Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Sabuk Gempa Pasifik (Ring of Fire) merupakan daerah berbentuk seperti tapal

kuda yang mengelilingi Samudera Pasifik mencakup panjang 40.000 km.Sekitar

90% gempa bumi terjadinya di daerah ini dan 81% gempa bumi terbesar terjadi di

sepanjang Cincin Api tersebut. Indonesia masuk ke dalam Sabuk Gempa Pasifik

sehingga sering terjadi gempa bumi dan letusan gunung berapi. Seringnya

Indonesia dilanda gempa bumi menyebabkan resiko terjadinya tsumami akan

semakin besar pula. Resiko tersebut akan semakin meningkat karena Indonesia

berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia

Gambar 1.1.Ring Of Fire (Kusdiantara, 2011:1)

Berdasarkan pengalaman historis, kejadian tsunami sangat membahayakan

bagi komunitas masyarakat di wilayah pesisir pantai, meskipun daerah tersebut

jauh dari kawasan yang rawan gempa bumi (tektonik maupun vulkanik) bawah

1
laut. Dampak yang dapat ditimbulkan akibat bencana tsunami sangar, yaitu dapat

berupa kematian, kehilangan harta benda, kehancuran sarana dan prasarana

khususnya di daerah pesisir pantai, menimbulkan gangguan ekonomi dan bisnis,

bahkan dapat mengganggu keadaan psikologis (traumatik) masyarakat yang

berkelanjutan .

Negara-negara atau kota yang rentan terhadap bencana tsunami sudah

selayaknya memiliki suatu tindakan preverentif dan mitigasi untuk menghadap

serangan tsunami baik itu pra maupun pasca agar mengurangi resiko yang

ditimbulkan bencana tsunami, sesuai dengan Undang-undang No. 24 Tahun 2007

tentang Penanggulangan Bencana. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain

dengan pembuatan dokumen mitigasi bencana, pembangunan lokasi evakuasi

yang dapat digunakan baik yang bersifat alamiah berupa bukit, maupun buatan

berupa bangunan khusus untuk penampungan masyarakat saat terjadi bencana.

Selain itu, pembuatan rambu evakuasi dan rute evakuasi serta penyuluhan kepada

masyarakat agar masyarakat menjadi terlatih dan tidak panik saat bencana tsunami

benar-terjadi.

Salah satu dari sekian banyak wilayah di bagian timur Indonesia yang

menyimpan potensi tsunami yang cukup besar adalah Kota Palu dan sekitarnya.

Tercatat telah terjadi tiga kali kejadian di sekitar Teluk Palu, yaitu pada tahun

1927, 1968 dan 1996, sementara sekitar Kota Palu (Sulawesi Tengah) terdapat 6

kejadian. Wilayah Kota Palu dan sekitarnya terdapat beberapa potongan sesar

yang sangat berpotensi membangkitkan gempa bumi yang cukup kuat. Sesar

tersebut adalah Sesar Palu-Koro yang memanjang dari Palu ke arah Selatan dan

2
Tenggara melalui Sulawesi Selatan bagian Utara menuju ke selatan Bone sampai

di Laut Banda.

3
BAB II

2.1.Pengertian Tsunami

Tsunami merupakan gerakan badan air yang disebabkan perubahan

permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut dapat

disebabkan oleh gempa yang berasal dari bawah laut, letusan gunung berapi

bawah laut, longsor bawah laut, atau di laut atau meteor. Gelombang tsunami

mampu merambat ke segala arah. Energi yang terdapat dalam gelombang tsunami

sangatlah besar.

Tsunami terkadang dianggap sebagai gelombang air pasang. Hal tersebut

karena saat mencapai daratan, gelombang ini memang lebih mirip air pasang yang

tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai. Akan tetapi,

sebenarnya gelombang tsunami sama sekali tidak berkaitan dengan peristiwa

pasang surut air laut.

