Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Luka bakar atau combusio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan jaringan
disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti kobaran api di tubuh
(flame), jilitan api ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh benda panas (kontak
panas), akibat serangan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn)
dan suhu yang sangat rendah. 1,2,3
Luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, merupakan jenis trauma
yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang memiliki arus listrik, sehingga
dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi
panas.1,2 Pada umumnya tanda utama trauma listrik adalah luka bakar pada kulit. Gambaran
makroskopis kerusakan kulit yang kontak langsung dengan sumber listrik bertegangan rendah
disebut electrical mark. Luka listrik biasanya dapat diamati di titik masuk (entry point)
maupun titik keluar (exit point).2
Luka Listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke dalam tubuh
manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya fungsi suatu organ
dalam. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik. Kontak langsung dengan arus
listrik bisa berakibat fatal.1 Arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh manusia akan
menghasilkan panas yang dapat membakar dan menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun
luka bakar listrik tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam
yang serius, terutama pada jantung, otot atau otak.2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Definisi
Electrical injury atau luka akibat arus listrik Adalah kerusakan jaringan tubuh yang
disebabkan oleh arus listrik yang melintasi tubuh. Dapat berupa kulit yang terbakar,
kerusakan organ internal dan jaringan. Mempengaruhi jantung berupa arrhythmias, dan
berhentinya pernapasan.
Luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, merupakan jenis trauma
yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang memiliki arus listrik, sehingga
dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi listrik menjadi energi
panas.1,2 Luka bakar listrik memiliki kekhususan, karenanya luka bakar akibat listrik
tegangan tinggi dihadapkan pada mortalitas yang tinggi sedangkan luka bakar listrik akibat
tegangan rendah diikuti oleh kerusakan jaringan dengan proresivitas yang berjalan lambat,
namun memiliki morbiditas dan mortilitas tinggi. Luka listrik biasanya dapat diamati di titik
masuk (entry point) maupun titik keluar (exit point).2

II. Epidemiologi
Dari laporan American Burn Association 2012 dikatakan bahwa angka morbiditas
96,1% lebih banyak terjadi pada wanita. Berdasarkan tempat kejadian, 69 % di rumah tangga
dan 9% di tempat kerja, 7% di jalan raya, 5% di rekreasi atau olahraga 10% dan lain-lain.1
Jumlah kejadian cedera listrik diperkirakan menimbulkan 1000 kematian pertahun dan
sekitar 3000 orang yang dirawat di rumah sakit di Amerika Serikat. Diperkirakan 20%
kejadian luka listrik terjadi pada anak-anak, jumlah terbanyak pada usia balita.1 Luka bakar
listrik kebanyakan terjadi pada anak-anak saat di rumah. Pada orang dewasa, kebanyakan
kecelakaan luka bakar terjadi di tempat kerja dan menjadi tempat keempat tertinggi yang
mengancam jiwa. Lebih dari 50 % pekerja elektrik mendapat luka dari kabel listrik, dan 25%
berasal dari alat elektrik. Rasio laki-laki dan perempuan sebanyak 9 : 1.1
III. Etiologi
Karakteristik listrik serta sifat berbagai jarigan menentukan derajat kerusakan dan
memberikan prediksi mengenai kemungkinan yang terjadi, morbiditas bahkan mortilitas.
Beberapa karakteristik listrik :
a. Tegangan (Voltage)
Voltage adalah gaya elektromotif atau perbedaan potensial listrik. Semakin
besar tegangan listrik yang dialirkan ke jaringan memiliki resistensi relatif tetap,
semakin besar arus listriknya. Besarnya tegangan listrik dapat diketahui secara
pasti namun resistensi jaringan tidak dapat diketahui, maka besarnya arus sangat
penting untuk diketahui
b. Arus listrik
Arus listrik adalah aliran listrik, terdapat 2 jenis arus listrik yaitu arus bola
balik (AC) dan arus satu arah (DC). Arus listrik dinyatakan dalam satuan ampere.
- Listrik dengan arus 1,1 mA menimbulkan sensai nyeri
- Listrik dengan arus > 15 mA menimbulkan tetani muskular sehingga korban
tidak dapat melepaskan pegangan terhadap sumber listrik, bahkan kontak
semakinn kuat. Dalam keadaan ini diikuti oleh terganggunya kontraksi otot
otot pernafasan.
- Listrik dengan arus >50 – 120 mA akan menimbulkan fibrilasi ventrikular.
Semakin lama kontak dengan listrik, jaringan akan mengalami karbonisasi
sehingga resistensi terhadap arus yang datang selanjutnya semakin besar.
Kemudian disaat tubuh menjadi sirkuit listrik arus listrik semakin terkonsentrasi
didaerah luka masuk dan luka keluar (menimbulkan efek thermal burns) oleh
karena itu kedua posisi ini mengalami kerusakan lebih besar.
c. Resistensi dan konduksi
Resistensi adalah tahanan jaringan atau oposisi terhadap aliran listrik,
konduksi adalah kapasitas jaringan mengalirkan arus listrik. Konduktor yang baik
adalah jaringan yang banyak mengandung air. Semakin tinggi konduksi semakin
rendah resistensi dan sebaliknya. Arus listrik akan mengahasilkan panas lebih
tinggi pada konduktor yang memiliki resistensi lebih besar. Jumlah panas yang
ditimbulkan sehingga menyebabkan kerusakan jaringan dipengaruhi oleh jenis
tegangan. Jenis tegangan dikelompokan menjadi.
- Arus listrik tegangan rendah (low voltage ) < 110 V
- Arus listrik tegangan rumah tangga (domestic electricity) 110 - 220 V
- Arus listrik tegangan tinggi (high voltage) > 300 V
Dari karakterisktik listrik dan sifatnya dapat diketahui faktor yang berperan pada cedera
listrik
1. Tipe sirkuit (arus)
2. Resistensi jaringan
3. Besar arus (ampere)
4. Tegangan (voltage)
5. Jalur yang dilalui listrik
6. Durasi kontak
7. Faktor lingkungan

