Anda di halaman 1dari 12

RESUME PRAKTIKUM COCCYX

PRAKTIKUM 4 : PENGARUH PH DAN SUHU


TERHADAP REAKSI ENZIMATIK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
ALAT

 Tabung Reaksi
 Rak tabung reaksi
 Erlenmeyer
 Biuret
 Stopwatch
 Spektrofotometer
 Pipet skala 1 ml

Bahan

 Larutan enzim amilase 1%


 Larutan NaCl 0,9%
 Larutan amilum 1%
 Larutan penyangga masing-masing kelompok dengan satu macam pH
( pH 4,5 ; 6,5 ; 8 dan 10 )
 Larutan KI - KIO3
KI 5,0 g
KIO3 0,375
NaOH 2,0 ml
Aquades 1 L
 LarutanHCL 0,05 M

PROSEDUR

PENGARUH pH TERHADAP REAKSI ENZIMATIK

1. Menyiapkan alat dan bahan


2. Menyediakan 5 tabung reaksi, memberi tanda masing-masing 0’ 5’ 10’ 15’ dan
20’
3. Memasukkan kedalam tabung Erlenmeyer 15 larutan penyangga dengan pH yang
ditentukan, 3 ml larutan amilum dan 6ml larutan NaCL 0,9%. Mengocok agar
semua tercampur
4. Mengisi masing – masing tabung reaksi yang telah diberi tanda dengan 10 ml
larutan HCL 0,05 N
5. Mengambil 1 ml cairan dari labu Erlenmeyer dan memasukkan kedalam tabung
reaksi dengan tanda 0’. Mengocok sebentar
6. Menambahkan 1 ml larutan enzim ke dalam labu erlenmeyer dan campur dengan
cepat.tepat pada sat menambahkan enzim, catatlah waktunya (jalankan
stopwatch)
7. Mendeki 5 menit setelah memasukkan enzim ke dalam erlenmeyer, pipetlah 1 ml
larutan dari erlenmeyer, memasukkan larutan dalam pipettersebut ke tabung
reaksi bertanda 5’ tepat pada saat petunjuk waktu menunjukkan waktu 5 menit.
Mengocok sebentar
8. Tepat pada tiap 5 menit seterusnya, kemudian memasukkan 1 ml larutan dari labu
erlenmeyer berturut-turut kedalam tabung-tabung reaksi dengan tanda 10’, 15’ ,
dan 20’ seperti diatas. Mengocok sebentar
9. Setelah semua selesai, menambahkan ke dalam tabung reaksi 1 ml larutan
KI-KIO3. Mencampur dengan baik dan menunggu 5-10 menit
Menentukan intensitas warna yang terjadi dengan spektrofotometer dengan
panjang gelombang 620 nm
10. Mencatat hasil yang didapat lalu membuat grafik hubungan antara % substrat
yang dicerna (ordinat) dengan waktu (absis)

PENGARUH SUHU TERHADAP REAKSI ENZIMATIK

1. Menyiapkan alat dan bahan


2. Menyediakan 5 tabung reaksi, memberi tanda masing-masing 0’ 5’ 10’ 15’ dan
20’ dan Mengisi masing – masing tabung reaksi yang telah diberi tanda dengan 10
ml larutan HCL 0,05 N

3. Memasukkan kedalam tabung Erlenmeyer larutan penyangga dengan pH 6,5 ,


larutan amilum 3 ml dan 6ml larutan NaCL 0,9%. Mencampur baik-baik lalu
meletakkan pada suhu yang ditentukan selama 30 menit
4. Mengambil 1 ml cairan dari labu Erlenmeyer dan memasukkan kedalam tabung
reaksi dengantanda 0’. Mengocok sebentar
Mengambil 1 ml cairan dari labu Erlenmeyer dan memasukkan kedalam tabung
reaksi dengantanda 0’lalu
Menambahkan 1 ml larutan enzim ke dalam labu erlenmeyer dan campur dengan
cepat.tepat pada sat menambahkan enzim, catatlah waktunya (jalankan
stopwatch)
5. Setiap 5 menit setelah ini, kemudian memasukkan 1 ml larutan dari labu
erlenmeyer berturut-turut kedalam tabung-tabung reaksi dengan tanda 10’, 15’ ,
dan 20’
6. Setelah semua selesai, menambahkan ke dalam tabung reaksi 1 ml larutan
KI-KIO3. Mencampur dengan baik dan menunggu 5-10 menit
Menentukan intensitas warna yang terjadi dengan spektrofotometer dengan
panjang gelombang 620 nm
7. Mencatat hasil yang didapat lalu membuat grafik hubungan antara % substrat yang
dicerna (ordinat) dengan waktu (absis)
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

