Anda di halaman 1dari 13

BAB III

DEFINISI

Dermatitis atopi adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif atau sering

berulang, disertai rasa gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak.

Dermatitis atopi sering dihubungkan dengan peningkatan kadar igE dalam serum dan riwayat

atopi pada keluarga.2 Riwayat atopi merupakan istilah yang digunakan pada sekelompok

penyakit dengan riwayaat kepekaan dalam keluarganya mislanya asma bronkial, rhinitis

alergi, dermatitis atopi, dan konjungtivitis alergik.2

Dermatitis atopi merupakan penyakit kronik, berulang dimana merupakan penyakit

kulit inflamasi yang sering mengenai anak-anak. Atopi didefinisikan sebagai penyakit dimana

tubuh menghasilkan antibodi imunoglobulin E (IgE) dalam menanggapi sejumlah alergen

seperi serbuk sari, tungau debu rumah dan alergen makanan. Dermatitis berasal dari bahasa

Yunani "derma," yang berarti kulit, dan "itis," yang berarti peradangan. Dermatitis dan eksim

sering digunakan secara sinonim, meskipun istilah eksim kadang-kadang disediakan untuk

manifestasi akut penyakit (dari bahasa Yunani, ekzema, mendidih). di sini, tidak ada

perbedaan dibuat. Selama bertahun-tahun, banyak nama lainnya telah diusulkan untuk

penyakit, misalnya, prurigo Besnier, dinamai dokter kulit Perancis Ernest Besnier (1831-

1909).3

EPIDEMIOLOGI

Prevalensi dermatitis atopik meningkat dua kali lipat atau tiga kali lipat di negara-

negara industri. Sangat mungkin peningkatan prevalensi ini berasal dari faktor lingkungan,

seperti bahan kimia industri, makanan olahan, atau benda asing lainnya. selama tiga dekade

terakhir; 15 sampai 30% dari anak-anak dan 2 sampai 10% dari orang dewasa mengalami
dermatitis atopi. Gangguan ini sering diawali karena adanya riwayat atopi dalam keluarga

seperti asma dan penyakit alergi lainnya.4

Dermatitis atopik sering dimulai pada awal masa bayi (disebut dermatitis atopik onset

dini). Sebanyak 45% dari semua kasus dermatitis atopik dimulai dalam 6 bulan pertama

kehidupan, 60% mulai pada tahun pertama, dan 85% dimulai sebelum usia 5 tahun. Lebih

dari 50% dari anak-anak yang terkena dermatitis atopi dalam 2 tahun pertama kehidupan

tidak memiliki tanda-tanda IgE sensitisasi, tapi mereka menjadi peka seiring berjalannya

waktu. sekitar 70% dari anak-anak ini memiliki remisi spontan sebelum masa remaja .

Penyakit ini juga dapat memulai pada orang dewasa (disebut dermatitis atopi onset akhir),

dan dalam sejumlah besar pasien tidak ditemukan adanya peningkatan sensitasi dan

peninggian igE dalam serum.4

Di negara agraris, misalnya Cina, Eropa Timur, Asia tengah, perevalensi DA jauh

lebih rendah. Wanita lebih banyak menderita DA dibanding pria dengan rasio 1,3:1. Faktor

lingkungan yang berpotensi menaikkan jumlah penderita DA misalnya jumlah keluarga kecil,

pendidikan ibu makin tinggi, penghasilan meningkat, migrasi dari desa ke kota dan

peningkatan penggunaan antibiotik. Sebaliknya faktor-faktor yang akan melindungi

kemungkinan timbulnya DA ialah rumah yang berpenghuni banyak, meningkatnya jumlah

keluarga, urutan lahir semakin belakang dan sering mengalami infeksi sewaktu kecil. DA

cenderung diturunkan, resiko mewarisi DA lebih tinggi bila ibu yang menderita DA

dibanding ayah. Lebih dari seperempat anak dari seorang ibu yang menderita atopi akan

mengalami DA.
ETIPATOGENESIS

Dermatitis atopi adalah kondisi kambuhan yang dimulai pada masa anak-anak dan

kadang terus berlanjut sampai manula. Atopi adalah kecenderungan untuk terjadinya suatu

perubahan status reaktifitas imun yang diturunkan (reaksi hipersensitivitas tipe 1 dan tipe

lain. Pasien yang mempunyai riwayat atau keluarga tingkat pertama dengan asma, hoy fever,

konjungtivitis, atau dermatitis memiliki kecenderungan untuk mengalami dermatitis atopi.