IV. PATOFISIOLOGI
Terdapat 3 zona luka bakar menurut Jackson 1947 yaitu:1
1. Zona Koagulasi
Merupakan daerah yang langsung mengalami kontak dengan sumber panas dan
terjadi nekrosis dan kerusakan jaringan yang irevisibel disebabkan oleh koagulasi constituent
proteins.1
2. Zona Stasis
Zona stasis berada sekitar zona koagulasi, di mana zona ini mengalami kerusakan
endotel pembuluh darah, trombosit, leukosit sehingga penurunan perfusi jaringan diikuti
perubahan permeabilitas kapiler(kebocoran vaskuler) dan respon inflamasi lokal. Proses ini
berlangsung selam 12-24 jam pasca cedera, dan mungkin berkakhir dengan nekrosis
jaringan.1
3. Zona Hiperemia
Pada zona hiperemia terjadi vasodilatasi karena inflamasi, jaringannya masih viable.
Proses penyembuhan berawal dari zona inikecuali jika terjadi sepsi berat dan hipoperfusi
yang berkepanjangan.1
Elektron mengalir dalam tubuh secara abnormal sehingga menghasilkan cedera atau
kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama elektrik pada jantung
dan otak atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun eksternal melalui panas dan
pembentukan pori di membran sel.2,3
Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan penurunan
kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus bolak balik (AC) dapat menyebabkan
fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada.5 Aliran listrik yang lama mengakibatkan
kerusakan iskemik otak yang diikuti dengan gangguan nafas.3
Cedera bisa berupa luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada:
1. Jenis dan kekuatan arus listrik.
Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan
arus bolak-balik (AC). Efek AC pada tubuh manusia sangat tergantung kepada kecepatan
berubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam satuan siklus/detik (hertz). Arus frekuensi
rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali lebih berbahaya
dari DC pada tegangan (voltase) dan kekuatan (ampere) yang sama. 6
DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang kuat, yang seringkali mendorong
jauh/melempar korbannya dari sumber arus. AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku
pada posisinya, sehingga korban tidak dapat melepaskan genggamannya pada sumber listrik.
Akibatnya korban terkena sengatan listrik lebih lama sehingga terjadi luka bakar yang berat.
Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin besar kerusakan
yang ditimbulkan oleh kedua jenis arus listrik tersebut. Kekuatan arus listrik diukur dalam
ampere. Satu miliampere (mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Pada arus serendah 60-100 mA
dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz yang mengalir melalui dada dalam
waktu sepersekian detik bisa menyebabkan irama jantung yang tidak beraturan, yang bisa
berakibat fatal. Arus bolak-balik lebih dapat menyebabkan aritmia jantung dibanding arus
searah. Arus dari AC pada 100 mA dalam seperlima detik dapat menyebabkan fibrilasi
ventrikel dan henti jantung. Efek yang sama ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA.
Jika arus langsung mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka
bisa terjadi gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang dari 1
mA).
2. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik
Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau memperlambat aliran
arus listrik.
Resistensi jaringan, adalah sebagai berikut.
Resistensi rendah: Saraf, Darah, Membran mukosa, Otot
Resistensi sedang: Kulit kering, Tendon, Jaringan lemak
Resistensi tinggi: Tulang
Kebanyakan resistensi tubuh terpusat pada kulit dan secara langsung tergantung
kepada keadaan kulit. Resistensi kulit yang kering dan sehat rata-rata adalah 40 kali lebih
besar dari resistensi kulit yang tipis dan lembab.2 Resistensi kulit yang tertusuk atau tergores
atau resistensi selaput lendir yang lembab (misalnya mulut, rektum atau vagina), hanya
separuh dari resistensi kulit utuh yang lembab. Resistensi dari kulit telapak tangan atau
telapak kaki yang tebal adalah 100 kali lebih besar dari kulit yang lebih tipis. Arus listrik
banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang dilepaskan di permukaan. Jika
resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka bakar yang luas dapat terjadi pada titik masuk
dan keluarnya arus, disertai dengan hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik
keluarnya arus listrik.1
3. Adanya hubungan dengan bumi
Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada tanah yang basah
tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan mengggunakan alas
sepatu yang kering, karena pada keadaan pertama tahanannya rendah.1,2
4. Lamanya waktu kontak dengan konduktor
Makin lama korban kontak dengan konduktor maka makin banyak jumlah harus yang
melalui tubuh sehingga kerusakan tubuh akan bertambah besar dan luas. Dengan tegangan
yang rendah akan terjadi spasme otot-otot sehingga korban malah menggenggam konduktor.
Akibatnya arus listrik akan mengalir lebih lama sehingga korban jatuh dalam keadaan syok
yang mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi, korban segera terlempar atau melepaskan
konduktor atau sumberlistrik yang tersentuh, karena akibat arus listrik dengan tegangan tinggi
tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh aliran
listrik tersebut.1,2
5. Aliran arus listrik
Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk sampai
meninggalkan tubuh. Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala; dan
paling sering keluar dari kaki.
Arus listrik yang mengalir dari lengan ke lengan atau dari lengan ke tungkai bisa
melewati jantung, karena itu lebih berbahaya daripada arus listrik yang mengalir dari tungkai
ke tanah. Letak titik masuk arus listrik (point of entry) dan letak titik keluar bervariasi
sehingga efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat. Arus listrik masuk
dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk dari sebelah kanan.
Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut.
Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa alas kaki lebih berbahaya kalau
terkena aliran listrik,alas kaki dapat berfungsi sebagai isolator, terutama yang terbuat dari
karet.6
V. KLASIFIKASI
Berdasarkan aspek resistensi dan konduksi luka bakar listrik dibedakan menjadi dua
jenis yaitu :
1. Arus listrik langsung (direk)
Terjadi saat seseorang menyentuh sebuah konduktor yang terhubung dengan arus
listrik. Dampak aliran listrik berbeda beda pada jaringan tubuh tergantung sifat
resistensinya.
2. Arus listrik tidak langsung (indirek)
a. Arc (percikan listrik)
Percikan listrik timbul antara dua buah objek yang saling tidak
berhubungan. Bila korban menjadi bagian arc menimbulkan suatu bentuk
trauma yang disebut arc injury. Pemanasan jaringan sekunder untuk
menyebabkan arus luka bakar electrothermal. Biasanya luka bakar ini adalah
hasil dari aliran listrik bertegangan rendah pada daerah yang terbatas. Yang
paling merusak dari cedera tidak langsung terjadi ketika korban terkena dari
arc, biasanya merupakan sumber yang bertegangan tinggi dan tanah. Karena
suhu arc adalah sekitar 2500 °C, menyebabkan luka bakar yang sangat
mendalam pada titik di mana terjadi kontak dengan kulit.2
b. Flash
Flash disebut juga dengan side flash, splash atau spray. Arus listrik
yang awalnya merupakan suatu garis, kemudain akan bercabang seperti pohon
dan menyambar tubuh korban yang kontak dengan bumi. Mekanisme ini yang
terjadi pada korban tersambar petir. Luka yang timbul umumnya luka bakar
derajat II
c. Step voltage
Merupakan bentuk dari fenomena discharge tegangan tinggi lainnya.
Bila suatu electrical discharge (petir) menyambar suatu permukaan benda
yang kontak dengan bumi, arus listriknya terurai membentuk pola radial
dipermukaan.
Berdasarkan American Burn Association luka bakar diklasifikasikan berdasarkan
kedalaman, luas permukaan, dan derajat ringan luka bakar.3,5
Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan tubuh atau
Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung secara cepat dipakai Rules of Nine atau
Rules of Walles dari Walles. Pada anak-anak dipakai modifikasi Rule of Nines menurut Lund
and Browder, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. 1,4
Gambar 2. Wallence Rule of Nines