 PH
a. Tabel pengamatan
i. Tabel 1. Hasil absorbansi substrat pada waktu (t)
Absis Waktu (t)
pada PH 0’ 5’ 10’ 15’ 20’
5.0 0.089 0.072 0.077 0.076 0.079

ii.
Absis % substrat yang dicerna pada waktu (t)
pada PH 0’ 5’ 10’ 15’ 20’
5.0 0% 34,55% 13,48% 14,60% 11,23%

iii. Perhitungan dengan spektofotometer

𝑎𝑏𝑠𝑖𝑠 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡
% substrat yang dicerna = 100% − ( 𝑎𝑏𝑠𝑖𝑠 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡0 x 100% )

0.089
1. Pada waktu 0’ = 100% - ( 0.089 x 100% ) = 0%
0.072
2. Pada waktu 5’ = 100% - ( 0.089 x 100% ) = 34.55%
0.077
3. Pada waktu 10’ = 100% - ( 0.089 x 100% ) = 13.48%
0.076
4. Pada waktu 15’ = 100% - ( 0.089 x 100% ) = 1460%
0.079
5. Pada waktu 20’ = 100% - ( 0.089 x 100% ) = 11.23%

iv. Grafik pengamatan


v. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh nilai absorbansi sebesasr
0.089 A pada kuvet 0’ ; 0.072A pada kuvet 5’ ; 0.077A pada kuvet 10’
;0.76 A pada kuvet 15’ ; dan 0.079 pada kuvet 20’. Angkka 0.089 A padda
kuvet 0’ menunjukan absorbansi untuk subtrat murni yang belum
mengalami reaksi kimiawi dengan enzim. Maka untuk mencari persen
kadar substrat sisa dapat menggunakan rumus yang telah dicantumkan
pada pada perhitungan di atas. Nilai substrat yang tersisa dikurangkan
dengan 100% (%kadar murni ) un tuk mengetahui nilai % substrat yang
tercerna pada setiap menit paska pemnberian enzim (% substrat yang
dikatalisis oleh enzim). Nilai tersebut diplotkan dalam suatu kurva dengan
sumbu X (aksis) adalah t dalam menit dan sumb u Y ( ordinatnya ) adalah
nilai % substrat yang tercerna.
Jika dilakukan regresi linier pada kurva % substrat tercerna
terhadap waktu dalam menit menunjukan suati tren / kecenderungan kurva
turun secara linier. Dan nilai absorbansi pada tiap tiap men it berbanding
lurus dengan konsentrasi substrat sesuai dengan hokum lambert beer.
Sehingga jika diamati, makin lama nilai absorbansi dari konsentrsi substrat
tercerna mengalami penurunan. Hal ini menunjukan bahwa pada menit
selanjutnya substrat yang tercerna semakin sedikit dikarenakan PH buffer
mulai memengaruhi enzim. Derajat keasaman / PH mempengaruhi enzim
dengan cara mengubah struktur tersier dari enzim menjadi tidak aktif/
denaturasi. Karens enzim mulai tidak aktif maka jumlah substrat yang
tercerna mengalami penurunan.
HASIL DAN ANALISIS DATA

 SUHU
 Tabel Pengamatan Pengaruh Enzim 6,5 dan Suhu Ruang
Tabel 1. Hasil Absorbansi Substrat pada waktu (t)
Absis pada Waktu (t)
Suhu 0’ 5’ 10’ 15’ 20’
Suhu Ruang 0.153 0.115 0.092 0.091 0.090

Tabel 2. Substrat yang dicerna pada waktu (t)


Absis pada % Substrat yang dicerna pada waktu (t)
Suhu 0’ 5’ 10’ 15’ 20’
Suhu Ruang 0% 24.90% 39.90% 40.60% 41.20%

 Perhitungan (AS) dengan Spektofotometer

𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑡 (𝑥)
% Substrat yang dicerna = 100% - (𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑡 (𝑜) 𝑥 100%)

