Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

AKUNTANSI KEPERILAKUAN
“KONSEP KEPERILAKUAN DARI PSIKOLOGI
DAN PSIKOLOGI SOSIAL”

DI SUSUN
OLEH
KELOMPOK 3:

LA ODE ABDUL RAHMAT B1C1 18 137


MIFTA IMEL AZZAHRA B1C1 18 138
WA ODE ROSMILASARI B1C1 18 139
SITTI MUNAWARTI B1C1 18 140
RHEXY FEBRIAN B1C1 18 142
AFIFAH USWATUN HASANAH B1C1 18 143
NIKA ARIYANTI B1C1 18 144
FANNY SRY RAHAYU SINTHA B1C1 18 145
SARTIKA B1C1 18 146
EVA SRI WULANDARI B1C1 18 201

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Rahmat Allah SWT yang telah memberikan kami nikmat atas ilmu yang
sangat bermanfaat. Di tahap ini kami telah menyelesaikan tugas mata kuliah AKUNTANSI
KEPERILAKUAN dengan baik, dengan materi yang telah di berikan yaitu mengenai “KONSEP
KEPERILAKUAN DARI PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI SOSIAL”. Makalah ini telah kami
buat dalam memenuhi tugas yang telah di berikan.
Dalam penulisan makalah ini akan ada banyak kesalahan maupun kekurangan, yang telah
di lakukan secara sengaja ataupun ketidaktahuan, mohon maaf apabila terjadi ketidaknyamanan
dalam makalah ini.
Kami sangat berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kami
(mahasiswa) untuk menambah motivasi dalam meningkatkan kualitas dalam kehidupan.

Kendari , November 2019


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................

KATA PENGHANTAR...............................................................................................

BAB I...............................................................................................................................
PENDAHULUAN...........................................................................................................
1. Latar Belakang...............................................................................................
2. Rumusan Masalah..........................................................................................
3. Tujuan............................................................................................................

BAB II.............................................................................................................................
PEMBAHASAN.............................................................................................................
1. SIKAP...........................................................................................................
2. MOTIVASI...................................................................................................
3. PERSEPSI.....................................................................................................
4. PEMBELAJARAN.......................................................................................
5. KEPRIBADIAN...........................................................................................

BAB III...........................................................................................................................
PENUTUP......................................................................................................................
Kesimpulan
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Beberapa riset akuntansi mulai mencoba menghubungkan dan menganggap penting untuk
memasukkan aspek keperilakuan dalam akuntansi. Akuntansi keperilakuan berada di balik peran
akuntansi tradisional yang berarti mengumpulkan, mengukur, mencatat dan melaporkan informasi
keuangan. Dengan demikian, dimensi akuntansi berkaitan dengan perilaku manusia.
Akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) adalah cabang akuntansi yang mempelajari
hubungan antara perilaku manusia dengan system akuntansi. Adapun perbedaan dan persamaan ilmu
keperilakuan dan akuntansi keperilakuan yaitu Ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu social,
sedangkan akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan pengetahuan keperilakuan.
Namun ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan sama-sama menggunakan prinsip sosiologi dan
psikologi untuk menilai dan memecahkan permasalahan organisasi.
Konsep keprilakuan dari psikologi dan psikologi social ini adalah bertujuan untuk memberikan
pengakuan terhadap beberapa aspek perilaku dari akuntansi. Ketiga hal tersebut, yaitu psikologi, sosiologi
dan psikologi sosial yang menjadi kontribusi utama dari ilmu keperilakuan. Ketiganya melakukan
pencarian untuk menguraikan dan menjelaskan perilaku manusia, walaupun secara keseluruhan mereka
memiliki perspektif yang berbeda mengenai kondisi manusia. terutama merasa tertarik dengan bagaimana
cara individu bertindak.
 Psikologi, merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha mengukur, menjelaskan dan kadang
mengubah perilaku manusia. Para psikolog memfokuskan perhatiannya pada perilaku individual.
 Sosiologi mempelajari tentang hubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya.
 Psikologi sosial, adalah suatu bidang dalam psikologi, tetapi memadukan konsep-konsep baik
dari psikologi maupun sosiologi yang memusatkan perhatian pada perilaku kelompok sosial.
Penekanan keduanya adalah pada interaksi antara orang-orang dan bukan pada rangsangan fisik.
Pada materi ini kita akan fokus membahas perubahan faktor sosiologi ke factor psikologi dan psikologi
sosial. Faktor ini meliputi sikap, motivasi, persepsi, pembelajaran dan kepribadian.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan SIKAP dan apa yang terdapat di dalam Komponen-komponen sikap?
2. Apa yang di maksud dengan MOTIVASI?
3. Apa yang di maksud dengan PERSEPSI?
4. Apa yang di maksud dengan Pembelajaran?
5. Apa yang di maksud dengan Kepribadian?

