Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM METODE ANALISIS INSTRUMEN

PERCOBAAN 3.1
ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF BAHAN BAKU DENGAN
METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Disusun oleh:
Kelompok 2/E

Childa (10060316187)
Agpirahma Cindera B. A (10060316189)
Irman Maryawan (10060316190)
Nandianti Nurlita Sari (10060316191)
Friska Aulia Hidayat (10060316192)
Putri Nosa Dwiawanda (10060316193)

Asisten : Atika Zulfa.K., S. Farm


Tanggal Praktikum : 19 Februari 2019
Tanggal Pengumpulan : 27 Februari 2019

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT E


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2019 M/1440 H
PERCOBAAN 3.1
ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF BAHAN BAKU DENGAN
METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

I. Tujuan Percobaan
1.1 Melakukan analisis kualitatif bahan baku dengan metode kromatografi cair
kinerja tinggi.
1.2 Melakukan analisis kuantitatif bahan baku dengan metode kromatografi cair
kinerja tinggi.
1.3 Menyimpulkan mutu bahan baku dengan data kromatogram dan hasil
penetapan kadar.

II. Prinsip Percobaan


Prinsip kerja HPLC adalah berdasarkan perbedaan kepolaran, senyawa polar
akan tertarik pada senyawa polar dan senyawa nonpolar akan tertarik pada
senyawa non polar .

III. Teori Percobaan


3.1 HPLC
High performance liquid chromatography (HPLC) atau yang sering disebut
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) adalah jenis kromatografi yang
penggunaannya paling luas. Kegunaan umum HPLC adalah untuk pemisahan dan
pemurnian senyawa obat serta untuk analisis kuantitatif senyawa obat dalam
sediaan farmasetika. Disamping itu, HPLC juga digunakan untuk identifikasi
kualitatif senyawa obat berdasarkan pada parameter waktu retensi senyawa obat
standar serta senyawa obat dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2012).

3.1.1 Prinsip Dasar HPLC


Prinsip dasar dari HPLC adalah pemisahan analit-analit berdasarkan
kepolarannya. Adapun prinsip kerja dari alat HPLC adalah ketika suatu sampel
yang akan diuji diinjeksikan ke dalam kolom maka sampel tersebut kemudian
akan terurai dan terpisah menjadi senyawa-senyawa kimia ( analit ) sesuai dengan
perbedaan afinitasnya. Hasil pemisahan tersebut kemudian akan dideteksi oleh
detector (spektrofotometer UV, fluorometer atau indeks bias) pada panjang
gelombang tertentu, hasil yang muncul dari detektor tersebut selanjutnya dicatat
oleh recorder yang biasanya dapat ditampilkan menggunakan integrator atau
menggunakan personal computer (PC) yang terhubung online dengan alat HPLC
tersebut (Gandjar dan Rohman, 2012).

3.1.2 Komponen Alat HPLC

Gambar 3.1 Komponen Alat HPLC

1. Pompa (Pump)
Fase gerak dalam KCKT adalah suatu cairan yang bergerak melalui kolom.
Ada dua tipe pompa yang digunakan, yaitu kinerja konstan (constant pressure)
dan pemindahan konstan (constant displacement) (Putra, 2004).
2. Injektor (Injector)
Ada tiga tipe dasar injektor yang dapat digunakan:
a. Stop-Flow: Aliran dihentikan, injeksi dilakukan pada kinerja atmosfir,
sistem tertutup, dan aliran dilanjutkan lagi. Teknik ini bisa digunakan
karena difusi di dalam cairan kecil dan resolusi tidak dipengaruhi.
b. Septum: Septum yang digunakan pada KCKT sama dengan yang
digunakan pada Kromatografi Gas. Injektor ini dapat digunakan pada
kinerja sampai 60 -70 atmosfir. Tetapi septum ini tidak tahan dengan
semua pelarut-pelarut kromatografi cair. Partikel kecil dari septum yang
terkoyak (akibat jarum injektor) dapat menyebabkan penyumbatan.
c. Loop Valve: Tipe injektor ini umumnya digunakan untuk menginjeksi
volume lebih besar dari 10 μL dan dilakukan dengan cara otomatis
(dengan menggunakan adaptor yang sesuai, volume yang lebih kecil
dapat diinjeksikan secara manual). Pada posisi load, sampel diisi
kedalam loop pada kinerja atmosfer, bila valve difungsikan, maka sampel
akan masuk ke dalam kolom (Putra, 2004).
3. Kolom (Column)
Kolom dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Kolom analitik: Diameter dalam 2 - 6 mm. Panjang kolom tergantung
pada jenis material pengisi kolom.
b. Kolom preparatif: umumnya memiliki diameter 6 mm atau lebih besar
dan panjang kolom 25 -100 cm (Putra, 2004).
4. Detektor
Detektor dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
1) Detektor spektrofotometri UV-Vis
2) Detektor Indeks Bias
3) Detektor Elektrokimia
4) Detektor Photodiode-Array (PDA) (Gandjar dan Rohman, 2007).

