Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

GLOBAL DEVELOPMENTAL DELAY (GDD)

A. Definisi

Global developmental delay (GDD) atau Keterlambatan Perkembangan Global


(KPG) adalah keterlambatan yang signifikan pada dua atau lebih domain perkembangan
anak, diantaranya: motorik kasar, halus, bahasa, bicara, kognitif, personal atau sosial
aktivitas hidup sehari-hari. Istilah KPG dipakai pada anak berumur kurang dari 5 tahun,
sedangkan pada anak berumur lebih dari 5 tahun saat tes IQ sudah dapat dilakukan dengan
hasil yang akurat maka istilah yang dipergunakan adalah retardasi mental. Anak dengan
KPG tidak selalu menderita retardasi mental sebab berbagai kondisi dapat menyebabkan
seorang anak mengalami KPG seperti penyakit neuromuskular, palsi serebral, deprivasi
psikososial meskipun aspek kognitif berfungsi baik.

B. Aspek-aspek Perkembangan yang Dipantau


Aspek-aspek perkembangan yang dipantau meliputi :
1. Motorik kasar, adalah aspek yang berhubungan dnegna kemampuan anak melakukan
pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk, berdiri,
dan sebagainya.
2. Motorik halus, adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh
otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu,
menjimpit, menulis, dan sebagainya.
3. Kemampuan bicara dan bahasa, adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan
untuk memberikan respon terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti
perintah, dan sebagainya.
4. Sosialisasi dan kemandirian, adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan
mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah
dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, dan
sebagainya.

C. Etiologi
KPG dapat merupakan manifestasi yang muncul dari berbagai kelainan
neurodevelopmental (mulai dari disabilitas belajar hingga kelainan neuromuskular. Tabel
berikut memberikan pendekatan beberapa etiologi KPG
Tabel 1. Penyebab KPG menurut Forsyth dan Newton, 2007 (dikutip dari Walters
AV, 2010)
Kategori Komentar
Genetik atau Sindromik 1. Sindrom yang mudah
Teridentifikasi dalam 20% dari diidentifikasi, misalnya Sindrom
mereka yang tanpa tanda-tanda Down
neurologis, kelainan dismorfik, 2. Penyebab genetik yang tidak
atau riwayat keluarga terlalu jelas pada awal masa kanak-
kanak, misalnya Sindrom Fragile
X, Sindrom Velo-cardio-facial
(delesi 22q11),Sindrom Angelman,
Sindrom Soto, Sindrom Rett,
fenilketonuria maternal,
mukopolisakaridosis, distrofi
muskularis tipe Duchenne, tuberus
sklerosis, neurofibromatosis tipe 1,
dan delesi subtelomerik.
Metabolik 1. Skrining universal secara
Teridentifikasi dalam 1% dari nasional neonatus untuk
mereka yang tanpa tanda-tanda fenilketonuria (PKU) dan
neurologis, kelainan dismorfik, defisiensi acyl-Co A
atau riwayat keluarga Dehidrogenase rantai sedang.
2. Misalnya, kelainan siklus/daur
urea

Endokrin 1. Terdapat skrining universal


neonatus untuk hipotiroidisme
kongenital
Traumatik 3. Cedera otak yang didapat
Penyebab dari lingkungan 4. Anak-anak memerlukan
kebutuhan dasarnya seperti
makanan, pakaian, kehangatan,
cinta, dan stimulasi untuk dapat
berkembang secara normal
5. Anak-anak tanpa perhatian,
diasuh dengan kekerasan, penuh
ketakutan, dibawah stimulasi
lingkungan mungkin tidak
menunjukkan perkembangan yang
normal
6. Ini mungkin merupakan faktor
yang berkontribusi dan ada
bersamaan dengan patologi lain
dan merupakan kondisi yaitu
ketika kebutuhan anak diluar
kapasitas orangtua untuk dapat
menyediakan/memenuhinya
Malformasi serebral 7. Misalnya, kelainan migrasi
neuron
Palsi Serebral dan Kelainan 8. Kelainan motorik dapat
Perkembangan Koordinasi mengganggu perkembangan
(Dispraksia) secara umum
Infeksi 9. Perinatal, misalnya Rubella,
CMV, HIV
10. Meningitis neonatal
Toksin 1. Fetus: Alkohol maternal atau
obat-obatan saat masa
kehamilan
2. Anak: Keracunan timbal