1. Bedasarkan derajat ringan luka bakar menurut American Burn Association:


a. Luka Bakar Ringan
i. Luka bakar derajat II < 5%
ii. Luka bakar derajat II 10% pada anak
iii. Luka bakar derajat II < 2%
b. Luka Bakar Sedang
i. Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa
ii. Luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak
iii. Luka bakar derajat III < 10%
c. Luka Bakar Berat
i. Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa
ii. Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak
iii. Luka bakar derajat III 10% atau lebih
iv. Luka bakar mengenai tangan, telinga, mata, kaki, dan genitalia/perineum.
v. Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.
Gambar 3. Lund and Browder

VI. Gambaran klinis


Gejalanya tergantung kepada interaksi yang rumit dari semua sifat arus listrik. Suatu
kejutan dari sebuah arus listrik bisa mengejutkan korbannya sehingga dia terjatuh atau
menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang kuat. Kedua hal tersebut bisa mengakibatkan
dislokasi, patah tulang dan cedera tumpul. Kesadaran bisa menurun, pernafasan dan denyut
jantung bisa lumpuh. Luka bakar listrik bisa terlihat dengan jelas di kulit dan bisa meluas ke
jaringan yang lebih dalam.2
1. Kepala dan Leher
Kepala adalah titik kontak utama untuk cedera tegangan tinggi, dan pasien mungkin
menunjukkan luka bakar serta kerusakan neurologis. Katarak timbul di sekitar 6 % kasus
cedera tegangan tinggi, terutama bila tersengat listrikdi sekitar kepala. Meskipun katarak
mungkin hadirlebih cepat atau lambat setelah kecelakaan itu, katarak biasanya muncul
beberapa bulansetelah kejadian. Ketajaman visual dan pemeriksaan funduskopi harus
dilakukanpada kemudian hari. Pasien harus segera dirujuk ke dokter mata untuk mengetahui
kemungkinan terjadinya katarak ini.2 Pada trauma akibat petir, gejala sekunder berupa ruptur
membran timpani dapat terjadi karena ada fraktur basilaris
2. Sistem kardiovaskular
Serangan jantung, baik dari detak jantung atau fibrilasi ventrikel, adalah kondisi
umum yang akan terjadi dalam kecelakaan listrik. Pada Elektrokardiografi (EKG) ditemukan
sinus takikardi, sementara elevasi segmen ST, QT reversibelsegmen perpanjangan, kontraksi
ventrikel prematur, fibrilasi atrium, danbundel branch block. Infark miokard akut dilaporkan
tetapi relatif jarang. Kerusakan otot rangka dapat menghasilkan peningkatan fraksi CPK-MB,
mengarah pada diagnosis palsu infark miokard dalam beberapa pengaturan.2
Indikasi pemantauan ketat EKG
- Cardiac arrest
- Penurunan kesadaran
- Aritmia yang diobservasi pada fase pra RS atau diruang emergensi
- Riwayat penyakit jantung sebelumnya
- Adanya faktor resiko penyakit jantung yang bermakna
- Trauma multiple
- Hipoksia
- Chest pain

