Anda di halaman 1dari 8

Jakarta - Pembicaraan Ratna Sarumpaet mendadak menjadi trending topic warganet

di jagat Twitter, terutama dengan topik #SaveRioDewanto, #ratnasarumpaet,


#KebohonganRatna, hingga #operasiplastik. Beragam cuitan membanjiri hashtags
tersebut.

Psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto melihat bahwa kasus kebohongan
yang dilakukan Ratna Sarumpaet itu belum bisa dideteksi lebih lanjut.

"Apakah ia khawatir mengenai persepsi mengenai oplas dan asal dananya, terutama
dalam kondisi Indonesia tengah berduka pasca tragedi Toba, Lombok, dan Palu.
Apakah memang ada intensi untuk memanfaatkan kondisi lebam untuk tujuan
tertentu. Atau ia ingin mendapatkan perhatian," ungkap Kasandra, Rabu (3/10).

Pemilik lembaga konsultasi psikologi Kasandra & Associates itu menyebutkan bahwa
kemungkinan-kemungkinan tersebut mesti ditelusuri terlebih dahulu berdasarkan
pemeriksaan terhadap yang bersangkutan dan nantinya akan diketahui dari hasil
penyidikan.

"Kebohongan publik adalah pelanggaran nilai moral yang berpotensi meningkat


menjadi pelanggaran norma hukum. Apalagi, bila hal tersebut dilakukan dengan
sengaja untuk membangun persepsi tertentu. Hal itu berdampak sangat luar biasa di
kala Indonesia sedang sensitif dalam kondisi pascatragedi Toba, Lombok, dan Palu,"
terang psikolog alumnus Universitas Indonesia.

Menurut Kasandra, pelaku kebohongan ini memiliki konsekuensi terhadap hancurnya


imej, sanksi sosial hingga hukum.

"Berbohong tidak ada yang baik, white lies sekali pun. Termasuk menunda, menahan
informasi dengan sengaja sampai memanipulasi informasi. Kecuali dengan tujuan
melindungi nyawa dan kondisi psikologis seseorang," tegas psikolog kelahiran 17
Februari ini.

Menurut Kasandra, berbohong dalam konteks yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet
ini adalalah kembalikan citranya. "Melakukan permohonan maaf secara tulus,
menerima segala konsekuensi dengan lapang dada, dan melakukan perubahan
perilaku secara konsisten dengan komitmen untuk tidak melakukannya lagi,"
pungkasnya.
Mengaku dikeroyok dan dianiaya hingga menimbulkan kehebohan nasional, Ratna
Sarumpaet kemudian mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa dirinya
sudah berbohong terkait penakuan dirinya dipukuli. Muncul pertanyaan, mengapa
bisa muncul sikap sekonyol itu?

Manusia sebenarnya memiliki sifat dasar tidak sempurna di balik kesempurnaan


potensinya dan strukturnya. Dan, sangat mungkin berbuat salah, baik disengaja
maupun tidak disengaja. Dalam konteks fenomena Ratna Sarumpaet, kebohongan
tersebut cenderung sengaja dilakukan. Kira-kira ada empat titik kunci untuk mengulik
fenomena ini.

Pertama, kebohongan tersebut kemungkinan mengandung unsur politik. Saat ini,


ketika sedang mendekati masa Pilpres 2019, kedua pihak capres – cawapres dan tim
suksesnya giat menggiring opini masyarakat untuk membangun citra diri. Di sisi lain,
cara yang kurang tepat juga terkadang digunakan untuk menjatuhkan lawan oleh
beberapa oknum tim sukses.

