Anda di halaman 1dari 9

11900014

Centre of Technology Sebagai Model Praktis Industri


Pelayaran Untuk Kompetensi Lulusan Jurusan
Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga Pada Perguruan
Tinggi Vokasi Maritim di Indonesia

Dian Inda Sari


Jurusan Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga (KPN), Akademi Maritim Belawan, Medan 20123

Email : sari.dianinda@gmail.com

ABSTRAK
Masalah yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia pada jurusan Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga
(KPN) di Perguruan Tinggi Maritim saat ini adalah gap kebutuhan industri pelayaran niaga dengan
lulusan yang dihasilkan oleh Institusi yang terkait. Era Industri 4.0 saat ini membuat institusi
pendidikan harus berlari mengejar ketinggalan teknologi dalam proses ajar mengajarnya untuk
menghasilkan lulusan yang berkompeten dan berelevansi kepada dunia industri. Penggunaan
pelayanan online pelayaran niaga dan Inaportnet dalam layanan pelabuhan-pelabuhan besar di
Indonesia, membuat centre of technology (CoT) yang mengskenariokan para mahasiswa berada di
perkantoran industri pelayaran yang berkaitan dengan transportasi laut menjadi begitu penting. CoT
menjadi model praktis industri pelayaran agar mahasiswa mampu menyelesaikan pekerjaan dengan
kinerja yang bermutu sebagai pencapaian pembelajaran yang selanjutnya diharapkan bisa menjadi
wadah yang melatih mahasiswa sebagai sumber daya manusia (SDM) yang mengenal secara
mendalam pekerjaan yang nantinya akan mereka terjuni setelah tamat. CoT adalah reformasi metode
pengajaran yang merubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge yang merupakan aset dari
knowledge management. Dengan demikian gap yang tersebut di atas sebelumnya semakin
diminimalisir.

Kata Kunci

Centre of Technology (CoT), Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga, Industri Pelayaran, Mahasiswa


Maritim

1. PENDAHULUAN

Berbicara tentang institusi pendidikan vokasi transportasi lain yang membentuk


maritim, tentunya juga tidak terlepas dengan transportasi antar moda pun terus digenjot
relevansinya pada doktrin Presiden Joko untuk merealisasi cita-cita tersebut.
Widodo yang mendeklarasikan Indonesia
Sebagai Poros Maritim Dunia dengan konsep Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012
7 (tujuh) Pilar Kebijakan Maritimnya. tentang Kerangka Kualifikasi Nasional
“Mengambil kearifan leluhur kita, saya Indonesia[2], bahwa learning outcomes
melihat laut sebagai peluang, bukan sebagai adalah: “mampu mengembangkan
hambatan.” demikian ungkap beliau [1]. pengetahuan, teknologi, dan/atau seni baru di
Pembangunan sektor transportasi laut dan dalam bidang keilmuannya atau praktek

