Anda di halaman 1dari 23

Tugas

MANAJEMEN KEUANGAN

“Biaya Modal & Struktur Modal”

OLEH
Kelompok 4 :

Nuranisa Anwar B1C118172


Muhammad Ikrar B1C118173
Rizka Amalia B1C118174
Muhammad Azhar B1C118175
Alima Fitriyani B1C118176
Ayudiah Frega Ramadhani B1C118177
Wa Ode Umi Kalsum B1C118178

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya, sehingga kami selaku kelompok 4 (empat) dapat menyelesaikan
makalah ini. Tak lupa shalawat serta salam tetap haturkan kepada Nabi besar kita
Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat dan kita selaku umatnya. Aamiin.

Tujuan pembuatan makalah ini yakni untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Keuangan 1. Makalah ini berjudul “Biaya Modal & Struktur Modal”
yang mana di dalamnya mencakup hal-hal mengenai biaya modal dan
perhitungannya dan juga mengenai struktur modal.

Dalam hal ini kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna,
maka dari itu untuk kritik dan saran yang membangun akan diterima dengan hati
terbuka. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan digunakan
sebagaimana mestinya. Terimah kasih.

Kendari, November 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................

DAFTAR ISI ........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 2
C. Tujuan Masalah ....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi biaya modal (Cost of Capital) .................................................. 3
B. Biaya dari Sumber Modal ...................................................................... 3
C. Perhitungan Biaya Modal ....................................................................... 4
D. Perhitungan Untuk Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC) ....... 8
E. Pengertian Struktur Modal ..................................................................... 9
F. Komponen Struktur Modal .................................................................. 10
G. Struktur Modal Optimum ..................................................................... 13
H. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal ........................... 14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .......................................................................................... 16
B. Saran ..................................................................................................... 16

ILUSTRASI KASUS BIAYA MODAL ........................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 20


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Modal memiliki peranan penting bagi sebuah perusahaan dalam
menjalankan kegiatan operasionalnya. Modal memiliki keterkaitan dengan
struktur modal. “Struktur modal adalah pembelanjaan permanen
perusahaan yang mencerminkan perimbangan antara hutang jangka
panjang dengan modal sendiri” Riyanto(2013). Struktur modal yang
optimal ditentukan oleh beberapa indikator. Indikator yang pertama adalah
biaya modal, apabila perusahaan mengeluarkan biaya modal yang tinggi
maka mengindikasikan struktur modal yang kurang baik. Menurut
Martono dan Harjito (2003:240) “Struktur modal yang optimal dapat
diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya modal
keseluruhan atau biaya modal rata-rata sehingga akan memaksimalkan
nilai perusahaan”.
Biaya modal adalah sebuah konsep dinamis yang dipengaruhi oleh
bermacam-macam faktor ekonomi dan perusahaan. Struktur dasar dari
biaya modal dibuat dengan beberapa asumsi yang berhubungan dengan
risiko dan pajak. Biaya modal diperkirakan untuk suatu waktu tertentu.
Biaya modal mencerminkan rata-rata biaya permodalan yang akan datang
berdasarkan data yang tersedia. Pandangan ini sesuai dengan penggunaan
biaya modal untuk membuat keputusan investasi jangka panjang.
Walaupun perusahaan mengumpulkan dananya sekaligus, biaya
modal mencerminkan hubungan aktivitas pembiayaan. Misalnya
perusahaan hari ini menarik dana dengan hutang, tetapi untuk yang akan
datang digunakan modal sendiri seperti saham biasa. Banyak perusahaan
menggabungkan antara pembiayaan dengan hutang maupun pembiayaan
dengan modal sendiri secara optimal.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan biaya modal ?
2. Apa saja biaya dari sumber modal?
3. Bagaimana perhitungan biaya modal?
4. Bagaimana perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang?
5. Apa yang dimaksud dengan struktur modal?
6. Apa saja komponen struktur modal?
7. Bagaimana struktur modal yang optimum?
8. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan struktur modal ?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari biaya modal
2. Untuk mengetahui apa saja biaya dari sumber modal
3. Untuk mengetahui bagaimana perhitungan biaya modal
4. Untuk mengetahui bagaimana perhitungan biaya modal rata-rata
tertimbang
5. Untuk mengetahui pengertian dari struktur modal
6. Untuk mengetahui apa saja komponen struktur modal
7. Untuk mengetahui bagaimana struktur modal yang optimum
8. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi struktur
modal
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI BIAYA MODAL (COST OF CAPITAL)