3.1.3 Kelebihan dan kekurangan HPLC


a. kelebihan dari alat HPLC antara lain:
- Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran dengan daya
memisah yang tinggi.
- Dapat dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan analisis.
- Dapat digunakan bermacan-macam detektor dengan kepekaan yang tinggi.
- Kolom dapat digunakan kembali.
- Waktu analisa cukup singkat.
- HPLC dapat digunakan untuk isolasi zat yang tidak mudah menguap dan
zat yang tidak stabil.
- Dapat menganalisis sampel yang kecil kuantitasnya.
- Teknik HPLC dapat dilakukan pada suhu kamar.
b. Kelemahan dari alat HPLC antara lain:
- Harga sebuah alat HPLC cukup mahal
- Sering ada larutan standar yang tertinggal diinjektor.
- Pada kolom dengan diameter rata-rata partikel fase diam dengan ukuran 5
dan 3 mikrometer sela-sela partikel lebih mudah tertutup oleh kotoran, jadi
harus seringkali dicuci dan kemurnian larutan harus dijaga.
(Putra, 2004)

3.2 Paracetamol
Parasetamol (C8H9NO2) atau asetaminofen berupa serbuk hablur, putih,
tidak berbau, rasa sedikit pahit. Mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak
lebih dari 101,0 % C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat. Kelarutannya larut
dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N serta mudah larut dalam
etanol. BM parasetamol adalah 151,16. Parasetamol memiliki khasiat sebagai
analgetikum dan antipiretikum (Depkes RI, 1995).

Gambar 2.1 Rumus Struktur Paracetamol

Absorbansi parasetamol pada max 245 nm dalam larutan asam adalah


sebesar 668a sedangkan dalam larutan alkali atau basa absorbansinya sebesar
715a pada max 257 nm (Moffat et al., 2005).
IV. Alat dan Bahan
Alat Bahan
Alat HPLC Aqua Pro Injeksi
Jarum Sunti Mikroliter Metanol Pro HPLC
Labu Erlenmeyer 20 mL Tablet Parasetamol
Labu Takar 50 mL dan 10 mL
Pipet Tetes
Pipet Volume
Saringan Membran Filter PTFE
Vial

V. Data Fisika Kimia (MSDS)


5.1 Paracetamol
 Sinonim : Paracetamolum, Asetaminofen.

 Rumus molekul : C8H9NO2

 Berat molekul : 151,16 g/mol

 Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit


pahit.

 Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium


hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol.

 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus


cahaya

 Fungsi : Analgetik, antipiretik. (Farmakope Indonesia Edisi


IV hal. 649 & MSDS Acetaminophen ScienceLab.com Chemicals and
Laboratory Equipment)
5.2 Metanol

 Titik beku : -98˚

 Berat molekul : 32,04 g/mol

 Bobot jenis : 0,7915 g/cm3

 Titik didih : 64,5

 Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berasa

 Rumus molekul : CH4OH

 Perhatian : Dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, rasa


terbakar, inflamasi, kerusakan kornea, mudah terbakar dan bersifat toksik.
(MSDS Methanol ScienceLab.com Chemicals and Laboratoty Equipment)

5.3 Aqua Bidestilasi

 Pemerian : Cairan jernih tidak berbau, tidak berasa

 pH :7

 Titik didih : 100˚C

 Titik beku : 0 C

 Stabilitas : Produk yang stabil

 Inkompatibilitas : - (MSDS H2O ScienceLab.com Chemicals and


Laboratory Equipment).
VI. Prosedur
6.1 Uji Kesesuaian Sistem

Uji dilakukan dengan larutan standar diinjeksikan berturut-turut sebanyak 7


kali ke dalam instrument KCKT. Selanjutnya, luas area standar, waktu retensi,
faktor ikutan dihitung nilai simpangan baku relatif (SBR)nya. Uji kesesuian
sistem dinyatakan memenuhi syarat apabila nilai SBR <2.0%

6.2 Analisis Kualitatif


1. Larutan Standar

Ditimbang dengan seksama 25 mg baku pembanding parasetamol ke


dalam labu takar 50 mL. Lalu, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas.
Larutan dikocok hingga homogen. Larutan dipipet 1 mL ke dalam labu takar 10
mL. Kemudian, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Larutan
disaring dengan membran filter PTFE ukuran 0.45 µm. Larutan diinjeksikan ke
dalam alat KCKT.