C. Tujuan
Agar dapat mengerti pentingnya aspek keperilakuan dalam di akuntansi, sehingga kita dapat
mengetahui pentingnya hubungan antara perilaku manusia dengan system akuntansi. Yang memuat
prinsip Sosiologi dan psikologi sosial yang bermanfaat dalam menilai dan memecahkan permasalahan
di dalam suatu organisasi.
BAB 2
PEMBAHASAN

1. SIKAP/PERILAKU
Sikap adalah suatu hal mengenai kecenderunagn bereaksi baik dengan cara yang
menguntungkan maupun tidak menguntungkan secara konsisten pada orang, objek,
ide/gagasan, atau situasi. Istilah objek sikap digunakan untuk menggabungkan seluruh objek
terhadap seseorang yang mungkin bereaksi. Sikap dipelajari, dibangun dengan baik, dan sulit
untuk diubah. Seseorang belajar tentang/ mendapat sikap dari pengalaman pribadi, orang tua,
teman sebaya, dan kelompok social.
Komponen Sikap
Sikap memiliki komponen kognitif, emosional, dan perilaku. Komponen kognitif
disempurnakan dari gagasan, pandangan, dan kepercayaan salah satunya mengenai objek sikap
komponen emosional atau afektif mengarah pada perasaan terhadap objek sikap. Perasaan positif
meliputi rasa suka, hormat, atau empati. Perasaan negative termasuk rasa tidak suka, rasa takut, atau
benci. Komponen keperilaku mengarah pada bagaimana seseorang bereaksi terhadap objek sikap.
a. Kepercayaan, Pendapat, Nilai, Dan Kebiasaan
Yang berhubungan dekat dengan sikap adalah konsep kepercayaan, pendapat, nilai,
dan kebiasaan. Secara luas, kepercayan mungkin didefenisikan sebagai komponen kognitif
atas sikap. Kepercayaan mungkin didasarkan pada dugaan bukti ilmiah, atas prasangka atau
sebaih intuisi.
Opini atau pendapat kadang-kadang didefenisikan sebagai sinonim untuk sikap dan
kepercayaan. Secara umum, opini dipandang sebagai konsep yang lebih sempit dari sikap.
Seperti halnya kepercayaan, pendapat dihubungkan dengan komponen kognitif atas sikap
dan dikaitkan dengan bagaimana seseorang menilai atau mengevaluasi sebuah objek.
Nilai adalah sasaran hidup yang penting dan standar keperilakuan. Nilai adalah dan
perasaan dasar yang mana orang-orang mengorientasikan diri mereka ke arah sasaran yang
lebih tinggi dan mereka membedakan apa yang bermanfaat dan indah dari apa yang jorok
dan tidak sopan. Nilai ini akan mempengaruhi sikap dan perilaku dimana pola yang tanpa
disadari, otomatis, dan berulang dari tanggapan perilaku. (Siegel;1989:29)
b. Fungsi Sikap
Sikap memberikan empat fungsi utama :
1. Pemahaman/pengetahuan/fungsi membantu seseorang memberi arti, menyusun
pengertian dari, informasi atau kejadian baru.
2. Kebutuhan akan kepuasan. Misalnya, orang cenderung untuk membentuk sikap positif
terhadap objek saat memperoleh apa yang mereka inginkan dan bersifat negative
terhadap objek saat dihalangi untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
3. Pembelaan diri melalui pengembangan atau perubahan untuk melindungi orang dari
dasar pengakuan kebenaran tentang diri mereka atau dunia.
4. Ekspresi nilai, orang-orang memperoleh kepuasan dengan mengekspresikan diri mereka