1427
profesional melalui riset, hingga keilmuannya atau praktek profesional
menghasilkan karya kreatif, original dan melalui riset, hingga menghasilkan karya
teruji; mampu memecahkan permasalahan kreatif, original dan teruji; mampu
ilmu pengetahuian, teknologi dan atau seni di memecahkan permasalahan ilmu
dalam bidang keilmuannya melalui pengetahuian, teknologi dan atau seni di
pendekatan inter, multi dan transdisiplin; dan dalam bidang keilmuannya melalui
mampu mengelola, memimpin, dan pendekatan inter, multi dan transdisiplin;
mengembangkan riset dan pengembangan dan mampu mengelola, memimpin, dan
yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan mengembangkan riset dan pengembangan
kemaslahatan umat manusia, serta mampu yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan
mendapat pengakuan nasional dan kemaslahatan umat manusia, serta mampu
internasional”. mendapat pengakuan nasional dan
internasional.
Sebagai institusi pendidikan maritim,
instutisi harus menyadari fungsinya sebagai Dalam paper ini akan dibahas tentang
wadah untuk menghasilkan SDM yang bagaimana alur pengiriman barang ekspor
kompeten di bidang salah satunya impor melalui transportasi laut yang
Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga (KPN). memiliki kaitan dengan para pelakunya dan
Untuk mewujudkan ini semua, dosen adalah perkembangan teknologi otomatisasi dan
ujung tombak institusi untuk sharing digital di dunia pelayaran mengharuskan
knowledge kepada para mahasiswa agar bisa lulusan KPN sebagai calon-calon SDM
bervisi kepada dunia kerja nyata di bidang industri lentur beradaptasi dengan
yang mereka tekuni. Kemajuan teknologi perubahan ini. Kelenturan ini bisa diciptakan
yang sedemikian pesatnya mengharuskan melalui penggunaan CoT yang merupakan
dosen untuk terus mengupdate kemampuan model praktis industri pelayaran niaga;
dan ilmunya melalui penelitian, pengabdian mahasiswa bukan hanya diberikan dan
masyarakat yang berafiliasi pada industri. menyerap teori (tacit knowledge) namun bisa
menerapkannya langsung dalam bentuk
SDM sangat erat kaitannya dengan dokumen kerja di perusahan yang berkaitan
pengetahuan. Pada hakekatnya, setiap dengan pengiriman (explicit knowledge).
individu memiliki pengetahuan yang Konversi tacit ke explicit ini merupakan aset
tersimpan dalam kepalanya dalam bentuk dalam peningkatan performa mahasiswa
tacit knowledge. Menurut Tobing [3], tacit (knowledge management) di dunia kerja
knowledge adalah pengetahuan yang diam nanti.
dalam kepala manusia dalam bentuk intuisi,
kemampuan, nilai, dan kepercayaan yang
sulit diformalisasikan dan dibagikan kepada
orang lain. Oleh karenanya, tacit knowledge 2.1. ALUR PENGIRIMAN BARANG
perlu ditransformasikan menjadi explicit EKSPOR IMPOR LAUT
knowledge yang mudah dikomunikasikan dan
didokumentasikan. Dokumentasi merupakan Pelayaran adalah satu kesatuan sistem yang
hal yang penting dalam knowledge terdiri atas:
management, karena tanpa dokumentasi
1. Angkutan di perairan,
semuanya akan tetap menjadi tacit 2. Kepelabuhanan,
knowledge sehingga sulit untuk diakses [4]. 3. Keselamatan dan keamanan
pelayaran, serta
Indonesia memiliki masalah dalam
kesenjangan tamatan perguruan tinggi yang 4. Perlindungan lingkungan
tidak selaras dengan kebutuhan dunia kerja. maritim[5].
Perguruan tinggi vokasi adalah salah satu
Semua ini bermula dari adanya pemintaan
cara yang paling efektif untuk meminimalisir
pengiriman barang. Dalam suatu pengiriman
kesenjangan tersebut. Yang kemudian atau pengapalan barang dengan kapal laut
menjadi ujung tombak dari tercapainya terdapat 3 (tiga) pihak yang saling
keselarasan antara produk dunia pendidikan
berhubungan hukum satu sama lain:
dengan kebutuhan dunia kerja adalah dosen
pengajar, bagaimana bisa mampu • Pengirim Barang (shipper), yaitu orang
mengembangkan pengetahuan, teknologi, atau badan hukum yang mempunyai
dan/atau seni baru di dalam bidang muatan kapal untuk dikirim dari suatu

1428
pelabuhan tertentu (pelabuhan Dalam konteks pengiriman barang dengan
pemuatan) untuk diangkut ke pelabuhan container, maka shipper dapat menjemput
tujuan. container kosong di depo peti kemas yang
• Pengangkut barang (carrier), yaitu diunjuk oleh perusahaan carrier, agar shipper
perusahaan pelayaran yang bisa melakukan muat barang ke dalam
melaksanakan pengangkutan barang dari container dan mengirim container yang berisi
pelabuhan muat untuk (full container) kembali ke Depo Peti Kemas
diangkut/disampaikan ke pelabuhan sebelum di kirim ke Container Yard (CY) di
tujuan dengan kapal. pelabuhan .
• Penerima barang (consignee), yaitu
orang atau badan hukum kepada siapa Pengiriman barang sendiri akan diangkut
barang kiriman ditujukan. dengan kapal, dimana ketika kapal akan
bersandar maupun berlayar meninggalkan
Hak dan kewajiban ketiga pihak dalam pelabuhan, pelaksanaan pengurusan
pengapalan diatur oleh perundang-undangan dokumen kapal dilaksanakan melalui agen.
nasional/peraturan pemerintah dan beberapa Setelah kapal bersandar, proses selanjutnya
konvensi internasional yang telah dibentuk adalah pelaksanaan bongkar dan muat
guna mengatur masalah pelayaran, baik segi container yang dilakukan oleh Perusahaan
teknis nautis pelayaran maupun segi Bongkar Muat (PBM).
niaganya.
Pengambilan barang yang telah sampai pada
Selain ketiga pihak tersebut sebelumnya, ada tujuan pengiriman dilaksanakan oleh
pihak lain yang mendukung kelancaran consignee atau pihak ketiga (third party)
pengiriman yang bisa dilihat dari gambar yang mewakili cosignee untuk selanjutnya
berikut: ditempatkan ke gudang akhir.

