Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGARUH PESTISIDA NABATI DARI EKSTRAK UMBI GADUNG


TERHADAP TANAMAN CAISIM

Putri Unggul Utami


1704020058

Program Stugi Agroteknologi


Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Purwokerto

ABSTRAK
Umbi gadung (Dioscorea hispida Dennt) merupakan umbi-umbian yang tumbuh liar di
hutan atau pekarangan dan dengan mudah ditemukan. Pestisida nabati sendiri merupakan
pestisida yang terbuat dari bagian tumbuh-tumbuhan yang bertujuan untuk mengendalikan
OPT. Konsentrasi ekstrak gadung yang dibutuhkan yaitu 20%. Penyemprotan dilakukan
dengan mencampir 20 ml ekstrak gadung dengan 80 ml air yang dimasukan dalam hand
sprayer. Pestisida nabati ini tidak berpengaruh terhadap pengendalian dan pertumbuhan
tanaman caisim. Tinggi tanaman berbeda-beda pada setiap polybag, memiliki daun sekitar
4-6 daun dengan luas daun yang berbeda-beda. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pestisida nabati ekstrak gadung pada pertumbuhan tanaman, mengetahui hama
yang menyerang tanaman, dan mengetahui cara pembuatan ekstrak gadung, serta
mengetahui bobot basah dan bobot kering tanaman. Praktikum penyemaian dilaksanakan
pada hari Rabu, 09 Oktober 2019. Praktikum pengamatan dilakukan pada 16 Oktober
2019 pada pukul 07.30. Bertempat di Kebun Percobaan II, Laboratorium Agroteknologi
Dasar, dan Laboratorium Edukasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Kata kunci: pestisida nabati, umbi gadung, caisim.
PENDAHULUAN bersifat lunak, sedangkan yang
Caisim (Brassica juncea L.) mentah rasanya agak pedas. Pola
merupakan tanaman semusin, pertumbuhan daun mirim tanaman
berbatang pendek hingga hampir kubis, daun yang muncul terlebih
tidak terlihat. Daun caisim berbentuk dahulu menutup daun yang tumbuh
bulat panjang serta berbulu halus dan kemudian hingga membentuk krop
tajam, urat utama lebar dan berwarna bulat panjang yang berwarna putih
putih. Daun caisim ketika masak (Haryanto, 2003).
Adapun klasifikasi tanaman (OPT). Beberapa kelebihan pestisida
caisim adalah sebagai berikut : nabati yaitu, daya kerjanya selektif,
Kingdom : Plantae residu cepat terurai dan tidak beracun,
Sub-kingdom : Tracheobionta tidak menimbulkan pencemaran air,
Super-divisio : Spermatophyta tanah, udara, dan tanaman, serangga-
Diviso : Magnoliophyta serangga berguna/predator tidak ikut
Kelas : Magnoliosida musnah, tidak menimbulkan
Sub-kelas : Dilleniidae kekebalan serangga, murah, dan
Ordo : Capparales mudah didapat (Harjono, 1999).
Familia : Brassicaceae Pestisida nabati tidak hanya
Genus : Brassica mengandung satu jenis bahan aktif
Spesies : Bbrassica juncea L. (singleactive ingredient), tetapi
Salah satu cara yang dapat beberapa jenis bahan aktif (multiple
ditempuh untuk mengendalikan OPT active ingredient). Hasil penelitian
adalah dengan penggunaan pestisida menunjukan bahwa beberapa jenis
nabati yang berasal darit umbuh- pestisida nabati cukup efektif
tumbuhan di lingkungan sekitar. terhadap beberapa hama, baik hama
Pestisida nabati dapat dimanfaatkan di lapangan, rumah tangga (nyamuk
untuk mengendalikan serangan ulat dan lalat), maupun di gudang
pada tanaman maupun gulma. (Kardinan, 1999).
