Anda di halaman 1dari 12

INOKULASI EKSPLAN DAN SUBKULTUR

Putri Unggul Utami


1704020058

Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian


Universitas Muhammadiyah Purwokerto

ABSTRAK
Kunyit (Curcuma longa Linn) dan kencur (K. Galanga) merupakan tanaman rempah yang
dapat dimanfaatkan sebagai obat yang tumbuh liar baik di daerah dataran rendah maupun
dataran tinggi dengan air yang tidak terlalu banyak. Pada praktikum inokulasi eksplan
dilakukan perlakuan dengan penanam pada media IBA 0,5 (2 botol) dan IBA 1,0 (2 botol).
Kontaminasi terjadi pada 1 botol IBA 0,5 dengan tumbuhnya jamur dan hiva berwarna
putih pada eksplan dan 1 botol IBA 1,0 dengan adanya bakteri dipermukaan media.
Praktikum subkultur menggunakan kalus rimpang kencur sebagai eksplan dengan ditanam
pada 2 media NAA 2 ppm. Kedua kalus tidak terjadi kontaminasi. Pada pengamatan 3hst
kalus berwarna putih kecoklatan dan pada 5hst eksplan berwarna putih kekuningan dan
tidak berair. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara inokulasi eksplan dan
subkultur yang benar, mengetahui penyebab terjadinya kontaminasi, mengetahui
terjadinya kontaminasi dan tidaknya eksplan. Praktikum dilaksanakan pada hari Minggu,
17 November 2019 pukul 16.00 WIB dan praktikum subkultur dilaksanakan pada hari
Sabtu, 23 November 2019 pukul 09.00 WIB bertempat di Laboratorium Rekayasa Genetika
Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Kata kunci : inokulasi eksplan, subkultur, tunas kunyit, kalus rimpang, IBA 0,5, IBA 1,0,
NAA 2 ppm.
PENDAHULUAN sumber eksplan digunakan untuk
Kultur jaringan merupakan menghasilkan planlet disamping
cara pembiakan vegetatif yang cepat faktor lainnya yaitu cahaya, suhu, dan
dan secara genetik sifat-sifat tanaman kelembaban (Gunawan, 1988).
anak yang dihasilkan akan sama atau Kunyit memiliki nama latin
identik dengan induknya. Dalam Curcuma domestica Val atau
teknik kultur jaringan yang perlu Curcuma longa linn. Tanaman kunyit
mendapatkan perhatian adalah termasik dalam salah satu tanaman
komposisi media kultur dan zat rempah dan obat asli dari kawasan
pengatur tumbuh yang tepat serta Asia Tenggara. tanaman kunyit dapat
digunakan sebagai bahan penyedap dilakukan pengamatan terhadap
makanan, bahan obat untuk kesehatan pertumbuhan dan perkembangan
serta kosmetik untuk kecantikan. eksplan yang ditanam. Kegiatan
Tanaman kunyit dapat penenaman kultur jaringan sangat
diklasifikasikan sebagai berikut : sederhana, yaitu suatu sel atau irisan
Kingdom : Plantae jaringan tanaman yang sering disebut
Sub-kingdom : Tracheobionta eksplan secara aseptik diletakkan dan
Super Divisi : Spermatophyta dipelihara dalam medium padat atau
Divisi : Magnoliopsida cair yang cocok dan dalam keadaan
Kelas : Liliopsida steril. Dengan cara demikian sebagian
Sub kelas : Zingiberidae sel pada permukaan irisan tersebut
Ordo : Zingiberales akan mengalami proliferasi dan
Family : Zingiberaceae membentuk kalus. Apabila kalus
Genus : Curcuma terbentuk dipindahkan ke dalam
Spesies : Curcuma longa medium diferensiasi yang cocok,
Kunyit merupakan tanaman maka akant erbentuk tanaman kecil
perennial yang memiliki bentuk daun yang lengkap dan disebut planlet.
elpis dan di setiap tanaman terdapat 5- Dengan teknik kultur jaringan ini
15 helai daun dengan panjang hanya dari satu irisan kecil suatu
mencapai 85 cm dan lebar 25 cm. jaringan tanaman dapat dihasilkan
Bagian pangkal daunnya berbentuk kalus yang dapat menjadi planlet
runcing dengan warna hijau tua, dan dalam jumlah yang besar (Santoso,
bagian tepi daunnya rata (Herry, 2004)
1992). Kegiatan menanam ini
Setelah melakukan sterilisasi dilakukan do dalam Laminar Air
dan pembuatan media dalam kegiatan Flow Cabinet dengan kondisi aseptik.
kultur jaringan selanjutnya adalah Prinsip kerja LAF ini dengan
menanam. Menanam merupakan mengalirkan arus udara yang laminair
kegiatan terakhir dalam kultur ke dalam almari penabur melalui
jaringan yang nantinya akan saluran saringan. Bakteri dan jamur
ditahan oleh saringan ini, sehingga merupakan langkah yang penting.
udara yang masuk ke dalam LAF Kalus diharapkan dapat
sudah steril dan membuat ruangan memperbanyak dirinya secara terus
menjadi steril juga karena berhasil menerus. Kalus adalah suatu
tidaknya kegiatan kultur jaringan kumpulan sel amorphous (tidak
sangat ditentukan oleh kondisi berbentuk atau belum terdiferensiasi)
lingkungan penanaman. Alat dan yang terjadi dari sel-sel jaringan yang
eksplan yang digunakan juga harus membelah diri secara terus menerus
dalam keadaan steril, karena jika secara in vitro atau di dalam tabung
tidak kemungkinan terkontaminasi dan tidak terorganisasi sehingga
sangat besar dibandingkan dengan memberikan penampilan sebagai
yang disterilkan terlebih dahulu. massa sel yang bentuknya tidak
Bakteri dan jamur yang ada diudara teratur. Secara in vivo, kalu pada
bebas akan dengan mudah menempel umumnya terbentuk pada bekas luka
