Anda di halaman 1dari 268
DR.H.J. DE GRAAF Rena ied Pr eee te CoC e nce Pen Mn urea g dinobatkan menjadi Sunan Yer teaten cece en Ot ae Cum cst NMC ce Near tats Oot cane ae Pe eee tee rt a Pere eet Te oe nyataannya, kekuasaan_ politik N eteto Ms tame teat am Cea Pa eee eae Greten Ty sts See Rue es Preece emer aetna et re ett OCU ea ee OMe On eet ene any entre aes serene Ue Me AMET ec RRS Mor cum rate sumber-sumber bai Eropa maupun Jawa. Menyandang gelar ORC uk CRmen een rine Tin ol Rotterdam pada 2 Nesemper.1899 ini mulai belajar bahasa Or Ue eT ot ee ews Ck: yee CSO et ER CU ee cue Cem Ret ene teu eee Cora cnn ere ot Pere a RCC Coet te mets Pulang ke Indonesia, ia semakin giat menggeluti sejarah Kary Recut ete cree ROM Tre cee Erate Pre em eee a ey Pee eeeaeteer Per emenn rena Dee ee ce Me eet eee re aCe Cane este ett eet DISINTEGRASI MATARAM DI DAWAH MANGK' elena lly - = eBUKL: - } | KOLEKS! CADANGAN cache i} SERI TERJEMAHAN JAVANOLOGI Hasil Kerja Sama Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara dengan Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal, Land—en Volkenkunde DISINTEGR ASI MATARAM DI BAWAH MANGKURAT | * ” oleh Se DR.H.J. DE GRAAF Srafitipers * Perpustakaan Nasional : katalog delem terbitan (KDT) GRAAF, H.J.de Disintegerasi Mataram dibawah Mangkurat | / oleh H.J. De Graaf; terjemehan, Pustaka Grafitipers dan KITLV. —— Jakarta: Pustaka Grafitipers xi, 254 hal. ; 21 cm. Judul asli : De regering van Sunan Mangkurat | ‘Tegal—Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677. ISBN 979-444-020-5. 1, Indonesia — Sejarah — Jaman kuno — Mataram. 1. Judul, 1. Pustaka Grafitipers (penerbit). IM, Koninklijk Instituut voor Taal —, Land en Votkenkunde. 969.853 11 ' * DISINTEGRAS! MATARAM Di BAWAH MANGKURAT HJ. De Graaf Dari Judul asli De regering van Sunan Mangku-Rat | Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677. 1. De ontbinding van het rik. Diterbitkan sebagai No. 33 seri Verhandelingen van het KITLV ©1961, KITLV, Leiden Terjemahan bahasa Indonesia: Pustaka Grafitipers dan KITLV *. No. 057/87 <__Kulit Muka: Edi RM Penerbit PT Pustaka Grafitipers Kelapa Gading Boulevard Tn—2 No. 14~15 Perumahan Kelapa Gading Permai Jakarta 14240 Anggota Ikapi p Cetakan Pertama 1987 - Percetakan PT Temprint, Jakarta “Brgy, CMWENSITAS 6ADUAH MADA : UPT . PERPUSTAKAAN Jawa-Mataram yang ditulis oleh H.J. de Graaf (dua di antaranya, yaitu mengenai Panembahan Senapati dan Sultan Agung, juga telah diterbitkan terjemahannya olch Pustaka Grafitipers), buku yang menyangkut awal masa pemerintahan Mangkurat I ini pun merupakan dokumentasi sejarah yang penting. Sepanjang mengenai Mataram sebagai kategori sejarah, memang baru De Graaf yang telah melakukan penulisan historiografis yang menyeluruh dan relatif lengkap. Padahal, seperti diketahui, Mataram adalah salah satu kerajaan besar yang pernah hadir di bumi pertiwi, dan, tidak disangsikan lagi, pengaruhnya masih membekas hingga sckarang. , Seri buku-buku karya De Graaf ini semakin bertambah penting untuk diikyti tatkala kian banyak pengamat melihat adanya benang merah yang mempertautkan budaya politik Indonesia mutakhir dengan masa lampau. Bahkan sebegitu jauh, apa yang sckarang dianggap budaya (politik) Jawa di dalam sistem politik Indonesia pada dasarnya adalah suatu abstraksi dari perkembangan sosok budaya pada masa Kerajaan Mataram. Maka, setiap upaya menerapkan pendekatan kultural dalam menelusuri perkembangan politik di tanah air harus pula banyak menyelami sejarah Mataram yanag pernah aktif dan ekspansif itu. Sudah barang tentu, pendekatan kultural tersebut mengandaikan bahwa di dalam Kerajaan Mataram sepanjang kehadirannya berlaku suatu pola kehidupan (budaya) politik yang tidak berubah-ubah. Di dalam realitas politik yang bagaimanapun sarat akan gejolak, tidak demikian halnya. Setidak-tidaknya, di balik pola umum (ideal type) yang S= halnya dengan buku-buku lain tentang raja-raja dianggap berlaku tadi terdapat berbagai nuansa yang tcrutama disebab- kan olch pelaku-pelaku scjarah yang berbeda, malah bukan mustahil di sana-sini terjadi penyimpangan-penyimpangan. Buku ketiga tentang Mataram ini, yang isinya tcrfokus pada Susuhunan Mangkurat Ty sedikit-banyaknya memperlihatkan adanya penyimpangan-penyimpangan. Bagaikan mengclakkan suatu kesinam- -bungan, Susuhunan yang konon mendcrita kelainan jiwa ini memak- sakan untuk membangun suaw istana baru yang pada gilirannya menimbulkan pendcritaan rakyat banyak. Sang raja, yang dalam alam pikiran Jawa_merupakan..pusat-jagatkecil dan karenanya wajib memelihara ketcrtiban dan ketentcraman negara, justru memerintah dengan dengki dan penuh purbasangka. Akibatnya, tidak bisa dihindari, kekuasaan politik Mataram mengalami crosi. — Semuanya itu dilukiskan dengan rinci dan menarik. Melalui buku ini, sekali lagi De Graaf membuktikan kemampuannya yang tiada duanya dalam menggali sumber-sumber scjarah yang tersedia. Jakarta, April 1987 7" - - nla © « ud ~~ i owe 8 r ay - “i > - - Daftar Isi Pengantar Penerbit Pendahutuan Bab I Masa Muda dan Penobatan Sunan Mangkurat Tegalwangi Bab I Keraton Plered dan Para Pejabat yang Terkeruka Bab III Tindakan-Tindakan Pertama Pemerintah Bab IV Hubungan dengan Banten dan Bali Bab V Politik Mataram di Sumatera Bab VI Hubungan Mataram dengan Kalimantan dan Sulawesi Bab VII Persahabatan dengan Kompeni Bab VIII Sistem Dua Penguasa Pesisir Bab IX Konflik Pertama Bab X Sistem Empat Penguasa Pesisir yang Terkemuka Bab XI Konflik Kedua vil il 26 45 61 7 85 114 122 152 Bab XII Pembuka Kembali Loji Kompeni Bab XIII Kepala Daerah Kiai Wiradika dan Para Pedagang—Penguasa Bab XIV Syahbandar Wiraatmaka dan Para Penguasa Daerah Pedalaman Daftar Singkatan Daftar Pustaka Indeks Pendahuluan kesulitan-kesulitan tertentu, baik disebabkan oleh keadaan bahannya maupun karena sumber-sumber bahan itu sendiri. Mengenai sumber-sumber Jawa, cerita-cerita tutur sckitar pemerin- tahan Sunan Mangkurat Tegalwangi, rupanya baru tertulis beberapa puluh tahun sesudah kematian Raja yang tragis itu. Dan karena itulah, sumber ini menjadi lebih ringkas dari yang sebenarnya kita kehendaki. Sama sekali tidak terdapat pencatatan fakta dari tahun ke tahun, seperti yang dilakukan mengenai masa paruh pertama pemerintahan ayahnya. Yang dicatat hanyalah beberapa peristiwa dinasti yang penting-penting dan mencolok. Selain itu dapat pula dipastikan bahwa ada beberapa kisah yang dicampuradukkan schingga urutan kronologis tidak lagi diperhatikan; dan beberapa rangkaian fakta tertentu, misalnya mengenai paman Raja, yaitu Pangeran Purbaya, tokoh utama dalam cerita-cerita tutur itu, tidak dimasukkan atau sifatnya diubah. Tambahan yang sangat berguna mungkin dapat diperoleh dari babad-babad tahunan, yang mencantumkan fakta-fakta dari tahun ke tahun, sekiranya kejadian- kejadian itu tidak digambarkan dengan terlalu singkat, sehingga sering kali orang harus mengira-ngira tentang kejadian yang sebenarnya. Yang relatif kaya ialah sumber-sumber Belanda, karena sejak didirikannya sebuah kantor Kompeni di Jepara ada perutusan Belanda ke Mataram sebanyak sembilan kali sejak tahun 1651, dengan hanya sekali terputus pada tahun 1660-1662. Walaupun demikian, kekurangan- kckurangan tetap saja ada. Tentang’perutusan kedua di bawah pimpinan Van Goens (1649), dan yang tentunya sangat penting itu, laporannya xX K etika menyusun jilid ketiga "Raja-raja Mataram” timbullah dikabarkan hilang, mungkin rusak dimakan air. Surat-surat dari Jepara baru sejak 1664 tersimpan utuh dalam buku surat-masuk Batavia. Mengenai tahun-tahun sebelumnya kita harus merasa puas dengan ringkasan-ringkasan pada Catatan Harian Batavia (Daghregister), namun yang masih tersimpan hanyalah tahun-tahun 1648, 1653, 1656-1657, 1659, 1661, 1663 dan seterusnya. Untuk tahun-tahun yang tidak ada, kita harus puas dengan resolusi-resolusi, surat-surat dinas biasa, dan buku surat-keluar. Para pencatat berita Belanda kita tidak semua abli atau berpengetahu- an baik. Hanya seorang, yaitu Residen Jepara, Jacob Couper, yang mengerti dengan baik bahasa Jawa, tetapi yang lain harus memakai bahasa Melayu. Kecuali Rijklof van Goens, yang telah lima kali berkunjung ke kota keraton, semua utusan lainnya baru satu kali saja mengunjungi Mataram, schingga mereka tidak bisa memanfaatkan pengalaman yang terkumpul. Beberapa orang residen, tidak semua, sama sekali tidak memenuhi syarat, belum terhitung kekurangan-kekurangan mereka lainnya, misalnya Bernhard Volsch dan David Luton. Keterang- an yang mereka berikan tentulah sesuai dengan keadaan mereka itu. Yang tersebut belakangan memang juga mendapat peringatan untuk lebih rajin menulis. Tampaknya lingkup pandang pencatat-pencatat berita Belanda ini pun terbatas. Tugas mereka yang terpenting adalah agar perwakilan Kompeni di Jepara mengenai sasarannya, yakni mencari untung. Di samping itu, mereka juga membuat banyak berita politik, sepanjang berita itu penting artinya bagi perdagangan. Karena mempunyai banyak mata-mata dan penerjemah, mereka cukup banyak juga mengetahui tentang Jepara dan daerah sekitarnya, juga ada sedikit tentang keraton di Jawa Tengah Selatan dan penduduknya. Akan tetapi tentang sebagian besar Jawa lainnya, umumnya masih tetap diselubungi kabut, sehingga tidak membantu pandangan kita sama sekali. Terutama kita ingin sekali mengetahui lebih banyak tentang yang telah kita ketahui sekarang mengenai kejadian-kejadian di Jawa Timur, tempat dimulainya pembe- rontakan besar terhadap Kerajaan Mataram itu. Karena cara pemberita- an yang hanya sepihak ini, maka timbul bahaya kalau-kalau kita akan memberikan arti yang terlalu besar kepada peristiwa-peristiwa di Jepara. Hampir tidak terdapat sama sekali sumber lain kecuali apa yang telah disebutkan di atas. Portugis rupanya tidak mempunyai perhatian sama sekali terhadap Jawa. Inggris, sampai tahun 1652, masih mempunyai sebuah kantor perwakilan kecil di Jepara, tetapi kemudian ditendang ke luar karena sebab-sebab yang tidak diketahui. Sumber-sumber tercetak tidak memberikan kesan tentang adanya banyak berita yang x berkaitan mengenai Mataram dan Keraton Mataram tersimpan di London, kecuali barangkali catatan-catatan lepas. Merupakan kesulitan tersendiri pula bahwa sekalipun memang banyak terdapat catatan mengenai pernyataan-pernyataan dari Susu- hunan, pernyataan-pernyataan itu memerlukan penafsiran khusus untuk dapat dinilai dengan secara tepat, serta dapat diketahui maksud-maksud yang sebenarnya. Akhirnya kita menghadapi kesulitan bahwa pémegang peran utama dalam buku ini adalah seorang penderita sakit jiwa, yang tindakan serta kata-katanya tidak dapat diukur dengan tolok ukur biasa. Itulah sebabnya kadang-kadang diperlukan penjelasan yang panjang lebar, agar dapat ditarik kesimpulan dari bahan-bahan yang sangat tercerai-be- rai itu. Maka, seyogyanya dikutip setepatnya semua pernyataan yang telah tercatat dari tokoh utama tersebut, dan karena itu pula ternyata tidak mungkin memasukkan semua data dan penjelasan dalam satu jilid. Dengan demikian, uraian kami mengenai Sunan Mangkurat I dibagi dalam dua jilid. Jilid pertama akan memuat: setelah suatu pendahuluan tentang kelahiran, pemberian nama, dan masa muda Sunan, suatu gambaran mengenai Keraton Plered dan abdi-abdi istana yang terpenting. Bagian lainnya dari jilid ini memuat hubungan Mataram dengan dunia luar, yaitu dengan kerajaan-kerajaan Indonesia lainnya: Banten, Bali dan Blambangan, Palembang, Jambi, Kalimantan dan Makassar. Tetapi tempat yang paling luas diisi dengan hubungan antara Sunan dan VOC. Tidak hanya karena tentang hal inilah terbanyak berita yang tentunya kami peroleh, melainkan juga karena dalam alam pikiran Raja, Kompeni mengambil tempat yang semakin besar. Dalam jilid kedua akan Iebih ditampilkan sejarah dalam negeri kerajaan itu, yang berakhir dengan pemberontakan besar yang mengaki- batkan runtuhnya Keraton Mataram. XI BabI Masa Muda dan Penobatan Sunan Mangkurat Tegalwangi I-1 Kelahiran dan pemberian nama lah anak tertua dari ayahnya, Sultan Agung, melainkan anak yang kesepuluh. Tetapi ia anak kedua dari permaisuri kedua, Raden Ayu Wetan. Permaisuri yang pertama bernama Kanjeng Ratu Kulon, yang menurut sebuah naskah (tersimpan di KITLV), bernama Ratu Emas Tinumpak. Tetapi setelah melahirkan putranya, Raden Mas Sahwawrat, ia diusir dari Keraton entah karena alasan apa. Setelah itu tempatnya diisi oleh permaisuri yang kedua. Sementara asal-usul permaisuri pertama tidak disebut, asal-usul yang kedua diketahui. Ia seorang putri keturunan Kerajaan Batang. Dalam terbitan lain kami kemukakan keberatan bahwa Van Goens, memasti- kannya sebagai putri Kerajaan Cirebon (Goens, Gezantschapsreizen, him. 60 dan 240). Soalnya, pada pendapat kami, memang putri itu kelahiran Girebon, tetapi diberi nama menurut sebuah apanage (daerah taklukan) di Batang. Setelah permaisuri yang pertama keluar meninggalkan Keraton, gelar namanya sebagai Raden Ayu Wetan kiranya diganti denga Kanjeng Ratu Kulon. Suaminya meninggal terlebih dahulu dan ia sendiri tutup usia pada tahun 1575 J. (1652 M.). Putranya yang tertua lahir sekitar tahun 1619. Anak ini mula-mula diberi nama Raden Mas Sayidin, jadi nama Arab. Lalu diberi nama Jibus, kemudian Rangkah (semak berduri, tutup batas). Sebagai putra mahkota secara resmi ia dinamakan Pangeran Aria Mataram. Lama setelah ia meninggal dan tidak sebelum abad ke-18, tampil_ Mangkurat, yaitu nama yang dipakai putranya segera setelah naik tahta. Untuk membedakan dirinya dari Mangkurat-Mangkurat yang kemudian, 1 S unan Mataram, terkenal sebagai Mangkurat Tegalwangi, bukan- namanya ditambahkan scbutan Tegalarum (menurut tempat ia dima- kamkan) atau Agung. Putra kedua Ratu Kulon disebut dalam cerita-cerita tutur tradisional dan Sadjarah Dalem scbagai Raden Mas Alit (kecil), tetapi Van Gocns mengenal sebuah nama yang artinya justru sebaliknya, yaitu Raden Ageng (Goens, Gezantschapsreizen, him. 246). Pendidikan anak ini diserahkan kepada patih Tumenggung Danupaya yang, menurut anggapan salah Van Gocns, mungkin juga tclah mendidik putra mahkota. Sejak itu ia kadang-kadang dikenal sebagai Pangeran Danu- paya. Babad Sangkala membcrikan scbagai tahun kelahirannya 1553 J. (1631 M.), yang tampaknya agak lambat : I-2 Masa muda Mengenai masa muda putra mahkota saya menunjuk, untuk singkat- nya, kepada uraian saya tentang hal ini dalam Sultan Agung (him. 247-253) sekalipun saya harus menyimpang dalam beberapa hal. Mulai umur 5 sampai 15 tahun, jadi dari 1624 sampai 1634, putra mahkota dididik oleh seorang Tumenggung Mataram yang tua, yang sudah dikenal Van Goens sejak tahun 1649. Tumenggung ini pastilah bukan Tumenggung Danupaya, guru Pangcran Alit, sckalipun Van Goens menyebutnya sebagai "guru mereka berdua”’, mungkin karena ia juga menjadi Tumenggung Mataram antara 1629 dan 1637. Sclain itu, tawanan-tawanan Belanda yang mau (atau harus) mengabdi pada putra mahkota, mungkin juga mempunyai pengaruh pada anak muda itu. Setelah ia dewasa, Sultan Agung mengawinkan putra mahkota pada tahun 1643 dengan seorang putri Pangeran Pckik, yang mungkin sckali bukan anak perkawinannya dengan adik perempuan Sultan Agung, Ratu Pandansari (Graaf, Sultan Agung, him. 212). Dengan cara demikian terjadilah ikatan antara Kerajaan Mataram dan Kerajaan Surabaya. Anak pertama dari perkawinan ini meninggal dalam usia muda; anak yang, kemudian menjadi Sunan Mangkurat I. Empat puluh hari setelah melahirkafianak itu, ibunya meninggal. Pada tahun 1637, putra mahkota menjadi pusat suatu komplotan intrik istana yang gawat. Tumenggung Danupaya dan Tumenggung Sura Agul-Agul, yang pada tahun 1629 turut menyerang Belanda di Batavia, terlibat dalam komplotan itu. Menurut Antonie Paulo, pemimpin para tawanan Belanda, kiranya berlaku zina. Sehubungan dengan ini, Van Goens menycbutkan, kemungkinan putra mahkota menculik istri tercantik Tumenggung Wiraguna. Pendukung-pendukung adiknya, Pangeran Alit, antara lain tentunya Tumenggung Danupaya, melapor- kan hal itu kepada Raja, dengan harapan bahwa hak-hak putra mahkota 2 akan dicabut dan akan digantikan oleh Pangeran Alit. Harapan yang sia-sia! Sunan memarahi kedua belah pihak, tetapi mempertahankan putra mahkota, sekalipun yang terakhir ini selama beberapa waktu dibuang dari Keraton. Putra mahkota setelah itu kembali menerima bimbingan dari gurunya, Tumenggung Mataram yang tua itu. Tumeng- gung Wiraguna yang dalam keadaan marah membunuh istrinya yang dikembalikan oleh putra mahkota, diberi peringatan keras olch Raja, tetapi tidak dihukum. Menurut berita dari para tawanan, persoalan itu sebenarnya diselesai- kan dengan lebih keras. Dua puluh pengabdi istana putra mahkota — yang turut serta dalam penculikan? — dibunuh. Tumenggung Danupaya harus membayar denda yang berat, seperti juga halnya dengan Tumenggung Sura Agul-Agul, tetapi tidak diketahui entah karena apa. Sclain itu Sura Agul-Agul disuruh berjuang mati-matian merebut Batavia. Dan demikianlah dilakukannya. I-3 Pengangkatan Setelah kejadian-kejadian dramatis pada tahun 1637, putra mahkota berada di belakang layar sampai penabalannya yang khidmat pada tahun 1646. Tentang hal ini ada diceritakan dari sumber Jawa yang bertanggal muda dan berita Belanda yang lebih tua dari Van Goens, yang tentunya memperolch keterangan itu dari sumber-sumber Jawa. Dalam tulisan- nya, Corte Beschrijvinge (Goens, Gezantschapsreizen, him, 199), utusan Belanda ini memberi keterangan sebagai berikut: Lima tahun setelah putra mahkota kembali di Keraton, pada tahun 1640, Sultan Agung meninggal. Sebelumnya ia telah mengatur masalah penggantinya. "Suksesi ini terjadi selama sang ayah sakit,” dinyatakan dengan tegas oleh Van Goens, sedangkan dalam laporan perjalanannya (Goens, Gezantschapsreizen, him. 244) ditulisnya bahwa "Mengenai putranya yang muda ini . . . diusahakannya dengan sangat hati-hati dan bijaksana, supaya kekuasaan putranya atas kerajaan Jawa bahkan juga mendapat dukungan dari Wiraguna.” Jadi, Van Goens memuji pandangan Raja yang melihat jauh ke depan, yang meminta dukungan ‘Tumenggung Wiraguna supaya peralihan kekuasaannya kepada putra- nya berjalan dengan lancar. Sebab, Sultan Agung merasa khawatir akan terjadi pertikaian antara kedua putranya dan paman mereka, Pangeran Purbaya, kakak sulungnya sendiri. Maka, dipanggillah abdi-abdi utamanya yang terkemuka, seorang pangeran yang tidak disebut namanya. Tumenggung Wiraguna termasuk yang terpenting di antara mereka, dan juga Pangeran Purbaya. Mereka diperintahkan agar menyetujui pengangkatan putra sulungnya. Kemudian mereka ditahan 3 beberapa hari di Keraton supaya tidak dapat mengadakan komplotan dan kerusuhan. Sementara itu, semua pintu gerbang dijaga keras oleh para perwira, dan sebagian terbesar tentara disiapsiagakan di bawah Tumenggung Wiraguna. Mercka juga menjaga tempat-tempat pe- nyimpanan senjata dan mesiu untuk kepentingan raja muda. Segera sctclah meninggalnya Sultan Agung, raja yang baru memper- lihatkan diri dengan para pengawal ayahnya di balai pertemuan yaitu di Sitinggil. Di sini ia mencrima ucapan sclamat dan janji scti: dengan seluruh jiwa dan raga” dari para pejabat tinggi. Pad kesempatan itu pula ia memperoleh nama Susuhunan Ingalaga Ma- taram. 7 Sctelah itu Pangeran Purbaya memohon dengan sangat supaya R berkenan memberi perhatian kepada anaknya dan cucunya, sebagai anggota-anggota keluarga yang akan mengabdi dengan segala kesetiaan. Bahkan ia menggunakan kesempatan itu untuk mcmohon supaya Raja janganlah membuang "kakak””-nya, tetapi supaya mau bercermin pada ayahnya. Ayahnya selalu amat mencintainya (yakni Purbaya), sckalipun ia lebih tua, dan bahkan dinaikkan kedudukannya. Karena terke: och kata-kata ini, maka saudaranya yang tidak hadir — suatu pertanda yang tidak baik! — dipanggil, dan diperingatkan supaya mengikuti jejak pamannya, yang, sckalipun berusia lebih tua, tetap menghormati, dan menjunjung tinggi ayah mercka berdua itu dan sclalu memberika nasihat-nasihat yang baik kepadanya. Setelah segala sesuatunya usai, semua abdi utama tanpa kecuali menghampiri raja yang baru sambil mcrangkak untuk mencium kakinya. Akan tetapi cara penghormatan seperti itu tidak diminta Sunan dari pamannya atau adiknya. Apakah mercka itu dianggapnya takkan bersedia merendahkan diri sedemikian rupa? Setclah itu, diucapkan pidato kerajaan yang ditujukan kepada penasihat-penasihat tua ayah- nya, dan ia berjanji akan menghormati mereka lebih daripada orang lain. Akhirnya ia menaikkan pangkat beberapa abdi utama, a.l. Tumenggung Wiraguna. Baru setelah itu pintu-pintu gerbang dibuka kembali dan dimulailah dengan upacara kenegaraan pemakaman ayahnya, yang berlangsung dengan segala kebesaran dan kemegahan. Kesemuanya ini tampaknya bukan tidak masuk akal. Memang ditemukan banyak ciri khas Jawa dalam laporan itu. Bahwa Sultan Agung menjelang meninggalnya mengatur masalah penggantinya de- ngan dihadiri abdi-abdi utamanya, menambah kesan tentang betapa besar kebijaksanaannya yang jarang sckali meleset. Bahwa pembesar- pembesar yang dicurigai tidak diperkenankan meninggalkan Keraton, merupakan suatu tindakan yang kelak berkali-kali akan ditemukan 4 kembali. Pekerjaan ‘Tumenggung Wiraguna digambarkan dengan baik sckali: ia scorang panglima tentara yang sangat berkuasa. Peristiwa naik tahta memang biasa disertai dengan penerimaan nama baru, dan - kenaikan pangkat para putra raja. Pemberian hormat dan pernyataan setia dengan seluruh jiwa raga, seperti yang ditunjukkan olch para pembesar, kelak berulang kali akan terdapat kembali (Goens, Ge cantschapsreizen, him. 200, cat. 1 dan 2) perlu dikemukakan sesuatu tentang para pembesar atau abdi utama yang, menurut Van Goens, turut menyaksikan peristiwa penabal- an Raja, yaitu ‘Tumenggung Wiraguna dan Pangeran Purbaya. I-4 Tumenggung Wiraguna Seperti telah kita lihat dalam Sultan Agung (Graaf, Sultan Agung), sclama asa hidup terakhir Raja, Tumenggung Wiraguna memangku suatu atan tinggi, tetapi bukan sebagai Tumenggung Mataram. Scjak tahun 1644 ia sering disebut-sebut dalam surat-surat Pemerintah Kompeni Belanda sebagai tokoh yang mempunyai hubungan baik dengannya. Sebuah dokumen, yang pada tahun 1864 diterbitkan oleh K.P. Holle (Holle, Piagem), mungkin dapat mengakhiri keraguan tentang kedudukan Tumenggung Wiraguna Dokumen ini berupa sebuah piagam yang diberikan Sultan Agung, dan berada di tangan penguasa dacrah Sukapura. Dengan akta ini R: memberi gelar Mantri Kepala (Hoo/dmantri) kepada penguasa-penguasa dacrah pertama dari Bandung, Parakan Muncang, dan Sukapura, karena sclama pemberontakan Ukur dan Sumedang mereka tetap setia kepadanya. Scmentara itu, Raja juga membebaskan mereka “dari kcharusan bekerja untuk para pembesar Mataram yang tercantum sebagai berikut: Panembahan Girebon, Pangeran Kajoran, Pangeran Blitar, Pangeran Madiun, Pancmbahan Surabaya, keempat patih Mataram: ‘Tumenggung Wiraguna, ‘Tumenggung Tanpasisingan, Tu- menggung Saloran, dan Tumenggung Singaranu”. Sekalipun keputusan Raja ini diberi tanggal 9 bulan Muharam tahun Alip (20 April 1641), yang diceritakannya mungkin suatu keadaan beberapa waktu sebclumnya, karena ketika itu Raja Mataram masih dinamakan Susuhunan. Juga dapat dipastikan bahwa pada awal tahun 1642 Kiai Ngabei Dirantaka ma: menempati kedudukan sebagai Tumenggung Mataram (Jonge, Opkomst, jil. V, him, 258, cat. 3), schingga pasti belum ada cmpat serangkai. Oleh karena itu, keempat patih tersebut dapat kita bayangkan baru ada setclah Ngabei Wirantaka meninggal, yang mungkin terjadi pada tahun 1642, karena pada tahun’ 1643 ‘Tumengguny Wiraguna sudah mulai menonjol. Empat scrangkai 5 ini mungkin berkuasa selama tahun-tahun terakhir Raja yang semakin parah dan lemah keadaannya, dan pada waktu itu Tumenggung Wiraguna-lah yang paling menonjol. Dalam hal ini kedudukannya serupa dengan gubernur Jepara kemudian, Ngabei Martanata, yang juga menjadi anggota empat serangkai terscbut, tetapi lama-kelamaan dapat meningkat sampai mengatasi ketiga pembesar lainnya. Maka, tidak mengherankan kalau pada tahun 1661 ia disebut sebagai Tumenggung Wiraguna yang kedua (Daghregister, 25 November 1661). Bahwa tokoh kuat ini tidak diberi tugas sebagai Tumenggung Mataram, mungkin timbul dari kekhawatiran terhadap ambisinya. Ttulah sebabnya ditempatkan tiga pejabat di sampingnya. Tetapi karena dalam urutan nama yang tercantum di atas piagam dialah yang pertama-tama disebut, maka mungkin ia termasuk ”primus interpares”’. I-5°Pangeran Purbaya Menurut cerita tutur Jawa, ada scorang pembesar dengan nama Purbaya yang turut serta dalam perang melawan Belanda di Batavia pada tahun 1628-1629. Ia akhirnya gugur dalam pertempuran di Gegodog pada tanggal 13 Oktober 1676, sebagai seorang yang sudah lanjut usia dan telah mengabdi kepada tiga generasi raja Mataram. Apakah ia tokoh yang sama dengan Purbaya yang dalam cerita tutur maupun oleh Van Goens disebut sebagai kakak Sultan Agung, yang hadir pada upacara penobatan putranya? Pada tahun 1668, empat belas tahun setelah kunjungan terakhir Van Goens ke Keraton, ada juga tersebut seorang Pangeran Purbaya. Seorang utusan Belanda bernama Abr. Verspreet, yang dalam bulan Oktober tahun itu berkunjung ke Keraton, menyebutnya sebagai kakek putra mahkota. Dengan kata lain, ia adalah paman Sunan, dan kakak Sultan Agung (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 179). Ketika ’Pangeran Purbaya yang tua” itu delapan tahun kemudian gugur sewaktu melawan Raden Trunajaya bersama laskar Makassarnya, ia disebut beberapa kali oleh Pangeran Adipati Anom dengan kata paman, yaitu dalam sebuah surat kepada Syahbandar O. Ockersen (Daghregister, 5 November 1676). Tetapi dalam sebuah surat kepada Gubernur Jenderal ia disebut ’Pangeran Purbaya, paman yang tertua” (Daghregister, 7 November 1676). Apakah ini usaha untuk menerjemah- kan kata Jawa “embah gedhe” atau ”embah cilik’? Selain itu antara tahun 1646 dan 1676 tidak pernah ada berita tentang matinya seorang Pangeran Purbaya — padahal ia cukup. sering diberitakan — maka boleh kita tentukan bahwa semua Pangeran Purbaya yang diberitakan dalam masa itu adalah tokoh yang sama, yaitu paman 6 Susuhunan yang kemudian terkenal sebagai Mangkurat I. Sekarang timbul pertanyaan: apakah Purbaya yang kita kenal dari tahun 1646 sampai 1676 scbagai kakak Sultan Agung juga sama dengan panglima yang pada tahun 1629 turut menyerang Belanda di Batavia? Surat Pemerintah Kompeni tertanggal 15 Desember 1629 berbicara tentang "Quiay du pati Inprobaya, neve van de Mattaram”, jadi: “kanjeng Dipati ing Purbaya”. Terjemahan “neve” ini belum tentu benar, karena kata ’neef” dalam bahasa Belanda sudah tidak lagi mempunyai arti dengan batasan yang tegas. Di samping itu, orang Belanda sering membuat kesalahan dalam menerjemahkan nama-nama kekerabatan Indonesia. Dengan kata “neef” ini bisa saja dimaksudkan saudara angkat dari derajat yang lebih rendah, seperti Pangeran Purbaya dari tahun 1646 sampai 1676 bagi Sultan Agung. Karena itu, mungkin sekali Purbaya dari tahun 1629 ini pun sama dengan Purbaya dari tahun 1676, schingga cerita tutur Jawa dalam hal ini memang benar. Akhirnya harus pula diteliti, di mana di antara orang-orang lain dengan nama yang sama itu, tempat Pangeran Purbaya ini. Dalam Sadjarah Dalem ditemukan scbelum abad ke-17 tidak kurang dari empat Pangeran Purbaya. Dalam generasi 132 nomor 6 disebutkan: 1° Raden Mas Damar, kemudian Pangeran Adipati Purbaya (I), putra dari Senapati dan seorang sclir dari Giring. Pada pengangkatan Sultan Agung (sebagai Susuhunan pada tahun 1624?) ia diangkat menjadi panembahan. Dalam generasi 133 tidak ditemukan nama Purbaya, tetapi dalam generasi 134 no. 9 terdapat: 2° Matinya Panembahan Purbaya semasa Sunan Mangkurat I; 3° Raden Mas Sahwawrat, kemudian Pangeran Tumenggung Pajang, putra Sultan Agung dan Kanjeng Ratu Kulon yang dibuang itu. Setelah matinya Panembahan Purbaya II (lihat sub 2°), ialah yang menggantikannya dan mendapatkan nama Panembahan Purbaya IIL. Tetapi tak lama kemudian ia meninggal. 4° Pangeran Tumenggung Mataram, anak Panembahan Purbaya II; ia menggantikan Panembahan Purbaya IT setelah yang belakangan ini meninggal.’ Sadjarah Dalem, yang biasanya begitu lengkap, dalam generasi 133 tidak 1 Apakah ini ‘Tumenggung atau Pangeran Purbaya yang sering disebut dalam Daghregister, yang berpihak kepada Pangeran Puger dalam melawan kakaknya, Mangkurat I? 7 menyebutkan asal keturunan Panembahan Purbaya II. Karena yang disebut dalam masa Sunan Mangkurat I hanya tentang matinya saja, dan selama pemerintahan Sunan itu hanya ada satu Purbaya yang mening- gal, yaitu dalam pertempuran di Gegodog pada tanggal 13 Oktober 1676, maka Panembahan Purbaya ini mestinya sama dengan tokoh yang terdapat dalam cerita-cerita tutur dan dokumen-dokumen Kompeni sebagai kakak Sultan Agung dan putra Panembahan Krapyak. Kalau memang demikian, ketiga raja Mataram yang pertama masing-masing mempunyai seorang putra bernama Purbaya, sesuatu yang jamak. Akan kita lihat bahwa ada perbedaan besar antara gambaran Jawa tentang Panembahan Purbaya II dalam cerita-cerita tutur dan fakta- fakta yang kita ketahui tentang peri lakunya seperti yang tercatat dalam arsip Kompeni. Ia hampir selalu tergolong pada pihak oposisi, sedangkan menurut cerita-cerita tutur ia dijunjung setinggi langit sebagai pembela dan pelindung setia kemanakannya itu. Dialah yang menempatkan kemanakannya tersebut di atas dampar, di atas Sitinggil, dan memprok- lamasikannya sebagai raja dengan gelar yang gagah perkasa: Paduka Yang Mulia Susuhunan Mangkurat Senapati ing-Alaga Ngabdur Rahman Sayidin Panatagama, tetapi gelar itu ditiru dari gelar raja-raja kemudian (Meinsma, Babad, him. 146). Menurut Serat Kandha (him. 929-930), Pangeran Purbaya sendirilah yang pertama-tama duduk di tahta kerajaan dan menantang siapa saja untuk memperebutkan tahta. Setelah tidak ada seorang pun yang memberi reaksi, Pangeran Purbaya turun dari tahta, menempatkan Pangeran Adipati dari Mataram di tahta tersebut, dan kemudian mengangkatnya sebagai ’Susuhunan Amangkurat dari Mataram”. Setelah itu, dengan segala kerendahan hati duduklah ia di lantai. Semua orang yang hadir menjadi tercengang melihat kesetiaan ini. Dan mengalir doa syukur dari mulut para ulama dan pejabat tinggi. Selanjutnya terdapat berita-berita seperti biasa mengenai kemakmur- an yang semakin meningkat di dalam kerajaan, pemerintahan yang adil, dan mantapnya tindakan-tindakan pemerintah yang tetap sama seperti yang berlaku sclama masa almarhum ayah raja. Mungkin cerita tentang menduduki tahta, dan kemudian meninggal- kannya, merupakan suatu usaha menonjolkan dengan lebih tajam kesetiaan Pangeran Purbaya. Mengenai lain-lainnya, penggambaran di cerita tutur memperlihatkan ciri khasnya yang sangat berlebih- lebihan, sehingga apa yang digambarkan Van Goens boleh dianggap lebih baik. I—6 Gelar Kerajaan Mengenai gelar yang diterima raja Mataram, sudah saya tulis sebuah karangan tersendiri (Graaf, Titels”), sehingga cukup kalau diberikan suatu penjelasan singkat di sini. Raja yang muda itu menganugerahi dirinya nama yang dimiliki ayahnya sebelum pengangkatannya sebagai sultan antara tahun 1624 dan 1641, yaitu Susuhunan Ingalaga. Kiranya perlu diingat bahwa pewarisan suatu gelar kesultanan tatkala itu belum biasa terjadi di Jawa. Pengganti Sultan Banten yang meninggal pada tahun 1651 bahkan harus mendatangkan gelar itu sekali lagi dari Mekah, dan baru setelah itu ia bernama Sultan Abulfath Abdulfattah. Mungkin raja Mataram merasa Keberatan harus berusaha dan mengeluarkan banyak biaya untuk diangkat sebagai sultan oleh seorang asing, sedangkan dengan segera dan cuma-cuma ia dapat menamakan dirinya Susuhunan. Gagalnya perutus- an Arab yang kembali pada tahun 1641 tentunya tidak pula akan memberi semangat kepadanya untuk memperbarui hubungan dengan Mekah, karena berita tentang malapetaka itu tentunya sudah tersebar di mana-mana. Selain itu kita lihat bahwa raja ini kemudian sering kali berselisih dengan kaum ulama, sehingga hal ini pun dapat menimbulkan suatu perasaan kurang senang padanya mengenai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Arab. Dipakainya kembali gelar Susuhunan yang lama ini penting artinya, karena sejak it’ sebagian besar nama raja Jawa tetap Jawa, sekalipun kemudian diberi sebagai tambahan berbagai gelar dan nama Muslim. Dewasa ini raja tersebut terkenal sebagai Mangkurat: yang memangku kerajaan. Tetapi tidak ada petunjuk yang jelas bahwa nama ini pernah dipakainya selama hidupnya. Baru dalam Babad Tanah Djawi, yang dalam perempat ketiga abad ke-18 mendapat bentuknya yang definitif, ia diberi nama demikian. Dalam sebuah tulisan Kompeni tidak lama sebelum tahun 1700 sesekali ia disebut sebagai Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga. Sedangkan Valentijn memastikan bahwa tidak hanya putranya yang sekarang terkenal sebagai Mangkurat (II), melainkan ia sendiri juga menamakan dirinya demikian, “tetapi tidak terlalu berlebihan seperti anaknya”. Raja ini, segera juga setelah meninggal, dinamakan menurut tempat pemakamannya, Susuhunan Tegalwangi, dan dalam suatu daftar yang agak resmi dari tahun 1743 demikianlah namanya. Ahli Jawa Nic. Hartingh mengenal raja itu pada tahun 1761 hanya dengan nama Susuhunan Tegalwangi atau Sultan Plered. Baru melalui edisi terakhir Babad Tanah Djawi mendapat nama Mangkurat dikenal juga di dunia luar, tergabung dengan Tegalwangi atau Tegalarum. Sering ia disebut 9 secara singkat Tegalwangi saja, scperti kakeknya yang disebut Krapyak menurut tempat mangkatnya. Di samping itu, ada kalanya ia juga discbut Mangkurat Agung (Padmasoesastra, Sadjarah, generasi 134, no. 10). Sebaliknya, nama seperti Ngabdur Rahman Sayidin Panatagama harus dianggap sebagai tambahan yang diberikan lama kemudian, mencontoh gelar-gelar raja abad ke-18. Untuk mudahnya sewaktu-waktu akan kita pakai nama yang amat terkenal: Tegalwangi. Bab II Keraton Plered dan Para Pejabat yang Terkemuka II—1 Keraton dan bangunan-bangunan air ak lama setclah menerima tampuk pemerintah, Sunan mulai memindahkan keratonnya dari Kerta ke Plered. Kedua tempat ini letaknya tidak berjauhan. Van Gocns dalam waktu satu hari dapat melihat keraton yang lama dan yang baru (Gocns, Gezantschapsrei- zen, him, 63). Pemindahan ini berlangsung menurut Babad Momana dalam tahun 1570 J. (mulai 26 Januari 1648 M.). Sewaktu kunjungan perutusan Belanda pada bulan Juni 1648, pembangunan kcraton yang baru sudah banyak memperolch kemajuan. Van Goens ketika itu sudah dapat melihat tembok keliling dengan kedua pintu gerbang: yang paling banyak terpakai terletak di alun-alun utara, tempat diadakannya pertandingan tombak, dan yang satunya lagi terletak di sclatan. Keliling dalem yang persegi itu, seluas 600 Moede (2.256 meter), tepat sckali dengan peta yang dibuat lama kemudian atas dasar reruntuhannya, dan yang dilampirkan pada Louw, Java-corlog, jilid ke-2. Vidak discbutkan adanya sebuah alun-alun di sclatan. Dan memang tidak ada tempat untuk itu, karena dekat pintu gerbang selatan itu mengalir Sungai Opak. Kemudian tampak pada peta kecil itu bahwa bentuk dalem bukanlah benar-benar persegi, tctapi seperti belah ketupat; sedangkan kedua lapangan dalam, yaitu Kemandungan dan Srimenganti yang harus dilalui sebelum tiba di Prabaycksa atau istana raja itu sendiri, berada di dalam tembok kcliling. Karena Jan Vos ketika berkunjung ke Kerta hanya dapat melihat Srimenganti, maka antara lapangan dalam ini dan alun-alun masih sisipkan lagi Kemandungan. G.P. Rouffacr membuat sebuah peta sketsa keraton itu berdasarkan sisa-sisa reruntuhan yang masih dapat terlihat pada tahun 1889. Ta 1 menggambarkan di sebelah Srimenganti sebuah bangunan yang dikeli- lingi tembok, yaitu Suranatan, sedangkan di sebelah barat alun-alun digambarkannya sebuah masjid. Rouffaer memberikan keterangan pada peta ini scbagai_berikut: Tembok-tembok keraton itu, yang scbelum tahun 1889 diratakan dengan tanah, dahulu setinggi 5 sampai 6 meter dan tebalnya 1!/ meter, dibangun seluruhnya dari batu bata, dan disisipi di sana-sini (dengan) batu alam. Permukaan tembok di atas diberi penutup bersegi tiga, seluruhnya terbuat dari batu alam putih yang diberi bentuk seperti batu bata yang lebar. Rupanya, tembok-tembok masjid juga terbuat dari bahan yang sama, dan Rouffaer masih dapat mengikuti bekas tempat berdirinya tembok itu di sisi utara dan sisi barat. Juga masih dihitung dan digambarkannya 3 deretan ompak, yaitu kaki untuk tiang kayu, tetapi sebenarnya harus ada 6 buah, seperti yang juga dicatat oleh C.A. Lons, orang pertama pembuat gambar masjid ini pada tahun 1773 (Leemans, ”Tempels”, him. 7-10). Ia juga melihat adanya sebuah serambi. Semuanya ini tentu tidak sekaligus selesai. Banyak berita menerang- kan bahwa pembangunan keraton itu memakan waktu yang lama sekali. Pertama-tama disebutkan pembangunan masjid, yang dicatat oleh Babad Sangkala dan juga olch Babad Momana pada tahun 1571 J. (mulai pada tanggal 15 Januari 1649 M.). Van Goens pada kunjungannya yang pertama tentunya belum dapat melihat apa-apa. Dalam tahun Jawa berikutnya (mulai pada tanggal 4 Januari 1650 M.) menurut Babad Momana, selesai dibangun istana raja, Prabayeksa. Menurut Babad Sangkala, ini baru terjadi pada tahun 1577 J. (mulai pada tanggal November 1654 M.). Dengan demikian, kita sudah amat mendekati berita dari utusan Winrick Kieft. Ketika utusan tersebut pada tanggal 21 November 1655 tiba di keraton, Tumenggung Pati tidak mengizinkannya untuk menghadap Raja. Katanya, "Raja sedang sibuk sekali .. . membangun bersama permaisuri-permaisurinya suatu istana baru” (Fruin-Mees, ”Kicft”, hlm. 396). Beberapa pejabat tinggi yang tidak “mau turut membantu dalam pekerjaan itu disuruhnya ... ikat dan dibaringkan di pascban, dijemur dalam panas matahari””. Sekali lagi, pada tanggal 29 November, diberitakan kepada Kieft oleh para penguasa pantai bahwa Raja tidak dapat menerimanya karena terlalu sibuk membangun istana”. Bahkan para pejabat tinggi pun tidak boleh bertemu dengan Raja (Fruin-Mees, ”Kieft”, hlm. 397). Menurut sebuah berita tahun 1659 (Daghregister, 13 November 1659), tinggi tembok keraton 5 depa dan tebalnya 2 depa. Sunan kemudian. merencanakan supaya pada tembok ini ditambahkan lagi tembok yang 12 scrupa dengan suatu perisai di atasnya setinggi dada. Dan karena banyak sckali bahan yang dipcrlukan, maka setiap hari diadakan berbagai pembicaraan” Pada tahun 1589 J. (mulai 4 Juli 1666 M.) diberitakan tentang perombakan istana raja, atau mcnurut Babad Momana terbakarnya Prabaycksa, yang dihubungkan dengan berdirinya suatu bangunan baru tidak lama kemudian. Sementara itu, sudah dimulai pembangunan bagian-bagian keraton lainnya. Menurut Babad Sangkala pada tahun 1572 J. (mulai 4 Januari 1650 M.), Sitinggil bagian bawah dibangun dengan batu. Sctelah itu dikumpulkan papan-papan untuk Sitinggil, tentunya untuk mendirikan suatu apilan. Pada tahun 1574 J. (mulai 14 Desember 1651 M.) bagian witana, atau anjungan di Sitinggil, jadi memang diperbarui. Sclanjutnya diberitakan oleh Babad Sangkala schclum tahun 1576 J. (mulai 22 November 1653 M.) tentang pengambilan batu untuk karadenan, yaitu kediaman untuk putra mahkota. Putra mahkota mungkin ketika itu masih bernama Raden Mas Kuning. Karena waktu itu sedang dicarikan seorang istri baginya, maka suatu kediaman yang tersendiri tentunya akan bermanfaat sekali. Akhirnya pada tahun 1585 J. (mulai 15 Agustus 1662 M.) dibangun pula sebuah bangsal di lapangan Srimenganti. Menurut Babad B.P. (jil. X, hlm. 42), perintah untuk memindahkan keraton diberikan pada waktu diadakan audiensi besar yang pertama pada hari Senin, ketika Raja mengumumkan bahwa kota yang baru akan dibangun dari batu bata dan bernama Plered; dengan demikian ia bertindak sesuai dengan pikiran ayahnya. Mengenai hal ini scsuai dengan Serat Kandha (him. 931) membuat berita yang sama: Sunan memerintahkan ”supaya membakar banyak sckali batu bata... untuk membangun istana batu di. . . Plered””. Juga Babad Meinsma (Meinsma, Babad, him. 146) menyatakan ”Kamu sckalian . . . harus membuat batu bata, karcna saya mau ... angkat kaki dari Karta ... saya ingin membangun kota di Plered”. Discbutnya dengan tegas batu bata, mungkin akan menimbulkan dugaan bahwa bahan ini di keraton yang lama tidak memainkan peran yang begitu penting. Ini didukung oleh gambaran Jan Vos tahun 1624. Bahwa Karta sebagian besar terdiri dari kayu mungkin mempercepat kemusnahannya yang hampir tidak bersisa itu. Rouffaer dan Adam (Djawa X, him. 10) hanya mencmukan tiga pecahan bangunan kecil. Akan tetapi sebaliknya Keraton Plered pada tahun 1826 masih bisa dipakai sebagai benteng yang dapat dipcrtahankan dengan baik. Sckalipun keraton tersebut kemudian digunakan sebagai bahan untuk 13 mendirikan pabrik gula dengan nama yang sama, Rouffacr pada tahun 1889 masih jclas dapat mengenal bahan dasar yang dipakai, yaitu batu bata yang di sana-sini disisipi batu alam putih ‘Tidak kurang penting daripada bangunan-bangunan di dalam tembok keliling adalah bangunan-bangunan air di luarnya, yang schagian bahkan sudah mulai dibuat sebelum didirikannya keraton yang baru. Menurut Babad Sangkala, pada tahun 1565 J. (mulai 2 Marct 1643 M.), jadi masih dalam masa pemerintahan Sultan Agung, bendungan atau plered sudah mulai dibangun. Dan inilah yang dijadikan nama untuk keraton yang baru itu. Chronological Table susunan Raffles membenarkan berita ini adalah scbelum 1566 J. (mulai 10 Maret 1644 M.) dengan tulisan berikut: Suatu danau buatan dibangun di Plered. Menurut Babad Momana, pembuatan danau itu dilanjutkan pada tahun 1574J. (mulai 14 Desember 1651 M.) dengan pembangunan suatu bendungan besar di Segarayasa. Pada tahun 1658 pekerjaan itu diteruskan. Bahkan rakyat dari daerah Karawang dipanggil ke Mataram untuk bekerja pada bendungan itu, *schingga mereka tidak bisa menyemai dan menanam padi (Daghregister, 14 Maret 1659). Tidak mengherankan bahwa timbul kekurangan beras. Hasil jerih payah mereka agaknya berupa perluasan danau, karena menurut Daghregister tanggal 7 Juli 1659, Susuhunan dan permaisuri pergi dengan kereta ke "kolam yang baru digali”, yang empat hari kemudian akan dinamakan ”Segarayasa” (Daghregister) Pada tahun 1661 Raja sibuk sckali ”menjadikan tempat kediamannya sebuah pulau, dan menyuruh 300.000 orang bekerja pada proyck itu” (Daghregister, 12 September 1661, him. 275). Karena itu, para penguasa pantai tidak boleh meninggalkan tempat, karena mercka harus turut mengawasi pekerjaan yang sedang dilakukan di sana. Hal ini pula yang diberitakan dalam Babad Sangkala pada tahun 1683 J. (mulai 6 September 1660 M.): para penduduk pesisir dan Mancanegara bekerja membangun lagi sebuah bendungan di Jaha (?). Para (ambul Jnasing-masing mengawasi scbagian pekerjaan tertentu, tetapi baijir yang datang setclah itu menimbulkan kerusakan_besar. Dua tahun kemudian dilakukan penggalian kembali. Raja mempunyai rencana “untuk menyuruh dibuat scbuah kolam besar di belakang atau sekeliling istananya” (Daghregister, 28 Juli 1663). Beberapa bulan kemudian dikatakan bahwa Sunan mulai "pusing kepala” lagi untuk “membuat sebuah batang air di belakang istananya” (Daghrevister, 5 September 1663). ”Sckarang sepi di Mataram”, diberitakan Daghregister pada tanggal 1 Oktober 1663 (Daghregister, hlm. 466), “penggalian laut atau kolam besar Susuhunan, yang dinamakan Segarayasa dimulai 4 kembali dan disclesaikan; tctapi Susuhunan . . . tidak banyak bergairah untuk menghibur diri di sana bermain perahu, seperti biasa dilakukan- nya sebelumnya”. Demikianlah kolam diselesaikan. Berita terakhir tentang bangunan-bangunan ini termuat dalam Babad Sangkala 1589 J. (mulai 4 Juli 1666 M.) yang mengatakan bahwa Sungai Winanga tclah dibendung. / Dengan demikian, dapat kita lihat bahwa scjak berakhirnya pemerin~’ tahan Sultan Agung sampai tahun 1666, berkali-kali dilakukan pekerjaan pada kolam-kolam (danau-danau) dan bendungan-bendungan di dekat dan sckitar keraton. Danau-danau ini sebagian dipakai untuk hiburan, sebagian untuk pertahanan Ketika utusan Abraham Verspreet pada tanggal 16 Oktober 1668 berkunjung ke istana, dilaluinya jembatan di atas parit "yang menge- lilingi istana”, dan setelah itu barulah ia tiba di alun-alun (K.A., No. 1158, him. 1441 dan seterusnya). Jadi, Sunan benar-benar tinggal di atas sebuah pulau. Juga keraton berikutnya, Keraton Kartasura, dibuat mirip. Pengasingan diri dengan sengaja ini cocok seluruhnya dengan watak Sunan Tegalwangi yang tidak suka bergaul. ‘Tidak mudah kiranya, berdasarkan berita-berita yang tidak lengkap dan remang-remang ini, mencmukan kembali berbagai bendungan dan kolam itu pada peta survei. Mungkin pada tahun 1644 sudah dimulai dengan pembuatan suatu bendungan di Sungai Opak, yaitu plered yang sebenarnya, schingga terjadi suatu danau buatan. Kemudian untuk kepentingan pembangunan keraton, dibuatlah sebuah bendungan yang tidak hanya untuk mengendalikan air danau melainkan juga berfungsi melindungi keraton di sebelah selatan dan timur dari. banjir. ae Pada tahun 1659 danau itu diperluas, dengan scbagian dati scbelah timur alun-alun. Setelah itu bendungan yang lama dibobol. Pada tahun 1661 dicoba untuk mengalirkan air tidak hanya di sebelah sclatan dan timur, tetapi juga di sebelah utara dan barat. Pekerjaan yang sangat luas ini membutuhkan 300.000 tenaga kerja paksa. ‘Tetapi pada tahun 1584 J. (mulai pada tanggal 27 Agustus 1661 M.), mungkin dalam musim hujan 1661—1662, terjadi pada tengah malam banjir yang dahsyat. "Lumbung Besar” dihantam banjir, sehingga banyak orang kekurangan beras. Juga ”Bendungan Besar” disapu bersih oleh banjir itu. Baru pada tahun 1663 pekerjaan pada bangunan air itu dapat dimulai kembali dan diselesaikan dengan baik. Suatu bangunan khusus tentulah mausoleum Ratu Malang di Gunung Kelir, tidak jauh dari keraton. Pada tahun 1588 J. (mulai 14 Juli 1665 M.) 15 Ratu Mas Malang ini meninggal, dan dimakamkan di Gunung Kelir. Tiga tahun kemudian (1668 M.) mausolcumnya, Antakapura, selesai dibangun di sana”). Begitulah diberitakan Babad Momana. Inilah karya bangunan terakhir Sunan Tegalwangi yang kita ketahui. * Il—2 Para abdi terkemuka keraton Tumenggung Mataram Menurut kebiasaan peristiwa penobatan Sunan ini pun disertai dengan kenaikan kedudukan. Setidak-tidaknya hal ini dapat disimpulkan dari berbagai nama yang dipakai di dalam menyebut Tumenggung Wiraguna pada surat-menyurat Pemerintah Kompeni. Sebelum dinobatkan jadi raja, ia disebut Hakim Agung (Surat tgl. 22 Maret 1645 dalam K.A., No. 772, him. 141-144; tgl. 30 April 1646 dalam K.A. No. 773, hlm. 145), kemudian Penasihat Utama (Surat tgl. 19 Juli 1646 dalam Jonge, Opkomst, jil. V, him. 283; tgl. 25 Oktober 1646 dalam Jonge, Opkomst, jil. V, him. 295). Sekalipun nama-nama Jawa gelar-gelar ini tidak ada pada kami, dapat kami duga bahwa ada terkandung kenaikan kedudukan di dalamnya. Juga kenaikan kedudukan bagi bekas guru raja sebagai Tumenggung Mataram, bisa masuk akal. Dialah yang disebut oleh Van Goens (Gezantschapsreizen, him. 242 dan seterusnya) sebagai ”kawan akrab ayahnya dan juga kawan akrab dirinya sendiri, di samping itu juga sebagai guru dan pengasuh yang mendidiknya sejak ia berusia 5 sampai 15 tahun”, jadi dari tahun 1624 sampai 1634. Akan tetapi Tumenggung Mataram ini, seperti anggapan saya semula, tidak mungkin Tumeng- gung Danupaya yang dari tahun 1630 sampai 1636 menjadi Tumenggung Mataram, melainkan seorang pembesar dengan gelar sama yang untuk pertama kalinya dijumpai Van Goens pada tahun 1648. Selama krisis tahun 1637 putra mahkota sekali lagi minta bantuan gurunya yang tua ini, menawarkan kepadanya rakyat sebanyak 12 sampai 16 ribu orang untuk diperintah bersama, dan ’selain itu, selama 2 tahun lebih ia belajar dari Tumenggung ini seperti seorang anak belajar dari gurunya”. Hal ini tidak mungkin dilakukan Tumenggung Danupaya, yang justru pada tahun 1636 tidak dipercayai lagi oleh Raja. Dan sejak itu pasti ia iegpione, penentang, yang diam-diam bersekongkol dengan Rangeran adik mal ite arena liu, ketiha les*lwvangi taik tata; buleanldb dai Danupaya, melainkan gurunya yang tua itu diangkatnya sebagai Tumenggung Mataram. Van Goens memandang abdi istana yang selalu bertindak dengan 2 Tentang makam yang sangat petenatal lihat Adam, "Jogjakarta”, him. 154. 16 tepat ini sebagai ’seorang yang berjiwa matang, pandai bergaul, tidak mempunyai ambisi, malah bersifat lembut dan ramah sekali, dan dapat memanfaatkan dunia jauh lebih pandai daripada yang lain (Goens, Gezantschapsreizen, him. 61). Dengan ”yang lain” itu maksud Van Goens ialah saingan Tumenggung Wiraguna, yaitu Tumenggung Wirapatra. ‘Juga sebaliknya terdapat penghargaan. Tumenggung Wiraguna memperlihatkan rasa persahabatan yang sangat besar’” kepada utusan- utusan Belanda; Sebalt Wonderaer diterimanya di pintu terdalam rumahnya .. . dengan rangkulan, kemudian digandengnya sampai ke sebuah kenthil dan dipersilakannya duduk; di tempat itulah ia dan istri-istrinya biasa tidur” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 55). Lalu diperlihatkannya pula ”tanda-tanda persahabatannya yang sangat besar dengan menunjukkan keinginannya bergembira ria bersama kami menurut cara-cara Belanda”. Terlalu berlebihankah jika menganggap semuanya itu lebih dari sekadar keramahtamahan Jawa biasa? Dan bahwa abdi istana yang berjiwa matang ini berusaha sebaik-baiknya menjalin hubungan baik antara Mataram dan Batavia? Sampai tahun 1651 orang tua yang sudah beruban ini tetap mendapat kepercayaan Raja. Tetapi tidak lama sebelum perutusan Van Goens yang ketiga, yang berkunjung dalam pertengahan pertama tahun 1651 ke Mataram, ternyata bahwa ia, bersama beberapa pembesar lainnya, sudah tidak disukai lagi oleh Raja (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 80). la pun kehilangan anak buahnya sebanyak 6.000 orang dan ”direndahkan derajatnya ..., harus hidup sebagai seorang bangsawan biasa tanpa banyak kemewahan dan kehormatan”. Beberapa tahun kemudian ternyata ia meninggal karena Babad Sangkala mencatat ia tutup usia pada tahun 1572 J. (mulai 11 November 1654). Apakah ia dimakamkan di Tegalarum dekat Tegal, di tempat guru Sunan konon dimakamkan? (Meinsma, Babad, him. 177). Mungkin kedudukannya kemudian ditempati oleh Kiai Ngabei Wirapatra. Dialah satu-satunya pembesar yang disebut dalam Babad B.P. (jil. X, hlm. 70-71) sebagai scorang patih dari Mangkurat Tegalwangi. Juga diberitakan bahwa ia hanya scorang pesuruh (gandhek) dari keturunan rendah yang sangat disayangi raja dan karenanya dijadikan patih. Mengenai soal keturunan rendah ini, Van Goens, yang sering menjumpainya, juga membenarkannya. Selama perutusannya yang pertama Van Goens diundang Patih datang ke rumahnya. Tetapi karena undangan itu jarang dipenuhi, in kata-kata manis” disesalinya orang-orang Belanda, ” tanginya padahal sering berkunj rant ae 7 | (Daghregister, 12 Juli 1648, him. 144). Dengan demikian, ia berusaha menempatkan dirinya lebih penting dari Tumenggung Mataram yang tua itu. Jika Sunan menycbut orang tua itu sebagai ayahnya, maka Ngabei Wirapatra disebutnya scbagai ”kakak sulungnya”. Van Goens tidak dapat menyangkal bahwa ”kiai ini pantas juga di istana, karena dapat meningkatkan harkatnya dari rendah sehingga menjadi tinggi”. Sikap rendah hati tidak ada pada patih itu; ”ia menyebutkan dirinya seorang pandai yang lebih besar daripada . . : tumenggung (Mataram)””. Van Goens dapat menyimpulkan dari kata-katanya bahwa patih tersebut “tidak punya otak; kalaupun ada sedikit saja”. Kekurangan ini tidak menjadi rintangan baginya untuk menjadi orang kesayangan terbesar” dari Raja (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 249). Sctelah sampai larut malam berpesta di rumah Pangeran Purbaya, pamannya, pada malam berikutnya Sunan menginap di rumah orang kesayangannya tersebut (Gocns, Gecantschapsreizen, hlm. 255). Jika ia benar-benar telah "menikam” musuh terbesar Raja, yaitu Tumenggung Wiraguna, maka scharusnya ia Icbih kuat melekat di hati Raja. Juga dalam ”pembunuhan para rohaniwan” ia memainkan peran yang penting. Sayang, namanya ditemukan sudah untuk terakhir kali dalam laporan Van Goens tentang perutusannya yang ketiga (1651). Ketika itu patih tersebut, bersama pembesar-pembesar lainnya, menghidangkan buah-buahan dan lain-lain makanan kepada orang-orang Belanda (Goens, Gezantschapsreizen, him. 83). Akan tctapi setelah itu seharusnya ia masih juga memainkan peran penting. Kalau tidak, bagaimana mungkin Babad B.P. dapat menggambarkannya scbagai seorang tokoh yang terkemuka? Karena pada tahun 1648 pun ia sudah merupakan saingan Tumenggung Mataram, maka mungkin pula ia telah memperoleh kedudukan dari yang tersebut belakangan ini. Babad B.P. pun menyebut- nya sebagai patih. Bahwa namanya hilang dari dokumen-dokumen Belanda mungkin berhubungan dengan perubahan jabatan yang dipegang Tumenggung Mataram. Pada tahun 1648 kekuasaannya bahkan juga meliputi daerah laut. Ta telah mengirimkan dua orang Jawa ke Batavia (Goens, Gezantschapsreizen, him. 48, 69); semua pclabuhan laut harus me- ngirimkan “rekening” dari pajak-pajak yang mereka terima kepada »Tumenggung Mataram” (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 71). Pada tahun 1651 keadaan ini jauh berlainan, Disebutkan adanya dua ” penguasa atas pantai utara. . . (bernama Wicra dan Wiera d’ Jaya)”. Di tempat lain mereka disebut “para komisaris” (Gocns, Gezantschapsreizen, him. 223), yang membawahkan Sekclompok petugas khusus semacam ”pengawas” (dalam bahasa Jawa: lygur), yang mempunyai kekuasaan \ 18 =<‘ besar. Kalau daerah wewenang para penguasa pantai tertinggi ini meliputi ’semua provinsi utara” maka ”kelima provinsi pedalaman” berada di bawah seorang ”Tommagon” (Tumenggung); mengenai yang belakangan ini sama sekali tidak terdapat keterangan lain. Sebaliknya, ”Crappia (Krapyak) dan Mataram sendiri” berada di bawah Tumeng- gung Mataram, yang dengan demikian mengurus tanah-tanah warisan raja, yaitu Pajang (Surakarta), Mataram (Yogyakarta), dan Krapyak (Bagelen). Sckalipun daerah tugas Tumenggung Mataram diperkecil, tugasnya tidak menjadi lebih ringan, bahkan sebaliknya! Van Goens (Goens, Gezantschapsreizen, him. 226) menganggap “tugas Tumenggung Mata- m” sebagai ”yang paling berat di seluruh Kerajaan Jawa”. Hampir tidak ada waktu senggang siang dan malam bagi tumenggung itu, karena harus menjalankan segala sesuatu dengan baik dan ”memenuhi kehendak raja yang aneh-aneh”. Akan tetapi, untuk melaksanakan segala sesuatu itu ia mempunyai abdi-abdi yang cerdas dan dapat dipercaya sebagai pembantu, yang dinaikkan kedudukannya sesuai dengan hasil pekerjaannya. Masa tugas tumenggung ini pendek saja; tidak lebih dari 2 tahun. Akan tetapi sekalipun kedudukannya sudah ditempati orang lain, nama baiknya tetap dihormati”. Mengingat penciutan lapangan tugasnya ini, dapat dimengerti bahwa sejak itu para tumenggung Mataram tidak begitu sering ditemukan dalam dokumen-dokumen Kompeni, daripada para penguasa pantai tertinggi yang sering dihubungi orang-orang Belanda untuk berbagai macam urusan. Pemerintahan terpisah atas daerah-daerah pantai ini mungkin dilanjutkan selama kira-kira 10 tahun. Tetapi kekuasaan pemerintahan itu tidak selalu dipegang olch para penguasa pantai tertinggi. Setelah pelabuhan-pelabuhan ditutup dari tahun 1655 sampai 1657, kekuasaan ye diserahkan kepada empat penguasa pantai, yaitu dari Jepara, Semarang, Pati, dan Demak. Empat penguasa ini tetap penting artinya sampai pada tahun 1660 ketika pelabuhan-pelabuhan ditutup kembali, tetapi petugas-petugas kedua penguasa pantai yang tertinggi tetap memperlihatkan banyak kekuasaan atas daerah-daerah pantai. Mereka rupanya menerima perintah dari Tumenggung Mataram, yang dahulu pernah menjadi salah seorang penguasa pantai tertinggi. Dokumen-dokumen Kompeni setelah tahun 1661 kembali menyebut- kan seorang ”penguasa di Mataram”, berarti Tumenggung Mataram, yaitu Kiai Wirajaya, yang dikenal sebagai salah seorang penguasa pantai tertinggi, rekan Kiai Wira (Daghregister, 20 September 1661). Dua tahun sebelumnya, ia ternyata sudah mengeluarkan perintah 19 untuk semua daerah pantai, tetapi tidak jelas berdasarkan kekuasaan apa. Bahkan ada kemungkinan bahwa sudah pada tahun 1657 ia mengeluarkan perintah sebagai tumenggung Mataram (Daghregister, 10 November 1657, hlm. 307; 4 Desember 1657, hlm 334). Bagaimanapun, setelah tahun 1661 ia ternyata mempunyai kekuasaan besar atas dacrah pantai, schingga wewenang tumenggung Mataram rupanya telah diperluas. Seperti pada tahun 1648, utusan-utusan luar negeri = kali ini dari Palembang — menyerahkan hadiah-hadiah bukan hanya kepada Sunan, tetapi juga kepada wakilnya (Daghregister, 20 April 1664). Atas nasihat para pedagang, para residen Belanda pun menyampaikan hadiah kepada pembesar itu berupa bahan wangi-wangian "yang akan dapat memudahkan operasi. Kompeni” (Daghregister, 10 Oktober 1665): Kemudian penguasa tersebut juga berurusan dengan Circbon (Daghregis- ter, 14 Juli 1664) bahkan ia mempunyai wewenang atas Jipang (Daghregister, 4 Maret 1666). Tetapi dengan segala kekuasaannya itu ia sewaktu-waktu tidak terhindar dari hinaan dan hukuman di muka umum (Daghregister, 20 September 1661). Sckitar tanggal | April 1667 ‘Tumenggung Mataram ini, bersama beberapa pembesar lainnya dibuang ke sebuah desa di luar kota istana (Daghregister, 14 April 1667). ‘Tidak ada berita tentang rehabilitasi mereka (Daghregister, 6 Mci 1667). Bahkan sebaliknya scbelum satu tahun berlalu maka ternyata ia sudah diganti. Ia telah ditakdirkan tidak akan hidup lama. Bersama putranya ia dibunuh dengan tusukan keris pada tahun 1670 (Daghregister, 3 Juni 1670). Pada akhir tahun 1667 ada scorang “wakil raja Wicra-Carty” (Daghregister, 30 Oktober 1667) yang rupanya sangat disayangi Raja karena disebut sebagai kepercavaan Raja” (Jepara 27 Juli, 17 Agustus 1668, Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 175-176), dan “pembantu pribadi terdckat Raja” (Daghregister, | Agustus 1668). Kemudian ia discbut dengan lebih resmi: wakil raja atas Kota Mataram atau di istana (Daghregister, 20 Mci dan 30 Agustus 1672). Yang terakhir kalinya ia discbut demikian adalah pada tahun 1673 (Daghregister, 7 September 1673). Tetapi abdi Raja ini pun tidak terhindar dari takdir. Pada tahun 1675 ia dilaporkan “meninggal ditusuk dengan keris atas perintah Raja” (Daghregister, 20 April 1675). Sudah scbelum hidupnya berakhir dengan kekerasan itu, ia sudah diberhentikan sebagai Tumenggung Mataram mungkin menjelang akhir tahun 1674. Soalnya, pada bulan November 1674 sudah ada seorang »wakil raja Mataram” yang lain, yaitu "Kiai Soura Wangsa”” (Daghregis- ter, 6 Desember 1674) yang menurut keterangannya sendiri untuk pertama kalinya sckarang oleh Sunan diberi pengawasan atas gu- 20 dang-gudang Sunan” (Daghregister, 30 Desember 1674). Pemerintah Batavia menyampaikan selamat kepadanya atas ”tugasnya yang baru” itu. Doa yang bukan tidak diperlukan (Daghregister, 10 Januari 1675). Ia juga disebut sebagai pengawas gudang-gudang Sunan. Untuk mendapat lebih banyak kepercayaan, diculiknya seorang wanita untuk majikannya, istri kedua putra Kiai Wiraatmaka, Kentol Jayasuta. Kedudukan Tumenggung Mataram, tanpa disebut namanya, untuk terakhir kalinya tercantum dalam laporan Jacob Couper mengenai perutusannya ke Mataram tertanggal 15 Maret 1677 (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 102). Bagaimanapun tampak dari ikhtisar yang amat tidak lengkap di atas bahwa kedudukan sebagai tumenggung ini membawa risiko, seperti yang juga telah diduga sebelumnya oleh Van Goens. II-3 Para penguasa pantai tertinggi yang kemudian Para penguasa pantai tertinggi rupanya masih tetap ada, juga setelah hilangnya Wira dan Wirajaya. Pada tahun 1676 muncullah Rangga Sidayu dan Ngabei Singawangsa dari Pekalongan sebagai penguasa atas pesisir bagian timur dan barat. Mungkin mereka sudah lama berkuasa di daerah itu, setidak-tidaknya pada tahun 1677 Ngabei Singawangsa memberitakan kepada Kompeni bahwa Sunan ”memberi kepercayaan besar kepadanya untuk menguasai daerah pesisir” (Daghregister, 31 Mei 1670). Karenanya, ia bertanya, sambil menyampaikan sebuah hadiah, apakah yang telah terjadi dengan Makassar, ”apakah sudah pasti Makassar dikalahkan atau tidak; dan kalau sudah, pada hari apa, bulan apa, dan tahun berapa, dan apakah dikalahkan di laut atau di darat’’. Mungkin ia diberi tugas yang pelik, seperti yang dahulu diberikan kepada Tumenggung Pati yang harus menyelidiki kejadian-kejadian di Palem- bang. ¥ Kedua penguasa itu memang sudah dikenal sebelumnya. Dari Ngabei Singawangsa, kepala daerah Pekalongan, Gubernur Jenderal pada tanggal 24 Agustus 1666 (Daghregister,) menerima 2 ekor kuda, seckor lembu, 2 ekor angsa, dan 2 ekor burung merak sebagai hadiah, mungkin pada waktu penerimaan jabatannya. Rangga Sidayu pada sekitar bulan Agustus 1659 sudah disebut sebagai pengganti Wangsaraja dari Semarang yang terbunuh (Laporan Michielsen). Apakah secara kebetulan saja Raja mempercayakan penguasaan atas daerah-daerah pantai kepada para penguasa daerah kecil (Pekalongan dan Sidayu)? Menjadi pertanyaan juga apakah kecilnya daerah mereka itu sendiri tidak melemahkan wibawa mereka. Pada tahun 1676 tugas mereka ternyata bersifat khusus militer: mereka memimpin pasukan- 21 pasukan laut pesisir timur dan barat. YI—4 Organisasi pemerintahan menurut Van Goens Yang masih patut pula ditinjau secara khusus adalah susunan pemerintahan Kerajaan Mataram, seperti secara singkat digambarkan Van Goens (Goens, Gezantschapsreizen, him. 222-226). Sudah boleh dipastikan bahwa Van Goens terkesan oleh apa yang diamatinya selama perjalanan-perjalanan perutusannya yang terakhir, mengakui adanya corak sentralisasi yang kuat pada lembaga pemerintah- an ini. Ia melihat adanya berbagai korps pejabat yang berdampingan satu sama lain. Pertama-tama ia menganggap semua pangeran adalah raja-raja kecil; sebenarnya pada masa pemerintahan Sultan Agung sudah tidak lagi semuanya mempunyai kekuasaan seperti itu. Gelar ini lambat laun menjadi hak istimewa bagi putra-putra raja. Pangeran-pangeran ini dikatakan mempunyai "Juijlenanten’? (wakil) di daerah-daerah yang dinamakan menurut nama pangeran-pangeran itu. Bagi beberapa daerah hal ini memang dapat diterima akal. Namun, di samping luijtenanten ini, raja sendiri juga mempunyai wakil di daerah-daerah yang sama itu. Hanya di daerah Pati dan Jepara tidak ada pangeran dan wakilnya. Setiap tempat mempunyai dua syahbandar, mungkin seorang bagi pedagang pribumi dan seorang lagi bagi pedagang Cina. Syahbandar ini wajib memberikan pertelaan tentang segala pendapatan mercka kepada Wira dan Wirajaya yang sudah scring disebut itu. Selain itu kedua penguasa tersebut masih juga mempunyai ”pengawas” mereka sendiri di daerah pedalamaa, mungkin tugur-tugur yang sudah beberapa kali disebut. ‘Juga ada seorang komisaris di setiap daerah dan kota; kepada dialah para bawahannya bertanggung jawab, yaitu kepala daerah dan syahban- dar, mengenai segala pendapatan setiap dacrah, kota atau desa. Di samping jabatan-jabatan sipil dan fiskal, masih ada jabatan-jabatan militer yang diperkirakan merupakan satu kesatuan angkatan darat dengan kekuatan tidak kurang dari 920.000 orang, termasuk 115.500 orang yang menggunakan senapan. Di sini pun terdapat komisaris-komi- saris. Akhirnya terdapat pula pejabat-pejabat kehakiman dan keamanan: 4,000 tenaga di bawah pimpinan empat orang kepala yang termasuk pembesar-pembesar istana. Dan tidak terhitung banyaknya "mata-ma- ta” yang berkeliaran di mana-mana. Orang dapat pertama-tama bertanya apakah organisasi raksasa di atas 2 kertas ini memang sedemikian luasnya, dan juga apakah mesin pemerintahan yang kompleks ini bisa bekerja dengan alat dan kete- rampilan yang sewaktu itu dimiliki orang Jawa. Bahkan suatu aparatur yang tidak begitu Iuas sekalipun lama-kelamaan akan menjadi kacau. Bagaimanapun di balik khayalan ini — kiranya tidak mungkin menganggapnya sebagai lebih dari suatu khayalan — dapat disimpulkan adanya suatu usaha yang kuat ke arah sentralisasi, yang mencapai puncaknya pada tahun-tahun 1653-1654. Setelah itu, kiranya mulai terjadi desentralisasi, dan ini memang dibenarkan oleh berita-berita sekitar tahun-tahun 1657-1659. Dengan sendirinya dapat disimpulkan dari bersilih gantinya sentrali- sasi dan desentralisasi ini bahwa ada persaingan antara pejabat-pejabat pedalaman dan pejabat-pejabat pesisir. Il—5 Para bendaharawan negara Sementara ini, timbul kesan bahwa jabatan Tumenggung Mataram sejak tahun 1663 menjadi dua. Di samping Tumenggung Wirajaya masih ada "seorang wakil raja kedua” (Daghregister, 30 April 1663, him. 161). Namanya, ”Wiete Nagara”, yang kiranya perlu dikoreksi menjadi Nitinagara. Ia pun berurusan dengan daerah-daerah pantai. Pada tahun 1664 ia datang ke Gresik untuk menyuruh para penguasa daerah pantai di sana menyerahkan pendapatan pajak kepada Mataram (Daghregister, 28 November 1664). Di tempat lain ia bersama Tumenggung Wirajaya disebut sebagai dua "'pemegang kekuasaan di Mataram”, atau dua **pembesar terpenting dalam kerajaan” (Japara, 8 Juni, Jonge, Opkomst,jil. VI, him. 173). Kedua pembesar itu sama-sama melihat masa depan dengan rasa prihatin. Akan tetapi kalau Tumenggung Wirajaya sudah pada tahun 1667 diberhentikan, maka Tumenggung Nitinagara ternyata baru dua tahun kemudian hilang dari percaturan negara; putranya mati di ujung keris (Japara, 26 Desember 1669, Jonge, Opkomst, jil. V, hlm. 183-184; Daghregister, 21 Februari 1670). Nitinagara masih hidup setelah keraton jatuh pada tahun 1677, dan disebut sebagai bekas bendaharawan pertama dari Raja Mataram yang tua (Daghregister, 14 Oktober 1677). Dengan demikian, tentu ada pula bendaharawan yang kedua Mungkin jabatan itu dilanjutkan oleh Kiai Nitisastra, yang dalam surat pertamanya kepada Gubernur Jenderal menyebut pembesar Belanda ini sebagai pamannya (Daghregister, 20 April 1671). ”Paman’” ini diminta membeli berbagai macam barang untuk Sunan seperti ”kain cindai yang berlukiskan burung merak dan macan” (Daghregister, 29 April 1671), tetapi Maetsuyker tidak mau perlakuan seperti itu. Dalam surat selanjutnya, yang memperkenalkan dua orang utusannya, ia menamakan 23 dirinya ”Kiai Nitisastra yang berlaku sebagai pengawas atas gudang dan segala harta benda Sunan dan juga mendapat kepercayaan besar, lagi pula merupakan pintu bagi rakyat Mataram untuk dapat menghadap kepada Sunan” (Daghregister, 8 Desember 1671). Sejak tahun 1672 pekerjaannya tampaknya telah berlipat dua kali. Dalam surat dari Jepara tanggal 28 September 1672 terdapat ”Kaijs Niety Sistra dan Niety Praija, bendaharawan-bendaharawan kerajaan”. Kedudukan mereka jauh dari mantap. Menurut surat dari Jepara tanggal 31 Januari 1673, Sunan dikatakan pernah menjadi marah terhadap mereka dan memerintahkan supaya mereka ditangkap (Daghregister, 6 Maret 1673). Beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan kembali (Japara, 12 September 1673). Mereka banyak juga berhubungan dengan harta benda Imbassadana seorang Cina (Daghregister, 7 September 1673 dan 6 Desember 1674). ‘Juga masalah-masalah intern diurus mereka. Atas nama Raja dan atas perintah mereka, para pembesar Mataram menyerahkan empat puluh janda (atau abdi) Ngabei Wiradikara yang terbunuh itu kepada penggantinya, yaitu Syahbandar Ngabei Wiraatmaka (K.A. No. 1180). Pada tahun 1675 ketika ada ancaman bahaya, mereka harus pula menyelesaikan urusan-urusan kerajaan yang terpenting. (Japara, 15 Agustus 1675, Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 193). Mereka harus membeli tiga ekor gajah untuk Sunan. Pada tanggal 13 Maret 1676, mereka membawa sepucuk surat dari Sunan ke Jepara, tetapi tentunya bukan untuk itu saja mereka datang (Daghregister, 10 April 1676, him. 67). ‘Adakalanya juga mereka memainkan peranan politik, yang rupanya berbau Muslim kolot, misalnya dalam hubungan mereka dengan Panembahan Giri (Daghregister, 14 Mei 1676). Niscaya mereka mempunyai wibawa yang besar sampai akhir pemerintahan Sunan Mangkurat. Berita terakhir tentang mereka terdapat selama kunjungan Jacob Couper ke Keraton pada bulan Februari 1677. Di sana dinyatakan bahwa Pangeran Martasana telah menuduh mereka korupsi, sementara para putra Raja mempertaruhkan jiwa mereka. Selain itu berita bahwa Santanaya, seorang anggota perutusan di Batavia yang sudah disebut di atas, setelah diselidiki ternyata bersalah mengedarkan "uang logam lima sen palsu yang ditiru begitu baiknya sehingga sulit dapat dibedakan dari yang asli”, memperlihatkan moral dagang yang aneh dari mereka itu (Daghregister, 7 Januari 1672). Karena menghormati Sunan, orang itu tidak dihukum, 3 Yang merupakan teka-teki adalah sebutan: ”Kiai Niettie Sistra out gouverneur in Mattaram”. (Japara, 3 Desember 1674, K.A., No. 1193). 