Anda di halaman 1dari 51

Dokumen ANDAL

Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)


PT. Tambang Bumi Sulawesi

Bab III
Rona Lingkungan Hidup Awal

Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan maka ditentukan sejumlah


komponen rona awal lingkungan hidup yang secara potensial akan mengalami
perubahan mendasar terhadap kualitas lingkungan hidup. Gambaran umum kondisi
rona lingkungan hidup awal di wilayah studi didasarkan atas data primer dan data
sekunder. Data primer dikumpulkan dari hasil studi pengamatan awal di lokasi studi,
sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui studi pustaka dari berbagai laporan
hasil penelitian yang relevan dengan studi AMDAL serta informasi dari instansi terkait.
Komponen rona awal lingkungan yang dikaji adalah kondisi geofisik dan kimia, biologi,
sosial ekonomi budaya serta kesehatan masyarakat.

3.1. KOMPONEN LINGKUNGAN YANG TERKENA DAMPAK


A. Komponen Fisik Kimia
1. Iklim (Alifathur)
a. Curah Hujan

b. Angin

2. Kualitas Udara dan Kebisingan (aswan)


a. Kualitas udara
Gambaran umum tingkat kualitas udara di wilayah sekitar wilayah studi
diperoleh dari pengukuran di lapangan. Lokasi pengukuran kualitas udara ini
dilakukan pada lokasi 013 di dititik koordinat yaitu S: 05o 21' 08,71" E: 121o 51' 23,36",
dan lokasi 014 di dititik koordinat yaitu S: 05o 20' 10,34" E: 121o 51' 10,34" bertempat di
PT. Tambang Bumi Sulawesi Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana
Provinsi Sulawesi Tenggara kualitas udara di sekitar wilayah studi disajikan pada tabel
berikut.

Tabel 3.1. Data Kualitas Udara di Sekitar Wilayah Studi (Pengukuran 1 Jam)

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 1


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Hasil Uji Tiap


Baku Lokasi
No Parameter Satuan
Mutu
U-013 U-014

1 Sulfur Dioksida (SO2) 900 µg/Nm³ 54,78 53,23

2 Nitrogen Dioksida (NO2) 400 µg/Nm³ 37,42 36,78

3 Karbon Monoksida (CO) 30000 µg/Nm³ 3200 2200

4 Suhu - oC 32,1 30,6

5 Debu 230 µg/Nm³ 35,70 40,20

Sumber: Data Pengamatan, 2018


Keterangan: Baku mutu berdasarkan PP No. 41 Tahun 1999, Tentang
Pengendalian Pencemaran Udara

Sulfur dioksida (SO2). Sulfur dioksida merupakan salah satu komponen polutan
udara hasil pembakaran pada proses industri, kendaraan bermotor, generator listrik
atau sampah organik. Pada konsentrasi tinggi, gas ini dapat menyebabakan iritasi pada
saluran pernapasan dan reaksi dengan uap air di atmosfer dapat mengakibatkan hujan
asam. Di wilayah studi, konsentrasi gas ini berkisar antara 29,57-30,43 µg/Nm³. Nilai
parameter masih lebih rendah dibanding baku mutu yang ditetapakn sebesar 900
µg/Nm³ atau kegiatan di sekitar lokasi pengukuran belum menyebabkan udara
tercemar oleh gas SO2. Sumber utama gas ini diperkirakan dari emisi gas buang
kendaraan bermotor yang beroperasi di sekitar lokasi pengukuran.
Karbon Monoksida (CO). Gas CO ini dapat bersumber dari pembakaran bermotor,
batu bara, atau bahan organik lainnya. Pada konsentrasi tertentu yaitu diatas baku
mutu yang ditetapkan gas ini dapat menimbulkan efek racun terhadap tubuh manusia
dengan gejala seperti sakit kepala, pusing dan sesak nafas. Polutan ini dalam udara
ambien di wilayah studi berkisar antara 1.22203-1.777,51 µg/Nm³. Rentang nilai
parameter tersebut masih jauh dibawah baku mutu yang ditetapkan sebesar 30.000
µg/Nm³ sehingga tidak akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan
komponen lingkungan hidup lainnya. Sumber utama CO diperkirakan dari emisi gas
buang kendaraan bermotor yang beroperasi di sekitar lokasi pengukuran.
Nitrogen dioksida (NO2). Gas ini merupakan salah satu polutan ambien yang dapat
bersumber dari alam. Hasil pembakaran bahan organik atau asap kendaraan bermotor.
Pad konsentrasi tertentu, misalnya diatas nilai baku mutu, gas ini dapat menimbulkan
iritasi hingga pendarahan paru-paru pada manusia dan kerusakan terhadap vegetasi.
Disamping itu, NO2 berkontribusi pada hujan asam. Di wilayah studi terdeteksi gas
NO2, namun masih lebih rendah dibanding nilai ambang batas yang dipersyaratkan,
yaitu berkisar antara 20,43 hingga 20,79 µg/Nm³ (baku mutu: 400 µg/Nm³). Pada

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 2


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

rentang konsentrasi tersebut, gas NO2 tidak akan berdampak terhadap komponen
lingkungan lainnya, seperti terhadap manusia, tumbuhan dan lainnya.
Partikel (Debu). Partikel atau disebt juga debu dihasiikan oleh kegiatan mekanis
atau alami berupa penghancuran, peledakan, resuspensi debu dan sebagainya. Ukuran
partikel bervariasi mulai dari 0,1 sampai 25 µg/Nm³. Debu dapat menyebabkan
gangguan sistem pernapasan, iritasi mata dan gangguan pandangan. Kandungan
partikel dalam udara ambien di wilayah studi berada pada kisaran antara 35,70 hingga
40,20 µg/Nm³. Kandungan partikel debu dalam udara ini masih jauh dibawah baku
mutu yang ditetapkan sebesar 230 µg/Nm³.
Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Disamping menggunakan baku mutu,
kualitas udara ambien dapat pula dilihat dari angka ISPU dari parameter-
parameternya. ISPU adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan
kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu berdasarkan dampaknya
terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. Parameter
ISPU sesuai Keputusan BAPEDAL No:107/KABAPEDAL/11/1997 adalah PM10, CO, SO2,
NO2 dan O3. Angka ISPU: 1-50 = Baik (Hijau), 51-100 = Sedang (Biru), 101-199 = Tidak
Sehat (Kuning), 200-299 = Sangat Tidak Sehat (Merah), dan 300 atau Lebih= Berbahaya
(Hitam).Berkaitan dengan hal ini, ISPU dari parameter yang dapat ditampilkan
berdasarkan data hasil pengukuran pada bulan Desember 2018 adalah hanya parameter
SO2, CO dan NO2.

Tabel 3.2. ISPU dari Parameter Kualitas Udara Ambien di beberapa Lokasi dalam
Wilayah Studi
ISPU
Lokasi Pengukuran
SO2 CO NO2

(U-013) 8,34 17,78 13,86

(U-014) 8,10 12,22 13,62

Sumber: Hasil Perhitungan, November 2018

Hasil perhitungan ISPU udara ambien di wilayah studi seperti tercantum dalam
Tabel 2. ISPU setiap parameter yang diamati pada keempat lokasi dalam wilayah studi
masih di bawah angka 50 atau masih dalam kategori baik (hijau) atau skala 5 sesuai
skala kualitas lingkungan.

b. Kebisingan
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam
tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan
kenyamanan lingkungan.Pada umumnya kebisingan sangat berkaitan dengan
ketergangguan (annoyance). Intensitas bising yang terukur di di PT. Tambang Bumi

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 3


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Sulawesi Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi


Tenggara pada beberapa lokasi. Lokasi di titik 013 dengan koordinat S: 05o 21' 08,71" E:
121o 51' 23,36" yaitu 43,1 dB (A), dan lokasi di titik 014 dengan koordinat S : 05o 20'
50,98" E: 121o 51' 10,34" yaitu 48,1 dB (A). Pada titik 013 dan 014 menunjukkan kondisi
kebisingannya baik karena masih berada dibawah baku mutu yaitu 65 dB (A).

3. Kualitas Air (Aswan)


a. Air laut

Kualitas air laut pada perairan di sekitar lokasi di PT. Tambang Bumi Sulawesi
Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara dapat
dilihat dari data hasil pengujian sampel air laut pada bulan Maret 2019. Lokasi
pengambilan sampel meliputi beberapa titik koordinat 015 S : 05, 35180o E : 121 ,85252o
dan titik koordinat 016 S : 05,32510o E: 121,85070o. Parameter uji kualitas air meliputi
parameter fisik dan kimia. Kualitas air laut dianalisis dengan menghitung indeks
pencemaran berdasarkan Kepmen LH Nomor 115 Tahun 2003.

Tabel 3.3. Hasil Uji Kualitas Air Sumur dalam wilayah studi PT. Tambang Bumi
Sulawesi
Baku Hasil Uji METODE
Parameter Unit Mutu
U-015 U-016

Parameter Fisika

Turbidtas NTU 5,0 0,46 0,42 SMEWW22nd en. (2012) : 2130 B

TSS mg/L 80 6 6 SMEWW22nd en. (2012) : 2540 D

Temperatur (Suhu) - 5,0 2,8 2,8 SMEWW22nd en. (2012) : 2550 B

Parameter Kimia

pH - 7,8 8,01 8,03 SMEWW22nd en. (2012) : 4500.H B

Salinitas % 34 18 18 SMEWW22nd en. (2012) : 2520 B

Dissolve Oxygen, DO - 6 6,3 8,03 US EPA Method 360.1/ 1971

BOD5 mg/L 20 1,7 6,2 SMEWW22nd en. (2012) : 5210 D

Total Amoniak NH3-N mg/L 0,3 0,032 1,5 SMEWW22nd en. (2012) : 4500 NH3F

Fosfat, PO4-P mg/L 0,015 0,039 0,03 SMEWW22nd en. (2012) : 4500- P E

Nitrat, NO3-N mg/L 0,008 0,029 0,032 SMEWW22nd en. (2012) :4500-NO3B

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 4


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Minyak dan Lemak mg/L 1 0,9 0,022 SMEWW22nd en. (2012):4500-CN E

Total Fenol mg/L 0,002 0,001 0,9 SMEWW22nd en. (2012):4500-S2F

Sianida mg/L 0,1 0,001 0,001 SMEWW22nd en. (2012):5330 C

Sulfaktan jenis MBAS mg/L 0,05 0,013 0,001 SMEWW22nd en. (2012):5540 C

Merkuri mg/L 0,001 0,00008 0,013 SMEWW22nd en. (2012):5520 D

Arsen mg/L 0,050 0,00005 0,00008 SMEWW22nd en. (2012):3112B

Cadmium mg/L 0,005 0,0006 0,00005 SMEWW22nd en. (2012):3500-Cr B

Kromium mg/L 0,05 0,0009 0,0004 SMEWW22nd en. (2012):3120 B

Nikel mg/L 0,05 0,022 0,0009 SMEWW22nd en. (2012):3120 B

Timbal mg/L 0,05 0,0001 0,022 SMEWW22nd en. (2012):3120 B

Tembaga mg/L 0,008 0,005 0,0001 SMEWW22nd en. (2012):3120 B

Seng mg/L 15,0 0,006 0,0006 SMEWW22nd en. (2012):3120 B

Parameter Biologi

CFU/1
Total coliform 1.000 100 80 SMEWW22nd en. (2012):9222 B
00 mL

Sumber : Hasil Survey, Maret 2019


*Sesuai Dengan Baku Mutu Kepmen LH No. 51 Tahun 2004

a. Parameter Fisik
Kondisi fisik air di wilayah studi relatif masih baik berdasarkan parameter
suhu,kekeruhan dan TDS. Suhu air pada waktu pengukuran berisar 28 o berada di atas
baku mutu yaitu 28–30 °C. Kekeruhan di lokasi pengukuran sebesar 0,42 hingga 0,46
NTU yang masih memenuhi baku mutu < 5 NTU.

b. Parameter Kimia
Tingkat kemasaman sampel air masih berada pada kisaran baku mutu pH air
laut, dimana pH di lokasi pengukuran yaitu 8,01 hingga 8,03 (baku mutu: 7 – 8,5). Nilai
paramater kimia lainnya masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan, bahkan
beberapa diantaranya sangat rendah atau di bawah batas deteksi alat/metode uji,
seperti DO, BOD5 total amoniak (NH3-N),Mangan, Sianida, Raksa/Merkuri, Chromium
Heksavalan, Arsen, Tembaga, Sulfat, Seng, dan Timbal sedangakan Fosfat (PO4-P) dan
Nitrat (NO3-N) berada diatas standar baku mutu yang ditetapkan

c. Parameter Biologi

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 5


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Coliform Total yang ditemukan pada U-015 yaitu sebesar 100 CFU/100 mL dan
U-016 sebesar 80 MPN/100 mL. Nilai tersebut masih di bawah baku mutu yang
ditetapkan untuk lingkungan perairan ini sebesar 1000 MPN/100 mL.

d. Indeks Pencemaran
Indeks Pencemaran (IP) adalah analisis statistik untuk mengetahui kualitas
suatu perairan. Indeks Pencemaran (Pollution Index) digunakan untuk menentukan
tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diizinkan. Metode
perhitungan dan penentuan status mutu air yang digunakan berdasarkan Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penentuan Status Mutus Air. Perhitungan indeks pencemaran didasarkan pada titik
pengambilan sampel dan pada parameter uji yang telah ditentukan. Hasil perhitungan
indeks pencemaran pada titik pengambilan sampel tersaji pada Tabel berikut ini.