Contohnya, tema persekusi sampai saat ini masih digemari untuk menjatuhkan lawan
politik. Saat ini sedang ada upaya mengkonstruksi bahwa pendukung Ir. Joko Widodo
gemar melakukan penolakan yang kemudian dipersepsikan sebagai persekusi terhadap
pendukung Prabowo Subianto. Upaya ini dilakukan sebagai sikap yang menunjukkan
bahwa pihak petahana merasa ketakutan dengan potensi kemenangan Prabowo
Subianto sehingga mengakibatkan adanya persepsi buruk terhadap pihak lawannya.
Selain itu, juga sebagai upaya mengkonstruksi lawan politiknya ini gemar melakukan
tindakan yang mengandung unsur kekerasan dan tidak fair.

Upaya semacam ini bisa menjadi salah satu dorongan (motif) dari Ratna Sarumpaet
untuk melakukan kebohongan. Ratna Sarumpaet menemukan momentum ketika
dirinya menjalani operasi sedot lemak di Rumah Sakit Bina Estetika. Dampak operasi
yang berupa wajah lebam digunakannya untuk mempengaruhi orang lain dalam
menjatuhkan Joko Widodo dan pendukungnya. Akhirnya, keluar ide untuk mengaku
dianiaya karena berbeda pilihan.

Melalui pengakuan tersebut, diharapkan dapat membuat citra Joko Widodo dan
pendukungnya menjadi buruk. Maka dari itu, motif ini bisa dianggap sebagai motif
politik. Di sisi lain, ada kemungkinan juga bahwa Ratna Sarumpaet menginginkan
simpati dari masyarakat. Hal ini diakibatkan karena dirinya sering menjadi bahan
kritikan ketika dirinya gemar mengkritik Joko Widodo dan pendukungnya. Dengan
demikian, motif ini menjadi semacam motif politik yang telah bercampur dengan
kondisi pribadi.

Kedua, muncul pertanyaan mengapa sebegitu mudah menciptakan kebohongan


tersebut? Apakah Ratna Sarumpaet tidak memikirkannya lebih panjang mengenai
jejak-jejak yang bisa ditelusuri?

Ketika seseorang berkecimpung di dunia politik dan memiliki kompetitor yang harus
dikalahkan, maka keinginan untuk mengalahkannya seringkali menutupi logika orang
tersebut. Tujuan utama yang hendak dicapai telah mengaburkan berbagai
kemungkinan terbongkarnya keburukan cara mencapai tujuan tersebut.

Dalam perspektif psikologi, dorongan menguasai (dominance) yang terlalu besar ini
mampu mengalahkan pengetahuan bahwa setiap orang memiliki skema tempat
(kemampuan menelusuri suatu kronologi peristiwa). Tingkat fokus yang tinggi untuk
menjatuhkan lawan politik dengan berbagai cara menyebabkan orang tersebut kurang
memikirkan kemungkinan terbongkarnya cara yang buruk tersebut.

Ketiga, kebohongan Ratna Sarumpaet ini memperlihatkan bahwa orang akan


cenderung melakukan defence mechanism terhadap sesuatu hal yang salah sebagai
upaya mempertahankan diri. Selain itu, tercipta fenomena ingroup-outgroup dalam
suatu polarisasi bisa menyebabkan bias heuristics. Dalam perspektif psikologi sosial,
pada beberapa kelompok yang tingkat kohesivitas masing-masing kelompok tinggi
akan berakibat pada terjadinya perilaku ingroup-outgroup yang semakin memperbesar
batas perbedaan.

Apapun yang terjadi pada anggota kelompoknya sendiri maka akan menimbulkan
kecenderungan untuk segera memihak, terlepas benar atau salah. Sebaliknya, apapun
yang terjadi pada anggota kelompok lain yang berbeda, maka muncul kecenderungan
untuk menganggapnya kurang benar.

Pada akhirnya, akan menyebabkan sikap menyimpulkan tanpa mencari data yang
memadai atau disebut dengan bias heuristics. Dalam konteks kebohongan yang
dilakukan Ratna Sarumpaet, perilaku ini diperlihatkan ketika banyak pihak yang
langsung mempercayai tanpa meminta klarifikasi atau mencari kronologi sebenarnya.

