Anda di halaman 1dari 28

REFERAT

LUKA BAKAR LISTRIK

Disusun Oleh:

Rian Nurdiansyah

NPM 1102013249

Pembimbing:

dr. Huntal Napoleon, Sp BP-RE

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO

PERIODE 11 NOVEMBER 2019 – 18 JANUARI 2020

0
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat, rahmat dan hidayah Nya penulis dapat menyelesaikan referat yang
berjudul Hipospadia ini sebagai salah satu syarat menyelesaikan kepaniteraan
klinik Bagian Bedah di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I Raden Said Sukanto.
Banyak terima kasih penulis sampaikan kepada pembimbing ,dr. Lambok
Simorangkir, Sp.U atas segenap waktu, tenaga, dan pikiran yang telah diberikan
selama proses pembuatan referat ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan
kepada seluruh rekan-rekan kepaniteraan klinik Bedah periode 11 November 2019
- 18 Januari 2020 atas kebersamaan dan kerja sama yang terjalin selama ini.
Tidak lupa penulis ingin berterima kasih kepada orang tua dan keluarga
atas dukungan moril maupun materil serta doa yang tidak pernah putus.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun akan sangat
diharapkan demi penyempurnaannya. Semoga referat ini dapat memberi informasi
yang berguna bagi para pembaca.

Jakarta, 2019

1
BAB I

PENDAHULUAN

Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra


anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis
proksimal hingga glands penis. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum
atau perineum. Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin
mengalami pemendekan dan membentuk kurvatur yang disebut “chordee”.

Pada abad pertama, ahli bedah dari Yunani Heliodorus dan Antilius,
pertama-tama yang melakukan penanggulangan untuk hipospadia. Dilakukan
amputasi dari bagian penis distal dari meatus. Selanjutnya cara ini diikuti oleh
Galen dan Paulus dari Argentia pada tahun 200 dan tahun 400.

Duplay memulai era modern pada bidang ini pada tahun 1874 dengan
memperkenalkan secara detail rekonstruksi uretra. Sekarang, lebih dari 200 teknik
telah dibuat dan sebagian besar merupakan multi-stage reconstruction yang terdiri
dari first emergency stage untuk mengoreksi stenotic meatus jika diperlukan dan
second stage untuk menghilangkan chordee dan recurvatum, kemudian pada third
stage yaitu uretroplasti.

Beberapa masalah yang berhubungan dengan teknik multi-stage yaitu


membutuhkan operasi yang multiple, sering terjadi meatus tidak mencapai ujung
glans penis, sering terjadi striktur atau fistel uretra, dan dari segi estetika dianggap
kurang baik.

Pada tahun 1960, Hinderer memperkenalkan teknik one-stage repair untuk


mengurangi komplikasi dari teknik multi-stage repair. Cara ini dianggap sebagai
rekonstruksi uretra yang ideal dari segi anatomi dan fungsionalnya, dari segi
estetik dianggap lebih baik, komplikasi minimal, dan mengurangi social cost.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Hipospadia dapat didefinisikan sebagai virilisasi inkomplit dari tuberkel
genitalia yang menyebabkan insufisiensi perkembangan jaringan-jaringan yang
membentuk aspek ventral penis.
Tiga tipe anomali yang terkait dengan hipospadia yaitu :
(1) Pembukaan ektopik meatus urethra yang letaknya diantara glans dan
pangkal penis. (2) Curvatura ventral (chordee)
(3) Preputium yang menutup glans dan kelebihan kulit pada bagian dorsal
dan kekurangan kulit pada bagian ventral penis.
Meatus hipospadik juga bisa ditemukan di daerah preputium dan Chordee sering
dikaitkan dengan hipoplasia korpus spongiosum.

INSIDENSI
Insidensi hipospadia telah meningkat sejak 15 tahun yang lalu di negara-
negara barat dengan angka kejadian 1 untuk setiap 250 kelahiran bayi laki-laki.
Insidensi lebih tinggi sekiranya terdapat riwayat keluarga dengan hipospadia
dengan angka kejadian 1 untuk setiap 100 kelahiran hingga 1 untuk setiap 80
kelahiran bayi laki-laki.

