Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KEGIATAN MAGANG

INSTALASI FARMASI RSHP IPB DAN KLINIK HEWAN


TAMAN KENCANA

Disusun oleh:

Aswan Amiruddin, SKH B94191057


Naufal H. Maulana, SKH B94191058
Sutisno, SKH B94191061
Suci Kharisma, SKH B94191062

Dibimbing oleh:
Dr Rini Widyastuti, SSi, Apt, MSc

BAGIAN RESEPTIR DAN APLIKASI OBAT


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
1

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau


bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatka n
kesehatan baik manusia, hewan, maupun tumbuhan (Azwar 1996). Pengertian
pelayanan kesehatan lainnya dikemukakan oleh Gani (1995) bahwa pelayanan
kesehatan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat berupa tindakan penyembuha n,
pencegahan, pengobatan, dan pemulihan. Pelayanan jasa medik veteriner menurut
peraturan Menteri Pertanian Nomor: 02/Permentan/OT.140/1/2010 adalah
penyelenggaraan kegiatan praktik kedokteran hewan. Pelayanan jasa medik
veteriner yang dilakukan oleh dokter hewan praktik dapat dikatagorikan sebagai
praktik transaksi terapetik dan praktik konsultasi kesehatan hewan. Salah satu
praktik transaksi terapetik yaitu sebagai jasa medik di rumah sakit hewan. Rumah
Sakit Hewan (RSH) merupakan tempat usaha pelayanan jasa medik veteriner yang
dijalankan oleh suatu manajemen dengan dipimpin oleh seorang dokter hewan
penanggung jawab, memiliki fasilitas untuk pelayanan gawat darurat, laboratorium
diagnostik, rawat inap, unit penanganan intensif, ruang isolasi, serta dapat
menerima jasa layanan medik veteriner yang bersifat rujukan. Seiring dengan
perkembangan perumahsakitan di Indonesia tidak hanya rumah sakit umum namun
juga rumah sakit hewan terus giat melakukan peningkatan kualitas dan mutu
pelayanan salah satunya yaitu pelayanann farmasi rumah sakit.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah
sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelas
dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi
rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan
rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang
bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan
masyarakat. Saat ini kenyataannya sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum
melakukan kegiatan pelayanan farmasi seperti yang diharapkan, mengingat
2

beberapa kendala antara lain kemampuan tenaga farmasi, terbatasnya pengetahuan


manajemen rumah sakit akan fungsi farmasi rumah sakit, kebijakan manajemen
rumah sakit, terbatasnya pengetahuan pihak-pihak terkait tentang pelayanan
farmasi rumah sakit. Akibat kondisi ini maka pelayanan farmasi rumah sakit masih
bersifat konvensional yang hanya berorientasi pada produk yaitu sebatas
penyediaan dan pendistribusian.
Magang merupakan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mahasiswa yang
menempuh studi profesi agar meningkatkan kemampuan individu. Tujuan magang
adalah meningkatkan kualitas kemampuan dengan memberikan pembelajaran
secara langsung untuk melakukan pelayanan medik veteriner. Dokter hewan
merupakan profesi yang memiliki ruang lingkup yang luas dalam hal
pengembangan profesi. Kenyataan dilapangan, pekerjaan dokter hewan tidak hanya
sebagai dokter hewan praktisi saja, melainkan juga dosen, QC (quality control), dan
juga di dinas pemerintahan. Salah satu sarana penunjang bagi mahasiswa untuk
meningkatkan kemampuan dan keterampilannya yaitu mengikuti magang di apotek
Rumah Sakit Hewan Pendidikan Institut Pertanian Bogor (RSHP IPB). Kegiatan ini
dilakukan agar mahasiswa mampu membaca resep dan menganalisa obat yang
digunakan, serta menulis resep juga mengetahui fungsi obat tersebut.

Tujuan

Kegiatan magang di apotek RSHP IPB dan klinik hewan taman kencana IPB
bertujuan melakukan tindakan pelayanan jasa medik veteriner berupa alur
pelaksanaan instalasi farmasi serta memahami penulisan resep untuk hewan kecil
di RSHP IPB dan klinik hewan taman kencana IPB.

Manfaat

Mahasiswa mendapatkan keterampilan pelayanan jasa medik veteriner


dalam menjalankan instalasi farmasi serta memahami pemilihan resep untuk hewan
kecil.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Rumah Sakit Hewan