Tabel 3.4. Indeks Pencemaran air tanah dan air permukaan dalam wilayah studi

Lokasi Indeks Pencemaran Status

U-015 1,881 Tercemar Ringan

U-016 1,436 Tercemar Ringan

Sumber : Hasil Perhitungan, November 2018

Berdasarkan data hasil perhitungan IP pada Tabel 4 di atas dan dibandingkan


dengan status mutu air sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun
2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air, kualitas pada air tersebut berada
pada status Tercemar Ringan, yaitu berada dalam rentang Nilai IP = 1,0 – 10,0. Hal ini
disebabkan parameter fosfat dan nitrat yang berada diatas baku mutu yang ditetapkan
akibat dari adanya sampah masyarakat berupa sampah rumah tangga, dan plastik yang
terdapat disekitar wilayah.

b. Air Sungai
Kualitas air pada perairan di sekitar lokasi PT. Tambang Bumi Sulawesi dapat
dilihat dari data hasil pengujian sampel air sumur gali pada bulan Maret 2019. Lokasi
pengambilan sampel meliputi beberapa titik koordinat 014 S : 05o 21’ 02,74” E : 121o ’ 51’
22,03”. Parameter uji kualitas air meliputi parameter fisik dan kimia. Baku mutu air

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 6


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

yang digunakan adalah baku mutu air berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air.

Tabel 3.5. Hasil Uji Kualitas Air Sungai dalam wilayah studi PT. Tani Prima
Makmur
Unit Baku Hasil Uji Metode
Parameter Mutu
014

Parameter Fisika

Suhu - 3,0 3,1 5.4-IK-GQA-WQ-002

TDS mg/L 1000 1090 SNI 06-6989.27-2005

TSS mg/L 1000 46 SNI 06-6989.3-2004

Parameter Kimia

pH - 20,0 7,8 SNI 06-6989.11-2004

BOD mg/L 100,0 4,3 SNI 6989.72:2009

COD mg/L 6,0 21,58 SNI 6989.2:2009

DO mg/L 1 5,6 SNI 06-6989.14-2004

Besi mg/L 1,5 1,328 SNI 06-6989.50-2005

Flourida mg/L 1 0,022 SNI 06-6989.29-2005

Barium mg/L 5,0 0,294 SNI 06-6989.39-2005

Total Fosfat mg/L 10 0,025 5.4-IK-GQA-WQ-062

Nitrat mg/L 1 0,041 5.4-IK-GQA-WQ-043

Nitrit mg/L 0,1 0,004 SNI 06-6989.9-2004

Sianida mg/L 0,05 0,001 5.4-IK-GQA-WQ-058

Sulfaktan jenis MBAS mg/L 0,001 0,02 SNI 06-6989.51-2005

Merkuri mg/L 0,050 0,00008 SNI 6989.78:2009

Arsen mg/L 0,5 0,00005 SNI 06-6989.54-2005

Amoniak mg/L 0,010 0,064 SNI 06-6989.54-2005

Cobalt mg/L 0,005 0,042 SNI 6989.68:2009

Cadmium mg/L 1,0 0,006 SNI 06-6989.38-2005

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 7


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Boron mg/L 0,05 0,137 5.4-IK-GQA-WQ-060

Kromium mg/L 0,01 0,002 SNI 6989.71:2009

Selenium mg/L 0,02 0,00009 US EPA 7741 A

Copper mg/L 600 0,017 SNI 06-6989.50-2005

Kloride, Cl mg/L 0,05 463,2 SNI 6989.19:2009

Timbal mg/L 0,00 0,0001 SNI 6989.46:2009

Hidrogen Sulfida mg/L 400 0,0006 SNI 6989.70:2009

Sulfat mg/L 0,03 7,21 SNI 6989.20:2009

Chlorine mg/L 15,0 0,009 5.4-IK-GQA-WQ-044

Seng mg/L 1,000 0,008 SNI 06-6989.44-2005

Fenol mg/L 1000 0,01 5.4-IK-GQA-WQ-045

Minyak mg/L 20,0 1000 SNI 06-6989.10-2004

Parameter Biologi

Jml/100 1000 420 MPN


Total coliform
mL

a. Parameter Fisik
Kondisi fisik untuk TSS yaitu 46 mg/L di wilayah studi relatif masih baik karena
berada dibawah baku mutu sedangkan untuk TSS berada sedikit diatas baku mutu
yaitu 1090 mg/L berdasarkan standar baku mutu yaitu 1000 mg/L. Suhu air pada waktu
pengukuran berisar 3,1oC.

b. Parameter Kimia
Tingkat kemasaman sampel air masih berada pada kisaran baku mutu pH air
laut, dimana pH di lokasi pengukuran yaitu 7,8 (baku mutu: 7 – 8,5). Nilai paramater
kimia lainnya masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan, bahkan beberapa
diantaranya sangat rendah atau di bawah batas deteksi alat/metode uji, sepert BOD,
COD, OD, Nitrat, Nitrit, Total Fosfat, Sianida, Raksa/Merkuri, Chromium Heksavalan,
Arsen, Tembaga, Sulfat, Seng, Timbal, Boron, Fenol, Copper, Klorida, Hidrogen Sulfida,
Kobalt, Amoniak, dan Lain-Lain, sedangkan untuk parameter Besi berada di atas baku
mutu yaitu 1, 328 mg/L berdasarkan baku mutu 0,3 mg/L.

c. Parameter Biologi

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 8


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Coliform Total yang ditemukan pada air sungai yaitu sebesar 120 MPN/100 mL.
Nilai tersebut masih di bawah baku mutu yang ditetapkan untuk lingkungan perairan
ini sebesar 1000 MPN/100 mL.

d. Indeks Pencemaran
Indeks Pencemaran (IP) adalah analisis statistik untuk mengetahui kualitas
suatu perairan. Indeks Pencemaran (Pollution Index) digunakan untuk menentukan
tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diizinkan. Metode
perhitungan dan penentuan status mutu air yang digunakan berdasarkan Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penentuan Status Mutus Air. Perhitungan indeks pencemaran didasarkan pada titik
pengambilan sampel dan pada parameter uji yang telah ditentukan. Hasil perhitungan
indeks pencemaran pada titik pengambilan sampel tersaji pada Tabel berikut ini.

Tabel 3.6. Indeks Pencemaran air tanah dan air permukaan dalam wilayah studi

Lokasi Indeks Pencemaran Status

U-015 3,22 Tercemar Ringan

Sumber : Hasil Perhitungan, November 2018

Berdasarkan data hasil perhitungan IP pada Tabel 4 di atas dan dibandingkan


dengan status mutu air sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun
2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air, kualitas pada air tersebut pada
titik U-015 berada pada status Tercemar Ringan yaitu pada titik rentang Nilai IP = 1,0 <
5,0. (Tercemar Ringan) dan Nilai IP = 5 < 10 (Tercemar Sedang). Indikasi adaya tercemar
ringan itu diakibatkan karena pada parameter kimia yaitu Besi (Fe) berada diatas baku
mutu hal itu disebabkan karena kemungkinan Fe tergabung dengan zat organis atau
zat padat yang inorganis (seperti tanah liat) yang berada disekitar pemukiman.

4. Oseanografi (Alifathur)
a. Pasang Surut
Pasang surut merupakan gerakan naik turunnya permukaan laut sebagai adanya
gaya Tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan matahari terhadap massa air

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 9


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

dibumi. Pembangkitan pasang secara astronomis tersebut dapat terjadi pada samudra
atau lautan yang luas. Data pasang surut digunakan untuk menentukan tinggi level
muka air sekitar lokasi tertentu, sedangkan untuk mengeluarkan komponen harmonis
pasang surut beserta turunan lainnya dengan menggunakan metode Admiralty. Lokasi
pengamatan Pasang Surut dapat dilihat pada gambar berikut.

Lokasi
pengukuran
pasang surut

Gambar 3.1. Lokasi pengukuran pasang surut


Berdasarkan data elevasi muka air, selanjutnya dilakukan analisis konstanta
pasang surut dan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.7. Konstanta pasang surut di lokasi studi.


S0 M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4 K2 P1
A (cm)
394 50 21 15 33 22 1 1 6 11
go 0 303 312 104 276 239 311 170 312 276

Dari hasil analisis diatas diperoleh nilai Formzhal (F) yaitu 0,7746 yang dimana
dari nilai F ini kita dapat menentukan tipe pasang surut yang terjadi. Dan untuk nilai F
= 0,7764 , maka dapat diketahui bahwa tipe pasang surut di lokasi studi adalah pasang
surut campuran, condong harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal). Dalam 1
hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali surut dengan ke¬tinggian yang berbeda.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 10


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Dengan demikian besarnya tidal range di lokasi studi adalah HWS-LWS = 169 –
27 cm = 142 cm. Jika digunakan muka air surut LWL sebagai titik referensi (0,0), maka
diperoleh :
LWL = 0,0
MSL = 0,71 m
HWL = 1,42 m

c. Gelombang
Penentuan tinggi gelombang dapat dilakukan dengan pengukuran langsung di
lapangan dan juga dapat ditempuh dengan melakukan prediksi dengan menurunkan
kecepatan angin menjadi karakter gelombang pada lokasi studi. Pengukuran
langsung di lapangan biasanya menghasilkan hasil yang kurang representatif
karena dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, sehingga analisa gelombang
menggunakan prediksi melalui data angin dinilai paling akurat.
Prediksi gelombang adalah menggunakan metode Sverdrup Munk
Bretschneider (SMB) yang telah dimodifikasi (SPM, 1984). Prediksi gelombang
dilakukan pada 3 arah mata angin yakni Selatan, Barat, Barat Daya. Sementara arah
yang lain merupakan daratan dan atau tidak berpotensi menimbulkan gelombang.
Tabel 3.8. Hasil perhitungan Karakteristik gelombang di wilayah rencana
pembanguanan dermaga selama 3 musim
Tegangan Tinggi Panjang
Kejadian Feff Tw C
Musim Arah Angin F* Gelombang Gelombang
(Frek.) (m) (det) (m/det)
(m.s-1) (m) (m)
S 15 2.1 5,46 12,140.00 0.08 1.4 3.1 2.2
PI B 5 2.1 3 5,163 11,473.30 0.08 1.4 3 2.2
BD 29 7.1 4,972 966.6 0.26 2 6.5 3.2
S 6 1.5 5,46 23,794.40 0.06 1.3 2.47 2
Timur B 19 1.5 3 5,163 22,487.70 0.06 1.2 2.38 1.9
BD 69 9.1 4,972 588.4 0.33 2.2 7.71 3.5
S 4 1.2 5,46 37,178.80 0.05 1.2 2.1 1.8
PII B 3 1.9 3 5,163 14,015.90 0.07 1.3 2.8 2.1
BD 21 7.1 4,972 966.6 0.26 2 6.5 3.2
Keterangan : Tw = Frekuensi Gelombang, Feff = Fetch Effektif, C = Kecepatan Gelombang, S = Selatan, B
= Barat, BD = Barat Daya.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 11


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Gambar 3.2. Karakter Gelombang pada Lokasi Pembangunan Terminal


Khusus PT. Tambang Bumi Sulawesi

Dari hasil perhitungan di dapatkan gelombang tertinggi pada musim Timur arah
Tenggara yakni mencapai 0,8 m dan terendah pada musim Barat arah Utara dan Barat
mencapai 0,01 m. Karakter gelombang tersebut terjadi saat angin bertiup optimal.

d. Arus
Akibat adanya gerakan massa air oleh pasang surut, maka akan terjadi arus yang
dinamakan arus pasang surut. Arus pasang surut ini berpotensi mengakibatkan
terjadinya sedimentasi di sutu tempat tertentu, dimana kecepatan arus sangat kecil.
Apabila sedimentasi terjadi di muara sungai, maka berpotensi mengakibatkan
penutupan muara sungai, sehingga dapat menyebabkan terjadinya banjir di bagian hulu
sungai.
Untuk mengetahui kondisi arus di lokasi studi, maka di lakukan pengukuran
arus pada kondisi menjelang pasang dan menjelang surut. Pengukuran arus
menggunakan Current Meter.
Dari hasil pengukuran didapatkan :
1). Pada permukaan (0,2H)
 Pada saat surut kecepatan arus masksimum 0,13 m/det dengan arah ke
barat