24 melainkan diserahkan kepada perutusan dengan disertai surat amarah dari pihak Batavia. Masuk akal juga bahwa mereka semula memegang jabatan yang sama seperti "wadana gedong kiwa dan tengen”, seperti yang kita jumpai pada abad ke-18 dan sesudahnya. Oleh karena itu, aneh jika pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Tegalwangi, tugas mereka begitu diperluas, sekalipun perluasan itu tidak tetap sifatnya. Mungkin dengan memberi kekuasaan khusus kepada pejabat-pejabat yang lebih rendah, maka Sunan ini mencoba mengekang kekuasaan pejabat-pejabat_ tinggi tertentu. Dalam telaah tentang kekuasaan kepala-kepala daerah pantai, akan ditemukan lebih banyak perubahan dalam pemerintahan daerah-dacrah tersebut. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada pemerintahan pedalaman. Bab III Tindakan-Tindakan Pertama Pemerintah IM—1 Tahun-tahun pertama pemerintahan menurut Van Goens an Tegalwangi, diberikan suatu pendahuluan yang membicarakan sebab-sebab yang terdapat di balik rasa benci Sunan terhadap Tumenggung Wiraguna (Goens, Reijsbeschrijving, him. 238-244). Karena hal ini sudah dibicarakan dalam Sultan Agung”, dan diulang dengan lebih singkat dalam halaman-halaman terdahulu (hlm. 3), maka tidak perlu kiranya diberikan suatu ulangan. Van Goens memberitakan bahwa setelah penobatan, Raja menaikkan kedudukan Tumenggung Wiraguna serta menggantikan abdi-abdinya yang lebih tua dengan yang lebih muda. Tumenggung itu memandang tindakan ini sebagai suatu anugerah dari Raja, sedangkan pada kenyataannya Sunan menggerogoti kekuasaan tumenggung dengan melemparkan keluar penasihat-penasihatnya yang terbaik. Akhirnya Raja pada tahun 1647 mempcroleh kesempatan baik untuk melaksana- kan rencananya yang sudah lama tersimpan dalam hatinya. Ketika Blambangan diserbu oleh orang-orang Bali, sejumlah orang Jawa terbunuh. Sunan, yang berpura-pura marah besar, memutuskan untuk pergi sendiri ke sana. Tetapi abdi-abdinya yang terdekat, yang tahu tentang rencananya itu, mencegahnya dan mengusulkan supaya mengirimkan Tumenggung Wiraguna saja. Tetapi pejabat tinggi ini tidak kembali lagi karena orang-orang yang mengkhianatinya segera juga membunuhnya, dengan alasan karena ia tidak secara harfiah melaksanakan perintah Raja. Dan dengan dalih ini pula, maka seluruh keluarganya pun turut menjadi korban pembunuhan di Mataram”. Pada halaman-halaman 202, 220, 221 dan 238 Van Goens membenar- 26 P ada uraian Van Goens tentang tahun-tahun pertama pemerintah- kan berita tentang pembunuhan itu, dan pada halaman 249 bahkan ia menyebutkan pembunuhnya, yaitu *Kiai Ngabei Wirapatra, orang kesayangan terdekat Raja .. ..” Uraian pendek mengenai ekspedisi ke bagian timur Jawa meninggal- nya Tumenggung Wiraguna itu disusul oleh berita tentang dilakukannya tindakan balas dendam terhadap Tumenggung. Raja melancarkan gugatan terhadap apa yang dianggapnya sebagai suatu tindakan tidak adil yang dilakukan sepuluh tahun yang lalu terhadap dirinya, dan memerintahkan supaya mereka "yang bersama Wiraguna dahulu pernah mengadukannya kepada ayahnya, dibasmi semua bersama istri dan anak-anak mereka sebagai_pemberontak”. Perintahnya itu mengakibat- kan “hilangnya nyawa ribuan wanita dan anak yang tidak bersalah”. Sementara itu, "raja berpura-pura” tidak tahu bahwa adiknya "juga termasuk kelompok musuhnya” dahulu itu. Bahkan sikapnya ramah sekali. Tetapi adiknya tidak percaya kepadanya. Dan "karena kawan-ka- wannya yang terbaik hampir musnah semua, maka dikumpulkannya pengikut-pengikut baru”. Setclah merasa bahwa gerak-geriknya dimata- matai, maka adik Raja pun mulai mendekati "orang-orang Islam, yang paling tidak dicurigai”. Dengan perantaraan para pemuka Muslim ini, ia dapat menghubungi kembali beberapa ”kawan yang masih ada”, menurutdesas-desus dengan maksud untuk membunuh Raja pada waktu diadakan pertandingan gada berkuda”. Raja dapat tahu tentang komplotan itu dan membicarakan soal tersebut dengan Pangeran Purbaya. Mungkin dengan nada yang demikian rupa, sehingga Pangeran itu memohon dengan penuh rasa khawatir kepada kemanakannya supaya tidak menodai tangannya dengan darah adiknya sendiri. Sunan berjanji kepadanya "dengan menggunakan kata-kata ikrar khidmat, di antara mereka” bahwa hal itu tidak akan terjadi. Setelah itu, Pangeran Alit diminta Pangeran Purbaya menghadap kakaknya, dengan menegaskan benar-benar pesannya supaya "memberi- tahukan semua kaki tangannya kepada Sunan, sebab ia tidak mau turut bertanggung jawab atas kematiannya”. Ketika sang adik tidak hanya menolak permintaan tersebut, tetapi juga tidak mau mengkhianati para kaki tangannya, maka Raja "menanggalkan segala gelar kepangeranan- nya, serta memerintahkannya dengan membawa tidak lebih dari 300 orang laki-laki, pergi ke Tumenggung Mataram, guru mereka berdua agar belajar mencari hikmah, tanpa selangkah pun menjejakkan kaki, keluar dari rumah Tumenggung sampai ada perintah lain”. Sementara itu, penyelidikan berlangsung terus. Beberapa abdi Pangeran Alit ditangkap dan disiksa supaya mau membuka rahasia. 27 Demi keselamatan anak mereka, para korban itu menyebut beberapa »pemuka agama”, tetapi muslihat mereka itu sia-sia belaka: "Semuanya mereka, kecuali bayi-bayi, dibunuh dan selainnya (para wanita) ... dibagi-bagi di antara kawan-kawannya”. Penghinaan itu membuat Pangeran Alit tidak dapat menahan diri lagi. Dan bersama 50 sampai 60 orang yang masih tersisa dari yang semula berjumlah 300 itu, ia bulat tekadnya untuk mengakhiri nyawanya dalam “pertarungan berdarah penghabisan”. Dipilihnya sebagai saat yang tepat hari keadilan (Senin atau Kamis), tatkala Raja berkenan memberi audiensi dan banyak rakyat turut hadir. Berkuda ia pergi ke alun-alun. Tetapi atas perintah Raja, para pengawal dengan cepat dapat membu- nuh para pengiring Pangeran Alit. Pangeran itu sendiri tidak diapa- apakan bahkan kudanya pun tidak terluka. Namun, 20 pengawal Raja itu membiarkan diri mercka jadi korban keris panjang Pangeran Alit. Dengan janji akan diberi pengampunan serta kesetiaan, pemuda nekat itu tidak dapat dibujuk agar menghentikan serangannya. Oleh karena itu, Sunan memerintahkan menewaskan kudanya, yang segera dilaksana- kan. Tetapi Pangeran Alit dengan berjalan kaki tetap berusaha mendekati saudaranya. Karena dijaga pengawal banyak sekali, maka niatnya tidak sampai terwujud. Namun, ia dapat membunuh seorang raden tua, orang yang amat dicintai oleh setiap orang dan bahkan juga oleh Raja. Kini hilanglah kesabaran Sunan. Diperintahkannya kepada mantri- mantrinya agar tidak membiarkan diri mereka dibunuh adiknya. »Tangan saya bersih dari darah adik saya: Cobalah untuk menyadarkan- nya”. Setelah ini pun tidak berhasil, maka persoalan itu diserahkannya kepada pamannya, dan pamannyalah yang harus mengambil keputusan. Kemudian Sunan kembali ke keratonnya. Pangeran Alit, sekalipun terkepung, melanjutkan serangannya dan membunuh seorang pembesar lagi. Pangeran Purbaya, dengan hati yang amat sedih, memberi tahu kemanakannya tentang kejadian tersebut. Barulah kemudian Sunan memberi izin kepada para pengawalnya untuk membela diri. Dan dengan segera pula habislah nyawa Pangeran Alit, tertusuk oleh sebilah keris. Demikianlah dilukiskan oleh utusan Van Goens meninggalnya adik Sunan. Kini akan kita ikuti bagaimanakah cerita tutur Jawa mengurai- kan hal ini: IlI-2 Ekspedisi Blambangan menurut cerita tutur Karena cerita tutur Jawa tidak menyebutkan rasa benci Sunan yang mendalam terhadap Tumenggung Wiraguna, maka karenanya seperti 28 apa yang dilakukan Van Goens tidak pula dirasa perlu menuturkan sebab-sebabnya. Ceritanya segera dimulai dengan ekspedisi terhadap Blambangan yang digambarkan dengan lebih panjang lebar daripada dalam berita Belanda: Babad B.P., jil. X, hlm. 42-44; Serat Kandha, him. 932-933; Meinsma, Babad, hlm. 147. Pada suatu audiensi, ketika diputuskan untuk membangun keraton yang baru, Raja menyatakan telah memperoleh berita bahwa Blambang- an diserbu orang Bali. Si Tawang Alun telah bertekuk lutut kepada mereka. Serat Kandha menempatkan pernyataan ini dalam suatu audiensi lain, yaitu ketika Sunan mengungkapkan adanya suatu komplotan antara adipati Blambangan (ialah Tawang Alun) dan orang-orang Bali. Adipati tersebut kabarnya telah melarikan diri ke Bali sebelumnya. Setelah itu, Raja mengusulkan kepada pamannya, Pangeran Purbaya, untuk memimpin tentara melawan orang-orang Bali tersebut. Tetapi Pangeran ini dengan halus menolak, sehingga kemudian timbul masalah, siapakah yang dianggap cukup mampu untuk itu. Pangeran Purbaya mengelak menjawab. Sunan lalu berpaling kepada Tumenggung Wira- guna, dan memerintahkan kepadanya untuk bersiap-siap memimpin perlawanan terhadap orang Bali. Tumenggung Danupaya harus me- nyertainya. Tumenggung Mataram akan memimpin rakyat semua dacrah pantai dan akan bergerak melalui laut. Lalu diikuti dengan penuturan kisah tentang keberangkatan barisan yang meriah dan semarak. Serat Kandha menambahkan pula bahwa kedua panglima itu membawa serta ”meriam-meriam Mataram”. Sedangkan menurut Babad Meinsma, adipati Sampang harus menyediakan prajurit. Kemudian dalam semua babad, terdapat cerita tentang pemberontak- an dan matinya Pangeran Alit, yang akan dibicarakan nanti. Cerita itu lalu dilanjutkan dengan keterangan mengenai ekspedisi ke timur: Babad B.P., jil. X, hlm. 61-69; Serat Kandha, hm. 957-962; Meinsma, Babad, hlm. 150 (yang terakhir ini hanya sedikit memuat beritanya). Babad B.P. memberitakan tibanya tentara di dacrah perbatasan Pasuruan, Kecuali Tumenggung Wiraguna dan Tumenggung Danu- paya, kini juga disebut Asmaradana sebagai pemimpin. Yang pertama ingin bertarung pada hari Jumat. Orang-orang Bali telah bergabung dengan rakyat Blambangan, yang berdiri di garis terdepan dan melindungi orang-orang Bali. Pemimpin mereka adalah lurah Jabana dan Panji Pati (atau menurut Serat Kandha: Panji Wanengpati). Tawang Alun dan Wiranegara memimpin garis belakang. Mula-mula pihak Mataram mundur, tetapi karena siasat Wiraguna, mereka menang lagi. Ki Rangga gugur melawan Bang Wetan; Panji Pati pun tewas. Suatu pertempuran sengit terjadi antara Jabana dan 29 Citrayuda dari Ponorogo, dan yang terakhir ini gugur. Akhirnya orang Bali dan rakyat Blambangan melarikan diri; Wiranegara lari ke jurusan timur laut. Setelah berunding selama satu malam, Tawang Alun dan Wiranegara memutuskan untuk menyeberang ke Bali. Segala apa yang ditinggalkan dirampok. Lebih dari 1.500 cacah dibawa serta oleh pihak Mataram. Wiraguna, ketika menerima berita tentang meninggalnya Pangeran Aria Alit, menjadi sangat terkejut. Dan ia bertekad lebih baik gugur di medan pertempuran daripada kembali pulang. Diputuskan untuk mengejar rakyat Blambangan sampai ke Bali. Karena itulah dilakukan penyeberangan ke sana. Panji Arungan mempertahankan daerah pantai. Akhirnya muncul pula Tumenggung Mataram dengan armada perangnya, dan terjadilah pertempuran sengit di laut. Panji Arungan tewas, kepalanya dipenggal dan kapalnya dikuasai. Menurut Babad B.P., Tumenggung Wiraguna sudah tidak lagi turut serta dalam pertempuran di laut ini. Setelah kemenangan tercapai, Tumenggung Wiraguna jatuh sakit (menurut Serat Kandha, him. 962, juga Tumenggung Danupaya). Para pemimpin bawahan kemudian memutuskan untuk kembali; para tawanan perang berjalan di depan, diikuti tentara. Tumenggung Wiragu- na telah memberitahukan kepada keluarganya bahwa jika ia tewas, agar jenazahnya tidak dibawa ke Mataram, tetapi dikuburkan di tempat. ‘Setibanva di Kediri ia minum obat dan meninggal, ditangisi para abdinya (Babad B.P., jil. X, hlm. 69). Para abdi atau keluarganya (Serat Kandha, him. 962) tetap membawa jenazahnya ke Mataram, sekalipun dengan perasaan enggan karena teringat akan pesannya. Menurut Babad BP. (jil. X, hlm. 69), Tumenggung Danupaya pun jatuh sakit. Para keluarga mengirimkan utusan ke Mataram untuk menyampaikan berita. Tetapi Sunan marah karena Tawang Alun yang melarikan diri itu tidak dikejar. Diperintahkannya kepala bayangkara supaya segera berangkat menyongsong iring-iringan sedang dalam perjalanan pulang, dan memakamkan jenazah Tumenggung Wiraguna di tempat mereka menemuinya. Kemudian kepala bayangkaranya sekaligus diperintahkan membunuh seluruh keluarga tumenggung yang terdiri dari dua belas jiwa. Mendengar berita itu, Tumenggung Danupaya minum racun, mening- gal dan dikuburkan. Tumenggung Asmaradana, yang mengambil alih pimpinan, juga dibunuh setelah menyampaikan laporan (Serat Kandha, him. 965). Babad BP. (jil. X, hlm. 70) melaporkan hal ini lebih jelas. Tumenggung Asmaradana berhenti di Taji. Dari sini dikirimkannya berita ke istana, tetapi ia tidak segera dipanggil menghadap. Begitu lama 30 ia harus menunggu, sehingga para tawanan yang dibawa serta harus mengemis-ngemis. Akhirnya ia dipanggil juga, tetapi segera pula dibunuh.* Dengan kejadian itu berakhirlah kisah tentang perang Blambangan, yang dapat ditambah dengan berita dari babad tahunan. Pada tahun 1568 J. (yang dimulai 17 Februari 1646 M.) juga diberitakan bahwa Sunan setelah naik tahta, berangkat bersama para istri dan abdinya ke Bangkawa untuk bercengkerama. Pagi-pagi benar ia berangkat, membe- lok dan berhenti di Jagabaya. Kemudian diusulkan oleh Tumenggung Mataram agar kembali, karena ada utusan dari Bali. Mereka telah menyeberangi laut dan perbatasan Blambangan. Jadi, berita pendek ini hanya mengenai awal perang. Selanjutnya perlu kita teliti apa yang dikisahkan oleh cerita tutur mengenai serangan nekat terhadap keraton yang dilancarkan adik Sunan itu. III—3 Serangan Pangeran Alit atas keraton, 1647 Van Goens menerangkan, seperti telah kita ketahui, bahwa serangan adik Sunan terhadap keraton timbul dari suatu perselisihan antara dirinya dan putra mahkota yang terjadi pada tahun 1637. Cerita tutur, tanpa menyebutkan soal ini, menyatakan bahwa tindakan nekat Pangeran Alit itu timbul sebagai akibat hasutan Tumenggung Pasisingan dan anaknya, Tumenggung Agrayuda. Yang disebut pertama adalah emban Pangeran Alit, seperti Tumenggung Danupaya. Tetapi Danupaya sudah berangkat ke Blambangan, padahal Pangeran Alit masih tetap tinggal di rumahnya. Tumenggung Pasisingan dan. ‘Tumenggung Agrayuda mengobarkan nafsu Pangeran Alit untuk menjadi raja, dan mereka memberi jaminan kepadanya bahwa separuh Mataram berpihak kepadanya. Kesempatan untuk merebut kekuasaan pada saat itu bagus sekali, karena suasana dalam keraton (lama) masih sepi sekali. Semuanya sedang sibuk membangun keraton baru. Menurut Serat Kandha, Tumeng- gung Silingsingan, yang marah karena kecurigaan Raja, mengingatkan adik Raja bahwa Sultan Agung pernah berkata ketika itu bahwa ia “haus turut_menikmati keuntungan-keuntungan dan pendapatan- pendapatan Mataram”. Tetapi tidak demikian halnya sekarang. Seka- 4 Pada peta Van Goens terdapat sebagai no. 24: Tommagon Asmar Dana. Dengan demikian, ini mestinya seorang pengganti. Juga diberitakan Babad Sanckala sebelum. tahun 1583 J. (mulai pada 6 September 1660 M.) tentang adanya seorang ‘Semarandana, yang terbunuh dalam keadaan tertelungkup di atas tikar kebesarannya, sedangkan putranya terbunuh di Tambak. 31 rang ada kesempatan yang baik dan Silingsingan sudah mendapat dukungan dari rekan-rekannya. Pangeran Alit yang baru berusia 19 tahun dan belum matang, menyatakan setuju dan memerintahkan rakyatnya mengadakan scrang- an terhadap alun-alun selatan. Dalam Babad B.P. (jil. X, hlm. 46) Pangeran Alit masih ingin menantikan embannya, Tumenggung Danu- paya, tetapi Tumenggung Pasisingan tidak mau menunda. Lurah- lurahnya menyokongnya sehingga Pangeran Alit memberikan persetu- juannya pula. ‘Tumenggung Pasisingan menentukan bahwa serangan akan dilakukan malam hari berikut, sewaktu para pekerja paksa sedang kembali pulang. Pada saat itu Tumenggung Agrayuda, setelah menerima aba-aba dari ayahnya, bersama orang-orang yang bersenjata harus mulai menyerang dari alun-alun selatan. Tetapi Pangeran Purbaya cepat mengetahui rencana ini dan memberi- tahukan kepada Raja, yang menjadi sangat terkejut karenanya. Diperin- tahkannya supaya Tumenggung Pasisingan begitu tiba untuk bekerja, segera dibunuh. Ketika Tumenggung tersebut tiba keesokan paginya, ia dibunuh dengan ditikam oleh prajurit-prajurit Mataram yang sudah diberi tahu sebelumnya, atas isyarat Pangeran Purbaya. Para kaki tangannya segera melarikan diri dan memberitahukan kepada Tumenggung Agrayuda. Dengan berputus asa, disandangnya tombaknya, dinaikinya kudanya, dan diperintahkannya anak buahnya mengikutinya. Tetapi mereka melarikan diri semua, dan terpaksalah Tumenggung Agrayuda maju seorang diri. Di pangurakan (Babad B.P.: poncaniti) ia dihadang dan dibunuh. Kepalanya dipenggal. Menurut Serat Kandha, para keluarga dan anak buahnya tidak meninggalkannya, tetapi ia maju jauh di depan mendahului mereka; ia mengamuk, terkepung, terbunuh, dan dipenggal kepalanya. Pangeran Purbaya lalu memberitakan kepada Sunan — di bangsal witana, menurut Babad B.P., jil. X, hlm. 58, bahwa Pasisingan dan Agrayuda sudah dibunuh; dan kepala mereka dipenggal. Ketika Raja mendengar berita itu dan tentara sudah hadir selengkapnya, maka seorang pesuruh wanita, Tajem, diperintahkan memanggil adiknya. Pangeran Alit scharusnya mengawasi pekerjaan pembangunan keraton baru. Dan datanglah Pangeran Alit. Scketika tiba di hadapannya, Sunan melemparkan kepadanya kepala kawan-kawannya itu, disertai kata-kata: »Beginilah tampang orang-orangmu yang ingin mengangkatmu sebagai raja”. Pangeran Alit terperanjat, mencabut kerisnya, dan menikami kepala-kepala itu, sambil mengucapkan kata-kata mempersalahkan 32 Tumenggung Pasisingan. Raja lalu menuntut supaya semua bawahannya dari pangkat lurah ke atas diserahkan kepadanya. Menurut Babad B.P. (jil. X, him. 52), Pangeran Alit memenuhi tuntutan itu dan memerintahkan para abdinya, di antara mereka terdapat delapan lurah, dua abdi pribadi, dan seorang taledek, agar membiarkan diri diikat untuk kemudian diserahkan.° Para lurah menangis. Mereka yang berada di pasowanan luar bergabung, dan membakar hati Pangeran Alit. Karena merasa iba hati, Pangeran memerintahkan mereka mempersenjatai diri. Menurut Serat Kandha, Pangeran Alit masih berharap dukungan dari sebagian rakyat Tumeng- gung Danupaya, tetapi harapan itu ternyata sia-sia belaka. Raja mengirimkan dua orang utusan, Sumengit dan Dakawana, menghadap adiknya. Ketika memasuki dalem Pangeran Alit, Sumengit dibunuh, dan Dakawana melarikan diri dan memberikan laporan kepada Raja (Babad B.P., jil. X, hlm. 54-56). Sunan sungguh-sungguh menekankan kepada para abdinya supaya tidak bertindak terhadap adiknya, andai kata ia mengadakan serangan, sekalipun dalam usaha itu mereka harus mengorbankan jiwa mereka. Menurut Serat Kandha (him. 947), Raja kemudian kembali ke istananya. ‘Tetapi di pintu gerbang dalam Srimenganti ia memberi perintah rahasia kepada Pangeran Purbaya untuk menyelesaikan persoalannya dengan cara yang selunak-lunaknya. Pangeran Purbaya kemudian memerintah- kan supaya semua prajurit dan adipati mempersiapkan senjata mereka. Akhirnya muncullah Pangeran Alit di Pangurakan hanya disertai 6 lurah yang lain telah melarikan diri. Menurut Serat Kandha, setiba mereka di *pasar besar” rakyat menjadi gempar melihat kedatangannya karena begitu banyak pengikutnya. Akan tetapi dengan mudah sekali pengikut yang begitu banyak itu disapu bersih, kecuali pengikut-pengikut terdekat Pangeran Alit. Akhirnya lurah-lurah itu pun melarikan diri, terkejar, dan dibunuh. Dan tinggallah Pangeran Alit seorang diri. Menurut Babad B.P. (il. X, him. 58), semua orang Mataram menyingkir memberi jalan untuk Pangeran Alit; hanya adipati dari Sampang, Demang Melaya, merangkul kakinya dan dengan demikian mencoba menahannya. Tetapi amarah Pangeran Alit semakin menjadi dan ditikamnya leher adipati itu dengan keris si Setan Kober. Untuk membalas dendam atas terbunuhnya junjungan mereka, maka semua orang Sampang, setelah mengangkut jenazahnya, mengamuk (Serat Kandha, him. 953). Karena lelah, paha (atau lengan kiri) Pangeran Alit 5 Nama lurah-lurah itu adalah: Anggapatra, Anggapati, Anggayuda, Patrayuda, Wangsabaya, Astranangga, Astrapati, Astrawadana, Wiralodra. 33 tergores oleh kerisnya sendiri yang termashur itu. Luka ringan ini menyebabkannya tewas di bawah pohon waringin kurung. Jenazahnya diangkut para adipati ke Setinggil, ditangisi oleh ibunya. Pangeran Purbaya menghiburnya; Pangeran Silarong menyampaikan laporan (Serat Kandha, him. 955). Setelah pidato pendek dari Sunan, yang di dalam hati merasa gembira (Babad B.P., jil. X, hlm. 60), maka dilukainya dirinya sendiri di bagian atas lengan kirinya, sedangkan orang-orang Madura dibunuh semua sebagai hukuman. ”Jenazahnya . . . dimakamkan di Magiri, di sebelah almarhum ayahnya ....” (Serat Kandha, hlm. 956). IlI-4 Tinjauan mengenai tahun-tahun pertama ‘Antara dua rangkaian cerita tersebut di atas terdapat perbedaan- perbedaan yang jelas. Pertama-tama tampak bahwa cerita-cerita Van Goens, yang tercatat dalam bentuk tulisan itu, dibuat jauh lebih dahulu daripada cerita-cerita yang dibuat orang Jawa. Dengan demikian, jadinya dapat lebih dipercaya. Juga cerita Van Goens meliputi masa yang jauh lebih lama, dari masa muda Sunan sampai meninggalnya ibunya, yaitu 20 tahun lebih, dari kira-kira tahun 1633 sampai tahun 1654. Cerita tutur memusatkan perhatiannya hanya pada kejadian-kejadian dari tahun 1647 sampai 1648: ekspedisi ke Blambangan dan tewasnya Pangeran Alit, sekalipun peristiwa ini diuraikan agak panjang lebar. Apa yang terjadi sebelumnya, misalnya pembunuban atas para ulama dan masalah Purbaya, tidak digarap. Cerita tutur Jawa dengan kuat sekali dijiwai usaha memaafkan dan membenarkan tindakan-tindakan Sunan. Mungkin karena itulah pula maka saudara yang lebih tua, yang dalam tulisan Van Goens bernama Pangeran Agung, menjadi seorang Pangeran Alit yang lebih muda. Bahkan ada kalanya Van Goens berlebih-lebihan, misalnya ketika setelah menguraikan apa sebab Sunan tidak dapat menangkap hidup- hidup saudaranya yang memberontak itu, tetapi terpaksa membunuh- nya, ia menyatakan: "dan sekali lagi tampak dari peristiwa itu betapa kejam dan angkuhnya orang-orang ini” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 248). Rupanya, ada beberapa unsur mitos yang tidak terdapat pada Van Goens, misalnya tindakan Sunan yang melukai dirinya sendiri atau tentang keris ajaib Pangeran Alit. Namun, cerita Van Goens didukung oleh keterangan-keterangan Belanda. Ekspedisi ke Bali dan matinya Tumenggung Wiraguna dicatatnya pada tahun 1647. Memang selama perutusan Jan Hermansz. (tanggal berangkatnya pada atau tidak lama setelah tanggal 25 Oktober 1646) Tumenggung Wiraguna masih dalam masa jayanya dan bahkan 34 memperlihatkan wibawa yang terlalu besar (Goens, Gezantschapsreizen, him. 62). Selama perutusan dari Sebald Wonderaer berikutnya (duta pertama Van Goens) pada pertengahan tahun 1648 diberitakan juga, dengan nada mencela, perbuatan-perbuatan Tumenggung Wiraguna yang tidak baik selama perutusan yang terdahulu, tetapi orang-orang Belanda sudah tidak menjumpainya lagi. Dengan Tumenggung Mata- ram, yang menurut cerita tutur turut mengambil bagian dalam ekspedisi Blambangan, ada dibicarakan Belanda berkali-kali (Goens, Gezantschap- sreizen, him. 48, 52, 55, 56, 60, 61, 63, 69, 71). Dengan demikian, Tumenggung Wiraguna jadinya sudah tidak tergolong hidup lagi. Juga ternyata Sunan masih mempunyai perhatian besar terhadap Bali Van Goens tidak hanya berpendapat bahwa Tumenggung Wiraguna terbunuh, tetapi juga menunjuk pembunuhnya, yaitu Tumenggung Wirapatra. Hal ini sedikit banyak didukung oleh fakta bahwa dalam Babad B.P., (jil. X, hlm. 71), sesudah cerita tentang meninggalnya Tumenggung Wiraguna secara wajar, segera ‘uti dengan berita tentang promosi Tumenggung Wirapatra. Mula-mula ia hanya seorang gandek, kemudian meningkat sampai menjadi patih. Juga Van Goens menyebutkan asal keturunannya yang rendah itu. Apakah orang yang berambisi ini dapat memperoleh kemajuan dengan pembunuhan politik? Sementara cerita Van Goens, dengan cara yang masuk akal, dapat menjelaskan tindakan-tindakan kekerasan Sunan terhadap adiknya dan pejabat-pejabat tinggi kerajaan sebagai akibat kejadian-kejadian selama masa mudanya, maka uraian dalam cerita tutur kurang meyakinkan justru karena sejarah masa muda Sunan ini rupanya dengan sengaja dihilangkan. Bentrokan antara dua saudara itu semata-mata ingin dijelaskan sebagai akibat hasutan para pendukung Pangeran Alit yang terbakar oleh bujukan-bujukan para pengikutnya; pembunuhan atas Tumenggung Wiraguna digambarkan sebagai kematian karena pe- nyakit; matinya Pasisingan sebagai tindakan bunuh diri. Tetapi tidak dijelaskan latar belakang tewasnya dua belas anggota keluarga Wiraguna dan tewasnya Tumenggung Asmaradana. Dalam hal ini mencolok sekali tindakan kepala bayangkara, yang merupakan petunjuk tentang niat Sunan yang sebenarnya. Namun, cerita tutur diperlukan juga karena banyak menyebutkan hal-hal khusus yang tidak ada dalam tulisan Van Goens, misalnya bahwa serangan Pangeran Alit terjadi selama pembangunan Keraton Plered yang baru berlangsung. Ini cocok dengan berita Van Goens yang menyatakan bahwa pembangunan itu masih berlangsung sclama kunjungannya pada tahun 1648. Juga gugurnya seorang Pangeran Madura didukung oleh sumber lain, 35 yaitu Sejarah Kerajaan Madura (Palmer, ”Madoera”, TBG XX, him. 259), yang memberitakan bahwa Pangeran Cakraningrat mengawasi pembuatan batu bata ketika Pangeran Alit menghampirinya. Pangeran itu terkejut, dapat dikejarnya dan dipegangnya kendali kudanya dan hendak ditahannya secara bersahabat. Tetapi Pangeran Alit tidak dapat ditahan lagi, segera mencabut kerisnya, Setan Kober, dan menikam Pangeran Madura itu. Pangeran ini terluka kecil sekali pada tulang belikat, tetapi dijatuhkan dirinya dan diangkut (dalam keadaan meninggal) oleh para pengikutnya. Putranya, setelah mendengar berita ini, bergegas menuju alun-alun dan bertanding dengan Pangeran Alit sampai kedua belah pihak tewas tertusuk keris. Karena kecuali Cakraningrat I, juga putranya, Raden Arya Atmajana- gara, gugur, maka cerita ini kiranya lebih cocok dengan berita Van Goens yang juga menyebutkan tewasnya dua orang pembesar. Selain itu, makam Cakraningrat I, yang sudah amat lanjut usianya itu, tidak terdapat di Madura. Yang dimakamkan di kepala makam para bangsawan di Ermata bukanlah pangeran tersebut melainkan istrinya, Ratu Ibu. Setelah mencoba memastikan berdasarkan segala keterangan yang tersedia apakah yang sebenarnya terjadi setelah Tegalwangi naik tahta, maka berdasarkan berita Van Goens mengenai masa muda Raja, kami berpendapat bahwa rasa benci Raja terhadap saudaranya dan Tumeng- gung Wiraguna memang harus diterima. Serangan Bali atas Blambang- an, secara tiba-tiba, memberikan kesempatan yang sangat baik baginya untuk menyingkirkan Tumenggung yang berkuasa itu bersama Tumeng- gung Danupaya, dengan jalan mengirim mereka ke bagian ujung timur Jawa. Serangan adik Sunan terhadap keraton bisa dilakukan karena hasutan para pengikutnya, yaitu Tumenggung Pasisingan dan anaknya, Agrayu- da. Karena ketakutannya terhadap kebencian Sunan, serta melihat adanya kesempatan yang baik, maka mereka hasut Pangeran Alit yang masih muda itu supaya mau merebut tahta. Di pihak lain, Raja pun tentu mempunyai hasrat untuk melikuidasi kelompok yang dahulu pernah-melawannya, dan yang mungkin akan mengulanginya. Dalam usaha melaksanakan hasratnya ini, ia berpikir dengan amat teliti dan secara sistematis; dicobanya mendorong adiknya supaya terjerumus dalam tindakan nekat. Dan ketika Pangeran ini benar-benar berbuat sesuai dengan rencana Raja, maka nasibnya sudah ditentukan. Ketika mengadakan serangan terhadap keraton, dengan jumlah pengikutnya yang terlalu kecil, ia tewas. Hal itu sesungguhnya bukan hal yang sederhana bagi seorang putra raja. Sunan sedapat- 36 dapatnya melepaskan diri dari segala tanggung jawab atas terbunuhnya seorang anggota keluarga. Lalu, Raja mengadakan perhitungan dengan lawan-lawannya, di dalam tentara, tetapi baru terlaksana setelah Blambangan bersih dari musuh dan bahkan setelah terjadi pertempuran melawan Bali di laut. Dalam pertempuran itu Tumenggung Wiraguna, Tumenggung Danu- paya, dan akhirnya juga Asmaradana jatuh sebagai korban. IlI-5 Pembunuhan atas kaum ulama Sctelah kisah tentang tewasnya Pangeran Alit, maka cerita tutur segera beralih ke sejarah Pangeran Silarong, sedangkan Van Goens (Ge- zantschapsreizen, hlm. 248-250) segera melanjutkan dengan cerita tentang pembunuhan atas para ulama, yang tidak disebut dalam tulisan-tulisan ja Seperti telah kita lihat, menurut Van Goens (Gezantschapsreizen, him. 245-246), Pangeran Alit mencari dukungan dari para pemuka Islam”, yang dipakainya sebagai utusan antara dirinya dan kawan-kawannya. Sewaktu kepalanya dicukur sebagai tanda belasungkawa atas kematian adiknya, dan selama beberapa hari diperlihatkannya rasa sedih yang mendalam, Sunan sudah mulai sibuk ”memeras otak mencari cara bagaimana dapat membalas dendam terhadap para pemuka Islam itu”, tanpa menimbulkan kesan bahwa dialah otak di balik komplotan pembunuhan itu. Dipanggilnya empat orang kepercayaannya yang sebaya dengannya dan telah mengabdi kepadanya sejak masa mudanya. Mereka sudah mengisi kedudukan yang ditinggalkan oleh pembesar- pembesar yang terbunuh itu, dan sudah mempunyai banyak anak buah. Mereka itu adalah: 1. Kemanakannya "Raden Mas, dan sekarang Pangeran Aria”. Kemanakan ini sudah sering disebut, misalnya pada tahun 1652, ketika ia bermain-main dengan "salah seorang wanita yang paling dicintai Raja” sewaktu menyabung ayam jago (Goens, Gezantschap- sreizen, him, 124), atau menjadi saingan Raja pada pertandingan gada berkuda (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 229). 2. Tumenggung Nataaimnawa, yang selama perjalanan pertama Van Goens (1684) masih bernama Kiai Suta, tetapi pada tahun 1649 diangkat sebagai Tumenggung Pati, nama yang paling banyak dipakai untuk dirinya. 3. Tumenggung Suranata, ”sekarang Tumenggung Demak”, agak pasti sedikitnya sejak 1652 (Goens, Gezantschapsreizen, him. 121). Untuk lebih banyak mendapat keterangan tentang dirinya itu, 37 lihatlah halaman 145. 4. Kiai Ngabei Wirapatra “orang kesayangan terbesar Raja, yang juga membunuh Wiraguna dengan keris”, seorang dari keturunan rendah. Tentang dirinya itu sudah dibicarakan pada halaman 27. Keempat pembesar ini menerima perintah untuk bersama anak buah mereka menyebar ke empat penjuru angin dan berusaha keras supaya *jangan seorang pun dari apa yang disebut pemuka-pemuka agama dalam seluruh yurisdiksi Mataram luput dari pembunuhan”. Supaya rencana ini dapat berhasil lebih baik, mereka diperintahkan olch Sunan supaya sebelumnya anak buah mereka menyelidiki nama, keluarga, dan alamat para pemuka agama itu. Ini dianggapnya sebagai siasat yang baik supaya mereka semua dapat dibunuh dengan sekali pukul. Raja sementara itu tidak memperlihatkan diri di luar keraton. Tetapi menyuruh sidang-sidang peradilan yang diadakan setiap minggu terus berlangsung di dalam keraton (semestinya di Sitinggil?), karena dalam hal demikian ia biasanya bertindak dengan amat teliti. Setelah memperoleh semua keterangan yang diperlukan, diberikannya perin- tah-perintah terakhir kepada orang-orang kepercayaannya itu supaya mereka bertindak sebaik-baiknya dan membunuh semua orang laki-laki, wanita, dan juga anak-anak yang tidak bersalah. Isyarat untuk pembantaian besar-besaran itu adalah bunyi tembakan dari istana (dari meriam besar Sapujagat atau Pancawara?). Sunan pun mengamankan dirinya dengan pengawal-pengawal pribadi yang tangguh di bawah pimpinan orang-orang yang paling dipercaya. Belum setengah jam berlalu setelah terdengar bunyi tembakan, 5 sampai 6 ribu jiwa dibasmi dengan cara yang mengerikan. Karena, seperti sudah sering terjadi, Sunan ingin mengelakkan tanggung jawab atas tindakan-tindakan kekerasannya itu, maka keesok- an harinya ketika tampil tampak wajahnya marah dan terkejut sekali. Sejam lamanya tidak sepatah kata pun diucapkannya, dan ini membuat orang lebih merasa tercekam. Tidak seorang pun yang berani *mengang- kat kepalanya, apalagi memandang wajah Sunan”. Berkata ia kepada pamannya, Pangeran Purbaya: ”para pemuka agama”, yang scharusnya menjadi teladan bagi mereka semua dalam perbuatan-perbuatan kebajikan, mereka itulah penyebab kematian adiknya. Setelah itu, ia menyuruh empat orang kepercayaannya menyeret ke depan beberapa orang yang tidak turut terbunuh, yang segera mengaku telah merencana- kan untuk mengangkat Pangeran Alit sebagai raja. Seraya meledak amarahnya, Sunan menyuruh seret 7 atau 8 orang pembesar yang dicurigainya dan mereka dibunuh, Istri dan anak-anak mereka pun segera dibunuh. Akhirnya ia masuk kembali ke Keraton, ”meninggalkan 38 semua pembesar yang sudah tua dan diangkat semasa pemerintahan ayahnya itu dalam suasana tercekam dan penuh kekhawatiran”. Demikianlah dilaporkan Van Goens pada tahun 1656 (Goens, Ge- zantschapsteizen, him. 249-250). ‘Tetapi pada tahun 1648 Van Goens (Gezantschapsreizen, hlm. 67) sudah melihat cara pemerintahannya yang aneh, yaitu ”yang membunuh para pembesar yang sudah tua untuk digantikan oleh yang muda”. Masa- masa penuh pergolakan itu diselingi masa-masa yang lebih tenang. Setelah tiga tahun pertama yang mengganas menyusul sedikitnya lima tahun, memperlihatkan segi-segi Raja yang lebih baik. IIl—6 Konflik pertama dengan Pangeran Purbaya Selanjutnya terdapat pada Van Goens suatu kisah yang sekalipun berdiri sendiri sepenuhnya, dapat diterima kebenarannya, karena bercirikan khas Jawa dan cocok pula dengan fakta-fakta yang diketahui. Pelaku utamanya adalah ibunda Raja, Ratu Ibu, yang menurut Van Goens ketika kunjungannya yang terakhir sudah tiada (Goens, Ge- zantschapsteizen, him. 252). Babad Momana mencatat mangkatnya Ratu Ibu pada tahun 1575 J. (mulai 2 Desember 1652 M.). Van Goens mengisahkan betapa setelah pembunuhan-pembunuhan terakhir yang dilakukan atas perintah Sunan, bahkan pamannya sendiri, Pangeran Purbaya, juga mulai merasa khawatir tentang keselamatan dirinya. Maka dari itu, tanpa suatu pemberitahuan pun, ia tidak lagi datang menghadap ke Istana, hal ini sama artinya dengan memberontak. Sementara itu, diam-diam ia memperkuat dirinya, karena banyak sekali anak buah serta anak cucunya (seluruhnya 50 orang), dan kawan-ka- wannya yang berkedudukan. Putranya, Raden Mas, bahkan termasuk orang kepercayaan Raja. Sudah tentu Sunan tidak merasa senang menghadapi keadaan itu. Ia merasa khawatir kalau-kalauterjadi kerusuhan. Oleh karena itu, dikirimnya Raden Mas kembali kepada ayahnya dengan pesan “bahwa ia (Purbaya) mempunyai alasan untuk tidak lagi hadir di istana karena ia (Tegalwangi) dalam melakukan pekerjaan besar ini (pembunuhan secara besar-besaran yang baru lalu) tidak berembuk terlebih dahulu dengannya (Purbaya)”. Karenanya, Sunan akan mengunjunginya keesokan harinya untuk menyampaikan maaf, dan memerintahkan putranya itu agar tetap bersama ayahnya untuk dapat membantu menghormati para tamu. Tetapi putra "yang dapat menangkap artinya” menolak. Ia bukanlah abdi ayahnya, tetapi abdi Sunan, yang hidup serta matinya berada di tangan Sunan. Raja memerintahkan kepadanya supaya taat, kalau tidak mau terkena murka Raja. Lalu ditariknya semua anak buahnya, dan disuruhnya pergi 39 kepada ayahnya, dan dikumpulkannya tidak kurang dari 200.000 orang dan segala kekuatan dari kawan-kawannya semua, untuk mendatangi pamannya, Purbaya. Orang tua ini tidak menjadi goyah. Dil putranya kembali kepada Sunan untuk menyatakan rasa terima kasi atas kehormatan yang sesungguhnya tidak patut diberikan kepadanya itu. Ta, Raden Mas, harus tetap mengabdi kepada Raja; karena ia, Purbaya, cukup pandai untuk menerima atasannya dengan cara yang semestinya. Dengan demikian, peristiwa ini merupakan perlombaan_ saling memberi hormat. Andai kata Sunan memberi usul Purbaya, maka ini berarti pengampunan bagi Purbaya dan putranya. Akan tetapi andai kata sang paman menaati perintah kemanakannya, maka ini berarti bagi Raden Mas menerima pembebasannya dari pengabdiannya kepada Raja, disertai segala hal tidak menyenangkan yang timbul sebagai akibatnya. Ratu Ibu, yang menangkap arti permainan yang berbahaya ini, mengambil keputusan untuk bertindak. Diselenggarakannya pertemuan antara Raja dan pamannya di makam Sultan Agung, yang juga dihadiri Ratu sendiri. Secara panjang lebar Van Goens menjelaskan bagaimana Ratu Ibu berhasil dalam usahanya itu. Pertama-tama dimohonkannya kepada putranya agar ia diperkenankan berziarah ke makam ayahnya. Kemudian diperintahkannya supaya ia dibawa dalam sebuah tandu tertutup kepada Pangeran Purbaya, yang dimintanya menyertainya. ‘Adalah kehendak Raja untuk bertemu dengannya di makam Sultan. Keraguan orang tua itu dikalahkan Ratu Ibu dengan ancaman akan bunuh diri. Kemudian dilaluinya semua penjaga istana sampai tiba pada putranya dan bersimpuhlah ia di depan kakinya. Ketika Sunan dengan terkejut mengangkatnya, Ratu Ibu menyatakan bahwa suara ayahnya memanggil Sunan ke makamnya. Lagi-lagi ia mengancam akan bunuh diri, seraya mencabut kerisnya yang kecil dari sarungnya. Sunan, yang menduga sesuatu telah terjadi, memerintahkan agar wisma Purbaya dijaga oleh musuhnya, yaitu Pangeran Surabaya, dan memutuskan untuk mengantarkan ibunya ke makam sejenak, tetapi segera akan kembali. Ratu Ibu membawa Sunan ke makam Sultan, sementara Pangeran Purbaya menunggu di sebuah lapangan di dekatnya. Setelah itu dayang-dayangnya disuruhnya pergi dan dimintanya putranya pun menyuruh para pengiringnya meninggalkan mereka. Rasa heran Raja bertambah ketika ia dirangkul oleh ibunya, yang kemudian bersimpuh di depannya. Demi kenang-kenangan terindah pada masa remaja pertama- nya dan keselamatannya dalam tahun-tahun kemudian dimohonkannya agar Raja mengabulkan satu permohonan yang hanya akan membawa 40 manfaat bagi dirinya sendiri. Setelah menyatakan rasa agak enggan, Sunan berkenan. Maka, Ratu Ibu pun bermohon dengan sangat bagi kelangsungan hidup dan kedudukan Pangeran Purbaya, dengan bersum- pah di atas makam ayahnya itu serta mengingatkan pada anjuran ayahnya sendiri. Raja menyatakan tidak berscdia karena hal itu menyangkut kewibawaannya. Ratu Ibu lalu berkata bahwa hal itu harus ditunjukkan dalam kenyataan; dan dimohonkannya kepadanya untuk menunggu sebentar sementara ia menjemput Pangeran Purbaya, yang kini sama sekali berada dalam kekuasaan kemanakannya itu. Keduanya tercengang akan pertemuan mercka ini. Tetapi Pangeran Purbaya, karena khawatir akan keselamatan keluarganya, bersujud dan mencium kaki Raja. Sementara itu, Ratu Ibu telah memanggil kedua kelompok pengiring untuk menyaksikan penyerahan diri Purbaya kepada Raja. Semua yang hadir merasa gembira, kiranya karena Raja berkenan akan sikap Pangeran Purbaya yang merendahkan dirinya itu. Dimaafkannya pamannya dengan sikapnya yang membangkang, dan bersumpah bahwa tidak pernah ada niat padanya untuk membunuhnya, melainkan sekadar akan mencabut kekuasaannya. Setelah itu, kedua belah pihak menjadi rukun kembali dan pulanglah mereka ke istana masing-masing. Ratu Ibu yang mengenal jiwa putranya, telah berhasil mengalihkan kecenderung- an putranya yang salah itu ke arah yang lebih baik. Keesokan paginya, ketika Pangeran Purbaya menghadap, Raja masih juga lembut hatinya. Diizinkannya pamannya datang ke Istana kapan saja dikehendakinya, seraya dipujinya setinggi-tingginya pandangan ibunya yang jauh ke depan, yang telah mencegah banyak pertumpahan darah. Sesungguhnyalah tahun-tahun pertama pemerintahannya tenang dan damai sifatnya. Sebagai satu-satunya sumber untuk kisah-kisah ini, Van Goens menyebut beberapa orang Jawa yang menceritakannya kepadanya secara langsung atau melalui para penerjemah. Dalam babad tidak disebutkan pembangkangan Pangeran Purbaya dan tentang diselamat- kannya jiwanya itu. Dan ini akan sangat bertentangan dengan isinya, karena cerita tutur selalu mengemukakan kesetiaan Pangeran Purbaya yang tidak tergoyahkan kepada Raja, kemanakannya itu. Kete- rangan-keterangan Belanda yang terdapat dalam surat-surat Japara serta ikhtisarnya dalam Daghregister, sama sekali berlawanan dengan apa yang ditulis dalam babad. Andai kata pembangkangan Pangeran Purbaya itu dahulu pernah tercantum di dalam kronik kerajaan, maka pastilah telah disingkirkan dari situ karena alasan-alasan seperti yang sudah saya kemukakan. 15-16. 41 Sekalipun Pangeran Purbaya sudah mendapat pengampunan dari kemanakannya, Sunan tetap tidak mengurangi kegiatannya untuk memilih orang-orang dari kalangan generasi muda sebagai abdi-abdi istana. Menurut Van Goens, pada tahun 1654 (selama kunjungannya yang terakhir) atau tahun 1655 (selama kunjungan Winrick Kieft) selain Pangeran Purbaya dan Tumenggung Singaranu kiranya tidak ada seorang pun dari ”penasihat-penasihat dan orang-orang terkemuka dari zaman ayahnya” yang masih tampak di istana. Pendapat ini berlebih- lebihan. Selain itu, harus pula diperhatikan bahwa hilangnya generasi tua tersebut mungkin disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Pada tahun 1575 J. (mulai 2 Desember 1652 M.) Ratu Ibu Dalem meninggal, demikian dilaporkan Babad Momana; dan pada tahun 1577 J. (mulai 11 November 1654 M.) meninggal pula Raden Tumenggung Mataram. Dengan hilangnya yang tua-tua, maka akhlak Raja dapat berkembang ke arah yang tidak baik. Ill-7 Politik luar negeri Mataram Mengenai aspirasi-aspirasi politik Sunan Mataram, keterangan yang terbaik diperoleh dari raja itu sendiri. Pada akhir pemerintahannya, ketika di mana-mana sudah timbul pertanda yang buruk, Sunan tidak hanya menganggap dirinya sebagai pemilik ”kekuasaan tertinggi . . di Kota Mataram”, tetapi juga sebagai "penguasa atas seluruh Jawa” (Daghregister, 4 Oktober 1673). Dalam hubungan itu tentunya termasuk pula Blambangan yang sudah terlepas dari kekuasaannya dan Banten yang tidak pernah dikuasainya, sedangkan kekuasaan semunya atas Batavia dan daerah sekitarnya dapat dipertanyakan dengan sungguh- sungguh. Bagaimana pendapatnya tentang daerah Seberang dapat disimpulkan dari bagian pemerintahan yang ditetapkannya pada tahun 1657. Empat gubernur daerah pantai terpenting diberi tugas memerintah atas Palembang, Jambi, Sukadana, dan juga Batavia. Dalam hal ini Sukadana mungkin berarti seluruh Kalimantan, sehingga juga termasuk di dalamnya Banjarmasin, yang selama pemerintahan ayahnya memberi sembah kepada Sultan Agung. Tetapi utusan raja Makassar, yang sejak tahun 1635 bersekutu dengan Mataram, hendak diterima Sunan hanya sebagai seorang hamba dari sebuah daerah taklukan, sekalipun raja Makassar itu sendiri tidak pernah mengakui Mataram sebagai pertuanan yang lebih tinggi. Pada tahun 1660 seorang penguasa daerah pantai merasa ketakutan menerima surat dari Pemerintah Kompeni karena dalam surat itu atasannya hanya disamakan dengan Syah Parsi dan Mogol Besar India. 42 Juga di laut kedaulatan Mataram dianggap tidak terbatas. Oleh karena itu, seorang utusan Mataram tingkat rendahan berpendapat bahwa pretensi Kompeni atas kekuasaan di laut harus ditentang dengan keras (Daghregister, 4 Desember 1669). ‘Tetapi apakah jadinya anggapan kekuasaan yang tidak terbatas ini? Mengenai Jawa: Untuk daerah yang didudukinya, yaitu Batavia dan sekitamya, Kompeni telah membayar tidak lebih dari semacam upeti yang samar-samar sifatnya, tetapi tanpa merasakan dirinya dikuasai Mataram. Kompeni bertindak atas dasar berdiri sendiri dan mendapat perlakuan sesuai dengan itu pula. Banten, yang aman di belakang Batavia, tidak pernah mengakui kekuasaan Mataram. Blambangan: setelah adanya usaha untuk menegakkan kekuasaan Mataram di sana, harus segera dilepaskan; dan kemudian, atau jadi mangsa serbuan orang-orang Bali, atau membentuk kerajaan kecil yang berdiri sendiri, dengan raja yang juga menamakan dirinya susuhunan. Di luar Jawa kekuasaan Mataram tampaknya lebih kecil. Hanya Palembang yang tetap setia sampai akhir (1677), mungkin berdasarkan tradisi lama, atau karena merasa terancam oleh musuh Mataram, yaitu Banten; dan Jambi yang sedang berkembang dengan pesat. Yang disebut terakhir ini masih memberi sembah kepada raja Mataram. Tetapi tidak lama kemudian terdapat suatu aliran yang kuat sekali dalam kerajaan ini, khususnya di kalangan generasi muda, yang ingin memisahkan diri dari Jawa. Di Kalimantan setelah tahun 1660 tidak terdapat lagi sisa-sisa kekuasaan Mataram; sedangkan Makassar menghargai orang Jawa paling-paling sebagai sekutu. Bahkan dari ikhtisar singkat ini pun sudah terlihat bahwa, antara kenyataan dan pengakuan tentang luasnya kekuasaan itu, terdapat jurang yang dari tahun ke tahun menjadi semakin dalam dan semakin lebar. Marilah kita telaah proses kchancuran kerajaan di Jawa dan daerah seberang ini dengan lebih tcliti, sedangkan hubungan antara Mataram dan Kompeni akan ditulis dalam bab tersendiri. Bahwa kehancuran ini dapat menjalar ke mana-mana begitu cepat dan hebat, disebabkan oleh sangat kurangnya keperkasaan sang raja. Sering sekali ia melancarkan rencana peperangan, dan berkali-kali mengancam akan melakukan tindakan perang yang keras, tetapi jarang sekali atau tidak pernah terwujud dalam pukulan yang nyata. Pemerintah Kompeni di Batavia dalam laporan umumnya tanggal 16 Desember 1659 (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 81) mengemukakan telah dapat menjejaki sebab-sebabnya. Pemerintah Kompeni yakin bahwa jika peperangan 43 terjadi, Susuhunan “tidak akan mudah meninggalkan istana Mataram, karena di luar istana itu ia tidak merasa aman; dan ia pun tidak akan mempercayakan sebagian kekuatan tentaranya kepada pembesar mana pun, karena kelaliman pemerintahan yang telah dilakukannya menjadi- kan ia ditakuti dan dibenci setiap orang”. Kerajaan Mataram bangkit berkat watak kuat Senapati dan Sultan ‘Agung, tetapi demikianlah keruntuhan kerajaan tersebut disebabkan oleh sifat-sifat kejam anak cucu mereka, yaitu Sunan Tegalwangi yang selalu curiga dan membawa malapetaka. Lebih lanjut harus diselidiki dengan lebih mendalam kedudukan Kerajaan Mataram yang semakin menyendiri. BabIV Hubungan dengan Banten dan Bali IV—1 Banten—Mataram, 1646-1652 senang terhadap Banten. Tentu saja karena Banten tidak mau memandang dirinya rendah dari Mataram. Demikianlah maka dua Sultan Banten itu, yang tua dan yang muda, pada bulan Februari tahun 1649 menyuruh menghitung seluruh jumlah penduduk laki-laki di atas usia tujuh tahun, dan membagi-bagikan senapan kepada beberapa orang kepala. Sementara kalangan berpen- dapat bahwa “usaha menghitung ini dilakukan untuk mengetahui dengan tepat berapa besar kekuatan yang dapat dikumpulkan untuk menghadapi Mataram apabila Mataram hendak memerangi Banten” (Daghregister, 20 Februari 1649). Sebaliknya, Sunan mencurigai orang-orang Banten, dan bertanya kepada seorang utusan Belanda yang berkunjung kepadanya ”'apakah ada utusan Bali yang datang di Banten” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 54). Dengan demikian, ia merasa khawatir akan diserang dari ki kanan, karena Bali merupakan musuh bebuyutannya. Jugz diketahuinya betapa jauh letak Banten dari Batavia, “yang dijelaskan dengan sebuah gambar yang dibuat dengan jari tangan oleh Tuan Kolektur di atas pasir” (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 58-59). Sikap yang mengancam ini membuat Banten bersikap hati-hati. Maka, tibalah sebuah perutusan Banten di Mataram sekitar tahun 1648—1649. Hanya Sadjarah Banten yang memuat keterangan tentang hal ini (Djajadiningrat, Banten, him. 58-61 dan 186). Untuk hubungannya dengan Banten, Sunan memakai kaki tangannya di Girebon. Setelah meninggalnya Panembahan Ratu pada tahun 1640, 45 S ¢lama enam tahun pertama pemerintahannya, Sunan tidak merasa ini adalah cucunya, Panembahan Adiningkusuma, yang terutama dikenal sebagai Panembahan Girilaya. Panembahan Ratu yang sudah sangat tua itu telah memperingatkan penggantinya supaya tidak turut campur dengan kemungkinan ditaklukkannya Banten olch Mataram. Tetapi ketika Panembahan Girilaya menghadap sebagaimana biasanya di Mataram, ia dibuat mabuk oleh patih kerajaan Tumenggung Singaranu. Dalam keadaan mabuk dinyatakannya, ketika dicolok Tumenggung Singaranu, bahwa Banten adalah cabang dari Cirebon, apakah cabang, kalau tidak patah, tidak harus mengikuti batangnya? »Pangeran benar-benar setia!” seru Tumenggung Singaranu dengan gembira. Keduanya lalu mengirimkan utusan bersama ke Banten: Tumenggung Singaranu mengirimkan mantri-mantrinya Rujitnala, Jawiring, dan Sangyang Panengah; pembesar Cirebon itu mengirimkan ‘Sacadimarta. Konon ketika itu Jawiring mengusulkan supaya ”Mataram dan Banten setiap tahun saling mengirim perutusan”. IV-2 Perutusan Banten yang pertama, 1650 Sekalipun Sunan konon pernah mengatakan tentang saling mengirim perutusan, maksudnya pertama-tama adalah agar Banten mengirimkan utusan-utusannya ke Mataram sebagai pertuanan yang harus disembah. Oleh karena itu, perutusan Mataram yang pulang kembali disertai oleh utusan-utusan Banten yang sama jumlahnya: Ki Jamiah, Bagus Cangah, Mantri Kaneman, Ki Tombol dan Ki Cilipathi. Mereka dititipi surat dari Mas Dianingrat. Setiba mereka di Semarang, Jawiring meninggalkan rekan-rckannya dan pergi sendiri ke Mataram. Setelah menunggu setengah bulan, mereka dijemput oleh 100 orang. Melalui jalan yang dikenal selalu ditempuh surat-surat perjalanan Van Goens, bertolaklah mereka menuju kota istana, tetapi di setiap pintu gerbang mereka harus menunggu seminggu. Mereka menginap pada Mantri Wirakarta (tumenggung Mataram yang kemudian?). Sambutan memang baik, tetapi juga dimaksudkan agar mengesankan bagi utusan-utusan Banten itu, Jadi, sekalipun tuan rumah memperlihatkan sikap ramah, para tamu menjadi sangat waspada. Setelah setengah bulan, dipanggillah para utusan bersama Wirakarti oleh seorang pesuruh Tumenggung Singaranu. Kedatangan pesuruh ini sangat mengejutkan para utusan Banten. Mereka telah siap sedia mati bersama. Di kediaman patih yang sudah penuh sesak dengan hadirin itu, mereka disambut dengan ramah. Para utusan di sana sesumbar mengenai luasnya daerah yang mereka kuasai, dan sangat banyaknya penduduk. Dari Lampung, Tulangbawang, dan Sulebar, sampai ke Palembang dan Malangkabo berdatanganlah setiap bulan para bupati 46 beserta pengiring, andai kata pada suatu ketika terjadi peperangan. Tumenggung Singaranu menganggap Surasaji (Surasowan: Banten) sebagai daerah yang luas, tctapi bagaimanakah pendapat utusan-utusan Mataram? Utusan Ki Miyah berpendapat bahwa Mataram tidak dapat dibandingkan dengan negara mana pun. Tumenggung Singaranu lalu bertanya, bagaimana pendapatnya tentang harimau liar di Mataram, banyak atau tidak. Ki Miyah membenarkan bahwa memang banyak harimau di Mataram; tetapi Bagus Ganggah berkata bahwa dengan sendirinyalah demikian hal Sebab, Mataram adalah negara luas; tetapi juga di Banten yang kec terdapat banyak harimau yang ganas. Jawaban ini membuat Tumeng- gung Singaranu marah sckali dan berkata dengan nada keras bahwa sama sekali tidak ada niat padanya untuk meremehkan Surasaji. Demikianlah jalan pembicaraan berlangsung, tidak ada pihak yang mau kalah, Setelah jamuan selesai maka kembalilah para utusan itu ke tempat penginapan mereka. Mercka juga menghadiri Seton, pertandingan gada berkuda yang diadakan setiap hari Sabtu, dan merasa tercengang melihat begitu banyaknya penduduk Mataram. Sementara itu, mereka tidak pernah melihat Baginda Raja, mungkin karena pangkat mereka terlalu rendah. Setelah beberapa waktu mereka pulang kembali ke Banten, dan tiba di sana pada tengah malam. Segera mereka menghadap Sultan yang telah menerima beberapa berita tentang pengalaman mercka, dan ingin memperoleh lebih banyak keterangan lagi. Rupanya Tumenggung Singaranu bermaksud menakut-nakuti para utusan Banten, dengan tidak memperkenankan mereka menghadap Raja. Tetapi usahanya kurang begitu berhasil. Ketika keesokan harinya mereka diterima dengan khidmat oleh Sultan, maka dianugerahkanlah berbagai hadiah, dan dinaikkan pula kedudukan masing-masing — selanjutnya mercka bernama: Kartiduta, Wangsadipraja, Wiranaya, dan Astranaya. Mereka seraya diperkenankan duduk di atas lumping (kulit kerbau yang dikeringkan). Maka, bertanyalah Sultan kepada Astranaya tentang pengalamannya di Mataram. Yang ditanya menjawab dengan terus terang bahwa ia merasa seolah-olah disiksa tanpa ditangkap. Sudah banyak negara yang dikunjunginya sebagai utusan, tetapi tidak pernah dijumpainya sebuah negara seperti Mataram (Goens, Gezantschapsreizen, him. 62). Kepada Kartiduta, Sultan bertanya apakah pada pendapatnya penyerbuan Mataram ke Banten akan tetap dilaksanakan. Menurut Kartiduta, memang mungkin bisa terjadi, andai kata aricaman ini tidak dielakkan dengan berkah Raja dan Saba Kingking, makam Raja Banten yang pertama. Setelah itu Sultan pun masuk ke dalam keratonnya. 47 IV—3 Pagarage, 1650 Sadjarah Banten mcmang memberitakan bahwa setidak-tidaknya dua tahun kemudian terjadi Pagarage, yaitu percobaan Cirebon untuk menaklukkan Banten (Djajadiningrat, Banten, hlm. 62-65), yang menurut catatan H. Djajadiningrat terjadi pada tahun 1650. Ini didukung oleh surat Pemerintah Kompeni yang memberitakan bahwa “orang Cirebon ingin memerangi Banten dan merampoknya” (surat dari Batavia, 31 Juli 1649; dalam K.A. No. 776, him. 77). Pada tahun 1649 ada kemungkinan terjadi perang antara Cirebon dan Banten, yang jadinya pecah setahun kemudian. Perang Banten—Mataram ini kita kenal hanya dari Sadjarah Banten. Di Banten muncul dua orang utusan dari Cirebon, Jiwasraya dan Nalawangsa. Ketika mereka tidak berhasil membujuk Sultan, maka datanglah seorang sentana (keluarga raja), yaitu Pangeran Martasari, dan putranya, bersama Tumenggung Wiratantaha. Sekalipun dijamu dengan meriah, mereka tidak juga dapat membujuk Sultan supaya bersama Cirebon mau menghadap Mataram. Sultan Banten tidak mau mengakui raja mana di atasnya sclain Sultan Mekah, yang sering mengirimkan surat kepadanya berisi pelajaran-pelajaran yang berhik- mah”, Sia-sia Pangeran Martasari kembali ke Cirebon, dan menimbul- kan amarah dari pembesar Cirebon. ”Ia malu terhadap Singaranu’’. Di Banten dengan bersemangat orang bersiap-siap untuk berperang, sekalipun jumlah prajurit sedikit saja. Sebuah armada terdiri atas 60 kapal layar tampak menuju pelabuhan Tanara. Yang menjadi senapati adalah Ngabei Panjangjiwa yang menyertai Pangeran Martasari. Sebaliknya, pihak Banten mengirimkan sebuah armada yang terdiri atas 50 kapal di bawah pimpinan Lurah Astrasusila, Demang Narapaksa, dan Demang Wirapaksa. Banyak punggawa lainnya juga turut serta. Sultan berjanji akan memberi hadiah dua ribu rial, dan sehelai kampuh (kain kebesaran) apabila tercapai kemenangan. Setiba di Tanara, Astrasusila menunggu sambil bersembu- nyi di Tanjung Gede, kedua pemimpin lainnya di Muara Pasiliyan. Pada pagi hari orang Cirebon berdayung memasuki pelabuhan Tanara. Ngabei Panjangjiwa membuang senjatanya dan menyerah kepada Demang Wirapaksa. Ia dikirim kepada Sultan, yang mengampuninya. Ketika orang Cirebon lainnya melihat senjata-senjata sedang terapung, belum mengerti mereka bahwa Panjangjiwa tanpa sedikit perlawanan pun telah menyerah. Mereka diserang secara tiba-tiba oleh Astrasusila dan dua orang demang. Hanya satu kapal yang selamat, di bawah pimpinan Martasari; lima puluh kapal dapat dirampas. Para awak kapal tidak melawan, dibelenggu dan diturunkan di padang Sumur Angsana. 48 Di sana mereka semua dibunuh, sekalipun mereka minta ampun. Kepala mereka dikirim ke Surasowan (Banten). Ini terjadi pada hari ketiga puluh bulan Ramadan. Pada hari Lebaran para prajurit kembali ke Banten. Bulan Ramadan tanggal 30 ini jatuh pada tanggal 22 Desember tahun 1650; hari Lebaran jatuh pada hari berikutnya. IV—4 Pembalikan politik, 1652 Ketika Rijklof van Goens pada bulan Oktober tahun 1652 berdiam di istana Mataram, diperolehnya berita bahwa Raja sekali lagi merencana- kan sebuah ekspedisi terhadap Banten, yang ditetapkan — dan ini dapat diterima kebenarannya — akan terjadi pada pertengahan tahun itu. Seorang panglima sudah diangkat, yaitu paman Raja, Pangeran Purbaya, yang benarlah hanya bersedia menerima pengangkatan itu, asalkan ada jaminan tentang netralitas Batavia. Sunan memberikan jaminan itu. ‘Tetapi tiba-tiba terjadi suatu perubahan besar, karena tindakan ”para pemuka agama dan lain-lain orang yang tidak becus”, seperti dikatakan Van Goens (Goens, Gezantschapsreizen, him. 123). Mereka ”menge- mukakan suatu kesulitan baru” dengan menunjuk ”bahwa ayah Raja sebagai orang keramat, pada waktu akhir hayatnya telah memberi pesan agar senjata-senjata Mataram pertama-tama harus diarahkan ke timur dan kemudian ke barat; kalau tidak, maka mereka tidak akan memperoleh berkah”’. Berarti pertama-tama Blambangan harus direbut dari orang-orang Bali yang kafir, sebelum dapat menyerang kaum seagama di Banten. Golongan pemuka agama yang pernah dihajar Sunan dahulu itulah yang telah bangkit kembali dan memelopori pembalikan politik ini. Untuk itu, mereka berlandaskan pesan terakhir ayah Raja, yang dianggap memiliki kesaktian. Semula Sunan tidak mau menghiraukan alasan orang-orang Islam ini. Malah diperintahkannya kepada para pembuat meriam dan senapan untuk menghasilkan 800 senapan dan banyak meriam kecil dalam satu triwulan. Setelah itu terjadilah satu dan lain hal yang membuatnya sadar kembali. Diperintahkannya agar meriamnya yang terbaik dan baru selesai itu dicoba di ”lapangan yang paling terhormat” (alun-alun?). Setelah itu disuruhnya supaya dicoba pula sebuah meriam Belanda yang sama besamnya, tetapi diberi peluru yang dua kali lebih berat daripada peluru untuk meriam Jawa. Sunan merasa heran bahwa meriam Belanda itu hanya sedikit ‘melompat ke belakang. Dan ditanyakannya kepada pembuat meriam Jawa, apakah meriam Jawa juga tahan diisi dengan 49 peluru yang sama beratnya. Setelah pembuat meriam itu mengiakannya, maka meriam buatannya itu diisi dengan peluru dua kali lebih berat, dan kemudian ditembakkan. Tectapi meriam itu meledak dan hancur berantakan dalam berkeping-keping tidak terhitung banyaknya, dan keping terbesar jatuh tepat di depan Raja. Sungguh luar biasa terkejutnya, hingga diperintahkannya agar pembuat meriam itu ditang- kap, lapangan percobaan itu dijahanamkannya, dan diperintahkannya pula agar-gerbang lapangan ditutup semen “untuk selama-lamanya, sehingga sangat menyusahkan kalangan istana sendiri”. Pada malam hari sesudah peristiwa itu, Raja bermimpi sesuatu yang mengerikan, dan dalam beberapa hari kemudian badannya penuh dengan bisul bernanah. Inilah yang mematahkan kemauannya yang keras. Ia menjadi religius, dimintanya “para pemuka agama untuk berdoa bagi dirinya”, bersumpah ia akan melancarkan perang ke timur dan berjanji ”akan membina hubungan yang menyenangkan bagi orang-orang Banten, demi memelihara nama baiknya”. Para pemuka agama menyatakan kesediaan berdoa bagi Raja dan menyembuhkannya dari penyakitnya dalam waktu sepuluh hari. Sejak itu Pangeran Purbaya amat dihormati oleh kemanakannya; dipandang sebagai orang keramat oleh Raja. Segera akan dimulai perang terhadap timur. Anehnya, kisah yang diberitakan Van Goens ini sebagian dibenarkan oleh Babad Sangkala. Pada tahun 1574 J. (mulai 15 Desember 1651 M.) konon sebuah meriam meledak di paseban; tidak lama sesudah itu pintu gerbang dipindahkan. Ini menunjuk kepada meledaknya meriam Jawa dan disemennya pintu gerbang ke lapangan besar (Goens, Gezantschapsrei- zen, him. 123). Sejak itu hubungan antara Banten dan Mataram memang nyata bertambah baik, tetapi tidak ada berita bahwa akan dilancarkan ckspedisi besar-besaran terhadap Blambangan. Sebaliknya, Kompenilah yang pertama-tama harus merasakan akibat-akibat kurang menyenang- kan dari hubungan yang lebih baik antara kedua belah pihak itu. Orang-orang Banten mulai bersikap sangat buruk terhadap Kompeni; semula hal ini diduga akibat pengaruh Inggris, yang ketika itu sedang berperang terhadap Republik (Belanda). Tetapi sesudah perjanjian sepuluh tahun dengan Banten berakhir, ternyata bahwa Batavia menderita sebagai akibat kemarahan ”para tetangga”. Kemudian hubungan yang lebih baik antara Mataram dan Banten itu terwujud dalam suatu rencana perkawinan, yang baru diketahui Batavia ketika gagal pada tahun 1656. 