Berdasarkan Kamus Besar bahasa Indonesia pengertian Rumah Sakit


Hewan (RSH) adalah bangunan untuk tempat tinggal untuk hewan yang sakit dan
yang sedanga menjalani pengobatan. Menurut menteri Pertanian Nomor:
02/Permentan/OT.140/1/2010, Rumah Sakit Hewan merupakan tempat atau lokasi
dimana berfungsi sebagai pelayanan dan penanganan jasa medik veteriner, yaitu
berkaitan dengan kesehatan hewan untuk mencapai kondisi yang ideal dan
difasilitasi penagangan dokter hewan ahli dan staf ahli dengan manajemen yang
baik.
Rumah Sakit Hewan Pendidikan Institut Pertanian Bogor (RSHP IPB)
merupakan tempat usaha pelayanan jasa medik veteriner. Tujuan RSHP IPB adalah
memberikan pelayanan kesehatan hewan baik secara promotif, preventif, maupun
kuratif. Rumah sakit ini berdiri sejak tahun 2000. Tugas pokok dan fungsi yang
diemban RSHP IPB adalah menunjang pendidikan profesi dokter hewan (PPDH)
dan pendidikan dokter hewan spesialis serta memberikan pelayanan kesehatan
kepada hewan selaku pasien, masyarakat pemilik hewan dan lingk ungan.
Klinik Taman Kencana merupakan suatu bagian dari RSHP IPB yang terletak
di Taman Kencana Bogor tepatnya di jalan Papandayan No. 2 Bogor. Fasilitas yang
ada di Klinik Taman Kencana antara lain konsultasi dan layanan kesehatan, USG,
X-Ray, instalasi obat hewan, pemeriksaan laboratorium, rawat inap kucing, bedah
serta grooming.

Sejarah

Sejarah dokter hewan Indonesia dimulai pada tahun 1910, hal ini
dikarenakan untuk pertama kali lulusan kedokteran hewan berasal NIVS
(Netherlands Indische Veeartsen School) hijrah ke Bogor yang kemudian membuat
jasa praktik Dokter Hewan. Penyakit hewan menular dan populasi ternak meningkat
4

pada massa kolonial, pendudukan Jepang dan pada masa perjuangan kemerdekaan,
untuk itu diperlukan penanganan khusus. Atas dasar tersebut maka dibangunla h
berbagai Fakultas Kedokteran Hewan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Cita-cita luhur bagi terwujudnya kesejahteraan manusia melalui dunia hewan sesuai
yang tercantum dalam semboyan ”Manusya Mriga Satwa Sewaka” yang berarti
Kesehatan hewan dapat meningkatkan kesejahteraan manusia hal ini sejalan dengan
Universal Role of Veterinary Profession, peranan profesi veteriner yang bersifat
universal.
Rumah Sakit Hewan Institut Pertanian Bogor (RSH IPB) telah berdiri selama
19 tahun. Rumah sakit ini diresmikan oleh mantan Presiden Republik Indonesia,
Abdul Rahman Wahid pada tanggal 11 Oktober 2000 di Kampus IPB Dramaga,
Bogor. Rumah Sakit Hewan Institut Pertanian Bogor (RSH IPB) pada awalnya
dikelola oleh tim manajemen IPB sesuai dengan SK Rektor IPB No.
052/K13.12.1/KP/2000. Perubahan pelaporan pertanggung jawaban langsung di
bawah Rektor IPB dilakukan pada bulan Juli 2003. Rumah Sakit Hewan Institut
Pertanian Bogor (RSH IPB) pada bulan Mei 2015 bertransformasi kembali menjadi
Rumah Sakit Hewan Pendidikan IPB (RSHP IPB) yang didukung oleh dokter
hewan dan paramedik.

Visi

Rumah Sakit Hewan Pendidikan Institut Pertanian Bogor (RSHP IPB)


sebagai rumah sakit hewan pendidikan rujukan spesialis dan terpilih yang terdepan,
profesional, mandiri, bermartabat dan mengabdi kepada kepentingan dan
kemakmuran bangsa Indonesia.

Misi
1. Pendidikan sebagai sarana untuk melatih kemampuan praktik mahasiswa
tingkat D3, SKH, PPDH dan menunjang program spesialis serta
pengembangan pendidikan profesional berkelanjutan.
5

2. Penelitian sebagai sarana dan prasarana untuk melakukan penelitian dasar dan
terapan termasuk penyiapan hewan laboratorium dan fasilitas yang terstandar
dengan memperhatikan kaidah-kaidah etik penggunaan hewan.
3. Pengabdian sebagai sarana untuk melakukan pelayanan kesehatan hewan
kepada masyarakat berupa pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, dan
pencegahan termasuk penyakit-penyakit zoonosis.

Struktur Organisasi
Pengasuh RSHP FKH IPB
Dekan
P rof. Drh Srihadi Agungpriyono, P hD, P avet (K)

Penanggung Jawab RSHP FKH IPB


Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan
Drh Agus Setiyono, MS, PhD, APVet

Kepala RSHP FKH IPB


Prof Drh Deni Noviana, PhD, DAiCVIM

Kabid Keuangan dan Administrasi Kabid Medik & Pendidikan Profesi Kabid Pengembangan dan
Dr Drh Andriyanto, MSi Dokter Hewan Informasi
Prof Drh Deni Noviana, PhD, DAiCVIM Drh Arni Diiana Fitri
Drh M Fakhrul Ulum, MSi

Koordinator Poliklinik & Rawat Inap Koordinator Laboratorium Diagnostik Koordinator Hewan Lab
Drh Erly Rizky Adistya Drh Tri Isyani Tungga Dewi, MSi Drh Aulia Andi Mustika, MSi

