Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN II

PENGUKURAN PH TANAH DARI BEBERAPA JENIS TANAH DENGAN JUMLAH


DAN JENIS PELARUT YANG BERBEDA SERTA
PENENTUAN ASAM HUMAT BEBERAPA JENIS TANAH

OLEH:
AMANDA AWALIA RAMADHANI
1708511050
3B

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
Praktikum T1 Pengukuran pH Tanah dari Beberapa Jenis Tanah dengan Jumlah
dan Jenis Pelarut yang berbeda
Tujuan Untuk mengetahui perbedaan pH dari beberapa jenis tanah menggunakan
jenis dan jumlah pelarut yang berbeda

Metode Elektoda gelas pH meter

Bahan & Alat


a. bahan - Jenis tanah Ultisol, Regosol dan Histosol.
- Jenis pelarut H2O dan larutan KCl 1N (74,5 g KCl dalam 1 l
aquadest), dengan jumlah pelarut 1:1, 1:2,5, dan 1:5
- larutan penyangga (buffer) pH 4 dan pH7.

b.alat
Tabung film, timbangan, gelas ukur, karet, plastic, gelas piala, mesin
pengocok, Elektroda Gelas pH meter, dan tissu
Cara Kerja
Timbang masing-masing jenis tanah sebanyak 10 g (kecuali Histosol 5 g),
dimasukkan ke dalam tabung film kemudian tambahkan pelarut dengan jenis
dan jumlahnya sesuai dengan perlakuan di kocok dengan mesin pengocok
selama 15 menit, diamkan selama 15 menit kemudian ukur pH dengan pH
meter, catat hasilnya, Ukur dengan pH meter yang telah dibakukan dengan
larutan penyangga pH 4 dan pH5.

Formulir Kerja

DATA PENGAMATAN KELOMPOK 3B


pH pH

Jenis Tanah P1 P2 P3
T1 5.23 5.32 5.23
T2 6.62 6.63 6.62
T3 6.83 7.00 6.95
PEMBAHASAN
Praktikum kali ini dilakukan untuk mengetahui pH tanah dari beberapa jenis tanah dengan
jumlah dan jenis pelarut yang berbeda. Tanah yang dijadikan sampel oleh kelompok 3B adalah
tanah yang di ambil di sekitar kampus Kimia FMIPA Udayana, di tiga titik yang berbeda .
Adapun pelarut yang digunakan dalam praktikum adalah aquades : larutan KCl (larutan
KCl yang dibuat adalah 74,5 gram yang dilarutkan dalam 1 L aquades) dengan perbandingan 1:1;
1:2,5; dan 1:5. Volume yang digunakan sebenarnya adalah 5 mL aquades dengan 5 mL KCl, 5 mL
aquades dengan 12,5 mL KCl, dan 5 mL aquades dengan 25 mL KCl. Fungsi penambahan pelarut
ini adalah untuk melarutkan bahan-bahan organik maupun anorganik yang terkandung dalam tanah
sehingga dalam pengukuran pH dapat dengan mudah mengukurnya.

