Anda di halaman 1dari 23

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Jenis Sistem Pengkondisian Udara

Tujuan pengkondisian udara adalah untuk mendapatkan kenyamanan bagi


penghuni yang berada didalam ruangan. Kondisi udara yang dirasakan nyaman
oleh tubuh manusia adalah berkisar antara 24-28°C , ada beberapa sistem
pengkondisian udara yang dapat dilakukan yaitu :

2.2.1 Sistem Ekspansi Lansung

Dengan sistem ini pendinginan secara langsung dilakukan oleh refrigeran,


sebagai manan udara di sirkulasikan dengan cara menghembuskan melalui
blower melintasi loil tersebut, sistem ini biasanya dipergunakan untuk beban
pendingin udara yang tidak terlali besar seperti keperluan dirumah, sistem
tersebut dapat dilihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Pengkondisian Udara jenis Ekspansi Langsung

2.1.2 Sistem Pengkondisian Udara Secara Central

Secara singkat sistem central Air Conditioning Sistem, sistem


pengkondisian udara secara central terbagi menjadi beberapa, yaitu :
a. Water Cooled Water Chiller
Suatu sistem pendingin yang digunakan untuk menyerap panas dari
suatu zat atau produk sehingga temperaturnya berada dibawah temperatur
lingkungan, zat yang bekerja dalam proses penyerapan panas disebut
refrigeran.
b. Coolins Tower Unit
Unit ini berfungsi sebagau pendingin unit condensor pada unit
chiller dengan media yang digunakan adalah air, dimana sistem cooling
tower dapat dijelaskan sebagai berikut: Condensor unit chiller akan
memiliki temperatur dan tekanan yang fungsi akibat tekanan kerja dari
kompresor, sehingga diperlukan media pendingin untuk merubah fase
refrigeran di condesor tersebut, untuk dibuat suatu sistem pendingin
dengan menggunakan media air yang disirkulasikan oleh pompa ke unit
cooling tower, dimana air yang diperlukan tersebut akan membuat kalor
dari kondesor untuk kemudian dilepaskan kalornya keudara di cooling
tower sehinnga air akan mengalami penurunan temperatur dan kembali
diserkuasikan ke unit kondensor.
c. Chilled water dan Condesor Water pump
Air untuk mendinginkan kondesor dialirkan melalui pipa yang
kemudian output nya didinginkan secara worstive cooling pada colling
tower.
d. Air Handing Unit (AHU) dan fan Coil Unit
Baik air unit maupun fan coil unit memiliki kesamaan fungsi, air
handing difokuskan untuk menangani kapasitas pendingin yan lebih kecil,
dalam sistem alto digunakan untuk mengkondisikan fresh air (udara
segar) dan udara luar yang akan didistribusikan sebagai tambahan udara.
Untuk FCU dan kamar juga segabai distribusisuplai udara dingin guna
keperluan koridor masing-masing lantai, komponen-komponen dari AHU
maupun FCU sebenarnya cukup sederhana yang terdiri dari : casing kol,
filter udara, dan motor blower.
2.2 Jenis Sistem Refrigrasi

