Anda di halaman 1dari 2

Ahli Bahasa Memberikan Kesaksian dalam Sidang Jonru Ginting

Sidang lanjutan kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Jonriah Ukur Ginting alias Jonru kembali digelar
di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (12/2). Adapun agenda sidang kali ini mendengarkan saksi-
saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum.

Namun persidangan yang molor hampir lima jam ini, hingga pukul 18.00 hanya memeriksa seorang saksi
saja. Menurut jaksa Zulkifli, seorang saksi fakta, Guntur Romli tidak hadir karena alasan yang tidak jelas.

Pihak penuntut umum sebenarnya mencoba menghubungi yang bersangkutan. " Kemarin kami mencoba
menghubungi Guntur Romli, tapi tidak ada kabar yang mulia" tutur Zulkifli ketika dikonfirmasi oleh
Hakim Ketua, Antonius Simbolon.

Agenda persidangan pun dilanjutkan dengan menghadirkan saksi ahli bahasa Indonesia, Krisanjaya.
Namun pada saat pemeriksaan syarat administrasi, tim kuasa hukum mempermasalahkan status dosen
Universitas Negeri Jakarta ini dalam persidangan.

Pangkal persoalannya adalah satu dokumen yang disertakan sebagai persyaratan administrasi berjudul
surat izin, bukan surat tugas. " Ini harus dipertanyakan apakah yang bersangkutan mewakili pribadi atau
lembaga, tutur seorang pengacara kepada majelis hakim.

Menurut ahli Linguistik ini sampai 2017 ia telah 17 kali memberikan kesaksian di pengadilan dan kerap
ditanggap DPR untuk memberikan pertimbangan bahasa. Namun baru kali ini surat izin itu
dipermasalahkan.

Menanggapi perbedatan itu, majelis hakim menerima argumen saksi ahli. " Jika tim penasehat hukum
keberatan, maka akan dicatat dalam nota keberatan", kata hakim Antonius Simbolon.

Sang Hakim Ketua pun segera mengajukan beberapa makna kata yang termuat dalam Pasal 28 ayat 2
Juncto Pasal 45 ayat 2 Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-undang RI Nomor 11 Tahun
2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) kepada Jonru.

Dalam menjawab berbagai pertanyaan majelis hakim, Krisanjaya selalu menegaskan sebagai ahli
Linguistik ia berkompeten untuk menjelaskan makna kata kepada publik. " Kalau persoalan penggunaan
kata yang salah atau benar itu adalah keahlian ahli Lingustik Pedagogik", tegasnya kepada Antonius
Sihombing.

Selain itu, lulusan magister Linguistik Universitas Indonesia juga menyatakan ia hanya memberikan
eksplanasi makna sejauh tidak dijelaskan oleh peraturan Undang-Undang. Krisanjaya mencotohkan,
ketika menafsirkan frasa Informasi Elektronik, misalnya, setiap ahli bahasa harus tunduk pada definisi
yang telah ditetapkan dalam UU ITE.

Setelah itu hakim, giliran penuntut umum yang memeriksa saksi ahli. Jaksa Zulkifli memberikan beberapa
contoh kalimat yang dikutip dari berbagai postingan dan meminta Krisanjaya untuk memaknainya.
Menurutnya, semakin sedikit informasi yang diberikan maka penafsirannya menjadi semakin longgar.
Sebaliknya, ketika diberikan sebuah teks yang utuh, maka peanfsiran yang dihasilkan dapat lebih
gamblang.

Sementara itu di bagian akhir, sebelum sidang diskors menjelang Magrib, tim kuasa hukum Jonru Ginting
diberi kesempatan untuk menggali keterangan dari saksi ahli. Seorang penasehat hukum pun memberi
pertanyaan ihwal potensi dakwah ulama yang berdasarkan kitab suci dapat menimbulkan potensi ujaran
kebencian.

Namun sebelum dijawab, hakim ketua persidangan itu memperingatkan kuasa hukum untuk tidsk
memberikan pertanyaan yang sensitif dan berbahaya. " Saya peringatkan kuasa hukum untuk tidak
memberikan pertanyaan semacam itu dan fokus saja langsung pada materi perkara, kata Antonius
Simbolon dengan nada ketus.