50 IV—5 Perpecahan dalam persahabatan Banten—Mataram, 1656 Pada tanggal 22 Oktober 1656 pedagang Evert Michielsen mengada- kan pembicaraan dengan Tumenggung Pati. Dengan ”rasa ingin tahu” ditanyakannya kepada tumenggung itu, ”apakah Susuhunan, menurut desas-desus, meminta 2.000 orang gadis”. Tumenggung menjawab bahwa yang diperlukan hanya dua orang gadis untuk putranya dan untuk itu mungkin 100 gadis akan dibawa untuk dipilih, dan juga secara diam-diam akan ditolak gadis-gadis dari Banten, karena Sri Baginda ingin memilihnya dari warganya sendiri”. Dari kegagalan perkawinan itu, yang lebih penting adalah retaknya hubungan antara kedua kerajaan yang terjadi sebagai akibatnya, seperti yang tampak antara lain dari peristiwa berikut: Pada sekitar awal bulan Juli 1657, tibalah di Banten empat perahu Tumenggung Pati, membawa hadiah-hadiah anch, yang atas perintah Sunan harus disampaikan kepada Sultan. Hadiah-hadiah itu berupa sepasang ayam hutan dan sepasang burung dara, berikut sebuah kantung kecil yang berisi "cannuri”” (kanari?), yaitu "buah-buahan Jawa yang kalau diperas mengeluarkan minyak”’. Sudah tentu hadiah ini mempu- nyai arti yang kurang menyenangkan bagi orang Banten (Daghrégister, 11 Juli 1657, him. 208). Jawabannya pun demikian. Sultan mengirimkan "sebuah pisau cukur, gunting, topi Jawa berwarna putih, dan kain putih yang panjang”. Kedua penjelasan yang diberikan mengenai hadiah itu tidak banyak memuaskan. Lebih masuk akal hadiah itu dipandang sebagai sindiran terhadap sangat kurangnya kesalehan Sunan. Orang alim mencukur rambutnya dan memakai jubah putih Arab yang panjang, berikut sebuah kopiah putih. Bagaimanapun, pertukaran pikiran yang simbolis ini mengandung sifat yang sengit serta menunjuk kepada hubungan yang semakin dingin, dan pasti akan pecah menjadi peperangan. Adanya ketegangan ini menggembirakan orang di Batavia. Menurut Truijtman, kedua belah pihak bagaikan dua musuh besar, yang saling amat menakuti. Demikianlah, maka ”pisau yang satu membuat pisau yang kedua tetap berada di dalam sarung.” IV-—6 Perutusan Banten yang kedua, 1657 Betapa tegangnya hubungan antara Mataram dan Banten itu tampak pula dari tibanya di Juwana pada tanggal 8 Agustus 1657 tujuh ”perahu ° tempur Banten yang kuat dan dipersenjatai, berikut 2 orang utusan dari Kiai Mongjaya, yang membawa sepucuk surat dan hadiah kecil berupa dua gobar, sebuah tasbih dari batu akik, dan beberapa ekor ayam jago serta burung” (Daghregister, 3 September 1657, him. 252). Untuk itu 51 mereka memohon dua lanang (perahu perang) untuk sultan mereka, guna memelihara persahabatan yang baik. Hadiah itu mungkin sama kurang ajarnya seperti permohonannya, karena tasbih yang dihadiahkan tersebut rupanya mengandung sindiran supaya Sunan menempuh jalan yang lebih lurus. Tidak mengherankan bahwa kedua /anang yang diminta tidak diberikan, sebab semua lanang termasuk milik Sunan. Perahu-perahu perang Banten tampaknya memang cukup perkasa untuk melancarkan perang, ”dengan bendera-bendera merah di buritan dan penuh dengan tombak dan perisai”. Residen Belanda Michielsen memprotes keras diterimanya utusan-utusan yang bersenjata ini dan berpendapat sebaiknya ia tidak pergi ke Juwana sebelum orang-orang Banten itu meninggalkan kota itu. Kedatangan utusan-utusan dari Makassar pada waktu yang bersamaan tentu saja menambah perasaan tidak aman bagi orang Belanda. Tumenggung Pati pertama-tama menjelaskan bahwa mereka ha- nyalah utusan perdamaian. Dengan Banten perdamaian hanya dipeliha- ra "untuk mendapatkan kembali 60 orang laki-laki yang . . . melarikan diri. . . , lebih dari itu, hubungan dengan Banten tiada gunanya” (him. 253). Kemudian dikatakan oleh Tumenggung bahwa orang-orang Banten itu bahkan mengetahui bahwa sultan mereka ingin takluk (Daghregister, 4 Desember 1657, him. 334). Berita seperti itu sudah terlebih dahulu diterimanya dari utusannya di Banten. Ketika Michielsen pada tanggal 1 September 1657 menulis surat kepada Batavia, ia dapat memberitakan bahwa Tumenggung Pati telah memerintahkan para tamunya dari Banten supaya berangkat kembali dalam waktu empat hari. Hampir-hampir tidak mungkin mereka melaksanakan persoalan itu. Setelah mereka berangkat, residen Belanda bersedia lagi tampil di Pati kembali (Daghregister, 8 September 1657). IV~7 Sebab-sebab perang Mataram dengan Banten Sudah mulaikah orang Banten sementara itu mengganggu perahu- perahu dagang Mataram (Daghregister, 30 Oktober 1657, him. 290)? Sebagai alasan untuk berperang, Sunan kemudian menyatakan, ia “tidak tahan lagi melihat kesombongan orang Banten” (Daghregister, November 1657, hlm. 308). Juga apa yang disebut orang Jawa Belanda, Michael Zeeburch, menegaskan bahwa Raja ”'merasa sangat tersinggung karena pelanggaran yang dilakukan Banten terhadap rakyat Mataram” (Daghregister, 4 Desember 1657). Mereka membunuh rakyatnya di negaranya sendiri! Tetapi atas nasihat Tumenggung Pati, ia akan memberitahukan rencananya tersebut ke pihak Belanda terlebih dahulu. Dan ini memang tepat sekali: tanpa persetujuan Batavia tidak mungkin 52 dapat diadakan serangan terhadap Banten. Sunan ingin supaya Banten menjadi kerajaan taklukannya. Ini ternyata dengan jelas ketika kepala dacrah Semarang menyita dua perahu Banten, dan kemudian menyuruh para penumpangnya pulang kembali, setelah disediakan bagi mercka sebuah perahu tua dengan sedikit air dan beras. Mereka menyampaikan pesan kepada Sultan, *bahwa kalau ia tidak cepat-cepat datang untuk memberi sembah kepada Sunan, maka bentengnya akan dihancurkan” (Daghregister, 10 November 1657, him: 309). Sultan sudah tentu tidak datang. Beberapa waktu kemudian terdapat berita yang menyatakan bahwa Sunan sekitar awal bulan November 1657, disaksikan oleh keempat penguasa pantai, ”mengusulkan untuk mengirimkan tentara ke Banten guna menaklukkannya”. Dan ini mungkin akan benar-benar terjadi, kalau Tumenggung Pati tidak memberanikan diri untuk berkata bahwa mereka harus dimaafkan karena menganut agama yang sama”. Perselisihan-perselisihan hanya timbul di kalangan rakyat biasa. Tetapi Tumenggung Pati itu merasa pasti, dan berani mengemukakan dirinya sebagai jaminan, "bahwa Sultan Banten hanya berusaha supaya tidak kehilangan muka di hadapan Susuhunan”. Untuk mendukung pernyataannya ini dikemukakannya alasan-alasan lain. Sesungguhnya ia dapat pula menambahkan keterangan bahwa waktunya sudah menjelang akhir tahun, dan bahkan akan merupakan tindakan nekat untuk melakukan serangan terhadap Banten tanpa bantuan Pemerintah Kompeni. Setelah itu serangan besar terhadap Banten ditangguhkan, dan sebuah ekspedisi kecil sajalah yang dikirimkan ke Karawang (Daghregister, 4 Desember 1657, him. 334). IV—8 Ekspedisi ke Karawang, 1657-1658 Sementara itu pertemuan sudah dimulai. Mungkin karena amarahnya, maka Sunan menyerahkan tanggung jawab atas pertempuran kepada Tumenggung Pati, yang beroposisi terhadap perang Banten itu (Daghregister, 4 Desember 1657, him. 334). Ia sendiri tidak ikut serta, tetapi dari Mataram memberi perintah kepada Lurah Patra di Juwana untuk berlayar menyusuri pantai ke arah barat dan mengusir semua orang Banten, "dan kalau ada yang melawan, bunuh saja mereka atau potong hidung dan telinga mercka dan mengirimkannya ke Mataram”” (Daghregister, 1 November 1657). Maka, terjadilah pembersihan pantai utara sampai ke Karawang. ‘Tahap berikutnya adalah perintah kepada empat penguasa pantai untuk ”berlayar ke Sungai Craoan (Karawang) ... masing-masing 53 dengan enam perahu yang dipersenjatai dengan kuat...dan me- nyelidiki apakah ada perahu-perahu Banten di sana, yang segera harus diusir (Daghregister, 31 Juli 1657). Sebelumnya diminta dengan hormat izin dari Pemerintah Kompeni: scbab mungkin akan terlalu dekat! Ini baru pengintaian saja . . . , pertempurannya sendiri mungkin baru akan diadakan beberapa bulan kemudian. Untuk itu akan dipersiapkan perahu-perahu di pelabuhan-pelabuhan Juwana dan Jepara, 70 buah di Jepara, masing-masing dengan 40—50 ‘awak kapal, dengan tiga orang pemimpin (Daghregister, 25 Oktober 1657, him. 291). Pada tanggal 13 Oktober 1657, niscaya setelah armada dari Juwana bergabung dengan armada Jepara, bergeraklah mereka dari Jepara “untuk menyapu bersih jalan ke Banten” (Daghregister, 30 ‘Oktober 1657). Armada ini seluruhnya hanya terdiri dari 50 kapal layar, sedangkan diharapkan datang satuan-satuan kecil lainnya dari Tegal, Pati, dan Semarang (Daghregister, | November 1657). Setiap kapal berisikan 40 sampai 60 awak kapal, dipersenjatai senapan dan tombak. Beberapa kapal lainnya juga memiliki alat-alat perang lainnya (prinsen- tukjes dan bassen). Sebagian dari kapal-kapal itu digunakan untuk pengangkutan, dan membawa 1.000 ekor kuda untuk angkatan darat. Sebagai pemimpin disebut Kentol-Kentol Abadsara atau Ampatsara, saudara Ngabei Martanata, dan Wangsamarta (Daghregisler, 7 November 1657). Bersamaan dengan bergeraknya angkatan laut ini, suatu kesatuan tentara berkekuatan 40.000 orang, 10.000 di antaranya bersenjata”’ (dengan demikian selebihnya hanya sebagai tukang pikul saja), akan berbaris melalui darat ke Karawang (Daghregister, 30 Oktober 1657, him. 299). Angkatan laut akan menyediakan kuda bagi mereka. Mereka yang tidak membawa senjata harus membuatjalan melalui dacrah pegunung- an ke Banten dan memikul bahan-bahan perbekalan. Kemudian diterima berita bahwa tujuan mereka adalah ”Padia Jarangh sebelah selatan Batavia”, yaitu Pajajaran dekat Bogor. Hal ini agak diragukan tampaknya (Daghregister, 10 November 1657, hlm. 308). Panglima- panglima angkatan darat ini adalah kakak beradik Wirajaya dan Idabangsa (Wirawangsa?). Maksudnya adalah untuk mengusir orang Banten dari sana, dan "kalau ada yang melawan harus dipukul dan ditangkap, hidung dan telinganya dipotong” (Daghregister, 4 Desember 1657, him. 334). Berita-berita ramai tentang perang ini juga tertangkap di Batavia dan menimbulkan rasa kekhawatiran. Setelah pada tanggal 27 Oktober 1657 kapiten tua bagi orang Jawa di Batavia menemukan armada yang terdiri dari 49 sampai 50 kapal Jawa di depan Karawang dan mengirimkan 54 berita tentang ini kepada Pemerintah Kompeni, keesokan harinya pejabat keuangan Wijnand Rutgers dikirim ke sana. Pada tanggal 29 Oktober 1657 sudah dijumpainya di dekat Karawang sebuah kapal Jawa, yang menyampaikan berita pertama kepadanya tentang armada Mata- ram. Pembantu Letnan Pieter Thonissen, yang dikirim ke sana, menemukan di muara kira-kira 27 kapal. Mereka diterima dengan sangat hormat, walaupun permintaan pelurunya ditolak orang Belanda. Orang-orang Jawa itu menjelaskan, “kita dan mereka sekarang sudah menjadi saudara, dan tindakan tidak tertuju pada kita, tetapi terhadap orang-orang Banten”. Letnan tersebut ditinggalkan bersama kepala pelabuhan Spijck dengan dua perahu yang berisi cukup banyak bahan makanan untuk melakukan observasi. Pada tanggal 30 Oktober 1657 pemimpin-pemimpin ekspedisi Jawa diundang ke kapal Kompeni. Kecuali di laut, Pemerintah Kompeni juga waspada di darat, dan mengirimkan sebuah regu pengintai untuk mengamat-amati jalan dari Karawang menuju Banten yang melalui daerah pegunungan” (Daghregis- ter, 7 November 1657). Orang-orang Jawa itu menyatakan bahwa mereka tidak bermaksud apa-apa. Mereka pergi ke Banten hanya untuk melihat apa yang sedang dilakukan orang-orang Banten di sana (Daghregister, 25 Oktober 1657, him, 291). Atau diterangkannya bahwa mereka datang ke sana "untuk mengusir orang Banten dari Karawang”, atau untuk melindungi para pedagang di pelabuhan-pelabuhan Sunan (Daghregister, 27 Oktober 1657). Angkatan darat juga tidak bermaksud apa-apa, yaitu hanya ingin melihat apakah orang Banten tidak mengganggu orang Belanda (Daghregister, 10 November 1657, him. 308). Dalam waktu pendek menjadi jelas bahwa ekspedisi tersebut terlambat dilancarkan pada tahun itu, schingga tidak bisa diharapkan akan mencapai hasil yang berarti. Oleh karena itu, para pemimpinnya sesumbar bahwa dalam musim panas tahun depan mereka akan datang kembali dengan ratusan perahu, dan langsung akan menuju Banten. Sementara itu, mereka akan digantikan oleh orang-orang dari Pati dan Tegal. Mengenai rencana gerakan besar-besaran itu tiada sesuatu apa pun yang terwujud, malah sebaliknyalah yang terjadi. Sekitar pertengah- an bulan November 1657 ternyata armada perang Mataram sudah hilang lenyap sama sekali (Daghregister, 17 November 1657). Angkatan darat pun lamban majunya. Pada sekitar 10 November 1657 mereka masih belum menyeberangi Citarum (Daghregister, 12 November 1657, him. 311). Penyakit dan kekurangan bahan makanan menjadi penyebab keterlambatan itu (Daghregister, 16 November 1657). Ekspedisi itu dilancarkan dengan semangat yang sangat rendah — 55 soalnya tidak seorang Banten pun yang sempat dijumpai — schingga pihak Belanda mulai meragukan kesungguhan gerakan itu. Kelihatannya tidak lebih dari suatu dagelan, yang dimaksud untuk memperdayakan orang Belanda (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 71). Seolah-olah Mataram dan Banten ”(pura-pura) mengadakan bentrokan untuk menjatuhkan kami dengan satu atau lain cara”. Tetapi bukanlah demikian halnya. Memang terjadi perkelahian pada sekitar pergantian tahun (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 73). "Orang Mataram. .. sudah maju melalui daerah pegunungan dan telah meninggalkan Batavia, dan di sana- . .. terlibat dalam suatu pertarungan dengan sekelompok orang Banten yang memang bertugas menahan mereka; kelompok itu terdiri atas tiga atau empat ratus orang Banten”. Kemudian orang Mataram meninggal- kan daerah itu, ”rupanya karena kekurangan bahan makanan”. Tetapi itulah perkelahian satu-satunya yang pernah terjadi! Tentang akan dilanjutkannya pertempuran itu pada tahun 1658, seperti telah diramalkan, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan terjadi. Sebaliknya, Sunan mengizinkan lagi orang Banten untuk memasuki pelabuhan-pelabuhannya, asalkan mereka tidak mengganggu perahu warganya yang berdagang di Batavia (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 72). Selain itu tidak tampak bahwa ”antara mereka telah tumbuh persahabat- an atau persekutuan”. Pada tahun selanjutnya, 1659, terjadi beberapa perompakan kecil- kecilan di laut. Sebuah perahu Pati diserang perahu-perahu Banten. Muatannya dan empat orang Melayu ditahan, yang lain dilepaskan. Pemerintah Kompeni merasa khawatir bahwa akan timbul persoalan dengan Tumenggung Pati dan Sunan (Daghregister, 9 Mei 1659). Apakah peristiwa ini sama dengan kejadian seperti yang dimaksud residen Jepara ketika ia menulis tentang orang Banten yang menjelajahi laut di depan Batavia dengan armada yang kuat, menyerang beberapa orang Jawa, melucuti senjata mereka, dan menyita bahan makanan sebanyak yang mereka perlukan? Selain itu para perompak berkata, Kalau kami bertemu kembali dengan kalian, maka kalian dan juga orang-orang yang datang dari Batavia, akan kami bunuh, dan kapal-kapal serta muatan kalian akan kami sita, karena kalian memberi makan kepada musuh” (Daghregister, 21 Mei 1659). Nada yang terlalu berani ini tidak menunjukkan bahwa mereka bertindak atas nama Sultan, yang ketika itu justru sedang mempertimbangkan suatu perdamaian dengan Kompeni. Sebagai tindakan balas dendam, "mereka dari Candael (Kendal) ...-menyita 4 perahu Banten berikut penumpangnya, kecuali seorang” yang harus kembali dan menyampaikan pesan kepada Sultan bahwa Kepala Daerah (Kendal) menyita perahu-perahu itu sebagai pajak atas 56 sebuah perahu yang diambil orang Banten...dibawa ke Lampon (Lampung) dan dijual di sana”. Penyitaan perahu seperti itu akan terus berlanjut sampai Sultan membayar pajak dengan “memuaskan” atas perahu tersebut. Ini semua bukanlah perang, hanya insiden kecil-kecilan. Residen (Jlepara) menghendaki lebih banyak, yaitu, ”Bangsa-bangsa itu tidak hanya kurang memahami satu sama lain, bahkan saling menghasut dengan tindakan kckerasan.” Iamerasa heran bahwa "orang Banten dari Sammarangh (Semarang), Surabaya . . . baru-baru ini dapat mengeluarkan 25 tinangh (tinggang) yang baru; tetapi tidak boleh singgah di tempat lain”. Ini dianggapnya aneh, "karena ada satu penguasa dan satu pemerintah (Daghregister, 7 Juli 1659). Memang tidak ada perang lagi, tetapi juga perdamaian tidak ada. IV—9 Perundingan-perundingan perdamaian, 1659 Mungkin Sunan telah membuat langkah pertama untuk menjadi rukun kembali dengan mengirimkan suatu hadiah yang berarti. Tidak atas nama sendiri hadiah itu dikirim, tetapi atas nama putranya, sehingga kalau ditolak tidak akan merupakan penghinaan besar. Lagi pula, tindakan itu tidak hanya dilakukan terhadap orang Banten, tetapi juga terhadap Kompeni, justru Kompenilah yang pertama-tama meneri- ma hadiah (Daghregister, 13 Juni 1659). Dua ekor kuda disertai sepucuk surat kepada Pemerintah Kompeni dihadiahkan atas nama putra mahkota. Pemberian hadiah itu dibalas dengan perbuatan yang sama untuk menycnangkan hati ayahnya”. Dua bulan kemudian di Banten tiba dengan tiga perahu sebuah perutusan Mataram yang terkadang diberitakan dikirim oleh putra mahkota (Daghregister, 11 Agustus 1659), terkadang pula dikatakan dikirim oleh ayahnya (Daghregister, 12 Oktober 1659, him. 211 dan 17 November 1659, him. 229-230). Tujuh ekor kuda disertai sepucuk surat yang disampaikan ketika itu. Surat itu memuat sebuah gugatan: beberapa perahu Mataram selama perang disita orang-orang Kiai Aria; awaknya ditangkap dan dijual (Daghregister, 12 Oktober 1659). Residen Belanda pun menerima seckor kuda (Daghregister, 29 Oktober 1659). Gugatan Mataram dibalas dengan gugatan pula: pada waktu yang bersamaan orang Demak telah menyita beberapa perahu Kiai Aria (Daghregister, 29 Oktober 1659). Demikianlah mereka berhadap-hadapan tanpa mau mundur selangkah pun. Untuk menunjukkan rasa hormatnya, Sultan mengirimkan beberapa ”gom” (gong) ke Mataram, tetapi keberangkatannya ke Pontang "untuk berpesiar” (Daghregister, 29 Oktober 1659) tidak menunjukkan sikap yang ST ramah, karena sementara itu utusan-utusan Mataram harus menunggu jawaban (Daghregister, 10 November 1659). Baru pada pertengahan bulan November tahun 1659 para utusan boleh berpamitan dengan sehelai surat jalan untuk pulang kembali melalui Batavia ke Mataram. Disetujui bahwa Kiai Aria akan membayar 500 rial, dan orang-orang yang bersangkutan lainnya juga akan membayar jumlah yang sama (Daghregister, 17 November 1659). Setelah itu tidak banyak lagi kelihatan timbulnya pertikaian besar antara Banten dan Mataram. Sebaliknya, kami temukan sampai dua kali percobaan dari putra mahkota Mataram untuk lebih mendckati negara tetangga. Tentang usaha itu akan diuraikan lagi dalam bagian berikut. IV—10 Hubungan dengan Bali Sementara Sunan akhirnya berusaha menjalin hubungan baik dengan Banten yang Islam, maka sejak ekspedisi ke Blambangan yang telah dibicarakan di atas, tidak pernah ada hubungan yang baik lagi dengan Bali. Sekalipun tiada lagi tentara Mataram yang bergcrak ke arah timur, belum sempat setahun berlalu ketika diperoleh berita tentang rencana besar-besaran untuk menggempur orang-orang Bali yang kafir, khusus- nya setelah pembalikan politik pada tahun 1652. Pada tahun 1653 Raja ingin memblokade Bali. Tetapi alangkah marahnya ia, ketika diketahui bahwa orang-orang Cina mengangkut beras bukan ke Batavia, melainkan kepada musuhnya di Bali (Daghregis- ter, 25 Juli dan 4 September 1653). Dari semua daerah pantai telah diambilnya enam kapal perang, rupanya untuk menycrang Bali. Bahkan ia ingin sekali meminjam dua atau tiga kapal dari Kompeni, tetapi tidak mau dimintanya sendiri, melainkan lebih baik disuruhnya orang lain untuk mengusulkan (Daghregister, 4 November 1653). Jadi, akhirnya ia sama sekali tidak berhasil. Pada tahun 1656 dibuat rencana-rencana baru. Kepala Daerah Jepara, Ngabei Martanata, dan pembesar-pembesar lainnya dalam waktu pendek, yaitu dua bulan, harus mempersiapkan banyak kapal sehingga *terjadi kesibukan besar untuk memperlengkapi kapal-kapal” (Daghre- ister, 7 Desember 1656). Sctiap kepala daerah harus membangun dua gobar besar dan berkatalah Raja, ”Saya ingin mengumpulkan banyak kendaraan dan senapan, dan kemudian menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan”. Tetapi mulut usil menyatakan bahwa semuanya itu tidak tertuju kepada Bali, melainkan kepada Batavia. Setahun kemudian terjadi lagi hal seperti itu: abdi-abdi Sunan datang ke daerah pantai untuk meluncurkan ke laut 12 gorab, 24 lanang, dan 100 konthing, agar bersama-sama orang Palembang melancarkan perang 58 terhadap Bali (Daghregister, 8 September 1657). Sementara itu, orang Bali bersikap lebih agresif daripada orang Mataram. Di ujung timur Jawa mereka merampas sebuah perahu milik raja Makassar, yang dikirimkan kepada utusan-utusannya di Jepara (Daghregister, 26 April 1659). Mereka juga menyerbu Pasuruan, memba- kar rumah-rumah di sana, dan membunuh penduduknya. Ngabei Martanata memerintahkan kedua menantunya membuat laporan ten- tang kerusakan yang diderita (Daghregister, 11 Juli 1659). Oleh sebab itu, dibuat perlengkapan baru, rencana-rencana baru, perundingan-perun- dingan dengan orang Makassar dan orang Banten untuk bersama-sama menyerang Bali (Daghregister, 21 September dan 24 Oktober 1659). Mungkin ketika itu Blambangan sudah terlepas untuk selama-lamanya, karena dua tahun kemudian diperbincangkan untuk merebutnya kembali (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 94). Perang saudara yang tidak kunjung padam di kalangan orang Bali rupanya mendorong Sunan membuat rencana-rencana peperangan, karena ”raja-raja di pulau tersebut ... selama beberapa tahun satu dengan yang lain bentrok, terpecah belah dalam berbagai golongan, dan berperang dengan sengitnya” (Laporan Umum tanggal 26 Desember 1661, Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 94). Tidak mengherankan bahwa Sunan sekali lagi memerintahkan para penguasa pantainya supaya masing-masing mempersiapkan enam kapal (Daghregister, 13 Juli 1661). Terutama tahun 1663 ramai sekali desas-desus tentang akan adanya perang. Pada bulan Desember tahun 1662 sudah mulai terdengar berita-berita semacam itu: hari ini semua tenaga dikerahkan untuk mempersiapkan kapal-kapal, keesokan harinya orang mengangkut batu untuk membangun benteng-benteng. Pekerjaan ini belum lagi berjalan lancar, rakyat sudah dibagi-bagikan di antara berbagai kapal dan disuruh berangkat, sebagian ke Bali, sebagian lagi ke arah barat sampai ke Cirebon (Daghregister, 1 Januari 1663). Tetapi kadang-kadang Sunan merasa bimbang antara niat untuk berperang melawan Bali dan hasrat untuk membunuh pamannya (Daghregister, 15 April 1663, him. 153). Pada suatu ketika dimulailah pelaksanaan ekspedisi ke Bali. Tumeng- gung Mataram menerima perintah supaya menuju ke arah timur dari Cirebon untuk mengusir orang Bali, tetapi setelah meninggalkan Mataram selama satu setengah hari, ia dipanggil kembali (Daghregister, 30 April 1663). Masih terlalu cepat satu bulan! Pada bulan berikutnya bukan saja ada berita tentang perang dengan Bali, tetapi juga tentang perang dengan Batavia. Tentu saja ini akan merupakan rencana gila-gilaan. Setelah ada sedikit kegiatan pada bulan Juli 1663 (Daghregis- ter, 28 Juli 1663) dan sekitar pertengahan tahun 1664: Sunan dikatakan 59 akan mengirimkan lagi tentara ke Bali . . . untuk melihat apakah negara itu mau menyerah kepada Mataram; kalau tidak, akan dipaksanya dengan kekerasan (Daghregister, 16 April 1664). Maka, lenyaplah kemudian segala desas-desus tentang kemungkinan akan adanya perang. Ini mungkin ada hubungannya dengan tindakan-tindakan pada pihak Bali yang lebih tegas. Yaitu dari salah seorang terkemukanya, Gusti Panji Sakti dari Buleleng, yang justru pada tahun 1664 mulai tampil ke depan (Graaf, Gusti”). Bab V Politik Mataram di Sumatera V-—1 Hubungan Mataram dengan Palembang dan Jambi, 1651-1656. him. 274-278), Mataram juga mempunyai serba sedikit kekuasaan atas beberapa daerah di Sumatera, yaitu Palembang dan Jambi. Pada tahun 1651 Sunan menerima utusan dari kedua daerah itu. Van Goens menceritakan bahwa pangeran Jambi sendirilah yang pada bulan April tahun ini berkunjung ke istana (Goens, Gezantschapsreizen, him. 91-94). Van Goens menjumpainya pada tanggal 21 bulan tersebut di hutan jati antara Jatijajar dan Semarang, dan mengadakan pembicaraan yang panjang lebar dengan orang Jambi itu mengenai banyak masalah. Sekalipun sudah dipanggil berkali-kali selama empat sampai lima tahun berturut-turut, Pangeran Jambi itu barulah ketika itu menghadap kepada Sunan, sehingga Sunan sudah tentu menjadi marah karenanya. Berbeda sekali dengan orang Belanda, pangeran tersebut diperlakukan tidak dengan hormat. Kecuali seorang Jambi, juga seorang utusan Palembang berkunjung ke istana (H.R., tanggal 13 Juli 1651). Kedua utusan itu ditahan lama sekali dan mendapat sambutan yang ramah dan bersahabat”. ”Menurut perasaan kami,” demikianlah diterangkan para pembesar Batavia, orang Jambi dan orang Palembang itu tidak akan mudah kembali pulang, tetapi dengan satu dan lain alasan akan ditahan oleh Susuhunan, seperti juga telah terjadi dengan utusan-utusan lain, untuk membuat mereka lebih bersujud lagi” (TBG LIX, him. 446). Schubungan dengan itu, orang tentu akan ingat kepada Cirebon. Tetapi dugaan ini ternyata tidak benar. Mereka berdua kembali ke tanah air masing-masing dengan selamat, sekalipun tidak dengan segera. 61 S eperti sudah dikemukakan dalam Sultan Agung (Graaf, Sultan Agung, Arti penting kunjungan-kunjungan ini ternyata dari pemberitaannya dalam babad-babad tahunan. Babad Momana mencatat pada tahun 1573 J. (mulai 25 Desember 1650 M.), bahwa seorang adipati dari Jambi menghadap kepada Sunan; dan menyampaikan dengan segala hormat pakaian seorang hamba raja (Adipati Jambi sowan, nyaosi panganggéné abdi dale). Babad Sangkala menambah keterangan ini dengan catatan tentang kedatangan utusan-utusan Palembang. Mereka datang untuk me- nyampaikan berita tentang mangkatnya raja mereka (wong Jambi myang Palembang prapta matur ratunya pejah). Kedua pemberitaan itu menimbulkan banyak kesulitan. Menyampai- kan dengan segala hormat pakaian seorang hamba raja kepada Sunan Mataram tampaknya hampir merupakan tindakan angkuh yang kurang sopan. Sebaliknyalah yang lebih masuk akal. Lagi pula, pada masa itu tidak pernah diketahui mangkatnya seorang ratu, baik di Palembang maupun di Jambi. Bila Pangeran Jambi kembali ke negerinya, tidak diketahui, tetapi pada tanggal 21 Desember 1652 ia telah berada di sana lagi. Paling lambat jadinya ia mungkin pulang kembali dalam musim panas tahun 1651.' Mungkin utusan Palembang singgah lebih lama di Mataram. Pada tanggal 6 Mei diberitakan dengan tegas dalam Daghregister Batavia bahwa ia masih berada di istana. Beberapa bulan kemudian konon ia menempuh perjalanannya kembali, diantar oleh sejumlah besar kapal (Daghregister, 8 September 1653). Kedua perutusan itu akhirnya kembali ke Sumatera, tetapi utusan Palembang sampai di tempat sesudah utusan Jambi. Apakah dari kunjungan yang lebih lama dari yang tersebut pertama ini tercermin ikatannya yang lebih erat dengan Mataram? Pada akhir tahun 1656 kami sekali lagi mendengar utusan-utusan dari Palembang dan Jambi yang berkunjung kepada Sunan (Daghregister, 7 Desember 1656, him. 33-34). Kunjungan mereka ke sana itu memperli- hatkan sifat komersial yang kuat. Mereka harus menunggu sampai pelabuhan-pelabuhan yang pada waktu itu tertutup dibuka kembali, sebelum mereka dapat memuat barang. Ketika berangkat, kapal-kapal mereka dimuati dengan berbagai macam barang. Ada desas-desus bahwa Sunan berniat untuk mengirimkan seorang utusan ke Jambi, dan untuk 6 | Sclama kunjungannya ke Jepara itu, Pangeran Jambi mengambil kesempatan untuk mengadakan hubungan dengan Kapten Portugis Manuel Croes, yang mendapat surat jalan untuk berkunjung ke Jambi (Daghregister, 11 Maret 1653). Kapten ini memang benar muncul dengan kapalnya di Jambi; di sana ia dikejar-kejar para petugas Pemerintah Kompeni, tetapi tidak tertangkap. 62 itu setiap penguasa pantai diperintahkan mempersiapkan sebuah gorab yang diisi dengan 50 muatan beras sebagai hadiah. Apakah ini suatu tindakan untuk menunjukkan kekuasaan dan kemurahan hati seorang raja?’ Ataukah 50 muatan beras ini dimaksudkan sebagai hadiah balasan? V—2 Pembunuhan atas Ockersz. di depan Palembang, 1658 Hubungan Mataram dengan Palembang juga ditentukan oleh kesulitan-kesulitan yang timbul antara Kerajaan Palembang dan Kompeni. Mungkin sejak tahun 1655 ditunjuk pedagang Anthonij Boeij untuk masalah-masalah perdagangan di sana (Daghregister, 30 Juni 1657). Karena Kompeni belum mempunyai loji di Sungai Musi, orang-orang Belanda tetap tinggal di kapal. Ketika itu, menurut keterangan, Boeij telah menahan sebuah jung Cina dan menyita lada muatannya. Tindakan ini, pada waktu ia kembali 2 tahun kemudian, menimbulkan kemarahan besar. Peristiwa inilah mungkin yang dimaksud sepatah kalimat dalam surat raja Palembang, yang tercatat dalam Register Harian Batavia tanggal 9 Januari 1659. Dalam tulisan itu raja tersebut memperlihatkan kemarahannya terhadap pedagang Cornelis Ockersz. dan menyatakan dugaannya bahwa pasti akan terulang kejadian seperti ”pada masa capiteyn Boey, yang menerima permintaannya tentang Quinammer yang diizinkan kepadanya oleh pangeran; tetapi, ia, Boey, membawa kapal itu ke Pulau Kombara dan membakarnya di sana”. Sekalipun demikian, Boey pada tahun 1657 dikirim lagi ke Palembang untuk perdagangan lada. Ia berangkat ke sana pada tanggal 19 Maret 1657 dengan sebuah kapal kici (jacht) dan sebuah kapal fluit (kapal pengangkut bertiang tiga, + 600 ton (Daghregister). Pada tanggal 30 Juni (Daghregister) ia sudah kembali ke Batavia, membawa berita bahwa penduduk (di Palembang) rupanya “tidak begitu senang kepadanya, sehingga ia harus selalu menjaga dirinya baik-baik, karena mereka mencari jalan untuk pada satu dan lain kesempatan ... mengakhiri jiwanya”. Tetapi Bocy cepat tahu tentang hal itu dan "kali ini ia dapat menyelamatkan dirinya”. Sikap yang tidak bersahabat ini, pada pendapatnya, disebabkan ‘oleh tindakannya terhadap perahu Cina dahulu. Karena pada tahun berikut Anth. Boey jatuh sakit, ia diganti oleh 7 Mereka mungkin orang-orang Jambi yang, sebelum tanggal 17 Juli 1655, bersama wakil-wakil Raja Johor dan Pangeran Madura dan Patani, menawarkan 9 buah senjata api (H.R. van Volsch tanggal 20 Agustus 1655; K.A., No. 782, him. 548). 63 pedagang Cornelis Ockersz. yang sudah lama mempunyai nama tidak baik di daerah itu. Pada tanggal 19 Desember 1656 Pemerintah Kompeni memutuskan untuk menggantikan pedagang Jacob Nolpe yang ada di Jambi atas permintaannya sendiri yang diajukan secara berulangkali dengan pedagang Cornelis Ockersz. (Daghregister). Baru pada tanggal 16 Juni tahun berikutnya diterima surat tertanggal 22 April 1657 di Batavia dari pedagang tersebut yang memberitakan bahwa ”rupanya pangeran dan lain-lain pembesar tidak memperlihatkan sikap yang baik terhadap dirinya, dan ia tidak tahu apa sebabnya”. Tetapi keesokan harinya sebuah surat dari Pangeran Jambi diantar ke darat, (Daghregister, 15 Juni 1657, hlm. 182-184), yang memberitakan bahwa ia "tidak menyenangi .. . pedagang jangkung itu akan menjadi kapten di Jambi”, sebab orang itu bukanlah seperti Kapten,Jacob Nolpe "dalam kebijaksanaannya dan . .. perundingan-perundingan”. Peda- gang yang jangkung itu baru saja tinggal di Jambi, tetapi ”karena tingkah lakunya ia dibenci olch semua pembesar”. Oleh karena itu, Pangeran lebih suka melihat asisten Jan Wissingh, yang bertindak sebagai seorang juru tulis menggantikan Nolpe. Pemerintah Kompeni memperhatikan keluhan ini dan tidak menem- patkan Ockersz.di Jambi, juga karena ia telah bersalah sehubungan dengan perdagangan pribadinya dalam serbuk emas (Daghregister, 10 Juli 1657). Nolpe, yang pikirannya tidak beres lagi schingga semua urusannya menjadi kacau, diganti olch Pemerintah Kompeni dengan Picter de Goijer yang amat terkenal itu, dan baru saja kembali dari kunjungannya sebagai utusan kepada kaisar Cina. Karena itu, tentu ada alasan khusus mengapa Pemerintah Kompeni tetap mengirimkan Cornelis Ockersz. yang di mana-mana namanya sudah amat buruk itu ke Sumatera: karena kekurangan tenaga, koneksi? Dua kali perjalanan dilakukan Ockersz. ke Palembang. Selama perjalanannya yang pertama, yang dimulainya pada tanggal 22 Februari 1658, ia sudah mengalami beberapa kesulitan dengan pelaksanaan kontraknya. Setelah kembali ke Batavia pada tanggal 9 Juni 1658, ia berangkat lagi 18 hari kemudian ke Sumatera. Pada tanggal 25 Juni dikirimkan lagi kapal Jacatra kepadanya. Kali ini terjadi bentrokan yang gawat Konon, ia telah menahan satu kapal atau lebih tidak jauh di hilir kota tetapi masih sebelum Keraton. Salah satu di antaranya adalah milik putra mahkota Mataram, tetapi menurut berita lain (Daghregister, 13 November 1659) adalah sebuah jung Jepara. Mungkin saja demikian. Dalam peristiwa itu, terjadi tembak-menembak. Beberapa peluru 64 jatuh di Kota Palembang dan istana. Seorang Jawa terluka berat, dua orang penduduk mendapat luka ringan. Orang-orang Belanda kemudian hendak menyeret sebuah jung dari Kamboja yang bersandar di depan keraton, tetapi orang-orang Palem- bang memotong talinya. Ockersz mencoba mencegah tindakan orang- orang Palembang itu dengan menembaki kota dan jung tersebut (Dam, Beschrijvinge, buku kedua jilid I, hlm. 302-304). Kemudian perselisihan itu dapat diselesaikan dan kedua belah pihak menjadi rukun kembali. Ockersz bahkan diangkat Raja sebagai tumenggung atau hakim tertinggi, dianugerahi sebuah keris dan tombak dan dengan diiringi bunyi-bunyian gong (musik gamelan?), ia diberi gelar “putra Pangeran”. Tetapi tidak lama sesudah itu, pada tanggal 22 Agustus 1658 (KA. 1115, him. 28 dalam koleksi ”Afgaande Patriasche Missiveir”), terjadilah serangan pengkhianatan. Di balik tameng persahabatan, orang-orang Palembang berkunjung ke kapal Belanda dan bahkan diterima di ruang kapten. Tidak seorang Belanda pun yang merasa curiga. Kalau saja adalah tiga orang Belanda yang dapat menggenggam senjatanya, maka mungkin sekali tidak akan terjadi apa-apa, demikian pendapat Pemerin- tah Kompeni belakangan. Kini terjadilah penjagalan secara besar-besaran: 42 orang terbunuh; 24 orang lainnya dapat melarikan diri dengan sekoci ke Jambi; 28 orang ditahan, 3 di antara mereka meninggal segera. Cornelis Ockersz. termasuk salah seorang korban yang pertama-tama jatuh. Menurut tulisan Pangeran Ratu, yang pada tanggal 9 Januari 1659 disampaikan seorang Cina ke Batavia, raja ini mendalam sekali rasa dendamnya terhadap Ockersz., yang olehnya juga disebut capiteyn Panjangh, jadi kapten jangkung. Dalam hal bertindak sewenang-wenang kapten tersebut mungkin lebih dari Boey, pendahulunya. Mungkin saja ia ’akan segera mengibarkan bendera merah, sambil berkata: apa peduli pangeran Palembang”. V—3 Hukuman atas Palembang, 1658-1659 Setelah Pemerintah Kompeni atas Jambi menerima berita tentang terjadinya drama di Sungai Musi itu, dikirimkanlah pedagang Truijtman bersama beberapa kapal. Ia mendapat tugas rangkap: 1, memberi tekanan kepada orang Palembang dengan merintangi lalu lintas kapal mereka; 2, mengadakan perundingan dengan Pangeran Ratu supaya sedikitnya diperoleh pembayaran ganti rugi, pembebasan para tawanan, dan pulihnya kembali hubungan lama. 65 Untuk itu surat-surat ditujukan kepada Pangeran Ratu, yang memberi jawaban dua kali. Yang terakhir berupa koreksi atas yang pertama (Daghregister, 9 Januari 1659) dan diterima antara tanggal 15 dan 29 Desember 1658 oleh Truijtman, bersama dengan surat dari juru mudi Belanda yang ditawan, Jacob de Graeff, dan ahli bedah Mr. Isaach. Sckalipun Pangeran Ratu memberi tekanan kepada tingkah laku buruk Ockersz, ternyata ia tidak menolak adanya hubungan baik, karena Kapten di Batavia (Gubernur Jenderal) tidak melakukan kejahatan suatu apa pun, tetapi .. . hanya Kapten Panjang itu sendiri saja; itulah sebabnya Pangeran memerintahkan supaya ia dibunuh”. Sekalipun ada surat bernada lunak ini, perang berkobar terus dengan sama hebatnya. Pada bulan Januari 1659 orang Palembang mengisi kapal-kapal Belanda yang telah disita mereka dengan awak kapal yang diberi dayung panjang-panjang. Dengan bantuan ratusan perahu kecil mereka memperhitungkan akan dapat mengatasi rintangan yang dibuat oleh dua kapal (jacht) dari armada blokade Belanda itu. Tetapi mereka disambut dengan hujan peluru meriam dan senapan yang begitu hebat, schingga mereka tidak berani menyerang lagi untuk kedua kalinya (Daghregister, 8 Februari 1659). Namun, kejadian tersebut tidak mencegah pangeran menyerahkan seorang tawanan, Mr. Isaach yang telah disebut tadi, "untuk mengalih- kan perhatian orang-orang yang bersenjata”. Tetapi tawanan-tawanan lainnya dijaga dengan lebih keras. Karena dengan demikian tidak ada perkembangan, maka Pemerintah Kompeni pada tanggal 7 Oktober 1659 memutuskan untuk mengirimkan kekuatan yang lebih besar ke Sungai Musi: selain kapal Orangie, 8 kapal galjot dan 2 sckoci di bawah komandan Mayor J. van der Laen, berikut 700 serdadu yang berpengalaman. Truijtman menjadi pemimpin kedua (Daghregister, 10 Oktober 1659). Pada tanggal 19 Oktober, armada itu mengangkat jangkar, setelah pada hari sebelumnya para pendeta diminta, selama beberapa minggu berturut-turut sewaktu mengadakan kebaktian umum, memohon kepada Tuhan agar mengaruniai tentara mereka dengan kemenangan, “schingga pangeran-pangeran Moor lainnya di sckitarnya akan menjadi takut” (Daghregister, 18-19 Oktober 1659). Pada tanggal 4 November 1659 tibalah armada itu, setelah tujuh belas hari "melawan gelombang laut”, di depan Palembang; empat hari kemudian serangan dimulai. Berturut-turut pertahanan kesatu, kedua, dan ketiga dapat digempur schingga pada tanggal 23 November »sukses-sukses keberhasilan dan kemenangan-kemenangan”” dapat dibe- ritakan ke Batavia. Raja dan rakyat diusir ke dalam hutan, kota dan 66 istana habis musnah terjilat api. Antara lain dirampas 73 meriam besar dan 150 meriam kecil dari perunggu. Di Batavia kemenangannya dirayakan dengan meriah: lonceng-lonceng berbunyi, meriam-meriam berdentum, api unggun dari pek menyala-nyala di jalan-jalan, sedangkan di Gereja Agung doa syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan. Malang, di ruangan dalem semua tawanan Belanda ditemukan dalam keadaan terbelenggu terbunuh ditikam dengan keris! (Roo de la Faille, *Palem- bang”, him. 326). V—4 Kesan-kesan mengenai hukuman atas Palembang, 1659 Apa yang pada tahun-tahun 1658 dan 1659 terjadi di Sungai Musi itu sudah tentu diketahui pula oleh orang Indonesia. Mula-mula jatuh ke tangan pribumi dua kapal Belanda yang tidak dapat dikatakan kecil ukurannya; sebuah jacht dan sebuah fluit. Sejumlah orang Belanda melayang nyawanya, dua puluh lima orang Belanda lainnya masih ditawan. Bahwa cara-cara yang digunakan untuk memperoleh keberha- silan tersebut sebenarnya tidak layak dilakukan kesatria tidak banyak menjadi pertimbangan. Tindakan-tindakan balasan pertama yang dilakukan Kompeni memperlihatkan kurangnya kekuatan: blokade selama sekian bulan dengan kekuatan yang terdiri dari beberapa kapal saja. Selain itu orang Jawa terlibat secara khusus dalam persoalan tersebut. Seperti telah kita lihat, Ockersz bahkan menembak sebuah kapal Jawa yang berisikan muatan lada milik putra mahkota Mataram, dan membawa sepucuk surat kepada pangeran Palembang, sehingga salah seorang Jawa hancur sebelah kakinya (Daghregister, 9 Januari 1659). Armada blokade Truijtman juga menahan berbagai kapal Jawa. Tujuh kapal Jawa besar yang berasal dari Malaka hendak singgah di Palembang untuk menukarkan pakaian dengan lada, tetapi kapal-kapal itu "dilarang masuk semua”. Ketika memberitakan hal ini, Truijtman juga berkata bahwa "orang Jawa berlayar dari timur untuk lada ... dan di sana tampaknya mereka mengadakan kegiatan yang lebih besar daripada sebelumnya”. Orang Jawa rupanya bermaksud ’merebut perdagangan di sana dan dengan demikian menimbulkan kejengkelan kepada orang Inggris dan orang Makassar”. Dengan demikian, cukup banyak alasan bagi Sunan untuk berpihak kepada orang Palembang, guna membela kepentingan-kepentingan perdagangan warganya sendiri dan hak-haknya sebagai penguasa atas Palembang. Hampir-hampir tidak tampak adanya tanda-tanda ke arah itu, sekalipun timbul kekhawatiran di pihak Belanda, misalnya ketika Residen Van Hoorn dalam keadaan mabuk berkunjung ke tempat 67 kediaman Tumenggung Pati dan di sana menerima perintah dari Sunan ”supaya orang Belanda meninggalkan Jepara” (Daghregister, 26 April 1659, him. 78). Di Batavia, perintah keras yang tidak pernah dilaksana- kan ini dianggap sebagai pengaruh perang Kompeni dengan Palembang. Tetapi sebaliknya dinyatakan bahwa menurut berita-berita ada kesan, seolah-olah dalam konflik Palembang itu Sunan berpihak kepada Kompeni. Demikianlah scorang mata-mata memberitakan kepada Residen Michielsen bahwa Sunan bertanya, “sebab apakah orang Belanda berperang dengan orang Palembang”. Pertanyaan itu konon dijawab, karena memang orang Belanda sajalah yang boleh membeli cengkih di daerah itu, dan karena itu telah menahan dan menyita dua jung yang memuat lada. Sunan ketika itu berkata, "orang Belanda berhak” (Daghregister, 21 September 1659, hlm 195-196). Dan begitu pula ketika utusan-utusan dari Palembang, Jambi, dan Bawean datang menghadap Sunan pada suatu pasowanan. Orang Palembang bermaksud mengadukan tentang adanya ancaman serangan dari armada Belanda (Daghregister, 15 Desember 1659). Akan tetapi pada kesempatan itu tidak sepatah kata pun diucapkan mengenai perang antara Palembang dan Kompeni”. Bahkan dikatakan bahwa Sunan menyatakan, "kalau atasan mereka bermaksud baik, mengapa di negeri ini mereka tidak memiliki gedung seperti orang Belanda, yang selalu ditempati oleh salah seorang pembesar mereka.” Setelah mencela kelalaian para utusan Sukadana dan Banjarmasin yang mengakui kekuasaan Sunan itu, Sunan bahkan menyatakan antara lain: ”tidak seorang pun datang dari seberang yang lebih baik sifatnya daripada capiten Moor di Batavia. Lagi pula, segala apa yang diperlukan diberikannya” (Daghregister, 7 Oktober 1659, him. 208). Dua "orang mata-mata” juga menerangkan bahwa bahkan pada saat pasowanan yang kedua pun "masalah perang sama sekali tidak disinggung oleh orang Palembang” (Daghregister, 13 November 1659). Tidak beranikah ia berbicara tentang hal itu kalau tidak ditanya? Sunan bahkan merasa tidak senang atas sikap mereka yang datang tanpa surat dari atasan mereka. Mereka jawab bahwa mereka “hanya datang untuk me- nyampaikan sembah sujud dan untuk mendengar perintah apa yang akan diberikan kepada mereka oleh Sunan”. Semua ucapan dan tindakan yang bermakna baik bagi Kompeni itu kiranya disebabkan oleh tidak berdayanya Raja memulai sesuatu apa pun terhadap Batavia. Karena ia tidak dapat mencegah tindakan- tindakan Belanda, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali memuja orang Belanda, kalau ia tidak mau kehilangan muka. Tetapi di dalam hatinya ia merasa pedih sekali tentang hal itu. Kata-kata pujaannya yang 68 berlebih-lebihan itu menyatakan hal ini, Jadi ia memuja secara berlebih-lebihan untuk menyembunyikan maksud-maksudnya yang sebenarnya. Jalan lain apakah yang terbuka baginya sebagai raja? Utusan-utusan Palembang tampaknya datang dalam keadaan serba kekurangan: dengan hanya membawa sebingkisan gobar biasa saja yang berharga 3 sampai 4 rial sebuah, dan tidak ada surat mereka bawa serta. Pada awal November tahun 1659 mereka berangkat dengan tujuh kapal dari Demak, dan memperoleh sekadar pesangon dari penguasa kota. Orang Jambi akan menyusul beberapa hari kemudian. Mereka datang secara terpisah, pergi pun secara terpisah. Orang Jambi tidak pernah Kembali lagi. Orang Palembang lebih lama menunjukkan rasa kese- tiaannya. V-—5 Perutusan-perutusan Palembang kemudian, 1660—1668 Orang Palembang memandang Mataram masih tetap sebagai pelin- dung mereka, sekalipun Sunan kelihatannya tidak menghiraukan nasib mereka. Benarkah tidak dihiraukannya? Berita-berita kemudian menun- jukkan adanya perasaan sakit hati Sunan yang mendalam karena dihancurkannya Palembang, dan dendam kepada orang Belanda yang melakukan penghancuran itu. Kelak akan tampak bahwa tindakan kekerasan terhadap daerah taklukannya menjadi alasan bagi ditutupnya pelabuhan dengan ketat. Setelah tahun 1659 Palembang masih beberapa kali mengirimkan perutusan ke Mataram. Terkadang dicoba, walau tanpa hasil, untuk membujuk Jambi turut serta. Tidak lama setelah Palembang hancur, Pangeran meninggal, dan digantikan oleh adiknya, Ki Mas Hindi. Pada tahun 1675 ia menerima gelar sultan, dan enam tahun kemudian menjadi terkenal sebagi Sultan Jamaluddin (Roo de la Faille, “Palembang”, hlm. 326). Menurut seorang Jawa dari Cirebon, Ki Mas Hindi pada tahun 1661 mengirimkan sebuah perutusan dengan membawa hadiah-hadiah ke Mataram, yang ”sudah berada di Demak 15 hari tanpa memperoleh izin ... untuk naik ke darat bertugas” (Daghregister, 17 dan 23 April 1661). Hal ini mungkin disebabkan oleh tertutupnya pelabuhan-pelabuhan ketat rapat. Rupanya, utusan-utusan ini tidak pernah diizinkan menghadap Sunan. Pada tahun berikutnya pelabuhan-pelabuhan memang dibuka kemba- li, tetapi sesudah tahun 1663 terdengar berita lagi sentang adanya perutusan Palembang. Pada tanggal 31 Januari 1663, Pangeran Palembang mengirimkan syahbandarnya ke Jambi untuk ”merunding- kan pengiriman beberapa orang utusan ke Mataram bersama Pangeran 6 Jambi” (Daghregister, 24 Februari 1663). Menanti kembalinya syahban- dar ini, maka tanggal 10 Maret 1663 masih belum diputuskan "untuk melakukan sembah kepada Mataram’” (Daghregister, 20 Maret 1663). Tetapi banyak rintangan lain. Berita tentang pembunuhan atas kepala daerah Jepara, Ngabei Martanata, membuat ”Pangeran itu berpikir lebih panjang, agar tidak mengirimkan seorang pembesar ke sana” (Daghregister, 14 Mei 1663). Tetapi akhirnya diputuskan juga untuk menempuh langkah yang nekat ini. Dua orang utusan, Kiai Demang Amongpraja dan Derpayuda, akan berangkat ke Mataram "hanya untuk memohon maaf bahwa mereka mengadakan perang dengan Kompeni tanpa diketahui Sunan . . .dan berdamailagi’*(Daghregister, 20 Desember 1663). Pangeran Jambi, yang tidak turut serta, akan diberi tabu tentang hal itu oleh Kiai Wirasasmita, yang sekitar 1 November 1663 sudah berangkat ke sana. Juga akan diusahakannya menyelesaikan perselisihan-perselisihan antara kedua kerajaan itu. Tetapi dalam tahun berikut belum ada seorang pun yang berangkat ke Mataram, dan Jambi masih dijajaki kesediaannya untuk turut serta. Pangeran tua itu ingin melakukannya, karena itu ia mengirimkan sebuah kapal dengan 35 awak kapal dan setumpuk pakaian ke Jepara. ” Menurut keterangannya, untuk diperdagangkan, namun mungkin dengan cara itu ia bermaksud menyampaikan sembah sujudnya kepada Sunan Mataram”. © Perutusan Palembang lebih jelas persoalannya. Pangcran Palembang, demikian ditulis pedagang M. Hurt kepada Pemerintah Kompeni, takut sekali kepada Sunan Mataram, schingga ia tidak berani mengandalkan Kompeni. Sekalipun Residen menjanjikan akan memberikan bantuan kepadanya, dan menasihatkan agar tidak mengirimkan suatu apa ke Mataram, pangeran itu tetap mclaksanakan niatnya dan mengirimkan empat orang utusan dengan kapal-kapal besar ke Jawa. Pesan mereka penuh kerendahan hati ialah “agar Sunan berkenan memaafkan Pangeran ... bahwa tidak setahu Sri Baginda ia telah mencapai perdamaian dengan Kompeni, karena ia terpaksa melakukannya . . . sebagian karena blokade selama sekian tahun oleh Kompeni, yang merugikan perdagangan dan mengurangi bahan-bahan keperluan hidup . . .Sebagian lain karena perang di dalam negeri melawan kerabat sendi yang hendak merebut tahtanya. Mengenai tuduhan ... bahwa ia mengangkat senjata terhadap Kompeni ... itu terjadi pada masa pangeran sebelumnya”’. Jadi, pesan itu sama bunyinya seperti yang setahun lalu (Daghregister, 28 Maret 1664). Karena itu, dimohonkannya “agar diperkenankan hidup dalam suasana persahabatan dengan Sri Baginda, dengan segala kepatuhan tidak terhingga”. Jika Sunan tidak berkenan menerima permintaan maaf ini, dan tidak 70 menyetujui pemberian sebuah loji kepada Kompeni, maka menurut sementara orang penyelesaian pembangunan gedung akan terhalang jadinya. Pada tanggal 9 April 1664 perutusan itu sampai di Semarang dengan hadiah-hadiah untuk Sunan dan Tumenggung. Tujuannya ialah untuk mengadukan tindakan kekerasan yang diderita Pangeran dari tangan Belanda”. Inikah maksud sebenarnya, yang tersembunyi di balik kalimat-kalimat penuh kerendahan hati itu? Akan tetapi perutusan itu belum boleh bertolak sebelum Sunan diberi tahu tentang kedatangannya (Daghregister, 20 April 1664, him. 128). Ternyata, hasil penilaian atas diri mereka itu tidak baik, karena Tumenggung Mataram memberitahukan bahwa Sunan tidak berkenan menerima mereka, karena sedang gering dan para pembesar di Mataram sedang sibuk sekali (Daghregister, 17 Mei 1664). Maka, utusan-utusan Palembang itu dipersilakan pulang kembali, Begitu keadaan Sunan »agak membaik”, maka permintaan mereka akan disampaikan. Maka, mereka dipersilakan datang kembali setelah enam bulan, karena pada waktu itu para pembesar tidak akan begitu sibuk lagi. Sckalipun terjadi penolakan yang tidak bersahabat ini, utusan-utusan Palembang dengan enam kapal mereka tetap menunggu di Semarang. Bahkan berulang kali kepala perutusan mereka diperintahkan pergi ”karena tidak dianggap layak oleh orang Jawa untuk melaksanakan tugas demikian”. Ia hanya seorang pedagang (swasta), yang sebelum tahun 1661 kena rampok habis-habisan karena terdapat istri-istri orang lain dalam kapalnya. Ia memang bukan seorang yang layak menjadi wakil. Lambat laun disadarinya bahwa tugasnya akan mengalami kegagalan. Tiga buah kapal dikirimkannya kembali pulang pada tanggal 13 Juni, tetapi ia tetap menunggu bersama orang-orang Palembang lainnya. Sedikitnya ia mengharapkan akan menerima berita atau sepucuk surat dari tumenggung Mataram (Daghregisler, 22 Juni 1664). Hasil terakhir kosong belaka, karena pada bulan Agustus tahun 1664 para utusan itu kembali pulang setelah dengan sia-sia, sebab “tidak . diakui dan tidak diizinkan mendarat, tetapi diperintahkan tetap tinggal di kapal mereka; konon perintah Sunan dengan tegas menyatakan bahwa tidak seorang pun utusan raja mereka diizinkan masuk . . . kecuali raja mercka sendiri” (Daghregister, 26 November 1664, hlm. 498). Segala siasat merendahkan diri itu ternyata sia-sia belaka. Pangeran Palembang sajalah yang ingin Sunan melihatnya berjongkok di hadapan. Tiada orang lain. Berdasarkan hasil yang mengecilkan hati ini, mudah dipahami apabila Palembang tidak terburu-buru mengirimkan sebuah perutusan baru ke 71 Mataram. Pada tahun 1668 diberitakan, selama tiga tahun pangeran tersebut tidak menyampaikan sembah sujudnya kepada Sunan (Daghre- gister, 31 Mei 1668). Karena itulah menurut berita dari Cirebon, kapal-kapal perang sedang dipersiapkan "di timur” dengan Sumatera sebagai tujuan. Hal ini ternyata ada pengaruhnya. Bagaimanapun beberapa bulan kemudian bersandarlah di pelabuhan Semarang empat buah kapal dengan membawa utusan-utusan dari Pangeran Palembang. Di samping seekor gajah kecil, mereka membawa pakaian scharga 2.000 ringgit. Kedatangan mereka ini dimaksud untuk meminta bantuan terhadap Banten. Hadiah-hadiah itu telah diterima Raja, setidak-tidaknya sebagian. Tetapi mereka tetap tidak diizinkan masuk ke istana, karena utusan- utusan itu "tidak cukup tinggi kedudukannya”. Akan tetapi sekiranya ”pembesar yang kedua di kerajaan yang datang dan dengan hadiah seharga 20.000 ringgit ... maka kepadanya akan diberikan perkenan audiensi”” (Daghregister, 13 Juli 1668). Jika ia tidak segera datang, maka Sunan akan memerangi Palembang, juga Jambi dan Borneo (berarti Banjarmasin dan Sukadana). Bagaimanapun kedatangan Pangeran itu sendiri kini tidak lagi menjadi syarat. Betapa tidak senangnya Sunan terhadap perutusan Palembang ini terbukti dari hadiah balasan yang murah tetapi pasti mempunyai arti perlambang: ”empat ekor lembu, sebuah bajak, dan alat penggaruk sampah”. Dan mereka pun tidak boleh kembali pulang. Semula Pemerintah Kompeni mendapat kesan bahwa "orang-orang Palembang. . . telah menggugah Raja yang sedang tidur ini”. Tidakkah pernah diucapkannya bahwa "mereka harus merasa takut, karena sudah sekian tahun tidak pernah datang ke istana. Akan saya usahakan agar mereka menyadari hal itu. Selanjutnya mereka harus membayar seringgit untuk setiap kepala tiap tahun. Kalau ini tidak mereka laksanakan, maka mereka akan dipaksa” (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 174). Tetapi paling-paling kata-kata yang terdengar hebat ini hanya merupakan cetusan perasaan. Sebab, kata-kata yang diucapkannya setengah bulan kemudian, konon tidaklah menunjukkan kepastian diri yang sungguh. Ketika itu kiranya dia merencanakan ”menyerahkan saja Palembang dan kemudian membiarkannya berada di bawah kekuasaan Batavia, dan ia tidak lagi mau berurusan dengan mereka karena mereka lebih patuh kepada Gubernur Jenderal daripada kepadanya” (Daghregis- ter, 29 Juli 1668; Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 174-175). Sementara itu, utusan-utusan Palembang harus pulang kembali tanpa mencapai suatu hasil. Semua hadiah boleh mereka bawa kembali, kecuali 2 seckor gajah kecil itu. Sebelum tanggal 1 Desember 1668 mereka sudah kembali pulang. Bahwa mereka tidak diperkenankan menghadap Sunan, menurut mereka, disebabkan oleh ”kesedihan Raja tentang meninggal- nya salah seorang istrinya yang dicintainya”. Alasan ini membuat mereka ”merasa agak senang” (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 113). Orang yang dikatakan telah meninggal dan menyebabkan tangis dukacita kiranya adalah ratu Malang yang termasyhur itu. Setelahitu tidak ada lagi utusan Palembang yang berkunjung ke Jawa. Sebaliknya, ada utusan Jawa yang berkunjung ke Palembang, yaitu putra mahkota setelah kekalahannya yang menyedihkan di Gegodog itu (Daghregister, 18 Januari 1677). Permintaan bantuannya dikabulkan: Sepuluh kapal Palembang bersama awaknya disediakan untuk Sema- rang. Memang pada awal bulan Maret dua pembesar Palembang bersama anak buahnya berangkat ke Jawa untuk membantu Adipati Anom (Daghregister, 23 Maret 1677). Dalam sepucuk surat tertanggal 16 April 1677 kedatangan mereka di Jawa diberitakan oleh Laksamana Cornelis Speelman, tetapi tidak memperoleh sambutan hangat. Sebalik- nya, diputuskannya "untuk segera menyuruh mereka kembali pulang, dan memberi tahu Pangeran Depaty dan Wangsa Diepa — kepala daerah Jepara — bahwa orang-orang Palembang tidak bisa diterima”. ”"Tanpa menyinggung kehormatan Kompeni” siapa pun tidak boleh masuk. Demikianlah Spelman memandang orang Palembang sebagai orang- orang asing yang mau menyusup ke dalam daerahnya. Ini berarti bahwa pada waktu itu pun belum jelas bagi orang Belanda, bagaimana sebenarnya hubungan antara Mataram dan Palembang. Mereka mere- mehkan ikatan yang menghubungkan kerajaan di Sungai Musi dengan kerajaan Jawa. V-—6 Perpecahan Jambi dengan Mataram, 1663 Selama timbul perselisihan antara Palembang dan Kompeni, Jambi sama sekali tidak berpihak pada tetangganya. Sekalipun Sungai Musi diblokade, di Jambi ”keadaan perdagangan maupun masalah-masalah penting lain masih tetap seperti dahulu ... agak lancar jalannya”. Pangeran ingin melihat Batavia tidak membatasi diri hanya pada blokade yang tiada akhirnya, tetapi supaya mengirimkan juga beberapa kekuatan ke darat (Daghregister, 7 Februari 1659). Tidak lama sesudah itu orang Jambi bahkan dikabarkan menjadi perantara untuk mencapai kerukunan antara Banten dan Mataram. Bahwa utusan-utusan Jambi dalam tahun itu tepat bersamaan tampil dengan utusan-utusan Palembang yang menghadap Sunan terutama merupakan kebetulan saja daripada kesengajaan. Mereka tidak melaku- B kan perjalanan bersama. Berangkatnya pun secara terpisah, tetapi orang Jambi tidak kembali lagi untuk selama-lamanya. Sering kali orang Palembang mencoba membujuk Jambi untuk mengirimkan sebuah perutusan baru. Generasi yang lebih tua tidak menolak terpeliharanya hubungan baik dengan Mataram, tetapi yang lebih muda merasa enggan melakukannya. Pada awal bulan Januari 1663 para utusan Mataram berada di Jambi; yaitu seorang dari Juwana (Pati), dan seorang lagi dari Jepara, dengan membawa surat penuh rasa hormat. Mereka meminta gobar-gobar yang mahal dan disukai di Mataram, ”tetapi Residen (Jambi) berpendapat bahwa ada maksud lain di balik permintaan itu (Daghregister, 6 Februari 1663). Apakah mereka harus memancing suatu perutusan? Beberapa waktu kemudian juga datang seorang utusan Palembang “yang menasihatinya untuk menyampaikan sembah sujud kepada Mataram’”, Utusan ini adalah syahbandar Palembang, dan di sana pedagang Jan Claesz mencoba dengan sia-sia membujuk Pangeran agar tidak mau mengirimkan utusan itu (Daghregister, 24 Februari 1663). Pemerintah Kompeni merasa khawatir bahwa Jambi ”mungkin memutuskan untuk memperbarui pengakuannya kepada Sunan”, dan mencoba "membatal- kannya” (Daghregister, 28 Februari 1663). Sebab, raja (Mataram) itu mungkin "akan menjadi ... lebih berani daripada sebelumnya”. Kekhawatiran ini sebenarnya tidak perlu. Banyak pembesar dan khususnya raja yang muda itu yang sudah sangat menentang pendekatan pada Mataram. Ia ingin ”berkuasa sebagai raja dan tidak sebagai vazal, kalau tidak ... lebih baik ia akan turun saja”. Pernah raja muda itu berkata dengan marah: "para leluhur kami adalah raja-raja yang berdaulat; mengapa kami pun tidak? Kalau ayah saya mengandalkan Kapten Moor, maka tidak perlu ia merasa takut pada Mataram” (Daghregister, 5 April 1663). Tetapi pangeran yang tua tidak bisa dibujuk “untuk memisahkan diri dari istana Mataram”. Sejajar dengan masalah perutusan ke Mataram ini, terdapat masalah pernikahan raja yang muda itu. Ia bisa memilih antara putri raja Palembang dan putri raja Banten. Akan tetapi, andai kata yang pertama dipilihnya, maka pengantin laki-laki harus bermukim di Palembang (Daghregister, 6 Februari 1663, him. 30). Karena ia tidak bersedia melakukannya, "maka perundingan pernikahan yang sudah dimulai itu praktis sudah putus”. Hal ini menyenangkan bagi Kompeni, juga bagi kebanyakan orang Jambi. Akan tetapi Pangeran Adipati lebih cenderung melihat barlangsung- nya pernikahan dengan saudara perempuan Sultan Banten, "tetapi pangeran yang tua tidak setuju karena takut pada Mataram” (Daghregis- 74 ter, 5 April 1663). Selain "kecenderungan” yang kuat pada pangeran yang muda ... “untuk berkerabat dengan Sultan Banten, ia juga berusaha membentuk persekutuan ofensif bersama Kompeni malawan Mataram” (Daghregister, 9 April 1663). Juga raja-raja di sekitarnya dari Johor dan Indragiri ingin turut serta, ”tetapi pangeran yang tua merasa ragu karena takut pada Mataram”. Di Batavia pertalian seperti itu dianggap “lebih cerdik” daripada pernikahan dengan putri Palembang (Daghregister, 20 Maret 1663). Pada tanggal 17 Mei 1663 datanglah dari Jambi tanpa dipanggil, kepala Kompeni Evert Michiclsen ke Batavia ”atas permintaan dan sebagai utusan Pangeran Ratu Jambi” dengan membawa berita penting. Antara lain ia harus mengemukakan kepada Pemerintah Batavia tentang pemisahan Sri Baginda (Jambi) dari Istana Mataram (Daghre- gister). Selain itu, muncul juga dua utusan Jambi, Kiai Demang Nayaria de Wangsa, putra Tumenggung Suryanata, penasihat utama dan tumenggung, dan seorang lagi bernama Kiai Ngabei. Mereka berdua dengan khidmat bukan saja menyampaikan berita tentang raja muda yang "naik tahta”, tetapi juga ”"menyatakan hasrat untuk memisahkan diri dari Mataram dan melakukan hubungan yang lebih dekat dengan Kompeni”. Jadi, raja yang muda itu telah memegang tampuk pemerintahan, tetapi belum berpengalaman. Ia sudah bertekad bulat untuk tidak lagi mengakui kekuasaan Mataram atas kerajaannya, dan akan melakukan politik mendekati Kompeni. Pernikahan dengan putri Banten akan dilangsungkan, sekalipun “tidak disetujui pangeran yang tua dan penasihat-penasihat yang tua ... karena merasa takut kalau-kalau Mataram akan tersinggung dengan politik Jambi demikian, dan akan bertindak dengan kekerasan” Kaum muda dengan tegas membantah pernah berniat menyampaikan ”sembah sujud” kepada Mataram (Daghregister, 9 Juli 1664). Juga tidak pernah mereka minta bantuan kepadanya selama mereka mendapat bantuan dari Kompeni. Akan tetapi "raja yang tua menyampaikan sembah sujudnya secara diam-diam kepada Raja Mataram ... dan tidak mau mencontoh Palembang yang telah melakukan tindakan salah”. Yang dimaksudkan adalah perutusan Palembang tersebut di atas yang telah ditolak. Tetapi kata residen Belanda, ”raja yang muda sama sekali tidak berniat berbuat demikian . . . dan belum lama berselang mencela ayahnya karena mau melakukannya (Daghregister, 1 Desember 1664). Dengan demikian, perpecahan Jambi dengan Mataram sudahlah 75 definitif. Dan tidak terjadi perubahan setelah pernikahan dengan putri Banten, yang mendapat dukungan Kompeni itu, akhirnya dibatalkan (Daghregister, 9 Juli dan 1 Desember 1664). Karena itulah, sejak saat itu raja Jambi mencari seorang permaisuri dari Makassar. Bab VI Hubungan Mataram dengan Kalimantan dan Sulawesi VI-—1 Kalimantan terlepas, 1661 Kerajaan Mataram dalam paruh pertama pemerintahan Sunan. Menurut Babad Sangkala 1575 J. (mulai 2 Desember 1652 M.), utusan-utusan rakyat Sukadana ketika itu berdatang sembah kepada Mataram (Wong Sokadana seba mring Mataram). "Tahun berikutnya (mulai pada tanggal 22 November 1653 M.) rakyat Siam juga berbuat demikian. Babad Momana mencatat setahun kemudian terjadinya perang dengan Sukadana dan Siam (prang Sokadana, prang Siyem). Yang pertama masuk akal. Orang-orang Siam yang berdatang sembah itu mungkin pedagang- pedagang, pembeli kuda. Pada tahun-tahun 1656-1657 Sukadana masih dianggap sebagai bagian dari kerajaan, karena Ngabei Wangsaraja, penguasa Semarang, diberi tugas mengawasi daerah tersebut (Daghregister, 7 Desember 1656, him. 31). Sukadana dikuasai seorang pangeran (Daghregister, 12 Novem- ber 1657). Tetapi beberapa tahun kemudian raja Mataram menjadi sangat marah, karena baik Banjarmasin maupun Sukadana “tidak datang bersembah” kepadanya. Sebagai kebalikan, mencolok peri laku”Kapten Moor di Batavia” yang memberikan segala apa yang diminta Sunan (Daghregister, 7 Oktober 1659). Memang ada alasan bagi Sunan untuk merasa khawatir. Selama pedagang Evert Michielsen singgah di Banjarmasin pada bulan Mei 1661, muncullah di sana dua orang utusan, yaitu dari Sukadana dan Johor. Yang pertama memohon, tetapi tidak dengan terang-terangan, ‘Supaya antara kedua kerajaan Sukadana dan Martapura dibentuk 77 K= Blambangan, juga Sukadana melepaskan diri dari persekutuan ofensif dan defensif, untuk dapat melawan Sunan Mataram yang tidak lagi mencrima sembah dari Banjar. Dan untuk maksud itu disodorkanlah putrinya . . . agar dijadikan permaisuri” (Daghregister, 28 Mei 1661). Secara resmi, kedua kerajaan Kalimantan itu pada tahun 1659 menghentikan pemberian sembahnya kepada Sunan. Dapat dimengerti bahwa Sukadana, yang paling lemah, mencari dukungan dari Banjarma- sin supaya dapat lebih baik mempertahankan diri dari serangan Mataram (lihat juga: Gense, Banjarmasin, him. 116). Pada bulan Juli tahun 1668 masih terdengar desas-desus di Jepara bahwa Sunan “akan memerangi raja Kalimantan” dan untuk itu semua pelabuhan besar harus mempersiapkan kapal-kapal perang (Daghregister, 1 Agustus 1668). Baik Jambi maupun Kalimantan akan diperanginya “kalau mereka tidak segera datang untuk memberi sembah” (Daghregis- ter, 13 Juli 1668). Ketika itu masih hidup anggapan bahwa kedua kerajaan itu masih di bawah kekuasaan Mataram. Tetapi ternyata pula dari berita ini bahwa mereka sudah lama meninggalkan sikap kepatuhan- nya pada Sunan. Mobilisasi pelabuhan-pelabuhan lautnya hanya merupakan gertak sambal sang raja belaka. VI-—2 Mataram dan Makassar Ketika utusan Belanda Rijklof van Goens pada tanggal 7 September 1654 diterima Sunan dalam audiensi, maka diberitahukan kepadanya olch Sunan bahwa rakyat dan kapal-kapal Makassar "dewasa ini, berbeda dengan dahulu, tidak lagi-datang ke negerinya” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 138). Apakah yang dimaksud bahwa orang Makassar tidak lagi menyembah kepadanya, seperti yang dahulu diberikan kepada ayahnya? Mungkin demikian, karena setelah tahun 1664 tidak terdapat lagi utusan Makassar yang berkunjung ke Mataram (Mooij, Bouzstoffen, jil. ILI, hlm. 191). Mungkin tercapainya perdamaian dengan orang Belanda pada tahun 1646 itu telah membuat orang Makassar, musuh besar Kompeni, tidak begitu tertarik kepada Istana Mataram. Sebaliknya, dapat dimengerti bahwa Raja merasa jengkel karena sikap Makassar yang tidak lagi menghiraukannya. Tetapi Van Goens, selama bertugas sebagai duta, tidak berhasil mendorong Sunan agar mau berperang dengan Makassar, seperti yang diperintahkan kepadanya oleh para atasannya. Mula-mula, Sunan rupanya merasa sangat marah karena raja-raja takluknya yang begitu lalai itu. Tentang hal ini Van Goens meyakinkannya bahwa dengan sekali pernyataan perang saja dari Sri Baginda, Makassar pasti akan segera menjadi “pendukung” Baginda. Bahkan desas-desus mobilisasi_ di ui) Mataram pun sudah cukup untuk membuat orang Makassar meninggal- kan daerah Maluku. Kalau berhasil baik, maka Sunan akan menjadi salah seorang raja terbesar di dunia (Goens, Gezantschapsreizen, him. 139). Sckalipun diberi gambaran-gambaran yang sangat menarik ini, Sunan tidak jatuh ke dalam perangkap Van Goens yang manis itu. Rintangan dari lingkungannya yang tidak senang terhadap Kompeni ternyata terlalu kuat. Perundingan yang gagal ini akan diuraikan lebih panjang lebar di halaman lain. Dalam perjalanannya kembali, Van Goens masih mencoba dengan menghadang dua kapal Makassar di Teluk Jepara, untuk memojokkan orang Jawa sedemikian rupa schingga kerja sama antara Mataram dan Makassar akan sulit tercapai. Tetapi ia tidak berhasil dalam usahanya ini. Bahkan lama-kelamaan antara kedua kerajaan ini berkembang suatu sikap saling mendekati. Bagaimana caranya, akan dicoba menggambar- kannya di bawah ini. ‘Tentang perundingan-perundingan antara Mataram dan Makassar, sangat sedikit keterangan diperolch. Mungkin masing-masing mempu- nyai alasan untuk mengadakan perundingan itu. Kerajaan Makassar memerlukan dukungan dalam perjuangan mereka melawan Kompeni di kepulauan rempah-rempah. Bahwa untuk itu mereka mencari dukungan dari raja yang paling berkuasa di Nusantara mudah dapat dimengerti. Raja pendahulunya sampai dua kali pernah berjuang melawan Belanda di depan benteng Batavia. Kekuatannya di laut memang tidak begitu besar, tetapi di darat ia dapat membuat rintangan yang berat terhadap Kompeni. Bagaimanapun ia mampu mengikat pasukannya. Selain itu kedua kerajaan Nusantara tersebut dijalin oleh ikatan kesamaan agama mereka. Di pihak lain Mataram pun menghargai pendekatan yang dilakukan Makassar, tctapi dengan pengertian bahwa raja Gowa bersedia meng- akui Sunan sebagai atasannya, seperti dahulu dilakukan oleh raja-raja Palembang, Jambi, Sukadana, dan Banjarmasin. Dan ini berarti harus mempersembahkan upeti dan hormat khidmat. Sudah tentu sulit bagi Makassar yang sadar akan dirinya itu untuk berbuat demikian. Disamping itu, sudah dimulai pula dengan suatu kerja sama ekonomi. Orang-orang Makassar adalah pedagang yang baik, pelaut yang berani, dan pejuang gigih dalam melawan Kompeni. Mereka dapat mengambil rempah-rempah dari timur yang ada di bawah hidung Kompeni, dan menjualnya kepada bangsa Barat lainnya. Lagi pula, ketika itu mereka merupakan satu-satunya bangsa di Nusantara, yang secara sistematis berusaha belajar dari orang Eropa, kira-kira samalah dengan Peter Agung dari Rusia berusaha mempelajari ilmu perang dan ilmu navigasi 19 di Eropa Barat. Mestinya menarik sckali bagi orang Jawa untuk bersekutu dengan pedagang-pedagang ulung dari Makassar itu. Scpanjang dapat ditarik kesimpulan dari sumber-sumber yang amat sedikit itu, tampak bahwa usaha pendckatan selalu dimulai oleh pihak Makassar; hal yang memang masuk akal. Orang Makassar, yang lebih lincah dan lebih banyak mengenal dunia luar daripada orang Mataram yang hidup di pedalaman itu, akan selalu lebih cepat dalam mengambil prakarsa perundingan. Sebagai perunding biasanya mereka mengi- rimkan bukan orang Makassar asli, tetapi orang Melayu, dan keba- nyakannya ulama yang paling mengandalkan Pan-Islamisme yang mulai menyebar di Mataram. Speelman dalam tulisannya, Notitie, menyebut- kan mereka orang Mor dan memasukkan mereka dalam daftarnya sebagai Koja Ibrahim dan Encik Mahmud. VI-3 Perutusan Mataram yang pertama, 1656-1657 Pada tahun 1656 kepala daerah Jepara mengirimkan seorang "Mor dari Makassar” kepada raja di tempat itu dengan membawa sepucuk surat, sebuah hadiah, dan "banyak tawaran jasa” (Daghregister, 20 Juli 1657, hlm. 216). Dapat sungguh-sungguh dipertanyakan apakah orang Mor dari Makassar ini tidak dikirimkan terlebih dahulu oleh atasannya ke Jepara, yaitu ketika Makassar masih berperang dengan Batavia. Keadaan perang ini baru berakhir pada tanggal 2 Februari tahun 1656. Dengan demikian, utusan itu tiba pada tahun 1655 di Jepara, justru ketika bentrokan antara Mataram dan Kompeni sedang mencapai puncaknya dengan menutup pelabuhan-pelabuhan. Sckalipun setelah itu hubungan baik antara Mataram dan Batavia menjadi pulih kembali, hubungan Jawa dengan Makassar masih tetap berlangsung. Bersama kapal Inggris Jonathan, seorang utusan Makassar pada awal bulan Juli tahun 1657 menyampaikan hadiah-hadiah berikut: dua meriam perunggu kecil, seekor kuda, patolen sutera yang panjang dan sejumlah kesturi, yang seperti juga patolen berasal dari seorang Portugis kaya yang tinggal di Makassar bernama Francisco Viera. Kuda dan meriam dihadiahkan oleh Raja kepada Ngabei Martanata, sebagai balasan atas barang-barang yang oleh kepala daerah itu pada tahun sebelumnya dikirimkan bersama orang Mor dari Makassar itu. Angkut- annya dengan kapal Inggris itu kiranya demi keamanan (menurut surat pengaduan raja Gowa: Daghregister, 26 Oktober 1657, hlm. 294-295). Perutusan ini sebulan kemudian masih ada di Jepara. Mercka memohonkan sangat sebuah perahu, ingin memelihara pertalian persa- habatan, dan ”"mengharapkan sckali agar diperkenankan mencruskan 80 perjalanan kepada Sunan untuk berdatang sembah kepada Sri Baginda” (Daghregister, 3 September 1657). Permohonan ini seluruhnya "ditolak”. Hal ini amat menggembirakan orang Belanda. Sebab, menurut mereka, *perutusan-perutusan semacam itu (biasanya) menimbulkan kesulitan saja bagi Kompeni”. Penolakan itu berdasarkan pendapat Istana yang mengatakan bahwa orang-orang Makassar tersebut tidak layak menghadap Sunan. Tetapi hal ini tidak menghalangi kepala daerah untuk memperlakukan mereka dengan baik. Pada akhir bulan Agustus tahun 1657 ia sibuk sekali mempersiapkan sebuah jacht untuk mereka, dan inilah sebabnya ia tidak dapat menyerahkan kayu yang telah dijanjikannya kepada Kompeni (lihat juga: Daghregister, 8 September 1657). Mungkin utusan Makassar ini sama dengan ”intche Mahomet”, yang dipermainkan orang Jawa pada awal November 1657 (Daghregister, 17 November 1657, him. 314). Ternyata, ia pergi ke Juwana, dan sekembalinya di Jepara mula-mula diterima baik di sana dan diberi tempat penginapan. Kapal-kapalnya diseret ke daerah bea dan cukai, schingga tidak cepat-cepat bisa keluar. Dalam tulisan berikutnya tertanggal 17 November 1657 (Daghregister, 4 Desember 1657, him. 334-335) disebutkan, kecuali Mahomet ini juga seorang bernama Encik Bantam, Residen (Belanda) menamakan mereka pengacau-pengacau dari Makassar”. Secara diam-diam” mereka menyelinap ke Semarang kehadiran mereka menjemukan kepala dacrah Jepara; mereka hanya membual dan duduk-duduk saja berpangku tangan”. Apakah tidak cukup banyak hadiah yang mereka berikan? Hadiah mereka kepada Sunan hanyalah ”zamrud-zamrud yang jelek”. Orang yakin bahwa di Scmarang pun mereka tidak akan disambut dengan baik. Jadi, sama sekali tidak pula disambut baik di Mataram. Maka, berakhirlah berita-berita tentang perutusan Makassar yang pertama ini, yang sama sckali tidak berhasil. VI-—4 Perutusan Makassar yang kedua, 1658-1659 Sekitar pertengahan tahun 1658 tiba lagi utusan-utusan dari Makas- sar. Setelah menunggu selama dua bulan, baru mereka diantar ke istana. Walaupun demikian, sudah merupakan kemajuan yang baik, diban- dingkan dengan penerimaan mereka setahun sebelumnya (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 73). Rupanya, perlakuan baik yang mereka peroleh itu karena pimpinan mercka memperkenalkan dirinya kepada Kepala Daerah Ngabei Martanata sebagai paman Sultan Gowa. Setelah ternyata bahwa ia sebenarnya berasal dari keturunan rendah, Sunan pun tidak lagi menaruh perhatian kepadanya (Daghregister, 28 Februari 1659, hlm. 81 38). Berita ini berlebih-lebihan, juga walaupun Sunan kemudian ketika keadaan berbalik menyatakan bahwa dalam perjuangan mercka melawan orang Belanda dan orang Bali mereka telah minta uang kepadanya. Jika demikian halnya, sudah tentu mereka salah alamat (Daghregister, 13 November 1659). Mereka juga menawarkan kepada Raja untuk menaklukkan Bali baginya (Daghregister, 21 September 1659). Sebaliknya, Sunan telah dapat mengajak mereka sedemikian rupa schingga mereka "dapat dibujuk untuk berpendirian seolah-olah . . . raja mercka bersedia datang menyembah kepada Sunan”, sckalipun katanya *bukan itulah maksudnya” (Daghregisler, 7 Juli 1659, him. 138). Sckali lagi tampak usaha Mataram untuk diakui sebagai penguasa tunggal oleh tetangga-tetangga Indonesianya. Berita bahwa utusan-utusan Makassar, seperti juga “sahabat mereka dan musuh Kompeni (Portugis?)”, telah berkomplot menghadapi Belanda telah diterima oleh Pemerintah Kompeni, sekalipun hal ini tidak diharapkan akan menimbulkan ”perubahan atau kerenggangan dalam merundingkan hal-hal penting” (Daghregister, 10 Januari 1659, him. 9). Namun, terjadilah akhirnya apa yang tidak diharapkan Pemerintah Kompeni, yaitu terbentuknya sebuah Pakta Mataram— Makassar. Telah diperoleh kesepakatan bahwa "setiap tahun . .. kedua belah pibak akan saling mengirimkan utusan” (Daghregister, 13 Mei 1659, hlm. 97). "Dengan perjanjian masing-masing akan saling setia”, maka setiap utusan oleh Ngabei Martanata juga diberi tujuh /ast* beras, sedangkan Sunan memberi kapal-kapal untuk perjalanan mereka kembali yang masing-masing berukuran 20 /ast. Ini terjadi, sckalipun sebelumnya ada perselisihan antara para utusan dan penguasa Jepara. Orang Jawa dahulu membalas hadiah Makassar dengan sesuatu yang dianggap terlalu kecil, "dan karenanya menimbulkan amarah yang sangat kepada utusan itu” (Daghregister, 28 Februari 1659, him. 38). Ketika perutusan itu berangkat akhir Februari 1659, mereka dilepas dengan ”upacara-upacara kenegaraan yang megah” (Daghregister, 26 April 1659). Tumenggung Pati iri hati kepada rekan dan saingannya dari Jepara itu dapat menerima perutusan Makassar. Karena itu diundang- nya mereka untuk singgah ke Juwana, pelabuhannya. Tetapi mereka menolak undangan itu. Rumphius (Rumphius, Historie”, bagian II, hlm. 128) juga menegas- kan bahwa ”Sunan ... bersama orang Makassar telah mengadakan ikatan untuk mengadakan ’ofensi’ dan “defensi’ bersama, dan untuk * 1 last = 2 ton 82 maksud itu dibangun di Surabaya 20 perahu untuk orang Makassar”. Jadi, ini merupakan suatu persekutuan yang menyerang dan bertahan. Sunan menjanjikan perahu-perahu kepada Makassar, yang dibuat tidak sepengetahuan Belanda di Surabaya. Karena Valentijn (Valentijn, Oud en Niewo, jil. 1V, hlm. 104) juga mengetahui adanya persekutuan seperti itu, maka sulitlah kiranya untuk meragukannya. Tetapi segera juga terjadilah suatu perubahan besar. Koja Ibrahim, utusan Makassar itu, karena angin musim timur tidak sampai ke tempat tujuannya, Makassar, tetapi kembali ke Jepara. Residen Evert Michiel- sen merasa gembira bahwa tamu yang licin itu . . . takkan hadir pada perundingan” (Daghregister, 26 April 1659). Pembicaraan-pembicaraan ini akan diadakan kira-kira pada pertengahan bulan April di Mataram, dan tentunya juga mengenai Makassar. Scbab, kalau tidak, maka tidak ada alasan bagi Michiclsen untuk merasa gembira. Hasilnya segera dapat dilihat. Koja Ibrahim diberi amanat oleh Sunan untuk memberitahukan kepada rajanya bahwa tidak perlu baginya mengirimkan utusan- utusannya, karena mereka tidak akan diizinkan masuk istana (Daghregis- ter, 13 Mei 1659, hlm. 97). Koja Ibrahim menyatakan protes dan berkata bahwa hal itu melanggar perjanjian untuk saling mengirimkan utusan. Walaupun demikian, amanat Sunan tetap akan disampaikannya. Sementara itu, ia “tidak dihormati sebagaimana mestinya, sama sekali bertentangan dengan kchormatan dan perjanjian yang terdahulu”. Utusan yang semula amat dihormati itu tidak lagi disenangi Sunan.