Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP SINDROM NEFROTIK PADA ANAK

CI Lapangan: ASNI, Amd

CI Akademik: ELVIA HARMIA,M.Keb

Disusun Oleh:
RISKA AMINI

PRODI DIII KEBIDANAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PAHLAWAN TUANKU TAMBUSAI

2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom nefrotik (SN) ialah keadaan klinis yang ditandai oleh proteinuria
masif, hipoproteinemia, edema, dan dapat disertai dengan hiperlipidemia. Angka
kejadian SN di Amerika dan Inggris berkisar antara 2-7 per 100.000 anak berusia
di bawah 18 tahun per tahun, sedangkan di Indonesia dilaporkan 6 per 100.000
anak per tahun, dengan perbandingan anak laki-laki dan perempuan 2:1. Di
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta, sindrom nefrotik
merupakan penyebab kunjungan sebagian besar pasien di Poliklinik Khusus
Nefrologi, dan merupakan penyebab tersering gagal ginjal anak yang dirawat
antara tahun 1995-2000.
Semua penyakit yang mengubah fungsi glomerulus sehingga
mengakibatkan kebocoran protein (khususnya albumin) ke dalam ruang Bowman
akan menyebabkan terjadinya sindrom ini. Etiologi SN secara garis besar dapat
dibagi 3, yaitu kongenital, glomerulopati primer/idiopatik, dan sekunder
mengikuti penyakit sistemik seperti pada purpura Henoch-Schonlein dan lupus
eritematosus sitemik. Sindrom nefrotik pada tahun pertama kehidupan, terlebih
pada bayi berusia kurang dari 6 bulan, merupakan kelainan kongenital (umumnya
herediter) dan mempunyai prognosis buruk. Pada tulisan ini hanya akan
dibicarakan SN idiopatik.
Sindrom Nefrotik ditandai dengan proteinuria masif ( ≥ 40 mg/m2
LPB/jam atau rasio protein/kreatinin pada urin sewaktu >2 mg/mg),
hipoproteinemia, hipoalbuminemia (≤2,5 gr/dL), edema, dan hiperlipidemia
(Behrman, 2000). Sindrom Nefrotik adalah status klinis yang ditandai dengan
peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein yang
mengakibatkan kehilangan urinarius yang masif (Whaley & Wong, 2003).
Penyebab sindrom nefrotik ini belum diketahui, namun akhir-akhir ini
dianggap sebagai penyakit autoimun, yaitu reaksi antigen-antibodi. Dimana 80%
anak dengan sindrom nefrotik yang dilakukan biopsi ginjal menunjukkan hanya
sedikit keabnormalannya, sementara sisanya 20 % biopsi ginjal menunjukkan
keabnormalan seperti glomerulonefritis. Patogenesis mungkin karena gangguan
metabolisme, biokimia dan fisiokimia yang menyebabkan permeabilitas
membran glomerulus meningkat terhadap protein (Whalley and Wong, 2003).
Sedangkan menurut Behrman (2000), kebanyakan (90%) anak yang menderita
nefrotik mempunyai beberapa bentuk sindroma nefrotik idiopatik, penyakit lesi
minimal ditemukan pada sekitar 85%. Sindroma nefrotik sebagian besar
diperantarai oleh beberapa bentuk glomerulonefritis (infeksi pada glomerulus).