3. Kulit
Selain serangan jantung, luka yang paling dahsyat yang terjadi saat cedera listrik
adalah kulit terbakar, yang paling parah pada luka masuk dan tubuh yang kontak dengan
tanah. Bagian tubuh yang paling sering dari terkena kontak dengan sumber listrik ialah
tangan dan tengkorak. Daerah yang paling sering dari tanah adalah tumit. Seorang pasien
mungkin memiliki beberapa luka masuk dan titik kontak dengan tanah. Luka bakar di listrik
yang parah sering muncul keluhan seperti rasa sakit, depresi, kuning abu-abu, belang-belang
daerah dengan pusat nekrosis, atau daerah yang mengeras seperti mumi. Arus tegangan tinggi
sering mengalir pada internal tubuh dan dapat membuat kerusakan otot besar. Jika kontak
dalam singkat. Namun, arus minimal mungkin terjadi dan kerusakan kulit terlihat mungkin
mewakili hampir semua kerusakan.2
4. Ekstrimitas
Pelepasan mioglobin yang banyak dari otot yang rusak dapat menyebabkan kerusakan
Myoglobinuria. Vascular ginjal dari energi listrik bisa menjadi jelas setiap saat isi ulang
kapiler harus dikaji dan didokumentasikan dalam semua ekstremitas, dan pemeriksaan
neurovaskular harus sering diulang. Karena arteri adalah sistem high-flow, panas dapat hilang
cukup baik dan menyebabkan sedikit kerusakan awal jelas tapi hasilnya dalam kerusakan
berikutnya. Pembuluh darah, di sisi lain adalah sistem aliran rendah, yang memungkinkan
energi panas untuk menyebabkan pemanasan lebih cepat dari darah, dengan akibat trombosis
. Akibatnya, ekstremitas mungkin muncul pembengkakan pada awalnya. Dengan luka parah,
seluruh ekstremitas mungkin muncul pengerasan ketika semua elemen jaringan, termasuk
arteri, mengalami koagulasi nekrosis. Kerusakan pada dinding pembuluh pada saat cedera
juga dapat mengakibatkan tertunda trombosis dan perdarahan. Pada luka bakar listrik
tegangan tinggi, nekrosis otot terjadi pada area yang lebih luas dibandingkan area kerusakan
kulit. terkadang dijumpai sindrom kompartement yang terjadi secara sekunder akibat iskemia
vaskular dan edema otot.
VII. PENATALAKSANAAN
Guadlines American Burn Association (ABA) untuk luka bakar listrik
1. Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan EKG dilakukan pada semua penderita baik tegangan tinggi atau rendah
Kriteria :
- Dewasa dan anak anak yang terpapar pada listrik tegangan rendah tanpa kelainan
ekg, tidak ada riwayat gangguan kesadaran dan tidak ada indikasi rawat lainnya
dapat dipulangkan dari ruang emergency
- Semua penderita dengan riwayat gangguan kesadaran sebelum atau saat masuk
ruang emergency harus dilakukan pemeriksaan telemetry. Penderita yang
menunjuukan iskemia pada EKG harus dirawat dan dipaatau fungsi jantung.
- Kadar enzym creatinin kinase bukan indikator yang baik untuk menggambarkan
cedera jantung pasca trauma listrik
2. Evaluasi dan manajemen ekstremitas atas
- Penderita dengan listrik tegangan tinggi pada ekstremitas atas harus dirujuk ke
sentrum luka bakar sesuai dengan kriteria rujukan penderita
- Indikasi dekompresi bedah adalah kasus kasus dengan disfungsi neurologik
progresif, vaskular dekompresi, dan ancaman gangguan sistemik. Dekompresi
yang dilakukan adalah fasiotomi dan penilaian komponen muscular.