Di Amerika Serikat, hipospadia terjadi 1:300 kelahiran bayi laki-laki hidu.


Kelainan ini terbatas pada uretra anterior. Pemberian estrogen dan progestin
selama kehamilan diduga meningkatkan insidensinya. Jika ada anak yang
hipospadia maka kemungkinan ditemukan 20% anggota keluarga yang lainnya
juga menderita hipospadia. Meskipun ada riwayat familial namun hingga saat ini,
belum ditemukan ciri genetik yang spesifik.

3
ANATOMI

Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin ke luar dari buli-buli melalui
proses miksi. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani.

Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada


perbatasan buli-buli dan uretra, dan sfingter uretra eksterna yang terletak pada
perbatasan uretra anterior dan posterior. Secara anatomis uretra dibagi menjadi
dua bagian yaitu:

1. Uretra pars anterior, yaitu uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum
penis, terdiri dari: pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikulare, dan
meatus uretra eksterna.
2. Uretra pars posterior, terdiri dari uretra pars prostatika, yaitu bagian uretra
yang dilengkapi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea.

4
EMBRIOLOGI

Pada embrio yang berumur 2 minggu baru terdapat 2 lapisan yaitu


ektoderm dan endoderm. Baru kemudian terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu
mesoderm yang kemudian bermigrasi ke perifer, memisahkan ektoderm dan
endoderm, sedangkan di bagian kaudalnya tetap bersatu membentuk membran
kloaka. Pada permulaan minggu ke-6, terbentuk tonjolan antara umbilical
cord dan tail yang disebut genital tubercle. Di bawahnya pada garis tengah
terbenuk lekukan dimana di bagian lateralnya ada 2 lipatan memanjang yang
disebut genital fold.

Selama minggu ke-7, genital tubercle akan memanjang dan membentuk


glans. Ini adalah bentuk primordial dari penis bila embrio adalah laki-laki, bila
wanita akan menjadi klitoris. Bila terjadi agenesis dari mesoderm, maka genital
tubercle tak terbentuk, sehingga penis juga tak terbentuk.

Bagian anterior dari membrana kloaka, yaitu membrana urogenitalia akan


ruptur dan membentuk sinus. Sementara itu genital fold akan membentuk sisi-sisi
dari sinus urogenitalia. Bila genital fold gagal bersatu di atas sinus urogenitalia,
maka akan terjadi hipospadia.

ETIOLOGI
Penyebab pasti hipospadia tidak diketahui secara pasti. Beberapa etiologi
dari hipospadia telah dikemukakan, termasuk faktor genetik, endokrin, dan faktor
lingkungan. Sekitar 28% penderita ditemukan adanya hubungan
familial. Pembesaran tuberkel genitalia dan perkembangan lanjut dari phallus dan
uretra tergantung dari kadar testosteron selama proses embriogenesis. Faktor lain
yang mempengaruhi adalah produksi hormone dari maternal selama kehamilan
terutama pada trimester pertama. jika testis gagal memproduksi sejumlah
testosteron atau jika sel-sel struktur genital kekurangan reseptor androgen atau
tidak terbentuknya androgen converting enzyme (5 alpha-reductase) maka hal-hal
inilah yang diduga menyebabkan terjadinya hipospadia.

5
KLASIFIKASI
Terdapat beberapa klasifikasi hipospadia telah diperkenalkan, namun yang
sering digunakan saat ini adalah berdasarkan letak dari meatus uretra :

1. Glandular, muara penis terletak pada daerah proksimal glands penis


2. Coronal, muara penis terletak pada daerah sulkus coronalia

3. Penile shaft

4. Penoscrotal

5. Perineal

Namun, klasifikasi berdasarkan letak dari meatus uretra tidak cukup


menggambarkan tingkat keparahan dari malformasi. Klasifikasi lain yang praktis
untuk menentukan prosedur operasi adalah berdasarkan tingkat divisi dari korpus
spongiosum :

1. Glandular Hypospadias. Meatus terletak pada glans dibelakang tempat meatus


normal. Meatus tampak ketat namun jarang sekali menyebabkan obstruksi aliran
urin.

