Anda di halaman 1dari 15

Percobaan 1

PEMERIKSAAN KADAR GLUKOSA

I. Tujuan Percobaan
- Memiliki keterampilan dalam menentukan kadar glukosa dalam sampel.
- Memahami metode penentuan kadar glukosa.
- Memahami peranan pemeriksaan kadar glukosa dalam menegakan diagnosis
kondisi patologis.

II. Teori Percobaan


2.1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid/keton dengan rumus empirik
(CH2O)n. Karbohidrat digolongkan sebagai monosakarida atau gula (satu unit
aldehida/keton); oligosakarida (beberapa unit monosakarida); dan polisakarida,
molekul besar linear atau bercabang yang mengandung banyak unit mosakarida
(Lehninger, 1997).
Karbohidrat terbagi menjadi tiga kelompok berdasarkan ukuran dan
kelarutannya :
1. Monosakarida - ‘satu unit gula’ dan larutan dalam air
Merupakan unit pembangun karbohidrat lainnya. Monosakarida (gula
sederhana) terdapat dalam bentuk ‘rantai terbuka’ dan bentuk cincin. Kedua
bentuk ini dengan mudah saling bertukar bentuk. Di dalam larutan bentuk ‘rantai
terbuka’ menutup dan membentuk struktur cincin yang stabil. Hanya ada tiga
monosakarida yang sering terdapat dalam makanan. Monosakarida tersebut
adalah glukosa (gula darah atau dekstrosa), fruktosa (gula buah), dan galaktosa
(Joyce dkk, 2009).
2. Diskarida – ‘dua unit gula’ dan larut dalam air
Disakarida yang paling penting dalam makanan adalah sukrosa (gula meja
atau gula tebu), laktosa (gula susu), dan maltose (gula malt). Laktosa dan sukrosa
merupakan gula pereduksi. Disakarida terbentuk bila dua monosakarida
bergabung dengan melepas satu molekul air dalam reaksi kondensasi. Disakarida
terlalu besar untuk dapat diabsorpsi langsung di usus dan harus dicerna menjadi
monosakarida sebelum diabsorpsi (Joyce dkk, 2009).
3. Polisakarida – ‘banyak unit gula’ dan tidak larut dalam air
Polisakarida adalah rantai panjang molekul-molekul gula. Struktur seperti ini
disebut polimer atau makromolekul. Polisakarida dapat mengandung hingga
26.000 molekul glukosa dan biasanya tidak larut air karena ukurannya yang besar.
Tiga polisakarida yang penting adalah selulosa, pati dan glikogen (Joyce dkk,
2009).
2.2. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus adalah suatu kondisi dimana konsentrasi glukosa dalam
darah secara kronis lebih tinggi daripada nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh
kekurangan insulin atau fungsi insulin tidak efektif. Penyakit ini telah dikenal ribuan
tahun yang lalu dan kini dikenal sebagai penyakit akibat dari pola hidup modern.
Jumlah penderita diabetes secara global terus meningkat setiap tahunnya (Subroto, M.
A., 2006).
Menurut American Diabetes Association (ADA), diabetes mellitus dapat
diklasifikasikan sebagai berikut (Subroto, M. A., 2006).
1. Diabetes mellitus tipe 1 (IDDM)
Tipe ini disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas sehingga terjadi
kekurangan insulin absolute.
2. Diabetes mellitus tipe 2 (NIDDM)
Tipe ini disebabkan oleh gangguan sekresi insulin yang progresif karena
resistensi insulin.
3. Diabetes mellitus kehamilan
4. Diabetes mellitus tipe lain
