Anda di halaman 1dari 17

PROGRAM KERJA

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (HAiS)

RSUD OGAN ILIR TAHUN 2018

A. PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya merupakan bagian integral dari


pembangunan nasional. Pada era globalisasi dimana kemajuan tehnologi yang sedemikian
pesat, pelayanan kesehatan yang bertanggung jawab menjadi tuntutan yang sangat wajar
seiring dengan kesadaran pasien akan hak-haknya.
Rumah sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks. Kompleksitas
ini muncul karena pelayanan di rumah sakit menyangkut berbagai tingkatan. Agar rumah sakit
mampu melaksanakan fungsi yang demikian kompleks, rumah sakit harus memiliki sumber
daya, manusia yang profesional baik di bidang teknis medis maupun administrasi kesehatan.
Untuk menjaga dan meningkatkan mutu, rumah sakit harus mempunyai suatu ukuran yang
menjamin peningkatan mutu di semua tingkatan. Dalam kegiatan peningkatan mutu pelayanan
keperawatan perlu ada suatu program yang terencana dan berkesinambungan sebagai
pedoman bagi pelayanan keperawatan dalam mengevaluasi dan membuat rencana tindak
lanjut sehingga tercapai peningkatan mutu pelayanan yang diharapkan. Salah satu program
yang dibuat adalah Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).

B. LATAR BELAKANG

Pemantauan terhadap HAIs harus mulai dilakukan pada pasien rawat inap guna
meminimalkan terjadinya infeksi, adapun langkah-langkah untuk menurunkan angka HAIs yang
ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan program kebersihan tangan Rumah Sakit Umum
Ogan Ilir yang menggunakan literatur-literatur terbaru dan pedoman dari WHO & DEPKES.
Program pengendalian infeksi ini dilaksanakan secara multidisiplin yang tergabung dalam
komite pengendalian Infeksi rumah sakit yaitu terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter
umum, perawat pengendali infkesi (IPCN), seluruh supervisor dari hampir semua unit yang
berperan sebagai infection prevention control link nurse (IPCLN) seperti laboratorium, UGD,
perawatan, farmasi, house keeping & semua bangsal perawatan. Komite pengendalian infeksi
ini mengadakan rapat koordinasi setiap 3 bulan guna meningkatkan pelayanan baik kepada
pelanggan, keluarga dan petugas khususnya dalam pencegahan dan pengendalian infeksi.
Berdasarkan data dari Australian Commission on Safety & Quality in Healthcare, 2009, kejadian
HAIs pertahun adalah 200.000 kejadian dengan 7000 angka kematian yang memakan biaya
lebih dari 2 juta $ Australia, dimana 50% dari kejadian tersebut dapat dicegah. Sedangkan data
dari Umscheid et al. Infect Control Hospital Epidemiology 2011; 32:101-14, di USA terdapat 1,7
juta kejadian HAIs dengan 99.000 angka kematian yang menghabiskan biaya sekitar 10-25 juta
US$, dimana sekitar 55% - 70% dari kejadian tersebut dapat dicegah.

1
C. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Mengurangi terjadinya infeksi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit
Umum Daerah Ogan Ilir, meliputi kualitas pelayanan manajemen risiko dan keselamatan
kerja.
2. Tujuan Khusus
a. Memastikan adanya kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit yang
berkesinambungan.
b. Mencegah terjadinya infeksi silang di rumah sakit.
c. Mengurangi hari perawatan pasien rawat inap
d. Mengurangi biaya perawatan pasien
e. Meminimalkan terjadinya infeksi bagi petugas kesehatan terkait dengan
pekerjaannya.
f. Melakukan review terhadap SOP, Buku Pedoman Infeksi Nosokomial, Kebijakan
g. Memberikan pelatihan pengendalian infeksi secara terus menerus bagi staf.
h. Memastikan bahwa pasien dan keluarga mendapatkan informasi yang memadai
tentang PPI
i. Melaksanakan pengendalian mutu dengan monitoring mutu sterilisasi.
j. Pelaporan bila terjadi infeksi .

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Kegiatan pokok dan rincian kegiatan adalah langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan
sehingga tercapainya program PPI. Adapun kegiatan pokok dan rincian kegiatan yang
dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Menurunkan dan mengendalikan angka insiden infeksi rumah sakit (IRS/incident rate HAIs)
khususnya insiden infeksi pneumonia karena pemakaian ventilator/Ventilator Associeted
Pneumonia (VAP) serta mengendalikan angka insiden infeksi lainnya seperti infeksi daerah
operasi (IDO), infeksi pneumonia akibat tirah baring (HAP), infeksi akibat pemakaian
kateter vena sentral (IADP) dan infeksi saluran kemih (ISK).

Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:


a) Survelance data Infeksi Rumah Sakit
b) Monitoring Pelaksanaan Sterilisasi di Rumah Sakit
c) Monitoring pelaksanaan manajemen Laundry dan Linen Rumah Sakit
d) Monitoring pelaksanaan manajemen peralatan kadaluarsa, single-use yang menjadi re-
use.
e) Monitoring pembuangan sampah sampah infeksius, cairan tubuh, dan darah.
f) Monitoring pembuangan benda tajam dan jarum
g) Monitoring Pelayanan makanan Monitoring pembongkaran, pembangunan, dan renovasi
h) Monitoring pelaksanaan isolasai pasien

2
i) Monitoring hand hygiene pada pasien, pengunjung dan staf/petugas.
j) Monitoring penggunaan alat pelindung diri.

