Anda di halaman 1dari 16

TUGAS AKUNTANSI KEUANGAN II

MODAL SAHAM

Nama :
1. Dewa Ayu Mella Dhamayanti (1802622010163/01)
2. Ni Kadek Ayu Cintya Wati (1802622010172/10)
3. Ni Komang Suki Raharja (1802622010175/13)
4. Putu Riana Wirastini (1802622010195/33)

Kelompok : 6 (enam)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2019
1. Pengertian Modal Saham
Modal saham adalah tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam
suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang
menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan
surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang
ditanamkan di perusahaan tersebut.
Perseroan Terbatas (PT) merupakan suatu kesatuan usaha yang dari segi hukum
dipisahkan dari pemiliknya. Karena terpisah dari pemiliknya maka kewajiban pemilik
terhadap perusahaannya terbatas sampai jumlah modal yang disetornya. Selain itu bentuk
perseroan memungkinkan untuk mendapatkan modal dari banyak orang, setiap orang yang
menyetor menjadi pemilik dari perseroan tadi. Karena pemiliknya terdiri dari jumlah yang
cukup banyak, maka pengelolaan perseroan akan diserahkan kepada pihak-pihak lain yang
diangkat menjadi pimpinan PT tersebut. Dengan kata lain yang menjalankan PT adalah
orang – orang yang diangkat oleh pemilik.
Untuk mendapatkan modal, PT menerima setoran dari pemilik. Sebagai bukti setoran
dikeluarkan tanda bukti pemilikan yang berbentuk saham yang diserahkan kepada pihak-
pihak yang menyetor modal. Pemilik PT merupakan kumpulan pihak-pihak yang
mempunyai saham sehingga disebut pemegang saham. Saham yang di keluarkan oleh PT
dapat dicantumkan nama pemiliknya, disebut saham atas, dapat juga tidak dicantumkan
nama pemiliknya.
Saham yang merupakan bukti pemilikan PT mempunyai beberapa hak yaitu:
1. Hak untuk berpartisipasi dalam menentukan arah dan tujuan perusahaan yaitu
melalui hak suara dalam rapat pemegang saham.
2. Hak untuk memperoleh laba dari perusahaan dalam bentuk dividen yang dibagi
oleh perusahaan.
3. Hak untuk membeli saham baru yang dikeluarkan perusahaan agar proporsi
pemilikan saham masing – masing pemegang saham dapat tidak berubah.
4. Hak untuk menerima pembagian aktiva perusahaan dalam hal perusahaan
dilikuidasi.

Apabila perusahaan itu mengeluarkan satu saham maka seluruh pemegang saham
mempunyai hak yang sama, tetapi bila saham yang dikeluarkan itu lebih dari satu jenis
maka yang diberikan kepada masing-masing jenis berbeda, tergantung pada kontrak
pengeluaran saham yang disetujui.
2. Akuntansi untuk Penerbitan Saham
a. Saham dengan nilai pari
Nilai pari saham tidak memiliki hubungan dengan nilai pasar wajarnya. Nilai pari
yang rendah membantu perusahaan menghindari kewajiban yang berkaitan dengan
saham yang dijual dibawah nilai pari.
1. Saham Preferen atau Saham Biasa. Kedua akun ini mencerminkan nilai pari saham
perseroan yang diterbitkan. Tidak ada ayat jurnal tambahan pada akun ini kecuali
ada saham tambahan yang diterbitkan atau saham yang ditarik.
2. Modal disetor yang melebihi Pari atau Tambahan Modal Disetor. Menunjukkan
setiap kelebihan atas nilai pari yang disetor oleh pemegang saham sebagai pengganti
saham yang diterbitkan untuk mereka.

