Anda di halaman 1dari 11

An.R laki-laki usia 24 bulan, di bawa kerumah sakit karena belum bisa bicara.

Setelah dilakukan
pengkajian status perkembangan diperoleh An.R tidak menoleh bila dipanggil, mengeluarkan
kata-kata yang tidaka bias di mengerti orang tua dan orang lain. An.R tidak mau bermain dengan
teman sebaya, tidak suka dipeluk dan akan menjadi histeris bila menengar suara keras. Bila
memerlukan sesuatu dia akan mengambil tangan pengasuhnya, dan anak yang hiperaktif An.R
adalah anak ke 2 dari ibu usia 32 tahun. Lahir spontan pada kehamilan 38 minggu. Selama hamil
ibu sehat dan periksa kehamilan dengan teratur kebidan. Segera setelah lahir langsung , skor
APGAR menit pertama 8 , menit ke 5 9. Berat badan waktu lahir 3000gram pemeriksaan fisik
BB 13 kg , PB 88 cm LK 47 cm , compomentis , kepala tidak ada gambar dismorpik, tidak ada
kelainan neulogis . tes pendengaran normal .

Tahap 1 ( klarifikasi istilah )

1. Compos mentis ( safitri )


2. Neurologis ( jamilah )
3. Desmorfik ( ranti )
4. Lk (wella )
5. PB ( Selvi )

Tahap 2 menjawab klarifikasi

1. Compos mentis adalah kesadaran normal ( susanti )


2. Neurologis adalah kelainan system saraf ( tiara )
3. Desmorfik adalah cemas terhadap penampilan fisik mereka ( tri )
4. Lk adalah lingkar kepala ( tinne )
5. PB adalah panjang badan ( syarah )

Tahap 3 pertanyaan

1. Apa factor penyebab anak hiperaktif ?( tinne )


2. Mengapa anak tersebut menjadi histeris bila mendengar suara keras ? ( wella )
3. Apakah autis itu bawaan dari lahir atau bukan ? ( selvi )
4. Apakah makanan yang harus dihindari oleh anak autis ? lalu apa makanan yang
disarankan untuk anak autis ( tiara )
5. Apa penyebab anak tidak bisa berbicara ? ( tri )
6. Apa yang menyebabkan anak tidak mau bermain dengan teman sebaya ? ( jamilah )
7. Apakah hiperaktif bisa disembuhkan ? jika bisa bagaimana caranya jika tidak apa
alasannya ( susanti )
8. Terapi bermain yang cocok diberikan pada anak kasus tersebut ? ( safitri )
9. Apa saja tanda-tanda kesulitan bersosialiasi pada anak autisme ? (ranti )
10. Mengapa anak tersebut tidak bisa mendengar bila dipanggil sedangkan di kasus tes
pendengaran normal ? ( syarah )
11. Apa yang menyebabkan pasien tidak mau noleh bila dipanggil memengeluarkan kata-kata
yang tidak mengerti orang tua dan orang lain ? ( yuti )

