Anda di halaman 1dari 38

DIKTAT

TEOLOGI – PB I
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI REAL

Pdt. TIMOTIUS. M. TOGATOROP, MA.M.Th

Batam 2019

1
SILABUS
Silabus Teologi Perjanjian Baru – I oleh : Pdt. Timotius MT Togarop MA.M.Th

KELOMPOK :
MATA KULIAH KEILMUAN DAN KETRAMPILAN

NOMOR : 20
NAMA MATA KULIAH : TEOLOGI PERJANJIAN BARU I
KODE :
BOBOT : 2 sks
SEMESTER : V (lima)
PRASYARAT : 1. TAFSIR PB 1
BANYAKNYA
PERTEMUAN/ WAKTU : 14 X (2 X 50 MENIT)
TIAP PERTEMUAN

STANDAR KOMPETENSI
Mahasiswa memiliki pengetahuan yang mendasar tentang konsep- konsep teologia
Perjanjian Baru, myakini pentingnya, serta menerapkan prinsip- prinsipnya dalam
kehidupan pribadi dan pelayanan.

KOMPETENSI DASAR
1. Mampu menjelaskan Pengertian Teologi PB
2. Mampu menguraikan Hubungan Teologi PB dengan disiplin ilmu teologi lain.
3. Mampu merinci Tugas Teologi PB
4. Mampu menguraikan Pengharapan Mesianis Yahudi

2
5. Mampu mendeskripsikan Pengharapan Mesianis dalam PB
6. Mampu menguraikan Konsep kerajaan Allah dalam PB
7. Mempu mengkritisi konsep Kristologi dalam PB
8. Mampu berefleksi tentang konsep-konsep teologis dalam PB
9. Mampu mengaplikasikan konsep-konsep teologis PB dalam kehidupan dan pelayanannya

URUTAN DAN RINCIAN MATERI


1. Pengertian Teologi PB
2. Allah sebagai Pencipta, Bapa dan Raja
3. Sifat – sifat Allah dalam Teologi PB
4. Konsep Allah Tritunggal
5. Doktrin Manusia dalam Teologi PB
6. Dosa Manusia
7. Kristologi dalam Teologi PB

INDIKATOR HASIL BELAJAR


1. Menjelaskan Pengertian Teologi PB
2. Menguraikan Hubungan Teologi PB dengan disiplin ilmu teologi lain.
3. Merinci tentang ALLah dalam Teologi PB
4. Menguraikan Doktrin Manusia dalam PB
5. Mendeskripsikan Pengharapan Mesianis dalam PB
6. Menguraikan Konsep Tritunggal dalam PB
7. Mengkritisi konsep Kristologi dalam PB
8. Berefleksi terhadap konsep-konsep teologis dalam PB
9. Mengaplikasikan konsep-konsep teologis PB dalam kehidupan dan pelayanannya

STANDAR PROSES PEMBELAJARAN

3
PENDEKATAN : Kontekstual dan partisipatoris

PENGALAMAN : 1. Mahasiswa mendengar kuliah dari dosen


BELAJAR 2. Mahasiswa berdiskusi
3. Mahasiswa melakukan studi kepustakaan
4. Mahasiswa melakukan pengamatan
5. Mahasiswa menulis paper
6. Mahasiswa berpresentasi

METODA : Ceramah diskusi, pengamatan

TUGAS : 1. Resensi buku,


2. Menulis paper
3. Menyiapkan Presentasi

STANDAR PENILAIAN : 1. Kehadiran dan Partisipasi kelas : 10 %.


2. Resensi buku : 15 %
3. Paper dan Presentasi : 30%.
4. UTS :
20%
5. UAS : 25
%

TEKNIK : TERTULIS

4
BENTUK SOAL : Essei, pilihan, Proyek khusus

MEDIA : Laptop, LCD Proyektor, VCD , Papan Tulis / White


board,

SUMBER BELAJAR
1. Keluarga
2. Media elektronik (internet)
3. Narasumber,
4. Lingkungan alam,
5. Lingkungan sosial,
6. Teman di kampus
7. Teman di masyarakat setempat
8. Komunitas gereja
9. Literatur:
1. Baker, David L., Satu Alkitab Dua Perjanjian, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
2. Dunn, James D.G., New Testament Theology in Diaologul Christologi and Ministry,
Wesminster, Philadelphia, 1987.
3. Hasel, Gerhard, NT Tehology, Basic Issues in the Carrent Debate, Gerdmans, Grand
Rapids, 1990.
4. Marshall., Jesus The Saviour: Stadies in the New Testament Theology, inter Varsity,
Dounersgrove, 1990 .
5. Morris, Leon., Theologi PB, Malang: Gandum Mas, 1996.
6. Guthrie, Donald., Theologi PB 1-3, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999.
7. Ladd, George Eldon., Theologi PB 1, Bandung : Kalam Hidup, 1999.
8. A.M. Hunter, Memperkenalkan Theologi PB, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.

5
PENDAHULUAN

Sebagai Orang Kristen sangat perlu untuk memahami tentang Allah, dan hal itu dapat
kita mengerti atau pahami apabila kita mau belajar tentang Allah itu sendiri lewat Ilmu Teologi.
Manusia cenderung memiliki sifat yang tidak pernah puas akan sesuatu, sehingga dia terus
mencari dan mencari sampai dia mendapatkan atau menemukan apa yang ada dalam hatinya.
Seorang Kristen apabila tidak kuat dalam konsep teologi tentang Allah, maka dia akan dengan
mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan dan nabi-nabi palsu (Efesus 4:14). jadi
perlu untuk menelaah Alkitab untuk kita dapat lebih memahami tentang Allah dan karya-Nya
bagi manusia di muka bumi ini.

Jadi untuk menelaah teologi PB kita perlu memperhatikan hal-hal yang dapat
mempengaruhinya. Perjanjian Baru perlu kita pahami pada waktu penulisannya dilakukan oleh
para murid-murid dan rasul-rasul sedang ditengah-tengah suasana yang dipengaruhi oleh
berbagai aliran keagamaan. Jadi benar maka kita juga perlu memperhatikan dengan benar-benar
pengaruh aliran-aliran tersebut agar kita sebagai orang Kristen atau umat percaya dapat
memahami ajaran dalam Perjanjian Baru .

Dalam pemahaman tertentu konsep-konsep Kristen perlu dihubungkan dengan gagasan-


gagasan yang dipegang pada masa itu. karena konsep-konsep tersebut bukan berkembang secara
terpisah sama sekali tanpa dipengaruhi situasi di sekitarnya. Namun perlu juga berhati-hati dalam
hal penekanan yang berlebihan pada sumber latar belakang itu, karena hal itu bisa menyebabkan
timbulnya banyak masalah dalam hal penafsiran Perjanjian Baru. Pendekatan yang dipakai dalam
pembahasan teologi Perjanjian Baru adalah pendekatan yang lebih menitik beratkan pada teks
Perjanjian Baru itu sendiri.

6
TEOLOGI PERJANJIAN BARU I

(ALLAH, MANUSIA, KRISTUS)

TEOLOGI PROPER: DOKTRIN ALLAH

HAKEKAT TEOLOGIA

Istilah “teologia” memang tidak mudah untuk mendefinisikannya. Sekalipun jelas bahwa
teologia merupakan kombinasi dari dua kata Yunani “theos” (Allah) dan “Logos” (kata,
pemikiran, uraian , ilmu). Namun istilah tersebut sudah dipergunakan secara luas. Kadang-
kadang kata ini dimengerti sebagai istilah yang menggambarkan lingkup seluruh studi, penelitian
dalam pendidikan atau sekolah teologia.

Apabila dimengerti secara lebih sempit, maka “teologia” menunjukkan pada usaha untuk
meneliti Iman Kristen dari aspek doktrinnya. Jadi, teologia adalah suatu pembicaraan secara
rasional tentang Allah dan pekerjaan-Nya.

Apakah arti Teologi Alkitab Perjanjian Baru itu ?

Teologi Alkitab Perjanjian Baru adalah bagian dari Teologi alkitabiah, yang didefinisikan
sebagai wahyu progresif dari Allah melalui orang-orang dan periode-periode tertentu.
Teologi alkitabiah berbeda dengan Teologi Sistematika karena Teologi alkitabiah menggumuli
kebenaran dari sudut pandang (perspektif) individu penulis Alkitab, sedangkan Teologi
Sistematika berfokus pada sistematisasi kebenaran yang didasarkan atas wahyu Allah yang
lengkap.

Teologi Alkitabiah mencari tahu tentang “kebenaran dari persfektif individu para penulis
kitab dan periode-periodenya”. Sehingga sifatnya lebih historis, didasarkan pada sejarah.

7
Sedangkan Teologi Sistematika pada intinya bersifat Filosofis, oleh sebab itu yang selalu
ditanyakan, adalah “Apakah kebenaran itu ?”.

Ada tiga macam sumber yang menjadi sasaran penelitian latar belakang, yaitu PL,
tulisan-tulisan Yahudi Palestina dan tulisan-tulisan Helenistik. Bobot nisbi masing-masing
sumber tersebut akan dibahas di bawah ini.
Penyelidikan tulisan PB secara sepintas memperlihatkan adanya kaitan yang erat antara
PL dan PB. PB tidak mungkin dimengerti dengan benar apabila PL dibuang. Banyaknya kutipan
PL dalam PB menunjukkan betapa besar arti kesinambungan yang menghubungkan zaman
Kristen dengan zaman PL.