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian sindrom nefrotik
2. Mengetahui etiologi sindrom nefrotik
3. Mengetahui patofisologi sindrom nefrotik
4. Mengetahui manifestasi klinis sindrom nefrotik
5. Memberikan asuhan kebidanan yang tepat pada anak yang sindrom
nefrotik
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Anatomi dan Fisiologi
Glomerulus merupakan gulungan pembuluh darah kapiler yang berada di
dalam sebuahkapsul sirkuler, yang disebut kapsula Bowman, secara bersamaan
glomerulus dan kapsul bowman disebut dengan korpuskulum renali.
Ginjal manusia memiliki sekitar satu jutaglomerulus di dalamnya.
Glomerulus terdiri atas tiga tipe sel intrinsik: sel endotel kapiler, selepitel yang
dipisahkan dari sel endotel oleh membrana basalis glomerular, serta sel mesangial.
Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang
dapat masuk ke tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih
besar dibanding tekanan hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid osmotik.
Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh disebut glomerula
filtration rate (GFR). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas
pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90 cc/menit/luas
permukaan tubuh anak.
B. Defenisi
Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan
permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan
kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004)
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), sindroma nefrotik merupakan
gangguan klinis ditandai dengan peningkatan protein dalam urin secara bermakna
(proteinuria), penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema,
dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah
(hiperlipidemia). Tanda-tanda tersebut dijumpai di setiap kondisi yang ssngat
merusak membran kapiler glomerolus dan menyebabkan peningkatan
permeabilitas glomerolus.
Sindroma ini bisa terjadi pada segala usia. Pada anak-anak, paling sering
timbul pada usia 18 bulan sampai 4 tahun, dan lebih banyak menyerang anak
laki-laki.
C. Etiologi
Sebab penyakit sindrom nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir-akhir
ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun. Jadi merupakan suatu reaksi
antigen-antibodi. Umumnya para ahli membagi etiologinya menjadi:
a. Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal.
Gejalanya adalah edema pada masa neonatus. Sindrom nefrotik jenis ini
resisten terhadap semua pengobatan. Salah satu cara yang bisa dilakukan
adalah pencangkokan ginjal pada masa neonatus namun tidak berhasil.
Prognosis buruk dan biasanya penderita meninggal dalam bulan-bulan
pertama kehidupannya.
b. Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh:
1) Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura
anafilaktoid.
2) Glumeronefritis akut atau glumeronefritis kronis, trombisis vena renalis.
3) Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas,
sengatan lebah, racun oak, air raksa.
4) Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis
membranoproliferatif hipokomplementemik.
c. Sindrom nefrotik idiopatik ( tidak diketahui sebabnya )
Berdasarkan histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dengan
pemeriksaan mikroskop biasa dan mikroskop elektron, Churg dkk membagi
dalam 4 golongan yaitu: kelainan minimal, nefropati membranosa,
glumerulonefritis proliferatif dan glomerulosklerosis fokal segmental.
D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang muncul pada anak yang mengalami Sindrom
nefrotik adalah:
a. Oedem umum (anasarka), terutama jelas pada muka dan jaringan periorbital.
b. Proteinuria dan albuminemia.
c. Hipoproteinemi dan albuminemia.
d. Hiperlipidemi khususnya hipercholedterolemi.
e. Lipid uria.
f. Mual, anoreksia, diare.
g. Anemia, pasien mengalami edema paru.

E. Patofisiologi
Terjadi proteinuria akibat peningkatan permiabilitas membran glomerulus.
Sebagian besar protein dalam urin adalah albumin sehingga jika laju sintesis
hepar dilampui, meski telah berusaha ditingkatkan, terjadi hipoalbuminemia. Hal
ini menyebabkan retensi garam dan air. Menurunnya tekanan osmotik
menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem
vaskuler kedalam ruang cairan ekstra seluler. Penurunan sirkulasi volume darah
mengaktifkan sistem imun angiotensin, menyebabkan retensi natrium dan edema
lebih lanjut. Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di
hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia).
Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan
karena hypoalbuminemia, hyperlipidemia atau defisiensi seng.
Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap penyakit renal intrinsik atau
sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini
dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik juga terjadi pada orang
dewasa termasuk lansia.
F. Komplikasi
Menurut Rauf, .2002 : .27-28 :
1. Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang rendah akibat
hipoalbuminemia.
2. Shock : terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml)
yang menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock.
3. Trombosis vaskuler : mungkin akibat gangguan sistem koagulasi sehingga
terjadi peninggian fibrinogen plasma.
4. Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau kegagalan ginjal.

G. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
1. Urine
Volume biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (fase oliguria).
Warna urine kotor, sediment kecoklatan menunjukkan adanya darah,
hemoglobin, mioglobin, porfirin.
2. Darah
Hemoglobin menurun karena adanya anemia. Hematokrit
menurun. Natrium biasanya meningkat, tetapi dapat bervariasi. Kalium
meningkat sehubungan dengan retensi seiring dengan perpindahan seluler
(asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merah). Klorida,
fsfat dan magnesium meningkat.
b. Biosi ginjal dilakukan untuk memperkuat diagnosa.

