Anda di halaman 1dari 14

Pendahuluan

Hukum kesehatan adalah semua ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan perundang-


undangan di bidang kesehatan yang mengatur hak dan kewajiban individu, kelompok atau
masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan pada satu pihak, hak dan kewajiban tenaga
kesehatan dan sarana kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan di pihak lain yang
mengikat masing-masing pihak dalam sebuah perjanjian terapeutik dan ketentuan-ketentuan atau
peraturan-peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan lainnya yang berlaku secara lokal,
regional, nasional dan internasional.

Penyakit menular merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus,
bakteri, parasit, atau jamur, dan dapat berpindah ke orang lain yang sehat. Beberapa penyakit
menular yang umum di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian vaksinasi serta pola hidup bersih
dan sehat.

Penyakit menular dapat ditularkan secara langsung maupun tidak langsung. Penularan secara
langsung terjadi ketika kuman pada orang yang sakit berpindah melalui kontak fisik, misalnya lewat
sentuhan dan ciuman, melalui udara saat bersin dan batuk, atau melalui kontak dengan cairan tubuh
seperti urine dan darah. Orang yang menularkannya bisa saja tidak memperlihatkan gejala dan tidak
tampak seperti orang sakit, apabila dia hanya sebagai pembawa (carrier) penyakit.

Pengertian

Pengertian Penyakit Menular dan Wabah Penyakit Menular

Dalam medis, penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh
sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik.

Penyakit Menular adalah gangguan terhadap kesehatan yang dapat menyerang seluruh makhluk
hidup, termasuk manusia. Penyakit menular yang juga dikenal sebagai penyakit infeksi dalam istilah
medis adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria
atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau kimia
(seperti keracunan) yang mana bisa ditularkan atau menular kepada orang lain melalui media
tertentu seperti udara (TBC, Infulenza dll), tempat makan dan minum yang kurang bersih
pencuciannya (Hepatitis, Typhoid/Types dll), Jarum suntik dan transfusi darah (HIV Aids, Hepatitis
dll).

UU. No. 4, 1984, Bab I, Pasal 1 :

Wabah Penyakit Menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat
yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada
waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

a. Penyakit Menular :

Adalah penyakit yang disebabkan oleh agen infeksi atau toksisnya yang berasal dari sumber
penularan atau reservoir, yang ditransmisikan kepa host yang rentan

b. Kejadian Luar Biasa


Kejadian kesakitan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin menimbulkan
kehebohan atau ketakutan di masyarakat atau menurut pengamatan penyakit dianggap adanya
peningkatan yang bermakna dari kejadian kesakitan atau kematian tersebut pada kelompok
penduduk pada kurun waktu tertentu :

Kriteria KLB :
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal disuatu
daerah,menjadi ada
2. Adanya peningkatan kejadian kesakitan/kematian dua kali lipat atau lebih dibandingkan kejadian
sebelumnya.
3. Adanya peningkatan kesakitan secara terus menerus selama 3 kurun waktu ( jam,hari,minggu )

c. Wabah Penyakit Menular


Kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya
meningkat secara nyata melebihi kedaan yang lazim pada waktu da daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetak ( UU. Wabah1984 )
d. Penanggulangan KLB :
pendataan sdà1. Pengamatan penyakit tindak lanjut ( penyuluhan, logistik )
2. Pengobatan Posko,obat-obatan,à tenaga dan sarana
3. Pemutusan rantai penularan : Abatisasi, kaporisasi

e. Program Pencegahan Penyakit :


Program ini mencegah agar penyakit menular tidak terjadi penyebaran di masyarakat yang dilakukan
antara lain dengan memberikan kekbalan pad host melalui kegiatan penyuluhan kesehatan dan
immunisasi

f. Cara Penularan Penyakit :

1. Penularan secara kontak

Penularan penyakit secara kontak langsung adalah melaui hubungan seks (HIV/AIDS, infeksi menular
seksual (IMS), hepatitis B, kontak kulit (kusta), atau varisela.

2. Penularan melalui benda

Misalnya, Penularan melalui pemakaian jarum suntik atau semprit secara bergantian: Menggunakan
kembali atau memakai jarum atau semprit secara bergantian merupakan cara penularan HIV yang
sangat efisien. Risiko penularan dapat diturunkan secara berarti di kalangan pengguna narkoba
suntikan dengan penggunaan jarum dan semprit baru yang sekali pakai, atau dengan melakukan
sterilisasi jarum yang tepat sebelum digunakan kembali.