Pengobatan satu-satunya terhadap tipe-1 adalah pemberian insulin seumur
hidup. Tipe-1 merupakan penyakit auto-imun, maka imunosupresiva seperti
aziotropin dan siklosporin dapat menghambat jalannya penyakit, tetapi hanya untuk
sementara.. Nilai glukosa darah normal adalah 60-100 mg/dL dan glukosa serum, 70-
110 mg/dL. Ketika kadar glukosa darah lebih besar dari 180 mg/dL, dapat terjadi
glukosuria (gula dalam urin). Peningkatan kadar gula darah bertindak sebagai diuretik
osmotik, menyebabkan poliuria. Bila gula darah tetap meninggi (>200 mg/dL), terjadi
diabetes mellitus (Tjay dan Rahardja, 2007).
Diabetes mellitus tipe-2 pada hakekatnya tidak tergantung dari insulin, maka
dahulu juga disebut NIDDM (=non-insulin-dependent) dan lazimnya dapat diobati
dengan antidiabetika oral. Pemilihan dan penentuan regimen antidiabetik oral yang
digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan penyakit DM serta kondisi
kesehatan pasien secara umum termasuk penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang
ada. Dalam hal ini obat hipoglikemik oral adalah termasuk golongan sulfonylurea,
biguanid, inhibitor alfa glukosidase dan insulin sensitizing (Fatimah, R.N., 2015).
Metode standar pengujian diabetes adalah tes gula darah puasa yang
mengukur jumlah glukosa dalam darah setelah melakukan puasa makan selama
periode sepuluh sampai dua belas jam. Kadar gula darah puasa normal adalah sekitar
70 sampai 100 miligram per desiliter (mg/dL). Dinyatakan didiagnosis diabetes bila
dua tes darah yang terpisah menunjukkan kadar glukosa dalam darah puasa lebih
tinggi atau sama dengan 126 mg/dL. Dengan menggunakan tes ini, kadar glukosa
lebih tinggi dari 200 mg/dL menunjukkan diabetes (D’Adamo dan Whitney, 2009).
Glukosa darah sewaktu adalah kadar glukosa darah pada suatu saat yang dapat
berubah-ubah sepanjang hari sesuai dengan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi.
Glukosa darah puasa ialah kadar glukosa darah setelah puasa semalaman (>10 jam).
Kadar glukosa darah puasa yang tinggi menunjukkan produksi insulin tidak cukup
meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan basal (Mahendra, B. dkk., 2008).
Glukosa darah postprandial (pp) adalah kadar glukosa darah setelah makan
yang biasanya meningkat dengan puncaknya pada 1 jam pp. setelah itu, kadarnya
berangsur-angsur turun dan kadar glukosa darah pada 2 jam pp mendekati kadar
glukosa darah puasa. Nilai ini sebenarnya baru bermakna jika jumlah karbohidrat
yang dikonsumsi sesuai dengan standar WHO, yaitu mengandung 75 g glukosa
(Mahendra, B. dkk., 2008).
2.3. Metode Pengukuran Glukosa
Terdapat dua metode utama yang digunakan untuk mengukur glukosa. Metode
yang pertama adalah metode kimiawi yang memanfaatkan sifat mereduksi dari
glukosa, dengan bahan indikator yang akan berubah warna apabila tereduksi. Akan
tetapi metode ini tidak spesifik karena senyawa-senyawa lain yang ada dalam darah
juga dapat mereduksi (misal : urea, yang dapat meningkat cukup bermakna pada
uremia). Kedua yaitu metode enzimatik pada pemeriksaan glukosa darah memberikan