® Sesudah perutusan kedua ini, tidak tampil lagi utusan Makassar di istana Mataram, walaupun tidak pernah sampai timbul peperangan, hubungan antara kerajaan-kerajaan Gowa dan Mataram jauh dari baik. Demikianlah pada tahun 1663, ketika rakyat-rakyat di sekitarnya menjadi gempar ketakutan karena dipersiapkannya armada perang Mataram untuk kesckian kalinya, Batavia berpendapat, "diperkuatnya Kota Makassar” itu disebabkan oleh ancaman tersebut (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 99). Tetapi gertakan itu tidak lebih dari sekadar ancaman saja, karena masih terlalu banyak ikatan yang mempersatukan antara 8. Koja Ibrahim berkali-kali kemudian masih bertindak sebagai wakil raja Makassar. Pada tahun 1663 dibayarkan kepadanya uang 2.100 rial, sebagai pembayaran ganti rugi atas penyitaan kapal Jan Baptista milik Franc. Viera pada tahun 1652. Pada tanggal 18 Oktober 1663 (Daghregister) ia melalui Jepara tiba lagi di Batavia, dikirim oleh Karaeng Sumana untuk membicarakan masalah-masalah negara Makassar dengan Pemerintah Kompeni. Dalam Notitienya yang terkenal itu, Speclman menyebutkan namanya sebagai Godia Ebrehim, tokoh pertama dari semua orang Mor Makassar. Pada saat itu ia akan pindah ke Bima. 83 kedua kerajaan Islam itu, dan penaklukan Makassar oleh Speelman pada tahun 1669 tidak terlepas dari perhatian Sunan. Masalah ini kembali akan dibicarakan nanti (him. 210). akan dibicarakan nanti (him. - ). Dalam mencoba membuat ikhtisar tentang hubungan Mataram dengan vazal-vazalnya, kami berpendapat bahwa setelah tahun 1660 semua kerajaan, kecuali satu, di antaranya, telah memutuskan hubungan dengan Mataram. Hanya Palembang sajalah yang masih tetap setia sampai akhir. Baik Jambi maupun Kalimantan telah melepaskan diri dari supremasi Jawa. Makassar, sekalipun ingin sckali_ mendapat bantuan, tidak mau menjadikan Sunan pertuanan. Banten, yang semula merasa takut akan tetangganya di sebelah timur, semakin tidak menghiraukannya. Bahkan Blambangan yang lemah itu melepaskan diri dari kerajaan besar tersebut. Menarik untuk menyimpulkan kemunduran yang hampir menyeluruh ini schubungan dengan kegagalan Raja dalam menghadapi kekuasaan Kompeni yang semakin bertumbuh. Justru sekitar tahun 1660 inilah, kekuasaan Kompeni mulai tampak semakin jelas. ge 8 Bab VII Persahabatan dengan Kompeni VII-1 Tercapainya perdamaian, 1646 dengan Raja selama delapan tahun pemerintahannya yang pertama sudah saya bicarakan dalam De vijf gezantschapsreizen van Rijklof van Goens 1648-1654 (Goens, Gezantschapsreizen). Karena tidak banyak yang perlu ditambahkan pada tulisan itu, kiranya cukuplah penyingkatan. Sebelum tanggal 30 April tahun 1646, seperti sudah terjadi beberapa kali, tiba di Batavia sebuah perutusan Tumenggung Wiraguna. Anggota-anggotanya adalah Nayakarti, Astratala, dan (Anggajiwa). Maksud mereka antara lain untuk berdagang. Rupanya, pada waktu mereka berangkat dari Mataram, yaitu pada awal tahun 1646, berita tentang wafatnya Sultan Agung masih belum diketahui. Setidak- tidaknya dalam jawaban Pemerintah Kompeni masih disebutkan "sultan Mataram”. Namun, telah dibayangkan oleh pemerintah tersebut akan terjadinya suatu pergantian tahta, karena sekali lagi dinyatakan kesediaannya untuk damai, saling menukar tawanan, dan membayar kembali uang yang telah disitanya. Baru dalam sebuah surat Jawa yang dijawab Pemerintah Kompeni pada tanggal 19 Juli 1646 (Jonge, Opkomst, jil. V, hlm. 283), ada tercantum pergantian tahta, karena untuk pertama kalinya disebutkan Sunan Mataram, sementara Tumenggung Wiraguna disebut sebagai *penasihat utama Sunan Mataram, yang amat arif dan mencintai perdamaian yang menghendaki ...”, dan seterusnya. Dalam surat Tumenggung Wiraguna ini, yang juga disertai hadiah yang berlimpah-limpah (beras 200 gantang dan ayam jago 20 ckor), tidak 85 T ercapainya perdamaian dengan Belanda dan hubungan Belanda saja dikemukakan tentang keschatannya yang baik, tetapi juga bahwa ia »(berusaha) menempuh ... j i Akan tetapi tumenggung itu mengajukan beberapa syarat. Melalui suratnya dan ”pemberitaan lisan” dan utusan-utusannya hanya diberi *harapan baik ... agar terjadi perdamaian dengan Mataram”, bila Pemerintah Kompeni menghendakinya dan mengirimkan sebuah per- utusan. Oleh karena itu, diputuskan dalam dewan untuk mengirim sebagai utusan scorang kolektur bernama Sebalt Wonderaer. Juga dibebaskan sejumlah ulama yang ditawan, yaitu Kiai Haji dan Suracqsacksa, dan dibayarkan kembali 5.743% rial yang ditukarkan dengan tawanan-tawanan Belanda melalui perantaraan utusan-utusan Tumenggung Wiraguna. Utusan-utusan itu juga membawa empat butir intan yang indah, yang mereka pilih sendiri dan telah mereka bayar pula (Realia, keputusan tanggal 14 Juli 1646) Selain Tumenggung Wiraguna, sekarang datang juga utusan-utusan dari tumenggung Mataram, sekalipun tanpa disertai surat. Mungkin mereka hanya diharuskan agar memata-matai utusan Tumenggung Wiraguna. Semua orang Jawa ini turut serta dengan Sebalt Wonderaer dalam perjalanannya ke Jawa Tengah. Utusan Belanda menurut rencana tidak akan berlayar lebih jauh dari Semarang, tidak akan mengirimkan orang ke darat dan memberitahukan maksudnya yang damai itu dengan mengibarkan bendera putih dan bendera perundingan. Perutusan Jawa, yang berada di dua kapal yang berlayar terpisah, diizinkan mendarat dengan membawa hadiah-hadiah dan surat jawaban, terus menuju Istana dan sctelah itu akan menanti bagaimana perkembangan kejadian selanjutnya. Akan tetapi_ para tawanan tidak akan dilepaskan oleh satu pihak saja, melainkan akan dilakukan saling penukaran. Orang-orang Belanda yang telah disunat tidak dipentingkan; mercka boleh pergi atau tetap tinggal, sesuai dengan kehendak mercka sendiri, ”supaya tidak akan terjadi rintangan yang bagaimanapun kecilnya dalam melaksanakan perdamaian dan sepenuh- nya memenuhi permintaan-permintaan pihak Jawa”, asalkan orang- orang Belanda yang tidak disunat diperoleh kembali (””Memorie voor. . . S. Wonderaer”, tertanggal Batavia 19 Juni 1646, dalam K.A. No. 773, him. 259 dan selanjutnya). Jadi, Belanda memperlihatkan sikap yang sangat lunak terhadap orang Mataram, tetapi tidak mengambil risiko mengenai keselamatan perutusan Belanda tanpa jaminan di daerah pedalaman. Garis kebijak- sanaan ini tetap dipegang dengan teguh. Selanjutnya, Pemerintah Kompeni bersedia "memohon perdamaian”, yang di mata orang Jawa berarti tunduk. Secara resmi Raja belum mengetahui sesuatu apa pun. 86 Karena itu, Pemerintah Kompeni harus memohon dengan segala hormat kepada Tumenggung Wiraguna agar tumenggung Mataram ”berkenan menggunakan pengaruhnya yang besar itu” untuk memperlancar masalah perdamaian "pada Sunan Mataram”, sehingga Pemerintah Kompeni itulah yang membuat langkah pertama (surat Kompeni tanggal 19 Juli 1646, dalam Jonge, Opkomst, jil. V, hlm. 283-284)! Bahkan Pemerintah Kompeni sudah menjanjikan untuk menyatakan penghormatan khidmat, sekalipun secara terselubung, seperti kemudian juga termuat dalam pakta perdamaian, yaitu bahwa Pemerintah Kompeni bersedia memesan untuk Sunan dan Tumenggung Wiraguna ”pakaian dan barang-barang langka yang sewaktu-waktu akan diper- sembahkan dan yang contoh-contohnya sudah tersedia”. Karena janji yang tersebut belakangan ini sebenarnya dapat diartikan sebagai penghormatan beserta persembahan setiap hadiah-hadiah yang mahal setiap tahun, maka pada pertemuan di Batavia kali ini pastilah sudah ada serba sedikit tukar pikiran tentang syarat-syarat perdamaian yang akan datang. Di Teluk Semaranglah dilaksanakan penukaran tawanan, dan pe- ngembalian uang yang disita. Kesempatan itu pasti dilanjutkan dengan pembicaraan tentang syarat-syarat perdamaian. Paling tidak pada tanggal 24 September 1646 muncul di Pertemuan Tingkat Tinggi sebuah perutusan Mataram baru yang menyampaikan seberkas lengkap syarat- syarat perdamaian. Dua anggota perutusan itu memakai nama Arab, yaitu Abdul Latif, syahbandar Jepara, dan intche (atau encik) Kodrat; yang ketiga bernama Martasara (Jonge, Opkomst, jil. V, hlm. 284-285). Syarat-syarat yang disampaikan itu pasti merupakan hasil perundingan di Istana pada sekitar bulan Agustus 1646, dan juga dengan pengaruh Jawa yang jelas. Kini ternyata utusan-utusan tersebut bukan hanya bertindak sebagai utusan Tumenggung Wiraguna atau tumenggung Mataram, tetapi juga bertindak atas nama Sunan, dan mempunyai kuasa untuk mengubah usul-usul mereka. Hasil perundingan-perundingan di Batavia itu dituangkan dalam enam pasal, empat yang pertama di antaranya sama dengan usul pihak Jawa, dan hanya dalam pasal yang terakhir diadakan dua perubahan. Naskah selengkapnya dapat ditemu- kan dalam Heeres, Corpus” (jilid I, hlm. 484), sedangkan Van Goens, Gezantschapsreizen, membicarakannya dengan panjang lebar. Menurut pasal 1, Kompeni dengan berkedok perjalanan perdagangan akan mengirim perutusan sctiap tahun kepada Sunan, yang sudah tentu tidak mungkin datang dengan tangan hampa. Ini sungguh-sungguh sama seperti berdatang sembah sekali setiap tahun. Berdasarkan pasal 2, maka jika Sunan meminta, pihak Belanda 87 bersedia mengangkut para ulama, misalnya ke Mekah. Hal ini memang sebelumnya pernah ditawarkan oleh Kompeni. Namun, Sunan tidak pernah mengajukan permintaan demikian. Menurut pasal 3, semua orang Belanda yang ditawan di Mataram akan dibebaskan. Kecuali yang telah disunat dan yang kebanyakan sudah beristrikan wanita Jawa, mereka semua telah dibebaskan. Pada akhirnya semua tawanan akan mendapatkan kembali kebebasan mereka, yaitu pada tahun-tahun 1649 dan 1651. Menurut pasal 4, akan dilakukan saling penyerahan orang-orang yang berutang. Pasal ini mungkin diusulkan oleh Kompeni, yang juga akan menarik keuntungan paling besar dari pasal tersebut, yaitu sudah pada tahun 1648. Yang dimaksudkan adalah debitur-debitur Cina yang merasa aman di daerah Mataram. Konsekuensi kedudukan sebagai vazal, menurut pengertian Jawa, membawa keharusan untuk membantu Sunan dalam setiap peperangan yang dilakukannya. Kompeni tidak mau menerima hal ini, dan hanya mau mendukung Raja dalam menghadapi musuh-musuh yang juga menjadi musuhnya sendiri. Karena itu, kemudian tidak terdapat sikap saling membantu. Dengan demikian, pasal 5 ini praktis tidak banyak artinya. Kompeni juga tidak dapat menerima permintaan supaya semua pedagang di bawah kekuasaan Raja boleh secara bebas berlayar dan berdagang di mana-mana, dan juga tidak akan merintangi orang Melayu yang menuju Istana. Sebab, ini akan berarti hancurnya sistem perdagangan Kompeni. Oleh karena itu, pasal 6 melarang pelayaran bebas di Kepulauan Maluku dan lebih jauh dari Malaka. Anehnya, perdagangan bebas bagi orang Belanda di pelabuhan-pelabuhan Mataram tidak terjamin. Hal ini setelah tahun 1652 akan menimbulkan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan. Atas dasar empat pasal yang tetap tidak berubah dan dua pasal yang diubah itulah ditandatangani perjanjian untuk perdamaian sementara. Ini terjadi pada tanggal 24 September 1646, tepat pada saat utusan- utusan Jawa tiba di Batavia. Peristiwa yang menggembirakan ini dirayakan dengan dentuman-dentuman meriam dari benteng-benteng loji Belanda. Tawanan-tawanan Jawa diserahkan. Baru sebulan kemudian utusan-utusan Mataram berangkat pulang. Mereka disertai seorang utusan Belanda yang pertama ke istana, yaitu pedagang tertinggi Jan Hermansz. ‘VII—2 Perutusan Hermansz., 1646 Pada tanggal 26 Oktober 1646 berangkatlah dari Teluk Batavia perutusan Belanda yang pertama ke Mataram, dan tiba kembali di Batavia sebelum tanggal 4 Februari 1647. Anchnya, utusan ini pertama-tama harus terlebih dahulu berkunjung kepada kepala daerah Jepara karena pembesar inilah yang akan mengantarnya ke Mataram dan “untuk itu. . . sudah akan rakyat dan kuda”. Jadi, perjalanan ke pedalaman secara resmi masih melalui Jepara. Tugas utusan Belanda ini untuk memberikan hormat kepada Sunan baru, menyampaikan ucapan selamat kepadanya atas suksesi kerajaan- nya. Dan sambil menyampaikan hadiah-hadiah, mengusahakan penge- sahan perjanjian perdamaian yang telah tercapai itu. Akan dimohon- kannya pula agar perjanjian pakta perdamaian ini diumumkan di seluruh negeri. Untuk Raja akan disediakan dua ekor kuda pilihan yang terbaik, dua sekesel (buatan Jepang?) yang indah, 34 potong kesturi, air mawar setempayan, dan satu tong anggur Spanyol, berikut cincin intan yang dikenakan di tangan Tumenggung Wiraguna. Utusan menyatakan hormat setinggi-tingginya, dengan begitu banyak puji dan basa-basi istana . . . sebagaimana disyaratkan dan menjadi perkenan, yang akan membawa kehormatan pula kepada bangsa. Sebaliknya, sebuah per- mintaan yang mungkin akan diajukan Sunan agar membantunya dalam menghadapi Banten akan ditolak dengan hormat, karena Pemerintah Kompeni baru saja mengadakan perjanjian perdamaian selama sepuluh tahun dengan kerajaan tetangga yang sulit ini. Orang-orang yang ikut serta ~ sebanyak 20 orang — akan dijaga oleh Hermansz. agar tetap mengikuti tata tertib dan disiplin. Orang Belanda yang masih ada, sepuluh orang yang telah disunat dan kawin, kalau pembebasan mereka dapat diperoleh, utusan akan mengampuni dan membawa mereka ke Batavia. Tidak akan terlalu dipaksakan masalah pemukiman kembali orang Belanda di Jepara, atau izin singgah di tempat ini bagi kapal-kapal yang berlalu. Bagaimanapun, akan diajukan sebagai syarat agar orang Belanda boleh datang berdagang secara bebas, dan berangkat lagi menurut kehendak mereka (Jonge, Opkomst, jil. V, hlm. 289-290). Sayang sekali mengenai perutusan ini tidak tersimpan pada kita laporan atau catatan harian. Tetapi dapat dipastikan bahwa perdamaian telah disahkan oleh Sunan, dan kepada perutusan yang pulang kembali diberikan serba sedikit hadiah. Pemerintah Kompeni merasa puas sekali, sekalipun usaha membebaskan sisa tawanan sama sekali tidak berhasil. Sebaliknyalah! Ketika Jan Hermansz. rupanya tergerak karena nasib orang-orang sebangsa yang menyedihkan itu, agak terlalu keras mendesak Tumenggung Wiraguna supaya membebaskan mercka. Maka, 89 karena marahnya, tumenggung ini memerintahkan agar separuh dari tawanan itu dibunuh (Goens, Gezantschapsreizen, him. 62). Juga diragukan apakah utusan Belanda itu memang melihat sendiri raja Mataram. Menurut Van Goens (Goens, Gezantchapsreizen, him. 30 dan 190), kepada Sunan orang-orang Belanda itu semua digambarkan sebagai tukang sihir yang bekerja sama dengan iblis, dan lain sebagainya. Mereka konon pandai sekali menirukan gambaran orang yang kemudian digunakan sebagai alat sihir untuk menimpakan berbagai bencana pada mereka yang digambarkannya itu. Karena itu, bukan Sunan pribadi yang tampil di depan Jan Hermansz., tetapi orang lain. Ketika ternyata tidak terjadi sesuatu, barulah kemudian Raja berani memperlihatkan diri kepada orang-orang Belanda itu, dan bahkan menjadi akrab dengan mereka. Kisah ini konon didengar Van Goens dari cerita Sunan sendiri. Tetapi bagaimanapun, selama tahun 1647 selanjutnya hubungan Kompeni dengan raja Mataram baik sekali, tidak dapat lebih baik lagi. Ketika itu tidak diterima beras dari Siam dan Arakan. Sekalipun panen Mataram sendiri buruk, Batavia diselamatkan oleh Sunan dari bahaya kelaparan. Walaupun dinyatakannya persediaannya tinggal sedikit, Raja memberikan beras 100 last kepada Gubernur Jenderal, hal demikian demi masalah yang penting sckali, dan belum pernah terjadi”. Dari kejadian ini Pemerintah Kompeni menarik kesimpulan bahwa Raja dengan sungguh-sungguh ingin memelihara perdamaian dan tidak mudah melanggarnya. Tetapi Belanda tetap "waspada terhadap bangsa yang licin itu”, dan memutuskan untuk melipatgandakan hadiah mereka pada pengiriman perutusan selanjutnya demi memelihara tali persaha- batan. Karena dengan cara demikianlah, Banten pun dapat dikendali- kan. Kata-kata mantap dalam Laporan Tahunan Kompeni tertanggal 31 Desember tahun 1647 (K.A. No. 1064) hampir naif bunyinya: ”(Kami) hampir tidak tahu bagaimana sesungguhnya keadaan (kami), karena (kami) sekarang tinggal di sini dalam suasana yang begitu damai dan ke mana pun juga bolch pergi dengan aman di daerah-dacrah di sckitamya”. Pengungkapan ini memang masuk akal, mengingat bahwa Batavia dengan tetangganya di sebelah timur selama 18 tahun hidup dalam keadaan perang. ‘Juga harus dipertimbangkan bahwa di Mataram sendiri pun terdapat sangat banyak ketegangan. Dengan demikian, keinginan Sunan akan hubungan yang damai dengan Kompeni lebih mudah dapat dimengerti. VII—3 Perutusan Wonderaer—Van Goens, 1648 Kompeni tidak tergesa-gesa mengirimkan perutusan berikut. Setahun lebih setelah utusan Belanda yang pertama kembali di Batavia, kakak 90 beradik Kiai Suta dan Anggapraja menulis surat ke Batavia dan menyatakan bahwa sesudah kunjungan mereka yang terakhir ke Istana, Sunan berkali-kali bertanya tentang utusan Gubernur Jenderal. Mereka khawatir jika utusan berikut tidak segera datang, maka mereka akan disingkirkan dari kedudukan mereka. Pemerintah Kompeni menjawab seraya minta maaf dan mengatakan bahwa kapal-kapal yang membawa barang-barang khusus dari Negeri Belanda dan pakaian khusus dari Koromandel belum kunjung tiba. Bahkan surat kedua, yang diterima pada tanggal 24 April 1648, tidak dapat mempercepat pengiriman utusan Belanda, karena baru pada tanggal 28 Mei Kolektur Jenderal Sebald Wonderaer diutus ke istana Mataram. Ia ditemani oleh Kepala Perdagangan Rijklof van Goens, penyusun laporan yang penuh pelajaran itu, dan seorang kapten Melayu, Encik Ahmat, yang juga ikut serta dalam dua perutusan Van Goens berikut. Maksud sampingan Pemerintah Batavia dengan perutusan-perutusan ini untuk menunjukkan kepada Raja bahwa masih banyak sekali rakyatnya yang berlayar ke Perak, dan untuk memperlancar penyerahan orang-orang Cina yang berutang. Di antara hadiah yang dikirimkan terdapat tiga ekor kuda Persia. Penerimaan mereka baik sckali, Sampai tiga kali para utusan diterima di Pagelaran. Sunan bahkan menunda niatnya berburu ke selatan selama beberapa hari; dijamunya mereka dengan ramah, diperkenankannya mereka duduk di mana-mana, dan dilimpahinya pula dengan hadiah- hadiah. Tiga kali Bali disebut dalam pembicaraan oleh Raja yang dianggapnya musuhnya sejak ekspedisi Tumenggung Wiraguna ke sana setahun sebelumnya. Karena tumenggung ini tidak lagi disebut dalam dokumen-dokumen, maka pada tahun 1648 pastilah ia tidak lagi tergolong mereka yang masih hidup. Dua kali Sunan berbicara tentang beberapa kuda yang diterimanya, yang sama sekali tidak disukainya. Lalu tercapai kata sepakat bahwa dengan perantaraan Kompeni ia akan mengirimkan abdi-abdinya ke Persia, agar mereka sendiri dapat memilih kuda-kuda itu. Tentang memilih kuda, orang Jawa sangat pemilih karena ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dan belum dikenal orang Eropa, misalnya mengenai tabiat kuda. Memang ada beberapa abdi raja yang kemudian pergi bersama para utusan Belanda itu. Sayang tidak banyak dapat diperbuat bagi orang-orang Belanda yang tertinggal. Keadaan mereka digambarkan sangat menyedihkan. VII—4 Perutusan Van Goens yang kedua, 1649 Juga perutusan berikutnya, yang ketiga, sangat terlambat. Mereka baru datang setelah tumenggung Mataram mengirim utusan-utusan untuk menanyakan mengapa begitu lama tiada berita. Kali ini memang o1 ada alasan yang kuat: beberapa ckor kuda yang harus dibeli di Persia oleh tiga orang utusan Jawa, yang bersama beberapa orang Belanda harus melakukan perjalanan jauh melalui Gamron ke Shiras itu, masih ditunggu datangnya. Keadaan di sana justru sedang buruk sekali: perang berkobar antara Syah Abbas II dari Persia dan Mogol Agung Syah Jahan untuk merebut benteng Kandahar. Setelah perjalanan yang amat jauh, kuda-kuda yang sangat bagus itu menjadi sangat kurus, schingga harus dipulihkan dahulu di kandang Kompeni, sebelum dapat dihadapkan kepada Sunan. Van Goens, pemimpin perutusan Belanda itu, hanya disertai Encik Ahmat tersebut di atas. Tugasnya ialah: memohon penyerahan beberapa orang Cina dan perhatian Raja supaya berkenan memelihara dengan lebih baik ketertiban dan keamanan dalam kerajaan, khususnya di pelabuhan-pelabuhan laut, schingga penduduk Batavia di sana bebas dari gangguan, kekerasan, dan pembunuhan. Sekalipun bagian terakhir tugas ini dapat menimbulkan perselisihan, segala sesuatu berjalan lancar. Penyambutan atas kedatangan perutusan Belanda itu hangat; semua orang Belanda yang masih tinggal di sana, bersama istri dan anak mereka, diizinkan meninggalkan negeri, kecuali mereka yang telah bekerja pada Putra Mahkota atau pada pejabat- pejabat tinggi lain. Sikap Sunan itu menimbulkan rasa heran pada orang Muslim. Tetangga barat ini biasanya diperlakukan lain sama sekali. Sikap lunak Sunan itu mungkin timbul dari kegembiraannya, setelah menerima hadiah kuda tersebut. Di samping hadiah-hadiah biasa bagi para utusan, Sunan berjanji pula akan mengirimkan beras sebanyak 150 last kepada Gubernur Jenderal. Raja bahkan kembali menyinggung pendirian sebuah kantor dagang di Jepara, yang tidak ditolak oleh Batavia. Karena bersamaan waktu itu Banten juga memperlihatkan sikap lunak, dengan menawarkan lada dalam jumlah yang sangat banyak, maka Pemerintah Kompeni merasa puas sekali dengan perkembangan keadaan waktu itu dan dengan gembira ditulisnya surat ke tanah airnya mengatakan ”Pendek kata, puji bagi Tuhan, kami di Batavia mengalami abad yang makmur dan sejahtera”. VII-5 Perutusan Van Goens yang ketiga, 1651 Sekalipun perutusan Belanda keempat (atau yang ketiga dipimpin Van Goens ini) juga sangat terlambat — baru berangkat dari Batavia pada tanggal 10 Maret tahun 1651 — ia tetap diterima dengan ramah sekali. Yang turut serta, kecuali Van Goens dan seorang kapten Melayu Ahmat, juga pedagang tertinggi Dirck Schouten, calon kepala kantor dagang yang akan didirikan kembali di Jepara itu. Hal ini merupakan 92 permintaan resmi Raja (Brascamp, ’Houtleveranties”, TBG LIX, him. 441), dan memang dikehendaki pula oleh Kompeni, karena harapan akan menerima bagian dari keuntungan perdagangan yang diperoleh orang Inggris yang sudah giat di sana. Tidak ada perutusan yang begitu berhasil seperti yang dikirimkan kali ini. Ini dapat disebutkan sebagai titik puncak dalam hubungan antara Mataram dan Belanda. Sunan sangat menghargai hadiah dari pihak Belanda yang berlimpah itu, yang antara lain berupa dua meriam perunggu, kuda Persia yang sama banyaknya, kembang api, lima lukisan, sepuluh cermin dengan hiasan indah dan sebuah kursi kayu hitam, usul untuk menempatkan Dirck Schouten di Jepara juga diterima dengan senang hati. Sunan menyediakan tanah untuk mendirikan sebuah loji bukan saja di Jepara, melainkan juga di semua pelabuhan lautnya. Van Goens cepat-cepat mulai melaksanakan segala sesuatunya, dan pada perjalanan pulang itu juga segera didirikannya sebuah kantor dagang. Betapa baiknya sikap Raja ternyata dari tawarannya untuk mengirimkan sejumlah wanita cantik kepada Gubernur Jenderal. Yang amat meng- gembirakan pula adalah pembebasan semua tawanan Belanda yang masih tersisa. Suatu keistimewaan yang menimbulkan pertanyaan adalah peninjau- an bersama atas gudang senjata Mataram serta bengkel-bengkel pembuatan meriam dan senapan. Namun, kemudian, justru sctelah perutusan antara Mataram dan Batavia yang amat berhasil ini, mulailah timbul kesulitan-kesulitan. Bab VIII Sistem Dua Penguasa Pesisir VIII—1 Kota Jepara dalam pertengahan kedua abad ke-17 ketika memainkan peranan istimewa sebagai pelabuhan terbesar Kerajaan Demak. Tentang hal ini dapat dibaca kesaksian Tomé Pires. Dalam hal perdagangan, pelabuhan Jepara hanya dikalahkan Gresik. Perkembangan itu terus berlangsung pada abad ke-17. Atas undangan Panembahan Krapyak, Belanda sudah mendirikan sebuah kantor dagang pada tahun 1613, dan demikian juga Inggris pada tahun 1618. Setelah dua kali digempur olch Coen yaitu pada tahun 1618 dan 1619, kota ini diberi bertembok di sisi laut, dan diperkuat oleh Gubernur dengan kubu-kubu pertahanan rendah dari batu. Karena itu, pada tahun 1632 kota tersebut dibom oleh sebuah armada Belanda dengan sia-sia. Kepala Kota Jepara adalah seorang asing, bukan orang Jawa, yang dalam merebut Tuban telah berjasa besar, sehingga ia boleh memakai gelar lama laksamana panglima armada Mataram. Setelah perdamaian tercapai pada tahun 1646, Jepara merebut kembali kedudukannya yang lama dalam perdagangan. Ketika kapal Wouter Schouten pada bulan Maret tahun 1659 membuang sauh di sana, yang disaksikannya adalah sebuah kota yang makmur dan banyak penduduknya (Schouten, Voyagie, jil. I, hlm. 37). Tembok sekelilingnya masih dalam keadaan baik, rumah-rumah dibangun dengan batu dan kapur. Jalan, tembok, lapangan, dan pemandangan di sekitarnya menarik, dihiasi gedung-gedung yang serba indah. Menyenangkan sekali berjalan-jalan di sana. Pasar-pasar penuh dengan orang Jawa, Persia, Arab, Gujarat, Cina, Koromandel, Aceh, Melayu, Peguana, dan lain-lain 94. P erkembangan pesat Jepara diketahui sudah sejak abad ke-16, bangsa. Segala yang dihasilkan di Asia dan benua lainnya tampaknya diperdagangkan di sini. Hanya tata pembangunan kota yang tidak menarik bagi Schouten. Sedikit sekali jalan yang lurus, sedangkan jalan-jalan lainnya tidak keruan letaknya. Karena itu, orang tidak selalu tahu apakah ia berada di jalan umum atau di pekarangan milik swasta, dan ini bisa membawa akibat yang tidak menyenangkan, mengingat sifat iri hati orang Cina dan Jawa. Dj atas segala-galanya, pemandangan yang paling mencolok adalah masjid besar, yang mungkin berasal dari zaman ratu Jepara, yaitu dari masa perempat ke-3 abad ke-16. Schouten mungkin menggambar masjid itu dari loji Belanda, dan C. Decker membuat klisenya yang dimuatnya dalam laporan perjalanannya dengan keterangan: ”Tempat ibadat orang Mor di Kota Jepara”. Masjid yang persegi tanpa serambi itu dikelilingi air, seperti halnya masjid keraton di daerah-daerah kerajaan sekarang, tetapi juga mempunyai atap yang tinggi dengan lima tingkat, yang mudah dapat dikenali dari laut. Tembok yang mengelilingi halaman masjid mempunyai pintu gerbang seperti yang terdapat kemudian di Kali Nyamat. Bentuk masjid ini pernah saya bicarakan dalam majalah Djawa (Graaf, ”Moskee”), sedangkan dalam majalah Indonesie (Graaf, Oorsprong”) saya telah mencoba menetapkan apa hubungan antara bangunan masjid yang kemudian dan yang terdahulu. Tempat ibadat yang suci ini sama sekali terlarang bagi orang Kristen. Wouter Schouten menulis suatu cerita lucu tentang kegemparan yang terjadi di kalangan orang Jawa, ketika ia beserta rombongan ingin melihat-lihat di dalam masjid itu (Schouten, Voyagie, jil. 1, him. 38). Penduduk di sana konon fanatik sekali. Kepada kaum ulamanya kadang-kadang harus diberikan hadiah supaya hati mereka senang. VIII—2 Kedudukan Belanda di Jepara Dalam teori kedudukan orang Belanda di Jepara berbeda dari kedudukan orang Jawa hanya dalam hal bahwa yang tersebut pertama harus pula menaati perintah Gubernur Jenderal. Sebab seorang abdi tumenggung Mataram, Wirajaya, berkata kepada Residen Luton, "Tuan selama di sini harus menaati sebaik-baiknya perintah-perintah, baik dari Sunan maupun dari Tuan Jenderal” (Daghregister, 5 September 1663). Kepala daerah Jepara "dengan jelas juga mengatakan tentang kekuasaannya atas orang Belanda dan daerah yang ditempati orang Belanda, dan juga atas bangsanya sendiri, yaitu orang Jawa, . . . atas dasar dua alasan: 1. karena orang Jawa sampai yang di Batavia .. . berada di bawah kekuasaan Pemerintah (Sunan); 2. karena oleh Sunania diangkat sebagai bupati dan penguasa atas segala bangsa dan rakyat 95 sampai di Jepara, tanpa kecuali” (Daghregister, 13 November 1669). Yang aneh dalam hal ini ialah surat terdahulu, dari pembesar itu juga, yang memberitakan bahwa ia diangkat Sunan sebagai kepala bagi semua bangsa, entah mereka orang Jawa, Melayu, Cina, atau Keling . . tetapi orang-orang Belanda yang ada di loji tidak berada di bawah perintah saya”. Dan kemudian menyuruh suatu permintaan yang aneh: Akan tetapi andai kata Saudara menghendaki, dan ingin memberi perintah pada saya, maka saya juga bersedia . . . memerintah atas orang Belanda, dan apabila Saudara tidak menghendakinya, maka saya sama sekali tidak akan turut campur dalam urusan orang Belanda”. Dengan kata lain, dengan tata krama Jawa ia mendesak pada Pemerintah Kompeni supaya kekuasaan pemerintahannya juga diakui olch pejabat-pejabat Belanda (Daghregister, 5 Juni 1666, him. 85-86). Sampai berapa jauh kekuasaan ini kadang-kadang bisa meluas terbukti dari adanya campur tangan penguasa-penguasa pantai tertinggi Wira dan Wirajaya pada tahun 1653. Menurut pembesar-pembesar ini, residen Jepara tidak diizinkan untuk pergi ke Batavia atas kemauan sendiri; kecuali kalau ia sengaja dipanggil Pemerintah Kompeni di Batavia, atau dikirim Sunan ke sana. Apabila ia dipanggil Pemerintah Kompeni, maka Sunan harus diberi tahu, supaya tidak terjadi lagi apa yang dahulu pernah diperbuat oleh Sr. Schouten, residen pertama. Ia telah mendapat kehormatan khusus untuk menghadap Raja dan mendapat tugas untuk di samping penguasa di Jawa, *mengatur segala: galanya dengan baik”, akan tetapi, ”lagi-lagi melakukan kesalah- Karena itu, residen tidak boleh lagi mondar-mandir pergi ke Daan bahkan walaupun dengan ditemani Tumenggung Pati sebagai utusan Sunan (Volsch kepada Pemerintah Kompeni, tanggal 8 April 1653, Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG LXI, him. 494). Dalam prakteknya, sikap sok berkuasa ini tentu saja tidak terlalu dihiraukan oleh Kompeni. Dan hal ini niscaya akan menimbulkan perselisihan dan rasa jengkel. Di pihak lain, Belanda sama sekali tidak disamakan dengan vazal- vazal dan orang-orang bawahan Sunan lainnya. Dalam lubuk hatinya, ada rasa segan pada Raja terhadap Belanda, bahkan mungkin rasa takut juga. Tetapi bagaimanapun, orang-orang Belanda disambut dengan baik oleh Sunan, karena mereka menambah kekayaannya. Dan yang teramat penting bagi raja Jawa, menambah kewibawaannya. Karena itu, Sunan luar biasa senangnya kepada perutusan Belanda "demi, begitulah tampaknya, menambah kebesaran nama baik serta kehormatannya di mata bangsa-bangsa tetangganya, karena kedatangan mereka dapat dianggap sebagai sembah kepadanya, dan mendorong 96 mereka pula untuk benar-benar berbuat demikian”. Karena Sunan menginginkan Kompeni dan utusan-utusannya membawa hadiah, maka Pemerintah Kompeni kadang-kadang berpura-pura "tidak mengerti apa sebenarnya yang dimaksud Sunan” (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 99). Sikap Kompeni yang tidak acuh dan angkuh ini sangat menjengkelkan Raja. Juga peri laku bebas dan lugas utusan-utusan Belanda itu, yang hampir tidak pernah diperlakukan kasar, seperti yang biasa dialami para duta, kerajaan-kerajaan Indonesia lainnya, tentu kadang-kadang me- nimbulkan amarah dalam hati Sunan. Ia pun tentu merasa bahwa dirinya sedang berhadapan dengan suatu kekuasaan yang membuatnya sedikit saja atau sama sckali tidak dapat berkutik dengan alat-alat kekuasaan tradisional. Inilah yang menjadi benih timbulnya bentrokan. Di pihak lain, tindakan utusan Rijklof van Goens yang penuh kebijaksanaan banyak berhasil dalam memperbaiki hubungan antara Sunan dan Kompeni. Lima kali perjalanan perutusannya (1648~1654) di Mataram meninggalkan kesan yang sangat menycnangkan, sehingga dengan lebih mudah dapat dipersiapkan kerja sama lebih lanjut antara istana Mataram dan Pemerintah di Batavia. VIII-3 Residen-residen yang pertama, 1651-1655 Dirck Schouten, residen yang pertama, tidak lama tinggal di Jepara. Setelah beberapa bulan di sana, ia dipanggil kembali ke Batavia untuk pergi ke Persia bersama suatu perutusan (H.R., 31 Juli 1651, dalam Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG, LIX, him. 450). Pengurusan loji diserahkan kepada wakil-wakil pedagang Bernard Volsch dan Jacob Backer (H.R., 22 September 1651, dalam Brascamp, "Houtleveranties”, TBG, LIX, him. 458). Ini bukanlah pilihan yang tepat. Dalam waktu singkat Pemerintah Kompeni merasa wajib mengambil tindakan. Pada bulan Desember tahun 1651 dikirimkannya kepala perdagangan J. Goossens dengan sebuah memori sebagai komisaris ke Jepara, yang setibanya di tempat itu segera menyingkirkan Volsch (H.R., 5 Desember 1651, dalam Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG, LIX, him. 467); Backer sementara masih boleh tetap di tempat. Di Batavia, Volsch rupanya berhasil membela diri. Dengan resolusi tanggal 16 Februari 1652 diputuskan untuk mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi kantor dagang Jepara dengan disertai suatu instruksi yang tegas; Backer akan diberi pekerjaan di tempat lain. Demikianlah Bernard Volsch kembali sebagai pemenang ke Jepara, dan sebagai wakilnya diangkat Barent Hunius. Lama-kelamaan tindakan tersebut menimbulkan penyesalan bagi Pemerintah Kompeni. Kebijak- sanaan Volsch semakin lama menjadi semakin buruk. Selama kunjungan 7 Kolektur Jenderal Hendrick van Gent ke Jepara dalam bulan Juli— Agus tus 1653, pejabat tinggi Belanda ini mengambil kesimpulan tentang Volsch: "bahwa tiada lain yang dapat dikatakan tentang orang ini, kecuali bahwa ia sangat gemar minuman keras dan wanita”. Pembuku- annya memang tidak salah, tetapi pengeluarannya agak boros. Ia tidak dapat menahan diri dan ”memelihara seorang gundik dengan terang-te- rangan setahun lebih di loji Kompeni”. Penggantinya dilarang keras berbuat demikian (Daghregister, 4 September 1653). Pengganti tersebut, wakil pedagang (onderkoopman) Pieter Elsevier hanya sementara saja memegang pimpinan, karena Volsch pada awal bulan November 1653 kembali lagi ke Jepara sebagai pemimpin tertinggi. Memang ada beberapa orang yang tidak mungkin diruntuhkan. Ada suatu peristiwa aneh: Elsevier tidak mau menyerahterimakan tugasnya sebelum armada komandan De Viamingh van Outshoorn muncul di teluk (Daghregister, 24 November 1653). Jadi, ia ingin memperoleh saksi-saksi. Selain itu Volsch ikut serta dengan semua perutusan, schingga ada kesan bahwa ia pun pantas dipakai. Akan tetapi lama-kelamaan kesalahan-kesalahannya terlalu jauh melampaui batas. Dengan resolusi tanggal 28 September 1655 ia dipanggil ke Batavia, ”untuk menghindarkan lebih banyak persoalan lagi”. Ia bertengkar dengan wakilnya, Hunius; kedua belah pihak saling melemparkan tuduhan telah melakukan penyelewengan. Akhirnya ia dikirim kembali ke Negeri Belanda sebagai tenaga yang tidak becus. VIII-4 Para penerjemah untuk bahasa Jawa Ada dua orang Belanda yang menjadi tawanan Mataram, yang telah mempelajari_ bahasa Jawa, dan memainkan peran tertentu dalam hubungan Belanda dengan Mataram kemudian hari. Mereka ialah Michiel Zeeburgh dan Matthijs Pietersen. Kedua-duanya termasuk suku Westzaan yang pada tahun 1632 masuk perangkap dan tertawan. Pemimpin para tawanan itu, Antonie Paulo, seorang yang ahli dalam bahasa Jawa, dan selama ditawan sekian tahun memperlihatkan sikap yang terpuji (Graaf, Sultan Agung, di berbagai halaman). Michiel Zeeburgh, ”'salah seorang tawanan yang dibebaskan paling akhir” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 95), sudah pada tahun 1642 di Mataram dilepaskan dari belenggunya, artinya telah menjadi seorang Muslim. Mungkin setelah itu ia kawin dengan scorang wanita Jawa. Pastilah ia termasuk tiga orang Belanda yang baru dibebaskan pada tahun 1651 bersama enam orang anak mereka itu (Goens, Gezantscl i- zen, him. 89). Ia segera bekerja di loji Jepara sebagai penerjemah, Gajinya ditetapkan 8 sampai 10 rial (H.R., 13 Juli 1651, dalam Brascamp, 98 »Houtleveranties”, 7.B.G. LIX, him. 449). Pada tahun berikutnya ia dipakai sebagai mata-mata di Semarang (Brascamp, ”Houtleveranties”, T.B.G. LX, him. 160). Tetapi pada tahun 1653 ia sudah keluar dari dinas Kompeni (Surat Kompeni dari Batavia, 30 September 1655). Dua tahun kemudian ia dinamakan “orang Jawa Belanda”, dan dilaporkannya kepada Residen rencana-rencana Sunan. Rupanya, keahlian ini diper- olehnya dari gurunya, Tumenggung Pati. Ia bermukim di Juwana, kota kedudukan tumenggung itu. Di sana pada tahun 1656 ditolongnya beberapa orang Belanda yang terdampar kapalnya (Naber, ’Sloep” him. 18 dan selanjutnya). Pada tahun 1659 ia disebut untuk terakhir kalinya sebagai utusan Tumenggung Pati (Daghregister, 28 Februari 1659, him. 39). Setelah itu tidak ada berita lagi tentang dirinya. Matthijs Pietersen rupanya tidak menjadi seorang pengkhianat, karena pada tahun 1641 ia masih mendckam di penjara. Ia memang bekerja sebagai penerjemah, tetapi hanya untuk perutusan yang penting; misalnya perutusan Van Goens yang ke-3 dan ke-4 (1651 dan 1652). Pada kesempatan itu tampaknya ia membatasi diri khususnya pada terjemah- an dari bahasa Jawa yang dapat dikuasainya sepenuhnya (Goens, Gezantschapsreizen, him. 89). [a mengerti kata-kata yang diucapkan Sunan (Goens, Gezantschapsreizen, him. 121) dan tahu, bergaul ”secara . . . luar biasa dengan rakyat” (H.R., 11 Oktober 1651, dalam Brascamp, »Houtleveranties” 7.B.G. LIX, him. 466). Sering kali karena itu diberi tugas khusus untuk menemui pem- besar-pembesar Jawa sebab ia *menguasai bahasa Jawa dan mempunyai keberanian untuk menyampaikan pikirannya kepada para pembesar Jawa” (H.R., 26 Februari 1652). Selama perutusan Van Goens yang terakhir pada tahun 1654, terasa betapa sulitnya tanpa seorang penerjemah yang ”sangat mengenal tata cara orang Jawa dan memiliki kepandaian luar biasa” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 139). Notulen Dewan Gereja Batavia tanggal 5 September 1650 menama- kannya sebagai seorang ”penjaga pasar”. Pada tahun 1651 ia menjadi petugas bea cukai (Brascamp, ”Houtleveranties”, 7.B.G. LIX, him. 466); ia mempunyai sejumlah modal dan sckoci sendiri (Goens, Gezantschapsreizen, him. 124 catatan no. 1). Pada awal tahun 1653 ia menjadi wakil pedagang (onderkoopman). Sckitar tahun 1654 ia pasti telah keluar dari dinas Kompeni. Pada tahun 1656 ia berada di India sebagai penjual barang dagangan Thijs Pietersse van Gardingh di Batavia”. Ia berkunjung ke Kamboja sebagai pedagang bebas (Daghregister, 1 April 1657), dan kembali dari sana dengan membawa beras dan ikan asin (Muller, Cambodja, him. 363-364). Ketaatannya kepada agama terbukti dari hubungannya dengan Gereja 99 Reformasi. Pada tahun 1650 ia membela ”3 orang anak keturunan seorang laki-laki Jerman dengan scorang wanita Jawa”, yang memang telah murtad, tetapi “akhirnya kembali kepada iman yang benar” (Mooy, Bowwstoffen; risalah dewan gereja 5 September 1650). Jadi, anak-anak itu ’berdasarkan rasa kasih sayangnya dibaptis”. Pada tahun 1655 ia mempunyai seorang budak wanita, yang atas kemauannya sendiri ingin dibaptis (Mooy, Bowwstoffen; 6 September 1655).° Ketika pada tahun 1659 dipilih sebagai diakon ia menyatakan berkeberatan karena sudah merencanakan suatu perjalanan ke Kali- mantan (Mooy, Bouwstoffen; risalah dewan gereja, 19 dan 23 Januari 1659). Akan tetapi tugas itu tetap diberikan kepadanya. Karena aneka ragam kesibukannya dan rencananya untuk kembali ke tanah air, ia diberi kebebasan (Mooy, Bouwstoffen; risalah dewan gereja, 26 Januari 1660). Seorang murtad yang bertobat tidak akan mudah diangkat sebagai pejabat. Mengingat kecakapan dan kedudukannya itu, maka terdapat banyak alasan untuk membenarkan hipotesa Kern (Kern, ”Kaart”), bahwa dialah yang telah memberi keterangan-keterangan kepada Van Goens tentang adat istiadat dan tradisi Jawa. VIII—5 Pembangunan kapal-kapal kici yang pertama, 1651- 1652 Alasan utama bagi Kompeni dengan adanya sebuah loji di Jepara itu adalah kesempatan baik untuk membangun kapal-kapal kici (jacht) yang “sangat diperlukan” (Brascamp, *Houtleveranties”, TBG LX, hlm. 152). Karena itu, instruksi residen pertama, Dirck Schouten, sudah memuat satu dan lain hal tentang pembangunan kapal (tanggal 13 Juli, dalam Brascamp, ‘Houtleveranties”, TBG LX, hlm. 447). Setelah mengadakan peninjauan di Rembang, Schouten melihat kesempatan yang baik dan harganya pun rendah, schingga dipesan sedikitnya tiga kapal kici yang berukuran 70 sampai 80 last (Realia, keputusan tanggal 28 Juni 1651). Sebagai kepala tukang kayu kapal dipilih Aert Pleunen Moot, dibantu dengan enam tukang kayu. Diharapkan kapal-kapal yang dimaksudkan untuk Ambon itu akan selesai sekitar bulan November 1651; ternyata baru selesai setahun kemudian. Dari ”pengontrak-pengontrak” (Cina?), mungkin diambil sejumlah tukang kayu kapal bangsa Jawa berdasarkan bayaran yang telah disetujui bersama (H.R., 22 September 1651, dalam Brascamp, ”Houtle- 9 Sebaliknya, istrinya, Magdalena, karena bertengkar mulut dengan istri Letnan Michiel Willemsz, pada tahun itu dipanggil di hadapan Dewan Gereja. Tetapi ia menolak hadir (Mooy, Bouwstoffen; risalah dewan gereja, 27 Desember 1655). 100 veranties”, TBG LIX, him. 458-459), tetapi setelah beberapa waktu tukang-tukang kontrakan ini mengeluh karena bayaran yang sangat rendah. Ini tidak mengherankan karena ”pekerjaannya bersifat lain dan lebih berat daripada yang biasa mercka lakukan”. Karena itu, mereka harus didorong dengan “perangsang”. Kalau pekerjaan selesai pada waktunya, mereka akan diberi ”bonus”. Para pejabat tinggi Jawa itu lebih menyulitkan, walaupun bantuan dari Tumenggung Pati dan kakaknya, Citrapala, telah diminta (Bras- camp, ”Houtleveranties”, TBG LIX, him. 448), antara lain dengan pemberian hadiah-hadiah baik secara gclap maupun terbuka. Pekerjaan pertukangan itu berjalan sangat lamban, discbabkan oleh beberapa “pejabat miskin yang sok berwibawa, karena tangan mereka (perlu) disemir” (Surat dari Jepara, 5 Desember 1651, dalam Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG LIX, him. 467-470). Barangkali tugur-tugur para penguasa pesisir itulah yang merusakkan suasana. Kadang-kadang orang Belanda tidak diberi tenaga kerja, dan penyclesaian pekerjaan pun terhalang (Memorie Volsch, 20 Februari 1652, dalam Brascamp, »Houtleveranties”, TBG LX, him. 139). Maka, dicarilah dukungan pada instansi tertinggi, yaitu Sunan sendiri, yang atas desakan Tumenggung Pati dan Patramenggala mengizinkan penyelesaian pembangunan kapal-kapal itu Akhirnya dapat diluncurkan dua kapal kici; sedangkan kerangka yang ketiga dikirimkan ke Batavia. Dua kapal yang pertama akan dikerjakan secepat mungkin dan sedemikian rupa, schingga dalam keadaan setengah selesai dan setelah sarat dimuati kayu, dapat ditarik ke Batavia (H.R., 17 Mei 1652, dalam Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG LX, him. 152). Van Goens baru berhasil membawa kapal-kapal itu dengan selamat ke Pulau Onrust pada perjalanan perutusanny& yang ke-4. Setelah itu pembangunan kapal untuk sementara dihentikan. VIII—6 Pengurusan daerah pesisir, 1648-1651 Sekarang mari kita tinjau cara-cara orang Mataram mengurus daerah esisir. Pada tahun 1648 berlaku suatu keputusan bahwa semua kendaraan laut yang meninggalkan pantai utara harus membayar tol di Jepara (Goens, Gezantschapsreizen, him. 70-71). Tetapi peraturan ini sering tidak ditaati, sehingga menimbulkan perselisihan dan percekcokan antara para penguasa pesisir. Untuk mengakhirinya, maka diperintahkanlah oleh Raja agar semua pelabuhan laut menerima ”pajak masing-masing”, dan ”mempertang- gungjawabkannya kepada tumenggung Mataram’\ Ini merupakan suatu 101 kemenangan bagi para gubernur di luar Jepara, khusus bagi kakak beradik Sutapraja dan Anggapraja di Semarang, yang memang menagih lebih banyak daripada yang semestinya. Dengan menyesal dikatakan oleh gubernur Jepara, Wirasetia, bahwa kakak beradik itu mengincar kedudukannya, dan sebagai orang yang sudah tua, ia tidak berkeberatan. Tetapi mercka tidak akan menggantikannya. Tidak jelas berapa lama sistem perpajakan terpisah bagi setiap [peabihan laut ini bertahan)Mungkin sampai tahun 1651, karena juga di bidang lain ketika itu telah terjadi suatu perubahan besar. Pada awal tahun yang sama Wirasetia ternyata diturunkan keduduk- annya dan dipindahkan ke Kendal. ”Kepala-kepala daerah_ pesisir lainnya juga turut turun derajat, sehingga dalam waktu singkat tampaknya pihak-pihak yang bersangkutan akan bermusuhan (Goens, Gezantschapsreizen, him. 79-80). Selanjutnya diterima kabar bahwa juga tumenggung Mataram jatuh kedudukannya: kehilangan 6.000 orang abdi, dan dihukum dengan hidup sebagai ”bangsawan biasa dengan pendapatan yang sedikit”. Walaupun hal ini juga terjadi dengan Anggapraja, yang belakangan ini ”pandai berpura-pura supaya bisa kembali menjadi kesayangan Raja”. Dan demikianlah pula yang terjadi. Maka, tampak bahwa tokoh-tokoh yang ditugasi melaksanakan sistem yang terdahulu, yakni para penguasa pesisir dan tumenggung Mataram, pada waktu yang bersamaan tidak lagi termasuk orang-orang kesayang- an Sunan. Apakah sistem itu tidak lagi memenuhi syarat? Tetapi sementara itu tidak diberitakan suatu sistem yang baru. Kedudukan Kiai Wirasetia atas Jepara digantikan oleh Kiai Patra- menggala. Tetapi kakak beradik Anggapraja dan Suta (yang dinaikkan kedudukan mereka menjadi Tumenggung Nataairnawa di Pati), rapanya juga mempunyai pengaruhti Jepara. Adanya pengaruh kuat tokoh kakak beradik yang dekat sekali hubungannya dengan Kompeni itu bertepatan dengan perutusan Belanda yang paling berhasil, tahun 1651, dan dengan saat berdirinya sebuah loji Belanda di Jepara. VIII—7 Keluh kesah Sunan Sementara pada tahun 1651 orang Belanda masih disenangi oleh Sunan, maka tidak lagi demikian halnya selama perutusan tahun 1652. Dengan berdirinya loji itu, niscaya bertambah juga kemungkinan untuk timbulnya bentrokan-bentrokan. Tingkah laku orang-orang Belanda yang bebas di pesisir, penebangan kayu di daerah Karawang, pem- bangunan kapal-kapal di Rembang, pembelian dan pemuatan beras di Jepara merupakan peristiwa-peristiwa yang olch lawan-lawan Kompeni dapat diartikan kurang baik. 102 Selain itu, pembangunan loji tersebut tidak disertai dengan perjanji- an-perjanjian tentang bea dan cukai. Oleh karena itu, dapat dipertanya- kan apakah Sunan ikut menikmati keuntungan dari hadirnya Belanda di Jepara itu. Dengan atau tanpa bea ekspor, kepala daerah sudah pasti tidak kekurangan apa pun, karena mercka bertindak sebagai leveransir kayu dan beras. Karena itu, Raja tidak atau sedikit saja mendapatkan keuntungan dari loji Belanda. Tetapi justru sebaliknya bagi para penguasa pesisir, yang semakin bertambah kekayaan dan keuntungan serchal Hal ini mestinya membangkitkan nafsu Sunan juga. Pada tahun 1651 Sunan memerintahkan supaya disclenggarakan sensus penduduk, yang tujuan dan hasilnya ingin sekali diketahui oleh Batavia (H.R. 9 Oktober 1651, dalam Brascamp, ”Houtleverantics”, TBG, LIX, him. 643). ifuitasnyy tentu tidak lain daripada hasrat untuk mengenakan pajak perorangan! Semua keluarga ditempatkan di bawah petugas-petugas tertentu, begitulah cerita Van Goens (Goens, Ge- zantschapsreizen, him. 202) dan setiap petugas harus bisa menghasilkan pajak sebanyak satu rial; kalau gagal, mereka harus menyerahkan padi 10 ikat besar, yang di semua desa dikumpulkan dan diserahkan kepada petugas-petugas bendaharawan Raja. Padi itu ditumbuk menjadi beras, dibawa dan diangkut ke pelabuhan laut oleh pemerintah daerah masing-masing. Hasilnya kemudian diserahkan kepada bendaharawan Raja yang selanjutnya menyerahkannya ke atas. Dengan demikian, Sunan berusaha tidak ketinggalan dari para penguasa pesisimya yang kaya raya itu. Menurut rencana ini, tidak seorang pun kawulanya” boleh berlayar ke luar negeri”. Sebaliknya, orang asing akan berkunjung ke negerinya, karena ia tahu benar ”bahwa negerinya adalah gudang rempah-rempah bagi Batavia”. Dengan demikian, segala sesuatu yang diangkut orang- orang Belanda itu dapat diambil bagi dirinya sendiri, ”tanpa scorang pun dari kawulanya yang bisa mendapatkan bagian barang sedikit”. Maka, akan tampaklah Sunan bertindak pada tahun 1652 terhadap penguasa-penguasa pesisirnya yang tidak dapat dipercayainya. Sunan berusaha menempatkan mereka di bawah pengawasan ketat, di samping juga berniat membatasi kebebasan orang-orang Belanda yang dianggap- nya terlalu besar. Dalam hal ini yang menjadi sasarannya adalah Kompeni berikut para bawahannya, dan orang-orang yang disebut »warga merdeka”. Terutama mereka inilah yang sama sekali luput dari pengawasan. Karena itu, Sunan menghendaki supaya selanjutnya di setiap kapal swasta juga bertugas seorang wakil Pemerintah Kompeni. Tuntutan yang tidak mungkin dapat dipenuhi! Selain itu, Sunan berharap agar dengan demikian akan menerima juga hadiah-hadiah dari 103 para wakil tersebut; dalam hal ini tidak banyak dapat diharapkan dari »warga merdeka”. Tampaknya lumrah bahwa jika pada satu pihak Raja menormalisasikan perdagangan di negaranya, maka pada pihak lain Kompeni pun akan berbuat yang sama. Tujuannya yang terakhir tentu saja untuk mengumpulkan harta kekayaan. Sebab, menurut Van Goens, ”scbagai akibat konsep Sunan itu, dengan sendirinya tiada seorang pun di antara hamba sahayanya itu akan memiliki uang” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 115). Karena monopoli perdagangan Raja inilah, menurut utusan Belanda sclama perjalanannya yang keempat, maka ”kegiatan dagang akan berkurang, dan ini tidak akan membawa kebaikan kepada Sri Baginda”’ (Goens, Gezantschapsreizen, him. 111). Bahkan ketika itu konon bahwa Van Goens mencoba menarik perhatian pribadi Sunan kepada kemung- kinan: "bahwa justru dengan membiarkan kawulanya berlayar dan menjadi kaya, Raja akan dapat menarik pajak yang lebih besar dari mereka, sehingga pada suatu waktu negerinya pun akan menjadi kaya raya” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 202). Raja yang tinggi hati itu memberi jawaban berikut, ’Rakyat saya, seperti kamu sekalian, tidak memiliki sesuatu apa pun. Tetapi semua milik mereka adalah hak saya, dan tanpa pemerintahan yang keras maka schari pun saya tidak akan bisa bertahan sebagai raja” (Goens, Gegantschapsreizen, him. 202). Kata-kata yang memang anch dan penuh arti. Dan untuk memahami sepenuhnya, orang harus mengetahui suasana ketika kata-kata itu diucapkan. Pelaksanaan monopoli perdagangan ini ditugaskan pada dua orang penguasa pesisir; pelaksanaannya akan dibahas. WES Dua penguasa pesisir, 1651—1657 Setidak-tidaknya sejak tahun 1652, mungkin sudah sebelumnya — Wirajaya telah disebut satu tahun sebelumnya — dua orang penguasa pesisir bernama Kiai Wira dan Kiai Wirajaya melakukan pengawasan atas daerah pesisir. Selama kunjungan Van Goens pada bulan Oktober tahun 1652, kedua pejabat tinggi itu untuk pertama kalinya disebutkan bersama sebagai ”penguasa tertinggyatas bagian utara negara” Sunan (Goens, Gezantschapsreizen, him. 111Y. Tugas mereka adalah mengawasi agar perintah-perintah Raja di daerah mereka dilaksanakan, Kiai Wira di pesisir barat dan Kiai Wirajaya di pesisir timur. Nama Kiai Wira disebut bersamaan dengan Kiai Ngabei Wangsaraja dari Semarang, sedangkan nama Kiai Wirajaya dengan Tumenggung Pati (Goens, © Gezantschapsreizen, him. 160—161). Di bawah mereka terdapat pejabat-pejabat yang dinamakan tugur (Daghregister, 7 Desember 1656, him. 33), yang sering kali bertindak di 104 pantai di antara kedua pihak. Patuh kepada perintah tegas para pejabat kepercayaan Raja, mereka menjadi perintang kebebasan para penguasa pesisir yang terlalu besar itu. Juga Belanda tidak senang terhadap mereka, dan kadang-kadang mereka menyatakan ini dengan kata-kata keras (Volsch, tertanggal 5 Desember 1651, dalam Brascamp, "Houtleve- ranties”, TBG LIX, him. 467-470; idem, 6 Mei 1652, dan TBG LX, him. 151-152). Adakalanya mereka pun harus disuap. Atas perintah Mataram, pejabat-pejabat itu sibuk mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain, misalnya tiga orang tugur pergi dari Jepara ke Karawang untuk mengurus leveransi kayu (Daghregister, 19 ‘Maret 1653). Atau utusan kilat dari penguasa pesisir tiba-tiba muncul di Jepara (Daghregister, 6 Mei 1653, hm. 47). Bahkan para penguasa pesisir pun harus membungkuk di hadapan mereka. Sewaktu Tumenggung Pati diutus ke Batavia, Sunan minta keterangan dari Kiai Wira, ”apakah waktu ia berangkat tidak diperintahkan kepadanya untuk mempercepat perjalanannya agar segera ia dapat memberi laporan kepada Sunan” (Daghregister, 6 Mei 1653, hlm. 48). Terkadang mereka merendah dengan datang sendiri ke pesisir (Daghregister, 12 April 1653) untuk menyampai- kan amarah Raja kepada residen yang terlambat mengirimkan beras 1.000 koyan. Mereka meninjau loji dan kapal-kapal. Setelah seminggu, mereka berangkat lagi. Setengah tahun kemudian muncullah Kiai Wirajaya seorang diri di loji (Daghregister, 8 Oktober 1653). Tumenggung Pati yang cenderung pada Kompeni "telah diperingatkan keras” oleh mereka (Daghregister, 25 April-1653). Mereka juga mencoba mendapatkan uang dari Residen. Sebaliknya, orang suka juga menyampaikan pengaduan kepada mereka (Daghregister, 8 Februari 1653). Pembatasan atas kewibawaan para tugur ini amat melegakan hati para penguasa pesisir, seperti ketika Karawang discrahkan kepada Tumeng- gung Pati sebagai suatu pemberian hadiah ... guna menyelesaikan semua persoalan... menurut hukum negara”, sehingga ia sendirilah yang memikul tanggung jawab (TBG LXIII, hm. 536). Para tugur itu digantikan oleh kakak Tumenggung Pati, Citranala (Daghregister, 25 Juli 1653). Tetapi lebih besar lagi kegembiraan orang ketika para tugur sama sckali menghilang dari dacrah pesisir, sedikitnya untuk sementara, pada tahun 1657. Akan tetapi dengan dilancarkannya sistem baru pada tahun 1651 dengan pengangkatan penguasa-penguasa pesisir berikut kelompok orang-orang upahannya, banyak pembatasan pula bagi orang Belanda. 105 VIII-9 Rintangan-rintangan perdagangan, 1652 Rintangan-rintangan perdagangan dialami Belanda pada waktu pengiriman kayu dan gula. Sebuah kapal yang dikirim secara kilat tidak boleh mengambil muatan di Jepara, karena tidak dapat menunjukkan surat dari Pemerintah Kompeni (H.R., 11 Oktober 1651, dalam Brascamp, *Houtleveranties”, TBG LIX, him. 465). Kompeni mengadu- kan hal itu kepada “para penguasa Jepara” dengan mengirimkan Matthijs Pietersz untuk penyelesaiannya. Dalam suratnya kepada para penguasa di Jepara, pemerintah Batavia menganggap tindakan Mataram itu "kesombongan besar orang-orang yang kosong”. Karena kapal yang berbentuk fluit itu harus turut serta dengan armada yang kembali ke Negeri Belanda, Pemerintah Kompeni mengalah saja dan mengirimkan sepucuk surat disertai hadiah. Jika perlu, biarlah kapal fluit itu kembali kosong, agar terlihat oleh para penguasa Mataram bahwa Batavia tidak begitu menghiraukan pekerjaan kayu yang sudah mencapai kemajuan itu (Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG LIX, hlm. 466-467). Bahwa rintangan-rintangan ini didasarkan atas perintah istana tampak sangat jelas dari keterlambatan penyelesaian pekerjaan- pekerjaan kayu sebagai akibat halangan yang dialaminya, dan juga dari larangan kepada tukang-tukang kayu kapal untuk bekerja, ”terutama schubungan dengan tindakan-tindakan beberapa petugas yang tidak beres, yang dengan kewibawaan semu dari atasannya ingin mencari uang suap” (H.R., 5 Desember 1651, dalam Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG LIX, him. 468). Pada awal tahun 1652 banyak kapal kembali dengan muatan tidak penuh, yang mendorong Pemerintah Kompeni menyuruh menyelidiki sebab-sebabnya (H.R., 18 April 1652, dalam Brascamp, "Houtleveranties”, TBG LX, him. 151-152). Pada tanggal 6 Mei 1652 Residen B. Volsch memberi jawaban. Ia menulis tentang “orang-orang yang tidak jujur” yang membohonginya (TBG LX, him. 151-152), dan dengan istilah itu yang dimaksudkannya pastilah para petugas dari penguasa-penguasa tertinggi pesisir, yaitu para tugur. Akhirnya penebangan dan pengiriman kayu di sungai Karawang (Citarum) dirintangi juga. Para pejabat Raja bahkan telah menyita kayu milik Kompeni di sana. Masalah perbatasan yang tidak jelas, yang tidak terpikirkan pada waktu mengadakan pakta perdamaian pada tahun 1646, tiba-tiba timbul menjadi masalah yang gawat. Desas-desus mengatakan bahwa campur tangan Mataram di Karawang itu merupa- kan persiapan untuk mengadakan serangan besar-besaran yang ketiga atas Batavia, dan konon 10 sampai 12 ribu orang sudah menyeberangi sungai. 