b. Saham Tanpa Nilai Pari


Alasan untuk penerbitan saham tanpa nilai pari adalah penerbitan saham tanpa nilai
pari menghindari kewajiban kontinjen yang mungkin terjadi bila saham dengan nilai
pari diterbitkan pada disagio dan masih ada kerancuan dalam hubungan antara nilai
pari dan nilai pasar wajar. Jika saham tidak memiliki nilai pari, maka perlakuan yang
dapat dipertanyakan dalam menggunakan nilai pari sebagai dasar untuk nilai wajar
tidak akan muncul. Kelemahan saham tanpa nilai pari adalah bahwa pajak yang tinggi
atas penerbitan ini dan totalnya akan dimasukkan sebagai modal dasar, yang akan
mengurangi fleksibelitas dalam membayar deviden. Sebagai contoh, video electronics
corporation didirikan dengan 10.000 lembar saham biasa yang diotorisasi tanpa nilai
pari. Video Electronics hanya membuat ayat jurnal memorandum, yang perlu dibuat
untuk otorisasi itu karena tidak ada jumlah uang yang terlibat. Jika 500 lembar saham
kemudian diterbitkan dengan harga $10 per saham, maka ayat jurnalnya adalah
sebagai berikut :
Kas 5000
Saham Biasa-Tanpa Nilai Pari 5000
Saham tanpa nilai pari yang sebenarnya harus dicatat pada akun sebesar harga
penerbitannya tanpa kerumitan akibat tambahan modal disetor atau disagio. Namun
ada penerbitan saham tanpa nilai pari yang memiliki nilai ditetapkan. Nilai ditetapkan
adalah nilai minimum dimana saham tidak dapat diterbitkan dibawah nilai ditetapkan.
Jika saham tanpa nilai pari dengan nilai ditetapkan $5 per saham tetapi dijual $11,
jumlah kelebihan nilai sebesar $5 dicatat sebagai tambahan modal disetor.
c. Saham yang Diterbitkan dengan Sekuritas Lainnya
Dalam penjualan lump sum adalah mengalokasikan hasil di antara beberapa
kelompok sekuritas. Perusahaan mengunakan dua metode alokasi yang tersedia yaitu
metode proporsional dan metode inkremental.
1. Metode Proporsional. Jika nilai pasar wajar, maka nilai lump sum yang diterima
dialokasikan di antara kelompok-kelompok sekuritas atas dasar proporsional.
Sebagai contoh, asumsikan sebuah perusahaan menerbitkan 1000 lembar saham
biasa dengan nilai ditetapkan $10 yang memiliki harga pasar $20 per saham, dan
1000 lembar saham preferen dengan nilai pari $10 yang memiliki harga pasar $12
per saham diterbitkan dengan nilai lump sum sebesar $30.000.

2. Metode Inkremental. Jika nilai pasar wajar semua kelompok sekuritas tidak dapat
ditentukan maka metode inkremental dapat dipergunakan. Contoh, jika 1000 lembar
saham biasa dengan nilai ditetapkan $10 memiliki nilai pasar $20 dan 1000 lembar
saham preferen dengan nilai pari $10 yang tidak memiliki harga pasar ditetapkan
diterbitkan dengan Nilai lump sum sebesar $30.000, maka alokasi dari $30.000 itu
untuk kedua kelompok adalah sebagai berikut:
Jika tidak ada nilai pasar wajar yang dapat ditentukan untuk setiap kelompok saham
yang terlibat dalam pertukaran lump sum, maka perlu untuk menggunakan
pendekatan lainnya

d. Saham yang Diterbitkan dalam Transaksi Nonkas


Saham yang diterbitkan untuk jasa atau properti selain kas harus dicatat, baik
pada nilai pasar wajar saham yang diterbitkan maupun pada nilai pasar wajar
pertimbangan nonkas yang diterima, tergantung mana yang dapat ditentukan secara
lebih jelas. Jika nilai pasar wajar saham yang diterbitkan dan properti atau jasa yang
diterima belum dapat ditentukan, maka seharusnya digunakan teknik penilaian yang
tepat. Penelitian dapat didasarkan pada transaksi pasar yang melibatkan aktiva yang
dapat dibandingkan atau menggunakan aliran kas diskonto masa depan yang
diharapkan. Penggunaan nilai buku, pari, atau ditetapkan sebagai dasar penilaian
transaksi harus dihindari. Penerbitan saham untuk properti atau jasa telah menghasilkan
kasus modal perseroan yang dinyatakan terlalu tinggi dengan cara sengaja
mempertinggi nilai ekuitas pemegang saham yang dihasilkan dari penilaian aktiva yang
dinaikkan, menimbulkan apa yang disebut sebagai saham pompaan.