2.2 PELAKU TRANSPORTASI LAUT

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya,


pengiriman barang melalui angkutan laut
bermula dari adanya pemintaan pengirimana
barang dari shipper yang menggunakan jasa
carrier agar barang yang dikirim sampai ke
tangan pemilik cosignee. Selain ketiga pihak
tersebut, ada pihak lain yang mendukung
kelancaran pengiriman yang disebut sebagai
pelaku industri pelayaran. Adapun pelaku-
pelaku dalam industri pelayaran adalah:
• Jasa / Perusahaan pelayaran
• Asuransi
• Unit Penyelenggara Pelabuhan
(Port Operator)
• Badan Usaha Pelabuhan
Gambar 1. Alur Pengiriman Barang dan
• Otoritas Pelabuhan (Port Authority)
Dokumennya
• Syahbandar
Jika pemilik barang (shipper) ingin mengirim • Bea Cukai
barang, shipper harus melakukan reservasi • Karantina
(pemesanan) ke Perusahaan Pelayaran. Pada • Imigrasi
dasarnya permintaan pemesanan harus • Kesehatan Pelabuhan
diinformasikan melalui e-mail. Namun,
dalam kasus pemesanan darurat, pemesan Selain jasa/perusahaan pelayaran yang
dapat memesan melalui chat LINE atau merupakan milik swasta, pelaku dalam
telepon, selanjutnya shipper harus mengirim industri pelayaran lainnya merupakan
permintaan resmi melalui email dan BUMN dan Instansi Pemerintah.
pelaksanaannya melalui aplikasi online
perusahaan. Jasa/perusahaan pelayaran adalah badan
usaha/persero yang usahanya bergerak dalam

1429
industri pelayaran. Adapun jenis jasa yang dunia pelayaran. Saat ini transformasi digital
ditawarkan dari perusahaan-perusahaan ini dalam dunia pelayaran yang terjadi di
adalah: Indonesia adalah penerapan sistem online
1. Jasa pelayaran pada pelayanan pelayaran niaga dan aplikasi
2. Bongkar muat barang; Inaportnet di pelabuhan dan otomatisasi
3. Jasa pengurusan transportasi; kapal dalam pelayaran dunia.
4. Angkutan perairan pelabuhan;
5. Penyewaan peralatan angkutan laut Inaportnet merupakan portal yang
atau peralatan jasa terkait dengan terintegrasi (pelayanan satu pintu) dalam
angkutan laut; pelayanan dan perizinan (clearance) dari
6. Tally mandiri; setiap instansi terkait/pelaku industri
7. Depo peti kemas; pelayaran (OGA) dalam pelayanan
8. Pengelolaan kapal (ship management); pelabuhan. Inaportnet sendiri bertujuan
9. Perantara jual beli dan/atau sewa kapal untuk meningkatkan kinerja pelabuhan di
(ship broker); Indonesia dalam mendorong percepatan
10. Keagenan Awak Kapal (ship manning proses clearance dengan penyederhanaan
agency); pengiriman dokumen melalui satu gateway
11. Keagenan kapal; dan portal yang terkoneksi internet dan bisa
12. Perawatan dan perbaikan kapal (ship diakses dengan mudah oleh pihak pelayaran
repairing and maintenance). niaga yang terkait dalam transaksi. Setiap
OGA melakukan transaksi clearance sesuai
Berkenaan dengan pengiriman barang dengan kewenangan yang dipusatkan dalam
melalui transportasi laut, dikenal sebutan satu aplikasi (Centralized Clearance
Pelayaran Niaga. Pelayaran Niaga Processing) serta dalam satu dokumen
merupakan kegiatan angkutan laut yang aplikasi (Port Single Administration
mempunyai nilai komersil untuk proses Documant/PSAD) [6].
pemindahan penumpang atau barang
menggunakan sarana kapal. Pelayaran Niaga 2.4. TACIT KONOWLEDGE, EXPLICIT
terdiri dari 2 (dua) macam yaitu: KNOWLEDGE DAN KNOWLEDGE
1. National domestic: Pelayaran yang MANAGEMENT.
masih dalam batas – batas teritorial suatu
Negara. Pengetahuan individu akan berbeda dengan
2. International/ocean going: Pelayaran pengetahuan yang dihasilkan oleh orang
antar 2 (dua) atau lebih Negara. lain jika konteksnya tidak sama [7]. Ada
berbagai jenis pengetahuan tergantung pada
Bagi dunia perdagangan pada umumnya, kompleksitasnya. Rennie [8] membagi
khususnya perdagangan internasional, pengetahuan menjadi lima perspektif yang
pelayaran niaga memegang peranan yang berbeda; "know-why (tahu-mengapa)" yang
sangat penting dan hampir semua barang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah
ekspor dan impor diangkut dengan kapal tentang prinsip dan hukum alam, "know-how
laut. (tahu-bagaimana)" yang berkaitan dengan
keterampilan atau kemampuan, "know-where
2.3. INAPORT SYSTEM PADA LAYANAN (tahu-dimana)" yang berkaitan dengan
PELABUHAN kemampuan untuk menemukan informasi
yang benar, "know-what (tahu-apa)" yang
Industri transportasi maritim telah berkaitan dengan akumulasi fakta, "know-
mengalami perubahan yang luar biasa dalam when (tahu-kapan)" yang berkaitan dengan
tahun-tahun terakhir ini. Teknologi baru telah waktu dan "know-who (tahu-siapa)" yang
diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi berkaitan dengan informasi tentang siapa
operasional dan manajemen, sementara yang tahu apa". Tetapi klasifikasi
globalisasi telah memunculkan lingkungan pengetahuan yang paling banyak digunakan
bisnis yang kompetitif seiring dengan dan diterima adalah dari Polanyi [9] yang
meningkatnya permintaan akan transportasi mengklasifikasikan pengetahuan sebagai
maritim. tacit dan exsplisit. Klasifikasi pengetahuan
ini didasarkan pada tingkat kerumitannya
Perubahan drastis ini menyebabkan pada rangkaian pengetahuan [10].
berubahnya pola manual dalam pelayanan
menuju pola digital dalam satu atap dalam