6
2. Hypospadias dengan divisi pada distal corpus spongiosum, bisa disertai sedikit
atau tanpa chordee.
3. Hypospadias dengan divisi pada proksimal corpus spongiosum. Tipe ini lebih
mudah ditangani karena teknik operasi untuk mengoreksi chordee dan
merekonstruksi uretra telah lama diperkenalkan.
4. Hypospadias cripples. Tipe ini terjadi pada pasien yang telah menjalani
beberapa prosedur operasi namun gagal, dan meninggalkan jaringan parut, meatus
abnormal, striktur, fistula dan gangguan kosmetis dan psikologis.

DIAGNOSIS

Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi. Kadang-


kadang hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound prenatal. Jika
tidak teridentifikasi sebelum kelahiran, maka biasanya dapat teridentifikasi pada
pemeriksaan setelah bayi lahir.

Pada orang dewasa yang menderita hipospadia dapat mengeluhkan


kesulitan untuk mengarahkan pancaran urin. Chordee dapat menyebabkan batang
penis melengkung ke ventral yang dapat mengganggu hubungan seksual.
Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi
dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat menyebabkan infertilitas.

Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu uretroskopi


dan sistoskopi untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara
normal. Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya
abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan


prosedur pembedahan pada hipospadia adalah :

1. Membuat penis lurus dengan memperbaiki chordee

7
2. Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis
(uretroplasti)

3. Untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna (kosmetik)


dengan merekonstruksi jaringan yang membentuk radius ventral penis
(glans, corpus spongiosum dan kulit)

Pembedahan dilakukan berdasarkan kondisi malformasinya. Pada hipospadia


glanular, uretra distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum, bentuk
seperti ini dapat direkonstruksi dengan flap lokal (misalnya, prosedur Santanelli,
Flip flap, MAGPI [meatal advance and glanuloplasty], termasuk preputium
plasti).

PRINSIP PEMBEDAHAN
1) Eksisi chordee
Setelah insisi dari hipospadia telah dilakukan dan flap telah diangkat, seluruh
jaringan yang dapat mengakibatkan penis menjadi bengkok diangkat dari sekitar
meatus dan dibawah glans. Setelah itu dilakukan tes ereksi artificial. Bila chordee
tetap ada, maka diperlukan reseksi lanjutan. Kurang dari 5% kasus, chordee masih
bertahan walaupun telah dilakukan dua prosedur tersebut, dan ini membutuhkan
plikasi dorsal dari corpus cavernosa. Sejumlah ahli bedah tidak menyetujui
tindakan membebaskan urethal plate karena dikatakan akan membahayakan aliran
darah ke daerah tersebut. Mereka lebih memilih untuk melakukan dorsal
corporeal plication secara langsung. Khusus buat kondisi hipospadia yang paling
berat, apabila prosedur Koyanagi yang dipilih, urethral plate dibagi dua dan
diposisikan ke dorsal glans , lalu dipisahkan ke dasar/pangkal penis. Proses
pemisahan yang komplit dari jaringan uretra dari aspek ventral corpora lazimnya
cukup untuk meluruskan penis, walaupun prosedur ini hanya digunakan pada
hipospadia paling parah.

2) Urethroplasti
Pemilihan urethroplasti tergantung kualitas dan lebar dari urethral plate
(pelepasan mukosa uretra mulai dari meatus uretral ektopik sampai ke glans cap).

8
Sekiranya urethral plate cukup lebar dan baik, ia bisa digunakan untuk
menkonstruksi salur uretra (prosedur Thiersch-Duplay). Namun, jika urethral
plate tipis atau sempit, masih terdapat beberapa opsi. Opsi yang paling popular
saat ini yaitu prosedur Snodgrass, di mana urethral plate di insisi secara
longitudinal dari meatus ektopik sehingga ke glans. Alternatif lain adalah jaringan
dengan empat persegi panjang di pisahkan dan di aplikasi ke urethral plate dan
dijahit di pinggirnya (onlay urethroplasty). Jaringan berbentuk empat persegi
panjang ini diambil dari kulit bagian preputium dan diposisikan pada tepi ventral
meatus uretral ektopik (prosedur Mathieu flip-flap) atau bisa dengan pencakokan
jaringan, lazimnya mukosa buccal atau yang jarang dipakai yaitu mukosa vesika
urinaria dan kulit. Dalam kasus yang jarang, urethral plate tidak dipertahankan,
dan substitusi penuh dari uretra yang hilang harus dilakukan dengan
menggunakan tabung mukosa preputium (prosedur Asopa-Duckett) atau tabung
mukosa buccal (prosedur Koyanagi)