106 Tindakan-tindakan itu dapat dilihat sebagai suatu perlawanan terhadap kegiatan dagang Kompeni, yang dianggap sudah jauh melampaui batas. Khususnya tindakan dani dewa kccil, yaitu para kawula dan orang-orang Cina itulah yang menimbulkan kejengkelan. Tetapi tindakan yang dilancarkan oleh dua penguasa pesisir itu tidak hanya dilakukan terhadap Kompeni dan para petugas atau warganya, melainkan juga orang-orang Jawa, kawula Raja sendiri, tidak bebas dari gangguan mereka agar “tiada seorang pun dapat mengangkut beras seharga serial atau mengirimkan hasil pekerjaan kayu ke luar negeri tanpa ada sebagian masuk dalam kas Sunan” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 114). Bahkan tindakan yang berlaku surut. Uang, yang dibayarkan sebagai upah kepada tukang-tukang kayu Jawa yang miskin yang turut pada pembangunan kapal-kapal kici milik Kompeni di Rembang, diambil dari mereka. Segala pendapatan yang diterima para penjual kayu di Semarang pada tahun 1651 dan 1652 dari Kompeni harus diserahkan kepada para pesuruh Sunan, "kalau tidak, mereka akan mengalami perlakuan yang buruk” (Goens, Gezantschapsrei- zen, hm. 114). Padi yang diangkut dari sawah discrahkan kepada petugas-petugas itu dan “dijadikan beras”. Setiap keluarga harus menyerahkan 25 ikat padi (atau 10 ikat besar), schingga menurut perhitungan, Raja akan mencrima 500.000 kali 25 ikat (Goens, Geantschapsreizen, hm, 202). Dan kaum tani harus bisa hidup dari sisa kelebihannya. Sehubungan dengan kecenderungan Raja pada monopoli itu, perlu juga diperhatikan pengusiran orang Ingeris, yang dilakukannya tanpa menyebutkan alasan, pada tanggal 23 Juni 1652 (Brascamp, ”Houtleve- ranties”, TBG LX, him. 155). Secara resmi keluh kesah Sunan disampaikan olch dua petugas bawahan bernama si Wangsapada dan si Citranala — kata si ini pun sudah cukup memberi keterangan — yang pada tanggal 24 Juni 1652 menyampaikan sepucuk surat dari Sunan. Surat pendek itu berisi keputusan bahwa pengeluaran kayu dan beras telah dihentikan, tanpa ada persoalan apa pun dengan Kompeni. Keterangan lebih lanjut akan disampaikan secara lisan oleh yang membawa pesan tersebut. Atas pertanyaan, kedua petugas terscbut memberitahukan bahwa larangan ekspor itu ditujukan kepada musuh lama Mataram, yaitu Banten, yang menurut keterangan telah menerima beras dan kayu dari Batavia. Kompeni bisa saja memperoleh beras, asalkan Gubernur Jenderal setiap kali mengirimkan scorang utusan untuk mengadakan kontrak tentang banyaknya beras yang dikehendaki, yang kemudian harus dibeli. Alasan yang sebenarnya, yaitu monopoli dagang, tidak 107 disinggung-singgung. Selanjutnya para pembawa amanat itu bertanya, kapan datang lagi sebuah perutusan Bclanda, dan siapakah yang ~ diangkat sebagai utusan; musim panas sebentar lagi akan berakhir. Pemerintah Kompeni menduga bahwa hati Raja "telah dibakar . . . oleh suatu pihak yang beritikad kurang baik,” tetapi memutuskan untuk menuruti saja kemauan Raja. Tidak ada lagi waktu untuk mengambil bahan makanan dari tempat lain. Dan karena khawatir akan mengalami kekurangan maka cepat-cepat diangkatnya sebagai kapten penduduk sipil, Hendrick van Gent, disertai Encik Ahmat sebagai penerjemah untuk keempat kalinya. Untunglah, Kompeni mempunyai kawan-kawan di istana: Tumeng- gung Pati Nataairnawa dan Kepala Daerah Patramenggala menyatakan tidak setuju terhadap politik baru itu. Kedua pejabat tinggi itu dianggap sebagai sahabat Kompeni, khususnya Patramenggala banyak sekali membantu dalam mengeluarkan hasil pekerjaan kayu yang sudah siap (H.R., 17 Mei 1653, dalam Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG LX, hlm. 151-152). Karena itu, penerjemah Matthijs Pietersen dikirimkan kepada Tumenggung Pati dan juga kepada Kiai Wirajaya, yang namanya muncul untuk pertama kali, dengan disertai surat pendek. Ia harus memberitahukan kedatangan duta Belanda, sehubungan dengan ”ba- nyak desas-desus yang anch dan berancka ragam... dan untuk memohon . . . kebaikan dan kemurahan hati Sri Baginda” (Brascamp, »Houtleveranties”, TBG LX, him. 160). VIII—10 Perutusan Van Goens yang keempat, 1652 Desas-desus yang semakin menjalar, perasaan tegang dan gelisah di mana-mana, disertai bertambah banyaknya permintaan beras dari gudang Kompeni yang isinya amat terbatas itu mendorong utusan Belanda Van Gent untuk memohon supaya dibatalkannya perintah yang semula diterima. Sedangkan Encik Ahmat lebih suka meletakkan jabatannya sebagai kepala rombongan teman-teman senegerinya daripa- da mengambil risiko kehilangan nyawanya di Mataram. Permintaan berhenti tersebut benar-benar sangat mengejutkan, karena dibandingkan dengan para pembesar Kompeni ia dianggap lebih pandai memahami maksud-maksud tersembunyi Sunan. Rijklof van Goens dan bekas dokter pertama Benteng Batavia, Pieter Andreas untuk diangkat sebagai utusan, dimintalah kesediaannya. Keduanya menyatakan menerima, sckalipun Van Goens dengan hati berat. Selain mereka juga turut serta residen Jepara Bernard Volsch dan penerjemah ahli Matthijs Pietersen. Hadiah yang akan diberikan 108 diperbesar berlipat kali, dari 6.980 menjadi 60.000 gulden, berikut beberapa meriam. Baru pada tanggal 18 September 1652 perutusan tersebut dapat berangkat. Kecuali mengenai masalah beras, Van Goens masih harus pula menyelesaikan suatu masalah dengan pedagang Portugis Dom Francisco Viera di Makassar. Pada akhirnya segala sesuatu berjalan sangat lancar. Semula terdapat ketegangan, yang bertambah gawat ketika salah seekor kuda Van Goens pada malam pertama di istana lepas. Ini menimbulkan panik, baik di pihak orang-orang Jawa maupun Belanda, masing-masing sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Pada audiensi pertama, Van Goens masih belum menyinggung masalah beras, tetapi menghibur Sunan dengan pertunjukan beberapa tukang sulap dan permainan sebuah orgel kecil. Raja tertawa dan Van Goens menganggapnya sudah merupakan setengah kemenangan. Tetapi ia masih harus berjuang untuk penyelesaian soal-soal berikut: penentuan garis perbatasan sementara di Karawang serta pengcluaran kayu secara -bebas melalui sungai; pembukaan pelabuhan-pelabuhan laut dan perdagangan bebas antara kedua pihak; izin menimbun kayu dan beras di Jepara dengan hak untuk mengadu kepada istana kalau hal ini dihalangi. Perkara Viera pun dapat disclesaikan dengan memuaskan bagi kedua belah pihak. Akan tetapi supaya dapat memuat kapal-kapalnya dengan beras, Van Goens harus jauh menyusuri pantai, kalau ia tidak ingin muncul di Batavia dengan kapal-kapal yang kosong. Janji-janji telah diberikan, hanya karena Raja yang terganggu ingatannya ini tidak berani terang-terangan menentang Van Goens. Namun, janji-janji itu tidak pernah pula dipenuhinya. Di samping itu, juga terdapat pertanda yang lebih buruk. Memang dikatakan bahwa suatu perutusan balasan Jawa akan dikirim dengan membawa hadiah yang banyak sckali. Tetapi Van Goens sudah dapat menduganya bahwa yang dimaksud adalah meriam. Apa yang terjadi kemudian membenarkan dugaannya itu. VIII-11 Perutusan balasan Jawa, 1653 Selama tahun 1653 ketegangan tidak mereda. Pihak Jawa minta untuk satu rial harga beras satu rial lebih tinggi daripada yang ditawarkan Van Goens. Tidak ada perdagangan bebas sama sekali. Dan di Karawang berbagai macam kesulitan pun timbul kembali. Van Goens terpaksa pergi ke sana, dan sementara tercapai penyelesaian. Para lurah akan menulis surat meminta instruksi-instruksi lebih lanjut; mereka tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan sesuatu. Kemudian penerjemah Matthijs Pietersen dikirim ke Mataram dengan 109 membawa hadiah-hadiah dan surat-surat. Ia berhasil demikian rupa hingga penyerahan beras agak lancar jalannya. Sedangkan dari Karawang, yang terpaksa didatanginya sendiri, ia dapat mengumpulkan scjumlah kayu. Di pantai-pantai timbul kesibukan luar biasa untuk mengumpulkan beras sebanyak 1.000 last (= koyan) yang telah dijanjikan oleh perutusan Jawa akan discrahkan kepada pihak Belanda. Para penguasa pesisir sendiri turun ke pantai untuk memperlancar pengumpulan beras itu, katanya, karena Batavia sangat kekurangan beras. Sudah tentu ucapan mereka dibantah oleh Residen: sudah ada beras yang didatangkan dari Siam dan Arakan. Pada tanggal 14 April 1653 utusan Jawa yang pertama tiba di Teluk Batavia, yaitu Tumenggung Pati yang terkenal kecenderungannya pada orang Belanda. Empat hari kemudian ia disusul oleh orang-orang lainnya dengan 130 kapal, berisikan 3.500 sampai 4.000 jiwa. Ini jelas dimaksudkan sebagai suatu demonstrasi. Kedatangan armada. ini menimbulkan kegemparan yang tidak kecil. Karena itu, Pemerintah Kompeni pun mengumpulkan seluruh kekuatannya, schingga tampak kesibukan yang luar biasa di Batavia. Surat yang dibawa para utusan memuat permintaan akan meriam yang hendak dipakai Sunan untuk mempersenjatai perahu-perahu perangnya. Pada tanggal 13 Mci dipertunjukkan kepada mereka gudang artileri; di sana tersedia 30 meriam, yang tidak termasuk paling baik. Juga dibukakan pintu-pintu gudang beras supaya para utusan Jawa itu menjadi terperanjat melihat perscdiaan beras scbanyak 5.000 koyan, semuanya didatangkan dari Koromandel dan tempat lain, tanpa sebutir pun beras Jawa. Semuanya itu agar bisa menjadi laporan bagi gusti mereka. Pada tanggal 18 Mei 1653 Gubernur Jenderal Reyniersz meninggal dunia. Keesokan harinya orang-orang Jawa datang dan turut serta mengantar jenazah, berjalan di antara Dewan Hindia dan pembesar- pembesar kehakiman. Van Goens berjalan di sebelah Tumenggung Pati. Namun, masing-masing tidak merasa begitu puas. Pihak Jawa pun tidak, karena untuk beras mercka hanya mencrima tiga puluh dan bukan lima puluh rial; harga pasar sementara itu telah menurun. Pihak Belanda pun tidak, karena orang-orang Jawa itu diam-diam membeli senapan, bahkan Jaras-laras senapan tua. Pada tanggal 28 Mei 1653 mereka dilepas dengan hormat oleh Van Goens. Bukan Van Goens yang diutus untuk menyertai perutusan Belanda berikutnya ke Mataram, melainkan Hendrick van Gent, yang pada tahun sebelumnya telah kehilangan scmangat. 110 VIII—12 Perutusan Van Gent, 1653 Ditemani pedagang Johan Grevenract dan wakil pedagang Pieter Elsevier, berangkatlah Van Gent pada tanggal 11 Juni 1653 ke Jepara, dan di sana seminggu kemudian disambut olch utusan-utusan Jawa yang sudah mendahuluinya. Pada tanggal 30 Juni ia tiba di Mataram, disambut dalam suasana yang amat resmi oleh Raja. Kali ini Sunan menerangkan bahwa dengan larangan ekspornya itu ia ingin merugikan orang Bali — dengan Banten sementara itu ia sudah menjadi sahabat — karena orang-orang Cina Batavia membawa kapal-kapal penuh beras ke sana. Sekali lagi diulanginya syaratnya bahwa semua beras yang ada di Mataram disediakan bagi Kompeni, asal saja di setiap kapal ada seorang atau dua orang Belanda. Sebagai penguasa Karawang diangkat Tumenggung Pati yang baik hubungannya dengan Belanda, dan ini agaknya memberi harapan. Namun, ketika surat dari Pemerintah Kompeni itu diterima dan dibacakan, ternyata tidak sedikit pun tampak adanya sikap hormat — suatu hal yang penting artinya bagi orang Jawa. Pada tanggal 12 Juli 1653 diadakan pertemuan untuk acara perpisahan. Juga sckarang pun utusan Belanda terpaksa melalui banyak sckali pelabuhan untuk bisa memuati kapal-kapalnya dengan kayu dan beras. Hasilnya mengecewakan. Perdagangan bebas bahkan tidak dijanjikan, apalagi diizinkan. VIII—13 Perutusan Van Goens yang kelima, 1654 Van Goens, yang baru saja kembali dari kunjungannya kepada orang Portugis di India itu, dalam keadaan yang sangat buruk harus bertolak ke kota istana untuk kelima dan terakhir kalinya pada awal tahun 1654. Kali ini pedagang Gysbert van der Maen dan wakil pedagang Wilhem Maetsuycker menyertainya. Tugasnya bertambah berat karena ada instruksi yang mengharuskannya membujuk Raja supaya mau meng- gunakan senjatanya bersama Kompeni untuk melawan orang Makassar. Hubungan Kompeni dengan orang Makassar ini sejak akhir tahun 1653 berlangsung dalam suasana perang. Beberapa orang Jawa, yang datang dari Jepara, di Batavia mengatakan bahwa Sunan bersedia juga memcrangi Makassar (Kealia, keputusan Juli 1654). Dalam hal ini hendaknya Sunan tahu bahwa Pemerintah Kompeni hanya mengingin- kan adanya pasukan Mataram yang bertindak secara terpisah, dan bukan sebagai pasukan bantuan yang ada bersama di atas kapal-kapal Kompeni. Sunan juga tidak boleh tahu bahwa Kompeni sangat menginginkan bantuannya, dan harus ditimbulkan kesan seolah-olah permohonan bantuan itu hanya keluar dari pikiran Van Goens pribadi. Tambahan lagi, justru ketika itu, Van Goens tidak dapat menggunakan 1 Pietersen, penerjemah ahli itu; baginya hanya tersedia bantuan dari Kiai Anggapraja yang tidak scpenuhnya dapat dipercaya, dan seorang kapten Melayu, Encik Bagus, pemalu itu. Dalam masa perutusan ini masalah-masalah yang dibicarakan adalah: Pertama-tama tentang Sunan yang merasa gusar karena tidak adanya meriam, yang oleh utusan-utusan sebelumnya biasa dihadiahkan kepadanya. Kemudian dikemukakan rintangan-rintangan dalam hal pengeluaran beras. Akhirnya tentang bantuan dalam masalah Makassar. Sementara kedua masalah yang pertama dapat diselesaikan dengan baik, yang terakhir menimbulkan banyak kesulitan. Dengan usaha keras berhasillah pula utusan Belanda membujuk Sunan sehingga mau menjanjikan bantuan pasukan untuk melawan Makassar, yang akan berada dalam satu kapal dalam armada laut Kompeni. Karena Van Goens tidak berkuasa mencrima bantuan dalam bentuk khusus ini, maka cepat-cepat dimintanya izin dari atasannya untuk mengubah instruksi kepadanya. Sebelum jawaban penolakan dari Batavia (tanggal 9 September 1654) sampai kepadanya, ternyata sudah bagi Van Goens tentang betapa kosongnya janji-janji Sunan itu. Karena tidak berani menolak dengan terang-terangan, Sunan mengadakan pembicaraan dengan para pembesar kerajaan, setelah pertandingan tombak berakhir, dan ketika para peserta masih di atas kuda masing-masing, yaitu pada hari Sabtu tanggal 12 Agustus 1654. Kejadian ini dapat disaksikan oleh orang-orang Belanda, sckalipun dari kejauhan; dan rupanya memang demikianlah yang dikehendaki Sunan. Pada malam harinya, kepada orang-orang Belanda itu diberitahukan, seolah-olah secara rahasia, hasil pertemuan para pembesar yang aneh itu. Yaitu bahwa para pejabat tinggi Mataram sangat tidak bergairah memerangi saudara-saudara sciman mereka di Sulawesi. Sekalipun raja pura-pura mempertahankan tawarannya terdahulu, Van Goens merasa bahwa permintaannya telah ditolak. Karena itu, pada pertemuan yang ketiga dipertahankannya harga dirinya dengan menolak secara hormat tawaran Sunan. Pada akhir bulan September tahun 1654, sctelah kembali ke Jepara, ia sibuk sekali. Tidak oleh pembongkaran muatan kapal-kapal Belanda, melainkan karena menghadang dua perahu Makassar yang sedang membuang sauh di teluk. Sekalipun operasi ini berhasil dengan bantuan alat-alat negara Jawa setempat, kejadian tersebut tentu memberi kesan sangat pahit bagi Raja. Sudah pasti hal ini tidak melicinkan jalan untuk perutusan berikutnya, yakni yang dipimpin Winrick Kieft. Van Goens pulang ke tanah air pada tanggal 28 Januari 1655 sebagai komandan armada dan tiba di tanah airnya pada tanggal 4 September tahun itu juga. Empat hari sesudah itu disampaikannya kepada para 112 Pimpinan Kompeni sebuah *Penjelasan mengenai keadaan Kompeni Hindia Belanda sekarang” (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 141-180). Mungkin pembesar-pembesar tersebut ketika itu minta kepadanya untuk menguraikan lebih terinci sebagian dari laporan tertulis itu. Keterangan tambahan itu berjudul *Uraian pendck tentang Pulau Jawa” (Corte Beschrijvinge van ’t Eijland Java), dan bertanggal 25 Maret 1656 (Goens, »Reijsbeschrijving”, him. 351-367). Apakah penjelasan tersebut me- nyebabkan pihak atasannya ingin mengetahui lebih banyak lagi, schingga atas permintaan mercka kemudian diberikannya lagi satu tambahan yang berjudul ”Uraian perjalanan melalui jalan dari Semarang ke ibu kota Kerajaan Mataram” ("Reijsbeschrijuing van den weg uijt Samarangh, nae de konincklijke hoofdplaets Mataram) (Goens, ”Reijsbes- chrijving”, hlm. 307-350). Hanya tulisan terakhir ini sepuluh tahun kemudian diterbitkan tanpa nama dengan judul ” Perjalanan-perjalanan di Jawa dari Batavia lewat Semarang menuju ibu kota Kerajaan Mataram” (Javaensche Reijse gedaen van Batavia over Samarangh na de Konincklijke hoofdplaets Mataram) yang sering menjadi sumber bermanfaat bagi pengetahuan kita tentang masyarakat Jawa pada abad ke-I7. (Goens, ”Reijsbeschrijving”). 113 BabIX Konflik Pertama IX-1 Keputusan mengirim perutusan, 1655 tangan suatu perutusan balasan Jawa di Batavia, tetapi ini tidak terjadi "karena kami rupanya tidak bertindak benar terhadap dirinya”. (H.R., 23 Juni 1655, dalam K.A. No. 782, him. 298), meskipun pada keberangkatan Van Goens dikatakan utusan-utusan Jawa sudah ditentukan (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 59). ‘Ternyata, kemudian, Van Goens pada tahun 1654 kepada ”Sri Baginda berjanji dengan resmi bahwa Sri Baginda akan diberi hadiah seckor kuda Persia dengan tali kendali dari emas”, yang oleh Komisaris tersebut lupa dilaporkan di Batavia. Ini membuktikan lagi betapa Van Goens dengan sungguh-sungguh berdaya upaya mengambil hati Sunan, bahkan sedemikian rupa schingga ia lupa memberitahukan kepada pihak atasannya tentang hal tersebut (H.R., 8 September 1655, dalam K.A. No. 782, him. 616). Sambil menunggu hadiah yang dijanjikan itu, Raja dengan sengaja tidak mengirimkan perutusan sedangkan sebaliknya Kompeni, untuk memenuhi janji Van Goens, memutuskan untuk menghadiahi raja seekor kuda berikut tali kendali. Sementara itu, pelabuhan-pelabuhan Mataram ditutup beberapa bulan sebelum tanggal 24 Desember 1655, tanpa dapat diketahui scbabnya. Pemerintah Kompeni teringat pada perundingan-perun- dingan perdamaian yang dilakukannya dengan Banten, tanpa sebelum- nya meminta izin dari Sunan. Tetapi dari pihak Jawa diberitahukan bahwa menurut perjanjian tahun 1646 diharapkan lagi akan datangnya sebuah delegasi yang, menurut Pemerintah Kompeni, ”sudah sering kali 114 P ada tahun 1655 Pemerintah Kompeni mengharapkan lagi keda- terjadi, dengan disertai hadiah-hadiah, dan yang kemudian dapat dipandang sebagai contoh persembahan hormat dan upeti” Walaupun demikian, Kompeni mempertimbangkan bahwa akibatnya akan sangat buruk apabila Raja menjauhkan diri sebelum persclisihan dengan Makassar dapat disclesaikan. Olch karena itu, dianggap lebih baik mengirimkan saja seorang utusan, meskipun tidak lagi disertai hadiah-hadiah yang berlimpah seperti biasanya dahulu. Untuk ini pertama-tama ditunjuk kepala perdagangan di Batavia, Hendrick van Zeelst. Tetapi setelah berangkat pada tanggal 2 Oktober 1655, tiba-tiba ia meninggal sebelum tiba di Semarang. Kedudukannya digantikan oleh seorang anggota Kejaksaan, pedagang Winrick Kieft. Scmentara itu, penutupan pelabuhan-pclabuhan tidak terlepas dari tindakan-tindakan kekerasan. Ketika Winrick Kieft pada tanggal 31 Oktober 1655 tiba di Semarang, dijumpainya, di sepanjang pelayarannya menyusuri pantai, pelabuhan- pelabuhan tertutup. Pelabuhan Semarang bahkan divintangi tiga pohon (Fruin-Mces, ’’Kieft”, hlm. 395). Kapal-kapal warga Batavia tidak bisa lagi mendapatkan muatan. Sctiap hari para pemiliknya, yang scbagian besar orang kecil itu, menyampaikan pengaduan mereka kepada Kiett. Yang seorang mengatakan kapalnya diseret ke daratan, yang lain mengatakan kapalnya dibakar, yang ketiga atau keempat dikejar-kejar di tengah laut. Milik mereka disita; *mercka dihalau dengan pukulan- pukulan tongkat”. Mereka yang dirampas barang-barangnya diusir begitu saja, tanpa boleh membawa bahan makanan mereka. Pengaduan mereka kepada penguasa-penguasa pesisir sama sckali tidak dihiraukan. Beberapa kapal bahkan dihancurkan berkeping-keping (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 61). Juga setclah Kieft tiba pada tanggal 21 November 1655 di kota istana, pengaduan semacam itu terus mengalir padanya. Para tugur, petugas para penguasa tertinggi pesisir itu, dikirim ke pantai untuk membakar semua perahu yang kecil dengan mengecualikan yang besar untuk keperluan perang (Fruin-Mees, ”Kieft”, hlm. 396). Orang-orang Melayu yang datang dari Semarang bahkan memberitakan bahwa para tugur mengusir semua kapal milik ”mereka yang berkulit hitam, Cina, Melayu, tanpa boleh membawa barang sedikit pun”. Siapa yang melawan kapalnya dibakar habis (Fruin-Mees, ”Kieft”, hlm. 397). Ketika Kieft akhirnya pada tanggal 7 Desember 1655 naik ke kapal, maka semua barangnya disclidiki dengan tcliti sekali oleh 50 tugur” (Fruin-Mces, »Kieft”, hlm. 398). Bahwa penutupan pelabuhan-pelabuhan ini menjadi beban berat bagi para penduduk pantai — bahkan para nclayan tidak boleh turun ke laut, 115 dan para kawula tidak boleh menebang kayu di hutan — Raja tidak peduli. Konon, Raja berkata, ”ia tidak akan mundur setapak pun dari niatnya, walau para kawulanya tidak bisa makan nasi dan garam”. Pemerintah Kompeni berulang kali dan dengan penuh kecemasan, telah menyatakan keluhannya terhadap tindakan-tindakan kekerasan ini atas para warganya dan orang-orang Gina itu. Tindakan-tindakan tersebut sangat memberatkan tugas Winrick Kieft, yang menjadi utusan pemerintah. IX-2 Perutusan Kieft, 1655 Dengan demikian, perutusan Kieft yang berangkat ke Mataram dalam keadaan buruk itu, tidak pergi secara sukarela. Dengan larangan perdagangannya, Sunan melakukan tekanan. Karena Hendrick van Zeelst meninggal secara tiba-tiba, Kieft baru berangkat pada tanggal 2 Oktober 1655. Akibatnya, perutusan itu sangat terlambat tiba di kota istana. Ditambah lagi hadiah yang dibawanya kali ini lebih kecil daripada tahun lalu. Selain itu Kieft, walaupun seorang anggota kejaksaan, tidak memiliki kemampuan untuk tugasnya: angkuh, tidak berakhlak, pengecut. Masuknya ke dalam kejaksaan pun sudah membuat banyak heboh. Setelah dua sctengah minggu di Semarang, barulah ia, bersama dengan empat penguasa tertinggi pesisir, meneruskan perjalanannya (Fruin-Mees, ”Kieft”, hlm. 393). Kedatangannya di sana tidak meng- hentikan tindakan-tindakan kekerasan terhadap para pedagang swasta yang terus berlangsung. Raja merasa kesal. Kecuali oleh kesibukannya membangun keraton, ia merasa jengkel karena: menyangka ada pengiriman perutusan dari raja Bali ke Batavia; tercapainya perdamaian antara Kompeni dan Banten; dan selain itu juga karena pengabaian tugas oleh beberapa pejabat tingginya, "yang melakukan pekerjaan mereka tidak dengan cermat schingga (ia) mengeluarkan perintah supaya mereka diikat dan kemudian dijemur di Paseban di bawah terik panas matahari” (Fruin-Mees, ”Kieft”, hlm. 397). Tatkala berpamitan dari para penguasa pesisir, ia sekali lagi memprotes, tetapi sia-sia: "orang Mor itu tidak peduli”. Pada tanggal 2 Desember, seperti dikatakan Kompeni, utusan ini ”diutus kembali ke sana, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa” (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 60). Sementara itu, tiada sedikit pun tanda tentang adanya perubahan dalam larangan penge- luaran beras. 116 IX—3 Sebab-sebab penutupan pelabuhan dengan kekerasan Apakah sebabnya justru kapal-kapal swasta yang diperlakukan dengan begitu buruk? Mengapa utusan Kompeni ditolak dengan cara yang begitu menghina? Alasan-alasan apakah yang mengakibatkan pelabuhan-pelabuhan ditutup selama satu setengah tahun? Tindakan-tindakan kekerasan tersebut barangkali paling mudah dijelaskan, dengan menganggap bahwa dalam mata para tugur, yang ditugasi Raja untuk melaksanakan monopoli dagang di sepanjang pantai Jawa itu, para pedagang swasta adalah pelanggar paling hebat terhadap perintah-perintah Sunan. Sebab, peraturan bahwa hanya kapal-kapal dagang yang mempunyai seorang wakil dari Kompeni saja yang boleh melakukan perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Jawa sudah berkali- kali ditegaskan dan dijamin. Rupanya, ketentuan ini sudah bertahun- tahun lamanya dilanggar secara diam-diam, dan mungkin pula dengan persetujuan para penguasa pesisir. Sekarang Raja menghendaki agar perintah-perintah itu benar-benar ditaati, dan amarahnya ditumpahkan dengan melakukan kekerasan terhadap kapal-kapal dan awaknya. Winrick Kieft, orang yang tepat pada tempatnya, jadinya seorang pengacara yang tidak mampu menghadapi masalah sulit demikian. Ini kiranya sudah cukup menjelaskan mengapa ia tidak berhasil baik. Sclain itu, dapat ditanyakan juga apakah tidak ada pengaruh- pengaruh dari luar yang mendorong Sunan sehingga ia bersikap lebih keras terhadap orang-orang Belanda. Sehubungan dengan itu, orang dengan sendirinya mengingat terutama kepada pengaruh Islam yang tersebar di Mataram dan sckitarnya IX—4 Agitasi Pan-Islam Seperti telah kita lihat sejak tahun 1652, yaitu sewaktu Sri Sunan mulai melaksanakan rencana monopolistisnya, hubungan Mataram dengan Banten agak baik. Ini ternyata antara lain dari niatnya mengadakan ikatan perkawinan antara kedua kerajaan itu. Juga bukan peristiwa kebetulan bahwa justru ketika amarah Raja meluap; dengan menutup pelabuhan-pelabuhan, Banten melanjutkan perlawanannya terhadap Batavia. Juga ternyata bahwa di Mataram pun ada suatu partai pro-Banten, yang ingin sekali melihat jatuhnya Kompeni. Mereka ini mudah percaya kepada desas-desus "bahwa Banten mampu menaklukkan Batavia, memasuki bagian luarnya, dan raja Mataram akan menawarkan ja! baiknya terhadap Banten, asalkan diberi bantuan prajurit dan menavhy, © karena (tinggal) merebut satu benteng lagi” (Daghregister, 7 Men Oo 1656, him. 30-31). /se EME, OS Ww ak il! opt 1 AER g ye ; 2 Ws Pain Se Terhadap usaha yang jelas bermaksud melibatkan Mataram dalam peperangan itu, Tumenggung Pati, sahabat Kompeni, ”menentang keras”. Sebab, sesudah menyaksikan sendiri keadaan yang scbenarnya, tahulah ia betapa bertambah kuatnya Batavia sekarang dibandingkan dengan dahulu. Khususnya terhadap Ngabei Wangsaraja, penguasa Semarang, ia "sangat berani menentang”, dan memang bukan tanpa hasil. Tetapi sebelum tahap ini tercapai, Pemerintah Kompeni mengadu karena “tetangga-tetangganya di kiri dan kanan ... yang sangat mengganggunya” (Laporan Tahunan tertanggal 24 Desember 1656, dalam Jonge, Opkomst, jil. V1, hlm. 55). Batavia mengalami gangguan, baik dari tetangganya di sebelah timur maupun sebelah barat. Hal yang sama juga terjadi pada tahun berikutnya. Ketika itu dinyatakan, "Sunan Mataram menyiksa kami di satu pihak dengan menutup pelabuhan- pelabuhan . . . yang. . . menjadi lebih parah dengan perbuatan Banten di pihak lain ... yang merampok, mencuri, dan membunuh” (Jonge, Opkomst, jil. V1, him, 65). Akhirnya, orang Banten ”baik di laut maupun di darat melakukan perang secara terbuka” terhadap Kompeni. Pada tanggal 3 Mei 1656 Belanda sudah berpendapat scbaiknya mengo- songkan diam-diam loji mereka di Banten. Pada malam hari tanggal 8 menjelang 9 Juli, api menyala dari ladang-ladang tcbu dan penggi- lingan-penggilingan tebu di Angke (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 66). Dengan demikian, meletuslah kembali perang dengan Banten. Di atas segala kesulitan ini timbul pula persoalan dengan orang Makassar. Dari akhir tahun 1653 sampai awal 1656 Kompeni berada dalam keadaan perang dengan raja Makassar. Telah kita lihat pada tahun 1654 betapa Kompeni berusaha dengan sia-sia membujuk Sunan supaya mau membidikkan senapannya ke arah Makassar. Sebaliknya, mungkin pula justru contoh Makassar itu telah mendorong Sunan untuk lebih kuat bersikap anti-Belanda Hubungan yang segi tiga ini — sulit sekali disamakan dengan suatu persckutuan — disadari benar di Batavia. Gysbert van Hocq yang tiba pada tanggal 28 Juli 1655 di Batavia, memberikan gambaran yang simpang-siur tentang masalah itu sebagai berikut: "dua dari raja-raja yang paling berkuasa di . . . Jawa telah mencoba menghasut-hasut raja Banten supaya ... jangan lagi berdamai dengan kita, tetapi untuk menyatakan perang secara terbuka”. Usaha Pemerintah Kompeni memperpanjang gencatan senjata, yang habis masa berlakunya tahun itu, 10 tahun lagi yang semula berhasil, harus mereka rintangi (Pemerintah Kompeni kepada Jepara tertanggal 20 Agustus 1655, dalam » K.A.No.782, him, 548). Memang berhasil Mataram dan kaki tangannya, Cirebon —mungkin keduanya inilah yang dimaksudkan dengan dua raja 118 yang paling berkuasa — menimbulkan perselisihan antara Batavia dan Banten. Tetapi juga Makassar turut serta, karena "Raja Makassar . . . menawarkan bantuan yang tidak sedikit”. Ketegangan menghinggaj massa ”yang memeluk agama Islam . . . mengenai ramalan yang pernah dikemukakan oleh tokoh penarik mereka yaitu Machomet, yang menyatakan bahwa apabila mereka bersatu dan bersama-sama mulai berperang melawan kaum Kristen, maka kemenangan pasti tercapai”. Jadi, juga unsur spiritual memberikan pengaruhnya, karena "salah seorang dari ulama mereka (orang Jawa?) baru saja berkunjung ke Banten dan kemudian berangkat ke Makassar” (Naber, ’Sloep”, hlm. 193, 289, 422, 533). Menarik perhatian juga bahwa penutupan pelabuhan yang berlang- sung lama itu pun dikatakan "disebabkan oleh secorang ulama’’ (Daghregister, 7 Desember 1655). Kepada Sunan ulama tersebut "mem- persembahkan pakaian yang indah sekali dan langka . . . dan menga- takan telah dibelinya di Semarang”. Raja menjadi marah, karena dari para penguasa pesisirnya tidak pernah ia diberi pakaian indah semacam itu. Akibatnya, Sunan “bukan sekadar membatasi diri membuat ketetapan tersebut, tetapi juga menghukum dengan keras pelanggar- pelanggarnya”’. Inti cerita yang anch ini mungkin berasal dari sekelom- pok penganut pan-Islam, yang dengan berbagai jalan, lurus maupun bengkok, berusaha mendorong Sunan bertindak terhadap orang Belan- da. Tetapi harus pula diperhitungkan bahwa cerita ini dikisahkan ketika tukang ceritanya terlalu banyak minum anggur Spanyol. Selain itu, kiranya benar juga berita bahwa para penguasa pesisir tidak begitu bergairah terhadap penutupan pelabuhan yang mengurangi pendapatan mereka itu. Tetapi orang-orang yang fanatik mudah sekali mengabaikan keberatan-keberatan ekonomis seperti itu. Tidak secara kebetulan Kompeni di Batavia, dalam sebuah surat kepada residennya di Jepara, justru dalam hari-hari itu menyatakan pendapatnya bahwa orang Banten, seperti juga halnya orang-orang Makassar dan Mataram, adalah penganut satu agama (Batavia 23 Juni 1655, dalam K.A. No. 782, hlm. 298)." Seorang saksi yang dapat dipercaya, yaitu Komandan Johan Truijt- man, membuatlaporan tentang perjalanannyake pantaitimurJawadalam bulan April tahun 1657 (K.A. No. 1110, him. 785 dan seterusnya). Dalam 10 Suatu petunjuk yang jelas tentang simpati Mataram kepada orang Banten adalah izin yang diberikan kepada orang Banten untuk membeli di kerajaan Sunan kapal-kapal perang, bahkan sebelum pelabuhan-pelabuhan ditutup untuk orang Belanda (H.R., kepada Volsch tanggal 18 April 1655, him. 154). 119 laporan tersebut dikemukakannya bahwa dahulu pernah orang Jawa minta bantuan kepada Banten, atau bahwa ada suatu hubungan tertentu antara mereka, seperti pernah juga terjadi di Makassar. IX—5 Tindakan-tindakan terhadap penutupan_ pelabuhan, 1656 Mengenai tindakan apa yang telah diambil Kompeni terhadap penutupan pelabuhan-pelabuhan Mataram itu, tidak ada keterangan yang tepat karcna tiadanya sumber informasi. Demikianlah Kompeni memutuskan pada tanggal 10 Februari 1656 untuk mengirimkan bekas residen di Jepara, D. Schouten, sebagai duta ke Mataram “untuk menyelesaikan semua masalah dan perselisihan yang baru timbul . . . dengan cara persahabatan”. Usaha ini rupanya hanya terbatas sampai pada suatu percobaan saja. Sebaliknya dengan gerakan- gerakan armadanya, dicobanya untuk menanamkan rasa takut di negeri Mataram. Karena itu, dikirimkannya pada tanggal 28 Maret 1656 ke pantai selatan Jawa, yang belum dikenal itu, sebuah kapal pengangkut kecil, dengan berkedok melakukan pemetaan garis pantai bertugas menyebar. kan kegelisahan di Mataram. Perjalanan inilah yang mungkin membe- rikan kepada kami peta yang cukup baik tentang pantai selatan Jawa. Bahkan tidak lama sebelum pembukaan pelabuhan-pelabuhan kemba- li pada tanggal 11 Oktober 1656, Pemerintah Kompeni juga mengi- rimkan tiga kapal ke sebelah timur Jawa untuk "mengamat-amati tingkah laku orang Mataram” dan, di samping itu, untuk menyebarkan rasa takut. Masalah-masalah sepanjang pantai utara Jawa rupanya menjadi lebih gawat daripada sebelumnya”. Para residen yang masih tinggal di loji seolah-olah berada "dalam tahanan”; para awak kapal kici (jacht) De Schol, yang keluar dari Batavia pada tanggal 22 September 1656, tidak boleh turun ke darat. Sementara itu, masih ada juga lalu lintas diplomatik, sekalipun penutupan pelabuhan terus berlangsung. Demikianlah Pemerintah Kompeni menerima surat dari Tumenggung Pati dan Tumenggung Demak, bersamaan dengan dua orang Belanda yang mengalami musibah di Ujong Bayang. Tumenggung yang pertama menulis tentang meriam yang dibeli pada tahun 1633 di Batavia. Tiga buah meriam yang terlalu berat akan ditukarkannya dengan meriam yang lebih ringan dalam jumlah yang sama, yang dimaksudkan untuk gorab. Tumenggung Demak minta besi dan senapan. Apakah permintaan-permintaan ini berasal dari pihak atasan? Bagaimanapun tata krama, yang begitu penting dalam anggapan orang Jawa, tidak dihiraukan: surat-surat dalam keadaan 120 terbuka, dan dibawa oleh punggawa-punggawa bawahan. Pemerintah Kompeni yang tersinggung perasaannya memerintahkan Kolcktur Besar agar menolak permintaan-permintaan itu dan sangat menyesalkan tindakan-tindakan kekerasan yang dialaminya pada tahun 1655 (Realia, keputusan 24 Maret 1656). Tetapi orang Mataram pun tidak tinggal diam. Penutupan pelabuhan dilakukan serentak dengan usaha peningkatan persenjataan kapal, tanpa dapat diketahui apa maksudnya. Sejak keberangkatan Kieft terdapat "kegiatan-kegiatan yang nyata, tetapi tidak jelas artinya, olch Raja dan bupati bawahannya” (H.R., 27 Maret 1656, K.A. No. 783, him. 136). Kapal-kapal terus dipersenjatai (H.R., 15 Mei 1656, K.A. No. 783, hm. 184). Juga layar, dayung, dan tiang kapal dipersiapkan (H.R., 23 Juni 1656, K.A. No. 783, him. 241). Empat ratus kapal dikatakan telah diluncurkan ke air, termasuk yang besar-besar (Realia, keputusan, 11 Oktober 1656). Bahkan ketika sudah dibicarakan rencana pembukaan kembali pelabuhan-pelabuhan, masih saja ada berita tentang rencana membangun tidak kurang dari 40.000 kapal, dari setiap “negeri” sepuluh buah! (Daghregister, 7 Desember 1656, him. 31). Kompeni karenanya juga diliputi suasana perang, dan sudah pula mengadakan pembicaraan tentang perampasan beras, dan pembakaran perahu-perahu. Tetapi tatkala Sunan tampaknya tidak sampai mengam- bil keputusan yang tegas, maka Batavia pun berpendapat bahwa semua rencana Sunan itu pada suatu ketika bisa saja menguap (H.R., 21 September 1656, K.A. No. 783, hlm. 385). Prognosa ini ternyata benar. 121 Bab X Sistem Empat Penguasa Pesisir yang Terkemuka X-1 Pembukaan pelabuhan-pelabuhan, 1657 desus dan berita tentang akan cepat dibukanya kembali pelabuhan-pelabuhan Mataram, maka kepastian lebih besar tentang hal ini diperoleh ketika residen Jepara, Evert Michielsen, pada tanggal 6 Maret 1657 (Daghregister) muncul di Dewan Hindia. Ketika itu ia memberikan laporan lisan dan tertulis bahwa ”pelabuhan-pelabuhan dibuka seluruhnya tetapi akan dibuka dalam waktu dekat”. Hal ini disebabkan, katanya, oleh “iri hati para penguasa pesisir”. Untuk memuati kapal dan memperoleh berita, karena "sekian bulan hanya diperoleh berita-berita yang sangat tidak menentu dan sering kali tidak bisa dipercaya”, maka selain residen yang kembali, dikirimkanlah juga pedagang tertinggi Johan Truijtman ke Jepara (Daghregister, 6 Maret 1657). Memang ketika utusan tersebut tiba di sana, semua pelabuhan laut atas perintah Sunan sudah dibuka kembali. Sementara itu, utusan pun diterima "dengan cara resmi dan bersahabat”, terutama oleh Tumeng- gung Pati yang dikunjunginya di tempat kediamannya (K.A. No. 1110, him. 785; Daghregister, 17 April 1657). Untuk membuka kembali pelabuhan-pelabuhan tersebut, Sunan mengirimkan utusan-utusannya ke mana-mana: Jepara, Demak, Sema- rang, ya, bahkan sampai Cirebon. Para pedagang Cina dan lain-lain, yang tertahan selama 19 bulan, akhirnya kembali ke Batavia dengan kapal-kapal penuh muatan. S etelah lamia sekali terdengar di Batavia berbagai macam desas- 122 X-—2 Perubahan dalam sistem pemerintahan Sebagai alasan untuk menutup pelabuhan-pelabuhan tersebut, dike- mukakan oleh pihak Jawa adanya suatu perubahan dalam sistem pemerintahan. Winrick Kieft memberitahukan hal ini dengan caranya sendiri: ”Tuan-tuan Pimpinan Kompeni yang terhormat, di sini kami harus menyampaikan lagi berita yang anch-anch: pada masa ini tiada scorang pun. . . yang bolch melakukan perdagangan, karena Sri Baginda sedang sibuk membuat undang-undang baru yang sama sckali berbeda dengan apa yang diberlakukan ayahnya.” Tetapi kontrak dengan Kompeni akan tetap berlaku (Fruin-Mees, ”Kieft”, hlm. 397; banding- kan dengan Laporan Tahunan, 16 Desember 1660 dalam Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 87). Menurut Kieft, ini tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya. Tetapi kita harus sabar menunggu sampai “keputusan Sri Baginda tentang hal itu dilaksanakan”’. Tetapi masih tetap tidak jelas juga bagi kami apakah yang telah diubah dalam sistem pemerintahan Mataram selama penutupan pelabuhan. Kecuali bahwa pelaksanaan pemerintahan lebih diperketat dibanding- kan daripada sebelumnya, yaitu ketaatan daerah pesisir yang lebih mutlak lagi kepada dua penguasa tertinggi pesisir. Akan tetapi setelah penutupan pelabuhan berakhir, ternyata perubah- an dalam sistem pemerintahan itu memang terjadi. Ini pertama-tama terbukti dari adanya perubahan dalam hubungan antara Raja dan Kompeni. Sunan Mataram yang angkuh itu tidak ingin menerima kiriman- kiriman dari Batavia. Apabila Gubernur Jenderal menginginkan sesuatu, maka hal itu harus dibicarakan olch empat penguasa pesisir_ yang terpenting (Daghregister, 26 Juni 1657). Pemerintah Kompeni tidak merasa terhina karenanya, tetapi hal itu ”dapat_ mempengaruhi urusan-urusan Kompeni”. “Daerah pesisir ditempatkan di bawah kekuasaan empat penguasa bersama-sama” (Daghregister, 7 Desember 1656, hlm. 33). Mereka harus memperlihatkan solidaritas. Tiada seorang pun dari masing-masing mereka melebihi yang lain, ditegaskan Ngabei Martanata. Sampai "tiga kali (ja) menyatakan, dengan sumpah dan diperkuat oleh sabda Raja, bahwa mereka . . . harus menjadi satu dan sama pentingnya dalam melaksanakan tugas, dan ia tidak menginginkan dari penguasa yang satu sehelai pakaian pun lebih banyak daripada yang lain”, Ini merupakan semacam desentralisasi, yang memberikan otonomi terbatas kepada daerah pesisir. Sckalipun kekuasaan mereka sama, derajat tugas mercka tidak sama jenisnya. Pekerjaan mereka dibagi dengan cara berikut: Tumenggung 123 Pati bertanggung jawab atas Batavia; Ngabei Martanata dari Jepara atas Jambi; Tumenggung Suranata dari Demak atas Palembang, dan Ngabei Wangsaraja dari Semarang atas Sukadana di Kalimantan, “supaya mereka mempunyai tugas tertentu”” (Daghregister, 7 Desember 1656, hlm. 31; 27 Juni 1657, him. 19° Mungkin sistem ini sedikitnya sebagian sudah pernah dijalankan. Menurut sebuah tulisan Pemerintah Kompeni tertanggal 27 Maret 1656, ketika itu sudah diketahui bahwa dahulu Tumenggung Pati pernah diberi tugas menyelesaikan urusan-urusan Batavia. Bahwa Demak mempunyai hubungan dengan Palembang dapat dipahami, melihat tradisi lama seperti yang disebut dalam Babad Tanah Jawi. Tumenggung Pati sejak tahun 1648 juga mempunyai hubungan pribadi yang kuat dengan orang Belanda. Hubungan-hubungan yang lain tidak begitu mencolok. Pasti sistem ini masih berlaku sampai 1659, ketika utusan-utusan Jambi disambut dengan pemberian berbagai hadiah oleh kepala daerah Jepara, dan utusan-utusan Palembang diberi perlakuan yang sama oleh gubernur Demak (Daghregister, 13 November 1659, him. 227). Sistem tersebut dengan sendirinya berakhir ketika beberapa di antara raja-raja bawahan itu menghentikan ketaatan mereka kepada Sunan. Sementara para penguasa pesisir memperoleh kekuasaan yang lebih besar, maka hilanglah petugas-petugas yang sampai saat itu melihat kekuasaan mereka akibat pengawasan berkurang. Mereka itu adalah para tugur, pesuruh penguasa-penguasa tertinggi pesisir Wira dan Wirajaya. Pada waktu sistem empat penguasa tertinggi pesisir itu berakhir, mereka akan tampil kembali ke depan, meskipun untuk sementara. Tetapi empat penguasa tertinggi pesisir itu, selain berkuasa khususnya atas daerah mereka, juga berkuasa atas bagian-bagian pantai lainnya. Kiai Ngabei Wangsaraja dari Semarang juga berkuasa atas Sidayu (Daghregister, 4 September 1657, hlm. 255-257; Daghregister, 12 Mei 1659, hlm. 95). Tumenggung Pati juga berkuasa atas Indramayu dan daerah sampai Citarum; sebagai penguasa di sana diangkatnya kakak- nya, Citranala (H. van Gent tertanggal 20 Juli 1653, dalam Brascamp, ”Houtleveranties”, TBG LXIII, him. 536; Goens, Gezantschapsreizen, him. 130). Kemudian ketika Tumenggung Pati diangkat sebagai penguasa Surabaya, tampak bahwa ia juga berkuasa atas Pasuruan. Begitu pula Kiai Ngabei Martanata yang kecuali berkuasa atas Jepara, juga atas Batang. Dengan demikian, seluruh pantai utara Jawa mungkin dibagi- bagi di antara empat penguasa pesisir tersebut. Setelah tugur menghentikan pekerjaan mereka, bagaimanakah Raja mengadakan pengawasan atas empat penguasa pesisir yang besar itu? Untuk itu mungkin ditetapkan peraturan yang mengharuskan agar salah 124 seorang di antara mereka berada di Istana selama dua bulan, kemudian digantikan dengan orang yang lain lagi (Daghregister, 7 Desember 1657, him. 31). Diragukan apakah ini terjadi secara teratur, karena beberapa penguasa pesisir tertentu terkadang tinggal jauh lebih lama di istana. Empat pejabat tinggi ini dapat dianggap sebanding dengan empat serangkai seperti yang terdapat dalam sejarah Jawa pada masa-masa sebelumnya. Seperti halnya empat pejabat yang setelah Gajah Mada meninggal menggantikan satu-satunya penguasa tertinggi tersebut. Dan juga empat pejabat yang pada akhir pemerintahan Sultan Agung, bersama-sama memegang jabatan sebagai tumenggung Mataram. Atau empat dewan rahasia Sultan Agung yang membawahkan 500 orang kaya terkemuka. Rouffacr menduga bahwa pada tahun 1655 Sunan selain mengangkat cmpat wedana pesisir, juga — sebagai analogi — mengangkat empat Wadana Jaba atau wedana luar atas Nagaragung (yaitu, sebagian terbesar Surakarta, Yogyakarta, Kedu, dan Bagelen). Mcmang agak dapat dipastikan bahwa pejabat-pejabat ini setidak-tidaknya sudah terdapat pada tahun 1682 (Rouffaer, Vorstenlanden, him. 52). X-3 Dua kelompok penguasa pesisir Selain pengecualian terscbut, empat penguasa pesisir itu jarang mengadakan kerja sama. Sebaliknya, dalam waktu singkat_mereka terbagi menjadi dua kelompok. Tampak adanya hubungan erat yang berkembang antara Tumenggung Pati dan iparnya, Tumenggung Suranata dari Demak (Daghregister, 7 Desember 1661, him. 31; Daghregister, 16 Oktober 1661). Mercka dapat dianggap “sebagai satu”. Dan Tumenggung Pati bahkan sudah merencanakan penggalian sebuah saluran air yang menghubungkan Juwana dengan Demak. Memang sudah lama kedua orang itu bersahabat (Goens, Gezantschapsreizen, him. 249), schingga Van Gocns menycbut Tumenggung Suranata sebagai juga sahabat kita yang baik sekali”. Di pihak lain Ngabei Martanata dari Jepara dan Ngabei Wangsaraja dari Semarang dikatakan ”bersatu hati” (Daghregister, 3 Maret 1657, him. 112). Mereka bekerja sama melawan Tumenggung Pati yang mereka tuduh (berlawanan dengan perintah Sunan?) telah mengizinkan pengi- riman beras dan grabad (berancka ragam barang dagangan?) ke Batavia, tidak hanya untuk penduduk Eropa, tetapi bahkan juga untuk orang- orang Cina dan Melayu (Daghregister, 3 Maret 1657, him. 112). Sebaliknya, Tumenggung Pati menamakan rekannya di Jepara itu sebagai seorang yang tidak dapat dipercaya (Daghregister, 7 Desember 1657, him. 32); antara kedua pejabat tinggi itu terdapat "rasa iri dan 125 dengki”. Dengan pejabat tinggi Semarang, Tumenggung Pati ’sangat bertentangan” (Daghregister, 7 Desember 1657, hlm. 31). Mengenai perampokan terhadap orang-orang Belanda pada tahun 1655. terjadi percekcokan yang hebat antara kedua pembesar itu Karena itu, yang paling menonjol ke depan bukannya kerja sama antara para penguasa pesisir, melainkan usaha demi tujuan pribadi masing-masing. Perkembangan ke arah itu memang dipermudah oleh ketidaksempurnaan peraturan yang ada. Di satu pihak mereka harus bertindak sebagai suatu kesatuan, di pihak lain mereka mempunyai tugas sendiri-sendiri. Tetapi jangan ditanya bagaimana caranya. Tumenggung Pati harus selalu berurusan dengan Batavia, tetapi “kantor dagang” Belanda itu terletak justru di daerah kawasan lawannya, Gubernur Jepara. Karena itu, segera diusulkannya supaya loji Belanda dipindahkan ke Juwana (Daghregister, 27 Juni 1657, him. 196-197). Pada pendapatnya, banyak kesulitan akan timbul oleh peraturan yang ada; "ada baiknya, agar kakak saya membangun sebuah loji di Juwana, karena di daerah itu saya sendirilah yang berkuasa,” katanya. Sclain itu, dipertimbangkan pula bahwa Belanda merupakan langgan- an yang terbaik bagi para penguasa pesisir; kecuali mungkin orang Cina yang ada di mana-mana, Dengan demikian, ia, akan lebih beruntung daripada yang lain karena dacrahnya ditempati mereka. Maka, tidak mengherankan apabila ‘Tumenggung Pati merasa_ kurang senang terhadap peraturan baru tersebut. Sekarang marilah kita tinjau dengan lebih teliti pribadi sahabat Kompeni ini. X—4 Tumenggung Pati dan saingannya, Ngabei Martanata Tumenggung Pati tampil pertama-tama selama perutusan tahun 1648 dengan nama Kiai Suta; namanya disebut bersamaan dengan kakaknya, Kiai Anggapraja. Ketika itu ia mempunyai hubungan dengan pemerin. tah Semarang. Bersama dengan kakaknya, yang sampai tahun 1667 bertindak sebagai penerjemah dan pada tahun 1673 sebagai sekretaris para, 21 September 1673, K.A. No. 1185), ia bertanggung jawab untuk penerimaan orang-orang Belanda, karena itu tidak ada perutusan yang datang dari Batavia tanpa bantuannya. Demikianlah kakak beradik ini pada tahun 1648 mengantar utusan-utusan Belanda melihat-lihat di keraton yang tua dan yang baru. Tahun berikunya Kiai Suta diangkat sebagai Tumenggung Nataair- nawa di Pati, dan sejak itu ia terutama dikenal sebagai Tumenggung Pati. Hubungannya dengan Kompeni pada umumnya baik. Pada tahun 1651 Pemerintah Kompeni berpendapat akan bisa 126 mengharapkan bantuan yang paling banyak darinya dan sebagai perangsang, diam-diam ia dihadiahi beberapa botol minuman keras (H.R., 9 Oktober 1651, dalam Brascamp, »Houtleveranties, TBG LIX, him. 462). Perangsang ini rupanya menimbulkan gairah yang cukup besar kepadanya karena kemudian ia bahkan minta supaya dikirimi lagi (Daghregister, 10 Desember 1659). Dalam keadaan yang sulit, kehadiran tumenggung ini dapat menimbulkan harapan bagi Kompeni (Goens, Gezantschapsreizen, him. 119). Pada tahun 1653 ia berkunjung ke Batavia sebagai pemimpin satu-satunya perutusan Jawa. Ia turut berjalan di belakang peti jenazah Gubernur Jenderal Reyniersz yang baru meninggal itu. Kunjungannya ke Batavia ternyata kemudian meninggalkan kesan yang dalam sekali. Pada tahun berikutnya ia tidak saja berkuasa atas Pati, tetapi jugaatas Indramayu, sampai ke Sungai Citarum (Goens, Gezantschapsreizen, him. 130). Sclama perutusan Van Goens yang kelima pada tahun 1654 ia turut mengambil bagian dalam perundingan-perundingan tentang kemung- kinan bantuan Mataram kepada Kompeni untuk melawan Makassar. Dengan pandainya ia mengayuh biduk di antara dua batu karang (Goens, Gezantschapsreizen, him. 156). Ini tidak menjadi penghalang baginya untuk membantu Van Goens menghadang perahu-perahu Makassar yang berlabuh di Teluk Jepara. Ini merupakan pertemuan yang terakhir antara perutusan Belanda dan ‘Tumenggung Pati yang di Negeri Belanda akan dinamakan »sahabat kami yang sangat baik’”’ (Goens, Gezantschapsreizen, him. 249), bahkan ”yang paling baik, yang pernah saya jumpai . . . karena sering ia bersikap terus terang dan ada kesetiaan padanya, bertentangan dengan sifat-sifatnya yang asli”” (Goens, Gezantschapsreizen, him. 263). Ia bisa juga “bergaul . . . dengan memakai kebiasaan-kebiasaan” orang Belanda (Brascamp, Houtleve- ranties”, TBG LXIII, him. 536). Sclama penutupan pelabuhan yang pertama (1655-1657), tumenggung tersebut tidak terlalu jelas memperlihatkan rasa simpatinya kepada orang Belanda (H.R., 5 Maret 1655, dalam K.A. No. 782, him. 8). Tetapi begitu. suasana anti-Belanda berkurang, maka segera dilawannya kelompok yang akan mendorong Mataram memihak Banten (Daghregis- ter, 7 Desember 1656, him. 31). Berkat kegiatannya, demikian katanya, bahkan pelabuhan-pelabuhan akan dibuka kembali, dan setelah itu, Raja akan memberi kuasa kepada Pati untuk membuka pelabuhan- pelabuhan”. Selama beberapa waktu ia menganggap dirinya sendiri sebagai suatu mata rantai antara Batavia dan Keraton yang mutlak diperlukan. Atas perintah Raja, dan atas biaya Tumenggung Pati sendiri, 127 Belanda harus membangun sebuah loji di Juwana, pelabuhan Pati. Kapal-kapal Kompeni, walaupun sudah singgah di Jepara, kemudian harus juga berkunjung ke Juwana. Schubungan dengan itu, konon akan digali saluran air baru dari Demak ke Juwana. ”Benar-benar masuk akal,” mengejek Residen Michielsen yang ahli itu, ketika diberi tahu tentang rencana tersebut oleh Tumenggung Pati. Tumenggung itu juga membanggakan kekuasaannya "yang tiada bandingannya” di pantai. Juga dari sumber lain keterangan ini dibenarkan (Daghregister, 26 Februari 1657, him. 104). Dia akan diberi wewenang atas semua pelabuhan laut (Daghregister, 26 Juni 1657, him. 196), sedangkan ia sendiri kemudian menegaskan sekali lagi bahwa Sunan tidak lagi mau tahu apa pun tentang urusan-urusan_pesisir, “tetapi_menyerahkan sepenuhnya kepada Tumenggung Pati” (Daghregister, 3 Maret 1657). Pedagang tertinggi Johan Truijtman, yang setelah pembukaan pelabuhan-pelabuban dikirim ke pantai timur Jawa (laporan tentang perjalanannya dalam K.A. No. 1110, him. 785), mengembalikan cakap angin tersebut pada proporsi yang sewajarnya. Di antara keempat penguasa pesisir, kelebihan Tumenggung Pati hanyalah bahwa ia boleh mengetuai rapat-rapat bersama mereka. Hanya apabila ia mendapat tugas khusus dari Sunan, barulah ia menjadi lebih penting. ‘Tetapi benarlah bahwa ia memang lebih sering dibebani tugas-tugas khusus daripada yang lain-lain. Sclanjutnya, kekuasaannya tidak melampaui batas-batas wilayahnya sendiri (Daghregister, 3 Maret 1657, hlm. 112). Ke dalam wilayahnya selain Pati termasuk Juwana, Rembang, dan Pajangkungan. Tumenggung berusaha mengambil hati orang-orang Belanda dengan menunjuk kepada jasa-jasanya. Para awak kapal yang terdampar, "Jan ter Woude dan kawannya, Jacob”, setelah dibawa ke hadapan Sunan, atas perintahnya telah dikembalikannya kepada Belanda. Juga empat awak kapal yang datang dari Solor dan terdampar di pantai timur Jawa, dibawa ke Mataram, dan dibebaskan sebelum waktunya (Daghregister, 26 Juni 1657, him. 196). Dan kelak ia tetap akan melakukan jasa-jasa seperti itu.! II Para awak ini berasal dari kapal yang dikirimkan untuk mencari kapal Gulden Draak yang terdampar di pantai barat Australia. Mereka telah kehilangan kapal mereka sendiri, dan melakukan pelayaran dengan sekoci terbuka ke Jawa. Empat orang di antara mereka bisa mendarat di suatu tempat di pantai selatan Jawa Timur. Mereka rmengalami penderitaan yang berat selama berjalan kaki ke jurusan barat, dan pada tanggal 28 atau 29 Juni 1658 untuk pertama kalinya melihat kembali manusia di suatu tempat yang mereka namakan Baijhim (Bayem?). Dari sana mereka dibawa ke Kalambret (Kalangbret?) dan diterima oleh kepala kampung setempat bersama 15 128 Bantuannya itu tidak hanya terbatas pada Kompeni dan petugas, tetapi warga mereka pun bisa minta pertolongan kepadanya. Begitulah ia pernah menolong seorang Cina yang kehilangan kapalnya; ia melancar- kan pembongkaran muatan dari kapal-kapal para warga Batavia. Karena itu, ia dibenci oleh rekan-rekannya, tetapi demikianlah ditegas- kannya kepada Gubernur Jenderal, "itu bukan soal, demi kepentingan seorang saudara” (Daghregister, 3 Maret 1657, him. 12). Sudah tentu Truijtman pun disambut dengan baik di Pati dan disediakan pula baginya perumahan yang baik sekali (Daghregister, 7 April 1657). Memang kesan tentang diri tumenggung ini bagi para pembesar Belanda di Batavia baik sekali. Mereka tidak keberatan untuk tidak berhadapan langsung dengan Sunan, tetapi dengan empat penguasa pesisir, "atau khususnya Tumenggung Pati. . . yang memang kompeten untuk itu, dan sangat membantu kepentingan-kepentingan Kompeni” (Daghregister, 26 Juni 1657, him. 194). Mercka menamakan tumenggung tersebut “orang yang sangat bersimpati kepada Kompeni (Daghregister, 3 September 1657, him. 252), yang membantunya dalam segala hal” (Daghregister, 8 September 1657). Ketika ia dari Mataram minta supaya dikirimi “berbagai macam minuman”, banyak sckali minuman yang dikirimkan kepadanya (Daghregister, 10 Desember 1659). ‘Tetapi sahabat orang-orang Belanda ini mempunyai seorang lawan yang keras yaitu kepala daerah Jepara, Ngabei Martanata. Tentang tokoh ini pihak Belanda mendapat lebih banyak keterangan yang buruk. Mengapa demikian, mungkin dapat dijelaskan karena begitu lambatnya sampai 20 orang rakyatnya. Selama tiga minggu mereka harus tinggal di sana. Kemudian Yorancay” (orang kaya) ini berkunjung ke Mataram. Selama 15 sampai 16 hari mereka dalam perjalanan, Di kota istana mereka harus menunggu sekitar dua minggu; kadang-kadang mereka harus ke keraton dan di sini ditanyakan kepada mereka, dari mana mercka berasal. Akhirnya datanglah lima atau enam abdi ‘Tumenggung Pati yang tinggal di sana, dan membawa orang-orang Belanda itu sebagai tamu ke rumahnya. Keesokan harinya mereka sudah berangkat bersama salah seorang abdi tumenggung itu beserta iringan ke Pati. Di sini mereka harus menunggu sampai Tumenggung Pati sendiri datang. Tetapi setelah seminggu muncullah "orang ‘Jawa Belanda . . . Michiel Zeeburgh”, yang tinggal di Juwana, Pati, dan menasihatt ‘mereka agar menulis surat kepada pemimpin mereka di Jepara, Evert Michielsen. Bahkan ia memberikan kertas dan tinta, dan berjanji akan menyampaikan surat mereka, karena ia pasti akan pergi ke Jepara. Setelah pergi selama enam sampai tujuh hari, maka ia kembali muncul dan membawa untuk mereka masing-masing dua perangkat pakaian, pakaian dalam bersih dan scjumlah ang. Delapan hari kemudian datanglah seorang asisten dari Jepara, yang setclah mengadakan perundingan yang tiada hentinya dengan pihak Jawa, berhasil membawa serta para awak kapal yang terdampar itu. Bersama-sama mereka menempuh perjalanan melalui Juwana ke ‘Jepara, dan tiba di sana pada tanggal 23 September 1658 (Naber, "Sloep”)- 129 ia muncul di pesisir. Halini baru disebut dalam surat keluar tanggal 5 Maret 1655 (K.A. No. 782, him. 8). Dari laporan itu ternyatalah bahwa Pemerintah Kompeni mendapat berita tentang Tumenggung Pati yang telah dikeluarkan dari dinas, dan ”tempatnya digantikan olch dua orang yang lihai dan tidak dapat dipercaya, Ngabei Martanata dan Wangsaraja”. Dengan demiki- an, dua orang ini memang sudah dikenal. Dalam laporan ‘Truijtman dua tahun kemudian, Ngabei Martanata disebutkan sebagai orang yang berpura-pura dan pandai menipu ”dan sama sekali tidak bersahabat dengan Kompeni”. Sebaliknya, tidak pula tinggi penghargaan Kompeni terhadap dirinya. Tentang seorang abdi Kompeni lainnya yang cakap, yaitu Evert Michielsen, Ngabei Martanata menulis bahwa orang itu tidak becus, "kami tidak senang padanya” (Daghregister, 27 Juni 1657, him. 199) Sekarang marilah kita tinjau dengan cara bagaimana para penguasa pesisir berusaha memenuhi segala kehendak Raja. Ternyatalah bahwa ini mengenai soal keuangan. Sunan Mangkurat I akan tetap dikenal para abdinya sebagai orang yang kikir. X-—5 Tekanan keuangan atas rakyat, 1656-1659 Desentralisasi di Kerajaan Mataram tidak berarti meringankan beban yang harus dipikul rakyat. Sebaliknyalah! Telah diumumkan segera bahwa orang yang paling baik adalah yang berhasil_mengumpulkan hasil terbanyak (Daghregister, 7 Desember 1656, him. 31). Terutama yang disenangi Sri Baginda adalah besi, yang diperlukannya untuk membuat keris, tombak, senapan, dan kendaraan laut. Tumenggung Pati bahkan akan mengirimkan perahu-perahu ke Batavia untuk mengumpulkan besi sebanyak-banyaknya. Tetapi dalam waktu singkat gairah ini menjadi buyar kembali (Laporan Truijtman, K.A. No. 1110, him. 785), walaupun gairah untuk emas masih tetap besar. Kepala dacrah Jepara, Ngabei Martanata, menempuh "segala jalan, babkan kekerasan pun, untuk menggaruk wang”. Dialah pula pertama. tama yang diminta atasannya untuk mempertanggungjawabkan persoal- an uang. Oleh karena itu, ia tidak pilih bulu siapa yang akan menjadi korbannya, entah rakyatnya sendiri, warga asing seperti orang-orang Cina, bahkan abli waris orang-orang yang sudah meninggal pun menjadi sasarannya. Dengan demikian, orang setiap hari mendengar “tidak lain dari berita tentang tindakan penangkapan, pembelengguan, pemerasan, dan lain-lain perbuatan tirani” (Daghregister, 7 Desember 1656, him, 34), Bahkan tiga tahun kemudian ada berita tentang pajak atas setiap kepala penduduk, yang harus ditagih setelah Garebek Maulud (27 130 November 1659), yakni: 74 ringgit bagi penduduk biasa, 4 bagi pemilik tanah, dan bagi mereka yang hidup dari usaha pelayaran 3 ringgit (Daghregister, 13 November 1659). Pajak yang akan dijalankan ini membuat para penduduk pantai sesak napas, tetapi di Mataram yang dipikirkan hanyalah ”cara-cara mengumpulkan uang bagi Sunan”. ‘Tetapi Raja menyadari tidak mungkin akan memperolch kekayaan besar hanya dengan membebani warganya yang miskin itu dengan pajak yang berat. Harus ada jalan yang lebih tepat untuk mengumpulkan banyak uang, seperti jalan yang ditempuh orang Belanda, Maka, timbul berbagai rencana pada Sunan untuk melakukan perdagangan luar negeri dengan bantuan para pejabat tinggi Percobaan pertama ke arah itu adalah melalui sistem monopoli dagang. X-—6 Monopoli empat penguasa pesisir, 1657 Anch juga mendengar bahwa ”karena iri hati para pejabat tinggi di pesisir dan daerah sekitarnya itu, maka terjadi banyak hambatan tethadap pembukaan pelabuhan” (Daghregister, 26 Februari 1657). Dan sekali lagi dikemukakan bahwa kelambatan pembukaan pelabuhan disebabkan oleh “iri hati para penguasa pesisir” (Daghregister, 6 Maret 1657, him. 114). Raja tidak menghendaki para penguasa pesisir itu, “begitu. berselisih sehingga pembukaan pelabuhan menjadi tidak lancar’’. Apa yang dimaksudkan dengan bersatu hati, atau kesepakatan di antara para penguasa pesisir yang dikehendaki itu, dapat disimpulkan dari perbuatan mereka sehari-hari, yaitu saling memfitnah mengenai penyerahan beras dan lain sebagainya ke Batavia yang terlarang (Daghregister, 3 Maret 1657, him. 111). Sunan menghendaki agar dalam masalah-masalah perdagangan mereka mencapai kesepakatan, atau dengan kata lain menjalankan monopoli. Hanya setelah para penguasa mencapai kesepakatan tentang masalah monopoli dagang barulah pelabuhan-pelabuhan boleh dibuka. Ketika Truijtman sebelum tanggal | April 1657 tiba di Jepara, semua pelabuhan laut telah dibuka. Di mana-mana ia disambut dengan baik tcrutama oleh Tumenggung Pati. Ia dapat berbicara dengan tumeng- gung tersebut di dalem Jepara, juga dengan tiga penguasa pantai lainnya, dan empat abdi yang mendapat kepercayaan Sunan (Daghregister, 17 April 1657). Atas usul Tumenggung Pati” ia pun berkunjung ke rumahnya di Pati. Maksud segala keramahan dan kebaikan hatinya ini adalah agar selanjutnya segala sesuatu yang akan diangkut dari sini ke Batavia “hanya dibeli dari tumenggung tersebut”. Ini, menurut 131 ‘Truijtman, merupakan sesuatu yang baru (Laporan Truijtman, K.A. No. 1110, him. 785). Tetapi usul ini oleh Truijtman “karena terlalu banyak berbau monopoli . . . tidak dapat diterima”, apalagi setelah mendengar tentang harga-harga mati yang ditentukan. Harga-harga ini dibanding- kan dengan yang lama, adalah sebagai berikut: beras, dari 15 menjadi 30 ra (rial? ed.), per koyan*), gula hitam, dari 7 atau 7Y menjadi 15 per 10 pikul, gula putih, dari 2% atau 3 menjadi 4 ringgit per pikul, papan, dari 15 atau 20 menjadi 30 ringgit per 100 potong, balok, dari 20 atau 22 menjadi 30 rial per 100 potong, garam, dari 5 menjadi 15 ra per koyan Ini merupakan kenaikan 30% sampai 200%. Karena itu, Truijtman lalu bersandiwara seolah-olah mereka *mem- permainkan dia” dan mengancam akan pergi. Setelah banyak berdebat, keempat penguasa pesisir itu pulang tanpa hasil "dengan perjanjian untuk merundingkan urusan itu lebih lanjut”. Atas undangan Tumenggung Pati, Truijtman berkunjung lagi ke Pati, dengan gambaran akan mendapat kayu dan garam. Di sana ia ”disambut dengan ramah sekali” (Daghregister, 27 April 1657). Bahkan ia boleh menginap di dalem. Daftar harga tersebut di atas, demikian disampaikan padanya, memang ditetapkan olch para penguasa pesisir, tetapi tidak termasuk hasil perkayuan yang "kebanyakan terdapat di daerahnya dan juga di daerah kawannya, Sourianata”. Karena itu, Tumenggung berjanji tidak akan menaikkan harga kayu. Ini merupakan jebolan pertama dalam benteng monopoli. Dalam waktu singkat ternyata, dan ini menyenangkan Truijtman, bahwa empat penguasa pesisir itu tidak mempunyai kata sepakat tentang masalah monopoli (Daghregister, 27 April 1657, him. 150-151). Sesungguhnya monopoli itu sama sekali tidak bethasil. Dan ini tidak akan membawa pengaruh baik terhadap kedudukan mereka di istana. Ketika Truijtman pada tanggal 26 Juni 1657 kembali ke Batavia dan menyampaikan laporannya maka nyata dari laporan tersebut bahwa bukan hanya pelabuhan-pelabuhan telah dibuka kembali, melainkan juga bahwa ”segala yang baru yang ingin dilaksanakan oleh empat penguasa pesisir itu, sama sekali tidak berjalan dan perdagangan berlangsung kembali seperti sediakala” (Daghregister).!2 * — koyan = 27~30 pikul, + 1.650-2.000 kg. 12 Betapa hausnya orang akan uang ketika itu, temyata dari perselisihan yang berlangsung tidak lama mengenai peninggalan orang Cina. Oleh seorang Cina, 132 X-—7 Perdagangan terlarang, 1657-1658 Setelah gagalnya monopoli dagang itu, Sunan menempuhjalan lain: ia menyerahkan uang kepada para penguasa pesisimya supaya dengan jalan demikian dapat memperoleh keuntungan. Pada tanggal 24 Juni tahun 1657 utusan-utusan dari Mataram yang memanggil empat penguasa pesisir itu tiba di Semarang dan menyampai- kan kepada masing-masing ang 10.000 rial "untuk diputar schingga mereka dapat memberi Sri Baginda sebagai gantinya 20.000 rial dalam waktu satu tahun” (Daghregister, 20 Juli 1657). Dapat dibayangkan betapa perintah yang sulit ini menempatkan kalangan bangsawan Jawa yang tidak berbakat komersial itu dalam kedudukan yang sangat musykil. Dan dapat dimengerti pula apabila mereka akan menempuh segala cara untuk dapat memenuhi tuntutan gusti mereka, tetapi tidak sanggup atau tidak mau memilih jalan yang tepat. Demikianlah seorang Cina di Juwana dikatakan telah menyampai- kan isapan jempol kepada para penguasa pesisir bahwa perdagangan "di timur ... dan juga di daerah timah Malaka dapat menghasilkan keuntungan yang luar biasa”. Tetapi ada suatu kesulitan sehubungan dengan itu: daerah-daerah tersebut oleh Kompeni dianggap sebagai daerah terlarang bagi orang Jawa. Karena itu, empat penguasa pesisir tersebut meminta izin kepada Kompeni untuk berdagang pada musim kemarau di daerah timah, Malaka, dan pada musim hujan di Ambon (Daghregister, 25 Agustus 1657). Tumenggung Pati minta tiga surat jalan, dan izin untuk tiga kapal agar "dapat memasuki dacrah-daerah terlarang itu, yakni Banda dan Ambon, dan juga tempat-tempat ... di bawah kekuasaan orang Aceh” (Daghregister, 3 September 1657, him. 253). Ngabei Wangsaraja dari Semarang juga minta yang sama untuk lima kapal dengan tujuan Maluku Selatan. Rupanya para penguasa tidak menantikan lagi jawaban yang tidak ‘Tumenggung Pati diberi keterangan yang salah mengenai ketentuan Kompeni tentang hal itu. Gubernur Jendeval yang lama dikatakan telah "membebaskan’” warisan orang Gina yang meninggal di Batavia. Tetapi sejak tindakan Maetsuyker tahun 1653 » warisan itu tidak dibebaskan lagi”. Karena itu, Tumenggung Pati meminta "apabila ia bersahabat dengan kami . . . sampaikanlah segala warisan itu kepada kami, karena_ di kota kami dan di Batavia dan di semua tempat perdagangan terdapat banyak orang, Gina ... karena itu kami ingin ... mengembalikan semua”. Setelah menerima keterangan yang tepat dari Pemerintah Kompeni, maka Tumenggung Pati "minta maaf sebesar-besarnya” tentang fitnah ini. Ia berkata bahwa semua itu bohong dan minta dianggap seolah-olah ia tidak pernah menulis tentang hal itu (Daghregister, 10 November 1657, him. 308). Orang Cina yang bersalah karena melancarkan fitna itu meninggal pada awal bulan November 1657 (Daghregister, 17 November 1657, him. 314). 133 kunjung tiba dari Pemerintah Kompeni karena pada tanggal | September 1657 Residen memberitakan bahwa mereka sudah mulai berlayar tanpa surat jalan ke daerah-daerah timah”. Yang di Semarang sudah mengirimkan satu kapal, dan yang dari Juwana (Tumenggung Pati) dua kapal (Konling), dengan uang untuk membeli bahan pakaian. Seorang Cina telah memperdaya mercka dengan memberi keterangan bahwa Malaka bisa dilalui tanpa surat jalan (Daghregister, 8 September 1657). Bahwa usaha ini dilakukan di luar kemauannya nyata dari penjelasan Tumenggung Pati bahwa ia ”terpaksa melakukannya karena penguasa lainnya juga melakukannya”. Gustinya akan memarahinya jika seorang penguasa lain dapat mencapai hasil yang lebih banyak daripadanya. Hasil perjalanan-perjalanan dagang yang terlarang ini tidak diberi- takan. Mungkin tidak banyak, karena para penguasa Jepara dan Pati pada akhir tahun 1658 minta surat jalan kepada Pemerintah Kompeni untuk Ambon dan Queda (Kedah). (Daghregister, 9 Januari 1659). Permohonan ini sama sekali ditolak (Realia, keputusan 9 Januari 1659, him. 4). Dalam hal ini sikap Batavia sangat tegas. ‘Tetapi gairah dagang orang Jawa bukan hanya terbatas sampai ke Nusantara. Mereka juga berhasrat berdagang ke India, tempat asal pakaian yang indah-indah. X-8 Perjalanan dagang dengan bantuan Barat, 1657—1659 Karena orang Jawa tidak bisa sampai ke Koromandel atas usahanya sendiri, maka diminta bantuan orang Barat. Baru pada tahun 1651 diberikan surat jalan kepada seorang abdi Kepala Daerah Astrasiapa, supaya dapat berlayar dengan kapal Belanda ke Koromandel. Setelah penutupan pelabuhan yang pertama, cara seperti itu lebih banyak diterapkan. Dalam sebuah tulisan kepada Gubernur Jenderal, Tumenggung Pati memberitahukan bahwa ia diperintahkan Sunan untuk mengirim scorang utusan ke pantai Koromandel (Daghregister, 3 Maret 1657, him. 112). [a minta tempat di kapal Kompeni. Ketika permintaan itu kelihatannya tidak dihiraukan, maka tumenggung tersebut beberapa bulan kemudian dengan bijaksana mengingatkan kembali hal itu. Utusan yang akan dikirim itu, yang rupanya adalah seorang dari pantai utara Jawa, harus menghadap dulu kepada Raja. Apabila ia sudah kembali ke Juwana, maka Gubernur Jenderal akan diberi tahu (Daghregister, 27 Juni 1657). Karena Pemerintah Kompeni tidak mau menangkap cara mengingat- kan kembali itu secara positif, maka Tumenggung Pati minta kepada residen Jepara supaya ia diberi tahu kalau ada kapal yang menuju pantai. Evert Michielsen menjawab bahwa kapal-kapal sudah berangkat. 