1430
Explist konowledge adalah pengetahuan untuk diartikulasikan; pengetahuan yang
yang objektif dan rasional, dapat tersimpan dalam pikiran orang-orang).
diekspresikan dalam kata-kata, kalimat, Langkah-langkah kunci dalam proses KM
dapat dibagi dalam bentuk data, spesifikasi, meliputi: menghasilkan pengetahuan baru;
manual, dan sejenisnya. Pengetahuan ini mengakses pengetahuan berharga dari
dapat disebarluaskan kepada orang lain sumber luar; menggunakan pengetahuan
secara formal dan sistematis. Tacit yang dapat diakses dalam pengambilan
knowledge adalah pengetahuan yang keputusan; menanamkan pengetahuan dalam
subjektif, pribadi dan eksperimental, tidak proses, produk dan / atau layanan; mewakili
dapat diungkapkan dalam kata-kata, kalimat, pengetahuan dalam dokumen, database, dan
atau formula. Wawasan subyektif, intuisi, perangkat lunak; memfasilitasi pertumbuhan
firasat termasuk dalam kategori pengetahuan pengetahuan melalui budaya dan insentif;
ini. Tacit berakar pada tindakan, mentransfer pengetahuan yang ada ke
pengalaman, ideologi, nilai-nilai, dan emosi bagian lain dari organisasi; dan mengukur
seseorang [11]. Dengan demikian Tacit nilai aset pengetahuan dan / atau dampak
adalah pengetahuan yang masih terpendam KM [13], [14]. KM telah diadopsi di
di dalam pikiran manusia. sejumlah besar sektor dan organisasi,
perguruan tinggi dan universitas, dan sektor
Biasanya tacit knowledge susah pendidikan tinggi pada umumnya, namun
dikomunikasikan dan sulit untuk belum memanfaatkan sepenuhnya KM [15].
diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih
terstruktur seperti explicit knowledge. Untuk memanfaatkan KM sepenuhnya perlu
Namun, tacit knowledge dapat dikodefikasi dilakukan reformasi perguruan tinggi karena
sehingga dapat dijadikan explicit reformasi perguruan tinggi dapat dilihat
knowledge. Pengubahan ini dari tacit sebagai inovasi sistemik dalam KM [16].
knowledge menjadi explicit knowledge Agar perguruan tinggi menjadi organisasi
adalah melalui proses training atau yang lebih efektif, dosen perlu memahami
mendapatkan melalui pengalaman yang dan membantu menentukan tujuan dan
dimiliki seseorang. standar administrasi dan kurikulum. Dosen
butuh dorongan dan dukungan untuk berbagi
Tacit knowledge dan explicit knowledge sumber daya kelas dan pengetahuan
memiliki hubungan yang dapat dianalogikan profesional. Dosen harus mengasumsikan
dalam bentuk gunung es [12], seperti yang akuntabilitas yang lebih besar kepada
terlihat dalam gambar berikut: mahasiswa, dosen lain, dan masyarakat di
luar institusi. Reformasi perguruan tinggi,
yang dipandang sebagai KM, tentu saja
memerlukan dukungan kebijakan top-down,
infrastruktur teknologi, dan ekspektasi
kinerja [17].