2. Memaksimalkan penerapan kebijakan, pedoman dan atau SOP tentang PPI di semua unit
pelayanan dengan kegiatan:
a) Monitoring pengendalian lingkungan rumah sakit.
b) Monitoring pelaksanaan PPI di kamar jenasah
c) Monitoring pola pelayanan farmasi khususnya tentang obat kadaluarsa
d) Monitoring di Ruangan ICU
e) Monitoring di kamar operasi

3. Memaksimalkan penerapan kebijakan, pedoman dan atau SOP tentang PPI di semua area
pengunjung dengan kegiatan :
a) Monitoring pelaksanaan PPI di Ruang Tunggu

4. Mengembangkan fasilitas pendukung pelaksanaan/penerapan PPI di unit/unit pelayanan


melalui:
b) Membuat rekomendasi untuk usulan pengadaan sarana pendukung penerapan PPI di
unit pelayanan seperti pengadaan APD, sarana kebersihan tangan (wastafel, sabun,
larutan desinfektan/antiseptik, tisu, handrub), dll
c) Melakukan koordinasi dengan bagian terkait pengadaan sarana pendukung penerapan
PPI

5. Meningkatkan kualitas/kompetensi petugas Tim PPI yang meliputi:


a) Membuat usulan pelatihan lanjutan bagi tenaga IPCN
b) Membuat usulan pelatihan dasar PPI bagi tenaga IPCLN
c) Membuat pelatihan berkesinambungan (in house training) tentang PPI bagi seluruh
petugas rumah sakit (medis dan non medis)
6. Sistem investigasi outbreak penyakit infeksi
a) Investigasi Kejadian Luar Biasa
b) Persiapan tahap investigasi
c) Bentuk tim pengendali KLB
d) Evaluasi awal
e) Langkah investigasi

A. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN

1. Menurunkan dan Mengendalikan Angka Insiden IRS/Incident Rate HAIs


a) Surveilans IRS
Data infeksi rumah sakit merupakan salah satu indikator klinik rumah sakit sehingga
surveilans harus dilakukan dengan benar agar mendapatkan data yang akurat yang

3
menggambarkan keadaan sesungguhnya. Data yang akurat akan membantu mengidentifikasi
permasalahan yang perlu diatasi untuk mendapatkan mutu pelayanan pasien yang optimal.
Data akan dikoleksi setiap bulan sesuai dengan yang telah ditetapkan dan telah diinformasikan
kepada unit yang terkait.
Ruang lingkup pelaksanaan surveilans IRS di RSUD OI adalah di semua unit pelayanan
perawatan/kesehatan langsung kepada pasien dengan mengumpulkan dan mengevaluasi data
yang terkait dengan risiko infeksi pada:

a. Saluran pernafasan seperti prosedur dan peralatan terkait intubasi, dukungan


ventilasi mekanis, trakeostomi.
b. Saluran kencing seperti prosedur invasif dan peralatan terkait dengan indwelling
urinary catheter, sistim drainase urin.
c. Peralatan intravaskuler invasif seperti insersi dan pelayanan kateter vena sentral.
d. Lokasi operasi seperti pelayanan dan type pembalut luka dan prosedur aseptik.

Metode surveilans yang digunakan oleh Komite PPI RSUD OI adalah:

 Surveilans ISK, menggunakan metode surveilans target meliputi ruang intensif (ICU), ruang
Perawatan.

ISK adalah infeksi yang terjadi pada saluran kemih murni (uretra dan permukaan saluran
kemih) atau melibatkan bagian yang lebih dalam dari organ-organ pendukung saluran
kemih (ginjal, ureter, kandung kemih, uretra dan jaringan sekitar retroperitoneal atau
rongga perinefrik).

ISK yaitu infeksi akibat pemakaian/pemasangan kateter urine menetap setelah 48 jam
pemakaian alat. Alat yang digunakan pasien adalah alat yang dipasang di RSUD OI.

 Surveilans HAP/VAP, menggunakan metode surveilans target meliputi ruang intensif (ICU),
ruang Perawatan.

VAP yaitu infeksi saluran nafas bawah yang mengenai parenkim paru yang terjadi setelah
pasien dirawat lebih dari 48 jam akibat tirah baring tanpa dilakukan intubasi dan
sebelumnya tidak menderita infeksi saluran nafas bawah.

 Surveilans VAP, menggunakan metode surveilans target yang terfokus pada pasien di
ruang rawat intensif (ICU)

VAP yaitu infeksi saluran nafas bawah yang mengenai parenkim paru yang terjadi akibat
pemakaian/pemasangan ventilasi mekanik (ventilator) lebih dari 48 jam dan sebelumnya
tidak ditemukan tanda-tanda infeksi saluran nafas. Alat yang digunakan pasien adalah alat
yang dipasang di RSUD Ogan Ilir.

 Surveilans IDO, menggunakan metode Surveilans komprehensif (wide hospital


surveillance) yaitu dilakukan di semua ruang perawatan rawat inap serta surveilans paska
rawat (post discharge surveillance) yaitu dilakukan setelah pasien keluar dari RS.

4
IDO adalah infeksi pada semua kategori luka operasi bersih dan bersih terkontaminasi
yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari setelah operasi tanpa implant dan 90 hari setelah
operasi dengan implant.

Pencatatan dilakukan oleh perawat yang ditunjuk (IPCN) dibantu oleh IPCLN yang ada di setiap
unit perawatan dengan menggunakan format harian rumah sakit yang mencakup semua
variabel (satuan) yang ada dalam formula dari seluruh jenis infeksi rumah sakit yang ada.
Pencatatan dilakukan bila ditemukan kelainan sesuai jenis infeksi rumah sakit yang ada maka
petugas ruangan atau IPCLN yang pertama kali menemukan pasien terinfeksi harus langsung
mencatat dan melaporkannya kepada IPCN.

Indikasi adanya infeksi rumah sakit juga dapat dengan melakukan telaah/kajian laboratorium
untuk mengetahui apakah ada hasil kultur atau isolasi positif pada waktu tersebut di ruang
perawatan dimana dilakukan kegiatan surveilans.