Menurut Harjito dan Martono (2003) biaya modal adalah biaya


yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dan baik yang
berasal dari hutang, saham preferen maupun laba ditahan untuk mendanai
suatu investasi atau operasi perusahaan. Biaya Modal (Cost of Capital)
adalah biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk
memperoleh dana, baik yang berasal dari hutang, saham preferent, saham
biasa maupun laba ditahan untuk mendanai suatu investasi atau operasi
perusahaan. Penentuan besarnya biaya modal ini dimaksudkan untuk
mengetahui berapa besarnya biaya rill yang harus dikeluarkan perusahaan
untuk memperoleh dana yang diperlukan.
Penentuan besarnya biaya modal ini dimaksudkan untuk
mengetahui berapa besarnya biaya riil yang harus dikeluarkan perusahaan
untuk memperoleh dana yang diperlukan.Perhitungan biaya penggunaan
modal sangatlah penting, dengan alasan:
1. Memaksimalkan nilai perusahaan mengharuskan biaya-biaya
(termasuk biaya modal) diminimalkan.
2. Keputusan penganggaran modal (capital budgetting) memerlukan
suatu estimasi tentang biaya modal.
3. Keputusan-keputusan lain seperti leasing, modal kerja juga
memerlukan estimasi biaya modal.

B. BIAYA DARI SUMBER MODAL


Biaya modal dihitung untuk sumber dana jangka panjang yang
tersedia bagi perusahaan sebab sumber tersebut menyediakan pembiayaan
yang permanen. Pembiayaan jangka panjang mendukung investasi dalam
aktiva tetap, yang diasumsikan dipilih dengan menggunakan teknik
‘capital budgeting’ yang sesuai.
Budget merupakan laporan resmi mengenai sumber-sumber
keuangan yang telah disediakan untuk membiayai pelaksanaan aktivitas
tertentu dalam kurun waktu yang ditetapkan. Budget adalah sarana yang
digunakan paling luas untuk perencanaan dan pengendalian aktivitas di
tiap-tiap bagian perusahaan. Budget mengindikasi pengeluaran,
penghasilan atau laba yang direncanakan dalam kurun waktu tertentu
dikemudian hari. Angka-angka yang direncanakan menjadi standar untuk
pencapaian prestasi kerja dimasa mendatang.
Ada empat sumber dana jangka panjang yaitu hutang jangka
panjang, saham preferen, saham biasa dan laba ditahan. Walaupun tidak
semua perusahaan menggunakan metode pembiayaan tersebut, tetapi
setiap perusahaan diharapkan mendapatkan dana dari sumber-sumber
dalam struktur modal.

C. PERHITUNGAN BIAYA MODAL

Biaya Hutang Jangka Panjang (Cost of Debt)

Biaya hutang yang ditanggung oleh perusahaan yang menggunakan dana


hutang jangka panjang tidak lain adalah sebesar tingkat keuntungan yang
disyaratkan oleh investor (pemilik dana). Pada dasarnya biaya penggunaan hutang
jangka panjang (cost of debt) yang biasanya berasal dari obligasi (cost of bond)
dapat dihitung dengan menggunakan cara seperti perhitungan tingkat pendapatan
investasi dalam obligasi dengan rumus singkat (shortcut) atau dengan tabel
present value. Rumus perhitungan dengan metode singkat :

𝑓−𝑝
𝐶+
𝑛
𝐾𝑑 = 𝑓+𝑝
2

Dimana :
Kd = Biaya hutang jangka panjang sebelum pajak
C = Bunga hutang jangka panjang satu tahun dalam rupiah
f = Harga nominal obligasi / nilai obligasi pada akhir umurnya
p = Nilai bersih penjualan obligasi
n= Umur obligasi
Ki = Kd (1-t) Biaya hutang jangka panjang sesudah pajak
t = Tingkat pajak

Contoh:
PT X menjual obligasi dengan nilai Rp 1.000 perlembar. Bunga pertahun 6%
dengan jangka waktu 20 tahun. Penerimaan bersih atas penjualan hanya sebesar
Rp 960 perlembar. Tingkat pajak 50%. Berapa Cost of debt ?.
Jawab :