9
Gambar 1.0 Prosedur Thiersch-Duplay A: Garis insisi. B dan C: Insisi dilakukan
sepanjang garis tepi urethral plate dan tubularisasi plate dengan memasukkan
kateter ukuran 8F (2.64mm) hingga 10F (3.30mm) D: Melakukan glansplasti,
sirkumsisi (penjahitan kulit pada korona)

10
Gambar 1.1 Posedur Onlay. A: Garis insisi B: Diseksi preputium berbentuk segi
empat C dan D: Mukosa preputium yang sudah didiseksi dipindahkan ke urethral
plate supaya bisa menjadi dasar dan menutup urethral plate. E dan F: Pedicle
dimobilisasi untuk menutup garis suture, dilanjutkan dengan glansplasti, dan
sirkumsisi.

11
12
Gambar 1.2 Prosedur Mathieu. A: Garis insisi. B: Diseksi Mathieu flap dan insisi
sepanjang tepi urethral plate.C: Menjahit Mathieu flap di sepanjang tepi urethral
plate yang telah dimasukkan kateter ukuran 8F (2.64-mm) hingga 10F (3.30-
mm). D: glansplasti, dan sirkumsisi.

Sebagai tambahan kepada prosedur standar diatas, beberapa teknik operasi


telah diperkenalkan, misalnya prosedur pembentukan semula glans (glans
reshaping) untuk hipospadia yang sangat distal, dikenal sebagai, meatal
advancement and glanuloplasty incorporated (MAGPI) procedure yang saat ini

13
sudah kurang popular. Prosedur lain adalah mobilisasi penuh uretra dan prosedur
Turner-Warwick yang memiliki kelebihan tidak menggunakan jaringan non-uretra
untuk merekonstruksi uretra seluruhnya.
3) Penile Covering
Apabila penis telah menjadi lurus dan uretra telah direkonstruksi sempurna,
banyak ahli bedah menganjurkan untuk ditutup neouretra dengan jaringan yang
masih sihat, misalnya dengan menggunakan dua penyangga yaitu spongiosum dan
diposisikan di masing-masing sisi lateral uretra (spongioplasti) atau jaringan
diambil dari bagian dorsum penis atau skrotum. Langkah selanjutnya adalah
rekonstruksi meatus yang baru (meatoplasti), membuat glans bagian ventral
(glanuloplasti), dan pembentukan mucosal collar disekeliling glans (prosedur
Firlit).

14
Gambar 1.3 A: Mukosa buccal berbentuk empat segi diambil dari bagian dalam
bibir bawah.
B: Buccal graft (uretroplasti).
BEBERAPA TEKNIK YANG SERING DIGUNAKAN OLEH AHLI BEDAH
UROLOGI.

Hipospadia glanular
Walaupun hipospadia tipe ini sering disebut hipospadia minor, namun
untuk menatalaksananya adalah sukar karena bagian distal uretra sering
mengalami hipoplastik misalnya tidak dikelilingi oleh korpus spongiosum dan
dikarenakan anomali pada tipe ini keliatan minor, jadi sering dianggap hanya

15
memerlukan tatalaksana yang minimal. Kondisi inilah yang menjadi sebab
mengapa prosedur MAGPI oleh Duckett dipilih sebagai prosedur yang paling
popular dipakai bertahun-tahun, sangat sederhana untuk diaplikasi dan mudah
untuk belajar. Bagaimanapun, prosedur MAGPI belum dapat memberikan
kepuasan jangka panjang, jadi teknik rekonstruksi distal uretra dan ventral glans
yang lebih terperinci dan rumit lebih dipilih saat ini.