3. DISKUSI

Sistem transportasi internasional di Indonesia


dituntut untuk terus bertumbuh sejalan
dengan tuntutan perdagangan internasional
Gambar 2. Gunung Es Tacit dan Explicit dan globalisasi produksi dan konsumsi sejak
Knowledge kontainer dan transportasi intermoda telah
berhasil meningkatkan efisiensi distribusi
Knowledge management (KM) merupakan global. Ini adalah akibat dari pertumbuhan
pendekatan kolaboratif dan terintegrasi yang kontaninerisasi yang membuat pangsa kargo
diadopsi di seluruh organisasi untuk umum bergerak secara global. Dua moda
memastikan bahwa aset pengetahuan transportasi secara khusus mendukung
organisasi digunakan untuk meningkatkan globalisasi dan perdagangan internasional
kinerja organisasi. Aset pengetahuan ini adalah; transportasi maritim dan udara.
termasuk aset yang ada dalam bentuk explicit
(dokumen, buku, laporan, halaman web, dan
lain sebagainya), serta aset dalam tacit (sulit

1431
Sebagaimana telah diketahui bahwa sekitar adalah kompetensi lulusan yang dihasilkan
80% perdagangan dunia dilakukan oleh oleh lembaga pendidikan masih jauh dari
angkutan maritim [18]. Sebagian besar standar kompetensi yang ditetapkan oleh
perdagangan ditangani oleh kontainer besar industri. Tenaga kerja yang qualified dan
yang menghubungkan produsen dan certified sulit diperoleh oleh sebagian
konsumen sepanjang jalur pelayaran. besar industri. Sehingga seringkali
Globalisasi telah didukung dan dikembagkan kalangan industri masih membutuhkan
oleh pembangunan sistem transportasi biaya besar dan mengalokasikan waktu
modern, dari container besar hingga yang cukup lama untuk program training
pengiriman kecil bisa terhubung ke seluruh guna menyetarakan kompetensi tenaga kerja
sistem distribusi dan telah terintegrasi dengan baru (fresh graduated) dengan sistem kerja
kegiatan manufaktur dengan pasar global. yang ada di industri [21]. Hal ini juga berlaku
pada penggunaan SDM institusi sekolah
Pertumbuhan globalisasi angkutan laut ini maritim di dunia industri pelayaran.
sendiri tentunya tidak terlepas dari pengaruh
revolusi industri 4.0 yang bermula dari Di era globalisasi dan tingginya velositas
peralihan abad yang dibangun di atas revolusi menuntut pengelolaan sumber daya yang
digital. Industri 4.0 sendiri menjadi ada dengan tepat, terutama sumber daya
sedemikian berkembangnya dan terintegrasi yang terbarukan (renewable) yaitu
sehingga mengubah masyarakat dan keterampilan dan keahlian tenaga kerja agar
perekonomian global dan dampaknya tetap selaras dengan kemajuan teknologi
terhadap otomatisasi dan penciptaan hal-hal yang sangat cepat dan perubahan pasar.
yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam Hal ini menuntut departemen sumber daya
menghadapi industri 4.0 ini secara khusus manusia di perusahaan untuk mampu
dihimbau kepada para pemimpin dan mengelola SDM di perusahaan dengan
penduduk dunia untuk "bersama membentuk baik sehingga kontinuitas dan ketepatan
masa depan yang bekerja untuk semua produksi terjamin. Output lembaga
dengan mengutamakan orang, pendidikan yang sesuai kebutuhan industri
memberdayakan mereka dan terus-menerus hanya akan terwujud jika pelaksanaan
mengingatkan diri kita bahwa semua pendidikan dipacu oleh industri dan
teknologi baru ini adalah alat pertama dan industri hanya akan eksis jika didukung
terpenting yang dibuat oleh orang-orang ketersediaan SDM yang berkualitas dari
untuk orang-orang." [19] lembaga pendidikan [22].