D. Gejala Klinis
Mengetahui adanya KPG memerlukan usaha karena memerlukan perhatian dalam
beberapa hal. Padahal beberapa pasien seringkali merasa tidak nyaman bila di perhatikan.
Akhirnya membuat orang tua sekaligus dokter untuk agar lebih jeli dalam melihat gejala
dan hal yang dilakukan oleh pasien tersebut. Skrining prosedur yang dilakukan dokter,
dapat membantu menggali gejala dan akan berbeda jika skrining dilakukan dalam sekali
kunjungan dengan skrining dengan beberapa kali kunjungan karena data mengenai
panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas dan berat badan. Mengacu pada
pengertian KPG yang berpatokan pada kegagalan perkembangan dua atau lebih domain
motorik kasar, motorik halus, bicara, bahasa, kognitif, sosial, personal dan kebiasaan
sehari-hari dimana belum diketahui penyebab dari kegagalan perkembangan ini. Terdapat
hal spesifik yang dapat mengarahkan kepada diagnosa klinik KPG terkait
ketidakmampuan anak dalam perkembangan milestonesyang seharusnya, yaitu:

1. Anak tidak dapat duduk di lantai tanpa bantuan pada umur 8 bulan
2. Anak tidak dapat merangkak pada 12 bulan
3. Anak memiliki kemampuan bersosial yang buruk
4. Anak tidak dapat berguling pada umur 6 bulan
5. Anak memiliki masalah komunikasi
6. Anak memiliki masalah pada perkembangan motorik kasar dan halus

E. Patofisiologi
Pathway

Infeksi dari ibu selama di


kandungan (CMV, Rubella,
Toksoplasma)

Anak dengan CMV


kongenital
Masuk melalui
saluran eustachius di
telinga
Suhu tubuh meningkat Immaturitas imun tubuh
Defisiensi Keterlambatan motorik
Perkembangan Perkembangan bahasa
pengetahuan orang tua Pertumbuhan otak Cairan
dan serumen
personal sosial
Ketidakefektifan pertumbuhan
kasar dan halusdan Otitis
Kurang media
pendengaran
Ansietas orang tua
Perkembangan
terhambat syaraf meningkat
performa peran Mikrocephali
perkembangan
terganggu terganggu
syaraf terganggu
F. Pemeriksaan Penunjang
Secara umum, pemeriksaan laboratorium untuk anak dengan kemungkinan
gangguan perkembangan tidak dibedakan dengan tes skrining yang dilakukan pada anak
yang sehat. Hal ini penting dan dilakukan dengan periodik. Adapun beberapa
pemeriksaan penunjangnya antara lain.
1. Skrining metabolik
Skrining metabolik meliputi pemeriksaan: serum asam amino, serum glukosa, bikarbonat,
laktat, piruvat, amonia, dan creatinin kinase. Skrining metabolik rutin untuk bayi baru
lahir dengan gangguan metabolisme tidak dianjurkan sebagai evaluasi inisial pada KPG.
Pemeriksaan metabolik dilakukan hanya bila didapatkan riwayat dari anamnesis atau
temuan pemeriksaan fisik yang mengarah pada suatu etiologi yang spesifik. Sebagai
contohnya, bila anak-anak dicurigai memiliki masalah dengan gangguan motorik atau
disabilitas kognitif, pemeriksaan asam amino dan asam organik dapat dilakukan. Anak
dengan gangguan tonus otot harus diskrining dengan menggunakan kreatinin
phospokinase atau aldolase untuk melihat adanya kemungkin penyakit muscular
dystrophy.
2. Tes sitogenetik
Tes sitogenetik rutin dilakukan pada anak dengan KPG meskipun tidak ditemukan
dismorfik atau pada anak dengan gejala klinis yang menunjukkan suatu sindrom yang
spesifik. Uji mutasi Fragile X, dilakukan bila adanya riwayat keluarga dengan KPG.
Meskipun skrining untuk Fragile X lebih sering dilakukan anak laki-laki karena insiden
yang lebih tinggi dan severitas yang lebih buruk, skrining pada wanita juga mungkin saja
dilakukan bila terdapat indikasi yang jelas.Diagnosis Rett syndrome perlu
dipertimbangkan pada wanita dengan retardasi mental sedang hingga berat yang tidak
dapat dijelaskan.
3. Skrining tiroid
Pemeriksaan tiroid pada kondisi bayi baru lahir dengan hipotiroid kongenital perlu
dilakukan. Namun, skrining tiroid pada anak dengan KPG hanya dilakukan bila terdapat
klinis yang jelas mengarahkan pada disfungsi tiroid.
4. EEG
Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada anak dengan KPG yang memiliki riwayat
epilepsia tau sindrom epileptik yang spesifik (Landau-Kleffner). Belum terdapat data
yang cukup mengenai pemeriksaan ini sehingga belum dapat digunakan sebagai
rekomendasi pemeriksaan pada anak dengan KPG tanpa riwayat epilepsi.
5. Imaging
Pemeriksaan imaging direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin pada KPG (terlebih
bila ada temuan fisik berupa mikrosefali). Bila tersedia MRI harus lebih dipilih
dibandingkan CT scan jika sudah ditegakkan diagnosis secara klinis sebelumnya.