Prosedur menggunakan Urethral Plate


Pada prosedur Thiersch-Duplay, penutupan uretra yang telah
direkonstruksi dapat dilakukan jika sayatan yang dibuat pada glans cukup dalam.
Urethral plate dibebaskan dengan cara melakukan insisi secara vertical pada
masing-masing pinggirnya. Selanjutnya urethral plate digulung setelah
dimasukkan kateter uretra dan dijahit dengan menggunakan benang yang dapat
diabsorpsi (6-0 hingga 7-0 polidioksanon atau poliglaktin).
Prosedur Snodgrass bisa dijadikan alternatif jika distal dari urethral plate
terlalu sempit atau tidak cukup untuk digulung. Satu sayatan secara longitudinal
pada garis tengah dibuat pada urethral plate, yang kemudiannya digulung
melingkari kateter, meninggalkan area kosong didalam uretra dan diharapkan di
kemudian hari akan mengalami epitelisasi. Hasil dari teknik ini adalah baik. Di
dalam satu literatur, dinyatakan angka terjadinya komplikasi cuma 9-10% dengan
masing-masing stenosis meatus (3%), fistula (5%), dan striktur uretra (2%) .

Prosedur Koff
Mobilisasi komplit uretra (prosedur Koff), adalah teknik lain untuk
mereposisikan meatus uretra ke tempat yang seharusnya walaupun dikira sangat
ekstensif oleh beberapa ahli. Pada teknik ini, seluruh uretra dipisahkan dari aspek
anterior korpus kavernosa dan dipindahkan dari dorsal ke depan/ventral supaya
meatus berada di ujung glans. Panjang uretra dari 5 hingga 15mm bisa didapatkan
dengan menggunakan teknik ini. Panjang tersebut bisa lebih sekiranya uretra
dibebaskan lebih proksimal dengan menggunakan prosedur Turner-Warwick

16
walaupun jarang sekali diperlukan untuk hipospadia tipe glanular. Prosedur Koff
bisa menimbulkan komplikasi fistula yang sangat jarang terjadi, namun terjadinya
stenosis meatus bisa mencapai 20% kasus, diduga karena terjadi distal iskemi.
Ketiga-tiga prosedur ini menarik karena tidak menggunakan jaringan non-uretra
untuk merekonstruksi uretra.

Prosedur Mathieu
Pada prosedur ini, dilakukan dua insisi secara paralel pada kedua sisi
urethral plate, hingga ke ujung glans dan mendalam ke korpus kavernosa. Garis
insisi membatasi a perimeatal skin flap yang dilipat dan dijahit ke pinggir urethral
plate. Selanjutnya, sisi lateral glans didiseksi dari korpus kavernosa. Angka
terjadinya komplikasi dengan prosedur ini adalah jarang dengan masing-masing
striktura distal (1%), fistula (4%), retraksi meatus (0.5%) dan fistula
uretrokutaneus (1%). Dikwatirkan adalah terjadinya half-moon-shaped dari
meatus, namun diseksi ekstensif pada dua sayap glans akan menghasilkan
granuloplasti yang baik. Jadi, secara keseluruhan, hasilnya masih memuaskan.

17
Gambar 1.4 Prosedur Asopa-Duckett A: Garis insisi. B dan C: Diseksi mukoa
preputium berbentuk empat segi dengan bagian pedikel (kaki). D: Flap
ditubularisasi melingkari kateter ukuran 8F (2.64-mm) sampai 10F (3.30-mm) dan
anastomosis secara sirkular dengan uretra natif dibentuk pada bagian proksimal. E
dan F: Pedikel (kaki) menutup garis suture. Glansplasti, sirkumsisi, dan
penutupan oleh kulit dilakukan.

18
Gambar 1.5 Prosedur Koyanagi A dan B: Garis insisi. C: Mukosa preputium di
insisi pada posisi jam 12 supaya membentuk flap huruf ‘Y’. D: Sisi medial dari
dua flaps preputium disambung dan dijahit membentuk dinding belakang dari
neouretra. E: Neourethral plate di tubularisasi menutup kateter ukuran 8F (2.64-
mm) sampai 10F (3.30-mm). F: Firlit collar, glansplasti, sirkumsisi dan
penutupan dengan kulit dilakukan.