Data infeksi yang ditemukan terlebih dahulu dikonfirmasi dengan dokter yang merawat untuk
menegakkan apakah hal tersebut dapat diindikasikan sebagai data infeksi rumah sakit.
b) Melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Monitoring kesehatan karyawan/petugas dilakukan dengan berkoordinasi dengan Tim K3RS,
yang meliputi beberapa kegiatan antara lain :
a. Pemeriksaan berkala
b. Pemberian imunisasi yang pelaksanaannya tergantung pada:
 Risiko ekspos petugas
 Kontak petugas dengan pasien
 Karakteristik pasien Rumah Sakit
 Dana Rumah Sakit
c. Pelaporan pajanan dan insiden kecelakaan kerja (tertusuk jarum)
d. Pengobatan dan atau Konseling
c) Monitoring pelaksanaan sterilisasi rumah sakit.
Monitoring pelaksanaan sterilisasi dilakukan minimal 1 kali tiap bulan meliputi prosedur
penerimaan alat kotor, pembersihan alat, pengeringan, sterilisasi/dekontaminasi, pengemasan,
pelabelan kadaluarsa steril alat, penyimpanan dan pendistribusian alat. Monitoring juga
dilakukan terhadap kepatuhan petugas dalam penggunaan APD, pencatatan suhu, tekanan dan
kelembaban ruangan. Hasil monitoring akan dilaporkan tiap bulan.
d) Monitoring pelaksanaan manajemen laundry dan linen rumah sakit.
Monitoring manajemen linen meliputi kegiatan monitoring pada prosedur penerimaan linen
kotor, pemilahan linen infeksius dan non infeksius, perendaman, pencucian, pengeringan,
penyimpanan dan pendistribusian linen serta alur linen kotor dan bersih. Kegiatan monitoring
dilakukan minimal 1 kali tiap bulan dan hasil monitoring dilaporkan tiap bulan.
e) Monitoring pelaksanaan manajemen peralatan kadaluarsa, single use yang menjadi re-
use.
Monitoring manajemen peralatan kadaluarsa khususnya peralatan single use menjadi re-use
dilaksanakan terhadap prosedur yang digunakan, daftar dan jumlah alat single use yang bisa

5
dilakukan re-use, prosedur ujikimia/biologi, pelabelan steril alat, penyimpanan dan
pendistribusian alat. Kegiatan monitoring dilakukan minimal 1 kali tiap bulan dan hasil
monitoring dilaporkan tiap bulan.
f) Monitoring pembuangan sampah infeksius, cairan tubuh, dan darah
Monitoring dilakukan terhadap prosedur penanganan sampah infeksius dan cairan tubuh mulai
dari sumbernya (ruang perawatan, laboratorium) termasuk kantong sampah yang digunakan,
sampai dikelola di incenerator/limbah. Kegiatan monitoring dilakukan minimal 1 kali tiap bulan
dan hasil monitoring dilaporkan tiap bulan.
g) Monitoring pembuangan benda tajam dan jarum.
Monitoring penerapan kewaspadaan isolasi lainnnya termasuk penanganan dan pengeloaan
benda tajam yang dilakukan setiap hari bersamaan dengan kunjungan ruangan, meliputi
prosedur yang benar tentang pembuangan benda tajam dan prosedur yang benar tentang
penggunaan benda tajam/jarum. Kegiatan monitoring dilakukan minimal 1 kali tiap bulan dan
hasil monitoring dilaporkan tiap bulan.
h) Monitoring pelayanan makanan
Monitoring pelayanan makanan meliputi kegiatan monitoring pada penyediaan bahan makanan
mentah, penataan/penyususunan bahan makanan, pengolahan makanan, penyajian makanan
dan pendistribusian makanan ke ruang perawatan. Monitoring juga dilakukan terhadap
kepatuhan petugas dalam penggunaan APD, kepatuhan petugas dalam kebersihan tangan,
prosedur pencucian dan penyimpanan alat-alat makan, pencatatan suhu dan kelembaban
ruangan serta pemeliharaan mesin/alat yang digunakan. Kegiatan monitoring dilakukan minimal
1 kali tiap bulan dan hasil monitoring dilaporkan tiap bulan.
i) Monitoring pembongkaran, pembangunan, dan renovasi
Monitoring pelaksanaan pembongkaran, pembangunan, dan renovasi bangunan di RSUD Ogan
Ilir dilakukan bila ada kegiatan seperti pembongkaran gedung (demolution), perbaikan gedung,
penambahan bagian dari gedung utama dan atau pembangunan gedung baru. Monitoring
dilakukan sebelum, selama dan setelah dilakukan renovasi/rekontruksi bangunan. Hasil
monitoring yang dilakukan IPCN Komite PPI akan dituangkan dan disusun dalam Laporan ICRA
(Infections Control Risk Assessment) renovasi/rekontruksi yang akan dilaporkan kepada
Direktur .
j) Monitoring pelaksanaan isolasi pasien.
Monitoring penggunaan ruang isolasi dilakukan dengan melakukan kunjungan lapangan oleh
IPCN dengan mengisi formulir pemantauan yang meliputi ketersediaan/kelengkapan
sarana/prasarana, kepatuhan penggunaan APD, kepatuhan kebersihan tangan, penempatan
pasien, serta pencatatan suhu, tekanan dan kelembaban ruangan. Hasil monitoring dilaporkan
tiap bulan.
k) Monitoring hand hygiene pada pasien, penunggu dan petugas/staf
 Monitoring hand hygiene pada pasien dilakukan dengan memberikan informasi kepada
pasien tentang kapan harus cuci tangan dan bagaimana cara melakukan kebersihan tangan,
juga diberikan informasi kapan harus melakukan hand hygiene dengan cuci tangan dan
kapan dengan hand rub. Ketersediaan fasilitas untuk melakukan kebersihan tangan pada
area pasien juga dimonitor ketersediaannya.
6
 Monitoring hand hygiene pada penunggu dilakukan dengan memberikan informasi kepada
penunggu tentang kapan harus cuci tangan dan bagaimana cara melakukan kebersihan
tangan, juga diberikan informasi kapan harus melakukan hand hygiene dengan cuci tangan
dan kapan dengan hand rubb. Ketersediaan fasilitas untuk melakukan kebersihan tangan
pada area pasien juga dimonitor ketersediaannya.
 Monitoring hand hygiene pada petugas/ staf dilakukan dengan Audit kepatuhan melakukan
kebersihan tangan yang dilakukan setiap hari dan analisanya dibuat setiap 3 (tiga) bulan.
Audit dilakukan terhadap petugas yang terlibat langsung dalam pelayanan pasien meliputi
unit rawat jalan, kamar operasi dan rawat inap.
l) Monitoring penggunaan alat pelindung diri (APD)
Monitoring penggunaan APD yang dilakukan setiap hari terhadap petugas di unit perawatan
terutama di ruangan isolasi, dilakukan bersamaan dengan kunjungan ruangan. Hasil monitoring
dilaporkan tiap 1 bulan. (blangko terlampir)