e. Biaya Penerbitan Saham


Biaya penerbitan didebet ke Tambahan Modal Disetor katena biaya tersebut tidak
berhubungan dengan operasi perusahaan. Biaya penerbitan adalah biaya pembiayaan
dan harus mengurangi hasil yang diterima dari penjualan saham.

3. SAHAM PREFEREN
Saham Preferen (preferred stock) adalah saham dengan kelas khusus yang memiliki
beberapa preferensi atau kelebihan atau fitur yang tidak dimiliki oleh saham biasa.
Karakteristik yang berkaitan dengan penerbitan saham preferen adalah :
a. Preferensi atas dividen
b. Preferensi atas aktiva pada saat likuidasi.
c. Dapat dikonversi menjadi saham biasa.
d. Dapat ditebus pada opsi perseroan.
e. Tidak mempunyai hak suara.
Karakteristik yang membedakan saham preferen dengan saham biasa mungkin
terletak pada sifatnya yang lebih tertutup dan negatif di samping preferensinya. Misal
saham preferen tidak memiliki hak suara, tidak kumulatif, dan nonpartisipasi.
Saham preferen biasanya diterbitkan dengan suatu nilai pari, dan preferensi dividen
dinyatakan sebagai suatu presentase dari nilai pari. Jadi pemegang saham preferen 8%,
dengan nilai pari $100 memberikan hak dividen tahunan $8 per saham. Saham ini
biasanya disebut sebagai saham preferen 8%. Dalam kasus saham preferen tanpa nilai
pari, preferen dividen dinyatakan sebagai jumlah dolar spesifik (specific dollar amount)
per saham, misalnya $7 per saham. Saham ini umumnya disebut saham preferen $7.
Preferensi untuk dividen tidak memastikan bahwa dividen akan dibayar; hal ini hanya
merupakan jaminan bahwa tingkat dividen yang ditetapkan atau jumlah yang dapat
ditetapkan pada saham preferen harus dibayar sebelum ada dividen yang dibayar untuk
saham biasa.
Sebuah perusahaan sering kali menerbitkan saham preferen (dan bukan meminjam
uang) karena menghindari tingginya rasio hutang-terhadap-ekuitas. Dalam kasus lain,
perusahaan menerbitkan saham preferen melalui private placement dengan perusahaan
lain pada tingkat dividen di bawah rata-rata pasar karena perusahan itu akan menerima
dividen yang hampir bebas pajak.

