkial.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan:
 Kelemahan
 Batuk yang sering, adanya produksi sputum,
 Dispnea
 Anorexia
 Penurunan finansial /biaya.
5. Kurangnya pengetahuan (kebutuhan Hygiene), tentang kondisi, pengobatan, pencegahan,
berhubungan dengan :
Tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, terbatas pengetahuan/kognitif, tidak
akurat, tidak lengkap imformasi yang didapat.

PENGOBATAN
1. Nama obat : INH
Dosis : 1 x 400 mg
Farmakokinetik:
 Diabsorbsi : saluran pencernaan, makanan mengurangi kecepatan dan tingkat absorbsi
 Puncak : 1 - 2 jam
 Distribusi : keseluruh jaringan tubuh dan cairan termasuk CNS, melewati plasenta
 Metabolisme : tidak diaktifkan oleh acetylation di dalam hati
 Eliminasi : waktu paruh 1 - 4 jam, 75 - 96% diekresikan dalam urin dalam 24 jam,
diekskresikan dalam air susu
Efek samping:
Biasanya dihubungkan dengan dosis
 CNS
Parestesias, perifeal neuropaty, nyeri kepala, kelemahan, tinitus, pusing, vertigo, ataxia,
somnolen, insomnia, amnesia,euphoria, toxis psikosis, perubahan tingkah laku, depresi,
kerusakan memori, hyperpireksia, halusinasi, konvulsi, otot kejang, mimpi yang berlebihan ,
menstruasi
 Mata
Penglihatan kabur, terganggunya penglihatan, optik neuritis, atropi
 GI
Mual , muntah , epigastrium distress, mulut kering, konstipasi
 Hematologi
Agranulositosis, hemolitik atau anemia aplastik, trombositopenia, eosinophilia,
methemoglobinemia
 Hepatotoksisitas
Panas dingin, kulit yang melepuh (mosbiliform, macula papular, purpura, urticaria) limpadenitis,
vaskulitis
 Metabolik endokrin
Penurunan absorbsi vitamin B12, defisiensi pridoksin (vitamin B6), pellagra, gynecomastia,
hyperglikemia, glikosuria, hyperkalemia, hipophosphathemia, hipokalsemia, acetonia, asidosis
metabolik, proteinemia
 Lain-lain
Dyspnea, retensi urine, demam yangdisebabkan obat-obat, rematik, lupus erythromatosus
syndrome, iritasi di tempat bekas injeksi.

