Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan diharapkan mampu
meningkatkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Tuntutan ini
memerlukan kondisi alat-alat kesehatan yang optimal dan yang laik pakai. Untuk
menjaga agar kondisi alat-alat kesehatan selalu dalam kondisi prima maka diperlukan
upaya pemeliharan, perbaikan dan kalibrasi alat kesehatan yang teratur. Disamping
itu, rumah sakit juga merupakan tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang
sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya
pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan. Untuk menghindari risiko dan
gangguan kesehatan maka perlu penyelenggaraan kesehatan lingkungan rumah sakit
sesuai dengan persyaratan kesehatan. Berdasarkan pertimbangan tersebut perlu
dibentuk suatu instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit.
Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya merupakan rumah sakit pemerintah
yang berdiri sejak tahun 1921. Dalam perjalanannya sampai saat ini Rumah Sakit
Umum Daerah Wangaya tumbuh sebagai organisasi yang padat modal, padat tenaga
dan padat teknologi. Dalam melaksanakan kegiatannya untuk memberikan pelayanan
kesehatan, instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit memerlukan suatu pedoman.
Pedoman tersebut adalah pedoman pelayanan instalasi pemeliharaan sarana rumah
sakit
Dengan adanya pedoman ini, diharapkan instalasi pemeliharaan sarana rumah
sakit dapat membantu rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan yang
bermutu dan terjangkau oleh tenaga profesional, yang mengutamakan kenyamanan
dan keselamatan pasien. Sehingga, Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Kota
Denpasar menjadi rumah sakit pilihan utama, inovatif dalam pelayanan berbasis
budaya kerja.

B. Tujuan Pedoman
Tujuan disusunnya pedoman pelayanan instalasi pemeliharaan sarana rumah
sakit ini adalah untuk memberikan acuan dan arahan bagi petugas instalasi
pemeliharaan sarana rumah sakit dalam melaksanakan pelayanan kesehatan rumah
sakit.

C. Ruang Lingkup Pelayanan


Ruang lingkup pelayanan instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit meliputi :
1. Pemantauan, pemeliharaan dan perbaikan peralatan kesehatan ;
2. Pengelolaan limbah padat dan gas ;
3. Pengelolaan limbah cair ; dan
4. Penyehatan lingkungan dan air bersih.

D. Batasan Operasional
Batasan operasional di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit antara lain :
1. Pemantauan, pemeliharaan dan perbaikan peralatan kesehatan
- Melaksanakan kegiatan pemantauan peralatan kesehatan di rumah sakit ;
- Melaksanakan kegiatan pemeliharaan peralatan kesehatan di rumah sakit ;
- Melaksanakan kegiatan perbaikan peralatan kesehatan di rumah sakit ;
- Menelaah teknis kondisi peralatan kesehatan di rumah sakit ; dan
- Melaksanakan program keselamatan kerja peralatan kesehatan di rumah sakit ;
Kegiatan pemantauan, pemeliharaan dan perbaikan dilakukan pada alat-alat
kesehatan yang ada di lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya.
2. Pengelolaan limbah padat dan gas
Kegiatan pengelolaan limbah padat dan gas yang dilakukan meliputi :
- Melaksanakan kegiatan pemantauan pengelolaan limbah B3 ;
- Melaksanakan kegiatan pemantauan Tempat Penampungan Sementara (TPS)
dan Incinerator ;
- Melakukan pemantauan baku mutu emisi udara dari Incinerator dan Genzet
setiap 6 bulan sekali ;
- Melaksanakan kegiatan pemantauan terhadap kegiatan pengolahan limbah
padat non medis ( Pengomposan ) ; dan
- Melaksanakan kegiatan pemantauan terhadap kegiatan pengolahan limbah
padat medis ( Incinerator ) ;
3. Pengelolaan limbah cair
Kegiatan pengelolaan limbah cair yang dilakukan meliputi :
- Melaksanakan kegiatan pemantauan pengelolaan limbah cair ;
- Melaksanakan kegiatan pemantauan dan pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air
Limbah ( IPAL ) ;
- Melakukan pemantauan baku mutu limbah cair setiap 1 bulan sekali secara
kimiawi, fisik dan bakteriologis ; dan
- Pencatatan debit, pH dan DO air limbah
4. Penyehatan lingkungan dan air bersih.
Kegiatan penyehatan lingkungan dan air bersih yang dilakukan meliputi :
- Melaksanakan kegiatan pemantauan penyehatan lingkungan ;
- Melaksanakan kegiatan pemantauan penyehatan air bersih ;
- Melakukan pemantauan baku mutu air bersih secara Bakteriologis setiap 1
bulan sekali ; dan
- Melakukan pemantauan baku mutu air bersih secara Kimiawi setiap 3 bulan
sekali ;