Gelombang tsunami mampu merambat ke segala arah. Di laut yang dalam,

gelombang tsunami merambat dengan ke cepatan mencapai 1000 km per jam,

menyamakan kecepatan

Pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut yang dalam hanya berkisar 1

meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terlalu terasa oleh kapal yang

sedang berada di laut.Akan tetapi, ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang

tsunami menurun. Namun, ketinggiannya sudah meningkat sampai puluhan meter

4
2.2. Penyebab Terjadinya Tsunami

1. Gempa dibawah laut

Gempa bumi yang terjadi di bawah laut merupakan penyebab paling

sering terjadinya tsunami. Gerakan vertikal pada kerak bumi (gempa) dapat

menyebabkan dasar laut naik atau turun secara mendadak, yang

menyebabkan gangguan keseimbangan air yang ada di atasnya. Kondisi ini

mengakibatkan terjadinya aliran energi laut, yang ketika tiba di pantai

menjadi tsunami

Walaupun demikian, tidak semua gempa yang terjadi di bawah laut

mampu menyebabkan tsunami. Gempa bumi bawah laut yang menyebabkan

terjadinya tsunami adalah gempa bumi yang memenuhi kriteria seperti berikut

• Pusat gempa kurang dari 30 kilometer dibawah permukaan laut

• Gempa bumi yang berkekuatan minimal 6,5 SR

• Gempa bumi yang diakibatkan pola sesar naik atau turun

2. Meletusnya Gunung Berapi

Gunung berapi banyak terdapat di seluruh penjuru dunia. Letusan dari

gunung berapi mampu menyebabkan terjadinya gempa vulkanik (gempa yang

terjadi karena letusan gunung berapi). Meskipun sangat jarang terjadi, tsunami

yang disebabkan letusan gunung berapi berdampak sangat dahsyat. Ditambah

lagi jika posisi gunung berapinya ada di bawah laut.

5
3.Longsor Bawah Laut

Longsor bawah laut umumnya terjadi akibat hantaman antara lempeng

benua dan lempeng samudera yang disebabkan gempa dan perubahan air

laut.Keadaan ini membentuk paling laut secara tiba

- tiba mempengaruhi pergerakan volume air yang mendadak. Pada skala

tertentu bisa menyebabkan tsunami. Ciri

- ciri tsunami yang disebabkan oleh longsor bawah laut adalah gempa yang

berskala kecil tapi mampu mengakibatkan tsunami yang dahsyat

4.Hantaman Meteor

Tsunami juga bisa terjadi akibat jatuhnya meteor ke lautan. Selain itu,

meteor yang jatuh ke permukaan laut juga bisa menyebabkan

ketidakseimbangan lempeng di bawah laut yang menimbulkan terjadinya

gempa. Hal ini jarang terjadi, akan tapi berakibat tejadinya tsunami yang

sangat besar.

2.3.Proses Terjadinya Tsunami

Tsunami bisa terjadi disebabkan gangguan yang dapat menyebabkan

perpindahan air dalam jumlah yang besar, seperti letusan gunung berapi,

gempa bumi, tanah longsor atau meteorit yang jatuh menimpa permukaan

bumi. Namun, 90 % tsunami disebabkan oleh gempa yang berpusat di bawah

laut.

Gerakan vertikal di kerak bumi bisa menyebabkan kenaikan dasar

laut atau menjatuhkan secara mendadak, yang mampu mengakibatkan

gangguan keseimbangan air di dalamnya. Kondisi ini mengakibatkan aliran

6
energi air laut, yang ketika tiba di pantai menjadi gelombang tsunami yang

dihasilkan besar.

Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut

tempat sumber gempa terjadi, dimana kecepatannya mampu mencapai

ratusan kilometer per jam. Ketika tsunami mencapai pantai, kecepatannya

akan menjadi berkurang.