I. ALLAH SEBAGAI PENCIPTA, BAPA DAN RAJA

Perjanjian Baru tidak berusaha untuk membuktikan keberadaan Allah. “Bukti-bukti


teistik” berasal dari masa dan kemudian, yaitu pada masa di tulisnya apologetika dan disusunnya
teologi sistematik. Teologi PB di mulai dengan beberapa keyakinan yang besar, yakni bahwa
Allah ada, bahwa Dia menciptakan manusia dan terus menerus menaruh perhatian pada manusia.
Memang keseluruhan struktur pemikiran orang Kristen purba menerima keyakinan-keyakinan ini
sebagaimana adanya.

1. Allah sebagai Pencipta


Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Kristen meyakini tanpa memperdebatkan bahwa Allah
adalah pribadi yang memulai alam semesta ini. Meraka mengambil alih keyakinan ini dari PL
dan juga dari pengajaran Yesus. Pernyataan yang peling jelas dari pernyataan Yesus di catat
dalam kitab-kitab injil sinoptik mengenai tema ini terdapat dalam Markus 13:19 (“sejak awal
dunia, yang di ciptakan Allah”).

8
2. Allah sebagai Bapa
Ajaran tentang kebapaan Allah adalah ajaran yang paling khas dalam PB dan khususnya dalam
ajaran Yesus. Pada masa itu, orang-orang penyembahan berhala beribadah kepada dewa-
dewanya dalam suasana ketakutan, tetapi pandangan Kristen tentang kebapaan Allah
memberikan unsure kemesraan kedalam hubungan manusia dengan Allah yang tidak ada
bandingannya dalam dunia kafir.
3. Allah sebagai Raja dan Hakim

Di dalam keseluruhan PB ditemukan keyakinan bahwa Allah adalah Raja. Konsep ini khususnya
terpusat dalam ungkapan “Kerajaan Allah” atau “Kerajaan surge” pengertian konsep ini secara
utuh akan dibahas dalam bagian mengenai misi Kristus, tetapi jelas bahwa konsep kerajaan itu
menunjukkan adanya seorang Raja yang memerintah rakyatnya.

DEFINISI TEOLOGI PROPER

Kata teologi berasal dari kata Yunani theos, berarti “Allah”, dan “Logos”, berarti Kata atau
percakapan. Oleh karena itu teologi adalah suatu percakapan tentang Allah. Teologi pada
umumnya dim engerti sebagai istilah yang memiliki arti yang luas yaitu meliputi keseluruhan
aspek kepercayaan Kristiani (studi tentang Kristus, Roh Kudus, Malaikat, dan lain-lain). Oleh
karena itu, istilah yang dipakai untuk studi tentang Allah Bapa adalah Teologi Proper.

A. SIFAT-SIFAT ALLAH

1. Kemuliaan Allah
Dalam PB sering dikemukakan pengungkapan-pengungkapan yang berkenan dengan kemuliaan
Allah dan terasa di belakang pengungkapan-pengungkapan itu terdapat latar belakang PL yang
kuat. Kata Ibrani untuk “kemuliaan” (kavod) mula-mula digunakan untuk hal-hal yang

9
mempunyai arti kemegahan, kehormatan, atau sifat yang menonjol, tetapi segera memperoleh
arti yang khusus pada waktu diterapkan pada Allah.

2. Hikmat dan pengetahuan Allah


Penulis-penulis Yahudi sering berbicara tentang hikmat, tetapi tidak membicarakannya sebagai
sifat Allah melainkan sebagai sesuatu yang berasal dari Allah. Hikmat itu dilukiskan sebagai
kecemerlangan terang Allah yang kekal.

3. Kekudusan Allah
Sifat Allah yang paling khas dalam PL ialah kekudusanNya. Walaupun bangsa-bangsa, benda-
benda dan tempat-tempat di sebut kudus, tetapi ini hanyalah arti “dikhususkan bagi Allah”,
sebenarnya hanya Allahlah yang kudus.

4. Kebenaran dan keadilan Allah


Konsep yang terakhir ini mengandung gagasan bahwa Allah tidak memihak-mihak, tidak
membeda-bedakan. Sulit bagi orang-orang Yahudi untuk menerima gagasan ini, karena mereka
yakin bahwa Israel adalah bangsa yang dikasihi Tuhan, sehingga mereka merasa bahwa mereka
lebih ungggul dari pada bangsa-bangsa bukan Israel dalam pandangan Allah.

5. Kasih dan anugerah Allah


Keyakinan bahwa Allah adalah Allah yang pengasih merupakan keyakinan yang mendasari
semua bagian PB. Keyakinan ini mempunyai dasar yang kuat dalam PL dan dalam tulisan-tulisan
Yahudi, tetapi dalam PB hal ini diperjelas dan mempunyai peranan yang lebih menonjol.

WAHYU TENTANG ALLAH

10
WAHYU UMUM

Wahyu (Yunani: apokalupsis) berarti “menyingkapkan” atau “ membuka”. Jadi wahyu


merupakan penyingkapan Allah kepada manusia, dimana Ia menyatakan kebenaran tentang diri-
Nya sehingga tanpa jalan itu manusia tidak akan mengetahuinya.

Wahyu Umum, yang merupakan pendahuluan keselamatan, menyatakan aspek-aspek


tentang Allah dan natur-Nya kepada seluruh umat manusia sehingga umat manusia memiliki
kesadaran akan keberadaan Allah. Mazmur 19:1-7 adalah bagian yang menekankan wahyu
umum tentang Allah dalam alam semesta. Langit menceritakan kemuliaan Allah, karena tidak
ada seorangpun terpisah dari Allah yang dapat menjadikan langit yang indah dan begitu luas ini
menjadi ada. Bumi dalam segala keindahannya, harmonisnya, dan intrikasi menyatakan
pekerjaan tangan Allah. Dalam Roma 1:18-21 menekankan Wahyu Umum tentang Allah dan
fakta bahwa manusia bertanggungjawab kepada Allah.

Allah juga menyatakan diri-Nya kepada semua umat manusia melalui pemeliharaan-Nya
dan pengontrolan-Nya (Mat. 4:5; Kis. 14:15-17), sehingga umat manusia harus menanggapi
kemurahan Allah. Allah juga telah menyatakan diri-Nya kepada semua umat manusia melalui
hati nurani, semua manusia di dalam dirinya memiliki pengetahuan tentang pribadi Allah dan
siapa Allah itu (Roma 2:14-15).

WAHYU KHUSUS

Wahyu khusus lebih sempit dari wahyu umum. Apabila semua manusia penerima wahyu
umum, maka tidak semua umat manusia adalah penerima wahyu khusus. Contoh wahyu khusus.
Allah menyatakan diri-Nya melalui mimpi dan dalam visi kepada orang-orang tertentu. Ia
berbicara secara langsung kepada beberapa orang dan melalui theofani kepada orang lain. Suatu
theofani adalah manifestasi Allah yang dapat dilihat, biasanya yang dimaksudkan adalah apa
yang terjadi di dalam PL. Penekanan lebih besar dari wahyu khusus ada dua, yaitu Wahyu
melalui kitab suci dan Melalui Yesus Kristus. Penulis Alkitab dipimpin oleh Roh Kudus untuk
menulis kitab suci, sehingga dapat menjamin keakuratannya. Catatan pengungkapan tentang

11
Allah yang tanpa salah diperlukan oleh manusia untuk memiliki pengertian yang benar tentang
pribadi dan karya Allah.

Catatan yang tanpa salah ini juga menyatakan tentang Yesus Kristus, aspek lain dari
wahyu khusus. Kristus telah menyatakan Bapa kepada umat manusia. Melalui perkataan-Nya
(pengajaran), dan pekerjaan-Nya (Muzizat) Kristus telah menjelaskan tentang Bapa kepada umat
manusia. Penekanan yang utama dalam Injil Yohanes adalah Yesus data ng untuk menyatakan
Bapa, (Yohanes 1:18).

NAMA – NAMA ALLAH

1. Elohim

Elohim adalah bentuk zamak ibrani yang digunakan kurang 2000 kali di dalam PL dan
diartikan sebagai suatu “kejamakan dari kemuliaan” dari nama umum untuk Allah. Nama itu
berasal dari singkatan, El, yang kemungkinan besar memiliki akar kata yang berarti “menjadi
Kuat” (Kej.17:1; 28:3; Yos.3:10), atau “menjadi yang utama”. Elohim menekankan tentang
ketransendenan Allah, Ia melampaui semua yang dipanggil Allah. Dalam kitab Yesaya 31:3, El
menarik garis perbedaan antara Allah dengan manusia sehingga El menunjuk pada “kuasa dan
kekuatan Allah dan ketidakberdayaan musuh manusia” (Hosea 11:9). Untuk memperbesar arti
Elohim, sehingga Elohim itu juga dapat diartika Allah adalah yang Mahakuasa.