E. Landasan Hukum
Beberapa landasan hukum yang digunakan pada instalasi pemeliharaan sarana
rumah sakit adalah :
1. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072 ) ;
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2001 tentang Pedoman
Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit Daerah ;
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 159 b / Menkes / Per / II
/ 1988 tentang Rumah Sakit ;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 983 / Menkes / SK / XI /
1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum ;
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 1994 tentang Pedoman
Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah ;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1277 / Menkes / SK / XI
/ 2001 tentang Tata Kerja dan Organisasi Departemen Kesehatan ;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129 / Menkes / SK / II /
2008 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit ;
8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 371 / Menkes / SK / III
/ 2007 tentang Standar Profesi Tenaga Elektromedis ;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 373 / Menkes / SK / III
/ 2007 tentang Standar Profesi Sanitarian ;
10. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1204 / Menkes / SK / X
/ 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit ;
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691 / Menkes / PER /
VIII / 2011 tentang Keselamatan Pasien ;
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


Pola ketenagaan dan kualifikasi personil instalasi pemeliharaan sarana rumah
sakit sebagai berikut :
1. Kepala Instalasi Pemeliharaan Sarana
Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Akademi Teknik Elektro Medis
b. Pernah bertugas sebagai Wakil Kepala Instalasi atau Ketua Koordinator Tim
c. Pengalaman kerja minimal 5 tahun
d. Mempunyai jiwa kepemimpinan
e. Menguasai komputer
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Mampu koordinasi secara efektif
h. Penampilan dan kepribadian menarik
i. Bersikap ramah, sopan dan berkelakuan baik
j. Diluar klasifikasi harus ada rekomendasi tertulis Direktur
Persyaratan pelatihan adalah sebagai berikut :
a. Manajemen pemeliharaan dan perbaikan peralatan kesehatan
b. Manajemen pengelolaan kesehatan lingkungan rumah sakit

2. Administrasi
Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Administrasiu Perkantoran
b. Pengalaman kerja minimal 1 tahun
c. Menguasai komputer
d. Memiliki sertifikat kursus komputer
e. Disiplin dan teliti dalam bekerja
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Penampilan dan kepribadian menarik
h. Bersikap ramah, sopan dan berkelakuan baik
Persyaratan pelatihan adalah sebagai berikut :
a. Pelatihan administrasi perkantoran
b. Pelatihan komputer

3. Koordinator Elektromedis
Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Akademi Teknik Elektro Medis
b. Pengalaman kerja minimal 1 tahun
c. Mampu mengkoordinasikan kegiatan ke Staf
d. Disiplin dan teliti dalam bekerja
e. Menyukai pekerjaan di lapangan
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Memiliki jiwa kepemimpinan
Persyaratan pelatihan adalah sebagai berikut :
a. Pelatihan pemeliharaan peralatan medis

4. Koordinator Kesehatan Lingkungan


Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Kesehatan Lingkungan / S1 Teknik Lingkungan
b. Pengalaman kerja minimal 1 tahun
c. Mampu mengkoordinasikan kegiatan ke Staf
d. Disiplin dan teliti dalam bekerja
e. Menyukai pekerjaan di lapangan
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Memiliki jiwa kepemimpinan
Persyaratan Pelatihan sebagai berikut :
a. Pengelolaan kesehatan Lingkungan rumah sakit
b. Pengelolaan air bersih
c. Pengelolaan sampah domestik
d. Pengelolaan limbah B3
e. Pengendalian pencemaran udara
f. Auditor lingkungan
g. Kajian lingkungan hidup strategis
h. Penyusunan dokumen PROPER untuk rumah sakit
i. Dasar pengelolaan lingkungan terpadu
j. Evaluasi ekonomi lingkungan
k. Pembuatan sistem informasi lingkungan

5. Staf Pemantauan, Pemeliharaan dan Perbaikan Peralatan Kesehatan


Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Akademi Teknik Elektro Medis
b. Pengalaman kerja minimal 1 tahun
c. Kreatif dan terampil
d. Disiplin dan teliti dalam bekerja
e. Menyukai pekerjaan di lapangan
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Bersikap ramah, sopan dan berkelakuan baik
Persyaratan Pelatihan sebagai berikut :
a. Pelatihan pemeliharaan peralatan medis
b. Pelatihan peralatan elektrik medik
c. Pelatihan peralatan ECG
d. Pelatihan mekanik medic