Selain itu, pada penularan hepatitis c bias melalui benda – benda pribadi yang dipergunakan secara
bersamaan misalnya, gunting kuku, silet cukur, sikat gigi, dan benda –benda lain yang sejenis.

3. Penularan melalui vector.

Vector penularan penyakit yang tersering adalah nyamuk (nyamuk Aedes menularkan DBD dan
chikungunya, nyamuk Anopheles menularkan penyakit malaria), pinjal untuk penyakit pes, dan
anjing, kucing atau kera untuk penyakit rabies.
g. Surveilans Epdemiologi :
Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi melalui pengamatan terhadap
kesakitan atau kematian dan penyebarannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya secara
sistematik, terus menerus dengan perencanaan suatu program, mengevaliasi hasil program dan SKD

III Pelaporan Penyakit Menular :


1. Laporan 24 jam
2. Laporan mingguan
3. Laporan Bulanan

IV Penyakjit Menular Potensial mewabah :


1. Diare
2. Demam berdarah
3. Malaria
4. TBC
5. Campak
6. Hepatitis

B. Aspek hukum penyakit menular

Ada dua hal yang perlu disampaikan tentang aspek hukum penyakit menular yaitu :

1. Yang termasuk Undang-undang Wabah penyakit menular.

2. Yang termasuk dalam penyakit hubungan seksual (PHS)/Sexually Trans mullted Diseases (STD).

Yang pertama lebih banyak berkaitan dengan masalah epidemiologi dan sudah ada beberapa
ketentuan undang- undang yang mengaturnya, sementara yang kedua, hanya dibatasi mengenai
penyakit hubungan seksuil karena penyakit ini yang banyak mengandung permasalahan hukum bila
para dokter dan kalangan kesehatan tidak berhati-hati menghadapinya.

Permasalahan yang timbul seputar PHS ini (termasuk penyakit AIDS) misalnya bagaimana sikap
dokter menghadapi salah seorang pasangan suami isteri (pasutri) atau pasangan tetapnya yang
menderita penyakit kelamin, pembantu rumah tangga/pengasuh anak (baby- sitter) yang menderita
PHS atau menerima dan mengobati pasien penderita HIV positif atau AIDS.

C. Undang-undang Wabah Penyakit Menular

Dahulu kita mengenal adanya undang-undang wabah dan penyakit karantina yang telah ada sejak
lama, bahkan sejak zaman kolonial Belanda. Sesudah kemerdekaan ketentuan perundang-undangan
tentang wabah diatur dalam undang-undang no.6 tahun 1962 tentang wabah dan undang no.7
tahun 1968 tentang perubahan pasal 3 undang-undang no.6 tahun 1962 tentang
wabah. Kedua undang-undang diatas perlu untuk menangkal mewabahnya beberapa
penyakit tertentu yang ada pada permulaan dan pertengahan abad ke-20 sering sekali terjadi, yaitu
wabah penyakit yang bersifat epidemi bahkan pandemi.

Apa yang dimaksud dengan epidemi, endemi, dan pendemi? Dalam hal ini akan dijelaskan satu
persatu tentang epidemi, endemi, dan pendemi sebagai berikut :

1. Epidemi

Wabah atau epidemi adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada
daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit yang menyebar
tersebut. Epidemi dipelajari dalam epidemiologi. Dalam epidemiologi, epidemi berasal dari bahasa
Yunani yaitu “epi” berarti pada dan “demos” berarti rakyat. Dengan kata lain, epidemi adalah wabah
yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga. Jumlah kasus baru penyakit di dalam suatu
populasi dalam periode waktu tertentu disebut incide rate (laju timbulnya penyakit).

Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia, pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan
epidemi, yaitu “kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Misalnya Epidemi pada musim hujan, ada beragam penyakit yang sering menyerang masyarakat. Bila
diidentifikasi, setidaknya ada empat macam penyakit yang penularannya berlangsung pada musim
hujan, seperti penyakit DBD (demam berdarah dengue), demam tifoid (penyakit tivus), penyakit
leptospirosis, dan flu burung. Penyakit DBD disebabkan oleh nyamuk aides aegypti, sedang demam
tifoid ditularkan melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi bakteri. Adapun
penyakit leptospirosis disebabkan disebabkan oleh bakteri Leptospira, sementara penyakit flu
burung (Avian Influenza) disebabkan oleh virus influenza yang menular melalui ternak maupun
manusia (zoonosis).