2. Adonai

Kata Adonai (Ibrani Adhon atau Adhonay) akar katanya berarti “tuhan” atau “tuan” dan
biasanya diterjemahkan “Lord” dalam Alkitab bahasa Inggris. Kata Adonai muncul 449 kali di
PL dan 315 kali dalam kaitan dengan Yahwe. Adhon menekankan hubungan pelayan dengan
tuan (bdn Kej. 24:9) dan jadi mengusulkan otoritas Allah sebagai Tuan. Ia yang berdaulat dalam
pemerintahan-Nya dan memiliki otoritas yang mutlak (Mazmur 8:2; Hosea 12:14). Adonai

12
kemungkinan besar harus dimengerti dalam arti “Tuan atas segala sesuatu” atau “Tuhan atas
segala tuhan” (Ul. 10:17; Yos.3:11). Adonai dapat juga diartikan sebagai kata ganti kepemilikan
yang berarti “Tuhanku”.

3. YAHWEH

Nama Yahweh menerjemahkan kata Ibrani tetragammaton (dari kata empat huruf
(YHMH). Alkitab versi American standar menerjemahkannya “Jehovah”, dimana kebanyakan
terjemahan modern menunjuk kepada “Tuhan”. Sarjana Yahudi biasanya mengucapkan
“Adonai” bukan mengucapkan secara actual YHWH, dengan alasan menghormati kesakralan
dari Kovenan itu.

Meskipun banyak diskusi yang dipakai tentang asal mula dari nama itu, tetapi kata yang
biasanya dipakai selalu berhubungan dengan kata kerja “yang ada”. Dalam Keluaran 3:14-15,
Tuhan mendeklarasikan “AKU ADALAH AKU……….TUHAN…….telah mengutusku
kepadamh, ini adalah nama-Ku untuk selamanya.” hal ini memiliki signifikasi yang khusus pada
“AKU ADALAH AKU” yang diklaim Yesus Kristus menunjuk kepada diri-Nya sendiri (bnd.
Yoh. 6:35; 8:12; 10:9; 14:16; 15:1). Yang dalam pernyataan-Nya mengklaim kesetaraan dengan
Yahweh.

Dengan nama Yahweh, Allah mengidentifikasikan diri-Nya dalam relasi pribadi-Nya


dengan umat-Nya Israel. Berdasarkan nama itu Abram merespon dan mengakui kovenan
Abraham (Kej.12:8). Dengan nama itu Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir,
membebaskan mereka dari perbudakan, dan menebus mereka (Kel. 6 : 6; 20:2). Nama Elohim
dan Adonai ditujukan untuk diketahui oleh budaya yang lain, sedangkan wahyu tentang Yahweh
unik hanya bagi bangsa Israel.

NAMA-NAMA GABUNGAN ALLAH

Ada beberapa bentuk gabungan dari nama Allah yang berkaitan dengan nama El (atau Elohim)
dan Yahweh, antara lain:

13
El Shaddai : Diterjemahkan “Allah Mahakuasa”, kemungkinan besar nama ini berhubungan
dengan kata gunung dan menunjukkan kuasa atau kekuatan Allah. Dengan nama
ini Allah juga dilihat sebagai pemegang kovenan-Nya (Kej.17:10.

EL Elyon : Diterjemahkan “Allah Mahatinggi”, nama itu menekankan Supremasi dari Allah.
Ia diatas segala yang dinamakan allah (Kej. 14:18-22). Melkisedek mengakui Dia
sebagai “Allah Yang Maha Tinggi” dalam arti Ia adalah pemilik langit dan bumi,
(bnd Kej.14:19).

El Olam : Diterjemahkan “Allah yang Kekal”, nama itu menekankan ketidakberubahan


karakter Allah (Kej. 21:33; Yes. 40:28).

Ada juga nama – nama gabungan yang lain, yang kadang-kadang disebut sebagai nama Allah,
tetapi nama-nama itu sekeder deskripsi tentang Allah: Yahweh – Jireh “Tuhan Yang
Menyediakan” (Kej. 22:14), Yahweh Nissi, “Tuhan Perisaiku” (Kel. 17:15). Yahweh shalom,
“Tuhan Adalah Damai” (Hak. 6:24); Yahweh Sabbaoth, “Tuhan segala Tuan” ( I Sam. 1:3),
Yahweh Maccaddeshcem, “Tuhan Pengudus-Mu”, (Kel. 31:13), Yahweh Tsidkenu, “Tuhan
Kebenaran Kita”, Yer. 23:6), Yahweh Rappa , “Tuhan Yang Menyembuhkan”.

ALLAH TRITUNGGAL

DEFINISI TRITUNGGAL

Allah Tritunggal adalah sebuah doktrin yang Fundamental bagi Iman Kristen,
Kepercayaan atau ketidakpercayaan kepada Tritunggal menandai ortodoksi atau bukan ortodoksi.
Namun demikian Penalaran manusia tidak dapat memahami Tritunggal, demikian pula logika
tidak dapat menjelaskannya.

Bagaimana Rupa Allah………. ?, pertanyaan seperti ini sering muncul dalam benak
manusia. Alkitab memberikan jawaban secara Umum, bahwa Rupa Allah itu adalah “Roh
berpribadi yang hidup”, Allah yang dinyatakan dalam Alkitab sungguh-sungguh hidup dan

14
bertindak (maz. 97:7; 115:3). Ia bukan kuasa atau kekuatan tak berpribadi. Tetapi Allah
berpribadi dan berwatak dengan kodrat khusus. Dia adalah Roh yang melebihi seluruh tatanan
dunia, walaupun tatanan itu bergantung kepada-Nya.

Alkitab berbicara tentang Allah sebagai Tiga oknum yang dapat dibedakan, yang biasa
disebutkan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, namun ketiga oknum ini tetap didalam KeEsaan
Allah. Istilah teknis untuk gagasan Tritunggal tidak terdapat didalam Alkitab, tetapi termasuk
golongan istilah yang bersifat alkitabiah dalam arti mengungkapkan dengan jelas ajaran Alkitab.

PANDANGAN PERJANJIAN LAMA TENTANG TRITUNGGAL

Bagi bangsa Israel, keesaan Allah merupakan suatu ajaran yang tidak dapat ditawar-tawar
atau harga mati. “Dengarlah hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa”, (Ulangan.
6:4). Penekanan pada keesaan Ilahi ini sangat penting, mengingat Politeisme yang memuja
berhala yang ada disekeliling bangsa Israel. Namun Perjanjian Lama juga mengandung isyarat
tentang “kepenuhan” dalam Allah yang merupakan landasan ajaran Perjanjian Baru tentang
Tritunggal.

Seringkali Allah memakai istilah jamak untuk diri-NYa sendiri ( Kej.1:26; 3:22; 11:7;
Yes. 6:8) dan penulis Injil Yohanes memperlakukan perikop Yesaya itu sebagai penglihatan
Yesus (Yoh. 12:41). Ada sebutan mengenai “Malaikat Tuhan” yang disamakan dengan Allah
tetapi berbeda dengan dengan-Nya (kel. 3:2-6; Hak. 13:2-22). Perjanjian Lama juga
menyebutkan Roh Allah sebagai wakil pribadi Allah (Kej.1:2, Neh. 9:20; Mazmur 139:7). Ada
juga disebutkan Hikmat Allah, khususnya dalam Amsal 8, sebagai perwujudan Allah didunia,
dan mengenai Firman Allah sebagai ungkapan yang kreatif (Maz. 33:6-9, bnd Kej. 1:26). Juga
ada nubuat yang menyamakan Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu itu dengan Allah
(Mazmur 2; Yes.9:5-6).

Maka dengan jelas dapat dilihat bahwa dalam Perjanjian Lama tidak mengajarkan
mengenai Tritunggal secara lengkap, tetapi dengan menyajikan keesaan Allah dalam bentuk
jamak, maka prikop-prikop diatas dapat juga mendahului ajaran Perjanjian Baru yang lebih
lengkap dan akurat .

15
PANDANGAN PERJANJIAN BARU TENTANG TRITUNGGAL

Konsep atau ajaran yang tersirat dalam Perjanjian Lama tentang Tritunggal muncul
dalam Perjanjian Baru. Ada beberapa Faktor pengajaran ini muncul dalam Perjanjian Baru,
antara lain:

1. Para Rasul semakin tergerak untuk menyembah Yesus sebagai Tuhan, berdasarkan dampak
pengaruh kehidupan dan pribadi-Nya, tuntutan, muzizat-muzizat yang dilakukan Yesus,
Kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga.

2. Pekerjaan Roh Kudus diantara mereka, menjelaskan kepada mereka bahwa Allah sendiri
selalu hadir bersama mereka, hal itu juga yang dijelaskan kepada mereka sebelum Yesus
naik kesorga (bnd. Mat.28:19), hal ini juga memberikan pemahaman kepada mereka, Allah
adalah Esa, namun dapat dibedakan dalam tiga oknum, yaitu Allah Bapa, Anak dan Roh
Kudus.