di alat-alat atau eksplan yang dipakai akibat serangan infeksi mikro
(Soegihardjo, 1993). organisme seperti Agrobacterium
Eksplan yang telah ditanam, tumefaciens, gigitan atau tusukan
agar dapat tumbuh menjadi kalus dan serangga dan nematoda (Yusnita,
kemudian menjadi planlet, 2004).
membutuhkan pemeliharaan yang Kencur merupakan tanaman
rutin dan tepat. Pada saat menabur yag digunakan sebagai bahan baku
eksplan dilakukan di dalam LAF obat tradisonal (jamu), fitofarmaka,
harus dalam kondisi aseptik. Sebelum industri kosmetik, penyedap makanan
kita bekerja di dalam LAF, semua dan minuman rempah. Senyawa
perhiasan tangan harus dilepas, dan saponin, flavonoid, fenol serta
tangan dibasuh terlebih dahulu minyak atsiri yang terkandung dalam
dengan alkohol 70% (Suryowinoto, kencur merupakan metabolit
2000). sekunder suatu tanman. Produksi
Pada kultur jarigan sekunder dari rimpang kencur untuk
menginduksi terbentuknya kalus kebutuhan pabrik-pabrik industry
sangat dipengaruihi oleh keberadaan untuk pertumbuhannya (Soegihardjo,
dan pertumbuhan tanaman di lapang 1993)
yang ditentukan oleh berbagai faktor Kombinasi zat pengatur
lingkungan seperti tanah, nutrisi, tumbuh yang tepat merupakan salah
iklim serta hama dan penyakit. Salah satu faktor yang menentukan
satu upaya untuk menghasilkan keberhasilan kultur. Ada tiga jenis zat
metabolit sekunder dengan jumlah pengatur tumbuh yang dibutuhkan
yang banyak adalah dengan teknologi untuk menginduksi pembelahan sel
kultur jaringan seperti kultur kalus yaitu kelompok auksin yang meliputi
(Agoes, 2010). Kencur dapat IAA, IBA, NAA, dan 2,4 D,
diklasifikasikan sebagai berikut: kelompok sitokinin dan adenin,
Kingdom : Plantae meliputi BA, BAP, DMAA, Ad-SO4,
Divisi : Magnoliophyta dan kinetin serta kelompok giberelin,
Kelas : Liliopsida yaitu GA. Pembentukan kalus dapat
Ordo : Zingiberales diinduksi dengan cara mengatur
Family : Zingiberaceae pemberian ZPT dengan jenis dan
Genus : Kaempfria konsentrasi yang tepat (Zazari, 2015).
Spesies : K. Galanga METODE PRAKTIKUM
Subkultur adalah pemindahan a. Waktu dan Tempat
kalus/ planlet dari emdium lama ke Praktikum inokulasi eksplan
dalam medium baru yang dilakukan dilaksanakan pada hari Minggu,
secara aseptis di dalam Laminar Air 17 November 2019 pukul 16.00
Flow (LAF). Pada dasarnya, WIB dan praktikum subkultur
subkultur merupakan kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu, 23
memisahkan, memotong, membelah November 2019 pukul 09.00 WIB
dan menanam kembali eksplan yang bertempat di Laboratorium
telah tumbuh sehingga jumlah Rekayasa Genetika Universitas
tanaman akan bertambah banyak. Muhammadiyah Purwokerto.
Tujuannya adalah supaya kultur tetap b. Alat dan Bahan
mendapatkan unsur hara atau nutrisi
Pada inokulasi eskplan alat menggojognya selama 15
yang diperlukan yaitu botol kaca, menit. Kemudian mensteril
pinset, tissue, dan LAF. Dan eksplan mata tunas dengan
bahan yang dibutuhkan yaitu fungisida lalu menggojognya
eksplan, sunlight, fungisida, selama 15 menit.
alkohol, kaporit, dan aquades. Mensetrilkan eksplan didalam
Setelah dilakukan inokulasi LAF dengan alkohol 10%
eksplan, alat yang dibutuhkan selama 10 menit dan
untuk penanaman eksplan yaitu menggunakan clorox selama 5
LAF, scaple dan pisau bled, menit.
cawan petri, bunsen, pinset, label, 2. Eksplan mata tunas
kapas, label, korek, plastik, karet Mengupas mata tunas
dan rak kultur. Untuk bahan yang dengan mengambil bagian
dibutuhkan yaitu eksplan, alkohol terdalam untuk ditanam.
70%, alkohol 96% dan medium Mensetrilkan mulut botol
MS. menggunakan api bunsen
Dan pada praktikum subkultur dengan 4-5 kali putaran.
kalus, alat yang diperlukan yaitu Kemudian menanam eksplan
spatula, cawan petri, bunsen, mata tunas dengan cara
LAFA, plastik, karet, label, membenamkan sedikit pada
pulpen, tissue, sprayer, korek, dan medium kultur, lalu
rak kultur. Untuk bahan yang mensterilkan kembali mulut
dibutuhkan yaitu kalus rimpang botol dan menutupnya dengan
kencur, medium MS 2 ppm NAA, plastik dan mengikatnya
alkohol 70% dan 96%. dengan karet. Memberi label
c. Prosedur Kerja pada masing-masing botol
1. Inokulasi Eksplan dan mengamatinya setiap hari.
Mensteril eksplan 3. Subkultur kalus
mata tunas menggunakan Meyiapkan alat dan
sunlight 50 ml lalu bahan yang diperlukan.
Kemudian mengambil kalus mensterilkan mulut botol UC
±2 sendok spatula dan dan menutup botol
memasukkannya ke dalam menggunakan plastik dan
cawan petri. Lalu mengambil merekatkannya dengan karet.
medium dan mensterilkan Melakukan hal yang sama
mulut botol UC, mengambil untuk botol kedua.
kalus sebanyak 1 sendok Mengamati perkembangan
spatula dan menanamnya pada kalus dimulai dengan 3 hst.
medium MS. Setelah itu,
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
10
Alkohol 10% = 100 𝑥 100 = 10 𝑚𝑙 𝑎𝑙𝑘𝑜ℎ𝑜𝑙 + 90 𝑚𝑙 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠
10
Clorox 20% = 100 𝑥 400 = 80 𝑚𝑙 𝑎𝑙𝑘𝑜ℎ𝑜𝑙 + 320 𝑚𝑙 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠

Inokulasi eksplan 3hst


Perlakuan Steril Kontaminasi Keterangan
Ditumbuhi jamur,
IBA 0,5 (1) -  hiva jamur
berwarna putih
IBA 0,5 (2)  -
Bakteri tumbuh
IBA 1 (1) - 
diatas media
IBA 1 (2)  -

Inokulasi eksplan 5hst


Perlakuan Steril Kontaminasi Keterangan
Ditumbuhi jamur,
IBA 0,5 (1) -  hiva jamur
berwarna putih
Tunas berwarna
IBA 0,5 (2)  -
hijau muda
Bakteri tumbuh
IBA 1 (1) - 
diatas media
Tunas berwarna
IBA 1 (2)  -
hijau muda

Subkultur 3hst
Eksplan
Perlakuan Keterangan
Steril Kontaminasi
Eksplant putih
NAA 2 ppm (1)  -
kecoklatan
Eksplant putih
NAA 2 ppm (2)  -
kecoklatan

Subkultur 5hst
Eksplan
Perlakuan Keterangan
Steril Kontaminasi
Eksplant
berwarna putih
NAA 2 ppm (1)  -
kekuningan tidak
berair
Eksplant
berwarna putih
NAA 2 ppm (2)  -
kekuningan tidak
berair
Kunyit atau kunir (Curcuma longa menggunakan alkohol 10% selama 10
Linn) termasuk salah satu tanaman dan clorox 20% selama 5 menit.
rempah-rempah dan obat-obatan. Sebelum melakukan
Kunyit mengandung senyawa yang penanaman eksplan kunyit pada
berkhasiat obat yang disebut media IBA 0,5 dan IBA 1,0, mata
kurkuminoid yang terdiri dari tunas terlebih dahulu dikupas untuk
kurkumin, desmetoksikumin diambil bagian terdalamnya
sebanyak 10% dan dapat menggunakan scaple dan pinset. Pada
dimanfaatkan sebagai minyak atsiri. saat pengambilan mata tunas kunyit
Kunyit juga mengandung lemak, harus diletakkan dalam cawan petri
karbohidrat, protein, pati, vitamin C, yang diletakan didekat buncen dan
dan garam-garam mineral yaitu zat alat yang digunakan harus disterilkan
besi, fosfor, dan kalsium. terlebih dahulu dengan merendam
Kencur merupakan temu kecil alat kedalam alkohol dan melakukan
yang tumbuh subur di daerah dataran sterilisasi diatas api bunsen. Pada saat
rendah atau pegunungan dengan penanaman ke dalam media, mulut
tanah gembur dan tidak banyak air. bolot terlebih dahulu disterilkan
Kencur tumbuh menggeletak diatas diatas api bunsen dengan 4-5 kali
permukaan tanah. Tumbuhan ini putaran. Tunas harus sedikit
tumbuh baik pada musim penghujan. dibenamkan ke dalam medium kultur.
Pada praktikum kultur Setelah dilakukan penanaman
jaringan dengan acara inokulasi pada medium kultur sebanyak 4 botol
eksplan, mata tunas dicuci terlebih balsem dengan 2 IBA 0,5 dan 2 IBA
dahulu sebelum disterilisasi 1,0 perlu dilakukan pengamatan. Pada
menggunakan sunlight 50 ml dan pengamatan 3hst, terdapat 2 eksplan
digojog selama 15 menit. Kemudian yang terkontaminasi, yaitu pada botol
disterilkan kembali menggunakan 1 dengan perlakuan IBA 0,5 dan botol
fungisida selama 15 menit dan 1 pada IBA 1,0 sedangkan 2 botol
digojog. Pada saat didalam LAF, lainnya steril. Kontaminasi pada IBA
eksplan perlu disterilkan kembali 0,5 memiliki ciri seperti eksplan
ditumbuhi jamur dengan hiva kekuningan dan tidak berair pada
berwarna putih dan IBA 1,0 terdapat sekitar eksplan.
bakteri yang tumbuh Seleksi bahan eksplan yang
diatas/permukaan media. Pada cocok merupakan faktor penting
pengamatan 5hst tidak ada eksplan dalam menentukan keberhasilan
yang terkontaminasi lagi. Dua program kultur jaringan. Salah satu
eksplan yang steril dan tumbuh, tunas aspek utama yang harus diperhatikan
tersebut memiliki warna hijau muda. dalam seleksi bahan eksplan. Apabila
Pada praktikum subkultur eksplan yang kurang steril diberi
kalus rimpang kencur diperlukan ± 2 kesempatan dalam penanaman maka