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 12


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

 Pada saat pasang kecepatan arus maksimum 0,1 m/det dengan arah ke
barat daya
2). Pada permukaan (0,6H)
 Pada saat surut kecepatan arus masksimum 0,12 m/det dengan arah ke
barat
 Pada saat pasang kecepatan arus maksimum 0,095 m/det dengan arah ke
barat daya
3). Pada permukaan (0,8H)
 Pada saat surut kecepatan arus masksimum 0,14 m/det dengan arah ke
barat
 Pada saat pasang kecepatan arus maksimum 0,11 m/det dengan arah ke
barat daya

e. Batimetri
kondisi pantai pada lokasi studi termasuk pantai yang curam, dimana tepi
lautnya terjal. Pantai Curam pada umumnya terdapat di daerah pegunungan yang
berbatasan langsung dengan laut, baik yang sejajar maupun yang memotong garis
pantai. Pantai jenis ini juga disebut-sebut sebagai faktor yang menyebabkan perubahan
bentuk pantai.
Data pengukuran bathymetri diikat dengan pasang surut. Dengan demikian,
kontur bathymetri terikat pada suatu titik acuan atau titik nol. Dalam studi ini titik nol
adalah LWL. Data yang tercatat selama pengukuran batimetri adalah koordinat dan
kedalaman air. Proses penggambaran peta bathimetri dilakukan dengan melalui
beberapa tahapan. Data hasil pemeruman ditransfer kedalam komputer melalui
software mapsource, data koordinat dan kedalaman MSL. Data XYZ dari program Ms.
Excel kemudian diolah menggunakan software Autodesk Civil 3D untuk menggambar garis
kontur berdasarkan interpolasi nilai-nilai kedalaman yang berdekatan.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 13


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Gambar 3.3. Gambar bathimetry lokasi kegiatan

5. Tanah (darsan)
6. Geologi Regional (-----)

7. Transportasi (Syarif)
a. Transportasi darat
b. Transportasi Laut

B. Komponen Biologi
1. Biota Darat (usman)
a. Flora

b. Fauna

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 14


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

2. Biota perairan (Lalang)


a. Plankton
Istilah plankton berasal dari kata Yunani yang berarti pengembara. Organisme
ini biasanya berukuran relatif kecil atau mikroskopis, hidupnya selalu terapung atau
melayang dan daya geraknya tergantung pada arus atau pergerakan air (Odum 1971).
Plankton merupakan biota yang teramat beranekaragam dan terpadat di laut. Banyak
biota laut yang daur hidupnya menempuh lebih dari satu cara hidup, pada saat mereka
menjadi larva atau juvenil, mereka hidup sebagai plankton (Romimohtarto dan Juwana
1999). Plankton merupakan organisme mikroskopis yang berada di permukaan perairan
dan berfungsi sebagai produsen ekosistem perairan. Sebagai biota mikroskopis
perairan, plankton sangat berperan sebagai produsen primer dan sekunder (Nybakken,
2012). Plankton meliputi biota yang hidup terapung atau terhanyut di daerah pelagik.
Plankton dapat dibagi ke dalam dua golongan besar yaitu fitoplankton (plankton
tumbuhan/nabati) dan zooplankton (plankton hewani) (Arinardi et al. , 1997).
Fitoplankton merupakan tumbuhan planktonik yang bebas melayang dan
hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis. Fitoplankton memiliki klorofil untuk
dapat berfotosintesis, menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat dan oksigen.
Zooplankton adalah hewan-hewan laut yang bersifat planktonik (Mackey et al. 2002).
Plankton merupakan mata rantai yang sangat penting dalam menunjang kehidupan
organisme lainnya.
Fitoplankon dapat digunakan sebagai indikator terhadap kategori kesuburan
perairan maupun sebagai indikator perairan yang tercemar atau tidak tercemar (Basmi,
1995). Fitoplankton dengan kelimpahan yang tinggi umumnya terdapat di perairan
sekitar muara sungai atau di perairan lepas pantai dimana terjadi air naik (up welling).
Ekosistem dengan keragaman plankton yang rendah mengindikasikan bahwa kondisi
perairan tersebut tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar
dibandingkan dengan ekosistem yang memiliki keragaman plankton yang tinggi.
Kondisi suatu ekosistem tidak stabil dan rentan yang terjadi dapat mempengaruhi
produktivitas primer perairan tersebut sehingga berdampak pada jaring makanan
ekosistem.
Sampel plankton yang telah diambil dari lapangan diamati menggunakan
mikroskop binokuler dan gelas objek yang disebut Sedgewick Rafter Counting Chamber
Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 15
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

(SRCC). Sampel yang terdapat pada botol sampel diambil menggunakan pipet tetes,
kemudian diteteskan keatas SRCC sebanyak 1 ml. Selanjutnya SRCC tersebut
diletakkan pada meja preparat dan diamati dibawah mikroskop. Hasil perhitungan
kelimpanan plankton (N) dinyatakan dalam jumlah individu/liter, menggunakan rumus
APHA (2005). Indeks keanekaragaman (diversitas)(H’) menggunakan rumus
Shannon-Wiener dan Indeks Dominasi plankton (D) menggunakan rumus Simpson
dalam Odum (1998), sedangkan perhitungan Indeks Keseragaman Jenis plankton (E)
menggunakan rumus Pilou dalam Krebs (1989).
Berdasarkan hasil identifikasi pada 3 stasiun pengamatan, ditemukan
sebanyak 31 jenis plankton, yang terdiri atas 17 jenis fitoplankton dan 14 jenis
zooplankton (Tabel 1). Jenis fitoplanton yang ditemukan terdiri dari 4 kelas, yaitu
Kelas Baciilariophyceae (Achantes sp., Asterionella sp., Bacteriastrum sp., Biddulphia sp,
Chaetoceros sp., Coscinodiscus sp., Navicula sp., Rhizosolenia sp., Skeletonema sp., Triceratium
sp.), Kelas Dinophyceae (Ceratium sp., Dinophysis sp., Noctiluca sp., Peridinium sp.,
Prorocentrum sp.), Kelas Crysophyceae (Distephanus sp.), dan Kelas Chlorophyceae
(Pediastrum sp.)
Kelas Baciilariophyceae memiliki jumlah jenis yang paling banyak ditemukan
pada setiap stasiun pengamatan (Gambar 1). Chaetoceros sp. merupakan salah satu
spesies yang memiliki kelimpahan paling tinggi dan ditemukan pada setiap stasiun.
Chaetoceros sp. merupakan diatom planktonik terbesar di laut yang memiliki jumlah
sekitar 400 spesies. Pertumbuhan Chaetoceros sp. akan optimum pada suhu 25-30 oC
(Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).
Kelas Dinophyceae membentuk hubungan simbiosis dengan terumbu karang
yang memungkinkan mereka berkembang di lokasi terumbu karang (Hackett et al.
2004). Dinophyceae memiliki peran penting dalam pemberian nutrisi untuk terumbu
karang, selain itu Dinophyceae juga mentranslokasi karbon melalui proses fotosintesis
untuk memenuhi kebutuhan respirasi karang (Limbu dan Kyewalyanga 2015).

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 16


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

3% 3% 3%

10% 33%

26%
16%
3% 3%

Baciilariophyceae Dinophyceae Crysophyceae


Chlorophyceae Crustasea Protozoa
Gastropoda Pelecypoda Polychaeta

Gambar 3.4. Jenis Plankton yang ditemukan berdasarkan kelas


Jenis zooplankton yang ditemukan terdiri dari 4 Kelas, yaitu Kelas Crustasea
(Acartia sp., Acrocalanus sp., Calanus sp., Codonellopsis sp., Copepoda, Mesodinium sp., Nauplius
sp., Pontellina sp.), Kelas Protozoa (Eutintinus sp., Favella sp., Tintinopsis sp.), Kelas
Gastropoda (Larva Gastropoda), Kelas Pelecypoda (Larva Pelecypoda), dan Kelas
Polychaeta (Larva Polychaeta).
Komposisi jumlah jenis zooplankton di setiap stasiun didominasi oleh kelas
Crustacea, yaitu 7 jenis. Crustacea merupakan kelas zooplankton yang dominan
ditemukan di perairan laut. Tingginya komposisi Crustacea juga karena kemampuan
Crustacea untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan (Humaira et al., 2016),
selain itu Crustacea merupakan pemakan fitoplankton, detritus, dan zooplankton
lainnya sehingga mudah untuk mendapatkan makanan (Kenish 1990 in Pranoto et al.
2005).
Tabel 3.9. Komposisi plakton pada Perairan Laut Puununu
Lokasi Pengambilan Sampel
No. Jenis Plankton
St. 1 St. 2 St. 3
Fitoplankton
1 Achantes sp. 168
2 Asterionella sp. 316

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 17


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

3 Bacteriastrum sp. 376


4 Biddulphia sp 361
5 Ceratium sp. 178 176 243
6 Chaetoceros sp. 498 425 426
7 Coscinodiscus sp. 601 103
8 Dinophysis sp. 165 264
9 Distephanus sp. 324 301
10 Navicula sp. 105
11 Noctiluca sp. 464 423
12 Pediastrum sp. 234
13 Peridinium sp. 233
14 Prorocentrum sp. 484
15 Rhizosolenia sp. 112 248
16 Skeletonema sp. 331 509
17 Triceratium sp. 78
Zooplankton
18 Acartia sp. 301 195
19 Acrocalanus sp. 90 98
20 Calanus sp. 56
21 Codonellopsis sp. 236
22 Copepoda 90 118
23 Eutintinus sp. 110
24 Favella sp. 279
25 Mesodinium sp. 105 176
26 Nauplius sp. 78
27 Pontellina sp. 90
28 Tintinopsis sp. 161
29 Larva Pelecypoda 255
30 Larva Gastropoda 539 456
31 Larva Polychaeta 82
Jumlah Individu 17 15 14
Kelimpahan Total (ind/L) (N) 11425 8100 7384
Indeks Keragaman Jenis (H') 2,343 1,967 1,661
Indeks Keseragaman Jenis (E) 0,827 0,726 0,629
Indeks Dominansi (D) 0,067 0,080 0,061
Sumber : Hasil Olahan Data Primer Tahun 2019
Hasil analisis data menunjukkan bahwa jumlah individu plankton paling
banyak di temukan pada stasiun 1 (17 jenis). Hal ini dikarenakan lokasi pengambilan
sampel yang berada dekat dengan wilayah daratan yang secara terus menerus menerima
suplai unsur hara dari daratan. Kelimpahan total plankton pada ketiga stasiun

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 18


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

pengamatan berkisar antara 7.384 ind/L – 11.425 ind/L. Kelimpahan plankton


merupakan jumlah sel untuk fitoplankton dan individu untuk zooplankton per satuan
volume.
Hasil analisis keanekaragaman plankton pada stasiun pengamatan
berdasarkan indeks Shanon-Wiener (Odum 1971) menunjukkan bahwa Indeks
keragaman jenis berkisar 1,661-2,343. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman
plankton di stasiun pengamatan dalam kategori rendah dan dengan kestabilan
komunitas juga rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa pada lokasi tersebut
kemungkinan terjadi tekanan perairan yang mengakibatkan ekosistem menjadi tidak
stabil. Kisaran nilai indeks keanekaragaman diklasifikasikan berdasarkan Wilhm dan
Dorris 1968 dalam Mason 1981), dimana jika H’ < 2,3024 maka keaekaragaman rendah
dan kestabilan komunitas rendah, jika 2,3026<H’<6,9078 maka keanekaragaman sedang
dan kestabilan komunitas sedang, dan jika H’>6,9079 maka keanekaragaman tinggi dan
kestabilan komunitas tinggi.
Hasil analisis indeks keseragaman jenis (E) berkisar 0,629-0,827. Hal ini
menunjukkan bahwa fitoplankton yang hidup di sekitar lokasi penelitian memiliki
kelimpahan jenis yang tidak sama. Nilai indeks keseragaman di lokasi pengamatan
berkisar antara 0-1. Semakin kecil indeks keseragaman, semakin kecil pula
keseragaman populasi. Hal ini menunjukkan penyebaran jumlah individu setiap lokasi
tidak sama. Semakin besar nilai keseragaman, menggambarkan jumlah biota pada
masing-masing sama atau tidak jauh berbeda. Jika keseragaman mendekati minimum
maka dalam komunitas tersebut terjadi dominansi spesies dan sebaliknya, jika indeks
keseragaman mendekati maksimum maka dapat dikatakan bahwa komunitas tersebut
dalam kondisi yang relatif baik. Brower et al. (1990) menyatakan bahwa keseragaman
disebut sebagai keseimbangan dari komposisi individu tiap spesies yang terdapat dalam
suatu komunitas.
Indeks dominansi digunakan untuk melihat ada tidaknya suatu jenis tertentu
yang mendominasi dalam suatu jenis populasi. Nilai indeks dominansi berkisar antara
0-1. Apabila nilainya mendekati 0 berarti hampir tidak ada jenis yang mendominasi. Bila
mendekati 1 berarti terdapat jenis yang mendominasi populasi (Odum 1971). Indeks
dominansi plankton pada ketiga stasiun pengamatan berkisar antara 0,061-0,080
menunjukkan bahwa tidak terdapat jenis plankton yang mendominasi diperairan.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 19