Berbagai Prikop dalam Alkitab menyatakan ke Tritunggalan Allah, secara langsung atau
tidak langsung (Mat. 3:13-17; 28:19; Yoh. 14:15-23; Kis.2:23; 2 Kor. 13:14; Ef. 1:1; Ef. 3: 16-
19). Masing-masing Oknum ditegaskan bersifat Ilahi, yaitu:

# Sang Bapa adalah Allah (Mat. 6:8-9; 7:21; Gal.1:1)

# Sang Anak adalah Allah (Yoh.1:1 – 18; Rom. 9:5; Kol. 2:9; Tit. 2:13 -17; Ibr. 1:8-
10).

# Roh Kudus adalah Allah (Mark. 2:28 ; Yoh. 15:26; I Kort. 6:19-20; 2 Kort. 3:17-
20).

Satu cara untuk kita dapat memahami perbedaan antara sang Bapa, Anak dan Roh Kudus
adalah dengan menghubungkan fungsi yang berbeda dengan masing-masing Oknum ketiga

16
tersebut. Bentuk yang paling Populer dikalangan gereja atau Kristen adalah Menghubungkan
Penciptaan dengan Bapa, menghubungkan penyelamatan dengan Anak, dan menghubungkan
Pengudusan dengan Roh Kudus. Namun Rasul Paulus memberikan dalam bentuk yang lain
dalam Efesus 1, dimana Paulus menjelaskan, bahwa Pemilihan dihubungkan dengan Sang Bapa
(EF 1:4,5,11), Penyelamatan dihubungkan dengan Anak (Ef. 1:3,7,8) dan Pemeteraian
dihubungkan dengan Roh Kudus (Ef. 1:13-14).

PENJELASAN TRINITAS

Allah adalah satu berkaitan dengan esensi. Dalam sejarah gereja mula-mula adanya
pertanyan yang berkembang “Apakah Kristus adalah sama dengan Bapa dalam substansi atau
dalam esensi. Arius berpendapat dan mengajarkan bahwa Kristus sama dengan Bapa dalam
substansi, namun Bapa lebih besar dari Kristus; karena itu semua mengajarkan kesetaraan dalam
substansi dan esensi, sebagai cara yang tepat untuk menjelaskan Trinitas sebagai “Satu dalam
esensi”.

Esensi kesatuan Allah dihubungkan dengan Ulangan 6:4 “Dengarlah, hai orang Israel:
Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa” (Ibrani echad, gabungan kesatuan; satu kesatuan).
Pernyataan ini menekankan bukan hanya keunikan dari Allah tetapi juga kesatuan dari Allah
(bdn Yak. 2:19). Hal itu berarti ketiga Pribadi memiliki penyajian terakhir atau atribut dari
atribut ilahi, tetapi Esensi Allah tidak terbagi.

Allah adalah tiga berkaitan dengan Pribadi. Kata pribadi cenderung mengalihkan
pemahaman tentang kesatuan dalam Trinitas. Hal itu menyatakan bahwa pengakuan pribadi-
pribadi adalah suatu istilah yang tidak cukup untuk menjabarkan relasi antara Trinitas. Dengan
mengusulkan Allah adalah tiga dalam kaitan dengan pribadi-Nya hal itu menekankan bahwa:

1. Setiap Pribadi memiliki esensi yang sama dengan Allah


2. Setiap Pribadi memiliki kepenuhan Allah

17
Dalam Allah tidak tidak ada tiga invidu bersama dan terpisah satu sama lain , tetapi
hanya perbedaan pribadi diantara esensi Ilahi, (bnd Yesaya 48:16), Bapa telah mengurapi Mesias
dengan Roh Kudus untuk misi-Nya, (bdn. Yesaya 61:1).

Tiga Pribadi adalah setara dalam otoritas. Meskipun istilah seperti generasi dan prosesi
(Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus). Namun penting untuk menyadari bahwa ketiga Pribadi
adalah setara dalam Otoritas. Bapa diakui sebagai beroritas yang paling tinggi (I Kort. 8:6); Putra
Allah juga diakui setara dengan Bapa dalam segala hal (bdn. Yoh. 5:21-23); demikian juga Roh
Kudus diakui setara dengan Bapa dan Anak (Mat. 12:31).

Tritunggal (Trinitas) berarti ada Tiga Oknum (Pribadi) yang Merupakan Allah:

 Keillahian Allah Bapa ( 1 Tim. 2:5-6, bdn Mat. 19:23-26; 27:46; Mark. 12:17)
 Keillahian Yesus Kristus sebagai Anak (Fil. 2:5-11; Mark. 2:8-10; Yoh. 19:7)
 Roh Kudus adalah Allah (Kis. 5:3-4; I Kort. 3:16-17).

KARYA – KARYA ALLAH

1. SEBAGAI PENCIPTA BUMI

Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Kristen menyakini tanpa memperdebatkan bahwa Allah
adalah Pribadi yang memulai alam semesta ini. Pernyataan yang paling jelas dari Pengajaran
Yesus yang dicatat dalam Injil Sinoptik mengenai Penciptaan dunia ini terdapat dalam Markus
13:19 “sejak awal dunia, yang diciptakan Allah”. Yesus juga mengutip pernyataan dalam PL dan
menerimanya secara penuh bahwa Allah juga yang menjadi manusia laki-laki dan perempuan
(Mrk. 10:6; Mat. 19:4). Dengan jelas diceritakan dalam Alkitab asal mula alam semesta ini
berasal dari Allah sendiri.

Dalam Pelayanan Rasul Paulus kepada orang-orang Athena, Rasul Paulus dengan berani
memberitakan atau menyampaikan bahwa Allah yang ia sembah itu adalah “Allah yang telah
menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan ats langit dan bumi” (Kis. 17:24).
Kuasa penciptaan-Nya juga terlihat dalam pernyataan bahwa manusia adalah keturunan-Nya
(Kis. 17:29).

18
Dalam surat-surat Paulus, secara jelas mengatakan adanya hubungan antara Pencipta dan
mahluk-mahluk ciptaan-Nya (bdn Roma 1:25). Bahwa hasil ciptaan mencerminkan karya
pencipta-Nya (Rom. 1:20). Sesungguhnya ciptaan itu menunjukkan sesuatu tentang sifat Allah
(Kuasa-Nya yang kekal dan Keillahian-Nya). Hal itu terjadi karena ciptaan adalah karya tangan
Allah sendiri. Ada pernyataan –pernyataan husus yang menyatakan bahwa segala sesuatu
diciptakan oleh Allah (Rom. 11:36; I Kort. 8:6; 11:12). Tema-tema yang sama juga tentang
Penciptaan terdapat dalam Wahyu 4:11, yang merupakan puji-pujian kepada Allah, isi puji-
pujian itu dipusatkan kepada karya ciptaan-Nya “Sebab Engkau telah menciptakan segala
sesuatu, dan oleh karena kehendak-MU semuanya itu ada dan diciptakan”(bdn Wah. 10:6).

Kitab Musa menceritakan bagaimana Allah menciptakan Bumi dan segala isinya. “Pada
mulanya Allah menciptakan langit dan Bumi” (Kej. 1:1), ini menunjukkan kepada kita bahwa
Allah menciptkan alam semesta ini bukan dari bahan yang sudah ada, melainkan diciptakan
dengan ex nihilo. sehingga dari metode atau cara Allah menciptakan alam semesta ini, maka
dapat kita simpulkan bahwa alam semesta ini sifatnya tidak kekal.

2. Pemelihara

Perjanjian Baru menjelaskan tentang aktifitas Allah yang terus berlangsung dalam alam
semesta, bahwa pemeliharaan alam semesta didasarkan pada sifat Allah. Dalam ajaran Yesus,
terdapat penekanan khusus mengenai pemeliharaan Allah yang istimewa akan mahluk-mahluk
ciptaan-Nya. Yesus juga menjelaskan bahwa Bapa disorgawi akan memberi makan burung-
burung diudara, tanpa mereka harus menabur benih, memetik atau menyimpan makananya (Mat.
6:26).

Fakta bahwa Yesus menggunakan istilah “Bapa” bagi Allah ketika menyebut
pemeliharaan-Nya, menunjukkan betapa luasnya pandangan-Nya tentang keBapaan. Tidak
mungkin berbicara tentang pemeliharaan Allah tanpa menyebutkan perhatian-Nya sebagai Bapa
bagi ciptaan-Nya. Dalam “Doa Bapa Kami” yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya, ada
juga kata permohonan untuk member makanan (Mat. 6:11; Luk. 11:3), yang didasarkan atas
Iman pada pemeliharaan Allah Bapa.

Dalam surat-surat PB disebutkan dengan jelas tentang pemeliharaan Allah atas segala
ciptaan-Nya, seperti terdapat dalam surat-surat Paulus kepada orang Roma (Rom.1:19).
19
Sekalipun pemeliharaan dirasakan seluruh umat manusia, namun Ia memberikan perhatian secara
khusus kepada mereka yang percaya kepada-Nya, terutama dalam mengaruniakan berkat-berkat
Rohani kepada mereka(bnd Roma 8:28).