2. Endemi

Endemi adalah penyakit yang umum terjadi pada laju konstan namun cukup tinggi pada suatu
populasi. Berasal dari bahasa Yunani “en” yang artinya di dalam dan “demos” yang artinya rakyat.
Terjadi pada suatu populasi dan hanya berlangsung di dalam populasi tersebut tanpa adanya
pengaruh dari luar.

Contoh penyakit endemik adalah malaria di sebagian Afrika (misalnya, Liberia). Di tempat seperti itu,
sebagian besar populasinya diduga terjangkit malaria pada suatu waktu dalam masa hidupnya.

3. Pandemi

Pandemi atau epidemi global atau wabah global adalah kondisi dimana terjangkitnya penyakit
menular pada banyak orang dalam daerah geografi yang luas. Berasal dari bahasa Yunani “pan” yang
artinya semua dan “demos” yang artinya rakyat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), suatu pandemi dikatakan terjadi bila ketiga syarat
berikut telah terpenuhi :

• Timbulnya penyakit bersangkutan merupakan suatu hal baru pada populasi bersangkutan,

• Agen penyebab penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius,

• Agen penyebab penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada manusia.
Suatu penyakit atau keadaan tidak dapat dikatakan sebagai pandemic hanya karena menewaskan
banyak orang. Sebagai contoh, kelas penyakit yang dikenal sebagai kanker menimbulkan angka
kematian yang tinggi namun tidak digolongkan sebagai pandemi karena tidak ditularkan.Karena
perkembangan teknologi , ilmu pengetahuan dan lalulintas internasional, serta perubahan
lingkungan hidup dan lain-lain, undang-undang diatas ternyata kurang mampu memenuhi
kebutuhan upaya penaggulangan wabah dewasa ini dan perkembagannya dimasa mendatang.

Contoh wabah yang cukup dikenal termasuk wabah pes yang terjadi di Eropa pada zaman
pertengahan yang dikenal sebagai the Black Death ("kematian hitam"), pandemi influensa
besar yang terjadi pada akhir Perang Dunia I, dan epidemi AIDS dewasa ini, yang oleh sekalangan
pihak juga dianggap sebagai pandemi.

D. Penyakit Hubungan Seksuil

Pengertian

Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke
orang yang lain melalui kontak seksual. Menurut the Centers for Disease Control (CDC) terdapat
lebih dari 15 juta kasus PMS dilaporkan per tahun. Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24
tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus
baru tiap tahun adalah dari kelompok ini.

Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah
menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan
kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat
disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya
bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore
seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian. Beberapa PMS dapat berlanjut pada
berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi
kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting
untuk dilakukan.

Penting untuk diperhatikan bahwa kontak seksual tidak hanya hubungan seksual melalui alat
kelamin. Kontak seksual juga meliputi ciuman, kontak oral-genital, dan pemakaian “mainan
seksual”, seperti vibrator. Sebetulnya, tidak ada kontak seksual yang dapat benar-benar disebut
sebagai “seks aman” . Satu-satunya yang betul-betul “seks aman” adalah abstinensia. Hubungan
seks dalam konteks hubungan monogamy di mana kedua individu bebas dari IMS juga dianggap
“aman”. Kebanyakan orang menganggap berciuman sebagai aktifitas yang aman. Sayangnya, sifilis,
herpes dan penyakit-penyakit lain dapat menular lewat aktifitas yang nampaknya tidak berbahaya
ini. Semua bentuk lain kontak seksual juga berisiko. Kondom umumnya dianggap merupakan
perlindungan terhadap IMS. Kondom sangat berguna dalam mencegah beberapa penyakit seperti
HIV dan gonore. Namun kondom kurang efektif dalam mencegah herpes, trikomoniasis dan
klamidia. Kondom memberi proteksi kecil terhadap penularan HPV, yang merupakan penyebab kutil
kelamin.