1000−960
60+ 60+2 62
20
𝐾𝑑 = 960+1000 = = = 6,33%
980 980
2

Ki = 6,33% (1-0,50) = 3,16 %

Biaya Saham Preferen (Cost Of Preferred Stock)


Saham preferen mempunyai sifat campuran antara hutang dan saham
biasa. Mempunyai sifat sebagai hutang karena saham preferen mengandung
kewajiban yang tetap untuk mengadakan pembayaran secara periodik dan dalam
likuidasi perusahaan pemegang saham preferen mempunyai hak didahulukan
sebelum pemegang saham biasa. Tidak seperti hutang karena kegagalan dalam
membayar dividen saham preferen tidak mengakibatkan pembubaran perusahaan.
𝐷𝑝
Rumus : 𝐾𝑝 =
𝑁𝑝

Dimana :
Kp = Cost of preferred stock.
Dp = Dividen yang dibayar.
Np = Net proceed ( penerimaan bersih atas penjualan saham preferen).
Tidak ada penyesuan pajak pada Kp.
Contoh:
PT X menjual saham preferen dengan dividen sebesar 5%, diharapkan terjual
dengan harga Rp 95,- perlembar (pershare). Biaya-biaya yang dibayar atas
penjuaan tersebut diperkirakaN Rp 3,-/lembar. Berapa Cost of Preferred stock?
Jawab:
5% x Rp 95 4,75
Kp = --------------- = -------- = 0,0516 = 5,16%
Rp95 – Rp3 92

Biaya Saham Biasa ( Cost Of Common Stock)

𝐷𝑐
Rumus : 𝐾𝑐 = + 𝑔
𝑝

Dimana :
Kc = Cost of common stock
Dc = Dividen yang dibayar
P = Harga pasar saham
g = Tingkat pertumbuhan dividen (rate of growth).
Contoh:
Harga saham biasa sebesar Rp 64,- per share. Dividen yang dibayar pada akhir
tahun pertama sebesar Rp 3,- per share. Tingkat pertumbuhan dividen selama 6
tahun yang lampau rata-rata 4%. Berapa Biaya saham biasa sekarang?
Jawab:
Rp 3,-
Kc = ---------- + 0,04 = 0,0469 + 0,04 = 0,0869 = 8,69%.
Rp 64,-

Biaya Laba Ditahan (Cost of Retained Earning)


Biaya dari penggunaan sumber yang berasal dari biaya laba ditahan
berkaitan dengan biaya dari penggunaan sumber saham biasa. Besarnya biaya laba
ditahan sebesar tingkat pendapatan investasi (rate of return) dalam saham yang
akan diterima oleh investor jika investor menginvestasikan sendiri dalam
kesempatan investasi lain dengan jenis perusahaan dan risiko yang sama. Dengan
kata lain sama dengan biaya saham biasa. Tetapi apabila keuntungan (earning)
yang dibagikan kepada pemegang saham dan mereka ingin menginvestasikan
kembali dalam saham perusahan , maka ia harus membayar pajak atas dividen dan
brokerage fee (biaya makelar), untuk memperoleh tambahan lembar saham.
Dengan demikian rumusnya :

Cost of retained earning 𝐾𝑟 = 𝐾𝑐 (1 − 𝑡)(1 − 𝑏)

Dimana :
t = Tingkat rata-rata pajak atas dividen. Income dari semua pemegang saham
(average tax rate os stock holders)
b = Biaya rata-rata makelar (average brokerage cost).
Contoh:
Dalam hubungannnya dengan data sebelumnya Kc = 8,69%, dianggap average tax
rate = 25% dengan brokerage cost = 3% maka :
Kr = Kc (1-t) (1-b)
Kr = (0,0869) (1-0,25) (1-0,03)
= (0,0869) (0,75) (0,97)
= 0,0632
= 6,32%.

Biaya Saham Biasa Baru (Cost of New Common Stock)


Biaya saham biasa baru adalah lebih tinggi daripada biaya saham biasa
atau laba ditahan karena dalam saham biasa baru dibebani biaya emisi (floating
cost), misalnya biaya komisi. Oleh karena itu perusahaan sering menghindari diri
untuk memperoleh tambahan modal (dana) dengan cara mengeluarkan saham
baru.