Karakteristik Saham Preferen


Sebuah perseroan dapat menyertakan preferensi atau batasan pada setiap kombinasi
yang diinginkan untuk penerbitan saham preferen, sepanjang tidak bertentangan secara
spesifik dengan hukum negara bagian, dan perseroan itu dapat menerbitkan lebih dari satu
kelompok saham preferen. Karakteristik paling umum yang melekat pada saham preferen
antara lain:
a. Saham preferen kumulatif (cumulative preferred stock).
Saham preferen kumulatif (cumulative preferred stock) dinyatakan bahwa jika
perseroan terbatas gagal dalam membayar dividen dalam satu tahun, maka harus
dibayarkan dalam tahun berikutnya sebelum laba dapat dibagikan kepada pemegang
saham biasa. Jika direktur tidak mengumumkan dividen pada tanggal pembagian
dividen, maka dividen itu disebut sebagai “passed” (terlewat). Setiap dividen yang
terlewat atas saham preferen kumulatif merupakan dividen tertunggak (dividen in
arrears). Karena tidak ada kewajiban yang terjadi sampai dewan direksi
mengumumkan dividen, maka dividen tertunggak tidak tercatat sebagai kewajiban
tetapi diungkapkan dalam catatan laporan keuangan. Saham preferen nonkumulatif
jarang diterbitkan karena dividen yang terlewat akan hilang selamanya bagi pemegang
saham preferen dan akibatnya penerbitan saham ini tidak dapat dipasarka.
b. Saham preferen partisipasi (convertible preferred stock).
Pemegang saham preferen partisipasi (convertible preferred stock) membagi
rata dengan pemegang saham biasa setiap pembagian laba diluar tingkat yang
ditentukan. Jadi, saham preferen 5%, jika berpartisipasi penuh akan menerima tidak
hanya pengembalian 5%, tetapi juga dividen pada tingkat yang sama seperti yang
dibayarkan kepada pemegang saham biasa jika jumlah yang melebihi 5% dari nilai pari
atau nilai ditetapkan dibayarkan kepada pemegang saham biasa. Saham partisipasi tidak
selalu berpartisipasi penuh, tetapi berpartisipasi sebagian (parsial).
c. Saham preferen konvertibel (convertible preferred stock).
Saham preferen konvertibel (convertible preferred stock) mengizinkan
perusahaan penerbit saham, menurut opsinya, menukar saham preferen menjadi saham
biasa pada rasio yang telah ditentukan sebelumnya. Pemegang saham preferen
konvertibel tidak hanya menikmati klaim preferen atas dividen tetapi juga memiliki
opsi konvertibel ke pemegang saham biasa dengan partisipasi tak terbatas atas laba.
d. Saham preferen yang dapat ditarik (callable preferred stock).
Saham preferen yang dapat ditarik (callable preferred stock) mengizinkan
perusahaan penerbit saham untuk menarik atau menebus, pada opsinya, saham preferen
yang beredar pada tanggal tertentu pada masa depan dan pada harga yang ditentukan.
Harga penarikan atas penebusan biasanya ditetapkan sedikit di atas harga penerbitan
awal dan biasanya ditentukan pada satuan yang berkaitan dengan nilai pari.
Karakteristik dapat ditarik memungkinkan perusahaan menggunakan modal yang
diperoleh melalui penerbitan semacam itu, sampai kebutuhan telah terpenuhi atau
saham tidak menguntungkan lagi.
Keberadaan harga penarikan ini cenderung menetapkan plafon nilai pasar
saham preferen kecuali jika hal itu bersifatkonvertibel untuk saham biasa. Jika saham
preferen ditarik untuk ditebus, maka setiap dividen yang tertunggak harus dibayar.
e. Saham preferen yang dapat ditebus (redeemable preferred stock).
Semakin banyak terbitan saham preferen yang mempunyai karakter yang
membuat sekuritas itu bersifat seperti utang (mempunyai kewajiban hukum untuk
membayar) dan bukan seperti instrumen ekuitas. Misalnya, saham preferen yang dapat
ditebus (redeemable preferred stock) mempunyai periode penembusan wajib atau
karakter penembusan yang tidak dapat dikontrol oleh perusahaan penerbit saham.
Sebelumnya, perusahaan publik tidak dizinkan untuk melaporkan ekuitas
preferen yang bersifat utang ini, tetapi mereka juga tidak diharuskan untuk
melaporkannya sebagai kewajiban. Ada keprihatinan menyangkut klasifikasi sekuritas
seperti utang ini, yang dapat dilaporkan sebagai ekuitas. Dalam praktiknya juga
terdapat perbedaan pelaporan dividen dari sekuritas ini. Baru-baru ini FASP
melaporkan sebuah standar yang mempengaruhi perlakuan akuntansi untuk instrumen
hibrida tertentu dan mengharuskan sekuritas yang bersifat seperti utang, seperti saham
preferen yang dapat ditebus agar dikelompokkan sebagai kewajiban , diukur dan
diperlakukan seperti kewajiban.