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

b. Benthos
Bentos merupakan organisme penghuni dasar perairan yang relatif menetap
atau tidak berpindah tempat, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas
lingkungan dimana akan diketahui seberapa besar pencemaran yang terjadi diperairan
tersebut, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke
habitatnya. Romimohtarto dan Juwana (2005) menjelaskan bahwa bentos meliputi
biota yang menempel, merayap, meliang di dasar laut yang menyebar dari garis pasut
sampai abisal. Berdasarkan jenis makanannya, bentos dikelompokkan sebagai biota
autotrof yaitu biota yang menghasilkan makanan sendiri dan heterotrof yaitu tidak
menghasilkan makanan sendiri. Dari segi mata rantai makanan makrozoobentos
umumnya sebagai detritus feeder, filter feeder dan scavanger (pemakan bangkai). Dengan
demikian, organisme hewani ini berperan dalam memanfaatkan kembali energi yang
relatif akan hilang ke dasar perairan.
Makrozoobentos hidupnya relatif menetap dan tidak dapat menghindar dari
kontak dengan bahan pencemar serta jangka hidupnya relatif lama, oleh sebab itu
makrozoobentos sangat representatif menduga pencemaran perairan (Price, 1979; Abel,
1989 dalam Mustamin, 2002). Dengan sifatnya yang relatif menetap, maka komunitas
organisme makrozoobentos merupakan organisme yang paling menderita terkena
dampak lingkungan perairan. Oleh karena itu, struktur komunitas makrozoobentos
merupakan indikator yang baik bagi dampak lingkungan perairan.
Pengambilan sampel bentos di lokasi penganbilan sampel dilakukan pada 3
(tiga) stasiun pengamatan, yang diperkirakan akan menerima dampak dari adanya
kegiatan di daratan. Pengamatan jenis bentos di lokasi pengamatan dilakukan dengan
cara mengambil substrak menggunakan Eickman Grab yang selanjutnya diidentifikasi
di Laboratorium. Hasil identifikasi ditemukan sebanyak 9 jenis, yang terdiri dari 4
kelas, yaitu Kelas Polichaeta (Ophelina sp., Lumriculus sp. dan Nephtys sp.), Kelas
Crustaceae (Amphelisca sp.) Kelas Gastropoda (Terebra sp., dan Columbella sp. ) dan
Kelas Pelecypoda (Macoma sp., Meretrix meretrix, Tellina sp.).
Tabel 3.10. Komposisi bentos pada setiap stasiun pengamatan di wilayah studi
Lokasi Pengambilan Sampel
No. Jenis Bentos
St. 1 St. 2 St. 3
Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 20
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

1 Amphelisca sp. 2 2 1
2 Columbella sp. 1 2 2
3 Lumbriculus sp. 2
4 Macoma sp. 1 1
5 Meretrix meretrix 1 1
6 Nephtys sp. 1 2
7 Terebra sp. 1
8 Tellina sp. 2 1
9 Ophelina sp. 2
Total Kepadatan (ind/m2) 7 6 4
Indeks Keanekaragaman Jenis (H') 0,518 0,607 0,301
Indeks Keseragaman (E) 0,613 0,780 0,500
Indeks Dominansi (D) 0,265 0,500 0,625
Sumber : Hasil olahan data primer tahun 2019
Titik koordinat:St 1 (S 05035’18.0 E; 121085’25.2) St 2 (S; 05035’21.0 E; 121085’07.0) St 3 (S;
05035’15’6E; 121084’87.6)

Tabel di atas menunjukkan bahwa kepadatan bentos tertinggi ditemukan pada


stasiun 1 yaitu 7 ind/m2. Indeks keanekaragaman jenis bentos menggambarkan spesies
penyusun komunitas, Indeks keanekaragaman jenis dilokasi pengamatan berkisar
0,301– 0,607. Nilai indeks keanekaragaman ini berkisar antara 0 sampai ~ (tak
terhingga). Nilai keragaman mencapai maksimum apabila semua jenis/genera menyebar
secara merata. Kategori nilai indeks keaneragaman dilokasi pengamatan menurut
Shannon-Wiener (1949) dalam Krebs (1989) masuk dalam ketegori rendah.
Indeks keseragaman merupakan penggambaran distribusi individu yang
merata dari suatu spesies dalam suatu komunitas. Nilai Indeks keseragaman berkisar
0,500-0,780 (rendah). Nilai indeks keseragaman yang semakin kecil menunjukkan
bahwa penyebaran jumlah individu setiap jenis tidak sama sehingga ada kecenderungan
satu jenis/individu mendominasi. Semakin besar nilai indeks keseragaman
menunjukkan semakin kecilnya kemungkinan dominasi individu pada masing-masing
jenis. Nilai Indeks dominansi berkisar 0,265 – 0,625 (rendah). nilai indeks dominansi
semakin mendekati nol maka dominansi semakin kecil dan sebaliknya apabila indeks
mendekati nilai 1. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman bentos
di stasiun pengamatan dalam kategori rendah. Hal ini juga mengindikasikan adanya
tekanan disekitar lokasi pengambilan sampel yang mengakibatkan keaneragaman
ekosistem bentos menjadi tidak stabil.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 21


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

c. Terumbu Karang
Terumbu karang dikenal sebagai ekosistem yang sangat kompleks dan
produktif dengan keanekaragaman biota tinggi seperti moluska, crustacea dan ikan
karang. Biota yang hidup di terumbu karang merupakan suatu kesatuan komunitas
yang meliputi kumpulan kelompok biota dari berbagai tingkat trofik, dimana masing-
masing komponen dalam komunitas terumbu karang ini mempunyai ketergantungan
yang erat satu sama lain. Salah satu perairan di Sulawesi Tenggara yang memiliki
ekosistem terumbu karang adalah Perairan Puununu di Kabaena.
Tipe terumbu karang di Perairan Puununu adalah karang tepi (fringing reef).
Perairan Puununu kaya akan keanekaragaman ekosistem pesisir khususnya ekosistem
terumbu karang (Gambar 1). Pengamatan kondisi terumbu karang dilakukan dengan
menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) dimana tipe karang yang
bersinggungan dengan garis/meteran dicatat tipe pertumbuhannya. Pada setiap stasiun,
transek garis (roll meter) dibentangkan sepanjang 50 m, sejajar garis pantai.
Pengkatagorian persentase luas tutupan karang hidup berdasarkan lampiran
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (2001) sebagai berikut:
1. Kategori rusak = 0,0 – 24,9 %
2. Kategori sedang = 25,0 – 49,9 %
3. Karegori baik = 50,0 – 74,9 %
4. Kategori sangat baik = 75,0 – 100 %

Gambar 3.5. Kondisi terumbu karang yang ditemukan di perairan Puununu

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 22


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Stasiun pada pengamatan terumbu karang di bagi kedalam 3 stasiun


pengamatan. Stasiun 1 terletak pada titik koordinat 05035’18.0 LS dan 121085’25.2 BT
Stasiun 2 pada koordinat 05035’21.0 LS dan 121085’07.0 BT dan stasiun 3 pada koordinat
05035’15’6 LS dan 121084’87.6 BT. Bentuk pertumbuhan karang hidup menurut English
et.al (1994) terbagi atas karang acropora dan non acropora. Bentuk pertumbuhan
terumbu karang yang ditemukan pada lokasi pengamatan terdiri karang acropora dan
non acropora yang beranekaragam dengan beberapa tipe pertumbuhan seperti, Acropora
brancing, Acropora encrusting, Acropora digitata, Acropora submassive, Acropora tabulate, Coral
branching, Coral foliose, Coral heliopora, Coral Submassive,Coral encrusting, Coral mushroom, dan
Coral massive (Tabel 1). Jenis karang mati, karang mati yang ditumbuhi alga, biotik lain
yang terdiri dari soft coral, sponge, dan biota lainnya, serta jenis abiotik yang terdiri dari
pasir, dan patahan karang juga ditemukan pada perairan.
Tabel 3.11. Persentase tutupan karang hidup berdasarkan bentuk pertumbuhan (life
form)
Stasiun Pengamatan
BENTUK PERTUMBUHAN
1 2 3
Acropora
Acropora Branching (ACB) 10,65 3,43 3,43
Acropora Encrusting (ACE) 3,98 0,05
Acropora Digitate (ACD) 2,54 1,34 3,04
Acropora Submassive (ACS) 0,18 2
Acropora Tabulate (ACT) 9,45 4,67 1,56
Sub Total 26,80 11,50 8,08
Non Acropora
Coral Branching (CB) 2,34 3,18 2,12
Coral Encrusting (CE) 3,21 4,60
Coral Foliose (CF) 4,56 3,65 2,14
Coral Heliopora (CHL) 1,00
Coral Massive (CM) 7,89 3,44 1,95
Coral Submassive (CS) 1,56 1,20 3,33
Coral Millepora (CME)
Coral Mushroom (CMR) 5,12 2,06 2,09
Sub Total 24,68 14,53 16,23
Biotik Lain
Soft Coral (SC) 9,43 11,12 12,6
Sponge (SP) 8,21 14,60 9,08
Others (OT) 5,31 12,54 12,06
Sub Total 22,95 38,26 33,70

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 23


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Abiotik
Sand (SD) 10,23 11,45 12,05
Rubble (RB) 12,07 11,04 18,76
Death Coral (DC) 0,06 6,08 4,12
Death Coral with Alga (DCA) 3,21 7,14 7,06
Sub Total 25,57 35,71 41,99
Total Persentase Karang Hidup 51,48 26,03 24,31
Kriteria Tutupan Baik Sedang Rusak
Sumber: Hasil Olahan Data Pengamatan Lapangan Tahun 2019
Kondisi tutupan karang hidup di tiga stasiun pengamatan masuk dalam
kategori baik-rusak, jika mengacu pada kriteria Gomez & Yap (1988). Dengan
persentase tutupan karang hidup pada stasiun 1 sebesar 51,48%, stasiun 2 sebesar
26,03% dan stasiun 3 sebesar 24,31%. Berdasarkan hasil pengukuran, diperoleh
persentase rata-rata penutupan karang hidup, abiotik, dan biotik lainnya yang berbeda-
beda pada setiap stasiun pengamatan. Hasil pengukuran pada ketiga stasiun
pengamatan menunjukkan bahwa komponen karang hidup lebih mendominasi
dibandingkan komponen lainnya pada stasiun 1, hal ini kemungkinan disebabkan
karena kondisi lingkungan perairan stasiun 1 lebih mendukung untuk
kelangsunghidupan karang dibandingkan stasiun lainnya. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi kehidupan terumbu karang antara lain, intensitas cahaya, suhu,
salinitas dan kecepatan arus. Stasiun 2 di dominasi oleh komponen biotik lain dan
stasiun 3 didominasi oleh komponen abiotik.

60

50

40
Persen Cover (%)

30 Karang Hidup
Biotik Lain
20 Abiotik

10

0
1 2 3
Stasiun Pengamatan

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 24


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Gambar 3.6. Persentase Tutupan Karang Hidup, Abiotik, dan Biotik Lainnya

Pengamatan terumbu karang stasiun 1 didominasi oleh komponen Acropora


yaitu Acropora branching. Pada stasiun ini juga ditemukan jenis Acropora encrusting,
Acropora digitate, Acropora submassive dan Acropora Tabulate. Karang Non Acropora yang
ditemukan terdiri dari Coral branching, Coral foliose, Coral massive, Coral mushroom dan Coral
Submassive. Kelompok biota lain yang ditemukan terdiri dari soft coral, sponge dan jenis
biota lainnya seperti Mollusca, Gastropoda, dan Cacing Laut. Pada stasiun ini
ditemukan pula Komponen abiotik yang ditemukan terdiri dari pasir dan patahan
karang, karang mati dan karang mati yang ditumbuhi yang biasanya dimanfaatkan oleh
kelompok ikan-ikan herbivor untuk mencari makan.
Pengamatan terumbu karang stasiun 2 juga didominasi oleh karang Non
Acropora dengan tipe pertumbuhan Coral foliose. Jenis karang ini umumnya berbentuk
seperti daun yang lebar yang biasanya digunakan oleh ikan sebagai daerah nursery dan
spawning ground. Pada stasiun ini ditemukan karang Non Acropora lainnya seperti Coral
branching, Coral encrusting, Coral massive, Coral mushroom dan Coral Submassive. Karang
Acropora yang ditemukan terdiri dari Acropora branching, Acropora digitata, Acropora
submassive dan Acropora tabulate. Kelompok biota lain yang ditemukan terdiri dari soft
coral, sponge, Achantaster plancy, kuda laut dan beberapa organisme laut lainnya.
Kelompok abiotik yang ditemukan terdiri dari pasir,dan beberapa patahan karang.
Patahan karang yang ditemukan diduga karena akibat dari kegiatan penangkapan ikan
yang tidak ramah lingkungan. Pada stasiun ini juga ditemukan karang mati dan karang
mati dengan alga.
Pengamatan terumbu karang stasiun 3 didominasi oleh karang Non Acropora
dengan tipe pertumbuhan Coral encrusting, Coral branching, Coral foliose, Coral massive, Coral
submassive, dan Coral mushrom. Pada stasiun ini ditemukan karang Acropora seperti
Acropora branching, Acropora encrusting, Acropora digitate, dan Acropora Tabulate. Kelompok
biota lain yang ditemukan terdiri dari soft coral, sponge, Achanthaster plancy, bulu babi
dan beberapa organisme laut lainnya. Kelompok abiotik yang ditemukan terdiri dari
pasir,dan beberapa patahan karang. Pada stasiun ini juga ditemukan karang mati dan
karang mati yang ditumbuhi alga.
Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 25
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