6. Staf Pengelolaan Limbah Padat dan Gas


Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Kesehatan Lingkungan
b. Pengalaman kerja minimal 1 tahun
c. Menguasai komputer
d. Disiplin dan teliti dalam bekerja
e. Menyukai pekerjaan di lapangan
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Bersikap ramah, sopan dan berkelakuan baik
Persyaratan pelatihan adalah sebagai berikut :
a. Pengelolaan sampah domestik
b. Pengendalian pencemaran udara
c. Pengelolaan limbah B3
7. Staf Pengelolaan Limbah Cair
Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Kesehatan Lingkungan
b. Pengalaman kerja minimal 1 tahun
c. Menguasai komputer
d. Disiplin dan teliti dalam bekerja
e. Menyukai pekerjaan di lapangan
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Bersikap ramah, sopan dan berkelakuan baik
Persyaratan pelatihan adalah sebagai berikut :
a. Pengendalian pencemaran air
b. Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit

8. Staf Penyehatan Lingkungan dan Air Bersih


Kualifikasi umum adalah sebagai berikut :
a. Pendidikan minimal D3 Kesehatan Lingkungan
b. Pengalaman kerja minimal 1 tahun
c. Menguasai komputer
d. Disiplin dan teliti dalam bekerja
e. Menyukai pekerjaan di lapangan
f. Memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas kepada perusahaan
g. Bersikap ramah, sopan dan berkelakuan baik
Persyaratan pelatihan adalah sebagai berikut :
a. Pengelolaan penyehatan lingkungan rumah sakit
b. Pengelolaan penyehatan air bersih.

B. Distribusi Ketenagaan
Distribusi ketenagaan di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit yaitu :
 1 orang kepala instalasi
 4 orang staf tenaga elektromedis
 3 orang staf tenaga kesehatan lingkungan
C. Pengaturan Jaga
Pengaturan jaga di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit yaitu :
 Shift pagi : 1 orang kepala instalasi, 2 orang staf tenaga elektromedis, 3 orang staf
tenaga kesehatan lingkungan.
 Shift siang : 1 orang tenaga elektromedis.
 Shift malam : 0
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
B. Standar Fasilitas
Standar fasilitas yang harus dimiliki di instalasi pemeliharaan sarana rumah
sakit adalah :
1. Bangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL)
2. Mesin pengolah limbah medis padat (Incinerator)
3. Mesin pencacah kompos
4. Tools kit alat kesehatan
5. Tools kits penanganan tumpahan merkuri
6. Alat ukur kesehatan lingkungan (pH, debit meter, DO, flux meter, sound level
meter, hygrometer, thermometer ruangan)
7. Alat Pelindung Diri
8. Alat tulis kantor
9. Sarana dan prasarana perkantoran (meja, komputer, printer, lemari, filling cabinet,
exhaust fan/AC)
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

Tata laksana pelayanan di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit dilakukan untuk
kegiatan :
1. Perbaikan peralatan kesehatan
Pelayanan perbaikan peralatan kesehatan hanya dilakukan untuk seluruh peralatan
kesehatan yang ada di lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya.
Tata laksananya dapat dilihat pada alur berikut ini :

Laporan Jika rusak


Pencatatan Perbaikan alat Jika berhasil : Jika gagal :
kerusakan berat : lapor
laporan kesehatan dikembalikan diperbaiki
alat ke gudang
kerusakan yang rusak ke ruangan pihak ketiga
kesehatan untuk diafkir

2. Pengolahan limbah medis padat


Pelayanan pengolahan limbah medis padat dilakukan untuk semua limbah medis padat
yang dihasilkan oleh kegiatan pelayanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya.
Selain itu, kegiatan pelayanan pengolahan limbah medis padat ini juga menerima limbah
dari pihak kedua diantaranya 11 puskesmas se-kota Denpasar dan 58 instansi lain.
Tata laksananya dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Limbah medis padat harus sudah terbungkus rapat kantong plastik warna kuning ;
b. Limbah medis padat diserahkan kepada petugas Incinerator setiap hari kerja mulai
pukul 09:00 s/d 11:00 Wita di Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit ( IPSRS )
Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Kota Denpasar ;
c. Setiap penerimaan limbah medis padat dicatat dalam register khusus pembakaran
limbah medis padat dan diberikan bukti tanda penyerahan limbah medis padat ;
d. Melunasi biaya pengolahan limbah medis padat yang besarannya sesuai dengan
peraturan yang berlaku ; dan
e. Limbah medis padat bisa diproses setelah semua ketentuan administrasi terpenuhi.