Pestisida nabati merupakan hasil Pestisida nabati memiliki
ekstraksi bagian tertentu dari berbagai fungsi sepert : repelan atau
tumbuhan baik dari daun, buah, biji, penolak serangga misalnya bau
atau akar (Sudarmo, 2005). menyengat yang dihasilkan
Pestisida nabati disebut juga tumbuhan. Antifidan atau
pestisida hayati atau bio-pestisida. penghambat daya makan serangga
Pestisida nabati adalah pestisida yang atau menghambat perkembangan
dibuat dari bagian tanaman dengan hama serangga. Atraktan atau penarik
tujuan untuk mengendalikan kehadiran serangga sehingga dapat
organisme pengganggu tanaman
dijadikan tumbuhan perangkap hama Genus : Dioscorea
(Untung, 1993). Spesies : Dioscorea hispida
Terdapat banyak jenis dennt
tumbuh-tumbuhan yang dapat Gadung merupakan perdu
dimanfaatkan dalam pembuatan memanjat yang tingginya dapat
pestisida nabati, diantaranya yaitu mencapai 5-10 m. Batangnya bulat,
umbi gadung dan buah mengkudu. berbentuk galah, berbulu, berduri
Tanaman mengkudu sangat mudah yang tersebar sepanjang batang dan
ditemukan karena banyak tumbuh tangkai daun. Umbinya bulat diliputi
dipekarangan. Umbi gadung juga rambut akar yang besar dan kaku.
dapat ditemukan di pekarangan dan Kulit umbi berwarna gading atau
mudah dijumpai di pasar dengan coklat muda, daging umbinya
harga yang murah (Heyne, 1987). berwarna putih atau kuning. Umbinya
Menurut Rahayu (2010), muncul dekat permukaan tanah
tanaman umbi gadung (Dioscorea (Rahayu, 2010).
hispida Dennst) tergolong tanaman METODE PRAKTIKUM
umbi-umbian yang cukup populer 1. Waktu dan Tempat
walaupun kurang mendapat Praktikum ini dilaksanakan
perhatian. Gadung menghasilkan pada hari Rabu, 09 Oktober 2019
umbi yang dapat dimakan, namun pukul 07.30 WIB bertempat di
mengandung racun yang dapat Kebun Percobaan II,
mengakibatkan pusing dan muntah Laboratorium Agroteknologi
apabila kurang benar dalam Dasar dan Laboratorium Edukasi
pengolahannya. Umbi gadung dapat Universitas Muhammadiyah
diklasifikasikan sebagai berikut : Purwokerto.
Kingdom : Plantae 2. Alat dan Bahan
Divisi : Magnoliophyta Alat yang digunakan yaitu
Kelas : Liliopsida polybag, penggaris, alat tulis,
Ordo : Dioscoreales cangkul, hand sprayer, oven,
Family : Dioscoreaceae timbangan.
Bahan yang diperlukan yaitu melakukan penyemprotan
ekstrak umbi gadung, air, caisim pestisida secara berkala yaitu
tosakan pit, aquades, pupuk satu minggu sekali. Setelah 4
kandang, tanah. minggu, mencabut tanaman
3. Cara Kerja caisim dan menghitung bobot
a. Penyemaian sampai basah dan bobot kering.
pascapanen b. Perhitungan bobot basah dan
Cara pembuatannya yaitu bobot kering
menyiapkan alat dan bahan. Menimbang tanaman caisim
Memasukkan campuran tanah yang telah dipanen dengan
dengan pupuk kandang ke menggunakan timbangan
dalam polybag. Kemudian analitik. Kemudian
membasahi dengan air, memasukkan tanaman sawi ke
sehingga tanah dalam polybag dalam amplop coklat sesuai
sedikit basah. Memasukkan dengan perlakuan masing-
benih caisim tosakan pit ke masing. Memasukkan amplop
dalam polybag antara 3-5 ke dalam oven dan
benih. menunggu selama menunggunya selama 24 jam.
kurang lebih 1 minggu. Setelah 24 jam, menimbang
Setelah itu, memindahkan bobot kering tanaman caisim
tanaman ke dalam polybag pada masing-masing amplop
yang lebih besar. Satu polybag dan mencatan hasil
terdiri dari 3 tanaman sawi. penimbangan.