19
Gambar 1.6 Mucosal (Firlit) collar mengelilingi glans.

Meatal Advancement and Glanuloplasty Incorporated


Prosedur MAGPI lebih kearah membentuk kembali (reshaping) glans dan
dalam hal ini meatus uretra sudah dipindahkan ke ujung penis. Teknik MAGPI ini
dapat digunakan untuk pasien dengan hipospadia glanular distal. Setelah penis
terlihat lurus pada tes ereksi artifisial, insisi sirkumsis dilakukan. Skin
hook diletakkan pada tepi ujung dari saluran uretra glanular lalu kemudian ditarik
ke arah lateral. Gerakan ini dapat meningkatkan transverse band dari mukosa
yang nantinya akan diinsisi longitudinal pada garis tengah. Insisi pada dinding
dorsal glanular uretra ini nantinya akan ditutup dengna jahitan transversal
dengan chromic catgut 6-0. Skin hook ditempatkan pada tepi kulit dari korona
pada garis tengah ventral. Dengan traksi distal, ujung glans ditarik ke depan dan
dijahitkan pada garis tengah dengan jahitan subkutikuler. Epitel glans ditutup
dengan jahitan interrupted . Kelebihan kulit dari prepusium dorsal dapat
dijahitkan untuk penutupan kulit.

20
Prosedur Multistage

Prosedur Multistage dilakukan apabila ada indikasi yaitu hipospadia


posterior yang parah dimana urethral plate tidak dapat dipertahankan.Beberapa
ahli bedah plastic seperti Bracka melaporkan hasil yang baik dari segi kosmetik
sekiranya menggunakan prosedur twostages yang di ilhami oeh teknik Clouteir.
Hal yang dikwatirkan dalam penggunaan prosedur two-stages ini adalah
pemakaian kulit untuk memperbaiki uretra. Pada dekad terakhir abad ke 20, kulit
dikatakan sebagai jaringan yang kurang baik untuk menggantikan uretra karena
angka terjadinya striktur utera sangat tinggi akibat pemakaian tersebut. Hal ini
menjadi alasan mengapa prosedur twostages yang menggunakan mukosa buccal
memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik. Dikenal tiga tahapan atau
teknik dalam prosedur multistage yaitu prosedur Byas, Modifikasi kecil dan
Teknik Belt-Fuqua.

Prosedur Byas

Pada tahap pertama dilakukan chordectomi dan defek pada kulit ventral
ditutup dengan menyambungkan kedua belah preputium. Tahap kedua
(uretroplasti) idealnya dilakukan setelah 6 bulan atau lebih. Pembuatan neouretra
harus disesuaikan dengan ukuran uretra yang sudah ada.

Modifikasi kecil

Jika tidak tersedia kulit yang cukup untuk uretroplasti, penis dapat
ditanamkan pada skrotum. Setelah 4 bulan penis kemudian dibebaskan dari
skrotum, dimana sebagian dari kulit skrotum telah menutupi bagian ventral penis.

Teknik Belt-Fuqua

Setelah melepaskan chordee dengan insisi buttonhole, preputium


selanjutnya di putar ke ventral dengan ujung glans melewati
insisi buttonhole yang telah dibuat, lalu di jahit dengan baik sehingga tersisa
sebagian besar kulit pada distal meatus. Enam bulan kemudian, uretra dibentuk

21
dengan menggunakan kulit preputim yang tersisa, kemudian dibuat
saluran/terowongan ke dalam glans.

KOMPLIKASI

Komplikasi awal yang bisa terjadi adalah :

1) Perdarahan : Perdarahan postoperasi jarang terjadi dan biasanya dapat


dikontrol dengan balut tekan. Tidak jarang hal ini membutuhkan eksplorasi
ulang untuk mengeluarkan hematoma dan untuk mengidentifikasi dan
mengatasi sumber perdarahan.
2) Infeksi : Infeksi merupakan komplikasi yang cukup jarang dari
hipospadia. Dengan persiapan kulit dan pemberian antibiotika perioperatif
hal ini dapat dicegah.

3) Edema : Edema lokal dan bintik-bintik perdarahan dapat terjadi segera


setelah operasi dan biasanya tidak menimbulkan masalah yang berarti.