Koordinator Bedah & Radiologi Koordinator Farmasi dan Reseptir


Drh Budhy Jasa Widyananta, MSi Bayu Febram Prasetya, S.Si, Apt, MSi Koordinator Pengayoman
Satwa
Drh Danny Umbu
Koordinator Bedah & Radiologi
Penanggung Jawab Apotek RSHP
Dr Drh Yudi, MSi
Andri Suhendrik KoordinatorPenelitian &
Pengembangan (Litbang)
Dr drh Gunanti, MS
Koordinator Patologi
Drh Vetnizah Juniantito, PhD, APVet

Koordinator Laboratorium Kesmavet


Drh Ardilasunu Wicaksono, M.Si

Instalasi Farmasi

Instalasi farmasi merupakan suatu unit yang memberi pendapatan yang


cukup berarti untuk sebuah rumah sakit serta adanya tuntutan pasien dan
masyarakat akan mutu pelayanan farmasi, mengharuskan adanya perubahan
pelayanan dari paradigma lama (drug oriented) ke paradigma baru (patient
oriented) dengan filosofi pharmaceutical care (pelayanan kefarmasian) maka
6

pelayanan kesehatan di rumah sakit harus selalu berbenah diri dalam


meningkatakan mutu layanan kesehatan (Rakhmisari 2006). Pelayanan instalas i
farmasi ada dengan tujuan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan,
meningkatkan mutu pelayanan farmasi di rumah sakit, menerapkan konsep
pelayanan kefarmasian, memperluas fungsi dan peran apoteker farmasi rumah
Sakit, dan melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional.

Pengelolaan Pembekalan Farmasi


Pengelolaan sediaan farmasi adalah suatu proses dari siklus kegiata n
yang dimulai dari perencanaan, pengadaan/produksi, penerima a n,
pendistribusian, pengawasan, pemeliharaan, penghapusan, pemanta ua n,
administrasi, pelaporan, dan evaluasi yang diperluka n bagi kegiatan pelayana n.
Tujuan pengelolaan sediaan farmasi agar tersedianya sediaan farmasi yang
bermutu dalam jumlah dan pada saat yang tepat sesuai spesifikasi dan fungs i
(Quick 1997).

Perencanaan
Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemeliharaan jenis,
jumlah dan harga sediaan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggara n
untuk menghindari kekosongan obat dengan metode yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar pelaksanaan yang telah ditentuk a n.
Perencanaan berpedoman pada DOEN (Daftar Obat Esensial Nasiona l),
formularium rumah sakit, standar terapi rumah sakit, data catatan medik,
anggaran yang tersedia, penetapan prioritas, siklus penyakit, sisa persediaa n,
data pemakaian periode yang lalu dan rencana pengembangan (Quick 1997).
Tujuan perencanaan perbekalan farmasi adalah untuk menetapkan jenis dan
jumlah perbekalan farmasi sesuai dengan pola penyakit dan kebutuha n
pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Metode perencanaan terdiri dari tiga jenis yaitu konsumsi, epidemiolo gi,
dan kombinasi keduanya yang disesuaikan dengan anggaran setempat.
Perencanaan dengan metode konsumsi dilakukan berdasarkan data penggunaa n
7

obat. Metode epidemiologi dilakukan berdasarkan data tingkat kejadian


penyakit dan standar pengobatan untuk penyakit tersebut. Data penggunaan obat
waktu yang lalu untuk metode konsumsi harus akurat. Metode konsumsi ini
dapat menyebabkan penggunaan obat yang kurang rasional akan terus terjadi
berbeda dengan halnya metode epidemiologi yaitu mengambil asumsi bahwa
pengobatan disesuaikan dengan penyakit yang ada atau terjadi pada saat tertentu
(Siregar 2004).

Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan untuk merelisasikan kebutuhan yang
telah direncanakan dan disetujui. Tujuan pengadaan adalah mendapatka n
perbekalan farmasi dengan harga yang layak, mutu yang baik, pengir ima n
barang terjamin dan tepat waktu, proses berjalan lancar, dan tidak memerluka n
tenaga serta waktu berlebihan. Kegiatan pengadaan meliputi pembelia n,
produksi atau pembuatan sediaan farmasi, dan sumbangan/drooping atau hibah.
Sistem pengadaan obat di apotek RSHP IPB yaitu yang pertama stock
opname obat setiap minggu, pengajuan obat habis, pembelian obat, obat datang,
verifikasi obat dan pencatatan obat masuk, penataan obat pada lemari obat sesuai
dengan expired date obat tersebut, dan dipisahkan berdasarkan bentuk
sediaannya.

Gambar 1 Stok opname obat


8

Pembelian
Pembelian adalah rangkaian proses pengadaan untuk mendapatka n
perbekalan farmasi dengan metode yang mencapai keseimbangan yang tepat
antara mutu dan harga. Pembelian harus memperhatikan aspek seperti mutu
produk, reputasi produsen, harga, berbagai syarat, ketepatan waktu pengirima n,
mutu pelayanan pemasok, dapat dipercaya, kebijakan tentang barang yang
dikembalikan, dan pengemasan. Proses pembelian mempunyai beberapa langkah
yang baku dan merupakan siklus yang berjalan terus-menerus sesuai dengan
kegiatan rumah sakit.