Gelar- Gelar Untuk Allah

Perjanjian Baru mengungkapkan berbagai segi mengenai hakikat dan sifat Allah melalui
sejumlah gelar yang berbeda, bukan secara formal, namun penting artinya. Adapun gelar-gelar
yang diberikan kepada Allah:

a. Roh : Allah adalah Roh (Yoh. 4:24)


b. Juruselamat : gelar ini dalam PB umumnya diterapkan kepada Yesus Kristus, namun
gelar itu juga digunakan bagi Allah. (bdn I Tim.2:3; Titus 2:10,13; 3:4).
c. Yang Maha Tinggi : Menyatakan bahwa Allah adalah yang paling tinggi yang
menunjukkan keunggulan Allah diatas segala ilah lain. (Luk. 8:28, Mrk. 5:7)
d. Allah Nenek Moyang Israel : Alkitab menjelaskan secara khusus bahwa Allah adalah
Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub (Mat. 8:11; 22:32; Mrk. 12:26; Luk. 20:37).
e. Alfa dan Omega : Sebutan mengenai Alfa dan Omega terdapat dalam Wah.1:8; 21:6.
Sebutan ini merupakan bentuk kiasan yang mempunyai arti mencakup segala sesuatu, dengan
demikian baik awal maupun akhir harus dihubungkan dengan Allah. Hal ini erat kaitannya
dengan pengertian mengenai Allah sebagai Pencipta.

ANTROPOLOGI DAN HAMARTIOLOGI


DOKTRIN TENTANG MANUSIA DAN DOSA

DOKTRIN MANUSIA

20
Studi tentang Manusia disebut Antropologi dari kata Yunani anthropos, yang berarti
“manusia”, dan logos yang berarti “kata” atau “pembicaraan”, jadi antropologi adalah
pembicaraan tentang manusia. Istilah antropologi dapat disebut juga sebagai studi tentang
manusia dari sudut pandang Alkitab.

1. Asal Mula Manusia Dalam Perjanjian Lama

Pandangan PL tentang manusia adalah Manusia diciptakan dengan memiliki tubuh secara
fisik, ia digambarkan sebagai debu tanah (Kej.2:7; 3:19). Ia menerima hidupnya dari hembusan
nafas Allah (Kej.2:7). PL yakin akan keunggulan manusia diatas binatang-binatang. Karena
hanya pada Manusia saja dikatakan dalam Alkitab, ia diciptakan menurut “gambar dan rupa
Allah” (Kej.1:26). Pernyataan ini mengangkat manusia sebagai karya ciptaan Allah yang
terbesar. Manusia adalah satu-satunya ciptaan diantara ciptaan-ciptaan lainnya yang dapat
memasuki hubungan persekutuan dengan Allah Pencipta. Manusialah yang berkuasa atas
binatang-binatang dan yang memberi nama kepada mereka. Hal ini memperlihatkan perbedaan
yang sangat mendasar antara manusia dengan binatang-binatang, manusia menggunakan bahasa
yang merupakan hasil ciptaannya sendiri.

Ada beberapa Teori yang menggambarkan tentang asal mula adanya manusia, salah satu
yang sangat terkenal adalah “Teori Evolusioner” oleh Charles Darwin, yang menjelaskan asal
mula manusia dan kehidupan yang terlepas dari Allah. Inti dari Teori Evolusi adalah pengajaran
bahwa tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia sacara bertahap berevolusi dari bentuk yang
lebih rendah, dan proses situ disuperisi oleh Allah. (contoh dari moyet berubah menjadi manusia
karena proses Evolusi).

Orang-orang Ibrani tidak pernah berpandangan bahwa manusia secara jasmani hanyalah
binatang semata-mata. Manusia mempunyai kemampuan untuk mengamati hubungan-hubungan
antara satu hal dengan hal lainnya, manusia mampu berfikir dan manusia dipandang sebagai
ciptaan yang memiliki tuguh dan jiwa. Segi lain dalam pandangan PL mengenai manusia ialah
hubungan manusia sebagai kesatuan antara seorang dengan yang lainnya. Perempuan merupakan
satu-satunya teman hidup yang layak bagi laki-laki.

21
2. ASAL – USUL MANUSIA DALAM PANDANGAN PB

Titik tolak dalam mempertimbangkan pokok pembahasan mengenai manusia adalah


bahwa Yesus sebagai manusia secara utuh memperlihatkan citra manusia yang sempurna. Bukti
tentang Yesus sebagai manusia yang sejati dapat kita lihat dalam konsep Kristologi.

Pembahasan PB tentang kemuanusiaan yang sejati berbeda sekali dengan pembahasan


modern mengenai manusia (pandangan humanis, Marxis dll). Manusia lebih unggul dari
binatang, walaupun keterangan mengenai hal ini sedikit sekali, namun pokok ini merupakan
kenyakinan yang mendasar. Pada Yesus berkata “ Kamu lebih berharga daripada banyak burung
pipit” (Mat. 10:31). Yesus memperlihatkan suatu perbandingan yang tidak perlu dipersoalkan
lagi. Dalam konteks yang sama dengan perkataan Yesus mengenai “burung pipit”, Dia
menyebutkan bahwa rambut dikepala seseorang pun terhitung semua jumlahnya, (Mat.10:30).
Hal ini merupakan cara yang paling baik atau tepatuntuk menekankan bukan hanya pemeliharaan
Allah atas manusia tetapi juga atas penilaian manusia.

Pada Waktu Allah menciptakan manusia, Ia menciptakan manusia menurut gambar-Nya


(Kej. 1:25-27). Pertanyaan adalah : Apakah gambar Allah dalam diri manusia ? . Gambar Allah
dalam diri manusia tidak berupa Fisikal karena Allah adalah Roh (Yoh.4:24) dan tidak memiliki
tubuh. Gambar itu harus non – materi dan melibatkan unsur-unsur utama, sebagai berikut:

1. Personalitas. Manusia memiliki kesadaran diri sendiri dan penentuan diri sendiri yang
memampukan dia untuk mengambil keputusan, mengangkat dirinya diatas binatang dan
ciptaan lainnya. Personalitas menyatakan kemampuan manusia untuk berkuasa atas dunia
ini (Kej. 1:28), mengelola Bumi (Kej.2:15), akan tetapi Tubuh adalah alat untuk
mempermuliakan Allah karena ia adalah bait Allah (I Kort. 6:19), sehingga tubuh harus
dipersembahkan kepada Allah (Rom.12:1).

2. Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah suatu roh. Atribut-atribut dari suatu roh adalah
penalaran, hati nurani, dan kehendak. Dengan membuat manusia menurut gambarnya, maka
Allah melimpahkan kepada manusia itu atribut-atribut yang merupakan milik natur-Nya
sebagai roh. Oleh sebab itulah manusia dibedakan dengan produk yang lainnya yang
22
mendiami dunia ini, dan manusia ditinggikan jauh diatas semua ciptaan lainnya. Manusia
mampu berkomunikasi dengan penciptanya. Apabila manusia tidak seperti Allah, maka
manusia tidak akan mampu berkomunikasi dengan Allah, dan juga tidak dapat mengenal
Allah, sehingga akan menjati seperti binatang

3. Natur Moral. Manusia yang diciptakan dalam keadaan “Original” menunjuk kepada
pengetahuan, kebenaran dan kekudusan. Efesus 4:24 menekankan bahwa diri yang baru dari
orang percaya adalah “dalam keserupaan dengan Allah” dan telah diciptakan dalam
kebenaran dan kekudusan”. Kitab Kolose.3:10 mendeklarasikan bahwa diri yang baru
adalah “terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut
gambar Khaliknya”. (bdn. Kej.1:26).

PANDANGAN PAULUS TENTANG MANUSIA

Paulus sangat kuat terpengaruh oleh gagasan Ibrani mengenai Manusia yang seutuhnya sehingga
pemikiran-pemikiran Yunani tentang fungsi-fungsi yang terpisah-pisah hanya sedikit
mempengaruhi pemikirannya. Pendekatan Paulus mengenai manusia dapat disimpulkan sebagai
berikut:

a. Paulus memandang manusia sebagai mahluk, namun sebagai mahluk yang diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah. Pandangan ini yang merupakan pandangan dalam PL
mengenai asal – usul manusia, yang dinyatakan dalam Kejadian 1:26-27, (bnd I Kort. 11:7).
b. Manusia dalam keutuhannya diharapkan untuk memuliakan Allah. Sesuai dengan bagian-
bagian lain dari dalam PB, surat-surat Paulus menyatakan bahwa manusia pada dasarnya
tidak memuliakan Allah (Rom.1:21).
c. Bagaimanapun juga manusia tidak dapat membebaskan diri dari tanggung jawab atas
penolakannya terhadap Allah, karena Allah telah memberikan kemampuan untuk mengerti
(bdn Roma 2:14-15).

23
KEUNGGULAN MANUSIA DARI CIPTAAN LAINNYA

Nilai Manusia dalam pemandangan Allah dapat dilihat dalam pernyataan-pernyataan


Yesus sendiri sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab Injil – Injil, seperti dalam Markus 8:37;
Matius 16:26; Lukas 9:25, bagaiman Yesus membicarakan tentang nilai harta benda dalam dunia
dengan nyawa manusia itu sendiri. Hal ini berarti bahwa Nilai manusia dianggap lebih tinggi
daripada prestasinya, milikinya bahkan kekuasaannya.
Pandangan yang sama terlihat juga pada waktu Yesus mengecam kepada mereka yang
mempersoalkan tentang penyembuhan seseorang pada hari sabat, padahal mereka sendiri akan
menyelamatkan hewan mereka pada hari Sabat apabila hewan tersebut jatuh ke dalam lobang
(Mat. 12:10-11). Salah satu bukti bahwa Manusia lebih unggul atau bernilai bagi Allah, dalam
PL manusia diberi kepercayaan mengatur dan menguasai segala ciptaannya yang ada dibumi,
dan dalam Perjanjian Baru dituliskan dan diceritakan dengan jelas bahwa Yesus datang kedunia
untuk menyelamatkan manusia yang dikasih-Nya karena manusia itu telah jatuh kedalam dosa
(Yoh.3:16).