Di tengah, tinggi gelombang tsunami laut hanya mencapai

beberapa sentimeter sampai beberapa meter. Akan tetapi, saat mencapai

pantai, tinggi gelombang mampu mencapai puluhan meter karena ditambah

jumlah air di sebelumnya. Ketika tsunami mencapai pantai, gelombang akan

menjalar menjauhi dari garis pantai dengan jangkauan beberapa ratus meter

bahkan dapat mencapai beberapa kilometer

2.4.DampakTsunami

A.Dampak Positif

• Tumbuhnya kerjasama untuk menolong korban bencana

• Timbulnya rasa kemanusiaan

• Mengetahui sampai kekuatan konstruksi bangunan yang telah ada serta

kelemahannya sehingga bisa dilakukan inovasi baru untuk kekuatan

konstruksi yang lebih baik

B.Dampak Negatif

• Banyak terdapat kerusakan rumah dan fasilitas umum

• Banyak menimbulkan korban jiwa

• Muncul kekacauan ekonomi dan politik

7
• Timbul penyakit

2.5. Tektonik Pulau Sulawesi

Pulau Sulawesi terletak pada zona pertemuan diantara tiga pergerakan lempeng

besar yaitu pergerakan lempeng Hindia Australia dari selatan dengan kecepatan

rata 7 cm/tahun, lempemg Pasifik dari timur dengan kecepatan sekitar 6 cm/tahun

dan lempeng Asia bergerak relatif pasif ke tenggara. Posisi Sulawesi yang berada

pada kawasan lempeng tektonik microplate sangat rawan terhadap gerakan dan

benturan ketiga lempeng bumi tersebut yang akan menimbulkan fenomena

geologi dan dampak merugikan pada kehidupan manusia, terutama ancaman

gempa dan tsunami yang disetiap saat dapat terjadi. Perkembangan tektonik di

kawasan Pulau Sulawesi berlangsung sejak zaman Tersier hingga sekarang,

sehingga Pulau Sulawesi termasuk daerah teraktif di Indonesia dan mempunyai

fenomena geologi yang kompleks dan rumit. Manifestasi tektonik yang

ditimbulkan berupa patahan dan gunungapi, seperti patahan Walanae (Sulawesi

Selatan), Palu Koro (dari Flores, Palu hingga Selat Makassar), Patahan Gorontalo,

patahan Batui (Sulawesi Tengah), patahan naik Selat Makassar dan patahan

Matano, Lawanoppo dan Kolaka (Sulawesi Tenggara). Dari fenomena geologi

dan tektonik tersebut di atas, maka di kawasan Pulau Sulawesi terdapat beberapa

daerah rawan terhadap bencana terutama masalah gempa dan tsunami, seperti

daerah-daerah yang berada pada jalur Patahan Walanae, Palu Koro, Selat

Makassar terutama bagian tengah dan utara, perpotongan antara patahan Kolaka

dan Palu Koro, patahan Gorontalo, Batui, Matano dan patahan Kolaka. Daerah-

daerah yang harus mendapat perhatian dan harus diwaspadai adalah daerah

8
perpotongan atau persinggungan di antara patahan, karena di daerah ini gempa

dapat bergenerasi dan berpotensi menimbulkan bencana geologi. Sebagai contoh,

gempa yang terjadi di Makassar pada tanggal 12 Desember 2010 dengan kekuatan

5,9 SR pusat gempa terletak 232 km ke arah baratdaya Makassar, berada pada

daerah perpotongan patahan Selat Makassar dengan patahan Laut Flores Barat.

Perkembangan tektonik di kawasan Pulau Sulawesi berlangsung sejak

zaman Tersier hingga sekarang, sehingga bentuknya yang unik menyerupai huru

“K”, dan termasuk daerah teraktif di Indonesia, mempunyai fenomena geologi

yang kompleks dan rumit. Manifestasi tektonik yang ditimbulkan berupa patahan

dan gunungapi dapat menibulkan gempa, tsunami dan bencana geologi lainnya.