Gambar 2.2 : Sistem Refrigrasi


Refrigasi merupakan suatu proses penarikan kalor dari suatu benda atau ruangan
kelingkungan sehingga temperatur benda atau ruangan tersebut lebih rendah dari
temperatur lingkungan. Kinerja mesin refrigasi kompresi uap ditentukan oleh
beberapa parameter, diantaranya adalah kapasitas pendingin, daya kompresi,
koefisien kinerja dan faktor kinerja. Sesuai dengan konsep kekelan energi, panas
tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat dipindahkan, sehingga refrigasi berhubungan
dengan proses – proses aliran panas dari perpindahan panas, pada dasarnya sistem
refrigasi dibagi menjadi dua yaitu :
2.2.1 Sistem Refrigasi Mekanik
Sistem refrigasi ini menggunakan sistem mesin0mesin pengaruh atau alat
mekanik lainnya dalam menjalankan siklusnya yang termasuk dlam sistem refrigasi
mekanik :
a. Siklus Kompresi Uap (SKU atau Carnot)
b. Refrigasi Siklus Udara
c. Refrigasi temperatur ulta rendah
d. Siklus serling
2.2.2 Sistem Refrigasi Non-Mekanik
Berbeda dengan refrigasi mekanik sistem ini memerlukan mesin-mesin
penggerak seperti kompresor dalam menjalankan siklusnya, yang termasuk dalam
refrigasi non mekanik diantaranya :
a. Refrigasi termoeletik
b. Refrigasi siklus absorbsi
c. Refrigasi sistem jet
d. Refrigasi magnetic dan hipe pipe
Jenis sistem refrigasi yang umun digunakan adalah
a) Sistem Refrigasi kompresi uap atau carnot
Sistem ini menggunakan daur kompresi uap yang sangat umum digunakan alam
sistem refrigasi komponen utama dari sebuah siklus kompresi uap adalah
kompresor, evaporator, kondesor, dan katup expansi.

Gambar 2.3 Skema Siklus Uap

 Kompresor: Refrigerant gas bertekanan rendah dikompresikan


menjadi refrigerant gas bertekanan tinggi dengan bantuan daya dari
luar sistem (input power).
 Kondenser: Refrigerant gas bertekanan tinggi dirubah menjadi
refrigerant cair dengan tekanan tetap tinggi dengan cara membuang
kalor ke lingkungan sekitarnya
 Ekspansi: Refrigerant cair bertekanan tinggi diturunkan tekanannya
dengan bentuk refrigerant menjadi cairan yang bercampur dengan
sedikit gas. (Gelembung gas terjadi karena adanya penurunan
tekanan).
 Evaporator: Refrigerant cair dirubah menjadi gas/uap dengan cara
menyerap kalor dari ruang yang dikondisikan.
 Refrigerant gas uap kemudian dihisap oleh Kompresor dan
disirkulasikan kembali
Dalam diagram p-h siklus kompresi uap ideal dapat dilihat dalam gambar
2.4
Gambar 2.4 Diagram p-h dan TS siklus kompresi uap ideal
2.2.3 Proses – proses yang terjadi pada siklus kompresi uap pada gambar
diatas sebagai berikut :
a) 1 – 2 Merupakan proses kompresi adiabatik dan reversibel, dari uap jenuh
menuju tekanan kondensor.
b)2– 3 Merupakan proses pelepasan kalor reversibel pada tekanan konstan,
menyebabkan penurunan panas lanjut (desuper heating ) dan pengembunan
refrigerasi.
c) 3-4 Merupakan proses ekspansi unreversibel pada entalpi konstan, dari
fasa cairan jenuh menuju tekanan evaporator.
d) 4-1 Merupakan proses penambahan kalor reversible pada tekanan
konstan yang menyebabkan terjadinya penguapan menuju uap jenuh

Beberapa proses yang bekerja pada siklus ini adalah :


1. Proses Kompresi Proses kompresi berlangsung dari titik 1 ke titik 2.
Pada siklus sederhana diasumsikan refrigeran tidak mengalami
perubahan kondisi selama mengalir di jalur hisap. Proses kompresi
diasumsikan isentropik sehingga pada diagram tekanan-entalpi titik 1
dan titik 2 berada pada satu garis entropi konstan, dan titik 2 berada
pada kondisi super panas. Proses kompresi memerlukan kerja dari luar
dan entalpi uap naik dari h1 ke h2, dan untuk kenaikan entalpi sama
dengan besarnya kerja kompresi yang dilakukan pada uap refrigeran.

2. Proses Kondensasi Proses 2-3 terjadi pada kondensor, uap panas


refrigeran dari kompresor didinginkan oleh udara luar sampai pada
temperatur kondensasi dan uap tersebut dikondensasikan. Pada titik 2
merupakan titik refrigeran pada kondisi uap jenuh dengan tekanan dan
temperatur kondensasi. Jadi proses 2-2 merupakan proses pandinginan
sensibel dari temperatur kompresi menuju temperatur kondensasi, dan
proses 2-3 merupakan proses kondensasi uap dari dalam kondensor.
Proses 2-3 terjadi pada tekanan konstan, dan jumlah kalor yang
dipindahkan selama proses ini adalah beda entalpi antara titik 2 dan titik
3.