Istilah PHS yang kita kenal sekarang ini sebenarnya relatif masih baru, juga bagi kalangan medis di
Indonesia. Sebab yang umum kita kenal, juga bagi kalangan sebelumnya adalah “Penyakit Kelamin”
atau yang dalam istilah medis disebut Venereal Diseases (VD) yang lebih diartikan sebagai bagian
dari penyakit kulit. Kemajuan dunia kedokteran kemudian bisa membuktikan bahwa ternyata
penyakit yang bisa ditimbulkan dari hubungan seksual terutama yang menyimpang, apalagi
hubungan seksual bukan dengan istri sendiri sehngga lahirlah istilah Sexually Transmitted Disease
(STD) yang kemudian di Indonesia akan menjadi “Penyakit Hubungan Seksual”.

Cara Penularan

Secara umum, PHS memang bisa ditularkan lewat hubungan seksual. Akan tetapi, karena hubungan
seksual ternyata banyak ragamnya dan setiap cara juga bisa saja mengundang resiko penyakit yang
tersendiri, maka para medis menguraikan sebab-sebab atau cara-cara yang sering mengakibatkan
penularan PHS.

1. Heteroseksual

: hubungan seksual antara pria dan wanita (suami-istri)

2. Homoseksual : hubungan seksual antara pria dengan pria

3. Lesbian : hubungan seksual antara wanita dengan wanita

4. Biseksual : hubungan seksual antara sesama jenis dan juga dengan lain jenis

(baik pria dengan pria, pria dengan wanita atau wanita dengan wanita)
Organ yang digunakan :

1.Gento-genital (vagina sex) : antara organ genital (alat kelamin)

2. Oro-genital (oral sex): antar-organ genital dengan mulut

3. Ano-genital sodomi : antar-organ genital dengan anus

Cara-cara kontak atau hubungan seksual tersebut menetukan masuknya kuman ke dalam tubuh dan
juga menentukan kelainan awal pada organ yang sakit, shingga memudahkan di dalam menentukan
diagnosis.

Isitilah lain dalam penyakit hubungan seksual :

a. Promiskuitas adalah sebutan untuk seorang yang melakukan hubungan seksual

dengan banyak paliter.

b. Prostitusi adalah suatu kegiatan seksual dengan banyak padangan tanpa seleksi dan menerima
bayaran, yang di dalam bahasa Indonesia disebut Pekerja Sek Komersil (PSK)

Pada masa kini pasien yang menderita penyakit kelamin makin sering dihadapi dokter. Bahkan
banyak pula yang masih di bawah umur. Bagi dokter, menghadapi pasien penderita PHS dari aspek
kesehatan tidak akan banyak masalah karena banyak pilihan pengobatan dapat diberikan. Namun
sebagai dokter yang diajarkan untuk bertindak holistik, masalahnya menjadi tidak sederhana apabila
yang dihadapi adalah salah satu pasutri, pasangan tetap/pacar.apalagi untuk pasien yang menderita
HIV positif atau AIDS masalahnya akan menjadi lebih rumit, karena menyangkut masyarakat luas.

Berbeda dengan PHS seperti gonorea, sifilis atau herpes genitalis yang penularannya terutama
karena hubungan seksuil, penularan penyakit AIDS bisa pula karena transfusi darah, melalui jarum
suntik yang terkontaminasi oleh virus dan melalui placenta. Penyebaran penyakit HIV/AIDS lebih
berbahaya karena tidak saja menggangu kesehatan, tetapi mengundang kematian.

Oleh karena itu dalam menghadapi penderita PHS dan atau HIV/AIDS, para dokter dan kalangan
kesehatan lainya selain memahami aspek medis juga harus memahami aspek hukum yang terkait
dengan penyakit ini, karena perbedaan demikian, pembahasan aspek hukum PHS dan penderita
dengan HIV/AIDS dipisahkan, dalam arti apabila yang dibicarakan tentang aspek hukum PHS, maka
didalamnya sudah termasuk masalah penyakit AIDS. Pembahasan tentang aspek hukum Penyakit
AIDS lainnya dibahas tersendiri lebih jauh.

E. Aspek Hukum PHS

Pada masa kini PHS ini yang lebih sering dihadapi para dokter, terutama penyakit genorea, sifilis dan
herpes genitalis. Bila pasien belum terikat dalam perkawinan, dalam pengobatan tentu diharapkan
pasien tidak memindahkan penyakit ini pada orang lain, begitu pula bila kita mengetahui profesi
pasien wanita tuna susilia.