1. % Substrat pada waktu 0’ 4. % Substrat pada waktu


100% - ( 15’
0.153 100% - (
𝑥 100%)
0.153 0.091
100% - 100% = 0% 𝑥 100%)
0.153
100% - 59.4%
2. % Substrat pada waktu 5’ =40.60%
100% - (
0.115 5. % Substrat pada waktu
𝑥 100%)
0.153
20’
100% - 75.1%
100% -
=24.90% 0.090
( 𝑥 100%)
0.153
3. % Substrat pada waktu 100% -
10’ 58.8%=41.20%
100% -
0.092
(0.153 𝑥 100%)
100% - 60.1%
=39.90%
 Grafik Pengamatan

Grafik Suhu
50.00%
40.00%
30.00%
20.00% Grafik Suhu
10.00%
0.00%
0' 5' 10' 15' 20'

PEMBAHASAN

Amilum adalah nama lain dari pati yang merupakan karbohidrat kompleks
yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa sebagai
produk fotosintesis dalam jangka panjang. Dalam percobaan ini, amilum
digunakan sebagai substrat Amylase adalah suatu katalis dalam sistem
pencernaan dengan menghidrolisis poH menjadi disakarida yaitu maltose. Enzim
didapatkan dari pancreas yang memiliki pH optimum 6,7 – 7,0 (Worthington
Biochemical corporation, 2015) atau dapat dikatakan enzim ini bekerja pada pH
6,6 (Guyton, 1997). Selain dari pancreas, enzim ini dapat ditemukan pada saliva
dengan suhu optimum 37℃ sesuai dengan suhu tubuh normal manusia. Dan
pada suhu ruang, enzim masih dapat bekerja dengan baik walaupun tidak
optimum(Gaman & Sherrington,1994)

Pada percobaan, kami mengukur jumlah substrat yang dicerna oleh enzim
dalam presentase dengan kondisi pH 6,5 yang didiamkan pada suhu ruang, t
27℃ , selama 30 menit yang dilihat pada menit ke 5, 10, 15, 20 dengan kontrol,
substrat yang tidak diberi enzim pada menit ke 0.

Pada kondisi ini, grafik yang digambarkan mengalami kenaikan seiring


bertambahnya waktu. Pada menit ke 5, grafik menunjukkan angka 29.9% dan
meningkat terus hingga di menit ke 20 menunjukkan angka 41.2%, merupakan
persentase substrat yang tercerna paling banyak. Bisa disimpulkan menit ke 20
adalah waktu optimum bagi enzim dengan pH 6,5 pada suhu ruang untuk
melakukan aktivitas enzimatik. Pada kondisi ini, pH enzim amylase sudah pada
titik optimum tetapi suhu yang digunakan bukanlah suhu optimum, walaupun
enzim amylase masih bisa bekerja dengan baik pada suhu ruang. Kenaikan hasil
persentase ini mengatakan bahwa enzim tidak mengalami denaturasi sehingga
semakin lama dan penambahan waktu semakin banyak persentase substrat yang
dicerna.
PEMBAHASAN SECARA UMUM

1. Faktor-Faktor yang mempengaruhi reaksi enzimatis

 Suhu

Kecepatan reaksi yang dikatalis enzim akan meningkat dengan seiring dengan
naiknya suhu, reaksi paling cepat pada suhu optimum. Suhu terlalu tinggi bisa
menyebabkan enzim terdenaturasi. Pada suhu 0o Celcius, enzim menjadi tidak aktif
dan tidak dapat kembali aktif pada suhu normal.

Grafik hubungan aktivitas enzim dengan suhu

Aktivitas enzim

Suhu

 pH
enzim pada umunya bersifat amfortik, yang berarti enzim mempunyai konstanta
disosiasi pada gugus asam maupun gugus basanya terutama gugus terminal karboksil
terutama gugus terminal amino. Perubahan kereaktifan enzim diperkirakan
merupakan akibat dari perubahan pH lingkungan.

Grafik hubungan kecepatan reaksi dengan pH

Kecepatan reaksi
Kecepatan
Reaksi
pH

Konsentrasi enzim

 Konsentrasi Enzim
Semakin tinggi konsentrasi enzim maka kecepatan reaksi akan meningkat hingga
batas tertentu. Namun, hidrolisis substrat akan konstan dengan naiknya konsentrasi
enzim. Hal ini disebabkan penambahan enzim sudah tidak efektif lagi.