Gambar 2 Penyerahan resep dan pembelian obat di apotek RSHP

Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan
cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinila i
aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat. Tujua n
penyimpanan adalah memelihara mutu sediaan farmasi, menghinda r i
penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga ketersediaan dan
memudahkan pencarian dan pengawasan. Gudang merupakan tempat
penyimpanan sementara sediaan farmasi dan alat kesehatan sebelum
didistribusikan. Fungsi gudang adalah mempertahankan kondisi sediaan farmas i
dan alat kesehatan yang disimpan agar tetap stabil sampai ke tangan
pasien (Siregar 2004).
9

Gambar 3 Tempat penyimpanan obat-obatan

Peracikan
Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencamp ur,
mengemas, dan memberikan etiket pada wadah. Pelaksanaan peracikan obat
harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis, dan
jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.

Gambar 4 Alat-alat yang digunakan untuk peracikan obat

Distribusi
Distribusi adalah kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah
sakit, untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan
rawat jalan serta untuk pelayanan medis. Tujuan pendistribusian adalah
tersedianya perbekalan farmasi di unit- unit pelayanan secara tepat waktu, tepat
jenis, dan jumlah.
10

Gambar 5 Pemberian obat-obatan pada pasien rawat inap dan rawat jalan

Pelayanan Resep Rawat Jalan


Pasien yang melakukan pemeriksaan di RSHP IPB yang dikategor ika n
ke dalam penyakit ringan serta tidak membutuhkan pelayanan medis yang
intensif akan menjadi pasien rawat jalan. Pasien rawat jalan akan mendapatka n
obat berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan. Pedoman pelayanan farmas i
untuk pasien rawat jalan di rumah sakit seperti persyaratan manaje me n,
persyaratan fasilitas dan peralatan, persyaratan pengelohan order atau resep
obat, dan pedoman operasional lainnya.
Obat yang telah dibuat dan diracik oleh pihak farmasi akan diberika n
kepada administrasi untuk kepentingan pendataan obat-obatan. Pemilik hewan
harus diberikan informasi mengenai pemberian obat yang diberikan karena akan
bertanggung jawab atas pemakaian obat tanpa adanya pengawasan dari dokter
hewan.
Gambaran pelayanan resep rawat jalan di RSHP IPB dan Klinik Taman
Kencana menempatkan petugas dalam hal ini peserta magang mahas is wa
Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) di instalasi farmasi dibagi
menjadi 2 shift (pagi dan siang) untuk apotek RSHP IPB dan 1 shift untuk Klinik
Taman Kencana. Shift pagi yaitu dimulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00
WIB, shift siang dimulai pukul 13.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Untuk
menunjangpara petugas instalasi farmasi rawat jalan dalam melaksanakan tugas
11

dan tanggung jawabnya, ketersediaan akan sarana dan prasarana merupaka n


salah satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Menurut Depkes (2004), sarana atau fasilitas ruangan pelaya na n
kefarmasian harus menyatu dengan sistem pelayanan rumah sakit. Isntala s i
farmasi unit rawat jalan RSHP IPB dan Klinik Taman Kencana berada dila nta i
satu, satu lantai dengan poliklinik dan menyatu dengan kasir rawat jalan.
Fasilitas ruangan harus memadai dalam hal kualitas dan kuantitas agar dapat
menunjang fungsi dan proses pelayanan kefarmasian, menjamin lingkunga n
kerja yang aman untuk petugas, dan memudahkan sistem komunikasi dan
mobilitas rumah sakit. Berdasarkan hasil observasi, ruangan di instalasi farmas i
rawat jalan RSHP IPB dan Klinik Taman Kencana terdiri atas:
a. Ruang penerimaan resep dan pengambilan obat
Ruangan ini berupa loket berkaca dan terdapat jendela kecil yang
bisa digeser yang berhadapan langsung dengan ruang tunggu pasien
pelayanan resep. Ruangan penerimaan resep di Taman Kencana hanya
terdiri dari 1 bagian. Sedangkan untuk ruangan di RSHP IPB dibagi
menjadi 3 bagian, dibagian depan untuk penyimpanan obat berbotol dan
kasir penerimaan resep rawat jalan, bagian belakang terbagi 2 bagian yaitu
bagian kanan sebagai tempat penyimpanan obat injeksi, tablet, kapsul sera
sebagai gudang obat, sedangkan bagian kiri diperuntukkan sebagai tempat
untuk peracikan obat. Ruangan penerimaan resep di Taman Kencana hanya
terdiri dari 1 bagian.
b. Pelayanan farmasi di RSHP IPB dan dan Klinik Taman Kencana
Meja di RSHP IPB dan Klinik Taman Kencana terdapat 2 meja yaitu
meja pelayanan resep dan meja tempat peracikan. Terdapat 5 rak dan 2
refrigerator di RSHP IPB 1 rak dan 1 refrigerator. di Klinik Taman
Kencana yang digunakan untuk penyimpanan obat-obatan, vaksin, dan
alat-alat kesehatan. Obat-obatan tersebut dikelompokkan berdasarkka n
bentuk sediaanya dan jenisnya kemudian diletakkan dalam wadah plas tik
yang telah dinama sesuai nama obatnya dan terdapat lemari untuk
golongan obata-obatan tertentu seperti obat keras dan lainnya.
12