Ketika Ratna Sarumpaet mengakui kebohongannya tersebut, maka sebagian orang


yang berada di lingkarannya bersikap diam dan sebagian lagi melakukan rasionalisasi
sebagai mekanisme pertahanan. Rasionalisasi ini untuk membuat kesan bahwa Ratna
Sarumpaet tidak berbohong atau kebohongan Ratna Sarumpaet “dapat ditolerir”.
Misalnya,“kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet tidak seberapa, coba
bandingkan dengan kebohongan Presiden karena tidak melaksanakan janji-janji
kampanye”.
Rasionalisasi ini pun kemudian memperlihatkan abnormalitas pola pikir dan sikap.
Selain itu, rasionalisasi semacam ini secara tidak langsung melegalkan kebohongan
untuk digunakan sebebasnya.

Keempat, peristiwa kebohongan Ratna Sarumpaet menunjukkan bahwa tidak ada


gunanya menjatuhkan lawan politik dengan berbagai konstruksi opini. Hal ini
dikarenakan pihak yang menjatuhkan sangat mungkin melakukan kesalahan yang
sama dengan kesalahan yang sedang dikonstruksikan pada lawan politik. Ketika
banyak yang mengecam seseorang menista agama, justru pengecamnya juga menista
agama dengan cara lain (korupsi, menggelapkan uang, dan sebagainya). Ketika
banyak yang menganggap pemerintah gemar menyebarkan hoaks, maka salah satu
pihak yang melontarkan kritikan tersebut justru berbuat kebohongan.

Berdasarkan peristiwa tersebut, maka hendaknya menjadikan kita untuk semakin


berdewasa dan bijak dalam bersikap, khususnya dalam konteks politik. Bagi siapapun,
upaya mencitrakan diri itu memang diperlukan, namun yang lebih penting adalah
bagaimana seseorang membangun citra diri dengan tetap mengendalikan orang-orang
yang berada di lingkarannya dan tanpa harus menjatuhkan orang lain.

Di sisi lain, peristiwa tersebut mengajarkan bahwa fenomena narsistik dalam politik
seringkali justru membuat dirinya sendiri jatuh.
Drama Ratna Sarumpaet akhirnya berakhir sudah. Aktivis perempuan itu mengaku
berbohong setelah bercerita ke beberapa tokoh wajahnya bonyok dianiaya beberapa
orang.

Ratna sudah meminta maaf, pun demikian dengan kubu koalisi opisisi pemerintahan.
Kubu ini kompak meminta maaf, setelah gencar menyampaikan keprihatinan atas
kisah penganiayaan Ratna tersebut.

Prabowo Subianto langsung memecat Ratna dari tim suksesnya. Nah apakah kisah
hoax Ratna ini berdampak pada reputasi Prabowo sebagai calon presiden?

Analisis media sosial Drone Emprit memantau percakapan tentang kisah Ratna yang
berakhir hoax tersebut. Ada beberapa temuan menarik yang dihasilkan dari Drone
Emprit, sejak kabar ini muncul, viral dan kebohongan terbongkar.

Pengembang Drone Emprit, Ismail Fahmi mengungkapkan, selama munculnya kabar


Ratna sampai terbongkarnya hoax tersebut, setidaknya ada tiga puncak percakapan di
media sosial, khususnya di Twitter.

Ismail mengatakan tiga puncak yang dimaksud yakni pertama, saat Prabowo
menggelar konferensi pers soal penganiayaan Ratna pada Selama malam 2 Oktober
2018.

Puncak percakapan kedua terjadi sehari setelahnya, yakni saat polisi menggelar
konferensi pers hasil temuan kasus Ratna serta saat Ratna mengakui kebohongannya
dalam jumpa pers.
Momen puncak ketiga yakni saat Prabowo secara terbuka meminta maaf kepada
publik dalam konferensi pers Rabu malam 3 Oktober 2018. Tiga momen puncak ini,
kata Ismail, menyimpan narasi dan pola percakapan masing-masing.