ACB
10% 2% ACE
3% 20%
ACD
15%
ACS
8%
ACT
9% 5%
0% CB
6%
4% 18% CE
CM
CS
CMR

Gambar 3.7. Bentuk Pertumbuhan Karang Hidup yang ditemukan di Perairan


Puununu

Kriteria bentuk pertumbuhan yang ditemukan di lokasi pengamatan dapat


dilihat bahwa bentuk pertumbuhan Acropora branching mendominasi pada setiap stasiun
pengamatan. Jenis ini bentuknya bercabang-cabang, terdapat disepanjang tepi terumbu
dan bagian atas lereng, terutama yang terlindungi atau setengah terbuka, dan berfungsi
sebagai tempat perlindungan bagi ikan dan invertebrate tertentu.

d. Ikan Karang
Ikan karang adalah ikan yang seluruh atau sebagian hidupnya berasosiasi
dengan terumbu karang sebagai sumber makanan, habitat dan tempat berlindung.
Pengamatan komunitas ikan karang bersamaan dengan pengambilan data terumbu
karang menggunakan visual sensus. Ikan karang yang tercatat di tiga stasiun pengamatan
terdiri dari 33 jenis dan 9 famili.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 26


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Gambar 3.8. Jenis Ikan karang yang ditemukan di Perairan Puununu


Pengamatan ikan karang menurut famili dan jumlah individu dikelompokkan
menjadi tiga kelompok besar yakni sebagai ikan target, ikan indikator, dan ikan mayor.
Menurut English et al. (1994) ketiga kelompok ikan ini merupakan ikan-ikan yang biasa
digunakan para peneliti dalam memonitoring kondisi ikan karang disuatu perairan.
Lebih jelasnya, hasil identifikasi ikan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 3.12. Hasil identifikasi ikan karang berdasarkan famili, kelompok ikan, dan
jumlah kelimpahan individu setiap stasiun
St. 1 St. 2 St. 3
Kelompok Ikan Famili Jumlah Jumlah Jumlah
(ind) (ind) (ind)
ACANTHURIDAE 28 21 201
SIGANIDAE 21 0 0
Ikan Target CAESIONIDAE 145 108 91
LUTJANIDAE 0 7 0
SCARIDAE 152 87 59
Ikan Indikator CHAETODONTIDAE 36 21 25
POMACANTRIDAE 198 231 213
Ikan Mayor POMACENTHIDAE 0 10 5
BALISTIDAE 63 24 3
Jumlah Ikan Target 346 223 351
Jumlah Ikan Indikator 36 21 25
Jumlah Ikan Mayor 261 265 221
Jumlah Total Individu 643 509 597
Kelimpahan Ikan (individu/m2) 2,572 2,036 2,388
Sumber : Data Pengamatan 2019
Secara umum jumlah kelimpahan ikan tertinggi ditemukan pada stasiun 1
sebesar 2,572 ind/m2 dengan jumlah total 643 individu, selanjutnya stasiun 3 sebesar
2,388 ind/m2 dengan jumlah total 597 individu. Sedangkan kelimpahan terendah
ditemukan pada stasiun 2 sebesar 2,036 ind/m2 dengan jumlah total 509 individu. Hal
Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 27
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

ini masih berkaitan dengan persentase tutupan karang karang hidup dimana stasiun 1
cenderung tinggi persentase tutupan karang hidupnya, dibandingkan stasiun 2 dan 3.
Rata-rata tutupan karang hidup stasiun 1 sebesar 51,48%. Komposisi jumlah individu
berdasarkan famili yang ditemukan disetiap stasiun dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.13. Komposisi jumlah individu berdasarkan famili
Stasiun Jumlah
Famili Kelompok
1 2 3 (ind)
POMACANTRIDAE Mayor 198 231 213 642
CAESIONIDAE Target 145 108 91 344
SCARIDAE Target 152 87 59 298
ACANTHURIDAE Target 28 21 201 250
BALISTIDAE Mayor 63 24 3 90
CHAETODONTIDAE Indikator 36 21 25 82

Komposisi famili ikan karang yang umumnya ditemukan dari Famili


Pomacantridae dengan jumlah 642 individu. Ikan ini hidup menetap (recident species) pada
terumbu karang. Terumbu karang menjadi tempat mencari makanan dan tempat
berlindung Famili Pomacantridae dari serangan predator, sehingga pomacantridae
termasuk dalam kelompok ikan mayor utama yang jumlahnya banyak ditemukan dalam
ekosistem terumbu karang. Komponen DCA (Karang mati ditumbuhi alga) di beberapa
stasiun merupakan salah satu faktor melimpahnya ikan dari famili Pomacantridae. Hal ini
lebih disebabkan oleh kebiasaan makan pada beberapa jenis dari family ini yang bersifat
herbivor, yaitu memakan komponen alga seperti dari jenis dascylus reticulatus dan
pomacentrus tripuntatus.
Tabel 3.14. Famili dan jenis ikan yang ditemukan di perairan Puununu
Kategori Famili dan Jenis Ikan
Ikan Target Ikan Mayor Ikan Indikator
ACANTHURIDAE POMACANTRIDAE CHAETODONTIDAE
Acanthurus albipectoralis Abudefduf septemfasciatus Chaetodon octovasciatus
Acanthurus blochii Pomacentrus tripuntatus Chaetodon linulatus
Naso lituratus Dascylus reticulatus Chaetodon auriga
SIGANIDAE Pomacentrus armilatus Chaetodon cyanodus
Siganus vulpinus Pomacentrus lepidogenys Forcipiger longirostris
Siganus gutatus BALISTIDAE
CAESIONIDAE Balistapus undulatus
Caesio caerulaurea Balistoides verrucosus
Caesio lunaris Odonus niger
Pterocaesio trilineata POMACENTHIDAE

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 28


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Pterocaesio tile Pomacenthus imperator


Caesio unicornis Pomacenthus proteus
Pterocaesio marri Chromis scotochiloptera
Pterocaesio trilineata
SCARIDAE
Chlorurus sordidus
Scarus niger
LUTJANIDAE
Lutjanus decussatus
Lutjanus bohar
Lutjanus monostigma

Sebanyak 33 jenis ikan kelompok mayor ditemukan selama penelitian yang


mewakili 9 famili (Tabel 4). Famili pada kelompok ikan mayor tersebut adalah famili
PomacAntridae (5 jenis), dan Balistidae (3 jenis) dan Pomacenthidae (3 jenis) (Tabel
4). Ikan-ikan tersebut sebagian besar adalah dari jenis-jenis ikan yang memiliki ukuran
tubuh relatif kecil, dan di alam memegang peranan penting dalam rantai makanan,
terutama sebagai suplai makanan bagi ikan-ikan karnivora.
Sedangkan kelompok ikan target jumlah terbanyak ditemukan dari famili
Caesionidae seperti jenis caesio lunaris, caesio teres, pterecaesio tile dan beberapa jenis
lainnya. Berdasarkan kebiasaan makanannya ikan dari famili ini bersifat herbivor dan
planktifor, sehingga banyak memanfaatkan ekosistem terumbu karang untuk mencari
makan. Selain itu keberadaan terumbu karang yang baik akan menyediakan jumlah
makanan yang banyak. Dari ketiga stasiun kondisi terumbu karang stasiun 1 cenderung
lebih baik dan terlihat jelas bahwa komposisi ikan target akan berhubungan dengan
kondisi karang yang sehat.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 29


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Ikan Mayor
43% Ikan Target
52%

Ikan Indikator
5%

Gambar 3.9. Jumlah kelompok ikan karang di Perairan Puununu


Kelompok ikan target dengan jumlah tertinggi 52,60%/920 individu menyusul
ikan mayor 42,71%/747 individu dan ikan indikator 4,68%/82 individu. Kelompok Ikan
target merupakan ikan ekonomis penting, nelayan menangkap ikan ini untuk
dikonsumsi maupun dijual. Ikan target menjadikan terumbu karang sebagai tempat
pemijahan dan daerah asuhan. Hasil pengamatan ikan target terdiri 5 famili,17 spesies,
dan 920 individu. Jumlah ikan dari famili Acanthuridae (250 ind), Siganidae (21 ind),
Caesionidae (344 ind), Scaridae (298 ind), dan Lutjanidae (7 ind). Ikan dari famili
Caesionidae banyak ditemukan dilokasi pengamatan pada ketiga stasiun pengamatan,
ikan ini hidup bergerombol pada daerah slope (tubir). Pada saat pengamatan ikan ini
melintasi area transek garis dalam jumlah yang banyak sehingga terlihat kelimpahannya
cukup tinggi.
Kelompok Ikan mayor merupakan jenis ikan berukuran kecil, umumnya 2-25
cm, dengan karateristik pewarnaan yang beragam sehingga dikenal sebagai ikan hias.
Kelompok ikan ini umumnya ditemukan melimpah, baik dalam jumlah individu
maupun jenisnya. Hasil pengamatan diperoleh 3 famili, 11 jenis dan 747 individu. Jumlah
ikan dari famili Pomacantridae (642 ind), Pomacenthidae (15 ind) dan Balistidae (90
ind).
Ikan dari famili Pomacantridae terlihat lebih banyak jumlahnya dibandingkan
yang lainnya. Ikan hias dari famili Pomacantridae memanfaatkan terumbu karang

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 30


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

sebagai tempat mencari makan biasanya hidup secara bergerombol dalam jumlah yang
banyak namun beberapa jenis ikan hidup secara sesil/sendiri.
Kelompok Ikan Indikator adalah ikan karang yang kehadirannya merefleksikan
kondisi kesehatan karang. Ikan-ikan indikator diwakili oleh Famili Chaetodontidae.
Hasil pengamatan di semua stasiun jumlah ikan indikator terdiri 5 jenis dan 82
Individu. Hasil Pengamatan disemua lokasi, kelimpahan ikan indikator dari famili
Chaetodontidae stasiun 1, berjumlah 36 ind, stasiun 2, 21 ind dan stasiun 3, 25 ind.
Kekayaan Jenis, Indeks Keanekaragaman (H’) dan Keseragaman Ikan Karang (E)
Indeks keanekaragaman digunakan untuk mengukur kelimpahan komunitas
berdasarkan jumlah jenis/spesies dan jumlah individu dari setiap spesies pada suatu
lokasi. Sedangkan indeks keseragaman digunakan untuk mengetahui keseimbangan
dalam keseluruhan komunitas karang. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 3.15. Ringkasan komunitas ikan karang di perairan Puununu kekayaan jenis,
indeks keanekaragaman (H’), dan keseragaman (E)
Stasiun Jumlah Famili Jumlah Jenis Jumlah Individu (H') (E)
1 7 16 643 0,160 0,336
2 8 11 509 0,156 0,328
3 7 10 597 0,159 0,335

Berdasarkan hasil analisis komunitas ikan karang indeks keanekaragaman (H’)


di setiap stasiun pengamatan menurut klasifikasi Shannon-Wienner (1948) dalam
kategori rendah. Menurut Shannon Wiener in Odum (1994) semakin besar nilai H’
menunjukan semakin beragamnya kehidupan di perairan tersebut, kondisi ini
merupakan tempat hidup yang lebih baik. Suatu komunitas dikatakan mempunyai
keanekaragaman spesies yang tinggi apabila terdapat banyak spesies dengan jumlah
individu masing-masing spesies yang relatif merata. Nilai indeks keseragaman karang
disemua stasiun pengamatan berkisar antara 0,328-0,336. Indeks keseragaman (E)
digunakan untuk mengukur kesimbangan komunitas. Keanekaragaman maksimum
(Hmax) terjadi apabila kelimpahan spesies disemua stasiun merata. Nilai indeks
keseragaman berkisar antara 0-1, indeks yang mendekati 0 menunjukan adanya jumlah
indivu yang terkonsentrasi pada satu atau beberapa jenis. Hal ini dapat diartikan ada
beberapa jenis ikan yang mewakili jumlah yang relatif sedikit.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 31


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

C. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya (Yudha)