1. Prehospital

a. Jika memungkinkan untuk melepas kawat atau memindahkan sumbu sekering


tersebut, memadamkan atau mematikan stop kontak terkadang hanya akan
memadamkan alat listrik tanpa memutuskan aliran listrik tersebut.
b. Jika tidak dapat dipadamkan, segera gunakan objek yang tidak menghantar listrik
seperti sapu, kursi, permadani, atau karet untuk mendorong korban menjauhi sumber
listrik. jangan menggunakan objek dari metal atau objek yang basah. jangan mencoba
menolong korban dengan menyentuh langsung atau terlalu dekat dengan korban.
c. Setelah korban terlepas dari sumber arus listrik Segera periksa jalan nafas, breathing
dan sirkulasi. Jika sangat lemah bermasalah atau berhenti segera perbaiki dan lakukan
RJP (resusitasi).
d. Jika terdapat luka bakar, segera lepaskan pakaian yang dapat dilepas dari permukaan
luka tersebut dan dinginkan pada air mengalir sehingga nyeri berkurang, lakukan
pertolongan pertama pada luka bakar.
e. Bila korban tidak sadar, pucat dan menunjukkan tanda-tanda shock, posisikan korban
dengan kepala sedikit lebih rendah dari badan dan kaki diangkat liputi dengan selimut
atau mantel agar tetap hangat.
f. Electrical shock sering disertai trauma lain seperti, jatuh atau terlempar yang
menyebabkan cedera internal maupun external. hindari menggerakkan korban bila
tidak perlu misalnya memeluk korban, menggerakan kepala korban dan lain-lain
apalagi bila dicurigai adanya cedera tulang belakang maupun fraktur.
g. Jangan melakukan hal-hal berikut :

· “JANGAN sentuh korban dengan tangan telanjang sewaktu korban masih terhubung
dengan sumber listrik

· " JANGAN memecahkan bula pada kulit korban yang melepuh karena luka bakar.

· " JANGAN mengoleskan es, mentega, obat salp, pengobatan, kapas berbulu halus atau
pakaian, atau perban mudah lengket pada kulit yang terbakar.

· " JANGAN sentuh kulit korban yang meninggal karena terkena listrik.
· "JANGAN memindahkan atau menggerakkan tubuh korban kecuali diperlukan atau
jika ada bahaya bila tidak segera diposisikan.
Seorang yang sedang terbakar akan merasa panik, dan akan belari untuk mencari air.
Hal ini akan sebaliknya akan memperbesar kobaran api karena tertiup oleh angin. Oleh
karena itu, segeralah hentinkan (stop), jatuhkan (drop), dan gulingkan (roll) orang itu agar api
segera padam. Bila memiliki karung basah, segera gunakan untuk memadamkan apinya.
Bahan yang meleleh atau menempel pada kulit tidak bisa dilepaskan. Air suhu kamar dapat
disiriamkan ke atas luka dalam waktu 15 menit sejak kejadian, namun air dingin tidak dapat
diberikan untuk mencegah terjadinya hipotermia dan vasokonstriksi.
2. Hospital
Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma, karenanya harus dicek
Airway, breathing dan circulation-nya terlebih dahulu.

1. Airway - apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang
Endotracheal Tube (ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah:
riwayat terkurung dalam api, luka bakar pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan
sputum yang hitam.
2. Breathing - eschar yang melingkari dada dapat menghambat gerakan dada untuk
bernapas, segera lakukan escharotomi. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain
yang dapat menghambat gerakan pernapasan, misalnya pneumothorax, hematothorax,
dan fraktur costae
3. Circulation - luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan
edema. pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran
plasma yang luas. Manajemen cairan pada pasien luka bakar, dapat diberikan dengan
Formula Baxter.