3. Proses Ekspansi Proses ekspansi berlangsung dari titik 3 ke titik 4. Pada


proses tersebut terjadi suatu proses penurunan tekanan refrigeran dari
tekanan kondensasi (titik 3) menjadi tekanan evaporasi (titik 4). Pada
saat cairan diekspansikan melalui katup ekspansi atau pipa kapiler
menuju evaporator, temperatur refrigeran juga turun dari temperatur
kondensasi ke temperatur evaporasi. Proses 3-4 merupakan proses
ekspansi adiabatik dimana entalpi fluida tidak berubah sepanjang
proses. Refrigeran pada titik 4 berada pada kondisi campuran antara
cairan dan uap, dan terjadi penurunan tekanan.

4. Proses Evaporasi
Proses 4-1 adalah proses penguapan refrigerasi pada evaporator serta
berlangsung pada tekanan konstan. Pada titik 1 seluruh refrigeran
berada pada kondisi uap jenuh. Selama proses 4-1 entalpi refrigeran naik
akibat penyerapan kalor dari ruang refrigerasi. Besarnya kalor yang
diserap adalah beda entalpi antara titik 1 dan titik 4 dan biasa disebut
efek pendinginan.

b) Refrigasi Siklus Absorbsi


Dalam sistem kompresi uap yang dioperasikan oleh kerja, sistem absorbsi
dioperasikan oleh kalor, karena sistem memberikan kalor tekanan yang
diperlukan untuk melepaskan refrigasi dari cairan yang bertekanan fungsi,
refrigasi bertekanan rendah dari evaporator diserap oleh cairan didalam
absorbsi, proses dilakukan secara adiabatic sehingga temperatur naik dan
absorbsi berhenti, untuk itu umum absorbsi di dinginkam oleh udara atau
yang berfungsi menyerap kaor dan melepasnya kelingkungan , kemudian
pompa menerima zat cair dan menaikan tekanannya. Dalam generator, kalor
dari sumber tertentu melepas uap yang telah diserap oleh isotan. Cairan
dikembalikan ke absorbsi melaluikatup Horrling untuk menurunkan
tekananya sehingga menjadi perbedaan tekanan, tekanan generator dengan
absorbsi.

Gambar 2.5 refrigasi siklus absorbs


Sistem Refrigerasi Udara
c) Sistem Refrigerasi Udara
Pada siklus ini, udara bertindak sebagai refrigerant, yang menyerap panas
pada tekanan konstan P, di dalam refrigerator. Udara panas keluar
refrigerator, dikompressi untuk dibuang panasnya ke lingkungan melalui
cooler pada tekanan konstan P2 (P2> P1). Udara keluar cooler dikembalikan
ke keadaan awal oleh mesin ekspansi untuk dapat melakukan langkah awal
pada siklus berikutnya

Gambar 2.5 sistem refrigrasi udara


2.3 Diagram Psikometri

Gambar 2.6 Diagram psikometri


Dari gambar 2.6 dapat dijelaskan bahwa diagram psikometri adalah
gambaran dari sifat-sifat termodinamika dari udara basah dari variasi
proses sistem penyegaran udara dan siklus sistem penyegaran udara. Dari
diagram psikometri akan membantu dalam perhitungan dan
pmenganalisa kerja dan perpindahan energi dari proses dan siklus sistem
penyegaran udara secara umum digunakan untuk mengilustrasikan
perubahan sifat termal dan karakteristik dari proses dan siklus
penyegaran udara.
Psikometrik merupakan suatu bahasan tentang sifat – sifat campuran
udara dengan uap air, dan ini mempunyai arti yang sangat penting dalam
pengkondisian udara karena udara pada atmosfir merupakan campuran
antara udara dan uap air, jadi tidak benar – benar kering . kandungan uap
air dalam udara pada untuk suatu keperluan ditambahkan tekanan
barometer Pb merupakan jumlah tekanan parsial dari semua unsur
penting yang membantu udara oksigen, nitrogen, dan uap air.
Untuk suhu campuran udara air :
Pb = Pa + Pv
Dimana Pa : Tekanan parsial udara
Pv : Tekanan parsial kandungan uap air
Untuk memahami proses – proses yang terjadi pada karakteristik antara lain
:
2.3.1 Temperatur Bola kering (dbt)
Temperatur bola kering merupakan temperatur yag terbaca pada
termometer sensor kering dan terbuka, namun penunjukan dari temperatur
ini tidak tepat karena adanya pengaruh radiasi panas.