H. Penatalaksanaan
a. Diperlukan tirah baring selama masa edema parah yang menimbulkan
keadaan tidak berdaya dan selama infeksi yang interkuten. Juga dianjurkan
untuk mempertahankan tirah baring selama diuresis jika terdapat kehilangan
berat badan yang cepat.
b. Pada beberapa unit masukan cairan dikurangi menjadi 900 sampai 1200 ml/
hari dan masukan natrium dibatasi menjadi 2 gram/ hari. Jika telah terjadi
diuresis dan edema menghilang, pembatasan ini dapat dihilangkan. Usahakan
masukan protein yang seimbang dalam usaha memperkecil keseimbangan
negatif nitrogen yang persisten dan kehabisan jaringan yang timbul akibat
kehilangan protein. Diit harus mengandung 2-3 gram protein/ kg berat badan/
hari. Anak yang mengalami anoreksia akan memerlukan bujukan untuk
menjamin masukan yang adekuat.
c. Perawatan kulit. Edema masif merupakan masalah dalam perawatan kulit.
Trauma terhadap kulit dengan pemakaian kantong urin yang sering, plester
atau verban harus dikurangi sampai minimum. Kantong urin dan plester harus
diangkat dengan lembut, menggunakan pelarut dan bukan dengan cara
mengelupaskan. Daerah popok harus dijaga tetap bersih dan kering dan
scrotum harus disokong dengan popok yang tidak menimbulkan kontriksi,
hindarkan menggosok kulit.
d. Perawatan mata. Tidak jarang mata anak tertutup akibat edema kelopak mata
dan untuk mencegah alis mata yang melekat, mereka harus diswab dengan air
hangat.

I. Pengobatan
- Donperidon syr 3xI cth
- Furosemid 3x20mg
- Spironolacton 3x6.25mg
- Prednisolon 20mg selang sehari
- Penicilin V 2x125mg
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA ANAK SINDOM NEFROTIK

A. BIODATA
Nama pasien : An. TH
Alamat : Koto Tangah, Padang Panjang
Umur : 10 tahun
Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki
Kawin/ Tidak : Tidak
Pembayaran/Status : BPJS
Diagnosis Awal : Suspect GNA, DD/Sindrom Nefrotik

B. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama
 Perut membuncit sejak ± 2 hari yang lalu dan terasa nyeri
2. Riwayat Penyakit Sekarang
 Bengkak pada kelopak mata sebelum masuk RS ± 2 hari yang lalu.
 Perut membuncit sejak ± 2 hari yang lalu dan terasa nyeri
 BAB (+)
 BAK (+) berbusa, kuning agak keruh
 Frekuensi BAB kurang, sebelum sembab BAB 1 x sehari, tetapi sekarang
BAB jarang
3. Riwayat Penyakit Terdahulu
 Pasien pernah dirawat di RS saat umur 6,5 tahun dengan diagnosa
vomitus nausea
C. DATA PENUNJANG
1. Data Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah : 160/80 mmHg
Berat badan : 29 kg
Nadi : -
Pernafasan : -
Mata : Edema
Abdomen : Membuncit
2. Pola nutrisi dan kebiasaan sehari-hari
a.Nutrisi
Sebelum MRS : Frekuensi makan 3 X sehari, nasi biasa dan lauk pauk, selera
makan baik, jenis makanan bervariasi anak juga makan
sayuran, mual muntah (-)

Setelah MRS : Jenis makanan nasi + lauk (diet rendah garam) frekuensi 3 kali,
selerah makan baik, anak makan sedikit tapi sering (porsi
dihabiskan), anak mual dan muntah 1 kali

b.Cairan
Sebelum MRS : Frekuensi minum bervariasi antara 6-8 gelas/hari dengan
volume bervariasi tergantung aktivitasnya. Minuman
pantangan tidak ada

Setelah MRS : Frekuensi minum sering 7-9gls/hari dengan volume bervariasi,


anak mengatakan cepat haus

c. Eliminasi Fekal BAB


Sebelum MRS : Frekuensi BAB 1-2 X sehari dengan konsistensi lembek,
warna kuning tidak ada keluhan yang berhubungan dengan
BAB
Setelah MRS : Anak belum BAB selama 1 hari

d.Eliminasi Urine
Sebelum MRS : Menurut ibu 2 hari sebelum MRS anak tidak bisa BAK di
rumah