4) Jahitan yang terlepas

5) Nekrosis flap

Komplikasi lanjut yang bisa terjadi adalah :

1) Ketidakpuasan kosmetis : Komplikasi ini biasa terjadi hasil dari


penjahitan yang irregular, gumpalan kulit (skin blobs), atau kulit bagian
ventral yang berlebihan. Jika aspek ventral glans pendek dan tidak ada
mucosal collar disekeliling glans, hasilnya adalah mengecewakan. Namun
yang harus diingat sering pasien dan ahli bedah masing-masing
mempunyai tanggapan yang beda tentang kosmetis.

2) Stenosis atau menyempitnya meatus uretra karena edema atau hipertropi


scar pada tempat anastomosis. Adanya aliran air seni yang mengecil dapat
menimbulkan kewaspadaan atas adanya stenosis meatus. Stenosis meatal
lazimnya mudah untuk ditangani dengan melakukan operasi meatal

22
revision. Namun, stenosis di proximal adalah paling parah dan cuma bisa
diperbaiki dengan dilatasi uretra, yang mana tidak memungkinkan untuk
dilakukan pada anak.

3) Fistula uretrokutan : Fistula uretrokutan merupakan masalah utama yang


sering muncul pada operasi hpospadia. Fistula jarang menutup spontan dan
dapat diperbaiki dengan penutupan berlapis dari flap kulit lokal. Fistula
yang kecil dan tidak berhubungan dengan striktur uretra bisa sembuh
secara spontan. Lokasi terjadinya fistula sering di proksimal corona pada
sisi lateral. Jika fistula masih bertahan lebih dari 6 bulan setelah prosedur
inisial, salurnya harus di eksisi, di jahit, dan ditutup dengan beberapa lapis
jaringan. Kombinasi diantara fistula dan stenosis uretra adalah biasa, justru
itu uretroplasti perlu diperiksa secara berterusan sebelum fistula ditutup.
Fistula yang letaknya di belakang corona tidak mudah untuk di tutup dan
sering mengalami rekurensi jika eksisi dan penutupan dengan teknik
sederhana dilakukan. Jadi, direkomendasikan untuk dilakukan uretroplasti
distal sekali lagi dengan teknik Mathieu flap.

4) Striktur uretra : Komplikasi ini sudah jarang terjadi saat ini, karena ahli
bedah telah mengambil langkah awal dengan tidak melakukan anastomosis
sirkular dan memilih prosedur uretroplasti secara onlay. Gangguan aliran
urin yang terus-terusan bisa menyebabkan kerusakan saluran urin dan
vesika urinaria karena harus memberikan tekanan yang kuat untuk
mengeluarkan urin. Keadaan ini dapat diatasi dengan pembedahan, dan
dapat membutuhkan insisi, eksisi atau reanastomosis.
5) Divertikula : Divertikula uretra dapat juga terbentuk ditandai dengan
adanya pengembangan uretra saat berkemih. Striktur pada distal dapat
mengakibatkan obstruksi aliran dan berakhir pada divertikula uretra.
Divertikula dapat terbentuk walaupun tidak terdapat obstruksi pada bagian
distal. Hal ini dapat terjadi berhubungan dengan adanya graft atau flap
pada operasi hipospadia, yang disangga dari otot maupun subkutan dari
jaringan uretra asal.