Senyawa KCl jika diberikan pada tanah akan terurai menjadi ionnya, yaitu K + dan Cl- di
mana ion K+ adalah unsur hara makro yang banyak dibutuhkan tanaman sedangkan Cl - adalah
unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit. KCl mampu mengukur aktivitas
H+ yang ada di luar larutan tanah disebabkan karena ion K+ yang berada pada KCl dapat di tukar
dengan ion H+ sedangkan hal tersebut tidak berlaku pada H2O. KCl dalam tanah dapat mengusir
bahan atau larutan yang bermuatan negatif dan KCl tersebut juga dapat digunakana sebagai larutan
yang meningkatkan pH tanah dan aquades juga dapat digunakan sebagai larutan yang menetralkan
tingkat kemasaman pada tanah. KCl ini bersifat garam atau memiliki pH 7 atau netral karena
garamnya berasal dari asam kuat dan basa kuat. Oleh karena itu digunakan pelarut aquades:KCl
karena memiliki pH netral sehingga tidak akan mempengaruhi komposisi bahan yang terkandung
dalam tanah.
Sebelum digunakan pHmeter di kalibrasi dengan larutan buffer. Fungsi kalibrasi adalah
untuk memastikan bahwa alat pH meter benar-benar akurat dan teliti. Hasil yang didapatkan
kelompok 3B pada (T1) mengalami kenaikan Ph yaitu 5,23; 5,32; dan 5,23. Pada (T2) dengan
kenaikan pH 6,62; 6,63; dan 6,62. Sementara pada (T3) diperoleh kenaikan pHnya sebesar 6,63;
7,00; dan 6,95. Berdasarkan hasil tersebut, sampel tanah yang diambil memiliki Ph asam. Tanah
masam adalah tanah yang memiliki nilai pH kurang dari 7, baik berupa tanah kering maupun tanah
basah. Kemasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di tanah tersebut. Bila
kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Pada kondisi
ini kadar kation OH- lebih rendah dari ion H+. Tanah bereaksi masam (pH rendah) adalah tanah
kekurangan Kalsium (CaO) dan Magnesium (MgO) yang disebabkan oleh curah hujan
yang tinggi, pupuk pembentuk asam, drainase yang kurang baik, adanya unsur-unsur yang
berlebihan (Al, Fe, dan Cu), serta proses dekomposisi bahan organik.
pH tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetasi tanaman. Pengukuran dan
pendeteksi pH sangat penting karena dapat membantu mengelola tanah dengan baik sehingga
tanaman dapat tumbuh dengan subur dan sempurna. Jika tanah terlalu masam maka akan
menyebabkan kerusakan pada akar sehingga menurunkan kualitas dan hasil panen. Sedangkan jika
pH tanah terlalu basa akan menyebabkan tingginya kandungan alkali pada tanah sehingga
menghambat laju pertumbuhan tanaman.
pH tanah juga sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan tanaman, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung berupa ion hidrogen sedangkan
pengaruh tidak langsung yaitu tersedianya usur-unsur hara tertentu dan adanya
unsur beracun.Kisaran pH tanah mineral biasanya antara 3,5-10 atau lebih. Sebaliknya untuk tanah
gembur, pH tanah dapat kurangdari 3,0. Alkalis dapat menunjukkan pH lebih dari 3,6. Kebanyakan
tanah toleran pada pH yang ekstrim rendah atau tinggi, asalkan tanah mempunyai persediaan hara
yang cukup bagi pertumbuhan suatu tanaman.

KESIMPULAN
pH tanah diukur dengan pelarut yang konsentrasinya berbeda, yaitu dengan perbandingan
aquades:KCl yaitu 1:1; 1:2,5; dan 1:5. pH tanah. Hasil yang didapatkan untuk kelompok 3B pada
(T1) mengalami kenaikan pH yaitu 5,23; 5,32; dan 5,23. Pada (T2) dengan kenaikan pH 6,62;
6,63; dan 6,62. Sementara pada (T3) diperoleh kenaikan pHnya sebesar 6,63; 7,00; dan 6,95.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa sampel tanah yang diambil memiliki pH
asam.

DAFTAR PUSTAKA
Buckman, H.O dan N.C. Brady. 1969. The Nature and Properties Of Soil. The Macmillan
Company. New York.
Coleman, M.T dan G.W. Thomas. 1976. Basic Chemistry of Soil Activity Agronomy . 12: 1-11.

Hakim, dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah . Universitas Lampung. Lampung.


Hardjowigeno. S. 2007. Ilmu Tanah . PT. Medyatama Sarana Perkasa. Jakarta.
Hanafiah, Ali Kemas. 2010. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja GrafindoPersada. Jakarta.

Pairunan, dkk. 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negara
Bagian Timur. Makasar.
Shi, dkk. 2009. Surfac Modelling of Soil PH. Geoderma 150 : 113-119.

Sutanto. R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta.
Soal dan Jawaban
1. Deskripsikan pengaruh pelarut terhadap nilai pH pada jenis tanah!
Jawab: Pada kelompok 3B, konsentrasi pelarut tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai pH tanah.
Dimana dengan penambahan volume KCl maupun H2O tidak menaikkan maupun menurunkan
nilai pH pada T1, T2 maupun T3 secara signifikan.