2. Memaksimalkan penerapan kebijakan ,pedoman, dan atau SOP tentang PPI di semua unit
pelayanan
a) Monitoring pengendalian lingkungan rumah sakit.
Kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan monitoring kebersihan lingkungan rumah sakit,
lingkungan masing-masing unit pelayanan, prosedur penatalaksanaan pengendalian lingkungan
seperti mengepel lantai, membersihkan dinding dan dekontaminasi permukaan termasuk
prosedur pembuatan/pencampuran larutan desinfektan. Kegiatan monitoring dilaksanakan tiap
hari dan hasil monitoring dilaporkan tiap bulan.
b) Monitoring pelaksanaan PPI di kamar jenazah.
Monitoring penerapan PPI di kamar jenasah meliputi kegiatan monitoring pada
penatalaksanaan jenasah pasien dengan kasus infeksius, penggunaan APD, kebersihan
lingkungan serta ketersediaan sarana cuci tangan dan kepatuhan petugas dalam melakukan
kebersihan tangan. Kegiatan monitoring dilakukan minimal 1 kali tiap bulan dan hasil monitoring
dilaporkan tiap bulan.
c) Monitoring pola pelayanan farmasi khususnya tentang obat kadaluarsa.
Monitoring pola pelayanan farmasi meliputi prosedur yang terkait dengan kebersihan peralatan
yang digunakan, kebersihan lingkungan sekitar, penataan obat-obatan, dan penatalaksanaan
obat kadaluarsa. Kegiatan monitoring dilakukan minimal 1 kali tiap bulan dan hasil monitoring
dilaporkan tiap bulan.
d) Monitoring ruang ICU
Monitoring penggunaan di ruang intensif dilakukan dengan melakukan kunjungan lapangan
oleh IPCN dengan mengisi formulir pemantauan yang meliputi ketersediaan/kelengkapan
sarana/prasarana, kepatuhan penggunaan APD, kepatuhan kebersihan tangan, penempatan
pasien, serta pencatatan suhu, tekanan dan kelembaban ruangan. Hasil monitoring dilaporkan
tiap bulan.
e) Monitoring kamar operasi
Monitoring penggunaan di kamar operasi dilakukan dengan melakukan kunjungan lapangan
oleh IPCN dengan mengisi formulir pemantauan yang meliputi ketersediaan/kelengkapan

7
sarana/prasarana, kepatuhan penggunaan APD, kepatuhan kebersihan tangan, penempatan
pasien, serta pencatatan suhu, tekanan dan kelembaban ruangan. Hasil monitoring dilaporkan
tiap bulan..

3. Memaksimalkan penerapan kebijakan , pedoman, dan atau SOP tentang PPI di semua
area pengunjung
a) Monitoring pelaksanaan PPI di Ruang Tunggu
Monitoring pelaksanaan PPI di ruang tunggu pasien baik di ruang rawat inap maupun di rawat
jalan meliputi pembuangan sampah, kebersihan lingkungan, etika batuk, pemakaian APD, dll.
Kegiatan dilakukan setiap hari bersamaan dengan kunjungan harian IPCN.

4. Mengembangkan fasilitas pendukung pelaksanaan /penerapan PPI di unit unit pelayanan


a) Membuat rekomendasi untuk usulan pengadaan sarana pendukung penerapan PPI di
unit pelayanan seperti pengadaan APD, sarana kebersihan tangan (wastafel, sabun,
larutan desinfektan/antiseptik, tisu, handrub), dll. Rekomendasi PPI dalam pengadaan
sarana pendukung PPI akan dibuat dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang
disusun oleh Komite PPI untuk diajukan kepada Direktur Utama yang selanjutnya akan
dimasukkan ke dalam RAB rumah sakit.
b) Melakukan koordinasi dengan bagian PE terkait pengadaan sarana pendukung
penerapan PPI

RAB PPI akan ditindaklanjuti Komite PPI ke bagian Perencanaan dan Evaluasi (PE).

5. Meningkatkan kualitas/kompetensi petugas tim PPI


a) Membuat usulan pelatihan lanjutan bagi tenaga IPCN.
Perkembangan ilmu dan tekhnologi harus diimbangi dengan pelatihan bagi IPCN yang
berkesinambungan dan ter-up date sesuai dengan perkembangan kondisi saat ini. Komite PPI
membuat daftar kebutuhan pelatihan untuk diajukan ke Direktur Utama.

b) Membuat usulan pelatihan dasar PPI bagi tenaga IPCLN.


Adanya beberapa petugas IPCLN yang pindah tugas ke unit/ruangan lain menyebabkan upaya
untuk mencarikan pengganti yang tentu belum tersentuh lebih jauh tentang pemahaman PPI.
Oleh karena itu Komite PPI membuat daftar kebutuhan pelatihan untuk IPCLN agar bisa
diajukan ke Direktur Utama.