A. Sosial Ekonomi
1. Demografi
a. Penduduk Menurut kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Dalam analisis kependudukan, dikenal beberapa komposisi yang
dapat menjelaskan bagaimana gambaran dan kondisi penduduk di
suatu wilayah tertentu. Penduduk menurut kelompok umur dan
jenis kelamin akan memberikan informasi tentang keadaan
penduduk berdasarkan pendistribusian umur dan jenis kelamin
sehingga diperoleh gambaran yang dapat dijadikan acuan dalam
memprediksi atau perencanaan pembangunan kedepan dengan
dikeluarkannya regulasi-regulasi yang berbasis pada peningkatan
kesejahteraan penduduk itu sendiri.
Struktur umur maupun jenis kelamin dari suatu populasi dapat
membantu memahami karakteristik ekonomi suatu daerah seperti
potensi angkatan kerja dan ketergantungan ekonomi.
Kecamatan Kabaena Selatan terdiri atas 4 desa/kelurahan yaitu Desa
Pongkalaero, Desa Puu Nunu, Desa Batuawu, dan Desa Langkema.
Jumlah penduduk di Kecamatan Kabaena Selatan pada tahun 2018
tercatat 3.282 jiwa dengan komposisi 1.503 jiwa laki-laki dan 1.779
jiwa perempuan. Dimana berdasarkan jenis kelamin penduduk di
Kecamatan Kabaena Selatan tersebar pada 4 Desa/Kelurahan dengan
komposisi umum yang variatif. Data jumlah penduduk menurut jenis
kelamin disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2-1. Penduduk Kecamatan Kabaena Selatan menurut jenis kelamin
tahun 2017

Jumlah Penduduk
No. Desa/Kelurahan Rasio
Laki-Laki Perempuan Total
1 Pongkalaero 483 539 1,022 89.61
2 Puu Nunu 306 345 651 88.70
3 Batuawu 417 523 940 79.73
4 Langkema 297 372 669 79.84
Jumlah 1,503 1,779 3,282 84.49
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan Dalam Angka 2018

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 32


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Dilihat dari kelompok umur, sebagian besar masyarakat Kecamatan


Kabaena Selatan berada pada usia produktif (15-64 tahun) yaitu
sebanyak 2.072 jiwa, sedangkan jumlah penduduk usia tidak
produktif ( dibawah 15 tahun dan usia 65 tahun ke atas) sebanyak
1.210 jiwa. Dengan demikian angka beban tanggungan (Depedency
Ratio/DR) di Kecamatan Kabaena Selatan adalah 58.39. Tabel 2.2.
menyajikan data jumlah penduduk Kecamatan Kabaena Selatan pada
setiap kelompok umur.
Tabel 2-2. Penduduk Kecamatan Kabaena Selatan menurut golongan
umur tahun 2017

Golongan Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah Keterangan


00-04 176 206 382 jumlah usia
05-09 170 197 367 non produktif
10-14 148 174 322 1071 jiwa
15-19 136 151 287
20-24 124 145 269
25-29 131 159 290 jumlah usia
30-34 122 145 267 produktif (15-
35-39 116 138 254 64 tahun)
40-44 97 114 211 adalah
45-49 83 94 177 sebanyak
50-54 62 72 134 2072 jiwa
55-59 44 58 102
60-64 37 44 81
65-69 25 31 56 jumlah usia
70-74 17 24 41 non produktif
75± 15 27 42 139 jiwa
Jumlah 1503 1779 3282
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan Dalam Angka 2018
*) Data Tahun 2019 belum tersedia

Adapun piramida umur penduduk di Kecamatan Kabaena Selatan


disajikan pada Gambar 2.1 berikut.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 33


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

75±
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
15-19
10-14
05-09
00-04
200 150 100 50 0 50 100 150 200 250

Laki-Laki Perempuan

Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan Dalam Angka 2018
*) Data Tahun 2019 belum tersedia

b. Penduduk Menurut Persebaran


Persebaran penduduk dalam suatu wilayah cenderung variatif,
karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor fisiologis,
biologis, teknologi dan kebudayaan. Gambaran persebaran
penduduk pada wilayah tertentu akan mempengaruhi hubungan
mobilitas sosial karena ada wilayah yang relatif banyak
penduduknya dan ada juga yang kecil jumlah penduduknya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bombana,
menunjukkan bahwa persebaran penduduk di Kecamatan Kabaena
Selatan cukup variative di setiap Desa/Kelurahan. Penduduk di
Kecamatan Kabaena Selatan pada tahun 2017 tercatat sebanyak 3.282
jiwa yang tersebar pada 4 (empat) Desa/Kelurahan. Data persebaran
penduduk di Kecamatan Kabaena Selatan dapat dilihat pada tabel
berikut.

Tabel 2-3. Persebaran penduduk Kecamatan Kabaena Selatan menurut


Desa/Kelurahan Tahun 2017

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 34


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

No. Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)


1 Pongkalaero 1022 31.14
2 Puu Nunu 651 19.84
3 Batuawu 940 28.64
4 Langkema 669 20.38
Jumlah 3282 100.00
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan Dalam Angka 2018
*) Data Tahun 2019 belum tersedia

Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan bahwa Desa Pongkalaero


merupakan wilayah yang memiliki jumlah penduduk terbesar yaitu
1.022 jiwa (31,14%) kemudian Desa Batuawu sebesar 940 jiwa
(28,64%). Sedangkan wilayah yang memiliki jumlah penduduk
terkecil adalah Desa Puu Nuu 651 jiwa (19,84%)dan Langkema
dengan jumlah penduduk 669 (20,38%)
c. Penduduk Menurut Kepadatan
Kepadatan penduduk merupakan hasil perbandingan antara
banyaknya penduduk dengan luas wilayahnya. Beberapa cara yang
ditempuh pemerintah dalam mengatasi pertambahan jumlah
penduduk serta pemerataan jumlah penduduk terutama wilayah-
wilayah yang memiliki daya kepadatan yang cukup tinggi antara
lain: pengendalian angka kelahiran, program transmigrasi, serta
pemerataan lapangan kerja.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena
Selatan tahun 2018, tingkat kepadatan penduduk sebesar 25
jiwa/Km2, dimana tingkat kepadatan setiap wilayah desa/kelurahan
cukup bervariasi seperti ditunjukan pada Tabel 2.3. dimana tercatat
bahwa Desa Langkema yang memiliki tingkat kepdatan penduduk
tertinggi sebesar 93 jiwa/Km2, sedangkan yang paling terkecil
tingkat kepadatannya yaitu Desa Pongkalaero sebesar 16 jiwa/Km2.
Tabel 2-4. Luas daerah, jumlah dan kepadatan penduduk menurut
Desa/Kelurahan 2017

Luas Daerah Jumlah Penduduk Kepadatan


Desa/Kelurahan
(Km2) (Jiwa) (Jiwa/Km2)
1. Pongkalaero 65.57 1022 16
2. Puu Nunu 30.9 651 21
3. Batuwatu 25.55 940 37
Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 35
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

4.Langkema 7.18 669 93


Jumlah 129.2 3282 25
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan Dalam Angka 2018
*) Data Tahun 2019 belum tersedia

d. Mobilitas Penduduk
Mobilitas (perpindahan) penduduk merupakan gejala demografis
yang hampir terjadi pada semua wilayah. Penduduk yang melakukan
perpindahan memiliki alasan logis yang menggambarkan adanya
sesuatu yang tidak tersedia atau sulit diakses di daerah asal dan
menuju ke daerah tujuan karena kondisinya yang lebih baik. Alasan
sangat beragam, tetapi yang umum adalah karena faktor ekonomi.
Data tentang mobilitas penduduk di wilayah studi baik yang masuk
(datang) maupun yang keluar (pergi) dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 2-5. Jumlah migrasi masuk menurut jenis kelamin di Kacamatan
Kabaena Selatan 2017

Migrasi masuk Migrasi keluar


Desa/ kelurahan
L P Jumlah L P Jumlah
Pongkalaero 3 2 5 1 1 2
Puu Nunu 0 0 0 0 0 0
Batuawu 0 0 0 0 0 0
Langkema 2 7 9 0 1 1
Jumlah 5 9 14 1 2 3
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan Dalam Angka 2018
*) Data Tahun 2019 belum tersedia
L= Laki-Laki P= Perempuan

Aksesbilitas sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan


prasarana transportasi. Ketersediaan sarana dan prasarana
transportasi di lokasi studi merupakan keterpaduan antara
transportasi darat dan laut. Frekuensi jalur pelayaran dari ibu kota
kabupaten ke Kecamatan Kabaena Selatan dapat dilihat pada tabel
berikut.

Tabel 2-6. Jumlah kunjungan kapal, penumpang, dan barang di pelabuhan


rakyat Kecamatan Kabaena Selatan

Bulan Jumlah Penumpang Barang

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 36


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Kunjungan Kapal Naik Turun Bongkar Muat


Januari 16 52 31 - -
Februari 16 63 42 - -
Maret 16 48 49 - -
April 16 46 51 - -
Mei 16 54 63 - -
Juni 16 55 81 - -
Juli 16 79 66 - -
Agustus 16 72 83 - -
September 14 41 64 - -
Oktober 16 42 67 - -
November 16 82 69 - -
Desember 10 63 66 - -
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan, 2018

Adapun aksesbilitas dan pencapaian menuju lokasi kegiatan dari Ibu


Kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Kota Kendari) menuju Ibu Kota
Kabupaten Bombana (Rumbia) dapat ditempuh menggunakan jalur
darat selama ±3-4 jam. Selanjutnya dari ibu Kota Kabupaten menuju
Pulau Kabaena (Kecamatan Kabaena Selatan) harus ditempuh
menggunakan jalur laut mengunakan kapal dengan waktu tempuh 4
jam.
e. Ketenagakerjaan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Bombana
Tahun 2018, tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang
merupakan rasio antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah
penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) terus mengalami peningkatan
selama periode 2014-2017 dari 63,83 persen tahun 2014 menjadi 74,47
persen pada tahun 2017. Dengan kata lain, dapat diartikan bahwa
pada tahun 2017, 74 dari 100 penduduk usia kerja di Kabupaten
Bombana merupakan angkatan kerja, sedangkan 26 sisanya termasuk
bukan angkatan kerja karena memiliki aktivitas rutin bersekolah
atau mengurus rumah tangga.
Berdasarkan hasil Sakernas , selama kurun waktu 2014-2017 jumah
angkatan kerja di Kabupaten Bombana naik sebesar 29,51 persen atau
dari 68.261 orang pada tahun 2014 menjadi 88.407 orang pada tahun
2017. Antara tahun 2014-2015 ada kenaikan jumlah angkatan kerja

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 37


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

sebesar 3,64 persen, antara tahun 2015-2017 terjadi kenaikan


angkatan kerja yang cukup tinggi yaitu 24,96 persen. Kenaikan yang
cukup besar pada tahun 2015-2017 disebabkan sebagian penduduk
yang bukan angkatan kerja, dalam hal ini adalah yang sebelumnya
masih bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya telah masuk
ke dalam angkatan kerja, dan juga diperngaruhi oleh pertumbuhan
penduduk yang telah memasuki usia kerja.
Sementara itu, pada tahun 2015 jumlah pengangguran meningkat
walaupun tidak signifikan yaitu hanya sebesar 6,87 persen atau
meningkat 86 orang menggangur. Sedangkan pada tahun 2017 jumlah
pengangguran mengalami penurunan yang sangat signifikan yaitu
1.338 penduduk yang menganggur pada tahun 2015 menjadi 417
orang yang menganggur. Keadaan penduduk usia kerja di Kabupaten
Bombana tahun 2014-2017 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2-7. Perkembangan penduduk usia 15 tahun ke atas menurut jenis
kegiatan di Kabupaten Bombana 2014-2017

Tahun
Komponen kegiatan
2014 2015 2017
A. Komponen Angkatan Kerja 68.261 70.747 88.407
1. Bekerja 67.009 69.409 87.990
2. Pengangguran 1.252 1.338 417
B. Komponen Bukan Angkatan Kerja 38.677 39.988 30.310
1. Sekolah 9.297 8.545 7.046
2. Mengurus rumah tangga 22.825 25.436 19.226
3. lainnya 6.555 6.007 4.038
Sumber : Sakernas, 2014-2017
*) Data 2016 tidak tersedia

Apabila ditinjau berdasarkan sector dimana penduduk umumnya


bekerja, diperoleh fakta bahwa lebih dari separuh penduduk yang
bekerja menggeluti bidang pertanian, perkebunan, kehutanan,
perburuan dan perikanan yaitu sebanyak 51,42 persen. (Sakernas,
2018).
2. Ekonomi
a. Pendapatan Masyarakat
Ekonomi rumah tangga adalah unit terkecil dalam perekonomian
yang dimana memiliki dua peran yaitu sebagai konsumen dan
Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 38
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

penyedia factor produksi. Tingkat pendapatan keluarga sangat


ditentukan dari jenis pekerjaan yang dilakukan oleh kepala keluarga
maupun anggota keluarga yang lain. Pada tabel 2-7 menunjukkan
jenis pekerjaan masyarakat dilokasi studi.
Tabel 2-8. Jenis pekerjaan masyarakat dilokasi studi