melalui sikapnya.
c. Pembentukan dan Perubahan Sikap.
Pembentukan sikap mengarah pada pengembangan sebuah sikap terhadap sebuah objek
ketika tidak terdapat sikap sebelumnya. Perubahan sikap mengarah pada penggantian sebuah
sikap yang telah ada sebelumnya dengan sikap baru. Sikap terbentuk atas dasar factor
psikologi, pribadi/personal, dan sosial
d. Teori Perubahan Sikap
Teori perubahan sikap membantu kita memperkirakan permohonan apa yang paling efektif,
yang mana sikap kemungkinan besar berubah sebagai hasil dari permohonan, dan dalam
keadaan tersebut yang mana sebuah permohonan tidak menjadi efektif. Kita harus
mengingat bahwa sikap mungkin berubah tanpa dorongan dari luar. Sebagai contoh, jika
seseorang diarahkan terhadap informasi baru mengenai objek, maka perubahan sikap
mungkin dihasilkan. Karyawan yang setia yang mempelajari bahwa karyawan keuangan
puncak perusahaan telah menggelapkan dana untuk beberapa tahun yang lalu mungkin
mengubah kecenderungannya terhadap perusahaan, eksekutif perusahaan secara umum, dan
pekerjaannya sendiri.
 Teori Stimulus-Respon dan Penguatan
Teori stimulus-respon dan penguatan atas perubahan sikap fokus pada bagaimana
seseorang menanggapi stimulus khusus. Penempatan teori lebih menegaskan komponen
stimulus dari pada respon.
 Teori Penilaian Sosial
Teori penilaian sosial dari perubahan sikap mengambil sebuah pendekatan
pandangan/persepsi. Teori ini mempertimbangkan perubahan sikap sebagai sebuah hasil
dari perubahan bagaimana orang-orang merasa sebuah objek lebih baik dari pada sebuah
perubahan akan objek tersebut. Teori menekankan bahwa kita dapat menciptakan
perubahan kecil dalam sikap individu jika kita mengetahui struktur sikap seseorang saat
ini dan jika kita membuat pemohonan untuk berubah dengan cara sedikit mengancam.
 Teori Konsistesi dan Ketidaksesuaian
Beberapa teori perubahan sikap mengasumsikan bahwa seseorang mencoba untuk
mempertahankan sebuah konsistensi, atau kesesuaian, antara sikap dan perilaku mereka.
Teori ini menegaskan pentingnya gagasan dan kepercayaan seseorang.Teori konsistensi
menyatakan bahwa hubungan antara sikap dan perilaku adalah seimbang ketika tidak
terdapat stress kognitif dalam system.
Teori Ketidaksesuaian adalah sebuah variasi dari teori konsistensi. Teori ini
berkaitan dengan hubungan antara unsure kognitif (informasi, kepercayaan, dan gagasan).
Ketidaksesuaian kognitif terjadi ketika seseorang mempunyai dua kondisi yang
bertentangan.
 Teori Persepsi Diri
Teori ini menyatakan bahwa orang-orang mengembangkan sikap mereka berdasarkan
cara mereka mengobservasi dan menginterpretasikan perilakunya.. dengan kata lain, teori
menempatkan bahwa sikap tidak menentukan perilaku, tetapi lebih kepada sikap dibentuk
setelah perilaku terjadi sehingga sikap akan menjadi konsisten dengan perilaku. Teori
fungsional menyatakan bahwa sikap membantu orang untuk memperoleh kebutuhannya,
seperti diskusi ada awal bab. Sehinggan untuk mengubah sikap sesorang kita harus
menemukan apa kebutuhan dari orang tersebut.