2. Jelaskan perbedaan pH masing-masing tanah yang diuji!


Jawab: Pada kelompok 3B, nilai pH (T1), (T2) dan (T3) berturut-turut adalah: 5,23; 5,32; 5,23.
Pada (T2) 6,62; 6,63; 6,62. Sementara pada (T3) adalah 6,63; 7,00; dan 6,95.
Praktikum T2 Penentuan asam humat beberapa jenis tanah
Tujuan Untuk menentukan asam humat tanah dari hutan dan pertanian
organic
kajian Asam humat adalah zat organik makromolekul polielektrolit, diketahui
berkemampuan untuk berinteraksi sangat kuat dengan berbagai logam
membentuk kompleks logam humat, dimana hal ini berpengaruh terhadap sifat
adsorpsi-desorpsi dari logam.Ikatannya dengan ion logam adalah salah satu
peranan yang penting dari fungsi asam humat sebagai adsorben. Menurut Aiken
et al., asam humat merupakan senyawa humat yang tidak larut dalam air pada
kondisi asam tetapi larut pada kondisi pH yang tinggi. Fungsional utama yang
terdapat pada asam humat adalah asam karboksilat, alkohol, fenol, karbonil,
fosfat, sulfat, amida, dan sulfide (Stevenson,1994). Gyula (2012) telah
melakukan penelitian tentang kemampuan asam humat dalam mengikat
kontaminan logam berat Ag dan Pb yang berada pada limbah cair.
Kemampuannya dalam membentuk kompleks dengan timah dan kadmium telah
diteliti juga oleh Yong and Cynthia ( 2006). Saat ini perkembangan berbagai
jenis industri sangat pesat , sehingga akan menambah banyak jenis limbah yang
kalau dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan, salah satu limbah tersebut adalah logam berat. Semua
mahluk hidup akan memerlukan logam berat, akan tetapi, pada jumlah berlebih,
keberadaan logam berat tersebut dapat mengakibatkan dampak yang negatif baik
untuk manusia atau mahluk hidup lainnya. Logam berat dapat mengakibatkan
keracunan apabila terakumulasi dalam tubuh bahkan dapat menyebabkan
kematian apabila kadarnya melebihi ambang batas. Supaya keberadaan logam
tersebut tidak membahayakan maka perlu suatu upaya untuk mengurangi jumlah
logam berat yang ada dalam lingkungan kehidupan kita. Salah satu cara adalah
dengan memanfaatkan asam humat yang dapat diambil dari batubara Adsorpsi
adalah proses yang terjadi ketika gas atau zat terlarut cair terakumulasi pada
permukaan padat atau cair (adsorben), membentuk lapisan film molekul atau
atom (adsorbat) (Uhrikova, 2007). Interaksi ini terjadi karena adanya gaya tarik
atom molekul pada permukaan zat padat dan membentuk lapisan tipis yang
menutupi lapisan tersebut. Penelitian ini merupakan alternatif dalam mengurangi
limbah logam Pb, Cu dan Fe dengan memanfaatkan asam humat hasil isolasi dari
batubara

Bahan Bahan Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah dari hutan
dan pertanian organic .Bahan ini merupakan sumber asam humat.
Cara Kerja a. Isolasi Asam Humat ;
Sebanyak 100 gram batubara diekstraksi dengan 1.000 mL larutan natrium
karbonat 0,1 N selama 24 jam. Setelah ekstraksi, supernatan didiamkan sampai
terbentuk dua lapisan kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh diasamkan
dengan asam sulfat 6 M hingga terbentuk endapan . Endapan selanjutnya
dilarutkan kembali dengan larutan natrium karbonat 0,1 N. Endapan ini adalah
asam humat yang tidak murni.
Pemurnian asam humat dilakukan dengan cara melarutkan kembali ke dalam
larutan natrium karbonat 0,1 N dan diendapkan dengan asam sulfat 6 M sampai
terbentuk endapan. Padatan yang diperoleh kemudian dicuci dengan asam sulfat
0,1 M diikuti dengan akuades, etanol dan akuades kembali. Asam humat
dikeringkan dalam oven pada suhu 50ºC.
b. Karakterisasi Asam Humat
1. Penentuan Kadar Air Asam humat : sebanyak 25 mg dimasukkan ke dalam
kui yang sebelumnya telah ditimbang. Kemudian dipanaskan pada suhu 105ºC
selama 24 jam. Setelah didinginkan dalam desikator berat kui ditimbang
kembali.
2. Penentuan Kadar Abu Asam humat sebanyak 25 mg dimasukkan ke dalam kui
yang sebelumnya telah ditimbang. Kemudian dipanaskan pada suhu 500ºC
selama 4 jam. Setelah didinginkan dalam desikator berat kui ditimbang kembali.

Formulir Kerja

DATA PENGAMATAN KELOMPOK 3B


AsH Pengukuran

Jenis Tanah Asam Humat Kadar Abu


T1 0 0
T2 0 0
T3 0 0

Formula
(A – B) x 1000
Mg AsH per liter = ----------------------------------
Berat contoh uji, mg
A-B
% kadar Abu = ----------------------- x 1oo%
Berat Sampel
PEMBAHASAN
Praktikum kali ini mengenai penentuan asam humat dari tanah. Tanah yang digunakan
sebagai sampel oleh kelompok 3B adalah tanah berkapur yang tergolong ke dalam jenis tanah
organosol. Organosol adalah tanah yang berada di daerah-daerah dengan tingkat kekeringan yang
ekstrem (sangat kering), bahkan sekalipun untuk pertumbuhan vegetasi-vegetasi mesopit (seperti
rumput). Sehubungan dengan lingkungannya yang kering, aridisols termasuk sangat sulit
dimanfaatkan sebagai lahan untuk bercocok tanam, terutama apabila sumber air untuk irigasi tidak
tersedia (air tanah atau air sungai) (Indranada, 1994).