Jumlah Persentase
No Jenis Pekerjaan
(orang) (%)
1 Ibu Rumah Tangga 9 30.00
2 Pegawai Swasta 1 3.33
3 Pegawai Negeri 0 0.00
4 Wiraswasta/Pedagang 2 6.67
5 Nelayan 18 60.00
Jumlah 30 100
Sumber : Data Analisis Tim Amdal, 2019

Berdasarkan tabel diatas, jenis pekerjaan responden di wilayah studi


pada umumnya adalah nelayan (60%) kemudian sebagai Ibu Rumah
Tangga 30%. Banyaknya masyarakat yang bekerja di sector
perikanan, hal tersebut didukung dengan kondisi geografis wilayah
yang berada di bagian pesisir. Keragaman jenis pekerjaan
menyebabkan tingkat pendapatan responden juga berbeda. Dimana
berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan responden sebagian
besar masyarakat sebagai nelayan dengan tingkat pendapatan
berkisar antara Rp. 600.000 – Rp. 2.000.000 per bulan. Data tingkat
pendapatan responden dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2-9. Pendapatan rata-rata responden dalam satu bulan

Jumlah Persentase
No. Tingkat Pendapatan (Rp)
Responden (%)
1 < 1.000.000,- 10 33.33
2 1.000.000,- s/d 1.500.000,- 14 46.67
3 1.501.000,- s/d 2.000.000,- 4 13.33
4 2.001.000,- s/d 2.500.000,- 1 3.33
5 2.501.000,- s/d 3.000.000,- 0 0.00
3 > 3.000.000 1 3.33
Jumlah 30 100.00
Sumber : Data Analisis Tim Amdal, 2019

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 39


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Pendapatan total rumah tangga digunakan untuk


membeli/memenuhi kebutuhan rumah tangga dan banyaknya
anggota rumah tangga yang menjadi tanggungan/beban rumah
tangga mempengaruhi kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan.
Karena terbatasnya pemenuhan kebutuhan rumah tangga
mendorong peluang terjadinya tingkat kemiskinan.
Pola nafkah ganda merupakan salah satu strategi yang digunakan
masyarakat sebagai upaya untuk mencapai apa yang dibutuhkan dan
dijadikan salah satu alternative dalam memecahkan masalah
ekonomi.
b. Lapangan Usaha Masyarakat
Berdasarkan data keadaan ketenagakerjaan Kabupaten Bombana
tahun 2017, menunjukkan bahwa dari tahun 2014-2017 jumlah
penduduk yang bekerja pada sector pertanian selalu lebih besar
dibandingkan sector lainnya. Sector pertanian ini mampu menyerap
lebih dari setengah jumlah penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja.
Pada tahun 2014 penduduk yang bekerja pada sector pertanian
mencapai 35.495 orang dan meningkat dalam kurun waktu tiga
tahun yang mencapai 45.245 pada tahun 2017. Penyerapan tenaga
kerja disektor ini yang cenderung meningkat menunjukkan bahwa
pekerja sector pertanian merupakan lapangan usaha yang muda
dimasuki oleh pekerja karena tidak membutuhkan Pendidikan
maupun pengalaman yang memadai. Data mengenai persentase
penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha disajikan pada tabel
berikut.
Tabel 2-10. Persentase penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha,
2014-2017

No. Lapangan Usaha 2014 2015 2017


1 Pertanian 35.492 40.653 45.245
2 Manufaktur 5.688 4.614 12.247
3 Jasa 25.829 24.142 30.498
Jumlah 67.009 69.409 87.990
Sumber: Sakernas, 2014-2017
*)Data 2016 tidak tersedia

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 40


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

c. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)


Secara umum aktivitas perekonomian suatu wilayah termasuk
Kabupaten Bombana digerakan oleh kegiatan berbagai sector, seperti
sector primer (pertanian, pertambangan dan penggalian), sector
sekunder (industry pengolahan, listrik, gas dan air bersih) dan
sector tersier (perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan
komunikasi, keuangan jasa perusahaan, serta jasa-jasa).
Pada dasarnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha
untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas lapangan
pekerjaan, pemerataan pembagian pendapatan, meningkatkan
hubungan ekonomi antar daerah/wilayah dan mengupayakan
terjadinya pergeseran kegiatan ekonomi yang semula dari sector
primer kepada sector sekunder serta sector tersier.
Salah satu data statistic yang diperlukan untuk evaluasi dan
perencanaan ekonomi makro adalah data Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) yang disajikan secara series. Angka-angka yang
disajikan secara sectoral memperlihatkan tentang struktur
perekonomian suatu daerah, apakah menunjukkan kea rah daerah
yang agraris atau industry. Berdasarkan data dari masing-masing
sektir dapat dilihat peranan atau sumbangan tiap sector terhadap
jumlah pendapatan secara keseluruhan.
Sector utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDRB)
Kabupaten Bombana adalah sector pertanian, kehutanan, dan
perikanan serta usaha pertambangan. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik Kabupaten Bombana, dimana sector pertanian, kehutanan
dan perikanan pada tahun 2016 menyumbang sebesar Rp. 1.161.815,44
yang disusul oleh sector pertambangan penggalian sebesar Rp.
1.105.431,68. Rincian data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2-11. Produk domestic regional bruto (PDRB) Kabupaten Bombana


atas dasar harga konstan 2010 menurut lapangan usaha

Lapangan Usaha PDRB Kabupaten Bombana Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah)

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 41


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016


Pertanian, 844,942.17 855,263.43 902,827.88 969,601.15 1,051,985.83 1,078,458.32 1,161,815.44
Kehutanan, dan
Perikanan
Pertambangandan 639,426.35 772,871.59 920,805.05 1,010,235.00 1,024,555.28 1,118,175.38 1,105,431.68
Penggalian
Industri Pengolahan 145,708.81 160,741.00 173,658.49 181,747.43 193,585.24 210,010.44 231,687.78
Pengadaan Listrik 282.58 317.33 384.33 422.47 469.77 534.77 570.68
dan Gas
Pengadaan Air, 3,085.19 3,305.83 3,796.03 4,133.57 4,649.13 4,946.12 5,386.54
Pengelolaan
Sampah, Limbah
dan Daur Ulang
Konstruksi 177,965.43 199,068.58 221,628.73 239,947.94 276,714.24 332,142.19 362,466.77
Perdagangan 289,689.31 305,536.81 348,851.51 381,991.04 420,740.95 449,616.03 495,865.93
Besardan Eceran;
Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor
Transportasi dan 15,618.53 16,368.75 17,585.71 19,196.09 21,453.23 23,562.66 25,770.53
Pergudangan
Penyediaan 9,217.77 10,002.12 11,277.85 12,175.28 13,627.42 15,618.05 17,145.19
Akomodasi dan
Makan Minum
Informasi dan 23,687.34 23,848.97 25,499.57 28,078.61 29,235.83 31,182.93 34,539.93
Komunikasi
Jasa Keuangan dan 13,239.91 16,816.79 24,621.25 27,281.52 30,601.84 33,074.03 37,824.78
Asuransi
Real Estate 41,074.04 45,557.76 48,225.32 50,972.18 54,122.26 57,001.56 57,434.04
Jasa Perusahaan 297.88 332.27 365.64 401.01 434.17 478.33 517.55
Administrasi 116,737.31 119,343.14 120,381.71 125,557.92 140,244.62 149,416.62 152,629.07
Pemerintahan,
Pertahanan dan
Jaminan Sosial
Wajib
Jasa Pendidikan 101,229.26 106,665.27 112,958.53 125,237.12 145,461.21 165,651.22 178,828.53
Jasa Kesehatan dan 20,811.58 21,521.26 21,983.96 24,364.83 27,949.94 30,356.42 32,234.96
Kegiatan Sosial
Jasa lainnya 10,006.95 11,442.28 12,606.46 13,788.92 15,636.10 16,791.61 18,040.98
PDRB 2,453,020.42 2,669,003.17 2,967,458.01 3,215,132.09 3,451,467.04 3,717,016.67 3,918,190.39
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan, 2018

d. Pendidikan (survey)
Sarana pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk
ditelaah, karena melalui pendidikan dapat diketahui kualitas
masyarakat, semakin banyak penduduk yang berpendidikan,
merupakan indikator tingkat kualitas masyarakatnya akan semakin
baik. Tersedianya fasilitas pendidikan, secara empirik sangat
menunjang terlaksananya kegiatan pendidikan tersebut. Secara rinci
jumlah fasilitas pendidikan di kawasan Kecamatan Kabaena Selatan
disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2-12. Jumlah fasilitas Pendidikan di rencana lokasi kegiatan PT. TBS
Kecamatan Kabaena Selatan

Jumlah Fasilitas Eksisting Tahun 2018


Jumlah Penduduk
No Desa/Kelurahan (Unit)
Tahun 2018 (Jiwa)
TK SD SMP SMA PT
1 Pongkalaero 1022 1 1 0 1 0

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 42


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

2 Puu Nunu 651 1 1 1 0 0


3 Batuawu 940 1 1 0 0 0
4 Langkema 669 1 1 0 0 0
Jumlah 3282 4 4 1 1 0
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kabaena Selatan, 2018

Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa keberadaan sarana prasarana


gedung sekolah dan fasilitas lainnya juga mendukung jalannya proses
belajar mengajar. Di Kecamatan Kabaena Selatan, ketersediaan
gedung sekolah sudah cukup memadai dalam menunjang kelancaran
proses pendidikan dimana setiap jenjang pendidikan sudah tersedia.
Berdasarkan hasil survei lapangan, terlihat bahwa tingkat
pendidikan responden pada umumnya berpendidikan tamatan SLTA
sebanyak 14 orang (46,7%). Tabel 2-12 berikut menunjukkan tingkat
pendidikan reseponden di wilayah studi.
Tabel 2-13. Tingkat pendidikan responden di wilayah studi

Tingkkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)


Tamat SD 4 13.33
Tamat SLTP 7 23.33
Tamat SLTA 14 46.67
Tamat Perguruan Tinggi 5 16.67
Jumlah 30 100.00
Sumber : Data Analisis Tim Amdal, 2019

e. Sikap dan Persepsi Masyarakat Terhadap Rencana Kegiatan (survey)


Persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya pesan atau
informasi ke dalam otak manusia kemudian diproses dan
dikategorikan dalam suatu gaya tertentu. Interpretasi terhadap
rangsangan yang diterima dari lingkungan yang bersifat individual.
Persepsi bisa dipengaruhi oleh pengalaman, kemampuan menerima
panca indera serta kemampuan berpikir seseorang. Hasil wawancara
dan pengisian kuisioner menunjukkan sikap masyarakat terhadap
rencana kegiatan seperti yang sajikan pada tabel berikut.
Tabel 2-14. Persepsi dan Sikap masyarakat terhadap rencana kegiatan
pembangunan terminal khusus

Persepsi masyarakat Persentase Sikap masyarakat Persentase


terhadap rencana responden yang terhadap rencana responden yang

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 43


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

pembangunan Terminal menyatakan pembangunan Terminal menyatakan


Khusus persepsinya (%) Khusus Sikapnya (%)
Tanpa Dengan Tanpa Dengan
adanya adanya adanya adanya
kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan
Sangat bermanfaat 6.67 6.67 Sangat setuju 6.67 3.33
Bermanfaat 56.67 53.33 Setuju 60.00 53.33
Merugikan 26.67 33.33 Tidak setuju 23.33 33.33
Sangat merugikan 3.33 6.67 Sangat tidak setuju 3.33 10.00
Tidak menjawab 6.67 0.00 Tidak menjawab 6.67 0.00
Sumber : Data Analisis Tim Amdal, 2019

Pada tabel tersebut dapat Digambarkan bahwa perbandingan antara


masyarakat yang setuju dan tidak setuju hampir berbanding sama.
Dimana ketidaksetujuan masyarakat disebabkan selain isu legalitas
lahan yaitu dengan adanya terminal khusus PT.TBS nantinya akan
mengganggu aktivitas nelayan untuk wilayah pesisir. Dimana pada
umumnya masyarakat nelayan selama ini melakukan aktivitas
penangkapan gurita di sepanjang pesisir, sehingga dengan nanti
adanya terminal khusus akan menjadi penghambat aksesbilitas di
wilayah pesisir.
Dalam hal ini masyarakat berharap semua yang menjadi
permasalahan agar dapat menjadi prioritas utama bagi pemrakarsa.
Ada beberapa point menurut masyarakat yang kemungkinan timbul
dari kegiatan tersebut, antara lain:
a. Pemrakarsa harus mengakomodir hak-hak masyarakat yang
terkait dengan kelangsungan mata pencaharian mereka.
Dimana dengan dibangunnya terminal khusus akan
menghambat/menghalangi akses masyarakat diwilayah
pesisir untuk mencari hasil laut dalam hal ini gurita.
b. Pemrakarsa harus memiliki komitmen untuk membangun
masyarakat sekitar proyek, dengan program-program
pemberdayaan masyarakat baik melalui program CSR,
maupun bantuan-bantuan yang sifatnya insidentil, misalnya
perbaikan infrastruktur desa (jalan, jembatan, sarana ibadah,
sekolah dan sebagainya).