2. Larutan Uji

Ditimbang dengan seksama 25 mg bahan baku parasetamol ke dalam labu


takar 50 mL. Lalu, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Larutan
dikocok hingga homogen. Larutan dipipet 1 mL ke dalam labu takar 10 mL.
Kemudian, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Larutan disaring
dengan membran filter PTFE ukuran 0.45 µm. Larutan diinjeksikan ke dalam alat
KCKT.

Diinjeksikan masing-masing larutan standar dan larutan uji ke dalam alat


KCKT. Lalu direkam kromatogram yang terbentuk. Kromatogram uji dan larutan
standar dibandingkan. Waktu retensi puncak larutan uji harus sama dengan waktu
retensi puncak larutan standar.
6.3 Analisis Kuantitatif
1. Larutan Standar

Ditimbang dengan seksama 25 mg baku pembanding parasetamol ke dalam


labu takar 50 mL. Lalu, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Larutan
dikocok hingga homogen. Dibuat serangkaian pengenceran larutan standar untuk
pembuatan kurva kalibrasi. Dipipet masing-masing 0.2;0.4;0.6;0.8;1.0; dan 1.2
mL larutan stok baku pembanding ke dalam labu takar 10 mL. Diencerkan dengan
fase gerak hingga tanda batas. Disaring larutan dengan membran filter PTFE
ukuran 0.45 µm. Larutan diinjeksikan ke dalam alat KCKT.

2. Larutan Uji

Ditimbang dengan seksama 25 mg bahan baku parasetamol ke dalam labu


takar 50 mL. Lalu, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Larutan
dikocok hingga homogen. Larutan dipipet 1 mL ke dalam labu takar 10 mL.
Kemudian, diencerkan dengan fase gerak hingga tanda batas. Larutan disaring
dengan membran filter PTFE ukuran 0.45 µm. Larutan diinjeksikan ke dalam alat
KCKT.

6.4 Cara Kurva Kalibrasi

Dicatat luas area kromatogram masing-masing larutan standar dan larutan


uji. Dengan digunakan kurva kalibrasi atau persamaan garis,dihitung kadar larutan
sampel.

6.5 Cara One Point

Diambil luas area kromatogram salah satu larutan pembanding, krmudian


digunakan untuk menghitung kadar larutan sampel dengan menggunakan metode
one point. Dibandingkan kedua hasil penetapan kadar.
VII. Hasil Pengamatan & Perhitungan
7.1 Pengamatan
7.1.1 Tabel Uji Kesesuain Sistem (Standar) (Hasil Dari Kelompok A3)
Penyuntikan Waktu Retensi Luas Area
1 3,547 4313387
2 3,477 4276936
3 3,437 4212435
4 3,420 4199734
5 3,400 4297061
6 3,390 4181391
7 3,373 4334927
Rata rata 3,434857143 4259.410,143
sd 0,060042841 60.822,0522
sbr/rsd 1,74804% 1,42794%

7.1.2 Tabel Kurva Kalibrasi


Konsentrasi (ppm) Luas Area
10 10694841
20 17260994
30 23678438
40 30881482
50 40800503
60 46483628
a = 2623463,733 ; r = 0,9974113989
b = 733615,017
7.1.3. Tabel hasil Kromatogram uji & standar
Sampel Waktu Retensi Luas Area
Uji 3,393 41633632
Standar., 3,434857143 4259.410,143
7.2 Perhitungan
7.2.1 Fase gerak
 Metanol Pro HPLC
1
× 200 𝑚𝐿
4
= 50 𝑚𝐿
 Aqua pro injeksi
3
× 200 𝑚𝐿
4
= 150 𝑚𝐿
7.2.2 Uji Kesesuai Sistem
Nilai SBR = 1,74804
%
Uji kesesuai sistem dinyatakan memenuhi syarat karena SBR < 2,0 %
7.2.3 Analisis Kualitatif ( Larutan Standar)
25𝑚𝑔 1000𝑚𝐿
× = 500 mg/L = 500 ppm
50𝑚𝑔 1𝐿