Setelah MRS : Anak BAK sedikit dengan volume urine : 800 cc, anak
mengatakan masih bisa untuk BAK, warna kuning
kecoklat-coklatan, jernih

e. Personal Hygiene
Sebelum MRS : Anak mandi 2 kali sehari memakai sabun mandi, keramas
tiap hari pakai sampo dan rajin gosok gigi

Setelah MRS : Anak tampak bersih dan rapi, anak kadang mandi dikamar
mandi atau dilap orang tua.

D. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

1. Kesadaran : Compas mentis


2. Penampilan dihubungkan dengan usia : cara berpakaian sesuai, anak
tampak gemuk (oedema seluruh tubuh) dibandingkan dengan TB
3. Ekspresi wajah : Tampak lesuh, udema pada wajah dan pelpebra, anak
tidak menangis atau menolak saat didekati olah perawat dan dokter
4. Kebersihan secara umum : Kulit bersih, rambut pendek dan tertata rapih
5. TTV : TD : 100/60 mmhg S : 36,8 ºC
N : 100 x/mnt P : 22x/mnt. (20-25x)

f. Head to toe
1. Kulit/integumen
Udema seluruh tubuh, pitting (+) pada seluruh tubuh, kulit tampak kering,
kulit tampak utuh dan kemerahan, tidak ada peradangan, anak mengatakan
kadang kulit anak terasa gatal pada bagian pungung dan ekstensi bawah.
Kulit tidak terabah hangat. Obs S : 36,8 ºC

2. Kepala dan Rambut


Bentuk kepala normochepal, rambut warna hitam, penyebaran rambut
merata, kulit kepala bersih, tidak ada lesi

3. Kuku
Warna bantalan kuku merah mudah, sianosa (-), pengisian kapilos cepat 2
detik, tidak ada nyeri tekan

4. Mata Penglihatan
Edema pada palpebra konjungtiva tidak hipersomni, skelra tidak ikterus,
repleks pupil +/+, gerak bola mata simetris, fungsi penglihatan baik, posisi
mata simetris kiri dan kanan

5. Hidung/penghiduan
Hidung simetris dengan sumbuh badan, secret (-), polip (-), fugsi
penciuman baik, tidak ada nyeri tekan.

6. Telinga/pendengaran
posisi simetris kiri dan kanan, otorhea (-), tidak ada serumen, edema dan
nyeri tekan(-), fungsi pendengaran baik

7. Mulut dan gigi


Mukosa bibir lembab,dan tidak pucat, karies (+), gusi bersi, tidak ada
nyeri tekan

8. Leher
Simetris dengan sumbuh tubuh, mobilitas leher baik, nyeri tekan (-), tidak
ada pembesaran kelenjar tiroid, distress vena jungularis (-).

9. Dada
Benntuk dada normchest, ictor cordis tidak terlihat, frekuensi nafas 22
kali, bernafas spontan, sesak (-)

10. Abdomen
Bentuk cembung, udema, ukuran lingkar perut : 74 Cm; umbilicus tidak
keluar, nyeri tekan (-), ikut gerak nafas.

11. Ekstremitas
Ekstremitas atas dan bawah udema, denyut nadi radialis teraba kuat dan
teratur, cimosis (-), anak bisa menggerakkan ektremitas dengan baik,
tidak ada kontraktur lecet (-), refleks fatella (+)

g. Reviw of sistem (ROS)


1. Sistem kardiovaskuler
Inspeksi : Ictrus cordis tidak terlihat, tanda-tanda sianosis (-)

Palpasi : Nadi ferifer (radialis) teraba kuat dan teratur, nyeri tekan (-)
dengan frekuensi 100kali, capilasi retil 2 dtk.

Perkusi : kardiograf (-)

Auskultasi : BJ I dan II murni tidak terdengar bunyi tambahan, frekuensi


TD : 100/60 mmhg

2. Sistem persarafan
Inspeksi : bernafas spontan, tidak sesak, tidak menggunakan alat Bantu
pernafasan cbs P: 22kali, sianosis (-)

Palpasi : Nyeri tekan (-)


Perkusi : serosis pada kedua paru

Auskultasi : bunyi nafas vesikuler, tidak ada bunyi tambahan

3. Sistem integumen
Inspeksi : udema seluruh tubuh, kulit tampak kering dan kemerahan,
lecet (-)

Palpasi : nyeri tekan (-), pitting (+)pada keempat ekstremitas, odema


palpebra.