2.3.2 Temperatur Bola Basah (wbt)


Suhu bola basah adalah suhu yang dipertunjukan oleh temperatur
bola basah dan kering, dimana bola dibalut dengan kain basah untuk
mengukur temperatur, ini diperlukan aliran udara, salurannya adalah 5m/s .
temperatur bola bash sering disebut dengan temperatur jenuh adiabatik.
2.3.3 Suhu Titik Embun (dpt)
Titik embun adalah temperatur pada keadaan dimana tekanan
uapnya sama dengan tekanan uap air dari udara murni mengembun dan hal
itu terjadi apabila udara lembab didinginkan, pada tekanan yang berada titik
embun uap air akan berbeda, semakin besar tekanannya maka titik
embunnya semakin besar.
2.3.4 Kelembapan Relatif
Kelembapan relatif didefinisikan sebagai perbandingan frekuensi
molekul uap air di dalam udara basah terhadap fraksi molekul uap air jenuh
pada suhu dan tekanan yang sama atau perbandingan antara tekanan parsial
uap air yang ada pada temperatur yang sama. Kelembapan ini dapat
dirumuskan :
W Mu/Ma
Dimana W : kelembapan relatif
Ma : massa udara kering
Mu : massa uap air
2.3.5 Kelembapan Spesifik
Kelembapan spesifik (w) adalah berat atau massa air yang
bertekanan di dalam setiap kilogram (kg) udara kering, atau perbandingan
antara uap air dengan massa udara kertas yang ada di dalam atmosfir.
2.3.6 Rasio Jenuh
Rasio jenuh (H) atau disebut dengan derajat kejenuha, didefenisikan
sebagai rasio kelembapan spesifik udara lembab dengan kelembapan
spesifik udara jenuh pada suhu yang sama.
µ = w/ws T
2.4 Diagram Moiler
Diagram Mollier adalah diagaram yang menyatukan hubungan entalpi dan
entropi, jadi bila tekanan suhu dan entalpi diketahui makan dapat diketahui
entalpi dari diagram tersebut. Mollier juga dapat digunakan untuk mengetahui
kerja yang dihasilkan oleh sistem. Diagram P-H sistem komprsi uap dapat
dilihat pada gambar

Gambar 2.4 : Diagram Moiller


2.5 Jenis – jenis Refrigasi

Proses pendinginan (refrigasi) merupakan proses pemindahan energi panas


yang terkandung di dalam suatu ruangan. Unuk keperluan pemindahan energi panas
tersebut dibutuhkan suatu fluida pemutaran kalor yang disebut refrigasi.

Persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu refrigasi antara lain adalah :

- Titik Penguapan rendah - Tidak korasif


- Kestabilan tekanan - Tidak Mudah terbakar
- Panas konsta yang tinggi - Tidak beracun
Menurut sifat penyerapan dan ekspansi panas, maka refrigasi dapat dibagi menjadi
2 yaitu:

1. Refrigasi yang dapat memberikan efek pendingin dengan menyerap panas,


yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah sulfur dioksida, thetil klorida,
ethil klorida, karbon dioksida, (Fc-11, CFC-12, CFC-13, CFC-21, HCFC-
22, CFC-113, CFC-114, CFC-115 dan HCFC-502).
2. Refrigeran yang hanya dapat menyerap panas sensibel dari substansi yang
diinginkannya , yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah udara, cairan
klasium klorida, cairan sodium klorida.