sendok spatula kalus yang dimungkinkan mikroorganisme yang
dimasukkan ke dalam cawan petri, terbawa oleh eksplan tersebut akan
kemudian mensterilkan mulut botol tumbuh dengan cepat dan dalam
uc dan memasuk kalus sebanyak 1 waktu singkat akan menutupi
sendok spatula ke dalam media botol permukaan medium pada eksplan
uc dan menutupnya dengan plastik yang ditanam atau biasanya disebut
dan direkatkan dengan karet. dengan kontaminasi.
Melakukan hal yang sama pada botol Selanjutnya, mikroorganisme
uc kedua. Setelah itu mensterilkan tersebut akan menyerang eksplan
kembali alat yang telah digunakan. melalui luka-luka akibat pemotongan,
Media yang digunakan yaitu NAA 2 disamping itu beberapa
ppm. mikroorganisme melepaskan
Pengamatan dilakukan pada senyawa beracun ke dalam medium
3hst dan 5hst. Pada 3hst tidak terjadi kultur yang dapat menyebabkan
kontaminasi pada kalus. Eksplan yang kematian jaringan. Oleh karena itu
tumbuh pada media keduanya dalam inisiasi suatu kultur, harus
memiliki ciri-ciri eksplan berwarna diusakan kultur yang aksenik, artinya
putih kecoklatan. Sedangkan pada kultur hanya dengan satu macam
pengamatan 5hst eksplan tetap steril organisme yang diinginkan (dalam
dan eksplan berwarna putih hal ini jaringan tanaman).
Kontaminasi yang sering kencur. Kegiatan ini dilakukan di
terjadi pada kultur jaringan tanaman dalam LAF dengan kondisi aseptik
terdiri atas dua jenis yaitu dan semua alat-alat yang digunakan
kontaminasi oleh bakteri dan harus steril. Praktikum ini
kontaminasi oleh cendawan. Untuk menggunakan media MS dengan
membedakan kedua jenis kontaminasi perlakuan yang berbeda-beda.
ini, dapat dilihat dari ciri-ciri fisik Perlakuan yang digunakan pada
yang muncul pada eksplan maupun inokulasi eksplan yaitu dengan
media kultur. Bila terkena menggunakan IBA 0,5 dan IBA 1,0
kontaminasi bakteri maka tanaman dengan menanamnya sebanyak 4
akan basah atau menyebabkan adanya botol balsem. Terdapat kontaminasi
lendir, hal ini dikarenakan bakteri pada botol IBA 0,5 (botol 1) dengan
langsung menyerang terhadap ciri-ciri tumbuhnya jamur pada
jaringan dari tubuh tumbuhan itu eksplan, hiva jamur berwarna putih
sendiri. Sedangkan bila dan IBA 1,0 (botol 1) dengan adanya
terkontaminasi oleh cendawan, bakteri yang tumbuh dipermukaan
tanaman akan lebih kering dan akan media. Dua tunas pada botol lainnya
muncul hifa jamur pada tanaman yang tumbuh dan steril. Tunas tumbuh
terserang dan biasanya dicirikan berwarna hijau muda pada
dengan adanya garis-garis (seperti pengamatan 5hst. Inokulasi eksplan
benang) yang berwarna putih sampai dilakukan dengan perendaman pada
abu-abu. Dan bisa juga kondisi sunlight dan fungisida selama 15
eksplan terkontaminasi oleh menit, alkohol 10 menit dan clorox
cendawan dan bakteri. selama 5 menit.
KESIMPULAN Sedangkan pada subkultur
Berdasarkan praktikum yang kalus rimpang kencur, kalus ditanam
telah dilakukan, dapat disimpulkan pada NAA 2 ppm. Kalus ditanam
eksplan yang digunakan yaitu mata pada 2 botol UC. Setelah 3hst dan
tunas kunyit. Subkultur dilakukan 5hst, pengamatan menunjukan tidak
dengan menggunakan kalus rimpang adanya kontaminasi pada eksplan
tersebut. Pada pengamatan 3hst kekuningan dan tidak berair. Alkohol
eksplan berwarna putih kecoklatan, yang digunakan yaitu 70% da 96%.
dan pada 5hst eksplan berwarna putih