hasil dengan spesifitas yang tinggi, karena hanya glukosa yang akan terukur. Cara ini
adalah cara yang digunakan untuk menentukan nilai batas (Departemen Kesehatan
RI, 2005).
Ada 2 macam metode enzimatik yang digunakan yaitu glucose oxidase dan
metode hexokinase (Departemen Kesehatan RI, 2005).
1. Metode glucose oxidase
Metode glucose oxidase merupakan metode yang paling banyak digunakan di
laboratorium yang ada di Indonesia. Sekitar 85% dari peserta Program Nasional
Pemantapan Mutu Eksternal bidang Kimia Klinik (PNPME-K) memeriksa glukosa
serum kontrol dengan metode ini (Departemen Kesehatan RI, 2005).
Prinsip pemeriksaan pada metode ini adalah enzim glucose oxidase
mengkatalisis reaksi oksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida.
Hidrogen peroksida yang terbentuk bereaksi dengan phenol dan 4-amino phenazone
dengan bantuan enzim peroksidase menghasilkan quinoneimine yang berwarna merah
muda dan dapat diukur dengan fotometer pada panjang gelombang 546 nm. Intensitas
warna yang terbentuk setara dengan kadar glukosa darah yang terdapat dalam sampel
(Riyani, 2009).
2. Metode hexokinase
Metode hexokinase merupakan metode pengukuran kadar glukosa darah yang
dianjurkan oleh WHO dan IFCC. Baru sekitar 10% laboratorium yang ikut PNPME-
K menggunakan metode ini untuk pemeriksaan glukosa darah (Departemen
Kesehatan RI, 2005).
Prinsip pemeriksaan pada metode ini adalah hexokinase akan mengkatalis
reaksi fosforilasi glukosa dengan ATP membentuk glukosa-6-fosfat dan ADP. Enzim
kedua yaitu glukosa-6-fosfat dehidrogenase akan mengkatalisis oksidasi glukosa-6-
fosfat dengan nicotinamide adenine dinocleotide phosphate (NADP+) (Departemen
Kesehatan RI, 2005).
3. Metode enzimatik trinder
Metode enzimatik trinder digunakan untuk mengetahui kadar gula darah dapat
diukur pada laboratorium medis dengan menggunakan metode GOD-PAP, dengan
prinsip oksidasi glukosa oleh glukooksidase (GOD) menjadi asam glukonat dan
H2O2. H2O2 kemudian direaksikan dengan 4-aminoantipirin dan fenol dikatalisis oleh
enzim peroksidase (POD) menghasilkan quinoneimina yang berwarna kemerahan dan
H2O (Departemen Kesehatan RI, 2005).
GOD
Glukosa + O2 + H2O Asam glukanoat + H2O2
POD
2H2O2 + 4-aminoantipirin + fenol quinoneimina + H2O
2.4. Spektrofotometri
Spektrofotometri serap merupakan pengukuran interaksi antara radiasi
elektromagnetik panjang gelombang tertentu yang sempit dan mendekati
monokromatik dengan molekul atau atom dari suat zat kimia. Hal ini didasarkan pada
kenyataan bahwa molekul selalu mengabsorpsi cahaya elektromagnetik jika frekuensi
cahaya tersebut sama dengan frekuensi getaran dari molekul tersebut. Elektron yang
terikat dan elektron yang tidak terikat akan tereksitasi pada suatu daerah frekuensi,
yang sesuai dengan cahaya ultra violet dan cahaya tampak (UV-Vis) (Roth et.al,
1994).
Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis kuantitatif
suatu zat biasanya merupakan panjang gelombang dimana zat yang bersangkutan
memberikan serapan yang maksimum, sebab keakuratan pengukuran pengukurannya
akan lebih besar (Roth et.al, 1994).