Pelayanan Resep Rawat Inap


Pasien rawat inap di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Institut Pertania n
(RSHP IPB) yang sebelumnya telah diperiksa oleh dokter hewan dan diresepka n
obat ditempatkan pada ruang pasien rawat inap. Resep obat yang telah dibuat
oleh dokter hewan diberikan nomer. Resep diberikan kepada pihak farmas i
untuk discreening, apabila obat yang dibutuhkan lengkap tersedia, obat diracik
oleh pihak farmasi, dipasang etiket dengan petunjuk pemberian, obat diperiksa
kembali nama, jenis, dan penandaan obat, kemudian diberikan kepada dokter
untuk diaplikasikan kepada hewan rawat inap. Farmasi rawat inap menjala nka n
kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pasien
rawat inap di rumah sakit.
Penyimpanan obat pasien rawat inap dilakukan oleh pihak kefarmas ia n
untuk menjaga keutuhan serta keamanan obat. Obat disimpan dalam ruanga n
tertutup terhindar dari matahari. Obat akan diberikan kepada dokter hewan
apabila waktu pemberian obat telah tiba.

BAB III
TUGAS KHUSUS

1. Otitis Eksterna
Seekor kucing jantan bernama Tayo milik RSHP IPB, ras Domestic Short
Hair (DSH) memiliki bobot badan 3 kg dengan gejala klinis yang terlihat kondisi
mata kanan dan kiri berair, telinga kanan dan kiri kotor disertai bau. Suhu rektal
kucing 38°C. Treatment pertama yang diberikan terdiri atas Cefadroxil 55 mg,
Vitamin A 1/5 tab, Vitamin C 1/5 tab, Fluimucil 60 mg, dan Imboost 1/7 tab yang
diracik menjadi 15 kapsul A dengan pemberian 2 kali sehari. Kapsul B terdiri dari
racikan obat CTM 0.4 mg, Dexamethason 0.4 mg, Pronicy 1/5 tab mejadi 5 kapsul
dan diberikan 1 kali sehari. Obat luar yang digunakan adalah obat tetes telinga
Erlamycetin 2 kali sehari (Gambar 6).
13

KLINIK HEWAN
Drh Amiruddin
Alamat : Jalan Babakan Lebak, No telp (08123456789)
Jam Praktik : Senin – Jumat (08.00 – 11.00 WIB)
SIP : 021/SIP/BG/2016
Drh : Via Bogor, 13 November 2019

R/ Cefadroxil 55 mg
Vit. A 1/5 tab
Vit. C 1/5 tab
Fluimucyl 60 mg
Imboost 1/7 tab
M f pulv da in caps dtd No. XV
S2dd 1 caps__________________________

R/ CTM 0.4 mg
Dexamethasone 0.4 mg
Pronicy 1/5 tab
M f pulv da in caps dtd No. V
S1dd 1 caps__________________________

R/ Erlamycetin ear drop No. 1 fls


S u e________________________________

Jenis : Kucing
Breed : DSH
Nama : Tayo
Nama Pemilik : Ex-penelitian
Alamat : Bogor
Berat : 3 Kg
Gambar 6 Contoh resep untuk pasien yang bernama Tayo

Kapsul A merupakan campuran dari obat Cefadroxil, Fluimucyl, vitamin A,


vitamin C, dan Imboost yang diberikan sehari dua kali. Cefadroxil adalah obat
antibiotik golongan sefalosporin untuk mengobati infeksi bakteri pada saluran
pernapasan, telinga, saluran kemih, kulit dan jaringan lunak. Cefadroxil bekerja
dengan menghambat pembentukan protein yang membentuk dinding sel bakteri.
Obat ini akan merusak ikatan yang menahan dinding sel bakteri untuk membunuh
bakteri-bakteri penyebab penyakit. Mekanisme kerja tersebut menjadikan
cefadroxil obat yang memiliki spektrum luas untuk membunuh berbagai macam
bakteri, baik bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif (Chambers 2010).
Indikasi jenis obat sefalosporin golongan pertama pada kasus kulit obat ini
digunakan untuk deep dan superficial pyoderma, infeksi luka, selulitis, abses yang
disebabkan oleh bakteri gram positif seperti staphylococcus dan beberapa gram
negatif seperti proteus mirabilis, E. colli, klebsiella, actinobacillus, pasteurella dan
14