Berdasarkan literatur tersebut, maka tanah berkapur tergolong ke dalam jenis aridisols
karena memiliki tingkat kekeringan yang tinggi. saat dilakukan sampling terhadap tanah ini, tidak
ada rumput atau tumbuhan lain yang tumbuh, karena tanah berkapur ini kurang cocok untuk
dijadikan lahan bercocok tanam/ pertanian karena di dalamnya sangat sedikit, bahkan tidak
terkandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga tanaman sulit untuk tumbuh (Buckman,
1982). Tanah ini disebut juga dengan tanah mediteran, yang artinya terbentuk dari bebatuan kapur
yang sudah lapuk.
Mula-mula tanah kapur diekstrak dengan natrium karbonat. Tujuan pengekstrakan ini
adalah untuk membuat cairan lebih kental/ konsentrasinya lebih tinggi dan untuk menghilangkan
kadar airnya. Tanah berkapur yang banyak mengandung CaCO3 ini jika direaksikan dengan
Na2CO3 maka tidak akan ada pertukaran ion atau tidak ada reaksi yang berlangsung. Cairan
tersebut disaring sampai mendapatkan filtrat yang kemudian diasamkan dengan aam sulfat sampai
terbentuk endapan, namum pada praktikum ini tidak terbentuk endapan.
Karena tidak ada endapan yang terbentuk pada praktikum ini, maka diperkirakan
kandungan asam humat dalam tanah berkapur ini adalah 0%. Hal ini terjadi karena kegagalan saat
praktikum. Kesalahan pada praktikum ini adalah kesalahan pemilihan zat pengendap karena tidak
semua jenis tanah dapat mengendap dengan asam sulfat, maka perlu dilakukan penggantian zat
pengendap yang disesuaikan dengan jenis tanah yang di uji, sehingga dapat mengendapkan asam
humat dalam tanah. Selain itu, tanah kapur ini memiliki pH yang basa (>7) sehingga dimungkinkan
tidak adanya atau hanya sedikit sekali kandungan asam humat di dalamnya. Dikarenakan asam
humat pada sampel tanah semua kelompok bernilai 0%, maka kadar abu dalam sampel tanah
semua kelompok tidak dapa ditentukan sehingga berkadar 0%.

KESIMPULAN
Kadar asam humat dalam sampel tanah kapur adalah 0%, dikarenakan memang sifat tanah kapur
ini adalah basa (pH > 7) sehingga dimungkinkan sedikit sekali kandungan asam humat dalam
sampel tanah tersebut. Selain itu, seharusnya praktikan perlu mengetahui sifat dan karakteristik
sampe tanah masing-masing, dikarenakan tidak semua tanah dapat mengendap dengan asam sulfat,
maka perlu penggantian zat pengendap untuk mengendapkan asam humat sesuai dengan jenis
tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Buckman N. C dan Brady C. B. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Foth. H. D. 1982. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjahmada University Press, Yogyakarta.


Hardjowigeno. S. 1992. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta.
Pairunan,A. K. J. L.Nanere,Arifin.Solo,S.R.Samosir,Romadulus.Teingkaisari,J.R.

Indranada K. Henry. 1994. Pengelolaan Kesuburan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta.


Kuswandi. 1993. Pengapuran Tanah Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Poerwowidodo. 1991. Genesa tanah, Proses Genesa, dan Morfologi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Tan H. Kim. 1998. Dasar-dasar Kimia Tanah. Universitas Gadjah mada. Yogyakarta.

SOAL DAN JAWABAN


1. Deskripsikan pengaruh jenis tanah terhadap kandungan asam humat!
Jawaban:
Kadar asam humat dalam sampel tanah kapur adalah 0%, dikarenakan memang sifat
tanah kapur ini adalah basa (pH > 7) sehingga dimungkinkan sedikit sekali kandungan
asam humat dalam sampel tanah tersebut. Selain itu, seharusnya praktikan perlu
mengetahui sifat dan karakteristik sampe tanah masing-masing, dikarenakan tidak semua
tanah dapat mengendap dengan asam sulfat, maka perlu penggantian zat pengendap untuk
mengendapkan asam humat sesuai dengan jenis tanah.
2. Deskripsikan pengaruh jenis tanah terhadap kandungan kadar abu!
Jawaban:
Dikarenakan kadar asam humat dari semua kelompok adalah 0%, maka kadar abu dalam
sampel tanah tidak dapat ditentukan atau kadar abu dalam sampel tanah adalah 0%.