𝐷𝑐
Rumus : 𝐾𝑐𝑏 = + 𝑔
𝑃−𝑓
Dimana :
Kcb = Cost of new common stock
f = floating cost =biaya emisi
Dc = Dividen yang dibayar
P = Harga pasar saham
g = Tingkat pertumbuhan dividen (rate of growth)
Contoh :
Harga saham biasa sebesar Rp 64 per share. Perusahaan menjual saham biasa
baru dengan mengeluarkan biaya emisi Rp 2,5 per share. Dividen yang dibayar
pada akhir tahun pertama sebesar Rp 3 per share. Tingkat pertumbuhan dividen
selama 6 tahun yang lampau rata-rata 4%. Berapa Biaya saham biasa baru?

Jawab :
𝑅𝑝. 3 𝑅𝑝. 3
𝐾𝑐𝑏 = + 0,04 = + 0,04 = 0,0888 = 8,88%
𝑅𝑝. 64 − 𝑅𝑝. 2,5 𝑅𝑝. 61,5

D. PERHITUNGAN UNTUK BIAYA MODAL RATA-RATA


TERTIMBANG (WACC)
Perusahaan dalam membiayai proyek investasinya bisa hanya
menggunakan modal sendiri, sehingga cost of capital yang digunakan
sebagai cut of rate sebesar biaya modal sendiri yang bersangkutan. Tetapi
seringkali suatu proyek investasi tidak hanya menggunakan satu sumber
dana, tetapi menggunakan berbagai sumber dana sekaligus. Misalnya
selain menggunakan saham biasa juga menggunakan saham preferen dan
hutang.
Apabila perusahaan menggunakan beberapa jenis sumber dana,
maka cost of capital yang perlu dipertimbangkan adalah keseluruhan biaya
modal atau disebut sebagai Weighted Average Cost of Capital atau biaya
modal rata-rata tertimbang.
Rumus untuk menghitung biaya modal rata-rata tertimbang :

𝑊𝐴𝐶𝐶 = [𝑊𝑑 𝑥 𝐾𝑑 (1 − 𝑡)] + [𝑊𝑝 𝑥 𝐾𝑝 ] + 𝑊𝑠 𝑥 (𝐾𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒 )

Dengan:

WACC = biaya modal rata-rata tertimbang


𝑊𝑑 = proporsi utang dari modal
𝑊𝑝 = proporsi saham preferen dari modal
𝑊𝑠 = proporsi saham biasa atau laba ditahan dari modal
𝐾𝑑 = biaya hutang
𝐾𝑝 = biaya saham preferen
𝐾𝑠 = biaya laba ditahan
𝐾𝑒 = biaya saham baru
T = pajak (dalam presentase)
Contoh :
Target struktur modal perusahaan adalah 30% hutang, 10% saham preferen dan
60% modal sendiri (yang seluruhnya berasal dari laba ditahan). Biaya hutang
adalah 12%, biaya saham Preferen 12,6%, dan biaya laba ditahan 16,5%, pajak
diketahui sebesar 40%. Berapa struktur modal keseluruhannya?
Jawab :
𝑊𝐴𝐶𝐶 = [𝑊𝑑 𝑥 𝐾𝑑 (1 − 𝑡)] + [𝑊𝑝 𝑥 𝐾𝑝 ] + 𝑊𝑠 𝑥 𝐾𝑠
= [0,3 𝑥 12%(1 − 40%)] + [0,1 𝑥 12,6%] + 0,6 𝑥 16,5%
= 13,32%

E. PENGERTIAN STRUKTUR MODAL


Struktur modal merupakan masalah yang penting bagi perusahan
karena baik buruknya struktur modal akan mempunyai efek langsung
terhadap posisi finansial perusahaan, terutama jika adanya hutang yang
sangat besar aka memberikan beban kepada perusahaan.
Struktur modal menurut Sartono (2010:225) didefinisikan sebagai
berikut : “struktur modal merupakan perimbangan jumlah utang jangka
perndek yang bersifat permanen, utang jangka panjang, saham preferen
dan saham biasa.” Jadi struktur modal merupakan perimbangan antara
jumlah utang jangka pendek, utang jangka panjang dan saham.
Struktur modal menurut Sudana (2011:143) didefinisikan sebagai
berikut : “struktur modal (Capital structure) berkaitan dengan
pembelanjaan jangka panjang suatu perusahaan yang diukur dengan
perbandingan utang jangka panjang dengan modal sendiri.” Jadi struktur
modal merupakan perbandingan antar utang janga panjang dengan modal
sendiri yang digunakan untuk pembelanjaan perusahaan.
Struktur modal menurut Irham Fahmi (2011:106) didefinisikan
sebagai berikut : “struktur modal merupakan gambaran dari bentuk
proporsi finansial perusahaan yaitu antara modal yang dimiliki yang
bersumber dari utang jangka panjang (long-term liabilities) dan modal
sendiri (shareholder’s equity) yang menjadi sumber pembiayaan
perusahaan.” Jadi struktur modal merupakan gabungan sumber dana
perusahaan yang bersumber dari utang jangka panjang dan modal sendiri
yang digunakan sebagai sumber pembiayaan perusahaan.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli, dapat
disimpulkan bahwa struktur modal merupakan proporsi keuangan antara
utang jangka pendek, utang jangka panjang dan modal sendiri yang
digunakan untuk pemenuhan kebutuhan belanja perusahan.