Akuntansi dan Pelaporan Saham Preferen


Akuntansi saham preferen pada saat penerbitannya sama dengan akuntansi saham
biasa. Perusahaan mengalokasikan proceeds antara nilai pari saham preferen dan tambahan
modal disetor. Sebagai gambaran,misalkan Bishop Co. menerbitkan 10.000 saham preferen
dengan nilai pari sebesar $10 seharga $12 per saham.Bishop mencatat pembelian ini sebagai
berikut :
Kas 120.000
Saham preferen 100.000
Modal Disetor sebagai kelebihan dari Nilai Pari 20.000

Berkebalikan dengan obligasi konvertibel (dicatat sebagai kewajiban pada tanggal


penerbitan), perusahaan memasukkan saham preferen konvertibel sebagai bagian dari
ekuitas pemegang saham. Disamping itu, ketika menerbitkan saham preferen konvertible,
tidak ada justifikasi teoritis untuk mengakui keuntungan atau kerugian. Perusahaan tidak
mengakui keuntungan atau kerugian ketika berurusan dengan pemegang saham dalam
kapasitas mereka sebagai pemilik perusahaan. Namun, perusahaan memakai metode nilai
buku (book value method): mendebit saham preferen dan tambahan modal disetor yang
terkait; mengkredit Saham Biasa dan Tambahan modal disetor (jika terdapat kelebihan).
Saham preferen umumnya tidak mempunyai tanggal jatuh tempo. Sehingga tidak ada
kewajiban hukum untuk membayar pemegang saham preferen. Akibatnya, perusahaan
mengklasifikasikan saham preferen sebagai bagian dari ekuitas pemegang saham. Saham
preferen biasanya dilaporkan pada nilai pari sebagai pos pertama dalam kelopok ekuitas
pemegang saham dari neraca perusahaan. Setiap kelebihan atas nilai pari dilaporkan
sebagai bagian dari tambahan modal disetor. Dividen saham preferen diperlukan sebagai
distribusi laba dan bukan sebagai beban perseroan. Perusahaan harus mengungkapkan hak-
hak yang berhubungan dengan saham preferen yang beredar.

4. Saham Treasuri
Reakuisisi Saham
Adalah umum bagi perusahaan untuk membeli kembali saham-sahamnya. Dalam
kenyataannya, pembelian kembali saham saat ini melebihi dividen sebagai bentuk
distribusi kepada pemegang saham. Alasan perusahaan membeli kembali sahamnya yang
beredar adalah:
1. Untuk memenuhi distribusi pajak yang efisien dari kelebihan kas kepada
pemegang saham. Tingkat keuntungan modal atas penjualan saham kepada perusahaan
oleh pemegang saham diperkirakan sekitar setengah tarif pajak biasa. Keuntungan ini
agak terkurangi karena baru-baru ini terjadi perubahan mengenai hukum pajak yang
berkenaan dengan dividn.
2. Untuk meningkatkan laba per saham dan pengembalian atas ekuitas. Dengan
mengurangi jumlah saham yang beredar dan mengurangi ekuitas pemegang saham,
rasio kinerja tertentu sering kali meningkat. Namun strategi untuk membesar-besarkan
standar kinerja mungkin akan meningkatkan kinerja dalam jangka pendek, tetapi taktik
ini tidak ada nilainya dalam jangka panjang.
3. Untuk memenuhi saham dalam kontrak kompensasi saham karyawan atau
memenuhi kebutuhan merger yang potensial. Honeywell Inc. Melaporkan bahwa
sebagian dari pembeliannya atas satu juta lembar saham biasa akan digunakan untuk
kontrak opsi saham karyawan. Perusahaan lainnya membeli saham untuk keperluan
akuisisi bisnis.
4. Untuk menghindari upaya pengambilalihan atau mengurangi jumlah pemegang
saham. Dengan mengurangi jumlah lembar saham yang dipegang publik, pemilik
sekarang dan manajemen dapat menghindari “pihak luar” untuk memperoleh kendali
atas perusahaan atau pengaruh yang signifikan.
5. Membentuk pasar bagi saham. Seperti dikatakan oleh seorang eksekutif perusahaan,
“perusahaan kami berusaha membentuk bursa saham”. Dengan membeli saham di pasar
modal, diciptakan suatu permintaan yang dapat menstabilkan harga saham, atau dalam
kenyataannya, meningkatkan harga saham itu.
Setelah saham dibeli kembali, saham tersebut dapat dihapuskan atau disimpan di
bendahara untuk diterbitkan kembali. Jika tidak dihapuskan, maka saham-saham itu
disebut sebagai saham treasuri (treasury shares). Secara teknis saham treasuri adalah
saham milik perusahaan yang telah dibeli kembali setelah diterbitkan dan dibayar penuh.
Saham treasuri bukan merupakan aktiva. Pada saat perusahaan membeli kembali
bebrapa sahamnya yang beredar, maka dia telah mengurangi aktiva bersih tetapi tidak
mengakuisisi aktiva. Pemilikan saham treasuri tidak memberikan perusahaan hak untuk
memberikan suara, melaksanakan hak istimewa sebagai pemegang saham, hak menerima
dividen tunai, atau menerima aktiva pada saat perusahaan dilikuidasi. Saham treasuri pada
dasarnya sama dengan modal saham yang belum diterbitkan. Tidak ada yang mendukung
untuk mengkasifikasikan modal saham sebagai aktiva di neraca.