corynpbacterium (Evaria et al. 2013). Dosis yang digunakan untuk kucing adalah
22 mg/kg sehari 1 kali via peroral.
Fluimucyl atau asetilsistein merupakan golongan mukolitik untuk
mengencerkan dahak. Cara kerja asetilsistein dalam mengencerkan dahak dengan
memanfaatkan gugus sulfidril bebasnya yang dapat mengurangi ikatan disulfide
pada lender pernapasan sehingga menurunkan kekentalan dahak. Indikasi obat ini
digunakan untuk mengencerkan dahak yang kental dan sulit dikeluarkan dari
saluran nafas (Kelly 1998). Kontraindikasi obat ini adalah hipersensitif atau alergi
terhadap kandungan asetilsistein.
Vitamin A, vitamin C dan Imboost digunakan sebagai terapi suportif untuk
kasus penyakit mata dan kulit serta untuk meningkatkan metabolisme dan
meningkatkan kekebalan tubuh kucing.
Kapsul B merupakan campuran dari Chlorpheniramin maleat,
dexamethasone, dan pronicy yang diberikan satu kapsul setiap hari.
Chlorpheniramin maleat atau CTM adalah antihistamin yang biasa digunakan
sebagai anti alergi. Obat ini sring digunakan dalam pencegahan gejala kondisi alergi
seperti rhinitis dan urtikaria, mengurangi merah, gatal, mata berair, bersin,
tenggorokan gatal dan pilek yang disebabkan alergi demam dan batuk. Cara kerja
obat ini dnegan menghambat kerja histamin pada pembuluh darah, bronkus dan otot
polos. Senyawa didalam tubuh meningkat secara berlebihan sehingga
memunculkan gejala dari reaksi alergi (Martin 2009). Gejala dari reaksi alergi ini
dapat bermacam-macam bentuk, contohnya mata berair, hidung tersumbat, pilek,
bersin-bersin, gatal, serta pembengkakan dibeberapa bagian tubuh. Efek samping
yang sering terjadi seperti gangguan saluran cerna, sedative, mulut kering.
Kontraindikasi dari CTM menimbulkan aktivitas antikolinergik yang dapat
memperburuk asma brokial, retensi urin, dan glukoma. CTM memiliki interaksi
dengan alcohol, depresan syaraf pusat, dan antikolinergik.
Dexamethason adalah obat kortikosteroid jenis glukokortikoid sintetis yang
digunakan sebagai agen anti alergi, imunosupresan dan anti inflamasi (Waldron et
al. 2012). Indikasi dexamethasone dapat digunakan untuk mengobati penyakit
inflamasi, rematik sendi, asma bromkhial dan sistemik lupus eritematos us.
Kontraindikasi dexamethasone tidak diberikan untuk pasien yang memiliki riwayat
15

hipersensitif pada golongan kortikosteroid, osteoporosis, diabetes mellitus,


glaucoma, infeksi jamur, ibu hamil dan pasien yang sedang menjalani vaksinasi.
Cyproheptadine hydrochloride atau pronicy adalah obat untuk meredakan
gejala alergi, serta untuk mencegah dan mengobati migraine. Obat ini akan
menghambat bahan kimia didalam tubuh yang mengakibatkan alergi yaitu
histamine (Clarke 1986). Indikasi cyproheptadine hydrochloride adalah fenothia zin
dengan aktivitas antihistamin dan antiserotonin. Digunakan untuk merangsang
nafsu makan (meningkatkan aktivitas serotonin pada pusat appetite). Efek samping
cyproheptadine dapat menyebabkan penglihatan buram, gangguan irama jantung,
tekanan darah rendah atau tinggi, nyeri buang air kecil, mual dan muntah, sembelit,
diare, gatal-gatal dan ruam kulit.
Erlamycetin tetes telinga mengandung chloramphenicol 1% dalam larutan
tetes telinga. Chlorampenicol adalah antibiotik spektrum luas pada infeksi bakteri.
Cara kerja chloramphenicol bekerja sebagai bakteriostatik terhadap beberapa
spesies dan pada keadaan tertentu bekerja sebagai bakterisida. Indikasi obat ini
adalah infeksi superficial pada telinga luar oleh kuman gram negatif ataupun gram
positif yang peka terhadap bahan aktif cholrampenicol (Siswandono dan Soekardjo
1995). Obat tetes diberikan kepada pasien tayo sebanyak 2-3 tetes yang dilakukan
2 kali sehari.

2. Fissura dan pengobatan post-operasi setelah pemakaian bonepinning


Seekor anjing betina bernama NN ras anjing kampung berumur 2 bulan dan
memiliki bobot badan 2.5 kg dengan gejala klinis tidak bisa jalan, dan lemah. Suhu
rektal anjing 37.2°C. Penanganan pertama yang dilakukan adalah dilakukan x-ray
dan dinyatakan anjing tersebut mengalami fissura, sehingga perlu dilakukan
pemasangan bonepin dengan cara operasi pada bagian kaki belakangnya. Treatment
minggu pertama yang diberikan setelah operasi terdiri atas pemberian Yusimox 2.5
ml 2 kali sehari, dan Prednisone 1/2 tablet 2 kali sehari. Obat luar yang digunakan
adalah obat salep yaitu Bioplacenton dan thrombophob 2 kali sehari yang dioleskan
pada bagian luka bekas jahitan. Treatment minggu kedua yang diberikan yaitu
pemberian Scott’s emulsion sebanyak 2 ml 2 kali sehari, Vitamin B1 IPI 1/2 tablet
16

2 kali sehari dilanjutkan dengan pemakaian obat luar yang sama yaitu Bioplacento n
dan thrombophob 2 kali sehari (Gambar 7).