134 »Sementara mengharapkan bahwa masalahnya ... akan dilupakan” (Daghregister, 8 September 1657, him. 259). Tumenggung tersebut pasti tidak mengulangi permohonannya untuk keempat kalinya, karena pada tahun berikutnya orang-orang Jawa sudah mulai bekerja sama dengan Inggris. Pada tahun 1658 orang-orang Sunan kiranya sudah berangkat ke Koromandel dengan sebuah kapal Inggris. Terbukti dari berita dalam Daghregister tertanggal 11 Juli 1659, yang menyebutkan bahwa pada tanggal 14 atau 15 Juni yang lalu tiba 3.000 rial dari Sunan "untuk mengirimkan orang-orangnya dengan orang Ingeris tahun ini sekali lagi ke Pantai (Koromandel) untuk membeli bahan tekstil”. Di antara orang-orang yang berangkat itu rupanya terdapat sekretaris Ngabei Martanata karena ia hanya bersama tiga orang lain berangkat ke pantai, walaupun kapten kapal berjanji akan membawa dua belas orang (Daghregister, 21 September 1659, hlm. 196). Karena itu, orang Jawa minta kepada Kompeni untuk membawa empat orang lagi dengan sebuah kapal Belanda (Daghregister, 20 Agustus 1659). Permintaan ini pun tidak dipenuhi: musim sudah lewat, dan sementara tidak ada kapal yang pergi ke sana. Dibandingkan dengan penolakan Belanda itu, maka bantuan orang Inggris mencolok sekali. Tidak mengherankan bahwa mereka diizinkan membangun lagi sebuah loji di Jepara (Daghregister, 21 Juni 1659). Mereka sudah berdagang di sana, menjual 15 tumpuk pakaian kepada kepala daerah, yang cepat-cepat menjualnya lagi, dan setelah itu barulah membayarnya. Loji Inggris lama, yang sudah lama kehilangan pagarnya karena dicuri olch penduduk sckitar, diberi pagar baru atas perintah Ngabei Martanata. Juga karena sudah lama kosong, bangunan yang dalam keadaan sangat rusak itu akan diperbaiki (Daghregister, 7 Oktober 1659). Karena pelabuhan ditutup pada masa 1660-1662, rencana ini mungkin untuk sementara tidak dapat dilaksanakan. Suatu persamaan dengan pelayaran ke Koromandel dengan bantuan Inggris itu adalah perjanjian antara Tumenggung Pati dan orangkaya Bulan. Pastilah ia orangkaya dari Ambon bernama demikian, yang sering disebut dalam Valentijn (Valentijn, Oud en Nieuzo, jil. II, him. ii, 149, 150, 172, 210, 219). Pada tahun 1645 ia diangkat sebagai Nusatapi; ia meninggal tahun 1662. Walaupun dicurigai telah mengadakan kerja sama dengan para pemberontak Ambon, ia tidak ditindak Kompeni karena pengaruhnya yang besar. Seorang tokoh yang meragukan jadinya. Orangkaya Bulan ini menyewa dari Tumenggung Pati untuk 200 ringgit sebuah kapal yang menurut perjanjian “akan diperlengkapi sebagai 135 kapal kici”. Setelah itu ia akan membawanya ke Ambon, dengan syarat masing-masing akan mengisinya separuh muatan. Orangkaya Bulan itu menjelang akhir tahun 1659 kembali ke Ambon tanpa singgah di Juwana. Tetapi ia tiba di Jepara dan meninggalkan kapal itu di sana. Sulit bagi Tumenggung Pati untuk mengambil kapal itu, karena musuh bebuyutannya, Ngabei Martanata, berkuasa di daerah ini (Daghregister, 15 Desember 1659). ‘Juga percobaan berlayar menyusup ke daerah Maluku yang terlarang menimbulkan kesulitan. Menarik juga bagaimana kapal yang dilengkapi sebagai kici itu sekarang memainkan peranannya. Bagi orang Jawa kapal-kapal ini merupakan langkah pertama yang sulit ke arah pelayaran samudra. X-9 Pembangunan kapal-kapal kici, 1652-1659 Pembangunan kapal, yang dimulai orang Belanda pada tahun 1651 di pantai utara Jawa, cepat menarik minat orang Jawa untuk menirunya. Sudah pada tahun 1652 orang mendengar tentang dua kapal kici (jack?) yang sedang dibangun. Ini dimaksud Sunan untuk pelayaran ke Taiwan atau Koromandel (H.R., 11 Juli 1652, dalam Brascamp, ”Houtleveran- ties”, TBG LX, him. 155). Karena ada tenaga kerja yang pernah turut serta dalam pembangunan kapal-kapal kici Kompeni, maka orang Jawa mengira bisa juga membangunnya sendiri. Dua tahun kemudian rupanya belum tercapai kemajuan yang nyata, dan dimintalah kepada Kompeni untuk meminjamkan scorang tukang kayu kapal. Karena Batavia tidak ingin orang Jawa menjadi terlalu pandai, maka permintaan itu ditolak dengan alasan kekurangan tenaga (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 151). Penolakan ini tidak mengecilkan hati orang Jawa. Kepala daerah Ngabei Martanata memegang pimpin- an. Dua kapal mulai dibangun, tetapi cara membangunnya salah sama sekali. Ketika diluncurkan ke air, kapal yang besar roboh sebelum tiba di air, dan pecah pada satu sisinya (Laporan Truijtman, K.A. No. 1110, him. 785 dan seterusnya). Kapal yang lain berhasil meluncur ke air, tetapi bentuknya sedemikian rupa sehingga orang-orang Belanda itu memberi peringatan keras agar tidak berlayar ke Koromandel dengan kapal seperti itu. Akan tetapi atas perintah atasan, orang-orang Jawa itu melanjutkan pekerjaannya. Sedikitnya sudah selesai satu kapal, tetapi belum ada juru mudi. Tumenggung Pati, si Belanda” itu diperintahkan memintanya dari pihak Belanda (Daghregister, 3 Maret 1657). Ngabei Martanata mengulangi permintaan itu dengan lebih panjang lebar ”karena laut luas dan orang Jawa tidak dapat mengarunginya”. Karena itu, ia minta 136 ahli-abli darat dan laut, “dan seorang juru mudi Belanda untuk setiap kapal”, karena "demikianlah yang diperintahkan Sunan” (Daghregister, 27 Juni 1657). Juga diminta empat jangkar (Daghregister, 27 April 1657), yang dipenuhi (Daghregister, 22 November 1657). Apakah kapal kici Sunan ini pada masa 1657-1658 meninggalkan Pulau Jawa masih sangat diragukan, Memang pernah kapal tersebut pergi ke luar Jawa pada tahun 1659 menuju ke Makassar.! Dengan Makassar, Jawa berusaha mengadakan kerja sama di bidang perda- gangan. X-—10 Persamaan kepentingan dengan Makassar, 1659 Kerja sama antara Mataram dan Makassar di bidang perdagangan merupakan hasil kerja utusan Koja Ibrahim, karena, demikian dibe- ritakan, “dialah yang menjadi otak dari semuanya itu” (Daghregister, 26 April 1659). Penguasa Jepara, Ngabei Martanata, pasti juga sangat berperanan dalam hal ini karena kepadanyalah Sunan kemudian menyatakan penyesalannya atas hasil-hasilnya yang tidak baik. Mungkin hubungan itu terjalin sejak ada rencana membawa kapal kici Sunan ke pantai Koromandel, ”akibat cakap angin Koja [brahim dan orang-orang, Portugis mengenai untung besar. . . yang membuat mata mereka hijau”. ‘Tetapi mereka kemudian berubah pikiran, dan mengirimkan kapal itu ke Sulawesi untuk ”’menjual di Makassar, atau berlayar menuju Manila”. Keberangkatan kapal kici kerajaan ini pun tidak terlepas dari gangguan. Sebelum tanggal 8 Januari 1659 ada perintah Sunan untuk mempersiapkan kapalnya itu dengan muatan + 140 ton, guna mengada- kan pelayaran melalui Makassar ke Manila (Daghregister, 28 Februari 1659, hlm. 38). ’"Ulama yang ikut serta, Koja Ibrahim dari Makassar itu”, telah *membayangkan keuntungan-keuntungan besar”” mengenai perjalanan itu. Karena itu, ia turut serta dengan utusan Makassar ketika berkunjung ke istana Mataram, dan secara pribadi menimbulkan gairah pada Sunan untuk mengadakan ckspedisi. Baru pada akhir bulan Februari kapal itu berangkat, dengan membawa utusan Makassar (Daghregister, 26 April 1659, him. 79). Kapal itu membawa sebagian muatan barang dagangan Jawa dan sebagai penumpang, kecuali para utusan Sunan, juga terdapat dua tukang emas, yang mungkin diminta oleh raja Makassar. Mungkin juga turut serta beberapa orang Portugis 13 Sunan juga merencanakan membangun sebuah kapal galei, tetapi tidak ada bahan yang diperlukan, seperti tambang, layar, jangkar, dan baut-baut besi. Untuk itu juga dimintakan bantuan dari Gubernur Jenderal (Daghregister, 27 Juni 1657, him. 198-199). 137 yang dapat mengemudikan kapal aneh ini dengan lebih baik daripada orang-orang Jawa itu. Hubungan antara kedua bangsa ini pada waktu itu jauh dari buruk (Daghregister, 28 Februari 1659, him. 37). Tetapi kerja sama mereka di bidang perdagangan sama sekali tidak berhasil. Sckalipun Koja Ibrahim tidak sampai di Makassar, karena musim kemarau yang scbentar lagi akan datang, utusan-utusan Makassar lainnya bisa tiba di kota itu, berikut kapal Jawa yang menyertai mereka. Penjualan kapal kici dan muatannya itu banyak sekali menimbulkan kesulitan. Para awak kapal harus tinggal di Makassar selama Koja Ibrahim belum tiba kembali, mungkin sebagai sandera. Setelah itu kakak Ngabei Martanata memberikan sebuah kapal berikut awaknya kepada Koja Ibrahim dan menyuruhnya segera berangkat. Tetapi, katanya, hal itu tidak mungkin (Daghregister, 11 Juli 1659). Barulah sekitar tanggal 24 November 1659 ia berangkat, setelah musim hujan mulai. Keadaan di Makassar tidak menyenangkan para utusan Jawa. Mereka di sana tidak "diperlakukan sesuai dengan pangkat mereka . . . dan tidak pula dihibur selayaknya” (Daghregister, 21 September 1659). Mereka pun tidak boleh berlayar ke Manila, sehingga kemudian harus membawa kembali sebagian besar barang dagangan mereka. Bersama mereka turut pula kembali dua orang tukang emas. Sunan bertanya kepada mereka, *penghormatan apakah yang diberikan (kepada mereka) ... dan hadiah-hadiah apa yang dibawa.” Mereka menjawab bahwa mereka *harus bekerja untuk putra-putra mahkota di sana atas biaya sendiri, tanpa diberi sedikit pun imbalan schingga apa yang (mereka) bawa serta harus dijual untuk makan”. Para utusan juga ”tidak mendapat penghormatan sepantasnya”, dan tidak ada pula perutusan balasan. Setelah itu, Sunan konon menjadi sangat marah terhadap Ngabei Martanata. Bukan hanya di bidang politik, melainkan juga di bidang ekonomi, kerja sama antara Makassar dan Mataram telah mencapai kegagalan. X-11 Pembelian kuda bersama, 1657—1658 Karena sekarang tiada lagi perutusan Belanda yang dikirim ke kota istana, maka menjadi tugas empat penguasa pesisir itulah untuk mengisi kandang kuda Raja dengan kuda-kuda baru. Dari tanggal 8 Agustus sampai 5 September 1657 Pemerintah Kompeni menerima, dari setiap penguasa pantai, dua kapal yang membawa utusan-utusan dan surat-surat. Dalam surat itu diminta kuda yang menurut keterangan mereka diperintah Sunan harus mereka beli (Demak: Daghregister, 8 Agustus 1657; Jepara: Daghregister, 25 Agustus 1657; Pati: Daghregister, 3 September 1657; Semarang: Daghregister, 5 138 September 1657). Kepada masing-masing, permintaan itu dipenuhi (Demak: Daghregister, 18 Agustus 1657; Jepara: Daghregister, 8 September 1657; Pati: Daghregister, 26 September 1657; Semarang: Daghregister, 1 Oktober 1657). Kuda yang telah dibeli itu semuanya tidak memenuhi selera Raja. Menurut penerjemah Michael Zeeburgh, Sunan tidak tahu-menahu- tentang pesanan kuda itu (Daghregister, 4 Desember 1657). Karena sementara itu seckor di antaranya mati, maka tiga ekor lainnya dibawa ke keraton. Mcnurut surat Ngabei Martanata (Daghregister, 22 November 1657), Sunan bertanya, "Dari manakah kuda-kuda ini?” dan dijawab- nya, "Dari Batavia, hadiah dari Gubernur Jenderal dan pembcsar- pembesar Batavia lainnya.” Lalu Sunan melanjutkan, ”Aku tidak senang dengan kuda-kuda ini.” Para abdi menjawab kembali, Tidak ada kuda di Batavia yang lebih baik dari tiga ckor kuda ini.” Tetapi Sunan berkata dengan marah, "’Tetapi aku tidak suka; akan kukirim sendiri ke Batavia utusan untuk mencari kuda.” Lalu dikirimkan cnam orang lurah kepercayaan Sunan, dan yang telah biasa merawat kudanya. Nama mereka, sekalipun tiga kali dimuat dalam Daghregister (Daghregister, 17 November dan 22 November 1657), terdapat sama saja dalam dua berita di antaranya: Citra, Ujos atau Beja, Asta, Nala, Naya, dan Sutakarti. Berita ketiga menyebutkan, kecuali Bedionw (Beja; ed.) dan Nala, ada empat nama lainnya: Wangsagati, Sarangga, Babakaiya Kiaffa(?), dan Nalagati. Ngabei Martanata, untuk "membuat para pekatik itu tampak lebih berwibawa dan juga untuk membantu mereka”, diperintahkannya ”syahbandarnya yang tua, Astranaya” agar turutserta, dan salah seorang abdinya, Nalapada, yang "bisa berbahasa Portugis dan Belanda”: sedangkan Tumenggung Pati memperbantukan kepada rombongan ini seorang syahbandar dari Juwana, Wangsataka (Daghregister, 17 Novem ber 1657). ; Lima hari kemudian datang pula ”utusan kilat” dari empat penguasa pesisir. Dua orang di antara mereka, yaitu yang dari Jepara dan Pati, menyampaikan permintaan tertulis junjungan mereka, sedangkan yang Jain pesan lisan belaka. Yang dari Demak bahkan membawa kembali kuda yang telah diterimanya karena olch Sunan dianggap terlalu kecil (Daghregister, 20 November 1659). Pemerintah Kompeni sudah tentu mengizinkan cnam ahli kuda Mataram itu melihat-lihat kandang kudanya, sckalipun kali ini tidak banyak kuda terlihat di dalamnya. Ini disebabkan olch banyaknya yang mati mendadak yang terjadi pada hari Natal tahun 1657 (Daghregister). Tiga hari kemudian, sudah 20 ekor kuda mati (Daghregister). Mungkin 139 karena itulah orang-orang Jawa tidak mendapatkan seckor kuda pun. Dan mungkin inilah pula sebabnya, beberapa bulan kemudian, ada permintaan lagi akan kuda, yang tentu saja sia-sia belaka. Empat penguasa pesisir masing-masing mengirimkan pada bulan Juli 1658 *scorang pembawa berita kilat” ke Batavia dengan "permintaan .. . supaya kepada masing-masing dapat dijual seckor kuda Persia yang bagus dan patut dipersembahkan kepada Sunan” (Realia, keputusan 15 Juni 1658, him. 69). Permintaan itu ditolak "karena kuda Kompeni . . banyak yang mati”. Mereka hendaknya menunggu sampai kapal-kapal tiba dari Persia, yang pasti akan membawa kuda. Karena kapal kici Mars tidak lama kemudian datang dengan membawa cmpat ckor kuda, dan berita tentang ini terdengar oleh utusan Semarang yang belum pulang kembali, maka mereka mendesak untuk mendapat- kannya scekor. Kompeni berpendapat bahwa permintaan mereka ini tidak dapat ditolak, supaya para pemohon merasa dirinya semakin terikat kepada Kompeni. Jadi, mercka dipersilakan memilih seckor kuda, dengan membayar 300 rial. X-—12 Hadiah-hadiah istimewa, 1656—1659 Menurut Tumenggung Pati, di antara para penguasa pesisir itu dialah yang terbaik yang dapat mencapai hasil terbanyak” (Daghregister, 7 Desember 1656). Di samping itu, juga dengan hadiah-hadiah yang langka sckali atau yang luar biasa, mercka mencoba mengambil hati gusti mereka. Tentang barang-barang seperti itu sudah tentu Kompenilah merupakan leveransit yang tepat. Demikianlah Tumenggung Pati, tabu bahwa ia akan dipanggil ke Istana, meminta “pakaian, beludru, bahan-bahan laken”, juga empat buah “lentera kaca berwarna-warni” (buatan Cina?) seharga 2.000 rial. Ia berjanji membayarnya dengan beras, garam, dan barang-barang kayu. - Bersamaan dengan itu, Pemerintah Kompeni menerima permintaan tertulis dari saingan Pati, yaitu Ngabei Martanata, untuk seckor ayam jago "karena Sunan menginginkan seckor jago itu, Martanata menawar- kan 1.300 buah “bunga pilihan”; sebagai gantinya; "dan janganlah menolaknya, karena tawarannya itu seolah-olah merupakan sebuah taman bunga” (Daghregister, 8 September 1657, him. 259-261). Betapa berharganya barang-barang yang aneh itu ternyata dari hal berikut ini. Pada tanggal 23 Desember 1658 muncul Ngabei Martanata "dengan segenap iringannya” di loji Belanda, dan disambut serta diberi perlakuan yang selayaknya (Daghregister, 10 Januari 1659). 140 Menurut kebiasaan Jawa, pembesar itu tidak segera memberitahukan maksud kedatangannya, tetapi menjclaskan bahwa ia datang atas perintah Sunan “untuk meninjau loji, dan bagaimana keadaan orang- orang Belanda di sana”. Penjabat Residen Evert van Hoorn segera mengajak melihat-lihat segalanya, tetapi ditolak. Residen lalu mengam- bil kesimpulan yang agak terlalu cepat bahwa ”yang dipentingkan tamu itu hanyalah hadiah menyambut kedatangannya saja, dan ini sudah dilakukannya menurut kebiasaan lama” (Daghregister, 28 Februari 1659, him. 37-38). Tetapi ternyata bukan itu saja, karena kemudian Kiai Martanata memberitahukan bahwa pada hari sebelumnya ia menerima surat dari Sunan "yang dengan sangat, minta dari dia seckor unta dan seckor bocrom lasker”. Jangankah kami, Martanata itu pun tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan jenis hewan tersebut belakangan itu. Tetapi ia mohon supaya dipesankan di Batavia. Didesaknya supaya permintaan itu dipenuhi seccpatnya, karena ia ingin membawanya ke Istana. Juga Van Hoorn menyatakan bahwa ia pun tidak pernah melihat jenis hewan seperti itu, dan kemudian berangkatlah para tamu itu. Surat Van Hoorn tentang hal ini dibawa oleh para Lurah Sabdawang- sa dan Jiwa ke Batavia, berikut sebuah surat dalam bahasa Melayu dari Martanata. Surat itu pun memohon supaya kepadanya dikirimkan ”beberapa ekor hewan yang bernama laskaer dan beberapa ekor unta””. Ia juga ingin membeli bebcrapa gobar yang patut dipersembahkan kepada Sunan. Sebagai pembayaran di muka sudah dikirimkannya beras tiga koyan. Pada tanggal 15 Maret 1659 (Daghregister) Kompeni menjawab bahwa unta tidak ada dalam persediaan, tetapi dalam waktu 3 atau 4 hari pedagang Evert Michielsen akan mengadakan perjalanan ke Jepara. Ia akan membawa "2 pasang lembu dari Surat berikut keretanya”. Apakah jenis hewan seperti ini masih jarang ditemukan di Jawa? Michielsen memang kembali pada tanggal 19 Maret 1659 (Daghregister) ke tempatnya, dan di sana menemukan penggantinya telah meninggal karena terlalu banyak menikmati minuman keras (Daghregister, 26 April 1659). Sebelum meninggal, petugas yang tidak becus ini "memperlaku- kan dengan buruk sekali” utusan Sunan yang dikirimkan untuk menerima hewan-hewan itu. Sebaliknya, Michielsen segera memberi- tahukan secara tertulis kepada para penguasa pesisir yang ada di kota istana bahwa ia telah kembali, dan membawa serta empat ckor “Iembu” dari Surat berikut kereta-keretanya untuk Sunan. Sunan dapat mengi- rimkan utusannya untuk mengambil hewan itu. Kemudian datang beberapa utusan Sunan untuk mengambil hewan berikut kercta-kereta 141 itu yang sebelumnya dilapisi dengan kain laken merah oleh Michielsen. Mercka bertanya apakah ada hadiah yang lain lagi, karena mengira bahwa lembu dan keretanya itu baru mcrupakan “hadiah yang formal” untuk Sunan. Temyata, bahwa hadiah itu diterima dengan baik sekali. Sebab, pada tanggal 11 Juli 1659 (Daghregister) Pemerintah Kompeni mencrima surat dari Ngabei Martanata, yang memberitakan bahwa hadiah tersebut sudah diterima di Istana. Ia telah menyampaikannya sendiri kepada Raja, yang kelihatan sangat gembira. Suan bersama permaisuri naik kereta yang baru diterima itu sampai di Segarayasa”. Sctelah itu Raja * minta ”supaya diberikan lagi beberapa ekor hewan yang seperti sapi itu” Ia pun minta seckor kuda yang baik dan benang emas dari Surat. Scbagai hadiah balasan, Ngabei Martanata minta kepada kakaknya, Sabda- wangsa, untuk menyampaikan beras sebanyak 2Y koyan dan seckor kijang. Demikianlah, kereta-kereta yang ditarik hewan seperti sapi itu disenangi Raja, dan meningkatkan rasa sayang Raja kepada Ngabei Martanata. Konon ia menuntut kehormatan menyampaikan hadiah tersebut. Betapa berkuasanya ia pada masa itu ternyata dari hukuman yang dijalankannya sendiri atas rekannya, Ngabei Wangsaraja, kepala daerah Semarang, yang akan diceritakan nanti. Hadiah-hadiah yang menyenangkan, dan diperoleh dengan perantara- an Kompeni itu, sesaat dapat memperbaiki suasana di Istana. Namun, pada umumnya kedudukan empat penguasa pesisir itu scmakin lama semakin gawat akibat gagalnya rencana-rencana ckonomi mercka. Dan kepada siapakah pertama-tama mercka akan minta bantuan kalau tidak kepada Kompeni yang kaya raya itu? Lagi pula, wakilnya pun mudah dapat dijumpai, karena ia tinggal di Jepara. Hal ini akan diutarakan dalam halaman-halaman berikut. X-13 Kekurangan uang para penguasa pesisir, 1659 Segi-segi yang kurang menguntungkan dari sistem baru itu mulai tampak ketika saatnya tiba untuk memberi pertanggungjawaban. Empat penguasa pesisir ternyata tidak dapat membayar sesuatu pun, atau, jika dapat, hanya sedikit. Karenanya, mereka harus meminjam uang. Dan dari siapa lagi kalau tidak dari Kompeni yang di mata mereka kaya raya itu? Yang kelihatan paling parah keadaan keuangannya adalah Tumeng- gung Pati dan Ngabei Martanata dari Jepara. Sekitar bulan Puasa (bulan April—Mei tahun 1659), Sunan segera menuntut dari yang tersebut pertama ini semua hasil pendapatan dan uang tol dari Pati. Karenanya, Tumenggung Pati minta kepada Kompeni 142 untuk meminjaminya uang 20.000 rial; °yang akan digunakan untuk menyelamatkan diri saya”, tulisnya. Apabila ia tidak diberi uang itu, maka ada kemungkinan ia akan diberhentikan dari jabatannya dan seluruh milik serta harta bendanya akan disita. Karena Sunan *menghendaki uang itu amat segera”. Sekalipun permintaannya itu disampaikan oleh kakaknya, Wirawangsa, Kompeni menolaknya "de- ngan sangat hormat”, karena berlawanan dengan instruksi-instruksi yang ada (Daghregister, 16 dan 19 April 1659). Dipertimbangkan bahwa menolak permintaan itu memang berat, tetapi kalau dipenuhi, penagihan kembalinya akan lebih berat. Selain itu, masih ada penguasa pesisir lainnya yang miskin juga dan butuh uang. Tetapi Kompeni bersedia memberikan uang muka kalau ada penycrahan beras, gula, lada, kayu, dan lain scbagainya (Realia, keputusan 16 April 1659, him. 67). Tidak berkecil hati setclah pengalamannya yang pertama itu, Tumenggung Pati sekali lagi menyuruh anaknya yang laki-laki, Wirasuta, dan seorang kakaknya yang lain meminjam uang dari Residen, karena ia benar-benar membutuhkannya (Daghregister, 13 Mei 1659). Ia berjanji akan menycrahkan sebagai penggantinya 200 balok besar scharga 1 sampai 2 ribu rial (Daghregister, 15 Mei 1659). Utusan tumenggung itu bahkan dilarang meninggalkan loji, sebelum diperolch- nya I sampai 2 ribu gulden. Mercka tinggal di loji sclama I—2 hari, dan setelah itu Residen merasa terpaksa menyerahkan kepada mereka "500 ringgit atas penyerahan 300 balok besar”, dengan perjanjian bahwa 100 buah sudah tersedia pada saat tibanya kapal yang pertama. Setengah tahun kemudian, keadaan tidak banyak berubah (Daghregis- ter, 13 November 1659, him. 226). Tumenggung Pati mengirimkan dengan kapalnya sendiri Lurah Naya ke Batavia, dengan 500 pikul gula putih dan lain-lain bahan makanan. Ia minta supaya barang-barang itu dipasarkan "karena (ia) sangat membutuhkan uang untuk membayar Sunan, karena ia tidak bisa meminjam uang di mana pun” (Daghregister, 13 dan 19 November 1659). Juga di Jepara keadaan kritis itu meningkat, Tetapi kepala dacrah Jepara, yang bukan sahabat Kompeni, merasa ragu meminta tolong kepada Batavia. Sementara itu, ia berusaha mengatasi kekurangannya itu dengan menuntutnya dari warganya (Daghregister, 21 Mei 1659): Pemerasan uang dari penduduk terus berlangsung dengan sama kerasnya”. Orang mengharapkan bahwa pada awal atau akhir bulan Puasa (Agustus 1659) akan terjadi perubahan pemerintahan. Pada hari besar itu biasanya para pembesar menyampaikan uang yang telah dapat mereka kumpulkan kepada istana, dan apabila ada kekurangan, sudah tentu hal itu akan menimbulkan mutasi-mutasi yang pahit. 143 Setclah penduduk Jepara habis-habisan diperas maka barulah Kompeni didekati. Ngabei Martanata mengirimkan anak lal i Bagus Pusparaga, ke Batavia untuk meminjam 3 sampai 4 “karena Sunan pernah memberi uang kepada saya, maka sekarang uang itu harus dikembalikan, sedangkan uang saya masih kurang”. Ia berjanji dengan khidmat akan mengembalikan uang yang dipinjamnya itu dengan hasil-hasil kayu, gula putih, dan lain sebagainya. Bahkan ia ingin membangun dan memberikan sebuah kapal kici (Daghregister, 3 Juni 1659, him. 116). Tiga bulan kemudian permintaannya itu — kali ini tertuju kepada Residen — sudah turun sampai 1.000 rial, yang akan dikembalikan dengan kayu. Michiclsen menolak permintaan itu "“karena tidak mampu” (Daghregister, 21 September 1659, hlm. 195). Demikianlah pada umumnya nasib para bangsawan Jawa yang sangat memerlukan uang itu ketika berusaha meminjam uang dari Kompeni Namun, instansi ini tidak biasa mengeluarkan uang tunainya yang amat berharga itu tanpa harapan akan ada imbalannya. Juga penguasa-penguasa yang lebih kecil merepotkan Batavia dengan permintaan-permintaan semacam itu; seperti penguasa Batang, Kiai Ngabci Nitiyuda, yang minta 3.500 ringgit (Daghregister, 3 Juni 1659); Kentol Wirasuta dari Pekalongan yang memerlukan sedikit uang; Singaperbangsa dari Karawang yang memerlukan 1.000 ringgit (Daghre- gister, 16 Desember 1659). Tidak seorang pun di antara mereka yang berhasil, dan ini memang mengecilkan hati. Pada tahun-tahun berikut- nya kegiatan minta-minta ini jauh berkurang, sckalipun para penguasa pesisir masih sering diperingatkan mengenai pajak dan bayaran yang belum mereka serahkan. . Bila penolakan atas permintaan mercka untuk meminjam uang itu membuat Kompeni kurang populer, maka masalah tol pun tidak membangkitkan simpati orang Jawa padanya. X-14 Masalah tol Lama-kelamaan orang Jawa merasa sakit hati karena Kompeni di Jepara tidak membayar tol. Untuk pertama kalinya ada berita tentang kebebasan dari pembayaran tol ini dalam laporan Van Goens mengenai perjalanannya yang ketiga pada tahun 1652 (Goens, Gezantschapsreizen, him. 112-113). Dalam laporan itu diceritakan bahwa ia setelah ditawari harga 50 rial untuk beras satu koyan akhirnya diberi harga 14 rial untuk beras satu koyan "tanpa perlu membayar tol” Pembebasan dari pembayaran tol ini terus berlangsung dalam tahun-tahun berikutnya. Orang Belanda memang ”bebas”’ dari pem- 144 bayaran tol, tetapi dengan pertimbangan bahwa beras yang mereka beli dari para penguasa setempat terlalu mahal, yakni bukan 8 rial melainkan 15 rial satu koyan (surat Kompeni kepada Volsch tanggal 5 Maret 1655, dalam K.A. No. 782, hlm. 8). Dengan cara beginilah uang tol yang seharusnya diserahkan kepada Sunan diselewengkan. Akan tetapi masalah tol ini bukannya tidak diperhatikan oleh para kepala dacrah. Pada tahun 1655 tol seluruh Jepara, jadi termasuk juga yang berasal dari warga bukan Belanda, hendak digadaikan kepada Kompeni dengan harga 10.000 rial, tetapi ditolak. Tanpa mempunyai kekuasaan di Jepara, dapatkah Kompeni mengadakan tekanan kepada orang-orang yang tidak mau membayar? Dikhawatirkan bahwa Ngabei Martanata akan memakai penolakan itu sebagai alasan untuk juga menuntut “keadilan Raja” dari Kompeni. Namun, sementara itu, keadaan tetap tidak berubah. Justru Tumenggung Pati yang sangat dekat pada Belanda itulah ketika sedang mabuk mengucapkan kata-katanya bahwa dari setiap kapal akan ditarik tol 1.000 rial (Daghregister, 7 Desember 1656, him. 32). Residen Evert Michielsen *dengan tegas” menentangnya. Ia mengusulkan bahwa jika memang tol harus dibayar, maka ”perdagangan (boleh) dilakukan dengan siapa saja dan tidak hanya dengan para pembesar, seperti ditentukan Tumenggung”. Dengan demikian, ini akan merupakan kombinasi pembayaran tol dengan kebebasan dagang tanpa batas, dan bukanlah kebebasan tol dengan perdagangan terbatas. Masalah tol ini akan dibicarakan lagi nanti (him. 150). Penolakan atas permintaan pinjaman dan masalah tol ini akan membuka jalan bagi para penguasa pesisir untuk mempersalahkan Kompeni atas gagalnya transaksi-transaksi kevangan mereka. Bagaima- napun Kompeni tidak perlu lagi mengandalkan diri kepada itikad baik mereka. Kedudukan orang Belanda di Jepara menjadi goyah. Tetapi keluarnya mereka sementara dari Jepara itu pun bukan semata-mata karena penguasa pesisir. X-—15 Ancaman pengosongan, 1659 Masalah pengosongan loji Belanda di Jepara timbul untuk pertama kalinya dalam masa perutusan Makassar yang kedua, yaitu ketika diadakan perjanjian antara Sunan dan raja Makassar. Ketika itu di kota istana rupanya sedang bertiup angin anti-Belanda yang keras, karena terjadinya serangan Belanda terhadap Palembang, bersamaan waktu dengan hasutan utusan-utusan Makassar (Daghregister, 26 April 1659). Lagi pula, penguasa Jepara, Ngabei Martanata, mungkin pada suatu rapat dewan kerajaan menyatakan bahwa di mana pun juga orang 145 Belanda tidak membayar tol, padahal orang Jawa di Batavia harus membayar tol untuk semua barang, bahkan lebih besar daripada sebelumnya, yaitu 6 rial untuk beras 1 koyan. Karena itulah Sunan dikatakan mengeluarkan perintah untuk tidak mengizinkan lagi orang Belanda di Jepara”. Tumenggung Pati mcnentang keras perintah ini schingga tidak dilaksanakan. Akhirnya kepadanya ditanyakan apakah orang Belanda mau membayar 10.000 ringgit setiap tahun untuk melakukan perdagangan bebas di Mataram. Karena Tumenggung menyatakan tidak tahu, ia dimaki-maki sebagai “orang goblok”, dan diperintahkan mempersiapkan semua kapal guna pelayaran ke Bali! Maka, nyata bahwa perang melawan Bali ini timbul dari perjuangan Palembang melawan Kompeni, hasutan orang Makassar, dan pengadu- an Ngabei Martanata. Dapat dipertanyakan apakah bukan Bali tetapi Batavialah yang sebenarnya dimaksudkan, dan apakah bukan karena tidak mau menyinggung perasaan saja maka Tumenggung tidak menyebut Batavia ketika ia memberitahukan suatu berita kepada Penjabat Residen Van Hoorn, yang dipanggil ke Pati itu. Residen ini dengan sebuah kapal kecil melewati daratan yang tergenang air di sebelah selatan Muria, setelah memperlakukan dengan sangat buruk, utusan-utusan Mataram yang mengambil lembu pesanan dari Surat itu. Dan sungguh mengherankan ia masih dapat menangkap kata-kata Tumenggung Pati itu, walaupun dalam keadaan mabuk. Bahwa yang sebenarnya dimaksudkan memang Kompeni terbukti dari pertanyaan Tumenggung kepada Van Hoorn, kekuatan apakah yang ada pada Kompeni di Ambon dan berapa besar garnisun-garnisunnya. Van Hoorn menjawab bahwa di sana terdapat 15 sampai 16 pasukan dengan 7 sampai 8 ribu orang Belanda, yang diberi perbekalan cukup banyak untuk 4 sampai 5 tahun. Mendengar keterangan itu, Tumenggung menggclengkan kepalanya, dan menyuruh Van Hoorn yang sedang mabuk itu pergi dengan cepat memberitahukan segala sesuatu kepada Gubernur Jenderal. Sementara itu, usaha mempersiapkan kapal-kapal dilanjutkan dengan sungguh-sungguh. Bahwa mobilisasi ini terutama tidak dimaksudkan terhadap orang Bali, tetapi terhadap orang Belanda, juga ternyata dari berita yang disampaikan oleh Rumphius tentang dipersiapkannya 20 kapal di Surabaya schubungan dengan persckutuan antara Mataram dan Makassar. Untung bagi nama baik Kompeni, Evert van Hoorn dalam waktu singkat meninggal pada tanggal 25 Februari 1659 ”karena terlalu banyak minuman keras yang rupanya telah memperpendck riwayat hidupnya”, dengan mewariskan suatu pembukuan yang kacau-balau. Bekerjanya 146 kembali Evert Michielsen yang pandai itu sebagai residen dapat memperbaiki hubungan Belanda dengan Mataram. Belum. terjadi perpecahan yang definitif: Para penguasa daerah minta pinjaman uang, dan di Jepara datanglah dua ”utusan, Pranayuda dan Angareksa, keduanya pesuruh Sunan, dan bekas kontrolir dari penguasa Jepara” (Daghregister, 13 Mei 1659). Apakah mereka itu para tugur dari para penguasa tertinggi pesisir yang dahulu? Istilah “pesuruh” bisa berarti gandek. “Mereka tidak lagi menuntut 10.000 ringgit setiap tahun, tetapi hanya uang sewa loji sejak tahun 1651 sebanyak 10 ringgit setiap bulan, seluruhnya sekitar 1,000 ringgit. Kalau tidak dibayar, silakan angkat kaki. Tumenggung Pati tclah diperintahkan menyampaikan berita yang sama, sckalipun Pranayuda telah membantah (persis seperti halitya dengan Tumenggung Pati empat bulan sebelumnya). Bagaimanapun tuntutan itu sudah jauh lebih ringan daripada apa yang disampaikan Tumenggung Pati. Memburuknya hubungan dengan Makassar mungkin memperlunak sikap Mataram. Sementara itu, Sunan menyatakan tidak menarik lebih banyak keuntungan dari orang-orang Belanda, daripada dari kaum swasta lainnya; barang-barang langka dan lain scbagainya dapat juga diperoleh dari sumber lain. Juga tidak ada lagi utusan yang menurut perjanjian scharusnya datang bersembah kepada Sri Baginda walaupun yang menjadi persoalan bukanlah hadiah, ”melainkan pengakuan terhadap Sri Baginda”. Sclanjutnya ditanyakan apakah mungkin Kompeni hendak mendirikan sebuah loji di Gresik atau Surabaya. Jawaban diharapkan dalam waktu tiga hari. Michielsen menjawab bahwa loji dibangun dengan izin Sunan, atas biaya orang Belanda yang amat tinggi. Hanya atas perintah Raja-lah mereka mau pindah. Apabila tidak ada utusan yang datang, maka berarti sesuai dengan kehendak Sunan. Soal pajak tanah, suatu hal yang baru, akan ditulis surat ke Batavia. Kedua utusan itu menunggu jawaban (Daghregister, 21 Mei 1659). Pada tanggal 10 Juni mereka masih tetap menunggu. Sebulan kemudian tidak lagi dibicarakan uang sewa, schingga masalah itu rupanya akan berakhir dengan tiada ketentuan (Daghregister, 21 Juli 1659). Ini adalah optimisme Michielsen yang terlampau pagi. Bagaimanapun selama kepala daerah tidak ada, dua petugas istana itulah yang bertanggung jawab atas urusan-urusan pemerintah di Jepara. Peringatan-peringatan yang disampaikan olch Tumenggung Pati dan ang tugur itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Kompeni, yang dak memperbaiki kedudukan Tumenggung di istana. Di Mataram 147 akan timbul pendapat jika melalui Tumenggung Pati yang dekat dengan Kompeni pun tidak bisa tercapai sesuatu dengan Batavia, maka tindakan-tindakan yang lebih tegas perlu diambil. Olch karenanya, tidak mengherankan apabila pada hari-hari itu nama baik Ngabei Martanata di Istana sangat meningkat. Tentu saja didukung pula olch hadiah Iembu yang disambut dengan baik sekali oleh Sunan maupun permaisuri yang senang terhadapnya. Kedudukan penguasa Jepara itu makin kuat dengan hukuman yang dijalankan atas rekannya dari Semarang, Ngabei Wangsaraja. X-16 Kematian Ngabei Wangsaraja, 1659 Kedudukan Ngabei Martanata yang amat kuat jelas terbukti dari pembunuhan terhadap rekan sejabatnya di Semarang, Ngabei Wangsa- raja; peristiwa ini terjadi di istana atas perintah Sunan (Daghregister, 20 Agustus 1659). Sctelah itu Ngabei Martanata pergi ke Semarang untuk >menjatuhkan martabat” keluarga kepala daerah itu dengan ”merampas keris mercka masing-masing”. Tiada scorang pun di antara mereka yang bolch meninggalkan kota tanpa izinnya. ‘Juga di keris sepasang suami istri, ’seorang dokter dan dokter wanita” yang olch ”Wangsaraja ... dipersembahkan kepada Sri Baginda”. Mereka dituduh ”melakukan sihir dan berkomplot dengan iblis”. Ngabei Martanata menyatakan bahwa Ngabei Wangsaraja terbunuh karena ia terlalu tinggi hati dan terlalu berani; terlalu mudah membagi-bagikan barang milik Raja dan hidup terlalu mewah; juga menghasut-hasut Raja terhadap banyak orang”. la mengirim ”seorang tukang sihir dan istrinya” ke istana untuk mengetahui rahasia-rahasia istana, "dengan cara minta bantuan dari iblis”. Tetapi kesalahannya yang paling berat adalah pertanggungjawabannya yang buruk mengenai seperempat dari 100.000 ringgit, yang oleh Raja pernah dipercayakan kepada setiap penguasa pesisir. Mcnurut residen Belanda, tiga penguasa pesisir lainnya pun tidak bisa memberi pertanggungjawaban yang lebih baik. Kecuali dari Ngabei Wangsaraja, pertanggungjawaban juga diminta dari semua petugas yang diangkatnya dalam pemerintahan; dengan kaki dan tangan diikat, mereka pun disiksa.'* Tetapi Michielsen berpendapat bahwa ”andai kata ia sendiri, yaitu Martanata, juga mati dalam peristiwa itu, maka Kompeni akan kehilangan dua musuh besar dalam kerajaan itu” (Daghregister, 21 14 Menurut laporan Michielsen tentang perjalanannya ke Surabaya, Ngabei Wangsaraja di Semarang diganti oleh Rangga Sidayu, yang mungkin ada hubungannya dengan berita bahwa menurut Daghregister, 5 September 1657, Ngabei Wangsaraja juga berkuasa atas Sidayu. 148 September 1659). Tetapi perkembangan keadaan belum sampai sejauh itu. X-17 Belanda di bawah tekanan, 1659 Ketika Ngabei Martanata, setelah Ngabei Wangsaraja meninggal, mencapai puncak kekuasaannya, diusahakannya supaya timbul kesan tertentumengenai dirinya kepada orang Belanda schingga scgala permintaannya akan dipenuhi mereka. Maka, diperintahkannya Residen Michielsen supaya datang ke Semarang, tetapi Residen mengirimkan pembantunya, David Luton, dengan meminta maaf karena ia sendiri tidak dapat datang. Pemuatan sebuah kapal besar Westvrieslant, di pelabuhan Batavia meminta kehadirannya. Jawaban ini tidak memuas- kan Ngabei Martanata. Kemudian ia menyuruh syahbandarnya memin- ta Residen tetap datang ke Semarang, karena banyak hal yang perlu dibicarakan. Setelah pemuatan kapal itu selesai, barulah Residen pergi ke Semarang. Ia disambut di sana dengan megah (Daghregister, 16 September 1659). Martanata disertai beberapa penguasa pesisir rendahan dan penguasa lainnya ... dan juga utusan-utusan dari Jambi. Oleh rombongan penguasa ini ia diberi perlakuan “yang hormat sekali dan meriah” (Daghregister, 21 September 1659). Ngabei Martanata memberi jaminan kepada Residen bahwa ”Sunan adalah seorang sahabat dekat Kapten Moor”. Karena itulah, orang Belanda boleh mengeluarkan segala apa yang mereka inginkan dengan bebas. Dengan disaksikan oleh semua pembesar lainnya, Kepala Dacrah menerangkan ”bahwa ia menjadi besar justru karena orang Belanda”, dan hal ini ingin dikemukakannya secara terbuka. Oleh karena itu, apabila pihak Belanda mempunyai suatu keinginan, supaya disampaikan saja dan tidak akan ada sesuatu yang ditolak, dan ”segala sesuatu terbuka bagi Kompeni”. Karena Sunan telah berkenan menghadiahkan kepadanya seperangkat peralatan sirih, serta mempercayakan pemerintahan seluruh pantai kepada dirinya dan Tumenggung Pati, ”maka segala sesuatu selanjutnya akan berjalan lebih baik’”. Setelah segala puji diucapkan, pemimpin tertinggi Belanda itu melihat suatu kesempatan baik untuk mengemukakan pendapatnya. Michielsen mulai dengan menyampaikan ucapan sclamat kepada Ngabei Martanata, serta harapan agar ia mencapai banyak hasil yang baik dengan ”pemerintahannya yang baru”, dan tidak lupa pula disampaikannya ”segala puji kepada pembesar itu”. Ia mengharap supaya penguasa itu cepat kembali ke Jepara schubungan dengan kesulitan-kesulitan mahaberat yang dialami Kompeni dari kakaknya, yaitu dalam hal pembelian dan pengeluaran barang, penahanan 149 petugas-petugas _Kompeni, dan sebagainya. Bahkan segala barang dibebani dengan tol yang baru. Karena itulah, ia mohon keputusan secara tertulis tentang apa saja yang boleh dibeli dan dickspor oleh Kompeni. Tetapi permohonan ini justru melemahkan kedudukan Michielsen, dan kesempatan ini digunakan oleh Ngabei Martanata. Ia berpura-pura marah dan memerintahkan juru tulisnya menyusun sebuah surat yang ditandatanganinya sendiri, yang memberi izin kepada orang-orang Belanda ”melakukan perdagangan bebas . . . di mana saja”, asalkan atas segalanya itu dibayar ”tol yang biasa”, karena hal itu adalah kehendak dan perintah Sunan”’ (Daghregister, 16 September 1659, hlm. 190). Untuk mengurangi rasa pahit pil yang harus ditelannya itu, Kompeni diizinkan menebang 100 pohon di sebuah hutan besar di daerah Mandalika. Sebelumnya tidak boleh dilakukan penebangan di sana, karena pohon- pohon di hutan ini dimaksud untuk pembuatan rangka dan tiang kapal bagi armada Sunan. Tetapi kepala dacrah sctempat kini bahkan diperintahkan mengatur supaya pohon-pohon itu diserahkan selekas- lekasnya, “kalau tidak, keselamatannya akan terancam”. Kayu itu memang cepat dikirim; 100 orang yang mengerjakannya (Daghregister, 7 Oktober 1659, hlm. 209). Rupanya, hal ini merupakan suatu usaha yang cerdik supaya orang-orang Belanda dibiasakan membayar tol, yang sampai saat itu tidak pernah mereka lakukan. Pasti Ngabei Martanata dan Raja menjadi sangat sedih karena selama ini tol tidak dibayar, seperti halnya dengan penolakan pembayaran 1.000 rial sebagai uang muka pembelian kayu (Daghregister, 21 September 1659). Jika masalah penolakan pemberian pinjaman terbatas menjengkelkan para penguasa pesisir, maka masalah pembebasan tol ini menjengkelkan Raja maupun para abdinya. Rupanya, bukan tidak mungkin bahwa para penguasa dacrah yang miskin dan merongrong itu justru menggunakan hal yang terakhir ini menjadi persoalan untuk mengalihkan perhatian Sunan dari kekurangan di bidang keuangan mereka dan agar kemarahan Raja tertuju kepada orang Belanda. Juga menarik perhatian bahwa pembesar yang memberi- tahukan hal jni kepada Sunan, yakni Ngabei Martanata, mencapai hasil yang paling baik. Kedudukan Martanata masih jauh dari kuat, sekalipun ia bertingkah laku seolah-olah mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Banyak yang bergantung pada sukses yang telah tercapai itu. Sunan pernah merasa tidak begitu senang dengannya karena utusan-utusannya di Makassar tidak mendapat penghormatan selayaknya. Bahkan ia "dengan marah sekali berkata . . .: ya, Martanata, karena jasa-jasamu dan kesetiaanmu 150 maka aku ditertawakan; banyak berita yang kau berikan tentang Makassar ternyata tidak benar” (Daghregister, 7 Oktober 1659). Tetapi awan gelap ini berlalu begitu saja. Beberapa minggu kemudian residen Belanda menerima berita dari ”para mata-mata”-nya bahwa ’Kepala Daerah Martanata rupanya lebih disayangi daripada orang lain di Istana oleh Sunan; banyak orang takut keadaan ini berbalik, sebab begitulah kebiasaan Sunan” (Daghregister, 13 November 1659). Dan memang ada contoh-contohnya! X-—18 Penghancuran Palembang Untuk sementara waktu tidak terjadi sesuatu pun dengan dirinya. Sebaliknya, kemarahan Raja tertumpah pada orang Belanda, dan tidak pada mereka saja. Alasan yang menyebabkan ledakan ini adalah konflik antara Kompeni dan Palembang. Sudah dikemukakan bahwa Sunan mencurahkan banyak perhatian kepada perselisihan yang berlarut-larut antara Belanda, sckutunya, dan Palembang, vazalnya. Pada lahirnya ia bahkan ingin membenarkan pihak yang pertama, sekalipun di dalam hati ia mencelanya. Hal ini terbukti dari penyclidikannya terhadap peristiwa tersebut yang dilaku- kan Tumenggung Pati atas perintahnya. Sudah tentu tugas itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan bijaksana. Dalam suratnya kepada Pemerintah Kompeni, dengan hormat Tumenggung minta keterangan mengenai kapal-kapal Kompeni yang direbut oleh Palem- bang, justru pada saat seluruh Palembang tinggal merupakan runtuhan puing berasap belaka (Daghregister, 15 Desember 1659). Sudah tentu surat seperti itu tidak membawa hasil apa pun. Masalahnya sudah selesai, dan Kompeni menjawabnya dengan sebuah pernyataan yang kasar dan pongah. Tentu saja hal ini sangat melukai hati Raja. Banten, yang biasanya mengenal benar mentalitas tetangganya itu, mengharap ia akan membalas dendam atas vazalnya yang kehilangan segala-galanya itu. Betapa besar pengaruh kehancuran Palembang itu pada Sunan terbukti dari berita bahwa syahbandar dan kakak Ngabei Martanata disuruh menuntut pada Belanda supaya meriam-meriam Palembang yang dirampasnya diserahkan kepada Sunan. Ini tentu saja akan dirasa aneh oleh Pemerintah Kompeni yang tidak tahu benar sifat hakiki hubungan antara Palembang dan Mataram itu (H.R., 4 April 1662). Karena itulah, masalah Palembang ini banyak merusakkan hubungan antara Batavia dan Mataram. Ya, mungkin menjadi faktor yang menimbulkan perpecahan sementara, dan mengambil bentuk pada penutupan pelabuhan-pelabuhan untuk kedua kalinya. 151 Bab XI Konflik Kedua XI~1 Pelabuhan-pelabuhan ditutup untuk kedua kalinya, 1660 cnurut Laporan tahunan tanggal 16 Desember 1660 (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 87), Sunan pada bulan April tahun itu telah mengeluarkan semua orang asing, Melayu, Jawa, tanpa kecuali, dan menyatakan negerinya tertutup ... tetapi selain itu. . . disuruhnya juga membongkar loji Kompeni di Jepara, dan diratakan dengan tanah, tetapi segala sesuatu itu dilakukan tanpa kekerasan dan rasa permusuhan . ..”. Jadi, semuanya berjalan dengan tenang dan tanpa menimbulkan keributan. Menurut berita kemudian yang diterima melalui Banten, Mangkubumi Kiai Wirajaya diperintahkan menulis surat kepada para penguasa pesisir untuk memberitahukan bahwa ”’Sri Baginda hendak menutup pelabuhan-pelabuhannya . . . selama 4 tahun, dan ini harus diberitahukan oleh mereka kepada orang-orang asing” (Daghregister, 20 September 1661, him. 283). Peran para penguasa pesisir dalam penutupan pelabuhan ini agak pasif. Orang-orang yang tampak sangat aktif (seperti pada penutupan pelabuhan yang pertama) adalah para tugur istana Mataram, "yang sama sekali tidak menghendaki adanya barang-barang keluar masuk sedikit pun” (Laporan Michielsen). Mereka tersebar di semua kota pelabuhan, dan menerima perintah dari istana, yang dalam sekejap mata dapat memanggil mereka untuk menghadap. Karena itu, timbul harapan yang sia-sia akan kemungkinan dibuka kembali pelabuhan-pelabuhan secepat mereka itu ditutup tadi. Juga mencolok bahwa sementara itu kebanyakan penguasa pesisir tinggal di Istana. Apakah Raja takut mercka akan melanggar atau menyabot perintah-perintahnya? Sementa- ra itu, pekerjaan mereka di pesisir dengan sendirinya harus dilakukan 152 oleh pejabat-pejabat rendahan (Daghregister, 24 Juli 1661). Setelah pelabuhan-pelabuhan ditutup, segera diumumkan secara resmi bahwa alasan penutupannya ialah karena Sunan ”ingin membuat undang-undang baru mengenai kawulanya”. Tetapi Belanda dengan tepat menduga bahwa pengumuman itu hanyalah ”basa-basi, sama seperti yang pernah membantu mereka ... . selama perjalanan terdahu- lu”. Mengingat adanya kecurigaan ini, akan kita sclidiki adakah sebab-sebab lain yang mendorong Raja mengambil tindakan-tindakan sejduh itu. Terlebih dahulu harus ditegaskan bahwa rencana penutupan pelabuhan ini datang dari pedalaman, tidak dari penguasa pesisir, sckalipun mereka untuk sementara dapat mengambil keuntungan dari keadaan ini. XI-2 Tanggung jawab atas penutupan pelabuhan Ketika penutupan pelabuhan kemudian disesali Sunan, maka tang- gung jawab persoalan dibebankan di pundak patihnya, Kiai Wirajaya. Yaitu setelah Ngabei Martanata menegaskan kepada Sunan bahwa tumenggung Mataramlah yang ”menyampaikan perintah itu” (Daghre- gister, 20 September 1661). Untuk itu Wirajaya dihukum di depan umum. Sudah tentu tindakan yang meliputi seluruh pantai semacam itu hanya dapat dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Hal ini juga dikatakan oleh penguasa Jepara, yaitu Kiai Wiradika, dalam sebuah surat kepada Gubernur Jenderal Mactsuyker. Membuktikan keterangannya itu, ia mengingatkan pembongkaran loji Belanda di Jepara “oleh rakyat Jepara atas perintah Sunan”; seperti juga orang-orang Belanda kembali ke sana hanya seizin beliau. Dengan demikian, kepala daerah dan para bawahannya hanyalah pelaksana perintah-perintah raja, yang dilaksana- kan dengan cara yang selunak-lunaknya. Bahwa di samping itu beberapa penguasa pesisir seperti Ngabei Martanata memperoleh keuntungan dari pembongkaran loji tersebut di atas sudah terungkapkan. Sekalipun penutupan pelabuhan tersebut merugikan perdagangan di Jepara dan dengan demikian juga pendapat- an kota, penolakan Belanda untuk membayar uang muka dan membayar tol itulah yang sangat mengurangi semangat Martanata membela orang-orang Belanda di depan Sunan agar mereka tetap boleh tinggal di Jepara. Sementara itu, mereka dapat digunakan sebagai kambing hitam yang sangat baik guna mengalihkan perhatian Sunan dari utang- utangnya. Selain itu, musuh Ngabei Martanata, yaitu Tumenggung Pati, yang dicap sebagai sahabat Kompeni, dan yang kedudukannya amat goyah karena konflik Palembang, ditempatkan dalam keadaan yang lebih sulit karena perpecahan dengan Batavia. Karena itu, penutupan 153 pelabuhan-pelabuhan tersebut merupakan alat yang sangat baik bagi Ngabei Martanata untuk menjatuhkan lawannya. Dengan demikian, kedudukannya pasti akan lebih meningkat, dan memang demikianlah yang telah terjadi. Penutupan pelabuhan itu membuka jalan bagi jatuhnya Tumenggung Pati. Dengan demikian, jelas tidak tampak tanda-tanda adanya perlawanan yang sungguh-sungguh dari para penguasa pantai terhadap tindakan yang keras ini. Mereka tunduk saja pada perintah, dan membiarkan pelabuhan-pelabuhannya dipagar oleh para tugur. Bahwa bukan hanya orang Belanda saja, tetapi juga semua orang asing lainnya terkena oleh penutupan pelabuhan itu kiranya dapat dicari sebab-sebabnya pada perangai Raja yang aneh-anch yang cenderung gila itu. XI-—3 Usaha-usaha mencari hubungan, 1660 Penutupan pesisir Jawa dilaksanakan dengan begitu ketat sehingga orang Belanda di Batavia hampir tidak memperoleh berita apa pun dari Kerajaan Mataram. Karena itu, Kompeni memutuskan untuk mengirim utusan guna mencari berita. Pada tanggal 11 Juni 1660 Pemerintah Kompeni mengirim Letnan Muda FH. Muller bersama sepuluh orang Belanda dan dua puluh orang Jawa ke Karawang, untuk mengetahui tindak tanduk orang di Mataram. Karena utusan ini tidak membawa hasil yang berarti, maka diputuskan untuk mengirim Evert Michielsen, bekas residen Jepara, ke Surabaya, guna mencari berita dan mengumumkan berita kepada Mataram tentang kemenangan yang baru atas Makassar, yaitu pada tanggal 12 Juni 1660. Sebab, di Surabavalah bekas tumenggung Pati menjadi kepala daerah, yang telah menjadi orang kaya dan sclalu bersahabat dengan Kompeni” (Realia, keputusan 29 Juni 1660). Mungkin dengan demikian dapat diketahui hal-hal yang masih belum beres dan cara bagaimana pula pelabuhan-pelabuhan bisa dibuka kembali. Sementara itu, perlu diketa- hui pula bahwa sedalam itu keseganan tumenggung Surabaya kepada Evert Michielsen, sedalam itu pula kebencian penguasa Jepara ke- padanya. Sementara itu, bagaimanakah keadaan tumenggung Pati yang kini bernama Tumenggung Surabaya? XI—4 Jatuhnya Tumenggung Pati, 1659 Karena adanya catatan harian Kompeni di Batavia (Daghregister) selama tahun 1659, maka apa-apa yang dilakukan Tumenggung Pati dalam tahun itu dapat diikuti dengan lebih teliti daripada sebelum atau 154 sesudahnya. Rupanya, ia berdiam terus di Istana. Konon, karena ia belum mengembalikan uangnya kepada Sunan (Daghregister, 15 Mei 1659). Permohonannya untuk meminjam uang dari Kompeni, seperti telah dikemukakan di atas, menjadi semakin banyak dan semakin mendesak. Mungkin pada akhir tahun 1658 ia sudah memulai perminta- an pinjaman itu (Daghregister, 2 Januari 1659). Selain itu, sering pula ia merepotkan Pemcrintah Kompeni dengan hadiah-hadiah untuk Sunan yang rupanya digunakannya dengan harapan agar dapat menghilangkan amarahnya. Kali ini dimintanya bahan tekstil yang halus dari Benggala dan sutera yang istimewa, semuanya dari India (Daghregister, 28 Februari 1659), Lain kali pula, dengan perantaraan Michael Zecburgh, orang Jawa—Belanda yang tinggal di rumahnya di Pati itu, dimintanya seckor kuda Persia "dengan bulu yang lain warnanya daripada yang sudah-sudah, berikut dua ckor unta dan sepasang kosdes,'® yang mirip kuda”. Apabila terpenuhi permintaan-permintaannya maka harapannya ia akan dapat melebihi Ngabei Martanata, yang pada akhir tahun 1658 sudah menyampaikan daftar permohonan seperti itu juga kepada Batavia. Setelah itu, dimintanya "sebuah kereta kecil beroda empat, yang dapat memuat 4 atau 5 orang penumpang” (Daghregister, 7 Juli 1659). Apakah kereta semacam itu pernah dilihatnya ketika mengunjungi Batavia pada tahun 1653? Dua bulan lebih kemudian disinggungnya kembali hal itu, dan dengan mendesak dimintanya supaya “pada kesempatan pertama” kereta kecil itu dikirimkan. Bahkan dilakukannya scmacam tekanan politik: apabila kereta itu cepat diperolchnya maka ia akan "menulis apa sebabnya perang meletus antara Kompeni dan Palembang, supaya Sunan tidak ditipu ... oleh utusan-utusannya dan (mereka) dapat merugikan Kompeni” (Daghregister, 21 September 1659, him. 196). Juga dalam hal permintaan ini ia bersaing dengan Ngabei Martanata, yang berhasil memperoleh dari Kompeni: lembu dari Surat berikut kereta kecilnya (beroda dua?) (Daghregister, 15 Maret 1659), dan dengan demikian ia telah mencapai sukses besar (Daghregister, 11 Juli 1659). Sering kali Michielsen mendukung permintaan-permintaan tumeng- gung itu. Ada kalanya karena terpaksa, tetapi ada kalanya pula dengan senang hati, karena memenuhi permintaan itu dianggapnya akan membawa manfaat. Adalah demi kepentingan sendiri ia mendukung Tumenggung Pati dalam menghadapi Ngabei Martanata, yaitu karena sikap Martanata yang kurang baik terhadap Kompeni, dan dirinya 15 Mungkin istilah ini berasal dari Auldi, istilah Jawa untuk keledai, yang memang berbentuk seperti kuda. Pikiran ini dikemukakan oleh Dr. P. Voorhoeve. 155 sendiri. Demikianlah Michielsen mendukung penawaran kayu dari Tumenggung Pati (Daghregister, 15 Mei 1659), dan mempertegas desakannya agar Kompeni mengirimkan hadiah-hadiah bagi Sunan (Daghregister, 7 Oktober 1659, him. 209), menganjurkan secara tertulis supaya uang diberikan berdasarkan pengiriman gula kemudian (Daghre- gister, 13 November 1659). Sekalipun ada teriakan-teriakan minta tolong Tumenggung Pati karena jiwanya terancam, dan kemungkinan kedudukannya akan diturunkan serta harta bendanya disita, pada bulan September 1659 bersama Ngabei Martanata — menurut pengakuannya sendiri — ia masih merupakan pembesar yang paling berkuasa di pesisir (Daghregister, 21 September 1659). Tetapi di samping hal-hal lain, persoalan Palembang pastilah sangat menggoyahkan kedudukannya. Penghancuran kota di Sungai Musi itu sangat menjengkelkan Sunan dan melukai hatinya, betapa ramahnya pun ia tampaknya berbicara tentang orang Belanda. Dari sini justru terbuktilah bagi seorang ahli adat kebiasaan istana Jawa amarah Sunan itu. Sahabat-sahabat Kompeni, seperti Tumenggung Pati, akan turut terkena amarah itu. Untuk ”menghajar” tumenggung itu, maka dialah yang diperintahkan Sunan menyelidiki tindakan Kompeni terhadap Palembang. Padahal, hal ini sesungguhnya lebih tepat dipercayakan kepada Tumenggung Suranata dari Demak, sebab dialah yang bertang- gung jawab atas masalah-masalah Palembang. Demikianlah Tumeng- gung Pati yang malang itu mengirimkan tiga orang utusan: Sindu Wacana, Nayajiwa, dan Honko (scorang Cina?) ke Batavia untuk memohon dengan segala kerendahan hati sebuah surat jalan guna »mencari berita tentang kapal-kapal dan barang-barang saudara saya (Gubernur Jenderal) yang disita orang Palembang, dan dengan perintah mengembalikannya kepada saudara saya” (Daghregister, 15 Desember 1659). Setahun yang lalu kiranya surat tersebut akan lebih tepat. Tetapi sekarang setelah Palembang dihancurkan, surat itu telah terlambat. Dan ‘Tumenggung Pati hanya dapat mengharapkan sebuah jawaban sesuai dengan kemenangan yang baru dicapai Kompeni. Pendapat Kompeni adalah bahwa karena kemenangan inilah maka "keberanian raja-raja di sekelilingnya akan sangat menurun, dan senjata-senjata Kompeni akan menimbulkan rasa takut yang baru” (Afg. Briefb. 1660, him. 37). Bagi orang Jawa yang sangat tajam memperhatikan orang-orang Eropa, membanggakan keberhasilan demikian tentu saja akan dalam berkesan dan karenanya merusakkan hubungan baik. 156 XI—5 Tumenggung Pati menjadi Tumenggung Surabaya, 1660 Pada sckitar pergantian tahun 1659-1660 Tumenggung Pati sudah menjadi penguasa daerah Surabaya, dan pindah ke sana. Kakaknya, Nalacitra, diangkat menggantikannya sebagai kepala daerah Juwana (dan Pati). Mereka berdua memberi tahu Pemerintah Kompeni mengenai hal itu melalui utusan-utusan mereka. Utusan kepala daerah Surabaya yang baru itu bernama Tanupraja, sedangkan utusan kakaknya ialah Martawangsa dan Bangsa. Kepala daerah Surabaya juga * mengundang Kompeni untuk mendirikan sebuah kantor dagang di Kali Mas seperti dahulu ia pun pernah berusaha memikatnya ke Pati. Surat mereka berdua dijawab pada tanggal 24 Maret 1660 (Afg. Briefb., him. 95 dan 97). Kecuali ucapan sclamat, surat-surat itu memuat pembelaan panjang lebar bagi tindakan Kompeni terhadap Palembang. Panjang lebar diuraikan tentang kelicikan orang Palembang itu yang telah dihukum oleh Tuhan Yang Mahaadil; tentang besarnya jumlah harta yang dapat dirampas dan lain sebagainya. Juga dilaporkan kematian Pangeran Palembang dan juga didesak agar Sunan diberi tahu tentang hal itu. Mungkin sekali berita tersebut hanya menyakiti hati Sunan saja. Ditutupnya pelabuhan secara cepat kemudian dapatlah dipandang scbagai akibatnya yang tidak terduga-duga. Pengangkatan Tumenggung Pati atas Surabaya tidak perlu hanya dianggap scbagai penurunan kedudukannya saja. Jabatan itu penting sekali, dan hanya dapat dipangku oleh seseorang yang dapat dipercaya. Selain itu, ia digantikan olch kakaknya di Pati. Memang di timur sana tumenggung ini menjadi Iebih terpencil, khususnya dari sahabat-saha- batnya orang Belanda. Hal ini membantu menjelaskan mengapa ia menawarkan kepada mereka untuk membangun sebuah kantor dagang di Surabaya. Kakaknya pun kini tinggal jauh dari padanya. Setelah penutupan pelabuhan, Tumenggung Surabaya sangat mung- kin telah menulis sebuah surat kepada Pemerintah Kompeni yang tidak sempat tersimpan, tctapi isinya sedikit banyak dapat diketahui dari jawaban Batavia. la kiranya menulis tentang masalah penutupan pelabuhan sehingga dapat membatalkan kedatangan perutusan Belanda. Juga dikemukakan- nya ikatan yang kuat antara Mataram dan Palembang, yang bagi Sunan dapat dipandang sebagai tunduk kepada Sunan. Hukuman berat terhadap kota itu jadinya memang dianggap sebagai pukulan besar bagi Sunan sehingga mendorongnya untuk menutup pelabuhan-pelabuhan. Jawaban Kompeni bertanggal 5 Agustus 1660 (A/g. Briefb., him. 470). Dinyatakannya bahwa pengiriman sebuah perutusan baru akan dilaku- kan setelah pelabuhan-pelabuhan dibuka kembali sesudah beberapa 157 waktu lamanya. Dua perutusan yang terakhir dikirim tidak memperoleh jawaban schingga kemudian dibatalkan. Hal ini sangat menghina Gubernur Jenderal dan para dewan yang “telah biasa bersahabat dan mengadakan hubungan dengan raja-raja dan kepala-kepala negeri yang besar”. Kemudian disusul dengan menyebutkan: Persia, Hindustan, Wisyapur, Golkonda, Arakan, Pegu, Siam, Tonkin, kaisar besar Tartaria dan Cina, kaisar Jepang, dan sebagainya. *Persekutuan atau ikatan apa” yang terdapat antara Mataram dan Palembang sama sckali tak diketahui. Bagaimanapun Sunan tidak pernah menghukum para pembunuh pada masa tiga tahun terakhir itu. Seandainya Raja memandang orang Palembang sebagai "kawulanya”, maka mereka harus diperintahkannya agar memberikan ”kepuasan” kepada orang-orang Belanda itu. Instruksi kepada Michielsen dengan tanggal yang sama (ibidem, hlm. 364), sama nadanya dengan yang disampaikan kepadanya sewaktu ia berangkat ke Surabaya. XI-6 Evert Michielsen di Surabaya, 1660 Baru pada tanggal 16 September 1660 ”setelah bergulat dengan hambatan-hambatan besar”, Evert Michielsen tiba di Teluk Surabaya. Di Jepara ia tidak diizinkan masuk oleh para tugur istana Mataram; tidak sepotong barang pun boleh masuk atau keluar. Bahkan ketika penguasa setempat menulis surat kepada Pemerintah Kompeni, ia harus »menutup-nutupinya seolah-olah tidak dikirim ke Batavia, melainkan ke Surabaya”. Di teluk kota itu Michielsen memerintahkan melepaskan lima tembakan sebagai pemberitahuan tentang kedatangannya. Setelah itu, datanglah tiga orang panglima sang tumenggung bersama Kartisarana (alias Tingsoy), seorang syahbandar Gina dengan menaiki empat perahu, untuk melihat siapakah yang datang dan apa maksudnya. Baru dua hari kemudian mereka membawa jawaban bahwa "kedatangan kami diterima dengan senang hati olch gusti mereka”. Sckiranya tidak dihalangi oleh pembesar-pembesar yang dapat mengadukannya kepada Sunan, maka ia sendirilah yang akan datang. Pertama-tama diperintahkannya memang- gil Kiai Rangga Sidayu, pengganti Wangsaraja sebagai penguasa pesisir, yang datang dua hari kemudian. Bersama-sama mereka berperahu menyelusuri sungai. Surat dan hadiah dari Kompeni disampaikan kepada Tumenggung Surabaya. Seorang "hamba’” memerlukan waktu dua hari untuk menerjemahkan surat bahasa Melayu itu. Sementara itu, Michielsen menginap di ketumenggungan, dan dijamu dengan sangat baik. Tumenggung menerimanya dengan hormat. 158 Yang menjadi buah pembicaraan adalah kekalahan orang Makassar, yang anch kedengarannya bagi telinga Tumenggung dan para pembesar- nya, Tetapi setelah hal ini dibenarkan oleh orang-orang Makassar yang berada di kapal Postillon, maka tiada terhingga keheranan mereka dan harus diakuinya ”bahwa tiada duanya bangsa di dunia ini seperti bangsa Belanda!” ‘Tidak banyak berita disampaikan Tumenggung: Kiai Ngabei Marta- nata dan Wirasetia pada akhir bulan Agustus dipanggil ke istana. Beberapa hari sesudah itu para tugur pun berangkat. Kelihatannya ini merupakan pertanda baik. Tentang pembukaan pelabuhan, Tumeng- gung tidak dapat menerangkan suatu apa pun, tetapi ia akan mencari keterangan mengenai utang yang masih ada. Hal-hal itu ditulis dalam bahasa Jawa. Bukan pekerjaan yang mudah mengirimkan surat kepada Sunan. Semula Tumenggung Surabaya ingin supaya surat itu disetujui terlebih dahulu oleh penguasa pesisir. Tetapi akhirnya diputuskannya untuk mengirimkannya langsung kepada Raja. Bebcrapa pasal dari surat itu dihilangkannya, yakni mengenai ”saling mengirimkan utusan kepada raja-raja besar Persia, Hindustan, dan bahwa pelabuhan-pelabuhan dibuka untuk keperluan kedua belah pihak” (Hal ini amat ditckankan Kompeni), sebelum dikirim lagi sebuah perutusan ke Mataram. Tumenggung Surabaya tidak mau menulis hal itu ’karena takut akan kehilangan kedudukannya, sebab rajanya tidak seperti . . . yang lain, juga tidak mau disamakan dengan mereka”. Akhirnya tercapai pula suatu perumusan yang memuaskan semua pihak. Soal Palembang tidak banyak yang dibicarakan, jadi tidak banyak pula yang ditulis. Ketika jawaban Tumenggung Pati kepada Pemerintah Kompeni siap pada tanggal 25 September 1660, Michielsen bercakap-cakap dengan tuan rumah sampai lewat tengah malam. Ia memandang tuan rumahnya sebagai orang yang sangat "tidak menentu”. Sebentar diterangkannya bahwa pelabuhan-pelabuhan masih akan ditutup sclama empat tahun lagi, dan sebentar lagi dikatakannya bahwa pelabuhan-pelabuhan itu tidak mungkin dibuka karena panen yang buruk. ‘Juga diterangkannya kepada Michielsen bahwa menurut pendenga- rannya, di Batavia ada seckor kuda yang bagus, tinggi, lahir pada tahun 1655, ”berwarna merah, 5 kaki dan 8 inci, ya, lebih tinggi lagi”, juga ada keledai di sana. Inilah mungkin merupakan jalan pula yang dapat membuka kembali pelabuhan-pelabuhan. Michielsen tidak menanggapi ketika disinggung mengenai pengiriman sebuah perutusan. Terserah kepada kehendak Sunan, jawabnya apakah mau menutup atau membuka pelabuhannya, karena Sunan adalah 159 ”gusti yang berdaulat”. Tujuannya satu-satunya ialah hendak mengam- bil barang-barang yang sudah tersedia bagi Kompeni dan menagih utang yang belum dibayar. Karena semuanya dibayar dengan tunai, maka permintaannya itu wajar tidak dapat ditolak. ‘Tumenggung Surabaya kemudian mulai membicarakan kembali surat itu kepada Sunan. Ia berjanji akan mengirimkan jawaban setclah dua bulan melalui Karawang, jadi melalui darat. Masalahnya akan digarap dengan penuh kebijaksanaan. Jika masalahnya itu tidak dapat diurus dengan baik, maka ia menunggu sampai berkunjung ke kota istana sekitar Garebek Maulud (pada tanggal 15 November 1660). Setelah itu, Michielsen pamit, dengan menyampaikan hadiah-hadiah kepada Tumenggung Surabaya dan keempat orang istrinya. Ia terpaksa melakukannya karena setiap hari disuguhi buah-buahan dan berbagai masakan. Ia berangkat tanpa menyadari bahwa untuk terakhir kalinyalah ia menjumpai sahabat setia Kompeni itu. XI-7 Matinya Tumenggung Surabaya, Desember 1660 Berita-berita tentang matinya Tumenggung Surabaya, bekas Tumeng- gung Pati, semuanya datang dari Jawa Barat. Schingga tentang hal-hal yang terinci mungkin tidak dapat semua dipercaya. Tetapi tentang kejadian-kejadian yang pokok kiranya sulit diragukan kebenarannya. Pada tanggal 20 Maret 1661 residen Banten, David Luton, menulis bahwa ia mendengar dari Kiai Aria ’mengenai Sunan Mataram. . . yang kira-kira tiga bulan yang lalu memerintahkan supaya Tumenggung Surabaya, tadinya . .. Tumenggung Pati . . . dibunuh” (Daghregister, 22 Maret 1661). Beberapa hari kemudian berita ini dibenarkan dari Cirebon (Daghregister, 29 Maret 1661), dan sekali lagi dari Banten (Daghregister, 16 April 1661). Jadi, drama itu pasti terjadi dalam bulan Desember 1660, setelah ia berkunjung ke Keraton sckitar pertengahan bulan November tahun 1660. Bersama tumenggung itu juga seluruh keluarganya dibunuh, kecuali anak laki-lakinya yang tertua (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 90). Juga terdengar berita bahwa ”jenazah Tumenggung Pati tidak dikuburkan, melainkan dibuang ke laut” (Daghregister, 11 Mei 1661) Babad Sangkala mengukuhkan pembunuhan atas diri tumenggung Surabaya ini, yang disebutkan dengan namanya sendiri, yaitu Nataairna- wa. Sebagai tempat terjadinya kejahatan disebut — dan ini aneh sekali — Ngadilangu, dan waktunya adalah tahun 1583 J. (mulai 6 September 1660 M.). Mungkinkah ia terbunuh dalam perjalanannya kembali dari Keraton? Ada disebutkan beberapa alasan tentang terjadinya tindakan 160 kekerasan ini. Yang paling dapat diterima adalah “bahwa ia, tumeng- gung, membolehkan masuk . . . pedagang Evert Michielsen . . . sekalipun tahu bahwa Sri Baginda telah memerintahkan semua pelabuhan ditutup rapat”. (Daghregister, 4 April 1661). Jadi, karena persahabatannya dengan Kompeni itulah maka nyawanya hilang. Ini cocok dengan keterangan Sunan sendiri pada akhir tahun 1662: Tumenggung Surabaya ”karena mengemis-ngemis kepada orang Belanda, merendahkan marta- bat Raja” (Daghregister, | Januari 1663). Jadi, ia kurang memperlihatkan sikap yang teguh terhadap orang Belanda. Berlainan sckali berita dalam Daghregister, 18 Juli 1661, yang memuat desas-desus tentang perkawinan Sunan dengan bibinya, yaitu kakak perempuan bapak mertuanya, Pangeran Pekik, dan kemudian wanita tersebut konon menjadi istri Tumenggung Surabaya. Atas perintah Raja, ‘Tumenggung harus membunuh istrinya ini, tetapi telah beberapa kali ditolaknya. Akhirnya dibunuhnya juga istrinya itu dengan keris, tetapi sebenarnya tidak banyak menguntungkan hal ini bagi dirinya. Sebab, ia sendiri pun terbunuh, Sckiranya pun cerita ini harus diragukan, tetapi penting juga artinya karena menunjukkan bagaimana cara masyarakat menggambarkan rajanya. XI-8 Jatuhnya Tumenggung Suranata dari Demak, 1661 Tidak lama setelah Tumenggung Surabaya meninggal, maka sahabat- nya pun, yaitu tumenggung Demak, hilang pula dari panggung kegiatan politik. Tumenggung bernama Suranata ini, yang juga dinamakan Suyanata, tampil terlambat dan tidak banyak ke depan. Pertama-tama namanya disebut sebagai penguasa Demak pada tahun 1634, tetapi mungkin sudah lebih awal ia memegang jabatan itu, karena pada tahun 1652 namanya sudah disebut bersamaan dengan Tumenggung Pati (Goens, Gezantschap- sreizen, hlm. 121). Ta termasuk empat serangkai yang hidup semasa Sunan dan mengabdi pada raja tersebut sejak kecil (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 249). Ketika berakhir masa pekerjaannya itu, berakhir pulalah suatu masa tertentu, karena dalam tahun 1664 orang masih berbicara tentang masa tumenggung Demak itu” (Daghregister, 2 Juni 1664). Jadi, rupanya tiada penggantinya yang layak. Pada tahun 1661 kedudukannya tampaknya sudah tidak begitu kuat lagi, dan dikabarkan ia sudah terbunuh (Daghregister, 4 April 1661). Kemudian kematiannya diragukan (Daghregister, 16 April 1661); ternyata ia hanya diberhentikan dan diganti oleh Radin Hadamakkan” (seharusnya: Ka-demak-an) (Daghregister, 25 November 1661). Ia diusir 161 dari Demak dan semua harta bendanya disita. Disebutkan: “ia tetap tinggal di Mataram dan mendidik salah seorang anak Raja. Tetapi karena ia ipar Tumenggung Pati, maka orang berpendapat bahwa ia akan mengalami nasib yang sama”. Setelah penguasa Demak ini diturunkan dari kedudukannya, maka Ngabei Martanatalah — sebagai kepala dacrah Jepara — menjadi satu-satunya penguasa di antara empat penguasa pesisir yang masih tetap pada kedudukannya. XI—9 Masa gemilang Ngabei Martanata, 1659-1661 Menjelang akhir tahun 1659, ketika bintang Tumenggung Pati mulai memudar, pengaruh Ngabei Martanata mencapai puncaknya. Demikian besar kesayangan Raja pada dirinya schingga orang merasa takut akan kedudukannya (Daghregister, 13 November 1659). Tetapi kedudukannya itu pasti tidak mantap, sebab ada kabar angin juga bahwa ia sudah terbunuh (Daghregister, 4 April 1661), walaupun tentang hal ini di Batavia tidak ada "berita yang pasti” (Daghregister, 16 April 1661). Sebulan kemudian ia dikatakan sebagai "bekas penguasa Jepara tetap akan tinggal di istana”, yang dapat berarti suatu promosi. Bekas kepala daerah Kendal, Wirasetia, seorang ”sahabat akrab Belanda”, melaksanakan pekerjaannya di Jepara (Daghregister, 11 Mei 1661). Di Istana ia berani menganjurkan kembalinya orang-orang Belanda ke loji mereka (Daghre- gister, 20 September 1661). Ngabei Martanata, sekalipun bukan sahabat Kompeni, mungkin melihat manfaat kembalinya orang-orang Belanda itu ke loji. Tetapi ia juga ingin membuka Jepara bagi orang-orang lain, dan untuk itu ia memerintahkan bekas penerjemah bagi orang Inggris, Thomas Armagon, untuk memperbaiki loji Inggris yang sudah dalam keadaan terbengkalai.'