Jenis – jenis Refrigeran (bahan pendingin) adalah sebagai berikut :

1. Refrigen – 11 (R-11)
Merupakan CC13F ( Tricholo Monoflou Methane) yang mempunyai
karakteristik Sebagai berikut :
 Tekanan didihnya 23,8°C atau 74,9°C pada 1 atmosfir
 Tekanan penguapannya 24 inchi Hg vakum pada (-15°C)
 Tekanan kondensasi 3,5 Psig pada 30°C
 Sangat stabil, tidak beracun, tidak korosif, tidak dapat terbakar
 Merupakan isolator yang sangat baik karena mempunyai kekuatan
dielektrik yang besar.

2. Refrigeran -12 (R-12)


Merupakan 𝐶𝐶𝑙2 𝐹2 (Dichloro Diflurio Methane) yang sangat populer dan
banyak dipakai untuk mesin pendingin domestik, karakteristikny antara lain
sebagai berikut :
 Titik didih 29,8°C pada tekanan 1 atm
 Tekanan penguapan 11,8 Psig pada 15°C
 Stabil pada suhu kerja rendah atau suhu kerja tinggi
 Merupakan kekuatan di elektrik yang besar
3. Refrigeran -13 (R-13)
Merupakan 𝐶𝐶𝐿13 𝐹3 (Choloro Fiflaoro Methane) yang dapat dipakai untuk
menggantikan R-22 atau R-500 pada pemakaian suhu yang rendah dan
mempunyai karakteristik sebagai berikut :
 Mempunyai titik didih -18,4°F pada 1 atm
 Tekanan penguapan 117,1 Psi pada -15°C
 Tekanan kndensasi 546,6 Psig pada 28,9°C
 Kalor isten uap 63,85 Btu/lb pada titik didih
 Suhu kritis 28,8°C pada 1 atm

4. Refrigeran -22 (R-22)


Merupakan 𝐶𝐻𝐶𝐿𝐹2 (Choloro Diflouro Methane) yang sangat populer,
karena dipakai untuk air conditioning ukuran kecil dan sedangkan
karakteristik dari R-22 adalah:
 Tekanan didih pada tekanan atmosfir -40,8°C
 Tekanan penguapan pada -15°C dan 28,3 Psi
 Tekanan konduksi pada 30°C adlah 158,2 Psi
 Kalor isten uap 100 Btu/lb pada titik didih
 Mempunyai kekuatan di elektrik yang sangat besar

5. Refrigeran – 40 (R-40)
Merupakan ( 𝐻3 𝐶𝑙 (Methal Cholonida) yang mempunyai sifat – sifat
sebagai berikut :
 Titik didih pada tekanan 1 atm – 237°C
 Tekanan pengupan pada -15°C adalah 145 Psig
 Tekanan Kondensor pada 30°C adalah 80 Psig
 Kalor isten uap 180,6 Btu / 16 pada titik didih
 Dapat terbakar dan meledak bila bercampur dengan udara pada
konsentrasi 8-17% dari volume

6. Refrigeran -113 (R-113)


Merupakan 𝐶2 𝐶𝑙3 𝐹3 (Trichioro Trifluoro Ethane) yang mempunyai
karakteristik sebagai berikt :
 Titik didih pada tekanan 1 atm 47,6°C
 Tekanan penguapan pada -15°C adalah 27,5 inchi Hg
 Tekanan kondensasi pada 30°c adalah 13,9 inchi Hg
 Kalor isten uap 63,12 Btu/lb pada titik didih
 Mempunyai kekuatan dielektrik yang besar
7. Refrigeran -114 (R-114)
Merupakan 𝐶2 𝐶𝑙2 𝐹4 (Dichloro Tetrafluoro Ethane) Bila R-114 dicampur R-
12 dapat digunakan di bidang kosmetik tanpa memberiefek samping pada
kulit, karakteristik dari R-114 adalah sebagai berikut :
 Titik didih pada tekanan 1 atm 3,8°C
 Tekanan pengembunan pada -15°C adalah 216,2 Inchi Hg
 Tekanan pengembunan pada -30°C adalah 21,6 Inchi Hg
 Kalor isten uap 59 Btu/lB pada titik didih
 Tidak dapat meledak
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Data Teknis Peralatan


a. Kompressor
Type : AE 4440 V
Power Supply : 1 HP/ 220-240 V/ 550 Hz
Output : 750 W
FLA – Nominal : 3.10
Refrigeran : R 134a = R 12
Putaran : 2900 Rpm
b. Kondensor
Model : AOB1E
Power Supply : 850 W/ 240 V/ 50 Hz
c. Fan Udara
Power Supply : 750 W
Efisiensi : 78 %
3.2 Skema Instalasi gambar