KLINIK HEWAN KLINIK HEWAN


Drh Amiruddin Drh Amiruddin
Alamat : Jalan Babakan Lebak, No telp (08123456789) Alamat : Jalan Babakan Lebak, No telp (08123456789)
Jam Praktik : Senin – Jumat (08.00 – 11.00 WIB) Jam Praktik : Senin – Jumat (08.00 – 11.00 WIB)
SIP : 021/SIP/BG/2016 SIP : 021/SIP/BG/2016
Drh : Dudung Bogor, 13 November 2019 Drh : Thris Bogor, 13 November 2019

R/ Yusimox syr No. 1 fls


S2dd 2.5 ml_____________________
R/ Scott’s emulsion No. 1 fls
S2dd 2 cc_____________________
R/ Prednisone tab No. V
S2dd 1/2 tab_____________________

R/ Vit. B1 IPI tab No. X


R/ Bioplacentone zalp No. 1 tube S2dd 1/2 tab__________________
S u e___________________________

R/ Thrombophob zalp No. 1 tube


S u e___________________________

Jenis : Anjing Jenis : Anjing


Breed : Domestik Breed : Domestik
Nama : NN Nama : NN
Nama Pemilik : Bpk. Yongki Nama Pemilik : Bpk. Yongki
Alamat : Bogor Alamat : Bogor
Berat : 2.5 Kg Berat : 2.5 Kg
Gambar 7 Contoh resep untuk pasien yang bernama NN

Yusimox atau amoxicillin merupakan turunan dari ampicillin dan memilik i


spektrum antibakteri yang serupa (gram positif dan gram negatif), aksi bakterisida
(membunuh bakteri) sama seperti penicillin, bekerja pada bakteri yang dituju ketika
melakukan tahap multiplikasi (memperbanyak diri) dengan mengha mbat
biosintesis (pembentukan) dinding sel mukopeptida pada bakteri, namun memilik i
bioaviabilitas superior dan lebih stabil menahan asam lambung dan memilik i
aktivitas spektrum bakteri yang lebih luas daripada penicillin. Dosis yang
digunakan untuk anjing adalah 10-20 mg/kg BB
Prednison adalah obat antiradang, golongan kortikosteroid yang berfungs i
untuk mengurangi inflamasi dengan cara menginhibisi migrasi sel
polimorfonuklear (PMN) dan mengurangi peningkatan permeabilitas kapiler.
Prednison mensupresi sistem imun dengan cara mengurangi aktifitas dan volume
17

sistem limfe. Obat ini juga digunakan untuk terapi berbagai kondisi seperti alergi,
ulseratif kolitis, arthritis, lupus, psoriasis, atau gangguan pernapasan.
Bioplacenton adalah obat untuk mengobati sekaligus mempercepat
persembuhan luka. Obat ini umumnya mengandung placenta dan bahan aktif
neomycin sulfate. Neomycin merupakan obat untuk mengobati infeksi bakteri.
Sedangkan placenta adalah zat sintesis menyerupai placenta manusia yang
berfungsi memicu pembentukan jaringan baru pada kulit yang terluka.
Trombophob adalah obat salep yang mengandung 2 kombinasi zat aktif,
yaitu heparin natrium dan benzyl nicotine. Obat ini digunakan untuk mengatas i
pembekuan darah, selama dialisis, atau selama transfusi. Obat ini juga dapat
digunakan mengatasi memar, nyeri saraf, dan membantu mempercepat
persembuhan luka di kulit.
Scott’s emulsion adalah suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh.
Suplemen ini juga dapat digunakan untuk mencegah kekurangan vitamin D,
kekurangan vitamin A, gangguan nutrisi, dan kondisi lainnya seperti penyakit kulit
serta masalah kesehatan mata. Obat ini mengandung asam lemak omega- 3
(DHA+EPA), vitamin A, vitamin D, dan kalsium.
Vitamin B1 atau tiamin adalah salah satu vitamin yang berguna dalam
merubah karbohidrat menjadi energi untuk tubuh. Vitamin B1 juga berperan pada
proses metabolisme glukosa intraseluler, yaitu menginhibisi kerja glukosa dan
insulin pada proliferasi sel otot polos arterial. Selain itu vitamin B1 memilik i
sederetan aktivitas lain seperti sebagai antioksidan, eritropoetik, modulator
kognitif, dan detoksifikasi.

PENUTUP

Simpulan
Berdasarkan kegiatan magang di apotek RSHP IPB dan Apotek Klinik
Hewan Taman Kencana, dapat diketahui bahwa pelayanan intalasi farmasi pada
kedua tempat dapat berjalan dengan baik dan kontribusi dalam peningkata n
keterampilan ilmu reseptir dan aplikasi obat serta peningkatan pengetahuan dalam
pemilihan obat guna menangani pasien selama kegiatan magang berlangsung.
18

Saran
. Perbaikan dalam managemen Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) di
RSHP IPB perlu dilakukan seperti diadakan evaluasi setiap bulannya oleh
penanggung jawab apotek atas segala aktivitas keluar dan masuknya stock obat dan
alat kesehatan di apotek RSHP IPB dan Apotek Klinik Hewan Taman Kencana.

DAFTAR PUSTAKA
Babaahmady E, Khosravi A. 2011. Toxicology of baytril (enrofloxacin). African
Journal of Pharmacy and Pharmacology. 5(18):2042-2045.

Chambers H. 2010. Antibiotik Beta Laktam & Antibiotik lain yang aktif di Dinding
dan Membran Sel. In B. Katzung, Farmakologi Dasar dan Klinik (pp. 748-
767). Jakarta: EGC.