Transportasi adalah salah satu dari empat Sebagai sekolah vokasi, institusi sekolah
pilar globalisasi. Bersama dengan maritim harus bisa menselaraskan kebutuhan
telekomunikasi, liberalisasi perdagangan dan dunia industri marritim yang saat ini terpusat
standardisasi internasional [20]. Saat ini pada jasa pelabuhanan yang telah
otomatisasi dan digitalisasi dalam jasa mengadopsi proses digital dalam setiap
pelayaran angkutan laut telah sedemikian transaksi yang berkaitan dengan pengirimana
pesatnya. Penanganan manual secara pasti barang melalui angkutan laut. Penggunaan
telah beralih kepada sistem online. Inaportnet di pelabuhan-pelabuhan besar di
Otomatisasi kapal dan pelabuhan yang Indonesia membuat perkerjaan manual telah
dikenal sebagai smart vessel dan smart port tergantikan dengan proses digital. Akibatnya
sudah dikembangkan bahkan di Negara dulunya dalam pengurusan pekerjaan manual
terdekat kita Singapura. membutuhkan SDM tertentu saat ini telah
terganti dengan sistem aplikasi online.
Dengan demikian sudah tidak bisa ditawar
lagi bahwa pengembangan sumber daya Dalam perguruan tinggi vokasi, jurusan yang
manusia (SDM) yang berkompetensi pada menghasilkan lulusan SDM yang menangani
revolusi industri 4.0 harus bisa dihasilkan transaksi dan proses dokumen yang berkaitan
oleh institusi pendidikan karena institusi dengan industri pelayaran niaga adalah
pendidikan merupakan sumber utama dalam program studi (prodi)/jurusan
penyediaan tenaga kerja yang kompeten di Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga (KPN) atau
pasar kerja. sejenisnya.
Untuk meminimalisir gap antara kebutuhan
Kritik tajam yang selalu dilontarkan oleh industri pelayaran niaga dengan lulusan yang
para pengguna lulusan lembaga pendidikan dihasilkan oleh prodi KPN adalah dengan

1432
pembangunan Centre of Technology (CoT). menggunakan pemanfaatan container bekas.
CoT merupakan model praktis industri Pemanfaatan bagunan berupa container ini
pelayaran niaga. CoT dimaksudkan untuk juga selain mencerminkan kreativitas, juga
mentransformasikan teori pelaksanaan identik dengan jasa pelayaran pengiriman
pekerjaan yang berkaitan dengan dokumen barang. CoT membentuk ruang kantor yang
yang manual dan teoritis pada Gambar 1 juga bisa menjadi ruang kelas bagi
menjadi suatu laboratorium digital yang mahasiswa yang melaksanakan pembelajaran
memproses pelayanan pelanggan yang dokumen dari proses permohonan
berkaitan dengan proses stevedoring, pengiriman hingga barang diterima oleh
cargodoring, receiving/delivery muatan pemilik barang.
kapal dengan rincian proses dan kegiatan
berikut: CoT sendiri juga bertujuan untuk
meningkatkan kinerja mahasiswa dalam
1. Proses Permohonan dan Proses mendorong percepatan penyerapan ilmu
Pengiriman Barang teori-teori ketatalaksanaan pelayaran niaga
2. Proses Penanganan Kontainer di Depo dengan penyederhanaan proses dokumen
3. Proses Pelayanan Kapal Masuk pelayaran niaga yang terkait dalam transaksi.
4. Proses Bongkar Muat Setiap proses aktifitas dilakukan sesuai
5. Proses Kapal Keluar dengan kewenangan dari pihak-pihak yang
6. Proses Pengambilan Barang terkait dalam satu aplikasi.