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah, diharapkan untuk mematuhi segala peraturan-
peraturan yang dibuat oleh Allah. Dalam PL Adam diperintahkan supaya memegang teguh
peraturan yang Allah buat di taman eden, demikian juga bangsa Israel diperintahkan untuk tetap
setia kepada peraturan-peraturan Allah.
Dalam Perjanjian Baru Orang muda yang kaya di perintahkan untuk menuruti segala
perintah-perintah Allah (Mat. 19:16-26). Manusia diharapkan untuk patuh kepada Allah. Apabila
manusia hidup untuk menyenangkan dirinya sendiri, ia tidak akan pernah melakukan tuntutan
Allah itu, Tuhan menuntut tanggung jawab secara total, tidak kurang dari halnya yang
disimpulkan dengan memikul salib setiap hari (bnd. Mat. 10:38; 16:24).

24
TEORI –TEORI TENTANG MANUSIA

1. Pandangan Dikotomi
Dikotomi berasal dari kata Yunani dicha, “dua” dan “temno” memotong. jadi manusia
adalah keberadaan yang terberda terdiri dari dua bagian, yaitu tubuh dan jiwa. Jiwa dan
roh dianggap subtansi yang sama namun memiliki fungsi yang berbeda. Pandangan ini
berdoman dari Kejadian 2:7.
2. Pandangan Trikotomi
Trikotomi berasal dari kata Yunani tricha. “tiga”, dan “temno” memotong. Sehingga
manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Jiwa dan roh dikatakan
berbeda baik dalam fungsi maupun dalam subtansinya. Tubuh dilihat sebagai kesadaran
akan dunia, Jiwa sebagai kesadaran akan diri, dan roh sebagai kesadaran akan Allah.
Pandangan ini dilihat dari I Tes 5:23; Ibr. 4:12; I Kort. 2:14 – 3:4.

3. Pandangan Multi-segi
Ada sejumlah tambahan istilah yang menjabarkan natur non- fisikal manusia. Jadi natur
non-manusia dapat dimengerti sebagai banyak segi. Empat istilah untuk menjabarkan
natur non-materi manusia, yaitu:

 Hati : Hati menjabarkan intelektual (Mat.15:19-20)

* Hati Nurani : Hati Nurani ditempatkan Allah dalam diri manusia sebagai saksi. Hati
Nurani dipengaruhi oleh kejatuhan dan dapat ditipu dan tidak dapat
dipercaya (I Tim.4:2).

* Akal Budi : Akal budi setiap orang yang tidak percaya sudah tercemar (Rom.1:28),
dan dibutakan oleh setan-setan (2 Kort. 4:

* Kehendak : orang tidak percaya memiliki suatu kehendak yang memiliki kerinduan
untuk mengikuti apa yang didikte oleh daging (EF. 2:2-3), sedangkan orang percaya
memilki kerinduan untuk melakukan kehendak Allah (Rom. 6:12 -13).

25
DOSA MANUSIA

PENGERTIAN DOSA

Dalam PL khususnya kitab Kejadian 3 tidak menjabarkan tentang asal mula


dosa, melainkan menjelaskan masuknya dosa dalam dunia dan umat manusia. Kejadian 3
menjelaskan histori manusia pertama Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena ketidaktaatan
kepada perintah Allah (bdn Kejadian 2:16-17).

a. Kitab Injil

Kata yang sering dipakai dalam Injil Sinoptik untuk dosa adalah “hamartia”, kata ini
sering dipakai dalam hubungannya dengan pengakuan dosa (Mat. 3;6; Mrk. 1:5), atau dengan
pengampunan dosa. Pengertian dasar dari dosa adalah kegagalan untuk mencapai sasaran.
Seseorang yang hendak mengakui dosanya, maka ia harus menyadari mengenai apa yang
diharapkan dari dirinya dan bahwa usaha-usahanya yang terbaik telah gagal untuk mencapai apa
yang diharapkan.

Kata lain yang dipakai ialah paraptoma (pelanggaran), yang juga dikaitkan dengan
pengampunan. Dalam Markus 11:25 dan Matius 6:14 kata itu terdapat dalam bentuk jamak dan
berarti tindakan-tindakan yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku.

Pada waktu Yohanes Pembaptis berkhotbah tentang pertobatan, dia tidak perlu
menerangkan arti dosa. Semua orang Yahudi yang mengenal sejarah bangsanya dalam PL, akan
mengetahui bahwa dosa itu merupakan pelanggaran terhadap Allah yang menuntut pertobatan.
(bdn Luk.13:3; 15:7-10).

b. Paulus

Paulus menggunakan beraneka ragam istilah untuk menjelaskan hakikat dosa, seperti
juga dalam penjelasan gagasan-gagasannya yang lain. Kata hamartia digunakan secara umum
dalam pengertian perbuatan-perbuatan dosa dan dipakai dalam bentuk jamak dan tunggal.

26
Bentuk Tunggal dari hamartia hampir selalu menggambarkan keadaan berdosa dan bukan
berarti suatu tindakan membuat dosa. Karena itu Paulus dapat berbicara tentang kuasa dosa
(Rom. 3:9), pengenalan dosa (Rom.3:20), bertambahnya dosa (Rom.5:20), hamba dosa (Rom.
6:16), dan upah dosa (Rom. 6:23).

Selain memakai kata yang umum untuk dosa, Paulus juga memakai istilah-istilah yang
lain untuk menggambarkan tentang dosa :

# paraptoma : langkah yang keliru sebagai lawan langkah yang benar (Rom.4:25;
Gal.6:1), Dalam Efesus 2:1 Paulus menghubungkan kata itu dengan dosa-
dosa (hamartia).

# parabasis : melangkah kesamping, yaitu menyimpang dari jalan yang benar, istilah
ini diterjemahkan dengan “pelanggaran” (Rom. 2:23; 4:15; Gal.3:19).

# anomia : kedurhakaan atau perbuatan jahat (bnd 2 Kort. 6:14; 2 Tes. 2:3)

Semua istilah ini mengandung pengertian yang sama, yaitu “gagal


memenuhi apa yang diwajibkan”

c. Pandangan Kitab Ibrani

Dalam kitab Ibrani dosa dianggap sebagai kedurhakaan atau pemberontakan “pasha” (
Ibr. 3:8,15 – 16). Kedurhakaan atau pemberontakan memperlihatkan suatu sifat ketidaktaatan
yang disengaja dan yang benar-benar-benar menentang, yang didalamnya terkandung penolakan
langsung terhadap rencana Allah.

Allah membenci kefasikan (anomia) (Ibr. 1:9, bdn. Maz. 45:7-8). Nilai yang luar biasa
dari karya Kristus ialah bahwa di bawah perjanjian yang baru itu Allah berfirman “Aku tidak lagi
mengingat dosa-dosa dan kesalahan (anomia) mereka”. (Ibr. 10:17). Penghujatan terhadap darah
Perjanjian memperlihatkan luasnya ruang lingkup penolakan manusia terhadap cara kerja Allah
(Ibr. 10:26).

27
d. Pandangan Yesus Tentang Dosa

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik tentang ajaran Yesus mengenai dosa:

1. Dosa meliputi semua manusia. Tidak seorangpun manusia yang luput dari dosa, apa yang
berlaku untuk satu orang berlaku untuk semua manusia. Yesus menilai manusia secara
realistis, bahwa semua manusia telah gagal dalam mencapai rencana Allah bagi kehidupan
manusia karena dosa.

2. Dosa itu bersifat batiniah, walaupun ajaran Yesus tentang dosa sering berpusat pada
tindakan-tindakan lahiriah. Penyebab dasarnya berakar jauh lebih dalam. Apa yang keluar
dari diri manusia itulah yang menajiskannya (Mat. 15:18; Mark. 7:15).

3. Dosa berarti perbudakan. Dengan latar belakang kuasa-kuasa kegelapan , terlihat manusia
dalam keadaan berdosa sedang dalam genggaman iblis, Kristus datang untuk membebaskan
mereka dari genggaman itu.

4. Dosa berarti pemberontakan. Yesus membuat perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk.
15:11-32), titik balik yang menentukan ialah ketika anak bungsu itu menyadari bahwa ia
telah berbuat dosa terhadap Allah dan ayahnya (Luk. 15:11-32).

5. Dosa mengakibatkan penghukuman. Manusia berada dalam penghukuman Allah. Setiap


orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah, bahkan setiap
perkataan yang diucapkannya (Mat. 12:36).