Secara tektonik/struktur dan sejarah perkembangan nya, Pulau Sulawesi

dibagi dalam 4 (empat) mintakat geologi (Endarto dan Surono, 1991) yaitu busur

volkanik Sulawesi Barat, kontinental kerak Banggai Sula, oseanik kerak Sulawesi

Timur dan kompleks metamorf Sulawesi Tengah. Keempat mintakat tersebut

dipisahkan oleh batas –batas tektonik yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Sehubungan dengan kejadian gempa dan tsunami akibat aktivitas

tektonik diatas, maka ada beberapa daerah yang harus diwaspadai yaitu pada

daerah perpotongan atau persinggungan diantara patahan, karena pada dasarnya di

daerah inilah gempa dapat bergenerasi dan berpotensi menimbulkan bencana

geologi.

Secara tektonik Pulau Sulawesi dibagi dalam empat mintakat yang

didasari atas sejarah pembentukannya yaitu Sulawesi Barat, Sulawesi Timur,

9
Banggai-Sula dan Sulawesi Tengah yang bersatu pada kala Miosen –Pliosen oleh

interaksi antara lempeng Pasifik, Australia tehadap lempeng Asia.

Interaksi ketiga lempeng tersebut memberikan pengaruh cukup besar

terhadap kejadian bencana alam geologi di Sulawesi pada umumnya dalam wujud

gempa bumi, tsunami, gerakan tanah, gunungapi dan banjir yang senantiasa

terjadi seiring dengan berlangsungnya aktivitas tektonik.Terletak di laut Sulawesi

sebelah utara Pulau Sulawesi memanjang dari barat ke timur. Subduksi lempeng

ini menunjam masuk ke selatan di bawah Sulawesi Utara dan Gorontalo. Subduksi

lempeng laut Sulawesi yang aktif diduga membentuk gunungapi Una-una dan

deretan gunungapi Manado-Sangihe. Zona subduksi lempeng Laut Maluku

terbentang di utara Sulawesi dari utara ke selatan di sebelah timur Manado.

Lempeng Laut Maluku menunjam ke barat masuk di bawah busur Manado-

Sangihe, berhubungan dengan volkanisme dan gempa di kawasan ini. Patahan-

patahan yang terdapat di sulawesi, yaitu :

1.Patahan Walanae

Patahan Walanae berada di bagian selatan Sulawesi Selatan membentang dari

selatan (sebelah timur Pulau Selayar) ke utara melalui Bulukumba, Sinjai,

Bone, Soppeng, Sidrap, Pinrang dan Majene -Mamuju dan berakhir di Selat

Makassar. Sifat pergerakan adalah sinistral atau mengiri. Patahan Walanae

merupakan percabangan dari lanjutan patahan Palu-Koro yang melalui Teluk

Bone dan di ujung baratlaut menerus hingga patahan Paternoster di Selat

Makassar.

10
2. Patahan Palu-Koro

Patahan Palu-Koro memanjang dari utara (Palu) ke selatan (Malili) hingga

teluk bone sepanjang ± 240 km. Bersifat sinistral dan aktif dengan kecepatan

sekitar 25-30 mm/tahun (Kertapati, 2001 dan Permana, 2005). Patahan Palu-

Koro berhubungan dengan patahan Matano - Sorong dan Lawanoppo-Kendari,

sedang di ujung utara melalui Selat Makassar berpotongan dengan zona

subduksi lempeng Laut Sulawesi.

3.Patahan Matano dan Lawanoppo

Patahan Matano dan Lawanoppo berpotongan atau menyatu di ujung utara

dengan patahan Palu-Koro, yang mendapat energi dari perpanjangan patahan

Sorong dan Tukang Besi di Laut Banda. Kedua patahan ini bersifat sinistral

dan aktif, berhubungan dengan pembent ukan danau Matano, Towuti dan

beberapa depresi kecil lainnya.

2.6. Sejarah Gempa dan Tsunami Kota Palu

Daerah Palu dan sekitarnya, selain sangat rawan gempabumi juga

rawan terhadap tsunami. Kerawaan gempabumi dan tsunami daerah ini sudah

dibuktikan dengan beberapa catatan sejarah gempabumi dan tsunami yang

berlangsung sejak tahun 1927, seperti Gempabumi dan Tsunami Palu 1927,

Gempabumi dan Tsunami Parigi 1938 dan Gempabumi dan Tsunami Tambu

1968.