Sikap para dokter tentu akan berbeda bila yang dihadapi salah satu dari pasutri yang menderita PHS.
Persoalannya menjadi mudah bila pasangannya telah mengetahui pasien penderita PHS. Bila belum
mengetahui, maka harapan dokter pada pasien adalah agar ia tidak memindahkan penyakit pada
pasangannya, sementara penyakitnya diobati. Masalah baru muncul bila pasangannya ingin
mengetahui penyakit pasien dari dokter. Dan bolehkah dokter menyampaikan penyakit salah
seorang pasutri kepada lainnya..?

Berbicara terbuka dihadapan kedua pasutri tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah pasien setuju
kalau penyakitnya boleh diketahui oleh pasangannya, bisa membawa persoalan tentang wajib
simpan rahasia kedokteran, rahasia jabatan dan pekerjaan yang menjurus kepada mallpraktek.
Untuk itu para dokter perly berhati-hati menghadapi situasi demikian.

Bila dokter menduga pasangannya telah telah tertular tanpa disadarinya, maka sebaiknya dokter
mengobati tanpa harus menyatakan ia telah tertular, kecuali terpaksa bila pasien mau tahu tentang
penyakitnya.

Membuka rahasia pasien kepada orang lain, biarpun dalam ikatan suami isteri harus dihindari
dokter.

Saknsi hukum terhadap pelanggaran ini terdapat pada KUHP pasal 332,KUH perdata 1366 dan sanksi
administratif seperti dijelaskan dalam UU keshatan pasal 23 tahun 1992 ayat 1:

“ Terhadap tenaga kesahatan yang melekukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan
profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin .”

Selain sanksi hukum atau sanksi adminstratif yang bisa menyebabkan dicabutnya izin menjalankan
praktek, masyarakatpun dapat menjatuhi hukuman dengan menjahui dokter yang tidak hati-hati
dalam menjaga rahasia pasien.

F. Orang dengan HIV/AIDS(ODHA)


Penyakit ini diramalkan akan makin sering dihadapi karena belum ada obat penangkalnya,
sementara penyebarannya tidak dapat dibendung.

Menteri kesehatan mengatakan dari jumlah 560 orangpenderita AIDS diindonesia pada tahun 1997,
pada tahun 2000 akan mencapai 1000.000 orang, pada waktu yang sama didunia mencapai 30-40.

Untuk menghambat laju penyebaran dan peningkatan ODHA, berbagai usaha perlu ditempuh.
Namun karena belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini dan belum pula
didapati vaksin yang efektif,

Maka untuk sementara upaya pencegahan menjadi tumpuan salah satu usaha ini adalah melalui
pelaporan kasus HIV/AIDS.

Banyak kalangan masih binggung menghadapi penyakit yang berkembang sangat cepat ini, misalnya
adalah apakah ODHA boleh diumumkan(dibocorkan),dikucilkan atau dibiarkan bebas dan lain-lain ,
beberapa masalah yang dialami ODHA :

a. Dipecat dari pekerjaan dan jabatan

b. Ditolak masuk sekolah bagi penderita AIDS yang anak-anak

c. Tidak diizinkannya Magic Jhonson pebasket kondang masuk ke beberapa negara

d. Rumah sakit tidak mau merawat

e. Membolehkan tindakan euthanasia bagi penderita AIDS

f. Dll.

Semua kebijaksanaan mengatasi masalah dibidang ini mengundang pro dan kontra pada setiap
langkah yang akan diambil.

Khusus mengenai pelaporan penderita ODHA, kebijakan terakhir (1996) pelaporan penderita
HIV/AIDS dari Departemen Kesehatan c/q Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman (P2M & PLP) adalah identitas penderita harus dirahasiakan, di mana nama
penderita cukup ditulis dengan inisial saja, begitu pula alamat penderita cukup diisi dengan nama
kabupatennya saja tampaknya kebijakan yang ditempuh seperti diatas juga dianut 0leh banyak
negara lain dalam mengahadapi dan menangani penderiat ODHA dimana yang utama adalah
pelayanan kesehatan tanpa penderita mengalami deskriminasi dilingkungan tempat
tinggalnya,tempat kerjanya dan dijaga kerahasiannya penyakitnya kepada orang lain. Dengan
menghindari masalah hukum ini, diharapkan kwalitas hidup orang dengan HIV/AIDS(ODHA) dapat
diperbaiki.