Pengenceran
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 1mL x 500 ppm
N1 = 50 ppm
7.2.4 Analisis Kualitatif ( Larutan Uji)
25𝑚𝑔 1000𝑚𝐿
× = 500 mg/L = 500 ppm
50𝑚𝑔 1𝐿

Pengenceran
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 1 mL x 500 ppm
N1 = 50 ppm
7.2.5 Analisis Kuantitatif ( Larutan Standar)
25𝑚𝑔 1000𝑚𝐿
× = 500 mg/L = 500 ppm
50𝑚𝑔 1𝐿

 Pengenceran 1
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 0,2 mL x 500 ppm
N1 = 10 ppm
 Pengenceran 2
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 0,4 mL x 500 ppm
N1 = 20 ppm
 Pengenceran 3
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 0,6 mL x 500 ppm
N1 = 30 ppm
 Pengenceran 4
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 0,8 mL x 500 ppm
N1 = 40 ppm
 Pengenceran 5
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 1 mL x 500 ppm
N1 = 50 ppm
 Pengenceran 6
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 1,2 mL x 500 ppm
N1 = 60 ppm
7.2.6 Analisis Kuantitatif ( Larutan Uji)
25𝑚𝑔 1000𝑚𝐿
× = 500 mg/L = 500 ppm
50𝑚𝑔 1𝐿

Pengenceran
V1 x N1 = V2 x N2
100 mL x N1 = 1 mL x 500 ppm
N1 = 50 ppm
7.2.7 Perhitungan Kadar Parasetamol
 Cara Kurva Kalibrasi
a = 2623463,733
b = 733615,017
r = 0,9974113989
y = 41633632 (luas area uji)
y = bx + a
41633632 = 733615,017 x + 2623463,733
39010168,27
x = = 53,17525863 ppm
733615,017
𝑋
% Kadar = 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑗𝑖 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 × 100%
53,17525863 ppm
= × 100%
50 𝑝𝑝𝑚

= 106,3505173 %
( Tidak memenuhi syarat karena >101%)
 Cara One Point Methode
𝑳𝒖
 𝑪𝒖 = × 𝑪𝒔
𝑳𝒔

Lu = 41633632 (luas area uji)


Ls = 40800503 (luas area standar)
Cs = 50 ppm (konsentrasi larutan standar)
41633632
𝐶𝑢 = × 50 𝑝𝑝𝑚
40800503

= 51,02097883 ppm
𝑋
% Kadar = 𝐾𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑢𝑗𝑖 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 × 100%
51,02097883 ppm
= × 100%
50 𝑝𝑝𝑚

= 102,0419577 %
( Tidak memenuhi syarat karena >101%)
VIII. Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan analisis kualitatif dan