Tahap 4 menjawab pertanyaan

1. Factor penyebab
a. Genetic adalah bukti kuat yang menyatakan berubah dalam gen berkontribusi
terjadinya autis
b. Pesfisida adalah yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autism
c. Obat-obat memiliki kandungan resiko autism
d. Usia orang tua makin tinggi resiko anak terkena autism
e. Perkembangan otak area tertentu diotak termasuk selebar korfeks & cereblum
yang tanggung jawab pada konsentrasi pergerakan & peraturan mood berkaitan
dengan autis ( wella )
2. Karena anak tersebut mengalami gangguan sensori/persepsi yaitu sangat sensitif
terhadap suara (respon berlebihan terhadap suara ) ( tinne )
Karena mendengar suara keras memungkinkan terjadi kerusakaan dalam system limbic (
pusat emosi ). Pada anak autis , neuron didalam hipokampus dan amiglada sangat pada
kecil-kecil. Amiglada mengendalikan fungsi emosi dan agresi yang peka terhadap
berbagai rangsagan sensori ( suara, pengelihatan , penciuman , dan emosi yang
berhubungan dengan rasa takut ) sehingga anak akan histeris bila mendengar suara keras .
( syarah )
3. Ya bawaan dari lahir , tapi umumnya baru terlihar gejalanya mulai usia 6bulan atau 1
tahun ( yuti)
4. Makanan yang harus dihindari oleh anak autis sebetulnya sama dengan anak lainnya,
seperti makanan dengan perwarna pengawet dan penyedap rasa , makanan kemasaan ,
makanan siap saji , kaldu instan, minum soda , mie instan , sirup , semua produk yang
mengandung susu sapid an terigu , permen , gula , jelly , serta daging atau ayam olahan
yang cendrung mengunakan bahan kimia , hormone , juga antibiotic. Sementara makanan
yang disarankam adalah makanan segar , sayuran , buah-buahan , kacang-kacangan ,
coklat , ikan segar , telur , dan ayam kampong . ( ranti )
5. penyebab gangguan bicara dan bahasa dapat dipengaruhi beberapa factor missal, anak
gangguan pendengaran , retradasi mental, kelainan organ bicara , kelainan kromosom ,
ganggguan otak , autism gangguan perkembangan otak yang mempengaruhi
perkembangan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain lingkungan
( jamilah )
6. karena gangguan autisme menunjukkan kurang respon terhadap orang lain , kemampuan
berkomunikasi dan memunculkan respon yang aneh terhadap berbagai aspek lingkungan
di sekitarnya . ( tri )
7. ya bisa diatasi , caranya yaitu
1. tunjukan sikap tegas tapi tidak perlu marah panggil nama si anak , lalu pandang mata
dan wajahnya sampai perhatiannya tertuju pada anda .
2. konsisten terhadap apa yang pernah dijanjikan atau diluapkan
3. cobalah mencari tahu penyebab perilaku aktif si anak
4. jika harus berkata tidak, berikan penjelasannya. Rasa ingin tahu dan tidak terima
dalam diri si anak akan memicu tindakan merengek terus-menrus. (safitri)
8. terapi bermain dapat dilakukan untuk membantu mengendalikan agresivitas dan aktivitas
yang berlebihan dan dapat meningkatkan perhatian dan konsentrasi misalnya permainan
melempar bola, puzzle yang memiliki sedikit kepingan. Permainan memasukkan benda
berbentuk angka/huruf wadah yang memiliki lunbang sesuai dengan bentuknya,
memindahkan bola dari keranjang ke keranjang lain. Menyusun balok berukuran besar.
(susanti)
9. tanda-tanda kesulitan bersosialisasi pada autisme. Interaksi social dasar bisa sangat sulit
untuk anak yang mengalami autisme, berikut adalah tanda-tandanya:
 menunjukan rasa tidak tertarik atau tidak peduli akan apa yang terjadi di
sekitarnya.
 Tidak tahu cara berteman atau bermain dengan orang lain.
 Lebih memilih untuk tidak disentuh dan digendong.
 Memiliki kesulitan untuk memahami atau bicara tentang apa yang ia rasakan.
 Tampak seperti tidak mendengar ketika diajak berbicara.(tiara)
10. Yhijiko
11. Karena penderita autisme kurang memiliki kesadaran yang menyebabkan anak tidak bisa
memahami ekspresi wajah atau mengekspresikan perasaannya baik secara vocal maupun
dengan eksplorasi wajah yang baik, sebab itu anak tidak mempunyai empati terhadap
orang lain yang sangan dalam interaksi social. (jamilah)

Tahap 5 Learning Outcome

1. Mahasiswa mampu mengetahui definisi autisme


2. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi autisme
3. Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi autisme
4. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan autisme
5. Mahasiswa mampu mengetahui karakteristik autisme
6. Mahasiswa mampu mengetahui perkembangan bahasa pada anak autisme
7. Mahasiswa mampu mengetahui factor risiko autisme
8. Mahasiswa mampu mengetahui klasifikasi berdasarak tipe autisme
9. Mahasiswa mampu mengetahui tahap tumbuh kembang yang normal autisme
10. Mahasiswa mampu mengetahui terapi berbicara pada anak autisme
11. Mahasiswa mampu mengetahui terapi dan tujuan terapi pada anak autisme
12. Mahasiswa mampu mengetahui terapi askep pada anak autisme

JAWAB LO
1. Definisi (Safitri)
Autis merupakan gangguan pada anak ditandai adanya gangguan dan keterlambatan
dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi social. Autisme
merupakan kelainan genetik yang polimorfis. Adapun beberapa gangguannya adalah
dalam bidang bicara, bahasa, komunikasi, interaksi sosial, sensoris, pola bermain,
perilaku, serta emosi. Sedangkan menurut autis adalah suatu gangguan perkembangan
secara menyeluruh yang mengakibatkan hambatan dalam kemampuan sosialisasi,
komunikasi dan juga prilaku. Autis meliputi gangguan pada aspek perilaku, interaksi
sosial, komunikasi dan bahasa serta gangguan emosi dan persepsi sensori bahkan
pada aspek motoriknya. Autis merupakan defisit kognitif yang muncul saat masa
anak-anak. Gangguan perkembangan ditandai oleh fungsi sosial adaptif.
Sumber : Riset Informasi Kesehatan, Vol. 6 No.1 Juni 2017. Terapi bermain
berpengaruh terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis

Definisi ( Tiara Amelia )


Autisme adalah suatu label diagnostik yang sangat membingungkan. Istilah ini
digunakan baik untuk suatu sindrom yang spesifik dari suatu perkembangan yang
abnormal maupun untuk kelainan-kelainan sejenis yang lebih luas cakupannya.
Karena kausanya belum diketahui secara pasti, kelainan ini didefinisikan atas dasar
suatu kumpulan gejala perilaku yang untuk masing - masing penderita tidak sama.
Melalui penelitian - penelitian yang intensif, kini pengertian mengenai autime
menjadi lebih jelas.
Istilah “autisme” pertama kali diperkenalkan pada tahun 1943 oleh Leo Kanner,
seorang psikiater dari John Hopkins University yang menangani sekelompok anak-
anak yang mengalami kelainan sosial yang berat, hambatan komunikasi dan masalah
perilaku. Anak-anak ini menunjukkan sifat menarik diri (withdrawal), membisu,
dengan aktivitas repetitif dan stereotipik serta senantiasa memalingkan pandangannya
dari orang lain. Pada tahun 1971, kelainan autistik dibedakan dari schizophrenia.
Individu dengan autisme dianggap mempunyai salah satu dari sekelompok kelainan
perkembangan fungsi otak yang mengakibatkan berbagai macam kelainan perilaku
yang secara kolektif digolongkan pada pervasive developmental disorder (PPD) di
dalam diagnostic and statistical manual of mental disorders (DSM-IV).
( Sumber : Suharko Kasran , Autisme : konsep yang sedang berkembang. Januari-
April 2003, Vol.22 No.1)
Definisi (yuti sartika)
Autisme adalah kumpulan kondisi kelainan perkembangan yang ditandai dengan
kesulitan berinteraksi sosial, masalah komunikasi verbal dan nonverbal, disertai
dengan pengulangan tingkah laku dan ketertarikan yang dangkal dan obsesif. Autisme
merupakan suatu gangguan spektrum, artinya gejala yang tampak bisa sangat
bervariasi. Tidak ada dua anak yang memiliki diagnosis yang sama yang
menunjukkan pola dan variasi perilaku yang sama persis. Autisme sesungguhnya
adalah sekumpulan gejala klinis atau sindrom yang dilatarbelakangi oleh berbagai
faktor yang sangat bervariasi dan berkaitan satu sama lain dan unik karena tidak sama
untuk masing-masing kasus.
Sumber : Made Ovy Riandewi Griadhi, Jurnal DIAGNOSIS
PENATALAKSANAAN AUTISME.

2. Penyebab ( Tiara Amelia )


Penyebab Anak Autisme
Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan
penting pada terjadinya autistik. Bayi kembar satu telur akan mengalami gangguan
autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukan beberapa anak dalam
satu keluarga atau dalam satu keluarga besar mengalami gangguan yang sama. Selain
itu pengaruh virus seperti rubella, toxo, herpes, jamur, nutrisi yang buruk;
pendarahan; keracunan makanan; dan sebagainya pada kehamilan dapat menghambat
pertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan funsi otak dalam makanan yang akan
dikonsumsi oleh anak normal dibandingkan dengan anak penderita autis. Dalam
kedua darah anak tersebut dianalisa kandungan cytokine-nya, ternyata kandungan
cytokine dalam darah penderita autistic meningkat jauh lebih tinggi daripada darah
anak normal. Peningkatan cytokine tersebut dapat menjadi penyebab secara genetik
yang kelak akan menyebabkan timbulnya penyakit autisme.