Dengan adanya pembangunan CoT ini, Setiap mahasiswa diberikan peran baik
mahasiswa disekenariokan dapat melakukan sebagai pemilik container, perusahaan
proses-proses di atas melalui aplikasi digital carrier, depo peti kemas, agen, bongkar muat
yang terkoneksi dengan internet yang dan juga consignee selama satu semester
disesuaikan dengan aplikasi online melalui praktek yang difasilitasi oleh
perusahaan pelayaran dan inaportnet. program aplikasi yang berisikan alur
pengiriman barang dan dokumen-dokumen
CoT pada jurusan KPN ini berkaitan erat umum yang dibutuhkan untuk terlaksananya
dengan bahwa integrasi teknologi saat ini pengiriman barang itu dengan lancar.
telah melalui inovasi dan mengubah
masyarakat kita sehingga mengubah cara Program aplikasi sendiri di desain
orang berpikir, bekerja dan hidup [23]. berdasarkan dokumen-dokumen yang
Akibatnya institusi perguruan tinggi berlaku umum di industri pelayaran niaga.
seharusnya mempersiapkan mahasiswanya
Dampak positif dari teknologi tidak datang
untuk hidup dalam "masyarakat
secara otomatis; banyak tergantung pada
pengetahuan" yang berbasis teknologi
bagaimana dosen menggunakan TIK (ICT) di
informasi digital/ Teknologi Informasi
kelas mereka [25]. Dalam implementasi CoT
Komunikasi (TIK/ICT) dalam kurikulumnya
ini, dosen dituntut untuk menjadi trainer dan
[24].
juga mentor yang membagun kapasitas kerja
CoT merupakan tempat pembelajaran mahasiswa, mengawasi jalannya praktek
berbasis TIK bagi mahasiswa untuk mata kuliah dan memberikan pemaparan
melakukan praktek langsung proses mengapa pekerjaan dan dokumen yang
dokumen-dokumen pengiriman yang dikerjakan harus ada dalam pelaksanaan
sebelumnya di atas telah dibagi dalam enam kerja.
proses skenario pekerjaan praktek. Tujuan
Hal ini begitu penting karena dalam
dari pembelajaran praktek yang hendak
pelaksanaan pembelajaran teori, pengetahuan
dicapai jurusan adalah bahwa mahasiswa bisa
yang diserap oleh mahasiswa akan tersimpan
terlatih dalam penginputan data online yang
(tacit) dengan adanya praktek pembelajran
diskemakan terintegrasi (pelayanan satu
melalui program aplikasi digital di CoT,
pintu) dalam pelayanan dan perizinan
maka pengetahuan tacit tadi akan dirubah
(clearance) dari setiap instansi terkait/pelaku
dalam bentuk data, informasi, dokumen dan
industri pelayaran (OGA) dalam pelayanan
file pelayaran niaga yang membantu
pelabuhan dan pelayaran niaga.
mahasiswa dalam meningkatkan
Pembangunan CoT ini bisa menggunakan kompetensinya. Tahap selanjutnya dari
ruangan ataupun memanfaatkan lahan yang praktek kerja tersebut, mahasiswa diharapkan
belum terpakai di halaman kampus dengan bisa memberikan nilai tambah yang bisa

1433
berupa menghasilkan pengetahuan baru; tacit tadi akan dirubah dalam bentuk data,
menggunakan pengetahuan yang dapat informasi, dokumen dan file yang membantu
diakses dalam pengambilan keputusan; mahasiswa dalam meningkatkan
menanamkan pengetahuan dalam proses, kompetensinya (explicit knowledge).
produk dan / atau layanan; mewakili Reformasi pengajaran ini yang dipandang
pengetahuan dalam dokumen, database, dan sebagai KM yang berefek pada peningkatan
perangkat lunak yang merupakan knowledge kinerja mahasiswa setelah mereka tamat
management. Dengan demikian mahasiswa nanti.
dapat menjadi profesional yang memiliki
kompetensi yang berelevansi dengan dunia
kerja industri pelayaran dan gap antara
institusi pendidikan dan dunia industri DAFTAR PUSTAKA
pelayaran semakin minimal dan
1. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia,
terperbaharukan dalam pengalaman maupun
(2014). “Presiden Jokowi Jelaskan Konsep
teknologi. Sebenarnya Tol Laut”, 2014. Diakses dari
http://setkab.go.id/presiden-jokowi-jelaskan-
konsep-sebenarnya-tol-laut/
4. KESIMPULAN 2. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012
tentang Kerangka Kualifikasi Nasional
Kesenjangan antara dunia pendidikan vokasi Indonesia
3. Tobing, Paul L., “Knowledge Management:
maritim sebagai sumber utama penghasil Konsep, Arsitektur dan Implementasi”,
SDM industri pelayaran adalah bahwa Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.
institusi pendidikan belum bisa menghasilkan 4. Setiarso, Bambang dkk., “Penerapan
lulusan yang selaras dengan kebutuhan Knowlegde Management pada Organisasi”
industri pelayaran. Padahal pendidikan Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012.
vokasi dapat berperan maksimal dalam 5. UU RI No. 17 Tahun 2008 Tentang
pembangunan ekonomi jika keselarasannya Pelayaran
dengan dunia kerja di sekitarnya diupayakan 6. www.inaportnet.insw.go.id
secara terus-menerus, baik secara kuantitas 7. Olomolaiye, Anthony & Egbu, Charles,
“Tacit Vs. Explicit Knowledge – The Current
maupun kualitas. Era industri 4.0 saat ini Approaches To Knowledge Management”,
membuat industri pelayaran berubah dari Diakses dari
manual menuju digital dan bahkan http://www.irbnet.de/daten/iconda/CIB1068
otomatisasi. Pelayanan pengiriman barang 2.pdf
dan pelabuhan sudah berbasis online dan satu 8. Rennie, M., “Accounting for Knowledge
atap dalam rangka efektifitas dan efisiensi Assets: Do We Need A New Financial
biaya pengiriman untuk menuju daya saing Statement?”, International Journal of
yang berkesinambungan. Untuk memangkas Technology Management. Vol. 18 (6), 1999,
kesenjangan SDM yang dihasilkan oleh pp. 648-659.
9. Polanyi, M., “Personal knowledge: Towards
sekolah vokasi kemaritiman jurusan KPN, A Post-Critical Philosophy”, Chicago:
CoT yang menjadi wadah praktek mahasiswa University of Chicago Press, 1958.
yang diskenariokan melakukan operasi 10. Koulopoulos, T. M. and Frappaolo, C.,
pelayanan permohonan dan proses “Smart Things to Know About Knowledge
pengiriman barang; proses penanganan Management”, Oxford: Capstone
kontainer di depo; proses pelayanan kapal Publishing, 1999.
masuk; proses bongkar muat; proses kapal 11. Nonaka, I. and Konno, N., ”The Concept
keluar dan proses pengambilan barang yang of BA: Building a Foundation for
dilaksanakan secara berurutan menjadi unsur Knowledge Creation”, California
Management Review, California 1998, pp.
penting dalam menunjang pengajaran di 40-55.
perkuliahan. CoT merupakan reformasi 12. Khoe Yao Tung, “Memahami Knowledge
pengajaran perguruan tinggi yang bersifat Management”, Penerbit Indeks, Jakarta,
inovasi sistemik. Agar tujuan ini terlaksana 2018.
lebih efektif, peranan dosen menjadi kunci 13. Ruggles, R., & Holtshouse, D., “The
utama dalam memahami dan menentukan Knowledge Advantage”, Dover, NH:
tujuan dan standar administrasi dan Capstone Publishers, 1999.
kurikulum praktek sehingga pengetahuan 14. Dalkir, K., “Knowledge Management in
mahasiswa yang tersimpan (tacit) dengan Theory and Practice”, Second Edition,
Cambridge, MA: The MIT Press, 2011.
adanya praktek pembelajaran melalui 15. N. K. Agarwal & L. N. Marouf,
program aplikasi di CoT, maka pengetahuan