3.3 Prosedur Percobaan


1. Pastikan bahwa instalasi sudah dalam keadaan siap untuk digunakan
2. Buka semua katup yang ada pada instalasi
3. Hidupkan mesin pendingin kemujdian tunggu beberapa saat sampai
kondisi menjadi normal (siklus)
4. Atur beban pendingin dengan memutar termostat pada posisi 1 dan
tunggu selama 10 menit agar siklus bekerja kemudian catat
semuanya
5. Lakukan langkah 4 untuk beban pendinginan berikutnya (percobaan
selanjutnya dengan tidak mematikan mesin pendingin)
6. Jika seluruh pengujian telah dilaksanakan matikan mesin
pendingion dan pastikan semua katup dalam posisi tertutup
7. Sebagai catatan untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan dan
untuk tridak mematikan mesin pendingin jika percobaan belum
selesai
BAB IV
ANALISA DATA
4.1 Data Hasil Pengujian

T Pengkodisian Udara Refrigeran


E Sisi Sisi Keluar Sebelum Sesudah
R Masuk
M
O tdb twb
S tdb twb P1(kpa) T2(t) P2(kpa)
T ˚C ˚C T1(t)
A
T ˚C ˚F ˚C ˚F
1 20 18 29 84 26 78 -12 107,8 42 921,8
2 20 18 30 86 27 80 52 117,6 43 980,6
3 20 18 30 86 27 80 -4 107,8 42 921,8
4 20 18 30 86 27 80 -4 107,8 43 980,6
5 20 18 29 84 26 78 -12 107,8 42 921,8
6 20 18 30 86 27 80 -11 107,8 43 980,6

Keterangan :
1 kgf/cm3 : 98,0665 kpa
1 ˚F : - 17,222 ˚C
4.2 Perhitungan Data
A.Termostat I dan V
Kondisi 1 : Refrigeran dalam evaporator mengalami proses
pendinginan
karena terjadi pengambilan panas. Dengan Tabel 1 pada
suhu – 12 ˚C diperoleh data :
h1 : 347,4 kj/kg
S1 : 1,5660 kj/kg ˚k
V1 : 0,0828 m3/kg
Kondisi 2 : Setelah refrigeran keluar dan evaporator menuju
kompresor dengan diagram mailer R12 diperoleh data
h2 : 380 kj/kg

Kondisi 3 : Refrigeran bertekanan tinggi dari kompresor menuju


kondensor. Dengan tabel 1 pada suhu 42 ˚C akan
diperoleh data :
h3 : 241,3 kj/kg
Kondisi 4 : h3 = h4 : 241,3 kj/kg
B.Termostat II
Kondisi 1 : Dengan Tabel 1 pada suhu 52 ˚C akan diperoleh data :
h1 : 372,8 kj/kg
S1 : 1,5430 kj/kg ˚k
V1 : 0,0137 m3/kg
Kondisi 2 : Dengan Diagaram Moiler :
h2 : 365 kj/kg
Kondisi 3 : Dengan Diagaram Moiler :
h3 : 251,9 kj/kg
Kondisi 4 : h3 = h4 : 251,9 kj/kg
C. Thermostat III
Kondisi I = Dengan table 1 pada suhu -11 °C
H1 = 347,8 Kj/Kg
S1 = 1,5650 Kj/Kg °K
V1 = 0,0800 m3 / Kg
Kondisi II = Dengan Diagram Moiler