( Sumber : Kholfan Zubair Taqo Sidqi, program bimbingan baca tulis al qur’an
Bagi anak berkebutuhan khusus (autis) Di sd al azzam ketileng semarang.Vol.3,
No.1, Januari – Juni 2018)
Etiologi (yuti sartika)
Penyebab autisme adalah multifaktorial. Faktor genetik maupun lingkungan diduga
mempunyai peranan yang signifikan. Sebuah studi mengemukakan bahwa apabila 1
keluarga memiliki 1 anak autis maka risiko untuk memiliki anak kedua dengan
kelainan yang sama mencapai 5%, risiko yang lebih besar dibandingkan dengan
populasi umum. Di lain pihak, lingkungan diduga pula berpengaruh karena ditemukan
pada orang tua maupun anggota keluarga lain dari penderita autistik menunjukkan
kerusakan ringan dalam kemampuan sosial dan komunikasi atau mempunyai
kebiasaan yang repetitif. Akan tetapi penyebab secara pasti belum dapat dibuktikan
secara empiris.
Sumber : Made Ovy Riandewi Griadhi, Jurnal DIAGNOSIS
PENATALAKSANAAN AUTISME.

3. Patofisiologi (yuti sartika)


Saat ini telah diketahui bahwa autisme merupakan suatu gangguan perkembangan,
yaitu suatu gangguan terhadap cara otak berkembang. Akibat perkembangan otak
yang salah maka jaringan otak tidak mampu mengatur pengamatan dan gerakan,
belajar dan merasakan serta fungsi-fungsi vital dalam tubuh. Penelitian post-mortem
menunjukkan adanya abnormalitas di daerah-daerah yang berbeda pada otak anak-
anak dan orang dewasa penyandang autisme yang berbeda-beda pula. Pada beberapa
bagian dijumpai adanya abnormalitas berupa substansia grisea yang walaupun
volumenya sama seperti anak normal tetapi mengandung lebih sedikit neuron. Kimia
otak yang paling jelas dijumpai abnormal kadarnya pada anak dengan autis adalah
serotonin 5-hydroxytryptamine (5-HT), yaitu sebagai neurotransmiter yang bekerja
sebagai pengantar sinyal di sel-sel saraf. Anak-anak penyandang autisme dijumpai
30-50% mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah. Perkembangan norepinefrine
(NE), dopamin (DA), dan 5-HT juga mengalami gangguan.
Sumber : Made Ovy Riandewi Griadhi, Jurnal DIAGNOSIS
PENATALAKSANAAN AUTISME.
4. Penatalaksanaan ( Tiara Amelia )
Penatalaksanaan visual support dilakukan selama 120 menit dalam 3 bulan (12 kali)
dengan frekuensi pemberian 1 kali dalam 1 minggu. Penatalaksanaan ini terdiri dari 6
kegiatan, masing masing kegiatan dilakukan selama 20 menit dengan teknik one –
one (1 subyek dengan 1 terapis). Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah berbaris
dan circle time, berkelompok, bermain, motorik, individu, waktu makan bersama, dan
penyerahan. Visual support bertujuan mengajarkan anak dengan GSA, bagaimana
cara berinteraksi dan memahami lingkungan sekitarnya Setiap kegiatan dengan
representasi visual mulai dari benda, aktivitas, belajar dan kegiatan sehari hari dengan
tujuan teknik visual support dapat digeneralisasikan oleh anak dengan GSA saat
berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Hasil penatalaksanaan visual
support berhubungan dengan perbaikan klinis komunikasi, interaksi sosial dan
psikomotor (Fleming, 2016).
( Sumber : Tiwik Koesdiningsih, et al / Jurnal Berkala Epidemiologi, 7 (1) 2019,
77 – 84)

Penatalaksanaan (yuti sartika)


Penatalaksanaan pada autisme harus secara terpadu, meliputi semua disiplin ilmu
yang terkait: tenaga medis (psikiater, dokter anak, neurolog, dokter rehabilitasi
medik) dan non medis (tenaga pendidik, psikolog, ahli terapi bicara/okupasi/fisik,
pekerja sosial). Tujuan terapi pada autis adalah untuk mengurangi masalah perilaku
dan meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya terutama dalam
penguasaan bahasa. Dengan deteksi sedini mungkin dan dilakukan manajemen
multidisiplin yang sesuai yang tepat waktu, diharapkan dapat tercapai hasil yang
optimal dari perkembangan anak dengan autisme.
Sumber : Made Ovy Riandewi Griadhi, Jurnal DIAGNOSIS
PENATALAKSANAAN AUTISME.