III. Alat dan Bahan


2.1. Alat
1. Pipet 0,5 mL dan 1 mL
2. Mikropipet 10 µL, 50 µL dan 100 µL
3. Tabung reaksi
4. Spektrofotometer
2.2. Bahan
1. Serum
2. Enzim (GOD, Peroksidase)
3. Pelarut (Aquadest)
4. Standar
5. Reagen Warna (4-aminoantipirin)

IV. Prosedur
Pertama- tama disiapkan serum yang akan dicek kadar glukosa kemudian
dilakukan pembuatan larutan standar dengan cara dicampurkan larutan standar
sebanyak 10 L dan reagen sebanyak 1 mL ke dalam tabung reaksi lalu dilakukan
pembuatan larutan uji dengan cara dicampurkan larutan serum sebanyak 10 µL
dengan reagen sebanyak 1 mL dimasukan ke dalam tabung reaksi selanjutnya
dilakukan pembuatan larutan blanko dengan cara dicampurkan aquadest sebanyak 10
µL dengan reagen sebanyak 1 mL Setelahnya didiamkan didalam suhu kamar selama
10 menit kemudian di baca nilai absorbansi dari larutan uji dan standar terhadap
blanko pada panjang gelombang 505 nm.

V. Hasil Pengamatan
5.1. Data Absorbansi

Larutan Uji Absorbansi Larutan


Blanko 0,203
Larutan Uji 1 0,386
Larutan Uji 2 0,154
Larutan Uji 3 0,196
Larutan Uji 4 0,269
Larutan Uji 5 0,180

5.2. Perhitungan

Kadar standar = 100 mg/dl

mg absorbansi uji
Glukosa darah ( dl ) = 𝑎𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑥 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

0,368
 Absorbnsi uji 1 = 0,203 𝑥 100 = 190,15 𝑚𝑔/𝑑𝑙
0,154
 Absorbnsi uji 2 = 0,203 𝑥 100 = 75,86 𝑚𝑔/𝑑𝑙
0,196
 Absorbnsi uji 3 = 0,203 𝑥 100 = 93,55 𝑚𝑔/𝑑𝑙
0,269
 Absorbnsi uji 4 = 0,203 𝑥 100 = 132,51𝑚𝑔/𝑑𝑙
0,180
 Absorbnsi uji 5 = 0,203 𝑥 100 = 88,67 𝑚𝑔/𝑑𝑙
190,15+75,086+93,55+135,51+88,67
 Rata-rata = = 116.75 𝑚𝑔/𝑑𝑙
5

√∑(𝑋 −𝑋)2 +(𝑋 −𝑋)2 +(𝑋 −𝑋)2 +(𝑋 −𝑋)2 +(𝑋 −𝑋)2
1 1 1 1 1
SD= 𝑛−1
√∑(190,15−116,75)2 +(75,86−116,75)2 +(96,55−116,75)2 +(132,51−116,75)2 +(88,67−116,75)2
SD= 5−1

√5387,56 +1671,99 +408,04+248,38 +788,49


SD=
4

8494,46
SD= √ = √2123,615 = 46,08
4

𝑆𝐷
RSD= x 100%
𝑥̅

46,08
RSD= x 100% = 39,47%
116,75

5.3. Gambar pengamatan

Sebelum didiamkan Setelah didiamkan


Blanko

Larutan uji 1

Larutan uji 2
Larutan uji 3

_ _

Larutan uji 4

Larutan uji 5

VI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan pemeriksaan glukosa
darah yang bertujuan untuk menetapkan kadar glukosa darah, memahami metode
penentuan kadar glukosa darah, dan memahami peranan pemeriksaan kadar glukosa
darah dalam menegakan diagnosis kondisi patologis. Glukosa darah adalah istilah
yang mengacu kepada kadar glukosa dalam darah yang konsentrasinya diatur ketat
oleh tubuh (Mayes, 2001). Kadar glukosa dalam darah ini biasanya digunakan
sebagai salah satu parameter untuk melihat apakah seseorang mengidap penyakit
diabetes atau tidak.

Penetapan kadar glukosa dapat dilakukan dengan dua metode yaitu reaksi
kimia dan reaksi enzimatis. Namun, pada percobaan ini digunakan metode enzimatik.
Pada metode ini, glukosa diukur kadarnya setelah dioksidasi secara enzimatis
menggunakan enzim GOD atau glukosa oksidase. Metode enzimatik pada
pemeriksaan glukosa darah memberikan hasil dengan spesifitas yang tinggi karena
hanya glukosa yang terukur. Metode enzimatik yang digunakan ada dua yaitu metode
glukosa oksidase (GOD-PAP) dan metode heksokinase (Departemen Kesehatan RI,
2005).

Sebelum melakukan pemeriksaan kadar glukosa darah, hal pertama yang


dilakukan adalah menyiapkan spesimen uji (serum), larutan blangko dan membuat
larutan standar. Dahulu, pengukuran glukosa darah dilakukan terhadap darah lengkap,
tetapi sekarang sebagian besar laboratorium melakukan pengukuran kadar glukosa
dalam serum. Hal ini disebabkan karena eritrosit memiliki kadar protein yang lebih
tinggi daripada serum, sedangkan serum memiliki kadar air yang lebih tinggi
sehingga bila dibandingkan dengan darah lengkap serum melarutkan lebih banyak
glukosa (Sacher, 2004). Serum merupakan hasil pemisahan antara komponen cair dan
seluler dari darah. Dari hasil pemisahan tersebut, didapat serum yang tidak
mengandung sel-sel darah. Oleh karena itu, pada pemeriksaan kadar glukosa ini
digunakan serum sebagai spesimen dengan tujuan untuk mencegah terjadinya proses
metabolisme sel hidup (sel-sel darah) yang dapat mengakibatkan penurunan kadar
glukosa darah sehingga akan mempengaruhi akurasi dan presisi pada hasil
pemeriksaan.