G. Penatalaksanaanss
Pengobatan bagi anak-anak dengan KPG hingga saat ini masih belum ditemukan. Hal
itu disebabkan oleh karakter anak-anak yang unik, dimana anak-anak belajar dan
berkembang dengan cara mereka sendiri berdasarkan kemampuan dan kelemahan
masing-masing. Sehingga penanganan KPG dilakukan sebagai suatu intervensi awal
disertai penanganan pada faktor-faktor yang beresiko menyebabkannya. Intervensi yang
dilakukan, antara lain.

1. Speech and Language Therapy


Speech and Language Therapy dilakukan pada anak-anak dengan kondisi CP,
autism, kehilangan pendengaran, dan KPG. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan berbicara, berbahasa dan oral motoric abilities. Metode yang dilakukan
bervariasi tergantung dengan kondisi dari anak tersebut. Salah satunya, metode
menggunakan jari, siulan, sedotan atau barang yang dapat membantu anak-anak
untuk belajar mengendalikan otot pada mulut, lidah dan tenggorokan. Metode
tersebut digunakan pada anak-anak dengan gangguan pengucapan. Dalam terapi ini,
terapis menggunakan alat-alat yang membuat anak-anak tertarik untuk terus belajar
dan mengikuti terapi tersebut.
2. Occupational Therapy
Terapi ini bertujuan untuk membantu anak-anak untuk menjadi lebih mandiri dalam
menghadapi permasalahan tugasnya. Pada anak-anak, tugas mereka antara bermain,
belajar dan melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, memakai pakaian, makan,
dan lain-lain. Sehingga anak-anak yang mengalami kemunduran pada kemampuan
kognitif, terapi ini dapat membantu mereka meningkatkan kemampuannya untuk
menghadapi permasalahannya.
3. Physical Therapy
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar dan halus,
keseimbangan dan koordinasinya, kekuatan dan daya tahannya. Kemampuan motorik
kasar yakni kemampuan untuk menggunakan otot yang besar seperti berguling,
merangkak, berjalan, berlari, atau melompat. Kemampuan motorik halus yakni
menggunakan otot yang lebih kecil seperti kemampuan mengambil barang. Dalam
terapi, terapis akan memantau perkembangan dari anak dilihat dari fungsi, kekuatan,
daya tahan otot dan sendi, dan kemampuan motorik oralnya. Pada pelaksanaannya,
terapi ini dilakukan oleh terapi dan orang-orang yang berada dekat dengan anak
tersebut. Sehingga terapi ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
4. Behavioral Therapies
Anak-anak dengan delay development akan mengalami stress pada dirinya dan
memiliki efek kepada keluarganya. Anak-anak akan bersikap agresif atau buruk
seperti melempar barang-barang, menggigit, menarik rambut, dan lain-lain.
Behavioral therapy merupakan psikoterapi yang berfokus untuk mengurangi masalah
sikap dan meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi. Terapi ini dapat
dikombinasikan dengan terapi yang lain dalam pelaksanaanya. Namun, terapi ini
bertolak belakang dengan terapi kognitif. Hal itu terlihat pada terapi kognitif yang
lebih fokus terhadap pikiran dan emosional yang mempengaruhi sikap tertentu,
sedangkan behavioural therapy dilakukan dengan mengubah dan mengurangi sikap-
sikap yang tidak diinginkan. Beberapa terapis mengkombinasikan kedua terapi
tersebut, yang disebut cognitive-behavioural therapy.

H. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada anak-anak dengan KPG, yakni kemunduran
perkembangan pada anak-anak yang makin memberat. Jika tidak tertangani dengan baik,
dapat mempengaruhi kemampuan yang lain, khususnya aspek psikologi dari anak itu
sendiri. Salah satunya, anak akan mengalami depresi akibat ketidakmampuan.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Focus Assesment
1. Identitas Klien
Nama harus lengkap dan jelas, umur perlu dipertanyakan untuk interpretasi tingkat
perkembangan anak yang sudah dicapai sesuai dengan umur, jenis kelamin, dikatakan
anak laki-laki lebih sering sakit disbanding anak perempuan, tetapi belum diketahui
secara pasti mengapa demikian. Nama orang uta harus diketahui, supaya tidak keliru
dengan orang lain. A;amat untuk mempermudah komunikasi, kondisi lingkungan dan
komunititas untuk mengetahui epidemiologi (orang, tempat dan waktu). Umur,
pendidikan dan pekerjaan untuk pendekatan anamnesis ddalam memperoleh data yang
akurat, menggambarkan tingkat status social dan pola suh, asah dan asih. Agama dan
sukku menilai perilaku tentang kesehatan dan penyakit berhubungan dengan kebiasaan
dan tradisi yang dapat menunjang atau menghambat perilaku sehat.
2. Keluahan utama
Keluahan yang membuat klien dibawa ke rumah sakit karena pertumbuhan dan
perkembangan anaknya yang terlambat dari kelompok seusianya.
3. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya diawali dari pengalaman danperasaan cemas ibu klien yang melihat
pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang terlambat tidak sesuai dengan
kelompok seusianya.
4. Riwayat Penyakit dahulu
Penyakit seperti rubella, tetanus, difteri, meningitis, morbili, polio, pertusis, vericella
dan encephalitis dapat berkaitan atau mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
baik secara enteral maupun parenteral.
5. Riwayat antenatal natal dan postnatal
6. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan kiri atas, lingkar dada terakhir. Tingkat
perkembangan anak yang telah dicapai motorik kasar, halus, social, dan bahasa.
7. Pemeriksaan fisik
Faktor risiko untuk keterlambatan dapat dideteksi dari pemeriksaan fisik. Pengukuran
lingkar kepala (yang mengindikasikan mikrosefali atau makrosefali) adalah bagian
penting dalam pemeriksaan fisik. Perubahan bentuk tubuh sering dihubungkan dengan
kelainan kromosom, atau faktor penyakit genetik lain sulit dilihat dalam pemeriksaan
yang cepat.10 Sebagai tambahan, pemeriksaan secara terstruktur dari mata, yaitu fungsi
penglihatan dapat dilakukan saat infant, dengan menggunakan pemeriksaan sederhana
seperti meminta mengikuti arah cahaya lampu. Saat anak sudah memasuki usia pre-
school, pemeriksaan yang lebih mendalam diperlukan seperti visus, selain itu
pemeriksaan saat mata istirahat ditemukan adanya strabismus. Pada pendengaran, dapat
pula dilakukan test dengan menggunakan brain-stem evoked potentials pada infant. Saat
umur memasuki 6 bulan, kemampuan pendengaran dapat dites dengan menggunakan
peralatan audiometri. Pada usia 3-4 tahun, pendengaran dapat diperiksa menggunakan
audiometer portable. Pemeriksaan telinga untuk mencari tanda dari infeksi otitis media
menjadi hal yang penting untuk dilakukan karena bila terjadi secara kontinyu akan
menyebabkan gangguan pendengaran ringan. Pemeriksaan kulit secara menyeluruh dapat
dilakukan untuk mengidentifikasi penyakit ektodermal seperti tuberous sklerosis atau
neurofibromatosis yang dihubungkan dengan delay. Pemeriksaan fisik juga harus
meliputi pemeriksaan neurologi yang berhubungan dengan perkembangan seperti adanya
primitive reflek, yaitu moro reflex, hipertonia atau hipotonia, atau adanya gangguan
tonus.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Anxietas berhubungan dengan keadaan pertumbuhan dan
perkembangan anaknya yan terlambat.
2. Gangguan aktivitas fisik dan ketergantungan sekunder
berhubungan dengan disfungsi otak.
3. Gangguan tingkat perkembangan (personal social, bahsan dan
kognitif) berhubungan dengan atropi hemisfer kiri (disfunsional otak).
4. Keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan social, bahasa, bermain
dan pendidikan sekunder berhubungan dengan kurangnya infomrasi tentang
pertumbuhan dan perkembangan anak.