BAB V
LOGISTIK

Kebutuhan logistik yang diperlukan di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit


diantaranya :
1. Bahan-bahan kimia untuk pemeliharaan kualitas air limbah, seperti :
 PAC
 Kaporit
 Soda ash
 Klorin (Desinfektan)
 Abate
2. Bahan-bahan pengolahan limbah non medis padat, seperti :
 Dedak
 Gula pasir
 Larutan EM4
Bahan-bahan logistik tersebut semuanya sudah dipersiapkan oleh gudang materiil bagian
rumah tangga, instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit tinggal meminta ke gudang materiil
jika kebutuhan logistik tersebut habis.

BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana instalasi pemeliharaan sarana rumah
sakit membuat asuhan untuk keselamatan pasien. Adapun tujuannya adalah untuk :
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di instalasi pemeliharaan sarana rumah
sakit.
2. Meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
3. Menurunnya kejadian tidak diharapkan ( KTD ) di instalasi pemeliharaan sarana
rumah sakit.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
kejadian yang tidak diharapkan.

Keselamatan pasien merupakan salah satu kegiatan rumah sakit yang


dilakukan melalui assesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden
dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. Di
RSUD Wangaya Kota Denpasar kegiatan ini dilakukan melalui : monitoring indikator
mutu layanan, tindakan preventif, pengendalian produk / proses yang tidak sesuai,
tindakan korektif dan audit internal.

BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat
kerja, bahan, dan proses pengolahan, landasan kerja dan lingkungan kerja serta cara-cara
melakukan pekerjaan dan proses produksi. Keselamatan kerja merupakan tugas semua
pekerja yang berada di rumah sakit termasuk di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit.
Dengan demikian keselamatan kerja adalah dari, oleh dan untuk setiap tenaga kerja dan orang
lain yang berada di rumah sakit serta masyarakat di sekitar rumah sakit yang mungkin terkena
dampak akibat proses kerja. Keselamatan kerja adalah sarana utama untuk mencegah
terjadinya kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan kerugian yang berupa cedera/luka,
cacat, kematian, kerugian harta benda dan kerusakan peralatan/mesin dan lingkungan secara
luas.
Dan, tujuannya adalah untuk :
1. Terciptanya budaya keselamatan kerja
2. Menurunnya kejadian yang tidak diharapkan
3. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian
yang tidak diharapkan.

Tata laksana keselamatan kerja di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit


diantaranya :

A. Pemakaian Masker
1. Pengertian :
Suatu alat penutup mulut dan hidung.
2. Tujuan :
Untuk menahan tetesan basah yang keluar sewaktu menjalankan pekerjaan
(sewaktu bicara / bersin).
3. Kebijakan :
Upaya kesehatan dan keselamatan kerja melindungi petugas dari infeksi silang.
4. Prosedur :
a. Masker tersedia dalam keadaan bersih
b. Masker dipasang menutupi hidung dan mulut
c. Tali masker ditalikan dibelakang kepala
d. Masker setelah dipakai, ditempatkan di sampah medis
B. Pemakaian Sarung Tangan
1. Pengertian :
Suatu alat pelindung diri untuk melindungi tangan dari kontaminasi bahan
berbahaya / infeksius.
2. Tujuan :
Untuk meniadakan / mengurangi terjadinya infeksi silang.
3. Kebijakan :
a. Upaya kesehatan dan keselamatan kerja melindungi petugas dan pasien dari
infeksi silang.
b. Mencegah transmisi kulit petugas ke pasien
c. Mengurangi meniadakan kontaminasi mikroorganisme antar petugas dan
pasien
4. Prosedur :
a. Sarung tangan dipakai saat akan terjadi kontak tangan pemeriksa dengan
darah, selaput lendir atau kulit yang terluka.
b. Akan melakukan tindakan invasive
c. Akan membersihkan sisa-sisa atau memegang permukaan yang
terkontaminasi.
d. Sarung steril dibuka dari bungkusnya dipaki memegang cufnya.
e. Masukkan tangan ke dalam sarung tangan yang sesuai dengan jarinya.
f. Setelah selesai dipakai jangan memegang apapun dulu dan dikontaminasikan
dengan klorhexidine 1,5% dan centrimide 15% di dalam tempat yang tersedia.
g. Lepas sarung dan tempatkan dalam sampah medis dan yang bisa dipakai ulang
ditempatkan dalam bak larutan klorhexidine glukonat 1,5% dan centrimid.