Kemudian menyemprotkan HASIL PENGAMATAN
larutan dengan perbandingan TERLAMPIR
20 ml ekstrak umbi gadung :
80 ml air ke permukaan daun PEMBASAHAN
atau ke permukaan tanaman Pestisida nabati merupakan
caisim. Mengamatinya selama jenis pestisida yang dibuat dengan
3 minggu dengan dengan memanfaatkan bahan alam seperti
tanaman yang memiliki bau khas Umbi gadung juga mengandung asam
yang tidak disukai oleh hama. sianida yang juga bersifat racun.
Pestisida nabati akan dirasa lebih Asam sianida merupakan racun bagi
aman digunakan sebagai semua makhluk hidup karena dapat
pengendalian hama karena tidak akan menghambat pernapasan juga dapat
mencemari lingkungan. Dalam mengakibatkan perkembangan sel
praktikum ini digunakan ekstrak umbi yang tidak sempurna.
gadung sebagai pestisida nabati untuk Pada pengaplikasian pestisida
mengendalikan organisme nabati dari ekstrak umbi gadung ini
pengganggu tanaman. dengan cara mencampurkan 20 ml
Tanaman gadung (Discorea ekstrak umbi gadung dengan 80 ml
hispida Dennst) merupakan umbi- air. Kemudian menyemprotkannya
umbian yang mengandung zat gizi pada permukaan daun atau pada
dan senyawa racun berbahaya. Selain bagian tanaman caisim. Sebelum
mengandung zat gizi, umbi gadung tanaman sawi/caisim dipindahkan
juga mengandung alkaloid dioskorin pada polybag yang lebih besar,
dan seringkali bersifat toksik. Umbi sebelumnya melakukan penyemaian
gadung juga mengandung diosgenin dengan menanam 3-5 biji caisim ke
yang termasuk golongan alkaloid, dalam polybag kecil yang berisi tanah
dioskorin bersifat lebih toksik dan campuran pupuk kandang.
dibanding dengan diosgenin, namun Kemudian untuk mekanisme
keduanya sering menyebabkan atau cara kerja pestisida nabati ini,
keracunan apabila gadung mekanismenya yaitu secara langsung
dikonsumsi dengan pengolahan yang menghambat proses reproduksi
kurang sempurna (Lakitan, 1996). serangga hama khususnya serangga
Umbi gadung mentah betina, mengurangi nafsu makan,
mengandung alkaloid yang dapat menyebabkan serangga menolak
digunakan sebagai bahan racun makanan, merusak perkembangan
hewan atau obat luka, sehingga dapat telur, larva dan pupa sehingga
digunakan sebagai pestisida nabati. perkembangbiakan serangga hama
terganggu, serta menghambat dan daun juga banyak yang
pergantian kulit. berlubang.
Berdasarkan cara kerjanya Berikut klasifikasi ulat tritip
(sifatnya), pestisida nabati sebagai (Plutella xylostella) :
kelompok repelan, yaitu menolak Kingdom : Animalia
kehadiran serangga misalnya karena Phylum : Artropoda
bau yang menyengat, kelompok Class : Insecta
antifidan yang dapat mencega Ordo : Lepidoptera
serangga memakan tanaman yang Family : Plutellidae
telah disemprot, menghambat Genus : Plutella
reproduksi serangga betina, sebaai Spesies : Plutella xylostella
racun syaraf dan dapat mengacaukan Dalam hidupnya, ulat tririp
sistem hormon di dalam tubuh emngalami empat staidum
serangga, kelompok atraktan, yakni pertumbuhan atau sering disebut
pestisida nabati yang dapat memikat dengan metamorfosis sempurna yang
kehadiran serangga sehingga dapat terdiri dari stadium telur, larva (ulat),
dijadikan sebagai senyawa perangkap pupa (kepompong), dan imago
serangga dan juga untuk (ngengat).