Pembelian Saham Treasuri


Dua metode umum untuk menangani saham treasuri pada akun-akun adalah :
1. Metode biaya menghasilkan pendebetan akun Saham Treasuri untuk biaya reakuisisi, serta
dalam pelaporan akun ini sebagai suatu pengurangan dari total modal disetor dan laba
ditahan di neraca.
2. Metode nilai pari atau nilai ditetapkan, mencatat semua transasi saham treasuri pada nilai
parinya dan melaporkan saham treasuri hanya sebagai pengurang atas modal saham.
Metode biaya atau harga pokok umumnya digunakan dalam akuntansi untuk saham
treasuri. Menurut metode biaya, akun Saham Treasuri didebet pada biaya saham yang
diperoleh dan penerbitan kembali saham diredit ada akun biaya yang sama. Harga yang
diterima untuk saham ketika pertama kali diterbitkan tidak mempengaruhi ayat jurnal untuk
mencatat akuisisi dan penerbitan kembali saham treasuri.

Contoh:
Pasific Company telah menerbitkan 100.000 lembar saham biasa dengan nilai pari $1
pada harga $10 per saham. Disamping itu, laba ditahan sebesar $300.000. Ilustrasi berikut
menunjukkan kelompok ekuitas pemegang saham pada tanggal 31 Desember 2006, sebelum
pembelian saham treasuri.
Ekuitas pemegang saham
Modal disetor
Saham Biasa, nilai pari $1; 100.000 lembar diterbitkan dan beredar $100.000
Tambahan modal disetor $900.000
Total modal disetor $1.000.000
Laba ditahan $300.000
Ekuitas pemegang saham $1.300.000

Pada tanggal 20 Januari 2007, Pasific Company memperoleh 10.000 lembar sahamnya pada
$11 per saham. Pasific untuk mencatat reakusisi ini adalah:
20 Januari 2007
Saham Treasuri 110.000
Kas 110.000
Saham treasuri didebet sebesar biaya atau harga pokok saham yang dibeli. Akun modal
disetor awal, saham biasa, tidak dipengaruhi karena jumlah saham yang diterbitkan tidak
berubah. Hal yang sama juga berlaku pada akun Tambahan Modal di Setor. Saham treasuri
dikurangi dari total modal disetor dan laba ditahan dalam kelompok ekuitas pemegang
saham. Ilustrasi berikut menunjukkan kelompok ekuitas pemegang saham untuk Pasific
Company setelah pembelian saham treasuri:
Ekuitas pemegang saham
Modal disetor
Saham Biasa, nilai pari $1; 100.000 lembar diterbitkan dan beredar $100.000
Tambahan modal disetor $900.000
Total modal disetor $1.000.000
Laba ditahan $300.000
Total modal disetor dan laba ditahan $1.300.000
Dikurangi : Biaya saham treasuri (10.000 lembar) $110.000
Total ekuitas pemegang saham $1.190.000