ORANG KRISTEN DAN DOSA

28
Allah telah membuat suatu system yang cukup untuk menjaga orang Krsiten dari jalan
dosa, yaitu :
a. Firman Allah. Allah telah memberikan Firman Allah yang sempurna, yang berguna
untuk mendidik orang kepada kebenaran, dimana setiap orang percaya
“diperlengkapi untuk segala perbuatan baik” (2 Tim. 3:16-17). Firman Allah itulah
yang dapat menjaga orang percaya dari kehidupan dosa (Maz. 119:9-16).

b. Pengantaraan Kristus. Kristus adalah pembela orang percaya pada waktu orang
percaya berdosa ( 1 Yoh. 2:1). Karena Kristus terus menerus hidup maka
pengantaranya efektif (Ibr. 7:25).
c. Didiami oleh Roh Kudus. Pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan orang peraya
adalah berkaitan hidup terpisah dari dosa. Roh Kudus mendiami (Rom.8:9),
Mengurapi (1 Yoh. 2:20), memberi kuasa (Kis.1:8), dan memeteraikan (Ef.1:13;
4:30).

KRISTOLOGI : YESUS KRISTUS

“Siapakah Yesus Kristus……..? suatu pertanyaan penting yang penting sekali dijawab
oleh setiap orang percaya. Orang-orang skeptic yang ekstrim berfikir bahwa penulis kitab-kitab
Injil “menceritakan cerita fiksi”. Pandangan tradisional yaitu pandangan orang-orang Kristen
yang percaya, menyebutkan bahwa para penulis kitab-kitab Injil mencatat apa yang mereka
alami secara tepat, dan dengan demikian kepercayaan mereka mengenai siapa Yesus itu betul-
betul tepat dan sesuai dengan apa yang Yesus sendiri inginkan agar kita percaya kepada-Nya.

29
INKARNASI KRISTUS

Inkarnasi berarti “di dalam daging”, menunjuk pada tindakan Allah, lewat putra-Nya yang
tunggal mengambil bagi diri-Nya natur tambahan, yaitu manusia, melalui kelahiran dari seorang
anak dara. Sekalipun Dia manusia , namun DIa tetaplah Allah, memiliki kekekalan, dan Ia adalah
manusia yang tidak berdosa dalam satu pribadi untuk selamanya. (Yoh.1:14,Filp. 2:7-8; I Tim.
3:6).

Dalam Kitab Injil Sinoptik memberikan gambaran mengenai Yesus sebagai manusia.
Markus memusatkan perhatiannya kepada Yesus sebagai manusia, sedangkan Matius dan Lukas
memusatkan perhatiannya pada permulaan kehidupan Yesus sebagai manusia, dengan mengikut
sertakan kisah kelahiran Yesus, dan mengenai kelahiran Yesus dari anak Dara Maria, (Matius
1:16). Catatan mengenai kelahiran Yesus menggambarkan Yesus dalam keluarga manusia yang
biasa, yang juga mengalami semua permasalahan yang biasa terjadi dalam keluarga.

PENJELASAN TENTANG INKARNASI

Silsilah. Ada dua silsilah yang menjabarkan mengenai Inkarnasi Kristus: Matius 1:1-16
dan Lukas 3:23-38. Banyak perdebatan tentang mengenai kedua relasi silsilah dalam ayat-ayat
ini. Tapi satu yang perlu untuk dapat diperhatikan : kedua silsilah itu mengaitkan Yesus kepada
Daud (Mat.1:1; Luk.3:31), oleh karena itu menekankan keberhakan-NYa sebagai ahli waris
takhta Daud (Luk.1:32-33). Matius menjabarkan Silsilah Yusuf, karena ahli waris diklaim
melalui bapa, hak Yesus atas takhta Daud datang melalui Yusuf. Bapak yang diadopsi-Nya.
Lukas mengutip silsilah Yesus dari Maria sampai ke Adam, “mengaitkan Kristus dengan nubuat
benih dari seorang perempuan”.

Kelahiran dari anak dara. Anak dara merupakan alat dimana inkarnasi terjadi dan
menjamin ketidakberdosaan Putra Allah. Untuk alasan ini kelahiran anak dara adalah esensial.
Yesaya 7:14 menubuatkan kelahiran anak dara dan Matius 1:23 memberikan tafsiran,
mengidentifikasikan Maria sebagai “anak dara”. (Yunani parthenos, menunjuk kepada
keperawanan). Matius 1: 22-23 menekankan bahwa kelahiran Yesus adalah dalam rangka
menggenapi nubuat dari kelahiran anak dara di Yesaya 7:14. Matius 1:25 menekankan bahwa

30
Maria tetap perawan sampai kelahiran Kristus. Lukas 1:34 menyatakan bahwa Maria tidak
berhubungan dengan laki-laki, sedangkan di Lukas 1:35 Malaikat memberikan penjelasan
kepada Maria bahwa yang ia kandung berasal dari Roh Kudus.

ARTI KEMANUSIAAN KRISTUS

Doktrin kemanusiaan Kristus setara pentingnya dengan doktrin keIllahian Kristus. Yesus
harusmenjadi manusia untuk dapat mewakili umat manusia yang berdosa. Yohanes menulis surat
untuk membenarkan pengajaran yang salah, yaitu penyangkalan akan kemanusiaan Kristus yang
sejati (bdn I Yoh. 4:2). Apabila Yesus bukan manusia sejati, maka kematian diatas kayu salib
merupakan ilusi. Ia harus manusia sejati untuk mati bagi umat manusia. Kitab suci mengajarkan
bahwa Yesus tidak memiliki dosa manusia, natur kejatuhannya (I Yoh. 3:5). Namun unsur
manusia sejati terdapat dalam Yesus, Ia menangis, Ia mengalami haus, kelaparan, dan memiliki
saudara (bnd. Mat. 13:55).
Semua Kitab Injil menggambarkan Yesus dengan latar belakang kehidupan orang-orang
Yahudi, bersama dengan ahli-ahli Taurat dan juga orang-orang Farisi, orang-orang Saduki. Masa
hidup Yesus digambarkan dalam kehidupan Palestina pada abad pertama. Orang-orang yang
disembuhkan Yesus dan yang diajar Yesus adalah orang-orang yang menghadapi ketegangan-
ketegangan social politik, sama seperti yang dihadapi Yesus juga. Manusia Yesus membuat
pernyataan yang luar biasa mengenai diri-Nya sendiri. Ia menyatakan bahwa kekuasaan-Nya
melampaui Hukum Taurat, Ia mengampuni dosa, memerintah alam, dan mengusir setan.

ATRIBUT – ATRIBUT KRISTUS

1. Kekal. Yunani imperfek hen, menyatakan keterusmenerusan eksistensi-NYa dalam


waktu yang lampau. Dalam Ibrani 1:11-12, penulis mengaplikasikan Mazmur 102:26-28,
mengekspresikan kekekalan Allah pada Kristus. sedangkan Yonanes 1:1 meneguhkan
kekekalan Kristus.

31
2. Mahahadir. Dalam Injil Matius 28:20, Kristus berjanji pada murid-murid-Nya, bahwa
“Aku akan menyertai kamu senantiasa”. Menyadari bahwa Kristus memiliki natur
manusia demikian juga natur Ilahi, maka hal itu harus diartikan dalam kemanusiaan-Nya
Ia berada disorga, tetapi dalam keIlahian-Nya Ia adalah Mahahadir. Tinggalnya Kristus
dalam diri setiap orang percaya menyatakan kemahahadirannya (Yoh. 14:23; Ef. 3:17;
Kol. 1:27; Wah. 3:20).

3. Mahatahu. Yesus mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran manusia, karena itu
Ia tidak mempercayakan diri-Nya kepada manusia (Yoh.2:25). Ia tahu masa lalu
perempuan samaria (Yoh. 4:18).

4. Mahakuasa. Yesus memiliki semua otoritas dibumi maupun di Sorga (Mat. 28:18), Ia
memiliki kuasa untuk mengampuni dosa manusia (Mark. 2:5,7,10).

5. Tidak Berubah. Kristus tidak pernah berubah, Ia adalah sama untuk selama-lamanya
(Ibrani 13:8).

6. Hidup. Manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan adalah hidup karena mereka telah
diberi kehidupan. Tetapi Kristus memiliki kehidupan dalam diri-Nya sendiri, Ia adalah
kehidupan (Yoh.1:14; Yoh. 14:6, band. Yer.2:13, Maz.36:10).