Implikasi perawatan:
Pengelolaan :
 Obat oral INH lebih baik diberikan sebelum makan 1 - 2 jam sebelum makanan diabsorbsi, jika
terjadi iritasi GI, obat boleh diberikan bersama makanan
 Isoniazid dalam bentuk larutan disimpan dalam bentuk kristal dan disimpan dalam temperatur
yang rendah. Jika hal ini terjadi obat disimpan ditempat yang hangat atau dalam temperatur
ruangan.
 Nyeri lokal sementara setelah injeksi IM, massage daerah injeksi dengan cara memutar daerah
injeksi
 Obat disimpan harus ditutup rapat, temperatur 15 - 30 C kecuali diberikan secara sebaliknya
Pengkajian/efek obat:
 Tes adanya kelemahan yang tepat, sebelum pemberian therapy untuk mendeteksi kemungkinan
bakteri yang resisten
 Efek therapetik biasanya menjadi jelas dalam 2 - 3 minggu pertama pemberian therapi. Lebih
dari 90% pasien yang diberikan therapi mempunyai sputum yang berkurang setelah 6 bulan
 Pemeriksaan mata
 Monitor Tekanan darah selama pemberian obat
 Pasien seharusnya secara hati-hati dengan interview dan diperiksa dalam interval
bulanan untuk mendeteksi dini dari tanda dan gejala hepatotoksisitas
 Therapi INH yang kontinyu setelah onset dari disfungsi hepatik meningkatkan resiko kerusakan
hati yang lebih berat
 Isoniazid hepatitis (kadang-kadang fatal) biasanya berkembang selama 3 - 6 bulan pertama,
tetapi mungkin terjadi setiap waktu selama pemberian therapi, hal ini lebih banyak frekwensinya
pada pasien dengan umur 35 tahun atau lebih atau terutama yang meminum alkohol setiap hari
 Cek berat badan 2 kali seminggu, di bawah kondisi standart
 Pasien DM seharusnya diabsorbsi untuk hilangnya kontrol diabetes antara glikosuria yang nyata
dan tes benedik positif; yang palsu segera dilaporkan
 Neuritis peripheral lebih banyak menimbulkan afek toksik seringkali didahului oleh
parestesikaki dan tangan. Pasien yang bebas kerentanan meliputi (termasuk) alkoholik atau
pasien denga penyakit liver, malnutrisi, diabetik, inaktivator lambat, wanita hamil dan kekuatan.
Pendidikan kesehatan kepada keluarga dan pasien:
 Memeperingatkan pasien terhadap makanan yang mengandung tyramine (keju, ikan) yang
menjadi penyebab dari palpitasi, peningktan tekanan darah.
 Instruksi pasien untuk melapor kepada medis bila ada tanda dan gejala dari perkembangan
hepatotoksik
 Memperingatkan pasien terhadap makanan yang mengandung histamin (ikan tuna) yang bisa
menjadi penyebab dari palpitasi memperbesar respon obat (nyeri kepala,
hipotensi,palpitasi,berkeringat, diare)
 Umumnya therapi INH diberikan 6 bulan - 2 tahun untuk pengobatan TBC yang aktif, bila
digunakan untuk terapi preventif, INH diberikan 12 bulan.
2. Nama obat : Ethambutol hydrochloride
Dosis : Dewasa 15 mg/kgBB (oral), untuk pengobatan ulang mulai dengan 25 mg kg/BB/hari atau 60
hari, kemudian diturunkan sampai 15 mg/kgBB/hr
Anak : 6 - 12 tahun: 10 - 15 mg/kgBB/hari
Farmakokinetik:
 Absorbsi : 70% - 80% diabsorbsi di saluran pencernaan
 Puncak : 2 - 4 jam
 Distribusi : didistribusi ke seluruh jaringan tubuh, konsentrasi tertinggi dalam eritrosit,
ginjal, paru-paru, saliva, melalui plasenta, didistribusi kedalam air susu.
 Metabolisme : dimetabolisme dalam hati
 Eliminasi : waktu paruh 3 - 4 jam, 50% diekresikan dalam urin selama 24 jam, 20 - 22
% dikeluarkan dalam feses
Efek samping:
 CNS :
Nyeri kepala , pening/pusing, kebingungan, halusinasi, parestesia, neuritis peripheral, nyeri
tulang sendi, kelemahan pada ekstremitas bagian bawah
 Mata :
Toksisitas bola mata : neuritis retrabulbar optik, kemungkinan neuritis anterior optik dengan
penurunan dalam ketajaman penglihatan, menyempitnya luas lapang pandang, kebutaan pada
warna merah-hijau, skotoma pada bagian pusat dan periferal, mata nyeri, fotophobia, perdarahan
dan edema retina.
 Saluran pencernaan :
Anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen
 Hypersensitifitas :
Pruritis , dermatitis, anafilaktis
 Hyperuresemia, demam , malaise, leukopenia (jarang), sputum yang mengandung darah,
gangguan sementara dalam fungsi liver (kemungkinan hepatotoksisitas), nefrotoksisitas, gout
artritis akut, abnormalitas EKG, pengeluaran keringat
Implikasi perawatan:
 Ethambutol mungkin diberikan setelah makan jika iritasi saluran pencernaan terjadi. Absorpsi
tidak begitu dipengaruhi oleh makanan dalam perut.
 Lindungi ethambutol dari cahaya, kelembaman dan panas. Letakan dalam kemasan
yang tertutup rapat-rapat pada suhu 15 - 30 C kecuali kalau diberikan langsung .
Pengkajian dan efek obat:
 Kultur dan tes kerentanan seharusnya seharusnya ditentukan sebelum dimulainya tindakan/dan
pengulangan secara periodik pada terapi secara keseluruhan .
 Toksisitas okuli secara umum kelihatan dalam 1 - 7 bulan setelah dimulainya tyerapi. Gejala
biasanya tidak tampak selama beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah obat tidak
dilanjutkan
 Uji opthalmoskopik meliputi tes luas lapang pandang , tes untuk ketajaman penglihatan
menggunakan kertas mata, dan tes untuk penggolongan diskriminasi warna seharusnya
ditentukan lebih dulu untuk memulai therapi dan dalam interval bulanan selama therapi. Mata
seharusnya dites secara terpisah sama baiknya secara bersama-sama
 Monitor rasio input dan output pada pasien dengan kerusakan ginjal . Laporkan adanya oliguria
atau perubahan yang penting pada ratio atau dalam laporan laboratorium tentang fungsi ginjal.
Akumulasi sistemik dengan toksisitas dapat dihasilkan dari ekresi obat-obat yang lambat
 Tes fungsi ginjal dan hepatik, hitung sel darah dan determinan serum asam urat seharusnya
ditentukan dalam interval yang teratur pada terapi secara menyeluruh.

Pendidikan pasien dan keluarga:

 Secara umum, therapi dapat berlanjut selama 1-2 terapi lebih lama, meskipun teraturnya
pengobatan yang lebih pendek bisa digunakan dengan baik
 Jika pasien hamil, selama pengobatan sarankan untuk melaporkan pada dokter dengan segera .
Obat seharusnya tersendiri.
 Sarankan pasien untuk melaporkan dengan tepat pada dokter tentang kejadian mengaburnya
pandangan , perubahan persepsi warna, mengecilnya luas lapang pandang , beberapa gejala
penglihatan lainnya. Pasien seharusnya secara periodik ditanyakan tentang matanya
 Jika dideteksi secara dini, defek visual secara umum tidak kelihatan lebih dari beberapa minggu
sampai beberapa bulan. Pada beberapa instansi (jarang), pemulihan mungkin lambat. Selama
setahun atau lebih atau defek mungkin irreversibel.
3. Nama obat : Rifampisin
Dosis : 1 x 450 mg
Farmakokinetik:
 Absorbsi : dengan mudah diabsorbsi di saluran pencernaan
 Puncak : 2 - 4 jam