Penjualan Saham Treasuri


Saham treasuri biasanya dapat dijual atau ditarik. Pada saat saham treasuri dijual,
akuntansi untuk penjualan itu tergantung pada harganya. Jika harga jual saham treasuri sama
dengan harga pokokknya, maka penjualan saham itu dicatat dengan mendebet kas dan
mengkredit saham treasuri. Dalam kasus dimana harga jual saham treasuri tidak sama dengan
harga pokoknya, maka akuntansi untuk penjualan saham treasuri di atas harga pokoknya akan
berbeda dengan akuntansi untuk penjualan saham treasusi di bawah harga pokoknya. Akan
tetapi, penjualan saham treasuri baik diatas atau dibawah harga pokoknya akan meningkatkan
total aktiva dan ekuitas pemegang saham.
a. Penjualan Saham Treasuri di Atas Harga Pokok
Apabila harga jual saham treasuri lebih besar dari harga pokoknya, maka perbedaan
ini dikredit ke Modal Disetor dari Saham Treasuri. Sebagai contoh, anggaplah bahwa
1.000 lembar saham treasuri Pasific Company yang diperoleh sebelumnya pada $11 per
saham dijual dengan harga $15 per saham pada tanggal 10 Maret. Ayat jurnalnya adalah
sebagai berikut:
10 Maret 2007

Kas 15.000
Saham Treasuri 11.000
Modal Disetor dari Saham Treasuri 4.000

Ada dua alasan mengapa kredit sebesar $4.000 dalam ayat jurnal tidak diperlakukan
sebagai Keuntungan atas Penjualan Saham Treasuri, yaitu: (1) Keuntungan atas penjualan
itu terjadi ketika aktiva dijual, dan saham treasuri bukan merupakan aktiva. (2) Perusahaan
tidak merealisasikan keuntungan atau menanggung kerugian dari transaksi saham dengan
pemegang sahamnya. Jadi, modal disetor yang berasal dari penjualan saham treasuri tidak
boleh dilibatkan dalam perhitungan laba bersih. Modal disetor dari saham treasuri dicatat
secara terpisah pada neraca sebagai bagian dari modal disetor.
b. Penjualan Saham Treasuri di Bawah Harga Pokok
Apabila saham treasuri dijual di bawah harga pokoknya, maka kelebihan harga pokok
atas harga jual biasanya didebet ke Modal Disetor dari Saham Treasuri. Jika Pasific
Company menjual 1.000 lembar saham treasuri tambahan pada tanggal 21 Maret pada
harga $8 per saham. Maka ayat jurnalnya adalah:
21 Maret 2007

Kas 8.000

Modal Disetor dari Saham Treasuri 3.000

Saham Treasuri 11.000

Apabila saldo kredit Modal Disetor dari Saham treasuri dieleminasi, maka setiap
kelebihan tambahan harga pokok atas harga jual didebet ke Laba Ditahan. Sebagai contoh,
anggaplah bahwa Pasific Company menjual tambahan 1.000 lembar seharga $8 per saham
pada tanggal 10 April. Ilustrasi dibawah ini menunjukkan saldo akun Modal Disetor dari
akun Saham Treasuri (sebelum pembelian 10 April)

Modal Disetor dari Saham Treasuri


21 Maret 3.000 10 Maret 4.000
Saldo 1.000

Dalam kasus ini, $1.000 dari kelebihan tersebut didebet ke Modal Disetor dari saham
treasuri, dan sisanya didebetke Laba Ditahan. Ayat jurnalnya sebagai berikut.
10 April 2007
Kas 8.000