2. MOTIVASI
Motivasi adalah proses memulai kesadaran dan tindakan dengan maksud tertentu.
Motivasi adalah kunci untuk memulai, manjalankan, memelihara dan mengarahkan perilaku.
Motivasi juga terkait dengan reaksi subjektif yang terjadi selama proses ini. Manajer dan
akuntan perilaku harus memotivasi orang-orang pada level ini pada kinerja yang diharapkan
agar tujuan organisasi tercapai. (Siegel;1989:34)
Motivasi adalah konsep yang penting untuk akuntan perilaku karena efektivitas
organisasi tergantung pada performa orang-orang sebagaimana mereka diharapkan bekerja.
Manajer dan akuntan perilaku harus memotivasi orang-orang ke tingkat performa yang
diharapkan ini agar sasaran organisasi dapat dicapai.
Motif adalah faktor tunggal yang mencetuskan pross motivasi. Sebagai contoh,
beberapa orang menginginkan uang, sementara yang lain menginginkan kekuasaan,
ketenaran, atau keamanan. Motif adalah sifat alami seseorang. Orang dari keluarga yang
sejahtera mungkin mencari pekerjaan yang memberikan rasa pencapaian/prestasi dan harga
diri. Orang lain dari keluarga miskin mungkin mencari pekerjaan yang menawarkan
kebebasan dari kekhawatiran keuangan.
 Teori Kebutuhan
Sebagaimana yang kita ketahui mengenai teori motivasi yakni teori hirarki
kebutuhan Maslow. Teori ini digunakan dimana seseorang termotivasi oleh hasrat mereka
untuk memenuhi hirarki kebutuhan yang diinginkan: kebutuhan-kebutuhan dasar
psikologi, kebutuhan-kebutuhan social dan kepemilikan (pertemanan dan cinta),
kebutuhan atas penghargaan diri (dihargai, pengakuan, kekuatan, dan status) dan
kebutuhan akan aktualisasi diri (pemenuhan akan potensi yang dimiliki).
Berdasarkan teori Maslow, setelah seseorang memenuhi kebutuhan yang
diinginkan dari yang paling rendah sampai kebutuhan yang paling tinggi, hal ini menjadi
penting dalam mengarahkan prilaku. Hal ini tidak sepenuhnya bahwa kebutuhan yang
paling rendah merupakan kepuasan yang lengkap dan selanjutnya menjadi kebutuhan
yang lebih tinggi. Teori tersebut juga merupakan salah satu kepuasan yang diperlukan
dan bukan pemotivator dalam jangka lama.
Konsep hirarki kebutuhan tidak akan didukung dengan baik hanya dari penelitian
empiris. Hal ini terjadi karena di Amerika Serikat, dimana banyak penelitian telah ada
yang menghubungkan bahwa kebutuhan dasar manusia adalah lebih pada kepuasan.
Beberapa peneliti-peneliti bertanya akan gagasan mengenai struktur kebutuhan manusia
yang kompleks dimasukkan dalam hirarki yang diinginkan. Kritik lainnya berpendapat
bahwa teori tersebut tidak dapat memprediksikan suatu prilaku.
Walaupun terdapat kelemahan, teori kebutuhan Maslow adalah penting bagi para
manajer dan prilaku akuntan untuk diketahui karena hal itu memusatkan perhatian pada
kebutuhan individu dan pengakuan yang serupa dengan pemberian insentif yang mungkin
tidak hanya merupakan kepuasan yang menjadi kebutuahan setiap orang.
Konsep ERG merupakan sebuah peningkatan dari hirarki kebutuhan. Konsep
tersebut mengusulkan tiga kategori kebutuhan: keberadaan (hasrat fisik dan materi),
hubungan kekerabatan (pertemanan dan kepemilikan) dan pertumbuhan (pengembangan
personal dan pemenuhan diri). Hal ini berbeda dengan hirarki kebutuhan Maslow bahwa
tidak dengan mudah memenuhi kebutuhan baik yang paling tinggi maupun rendah dan
walaupun hal tersebut dapat memberikan kepuasan, sama halnya dengan kebutuhan yang
menjadi motivasi yang dominan. Sebagai contoh, seorang eksekutif yang frustasi akan
usahanya dalam pemenuhan kebutuhan berupa keakraban mungkin dapat termotivasi oleh
keinginan untuk memperoleh tambahan gaji.
Teori kebutuhan yang ketiga dalam motivasi yakni teori kebutuhan atas
penghargaan oleh McClelland yang mengemukakan semua motif, termasuk kebutuhan
untuk penghargaan yang sedang dipelajari. Karenanya, waktu kritis untuk
mengembangkan motivasi ini adalah sejak kanak-kanak yang memungkinkan untuk
pembelajaran struktur sampai anak-anak, dan selanjutnya meningkatkan harapan mereka
dan mengembangkan kebiasaan bekerja untuk mengaktualisasikan harapannya.
Ketika kebutuhan akan penghargaan adalah penting bagi kesuksesan bisnis,
seseorang dengan posisi eksekutif yang tinggi juga memiliki kebutuhan yang kuat untuk
kekuasaan. Dengan demikian, teori kebutuhan untuk penghargaan tidak membantu kita
untuk menjelaskan motivasi untuk semua orang dan seharusnya digunakan dalam