 Konsentrasi Substrat
Kecepatan reaksi akan meningkat jika konsentrasi substrat juga meningkat,
namun kecepatan reaksi akan semakin mengecil hingga mencapai suatu titik batas
yang pada akhirnya penambahan konsentrasi substrat hanyak akan berpengaruh
sedikit dalam meningkatkan kecepatan reaksi.

 Activator dan inhibitor


a. Aktifator adala senyawa/ ion yang dapat meningkatkan kecepatan reaksi
enzimatis. Komponen kimia yang membentuk enzim disebut juga kofakto.
Kofaktor tersebut dapat berupa ion ion anorganik seperti Zn, Fe. Ca, Mn, Cu,
Mg atau dapat pula sebagi molekul organic yang disebut koenzim.
b. Inhibitor adalah suatu zat kimia tertentu yang dapat menghambat aktifitas
enzim. Pada umumnya cara kerja inhibitor yaitu dengan menyerang sisi aktif
enzim hingga tidak berkaitan dengan substrat sehingga fungsi katalisnya
terganggu

2. Perbedan kecepatan reaksi sesaat, reaksi awal dan kecepatan rata rata.

Kecepatan reaksi enzimatik dapat diukur dengan mengukur jumlah


substrat yang diubah / produk yang dihasilkan persatuan waktu

c. Kecepatan sesaat adalah tangent sudut yang dibentuk oleh grafik di suatu titik
𝑑𝑠 𝑑𝑃
dengan sumbu x, dan dapar ditumuskan : 𝑣 𝑠𝑒𝑠𝑎𝑎𝑡 = − 𝑑𝑠  𝑣 𝑠𝑒𝑠𝑎𝑎𝑡 = 𝑑𝑡
d. Kecepatan awal yaitu kecepatan saat di titik 0 , saat grafik masih berupa garis
lurus

3. pH optimum pada reaksi enzimatik


pH optimum adalah kondisi dimana enzim dapat bekerja secara maksimal. pH optimal
enzim adalah sekitar pH 7 (netral) dan jika medium menjadi sangat asam atau sangat
alkalis enzim mengalami inaktivasi. Akan tetapi beberapa enzim hanya beroperasi
dalam keadaan asam atau alkalis. Sebagai contoh, pepsin, enzim yang dikeluarkan ke
lambung, hanya dapat berfungsi dalam kondisi asam, dengan pH optimal 2

4. Fungsi larutan NaCl, HCl, dan KI-KIO3 pada percobaan reaksi enzimatik
 NaCl : sebagai activator reaksi. Alasan digunakannya NaCl karena ia mudah
terionisasi dan menyerupai elektrolit tubuh. NaCl terdiri dari ion Na+ dan Cl-
dimana Na+ mengendalikan sifat-sifat enzim dan Cl- yang berfungsi untuk
mengaktifkan enzim.
 HCl : untuk menciptakan suasana asam karena pada larutan akan ditambahkan
KI-KIO3. Dan sebagai sumber Cl- agar aktivitas enzim amilase meningkat
 KI-KIO3 : sebagai indicator warna. KI-KIO3 pada suasana asam akan
melepaskan ion dan akan memberikan warna pada larutan. Karena glukosa
dapat larut dengan yodium dan berubah warna menjadi biru. Berkurangnya
warna biru menyebabkan sebagian substrat telah dicerna oleh enzim amylase
BAB IV

KESIMPULAN

 Semakin banyak enzim yang berikatan dengan substrat,kecepatan reaksi akan semakin
meningkat dan semakin banyak kompleks enzim-substrat yang terbentuk sehingga
produk yang terbentuk juga semakin banyak.
 Tetapi, pada praktikum, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan pernyataan diatas.
Terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga kecepatan reaksi enzimatik tidak
berbanding lurus dengan kadar enzim melainkan kecepatan enzim bervariasi naik
turun terhadap kadar enzim
 Penyimpangan tersebut dapat disebabkan berbagai hal :
1. Waktu saat pengambilan dan pemberian enzim tidak konstan
2. Kurang teliti saat pengambilan reagensia
3. Amilum atau substrat yang digunakan terkontaminasi zat lain