Anda di halaman 1dari 4

PKMD

1. Definisi
2. ciri-ciri
3. Tujuan
4. Prinsip2
5. Pokok kegiatan PKMD
6. pembinaan PKMD
7. model PKMD

SMD
1. Definisi SMD dan MMD
SMD :
Survei Mawas Diri (SMD) adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan dan pengkajian
masalah kesehatan oleh sekelompok masyarakat setempat dibawah bimbingan petugas
kesehatan di desa/bidan di desa. SMD atau Telaah Mawas Diri (TMD) atau Community
Self Survey (CSS) bertujuan agar pemuka-pemuka masyarakat mampu melakukan telaah
mawas diri untuk desanya. Survey harus dilakukan oleh pemuka-pemuka masyarakat
setempat dengan bimbingan tenaga kesehatan.

MMD :
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) adalah pertemuan perwakilan warga desa beserta
tokoh masyarakatnya dan para petugas untuk membahas hasil Survei Mawas Diri dan
merencanakan penanggulangan masalah kesehatan yang diperoleh dari hasil survei mawas
diri.

2. Langkah2
SMD :
Waktu SMD dilaksanakan sesuai dengan hasil kesepakatan pertemuan tingkat desa.
Sedangkan untuk cara pelaksanaannya dengan melakukan pengumpulan data yang
dilakukan dengan mengunjungi rumah untuk wawancara atau diskusi dengan
kepala/anggota keluarga sekaligus mengamati (observasi) terhadap rumah/tempat-tempat
umum dan lingkungannya. Hal-hal yang perlu dicermati ketika melakukan SMD yaitu
antara lain:
1) Permasalahan kesehatan lingkungan;
2) Perilaku hidup bersih dan sehat;
3) Permasalahan kesehatan ibu dan anak;
4) Status gizi, dan lain-lain.
MMD :
1) Pembukaan dilakukan oleh kepala desa dengan menguraikan tujuan MMD dan
menghimbau seluruh peserta agar aktif mengemukakan pendapat dan pengalaman
sehingga membantu pemecahan masalah yang dihadapi bersama;
2) Perkenalan peserta yang dipimpin oleh kader untuk menimbulkan suasana keakraban;
3) Penyajian hasil survei oleh kader selaku pelaksana SMD;
4) Perumusan dan penentuan prioritas masalah kesehatan atas dasar pengenalan masalah
kesehatan dan hasil SMD dilanjutkan dengan rekomendasi teknis dari petugas
kesehatan di desa/bidan di desa;
5) Menggali potensi dan menemukenali potensi yang ada di masyarakat untuk
memecahkan masalah yang dihadapi;
6) Penyusunan rencana kerja penanggulangan masalah kesehatan yang dipimpin oleh
Kepala Desa;
7) Menyimpulkan hasil MMD berupa penegasan tentang rencana kerja oleh Kepala Desa;
8) Penutup.

3. pelaksana SMD dan MMD


SMD :
Survei Mawas Diri (SMD) dilaksanakan oleh sekelompok warga masyarakat yang telah
ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa. Informasi tentang masalah kesehatan di desa dapat
diperoleh sebanyak mungkin dari Kepala Keluarga (KK) yang bermukim di desa tersebut.

MMD :
MMD harus dihadiri oleh pemuka masyarakat desa, petugas Puskesmas dan sektor terkait
di tingkat kecamatan (Seksi-seksi pemerintahan dan pembangunan, BKKBN, Pertanian,
Agama dan lain-lain).
MMD dilaksanakan di Balai Desa atau tempat pertemuan lain yang ada di desa. MMD
dilaksanakan segera setelah Survei Mawas Diri (SMD) dilaksanakan.

POSYANDU & POSBINDU

1. Definisi posyandu& posbindu


Posbindu :
Wujud peran serta masyarakat yg bersifat promotif dan preventif dalam kegiatan deteksi
dini, monitoring dan tindak lanjut dini faktor resiko PTM secara mandiri dan
berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangkan sbg bentuk kewaspadaan dini terhadap
PTM.
Kelompok PTM utama adalah Hipertensi, diabetes melitus, kanker, penyakit jantung dan
pembuluh darah (PJPD), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan gangguan akibat
kecelakaan dan tindak kekerasan.