kombinasi bersama dengan teori lainnya untuk mengerti akan pemenuhan motivasi.
Teori 2 Faktor Hezberg berfokus pada dua bagian dari imbalan atas kerja; yaitu
upah yang berhubungan dengan kepuasan pekerjaan (pemotivasi) dan yang berhubungan
dengan ketidakpuasan pekerjaan (factor hygiene). Pemotivator, yang berhubungan
dengan bagian dari pekerjaan, termasuk di dalamnya promosi, pengakuan, tanggung
jawab, pekerjaannya, dan potensi untuk pengaktualisasian diri. Faktor hygiene, yang
berhubungan dengan bagian dari pekerjaan, atau lingkungan dimana pekerjaan tersebut
dilakukan, termasuk di dalamnya keamanan dalam bekerja, gaji, aturan perusahaan,
kondisi kerja, dan hubungan personal dalam bekerja.
Teori ini bagi motivator dapat menghubungkan kepuasan kerja tapi juga
ketidakpuasan. Faktor hygienis berhubungan dengan kepuasan tetapi juga ketidakpuasan.
Dengan demikian, karyawan termotivasi oleh sesuatu seperti pengakuan dan kemajuan
dalam perusahaan. Peningkatan gaji tidak akan memotivasi, itu hanya untuk melindungi
ketidakpuasan kerja.
 Teori Ekspektasi
Teori ekspektasi terhadap motivasi diasumsikan bahwa pada level ini, motivasi
dalam melakukan tugas bergantung pada kenyakinannya mengenai imbalan atas tugas
tersebut. Dengan kata lain, struktur motivasi ada ketika pengharapan seseorang atas
penerimaan imbalan atas kinerja dari tugas yang dilakukannya masing-masing.
Pada umumnya, motivasi adalah hasil dari harapan, instrument, dan Valance.
Ekspektasi memberikan kemungkinan yang dirasakan bahwa tindakan spesifik akan
menghasilkan sebuah hasil yang spesifik. Sebagai contoh, karyawan-karyawan mungkin
percaya bahwa kinerja yang memuaskan akan dihasilkan dengan promosi. Valance
adalah kekuatan dimana seseorang merasa untuk bagian dari hasil. Sebagai contoh,
bagaimanakah pentingnya promosi bagi karyawan ? Instrumen menunjukkan efek kausal
dari hasil awal pada hasil-hasil yang di masa depan. Sebagai contoh, sebuah valansi
memiliki nilai karena merupakan hasil dari harapan yang dipercayai sebagai instrument
yang memberikan hasil lainya. Keinginan karyawan untuk promosi mungkin dapat dilihat
sebagai instrumen yang ditransfer ke kantor pusat.
Teori distinguish antara imbalan interistik dan imbalan ekstristik. Imbalan intristik
adalah kreasi internal dan dihasilkan dari melakukan pekerjaannya sendiri, meliputi
perasaan untuk memperoleh penyelesaian dari melakukan pekerjaan dengan baik atau
perasaan puas ketika proyek telaksana dengan lengkap dan sukses. Imbalan ekstrinsik
meliputi upah, pengakuan, keamanann kerja, dan promosi yang mewakili pembayaran
atas kinerja. Teori motivasi yang digunakan adalah sebuah fungsi antara kedua imbalan
intrinsik dan ekstrinsik.
3. PERSEPSI
Persepsi adalah Bagaimana orang-orang melihat atau menginterpretasikan peristiwa, objek,
serta manusia. Menurut kamus Bahasa Indonesia Persepsi adalah sebagai tanggapan (penerimaan)
langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indra.
sedangkan dalam lingkup yang lebih luas Persepsi merupakan suatu proses yang melibatkan
pengetahuan sebelumnya dalam memperoleh dan menginterprestasikan stimulus yang ditunjukkan
oleh panca indra.
Para manajer dan prilaku akuntansi harus mengembangkan persepsi yang akurat bagi
seseorang yang mereka anggap ideal. Perbedaannya bahwa mereka merasa antara kunci dari
sekelompok orang dapat memberikan sejumlah kesuksesan atau ketidaksuksesan operasi. Sebagai
contoh, sebuah rencana manajer harus mengembangkan persepsi masing-masing pembimbing,
pelanngan utama, kesatuan pekerja, penjualan yang representatif, dan manajer-manajer lainnya.
Rencana manajer harus mampu mengoreksi kekuatan maupun kelemahan dari setiap pembimbing
dalam lingkungan tersebut.
Prilaku para akuntan perlu mengetahui tentang persepsi karena persepsi tersebut membentuk
seseorang untuk berkembang ke dalam ide dan sikapnya mempengaruhi prilaku. Jika dapat
mengembangkan potensi karyawan bagi perusahaan dengan promosi dan kompensasi yang adil,
bahwa seseorang yang bergabung dalam perusahaan dan menjadi pekerja yang memuaskan. Jika
aturan yang diberikan tidak adil, maka calon karyawan yang bergabung bersama perusahaan lainnya
atau lebih sedikit dari total pekerja yang produktif. Beberapa pengaplikasian berdasarkan persepsi
yang telah didiskusikan sebelumnya.