c) Membuat pelatihan berkesinambungan (in house training) tentang PPI bagi seluruh
petugas rumah sakit (medis dan non medis).
Program in house training PPI akan berkoordinasi dengan Bagian Diklat yang dilaksanakan
rutin dan berkesinambungan. Setiap petugas yang sudah mengikuti kegiatan in house training
akan mendapatkan sertifikat sebagai bukti keikutsertaannya dan masa berlaku sertifikat adalah
satu tahun. Komite PPI juga melakukan in house training ke Insatalasi-Instalasi yang bertujuan
semua staf yang ada di setiap Instalasi dapat terpapar program in house training PPI.
7. Sistem investigasi outbreak penyakit infeksi
a) Investigasi KLB
8
1. Evaluasi awal dan verifikasi situasi KLB
2. Penemuan dan identifkasi kasus
3. Mencari sumber penularan dan cara transmisi
4. Menetapkan penyebab paling mungkin
5. Mengupayakan pemutusan rantai penyebaran
6. Mencegah terulangnya kejadian serupa
7. Menyusun dan mendistribusi laporan tertulis
8. Melakukan upaya pengendalian dini
9. Mencari kemungkinan kasus lain
10. Evaluasi masalah, menyusun analisis sementara
11. Melakukan perubahan kebijakan / prosedur sesuai keperluan
12. Melakukan kultur mikrobiologik sumber yang dicurigai
13. Memantau keberhasilan upaya pengendalian
14. Membuat laporan tertulis
b) PersiapanTahap Investigasi
1. Membentuk TIM Investigasi KLB
2. Komite PPI / Tim KLB dan para ahli mempersiapkan langkah investigasi
3. Mempelajari referensi / literature terkait KLB yang terjadi
4. Konsultasi dengan Narasumber / Ahli terkait
5. Menganalisis masalah
6. Konsultasi dengan Laboratorium
7. Jenis spesimen dan biaya pemeriksaan
8. Penyediaan sarana yang dibutuhkan : Lap top , kamera dan lain-lain
c) Tim Pengendali KLB
1. Komite PPIRS, Tim PPI dan Unit terkait
2. Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan
3. Komite Medik , Komite Keselamatan Pasien, Komite Mutu
4. Narasumber/Ahli/Konsultan Penyakit Infeksi atau yang terkait
5. Narasumber/Ahli/Konsultan Pemeriksaan Laboratorium
6. Bidang Keperawatan
7. Unit terkait : Sanitasi Lingkungan, ISP, Teknik dan lainnya
8. Tentukan siapa PJ dan pemimpin Tim investigasi
9. Siapa PJ pelaksanaan investigasi di lapangan
10. Bagaimana pendanaan
11. Siapa berwenang menghentikan pelayanan dan membuka kembali
12. Siapa ditugaskan dan berwenang menyampaikan informasi ke media elektronik /
media cetak jika diperlukan
d) Evaluasi Awal
1. Analisis cepat situasi, tentukan masalahnya
2. Verifikasi kasus :Telusuri hasil lab, rekam medik, status klinis pasien, diskusi dg
dokter yang merawat / DPJP

9
3. Evaluasi besar masalah: Apakah terkena banyak , berpotensi semakin banyak,
morbiditas dan mortalitas tinggi .
4. Tentukan dasar menetapkan luas investigasi
a. Kaji ulang kebelakang (retrospektif)
b. Data surveilans sebelum kejadian
c. Laporan Lab dan Medik cari kemungkinan kasus serupa
d. Membuat daftar line-listing kasus :Nama, norekmed, umur, jenis kelamin,
ruangan, tanggal terjadi, jenis terapi, tindakan operasi, tanggal pemeriksaan,
hasil Lab
e. Kaji ulang informasi yang ada
f. Tetapkan apa benar ada masalah
e) Langkah Investigasi
1. Diagnosis jelas
a. Apakah benar terjadi infeksi, Diagnosis sudah tepat .
b. Nilai kembali gejala klinik : onset, lama gejala, tindakan perawatan, pemakaian
alat invasif
c. Pelajari hasil kultur specimen sumber yang dicurigai
d. Anamnesis pasien mengenai kemungkinan sebab, cara transmisi, kondisi lain
yang mirip
e. Pastikan dgn pihak laboratorium peningkatan infeksi bukan karena kekeliruan di
laboratorium
2. Definisi kasus
a. Susun kriteria klinis dan laboratorium
b. Bedakan menurut :Waktu : terjadi KLB, lama pajanan, 1 sumber atau beberapa
sumber terus menerus, Tempat : ruang perawatan , mengumpul / klaster,
menyebar, Orang : karakteristik kasus ( penyakit, tindakan, factor risiko),
Diperlukan dukungan data laboratorium khususnya kultur ,Perlu diterapkan
secara konsisten, terhadap semua kasus yang dicurigai.
3. Kriteria kasus
a. Konfirm / Pasti : Gejala klinis sesuai kriteria yang ditetapkan , hasil laboratorium
mendukung / ada
b. Probable / Kemungkinan : Gejala klinis sesuai kriteria yang ditetapkan tetapi
hasil laboratorium tidak mendukung / tidak ada
c. Possible / Dicurigai / Diperkirakan : Hanya berdasarkan beberapa gejala klinik
4. Konfirmasi KLB
a. Apakah benar terjadi KLB ? Bandingkan dengan data surveilans sebelumnya
b. Tetapkan telah terjadi KLB :Bandingkan angka kejadian baru dengan data
surveilans ,terjadi peningkatan, Sebelumnya tidak ditemukan ,menjadi ada
Identifikasi kasus Menetapkan kasus yang mengalami infeksi berdasarkan
definisi kasus yang ditetapkan (hasil laboratorium, catatan rekam medik , angka
kematian, angka kesakitan
5. Kultur (biakan) mikrobiologik
10
a. Pemeriksaan perlu dilakukan terhadap individu dengan factor risiko ,dokter,
perawat , petugas kebersihan, keluarga
b. Melakukan pemeriksaan biakan setiap sumber yang diduga penyebab infeksi
,cairan, alat medis, lingkungan, sumber air
6. Analisis epidemiologis deskriptif
a. Identifikasi informasi : Pelajari ulang rekam medic jika timbul pertanyaan
b. Pelajari data hasil laboratorium
c. Pastikan tidak ada duplikasi data
d. Tentukan pemetaan lokasi / area KLB
e. Data Demografi : Tentukan karakterisik kasus untuk tetapkan populasi berisiko
f. Hitung rate / laju angka infeksi :
Attack rate : jumlah kasus x 100%
Jml pasien berisiko
7. Buat hipotesis/ asumsi / perkiraan
a. Asumsi berdasarkan Sumber penularan ,Cara transmisi
b. Pajanan yang menyebabkan infeksi
c. Buat daftar pertanyaan yang perlu dicari jawabannya :Sumber infeksi ,Cara
penyebaran,Penyebab penyebaran / KLB ,Besar masalah, Penyebab terjadi KLB.
8. Pembuktian hipotesis / asumsi
a. Sebagian besar investigasi KLB umumnya tidak sampai tahapan terbukti ,perlu
pemeriksaan molekuler, genetik, peralatan canggih
b. Beberapa yang perlu diteliti lebih lanjut :Angka kematian tinggi / diduga akibat
produk tercemar
c. Tetapkan sumber penyebaran dan cara transmisi yang paling mungkin
d. Tentukan yang harus dilakukan selanjutnya
e. Berapa lama pemantauan/ penyelidikan harus dilakukan
9. Pengawasan sumber
a. Segera lakukan pencegahan: Memutus rantai penyebaran, Menghilangkan agen
penyebab infeksi, Menghilangkan sumber atau reservoir agen penyebab,
Pengawasan jangka pendek mengatasi segera KLB, Pengawasan jangka
panjang agar tidak terulang kejadian
10. Upaya pengendalian sumber
a. Transmisi silang ( kontak ) :Isolasi pasien dan terapkan Kewaspadaan
Transmisi, Transmisi melalui tangan : Kebersihan tangan dan APD, kebersihan
lingkungan
b. Penyebaran udara / airborne :Isolasi pasien di ruangan khusus dg ventilasi
negatip, terapkan Kewaspadaan Transmisi
c. Penyebaran melalui air :Periksa sumber air, peralatan penampung air
d. Penyebaran melalui makanan :Periksa kualitas pelayanan gizi / dapur susu
11. Kewajiban manajemen rumah sakit
a. Menyediakan ruangan isolasi