Sementara dilain pihak,masyarakat dilindungi terhadap bahaya penularan,terutama melalui


komunikasi, informasi dan edukasi(KIE) tentang masalah AIDS dan HIV.

DiIndonesia kebijaksanaan ini dapat terlihat dari strategi nasional penanggulangan HIV/AIDS sebagai
berikut :

a. Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi yang baru mengenai HIV/AIDS, baik untuk
melindungi diri sendiri maupun mencegah penularan kepada orang lain.

b. Tetap menghormati harkat dan martabat para penderita HIV/AIDS dan keluarganya.

c. Mencegah perlakuan diskriminatif kepada pengidap HIV/ penderita AIDS dan keluarganya.
UNDANG-UNDANG TENTANG WABAH PENYAKIT MENULAR NO.6 TAHUN 1962

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

a. Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian


berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat
secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka.

b. Sumber penyakit adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang


mengandung dan/atau tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah.

c. Kepala Unit Kesehatan adalah Kepala Perangkat Pelayanan Kesehatan Pemerintah.

d. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan

Pasal 2

Maksud dan tujuan Undang-Undang ini adalah untuk melindungi penduduk dari
malapetaka yang ditimbulkan wabah sedini mungkin, dalam rangka meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk hidup sehat.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 4 TAHUN 1984

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

a. Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian


berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat
secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka.

b. Sumber penyakit adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang


mengandung dan/atau tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah.

c. Kepala Unit Kesehatan adalah Kepala Perangkat Pelayanan Kesehatan Pemerintah.

d. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.

Pasal 2
Maksud dan tujuan Undang-Undang ini adalah untuk melindungi penduduk dari
malapetaka yang ditimbulkan wabah sedini mungkin, dalam rangka meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk hidup sehat.

DASAR HUKUM : UNDANG UNDANG KESEHATAN RI NO:23 TAHUN 1992

Pasal 28

Tentang Pemberantasan penyakit

Ayat 1

Pemberantasan Penyakit diselenggarakana untuk menurunkan angkaq kesakitan dan atau kematian

Ayat 2

Pemeberantasan penyakit dilaksanakan terhadap penyakit menular dan tidak menular

Pemberanatasan penyakit menular yang dapat menimbulkan angka kesakitan dan angka kematian
yang tinggi dilaksanakan sedini mungkin

Pasal 29

Pemberantasan penyakit tidak menular dilaksanakan untuk mencegah dan mengurangi penyakit
dengan perbaikan dan perubahan perilaku masyarakatdan denganb cara lain

Pasal 30
Pemeberantasan penyakit menular dilaksanakan dengan upaya penyuluhan, pe3nyelidikan,
pengebalan,menghilangkan sumber perantara penmyakit, tindakan karantina dan upaya lain yang
diperlukan

Pasal 31
Pemeberanatasan penyakit menular yang dapat menimbuilkan wabah dan penyakit karantina
dilaksanakan seasuai dengan ketentuan undang undang yang berlaku

G. DASAR KEBIJAKAN PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS

Penularan dan penyebaran HIV dan AIDS sangat berhubungan dengan perilaku beresiko, oleh karena
itu penanggulangan harus memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku
tersebut. Bahwa kasus HIV dan AIDS diidap sebagian besar oleh kelompok perilaku resiko tinggi yang
merupakan kelompok yang dimarginalkan, maka program-program pencegahan dan
penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan pertimbangan keagamaan, adat-istiadat dan
normanorma masyarakat yang berlaku disamping pertimbangan kesehatan. Perlu adanya program-
program pencegahan HIV dan AIDS yang efektif dan memiliki jangkauan layanan yang semakin luas
dan program-program pengobatan, perawatan dan dukungan yang komprehensif bagi ODHA
maupun OHIDA untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan latar belakang pemikiran tersebut,
maka kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia disusun sebagai berikut:

· Upaya penanggulangan HIV dan AIDS harus memperhatikan nilai-nilai agama dan
budaya/norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan untuk mempertahankan dan
memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga;

· Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat,pemerintah, dan LSM
berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat dan LSM menjadi pelaku utama sedangkan pemerintah
berkewajiban mengarahkan, membimbing dan menciptakan suasana yang mendukung
terselenggaranya upaya penanggulangan HIV dan AIDS;