Berbagai faktor ikut berinteraksi dalam dermatitis atopi misalnya faktor genetik,

sawar kulit, farmakologik dan immunologik. Konsep dasar terjadinya DA adalah melalui

rekasi immunologik yang diperantari oleh sel-sel yang berasal dari sumsum tulang.

Kadar IgE dalam serum penderita dermatitis atopi dan jumlah eosinofil dalam darah

perifer umumnya meningkat. Terbukti bahwa ada hubungan secara sistemik antara D.A dan

alergi saluran nafas kerana 80% anak dengan D,A mengalami asma bronkial dan rinitis

alergik.

Beberapa teori mengemukakan bahwa etiologi dari dermatitis atopi itu sendiri sangat

ditentukan oleh beberapa hal antara lain :

A. Faktor Intrinsik

1. Genetik

Kromosom 5q31-33 mengandung kumpulan famili gen sitokin IL-3 IL-4 IL-13 dan GM-SCF

yang diekspresikan oleh sel TH2. Ekspresi gen IL-4 memainkan peranan penting dalam

ekspresi D.A. perbedaan genetik aktifitas transkripsi gen IL-4 mempergaruhi predisposisi

D.A. Ada hubungan erat antara polimorfisme spesifik gen kimase sel mas dan D.A, tetapi

tidak dengan asma bronkhial atau rhinitis alergik. Varian genetik kimase sel mas yaitu serine
protase yang disekresi oleh sel mas di kulit mempunyai efek spesifik pada organ dan berperan

dalam timbulnya D.A

2. Imunologi

Teori ketidakseimbangan imunologi berpendapat bahwa dermatitis atopi disebabkan oleh

ketidakseimbangan sel T terutama jenis T helper 1, 7,17, dan 22 dan juga sel T regulator.

Pada daerah daerah yang banyak ditemukan dermatitis atopi didapatkan terjadinya

diferensiasi Th2, cd4 dan sel T. Hal ini menyebabkan peningkatan produksi interleukin

terutama IL-4, IL-5 dan IL-13 yang kemudian mengarah ke peningkatan Ige itu sendiri

3. Kelainan barier kulit

Hipotesis mengenai kecacatan penghalang kulit merupakan penemuan yang sangat baru

dimana berawal pada pengamatan bahwa individu dengan mutasi pada gen filaggrin berada

pada peningkatan risiko terjadinya dermatitis atopik. Gen filaggrin mengkodekan protein

struktural dalam stratum korneum dan stratum granulosum yang membantu mengikat

keratinosit bersama-sama. Ini mempertahankan penghalang kulit utuh dan stratum korneum

terhidrasi. Dengan cacat gen, kurang filaggrin diproduksi, yang menyebabkan disfungsi

penghalang kulit dan kehilangan air transepidermal, yang menyebabkan eksim. Ada bukti

yang menunjukkan bahwa penghalang kulit terganggu, yang menyebabkan kulit kering,

menyebabkan peningkatan penetrasi alergen ke dalam kulit, sehingga sensitisasi alergi, asma,

dan rhinitis meningkat. Mencegah kulit kering dan eksim aktif di awal kehidupan melalui

penerapan emolien dapat merupakan target pencegahan primer dari perkembangan eksim

menjadi penyakit alergi saluran napas.


B. Faktor Ekstrinsik

Faktor ekstrinsik yang dimaksud disini adalah lingkungan, Misalnya berbagai bahan

iritan, polutan dan alergen hirup maupun makanan.8

Akibat interaksi antara faktor intrinsik dan ekstrinsik akan terjadi:8

- Kulit kering karena transepidermal water loss (TEWL) yang meningkat dan

kemampuan kulit untuk mengikat air menurun.

- Respon inflamasi akan menimbulkan keluhan subyektif rasa gatal dan gejala

objektif lesi kulit.

- Gangguan fungsi sawar akan meningkatkan risiko pajanan terhadap bahan

kontaktan( iritan, alergen) dan memudahkan terjadinya kolonisasi dan infeksi.

MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis dermatitis atopik. bervariasi dengan usia; tiga tahap sering dapat

diidentifikasi. Pada bayi, lesi eczematous pertama biasanya muncul di pipi dan kulit kepala.

Menggaruk, yang sering dimulai beberapa minggu kemudian menyebabkan kulit erosi.

Selama masa kanak-kanak, lesi melibatkan lipatan, tengkuk, dan daerah dorsal tungkai. Pada

masa remaja dan dewasa, plak likenifikasi mempengaruhi lipatan, kepala, dan leher. Dalam

setiap tahap, gatal yang terus sepanjang hari dan memburuk pada malam hari menyebabkan

kurang tidur dan secara substansial mengganggu kualitas hidup pasien.