11
b. Menetapkan standard isolasi yang diperlukan dan menginstruksikan ke seluruh
petugas RS
c. Menyediakan tambahan tenaga sesuai kebutuhan termasuk petugas kebersihan,
laundry, ISP, laboratorium
d. Menyediakan tambahan tenaga administrasi, operator telepon, peralatan
computer sesuai keperluan
e. Menyediakan tambahan dana yang dibutuhkan untuk kultur mikrobiologik
12. Pengawasan oleh manajemen rumah sakit
a. Pengawasan penerapan peraturan isolasi
b. Menyediakan imunisasi bagi petugas kesehatan jika diperlukan
c. Menetapkan indikasi rawat dan dirujuk
d. Mengatur jadwal pertemuan rutin Tim Investigasi
e. Melakukan evaluasi langkah pengawasan
13. KLB berakhir oleh tim investigasi
a. Bila KLB telah berakhir :Umumkan segera
a) Pada akhir Tatalaksana KLB :Buat laporan lengkap ke Direktur RS Ogan Ilir dan
pihak terkait lainnya.

B. SASARAN

1. Sasaran program dengan melibatkan:

a. Seluruh staf RS
Melindungi staf RS agar tidak terkena infeksi.
b. Pasien dan keluarga
Pasien dan keluarga diberikan edukasi tentang PPI agar tidak terkena infeksi HAIs dan juga
diharapkan dapat ikut serta dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi. Edukasi
diberikan secara langsung (face to face) ataupun dikumpulkan dalam suatu pertemuan dalam
bentuk penyuluhan yang berkaitan dengan PPI.
c. Pengunjung
Pengunjung pasien yang datang ke RS diberikan edukasi tentang PPI dengan harapan ikut pula
dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi di RS terutama tentang aturan yang harus
dipatuhi dan dijauhi ketika mengunjungi pasien-pasien dengan penyakit menular,
immunocompromissed, maupun tentang upaya lain yang berhubungan dengan PPI, misalnya
tentang pembatasan waktu besuk dan jumlah pengunjung saat besuk.
2. Menurunkan Angka Insiden IRS/incident rate HAIs
Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi di RSUD Ogan
Ilir untuk menurunkan angka insiden IRS adalah:
a.Surveilans IRS