5. Karateristik (Safitri)
Berdasarkan tingkat kecerdasan Autis dibagi menjadi yaitu :
1. Autis murni adalah autis yang dengan tingkat keceradasan normal, bahkan diatas
rata rata, mempunyai daya ingat yang sangat kuat, tetapi penderita autis autisme
murni sangan sulit dalam menyelelesaikan soal berhubungan dengan logika,
seperti menyelesaikan soal cerita dalam matematika.
2. Autis Plus adalah autis dengan tingkat kecerdasan dibawah rata rata, biasanya
disertai dengan gangguan mental. Indikator Perilaku Autistik Pada Anak-anak
Menurut ICD (International Classification of Diseases) dari WHO (World Health
Organization), indikator perilaku autistik pada anak-anak (Handojo) adalah
sebagai berikut :
a. Kontak mata sangat kurang
b. Ekspresi muka kurang hidup
c. Gerak-gerik yang kurang tertuju
d. Menolak untuk dipeluk
e. Tidak menengok ketika dipanggil (cuek)
f. Menangis atau tertawa tanpa sebab
g. Tidak tertarik pada mainan
h. Bermain dengan benda yang bukan mainan
i. Tak bisa bermain dengan teman sebaya
j. Tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain
k. Kurangnya hubungan social dan emosional yang timbal balik
l. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tak ada usaha
untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara), menarik
tangan apabila ingin sesuatu, bahasa isyarat tak berkembang
m. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
n. Sering mengunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
o. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru
p. Mempertahankan sesuatu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan
berlebihlebihan
q. Terpaku terhadap suatu kegiatan yang ritualistic atau rutinitas yang tak ada
gunanya, misalnya makanan dicium dahulu
r. Ada gerakan-gerakan yang aneh dan khas/ diulang-ulang
s. Sering sangat terpukau pada bagian-bagian benda
Sumber : Jurnal TICOM Vol.1 No.1. Sistem Identifikasi Penyakit Autis
Anak Berbasis Web.

Karakteristik ( Tiara Amelia )


Banyak bayi-bayi autistik telah menunjukkan beda sejak lahir. Dua
karakteristik yang umum terlihat pada mereka adalah kecenderungannya untuk
melengkungkan punggungya ke belakang menjauhi pengasuhnya atau yang
merawatnya, untuk menghindari kontak fisik. Mereka umumnya digambarkan
sebagai bayi-bayi yang pasif atau kelewat gaduh (overlay agitated). Bayi yang
pasif adalah mereka yang kebanyakan diam sepanjang waktu dan tidak banyak
tuntutan pada orangtuanya. Sedangkan bayi yang gaduh adalah yang hamper
selalu menangis tidak ada hentinya pada waktu terjaga.

Kira-kira separuh dari anak-anak autistik menunjukkan perkembangan


yang normal sampai pada usia 1½–3 tahun; kemudian gejala-gejala autisme mulai
timbul. Individu demikian ini sering disebut sebagai menderita autisme “regresif”.
Dibandingkan teman-teman sebayanya, anak-anak autistik seringkali ketinggalan
dalam hal komunikasi, ketrampilan sosial dan kognisi. Di samping itu, perilaku
disfungsional mulai tampak, seperti misalnya, aktivitas repetitif dan perilaku yang
tidak bertujuan (non-goal directed behavior) (mengayun-ayunkan badan tiada
hentinya, melipatlipat tangan), mencederai diri sendiri, bermasalah dalam makan
dan tidur, tidak peka terhadap rasa sakit. Perilaku mencederai diri sendiri seperti
menggigit diri sendiri dan membenturkan kepala mungkin merupakan bentuk
stereotipi yang berat dan menurut teori yang baru disebabkan oleh peningkatan
endorfin.
Salah satu karakterisitk yang paling umum pada anak-anak autistik adalah
perilaku yang perseverative, kehendak yang kaku untuk melakukan atau berada
dalam keadaan yang sama terus menerus. Apabila seseorang berusaha untuk
mengubah aktivitasnya, meskipun kecil saja, atau bilamana anak-anak ini merasa
terganggu perilaku ritualnya, mereka akan marah sekali (tantrum). Sebagian dari
individu yang autistik ada kalanya dapat mengalami kesulitan dalam masa
transisinya ke pubertas karena perubahan-perubahan hormonal yang terjadi;
masalah gangguan perilaku bisa menjadi lebih sering dan lebih berat pada periode
ini. Namun demikian, masih banyak juga anak-anak autistik yang melewati masa
pubertasnya dengan tenang.

( Sumber : Suharko Kasran , Autisme : konsep yang sedang berkembang.


Januari-April 2003, Vol.22 No.1)