a) Dorongan Fisik Vs Kecenderungan Individu


Pengalaman seseorang di dunia berbeda-beda karena adanya kemandirian persepsi antara
kedua dorongan fisik dan kecenderungan individu. Dorongan fisik merupakan masukan dari
pancaindera seperti penglihatan, pendengaran, dan berbicara. Kecenderungan individu termasuk
tujuan, kebutuhan, sikap, pembelajaran masa lalu dan harapan. Persepsi berbeda oleh setiap orang
karena kemampuan pancaindera dalam merespon mungkin memiliki fungsi yang berbeda, tetapi pada
dasarnya karena kecenderungan yang berbeda. Dengan demikian, kesamaan aturan perusahaan akan
mengakibatkan penangkapan yang berbeda oleh pekerja produksi, manajer menengah, dan top
manajemen.
b) Penyelesaian, Pengorganisasian, dan Dorongan Interpretasi
Persepsi yang telah dikemukakan di atas merupakan proses dimana kita menyeleksi,
mengorganisasi, dan menginterpretasikan dorongan. Kita tidak hanya untuk merasakan sedikit dari
bagian untuk semua dorongan yang kita perlihatkan. Jadi secara sadar atau tidak sadar, kita
menyeleksi apa yang kita rasakan. Biasanya kita melakukan seleksi untuk mempersepsikan sesuatu
yang kita temukan lebih menarik atau lebih penting.
Apa yang kita seleksi untuk perasaan yang secara khas bergantung pada sifat dari dorongan,
harapan kita dan motiv kita.. Harapan merupakan dasar dari pengalaman yang kita rasakan dan kita
kondisikan. Secara frekuensinya, kita melihat apa yang kita harapkan terjadi dan termotivasi untuk
merasakan apa yang kita butuhkan dan inginkan. Sebagai contoh, ketergantungan pada kebutuhan-
kebutuhan atau harapan-harapan, kita tidak hanya melihat “baik” atau “buruk” dari situasi-situasi
yang berbeda. Biasanya seseorang mencari simpati dari luar dan dorongan atas kesenangan dan
menghindari rasa sakit atau dorongan yang berupa ancaman.
c) Persepsi Relevan Untuk Akuntan
Akuntan perilaku dapat mengaplikasikan pengetahuaan akan persepsinya ke dalam aktivitas-
aktivitas perusahaan. Misalnya, dalam evaluasi kinerja, tata cara dimana seseorang dihargai
dipengaruhi oleh akurasi dari persepsi supervisor. Dalam keputusan seleksi karyawan manajer
haruslah sensitif terhadap kemungkinan bahwa keputusan mereka mungkin saja biasa terhadap kesan
pertama yang berpengaruh atau tidak.