C. Intervensi
1. Anxietas berhubungan dengan keadaan
pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang terlambat
Tujuan : Anxietas berkurang.
Kriteria :
a. Keluarga mau menerima keadaan pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang
dialami sekarang
b. Keluarga mengerti tentang pertumbuhan dan perkembangan serta factor-faktor
yang memepengaruhi.
c. Keluarga nampak tenang dan mau bekerja sama dalam perawatan dan
penatalaksanaan
Intervensi :
1. Bina hubugan trust antara perawatn-keluarga-dokter dalam pengumpulan
data/pengkajian dan penatalaksanaan.
Rasional : Rasa percaya yang terbina antara perawatan-keluarga klien/klien-
dokter merupakan modal dasar komunikasi efektif dalam pengumpulan data,
menemukan masalah dan alternatif pemecahan masalah.
2. Disukusikan dan informasikan dengan jelas sesuai tingkat pengetahuan dan
pengalaman keluarga : Tingkat pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang
terlambat perlu pemeriksaan yang kompleks dan pengangan lintas devisi.
Rasional : Diskusi merupakan metode efektif untuk menyampaikan informasi
untuk diterima dan dipertimbangkan oleh keluarga , sehingga informasi tersebut
mendapat tanggapan dan kooperatif serta partisipatif yang berkesinambungan.
3. Jelaskan tentang tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang dicapai saat dikaji.
Rasional: Penjelasan yan diterima cenderung memberikan jalan pikiran terbuka,
sehingga mau menerima keadaan anaknya dan sedikit menekan stres.
4. Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya dan mengungkapkan perasaan
cemasnya.
Rasional: Asertivitas dalam menghadapi sesuatu dengan segala perasaan dan
kepuasan akan mendorong atau memberi semangat untuk memfasilitasi tingkat
pertumbuhan dan perkembangan anaknya mencapai tingkat optimal sesuai dengan
kelompok sebayanya.
5. Beri reinforcement terhadap kemauan dan kemampuan keluarga untuk semangat
dan tanggapan yang positif serta benar tetnang persepsi keadaan anaknya.
Rasional: Reinforcement sebagai kekuatan untuk meningkatkan tingkat psikologis
yang baik dan positif sehingga termotivasi untuk menstimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anaknya.
2. Gangguan aktivitas fisik dan ketergantungan sekunder berhubungan dengan
disfungsi otak.
Tujuan : Aktivitas fisik dan kemandirian klien dalam batas optimal
Kriteria :
a. Klien mampu melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan dan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia yang sama.
b. Tingkat ketergantuangan sekunder minimal
c. Stimulasi pada anak dalan aktivitas efektif dan adequate
Intervensi :
1. Monitor tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak pada area fungsi motorik
kasar dan halus dengan perangkat scoring denvers (DDST) dan NCHS (BB, TB,
Lingkar kepala, lingkar dada dan lingkar lengan atas).
Rasional: Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan individu tergantung
pada sensivitas suatu organ dalam fase cepat seperti fungsi biologis, gizi dan
faktor lingkungan serta pola suh, asah dan asih yang dapat tergambar dalam
perangkat scoring perkembangan denvers dan NCHS dapat meneilai tingkat
kenormalan fisik individu yang sesuai dengan usianya.
2. Diskusikan dan ajarkan keluagra dan pengasuh tentang tugas-tugas
perkembangan anak yang sesuai dengan kelompok usia dan sstimulasinya.
Rasional: Anak harus lebih diberlakukan sebagai pribadi anak yang aktif yang
perlu dirangsang atau stimulasi untuk menghadapi dan mampu mengatasi
masalah melalui interaksi dan komunikasi antara orang tua-klien da pengasuh.
3. Ajarkan dan beri kesempatan pada anak untuk memenuhi tugas perkembangan
sesauai dengan kelompok seusianya.
Rasional: Tindakan pemeberian stimulasi untuk ungkapkan rasa kasih sayang
yang dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan yang dimulai dari tahap yang
sudah dicapai oleh anak dengan wajar atau tanpa paksaan serta beri pujian.
4. Dorong anak untuk melakukan aktivitas perawatan diri (makan, minum dan
toileting sendiri).
Rasional: Tingkat kemampuan motorik kasar dan halus pada usia 1-3 tahun