Umumnya gejala DA timbul sebelum bayi berumur 6 bulan, dan jarang terjadi di

bawah usia 8 minggu. Dermatitis atopik dapat menyembuh dengan bertambahnya usia, tetapi

dapat pula menetap bahkan meluas dan memberat sampai usia dewasa. Terdapat kesan bahwa

makin lama dan makin berat dermatitis yang diderita semasa bayi makin besar kemungkinan

dermatitis tersebut menetap sampai dewasa, sehingga perjalanan penyakit dermatitis atopik
sukar diramalkan.Terdapat tiga bentuk klinis dermatitis atopik, yaitu bentuk infantil, bentuk

anak, dan bentuk dewasa.

Bentuk infantil (usia 2 bulan sampai 2 tahun)

Dermatitis atopi paling sering muncul pada tahun pertama kehidupan, biasanya

setelah usia 2 bulan. Lesi di muka (dahi, pipi) berupa eritema, papulo-vesikel yang halus,

karena gatal digosok, pecah, eksudatif dan akhirnya terbentuk krusta. Lesi kemudian meluas

ke tempat lain yaitu skalp, leher, pergelangan tangan, lengan dan tungkai. Bila anak mulai

merangak, lesi ditemukan di lutut. Biasanya anak mulai menggaruk setelah berusia 2 bulan.

Rasa gatal yang timbul sangat mengganggu sehingga anak gelisah, susah tidur dan sering

menangis. Pada umumnyaa lesi D.A infantil eksudatif, Banyak eksudat, erosi, krusta, dan

dapat mengalami infeksi. Lesi dapat meluas generalisata bahkan, walaupun jarang, dapat

terjadi eritroderma. Lambat laun lesi menjadi kronis dan residif sehingga usia 18 bulan mulai

tampak likenifikasi pada sebagian besar penderita sembuh setelah usia 2 tahun, mungkin juga

sebelumnya, sebagian lagi berlanjut menjadi bentuk anak. Pada saat itu penderita tidak

lagimengalami eksaserebrasi bila makan makanan yang sebelumnya menyebabkan

kekambuhan penaykit.2

Bentuk anak (usia 2 sampai 10 tahun)

Dapat merupakan kelanjutan bentuk inflamasi atau timbul sendiri. Lesi lebih kering,

tidak begitu eksudatif, lebih banyak papul, likenifikasi dan sedeikit skuama. Letak kelainan

kulit di lipat siku, lipat lutut, pergelangan tangan bagian flexor, kelopak mata, leher, jarang di

muka. Rasa gatal menyebabkan penderita sering menggaruk dapat terjadi erosi, likenifikasi

mungkin juga mengalami infeksi sekunder. Akibat garukan kulit menebal dan perubahan

lainnya yang menyebabkan gatal, sehingga terjadi lingkaran seten”Siklus garuk-garuk”.2


Bentuk remaja dan dewasa

Lesi kulit D.A pada bentuk ini dapat berupa plak papular –eritematous dan berskuama

atau plak likenifikasi yang gatal. Pada D.A remaja lokalisasi lesi di lipat siku, lipat lutut, dan

samping leher, dahi, dan sekitar mata. Pada D.A dewasa distribusi lesi kurang karakteristik,

Sering mengenai tangan dan pergelangan tangan, dapat pula ditemukan setempat, misalnya di

bibir, vulva, puting susu, atau skalp. Kadang erupsi meluas dan paling parah di lipatan,

mengalami likenifikasi. Lesi kering, agak menimbul, papul datar dan cenderung bergabung

menjadi plak likenifikasi dengan sedikit skuama, dan sering terjadi ekskoriasi dan eksudasi

karena garukan. Lambat laun terjadi hiperpigmentasi.2

DIAGNOSIS

Hanifin dan Lobitz (1977) menyusun petunjuk yang sekarang diterima sebagai dasar

untuk menegakkan diagnosis DA Mereka mengajukan berbagai macam kriteria yang dibagi

dalam kriteria mayor dan kriteria minor. Kemudian kriteria tersebut diperbaiki oleh kelompok

kerja dari Inggris yang dikoordinasi oleh Williams (1994).

Kriteria minimal untuk menegakkan diagnosa DA meliputi pruritus dan kecenderungan

dermatitis untuk menjadi kronik atau kronik residif dengan gambaran morfologi dan

distribusi yang khas.