12
1. Angka insiden ISK <10 kasus per-1000 hari pemakaian kateter urine menetap (<10‰)
dalam satu periode tertentu (1 bulan) meliputi ruang intensif (ICU, ICCU), ruang
Perawatan .
2. Angka insiden HAP <10 kasus per-1000 hari perawatan dengan tirah baring (<10‰)
dalam satu periode tertentu (1 bulan) meliputi ruang intensif (ICU, ICCU), ruang
Perawatan.
3. Angka insiden VAP <10 kasus per-1000 hari pemakaian ventilator (<10‰) dalam satu
periode tertentu (1 bulan) yang terfokus pada pasien yang di ruang rawat intensif (ICU
dan PICU).
4. Angka insiden IDO < 2 kasus per- 100 tindakan operasi (<2%), meliputi semua
pasien paska operasi di RSUD Badung yang sedang dirawat dan setelah pasien
keluar dari RS .
b. Audit Kepatuhan
1. Sasaran audit kepatuhan melakukan kebersihan tangan adalah semua petugas baik
medis dan non medis seperti dokter, perawat, petugas radiologi, petugas
laboratorium, petugas fisioterapi, petugas kebersihan , dan peserta didik yang terlibat
langsung dalam pelayanan pasien meliputi di unit rawat jalan, kamar operasi dan
rawat inap. Sasaran pencapaian kepatuhan kebersihan tangan adalah >80% dalam
jangka waktu 3 bulan.
2. Sasaran audit kepatuhan penggunaan APD petugas di unit perawatan khususnya di
ruangan isolasi, intensif dan kamar operasi dilakukan bersamaan dengan kunjungan
ruangan. Sasaran pencapaiannya adalah 100% dalam 1 bulan.
3. Audit kelengkapan PPI juga dilakukan setiap hari/setiap minggu/setiap waktu tertentu
bersamaan dengan kunjungan lapangan ke unit-unit pelayanan/perawatan untuk
melihat apakah sarana dan prasarana pendukung di semua unit tersedia, tidak
lengkap atau salah/tidak digunakan. Sasaran pencapaiannya adalah >80% dalam
waktu 3 bulan.
c. Edukasi
Sasaran yang ingin dicapai Komite PPI dalam pelaksanaan program edukasi dibagi dalam
kategori yaitu staf baru dan staf lama (medis dan non medis), pasien, keluarga
pasien/pengunjung serta petugas/pekerja non petugas RSUD Ogan Ilir yang tidak melayani
pasien langsung tetapi berada di lingkungan RSUD Ogan Ilir seperti , petugas parkir dan
petugas kantin/kafetaria.
 Staf Baru :
Staf baru tidak dibedakan perawat, dokter atau staf lain diberikan edukasi PPI saat mereka
memulai bekerja atau mulai menjadi karyawan di RSUD Ogan Ilir. Kegiatan ini bekerja sama
dengan Bagian Diklat dan SDM. Sasaran pencapaian adalah semua staf baru yang akan
bekerja di RSUD Ogan Ilir sudah teredukasi PPI (100%).
 Staf Lama :
Dalam kaitan peningkatan pemahaman pengendalian infeksi akan dilakukan inventarisasi staf
medis dan non medis yang telah menjalani edukasi sebelumnya, sehingga dapat diketahui
siapa yang belum menjalani kegiatan edukasi. Peningkatan pengetahuan untuk seluruh staf
13
dalam bentuk in house training PPI sehingga mempunyai persepsi dan pemahaman yang sama
untuk pengendalian infeksi. Staf yang telah teredukasi sebelumnya, dalam kurun waktu 1 tahun
harus meng-update sertifikat pelatihannya. Sasaran pencapaian adalah >80% staf sudah
teredukasi PPI dalam waktu 1 tahun.
 Pasien
Edukasi kepada pasien diberikan secara langsung dan melalui leaflet oleh IPCLN, petugas
ruangan atau IPCN saat kunjungan langsung ke unit pelayanan perawatan tentang kebersihan
tangan, pencegahan penyebaran penyakit infeksi di rumah sakit, dan pengelolaan penyakit
infeksi di rumah sakit. Sasaran pencapaian edukasi kepada pasien adalah lebih dari 80%
pasien yang sedang dirawat dapat teredukasi PPI dalam waktu 6 bulan.
 Pengunjung
Edukasi dengan pengunjung/keluarga pasien dilaksanakan berkoordinasi dengan petugas
ruang rawat inap dan rawat jalan. Kegiatan dilakukan di poliklinik/unit rawat jalan dan ruang
perawatan, meliputi kebersihan tangan, pencegahan penyebaran penyakit infeksi di rumah
sakit, kebersihan lingkungan, pengenalan penyakit seperti penyakit menular, DM, penyakit
Jantung, dll. Sasaran pencapaiannya adalah >80% pengunjung dapat teredukasi dalam waktu 3
bulan.
8. Memaksimalkan Kepatuhan Dalam Penerapan Kebijakan, Pedoman dan atau SOP
Tentang PPI di Semua Unit Pelayanan
a. Area Pelayanan
 Monitoring pengendalian lingkungan rumah sakit.
Sasaran yang dicapai adalah seluruh lingkungan rumah sakit yaitu semua lingkungan di
unit-unit pelayanan/perawatan dan lingkungan di sekitar rumah sakit.
 Monitoring pelaksanaan sterilisasi rumah sakit.
Sasaran yang dicapai adalah di Instalasi Sterilisasi Sentral (ISS) yang meliputi petugas,
alat-alat, mesin dan lingkungan ISS.
 Monitoring pelaksanaan manajemen linen rumah sakit.
Sasaran yang dicapai adalah di Instalasi Binatu yang meliputi petugas, linen, alat-
alat/mesin dan lingkungan.
 Monitoring pelaksanaan pelayanan gizi.
Sasaran yang dicapai adalah di Instalasi Gizi meliputi petugas, bahan makanan mentah,
makanan jadi, alat-alat/mesin dan lingkungan.
 Monitoring pelaksanaan PPI di kamar jenasah.
Sasaran yang dicapai adalah di Kamar jenazah meliputi petugas, alat-alat/mesin dan
lingkungan.
 Monitoring pelaksanaan manajemen peralatan kadaluarsa khususnya tentang peralatan
single use yang menjadi re-use.
Meliputi peralatan single use yang bisa dilakukan re-use misalnya endotracheal tube..
 Monitoring pola pelayanan farmasi khususnya obat kadaluarsa.
Sasaran yang dicapai adalah di Instalasi Farmasi meliputi petugas, alat-alat dan
lingkungan sekitar Farmasi.

14
 Monitoring pembuangan sampah infeksius dan cairan tubuh.
Sasaran yang dicapai adalah di ruang-ruang perawatan dan laboratorium.
 Monitoring penanganan pembuangan darah dan komponen darah.

Sasaran yang dicapai adalah di laboratorium. meliputi petugas, darah dan komponen
darah serta lingkungan di sekitarnya.

 Monitoring pembuangan benda tajam dan jarum.