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 44


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

c. Pihak pemrakarsa, lebih memperhatikan aspek lingkungan


ketika terminal khusus beroperasi. Lingkungan perlu dikelola
dengan baik agar tidak terjadi pencemaran air laut yang dapat
merusak ekosistem laut dan pesisir.
d. Pihak pemrakarsa dapat memberikan kesempatan kepada
masyarakat sekitar proyek untuk dijadikan mitra dalam
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok karyawan
perusahaan.
Sikap dan persepsi masyarakat akan positif, ketika perusahaan dapat
merespon keinginan masyarakat dengan baik, demikian sebaiknya,
apabila perakarsa tidak dapat memberikan respon yang baik atau
tidak memperhatikan aspirasi masyarakat sekitar maka yang muncul
adalah sikap dan persepsi masyarakat akan negatif.
3. Budaya
a. Nilai dan Norma Budaya
Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi
kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat
terhadap masyarakat yang memilikinya. Berdasarkan komposisi
etnis, Kecamatan Kabaena Selatan dihuni oleh suku asli Moronene
dan suku pendatang seperti Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Buton,
Suku Muna dan Suku Tolaki. Hubungan antar suku di wilayah studi
selama ini dapat berjalan dengan baik, berdampingan dalam berbagai
aktivitas keseharian meskipun memiliki latar belakang budaya dan
adat istiadat yang berbeda.
Nilai sosial adalah sesuatu yang dianggap, dicita-citakan oleh
masyarakat dan berharga bagi kehidupan. Jadi, nilai sosial sangat
dibutuhkan oleh manusia karena merupakan suatu pedoman yang
berguna untuk mengatur perilaku seseorang dalam sosialisasi.
Sedangkan Norma (norm) adalah aturan-aturan yang berlaku dalam
kehidupan masyarakat yang disertai dengan sanksi atau ancaman
apabila tidak melakukannya.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 45


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Masyarakat adalah komunitas sosial yang menginginkan adanya


keteraturan sosial (social order) sehingga dibutuhkan adanya
norma-norma yang berlaku dengan berbagai sanksinya ketika ada
pelanggraran. Nilai-nilai sosial sangat erat kaitannya dengan norma-
norma sosial. Jika nilai social dikatakan sebagai standar normatif
dalam berperilaku sosial yang merupakan acuan-acuan sikap dan
perasaan yang diterima oleh masyarakat sebagai dasar untuk
merumuskan apa yang dianggap benar dan penting, maka norma
sosial merupakan bentuk kongkrit dari nilai- nilai yang ada dalam
kehidupan masyarakat. Di dalam sistem norma terdapat aturan-
aturan dan sanksi-sanksi jika aturan-aturan tersebut dilanggar.
Dengan demikian, sistem nilai dan sistem norma tersebut akan
melandasi perilaku setiap individu dalam berinteraksi. Nilai-nilai
sosial sangat erat kaitannya dengan norma-norma sosial. Jika nilai
sosial dikatakan sebagai standar normatif dalam berperilaku sosial
yang merupakan acuan-acuan sikap dan perasaan yang diterima oleh
masyarakat sebagai dasar untuk merumuskan apa yang dianggap
benar dan penting, maka norma sosial merupakan bentuk kongkrit
dari nilai- nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat. Di dalam
sistem norma terdapat aturan-aturan dan sanksi-sanksi jika aturan-
aturan tersebut dilanggar. Dengan demikian, sistem nilai dan sistem
norma tersebut akan melandasi perilaku setiap individu dalam
berinteraksi di kehidupan masyarakat.
Melihat beragamnya etnis di wilayah studi, namum dalam
keseharian mereka tetap diikat dengan nilai dan norma yang
mengisyaratkan pada tuntunan sesuai sukunya. Namun hal tersebut
tidak menyebabkan benturan budaya karena nilai dan norma yang
mungkin berbeda, mereka saling memahami perbedaan dan saling
menghargai apa yang menjadi tuntunan mereka dalam bertindak.
Hal tersebut disebabkan karena tata kelakuan yang terpola telah
dilandasi pada norma dan nilai yang dijunjung tinggi.
b. Warisan budaya
Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 46
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

Kehidupan masyarakat merupakan wadah sosial yang didalamnya


terdapat serangkaian konsep yang ada dalam pikiran dari sebagian
besar warga masyarakat, yaitu tentang sesuatu yang dianggap
penting dan bermilai dalam hidup. Sistem nilai dan norma budaya
merupakan hasil dari sosialisasi yang diperoleh setiap individu
sehingga menjadi instrumen penting dalam melakukan adaptasi
dengan kehidupan sosialnya. Hal inilah yang menjadi pilar sosial
yang dapat menjaga dan melestarikan berbagai bentuk budaya yang
hidup ditengah-tengah masyarakat. Kondisi ini pula terjadi di
masyarakat sekitar proyek khsusunya di Desa Puu Nunu.
Kehidupan masyarakat sekitar wilayah studi dari aspek sosial
budaya secara umum masih cenderung mempertahankan nilai-nilai
budaya yang diwariskan para leluhur. Walaupun pengaruh
globalisasi juga dirasakan masyarakat tapi masih ada nilai-nilai
budaya yang tetap dipertahankan sehingga tidak terjadi pergeseran
secara signifikaan. Wilayah ini dihuni beberapa etnis selain etnis
Moronene sebagai etnis pribumi juga terdapat etnis dari luar yaitu
Bugis, Makassar, Buton, dan Tolaki. Berbagai kegiatan adat dan
kebiasaan masyarakat yang masih tetap dilaksanakan, misalnya yang
terkait dengan siklus kehidupan manusia yaitu pesta perkawinan,
perayaan kelahiran, dan peringatan kematian.
Salah satu nilai budaya yang masih tampak terlihat pada masyarakat
di wilayah studi adalah nilai budaya gotong royong. Dari hasil
pengumpulan data yang dilakukan menunjukkan bahwa gotong
royong yang sering dilakukan masyarakat adalah antara lain kerja
bakti kebersihan lingkungan, saling membantu dalam pelaksanaan
hajatan, dan bekerja sama dalam pelaksanaan sistem keamanan
lingkungan (siskamling).
Tabel 2-15. Tanggapan responden tentang intensitas pelaksanaan kegiatan
budaya sebagai upaya pelestarian nilai-nilai budaya di lokasi
studi

No. Tanggapan Responden Frekuensi Persentase (%)


Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 47
Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

1 Masih tetap dilakukan 27 90


2 Mulai jarang/kadang-kadang dilakukan 3 10
3 Tidak pernah lagi dilakukan 0 0
Total 30 100
Sumber : Data Analisis Tim Amdal, 2019

Tanggapan responden tentang intensitas pelaksanaan kegiatan


budaya sebagai upaya pelestarian nilai-nilai budaya baik kebudayaan
yang bersifat fisik maupun non fisik menunjukkan bahwa pada
umumnya (90 %) mereka menyatakan masih tetap dilakukan dan
dipertahankan oleh masyarakat sebagai upaya melestarikannya, dan
sebagian kecil (10 %) responden yang menyatakan bahwa berbagai
aktifitas adat sudah mulai jarang/kadang-kadang saja dilakukan.
Alasan yang terkait dengan hal tersebut antara lain karena tingkat
ekonomi warga masyarakat yang relatif terbatas. Berdasarkan
kondisi diatas maka skala kualitas kondisi awal aspek norma dan
nilai budaya termasuk kategori baik
c. Proses Sosial
Proses sosial merupakan fakta sosial yang terjadi dari adanya
dinamika dalam kehidupan masyarakat. Di dalamnya, terdapat
hubungan antar manusia (individu) dan kelompok. Proses hubungan
tersebut berupa antar aksi sosial yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari secara terus menerus. Antar aksi (interaksi) sosial,
dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antara dua belah pihak,
yaitu antara individu satu dengan individu atau kelompok lainnya
dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Proses sosial pada dasarnya
merupakan siklus perkembangan dari struktur sosial yang
merupakan aspek dinamis dalam kehidupan masyarakat.
Kehidupan masyarakat di wilayah studi, khususnya hubungan sosial
antar individu, antar individu dengan kelompok, maupun antar
kelompok terjalin dalam pola-pola kebersamaan atau kerja sama
(cooperation), dimana didalamnya terdapat aktivitas bersama yang
bertujuan untuk kepentingan bersama. Hal tersebut dapat dilihat
dari kegiatan-kegiatan sosial yang masih dipertahankan, misalnya

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 48


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

kegiatan gotong royong yang dilaksanakan secara rutin dimana


tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi.
Dengan melihat Adat istiadat masyarakat di wilayah studi
terintegrasi dalam beberapa tradisi yang masih hidup dan
berkembang pada identitas etnis tertentu. Masyarakat di wilayah
studi memiliki karakteristik multi etnis sehingga adat istiadat yang
berkembang juga menggambarkan adanya keberagaman. Namun
demikian, pembauran budaya (akulturasi) menjadi bagian proses
sosial yang banyak terjadi pada masyarakat di wilayah studi.
Perkawinan merupakan salah satu prosesi adat yang membaurkan
budaya, ketika terjadi dua etnis yang tidak sama diikat dalam
upacara pernikahan, namun juga sering diadakan dengan
kesepakatan memakai adat tertentu diantara mereka.
Prosesi adat pada masyarakat di wilayah studi dalam acara
perkawinan, juga terlihat dalam beberapa prosesi-prosesi lainnya,
misalnya acara sunatan, hakikah, masuk rumah baru dan sebagainya.
Prosesi adat tersebut dipimpin oleh para tokoh adat masing-masing.
Tokoh adat memiliki peran sangat besar dalam mengarahkan dan
memandu jalannya prosesi adat tersebut, sehingga eksistensi tokoh
adat masih sangat dibutuhkan.
Demikian halnya hubungan-hubungan yang bersifat interpersonal,
konflik jarang terjadi karena mereka mempertahan keharmonisan
sosial dengan selalu saling menghargai dan saling memahami dalam
setiap hubungan sosial.
Dalam perspektif lain untuk melihat proses-proses sosial yang
terjadi pada masayarakat di wilayah studi adalah sikap masyarakat
terhadap para pendatang. Dari hasil pengumpulan data di lapangan
menunjukkan bahwa adanya sifat terbuka dari masyarakat dalam
bentuk penerimaan yang ramah. Namun, ada keinginan responden
terhadap para pendatang yaitu antara lain: hendaknya berbaur dan
bekerja sama dengan masyarakat, menghargai adat dan kebiasaan

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 49


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

serta mau mengikuti kegiatan kemasyarakatan, serta tetap menjaga


kebersamaan dan ketentraman lingkungan.
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kehidupan
sosial masyarakat di wilayah studi cukup stabil, dengan proses-
proses sosial yang terbentuk dalam ikatan (kohesi) sosial yang
tinggi, baik antar individu dengan indivu maupun antar kelompok.
d. Pranata Sosial/Kelembagaan Masyarakat
Pada Umumnya masyarakat Kecamatan Kabaena Selatan adalah
masyarakat agraris dan tanah adalah basis material yang utama
dalam kehidupan mereka. Sistem kepemilikan lahan masyarakat
disana bersifat turun temurun, diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Kegiatan membuka hutan untuk dijadikan
sebagai areal pertanian dan perkebunan juga masih dilakukan oleh
warga Kecamatan Kabaena Selatan. Tanaman pertanian yang
ditanam adalah jenis hortikultura dan tanaman perkebunan
terutama sekali adalah jambu mete. Selain cara pewarisan, terdapat
pula praktek jual beli lahan antar warga baik sesama warga lokal
maupun dengan pendatang.
Pranata pendidikan terkait dengan proses pembangunan sumber
daya manusia, baik yang dilakukan secara formal maupun non
formal. Kegiatan pendidikan yang terdapat di Kecamatan Kabaena
Selatan mencakup kegiatan pendidikan formal yakni pendidikan
Sekolah Dasar sampai pendidikan Sekolah Menengah Atas. Harapan
pemerintah dan masyarakat desa, sekolah-sekolah ini nantinya dapat
diberikan bantuan fasilitas oleh pemerintah daerah melalui berbagai
program pendidikan gratis. Lembaga pendidikan lainnya tidak
terdapat di daerah ini sehingga untuk melanjutkan pendidikan
kejenjang tersebut harus ke luar desa. Situasi ini merupakan
permasalahan tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam
usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia warganya.

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 50


Dokumen ANDAL
Studi AMDAL Rencana Pembangunan Terminal Khusus (Tersus)
PT. Tambang Bumi Sulawesi

D. Komponen Kesehatan Masyarakat (Erwin)

3.2. KEGIATAN LAIN DISEKITAR LOKASI REKLAMASI


A. Permukiman Masyarakat

B. xxxxxxxxxxxxxx

Bab III – Rona Lingkungan Hidup Awal II - 51