mengendalikan pertumbuhan Berikut klasifikasi belalang
jamur/bakteri, kelompok pestisida (Oxya chinensis) :
nabati yang menurunkan preferensi Kingdom : Animalia
serangga dalam mengakses sumber Filum : Antropoda
makanan. Class : Insecta
Meskipun sudah dikendalikan Ordo : Orthoptera
dengan pestisida nabati umbi gadung. Family : Acridoidea
Terdapat beberapa hama yang Genus : Oxya
menyerang tanaman caisim, seperti Spesies : Oxya chinensis
ulat tritip (Plutella xylostella), Belalang memiliki antena
belalang, lembing (kepik), kutu putih yang hampir selalu pendek dari
tubuhnya dan memiliki ovipositor
pendek. Suara ditimbulkan beberapa Berikut merupakan klasifikasi
spesies belalang biasanya dihasilkan kutu putih (kutu kebul) :
dengan menggosokkan femur Kingdom : Metazo
belakangnya terhadap sayap depan Phylum : Arthropoda
atau abdomen (stridulasi), atau Class : Insecta
karena kepakan sayapnya sewaktu Ordo : Hemiptera
terbang. Biasanya belalang betina Family : Aleyrodidae
berukuran lebih besar dari belalang Spesies : Bermisa tabaci
jantan. Kutu putih memiliki tiga
Berikut merupakan klasifikasi instar nimfa, yang akan berlangsung
kepik (Nezara viridula) : selama 12-15 hari. Panjang tubuh
Kingdom : Animalia nimfa berkisar 0,3-0,4 mm, berbentuk
Phylum : Arthropoda bulat panjang dengan toran melebar
Class : Insecta dan cembung serta ruang abdomen
Ordo : Hemiptera terlihat jelas. Ketika sudah menjadi
Family : Plataspididae serangga memiliki panjang 1-1,5 mm,
Genus : Nezara bersaya tipis dan tubuh serangga
Spesies : Nezara viridula memiliki warna putih hingga
Ukuran serangga kekuningan. Serangga yang baru
Plataspididae umumnya cukup kecil, menjadi dewasa akan mengembang
dengan panjang 2,5-7 mm dan sering sayapnya selama 8-15 menit dan
ditemukan pada batang, tunas muda kemudian tubuh akan tertutupi tepung
dan bunga pada tanaman. Berbentuk lilin (Suharto,2007).
hampira lingkaran, memiliki sayap Ulat tritip akan menyebabkan
depan lebih panjang dibandingkan daun sawi berlubang, hal ini
dengan tubuhnya dan dapat dilipat dikarenakan sebagian daun akan
secara melintang di bawah skutelum. dimakan oleh ulat tersebut. Daun
Serangga ini mengalami yang sudah terkena hama ulat ini
metamorfosis tidak sempurna, tanpa memiliki lubang yang kecil-kecil.
fase pupa.
Sejak pengamatan yang Terdapat hama kutu pada tanaman
dilakukan dari minggu pertama sawi. Tinggi tanaman sawi yang
sampai ketiga, dilakukan tertinggi yaitu 14 cm dan terendah 9
penyemprotan pada tanaman dengan cm. Jumlah daun yang dimiliki
20ml ekstrak umbi gadung dan 80 ml pertanaman yaitu 4-5 daun dengan
air biasa. Penyemprotan dilakukan rata-rata lebar daun paling luas yaitu
rutin setiap seminggu sekali. Larutan 32,42 cm pada polybag II.
pestisida nabati ini tidak terlalu Kemudian pada minggu
berpengaruh kepada tanaman ketiga, terdapat 11 tanaman yang
sawi/caisim, hal ini karena terdapat masih hidup, dengan tanaman
beberapa hama yang masih ada pada tertinggi yaitu 20 cm dan terendah 12
tanaman dan merusak daun sawi. cm pada polybag 3 tanaman II. Rata-
Berdasarkan analisis ragam rata lebar daun yang paling luas yaitu
tanaman sawi terdiri dari 5 polybag. 59,75. Daun yang dimiliki tanaman
Pada pengamatan minggu pertama, sawi yaitu 5-6 daun pertanaman. Dan
terdapat 2 tanaman yang terkena tetap memastikan tanaman selalu
hama kutu putih dan total tanaman disiram supaya tanaman tidak layu
yang hidup ada 16. Tinggi tanaman dan mati, tanah harus selalu basah
sawi yang tertinggi yaitu pada sehingga tanaman dapat tumbuh.