Narasi puncak pertama

Pada momen puncak pertama ini ditandai dengan Prabowo menggelar konferensi pers
penganiayaan Ratna ini. Jagat media sosial menyambutnya dengan keriuhan.

Dalam peta analisis media sosial Drone Emprit menunjukkan, kluster pro oposisi
dominan dibanding kluster pro petahana dalam percakapan di media sosial. Hal ini
terlihat dari jumlah volume percakapan dan jumlah akun.

Dari hasil analisis, Ismail menuliskan, kluster pro oposisi mencoba mengangkat isu
HAM dan demokrasi atas kisah Ratna tersebut.

"Pada hari ini, terasa sekali tudingan yang sangat deras dan keras dari para tokoh
oposisi terhadap demokrasi dan HAM. Yang ujungnya adalah menyalahkan Jokowi,"
tulis Ismial dalam akun Facebooknya.

Kluster pro petahana yang kalah dalam volume dan jumlah percakapan,
menyampaikan narasi bantahan dari kluster oposisi, bahwa kisah Ratna itu bertujuan
memojokkan rezim meski belum tentu kebenarannya. Sebab masih sebatas pengakuan
dari Ratna.

Drama berlanjut meski berganti hari. Mulai pagi hari sudah mulai beredar
tanda-tanda pengakuan Ratna menjurus hoax. Sampai akhirnya diakhiri
pengakuan Ratna yang memang telah berbohong.

Setelah Prabowo menggelar meminta maaf, dinamika percakapan di media


sosial berganti. Kluster pro petahana kini berbalik mendominasi percakapan
dari sisi jumlah dan volume. Postingan kluster ini menunjukkan bukti-bukti
kebohongan Ratna.

Sedangkan kluster pro oposisi mengikuti Prabowo, kompak meminta


maaf. Fase ini membuat percakapan makin riuh. Namun didominasi oleh
kluster pro petahana.
Narasi puncak ketiga

Pada momen ini, peta analisis media sosial yang dipantau Drone Emprit
menunjukkan perubahan.

Kluster oposisi menyampaikan permintaan maaf PS, dan langsung memecat


Ratna yang berbohong. Selain itu ada juga yang mempertanyakan keluarnya
laporan dari polisi kepada publik.

Ismail menganalisis, dari pergeseran topik dan angle percakapan, narasi yang
ingin dibangun kubu oposisi adalah Ratna berbohong sedangkan Prabowo
adalah korban kebohongan Ratna.

Kubu ini juga berani mengakui kesalahan dengan meminta maaf karena telah
menyebarkan berita bohong dari Ratna, meski terkesan mereka tidak tahu
sebelumnya bahwa ini adalah kebohongan.

Permintaan maaf dan pemecatan Ratna mendapat acungan jempol. Langkah


ini, menurut Ismail, merupakan langkah yang baik bagi citra kubu tersebut.

"Saya lihat, tim PS dalam hal ini telah berusaha mengerjakan tugasnya
dengan baik. Ini akan terjaga, jika mereka tetap bisa low profile dan tidak
kemudian menyalah-nyalahkan pihak lain misal kubu petahana," tulisnya.

Ismail berpandangan, dengan narasi tersebut kubu oposisi hendaknya sebaik


mungkin mengelola krisis yang terjadi dengan langkah yang tepat. Yakni
mengelola krisis ini dengan besar hati, tegas, penyayang, berani mengakui
kesalahan, fokus serta sungguh-sungguh memperbaiki tim, dan tidak
menyalah-nyalahkan kubu lain.

"Ini bukan pekerjaan yang mudah karena bisa jadi masih banyak anggota tim
pemenangan yang bicaranya ceplas-ceplos seperti ndak pakai mikir, apalagi
kelak bikin hoax baru. Ini bisa menggerus kepercayaan publik," katanya.