Dermatitis atopik dikenal sebagai gatal yang menimbulkan kelainan kulit, bukan

kelainan kulit yang menimbulkan gatal. Tetapi belum ada kesepakatan pendapat mengenai

hal ini, karena pada pengamatan, lesi di muka dan punggung bukan diakibatkan oleh garukan,

selain itu dermatitis juga terjadi pada bayi yang belum mempunyai mekanisme gatal-garuk.
Kriteria diagnosis dermatitis atopik dari Hanifin dan Lobitz, 1977.6

Kriteria mayor ( > 3)Pruritus

Morfologi dan distribusi khas :

dewasa : likenifikasi fleksura

bayi dan anak : lokasi kelainan di daerah muka dan ekstensor

Dermatitis bersifat kronik residif

Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya


Kriteria minor ( > 3)Xerosis

Iktiosis/pertambahan garis di palmar/keatosis pilaris

Reaktivasi pada uji kulit tipe cepat

Peningkatan kadar IgE

Kecenderungan mendapat infeksi kulit/kelainan imunitas selular

Dermatitis pada areola mammae

Keilitis

Konjungtivitis berulang

Lipatan Dennie-Morgan daerah infraorbita

Keratokonus

Katarak subskapular anterior

Hiperpigmentasi daerah orbita

Kepucatan/eritema daerah muka

Pitiriasis alba

Lipatan leher anterior

Gatal bila berkeringat


Intoleransi terhadap bahan wol dan lipid solven

Gambaran perifolikular lebih nyata

Intoleransi makanan

Perjalanan penyakit dipengaruhi lingkungan dan emosi

White dermographism/delayed blanch

Kemudian oleh Kelompok kerja Inggris (UK Working party) yang dikoordinasi oleh William

pada tahun 1994 memperbaiki dan menyederhanakan kriteria Hanifin dan Lobitz menjadi

satu set kriteria untuk pedoman diagnosis DA yang dapat diulang dan divalidasi. Pedoman ini

dapat digunakan pada orang dewasa, anak, berbagai ras dan sudah divalidasi dalam populasi

sehingga dapat membantu dokter Puskesmas membuat diagnosis.

PENATALAKSANAAN

Saat ini tidak ada pengobatan yang 100% menyembuhkan dermatitis atopi seumur

hidup. Dermatitis atopik umumnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol.

Sebagian penderita mengalami perbaikan sesuai dengan bertambahnya usia. Langkah pertama

dalam penatalaksanaan penderita DA adalah menghindari atau sedikitnya mengurangi faktor

penyebab, misalnya eliminasi makanan, faktor inhalan, atau faktor pencetus lainnya7

Kunci utama dalam penatalaksanaan DA adalah perawatan kulit harian yang tepat.

Mandi dua kali sehari dengan air hangat dalam 10-15 menit direkomendasikan untuk

membersihkan dan melembabkan kulit, membantu dalam membersihkan kulit yang infeksi,

dan membantu meningkatkan penetrasi dari obat-obatan topical.4

Manajemen penyakit dilakukan dengan menggabungkan terapi adjuvan dasar

(perlindungan kulit) dan, jika diperlukan, anti-inflamasi dapat digunakan. Pengobatan saat ini

berfokus pada pengurangan gejala-gejala (hidrasi kulit dan pengurangan pruritus).7


pengnghindaran faktor alergen pada bayi berumur kurang dari 1 tahun akan

mengurangi beratnya gejala. DA. Maka dianjurkan agar bayi dengan riwayat keluarga alergi

memperoleh hanya ASI sediIkitnya 3 bulan, bila mungkin 6 bulan pertama dan ibu yang

menyusui dianjurkan untuk tidak makan telur, kacang tanah, terigu, dan susu sapi. Susu sapi

diduga merupakan alergen kuat pada bayi dan anak, maka bagi mereka yang jelas alergi

terhadap susu dapat menggantinya dengan susu kedelai, walaupun kemungkinan alergi

terhadap susu kedelai masih ada. 60% penderita DA di bawah usia 2 tahun memberikan

reaksi positif pada uji kulit terhadap telur, susu, ayam, dan gandum. Reaksi positif ini akan

menghilang dengan bertambahnya usia. Walaupun pada uji kulit positif terhadap antigen

makanan tersebut di atas, belum tentu mencerminkan gejala klinisnya. Demikian pula hasil

uji provokasi, sehingga membatasi makanan anak tidak selalu berhasil untuk mengatasi

penyakitnya.7

Terapi dasar adjuvant berfungsi sebagai pelindun kulit pada pasien dengan dermatitis

atopik. Terapi adjuvant dasar penting dalam pengelolaan penyakit ini dimana terdiri dari

aplikasi pelembab yang memadai. Pasien mungkin akan diresepkan pelembab yang berbeda

tergantung pada, usia mereka dan jenis kelainan kulit mereka. Emolien menjaga kulit

terhidrasi dan dapat mengurangi rasa gatal. Mereka harus diterapkan secara teratur setidaknya

dua kali selama hari, bahkan ketika tidak ada gejala penyakit dan juga harus diterapkan

setelah mandi.7

Steroid topikal saat ini dugunakan sebagai standar terapi anti-inflamasi yang

digunakan secara intermitten untuk mengobati tanda-tanda dan gejala dermatitis atopik.