H2 = 380 Kj/KgKondisi III= Dengan Tabel 1 pada Suhu 42°C


H3 = 241,3 Kj/Kg
Kondisi IV = H3 = H4 = 241,3 Kj/Kg

D. Thermostat IV Dan VI
Kondiisi I = Dengan Tabel 1 pada Suhu -8°C
H1 = 347,8 Kj/Kg
S1 = 1,5650 Kj/Kg °k
V1 = 0,0800 M3/Kg
Kondisi II = Dengan diagram moiler
H2 = 380 Kj/Kg
Kondisi III = Dengan table 1 pada suhu 43°C
H3=251,9 Kj/Kg
Kondisi IV = H3 =H4=251,9 Kj/Kg

Diagram Psikometri
a. Tekanan uap air diudara
Dengan menggunakan table 4.1 pada Twb= 18 °C di dapatkan Pwb=
2,0643 Kpa maka :

pwb- (pbar−pwb)(tdb−twb)
Ph =
2830−1,44 .twb
Pbar = 101,325 kpa
Twb = 18 °C
2,0463- (101,325−2,0643)(20−18)
Ph =
2830−1,44 .(18)

= 2,0604

b. Kelembaban relative
Dengan menggunakan table 4.1 tdb = 20° C diperoleh pdb = 2,3388
Kpa
𝑝ℎ
 Hr = 𝑝𝑑𝑏 𝑥 100%
2,0604
= 2,3388 𝑥100%
=88,09 %

 Derajat kejenuhan
pbar−pdb
Q = x Hr
pbar−ph
101,325−2,3388
= 𝑥 88, ,09%
101,325−2,0604
= 87,84 %
 Rasio kelembaban Aktual
0,6220.ph
η =
pbar−ph
0,6220 x 2,0604
=
101,325−2,0604
= 0,0129 Kj/Kg
 Entalpi udara
Hud = hud kering + huap (Kj/Kg)
Hud = Cp.tdb + η(1061+0,444.tdb)
= 1,0.20 + 0,0129(1061+0,444 . 20)
Hud = 33,80 Kj/Kg
Dengan Cara yangsama akan diperoleh data sebagai berikut
h1 h2 h3=h4 P2 S1 U1
Thermostat
(kj/kg) (Kj/Kg) (Kj/Kg) (Kpo) (Kj/Kgºk) (m3/Kg)
1 347.4 380 241.3 921.8 1.566 0.0828
2 372.8 365 251.9 980.6 1.543 0.0137
3 342.8 380 241.3 921.8 2 0.08
4 347.8 380 251.9 980.6 1.565 0.08
5 347.4 380 241.3 921.8 1.565 0.08
6 347.8 380 251.9 980.6 1.565 0.08
Perhitungan Thermodinamika
1. Dampak Refrigrasi
Qin = h1-h4 (Kj/Kg)
Thermostat I Dan V = Qin = 347,4-241,3 = 106 Kj/Kg
Thermostat II = Qin = 372,8 – 251,9 = 120,9 Kj/Kg
Thermostat III = Qin = 347,8 – 241,3 = 106,5 Kj/Kg
Thermostat IV Dan VI = Qin = 347,8 - 251,9 = 959 Kj/Kg
2. Kalor Dilepas Kondensor
Qcond = H2-h3 (Kj/Kg)

Thermostat I Dan IV = Qcond = 380 – 241,3 = 138,7 Kj/Kg


Thermostat II = Qcond = 365 – 251,9 = 113,1 Kj/Kg
Thermostat III = Qcond = 380 - 241,3 = 138 ,7 Kj/Kg
Thermostat IV Dan VI = Qcond = 380 – 251,9 = 128,1 Kj/Kg
3. Kerja Kompressi
Wcomp= h1-h2 (Kj/Kg)

Thermostat I dan V = Wcomp = 347,4 – 380 = -32,6 Kj/Kg


Thermostat II = Wcomp = 347,8 – 365 = 7,8 Kj/Kg
Thermostat III = Wcomp = 347,8 – 380 = -32,2 Kj/Kg
Thermostat IV Dan VI = Wcomp = 347,8 - 380 = -32,2 Lj/Kg
4. Laju Massa Pendauran Refrigran
𝑄
Mr = ℎ1−ℎ4