Sasaran yang dicapai adalah di ruang perawatan, laboratorium dan incenerator meliputi
petugas, tempat sampah benda tajam/sharp box dan lingkungan.
 Monitoring penggunaan ruang isolasi.
Sasaran yang dicapai adalah di Ruang Isolasi khususnya di ruangan bertekanan negatif
untuk pasien dengan kasus airborne diseases dan Ruang Isolasi bertekanan positif
untuk pasien-pasien immunocompromissed.
 Monitoring ruang intensif
Sasaran yang dicapai adalah petugas dan pengelolaan pasien di ruang intensif.
 Monitoring kamar operasi
Sasaran yang ingin dicapai adalah pada petugas dan pengelolaan pasien di kamar
operasi terutama tentang pengelolaan pasien dengan kasus penyakit menular.
 Monitoring pelaksanaan renovasi/rekontruksi bangunan di RSUD Ogan Ilir
Sasaran yang dicapai adalah bila ada kegiatan renovasi/rekontruksi seperti
pembongkaran gedung (demolution), perbaikan gedung, penambahan bagian dari
gedung utama dan atau pembangunan gedung baru.
b. Area Staf
 Monitoring pencatatan dan pelaporan tertusuk jarum.
Sasaran yang dicapai adalah di ruang perawatan, laboratorium dan radiologi meliputi
hasil dokumentasi pencatatan dan pelaporan insiden sehingga semua insiden dapat
terlaporkan (100%).
a. Area Pengunjung
 Monitoring penerapan PPI di area pengunjung
Sasaran yang ingin dicapai adalah seluruh pengunjung yang datang ke RS.
3. Meningkatkan kualitas/kompetensi petugas Tim PPI
a. Membuat usulan pelatihan lanjutan bagi tenaga IPCN.
Sasaran yang dicapai adalah petugas IPCN (1 orang) dapat mengikuti pelatihan
lanjutan.
b. Membuat usulan pelatihan dasar PPI bagi tenaga IPCLN.
Sasaran yang dicapai adalah >90% dari petugas IPCLN dapat mengikuti dan memiliki
sertifikasi pelatihan PPI Dasar dalam 1 tahun.
c. Membuat pelatihan berkesinambungan (in house training) tentang PPI bagi seluruh
petugas rumah sakit (medis dan non medis).

Sasaran yang dicapai adalah >80% petugas di RSUD Ogan Ilir dapat mengikuti kegiatan in
house training dan kegiatan dapat terlaksana minimal 1 kali dalam setahun.
15
C. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN

Evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali atau 2 (dua) kali setahun
yang dilakukan oleh IPCN (perawat pengendali infeksi) dibawah koordinasi Tim PPI dan Komite
PPI. Laporan evaluasi pelaksanaan kegiatan dibuat sesuai pelaksanaan evaluasi kegiatan
ditujukan kepada Komite PPI RSUD Badung Mangusada, menyangkut jadwal pelaksanaannya
serta elemen kegiatan yang sudah/belum/tidak dapat dilaksanakan agar dapat dilakukan
perbaikan bila mana perlu.

D. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


1. Pencatatan
a. Setiap hari IPCN mencatat data infeksi rumah sakit di unit-unit pelayanan (surveilans)
dengan formulir harian dari Komite PPI, mendokumentasikan hasil audit kepatuhan
kebersihan tangan, kepatuhan APD, kepatuhan penerapan SOP/kebijakan PPI dan
atau monitoring penerapan PPI di semua unit pelayanan.
b. Data yang terkumpul akan dibuatkan analisa dengan anggota Tim PPI dan Komite
PPI.

2. Pelaporan
a. Setiap 1 (satu) bulan sekali data dikumpulkan dan dibuatkan laporan oleh Tim PPI
untuk didiskusikan dengan Komite PPI dan selanjutnya laporan dikirim ke Direktur
RSUD Badung Mangusada ditembuskan ke semua Direksi, Bidang Keperawatan,
Bidang Pelayanan Medis dan Unit Penjamin Mutu.
b. Data kepatuhan kebersihan tangan dikumpulkan selama periode 3 bulan, dianalisa
dan didiskusikan dengan Tim PPI dan Komite PPI, selanjutnya dibuatkan laporan
yang dikirim ke Direktur RSUD Badung Mangusada ditembuskan ke semua Direksi,
Bidang Keperawatan, Bidang Pelayanan Medis dan Unit Penjamin Mutu.
c. Setiap 1 (satu) tahun semua pelaksanaan program Komite PPI dibuatkan Laporan
Tahunan yang akan dikirim kepada Direktur RSUD Ogan Ilir.
3. Evaluasi
a. Evaluasi Proses
 Semua kegiatan program berjalan sesuai jadwal.
 Formulir terisi sesuai surveilans dan audit PPI.
b. Evaluasi Hasil
 Hasil kegiatan program PPI tiap bulan akan dilakukan feed back oleh Direksi
dalam hal ini Direktur Medik dan Keperawatan untuk dilakukan tindak lanjut oleh
Komite PPI.
c. Hasil kegiatan pelaksanaan program PPI dalam satu tahun akan dilakukan feedback
oleh Direktur RSUD Ogan Ilir.
d.

16
E. PENUTUP

Program Komite PPI di RSUD Ogan Ilir yang disusun untuk tahun 2018 meliputi kegiatan rutin
yang sudah berjalan untuk pengendalian infeksi dan kegiatan yang baru diterapkan atau
bersifat pengembangan untuk peningkatan mutu pelayanan yang berkaitan dengan
pencegahan dan pengendalian infeksi.

Program Komite PPI tahun 2018 ini berisi tentang rencana kegiatan yang akan dilaksanakan
yang disusun secara rinci yang dipergunakan untuk mencapai tujuan Komite PPI RSUD Ogan
Ilir.

Rencana kegiatan tersebut meliputi:

1. Menurunkan angka insiden infeksi rumah sakit (IRS/incident rate HAIs) meliputi:
a. Surveilans data IRS.
b. Investigasi outbreak/kejadian luar biasa (KLB).
c. Audit yang meliputi audit kepatuhan kebersihan tangan dan audit pemakaian alat
pelindung diri (APD) di semua unit perawatan.
d. Edukasi PPI bagi masyarakat rumah sakit (petugas, peserta didik, pasien,
pengunjung/keluarga pasien dan petugas fasilitas pendukung seperti kantin/kafetaria,
bank ataupun petugas parkir.
2. Memaksimalkan penerapan kebijakan, pedoman dan atau SOP tentang PPI di semua
unit pelayanan melalui kegiatan monitoring.
3. Memaksimalkan penerapan kebijakan,pedoman dan atau SOP tentang PPI di semua
area pengunjung melalui kegiatan monitoring.
4. Mengembangkan fasilitas pendukung pelaksanaan/penerapan PPI di unit-unit
pelayanan.
5. Meningkatkan kualitas/kompetensi petugas Tim PPI melalui pelatihan lanjutan bagi
tenaga IPCN, pelatihan dasar PPI bagi tenaga IPCLN, in house training tentang PPI,
mengikuti seminar/simposium/work shop tentang PPI baik nasional maupun
internasional.

17