Gempabumi dan Tsunami Palu 1 Desember 1927 bersumber di teluk

Palu dan mengakibatkan kerusakan parah di Kota Palu, Palu, Biromaru dan

sekitarnya.Gempabumi juga dirasakan dibagian tengah Pulau Sulawesi yang

11
jaraknya sekitar 230 kilometer. Selain menimbulkan kerusakan sangat parah,

gempabumi ini juga memicu tsunami di Teluk Palu.

Gempabumi dan Tsunami Parigi 20 Mei 1938 terjadi sangat dahsyat,

hingga dirasakan hampir diseluruh bagian Pulau Sulawesi dan Bagian timur

pulau Kalimatan. Daerah yang menderita kerusakan paling parah adalah

kawasan Teluk Parigi. Di tempat ini dilaporkan 942 unit rumah roboh.

Kerusakan yang ditimbulkan ini meliputi lebih dari 50 % rumah yang ada

wilayah tersebut, sedangkan 184 rumah lainnya rusak ringan.

Di Teluk Parigi dilaporkan 16 orang tewas tenggelam, dan di

Ampibabo satu orang tewas tersapu gelombang tsunami. Dermaga Pelabuhan

Parigi hanyut, dan menara suar penjaga pantai mengalami rusak berat.

Binatang ternak dan pohon kelapa juga banyak yang hanyut tersapu gelombang

tsunami. Beberapa ruas jalan di daerah Marantale mengalami retak-retak

dengan lebar 50 cm disertai keluar lumpur, bahkan sebuah rumah bergeser

hingga 25 meter, namun daerah Palu mengalami kerusakan ringan. Di daerah

Poso dan Tinombo dirasakan getaran sangat kuat, tetapi tidak menimbulkan

kerusakan.

2.7 Zona Kerentanan Tsunami

Parameter yang digunakan dalam penentuan tingkat kerentanan Kota

Palu terhadap tsunami adalah kepadatan bangunan, jumlah penduduk wanita,

balita, dan manula, serta kepadatan penduduk. Dari parameter tersebut,

diperoleh 4 klasifikasi tingkat kerentanan tsunami di Kota Palu, yaitu

kerentanan rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.

12
Secara umum wilayah Kota Palu termasuk dalam klafisikasi kerentanan

tinggi terhadap tsunami. Wilayah yang mempunyai kerentanan tinggi di Kota

Paluadalah seluas 1190,91 Ha atau ±32,78% dari total wilayah rentan di Kota

Palu. Wilayah dengan kerentanan rendah seluas 1103,20 Ha, wilayah

kerentanan sedang seluas 1076,50 Ha, serta wilayah kerentanan sangat tinggi

seluas 262,61 Ha. Jika dirinci per kategori kecamatan, kecamatan dengan luas

kerentanan rendah terbesar adalah Kecamatan Kecamatan Palu Utara (288,57

Ha), kecamatan dengan luas kerentanan sedang terbesar adalah Kecamatan

Mantikulore (304,61 Ha), kecamatan dengan luas kerentanan tinggi terbesar

adalah Kecamata Mantikulore (359,87 Ha), dan kecamatan dengan luas

kerentanan sangat tinggi terbesar adalah Kecamatan Palu Selatan (179,54 Ha).

Zona Kerentanan Tsunami dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Zona Kerentanan Tsunami Kota Palu (sumber: Rahmat Aris P &

Iwan Rudiarto, 2013).

13
2.8 Konsep tentang stres

Stres menurut (Kozier. B, Erb. G, dan Berman. A, 2011) adalah suatu

kondisi ketika individu berespon terhadap perubahan dalam status keseimbangan

normal. Stres adalah terjadinya perubahan stimulus yang menyebabkan individu

mengalami stres, ketika seseorang mengalami stresor, responnya disebut sebagai

strategi koping, respon koping, atau mekanisme koping.