Pembuatan larutan standar dilakukan dengan cara mencampurkan larutan


standar dan reagen masing-masing sebanyak 10 L dan 1 mL ke dalam tabung
reaksi. Larutan standar ini digunakan sebagai pembanding spesimen uji. Kemudian
untuk menyiapkan spesimen uji (serum) juga sama seperti halnya pada penyiapan
larutan standar, dimana serum dicampurkan dengan reagen masing-masing sebanyak
10 µL dan 1 mL dimasukan ke dalam tabung reaksi. Reagen yang digunakan berisi
enzim Glukosa Oksidase (GOD), aminoantipirin, 4-klorofenol dan NaCl.
Penambahan reagen tersebut dilakukan dengan tujuan agar mendapatkan senyawa
yang dapat bereaksi membentuk warna tertentu sehingga dapat diukur serapannya
dengan menggunakan spektrofotometer juga sebagai tempat melekatnya enzim.

Sebelum diukur nilai absorbansi dari larutan standar dan larutan uji, terlebih
dahulu didiamkan pada suhu 37oC atau pada suhu kamar selama 10 menit.
Pengaturan suhu 37oC ini dimaksudkan agar enzim-enzim yang digunakan dalam
reaksi tersebut dapat berikatan dengan substrat sehingga bekerja secara optimal
seperti berada pada kondisi dalam tubuh.

Setelah didiamkan selama 10 menit, terjadi perubahan warna pada kedua


larutan tersebut akibat reaksi dari enzim tersebut dimana kedua larutan yang awalnya
bening berubah menjadi larutan berwarna merah muda. Perubahan warna tersebut
terjadi akibat dari reaksi enzimatis yang menimbulkan reaksi oksidasi glukosa
menjadi asam glukanoat dan hidrogen peroksida. Dengan bantuan enzim hidrogen
peroksida tersebut kemudian akan membentuk senyawa quinoneimina yang berwarna
merah muda. Intensitas warna yang terbentuk dari senyawa tersebut sebanding
dengan kadar glukosa dalam darah (Riyani, 2009). Semakin pekat warna larutan yang
dihasilkan, maka semakin banyak kadar senyawa yang di analisis.

Kemudian dilakukan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer


pada panjang gelombang 505 nm. Hasilnya didapat nilai absorbansi standar sebesar
0,203. Absorbansi uji 1,2,3,4 dan 5 berturut-turut yaitu 0,386; 0,154; 0,196; 0,269
dan 0,180. Terjadi perbedaan pada nilai absorbansi, hal tersebut dapat disebabkan
oleh beberapa faktor seperti adanya gelembung saat pemipetan, pengambilan serum
yang kurang atau melebihi jumlah, kuvet yang kurang bersih sehingga dapat
mempengaruhi hasil absorbansi dari larutan uji.

Instrumen spektrofotometer yang digunakan untuk mengukur nilai absorbansi


standar dan uji memiliki mekanisme kerja yaitu cahaya yang berasal dari lampu
deuterium maupun wolfram yang bersifat polikromatis di teruskan melalui lensa
menuju ke monokromator. Monokromator kemudian akan mengubah cahaya
polikromatis menjadi cahaya monokromatis (tunggal). Berkas-berkas cahaya dengan
panjang tertentu kemudian akan dilewatkan pada sampel yang mengandung suatu zat
dalam konsentrasi tertentu. Oleh karena itu, terdapat cahaya yang diserap
(diabsorbsi) dan ada pula yang dilewatkan. Cahaya yang dilewatkan ini kemudian
diterima oleh detektor. Detektor kemudian akan menghitung cahaya yang diterima
dan mengetahui cahaya yang diserap oleh sampel. Cahaya yang diserap sebanding
dengan konsentrasi zat yang terkandung dalam sampel sehingga akan diketahui
konsentrasi zat dalam sampel secara kuantitatif (Triyati, 1985).