Klasifikasi Kecelakaan Kerja


a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
 Terpapar radiasi
 Terjatuh
 Tersandung
 Terbentur alat
 Tersetrum aliran listrik
 Tertular penyakit, dll
b. Klasifikasi menurut agen penyebabnya
 Alat –alat radiologi seperti kesetrum, terbentur, terpapar radiasi
 Lingkungan kerja seperti ruangan panas, pencahayaan, ventilasi, dll
c. Klasifikasi menurut jenis luka dan cideranya
 Efek terkena radiasi
 Efek terkena arus listrik
 Patah tulang
 Keseleo/dislokasi
 Nyeri otot dan kejang
 Luka gores
a. Klasifikasi menurut lokasi bagian tubuh yang terluka
 Kepala
 Tulang Belakang : leher, thoracal, lumbal, sacral
 Anggota gerak : ekstremitas atas, ekstremitas bawah, panggul
 Luka umum, dsb

Pencegahan Kecelakaan Kerja


a. Desain ruangan
Ruangan instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit didesain sesuai dengan
aturan yang berlaku sesuai dengan pedoman pelayanan instalasi pemeliharaan
sarana rumah sakit yang diterbitkan oleh Kemenkkes RI. Kamar mandi
dilengkapi dengan keset kering untuk mencegah jatuh terpeleset. Ruangan
berAC untuk sirkulasi udara dan pemeliharaan alat-alat kesehatan.
b. Jaringan listrik
Jaringan listrik di instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit dipasang
grounding untuk mencegah terjadinya kesetrum.
c. Pencegahan kesalahan manusia
Dilakukan dengan cara penyedian SPO, orientasi dan pelatihan kerja,
komunikasi antar pekerja dan tanda –tanda penggunaan alat yang jelas.
d. Pemeliharaan dan monitoring
Kalibrasi alat rutin dilakukan setiap tahun dan monitoring alat dilakukan
secara rutin.
e. Pengawasan
Kinerja petugas selalu dievaluasi sehingga mutu pelayanan tetap terjaga.
Penambahan wawasan pekerjaan dilakukan dengan mengadakan kegiatan
pelatihan baik internal maupun eksternal.

BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Mutu layanan harus memiliki standar mutu yang jelas. Dengan demikian pengguna
jasa dapat membedakan pelayanan yang baik dan tidak baik melalui indikator dan standarnya.
Berdasarkan hal tersebut maka beberapa kegiatan yang dilakukan oleh instalasi pemeliharaan
sarana rumah sakit di RSUD Wangaya sebagai berikut :
1. Mengikuti program yang mengelola kegiatan jaminan mutu.
2. Petugas mengadakan pertemuan secara berkala dengan melakukan rapat rutin
setiap bulan dan memiliki standar yang jelas, dan melakukan review sejauh
mana program dapat berjalan secara efektif. Selanjutnya hasil rapat didokumentasikan
dalam notulen rapat rutin.

3. Secara berkala dilakukan audit :


a. dapat dilaksanakan oleh petugas yang berasal dari institusi itu sendiri ataupun
dari institusi luar yang ahli dalam bidang radiologi diagnostik.
b. dilaksanakan untuk bidang manajerial, keuangan dan teknis.
c. dilaksanakan minimal 1 (satu) tahun sekali.
d. hasil audit berupa temuan-temuan yang tidak sesuai dengan standar atau referensi
diinformasikan kepada petugas terkait untuk dilakukan tindakan perbaikan.
4. Kalibrasi alat kesehatan oleh Balai Pemeriksa Fasilitas Kesehatan yang telah
terakreditasi dan ditunjuk oleh BAPETEN.
5. Pelaksanaan jaminan dan kendali mutu sesuai dengan program pengendali mutu.
6. Instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit membuat SPM dan dievaluasi setiap 3 bulan
sekali.

BAB IX
PENUTUP

Pedoman Pelayanan Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit Umum Daerah


Wangaya Kota Denpasar ini mempunyai peranan penting sebagai pedoman bagi pelaksanaan
kegiatan sehari – hari tenaga instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit yang bertugas
sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan khususnya pelayanan.
Penyusunan Pedoman Pelayanan Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit ini
adalah langkah awal ke suatu proses yang panjang, sehingga memerlukan dukungan dan kerja
sama dari berbagai pihak dalam penerapannya untuk mencapai tujuan. Kami menyadari
bahwa Pedoman Pelayanan ini masih jauh dari sempurna, karena itu kami menerima saran
dan kritik guna menyempurnakan pedoman ini.
Akhir kata, semoga Pedoman Pelayanan Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit
ini dapat bermafaat bagi para pembaca sekalian.