Gelar Mesias

a. Gelar Yesus Sebagai Mesias


Gelar-gelar Kristus dapat dibagi secara sederhana, yaitu yang mengandung dan yang
tidak mengandung gelar Mesianis. Kata “Mesias” dalam konteks ini berarti tokoh pembebasan
(penyelamat) yang diharapkan orang Yahudi, yaitu seorang yang akan menjadi wakil Allah
untuk pembentukan suatu zaman baru bagi umatNya. Kata Mesias berasal dari bahasa Ibrani dan
juga bahasa Yunani untuk kata itu adalah “Khristos” (berarti yang diurapi) dari hal ini terlihat

32
bahwa Yesus dipandang sebagai orang yang secara khusus ditahbiskan untuk tugas yang tertentu.
Dari penyelidikan di atas mengenai pemakaian gelar Mesias kepada Yesus, kita telah melihat
bahwa jemaat PB percaya sekali bahwa Yesus menggenapi pengharapan yang lama akan
kedatangan seorang penyelamat.

b. Anak Daud
Gelar Anak Daud erat kaitannya dengan gelar Mesias. Gelar itu muncul beberapa kali
dalam PB, dan ada petunjuk-petunjuk tambahan bahwa orang-orang Kristen mula-mula
mengakui pentingnya asal usul Yesus dari keturunan Daud. Gagasan tentang Mesias sebagai raja
dari keturunan Daud dapat ditelusuri dari janji Allah kepada Daud dalam II Samuel 7:6. Bukti
bahwa gelar Anak Daud digunakan oleh orang banyak terutama terdapat dalam kitab Injil
Matius.

c. Yesus Sebagai Hamba


Konsep hamba yang menderita dengan jelas memainkan peranan penting dalam
pengertian kita tentang karya Kristus. Ungkapan bahasa Yunani pais theou yang berarti “Anak
Allah” atau “Hamba Allah”. Tetapi tujuan kita sekarang ialah untuk menemukan fungsinya bagi
ajaran tentang Kristus sebagai hamba Allah. Hamba adalah seorang pengantara, Yesus melihat
perananNya sebagai hamba dengan menderita demi orang lain, yang dapat dianggap sebagai
bukti yang sah bahwa Yesus menyatakan penggenapan diriNya dalam peran hamba menurut
Yesaya. Beberapa orang berpedoman pada Markus 10:45-Matius 20:28 untuk mendukung
konsep tentang hamba, Hamba yang dimaksud dalam kitab Yesaya adalah hamba Allah.

d. Anak Manusia
Dari semua gelar Yesus dalam kitab-kitab Injil Sinoptik, gelar “Anak Manusia”
merupakan gelar yang paling penting. Sebutan-sebutan Anak Manusia memperlihatkan
pandangan Yesus sendiri mengenai identitasNya. Sebutan Anak Manusia yang mengarah pada
kehidupan Yesus di dunia.
Gelar Anak Manusia dihubungkan dengan berbagai unsure yang hanya mendapat arti
berdasarkan satu anggapan pokok, bahwa Yesus berpikir tentang diriNya sebagai Mesias sorgawi

33
yang menggenapi suatu pelayanan di dunia demi manusia, yang akan mencapai puncaknya
dalam kemuliaan yang terakhir.

e. Yesus Sebagai Tuhan


Kata Kurios (Tuan) digunakan pada masa PB sebagai gelar kehormatan yang diberikan
kepada seseorang yang lebih tinggi kedudukannya.

KEMATIAN KRISTUS

1. Substitusi

Penekanan dalam PB adalah bahwa Kristus mati sebagai pengganti bagi orang berdosa.
Kematian-Nya disebut “vicarious”, artinya “seorang sebagai pengganti dari yang lain”. Kata
ganti dalam Yesaya 53 menekankan natur substitusi dari kematian Kristus. “Tetapi dia tertikam
oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang
mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi
sembuh” (Yes. 53:5, bnd I Petr. 2:24).

Semua dosa orang percaya ditanggung oleh Kristus, yang sepenuhnya menebus mereka dan
membanyar untuk mereka melalui kematian-Nya, kita akan mengalami :

a. Penebusan. Kematian Kristus menyediakan penebusan ( I Kort. 6:20).


b. Pendamaian. Kematian Kristus menyediakan pendamaian bagi manusia (Roma 3:25).
c. Pengampunan. Mengampuni berdasarkan anugerah. Kematian Kristus mengakibatkan
pendamaian bagi orang berdosa (Kol.2:13).

34
2. Justifikasi

Hasil lebih lanjut dari Kematian Kristus adalah Justifikasi bagi orang berdosa yang percaya.
Justifikasi merupakan tindakan hukum Allah sebagai hakim yang mendeklarasikan orang
berdosa yang percaya sebagai orang yang dibenarkan (Roma 5:1). “Sebab itu kita yang
dibenarkan (Yunani dikaiothentes) karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah
oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”. Kata dibenarkan (Yunani dikaioo) memiliki aspek
negatif dan positif. Secara negatif, hal itu berarti mengangkat dosa orang percaya; secara
positif, hal itu berarti menganugerahkan kebenaran Kristus atas orang percaya (Rom.
3:24; 5:9; Gal. 2:16).

KEBANGKITAN KRISTUS

Fakta bahwa Yesus benar-benar mati diterima oleh semua ahli, bahkan oleh mereka yang
menyangkal Yesus, Kematian dalam bentuk penyaliban tidak dapat disangkal sebagai Fakta
sejarah.

Holtzmann (1911), seorang Liberal mengatakan “Kebangkitan Yesus bukanlah suatu peristiwa
yang nyata, tetapi merupakan halunisasi (khayalan) dalam pemikiran Petrus yang mendorong
munculnya halunisasi yang sama dalam pemikiran murid-murid yang lain. Karena itu
kebangkitan hanya terjadi dalam pikiran orang-orang yang mempercayainya”.

Weiss (1937) dan Wrede (1971), Mengatakan “Kebangkitan bukanlah sama sekali merupakan
peristiwa yang betul-betul terjadi tetapi merupakan hasil imajinasi jemaat”.

Pembahasan mengenai pentingnya kebangkitan dilanjutkan oleh Barth dan Bultman (1933).
Barth menganggap menganggap “kebangkitan sebagai contoh yang paling nyata mengenai
campur tangan ilahi dalam sejarah manusia”, sedangkan Bultmann sama sekali menolak
kebangkitan Kristus sebagai peristiwa yang benar terjadi, karena hal itu tidak dapat
didemonstrasikan dengan menggunakan metode-metode sejarah yang ilmiah.

35
Semua kitab Injil menyaksikan bahwa kubur Yesus sudah kosong pada hari yang ketiga, ini
menunjukkan bahwa Yesus telah benar-benar bangkit. I Korintus 15:4, menyatakan bahwa
Kristus telah dikuburkan dan telah dibangkitkan pada hari yang ke tiga. Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan tentang “kepentingan” kebangkitan Kristus:

#. Kebangkitan Kristus menentukan validasi iman Kristen, (I Kort. 15:17)

# .Merupakan jaminan penerimaan Bapa dari karya Putra Allah (Mat. 26:39).

# .Esensi bagi rancana Allah. Kristus berjanji untuk mengutus Roh Kudus sebagai penolong bagi
para murid (Yoh.16:7).

# .Menggenapi nubuat kebangkitan-Nya (Maz. 16:10; Mat.16:21; Mark. 14:28).

KENAIKAN KRISTUS KE SURGA

Kebangkitan tanpa kenaikan tidaklah lengkap, karena kebangkitan memperlihatkan penaklukan


atas maut . Kenaikan Kristus dijelaskan dalam Markus 16:19; Lukas 24:51; Kisah Rasul 1:9.
Petrus mengindikasikan bukti dari kenaikan Kristus adalah fakta bahwa Ia mengutus Roh Kudus,
yang disaksikan oleh banyak orang pada hari Pentakosta.

Signifikansi Kenaikan Kristus:

#. Mengakhiri pelayanan Kristus di dunia

#. Mengakhiri perendahan diri-Nya (Yoh. 17:5; Kis. 9:3-5). Kristus sekarang ditinggikan dan
bertkhta di kerajaan Sorga.

#. Hal ini menandai masuknya pertama kali tubuh kebangkitan ke surge dan permulaan dari
karya baru di sorga (Ibr. 4:14-16; 6:20).

#. Turunnya Roh Kudus (Yoh. 16:7).

36
PENGGENAPAN NUBUAT TENTANG KRSITUS
TOPIK NUBUAT PL PENGGENAPAN DI PB

Keturunan Abraham Kejadian 12 :2 Matius 1:1; Galatia 3:16


Keturunan Yehuda Kejadian 49:10 Matius 1:2
Ketrunan Daud 2 Samuel 7:12-16 Matius 1:1
Kelahiran dari anak Dara Yesaya 7:14 Matius 1:23
Tempat lahir Betlehem Mika 5:2 Matius 2:6
Pendahulu: Yohanes Yesaya 40:3; Maleakhi 3:1 Matius 3:3
Raja Bilangan 24:7; Mazmur 2:6 Matius 21:5
Nabi Ulangan 18:15-18 Kis. 3:22-23
Imam Mazmur 110:4 Ibrani 5:6-10
Menanggung dosa dunia Mazmur 22:1 Matius 27:46
Diolok-olok Mazmur 22:7-8 Matius 27:39,43
Tangan dan kaki dipaku Mazmur 22:16 Yohanes 20:25
Tidak ada tulang yang patah Mazmur 22:17 Yohanes 19:33-36
Serdadu membuang undi Mazmur 22:18 Yohanes 19:24
Doa Kristus Mazmur 22:24 Matius 26:39, Ibrani 5:7
Buruk Rupa Yesaya 52:14 Yohanes 19:1
Disesah dan Mati Yesaya 53:5 Yohanes 19:1, 18
Kebangkitan Mazmur 16:10 Matius 28:6
Kenaikan Mazmur 68:18 Lukas 24:50-53, Kis. 1:9-11

37
38