2. Tujuan
Tujuan kegiatan posbindu PTM adalah terlaksananya pencegahan dan
pengendalian faktor risiko PTM berbasis peran serta masyarakat secara terpadu, rutin dan
periodik.
Sasaran posbindu PTM cukup luas mencakup semua masyarakat usia 15 tahun
keatas baik dgn kondisi sehat, beresiko maupun masyarakat dgn kasus PTM.
Bagi masyarakat dgn kondisi sehat : utk memberikan penyuluhan dan upaya agar
tidak sampai menjadi masyarakat yg beresiko terkena PTM.
Bagi masyarakat beresiko : utk mengenali faktor resiko PTM yg ada dan upaya
mengurangi jumlah maupun intensitas faktor resiko tsb agar tdk menjadi PTM.
Bagi masyarakat dgn PTM : utk mengontrol dan menjaga kesehatan secara optimal
baik dgn upaya preventif (penyuluhan) dan kuratif melalui sistem rujukan ke puskesmas.

3. Manfaat

4. Strata posyandu
5. sistem 5 meja
6. kegiatan posyandu&posbindu
Posbindu (10 kegiatan pokok)
1) Penggalian informasi faktor resiko dgn wawancara sederhana ttg riwayat PTM pada
keluarga dan diri peserta, saat pertama kali kunjungan dan berkala sebulan sekali.
2) Pengukuran BB, TB, IMT, lingkar perut, analisis lemak tubuh dan TD sebaiknya
dilakukan 1 bulan sekali.
3) Pemeriksaan fungsi paru sederhana, dilakukan 1 tahun sekali bagi yg sehat, 6 bulan
sekali bagi yg beresiko, 1 bulan sekali bagi penderita gangguan paru-paru. Dilakukan
oleh tenaga kesehatan yg telah terlatih.
4) Pemeriksaan gula darah. Bagi individu sehat dilakukan 3 tahun sekali, bagi yg beresiko
minimal 1 tahun sekali, bagi penderita DM minimal 1 bulan sekali.
5) Pemeriksaan kolesterol dan trigliserida. Bagi individu sehat disarankan 5 tahun sekali,
bagi yg beresiko 6 bulan sekali, bagi penderita dislipidemia minimal 3 bulan sekali.
6) Pemeriksaan IVA (inspeksi visual asam asetat) disarankan 1 tahun sekali bagi individu
sehat. Jika IVA negatif dilakukan pemeriksaan ulang 1 tahun setelahnya, jika hasil IVA
positif dilakukan tindakan pengobatan krioterapi.
tugas kader
7) Pemeriksaan kadar alkohol dan tes amfemin urin, khususnya bagi kelompok
pengemudi umum.
8) Konseling dan penyuluhan
9) Kegiatan aktifitas fisik dan atau olahraga bersama
10) Kegiatan rujukan ke fasilitas kesehatan dasar di wilayahnya

7. sasaran posyandu&posbindu
Sasaran posbindu PTM cukup luas mencakup semua masyarakat usia 15 tahun keatas
baik dgn kondisi sehat, beresiko maupun masyarakat dgn kasus PTM.

8. bentuk penugasan kader


Bentuk penugasan kader Posbindu:
1) Koordinator : adlh ketua atau penanggungjawab kegiatan yg akan berkoordinasi dgn
pihak puskesmas utk menangani masyarakat yg butuh bantuan medis lebih lanjut.
2) Kader penggerak : satu dari 5 kader ini adlh anggota yg paling aktif di posbindu serta
yg berpengaruh dan komunikatif utk menggerakkan masyarakat, sekaligus melakukan
wawancara.
3) Kader pemantau : anggota yg aktif dalam melakukan deteksi atau pengukuran faktor
resiko PTM.
4) Kader konselor : sosok yg telah menjadi panutan dalam penerapan gaya hidup sehat,
bertugas melakukan konseling, edukasi, motivasi serta menindaklanjuti rujukan dari
puskesmas.
5) Kader pencatat : anggota yg aktif utk mencatat hasil kegiatan posbindu dan melaporkan
kepada koordinator posbindu PTM.

NAON IYEU
1. Soal aplikasi pengkajian kep komunitas