Thermostat I dan IV = Mr = 0,75/(347,4-241,3) = 0,00706 Kg/s


Thermostat II = Mr = 0,75/(372,8-251,9) = 0,00620 Kg/s
Thermostat III = Mr = 0,75/(347,8-241,3) = 0,00704 Kg/s
Thermostat IV dan VI = Mr = 0,75/(347,8-251,3) = 0,00782 Kg/s

1 watt = 0,001 Kj/s


Q= 750 Watt = 0,75 Kj/s
5. Daya Kompressor
Ncomp = Mr (h1-h2)

Termostat I Dan IV =Ncomp = 0,00706(347,4-380) = -0,230156


Thermostat II = Ncomp = 0,00620 (372,8-365) = 0,04836
Thermostat III = Ncomp = 0,00704 ( 347,8 -380 ) = - 0,226688
Thermostat IV dan VI = Nccomp = 0,00782 (347,8-380) = -0,251804

6. Volume Aliran Refrigran


V= Mr . V

Thermostat I Dan V = V = (0,00706 x 0,0828) = 0,000584 m3/s


Thermostat II = V = (0,00620 x 0,0137)= 0,000084 m3/s
Thermostat III = V = (0,00704 x 0,0800)= 0,000563 m3/s
Thermostat IV Dan VI = V = (0,00782 x 0,0800)= 0,000625 m3/s

7. Koefisien Prestasi
Cop = (h1-h4)/(h2-h1)

Thermostat I dan V = Cop = (347,4 – 241,3) / (380-347,4) = 325


Thermostat II = Cop = (372,8 – 251,4) /(365-372,8) = -15,5
Thermostat III = Cop = (347,8 – 241,3) / (382-347,8) = 3,30
Thermostat IV dan VI = Cop = (347,8-251,9) / (380-347,8) = 2,97

Dengan Cara yang sama diperoleh data sebagai berikut :


Qin Qcond wcomp Mr Ncomp V
Cop
Kj/Kg Kj/Kg Kj/Kg Kg/s Kg/s m3/s
1 106.1 138.7 -32.6 0.00706 -0.230156 0.000584 3.25
2 120.9 113.1 7.8 0.0062 0.04836 0.000084 -15.5
3 106.5 138.7 -32.2 0.00704 -0.226688 0.000563 3.3
4 95.9 128.1 -32.2 0.00782 -0.251804 0.000625 2.97
5 106.1 138.7 -32.6 0.00706 -0.230156 0.000584 3.25
6 95.9 128.1 -32.2 0.00782 -0.251804 0.000625 297
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Grafik Hubungan Parameter Pendingin

Grafik Hubungan Parameter Mesin Pendingin


Series1 Series2 Series3 Series4
Series5 Series6 Series7
1000

800 128.1
95.9 138.7
600
106.1 128.1
400 95.9 138.7
106.5 297
200 120.9 113.1
106.1 138.7
0 6
5
4
3
2
1
0 0 0 0
7.8 0.00704
0.00706
0.00782
0.0062
0 0
-0.226688
0.04836
-0.230156
-0.251804 0.000084
0.000563
0.000584
0.000625
0 0
3.25
2.97
3.3
-15.5
-32.6
-32.2
-32.2
-32.6
-200 -32.2

-400

Gambar 5.1 : Grafik Hubungan Parameter Pendingin

Pada gambar 5.1 dapat dilihat bahwa termasuk memiliki jumlah nilai
Qin terbesar yaitu 120,9 Kj/Kg sedangkan thermostat IV Dan VI memiliki
nilai Qin terkecil dengan 95,5 Kj/Kg pada Qcond thermostat I,III dan IV
memiliki jumlah yang tinggi dan terbesar yaitu 138,4 Kj/Kg sedangkan
thermostat II memiliki nilai terendah 113,1 Kj/Kg hal ini dimaksudkan yaitu
thermostat II kalor yang diserap oleh refrigran pada evaporator meningkat
sedangkan kalor yang diserap menurun begitu juga dengan thermostat yang
lain .