polybag 2 dengan tinggi 10,2 cm Setelah dilakukan
terdapat pada tanaman 1 dan terendah pengamatan selama 3 minggu,
pada polybag 7 dengan tinggi 4 cm kemudaian pada minggu keempat
pada tanaman II. Jumlah daun yang dilakukan pencabutan tanaman sawi
dimiliki tanaman caisim terdiri dari 3- untuk diukur berat basah dan berat
4 daun pertanaman, dengan rata-rata keringnya. Setelah menimbang berat
lebar daun paling luas yaitu pada basah dengan timbangan analitik,
polybag 3 tanaman II yaitu 25,93 cm. hasil yang didapatkan yaitu pada
Pada pengamatan minggu polybag 1 memiliki berat 8,99 gr,
kedua, terdapat 5 tanaman yang mati polybag 3 yaitu 24,28 gr, kemudian
dan tersisa 11 tanaman yang hidup. pada polybag 4 berat yang dimiliki
yaitu 23,59 gr. Polybag 6 memiliki memblendernya hingga halus
berat tanaman 18,15 gr, polybag 7 sebanyak 125gr dengan tambahan air
dengan berat 7,73 gr dan polybag 9 secukupnya untuk mempermudah
memiliki berat tanaman 27,83 gr, pemblenderan, dan diberi aquades 2,5
serta 8,55 gr pada polybag 10. Setelah liter sebagai pelarut. Ekstrak yang
dilakukan penimbangan berat basah, digunakan yaitu 20 ml dengan
kemudian tanaman dimasukan ke dicampurkan 80 ml air dan
dalam amplop berwarna coklat untuk menyemprotkannya pada permukaan
dilakukan pengeringan dengan oven daun atau tanaman.
selama 24 jam. Setelah 24 jam, Pengamatan dilakukan selama
dilakukan penimbangan berat kering 3 minggu dengan mengukur tinggi
dengan timbangan analitik. Setiap tanaman, jumlah daun, dan luas daun
tanaman dengan berat basah perbolybag. Serta mengamati hama
sebelumnya mengalami penurunan yang terdapat pada tanaman caisim.
berat. Polybag 1 memiliki berat 3,96 Pada minggu ke-4 dilakukan
gr, polybag 3 dengan 6,65 gr dan penimbangan bobot basah dengan
polybag 4 memiliki berat 5,93 gr. timbangan analitik dan mengovennya
Kemudian untuk polybag 6 berat selama 24 jam untuk kemudian
keringnya yaitu 6,03 gr, polybag 7 ditimbang berat keringnya. Setiap
memiliki berat 1,97 gr. Pada polybag tanaman memiliki daun 4-6
9 memiliki berat kering 5,25 gr dan pertanaman, terdapat 5 tanaman yang
polybag 10 berat keringnya yaitu 2,71 mati dan hanya tersisa 11 tanaman.
gr. Terdapat beberapa hama yang
KESIMPULAN menyerang tanaman, yaitu kutu putih,
Tanaman sawi atau caisim belalang, ulat tritip sehingga daun
merupaka spesies Brassica juncea L., tanaman menjadi berlubang.
yang merupakan tanaman semusim. Berdasarkan pratkikum yang
Umbi gadung digunakan sebagai telah dilakukan, pestisida ekstrak
ekstrak pestisida nabati dengan cara umbi gadung tidak berpengaruh pada
mengupas kulitnya dan pengendalian dan pertumbuhan
tanaman. Hal ini terbukti dari adanya
hama yang menyerang tanaman
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Harjono, I. 1999. Sistem Pertanian Organic. Solo: Penerbit Aneka.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia (De Nutingge Planten van
Indonesia). Jakarta : Balitbang Kehutanan Dephut RI.
Kardinan, A. 1999. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Kardinan, A. 2000. Pestisida Nabati, Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan Perkembangan Tanaman. Jakarta:
Rajawali Press.
Rahayu, S. 2010. Senyawa Aktif Anti Makan dari Umbi Gadung (Dioscorea hispida
Dennt). Jurnal Kimia 4(1), 71-78.
Sudarmo, S. 2005. Pestisida Nabati. Jakarta: Penerbit Kanisius.
Suharto, 2007. Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Pangan.
Yogyakarta: Penerbit Andi.
Untung. 1993. Pestisida Alami (Nabati). Jakarta: Erlangga.

LAMPIRAN