· Upaya penanggulangan harus didasari pada pengertian bahwa masalah HIV dan AIDS sudah
menjadi masalah sosial kemasyarakatan serta masalah nasional dan penanggulangannya melalui
“Gerakan Nasional Penanggulangan HIV and AIDS”;

· Upaya penanggulangan HIV and AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku
risiko tinggi tetapi harus pula memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan, termasuk yang
berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marginal terhadap penularan HIV and AIDS;

· Upaya penanggulangan HIV and AIDS harus menghormati harkat dan martabat manusia serta
memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender;

· Upaya pencegahan HIV dan AIDS pada anak sekolah, remaja dan masyarakat umum
diselenggarakan melalui kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi guna mendorong kehidupan
yang lebih sehat;

· Upaya pencegahan yang efektif termasuk penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan
seks berisiko, semata-mata hanya untuk memutus rantai penularan HIV;

· Upaya mengurangi infeksi HIV pada pengguna napza suntik melalui kegiatan pengurangan
dampak buruk (harm reduction) dilaksanakan secara komprehensif dengan juga mengupayakan
penyembuhan dari ketergantungan pada napza.

· Upaya penanggulangan HIV and AIDS merupakan upaya-upaya terpadu dari peningkatan
perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan data dan fakta
ilmiah serta dukungan terhadap ODHA.

· Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV and AIDS harus didahuluidengan penjelasan yang
benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent). Konseling yang memadai
harus diberikan sebelum dan sesudah pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan diberitahukan kepada
yang bersangkutan tetapi wajib dirahasiakan kepada pihak lain.

· Diusahakan agar peraturan perundang-undangan harus mendukung dan selaras dengan


Strategi Nasional Penanggulangan HIV and AIDS disemua tingkat.

· Setiap pemberi pelayanan berkewajiban memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada ODHA
dan OHIDA.

H. AREA PRIORITAS PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS


Menilik bahasan-bahasan pada bab-bab terdahulu maka untuk empat tahunmendatang area
prioritas penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia belum perlu diubah dan perlu dilanjutkan
sebagai pokok-pokok program dengan penajaman. Dengan melaksanakan program – program yang
dikembangkan dari setiap area prioritas secara bersungguh – sungguh, penuh tanggung jawab,
terpadu, harmonis dan berkesinambungan maka walaupun dengan sumberdaya yang terbatas,
tujuan penanggulangan HIV AND AIDS akan dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan
oleh karena akan terdapat kemampuan untuk:

• Mencegah meluasnya penularan HIV dan menjamin akses terhadap berbagai upaya pencegahan,
perawatan dan pengobatan.

• Berkontribusi untuk menyediakan kebutuhan ODHA untuk meringankan penderitaan sekaligus


meningkatkan kwalitas hidup mereka.

• Menjamin capacity building bagi mereka yang terlibat dalam penanggulangan HIV dan AIDS.

• Mengkoordinasikan dan mempertahankan respon

1. AREA PENCEGAHAN HIV DAN AIDS

Penyebaran HIV dipengaruhi oleh perilaku berisiko kelompok-kelompok masyarakat. Pencegahan


dilakukan kepada kelompok-kelompok masyarakat sesuai dengan perilaku kelompok dan potensi
ancaman yang dihadapi. Kegiatankegiatan dari pencegahan dalam bentuk penyuluhan, promosi
hidup sehat, pendidikan sampai kepada cara menggunakan alat pencegahan yang efektif dikemas
sesuai dengan sasaran upaya pencegahan. Dalam mengemas program-program pencegahan
dibedakan kelompok-kelompok sasaran sebagai berikut:

• Kelompok tertular (infected people)

Kelompok tertular adalah mereka yang sudah terinfeksi HIV. Pencegahan ditujukan untuk
menghambat lajunya perkembangan HIV, memelihara produktifitas individu dan meningkatkan
kwalitas hidup.

• Kelompok berisiko tertular atau rawan tertular (high-risk people)

Kelompok berisiko tertular adalah mereka yang berperilaku sedemikian rupa sehingga sangat
berisiko untuk tertular HIV. Dalam kelompok ini termasuk penjaja seks baik perempuan maupun laki-
laki, pelanggan penjaja seks, penyalahguna napza suntik dan pasangannya, waria penjaja seks dan
pelanggannya serta lelaki suka lelaki. Karena kekhususannya, narapidana termasuk dalam kelompok
ini. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan untuk mengubah perilaku berisiko menjadi perilaku
aman.