© Politik perdamaiannya itu tidak merusak citra pribadinya di hadapan Sunan. Sunan ”sangat menghargainya dan memberikan banyak gelar kehormatan Jawa kepadanya lebih dari semua pembesar lainnya, juga menghadiahkan kepadanya sebuah bokor pinang dari emas”. Orang berpendapat bahwa ia akan menjadi Wiraguna yang kedua (Daghregister, 25 November 1661). Persamaan ini bukan tanpa alasan. Sebab, seperti Tumenggung Wiraguna dulu, ia merupakan satu-satunya penguasa dari 16 Pasti bukanlah secara kebetulan jika Ingeris pada waktu itu mempertimbangkan untuk mengadakan hubungan kembali dengan Jepara. Surat dari Madras tertanggal 20 November 1661 kepada perwakilan Inggris di Banten membicarakan kemungkinan penempatan seorang bernama Tuan Rob Dearing di Jepara atau Makassar (Foster, English, jil. 1V, blm. 51). 162 pembesar empat serangkai yang memangku jabatan sebagai tumenggung Mataram dan akhirnya tampil ke depan. Demikianlah pula Ngabei Martanata pada akhir tahun 1661, ia merupakan satu-satunya pembesar dari empat penguasa pesisir dulu, yang tetap menjadi kesayangan Sunan. Sahabat dan rekannya, Ngabei Wangsaraja, dibunuhnya dengan tangannya sendiri pada tahun 1659; Tumenggung Pati pada tahun berikut dipindahkan ke Surabaya, dan terbunuh pada tahun 1661, sedangkan pada tahun yang sama Tumenggung Suranata juga dibebas- kan dari kedudukannya. Betapa luas pengaruhnya itu terbukti dari campur tangannya dalam urusan-urusan Jawa Barat. XI-—10 Kolonisasi di Jawa Barat, 1660—1661 Sebuah aksi kecil yang dilakukan orang-orang Jawa di Muara Beres itu sepintas lalu kelihatan seperti teka-tcki. Mungkin kejadian ini tidak lebih dari apa yang ditemukan oleh Pembantu Letnan Frederick Muller dalam perjalanan pengintaiannya dari tanggal 17 sampai 20 September 1661 di dacrah pedalaman. Karena berita desas-desus dari Banten dan berita dari seorang letnan Jawa mengkhawatirkan, pembantu letnan tersebut berangkat bersama 10 orang prajurit dan 50 orang Jawa menyelusuri Sungai Bekasi. Dan sampailah mereka di tempat orang-orang Jawa mulai membangun sebuah desa (Daghregister, 17 September 1661). Dua orang kaya” berikut delapan orang lagi dibawanya ke Batavia. Pemimpin-pemimpin mercka memakai nama khas Jawa: Sutatruna dan Wirasuta (Daghregister, 20 September 1661). Ketika ditanya, mereka menjawab datang dari Schilintsick (Cilincing?). Setahun sebelumnya, jadi pada tahun 1660, mereka dikirim ke sana bersama lebih kurang seratus orang oleh "kepala daerah Jepara” untuk membangun sebuah "negeri baru, mengerjakan tanah dan menanam padi, juga menebang kayu dan bambu”. Karena terletaknya di tepi Sungai Bekasi, maka tempat ini cocok sckali untuk mengangkut barang-barang ke Batavia dan menjualnya kepada Kompe- ni. Sejak itu mereka tidak pernah kembali lagi ke desa mereka semula, tetapi kepala desa itu sudah dua kali datang mengunjungi mereka. Tidak ada kata-kata lain diucapkannya, kecuali, "Tempat ini bagus.” Pasti kolonisasi inilah yang dimaksud dalam desas-desus yang tersebar tentang aksi yang dilancarkan orang Mataram di Muara Beres. Konon, Sunan mengirimkan 500 orang ke sana untuk ”mengumpulkan beras”, tetapi 80.000 orang lagi masih akan menyusul (Daghregister, 29 Juni 1661). Karena itu, Banten bersiap siaga dan menempatkan 4.000 orang tentara di Wates, 4 jam di sebelah timur Muara Beres. Orang-orang Jawa itu 163 bermaksud membersihkan diri di hadapan orang-orang Banten dengan dalih: Sunan ingin memerangi Belanda. Tetapi orang-orang Banten tetap waspada, dan mengirimkan dua orang pengintai. Kepada mereka, apabila berhasil baik, dijanjikan akan diberikan ganjaran masing-masing seorang wanita dan 25 ringgit. Juga ke pelabuhan-pelabuhan timur dikirimkan enam kapal untuk mengintai (Daghregister, 16 Agustus 1661). Dukungan kepada Landak ditolak, karena, katanya, Sunan telah mengirim sejumlah besar orang ke Muara Beres. Lama-kelamaan desas-desus itu pun memudar dan hilang. Apakah kiranya maksud tindakan yang kelihatannya sama sckali tidak berarti itu? Mungkin sekali tindakan tersebut tidak ditujukan kepada Banten, juga tidak secara langsung kepada Batavia. Tetapi rupanya Sunan dengan cerdik bermaksud menunjukkan hak kekuasaannya atas dacrah sebelah barat Citarum, tanpa terancam bahaya besar akibatnya. Sebab, apakah sebenarnya yang diketahui oleh orang-orang di Benteng Batavia itu tentang daerah Sunda? Baru setelah setahun, Batavia tahu tentang adanya kolonisasi itu. Karena itu, orang di Mataram dapat berkhayal bahwa Sunan berani bertindak di Priangan. Pemrakarsa rencana itu disebut-sebut oleh para kolonis adalah kepala dacrah Jepara. Berarti tidak lain dan tidak bukan adalah Ngabei Martanata, yang bintangnya ketika itu sedang mencapai puncak sctinggi-tingginya. Aksi di Jawa Barat ini sesuai juga dengan kebiasaan kepala dacrah tersebut untuk mengejar sukses-sukses semu di Istana. Hasil-hasil demikian mutlak diperlukan supaya bisa tetap menjadi kesayangan Raja. Juga aksi tersebut memperlihatkan betapa luas pengaruh penguasa Jepara itu di luar daerah kekuasaannya sendiri. Betapa pandainya ia berhasil meloloskan diri dari bahaya yang mengancam, nyata dari konfliknya dengan Tumenggung Mataram Wirajaya. Menurut Afgaande Missive (Surat Keluar) tertanggal 4 November 1662 (him. 592), konon dituduh telah berusaha meracun tumenggung tersebut serta scorang ”anak haram” Sunan, yang akan kita bicarakan dalam jilid berikut. Karena itu, kabarnya ia hanya dihukum denda 8,000 rial yang dapat dibayarnya, sckalipun jumlah itu harus dicarinya dengan segala macam cara dari segenap penjuru daerah pedalaman. Pemerintah Kompeni karenanya menganggap sebagai suatu hal yang mujur bahwa justru tatkala itu Residen tidak menyimpan banyak uang tunai di tempat tinggalnya. Denda ini dapat mengem- balikan kedudukan tumenggung tersebut. Sudah tentu ada lebih banyak hal lagi yang berkaitan dengan kejadian itu daripada apa yang secara singkat dapat dikemukakan di sini. Setelah dapat menyelamatkan diri dari berbagai macam bahaya, 164 Ngabei Martanata akhirnya tergelincir dalam suatu hal kecil: pembelian kuda di Batavia. Ketika ia tidak berhasil mendorong Kompeni agar bersedia mengirimkan sebuah perutusan baru, seperti yang akan kita lihat, ia berpendapat paling sedikit harus dapat menghadiahkan beberapa ekor kuda Persia kepada Sunan, yang hendak dikatakannya hadiah dari Kompeni. Inilah yang menyebabkan ia jatuh. XI-11 Ngabei Martanata menyuruh membeli kuda, 1662 Sudah dikemukakan bahwa di Surabaya pun orang mengetahui isi kandang kuda Kompeni. Juga di Jepara demikian pula tentunya. Penguasa di daerah ini telah menjerumuskan diri dalam kesulitan luar biasa, yaitu dengan melakukan pembelian kuda di Batavia. Rupanya, ingin dibuktikannya bahwa ia seorang diri pun sanggup mengerjakan apa yang dahulu dikerjakan bersama oleh empat penguasa pesisir sekaligus. Menurut sebuah berita kemudian, Sunan hanya memerintahkannya untuk mengirim kapal ke Batavia, guna melihat kuda apa yang dapat dibeli di sana, bagaimana warna bulu, dan berapa besarnya. Ia harus memberi laporan kepada Raja tentang hal tersebut, tetapi tidak perlu melakukan pembelian (Daghregister, 15 April 1663). Berita demikian berita-berita yang terbetik ketika itu menyatakan bahwa ia telah berbuat lebih dari itu. Sebelum tanggal 9 Juni 1662 (A/g. briefb., him. 144) ia rupanya sudah mencari tahu tentang jumlah kuda yang tersedia di Betawi. Jawaban yang diterimanya: dua ekor. Setelah itu ia memberitahukan kedatangan seorang utusan (ibidem, tanggal 1 Juli 1662, hlm. 227). Pemerintah Kompeni berniat memberi sambutan yang baik kepada utusan itu. Kemudian diterima beberapa ckor kuda (Jawa) dan dua ckor sapi besar di Batavia, tetapi utusan yang dijanjikan itu, belum tiba juga (ibidem, tanggal 3 Agustus 1662, him. 327). Mereka baru berangkat dari Jepara pada tanggal 22 Juli. Sebelum 8 September 1662 (ibidem, hlm. 436), tibalah mereka di Batavia, yakni Kentol Pusparaga dari Ngabei Martanata, dan Lurah Patra dari Wirasetia, kepala dacrah Semarang. Hadiah-hadiah yang dibawanya adalah: beras enam koyan, tiga ckor kuda, seckor di antaranya mati, dan empat ckor sapi besar. Kata mereka, mereka datang atas nama Sunan, untuk membeli dua ekor kuda Persia dan permadani. Surat-surat yang disampaikan kepada Raja bersamaan dengan kuda-kuda yang dibelinya itu bertanggal 28 September 1662 (ibidem, him. 540). Kompeni dalam surat itu menyatakan kegembiraan- nya atas kepercayaan yang dilimpahkan Sunan kepada Ngabei Martana- ta. Mengenai penagihan utang dimohon agar tctap mendapatkan perhatiannya. Dalam sebuah surat kepada residennya (ibidem, hlm. 557) 165 akhirnya kompeni memberitakan bahwa utusan-utusan Jawa itu berang- kat dari Batavia dengan kapal sendiri pada tanggal 29 September 1662, dalam keadaan puas, dan masing-masing membawa seckor kuda Persia. Tetapi tidak lama kemudian terjadi *heboh” di istana mengenai dua ekor kuda itu. Sunan bertanya kepada mereka (Ngabei Martanata dan Wirasetia) ’apakah kuda-kuda itu memang dibeli dan berapa harga- nya”. Jawaban mereka bahwa Yang Mulia di Batavia menghadiahkan- nya menimbulkan pertanyaan apakah mereka pernah mengirim utusan atau surat ke Batavia. Mereka menyangkalnya, sambil menandaskan bahwa ”para utusan yang atas perintah Sri Baginda dikirimkan ke Batavia membawa kuda-kuda itu”. Sunan bertanya kembali kepada mereka, bagaimana mungkin "jenderal dari Batavia melakukan hal itu atas kemauan sendiri, tanpa diminta”. Ngabei Martanata menjawab, *kepala kantor dagang Kompeni di Jepara.. . . setelah mendengar bahwa kuda-kuda Sri Baginda sudah mulai menjadi tua, dan Sri Baginda menghendaki kuda-kuda yang lebih muda, memberitahukan hal itu kepada Kapten Moor, dan kemudian kuda-kuda itu dikirimkan dengan kapal dari Batavia’. Dengan jawaban ini Sunan terdiam beberapa saat, dan akhirnya berkata, "Kuda-kudamu, Martanata, menyenangkan aku. Tetapi aku tidak dapat menyetujui kamu mengirimkan abdimu ke Batavia untuk meminta sesuatu dari Kapten Moor bagiku. Aku juga tidak setuju apabila kamu meminta sesuatu bagiku kepada kantor dagang di Jepara itu. Justru karena itulah aku perintahkan agar Tumenggung Surabaya (Tumenggung Pati) dibunuh. Karena sikapnya itu, yang mengemis-nge- mis kepada orang Belanda, menghinaku. Maka, kuperingatkan kamu berdua, jangan pernah mengemis apa pun atas namaku, kepada bangsa asing mana pun.” Selanjutnya terdengar berita dari Keraton bahwa kuda-kuda itu dibawa kembali ke tempat tinggal Ngabei Martanata, dengan perintah untuk dikembalikan ke Batavia. Tetapi perintah ini tidak dilakukannya. Kiai Wirasetia, yang juga menghadiahkan seckor kuda lainnya, konon diberhentikan dari kedudukannya kemudian (Daghregister, 1 Januari 1663). Ngabei Martanata sementara tidak mengalami nasib yang sedemikian buruk karena Sunan masih memerlukannya untuk melaku- kan suatu tugas penting: suatu perutusan ke Cirebon. XI-—12 Ngabei Martanata mengubah pemerintahan Cirebon, akhir 1662 Mungkin raja Cirebon sejak tahun 1648 berada di istana Mataram (Haan, Priangan, jil. II, bab. 62). Sudah kita ketahui bahwa Sunan 166 menggunakan hal ini untuk memaksa Banten agar takluk kepadanya. Sementara itu, telah disusun pula rencana perkawinan antara putri Cirebon dan putra mahkota. Tidak satu pun rencana-rencana itu terlaksana. Pada awal tahun 166] tersiar desas-desus yang buruk mengenai raja Cirebon ini: konon ia telah dibunuh atas perintah Sunan (Daghregister, 22 Maret, 4 April, 16 April 1661). Akhirnya ternyata bahwa ”pangeran Cirebon setelah kehilangan semua abdinya, ... hidup sebagai orang biasa di Desa Pajaten” (Daghregister, 11 Mei 1661). Apakah berita-berita mengenai raja Cirebon ini dapat dihubungkan dengan kabar dari Banten, ”bahwa beberapa pembesar. . . dari kalangan pangeran Cirebon diikat, dan keesokan harinya dibawa ke Mataram’”? Orang yakin pangeran itu telah terbunuh. Hal ini kemudian ternyata tidak benar, tetapi yang pasti ialah timbul kegelisahan di daerah Cirebon, mungkin juga schubungan dengan penutupan pelabuhan. Menurat Hageman, raja Cirebon meninggal pada tahun 1662, sedangkan Babad Cerbon mencatatnya tahun 1585 J. (mulai 16 Agustus 1662 M.). Perjalanan Ngabei Martanata ke Cirebon mungkin saja sehubungan dengan meninggalnya raja itu. Ia berangkat antara tanggal 21 November dan 4 Desember 1662, untuk ”mengubah hukum di sana”, jadi: mengubah pemerintahan (Daghregister, 1 Januari 1663). Dengan demikian, raja itu mungkin meninggal sekitar bulan Oktober tahun 1662. Ia dimakamkan dengan upacara kenegaraan di pemakaman Girilaya, sehingga kemungkinan ia tidak terbunuh. Dari tempat peristirahatannya inilah ia memperoleh nama anumerta: Panembahan Girilaya. Para korban Tegalwangi biasanya dikuburkan di tempat lain, yaitu di Banyu Sumurup. XI-—13 Matinya Ngabei Martanata, Desember 1662 Setelah Ngabei Martanata kembali di Semarang pada tanggal 19 Desember 1662, ia bersama dua putranya tiga hari kemudian diperintah- kan menghadap Sunan di Mataram. Di sana mereka segera dijaga oleh tidak kurang dari 4.000 orang. Perlu diketahui bahwa penguasa Jepara ini biasa berkunjung ke kota istana dengan iring-iringan besar, schingga penjagaan yang kecil tidak akan berguna. Keesokan harinya ia dipanggil menghadap. Pertama-tama Raja bertanya, berapa kapal yang sudah siap; setelah itu: berapa yang telah dibayarnya untuk kuda Persia itu. Atas jawaban Martanata, tiga ratus ringgit, Sunan menjadi marah dan berkata, »Kamu bohong, Martanata, dan juga bohong kuda-kuda itu dikirimkan orang Belanda ke sini. Yang benar ialah perintahku untuk mengirim 167 kapal ke Batavia, guna melihat apakah ada kuda di sana, bagaimana warna dan besarnya, dan kemudian melaporkannya kepadaku. Itulah yang diperintahkan kepadamu, bukan untuk membelinya.” Martanata memohon maaf dengan sedalam-dalamnya, tetapi Sunan tidak mendengarkannya. Sunan berdiri dan memerintahkan Patih Wiradijaya, tumenggung Mataram, untuk memotong kepala Martana- ta dengan keris”. Ini tidak lazim, karena keris digunakan untuk menikam. ”Para pembesar segera bersiaga, menangkapnya, dan mem- bawanya ke alun-alun (Pagelaran?), dan bersama-sama memenggal kepalanya, tetapi harus menikamnya 30 kali dengan keris sebelum berhasil” (Daghregister, 15 April 1663). Hukuman yang sangat kejam ini amat mengesankan di dalam dan luar Jawa. Peristiwa itu membuat Pangeran Palembang ”berpikir ma- tang-matang, scbelum mengirimkan scorang utusan ke sana” (Daghregis- ter, 14 Mei 1663). Apakah disebutkannya tumenggung Mataram sebagai pelaksana perintah keji itu dapat diartikan sebagai kemenangan dacrah pedalaman atas daerah pesisir? Kuda yang dikirim kembali kepada Ngabei Martanata itu termasuk salah satu warisannya setelah ia terbunuh. Sunan mengambil kembali kuda tersebut. Kecuali dari sumber Belanda, berakhirnya riwayat hidup Martanata diketahui pula dari Babad Sangkala, yang menyebutkan pada 1585 J. (mulai 16 Agustus 1662): Demang Martanata pejah pagelaran mantune, jadi Demang Martanata tewas di pagelaran menantunya. Apakah Sunan telah kawin dengan salah scorang putri demang tersebut, seperti yang sering juga terjadi pada orang-orang kesayangan Sunan?!” 17 Ngabei Martanata sejak urusan dan kesibukan kerjanya lebih banyak berlangsung di daerah pedalaman menunjuk seseorang sebagai kaki tangan dan pembantunya di pantai, yaitu Kiai Wirasetia. Kiai ini dari tahun 1648 sampai 1651 pernah menjadi penguasa wilayah Jepara (Goens, Gecantschapsreizen, hlm. 48, 49, 68-70). Kemudian ia tidak lagi disenangi Sunan dan dipindahkan ke Kendal yang tidak begitu penting (Goens, Gezantschapsreizen, him. 79). Tetapi pada tahun 1661 ia mulai tampak lebih menonjol sebagai "bekas kepala daerah Kendal”, sctelah hilangnya banyak pejabat tinggi pesisir dan Ngabei Martanata “tinggal diistana” (Daghregister, 11 Mei 1661). Ia menggantikan Martanata di Jepara, dan ini menyenangkan orang Belanda, karena ia "selalu bersahabat akrab dengan mereka”. Di Istana selama penutupan pelabuhan kedua ia rupanya memainkan peranan sebagai perantara (Daghregister, 20 September 1661). Mungkin ia dipakai Ngabei Martanata untuk menjalin hubungan kembali dengan Kompeni. Pada akhir tahun ia menjadi kepala daerah Pati, tetapi hanya atas dacrah itu saja, dan tidak atas seluruh daerah pesisir lainnya seperti yang dikatakan sementara orang (Daghregister, 25 November 1661). Tahun berikutnya ia turut serta dengan pembelian kuda Ngabei Martanata yang nahas itu di Batavia. Sejak sebelum Ngabei Martanata tewas, ia ternyata sudah diberhentikan, yang tidak merupakan 168 Hubungan Martanata dengan Kompeni menghasilkan sukses sejenak baginya, tetapi juga kematian yang mengerikan. Bagaimanakah sikap Belanda terhadap Mataram sejak pelabuhan-pelabuhan dibuka kembali? pertanda baik (Daghregister, 1 Januari 1663, him. 3); pada tahun 1664 ia berkuasa atas Lasem dan Kendal (Daghregister, 14 April 1664). Berita-berita kemudian menimbulkan kkesan bahwa ia berkuasa kembali di Jepara (Daghregister, 20 April 1664, 17 Mei 1664) Kiranya tidak lama lagi ia akan tutup usia, karena pada tahun 1648 ia sudah dianggap tua 169 Bab XII Pembukaan Kembali Loji Kompeni XII-1 Pembukaan kembali pelabuhan-pelabuhan, 1661 bernama Patra dari Demak dengan naik konting, yang di oleh syahbandar di sana. Ia membawa berita bahwa atas perintah Sunan Mataram, pelabuhan-pelabuhan yang tertutup sekian lama itu akan dibuka kembali. Para penguasa pesisir masih di istana, tetapi setiap saat diharapkan akan segera kembali. Pemerintah Kompeni menganggap berita itu cukup penting, sehingga perlu diteruskan ke Negeri Belanda sebagai laporan khusus singkat tertanggal 29 Juli 1661 (Jonge, Opkomst, him. 89 catatan). Apakah disadari pula oleh Raja bahwa penutupan pelabuhan itu menimbulkan kerugian pada kawulanya sendiri, yang sedikitnya sama besar dengan apa yang diderita Kompeni? Ataukah para penguasa pesisir — termasuk Ngabei Martanata — yang ada di istana dapat membuat Sunan mengubah pikirannya? Mungkin berita sekilas tentang perubahan pikiran semacam itu telah masuk buku catatan harian Kompeni di Batavia melalui Banten (Daghregister, 20 September 1661). Bertanyalah Sunan kepada pejabat-pejabat tingginya, ”apakah Batavia tidak me- merlukan bahan-bahan keperluan hidup”. Dengan demikian, ia mena- nyakan akibat penutupan pelabuhan itu. Bekas kepala daerah Kendal, Wirasctia, menjawab: "telah mendengar dari petugas-petugasnya bahwa beras di Batavia masih dapat diperoleh dengan harga 50 rial, dan ia tidak meragukan bahwa dengan terbukanya kembali pelabuhan-pelabuhan nanti orang-orang Belanda pasti akan bermukim lagi di Jepara”. Dengan demikian, penguasa pesisir ini rupanya mempersiapkan terjalinnya kembali hubungan baik, yang juga akan memberi keuntungan bagi 170 P ada tanggal 24 Juli 1661 (Daghregister) tibalah di Batavi: dirinya sendiri. Berita-berita lainnya dari Banten ialah tentang usaha Sunan memper- baiki citranya. Penutupan pelabuhan secara menyeluruh itu konon akibat salah pengertian. Raja menjadi keheranan mendengar bahwa semua orang asing telah diusir dari kerajaannya. Lalu ia bertanya kepada kepala dacrah Jepara, "Siapakah yang mendorongnya sampai mempu- nyai pikiran jahat demikian?” Ketika dijawab bahwa Kiai Wirajayalah yang mengeluarkan perintah itu, maka segera Sunan memerintahkan agar tumenggung Mataram ini diseret ke luar, dibawa ke pasar atau lapangan pasar di depan Istana, diikat pada tiang dan... selama dua hari dijemur di bawah panas terik matahari”. Melihat adat-istiadat keraton dahulu dan sifat Sunan yang pendendam itu, maka gambaran tersebut di atas mungkin berdasarkan kenyataan. XII—2 Kembalinya orang Belanda di Jepara, 1661-1663 Sebagaimana ketika orang-orang Belanda harus mengosongkan loji mereka atas perintah Raja, maka atas perintahnya pula mereka harus kembali ke tempat itu. Sunan telah memerintahkan kepada para penguasa pesisirnya untuk mengetahui apakah “orang Belanda tidak berkeinginan . . . tinggal lagi di Jepara, atau mungkinkah Tuan Jenderal lebih suka berperang dengannya. Mereka disuruh memberitahukan segera jawabannya” (Daghregister, 20 September 1661). Artinya, dalam waktu singkat orang Belanda harus kembali ke loji mereka; kalau tidak: perang! Masih diperlukan hampir dua tahun lagi sebelum Residen bisa menempati kembali lojinya yang lama dan terbengkalai itu. Belum diketahui sikap apakah yang akan diperlihatkan orang Jawa terhadap Kompeni setelah kegagalan penutupan pelabuhan untuk kedua kalinya. Pada waktu pembukaan pelabuhan, pemegang buku David Luton, yang beberapa tahun bekerja di Banten, dikirim ke Jepara (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 90). La diberi tugas mengetahui keadaan di sana, apakah joji sudah dapat ditempati kembali, dan apakah kayu dan bahan-bahan yang lain dapat diperolch kembali. Jika keadaan di sana dianggapnya baik, maka ia bahkan boleh menyinggung pengiriman perutusan. Juga harus diperoleh beras. Ia akan meninggalkan Banten pada akhir Desember 1661 (Daghregister, 31 Desember 1661). Dalam bulan-bulan pertama Luton tinggal di sebuah kapal di Teluk Jepara; ini biasanya dilakukan di tempat-tempat yang dianggap tidak aman, "karena tingkah laku penduduk yang tidak menentu” (H.R. kepada Luton tanggal 4 April 1662). Setelah loji diperbaiki atas biaya pihak Jawa, barulah bolch ia turun ke darat; tetapi pakaian dan uang 171 tunai harus tetap ditinggalkan di kapal. Pada akhir tahun 1662, dengan perantaraan Ngabei Martanata, kepada Residen dikuasakan warisan sescorang yang berutang pada Kompeni, yaitu seorang Cina yang terbunuh, bernama Sanco (H.R. kepada Luton tanggal 28 Oktober 1662). Sebagian dari warisan itu berupa dua rumah batu seharga 150 rial. Luton dapat mencmpati rumah itu, tetapi ia tetap tinggal di kapal, "karena tidak diketahui dan tidak dapat diketahui apakah yang akan diperbuat orang Jawa”. Ia baru mau menempati loji atas perintah Sunan, tetapi perintah itu belum dikeluar- kan. Ngabci Martanata memang tclah menyatakan bahwa Luton tidak dihalang-halangi, dan ia lebih senang jika Luton sudah tinggal di sana, karena ’Sunan mungkin akan menjadi marah kepadanya apabila . . . Sri Baginda mendengar bahwa loji yang sudah bobrok itu . . . akan menjadi ambruk, tanpa ada usaha memperbaikinya (Daghregister, | Januari 1663). Memang tepat sikap Residen berhati-hati. Sebab, ketika kembali dari suatu perjalanan ke Rembang pada tanggal 31 Desember 1662, dilihatnya pemegang buku Pieter Brinckhoff sedang sibuk memuat barang-barang Kompeni ke dalam kapal. Sebab, atas kchendak kepala daerah baru, Tanumenggala, diperintahkan "bahwa tidak seorang pun diizinkan keluar, bahkan untuk melihat laut sekalipun; juga tidak diinginkan orang Belanda tinggal di darat”. Sampai saat itu belum ada seorang pembesar pun yang memberi tahu Sunan bahwa orang-orang Belanda sudah tinggal di darat (Daghregister, 15 April 1663, him. 153). Ketika Luton mendesak supaya Sunan diberi tahu, barulah kepala daerah itu sepakat ia diperbolehkan tinggal di darat sampai ada perintah selanjutnya dari tumenggung Mataram, Kiai Wirajaya, yang telah diberi tahu secara tertulis. Empat bulan berlalu dengan tenang. Lalu, konon, Sunan menanya- kan kepada Tumenggung Mataram tentang “apa saja yang diperda- gangkan orang Belanda di Jepara”. Jawabnya: beras, kayu, dan seterusnya. Kemudian Raja ingin mengetahui berapa orang mereka di sana. ’Sepuluh orang,” kata tumenggung itu. Juga ditanyakan oleh Sunan apakah orang-orang Belanda itu tidak pernah meminta sesuatu. Dijawabnya, *Tidak.” Kemudian raja Mataram itu berkata, ”Pergilah, dan kirimkan utusan ke Jepara, dan perintahkan supaya orang-orang Belanda itu segera kembali ke lojinya yang lama. Dan beri tahukan bahwa mereka harus merasa senang bahwa seluruh negeri ini terbuka bagi mereka untuk berdagang sccara bebas. Tetapi katakan juga bahwa mereka tidak boleh menempatkan mcriam-meriam di loji mereka.” (Daghregister, 5 September 1663), Perintah itu ditaati. Pada tanggal 17 Agustus 1663 muncullah Kartijaya, "bupati Jepara” 172 (bukan gubernur), yangoleh Sunan “dikirim cepat-cepat dari Mataram” (Daghregister, 23 Agustus 1663). Setiba bupati Jepara itu pada suatu pagi dengan kapalnya di dermaga, bertanyalah ia kepada para penjaga apakah Residen ada di rumah. Residen baru saja tiba hari yang lalu dari Rembang. Setelah itu Kartijaya turun ke darat dan menuju ke paseban (di sini: alun-alun). Dari sana disuruhnya syahbandar memanggil Residen. Syahbandar datang pada Residen Luton “dengan disertai banyak sekali orang”. Bersama dengan seorang pemegang buku, Residen pergi ke paseban. Ketika Kartijaya melihat Luton datang, maka pergilah ia ke rumah penguasa dacrah dan duduk di sana. Luton mengikutinya dan juga mengambil tempat. Selanjutnya Kartijaya memerintahkan pembesar Jepara duduk di depannya. Kartijaya beritahukan kepada mereka, sunan Mataram memerintah kepadanya, setelah mengetahui bahwa sudah lama Residen ada di tempat, untuk memberitahukan agar Residen kembali menempati loji Kompeni seperti semula. Raja memerintahkan supaya hal ini dilaksana- kan tanpa ”penundaan sedikit pun karena Sri Baginda tidak dapat menerima Residen menetap di sebuah rumah Cina”. Lalu Kartijaya bertanya apakah Residen bersedia. Luton menjawab “bersedia”, karena demikianlah perintah Sunan, dan atas kemurahan hati Sunan itu diucapkannya banyak terima kasih. Setclah itu, beberapa saat lamanya mereka berdiam diri. Keadaan ini diakhiri olch Residen dengan permohonan untuk diberikannya waktu, agar ia dapat merapikan loji itu dan memagamya. Tetapi Kartijaya menjawab pedas, "Itu tidak mungkin. Kemurahan hati Sunan tidak boleh ditolak begitu.” Juga ditegaskannya, "’Sekalipun tidak ada pagar yang mengelilingi loji, tidak akan terjadi apa-apa. Jika ada musibah menimpa Residen, kepala mereka itu semua menjadi taruhannya,” sambil menunjuk pada semua pembesar Jepara yang duduk di depannya. Karenanya, Luton tidak usah merasa takut. Sekali lagi Residen menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Sunan, dan berjanji akan segera pindah dari rumah Cina itu ke loji. Kemudian Kartijaya masih juga menerangkan bahwa Sunan telah memerintahkan pula kepadanya untuk selekas-lekasnya memberitahu- kan kepada Kompeni tentang pemindahan ini. Dan diperingatkan supaya tidak diselundupkan meriam berat ke darat, dan tidak boleh ada lebih dari satu senapan per kepala. Ini disanggupi Residen. Ia kemudian pamit kepada Kartijaya, dan mulai melaksanakan pemindahan tersebut. Pada sore hari Kartijaya datang bersama banyak pembesar di loji. Setelah diberi sambutan yang sebaik-baiknya disertai hidangan pinang dan anggur, mereka itu pun pergi. Mungkin mereka ingin menyaksikan 173 sendiri itikad baik Residen. Tetapi satu jam kemudian muncul pula syahbandar, yang menyampaikan keinginan Sunan akan adanya lagi seorang utusan Belanda, tetapi tidak tahu bagaimana cara mewujudkan- nya, Sudah tentu ia pun dapat mengirimkan utusan-utusan ke Batavia, tetapi ia malu mengambil langkah pertama. Luton tidak dapat memberi jalan tentang hal itu kepada syahbandar. Malam itu Residen tidak dapat tidur nyenyak di loji yang masih berantakan itu. Untuk perbaikannya mungkin diperlukan biaya 300 rial. Bahkan scorang tukang batu harus didatangkan. Jadi, ketika Kartijaya keesokan pagi harinya kembali ke Mataram, Luton sementara menang- guhkan niatnya tinggal di loji yang bobrok itu. Karena tindakannya itu, ia dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya pada tanggal 19 Agustus 1663 oleh Sabdawangsa, scorang petugas tumenggung Mata- ram, Kiai Wirajaya (Daghregister, 5 September 1663). Dengan dia Residen terlibat dalam “perdebatan” yang "karcna mengenai urusan-urusan negara”, dinyatakan di dalam ”pernyataan bersama”. Bahkan dimuat dalam Daghregister. Pernyataan itu pada pokoknya mengemukakan bahwa Luton kurang senang tinggal di loji yang “kotor sekali dan jauh dari lengkap perabotannya” itu. Sebaliknya, Sabdawangsa menandaskan bahwa Residen harus segera kembali ke loji itu. Selama Residen di Jepara, maka ia harus ”taat pada perintah-perintah Sunan . . . seperti halnya pada perintah Tuan Jenderal”. Luton menjawab, ”Itu memang benar.” Jadi, diakuinya sepenuhnya hak Sunan untuk memberikan perintah kepada- nya. Dan sikap ini juga tidak disembunyikannya kepada para atasannya. Sewaktu Residen pada sore hari sedang sibuk membersihkan loji, ia dikunjungi bupati (patih?) dan syahbandar Jepara. Sebagai orang Jawa mereka tidak segera menyebutkan maksud kedatangan mereka. Tetapi setelah beberapa waktu berbasa-basi tentang berbagai macam hal, diucapkanlah pula apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan: mereka minta supaya Residen tetap menaati perintah Sunan, "karena demikianlah kehendaknya”. Residen tidak berkeberatan: ia sudah tidur satu malam di loji, dan sekarang sedang sibuk mengadakan pembersihan seluruhnya. Syahbandar menegaskan bahwa Sabdawangsa tidak hanya dikirimkan oleh Kiai Wirajaya, melainkan juga oleh Raja sendiri. Karena itulah lebih baik Residen segera menempati loji, ”sekalipun masih dalam keadaan kotor dan tidak keruan”. Setelah itu, Residen segera memasukkan barang-barangnya ke dalam loji, karena tidak dapat diduga apa ”yang akan diperbuat Sunan apabila 174 perintahnya tidak dilaksanakan’.'® XII—3 Desakan supaya dikirim perutusan, 1661-1663 Sebelum Kompeni kembali lagi ke loji di Jepara, memang sudah ada hasrat untuk mengirimkan sebuah perutusan. ke istana Mataram membicarakan hal itu. Pihak Jawa akan diberi "harapan. . . bahwa kami akan mengirimkan suatu utusan yang terhormat kepada Sri Baginda” (Daghregister, 31. Desember 1661). Pihak Mataram memang mengharapkan kedatangan suatu perutusan. Ngabci Martanata, pada puncak kejayaannya, pernah menyuruh tulis surat ke Jepara yang memberitahukan: Begitu ada duta-duta dari Batavia atau tempat lain datang, mereka diminta supaya segera menghadap ke istana” (Daghregister, 25 November 1661, hlm. 375). Tetapi selama Residen tidak boleh kembali ke lojinya sendiri, maka tidak pernah Batavia terpikirkan mengirim suatu perutusan, "karena orang Jawa rupanya menjadi semakin angkuh, semakin banyak dituruti permintaan mereka” (Realia, keputusan tanggal 31 Maret 1662, hlm. 89). Juga diragukan perutusan itu akan mendapat sambutan yang baik, karena bahkan Ngabei Martanata sendiri pun tidak dapat memastikan- nya (H.R. kepada Luton, tanggal 4 April 1662). Karena itu, Residen Luton tidak perlulah berbicara lagi tentang suatu perutusan, sebab tidak akan banyak membawa manfaat (ibidem, tanggal 9 Juni 1662). Karena Residen tidak hanya diperbolehkan memasuki lojinya yang sudah rusak itu, bahkan mau atau tidak mau diharuskan menempatinya, maka pada pendapat pihak Belanda alasan untuk mengirimkan utusan-utusannya ke Mataram menjadi semakin kecil. Sebab, pengirim- an utusan itu, pada pendapat Kompeni, harus melambangkan hubungan persahabatan antara dua pihak yang sama tingginya, dan bukan sebagai vazal yang datang bersembah sebagaimana dikehendaki Sunan. Karena tujuan menempati kembali loji telah tercapai, maka tiada alasan lagi 18 Bersamaan wakts itu juga diusahakan untuk mendapatkan sebuah loji Belanda Gresik. Tentang hal ini Raja pada tahun 1663 telah menunjuk Kiai Anggareksa ini mengirimkan Kiai Lurah Ciptawangsa, Pranawangsa, dan Patranaga ke Batavia untuk mengundang orang Belanda ke Gresik (Daghregister, 29 September 1663) Katanya atas perintah Sunan. Hadiah-hadiah mereka adalah: beras 2 koyan, | ekor kuda, 2 ekor kijang, 2 keranjang gula Jawa, 30 ckor ayam. Residen membenarkan adanya usul ini, Orang Belanda akan mendapatkan rumah, dan boleh melakukan perdagangan bebas. Kepala daerah sendiri akan membangun rumah buat mereka (Daghregister, 1 Oktober 1663). Tetapi, menurut Residen, usul ini diajukan hanya untuk mendapatkan hadiah dari Pemerintah Kompeni, dan ada beberapa hal lain yang juga menunjuk ke arah itu. Oleh karena itu, ia berpura-pura tidak tahu apa-apa. Juga Pemerintah Kompeni memandang tidak bijaksana tinggal di tempat yang baru ini (Daghregister, 19 Oktober 1663). 175 untuk berkunjung ke Mataram. Terhadap permintaan pengiriman perutusan sebagai tanda terima kasih kepada Raja atas izin menempati kembali lojinya, Kompeni berlaku "scolah-olah masalah itu luput dari perhatiannya” (tertanggal 28 Agustus 1663, him. 163). Sebaliknya, pihak Jawa, yang benar-benar mengharapkan datangnya perutusan itu, berulang-ulang menanyakan hal ini kepada Residen. Sewaktu-waktu pembesar bertanya kepadanya bagaimanakah perasaan Yang Mulia di Batavia setelah memiliki kembali loji mereka. Luton hanya menjawab, Pemerintah Batavia telah mendengarnya, merasa heran, dan memerintahkan kepadanya menempati loji itu sesuai dengan perintah Sunan. Tetapi jawaban ini sama sckali tidak memuaskan bagi pihak Jawa. Pada suatu hari para bupati datang di loji, berbasa-basi selama satu sctengah jam, sebelum berbicara tentang loji itu sendiri. "Mercka sangat memujinya (karena kebersihan dan kerapiannya) dan bertanya apakah Tuan Jenderal tidak merasa gembira bahwa Sunan ... mengizinkan mencmpati kembali loji itu?” Luton menjawab bahwa dalam surat-surat terakhir dari Batavia hal itu tidak pernah disinggung. Lalu salah seorang pembesar bertanya, ”Tidak adakah hal lain yang ditulis Tuan Jenderal?”, yang dijawab Residen: *Ya ..., beliau merasa gembira bahwa Sunan sclanjutnya ingin hidup damai dengan Batavia” (Daghre- gister, 1 Oktober 1663). Sctclah mengobrol lagi sebentar, maka para pembesar itu pun pergi, ”tampaknya agak tersinggung” terhadap orang Belanda, yang pada pendapat mereka tidak tahu kesopanan dan juga tidak punya kecerdasan. Tetapi itu tidak tepat! *Mungkin”, dilanjutkan Residen dalam suratnya, raja itu sekarang akan menempuh segala jalan untuk mendorong Yang Mulia supaya mau mengirimkan suatu legasi”. Rakyat jelata sudah ramai membicarakannya. Akhirnya pihak Jawa terpaksa menyatakan maksud mereka secara terang-terangan, yakni pada tanggal 29 September 1663, ketika Bupati Astrakara berkunjung kembali kepada Residen dan bertanya, "Apakah Tuan Jenderal tidak dapat memutuskan untuk mengirim setiap tahun suatu perutusan kepada Sunan, sebagaimana sebelumnya dan sesuai dengan perjanjian” (Daghregister, 11 Oktober 1663). Luton berpendapat bisa saja, asalkan dapat dipastikan bahwa utusan itu “akan diterima dengan hormat, sesuai dengan derajatnya”. Karena pada pendapat Mataram hal itu merupakan tuntutan yang luar biasa, maka bertanyalah Astrakara, "Apakah yang harus diperbuat terhadap mercka itu?” Residen berpendapat bahwa Bupati harus tahu hal itu, ”karena ia orang tua”. Orang Jawa tentunya tahu bagaimana utusan-utusan asing 176 biasanya dipandang dan diterima di Mataram, tetapi tidak berani mengucapkannya dengan terus terang. Ia betul-betul telah tersudut karenanya. Olch karena itu, pada tanggal 18 Oktober 1663 Residen dapat menulis ke Batavia: ”masalah legasi tidak lagi disinggung-singgung” (Daghregis- ter, 26 Oktober 1663). Akan tetapi masalah hubungan antara dua kekuasaan besar itu dengan demikian belum terpecahkan, hanya mereda sejenak. Sebab, “legasi yang terhormat” itu rupanya hanya akan digunakan untuk ”menaikkan nama dan wibawa Sunan di mata bangsa-bangsa tetangganya, juga dinyatakan sebagai pemberian sembah dan hormat untuk mendorong mereka agar berbuat yang sama” (Laporan Umum, tertanggal 21 Desember 1663 dalam Jonge, Opkomst, il. VI, him. 99). Pemerintah di Batavia karena itu bersikap ”pura-pura bodoh dan tidak memahami artinya”. XII—4 Keresahan setelah kegagalan, 1663—1664 Jika tewasnya Ngabei Martanata, kepala daerah yang besar itu, sebentar mengangkat martabat Raja — hal itu mengejutkan Palembang dan mendorong Makassar *memperkuat diri” — maka kegagalan Sunan terhadap Batavia tiada scorang penduduk pesisir pun yang tidak melihatnya. Setiap orang sering merasakan sendiri akibat penutupan rapat-rapat pelabuhan itu. Seluruh Jepara melihat orang Belanda, secara nyata menempati kembali loji mereka yang telah terbengkalai itu. Perintah untuk segera menempati gedung yang bobrok ini dimaksud untuk menyembunyikan kegagalan itu, tetapi ternyata, justru lebih jelas menelanjanginya. Sebuah perutusan untuk menyampaikan hormat dan puji serta terima kasih kepada Raja tetap tidak kunjung datang. Bagi Sunan sudah tentu hal ini akan menggoyahkan kewibawaan, dasar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pertama-tama hal ini dapat diharapkan di daerah ujung timur Jawa yang sudah selama beberapa tahun kehilangan Blambangan. Surabaya, kota perdagangan yang mandiri dan dahulu pernah begitu hebat perkembangannya, akibat terbunuhnya Pangeran dan Tumenggung Surabaya itu, kembali mengangkat wibawa keraton Jawa Tengah. Maka, bukan secara kebetulan bahwa justru setelah kegagalan blokade Mataram itu, “raja ulama” Giri, setelah membisu bertahun-tahun lamanya, tiba-tiba menarik perhatian orang. Pada tahun 1663 terjadi ketegangan antara Giri dan Mataram, sehingga orang takut bahwa korban pasti akan berjatuhan. Sementara itu, di daerah pedalaman bangkit pula perlawanan, walaupun belum lagi berwujud dalam perbuatan-perbuatan nyata. Soal ketegangan ini akan 177 dibicarakan lebih lanjut dalam salah satu bab berikut. Bagaimanapun tahun-tahun 1663 dan 1664 boleh dikatakan merupa- kan masa yang paling tenang dalam pemerintahan Mangkurat. Bahkan tidak terdengar berita-berita tentang pembunuhan-pembunuhan yang menggemparkan orang banyak. Mungkin ketenangan ini sebagian disebabkan oleh ”impotensi”, yang disebutkan sebagai penyakit parah Sunan pada tahun 1664 schingga ia tidak bisa menerima utusan-utusan dari Palembang. Begitu ia *mulai sembuh kembali?” maka akan disampaikan kepadanya permohonan mereka untuk menghadap. Karena itu, para utusan boleh datang kembali setengah tahun lagi (Daghregister, 17 Mei 1664). Juga di Jepara orang-orang Belanda, setelah kembali ke lojinya yang lama, mengalami masa tenang. Ketika itu Jepara dikuasai para penguasa yang bersahabat dengan ‘mereka. XII—5 Para Residen Belanda di Jepara, 1661-1666 Sayang sekali dalam tahun-tahun setelah perbaikan loji itu, Kompeni tidak diwakili selayaknya sebagaimana yang dinginkan, yakni oleh pemegang buku David Luton. Pada tanggal 2 Juni 1664 (Daghregister) Batavia menerima sebuah surat anonim dari seorang pedagang Jawa di Jepara, yang menyampaikan keterangan-keterangan buruk tentang pemegang buku tersebut. Bukan saja ia tidak memenuhi perjanjiannya dengan pedagang ini, tetapi juga memperlihatkan peri laku yang buruk, menganiaya orang-orang Jawa yang miskin dan papa, juga kelasi- kelasi”. Khususnya jika sedang mabuk, maka “kelakuannya buruk sekali, merajalela di sepanjang jalan sambil menggedor pintu-pintu dan menebas-nebaskan pedangnya”. Setiba di rumah, dibangunkannya “para kelasi sehingga berhamburan keluar semua, dan keluyuran sepanjang malam”. Orang-orang Jawa melawan perbuatan-perbuat- annya yang kasar dan tidak sopan itu dan kemudian penulis surat anonim tersebut diharuskan menyuruh mereka pulang saja ke rumah. Mungkin saja laporan yang banyak mengandung pelajaran ini ditulis olch salah scorang dari mereka yang kemudian dikenal sebagai pedagang-pedagang yang berkuasa (periksa Bab XII—7). Pemerintah Kompeni terkejut mendengar tentang keadaan yang kacau ini. Dan dengan marah melemparkan "kata-kata pedas” kepada residennya itu serta memerintahkannya supaya surat-suratnya selalu ditandatangani oleh wakilnya (Daghregister, 17 Juni 1664). Pada tanggal 10 Juli 1664 (Daghregister) diterima ”pengakuan Luton mengenai kebiasaannya bermabuk-mabukan dan cara hidupnya yang tidak teratur”. Ia berjanji akan memperbaiki kelakuannya. Tetapi pengaduan- pengaduan tentang dirinya masih terus saja mengalir (Daghregister, 6 178 Februari 1665). Karena itu, Simon Simonsz dikirim sebagai komisaris ke Jepara untuk melihat "bagaimana tingkah laku pemegang buku David Luton itu”. Pada tanggal 18 Februari 1665 (Daghregister) Simon Simonsz berangkat ke Jepara dengan membawa instruksi yang panjang lebar: David Luton harus segera dinaikkan ke kapal pertama yang bertolak ke Batavia, dan digantikan oleh wakilnya, pemegang buku Pieter Brinckhoff. Kemudian sudah tentu buku-buku diperiksa, dan perdagangan diperlancar. Juga harus dijelaskan dengan terus terang khususnya kepada orang Jawa tentang maksud kedatangannya di Jepara. Sebab, jika tidak, mungkin ia akan dipandang sebagai scorang utusan resmi. Di Jepara, Simonsz. memang tidak menemukan tata buku yang layak tetapi hanya “buku-buku perdagangan yang penuh corat-coret dan belum ditutup dari tahun yang lewat” (Daghregister, 13 April 1665). Juga ternyata bahwa hubungan antara kedua pemegang buku itu kurang baik. Demikianlah, Luton dikirim kembali ke Batavia. Sementara itu, Simonsz sibuk sckali dengan mengatur kembali perdagangan, mengadakan kontrak-kontrak baru dengan leveransir- leveransir kayu dan gula (Daghregister, 9 Mei 1655). Pada tanggal 25 Juni 1665 (Daghregister) dikirimkannya sebuah laporan. Di samping banyak melakukan penyelewengan keuangan, seperti memperhitungkan harga- harga yang terlalu tinggi, tidak mencatat hadiah-hadiah yang diterima, atau biaya-biaya yang tidak pernah dibayar, ”cara hidup Luton yang kotor dan keji itu tidak hanya melukai bangsa Jawa, tetapi juga bangsa kita sendiri ... maka demi tata susila Kompeni menahan diri untuk menuliskan hal-hal demikian itu.” Kemudian ternyata pula bahwa pelapor ia telah menyelundup ke darat dua pucuk meriam, yang dengan melanggar peraturan dan larangan, memang telah dibawa masuk melalui dermaga. Meriam-meriam itu disita oleh penguasa daerah Reksameng- gala, dan sementara ada di tangan orang-orang Jawa (Daghregister, 15 November 1665). Pieter Brinckhoff, wakil Luton, tidak lama sesudah itu cepat-cepat kembali ke Batavia. Kedudukan Luton digantikan oleh pedagang Danckert van der Straeten.'? Dia diberi instruksi oleh komisaris Simonsz 19 Luton, setelah di luar dinas Kompeni, kemudian muncul kembali di Jepara (Daghregister, 17 Juni 1670) dalam keadaan ”'semabuk-mabuknya’’. Pada suatu malam hari awal bulan Desember 1670 ia dibunuh. Kecuali lebih banyak utangnya daripada miliknya, ia juga meninggalkan seorang wanita Jawa yang hamil, "yang menjelang meninggalnya telah dijanjikan akan diberi 2 ringgit setiap bulan asal anaknya tidak dibuang”. Setelah Luton meninggal, wanita ini mengancam akan membuang anaknya itu jika tidak diberi uang untuk pemeliharaannya (Daghregister, 18 Desember 1670). 179 (Daghregister, 11 Mei dan 21 Juli 1665). Sebagai wakilnya bertindak Jacob Couper ternama itu, yang pada suatu ketika akan memainkan peran penting di pantai timur Jawa. Tidak terlalu lama Van der Straeten bekerja di sana. Pada tahun berikutnya, kepala dacrah baru Ngabei Wiradika sudah mengadukan dirinya: ia terlalu berdiri sendiri, tidak mau mendengarkan para bawahannya”. Kepala daerah memperingatkan bahwa segala sesuatu tidak akan berjalan lancar seperti pada saat penutupan pelabuhan yang kedua (Daghregister, 11 Agustus 1666). Van der Straeten lalu dipindahkan ke Sri Lanka, dan digantikan oleh wakil pedagang Jurriaen Propheet (Daghregister, 24 Agustus 1666). XII—6 Pemerintahan Tanumenggala, 1663 Setelah Martanata tewas maka mulailah bagi Jepara suatu masa yang baru. Sebagai pertanda nyata dapat dilihat bahwa "istana” kepala daerah tidak boleh lagi didiami; suatu petunjuk jelas tentang amarah Raja. Karena mulai tahun 1663 di Jepara disebut-sebut tentang »pemerintahan Kepala Daerah Mataram”, maka dapat dipastikan bahwa Jepara sejak itu tidak lagi mempunyai seorang kepala daerah, tetapi diperintah oleh oknum-oknum dari tumenggung Mataram (Daghregister, 5 Juli 1669). Juga terdegar desas-desus bahwa Sunan »selanjutnya tidak akan mengangkat lagi kepala-kepala daerah, tetapi mengganti para pembesar setiap tahun” (Daghregister, 30 April 1663). Oleh karena itu, hanya tokoh-tokoh yang kurang menonjol dan bertugas tidak lama yang diangkat menjadi kepala kota pelabuhan. ‘Tokoh yang paling menarik adalah Kiai Tanumenggala karena setclah itu ia masih dua kali berkuasa di Jepara dengan nama Negabei Wangsadipa, justru dalam masa-masa yang amat gawat. Tanumenggala ini rupanya diangkat tidak lama setelah Ngabei Martanata tewas, karena sudah sejak awal Januari 1663 ia dapat ditemukan di Jepara (Daghregister, 15 April 1663). Ta sangat berhati-hati, tidak mau memberikan tempat tinggal lagi bagi orang-orang Belanda di darat dan melarang orang-orang Jawa mening- galkan pelabuhan, ”bahkan (untuk) melihat laut sekalipun”. Tidak lama kemudian ia harus bepergian, dan ada berita bahwa Sunan telah mengangkat scorang ”pengawas” lain atas Jepara (Daghregister, 30 April 1663). Di istana ia ditanya oleh Raja, apakah ada orang-orang Belanda di Jepara, apa yang mereka perbuat di sana, dan apakah mereka menempati Karena itu, Couper memberikan saja uang 2 ringgit kepadanya, tetapi Pemerintah Kompeni berpendapat tidak perlu menghiraukan persoalan Luton (Daghregister, 20 Januari 1671). Bagaimana kisah ini berakhir, tidak diberitakan oleh sejarah. 180 kembali loji_ yang lama. Sctelah mendapat jawaban yang cukup memuaskan, tampaknya sepintas lalu Sunan bertanya kepada Tumeng- gung Wirajaya, ”apakah dalam perjanjian dengan Belanda tidak discbutkan ... untuk mcmbantunya, atas permintaannya, melawan musuhnya”, Pejabat itu tidak dapat mengingkarinya. Maka, Sunan pun memerintahkan kepadanya agar memberi tahu Gubernur Jendcral bahwa ia akan memerangi Bali, dan untuk itu ia menghendaki tiga kapal pengangkut. Tetapi rencana itu tidak terwujud, seperti hanya dengan pengiriman Kiai Tanumenggala ke Batavia (Daghregister, 5 September 1663). Apakah karena ia bersahabat dengan Belanda, maka pengiriman utusan itu ditugaskan kepadanya? Scbagai pejabat di Jepara ia digantikan olch Kiai Reksamenggala (Daghregister, 2\ Januari 1664), yang wibawanya dibatasi oleh kekuasaan para pedagang Jepara. XII—7 Tampilnya para pedagang yang berkuasa, 1665-1667 Para pedagang Jepara, yang sampai kini tidak banyak tampil dalam berita-berita, muncul untuk pertama kalinya sckitar akhir tahun 1664. Mereka tatkala itu dinamakan "para pedagang Mor terkemuka, yang beristrikan wanita Jawa” (Surat J. Cops, tertanggal 18 Desember 1664; Daghregister, 26 Maret 1665). Rupanya, mereka sudah lama tinggal di Jepara dan memperolch kehidupan yang sangat baik dengan berdagang. Mercka menawarkan empat sampai lima ribu pikul gula putih (gula tebu) dengan harga 3¥ rial sepikul. Juga mercka tahu pasaran di Mataram, menurut pendapat mereka di sana dapat dipcroleh emas 100 kati dengan harga 16, 18, 24, dan 25 rial untuk sctiap berat satu rial. Juga kuda, kayu sappan, dan sepuluh sampai dua belas ribu Iembar kulit kerbau. Dengan merckalah, S. Simonsz pada awal bulan Mei 1665 mengada- kan sebuah perjanjian jual beli: gula putih dengan harga 3 ringgit dan gula "biasa” dengan 1°% ringgit satu pikul. Waktu penycrahan: bulan Juli atau awal Agustus, yang ternyata terlambat (Daghregister, 20 September 1665). Menjadi pertanyaan, dengan cara bagaimanakah para pedagang Mor ini, justru pada tahun 1664 atau tidak lama sebelumnya, bisa ménjadi begitu terkenal. Mungkin karena turunnya wibawa para penguasa pesisir, yang tidak lagi mampu, baik untuk memusatkan perdagangan di sekitar diri mereka maupun untuk menjadikan diri mereka sebagai penghubung antara orang-orang Belanda dan para produsen. Tindakan para pedagang ini juga menarik perhatian Sunan. Maka, pada awal bulan September 1665 mereka dipanggil menghadap ke istana, 181 dengan disertai beberapa "hakim bawahan” (Daghregister, 29 September 1665). Karena itu, terhentilah penyerahan gula untuk sementara (Daghregister, 3, 19, dan 26 Oktober, 15 November 1665). Ternyata, soal yang dibicarakan lebih dari sekadar mengenai dagang saja. Menurut desas-desus, akan terjadi sesuatu yang luar biasa, dan mungkin "’suatu perubahan besar di kalangan pejabat tertinggi keraja- an” (Daghregister, 19 Oktober 1665). Atas nasihat para pedagang yang diperintahkan menghadap dan yang rupanya ingin berjasa itu, maka penjabat residen, yaitu pemegang buku Joannes Keyts, memberikan sebuah hadiah kecil kepada penguasa tertinggi kedua, yakni Kiai Wirajaya. Menurut Residen Van der Stracten, kiai ini ”nanti akan berguna bagi Kompeni”. Ketika para pedagang gula ini akhirnya kembali dari istana pada awal November 1665, ternyata mereka sudah berubah. Bersama beberapa orang lain, mereka diperintahkan ”mengunjungi bagian keuangan beberapa kepala daerah” yang segera pula mereka laksanakan. Akibat- nya, mereka tahu tentang betapa buruk keadaan keuangan kepala dacrah Jepara, Reksamenggala. Dari 10.000 ringgit yang dipercayakan kepada- nya, masih terdapat kekurangan 3.000 ringgit, yang pasti tidak akan baik akibatnya baginya (Surat dari Jepara, 19 November 1665, dalam Jonge, Opkomst, jil. V1, hlm. 172). Sebagai tiridakan pertama, dikeluarkanlah segala emas, perak, dan lain-lain benda berharga dari dalam rumahnya, dan dijual kepada umum. Inilah awal dari akhir riwayat penguasa tersebut. Pada tanggal 28 Desember 1665, tiba surat ’kilat” dari Sunan yang dengan tegas memerintahkan kepada Reksamenggala, walaupun ia ”sedang berbenah . . . supaya uang yang masih kurang segera dibayar; ia sendiri akan dipecat dari pemerintahan dan semua rumah, berikut perabotan dan lain-lain, segera akan dijual’””. Karena ia tidak mampu membayar kekurangannya, maka segala harta bendanya ”disita dan dijual” (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 172). Sejak itu ia tampak menduduki jabatan-jabatan rendah, misalnya ia dikirim ke Batavia sebagai bawahan penggantinya, Ngabei Wiradikara (Daghregister, 15 Juli 1669). Ketika itu kedudukannya tidak lebih dari ”bupati” Jepara, kepala milisi dan pengawas benteng-benteng pertahanan. Wiradikara juga menyuruhnya agar memanggil utusan Belanda De Jongh (lihat laporannya dalam K.A. No. 1162, him. 842). Sementara itu, para leveransir gula ini bahkan diberi tugas lebih banyak. Kepada mereka Sunan mempercayakan uang 20.000 ringgit. Dan untuk mencari untung dari uang itu mereka menyampaikan permintaan seperti biasa kepada Kompeni, untuk memperoleh surat jalan laut ke Timur, yang sudah tentu ditolak (Daghregister, 4 Maret 182 1666). Ternyata kemudian, mereka terlepas dari beban uang itu schingga surat jalan laut itu pun segera terlupakan. Yang berjalan lebih lancar adalah penyerahan gula putih 100 pikul, dan gula tepung 400 pikul kepada Kompeni. Secara umum dapat dikatakan telah terjadi pembagian dalam tugas kepala daerah Jepara. Ia dibebaskan dari kegiatan fiskal dan ekonomi, demi kepentingan para pedagang yang berkuasa, schingga pada pokoknya kepala daerah hanya mempunyai tugas kehakiman dan militer. Apakah hal-hal semacam itu juga terjadi di pelabuhan-pelabuhan lainnya, tidak diketahui dengan pasti. Sementara itu, telah diangkat seorang kepala daerah baru atas Jepara, yakni Ngabei Wiradika. 183 Bab XIII Kepala Daerah Kiai Wiradika dan Para Pedagang—Penguasa XIII—1 Pengangkatan Kiai Wiradika, Februari 1666 jai Wiradika mungkin keturunan kalangan istana, karena dahulu K pernah menjadi ”penjaga perisai indah di istana Mataram” UJonge, Opkomst, jil. V1, hlm. 184). Ia juga pernah turut serta dalam suatu perutusan ke Batavia, dan terhadap orang-orang Belanda di sana, diperlihatkannya sikap yang tegas dan percaya diri (Daghregister, 4 Desember 1669). Selain itu, putrinya menjadi sclir Sunan, dan melahirkan scorang putra sckitar pertengahan tahun 1669 (Surat dari Jepara, | Juli 1669, dalam Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 182; Daghregister, 15 Juli 1669). Semua hal tersebut di atas membuat dirinya cocok untuk jabatan yang bertanggung jawab sebagai kepala dacrah di Jepara itu. Selain itu, barangkali ia pun memberikan janji-janji tertentu kepada Sunan tentang apa yang akan dapat dicapainya dari Kompeni, yakni suatu perutusan. Dengan penerimaan jabatannya pada tanggal 11 Februari 1666, dimulailah suatu masa baru (Surat dari Jepara, 11 Februari 1666, dalam Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 173). Kejadian itu dimeriahkan oleh masyarakat banyak, baik pejalan kaki maupun pengendara kuda, dan yang lebih penting bahwa ia ”bertempat tinggal di istana yang biasanya diperuntukkan bagi para kepala dacrah, dan yang sejak tewasnya Martanata (akhir tahun 1662) tidak boleh didiami siapa pun”. Dengan demikian, para penguasa Jepara antara tahun 1662 dan 1666 tidak dipandang sebagai kepala daerah sejati, berbeda halnya dengan dia ini Setclah menerima petunjuk, Residen menyampaikan salam dan ucapan selamat kepadanya disertai hadiah-hadiah sebagaimana biasa- nya (Daghregister, 4 Maret 1666). Tanggung jawabnya menjadi lebih 184 . . % . , ~ besar. Antaranya hal ini nyata bahwa ia dibebani tugas sepenuhnya mengatur hubungan yang sulit dengan Kompeni Tetapi di pihak lain kekuasaannya sangat dibatasi oleh empat pejabat, yakni para pedagang yang berkuasa. Mercka itu ialah; Martisedana, Encik Jepara, Mirmagati, dan Encik Sulon, semuanya mempunyai kekuasaan atas dermaga berikut 1.000 orang bawahan. Kepala dacrah hanya berkuasa di daratan dengan 4.000 orang ”schingga menimbulkan kebingungan dan kesimpangsiuran yang sedemikian rupa dan orang tidak tahu lagi kepada siapa harus mengajukan permohonan”, begitulah pendapat para pejabat Kompeni (Daghregister, 8 April 1666). Banyak masalah tidak berjalan lancar. Anak laki-laki kepala daerah dengan kekerasan telah "menyingkirkan” para pedagang itu dari dermaga, tetapi akhirnya mereka dapat mempertahankan tempat itu. Namun, suasana damai tidak pernah bisa dikembalikan sepenuhnya. Antara petugas- petugas kedua belah pihak terjadi perkelahian mengenai pajak pasar (Daghregister, 23 April 1666). Ini membuktikan bahwa pengangkatan mereka itu mempunyai alasan fiskal. Orang-orang Belanda pun mempunyai alasan untuk mengeluh tentang perubahan ini, karena di pelabuhan mercka harus menderita banyak "siksaan dan kesulitan” (Daghregister, 18 April 1666). Baik para pedagang—penguasa atau para pedagang yang berkuasa maupun kepala daerah dengan pembantu-pembantunya, mengirimkan wakil mereka masing-masing ke kota istana untuk mengadu: kepala daerah mengi- rimkan anak laki-lakinya, para pedagang mengirimkan dua orang dari mereka (Daghregister, 23 April dan 10 Agustus 1666). Kadang-kadang perjalanan mereka ke istana itu sia-sia (Daghregister, 13 Oktober 1666). Ada kalanya pihak yang satu menang, ada kalanya pihak yang lain. Ada kalanya mereka harus bekerja sama, misalnya ketika sebuah perutusan dikirimkan ke Batavia. Sebuah surat kepada Gubernur Jenderal dibawa oleh tiga orang utusan Neabei Wiradika, yaitu Astrakara yang kemudian menjadi bupati daerah, Derpamenggala dan Derpakanda, dan juga oleh dua pedagang yang berkuasa, yaitu Kartisedana dan Mirmagati. Setelah Wiradika jatuh — karena siasat mereka? — tidak banyak lagi kelihatan kegiatan politik mereka, sckalipun orang-orang mereka masih ada di Jepara. Sekarang mari kita lihat bagaimana Ngabei Wiradika, atas perintah gustinya, berusaha dengan giat dan susah payah mendorong Pemerintah Kompeni supaya mau mengirimkan perutusan baru ke Mataram. Inilah satu-satunya keberhasilan yang pada akhirnya harus diterima Sunan sebagai penghibur hati. 185 XIII—2 Desakan Kiai Wiradika supaya dikirimkan perutusan, 1666-1667 Petunjuk tentang adanya suasana kejengkelan terhadap Batavia adalah desas-desus dari Banten: ”bahwa Sunan Mataram telah mengerahkan rakyatnya di segenap pelosok, dengan maksud memerangi Batavia pada musim kemarau yang akan datang”. Sebagaimana biasa, rencana itu pun sama sekali tidak terwujud (Daghregister, 10 Januari 1666). Di Mataram orang rupanya sibuk mencari akal untuk menjadikan Batavia yang berkeras kepala itu sebagai sebuah vazal yang patuh. Usaha itu dimulai dengan santai: minta hadiah. Pada tanggal 7 April 1666 Residen Van der Straeten menulis *bahwa kepala daerah Wiera Dycka ... beberapa kali telah menimbulkan kesulitan (padanya), untuk memohon kepada Yang Mulia supaya dikirimkan baginya pakaian yang indah atau barang lain yang patut untuk dipersembahkan kepada Sunan”, dengan cara seperti yang biasa berlaku pada masa kepala-kepala daerah sebelumnya (Daghregister, 18 April 1666). Apakah dengan ini dimaksudkan suatu perutusan resmi disertai hadiah-hadiah? Orang Belanda juga mengalami banyak kesulitan di pelabuhan, "yang kebanyakan ditujukan untuk memeras hadiah-hadiah”. Mereka tidak bisa berbuat apa pun, kecuali menghadapinya dengan sabar dan harapan, ”semoga dalam pemerintahan sckarang yang tidak stabil itu, akan terjadi perubahan-perubahan”. Ngabei Wiradika akan dihargai oleh Keraton apabila ia berhasil mengatur hubungan dengan Kompeni yang membawa manfaat kepada Sunan. Karena hadiah yang diharapkannya itu tidak cukup cepat datangnya, maka pada akhir bulan Mei 1666 Kiai Wiradika memohon supaya Residen atas nama dirinya akan menyurati Yang Mulia, untuk mengirimkan hadiah kepada Sunan”. Ia bahkan bersedia mengirim utusan khusus ke Batavia untuk maksud itu (Daghregister, 5 Juni 1666). Peringatannya ini pun tidak berhasil; diperlukan suatu usaha yang lebih keras. Demikianlah pada tanggal 11 Agustus 1666 tiba di Batavia sebuah surat dari Kiai Wiradika, mengantar sebuah ”kereta mainan Jawa” (Daghregister). Surat itu disusunnya dengan cerdik sekali, bukan berisi suatu permohonan, tetapi sebuah pengaduan berikut ancaman mengenai petugas-petugas Belanda di Jepara: ”Pejabat-pejabat saudaraku itu berbusung dada, dan tidak mau mendengarkan perintah-perintahku”. Diperingatkannya, ”semoga tidak akan terjadi seperti sebelumnya . . . ketika Sunan marah terhadap rakyat di pelabuhan-pelabuhan laut dan terhadap semua pedagang” — yaitu pada tahun 1660-1661 — tetapi mengharapkan agar Batavia dan Mataram menjadi satu kota, dan agar 186 mereka “seperti sebelumnya ... datang dan pergi ... seperti juga sekarang mereka pergi dan datang””. Hadiah berupa kereta dengan beras dua koyan itu pastilah dimaksud sebagai pembalut luka. Adapun yang menjadi tujuannya adalah pemulihan hubungan seperti scbelum 1655, yaitu ketika setiap tahun para utusan Kompeni datang di istana. Hasil Kiai Wiradika yang kecil itu tercermin dalam perlakuan istana terhadapnya yang kurang terhormat. Sebelum berangkat, masih di- mintanya uang 1.000 ringgit dari pihak Belanda, tetapi dengan sopan permintaan itu ditolak. Di kota istana, demikian diberitakan Van der Straeten, 100 orang dari anak buahnya .... diambil .. . oleh patih kerajaan (tumenggung Mataram?)”. Ia juga tidak bisa menghadap kepada Sunan, karena para kepala daerah dan penguasa pesisir lainnya sudah diterima beraudiensi”. Bahkan dikhawatirkan akan terjadi perubahan besar dalam pemerintahan Jepara (Daghregister, 25 September 1666). Akhirnya terpaksa, kepala daerah ini mengemukakan kehendak- nya secara terang-terangan. Suatu permintaan langsung mengenai pengiriman perutusan berikut hadiah-hadiah termuat dalam suratnya dari Istana, yang diterima di Batavia pada tanggal 27 Oktober 1666 (Daghregister), yang memperkenal- kan pula dua utusan: Kiai Lurah Citraantaka dan Kartidita, yang menurut dia datang untuk urusan rempah-rempah. Permintaan itu berbunyi: Scandainya Saudara ingin mengirimkan sescorang, scbaik- nya ia datang . . . bersama utusan-utusan saya, dan apabila dikirimkan utusan-utusan, maka hendaknya disertai pula dengan dua ekor kuda Persia . . .,seperti kuda-kuda yang dahulu”. Permintaan ini tentunya diketahui pula oleh Sunan (Daghregister, 22 Desember 1666). Suatu pertanyaan jelas yang dapat dijawab dengan jelas pula. Kompeni menulis bahwa ”tidak mungkin dikirimkan sebuah utusan kepada Sunan, sebelum ada jaminan bahwa mereka akan diterima dengan senang hati, karena sebelumnya telah diberitahukan bahwa (Sunan) tidak mau menerima demikian (Daghregister, 17 November 1666). Batavia memandang Wiradika sckarang dalam kedudukan yang sulit. Residen tidak bolch memberi hadiah apa pun kepadanya, sebelum ia kembali dari Mataram dan hasilnya diketahui (Daghregister, 24 November 1666). Jawaban dari kepala daerah yang terjepit itu, yang dikirimkan dengan kesempatan pos pertama, karenanya bernada mendesak: Sunan kini menginginkan tiga ekor kuda Persia. Kemudian akan ada baiknya pula apabila ”Saudara mengirimkan kuda itu bersama kelembak (kayu- wangi), ambar, dan kesturi”. Surat itu sudah sangat mirip suatu pesanan. 