F. KOMPONEN STRUKTUR MODAL


Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara
modal asing dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah
hutang baik jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan
modal sendiri bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan
penyertaan kepemilikan perusahaan. Komponen struktur modal menurut
Bambang Riyanto (2008:227) terdiri dari 2 (dua), yaitu:
1. Modal Asing
Modal asing atau utang merupakan salah satu sumber pembiayaan
eksternal yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai kebutuhan
dananya. Dalam pengambilan keputusan akan penggunaan utang ini harus
mempertimbangkan besarnya biaya tetap yang muncul dari utang berupa
bunga yang akan menyebabkan semakin meningkatnya leverage keuangan
dan semakin tidak pastinya tingkat pengembalian bagi para pemegang
saham biasa.
Modal asing menurut Bambang Riyanto (2008:227) didefinisikan
sebagai berikut: “Modal asing adalah modal yang berasal dari luar
perusahaan yang sifatnya sementara bekerja di dalam perusahaan dan bagi
perusahaan yang bersangkutan modal tersebut merupakan utang yang pada
saatnya harus dibayar kembali.”. Jadi modal asing merupakan modal yang
digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasionalnya yang berasal
dari luar perusahaan tersebut.
Modal asing atau utang sendiri dibagi menjadi tiga golongan,
diantaranya :
a. Utang jangka pendek (Short-term Debt)
Utang jangka pendek adalah modal asing yang jangka waktunya
paling lama satu tahun. Sebagian besar utang jangka pendek terdiri dari
kredit perdagangan yaitu kredit yang diperlukan untuk dapat
menyelenggarakan usahanya.
b. Utang jangka menengah (Intermediate-term Debt)
Utang jangka menengah merupakan utang yang jangka waktunya
adalah lebih dari satu tahun atau kurang dari 10 tahun.
c. Utang jangka panjang (Long-term Debt)
Utang jangka panjang merupakan utang yang jangka waktunya
adalah panjang, pada umumnya lebih dari 10 tahun.
2. Modal Sendiri
Modal sendiri atau ekuitas merupakan modal jangka panjang yang
diperoleh dari pemilik perusahaan atau pemegang saham. Modal sendiri
diharapkan tetap berada dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak
terbatas sedangkan modal pinjaman memiliki jatuh tempo. Modal sendiri
menurut Bambang Riyanto (2008:228) didefinisikan sebagai berikut:
“Modal sendiri pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik
perusahaan dan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang
tidak tertentu lamanya.” Jadi modal sendiri merupakan modal yang
digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasionalnya yang berasal
dari pemilik perusahaan tersebut.
Modal sendiri di dalam suatu perusahaan yang berbentuk P.T.
terdiri dari:
a. Modal Saham
Saham adalah tanda bukti pengembalian bagian atau peserta dalam
suatu P.T. Adapun jenis-jenis dari saham adalah sebagai berikut :
 Saham biasa (Common Stock)
 Saham Preferen (Preferred Stock)
 Saham Kumulatif (Cummulative Preferred Stock)
b. Laba Ditahan
Keuntungan yang diperoleh oleh suatu perusahaan dapat sebagian
dibayarkan sebagai dividen dan sebagian ditahan oleh perusahaan. Apabila
perusahaan belum mempunyai tujuan tertentu mengenai penggunaan
keuntungan tersebut, maka keuntungan tersebut merupakan “keuntungan
yang ditahan.”
G. Struktur Modal Optimum
Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan mempunyai
struktur modal yang optimal. Struktur modal yang optimal dapat diartikan
sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya penggunaan
modal keseluruhan atau biaya modal rata-rata sehingga akan
memaksimalkan nilai perusahaan (Martono,2008:240). Menurut Warsono
(2003:242) struktur modal yang optimal dapat didefinisikan sebagai suatu
struktur modal yang memaksimalkan nilai perusahaan atau harga saham
perusahaan, dan meminimumkan biaya modalnya. Suatu perusahaan
dalam pemenuhan kebutuhannya harus mengutamakan sumber internal
perusahaan sehingga akan mengurangi ketergantungan terhadap pihak
luar. Namun apabila kebutuhan dana sudah meningkat dan tidak dapat
dipenuhi dari modal internal, maka tidak ada pilihan selain menggunakan
dana dari luar baik dari hutang (debt financing) maupun dengan
mengeluarkan saham baru (external equity financing).
Apabila dalam pemenuhan kebutuhan dana dari sumber eksternal
tersebut lebih mengutamakan pada hutang saja, maka ketergantungan pada
perusahaan pada pihak luar akan semakin besar dan risiko finansialnya
akan semakin besar. Sebaliknya jika perusahaan hanya menggantungkan
pada saham saja, karena biayanya akan semakin mahal. Untuk
mengatisipasi hal tersebut, perusahaan perlu mengusahakan adanya
keseimbangan yang optimal antara kedua sumber pendanaan tersebut.
Perusahaan harus berhati-hati dalam menentukan struktur modal yang
optimal. Perusahaan dalam keadaan apapun jangan sampai jumlah hutang
lebih besar daripada jumlah modal sendiri atau dengan kata lain jangan
sampai lebih besar dari 50% sehingga modal yang dijamin (hutang) tidak
lebih besar dari modal yang menjadi jaminannya (modal sendiri).
Berdasarkan konsep cost of capital, perusahaan berusaha memiliki struktur
modal yang optimal dalam arti bahwa struktur modal yang dapat
meminimumkan biaya penggunaan modal rata-rata (average cost of
capital) (Riyanto, 2013:294). Pada penghitungan cost of capital, besar
kecilnya average cost of capital adalah ketergantungan pada proporsi
masing-masing sumber dana beserta biaya dari masing-masing komponen
sumber dana tersebut. Menurut Sartono (2012:254), struktur modal yang
optimal tersebut terjadi pada saat nilai perusahaan maksimal atau struktur
modal yang mengakibatkan biaya rata-rata tertimbang turun.

H. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal


Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi Struktur Modal
antara lain.
 Struktur Aktiva (Tangibility)
Kebanyakan perusahaan industri yang sebagian besar modalnya
tertanam dalam aktiva tetap akan mengutamakan pemenuhan modalnya
dari modal permanen yaitu modal sendiri, sedangkan utang bersifat
pelengkap. Perusahaan yang semakin besar aktivanya dan terdiri dari
aktiva lancar akan cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan dana
dengan utang. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh struktur aktiva
terhadap struktur modal suatu perusahaan.
 Growth Opportunity
Kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal
yang menguntungkan. Teori agensi menggambarkan hubungan yang
negatif antara growth opportunity dan leverage. Di mana, perusahaan
dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung akan melewatkan
kesempatan dalam berinvestasi pada kesempatan investasi yang
menguntungkan.
 Ukuran Perusahaan (Firm Size)
Perusahaan besar cenderung akan melakukan diversifikasi usaha
lebih banyak dari pada perusahaan kecil. Oleh karena itu kemungkinan
kegagalan dalam menjalankan usaha atau kebangkrutan akan lebih kecil.
Ukuran perusahaan sering dijadikan indikator bagi kemungkinan
terjadinya kebangkrutan bagi suatu perusahaan, di mana perusahaan dalam
ukuran lebih besar dipandang lebih mampu menghadapi krisis dalam
menjalankan usahanya.
 Profitabilitas
Perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi tentu memiliki dana
internal yang lebih banyak daripada perusahaan dengan profitabilitas
rendah. Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi akan
berinvestasi menggunakan utang yang relatif kecil (Bringham & Houston,
2001). Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk
membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang
dihasilkan secara internal. Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas
berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan.
 Risiko Bisnis
Risiko Bisnis akan mempersulit perusahaan dalam melaksanakan
pendanaan eksternal, sehingga secara teori akan berpengaruh negatif
terhadap leverage perusahaan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Biaya Modal (Cost of Capital) adalah biaya riil yang harus
dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana, baik yang berasal
dari hutang, saham preferent, saham biasa maupun laba ditahan untuk
mendanai suatu investasi atau operasi perusahaan. Penentuan besarnya
biaya modal ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa besarnya biaya rill
yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh dana yang
diperlukan. Ada empat sumber dana jangka panjang yaitu hutang jangka
panjang, saham preferen, saham biasa dan laba ditahan.
Struktur modal merupakan proporsi keuangan antara utang jangka
pendek, utang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan untuk
pemenuhan kebutuhan belanja perusahan. Struktur Modal adalah
perimbangan atau perbandingan antara modal asing dan modal sendiri.
Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka panjang
maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas
laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan.