Chatterjee J. 2013. Determination of cefadroxil antibiotic by an analytical method.


Chemical and Process Engineering Research .11(1):28-31

Chopra I, Robert M. 2001. Tetracycline antibiotics: mode of action,


applications,molecular biology, and epidemiology of bacterial resistance.
Microbiology and Molecular Biology Reviews. 65(2):232-260.

Clarke EGC. 1986. Isolation and Identification of Drugs 2 nd Ed. 505-506, 698, The
Pharmaceutical Press. London

[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Pedoman


Pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan. Jakarta (ID):
Departemen Kesehatan RI.

Evaria. 2013. Master Index of Medical Specialities Edisi Bahasa Indoneisa Volume
13 pp.183-207. Jakarta: EGC.

Frey BM, Frey FJ.1990. Clinical pharmacokinetics of prednisone and prednisolone.


Clin Farmacokinet. 19(2): 126- 146.

Icen H, Yesimen S. 2008. Staphilococcal pyoderma in a cat: a case report. Journal


of Animal and Veterinary Advances. 7(10):1332-1334.

Kelly GS. Clinical Applications of N-Acetylcysteine. Alternative Medicine


Review. 1998; Vol (3) No.2: 114-127.
19

Lakhani N, Vandana KL. 2016. Chlorhexidine – an insight. International Journal


of Advanced Research. 4(7):1321-1328

Ma’at S. 2008. Menahan atau menekan kekebalan (imunosupresi) untuk


pencangkokan ginjal (bagian II). Indonesian Journal of Clinical Pathology
and Medical Laboratory. 14(3):112-122.

Martin, J., 2009, British National Formulary, 57th edition. London : BMJ Group
and PRS Publishing.

Prasanna SGV, Lakshmanan L. 2016. Characteristics, uses and side effects of


chlorhexidine- a review. Journal of Dental and Medical Sciences.
15(6):57-59

Quick JD. 1997. Managing Drug Supply Ed 2nd ed Revised and Expanded WHO.
USA: Kumarian Press.

Simpson DL, Burton GG, Hambrook LE. 2013. Canine pyoderma gangrenosum: a
case series of two dogs. Vet Dermatol. 24(1):552-555.

Siregar CJP. 2004. Farmasi Rumah Sakit. Jakarta(ID): EGC.

Siswandono dan Soekardjo B. 1995. Kimia Medisinal. Surabaya: Airlangga


University Press. Halaman 41-115.

Smieja M. 1998. Current indications for the use of clindamycin: a critical review.
Can J Infect Dis. 9(1):22-28.

Tariq S, Rizvi SFA, Anwar U. 2018. Tetracycline: classification, structure activity


relationship and mechanism of action as a theranostic agent for infectio us
lesions-a mini review. Biomedical Journal of Scientific and Technical
Research. 7(2): 5787-5796.
Trouchon T, Lefebvre S. 2016. A review of enrofloxacin for veterinary use. Open
Journal of Veterinary Medicine. 6(1):40-58.

Waldron, N.H., Jones, C.A., Gan, T.J., Allen, T.K., and Habib, A.S., 2012. Impact
of perioperative dexamethasone on postoperative analgesia and side-
effects: systematic review and meta-analysis. British Journal of
Anaesthesia, 110(2): 191-200.

Wientarsih I, Prasetyo BF, Madyastuti R, Sutardi LN, Akbari RA. 2017. Obat-
obatan untuk Hewan Kecil. Bogor (ID): IPB Press.
20

Lampiran

TATA TERTIB MAGANG DI APOTEK RSHP IPB


DAN KLINIK TAMAN KENCANA
1. Setiap peserta magang wajib ketentuan yang berlaku di tempat magang (Apotek
RSHP dan Apotek Taman Kencana).
2. Peserta magang wajib datang dari hari Senin-Minggu
Apotik RSHP :
Shift 1: 08.00-16.00 WIB
Shift 2: 13.00-21.00 WIB
Apotik Taman Kencana :
13.00-21.00 WIB
3. Peserta magang wajib menggunakan jas laboratorium pada saat kegiatan magang
berlangsung.
4. Peserta magang wajib mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan
pelayanan kefarmasian dan dan mendiskusikan hal yang berkaitan dengan
pemberian obat kepada dosen penanggung jawab.
5. Peserta magang wajib membuat laporan magang yang ditugaskan oleh dosen
yang berwenang.
6. Peserta magang dilarang makan dan minum di dalam ruang apotek dan membawa
makanan.
7. Peserta magang dilarang bepergian pada saat jam kerja tanpa seiijin dokter
penanggung jawab.
8. Apabila peserta magang berhalangan/izin karena sakit dan lain hal, peserta
magang wajib mengganti hari magang sesuai jumlah hari ijin.

Demikian peraturan ini dibuat untuk dilaksanakan demi kelancaran proses


magang di Apotek RSHP IPB dan Klinik Taman Kencana

Bogor, 25 November 2019

Mengetahui,
Koordinator Mata Kuliah Ilmu Reseptir Penanggung Jawab
Apotik RSHP

Dr. Bayu Febram Prasetyo, SSi, Apt, MSi Drh. Sylvia Oscarina

Anda mungkin juga menyukai