kuantitatif bahan baku parasetamol dengan metode kromatografi cair kinerja
tinggi (KCKT/HPLC). KCKT adalah jenis kromatografi yang penggunaannya
paling luas. Kegunaan umum KCKT adalah untuk pemisahan dan pemurnian
senyawa obat serta untuk analisis kuantitatif senyawa obat dalam sediaan
farmasetika. Disamping itu, KCKT juga digunakan untuk identifikasi kualitatif
senyawa obat berdasarkan pada parameter waktu retensi senyawa obat standar
serta senyawa obat dalam sampel. Prinsip dasar dari KCKT adalah pemisahan
analit berdasarkan perbedaan kepolaran (Gandjar dan Rohman, 2012).
Instrumen KCKT memiliki 2 jenis kolom berdasarkan jenis fase gerak dan
fase diam yang digunakan, yaitu kolom normal phase dan kolom reverse phase.
Dalam praktikum kali ini digunakan instrumen KCKT dengan jenis kolom reverse
phase yaitu dimana fase diamnya bersifat nonpolar sedangkan fasa geraknya
bersifat polar (Mulja dan Suharman, 1995).
Fase gerak yang digunakan kali ini adalah kombinasi dari aqua pro inject
dengan metanol pro KCKT . Pemilihan aqua pro inject-methanol pro KCKT
sebagai fase gerak karena alat KCKT sangat sensitif, sehingga diperlukan analit
murni agar tidak terdapat kontaminan. Fase diam yang digunakan pada alat ini
adalah C18 (Oktadesil/ODS) yang bersifat nonpolar yang mampu untuk
memisahkan fase diam senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang,
maupun tinggi (Gandjar dan Rohman, 2007).
Sistem kromatografi yang digunakan dalam percobaan adalah kromatografi
adsorbsi. Dimana berupa padatan dan fase gerak berupa cairan, sehingga senyawa
yang memiliki kepolaran dengan fasa diam dapat tertahan/terjerap dan yang tidak
dapat terelusi (Mulja dan Suharman, 1995).
Sebelum dilakukan analisis parasetamol dengan metode KCKT, dilakukan
uji kesesuaian sistem yang bertujuan untuk memastikan jika sistem kromatografi
sudah memenuhi syarat dengan cara menyuntikan sampel sebanyak 7 kali
berturut-turut. Kelompok kami tidak melakukan uji ini dikarenakan keterbatasan
waktu sehingga didapati hasil SBR waktu retensi dari kelompok A3 sebesar
1,4279% dari kelompok A3. Uji kesesuaian sistem dinyatakan memenuhi syarat,
karena nilai SBR < 2,0 % (The United State Pharmacopeial Convention, 2006).
Selanjutnya dilakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif terhadap
parasetamol. Tujuan dilakukannya analisis kualitatif adalah untuk mengetahui
keberadaan ada atau tidaknya senyawa parasetamol didalam sampel uji.
Sedangkan tujuan dilakukannya analisis kuantitatif adalah untuk menetapkan
berapa banyak unsur atau zat yang ada dalam suatu senyawa campuran. (Irfan,
2000 ) Untuk melakukan analisis kualitatif, prosedur yang dilakukan sama dengan
prosedur analisis kuantitatif larutan uji, sehingga bisa dikatakan hasil dari analasis
kualitatif larutan standar sama dengan analisis kuantitatif larutan uji. Untuk
melakukan analisis kuantitatif dilakukan dengan prosedur yang sama, namun
dengan bahan parasetamol uji dan di lakukan pengenceran dalam berbagai
konsentrasi yaitu 0,2;0,4;0,6;0,8;1 dan 1,2 ml.
Pertama, dilarutkan sejumlah parasetamol baku maupun uji dengan fase
gerak yaitu kombinasi aqua pro injeksi dan methanol. Lalu dilakukan
pengenceran dengan memipet dengan berbagai konsentrasi dan di larutkan dalam
fasa gerak pada labu takar 10 ml. setelah itu, larutan di saring menggunakan
membran filter PTFE 0,45 µm. Dilakukannya penyaringan bertujuan agar
meminimalisir adanya partikulat atau pun zat pengotor lainnya yang terdapat
didalam larutan sekalipun berukuran mikro, karena alat penyuntik KCKT
berdiameter sangat kecil, sehingga dihindari adanya penyumbatan oleh zat
pengotor dan gangguan pada system kromatografi. Adanya partikel yang kecil
dapat terkumpul dalam kolom atau dalam tabung yang sempit, sehingga dapat
menyebabkan suatu kekosongan pada kolom atau tabung tersebut (Gandjar dan
Rohman, 2007). Setelah disaring, larutan sampel uji maupun standar diinjeksikan
kedalam alat KCKT sebanyak 40 µl secara hati-hati sehingga tidak adanya
gelembung yang mempengaruhi volume larutan. Kemudian fase gerak maupun
larutan yang dianalisis dialirkan dengan menggunakan sistem pompa. Pompa
dibutuhkan untuk mengalirkan fase gerak dengan tekanan sehingga dapat
mengalir secara terus menerus melalui kolom secara tepat, reprodusibel, konstan,
dan bebas dari gangguan. Larutan yang diinjeksikan dan dianalisi terlebih dahulu
adalah larutan baku standar yang memiliki konsentrasi paling kecil lalu menuju
yang paling besar, dan diakhiri dengan pengujian larutan uji. Hal ini dilakukan
untuk menghindari perubahan konsentrasi dalam alat suntik yang akan
mempengaruhi analisis. Setelah larutan diinjeksikan, larutan akan masuk kedalam
kolom dengan bantuan fase gerak. Didalam kolom, terjadi pemisahan analit-analit
dengan perbedaan kepolaran. Kepolaran yang sama dengan fasa diam akan
tertahan, sedangkan yang sama dengan fasa gerak akan terelusi. Setelah itu,
larutan akan di deteksi dengan detector (Sarwano, 2006).
Detektor yang digunakan pada KCKT ini adalah detektor UV Visible atau
sinar tampak. Detektor ini mampu memberikan kumpulan kromatogram secara
simultan pada panjang gelombang yang berbeda dalam sekali proses (single run).
Digunakannya detector UV-Vis karena senyawa parasetamol memiliki gugus
kromofor. Dimana gugus kromofor ini merupakan ikatan selang-seling
terkonjugasi yang dapat menyerap sinar tampak sehingga keberadannya dapat
dianalisis dalam alat KCKT (Sarwano, 2006).
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh data yang menunjukan bahwa
pada larutan standar parasetamol konsentrasi 10 ppm diperoleh nilai luas area
10694891, konsentrasi 20 ppm diperoleh nilai luas area 17260994, konsentrasi 30
ppm diperoleh nilai luas area 23678438, konsentrasi 40 ppm diperoleh nilai luas
area 30881482, konsentrasi 50 ppm diperoleh nilai lias area 40800503 dan pada
konsentrasi 60 ppm diperoleh nilai luas area 46483628. Dari hasil larutan standar
akan digunakan untuk membuat persamaan regresi linier dan dapat dibuat kurva
kalibrasi sebagai berikut :
Y = bx +a
41633632 = 733615,0171x + 2623463,733
= 53,17525863 ppm
45000000
40000000
35000000
30000000
25000000
20000000 Luas area
15000000
10000000
5000000
0
0 10 20 30 40 50 60