Kortikosteroid topikal mempunyai efek antiinflamasi, antipruritus, dan efek vasokonstriktor.

Yang perlu diperhatikan pada penggunaan kortikosteroid topikal adalah: segera setelah mandi

dan diikuti berselimut untuk meningkatkan penetrasi; tidak lebih dari 2 kali sehari; bentuk
salep untuk kulit lembab bisa menyebabkan folikulitis; bentuk krim toleransinya cukup baik;

bentuk lotion dan spray untuk daerah yang berambut; pilihannya adalah obat yang efektif

tetapi potensinya terendah; efek samping yang harus diperhatikan adalah: atropi,

depigmentasi, steroid acne dan kadang-kadang terjadi absorbsi sistemik dengan supresi dari

hypothalamic-pituitary-adrenal axis; bila kasus membaik, frekuensi pemakaian diturunkan

dan diganti dengan yang potensinya lebih rendah; bila kasus sudah terkontrol, dihentikan dan

terapi difokuskan pada hidrasi.

Topikal kalceneurin inhibitor merupakan agent Immunosupresant yang juga terbukti

dalam terapi DA. Dua TCIs yaitu pimerolimus dan takrolimus yang sekarang sudah diterima

di Canada untuk pilihan kedua4. Efek merugikan tersering dari TCI adalah iritasi dan kulit

terbakar. Beberapa kasus dilaporkan juga yaitu keganasan dan lymphoma pada penggunaan

agen-agen ini. Penggunaan lama dari agen ini tidak dianjurkan dan dianjurkan penggunaan

bersama dengan pelindung sinar matahari.4

Meskipun generasi pertama dari anti histamine seperti hydroyzine, diphenhydramine,

chlorpeniramine tidak secara langsung berefek pada pengurangan gatal pada DA, efek

sedative dari agen ini terbukti meningkatkan tidur pada pasien DA. Oleh karena itu agen ini

dianggap sebagai terapi adjuvant jangka pendek pada pasien yang sering menggaruk saat

tidur malam.4

Seperti disebutkan sebelumnya, kulit pada pasien pasien dengan DA sering ditempati

oleh staphylococcus aureus. Untuk menghindari perkembangan dari bakteri, penggunaan

jangka pendek dari antibiotic topikal dan sistemik direkomendasikan ketika didapatkan

infeksi sekunder dari bakteri.4


Terapi lainnya yaitu ultraviolet(UV) phototerapi juga bermanfaat pada pengobatan

DA pada orang dewasa, walaupun efek samping dari penggunaan lama dari UV therapy

belum diketahui.4

Dokter professional dalam hal ini dokter spesialis kulit dan kelamin harus

menggunakan pendekatan pendekatan tertentu dalam mengelola dermatitis atopi pada anak.

Ini berarti menyesuaikan langkah pengobatan sesuai dengan derajat keparahan dermatitis

atopi.10 Emolien menjadi dasar terapi dan manajemen dari dermatitis atopi dan harus selalu

digunakan disetiap kasus atopi. Bahkan ketika dermatitis atopi sudah sembuh. Manajemen

dapat ditingkatkan maupun diturunkan sesuai dengan tingkat keparahan gejala sesuai dengan

Table 2 dibawah.10

Table 1. Pengobatan dermatitis atopi pada orang dewasa7


Table 2. Pengobatan dermatitis atopi pada anak10

PROGNOSIS

Sulit meramalkan prognsosis D.A pada seseorang. Prognosis lebih buruk bila kedua

orang tuanya menderita D.A. Ada kecenderungan perbaikan spontan pada masa anak dan

sering ada yang kambuh pada masa remaja. Sebagian besar kasus menetap pada usia di atas

30 tahun. Penyembuhan spontan D.A yang diderita sejak bayi pernah dilaporkan terjadi

setelah umur 5 tahun sebesar 40-60 persen. 2

Gambaran utama pada keadaan ini akan menyembuhkan pada 40% kasus setelah usia

5 tahun dan 90% pada usia 15-20 tahun.9