4. sistem perkemihan
Inspeksi :Anak BAK sedikit dengan volume 800cc, warna kuning
kecoklatan dan jernih

Palpasi : nyeri tekan (-), pada suprapubik dan saat BAK (-)

h. Pengkajian keluarga
Keluarga mengatakan bahwa ia merasa cemas dengan keadaan anaknya. Dia
takut jika anaknya bertambah parah. Orang tua sering menanyakan kondisi
anak dan prosedur yang akan diberikan pada anaknya. Keluarga berharap anak
cepat sembuh dan tidak kambuh lagi.

E. DIAGNOSA
Suspect GNA, DD/Sindrom Nefrotik
Kelebihan volume cairan (interatisiil), berhubungan dengan
mekanisme pengaturan melemah
F. PENATALAKSANAAN
- Diet rendah garam
- Prenidson puyer 3x1 bks
- Elkena syr 4x1 sdk
Anak dengan manifestasi klinis SN pertama kali, sebaiknya dirawat di
rumah sakit dengan tujuan untuk mempercepat pemeriksaan dan evaluasi
pengaturan diit, penanggulangan edema, memulai pengobatan steroid, dan
edukasi orangtua.
Sebelum pengobatan steroid dimulai, dilakukan pemeriksaan-
pemeriksaan berikut:
- Pengukuran berat badan dan tinggi badan.
- Pengukuran tekanan darah.
- Pemeriksaan fisis untuk mencari tanda atau gejala penyakit . sistemik,
seperti lupus eritematosus sistemik, purpura Henoch-Schonlein.
- Mencari fokus infeksi di gigi-geligi, telinga, ataupun kecacingan. Setiap
infeksi perlu dieradikasi lebih dahulu sebelum terapi steroid dimulai.
- Melakukan uji Mantoux. Bila hasilnya positif diberikan profilaksis. INH
selama 6 bulan bersama steroid, dan bila ditemukan tuberkulosis diberikan
obat antituberkulosis (OAT).
Perawatan di rumah sakit pada SN relaps hanya dilakukan bila terdapat
edema anasarka yang berat atau disertai komplikasi muntah, infeksi berat, gagal
ginjal, atau syok. Tirah baring tidak perlu dipaksakan dan aktivitas fisik
disesuaikan dengan kemampuan pasien. Bila edema tidak berat, anak boleh
sekolah.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sindrom nefrotik adalah status klinis yang ditandai dengan
peningkatan permeabilitas globerulus terhada protein, yang mengakibatkan
kehilangan protein urinarius yang massif. (Wong, 2003)
Sindrom neofrotik adalah penyakit dengan gejala penyakit dengan gejala
edema, proteinurea, hipoalbuminemia, hiperkolesterlnemia. Kadang-kadang
terdapat himeturia, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal.

B. SARAN
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang konsep dasar dan
konsep kebidanan, serta dapat menyajikan sebagai panduan belaja
DAFTAR PUSTAKA

AHFS. 2011. AHFS Drug Information. Bethesda: American Society of Health.


System Pharmacists.
Behrman, N. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia III. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
IDAI. 2002. Tata Laksana Sindrom Nefrotik Idioapatik pada Anak. Jakarta: Baan
Penerbit IDAI.
Pais, P., Avner, E., 2011, Nephrotic syndrome, dalam Kliegman, R., Behrman, R.,
Jenson, H., Stanton, B., St.Geme JW III , dan chor, N. (Editor), Nelson
Textbook of Pediatrics: Philadelphia, Saunders Elsevier
Rasheed Gbadegesin dan William E. Smoyer. 2008. Nephrotic Syndrome dalam
Comprehensive Pediatric Nephrology, Edited by Denis F. Geary, MB. United
Kingdom: Elsevier Inc
Whaley dan Wong. 2003. Pedoman Klinis Pediatri Edisi 4. Jakarta: EGC