3. Resusitasi jalan nafas


Bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang adekuat. Pada luka bakar dengan
kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi dikerjakan sebelum edema mukosa
menimbulkan manifestasi obstruksi. Sebelum dilakukan intubasi, oksigen 100% diberikan
dengan menggunakan face mask. Intubasi bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan
napas, fasilitas pemeliharaan jalan napas (penghisapan sekret) dan broncoalveolar lavage.
Krikotiroidotomi masih menjadi perdebatan karena dianggap terlalu agresif dan
morbiditasnya lebih besar dibandingkan intubasi. Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus
yang diperkirakan akan lama menggunakan ETT yaitu lebih dari 2 minggu pada luka bakar
luas yang disertai cedera inhalasi. Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4 liter/menit
melalui pipa endotracheal. Terapi inhalasi mengupayakan suasana udara yang lebih baik
disaluran napas dengan cara uap air menurunkan suhu yang meningkat pada proses inflamasi
dan mencairkan sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Pada cedera inhalasi
perlu dilakukan pemantauan gejala dan distres pernapasan. Gejala dan tanda berupa sesak,
gelisah,takipneu, pernapasan dangkal, bekerjanya otot-otot bantu pernapasan dan stridor.
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah analisa gas darah serial dan foto thorax.
4. Resusitasi cairan
Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah:
• Preservasi reperfusi yang adekuat dan seimbang diseluruh pembuluh vaskuler
regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan
• Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan.
• Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin survival
seluruh sel
• Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan stabilisasi
pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis.1,3,5
a. Jenis cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid, cairan hipertonik dan koloid: 1,3,5
Larutan kristaloid
Larutan ini terdiri atas cairan dan elektrolit. Contoh larutan ini adalah Ringer Laktat
dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya dalam plasma atau memiliki
osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada keadaan normal, cairan ini tidak hanya
dipertahankan di ruang intravaskular karena cairan ini banyak keluar ke ruang interstisial.
Pemberian 1 L Ringer Laktat (RL) akan meningkatkan volume intravaskuer 300 ml. 1,3,5
Larutan hipertonik
Larutan ini dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan penggunaannya
dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid. Larutan garam hiperonik tersedia dalam
beberapa konsentrasi, yaitu NaCl 1,8%, 3%, 5 %, 7,5% dan 10%. Osmolalitas cairan ini
melebihi cairan intraseluler sehingga cairan akan berpindah dari intraseluler ke ekstraseluler.
Larutan garam hipertonik meningkatkan volume intravaskuler melalui mekanisme penarikan
cairan dari intraseluler. 1,3,5
Larutan koloid
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES) dan Dextran. Molekul
koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran kapiler, oleh karena itu sebagian
akan tetap dipertahankan didalam ruang intravaskuler. Pada luka bakar dan sepsis, terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul akan berpindah ke ruang interstisium.
Hal ini akan memperburuk edema interstisium yang ada. 1,3,5
HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substitued amilopectin sintetik, HES
berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T ½ dalam plasma selama 5 hari,
tidak bersifat toksik, memiliki efek samping koagulopati namun umumnya tidak
menyebabkan masalah klinis. HES dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara
menutup celah interseluler pada lapisan endotel sehingga menghentikan kebocoran cairan,
elektrolit dan protein. Penelitian terakhir mengemukakan bahwa HES memiliki efek
antiinflamasi dengan menurunkan lipid protein complex yang dihasilkan oleh endotel, hal ini
diikuti oleh perbaikan permeabilitas kapiler. Efek antiinflamasi diharapkan dapat mencegah
terjadinya SIRS. 1,3,5
b. Dasar pemilihan Cairan
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan adalah efek hemodinamik,
distribusi cairan dihubungkan dengan permeabilitas kapiler, oksigen, PH buffering, efek
hemostasis, modulasi respon inflamasi, faktor keamanan, eliminasi praktis dan efisien. Jenis
cairan terbaik untuk resusitasi dalam berbagai kondisi klinis masih menjadi perdebatan terus
diteliti. Sebagian orang berpendapat bahwa kristaloid adalah cairan yang paling aman
digunakan untuk tujuan resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian pendapat koloid
bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan karakteristik masing-
masing cairan yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada kasus luka bakar, terjadi
kehilangan ciran di kompartemen interstisial secara masif dan bermakna sehingga dalam 24
jam pertama resusitasi dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid. 1,3,5
c. Penentuan jumlah cairan
Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga sampai empat kali
jumlah defisit intravaskuler. 1 L cairan kristaloid akan meningkatkan volume intravaskuler
300 ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan cardiac output dan memperbaiki transpor
oksigen. 1,3,5
Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama
Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau ringer asetat, menggunakan beberapa
jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka bakar > 25-30% atau dijumpai
keterlambatan > 2 jam. Dalam <4 jam pertama diberikan cairan kristaloid sebanyak
3[25%(70%xBBkg)] ml. 70% adalah volume total cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah
minimal kehilangan cairan tubuh dapat menimbulkan gejala klinik sidrom syok. 1,3,5
Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas < 25-30%, tanpa
atau dijumpai keterlambatan < 2 jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan rumus baxter 3-4
ml/kgBB/% LB. 1,3,5
Penatalaksanaan 24 jam kedua
• Pemberian cairan yang menggunakan glukosa dan dibagi rata dalam 24 jam. Jenis
cairan yang dapat diberikan adalah glukosa5% atau 10% 1500-2000 ml. Batasan ringer laktat
dapat memperberat edema interstisial.
• Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah produksi uin <1-
2 ml/kgBB/jam,berikan vasoaktif samapi 5 mg/kgBB
• Pemantauan analisa gas darah, elektrolit
Penatalaksanaan setelah 48 jam
• Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintanance
• Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4 ml/kgBB), hemoglobin dan
hematokrit.
Rumus Baxter:
Pada dewasa:
• Hari I: 3-4 ml x kgBB x % luas luka bakar
• Hari II:Koloid: 200-2000 cc + glukosa 5%
Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1% dari
kebutuhan.Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin
yaitu pada dewasa 0,5-1,0 cc/kg/jam dan pada anak 1,0-1,5 cc/kg/jam. 1,3,5
5. Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme bernapas
dan resusitasi cairan dilakukan. Tindakan meliputi debridement secara alami, mekanik
(nekrotomi) atau tindakan bedah (eksisi), pencucian luka, wound dressing dan pemberian
antibiotik topikal . Tujuan perawatan luka adalah untuk menutup luka dengan mengupaya
proses reepiteliasasi, mencegah infeksi, mengurangi jaringan parut dan kontraktur dan untuk
menyamankan pasien. Untuk bullae ukuran kecil tindakannya konservatif sedangkan untuk
ukuran besar(>5cm) dipecahkan tanpa membuang lapisan epidermis diatasnya. 1,3,5
Pengangkatan keropeng (eskar) atau eskarotomi dilakukan juga pada luka bakar
derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab pengerutan keropeng(eskar) da
pembengkakan yang terus berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan (compartment
syndrome) yang membahayakan sirkulasi sehingga bahgian distal iskemik dan
nekrosis(mati). Tanda dini penjepitan (compartment syndrome) berupa nyeri kemudian
kehilangan daya rasa (sensibilitas) menjadi kebas pada ujung-ujung distal. Keaadan ini harus
cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang membuka keropeng sampai
penjepitan bebas. 1,5