Dari semua larutan standar yang diukur diperoleh persamaan regresi,


sehingga dapat dihitung persen kadar parasetamol didalamnya. Didapati hasil
sebesar 106,3505175%. Lalu dilakukan perhitungan persen kadar parasetamol
dengan menggunakan One Point Methode, didapati hasil sebesar 102,0419577%.
Dapat dikatakan bahwa kadar yang diperoleh dari hasil praktikum yang telah
dilakukan tidak memenuhi syarat ketetapan kadar karena dimana kadar
parasetamol yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia adalah tidak
kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 101% (Dirjen POM, 1995).

Kemudian, berdasarkan hasil pengamatan didapati hasil kromatogram larutan uji


parasetamol dengan konsentrasi 50 ppm diperoleh nilai luas area sebesar
41633632 dengan waktu retensi 3,393. Sedangkan pada larutan standar diperoleh
dari kelompok A3, pada uji kesesuaian sistem yaitu nilai luas area sebesar
4259410,143 dengan rata-rata waktu retensi sebesar 3,434857143. Secara kualitatif,
larutan uji mengandung parasetamol yang dilihat dari waktu retensi yang sama-sama
berada di rentan 3.
Berdasarkan hasil kromatogram keseluruhan, terdapat senyawa-senyawa lain yang
terdeteksi oleh detektor, dilihat dari adanya tailing / ekor dalam grafik KCKT.
Seharusnya, hasil kromatogram yang baik adalah tidak terdapat tailing. Hal ini dapat
terjadi dikarenakan adanya senyawa pengotor dalam larutan yang dianalisis, kecerobohan
praktikan dalam praktik, dan adanya air hasil pembilasan dari alat yang digunakan
sehingga dapat mempengaruhi hasil dari kromatogram.

IX. Kesimpulan

Dari percobaan kali ini dapat disimpulkan :


- Parasetamol dapat dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif dengan
metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
- Dari hasil penetapan kadar, diperoleh kadar parasetamol sebesar
106,3505175% dengan metode kurva kalibrasi dan kadar sebesar
102,04195175 % dengan one point methode.
- Kadar parasetamol yang diperoleh dari analisis kuantitatif tidak memenuhi
syarat ditetapkan farmakope.
DAFTAR PUSTAKA

Gandjar, I. G. & Rohman, A. (2012). Analisis Obat secara Spektroskopi dan


Kromatografi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Putra, E.D.L. (2004). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dalam Bidang Farmasi.
Medan: Universitas Sumatera Utara.
Depkes RI. (1995).Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Moffat, A.C., M.D. Osselton., B. Widdop. (2004). Clarke’s Analysis Of Drug And
Poisons. Thirth Edition. London: Pharmaceutical Press.

The United State Pharmacopeial Convention. (2006). The United States


Pharmacopeia (USP). 30th Edition. United States. Hal. 680

Mulja, M. dan Suharman, (1995), “Analisis Instrumental”, ed.1, Airlangga


University Press, Surabaya.

Sarwano, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif & kualitatif.


Yogyakarta: Graha Ilmu

Irfan, Anshory. (2000). Ilmu Kimia. Erlangga : Jakarta