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, A. 2010. Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Salemba Medika.
Gunawan, L. W. 1988. Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Lab. Kultur Jaringan
Tanaman Depdikbud Dirjen Dikti, PAU Bioteknologi.
Herry, M dan Emmyzar. 1992. Budidaya Tanaman Obat Introduksi di Indonesia.
Prosiding Komudikasi Ilmiah Hasil Plasma Nutfah Tanaman Obat. Bogor:
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah.
Suryowinoto, M. 2000. Pemuliaan Tanaman secara in Vitro. Yogyakarta: Kanisius.
Soegihardjo. 1993. Teknologi Kultur Jaringan Tanman. Yogyakarta: PAU
Bioteknologi UGM.
Santoso, U. Dan Nursandi F. 2004. Kultur Jaringan Tanaman. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang.
Yunita. 2004. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien.
Jakarta: Agromedia Pustaka.
Zasari, M. 2015. Pengaruh Indolebutyric Acid (IBA) dan Naphthalene Acetic Acid
(NAA) Terhadap Node Cutting Lada. Lampung: Enviagro Jurnal Pertanian
dan Lingkungan.
LAMPIRAN
GAMBAR KETERANGAN

Kontaminasi
IBA 0,5
Ditumbuhi jamur, hiva berwarna
putih

Kontaminasi
IBA 1,0
Bakteri tumbuh dipermukaan media

Steril
IBA 1
Tunas berwarna hijau

Steril
IBA 0,5
Tunas berwarna hijau

Steril
NAA 2 ppm
Eksplan berwarna putih