187 Kemudian empat pedagang yang berkuasa itu pun datang pula untuk lebih menegaskan pada Residen bahwa Sunan sangat menginginkan adanya suatu perutusan, dan beberapa kali telah bertanya kepada Wiradika “tentang orang-orang Belanda di Jepara, dan mengapa Gubermur Jenderal tidak mengirimkan utusan-utusan seperti dahulu” (Daghregisler, 22. Desember 1666). Sctelah itu, Kiai Wiradika sckali lagi mengirimkan lima orang ke Batavia. Mercka itu adalah: Asta Cora (Astrakara?), Durpabengala (Derpamenggala), Durpa Ganda (Derpakanda), Corty Sadana (Kartise- dana), dan Mormagati (Mirmagati). Dari lima orang ini, yang kedua kita kenal sebagai penguasa di Grobogan, sedangkan dua orang yang terakhir adalah pedagang-pedagang yang berkuasa. Dalam surat yang mereka bawa, yang di dalamnya beberapa kali Kiai Wiradika melantunkan perintah Sunan, dinyatakan bahwa "barang-ba- rang yang diminta” tidak dapat disampaikan kepada Sunan, kalau tidak ada seorang utusan dari Gubernur Jenderal menyertainya (Daghregister, 22 Desember 1666). Juga Residen menerima sepucuk surat seperti itu. Ketika Speelman pada tanggal 5 Desember 1666 dengan armadanya yang sebenamya’ dimaksudkan untuk Makassar membuang sauh di Teluk Jepara, maka kedatangannya itu menimbulkan kecurigaan. Putra Wiradika memerintahkan 2.000 orang untuk berjaga-jaga pada malam hari, sekalipun Speelman menyatakan bahwa ia datang hanya untuk mengisi tahang-tahang airnya (Daghregister, 17 Desember 1666). Para pedagang yang berkuasa itu setelah kembali dari kota istana menegaskan kepada laksamana bahwa Sunan menyatakan ”karena sudah menjadi tua (47 tahun!), ia ingin melihat lagi orang-orang Belanda, para sckutunya yang paling baik dan paling setia itu, di istana” (Daghregister, 23 Desember 1666). Ucapannya ini terdengar sudah agak lebih lunak Lima orang utusan itu berangkat dari Batavia pada tanggal 14 Januari 1667, dan selain membawa sebuah hadiah, juga sepucuk surat dari Kompeni di Batavia yang, demi terpeliharanya persahabatan, menyata- kan kesediaannya mengirim seorang utusan kepada Sunan, asalkan ”kedatangannya diterima dengan sikap yang menunjukkan rasa hormat kepada bangsa Belanda”. Pendapat Wiradika diharapkan atas isi surat itu. Karena melihat bahwa Kiai Wiradika memang bertindak atas nama Sunan, dan kedudukannya pun kini sudah menjadi kuat kembali, maka Kompeni menitipkan kepada utusan-utusan Kiai itu hadiah-hadiah seharga 600 ringgit. Kecuali berupa kelembak, ambar, dan kesturi yang dimintanya juga seekor kuda Persia yang baik dan dipilih sendiri oleh para utusan, “dengan harapan bahwa biaya yang sudah dikeluarkan 188 Kompeni itu akan diperoleh kembali berlipat ganda dari perdagangan bebas di pelabuhan-pelabuhan”. Pihak Belanda masih berharap dapat menghindarkan diri dari masalah pengiriman perutusan, tetapi harapan itu ternyata sia-sia belaka Sebab, hadiah-hadiah itu tidak sampai ke tempat tujuan. Kemudian Residen mempersalahkan orang-orang Jawa yang mendesak adanya perutusan itu dengan kata-kata, "bahwa Yang Mulia ingin menyampaikan kuda, ambar, dan lain-lain yang diminta itu kepada para utusan, tetapi mereka sendiri tidak mau menerimanya” (Daghregister, 8 Juni 1667). Sunan bukan menghendaki hadiah-hadiah, melainkan pernyataan penghormatan. Pada tanggal 20 Februari 1667, setelah setengah tahun berlalu, Kiai Wiradika datang lagi, “dikirim khusus untuk mencrima para utusan . . . dari Batavia ... dengan segala kehormatan dan mengantar mercka kemudian ke atas; dan menyatakan ... bahwa Sunan ingin sekali bertemu dengan utusan-utusan Yang Mulia”. Sunan pasti sangat merasa kecewa ketika hanya menerima hadiah-hadiah itu saja. Kemarahannya terbukti dari jawabannya, ketika kepadanya ditanyakan mengenai dua meriam yang telah disita itu. Ia sementara tidak dapat mengem- balikannya, ”tetapi kalau ia menerima berita bahwa akan datang scorang utusan, maka meriam-meriam itu akan dikembalikan” (Daghregister, 23 Maret 1667). Rakyat sudah ramai membisikkan desas-desus tentang penutupan pelabuhan kembali, tetapi tidak ada pernyataan apa pun tentang hal ini dari para pembesar. Rencana kepala daerah untuk menempatkan 3 sampai 4 meriam tepat di depan loji di scberang sungai pun tidak menimbulkan ketenangan. Desas-desus tentang penutupan pelabuhan, “hanya karena tidak ada duta datang dari Batavia”, terus juga santer di mana-mana (Daghrevister, 14 April 1667). Di Semarang konon sudah ada perintah mengenai hal itu. Pemerintah di Batavia tidak mau ditakut-takuti, dan masih menunda pengiriman perutusan sampai datang “berita dari kepala dacrah Wicra Dycka” yang dimintanya (Daghregister, 2 Mei 1667). Bahkan ketika Batavia mendapat berita dari kakak Wiradika bahwa Sunan “bertanya lagi tentang utusan-utusan dari Batavia, dan sangat mengharapkan kedatangan mereka” (Daghregister, 6 Mei 1667), diputuskan untuk tidak terburu-buru mengirim utusan, “dengan harapan agar Sunan akan mengubah sikapnya” (Daghregister, 7 Mei 1667). Juga desas-desus tentang perang, konon terhadap Bali atau Palembang, tidak menggoyah- kan Kompeni. Akan tetapi, setelah permintaan-permintaan itu, kemudian datang ancaman-ancaman. Kepala dacrah menyuruh empat orang bertanya 189 kepada Residen, mengapa utusan-utusan tidak kunjung datang, padahal sudah berkali-kali dimintanya atas nama Sunan yang masih tetap menghendaki kedatangan mereka itu. Diperingatkannya, “bahwa akan tidak baik akibatnya kalau utusan-utusan itu tidak datang”. Juga dimintanya lagi uang sewa loji (Daghregister, 8 Juni 1667). Residen hanya menjawab bahwa pengiriman utusan bergantung pada keputusan Yang Mulia di Batavia. Mengenai soal loji, bangunan ini didirikan atas perintah Sunan, dan tanahnya "telah dibayar dengan uang yang sangat besar jumlahnya’’. Keesokan harinya muncul kembali empat orang itu, *mengajukan protes atas nama kepala daerah, mengapa permintaannya yang berdasarkan perintah dari gustinya itu .. . tidak ditanggapi sungguh- sungguh”. Residen harus memberitahukan apakah para utusan akan datang atau tidak. *Apabila utusan akan datang, maka tidak akan ada persoalan, tetapi kalau tidak, maka akan berakibat tidak baik” (Daghregister, 8 Juni 1667). Residen tetap memberikan jawaban seperti semula. Penutupan pelabuhan sama sckali tidak terjadi — ternyata gertakan kosong saja — tetapi mulailah timbul berbagai ”gangguan dan tindakan diluar batas”. Semua perawat kuda (pekatik; ed.) dipanggil dari loji, dan selanjutnya mereka dilarang melayani orang-orang Belanda itu "dengan ancaman hukuman berat”. ’Apabila orang Belanda ingin mendapat rumput,” kata Kepala Daerah, “biarlah mereka membelinya sendiri di pasar.” Pada tanggal 5 Juni 1667 kakak Kiai Wiradika dan dua orang syahbandar datang ke loji untuk mengukurnya, seperti juga terjadi dengan pekarangan lain, agar dapat "dibayar pajaknya; kalau tidak, akan dituntut keadilan”. Tidak setahu Kepala Daerah, orang-orang Belanda itu juga tidak boleh meninggalkan loji mereka. Dari setiap kapal yang datang dituntutnya 5 ringgit pajak, apabila bersandar lebih dari lima hari. Menurut ketcrangannya, ”tindakan dan gangguan ini terjadi hanya ..., karena tiada seorang duta yang datang dari Batavia” (Daghregister, 11 Juni 1667). Hampir dua bulan berlalu tanpa salah satu pihak mau mundur setapak pun, Kiai Wiradika, yang kira-kira pada pertengahan Juni 1667 berniat berkunjung lagi ke istana, menyuruh beberapa syahbandar bertanya ke loji, apakah utusan masih akan datang atau tidak. Setelah itu ia sendiri bertanya kepada Residen, *jawaban apakah yang harus diberikannya bila Sunan bertanya kepadanya tentang utusan-utusan itu”, Pertanyaan itu dengan tenang dijawab, ”Terserah kebijaksanaan apa yang akan diambilnya.” Pada waktu berangkat ia masih meminta maaf karena 190 terlalu banyak mengganggu, “dengan berkata bahwa hal itu terjadi karena ia dihasut olch para penasihatnya, dan bahwa yang demikian tidak akan terjadi lagi” (Daghregister, 30 Juli 1667). Sementara itu, Kompeni sudah memutuskan untuk mengirim sebtah perutusan ke istana Mataram. Sehari setelah Kiai Wiradika kembali di Jepara — hanya dua hari ia di kota istana — kapal Peer! membuang sauhnya di teluk, dan membawa berita yang sangat diharapkan. Residen memutuskan untuk menyampai- kan berita ini sendiri, dan pergilah ia menuju istana Raja. Pertama-tama ia bertanya kepada Kepala Daerah ”apakah Sunan akan memberikan penghormatan scbagaimana mestinya kepada para utusan, apabila mereka datang”. Kiai Wiradika menerangkan, ”gustinya tidak berpendi- rian lain, dan bahwa ia sendiri menjamin hal itu”. Setelah Residen sekali lagi menunjuk pada "gangguan, hambatan, dan tindakan di luar batas” yang menimbulkan kecemasan yang sangat pada Pemerintah di Batavia, Kiai Wiradika minta maaf dan mempersalahkan atasannya. Ketika sctelah itu Residen memberitahukan bahwa seorang utusan akan datang, berita itu diterimanya "dengan kegembiraan yang begitu besar .. . schingga hampir ia tidak dapat berbicara”. Ta segera mengirimkan seorang abdi untuk membawa berita gembira itu ke Mataram. Di sana pun bcrita itu diterima dengan kegembiraan yang sangat (Daghregister, 30 Agustus 1667). Raja menunggu dengan harapan besar kedatangan seorang duta dari Batavia, menurut berita Kiai Wiradika. Sebagai duta diangkat pedagang Zacharias Wagenaer, yang kaya dengan riwayat kerja. Ia paling terkenal sebagai kepala Desyima (1656-1657), dan sebagai pengganti Jan van Riebeeck di Tanjung Harapan (1662—1666). Karena itulah ia bergelar “panglima”. XIII-3 Perutusan Wagenaer, 1667 Pada tanggal 1 September 1667 berangkatlah Panglima Zacharias Wagenaer ke Semarang untuk kemudian melanjutkan perjalanannya ke Istana. Nilai hadiah-hadiah yang berharga itu berjumlah Nfl. 44.703. Kecuali dua ckor kuda Persia lengkap dengan peralatannya, dihadiahkan pula: bahan tenun dalam jumlah besar, candu, benang emas, air mawar, sebuah cermin, kesturi, ambar, rempah-rempah, dan seterusnya. Selain itu duta tersebut juga membawa sebuah peti, yang memuat pakaian bagus untuk "pe igawal pribadinya”, yakni scorang sersan dan seorang peniup trompet dengan sepuluh orang prajurit. Maksudnya tentu saja untuk memamerkan prajurit-prajuritnya dengan pakaiannya yang serba indab; tentu saja untuk memberi kesan lebih mendalam pada Raja sewaktu audiensi. Selain itu, turut serta bersama duta ialah residen 191 Jepara Jurriaen Propheet, wakil pedagang Jan de Harde, dan asisten pertama Joannes Pit. Instruksi kepadanya mengatakan, jangan mendarat atau membongkar batang "scbelum ... diterima keterangan tcgas dari Sunan bahwa mercka akan ditcrima dengan penghormatan scbagaimana mestinya: bahwa Yang Mulia diam-diam menghendaki diusahakan agar hadiah balasan ... bukan berupa beras, melainkan gula putih dan hitam, bebcrapa ckor kuda dan kayu untuk bangunan”. Persediaan beras Kompeni cukup banyak.”” Mengenai pembagian hadiah, Sunan akan menerima senilai Nfl. 15.000, Putra Mahkota Nfl. 3.000, dan Kiai Wiradika Nfl. 2.000, tetapi yang terakhir ini sctclah masalah-masalah dengan istana sclesai. Utusan juga harus berusaha agar dua buah meriam dikembalikan dan mengunjungi kantor (Daghregister, 1 September 1667). Lima hari setclah tiba di ‘Teluk Semarang, pada tanggal 20 September 1667, Wagenacr disambut dengan kehormatan besar olch Kepala Daerah Kiai Wiradika dan dua orang pembesar, yaitu Raden Ngabei dan Wangsakarti, yang sengaja diutus dari Mataram. Kemudian mereka diantar ke darat dengan scpuluh perahu berhias (Daghregister, 26 September 1667). Di sana sudah disediakan baginya dan iringannya sebuah rumah yang bagus sckali Pada tanggal 26 September 1667 Wagenacr berangkat dari Semarang, diantar olch pembesar-pembesar dan Nayacitra, bupati kota tersebut. Pada tanggal | Oktober 1667 tibalah ia di Mataram, dan ditempatkan di rumah Wiradika kira-kira sctengah jam jauhnya dari Keraton. Segera Sunan memcrintahkan agar kepada mereka diantar berpuluh keranjang panjang berisi buah-buahan (K.A. No. 1156, hlm. 979-985). Pada malam hari Wiradika datang dan menyatakan bahwa keda- tangan utusan Belanda dengan selamat sangat menggembirakan Raja; bahwa mereka akan beristirahat selama dua hari, tetapi pada hari ketiga harus menyampaikan surat dan hadiah-hadiahnya. Scmentara itu, dilarang memberikan hadiah sckecil apa pun kepada siapa saja bahkan tidak kepada Putra Mahkota, ”karcna ia sendirilah yang akan membagi- kan segala sesuatu yang tclah dikirim oleh Batavia itu sampai yang sckecil-kecilnya” Tetapi kecsokan harinya muncullah kepala daerah kembali bersama dengan dua pemuka istana Mataram itu, dan bertanya atas nama Sunan 20 Zach. Wagenaer mendapat instruksi tambahan pada tanggal 17 Oktober 1667 (Daghregister) mengenai tiga budak vang diculik olch bupati Wiringi Pitu dan tidak diserahkan kembali, dan mengenai perbaikan loji. 192 bagaimana hubungan Kompeni dengan Banten, apakah sedang dalam kedamaian atau sedang berperang. Wagenaer menjawab bahwa ia tidak tahu-menahu tentang perang, dan bahwa perjanjian perdamaian yang paling baru ditaati benar-benar oleh kedua belah pihak. Kemudian Wiradika mencari tahu apakah yang mendorong pihak Belanda untuk berdamai itu. Wagenaer berkata bahwa "pada pokoknya terjadi atas nasihat yang bersungguh-sungguh dari pangeran Jambi, yang bersama beberapa tokoh terkemuka, atas desakan keras Batavia, bertindak sebagai . .. perantara”. Setelah Wiradika mendapat keterangan cukup tentang hal ini, ia berkata, ”Kalau demikian, baiklah Raja akan senang mendengarnya,” lalu berangkatlah ia bersama mercka yang meng- iringinya. Tepat pada tengah hari datang empat orang kiai itu kembali dan membawa lagi atas nama Raja 20 keranjang buah-buahan. Ditegaskan- nya bahwa Sunan memerintahkan agar sctiap hari, selama orang-orang Belanda masih tinggal di sana, akan dikirimkan buah-buahan seperti itu. Pada sore harinya empat petugas Raja itu datang kembali untuk ketiga kalinya, dan meminta agar hadiah-hadiah untuk Sri Baginda disampai- kan dalam bentuk catatan tertulis, yang oleh mereka ’segera akan diberikan kepada seorang penduduk Jepara . . . Marmagattij, yang fasih berbahasa Melayu dan juga bisa berbicara dalam bahasa Portugis, untuk disalin dalam bahasa Jawa dan disampaikan kepada Kepala Daerah”. ‘Tetapi pada malam hari Wiradika memanggil pedagang De Harde dan Propheet menghadap di rumahnya, ”yang dapat dicapai dalam 10-20 langkah di belakang rumahnya”. Dan mulailah ia berbicara tentang tata tertib yang harus diperhatikan sewaktu berkunjung ke istana, dan bagaimana orang harus berperi laku di sana. Setelah itu diterangkannya bahwa ia bersama beberapa kiai lainnya telah menemukan pada daftar hadiah antara lain beberapa ”kaca mata dan kompas dari gading”’. Ini harus dikeluarkan dari daftar, karena Sunan, "yang menghendaki barang-barang langka dan berharga, tidak begitu suka akan barang- barang itu”. Wagenaer dengan senang hati memenuhi permintaan ini sebagai suatu soal kecil””. Wiradika juga mendesak agar Putra Mahkota jangan dilupakan, tetapi secara diam-diam dan tidak setahu Sunan; dan. sekaligus meminta agar duta sedikit memperbesar hadiah kepada Raja karena Sri Baginda berniat memberikan sebagian kepada semua anaknya dan beberapa pemuka istana”. Utusan memenuhinya dengan menambahkan setumpuk permadani. Pada hari ketiga yaitu tanggal | Oktober 1667 antara pukul 8 dan 9 pagi para utusan dijemput. Setelah melalui pintu gerbang pertama 193 (sampai di alun-alun?), mereka sampai di pintu gerbang kedua; di sini mereka semua turun dari kuda, dan kemudian berjalan kaki. Kemudian sampailah mereka di lapangan persegi Iebar atau pelataran dengan beberapa ribu orang telah duduk bersaf-saf sangat tertib. Segera terlihat oleh mereka, Sunan duduk di sebuah ”rumah kayu yang agung” (Bangsal Kencana), seorang diri di atas sebuah bangku kecil setinggi + 25 cm. Sri Baginda mengenakan pakaian seperti ”seorang penduduk Jawa kebanyakan”, yaitu dengan bertelanjang dada dan kuluk putih di atas kepalanya. Para utusan diperintahkan oleh Wiradika, yang duduk di antara para bangsawan lainnya, agar duduk di tanah yang lembap tanpa alas, 30 sampai 35 langkah jauhnya dari Raja. Setelah itu, atas perintah Raja surat diambil oleh Sckretaris Anggapraja, yang sambil merangkak dan membungkuk-bungkuk menghampiri Sri Baginda sampai_ sepuluh langkah di depannya. Ia lalu membuka dan membaca surat tersebut. Kemudian Raja memcrintahkan beberapa pembesar istana yang duduk terlalu dekat pada orang-orang Belanda itu agar lebih menjauh. Rupanya, untuk dapat melihat orang-orang asing itu dengan lebih baik. Ta meminta nama dan kedudukan mereka masing-masing, dan memerin- tahkan agar semuanya diantar pulang, yang segera pula dilakukan. Pertemuan itu tidak mungkin berlangsung lebih singkat. Hampir tidak ada pembicaraan sama sck Pada malam harinya, Wiradika muncul lagi di depan Wagenacr. Dikatakannya bahwa kedatangan para utusan “menyenangkan Raja, tetapi kedatangan Tuan Van Goens lebih menyenangkannya karena . . . hadiahnya bernilai 12 ribu ringgit, sedangkan hadiah yang sckarang dinilai tidak melebihi 7.860 ...”. Van Goens juga lebih terbuka tangannya terhadap para pembesar, dan seterusnya. Kemudian rupanya agak mengherankan Raja, karena hadiah-hadiah tersebut tidak dican- tumkan dalam surat, tetapi termuat secara terinci di dalam memo tersendiri. Setelah itu Wiradika pergi lagi ke rumahnya yang ada di belakang. Rupanya, ia sudah melihat bahwa perutusan itu akan mencapai kegagalan, dan mencoba menyclamatkan apa yang masih dapat diselamatkan, dengan mendorong para utusan agar memberikan hadiah yang lebih banyak. Sclanjutnya terdengar pula bahwa Sunan merasa jengkel karena kemiskinan Wagenacr dalam pengetahuan bahasa, schingga merintangi pembicaraan. Mengenai hal ini dalam jangka pendek tidak dapat diadakan perbaikan. Ataukah Raja barangkali melihat sikap Wagenaer yang terlalu angkuh? Bagaimanapun utusan itu tidak dengan begitu saja memperbesar hadiahnya. Pada tanggal 5 Oktober 1667 duta diberi tahu oleh Wiradika, Kiai 194 Ngabei, dan Wangsakarti agar bersiap-siap, dan berangkat pada keesokan harinya. Dari pemberitahuan itu Wagenaer menarik kesimpul- an bahwa hadiah yang dibawanya ternyata memang terlalu kecil. Lebih-lebih lagi setelah Wiradika menegaskan bahwa apabila duta mau menambahkan saja sisa permadani kepada apa yang telah disampaikan- nya itu, ia pasti akan diterima lagi oleh Sri Baginda. Rupanya, ada rasa kekhawatiran pada Wiradika dia akan dipersalahkan karena kegagalan perutusan itu. Karena akibat-akibat buruk”, duta yang tidak begitu luwes itu tidak menghiraukan usul ini. Namun, agar tidak tampak terlalu kikir, dan juga jangan sampai berpisah dengan rasa tidak senang, diputuskannya untuk menambahkan hadiah bagi Putra Mahkota dan pengiringnya dengan setumpuk permadani; juga bagi Wiradika, sekali- pun ia telah menerima bagiannya. Semuanya itu akan disampaikan pada malam itu juga atau esok pagi hari berikutnya. Setelah menyampaikan keputusan tersebut kepada Wiradika dan pembesar-pembesar lainnya, mereka menyatakan bahwa itulah jalan yang baik untuk menghilangkan keresahan hati Raja. Segala sesuatunya ditentukan berlaku sekitar siang hari. Akan tetapi ketika utusan dan para pengiring belum lama kemudian hadir pada meja makan, Ngabei Wiradika bersama bawahannya diseret ke luar dari tempat tinggalnya oleh Wirakarti, patih yang baru, dan dibawa sebagai tahanan ke Keraton. Ketika melewati Wagenaer dan rombongannya, ia berjabatan tangan dengan duta itu sambil mencteskan air mata dan berkata, ”Tabik, Kapitein, tabik!” ‘Wagenaer terkejut melihat hal ini, dan khawatir bahwa para pengikut Wiradika akan mempermasalahkan pihaknya yang karena kikirnya telah membencanakan junjungan mereka, dan ”karena marah akan membalas dendam”. Ia berdiri dari meja untuk melihat kelanjutannya, tetapi tidak terjadi sesuatu apa. Kemudian diketahui bahwa Wiradika jatuh akibat kesalahannya sendiri. Tuduhan yang disampaikan kepada Raja olch patih ialah bahwa ia telah menyalahgunakan kekuasaannya di Jepara. Setiap orang mengira ”bahwa nyawanya segera akan dicabut; tetapi pada hari itu juga ia dibebaskan dari tugasnya, dipisahkan dari para istrinya, anaknya, budaknya, dan lain-lain ..., dan dibawa ke pedalaman”. Kejatuhannya itu disebabkan oleh *banyaknya pengaduan dari bawahannya” (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 81). Para Kiai Raden Ngabei dan Wangsakarti, yang sementara itu masih tinggal di rumah Wiradika yang kosong, juga mengalami kesulitan dalam mengembalikan hadiah bagi Wiradika kepada duta. Mereka berjanji akan mengembalikannya, asalkan Yang Mulia memberi mereka suatu tanda* terima kasih. Sctelah menerima sebuah kuitansi, "mereka 195 menyimpan tanda terima itu dan juga barang-barangnya, lalu dikatakan- nya bahwa barang-barang itu sudah mereka bagikan di antara mereka”. Setelah tertipu secara demikian, duta memutuskan tidak akan memberi- kan hadiah lagi kepada Sunan. Karena “tidak seorang pun yang atas namanya berani berbicara kepada Raja yang sedang marah itu”. Setelah itu, patih dan juru bahasanya, Anggapraja, serta beberapa pembesar lainnya memasuki rumah Wiradika. Mereka memanggil perutusan Belanda ke sana, untuk menyampaikan surat balasan Raja kepadanya, dan atas nama Raja memberikan izin — jadi: perintah — untuk berangkat kembali ke Batavia pada esok pagi hari berikut. Ketika Wagenacr bertanya mengapa ia begitu cepat harus berpamitan, tanpa boleh bertemu lagi dengan Sunan dan menyampaikan rasa terima kasihnya atas kebaikan-kebaikan yang telah diterimanya, ”berupa pemberian jamuan dan pengawalan tempat tinggalnya”, mercka menjawab bahwa satu-satunya sebab ialah permintaan Gubernur Jenderal sendiri. Melalui suratnya dinyatakan agar para utusan ‘cepat-cepat disuruh pulang kembali, jika tidak, *Kapten Moor” akan menjadi marah. Sebagai para pengantar perutusan sekarang telah diangkat Wiraatmaka, kepala daerah Demak, dan Sabdakarti, kepala daerah Juwana. Pada tanggal 6 Oktober 1667 Wagenaer memulai perjalanannya pulang kembali. Pagi hari itu, ketika masih di tempat tinggalnya, ia dijumpai oleh Patih Wirakarti dan juru bahasa Anggapraja. Kepada Yang Mulia dan Sr. De Harde ”atas nama Sri Baginda masing-masing diberi sebuah keris sebagai tanda bahwa mercka telah _menyaksikan wajah Sri Baginda”. Kemudian Raja meminta maaf ”bahwa untuk menghormat duta ia tidak menembakkan beberapa meriam”, karena istrinya yang tercinta baru meninggal 7 atau 8 bulan yang lalu. Masalah kematian ini akan dibicarakan lagi dalam bab berikut. Empat hari kemudian, tanggal 10 Oktober, duta telah kembali di Semarang, dan empat hari berikutnya lagi di Jepara. Di sana ia mendengar bahwa putra mahkota mengutus dua orang abdinya dari Mataram untuk menerima hadiah yang dialamatkan kepadanya. Tetapi Wagenaer menyampaikan pesan kepada mercka bahwa ia tidak dapat memberikan sesuatu apa pun karena hal itu dilarang keras olch Sunan. Pada tanggal 19 Oktober 1667 dinyatakan oleh para pengiring perutusan dan kepala daerah Semarang bahwa ”Wiera Dycka telah memberitahukan kepada Raja bahwa duta telah membawa beberapa barang aneh, dan bahwa Sri Baginda menjadi marah kepada kami karena tidak menemukannya di antara hadiah-hadiahnya ...; dan untuk menghilangkan kemarahannya itu, mereka memandang perlu agar 196 Gubernur Jenderal sekali lagi mengirimkan suatu perutusan . . . karena jika tidak, pelabuhan-pelabuhan akan ditutup”. Setelah dibantah dengan keras, "mereka pun melupakan masalah itu, dan minta agar duta tidak akan menulis atau berbicara tentang hal itu.” Balasan Sunan yang tercatat pada tanggal | November 1667 dalam Daghregister, tidak memuat hal-hal yang istimewa. Dengan menyebutkan dirinya ’Paduka Sri Ratu ing Mataram”, dan “yang disembah olch semua raja dari kota-kota Jawa dan Melayu”, ia memberitahukan kedatangan ”Panglima Zacharias Wagenaer bersama rombongan” begitu juga surat dan hadiah. Tiada lain yang dapat dikatakannya, “kecuali bahwa saya merasa gembira”. Sebagai tanda ”ketulusannya” dikirimkannya hanya ”90 koyan sendawa dan 180 kuintal beras”. Anchnya, Raja memberikan hadiah lagi kepada Wagenaer tiga ckor kuda (yang dinaiki olch para utusan selama perjalanan?) dan dua kuintal beras (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 109). Sekalipun demikian, Kompeni menganggap hadiah balasan itu tidak baik, ”yang jelas memperlihatkan ketidakpuasannya”. Namun, para pembesar yang menyampaikan hadiah itu sudah berani menyinggung soal perutusan kedua, "untuk menyenangkan Raja dan meredakan kemarahannya”. Pemerintah di Batavia memang benar ketika berpendapat bahwa Sunan tidak puas terhadap perutusan Wagenaer itu. Ini tampak jelas dengan dipecatnya Kiai Wiradika, secara demonstratif yang telah banyak berusaha mendatangkan perutusan Belanda itu. Ingatlah peristiwa ini dengan sidang dewan kerajaan sambil menunggang kuda yang diadakan pada tahun 1654 (him. 134). Ada sesuatu yang menjengkelkan Raja mengenai perutusan itu, entah hadiahnya yang kurang banyak, entah kurangnya pengetahuan bahasa, atau tingkah laku perutusan yang kaku. Scmua keramahan selanjutnya hanyalah basa- basi.?! XIII—4 Desakan supaya diadakan perutusan baru, 1668 Pada pertengahan bulan Juli 1668 tersiar desas-desus di Jepara bahwa Sunan telah mengusulkan kepada pimpinan Kompeni di Batavia akan mengirimkan perutusannya (Surat dari Jepara 15 Juli 1668). Enam hari kemudian desas-desus ini dipastikan kebenarannya (Surat dari Jepara, 21 Juli 1668) oleh suatu pemberitaan dari para wali kota” Jepara: Raden Singawangsa dan Wangsakarti atas perintah Raja akan mengirim surat kepada para Yang Mulia. Ketika Residen bertanya apakah surat itu 21 Wagenaer tahun berikutnya dipulangkan kembali sebagai panglima muda armada yang kembali ke tanah air. 197 berasal dari Sunan pribadi, mereka membenarkannya dan menambah- kan bahwa "Raja hendak mengorbankan Palembang, karena mereka sebelumnya termasuk bawahannya; tetapi karena mereka sekarang lebih banyak taat kepada Kompeni, maka Sunan tidak lagi mau berurusan dengan mereka”. Sebagai para pengantar surat ditunjuk: Wangsapatra, Wiramenggala, dan Wangsananga. ‘Tepat sekali dugaan Residen bahwa mereka berpangkat rendah, hanya lurah, pesuruh para pembesar. Kemudian diberitakannya bahwa tiga hari sebelumnya, jadi pada tanggal 18 Juli 1668, para wali kota itu telah memanggilnya ke paseban. Karena demam yang parah ia berhalangan dan mengirimkan juru bahasa Jan Bali. Setelah menunggu setengah jam, juru bahasa ini diterima dan mendapat berita berikut: para utusan memang dikirim olch Singawangsa dan Wangsakarti. Residen juga menulis surat yamg meminta agar dikirim seorang utusan kepada Raja, “untuk menyelesaikan hal-hal yang besar dan penting.” Melalui juru bahasa, Residen menegaskan bahwa ia bersedia menulis sebuah surat pengantar dan menitipkannya kepada para utusan, tetapi ia tidak dapat mendorong atasannya untuk mengirimkan seorang utusan. Ketika itu salah seorang wali kota, Astrakara, dengan suara keras lalu menyela, ”Kapten harus menulis surat seperti itu; apabila (ia) tidak mau, maka (kami) akan mengikat tangan dan kakinya dan membawanya ke Batavia”, disusul pula dengan ancaman-ancaman lain. Sebaliknya, Syahbandar Imbassadana berbicara dengan nada yang menenangkan, menyebut banyaknya orang Jawa di Batavia, yang dapat menjadi sasar- an balas dendam Kompeni. Pada malam harinya disampaikan permintaan maaf atas kata-kata Astrakara yang lancang, Sudilah Kapten hanya menitipkan sepucuk surat sebagai bukti bahwa para pengantar surat datang dari Jepara. Sementara di Batavia beredar cerita-cerita yang tidak begitu me- nyenangkan tentang kelaliman-kelaliman yang dilakukan Sunan terha- dap para abdinya, muncullah pada tanggal 1 Agustus 1668 para pengantar surat Raja di Teluk. Dua hari kemudian mereka disambut secara meriah dengan 19 tembakan meriam dan salvo senapan dan diantar masuk ke dalam benteng (Daghregister). Surat dalam bahasa Melayu yang mereka bawa dibaca dengan khidmat di Balairung Besar, kemudian diterjemahkan. Surat itu, sebagaimana pendahuluannya, ternyata memang ”merupakan sebuah surat dari Susuhunan Ratu Mataram yang ramah, jujur, dan sangat berterus terang”, dialamatkan kepada saudaranya, Gubernur Jenderal Maetsuycker. Isi pokoknya tidak lebih dari suatu permintaan akan scorang utusan. Sebab, utusan yang lalu tidak dapat berbicara dengan Raja, karena 198 tampaknya ia tidak mengerti bahasa Jawa atau Melayu. Ia memang diterima, tetapi tidak diadakan pembicaraan. Karena itu, Sunan "marah sekali kepada Wiradika” yang, sebagaimana kita lihat, diseret keluar dari rumahnya sebagai seorang tahanan. Dengan demikian, Sunan menghen- daki seorang ahli bahasa, sehingga ia "dengan senang hati bisa mendengar berita kesejahteraan saudara-(nya)”. Selain itu, para wali kota juga menerangkan kepada Residen bahwa Sunan ingin membicarakan soal-soal penting dengan utusan. Berita ini diulangi atau dibenarkan olch para pengantar surat. Semula Kompeni berpendapat bahwa yang dikehendaki oleh Raja hanyalah hadiah yang besar. Dalam hal ini Kompeni tidak bergairah, karena mereka tidak mau ”terikat pada pembayaran upeti setiap tahun” Gonge, Opkomst, jil. VI, him. 112). Sungguh suatu perbedaan dengan keadaan dua puluh tahun yang lalu! Tetapi setelah penegasan dari para utusan, ”bahwa bukan itulah soalnya, melainkan hanya ingin mendapat- kan seseorang yang dapat diajak berbicara tentang soal-soal yang penting, tetapi tanpa mengetahui apakah soal-soal itu”, para Pembesar ‘Tinggi mulai menjadi ragu. Maka, setelah bermusyawarah, mereka pun memutuskan "untuk melayani permintaannya itu apabila ada kesempat- an baik”. Karena itu, sebelum tanggal 30 Agustus 1668, diputuskan untuk mengirimkan pedagang Abraham Verspreet ke Mataram (Daghregister), untuk menjajaki apakah yang ingin dikatakan oleh Sunan itu” (Daghregister, 4 September 1668). Ia juga dititipi sebuah memori yang mendesak agar soal-soal negara yang penting tidak dibicarakan "dengan alasan tidak mempunyai kekuasaan” untuk itu. Apabila Raja menghen- daki agar utusan tinggal lebih lama di sana, maka hal itu, jika perlu, diizinkan. Surat kepada Sunan itu, di samping memuat soal-soal dagang dan perhitungan pembayaran, hanya basa-basi pujian. Sementara itu, kedatangan seorang utusan sangat diharapkan, khusus- nya di Jepara. Ketika Residen akhirnya dapat memberitahukan bahwa seorang utusan sudah dalam perjalanan, maka tampaklah para penguasa *tertawa . .. dengan rasa gembira” (Surat dari Jepara, 15 September 1668). Juga di Mataram orang mengharapkan kedatangannya. Abraham Verspreet adalah seorang yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang besar, baik dalam soal-soal peperangan maupun perdagangan. Di daerah pantai Malabar ia telah memperlihatkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang baik; sedang- kan di Makassar, sebagai orang yang berkuasa dalam masa yang sulit, ia pun telah memperlihatkan bakat diplomatiknya. Dari bulan Agustus 1666 sampai bulan Mei 1667 ia bertindak sebagai panglima dan 199 komisaris untuk armada kapal dan pasukan tempur di pantai barat Sumatera. Dalam kedudukannya itu, dengan tindakan-tindakannya yang tegas, ia berhasil memulihkan wibawa Kompeni yang jatuh karena menderita kekalahan berat. Berkat adanya perjanjian yang istimewa dengan Maharaja Minangkabau”, ia mampu memberikan landasan yang kuat kepada wibawa itu. Juga perdagangan mengalami kemajuan. Dengan demikian, Verspreet dari sudut mana pun dapat dipandang sebagai seorang yang mampu dan cerdas; selain itu juga seorang abli bahasa yakni bahasa Melayu.” XIII—5 Perutusan Verspreet, 1668 Pada tanggal 20 September 1668 berangkatlah Verspreet dari Batavia; 10 hari kemudian kedatangannya di Jepara disambut dengan meriah oleh penguasa kota. Seminggu kemudian ia tiba di Semarang, diantar oleh para utusan dari Mataram, dengan ”sangat megah, disertai hiruk-pikuk suara gong, genderang, dan lain-lain alat bunyi-bunyian Jawa yang ramai”, Berada di atas kapal adalah: Singawangsa, kepala daerah Pekalongan,”* juga para penguasa di Semarang, Demak, dan Juwana: Nayacitra, Wangsakarti, dan Wiraatmaka. Pembesar-pembesar tersebut memberikan banyak sekali kelapa muda, pisang, dan lain-lain buah- buahan. Setelah itu, ditanyakannya berapa besar hadiah yang dibawa, yang dijawab pula dengan pertanyaan balik: apa sajakah yang dikehendaki Sunan. Nafsu ingin tahu kedua belah pihak tidak terpenuhi. Dengan dibarengi *dentuman meriam dan kegaduhan orang-orang Jawa yang tidak terperi”, rombongan turun dari kapal dan pindah ke kapal-kapal yang lebih kecil, ditonton oleh ribuan penduduk. Perutusan kemudian ”diberi tempat penginapan yang megah” di tempat tinggal kepala dacrah Semarang, yang telah mengosongkan rumah dinasnya untuk keperluan itu. Di sini pun mereka menerima banyak sekali buah-buahan. Rupanya, ada maksud pada pihak Jawa agar orang-orang Belanda itu ”setiap tahun dengan senang hati akan kembali”. Setelah tinggal tiga hari di sana, pada tanggal 12 Oktober mereka masuk ke pedalaman; ”iring-iringan” itu sudah berjumlah seribu orang, sebagian naik kuda sebagian berjalan kaki. Para pengantar mereka adalah empat pembesar tersebut di atas, ditambah dengan yang kelima: Singawangsakarti dari Batang. Selama dalam perjalanan diceritakanlah 22 Untuk keterangan yang lebih luas bacalah Kroeskamp, De Westhust, hlm. 80-119. ‘Mengenai pengetahuannya tentang bahasa Melayu, lihat Valentijn, Oud en Niew, jil. IV, him. 104 23 Apakah ketika itu ia sudah menjabat sebagai kepala daerah besar daerah pesisir barat? oleh orang-orang Jawa itu bahwa Sunan, yang sudah diberi tahu tentang kedatangan perutusan Belanda, dua hari sebelumnya telah ”melante” enam orang, ”Melante” (lante = lampit) berarti memberikan lanté, tikar kebesaran, sebagai tanda bahwa seseorang diwisuda sampai ke tingkat yang paling mendckati tingkat pangeran, yakni Ngabei.* Raja juga >menangguhkan niatnya untuk bertamasya ke pantai Laut Kidul .. . untuk mengikutsertakan duta tersebut bersama-sama” (Daghregister, 23 Oktober 1668). Selama perjalanan Verspreet menikmati alam yang indah, yang dilukiskannya dengan semangat yang meluap-luap (Jonge, Opkomst, jil. V1, him. 176-177). Perjalanan berlangsung cepat, schingga setelah tiga hari mereka tiba di kotaistana. Pada hari terakhir, karenaada berita bahwa Sunan sangat ingin berjumpa dengan utusan, tiga belas pal ditempuh, dan pada malam hari tanggal 15 Oktober 1668 tibalah mereka di Mataram. Versprect dan iringannya diberi tempat penginapan tidak jauh dari Keraton dan pada keesokan harinya mereka sudah diterima Raja. Pada pagi hari para pembesar pengantar utusan datang mempertanya- kan masalah hadiah, yang akhirnya diperlihatkan juga kepada mereka. Belum selesai dengan kesibukan itu, tiba-tiba datang perintah agar utusan segera menghadap ke istana. Satu jam kemudian Verspreet dan rombongan menuju Keraton. Begitu banyak orang yang sudah berkum- pul di sana, sehingga mereka hampir tidak dapat maju, dan pandangan sama sekali terhalang. Karena itu, suasana hening yang luar biasa lebih terasa setelah pintu gerbang ketiga mereka lewati dan memasuki pelataran yang penuh dengan pohon-pohon itu. Empat sampai lima ribu orang Jawa duduk di sana, tanpa bergerak sedikit pun bagaikan patung. Sunan duduk di pendapa yang lebar bertelanjang dada, dan hanya memakai kain yang sederhana. Ia dikelilingi 25 sampai 30 orang wanita, yang membawa pusaka-pusakanya, tembakau, sirih, dan scbagainya. Sri Baginda tampak luar biasa ramah. Duta diperkenankan duduk di atas tanah di udara terbuka sejauh 10 sampai 12 langkah dari Sunan. Tahun sebelumnya jarak itu sejauh 30 sampai 35 langkah. Surat Pimpinan Kompeni diterima oleh penguasa tertinggi Pesisir Barat, dan dibacakan oleh Sekretaris Anggapraja. Kemudian Sunan minta agar hadiah, yang sudah terlalu lama diletakkan di belakang duta, dibawa ke depan. Dibukanya sendiri kotak yang kecil dan diperiksanya segala 24 Menurut suatu Surat dari Jepara tertanggal 18 Oktober 1668 (Jonge, Opkoms,jil. VI, him. 176) ada tujuh orang yang diangkat sebagai ngabei, a.1. Tanumenggala sebagai [Ngabei Wangsadipa untuk daerah Jepara, dan Wiradika sebagai Ngabei Wiradikara untuk daerah Lasem dan ‘Tuban. 201 isinya, satu demi satu, dengan wajah yang riang. Seekor kuda hitam yang tinggi dan bagus, yang sengaja dibawa dan ditambatkan di sisi kanan di antara dua pohon, menjadi alasan bagi Sunan untuk menerangkan bahwa kuda itu adalah hasil perkawinan seekor kuda betina Jawa dan seekor kuda jantan Persia; mungkin salah seekor kuda yang pernah dihadiahkan kepada Sunan oleh Kompeni. Duta memuji hewan itu dan memperkirakan harganya di Batavia 1.000 ringgit. Dari soal hewan, pembicaraan beralih ke manusia. Putri Raja, yang berusia tujuh tahun itu, tampil ke depan dan sewaktu ia melihat-lihat hadiah, Raja berkata kepada orang-orang Belanda itu sambil tertawa bahwa ”putrinya senang sekali”” pada mercka. Setelah semuanya ini berlangsung lebih kurang satu jam, Raja memerintahkan agar para utusan beristirahat, sebagai tanda pertemuan dengan Raja telah berakhir. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, perutusan Belanda kembali ke penginapan mereka. Sambutan Raja membuktikan bahwa mereka telah berhasil dengan sangat baik. Berangsur-angsur mereka dapat mengetahui maksud Sunan yang sebenarnya terhadap perutusan ini. Yakni, tidak sangat menekankan pada pembicaraan mengenai urusan kenegaraan melainkan untuk membiasakan Batavia agar mengirimkan perutusannya setiap tahun. Karena itulah mereka diberi sambutan yang megah! Meskipun Raja sudah menyediakan makan dan minum secara berlimpah, orang-orang Belanda itu masih menerima 12.000 picis setiap hari, yaitu uang recehan senilai 40 ringgit, "untuk membeli sirih dan pinang”. Jadi, dimaksud untuk pengeluaran-pengeluaran kecil. Verspreet tidak merasa puas bahwa tidak sepatah kata pun diucapkan mengenai urusan penting, yang justru dipakainya sebagai alasan untuk mendatangkan mereka itu. Ketika dimintanya kepada pihak Jawa agar pendiriannya itu disampaikan kepada Sunan, maka tidak ada sesuatu pun terjadi, schingga ia pun tetap tidak tahu entah protes tersebut sampai pada Raja atau tidak. Juga tidak lagi dibicarakan apakah perutusan harus pulang kembali dalam waktu cepat. Soal yang disinggung adalah keikutsertaan dengan Sunan, sebagaimana telah dijanjikan, untuk berburu.”° Tetapi ini pun akhirnya tidak jadi diadakan. Sementara itu, perutusan dihormati dan dihujani oleh berbagai pembesar dengan hadiah buah-buahan, ”ikan-ikan kecil sebagai umpan untuk memperoleh 25 Perjalanan tamasya ke pantai Laut Kidul sambil berburu merupakan perjalanan raja-raja Jawa, yang bersifat hiburan dan keupacaraan sekaligus; sebagaimana diberitakan Babad Momana 1590 J. (mulai 23 Juni 1667 M.): "Ingkang Sinuwun tedhak mbebedhag datheng Redi Kidul, ningali guwa ing Ngirik.” Gua ini pastilah gua Nyai Lara Kidul, Dewi Laut Kidul, yang terkenal sebagai Gua Langsé. ikan-ikan besar”, kata Verspreet bergurau. Banyak orang dengan diam-diam memperingatkan agar Pangeran Adipati Anom tidak dikunjungi atau diberi hadiah dengan terang-te- rangan. Peringatan demikian sudah disampaikan kepada perutusan ketika di Semarang. Karena itu, undangan dari putra mahkota pribadi untuk bertemu pada malam hari di sebuah rumah di belakang penginapan mereka, dengan secara hormat, ditolaknya. Kali ini Pangeran harus "bersabar”, dan mengirimkan utusannya ke Semarang, untuk membicarakan beberapa urusan di sana. Kemudian kunjungan mereka di Mataram dimeriahkan oleh sebuah undangan dari tumenggung Mataram. Kepada perutusan, tumenggung ini_menyajikan tari-tarian oleh putra-putrinya yang masih kecil. Verspreet juga tiga kali dikunjungi oleh putra bungsu Sunan, yang memperoleh sebuah hadiah. Verspreet, yang berpandangan jauh ke depan itu, dalam pembicaraan- nya dengan para utusan putra mahkota juga menyinggung masa depan, yakni tentang kemungkinan akan meninggalnya ayahnya dalam waktu singkat. Kepada putra mahkota ia menyampaikan harapannya agar »berkenaan dengan usia ayahandanya yang semakin lanjut, Tuhan akan membantu pangeran untuk menerima haknya yang sah, selalu dapat mengalahkan musuh-musuhnya, dan agar setiap kesempatan digunakan- nya untuk menjalin persaudaraan dengannya”. Ia juga memohon, agar »pertalian persaudaraan antara ayahandanya dan Gubernur Jenderal ... akan berlangsung terus”. Tetapi Versprect merasa kecewa atas hasil perutusannya. Pembicara- an secara lugas dengan Sunan tidak memperlihatkan kemajuan, meskipun ia tetap mendesaknya. Karena itu, ia berpendapat bahwa para penguasa pesisir atas kehendak sendiri dengan tidak diketahui Raja, yang mengajukan pokok pembicaraan tersebut. Karena itulah perutusan selanjutnya tidak akan membicarakannya lagi dengan Sunan. Sebaliknya, raja Mataram tentu merasa sangat puas dengan perutusan ini. Dalam dua tahun berturut-turut ia melihat seorang utusan Belanda datang menghadap di depan tahtanya. Karena itu, perasaan sukacitanya itu tidak disembunyikannya.”° XIII—6 Masa tugas kedua Tanumenggala-Wangsadipa, 1668- 1669 Setelah perutusan Verspreet yang berjalan lancar itu, Jepara menda- 26 Tidak lama setelah kembali di tanah airia diangkat sebagai gubernur ke-17 di Ternate. Ia tiba di tempat itu pada tanggal 13 Mei 1669, tetapi meninggal pada tanggal 7 ‘Agustus 1671 (Valentijn, Oud en Niewo, jil. 1, him. $26). 203 pat seorang kepala baru. Tanumenggala sekali lagi diperbolehkan mengurus kota pelabuhan ini sebagai Ngabei Wangsadipa (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 176). Penguasa baru ini, menurut keterangan Versprect, adalah ”'seorang pembesar di istana”, dan mengantar perutusan Kompeni dari Mataram kembali ke pantai. Sementara itu, kesempatan ini digunakannya untuk menegaskan betapa besar keinginan Raja untuk bisa menerima perutusan setiap tahun. Kepala daerah yang baru ini ternyata sudah berpengalaman: ia berdagang di pantai barat Sumatera. Dari abdi-abdinya yang dikirim ke sana, Belanda merampas lebih dari 30 keranjang tekstil (yaitu: kodi, atau gelung yang terdiri dari 20 potong) dan satu potong ”rambutin” (sejenis tekstil dari India) (Daghregister, 15 November 1668). Jumlah ganti rugi yang diterimanya di Batavia rupanya masih kurang, sehingga ia masih dapat menagih 700 ringgit. Walaupun terdapat perselisihan ini, ia tetap bersikap sangat ramah, dan menamakan Batavia dan Jepara satu kota-dagang, sehingga uang sebesar kira-kira 1.000 ringgit tidak berarti (menurut tulisannya tertanggal | April 1669). Akan tetapi sikapnya yang ramah itu tidak mencegahnya pada bulan November 1668. untuk mengirimkan seorang Cina gundul dari Mataram ke pihak Inggris di Banten, dengan pesan bahwa mereka bolch menempati kembali loji mereka di Jepara. Residen menganggap tindakan ini sebagai "suatu cara untuk mendapat hadiah besar”, tetapi juga dapat dimaksudkan untuk memberikan tekanan kepada Kompeni schubungan dengan perselisihan dagang tersebut di atas. Akhirnya persclisihan tersebut dapat diselesai- kan dan orang-orang Inggris tetap tidak muncul di Jepara (Daghregister, 15 April 1669). Sclain itu, pihak Belanda menerima ”begitu banyak kehormatan dan persahabatan” daripadanya, ”schingga memang mengherankan kami,” tulis Residen kepada Batavia. Tidak seorang pun dari para bupati lama yang berani mengganggu orang-orang Belanda. Mereka bahkan harus berusaha memelihara ikatan persahabatan. Suasana demikian berubah ketika Ngabei Wangsadipa berangkat ke Mataram pada akhir bulan Mei 1669. Sebab, setelah itu "pihak kita di sekitar pelabuhan harus mengalami banyak sekali kesulitan dari para bupati itu, schingga kembalinya Ngabei tersebut sangat diharapkan” (Daghregister, 4 Juni 1669). Usaha "untuk memikat” para pengganggu "dengan hadiah-hadiah kecil agar bersikap bersahabat kepada Kompe- ni” sia-sia belaka (Surat dari Jepara, 28 Juni 1669, dalam (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 161). Ngabei Wangsadipa baru kembali ke Jepara setelah sekian tahun berlalu dan pihak Belanda terpaksa berurusan dengan orang-orang yang kurang penurut. 204 XIII—7 Perutusan De Jongh ditolak, 1669 Pada tanggal 30 Januari 1669 Pemerintah Kompeni di Batavia menulis kepada residennya, "bahwa apabila ia mengetahui sesuatu tentang pengiriman utusan setiap tahun ..., Karena itulah yang rupanya diusahakan mereka . . ., maka ia harus pura-pura tidak tahu apa-apa”. Tetapi sekitar bulan Juni 1669 bekas kepala daerah Wiradika diangkat kembali di Jepara yang sejak itu bernama Ngabei Wiradikara (Daghregis- ter, 5 Juli 1669). Dua tahun yang lalu ia memang ditendang keluar dari Jepara secara tidak terhormat. Tetapi seperti telah kita lihat, ia kemudian diangkat sebagai kepala daerah di Lasem dan Tuban. Di sini keluarga tersebut dalam waktu singkat merasa senang hidupnya. Karena putranya, Kentol Sutananga, terkenal di Lasem sebagai pengganggu para bawahan dengan menuntut pajak 50% dari balok-balok yang diturunkan dari kapal (Daghregister, 11 Juni 1669) Di samping Ngabei Wiradika, di Jepara diangkat sebagai syahbandar besar Ngabei Wiraatmaka, bupati Juwana. Kompeni menganggap mereka berdua sebagai ”orang-orang yang kejam dan tidak baik”, yang diangkat berkat janjinya "akan berusaha memaksa Kompeni agar memberikan hadiah setiap tahun 10.000 ringgit”, untuk memenuhi perjanjian perdamaian (Daghregister, 5 Juli 1669). Jadi, sekali lagi, sepe sepuluh tahun yang lalu, timbul soal 10.000 ringgit yang tersohor itu! Untuk itu, Ngabei Wiradikara akan mengirimkan utusan ke Batavia. Apabila ia berhasil mengirimkan perutusan Belanda, ini akan menjadi jenjang pengangkatannya, tetapi jika gagal, maka ia akan hancur sama sekali”. Melalui putrinya, salah seorang selir Sunan, “ia dapat memperoleh banyak pengaruh”, karena Raja memperoleh seorang putra dari putri ngabei tersebut (Daghregister, 15 Juli 1669). Menurut ngabei ini, pemberhentiannya dahulu adalah akibat intrik, tetapi sckarang Sunan sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, dan seterusnya. ‘Verhadap perutusan Belanda yang akan datang itu, ia menjamin penerimaan yang baik. Putranya, Kentol Sutananga, yang di Jepara pun mengganggu para penduduk, sedang mempertimbangkan untuk pindah tempat tinggal. Dari setiap Iembu ia memungut pajak sebanyak Y2 ringgit. Surat pertama Ngabei Wiradikara yang dibawa ke Batavia oleh utusan Reksamenggala dan Encik Salam bernada ramah tetapi mendesak. Ta hampir merengek agar dikirimkan utusan, "dan apabila Saudara tidak mengikuti nasihat saya ini, maka saya tidak dapat mempertahankan penyatuan Batavia dan Mataram sebagai satu tempat”. Akibat-akibat buruk akan menimpa diri Ngabei Wiradikara sendiri. Beberapa orang Jawa menegaskan bahwa “ia dan putranya mungkin tidak akan lagi 205 berkuasa, dan bahkan mungkin akan segera berakhir pula hidup mereka” (Daghregister, 29 Juni 1669). Pada tanggal 28 Juli 1669 Pemcrintah Kompeni memutuskan bahwa pada prinsipnya akan dikirimkan sebuah perutusan. Tetapi sebelum keputusan ini terdengar oleh Ngabei Wiradikara, sampai sekitar pertengahan bulan Agustus 1669, ia beberapa kali masih mendesak agar dikirimkan sebuah perutusan. Pada tanggal 7 Agustus 1669 diterima surat kedua dari Ngabei Wiradikara, yang dibawa oleh para pengantarnya yaitu Mirmagati dan Encik Sulong (Soulangh). Nadanya hormat sekali, tetapi tanpa hadiah. Juga terdapat kata-kata teguran tentang tindakan Kompeni di Makassar, yang telah menimbulkan kegusaran pada Raja. Pihak Belanda berjanji akan mengirim seseorang pada bulan Agustus. Ia harus dapat membe- rikan “alasannya” yang tepat kepada Sunan (Daghregister, 7 Agustus 1669). Amanat tentang pengiriman perutusan yang ketiga, yang tiba pada tanggal 9 Agustus 1669 di Jepara, menimbulkan suasana yang agak panas. Perutusan Belanda itu harus membawa "hadiah penting”, karena menurut perjanjian yang telah dibuat dengan Gubernur Jenderal Van der Lijn, Kompeni wajib melakukannya setiap tahun. Sudah beberapa tahun Kompeni tidak melakukannya. Jika tidak ada perutusan datang, maka pelabuhan-pelabuhan harus ditutup (Daghregister, 13 Agustus 1669; juga (Daghregister, 29 Agustus 1669). Amanat ketiga ini rupanya tidak serta merta diteruskan ke Batavia karena sementara itu berita gembira, bahwa seorang duta akan datang ke Mataram, telah sampai di Jepara, dibawa oleh para pengantar surat pertama yang sudah kembali. Dan i membuat putra Ngabei Wiradikara, Kentol Sutananga, ”'sangat gembi- ra, dan sejak itu . .. ia tidak lagi melakukan gangguan dan pengacauan” (Daghregister, 24 Agustus 1669). Para pengantar surat yang ketiga, Reksamenggala, Encik Salam, dan Derpawangsa, yang tiba pada tanggal 29 Agustus 1669 di Batavia, juga membawa amanat yang berlainan sekali dari yang semula (Daghregister). Ngabei Wiradikara_menyampaikan kepuasannya bahwa Kompeni setelah satu atau satu setengah bulan akan mengirimkan seorang duta yang akan menanyakan apa yang dikehendaki Sunan. Kehendak ini sekarang diberitahukan: sejumlah besar jenis tekstil dan (uang?) perak. Scorang duta perlu dikirim cepat. Di pantai timur Jawa orang sudah tidak sabar lagi. Di Juwana penutupan pelabuhan sudah dimulai. Tetapi di Jepara belum lagi, karena Ngabei Wiradikara menunggu kedatangan para utusan Gubernur Jenderal untuk, kemudian, bersama-sama mereka akan pergi ke Mataram (Daghregister, 6 September 1669). Juga sungai-sungai di Rembang, Demak, dan Semarang sudah mulai dipagari. Sementara itu, 206 terdengar pula ancaman-ancaman, karena Sunan konon telah memerin- tahkan Ngabei Wiradikara: ”pergi ke Batavia atau kirim orang ke sana untuk mengetahui apakah Kapten Moor akan mengirimkan seorang duta. Jika tidak, daerah pantai akan saya tutup”. Sunan akan mengirimkan 30.000 orang untuk menutup Sungai Ciliwung di pegu- nungan, dan mengalihkan airnya ke Sungai Karawang (Daghregister, 6 September 1669). Bahkan dermaga pelabuhan di Jepara sudah ditutup, dan hanya orang-orang Cina berhasil menyelundupkan beberapa kapal dengan muatan gula ke dalam (Daghregister, 10 September 1669). Sunan, yang marah karena Kompeni memerangi Makassar, bertanya, "Apakah di pantai tersedia seribu kapal perang ... untuk melawan Jakarta.” Tetapi sebelum itu ia masih ingin menunggu sebentar, menunggu apakah duta Gubernur Jenderal jadi datang atau tidak (Daghregister, 13 September 1669). Sementara itu, karena bahan pangan dan lain-lain sangat di- perlukan, Dewan Hindia memutuskan untuk secepat-cepatnya mengi- rimkan seorang utusan kepada sunan Mataram, yaitu bekas residen Ternate, Maximilian de Jongh (Daghregister, 3 September 1669, 5 September 1669). Keputusan ini diberitahukan kepada Ngabei Wiradi- kara dengan peringatan, “bahwa duta, jika ia mendapati pelabuhan- pelabuhan tertutup, terpaksa akan pulang kembali”. Dalam instruksi De Jongh juga tercantum bahwa ia tidak bolch pergi jauh dari kapal, ‘sebelum mendapat jaminan bahwa ia akan diterima dengan hormat dan diperbolehkan menghadap Sunan. Jika pelabuhan-pelabuhan masih tertutup, maka ia akan berpura-pura pulang kembali, Ia pun harus membicarakan dengan Ngabei Wiradikara mengenai pengiriman per- utusan balasan. Hadiah-hadiah dapat dibagikan menurut kebijaksa- naannya, tetapi secara diam-diam, karena ada kemungkinan akan timbulnya iri hati Sunan. Surat yang dibawanya hanya berisi kata-kata hormat dan pujian belaka (Daghregister, 18 September 1669). Di Mataram orang dengan harapan besar menunggu kedatangan duta. Menurut Kentol Sutananga, ”Sri Baginda setiap hari sampai dua tiga kali bertanya mengapa duta belum juga datang.” Sehubungan dengan peristiwa Makassar ia memperdengarkan nada lain yang akan dibicara- kan lebih lanjut (him. 255). Sementara itu, pelabuhan-pelabuhan pun dibuka kembali, ”tidak karena ada berita bahwa seorang duta akan datang, melainkan karena kepada Sunan diberitahukan bahwa penutup- an pelabuhan-pelabuhan ... akan menunda kedatangan duta, dan mungkin akan menghalanginya sama sekali”. Kentol Sutananga juga menyatakan bahwa penutupan pelabuhan dilakukan karena Sri Baginda »marah” kepada beberapa penguasa pesisirnya (Daghregister, 30 Septem- 207 ber 1669). Ketika duta De Jongh tiba pada tanggal 28 September 1669 di Jepara, dilihatnya semua pelabuhan sudah terbuka. Kedatangannya disambut dengan meriah oleh Kentol Sutananga. Akan tetapi duta tidak mau turun ke darat sebelum ayahnya muncul. Mereka saling bertukar hadiah: yang satu memberikan buah-buahan, dan yang lain memberikan manisan buah dan anggur Spanyol. Dengan ditemani Jacob Couper, duta akan melanjutkan perjalanannya ke Mataram, karena diharapkannya penge- tahuan Jacob Couper yang luas mengenai bahasa Jawa akan banyak manfaatnya. Pada sekitar | Oktober 1669 De Jongh berangkat ke Semarang, dan di sana ia menunggu kedatangan Ngabei Wiradikara. Ngabei ini datang pada larut malam tanggal 6 Oktober, tetapi keesokan harinya pagi-pagi sudah berangkat ke istana (Daghregister, 18 Oktober 1669), "karena dipanggil kembali dengan surat kilat”. Putranya meminta kepada duta agar bersedia menunggu beberapa hari. Tetapi duta menentukan jangka waktu empat atau lima hari, sehubungan dengan akan datangnya musim hujan. Kentol itu juga bertanya tentang hadiah. Tetapi De Jongh pura-pura tidak tahu. Yang diketahuinya hanyalah hadiah itu bernilai tinggi, sambil dibisikkannya ke telinga penanya, sebuah hadiah yang bagus juga dibawanya untuk ayahnya. Hadiah itu tidak ada yang berupa uang tunai, dan ini menimbulkan kekecewaan. Tepat delapan hari kemudian, yaitu pada tanggal 15 Oktober 1669, Wiradikara datang kembali ke Semarang. Dan melalui bupati-bupati Mirmagati, Reksamenggala, dan Encik Sulong, ia mempersilakan duta datang untuk menerima perintah Sunan. De Jongh menolak dengan hormat. Sebab, pada pendapatnya, seperti para pendahulunya, ia pun pertama-tama harus disambut kedatangannya di atas kapal. Maka, Ngabei Wiradikara datang bersama empat pejabat istana Mataram dan tiga orang penguasa pesisir ke kapal Belanda, setelah terlebih dahulu ia memohon melalui Datuk Salam agar hadiah untuknya dirahasiakan. Setelah menyampaikan kata hormat dan puji, Wiradikara memberi- tahukan kepada duta tentang perintah Raja dalam bahasa Melayu, yang oleh asisten Jacob Couper diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Perintah itu berbunyi: kedatangan duta sangat menyenangkan, “tetapi karena terganggu oleh tingkah laku putranya dan pembesar-pembesar lainnya, ia tidak berkesempatan menerima duta, maka oleh karena itu duta dapat pulang saja; apabila keadaan mengizinkan kembali, maka akan dikirim sebuah perutusan kepada Tuan Gubernur Jenderal.. .dan duta diminta datang kembali”, Tetapi Wiradikara tidak tahu apakah perubahan sikap itu akan terjadi setelah dua hari, dua minggu, satu 208 bulan, dua bulan, atau bahkan lebih lama lagi. Semua pembesar lainnya membenarkan kata-kata tersebut sebagai perintah Sunan. Atas pertanya- an kapan ia akan berangkat, De Jongh menjawab, ”Malam ini juga.” Juga ditanya oleh Wiradikara, apakah kapal dengan beras boleh menuju Makassar, yang dijawab oleh duta, ”Ya, makin banyak makin baik, asalkan mempunyai surat jalan.” Setelah dijamu dengan minuman anggur dan manis-manisan, Wiradikara berangkat kembali bersama para pengiringnya. Pada malam hari itu juga De Jongh mengangkat sauh, dan tiba pada tanggal 13 Oktober 1669 di Teluk Jepara. Di sanalah ia menyelidiki scbab-musabab penghalang terhadap perutusannya itu. Tidak diperoleh kepastian, karena terdapat berbagai keterangan yang berlainan: hadiah yang terlalu sedikit, tidak ada hadiah uang, uang sewa loji yang sclama 18 tahun belum dibayar, terlepasnya Palembang pada tahun 1659, dan sekarang perang dengan Makassar pula, bahkan ada rencana perang terhadap Batavia. Duta menduga bahwa Raja menjadi marah kepada Wiradikara karena ia dengan tidak tahu malu dan dengan cara sungguh tidak masuk akal . .. telah menuntut . . . scorang duta”. Para pembesar yang ”sangat tidak senang” terhadap Wiradikara itu tidak dapat percaya bahwa akan pernah datang lagi seorang duta tanpa_pengiriman perutusan balasan dari Mataram scbagaimana yang sudah menjadi kebiasaan. Maka, oleh mereka dilaporkan pemaksaan Wiradikara tersebut kepada Sunan, Karenanya, Sunan menjadi ”sangat malu” dan memutuskan agar duta "dengan diiringi kata-kata perpisahan yang baik dan bersahabat dipersilakan ... berangkat kembali”. Empat pejabat istana dikirimkan kepada Wiradikara untuk menyelidiki segala perbuat- annya, khususnya sehubungan dengan perutusan Belanda itu. Mereka pun harus tahu apakah ada hadiah juga untuk Wiradikara, dan berupa apakah hadiah itu. Bagaimanapun segera setelah _menyampaikan amanatnya kepada duta, Wiradikara bersama putranya berangkat kembali dari Semarang. De Jongh berpendapat bahwa keadaan Kompeni di Mataram karenanya tidak menjadi lebih buruk, dan bahwa pelabuhan-pelabuhan tidak mudah akan ditutup lagi (Daghregister, 18 Oktober 1669, K.A. No. 1162, him. 842 dan selanjutnya). Pendapat ini ternyata tepat. Melihat nasib Ngabei Wiradikara selanjutnya, maka mungkin sekali penekanannya terhadap Batavia agar dikirim perutusan itulah yang menyebabkan Sunan memutuskan untuk tidak mencrimanya. Tetapi mungkin juga suasana rumah tangga yang tidak menyenangkan di dalam istana Raja itu yang menjadi dasar keputusannya. Ini sudah tentu sesuai dengan garis pemikiran Wiradikara, dan memang hanya inilah yang . 209 discbutkannya sebagai sebabnya. Tetapi campur tangan Kompeni dalam urusan Makassar juga telah menimbulkan kejengkelan Raja Mataram itu. XII-—8 Penaklukan Makassar, 1669 Sudah terbiasa pula bahwa di pos-pos luar diadakan perayaan kemenangan yang diraih pihak Belanda, di mana pun. Karena itu, berdasarkan kemenangan yang tercapai di Makassar tersebut, Residen menyuruh melepaskan tembakan-tembakan dengan senapan dari loji, yang berlangsung sampai tengah malam, sampai Kentol Sutananga putra Kepala Daerah ... melarangnya dengan tambahan bahwa ia merasa sangat marah dan cemas”. Residen segera menjawabnya kasar: ia boleh saja percaya kepada kebenaran kata-katanya itu” (Daghregister, 13 Agustus 1669). Kemenangan ini rupanya membuat orang Jawa bahkan lebih sengit, karcna justru pada saat itu tersiar desas-desus yang kuat bahwa pada bulan yang akan datang pelabuhan-pelabuhan akan ditutup berhubung tidak ada duta Belanda yang datang (Daghregister, 24 Agustus 1669) Juga Sunan tentu "sangat tidak senang terhadap kemenangan tersebut _ |. dan konon ia mengucapkan kata-kata berikut, Mula-mula Kompeni menaklukkan Palembang dan membuatnya tidak lagi taat kepadaku, dan nudian Makassar baru-baru ini; jika terus begitu akhirnya nasibku n begitu juga.” Lalu ditanyakannya apakah di pantai sudah tersedia ..000 kapai perang siap untuk dipergunakan ”melawan Jacatra” (Daghregister, 13 September 1669). Akhirnya, sctelah kemenangan Kompeni di Makassar menjadi kenyataan, Raja berpura-pura bersikap kesatria. Selain bertanya apakah kemenangan atas Makassar itu benar-benar terjadi, ditambahkannya, »Mereka yang melawan saudaranya, yaitu Kapten Moor, akan diang- gapnya melakukan perang terhadap dirinya sendiri; maka ia pun ingin membantu Kapten Moor dalam hal itu apabila ia diberi tahu.” Terhadap kalimat terakhir itu, Residen tepat menanggapinya, ”seba- gai suatu kebohongan yang disclubungi kata-kata indah” (Daghregister, 18 September 1669; Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 192-193). ”Kebohongan” ini rupanya sesuai dengan ucapan Raja mengenai penaklukan Palem- bang (Daghregister, 13 Juli 1668), atau mengenai pengusiran orang asing yang menyebabkan ia menindak tumenggung Mataram Kiai Wirajaya (Daghregister, 20 September 1661, him. 283). Nasibnya yang tidak terelakkan diterimanya dengan memulasinya bagaikan keindahan. 210 XINM—9 Ketidakpuasan Ngabei Wiradikara, 1669 Setelah penolakan perutusan De Jongh, hati Wiradikara menjadi gusar luar biasa. Itu tidak menghcrankan. Dengan penolakan terhadap perutusan Belanda itu, lenyaplah harapan akan keuntungan prestise yang sudah di depan hidungnya. Demikianlah, maka Residen Amclis de Vallee pun berkeluh kesah atas ”gangguan-gangguan di luar batas” yang dilakukan Wiradikara sckembalinya dari Mataram. Ketika Residen melakukan kunjungan kehormatan kepadanya dengan membawa pakaian-pakaian yang indah”, hadiah itu mula-mula diterimanya, tetapi kemudian dikembalikannya, ”karena dianggap kurang berharga” (Daghregister, 3 November 1669). Setelah itu, ia melancarkan kata- katanya yang pedas. ”Pertama-tama ia bertanya . . . berapa sungai yang melingkari Batavia, dijawabnya 5, dan yang tidak mungkin dapat utuskan alirannya atau diuruk, dan seandainya pun bisa, orang-orang di dalam kota tinggal menggali sumur saja, dan air pun akan berlimpahan”. Wiradikara menertawakannya karena tidak percaya akan kebenaran kata-kata itu. Dari setiap kapal yang datang, sejak itu ia menuntut uang sauh 10 ringgit. Juga tanpa izinnya dilarang membawa barang-barang melewati pos bea, ”sehingga untuk 10 ekor ayam . . . harus dibayar bea 14 kelip”. Ketika dikemukakan ketidakadilan ini, ia pun menjawab: ”perintah dan peraturan itu diberikan, karena dari Kompeni di Jepara ia tidak mendapat keuntungan, sebab kapal-kapal pergi ke tempat lain dan membongkar muatannya di sana; mulai sekarang keadaan demikian tidak akan lagi dibiarkannya”. Ia juga melarang Pajangkungan dan Rembang menyediakan kayu untuk Kompeni. Juga dikehendakinya agar Residen mau membeli 2.000 pikul gula dari dia dan seterusnya. Bahkan anjing-anjing jaga di loji pun telah mengganggunya. Karena itu, jika binatang-binatang itu tidak disingkirkan, akan dikeris semuanya. Akhirnya ia hendak menulis surat kepada Batavia dengan permintaan, untuk mendapat wewenang memerintahatasorang-orang Belanda, sama seperti terhadap orang-orang Jawa kawulanya; suatu permintaan yang pada anggapannya tidak akan ditolak”. Karena itu, Residen mengusulkan untuk pindah ke Juwana, "seperti yang sering diminta olch kepala daerah di sana, Kiai Sabdakarti. Pakaian yang terbaik dan uang tunai sudah dimasukkan ke sckoci Hector untuk disclamatkan. Karenanya, Wiradikara menjadi sangat marah kepada syahbandar. Surat tertanggal 6 November 1669 tidak lebih menggembirakan (Daghregister, 13 November 1669). ”Sebab lagi-lagi penuh keluh kesah gangguan dan kesulitan dilakukan ... Wiera Dykara, yang telah 21 melarang para pedagang di pasar menjual apa pun kepada kami”. Residen telah dipaksanya membeli 1.350 lembar papan dengan harga untuk seratus lembar, satu rial lebih mahal dari harga pasar. Ketika Residen menerangkan kepada putra kepala daerah itu, Kentol Sutana- nga, bahwa ia akan pindah ke Demak atau Juwana, didapatnya jawaban, bahwa itu dapat dilakukannya dan tiada seorang pun yang akan menghalanginya”’. Ketika kapal Hooghcarspel akan bertolak, Residen dipanggil. Dan setelah menunggu 2 jam kepadanya dititipkan sebuah surat untuk Kompeni di Batavia, yang memuat syarat-syarat untuk seorang duta baru: ’’Fasih dalam bahasa Melayu”, dan hadiah yang berharga, “lebih: daripada sebelumnya”. Ketika ia bertanya kepada duta yang terakhir, De Jongh, mengenai hadiah, ia tidak mendapat jawaban; yang menyedihkannya ”karena yang baik maupun yang buruk tertimpa padaku”. Ia memberi penekanan kuat pada usaha penyatuan Batavia dan Mataram. Sebuah surat tertanggal 10 November 1669 (Daghregister, 14 November 1669) memberitakan semakin meningkatnya gangguan, ”dan perbuatan- nya yang tidak layak menjadi semakin parah”. Bahkan dari bahan tekstil yang tidak terjual dan dibawa kembali di kapal Heclor dipungutnya bea, yakni 10% untuk pemasukan dan 10% untuk pengeluarannya lagi. Dari Ioji dimintanya uang sewa selama 18 tahun, yakni 60 ringgit sctiap tahun; scluruhnya 1.000 ringgit. Ekspor gula tctap dilarang, sampai gula miliknya sendiri habis terjual kepada orang Cina atau kepada Kompeni dengan harga 3,5 ringgit untuk gula putih dan 7 ringgit untuk gula batu setiap pikul. Seorang Melayu, budak Residen, ditahan oleh putranya. Bahkan ia pun telah menyuruh scorang bernama Pagiwa agar membu- nuh Jacob Couper. Sudah 2 sampai 3 kali dilakukan percobaan pembunuhan itu. Pagiwa memang seorang yang sudah biasa melakukan kejahatan. Beberapa minggu kemudian Residen mengunjungi Kepala Daerah, dengan membawa banyak hadiah: tekstil dan air mawar, "untuk mencoba menjauhkan dirinya dari sikap yang tidak layak itu”. Semuanya itu sia-sia saja, "ia tetap pada pendiriannya yang lama, dan ingin menguasai wilayahnya, baik atas pegawai-pegawai Kompeni maupun atas orang-orang Jawa”. Dikatakannya, ’Kepala-kepala daerah scbe- lumnya tidak mempunyai sifat-sifat seperti yang sekarang ini.” Setclah itu ditunjukkannya suatu contoh mengenai keberaniannya ketika ia ikut serta dalam sebuah perutusan Jawa ke Batavia. Di depan Gubernur Jenderal ia memukul dada seorang wakil pedagang, dan menggenggam- kan tangannya di hulu kerisnya, karena wakil pedagang ini mengatakan 212 bahwa orang-orang Belanda telah menguasai lautan. Ini merupakan penghinaan terhadap rajanya! Apabila kawan-kawannya tidak mence- gahnya, ia pasti sudah bertindak nekat . . .. Dan masih banyak lagi cerita ras itu (Daghregister, 4 Desember 1669). an menjadi semakin parah, schingga Pemcrintah Kompeni mengizinkan Residen “untuk berangkat dengan cara yang sebaik- baiknya ke Juwana atau Demak” (Daghregister, 20 Desember 1669). Tetapi dalam waktu singkat berakhirlah ulah Ngabei Wiradikara yang keterlaluan itu, dan untuk sclama-lamanya. XIII—-10 Jatuh dan matinya Ngabei Wiradikara, 1670-1672 Sunan rupanya merasa cemas. sekali dengan kegagalan usaha memperolch perutusan baru sebelum tahun 1670. Setelah mendengar berita-berita tentang "kekuasaan Wiradikara yang jahat dan keterlaluan itu”, yang tanpa perintah ... meminta datangnya perutusan dari Batavia”, maka diputuskan oleh Raja "untuk memecatnya dari pemerintahan” (Daghregister, 21 Februari 1670). Pada akhir bulan Februari 1670 terjadilah upacara serah terima kepada pengganti Wiradikara, yaitu Syahbandar Besar Wiraatmaka. Sudah pada tanggal 24 Desember 1669 syahbandar besar tiba di Jepara dan segera dimintanya dari pendahulunya agar memberi pertanggungja- waban tentang semua "pajak pantai” (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 183). Sclanjutnya Ngabei Wiradikara dibuang ke suatu tempat yang terkutuk sckitar Blambangan, bernama Blitar”. Banyak orang menganggap bahwa ia akan dibunuh di sana, tetapi justru pada saat hendak berangkat, ia dipanggil oleh Sunan. Setelah ia tiba di Istana, Raja berkata, "Selama aku mendudukkanmu dalam pemerintahan, aku mendengar keluhan-keluhan tentang pemerintahanmu yang tidak layak; terlalu berat untuk menghabisi nyawamu karena itu pergilah melanjut- kan tugas Iamamu” (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 184). Yang dimaksud Sri Baginda dengan itu adalah tugasnya sebagai " penyimpan perisai-pe- risai keramat istana Mataram”. Di sanalah tempatnya untuk sementara. Akhirnya Ngabei Wiradikara berani lagi mengajukan sesuatu, Pada bulan Desember 1670 ia ’sambil bersujud di kaki Sunan memohon agar dikembalikan kepadanya uang 9.000 ringgit... . uangnya pribadi yang diambil Wicrat-Macka bersama dengan jabatannya” (Daghregister, 18 Desember 1670). Separuh lebih sedikit dari jumlah itu dikembalikan juga kepadanya (4.701 ringgit). Tetapi pada bulan Mei 1672 habislah riwayatnya, karena Sunan yang » pada pagi hari mengangkatnya dengan gelar kehormatan Tumenggung Madiun, dan pada sore harinya sambil terscnyum berkata ...; 213 ‘Tumenggung Madiun adalah seorang besar, maka kini (karena itu?) hai, rakyat Mataram, bunublah dia!” Setelah itu ia bersama seluruh keluarganya, ”termasuk selir raja”, segera dibunuh. Tiada kuburan disediakan bagi mereka; mayat-mayat mereka dibiarkan hanyut ke faut (Jonge, Opkonst, jil. VI, him. xevii, 196) XIII-11 Desakan terakhir pengiriman perutusan, 1670 Pada awal tahun 1670 Residen memberitakan dari Jepara bahwa kepala daerah baru Wiraatmaka masih berlaku ramah. Tetapi menjelang bulan Agustus atau September, ada lagi ulahnya dan ia mulai melakukan gangguan-gangguan seperti yang dahulu, setelah diadakan persiapan-persiapan untuk mengangkat seorang duta” (Daghregister, 16 April 1670). Menurut sebuah surat yang tiba pada tanggal 4 Mei 1670 di Batavia (Daghregister), dengan hati-hati Wiraatmaka memang bertanya mengenai apa yang terjadi dengan perutusan yang dahulu-dahulu; "karena saya belum mengetahuinya, apakah baik ataukah buruk jalannya — maka sekarang saya serahkan kepada Saudara, demikian juga apa yang menjadi keinginan Saudara-Saudara, agar hati saya bisa senang”. Seandainya Sunan sempat bertanya, apakah ”’Saudara berpegang pada perjanjian yang dibuat olch Kapten Moor Panjang yang dahulu atau tidak”, ia ingin sckali dapat memberikan jawaban kepada rajanya sebaik-baiknya agar hatinya tenang. ”Pernahkah perjanjian seperti itu dibuat atau tidak?” Jadi, ia mengingatkan kepada perjanjian perdamaian yang dibuat dengan Gubernur Jenderal Van der Lijn. Surat itu baru dijawab oleh Kompeni sebulan kemudian (Daghregister, 3 Juni 1670): baru-baru saja masih dikirim seorang utusan, tetapi Sri Baginda tidak berkenan menerimanya. Karena itu, sebaiknya Sri Baginda memberitahukan_ sendiri_keinginannya kepada Gubernur Jenderal, yang akan berscdia ”membicarakan masalah-masalah yang penting” dan kemudian mengatur pelaksanaannya. Dengan ungkapan yang tidak ada isinya ini, Kompeni di Batavia mengakhiri jawabannya. Lalu sebulan kemudian para kepala dacrah Jepara, Semarang, dan Juwana (Demak tidak lagi termasuk empat serangkai terkenal itu) bersama beberapa pembesar lainnya dipanggil, sebagaimana tepat diduga Wiraatmaka, untuk membicarakan pengiriman sebuah perutusan ke Batavia. Tetapi inilah terakhir kalinya dibaca tentang hal itu (Daghregister, 6 Juli 1670). Ini tidak mengherankan. Dengan bertambah- nya kekacauan di Istana, Sunan sama sekali tidak dapat menjamin adanya suatu penyambutan yang layak atas kedatangan sebuah perutusan Belanda, sementara, kekuasaan untuk memberi tekanan 214