Setelah didapat nilai absorbansi dari larutan standar dan uji selanjutnya
dilakukan perhitungan kadar glukosa menggunakan rumus berikut:

Absorbansi Uji
Glukosa darah (mg/dL) = Absorbansi standar x Kadar standar

Dari perhitungan tersebut didapat hasil kadar glukosa 1 sebesar 190,47 mg/dL; kadar
glukosa 2 sebesar 75,892 mg/dL; kadar glukosa 3 sebesar 96,551 mg/dL; kadar
glukosa 4 sebesar 132,512 mg/dL dan kadar glukosa 5 sebesar 88,669 mg/dL. Rata-
rata kadar glukosa darah tersebut adalah 116,75 mg/dL. Hasil rata-rata kadar glukosa
tersebut masuk dalam nilai norrmal kadar glukosa sewaktu. Nilai normal kadar
glukosa sewaktu adalah < 180 mg/dL. Selanjutnya dilakukan perhitungan simpangan
baku (SD) dan simpangan baku relatif (RSD). SD dihitung menggunakan rumus:
|( 𝑥 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎)−𝑥| 2
SD = √ dan nilai RSD dihitung dengan rumus:
𝑛−1
SD
𝑥 100% Setelah dilakukan perhitungan, didapat hasil nilai SD sebesar
𝑋𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎

46,08 dan nilai RSD sebesar 39,47 %. Nilai RSD tersebut menunjukkan hasil yang
kurang baik karena nilainya > 2 % sehingga terjadi penyimpangan absorbansi yang
tinggi.
VII. Kesimpulan
Dapat disimpulkan nilai rata-rata normal kadar glukosa pada praktikum kali
ini adalah sebesar 116,75 mg/dL hasil tersebut masuk kedalam rentang nilai normal
kadar glukosa sewaktu yaitu <180 mg/dL, dan hasil nilai SD sebesar 46,08 dan nilai
RSD sebesar 39,47 %. Nilai RSD tersebut menunjukkan hasil yang kurang baik
karena nilainya > 2 % sehingga terjadi penyimpangan absorbansi yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

 D’Adamo, P.J. dan Whitney, C. (2009). Diabetes : Penemuan Baru


Memerangi Diabetes Melalui Diet Golongan Darah, B-first PT Bentang
Pustaka. Yogyakarta.

 Departemen Kesehatan RI. (2005). Pedoman Pemeriksaan Laboratorium


Untuk Penyakit Diabetes Melitus, DEPKES RI. Jakarta

 Fatimah, R.N. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2, Artikel Review J Majority,


Februari, Volume 4 Nomor 5.

 Hendayana, Sumar. (1994). Kimia Analitik Instrumen. Semarang : IKIP


Semarang Press.

 Indiyarti, Riani. (2009). Perbandingan Kadar Gula Darah Sewaktu Pada


Kedua Jenis Stroke. Surabaya : Trisakti University Press.
 Joyce, Colin Baker dan Helen Swain. (2009). Prinsip-prinsip Sains untuk
Keperawatan. Jakarta: Erlangga.

 Lehninger, A.L. (1997). Dasar-dasar Biokimia, IPB Press. Bandung.

 Mahendra, B. dkk. (2008). Care Your Self : Diabetes Melitus, Penebar Plus.
Jakarta.

 Mayes, PAA. 2001. Biokimia Edisi 20. EGC : Jakarta.


 Roth, H.J., et.al. (1994). analisis Farmasi, cetakan kedua, diterjemahkan oleh
Sardjono Kisman dan Slamet Ibrahim, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

 Sacher RA, Mc Pherson RA. (2004). Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan


Laboratorium. Edisi II. Penerjemah: Brahm Pendit, Dewi Wulandari. EGC :
Jakarta.
 Subroto, M. A. (2006). VCO Dosis Tepat Taklukkan Penyakit, Penebar
Swadaya. Tangerang.

 Tjay, T.H. dan Rahardja, K. (2007). Obat-obat Penting Kasiat, Penggunaan


dan Efek-efek Sampingnya, PT Elex Media Komputindo. Jakarta.

 Triyati, Etty. (1985). Spektrofotometer Ultra-Violet dan Sinar Tampak Serta


Aplikasinya dalam Oseanologi. Jakarta.