2.9 Sumber stres

Terdapat banyak sumber stres, yang secara langsung dapat diklasifikasikan

sebagai stresor internal atau external, atau stresor pengembangan atau

situasional. Stresor ini telah berasal dari dalam diri seseorang, sebagai contoh

kangker atau perasaan depresi. Stresor eksternal berasal dari luar individu

sebagai contah, perpindahan ke kota lain, kematian anggota keluarga, bencana

alam, tekanan dari teman sebaya. Stresor perkembangannya terjadi pada waktu

yang dapat diperkirakan sepanjang hidup individu. Pada setiap tahap

perkembangan, tugas tertentu harus dicapai untuk mencegah dan mengurangi

stres.

3.0 Jenis stres

Ditinjau dari penyebabnya, stres dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis

sebagai berikut :

a. Stres fisik, merupakan stres yang disebabkan oleh keadaan fisik, seperti suhu

yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, suara bising, sinar matahari yang

terlalu menyengat, dan lain-lain.

14
b. Stres kimiawi, merupakan stres yang disebabkan oleh pengaruh senyawa

kimia yang terdapat pada obat-obatan, zat beracun asam, basa, faktor hormon

atau gas.

c. Stres mikrobiologis, merupakan stres yang disebabkan oleh kuman, seperti

virus, bakteri, atau parasit.

d. Stres fisiologis, merupakan stres yang disebabkan oleh gangguan fungsi

organ tubuh antara lain gangguan struktur tubuh, fungsi jaringan, organ dan

lain-lain.

e. Stres proses tumbuh kembang, merupakan stres yang disebabkan oleh proses

tumbuh kembang seperti pada masa pubertas, pernikahan, dan pertambahan

usia.

f. Stres pisikologis atau emosional, merupakan stres yang disebabkan oleh

gangguan situasi pisikologis atau ketidak mampuan kondisi pisikologis untuk

menyesuaikan diri, misalnya dalam hubungan interpersonal, sosial budaya,

atau keagamaan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Aris Pratomo, Rahmat., & Rudiarto, Iwan. (2013). Permodelan Tsunami dan
Implikasinya Terhadap Mitigasi Bencana di Kota Palu. Biro Penerbit
Planologi Undip Vol. 9(2):174-18. Diakses 25 Mare
2018(https://www.researchgate.net/publication/317074396_Permodelan_
Tsunami_dan_Implikasinya_Terhadap_Mitigasi_Bencana_di_Kota_Palu
).

Daryono. 2011. “Tataan Tektonik dan Sejarah Kegempaan Palu, Sulawesi


Tengah. Artikel Kebumian. Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika”.Diakses 10 April, pukul 13:44,
(https://www.facebook.com/notes/wwwbmkggoid/tataan-tektonik-dan-
sejarah-kegempaan-palu-sulawesi tengah/494939305788/).

Dikmansyah, Dwi. (2017). Cara Pushidrosal Antisipasi Bencana Tsunami TNI AL


Kembangkan Pangkalan di Teluk Ratai Lampung dan Teluk Palu
Sulawesi Tengah. Diakses 26 Aril 2017, pukul 19:47
(http://www.siagaindonesia.com/171460/cara-pushidrosal-antisipasi-
bencana-tsunami.html).

Ilmu Dasar. (2017). “Tsunami: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Proses”.


Diakses 10 April 2018, pukul 19:24,
(https://www.ilmudasar.com/2017/04/Pengertian-Dampak-Proses-
Terjadi-dan-Penyebab-Tsunami-adalah.html).

Lageni, Nursang., Al Saban, M.I., Tarmizin., Pujiasih, Tri., Belafista., Israwati.


(2015). Tektonik Pulau Sulawesi. Tugas Geologi Indonesia. Diakses 10
April, pukul 13:57, (http://uchanklageni.blogspot.co.id/2015/11/tektonik-
pulau-
sulawesi.html)

Noor, Djauhari. (2014). Pengantar Mitigasi Bencana Geologi


. Yogyakarta: Deepublish.

Carolin. 2011. Gambaran Tingkat Stres Pada Mahasiswa Pendidikan Sarjana


Kedokteran. Skripsi: Tidak dipublikasikan. Medan: Universitas Sumatera

Utara.

16