B. Saran
Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan
makalah ini tetapi kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu
penulis perbaiki.Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan yang
penulis milik. Oleh Karen itu kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan ke depannya.
ILUSTRASI KASUS BIAYA MODAL
Resort merencanakan melakukan investasi dengan kebutuhan dana kurang
lebih sebesar Rp.85.000.000,-, sumber dana dipenuhi dengan kombinasi
menerbitkan Obligasi dan Saham (modal sendiri), sebagai berikut:
1. Obligasi, sejumlah 1000 lembar dengan nominal Rp.20.000,-/lembar; harga
jual Rp.19.000,- ; biaya bunga 20%/tahun; jangka waktu 5 tahun ; pajak
penghasilan 10%.
2. Saham Preferen;1.000 lembar dengan nominal Rp.25.000,-/lembar; harga
jual Rp.24.000,-/lembar; biaya emisi Rp.100,-/lembar; Deviden sebesar 15%.
3. Saham Biasa; 4.000 lembar dengan nominal Rp.10.000,-/lembar; harga jual
Rp.9.500,-/lembar; biaya emisi Rp.50,-/lembar; Deviden diperkirakan
Rp..1000,-/lembar ; Tingkat pertumbuhan 4%.

Hitung:
1. Biaya Modal Individual
2. Biaya Modal Rata- rata Tertimbang

JAWAB:
BIAYA MODAL INDIVIDUAL
a. Biaya Hutang (Cost Of Debt)
20.000.000−19.000.000
(20% 𝑥 20.000.000)+ 5
𝐾𝑑 = 19.000.000+20.000.000
2
4.000.000+200.000 4.200.000
= = = 21,53%
19.500.000 19.500.000

Ki = 21,53% (1-0,1)
= 19,38%
b. Biaya saham preferen (Cost Of Preffered Stock)
𝐷𝑝
𝐾𝑝 =
𝑁𝑝
25.000.000 𝑥 15%
=
24.000.000 − 100.000
3.750.000
=
23.900.000
= 15,69%

c. Biaya saham biasa (Cost Common Stock)


D𝒄
𝐾𝑐 = + 𝒈
P
4.000.000
= + 4%
38.000.000 − 200.000
= 10.58% + 4%
= 14,58%

BIAYA MODAL RATA- RATA TERTIMBANG


Cara 1 :
Sumber Total Dana Proporsi Cost Rata-rata
Obligasi 20.000.000
23,53% 19,38 % 4,56%
Saham Preferen 25.000.000
29,41% 15,69 % 4,61%
Saham Biasa 40.000.000
47,06% 14,58 % 6,86%
Total 85.000.000
100% 16,03%

Jadi, biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) sebesar 16,03%.


Cara 2 :
Sumber dana Total Dana Cost Jumlah Biaya
Obligasi 20.000.000 3.876.0000
19,38 %
Saham Preferen 25.000.000 3.922.500
15,69 %
Saham Biasa 40.000.000 5.832.000
14,58 %
Total 85.000.000 13.630.500

WACC = 13.630.500/85.000.000 x 100%


= 16.03%
DAFTAR PUSTAKA

Riyanto, Bambang. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. 1995. Yogyakarta:


BPFE

Tampubolon, Manahan P. Manajemen Keuangan (Finance Management). Bogor:


Ghalia Indonesia, 2005.

Harmono. Manajemen Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

https://www.jurnal.id/id/blog/2017-pengertian-dan-faktor-yang-memengaruhi-
struktur-modal/

https://darojah92.wordpress.com/campus/manajemen-keuangan-ii-biaya-modal-
rata-rata-tertimbang-wacc/

https://diahsulistiyanti.wordpress.com/2017/06/17/biaya-modal-pengertian-
contoh-kasus-dan-solusi/