4. PEMBELAJARAN
Pembelajaran adalah proses dimana perilaku baru diperlukan. pembelajaran terjadi
sebagai hasil dari motivasi, pengalaman, dan pengulangaan dalam merespon situasi.
Kombinasi dari motivasi, pengalaman dan pengulangan dalam merespons situasi ini terjadi
dalam tiga bentuk: pengaruh keadaan klasik, pengaruh keadaan operant, dan pembelajaran
sosial.
 Pengondisian Keadaan Klasik

Dapat diringkaskan bahwa pengondisian klasik pada hakikatnya merupakan proses


pembelajaran suatu respons dan suatu rangsangan yang tidak terkondisi. Dengan
menggunakan rangsangan yang berpasangan, yang satu memaksa yang lain netral,
rangsangan yang netral menjadi suatu rangsangan terkondisi yang kemudian meneruskan
sifat-sifat dari rangsangan tidak terkondisi.
 Pengondisian Operant
Pengondisian operant menyatakan bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari
konsekuensi-konsekuensi. Perilaku operant berarti perilaku yang bersifat sukarela atau
perilaku yang dipelajari sebagai kontras terhadap perilaku semacam itu, yang dipengaruhi
oleh ada atau tidak adanya pungutan yang ditrimbulkan oleh konsekuensi-konsekuensi dari
perilaku tersebut.

 Pembelajaran Sosial

Walaupun teori pembelajaran sosial merupakan suatu perpanjangan dari


pengondisian operant, di mana teori tersebut mengandalkan perilaku sebagai suatu fungsi
dari konsekuensi-konsekuensi, teori itu juga mengakui eksistensi pembelajaran
observasional(lewat pengamatan) dan pentingya persepsi dalam belajar.

5. KEPRIBADIAN
Kepribadian mengacu pada bagian karakteristik psikologi dalam diri seseorang yang
menentukan dan mencerminkan bagaimana orang tersebut merespon lingkungannya.
Kepribadian adalah inti sari dari perbedaan individu karena tidak mungkin dua orang
manusia memiliki persamaan dalam karakter pribadi secara khusus. Aplikasi utama dari
teori kepribadian dalam organisasi adalah memprediksi perilaku. Pengujian perilaku dapat
menentukan siapa yang lebih efektif dalam tekanan pekerjaan, siapa yang merespon dengan
baik setiap kritikan, siapa yang pertama kali dipuji sebelum berbicara tentang perilaku yang
tidak diinginkan, siapa yang memiliki kemampuan memimpin, siapa yang senang bekerja
berpartisipasi dalam lingkungan kerja. Semua ini merupakan bentuk-bentuk pemahaman
atau kepribadian .
Penentu Kepribadian
Suatu argumen dini dalam riset kepribadian adalah apakah kepribadian seseorang
merupakan hasil keturunan atau lingkungan. Kepribadian tampaknya merupakan hasil dari
kedua pengaruh tersebut. Selain itu, dewasa ini dikenal faktor ketiga, yaitu faktor situasi.
a. Keturunan
Pendekatan keturunan beragumentasi bahwa penjelasan paling akhir dari kepribadian
seseorang individu adalah struktur molekul dari gen yang terletak dalam kromosom.
b. Lingkungan
Di antara faktor-faktor yang menekankan pada pembentukan kepribadian adalah budaya
dimana seseorang dibesarkan, pengondisian dini, norma-norma di antara keluarga,
temam-teman, dan kelompok-kelompok social, serta pengaruh lain yang dialami.
Lingkungan tempat seseorang dibesarkan memiliki peran yang sangat besar dalam
membentuk kepribadian.
c. Situasi
Faktor ini mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan terhadap kepribadian.
Kepribadian seseorang walaupun kelihatannya mantap dan konsisten , dapat berubah
pada kondisi yang berbeda. Tuntutan yang berbeda dari situasi yang berlainan
memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribagian seseorang. Oleh karena itu,
hendaknya pola kepribadian tidak dilihat secara terpisah.
BAB 3
PENUTUP

KESIMPULAN
Akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) adalah cabang akuntansi yang mempelajari
hubungan antara perilaku manusia dengan system akuntansi.
Konsep keprilakuan dari psikologi dan psikologi social ini adalah bertujuan untuk memberikan
pengakuan terhadap beberapa aspek perilaku dari akuntansi. Ketiga hal tersebut, yaitu psikologi, sosiologi
dan psikologi sosial yang menjadi kontribusi utama dari ilmu keperilakuan. Ketiganya melakukan
pencarian untuk menguraikan dan menjelaskan perilaku manusia, walaupun secara keseluruhan mereka
memiliki perspektif yang berbeda mengenai kondisi manusia. terutama merasa tertarik dengan bagaimana
cara individu bertindak.