• Kelompok rentan (vulnerable people)

Kelompok rentan adalah kelompok masyarakat yang karena lingkup pekerjaan, lingkungan,
ketahanan dan atau kesejahteraan keluarga yang rendah dan status kesehatan yang labil, sehingga
rentan terhadap penularan HIV. Termasuk dalam kelompok rentan adalah orang dengan mobilitas
tinggi baik sipil maupun militer, perempuan, remaja, anak jalanan, pengungsi, ibu hamil, penerima
transfusi darah dan petugas pelayanan kesehatan. Pencegahan untuk kelompok ini ditujukan agar
tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko tertular HIV. ( Menghambat menuju kelompok
berisiko)

• Masyarakat Umum (general population)


Masyarakat umum adalah mereka yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok terdahulu.
Pencegahan ditujukan untuk peningkatkan kewaspadaan, kepedulian dan keterlibatan dalam upaya
pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di lingkunagnnya.

2. AREA PERAWATAN, PENGOBATAN DAN DUKUNGAN KEPADA ODHA

Peningkatan jumlah penderita AIDS memerlukan peningkatan jumlah dan mutu layanan perawatan
dan pengobatan. Peningkatan juga dilakukan bagi dukungan maksimal kepada ODHA. Upaya ini
dilakukan melalui pendekatan klinis dan pendekatan berbasis masyarakat dan keluarga. Universal
Access yang bertujuan memberikan kemudahan kepada mereka yang memerlukan untuk akses
kepada layanan perawatan dan pengobatan melandasi program – program pada area ini.

Pemberantasan penyakit HIV-AIDS merupakan serangkaian konsep dan strategi penyelenggaraan


pemerintahan di Kabupaten Enrekang guna mewujudkan masyarakat yang hidup sehat dan
melaksanakan tugas dan fungsi pemerintahan khususnya pemerintah di Kabupaten Enrekang.

Olehnya itu dalam penelitian ini akan diukur atau dioperasionalkan dalam berbagai kosep-konsep
penelitian. Sebagaimana yang telah diuraikan pada rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka
mengoperasionalkan konsep-konsep yang terdapat dalam pelaksanaan penelitian ini. Dalam
pelaksanaan upaya pemberantasan penyakit HIV-AIDS tersebut, dilakukan dengan mengikutsertakan
masyarakat secara aktif. Mengingat frekuensi HIV-AIDS semakin meningkat serta dapat
mengakibatkan perpindahan yang tinggi, maka perlu dilakukan penanggulangan.

Kegiatan penanggulangan AIDS dikomandoi oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang diketuai
oleh Menko Kesra dan di daerah oleh KPA Wakil Bupati. Kegiatannya meliputi pencegahan,
pelayanan, pemantauan, pengedalian dan penyuluhan.

Prinsip-prinsip dasar penanggulangan HIV/AIDS.

1. Upaya penanggulangan HIV/AIDS dilaksanakan bersama oleh masyarakat dan pemerintah.

2. Setiap upaya penanggulangan harus mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di
Indonesia.

3. Setiap kegiatan diarahkan untuk mempertahankan dan memperkukuh ketahanan dan


kesejahteraan keluarga, serta sistem dukungan sosial yang mengakar dalam masyarakat.

4. Pencegahan HIV/AIDS diarahkan pada upaya pendidikan dan penyuluhan untuk memantapkan
perilaku yang baik dan mengubah perilaku yang berisiko tinggi.

5. Setiap orang berhak untuk mendapat informasi yang benar untuk melindungi diri dan orang
lain terhadap infeksi HIV.

6. Setiap kebijakan, program, pelayanan dan kegiatan harus tetap menghormati harkat dan
martabat dari para pengidap HIV/penderita AIDS dan keluarganya.

7. Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV/AIDS harus didahului dengan penjelasan yang
benar dan mendapat persetujuan yang bersangkutan (informed consent), sebelum dan sesudahnya
harus diberikan konseling yang memadai dan hasil pemeriksaan wajib dirahasiakan.

8. Diusahakan agar peraturan perundang-undangan mendukung dan selaras dengan Strategi


Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di semua tingkat.
9. Setiap pemberi pelayanan kepada pengidap HIV/penderita AIDS berkewajiban memberikan
pelayanan tanpa diskriminasi.