VIII. KOMPLIKASI
Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat perawatan
kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan grafting. Kompilkasi
yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis dan MODS. Selain itu komplikasi
pada gastrointestinal juga dapat terjadi, yaitu atrofi mukosa, ulserasi dan perdarahan mukosa,
motilitas usus menurun dan ileus. Pada ginjal dapat terjadi acute tubular necrosis karena
perfusi ke renal menurun. Skin graft loss merupakan komplikasi yang sering terjadi, hal ini
disebabkan oleh hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada fase lanjut suatu luka bakar,
dapat terjadi jaringan parut pada kulit berupa jaringan parut hipertrofik., keloid dan
kontraktur.Kontraktur kulit dapat menganggu fungsi dan menyebabkan kekeauan sendi.
Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi yang intensif dan kontraktur memerlukan
tindakan bedah. 1,3

IX. PROGNOSIS
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan
yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan
medikamentosa. Luka bakar minor ini dapat sembuh 5-10 hari tanpa adanya jaringan parut.
Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan mugkin dapat menimbulkan luka
parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus,
pembedahan dapat diperlukan untuk membuang jaringan parut. 1,3,5
DAFTAR PUSTAKA

1. Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka, Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
EGC. Jakarta. p 66-88

2. Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12. McGraw-
Hill Companies. New York. p 245-259

3. Rubangi. S, 1990. Trauma listrik dan Halilintar. Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia. Jakarta.

4. Hoediyanto.H, 2008. Trauma Listrik. Universitas Airlangga. Surabaya.

5. James M Becker. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier. Philadelphia. p


118-129

6. Moenadjat. Y, 2009. Luka Bakar Masalah dan Tatalaksana Edisi ke-4. Fakultas
Kedoketran Universitas Indonesia. EGC. Jakarta