Modal Disetor dari Saham Treasuri 1.000

Laba Ditahan 2.000

Saham Treasuri 11.000

Penarikan Saham Treasuri


Dewan direksi dapat menyetujui penarikan saham treasuri. Keputusan ini
menghasilkan pembatalan saham treasuri dan pengurangan jumlah saham yang
diterbitkan. Penarikan saham treasuri mempunyai status sebagai saham yang diotorisasi
dan saham yang belum diterbitkan. Pengaruh akuntansinya adalah sama dengan penjualan
saham treasuri kecuali bahwa debet dilakukan ke akun modal disetor yang dapat
diaplikasian ke penarikan saham, bukan ke kas. Sebagai contoh, jika saham pada awalnya
dijual dengan nilai pari, maka Saham Biasa didebet sebesar nilai pari per saham. Jika
saham pada awalnya dijual seharga $3 di atas nilai pari, maka debet Agio Saham sebesar
$3 per saham juga diperlukan.

5. Modal Sumbangan
Modal sumbangan timbul karena adanya sumbangan yang diberikan kepada
perusahaan berupa harta kekayaan tertentu tanpa imbalan. Sumbangan semacam ini bisa
berasal dari pemegang saham atau sumbangan harta dari dermawan. Pemegang saham
mungkin ingin memberi sumbangan kepada perusahaan dengan memberikan saham yang
dimilikinya. Misalnya: seorang pemegang saham memberi sumbangan berupa 100 lembar
saham biasa. Saham tersebut dijual kembali oleh perusahaan dan laku dengan harga
125.000 per lembar. Jurnal yang dicatat adalah:

Kas 12.500.000
Modal sumbangan 12.500.000

6. Penyajian dan Analisis Laporan Ekuitas Pemegang Saham


Tiga kategori berikut biasanya muncul pada kelompok ekuitas pemegang saham:
1. Modal saham
2. Tambahan modal disetor (modal yang melebihi nilai pari atau nilai ditetapkan)
3. Laba ditahan

Dua kategori pertama, yaitu modal saham dan tambahan modal disetor merupakan modal
kontribusi, sementara laba ditahan merupakan modal yang diperoleh perusahaan.

Penyajian Neraca
FROST CORPORATION
Ekuitas Pemegang Saham
31 Desember 2007

Modal Saham
Saham Preferen, nilai pari $100, kuantitatif 7%, diotorisasi
100.000 lembar, diterbitkan dan beredar 30.000 lembar. $ 3.000.000
Saham biasa, tanpa nilai pari, nilai ditetapkan $10 per lembar,
500.000 lembar diotorisasi, 400.000 lembar diterbitkan. $ 4.000.000
Dividen saham biasa yang dapat dibagikan, 20.000 lembar. $ 200.000
Total modal saham $ 7.200.000

Tambahan modal disetor


Kelebihan dari nilai pari-preferen $ 150.000
Kelebihan dari nilai ditretapkan-biasa $ 840.000 $ 990.000
Total modal disetor $ 8.190.000

Laba ditahan $ 4.360.000


Total modal disetor dan laba ditahan $12.550.000
Dikurangi : Biaya saham treasurim (2.000 lembar, saham biasa) (190.000)
Akumulasi kerugian komprehensif lainnya (360.000)
Total ekuitas pemegang saham $12.000.000
Analisis
Beberapa rasio menggunakan jumlah yang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham
untuk mengevaluasi profitabilitas dan solvensi jangka panjang terdiri dari :

1. Rasio Pengembalian atas ekuitas saham biasa


Rasio yang menunjukkan seberapa banyak dolar laba bersih yang diperoleh dari setiap
dolar yang diinvestasikan oleh pemiliknya.
Tingkat Pengembalian Atas =
Ekuitas Saham Biasa

2. Rasio Pembayaran
Rasio ini merupakan rasio dividen tunai terhadap laba bersih

Rasio Pembayaran =

3. Nilai Buku per Saham


Nilai Buku per Saham adalah jumlah setiap saham yang akan diterima jika perusahaan
dilikuidasi atas dasar jumlah yang dilaporkan dalam neraca. Akan tetapi, angka tersebut
akan kehilangan banyak relevansinya jika penilaian atas neraca tidak memperkirakan
nilai pasar wajar aktiva.
Nilai Buku per Saham =