1434
“International Journal of Knowledge
Content Development & Technology”
Vol.4, No.2, 67-95, December, 2014.
16. Hargreaves, D. H., “The Knowledge-
Creating School”, British Journal of
Educational Studies 47(2), 1999, pp. 122-44.
17. J.M. Carroll, C.W. Choo, D.R. Dunlap, P.L.,
Isenhour, S.T. Kerr, A. MacLean & M.B.
Rosson, “Knowledge Management Support
for Teachers”, Diakses dari
http://choo.ischool.utoronto.ca/FIS/ResPub/
ETRD/KM4T.pdf
18. UNCTAD, Review of Maritime Transport
2017, ISBN 978-92-1-112922-9, United
Nations, New York and Geneva, 2017.
19. Klaus Schwab, “The Fourth Industrial
Revolution”, Crown Publishing Group New
York, NY, USA, 2017.
20. Jan Hoffmann and Shashi Kumar,
“Globalisation – The Maritime Nexus, The
Hand Book of Maritime Economicand
Business”, 2nd Edition, Lloyd's List, London,
2010.
21. Noor Fitrihana, “Urgensi Sharing
Sumberdaya Antara Dunia Industri Dan
Pendidikan Dalam Pengembangan SDM
Berdaya Saing Global”, Diakses dari
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/13229
7145/URGENSI%20SHARING%20SUMBE
RDAYA%20makalah%20konaspi.pdf
22. Hendra Suryono, ”Griya Pelatihan
APAC”.PT. Apac Inti Corpora. Semarang,
2001.
23. Grabe, M., & Grabe, C., “Integrating
Technology for Meaningful Learning”, 5th
edition,. Boston, MA: Houghton Mifflin,
2007.
24. Ghavifekr, S., Afshari, M., & Amla Salleh,
“Management Strategies for E-Learning
System as The Core Component of Systemic
Change: A Qualitative Analysis”, Life
Science Journal, 2012, 9(3), pp. 2190-2196.
25. Bransford, J., Brown, A., & Cocking, R.,
“How People Learn: Brain,Mind,
Experience, And School”, Washington, DC:
National Academic Press, 2000.

1435