23
6) Adanya rambut dalam uretra : Kulit yang mengandung folikel rambut
dihindari digunakan dalam rekonstruksi hipospadia. Bila kulit ini
berhubungan dngan uretra, hal ini dapat menimbulkan masalah berupa
infeksi saluran kemih dan pembentukan batu saat pubertas. Biasanya untuk
mengatasinya digunakan laser atau kauter, bahkan bila cukup banyak
dilakukan eksisi pada kulit yang mengandung folikel rambut lalu
kemudian diulang perbaikan hipospadia.
7) Ektropion mukosa : Komplikasi ini sudah jarang terjadi dengan
penggunaan teknik uretroplasti onlay. Jika terjadi, sering berbarengan
pseudopolips dan memerlukan untuk di reseksi. Rekurensi sering, yaitu
sebagai stenosis meatal sekunder.
8) Balanitis xerotica obliterans (BXO) : Komplikasi yang juga jarang terjadi,
dikaitkan dengan inflamasi kronik dan fibrosis dari meatus dan glans.
Meatoplasti atau uretroplasti ulang menggunakan mukosa buccal harus
dipertimbangkan jika aplikasi steroid topical gagal.
9) Uretrocele : Komplikasi ini dikaitkan dengan perbedaan compliance uretra
diantara uretra natif dan uretra yang direkonstruksi. Justru itu, penting
untuk menopang uretra dengan beberapa lapisan jaringan yang
bervaskularisasi, untuk mengurangkan perbedaan dari elastisitas jaringan.
Penting juga untuk memeriksa uretrocele tidak berhubungan dengan
stenosis uretra. Komplikasi ini biasa terjadi pada uretroplasti dengan
menggunakan mukosa kandung kemih. Dalam hal ini, eksisi jaringan
uretra yang berlebihan dan tatalaksana stenosis distal adalah diperlukan.
10) Meatal Regression or Glanular Dehiscence
11) Chordee persisten
12) Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama.

PROGNOSIS

Secara umum hasil fungsional dari one-stage procedure lebih baik


dibandingkan dengan multi-stage procedures karena insidens terjadinya fistula

24
atau stenosis lebih sedikit, dan lamanya perawatan di rumah sakit lebih singkat,
dan prognosisnya baik.

BAB III

KESIMPULAN

Hipospadia merupakan suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra


eksternus (lubang kencing) terletak di bagian bawah dari penis dan letaknya lebih
kearah pangkal penis dibandingkan normal. Hipospadia biasanya disertai bentuk
abnormal penis yang disebabkan adanya chordee dan adanya kulit di bagian
punggung penis yang relatif berlebih dan bagian bawah yang kurang. Operasi
hipospadia sampai saat ini sangat menantang, dengan tingkat komplikasi yang
signifikan walaupun telah diusahakan operasi seefektif mungkin. Perawatan
selama preoperatif dan perioperatif sangat mempengaruhi kesembuhan. Pada abad
ini, tantangan utama yang dihadapi oleh ahli bedah adalah menemukan jaringan
yang adekuat untuk menggantikan uretra yang hilang/tidak cukup (missing
urethra). Hal ini karena kepuasan maksimal belum tercapai dengan penggunaan
jaringan kulit, mukosa buccal atau mukosa kandung kemih sebagai pengganti.
Kultur sel-sel urotelial mungkin bisa dipertimbangkan mengingat ianya bahan
yang mudah untuk ditangani untuk uretroplasti.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Pierre D.E. Mouriquand, Delphine Demède, Daniela Gorduza, Pierre-Yves.


Saunders Pediatric Urology 2nd ed. Hypospadias. Philadelphia : Elsevier
Inc; 2010. p. 526-543.
2. Jack W.McAninch. Smith’s General Urology 17th ed. Disorders of the Penis
& Male Urethra. California : The McGraw-Hill Companies; 2008. p. 629-
631.
3. Wim De Jong, R. Sjamsuhidajat, Buku Ajar Ilmu Bedah 3 rd ; 2002 p. 862-
863.
4. Laurence S. Baskin. Cambridge Pediatric Surgery & Urology 2nd ed.
Hypospadias . New York : Cambridge University Press; 2006. p. 611-618.
5. Sowande, Olajide, Salako. Experience with transverse preputial island flap
for repair of hypospadias in Ile-Ife, Nigeria. African Journal of Paediatric
Surgery. 2009;6(1):40-43.
6. Antonio Macedo Jr, Riberto Liguori, Sergio L. Ottoni. Long-term results
with a one-stage complex primary hypospadias repair strategy (the three-in-
one technique). Journal of Pediatric Urology. 2011;7:299-304.
7. Miroslav L. Djordjevic, Sava V. Perovic, Zoran Slavkovic, Nenad Djakovic.
Longitudinal Dorsal Dartos Flap for Prevention of Fistula after a Snodgrass
Hypospadias Procedure. European Association of Urology. 2006;50:53-57.
8. Amilal Bhat. General considerations in hypospadias surgery. Indian Journal
of Urology. 2008;24(2):188-194

26
27