siberi stimulasi untuk membantu anak mencapai tingkat perkembangan yang
optimal.
5. Berikan area yang aman, dimana anak dapat bermain bebas menggerakkan alat
bantu jalan, pegangi tangan saat melangkah)
Rasional: Tempat aman dimana anak bermain hendaknya diperhatikan, sehingga
terhindar dari cedera, efek keracunana bahan mainan dan lain-lain.
6. Kolaborasi rehabilitasi medis (latihan fisik).
Rasional: Fasilitas latihan fisik untuk mendapatkan kemampuan yang optimal.
3. Gangguan tingkat perkembangan
(personal sosial, bahasa dan kognisi) berhubungan dengan atropi hemisfer kiri
(disfunsi otak)
Tujuan : Memperlihatkan tingkat perkembangan (personal sosial, bahasa dan
kognisi) seoptimal mungkin sesuai dengan kelompok seusianya.
Kriteria :
a. Perilaku sangat ingin tahu dan lebih memungkinak melakukan sesuai secara
mandiri.
b. Belajar dengan kata-kata melalui perabaan bahasa
c. Pengucapan verbal meningkat1-2 kata
d. Dapat berbicara pada diri sendiri dan atau orang lain
e. Keluarga mau melakukan stimulan terhadap tugas-tugas perkembangan anak.
Intervensi :
1. Monitor tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak pada area fungsi
motorik kasar dan halus dengan perangkat scoring denvers (DDST) dan NCHS
(BB, TB, Lingkar kepala, lingkar dada dan lingkar lengan atas).
Rasional: Pada dasarnya pertumbuhan dan perkembangan individu tergantung
pada sensivitas suatu organ dalam fase cepat seperti fungsi biologis, gizi dan
faktor lingkungan serta pola suh, asah dan asih yang dapat tergambar dalam
perangkat scoring perkembangan denvers dan NCHS dapat meneilai tingkat
kenormalan fisik individu yang sesuai dengan usianya.
2. Diskusikan dan ajarkan keluagra dan pengasuh tentang tugas-tugas
perkembangan anak yang sesuai dengan kelompok usia dan sstimulasinya.
Rasional: Anak harus lebih diberlakukan sebagai pribadi anak yang aktif yang
perlu dirangsang atau stimulasi untuk menghadapi dan mampu mengatasi
masalah melalui interaksi dan komunikasi antara orang tua-klien dan pengasuh.
3. Ajarkan dan r\tingkatkan perkembangan kata-kata dengan pengulangan kata-
kata yang dipergunakan anak.
Rasional: Stimulasi pendengaran dengan memanggil nama anak, mengulangi
kata-kata yang diucapkan dengan jelas dengan menyebutkan anggota badan
dapat melatih memory sel otak anak.
4. Berikan waktu bermain dengan anak sebaya
Rasional: Anak bermain dengan cara toddler dengan karakterstik (paralel play
dan solitary play), bermain secara spontan dan bebas. Perlu diingat anak
mempunyai autonomi dan kemauan sehingga penting diperhatikan keamanan
dan keselamatannya.
5. Kolaborasi dengan rehabilitasi medis dan audiologi.
Rasional: Latihan speech dapat merangsang otot-otobicara dan memory sel
otak, sekaligus memberi pelajaran pada orang tua tentang cara menstimulasi
anaknya. Audiologi dapat mengevaluasi kelaianan pada bidang THT.
4. Keterbatasan untuk memenuhi
kebutuhan social, bahasa, bermain dan pendidikan sekunder berhubungan
dengan kurangnya infomrasi tentang pertumbuhan dan perkembangan anak
Tujuan : Keluarga dapat memenuhi kebutuhan sosial, bahsa, bermain dan
pendidikan sekunder pada anak.
Kriteria :
a. Keluarga mengeahui atau emngenal tugas perkembangan anak dan
stimulasinya.
b. Keluarga mempunyai buku panduan atau acuan dalan perawatan anak dalam
perkembangan dan stimulasinya.
Intervensi :
1. Ajarakan dan diskusikan pada keluarga tentang tugas-tugas perkembangan dan
stimulasinya pada kelompok usia yang sama
Rasional: Tugas-tugas perkembangan dan stimulasi yang diberikan dapat
dilaksanakan oleh keluarga dalam perawatan sehari-hari di rumah setelah
mengetahui maksud dan tujuan tindakan tersebut.
2. Kolaborasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan pertumbuhan dan
perkembangan anak (dokter, perawata dan lainnya yang berkompetensi).
Rasional: Sharing pendapat dalam pengalaman dapat memberikan wacana baru
dan luas serta membina hubungan kerja sama dalam mecapai tujuan yang
diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Shevell M, Ashwal S, Donley D, Flint J, Gingold M, Hirzt D, dkk. Practice parameter:


Evaluation of the quality standards subcommittee of the American Academy of Neurology
and the practice committee of the child neurology society. Neurology 2003;60:67-80.
2. Suwarba IGN, Widodo DP, Handryastuti RAS. Profil klinis dan etiologi pasien
keterlambatan perkembangan global di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sari
Pediatri 2008;10:255-61.
3. Melati D, Windiani IGAT, Soetjiningsih. Karakteristik Klinis Keterlambatan Perkembangan
Global Pada Pasien di Poliklinik Anak RSUP Sanglah Denpasar. Bagian Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali
4. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di
Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Departemen Kesehatan RI. 2005.
5. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Dalam: RanuhIGN, penyunting. Tumbuh kembang
anak. Jakarta: EGC; 1995. h. 1-32.
6. Walters AV. Development Delay: Causes and Identification. ACNR 2010; 10(2);32-4.
7. Mengenal Keterlambatan Perkembangan Umum pada Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Indonesia. [diunduh 19 Desember 2013]. [Available from]: URL: http //idai.or.id/public-
articles/seputar-kesehatan-anak/mengenal-keterlambatan-perkembangan-umum-pada-
anak.html.
8. Srour M, Mazer B, Shevell MI. Analysis of clinical features predicting etiologic yield in the
Assessment of global development delay. Pediatrics 2006;118:139-45.