Anda di halaman 1dari 5

Interaksi Dengan Non-Muslim

Saudaraku yang dirahmati Allah, sungguh Islam adalah ajaran yang


sangat indah. Membenci orang kafir karena penentangan mereka
kepada Allah dan Rasul-Nya tidaklah membuat kita serta merta berbuat
zhalim pada mereka. Namun Allah telah memberi batasan kepada kita
agar kita tegas dalam berprinsip namun adil dalam bersikap. Dalam
aqidah, jelas kita memihak saudara-saudara kita seiman. Tetapi dalam
berinteraksi, terdapat beberapa kebijakan adil yang telah diatur oleh
syariat.

Berikut ini adalah poin pembahasan yang berkaitan dengan interaksi


yang dibolehkan dengan non-muslim :

1. Kita tetap wajib mendakwahi mereka dan mengajak mereka


kepada Islam meskipun kita membenci dan tidak berpihak
kepada orang kafir. Tentu sesuai kemampuan dan dengan cara
yang hikmah. Mudah-mudahan Allah memberi mereka hidayah.

Jika mereka menolak dakwah, kita perangi mereka jika ada


kemampuan. Sehingga mereka punya dua pilihan, masuk Islam
atau bayar jizyah (untuk yahudi, nashrani, dan majusi). Jika
mereka memilih membayar jizyah, mereka diizinkan tetap
menjalankan keyakinan mereka dengan syarat tetap tunduk di
bawah hukum Islam
Note : Di sana ada orang kafir yang boleh diperangi dan ada orang
kafir yang tidak boleh diperangi. Hukum asalnya, orang kafir
yang hidup rukun di sekitar kita tergolong orang kafir yang tidak
boleh diperangi. Penerapan paragraf di atas butuh ilmu dan
bimbingan ulama serta tidak boleh serampangan. Bahkan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang membunuh
kafir mu’ahad (orang kafir yang menjalin perjanjian damai
dengan kaum muslimin), dia tidak akan mencium bau surga.
Padahal bau surga tercium dari jarak perjalanan 40 tahun (HR.
Bukhari).

2. Tidak mengapa berdamai dan hidup bertetangga dengan orang-


orang kafir apabila umat Islam tidak mampu memerangi mereka
sampai umat Islam memiliki kekuatan atau jika mereka yang
meminta berdamai.

3. Tidak mengapa membalas kebaikan mereka jika mereka berbuat


baik kepada kita. Allah Ta’ala berfirman,

‫ذين ََل يُقاتِلوُكم ِِف ال ّدي ِن َوََل ُُي ِرجوُكم ِمن ِداي ِرُكم أَن‬‫ه‬
َ ‫اَّللُ َع ِن ال‬
‫ال يَنها ُك ُم ه‬
ِ ُّ ‫اَّلل ُُِي‬ ِ ِ ِ ِ
‫طي‬
َ ‫ب املُقس‬ َ‫وهم َوتُقسطوا إلَيهم ۚ إ هن ه‬
ُ ‫تَبَ ّر‬
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil
terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak
(pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah : 8)

4. Seorang muslim yang memiliki orang tua kafir tetap memiliki


kewajiban untuk berbakti kepada orang tuanya tersebut. Akan
tetapi, ia tidak boleh menurutinya apabila diperintah melakukan
kekafiran atau membantunya melakukan kekafiran. Allah Ta’ala
berfirman,

‫ي أ َِن‬ ِ ِ ِ
ِ ‫عام‬ ٰ ‫صينَا ا ِإلنسا َن بِوال َديه ََحَلَتهُ أ ُُّمهُ َوهنًا َع‬
َ ‫لى َوه ٍن َوفصالُهُ ِف‬ ‫َوَو ه‬

‫يس‬‫ل‬
َ ‫ما‬ ‫يب‬ ‫ك‬
َ ِ ‫لى أَن تُش‬
‫ر‬ ‫ع‬ ‫داك‬
َ ‫جاه‬ ‫ن‬ِ‫يل املصري () وإ‬
‫ه‬ َ ِ‫يك إ‬ ‫د‬
َ ِ‫اش ُكر يل ولِوال‬
َ ٰ َ َ َ ُ َ َ
َ
‫بيل َمن‬ ‫س‬ ‫ع‬ ِ ‫ك بِِه ِعلم فَال تُ ِطعهما ۚ و‬
ِ‫صاح ُبهما ِِف الدُّنيا َمعروفًا ۚ واتهب‬ َ َ‫ل‬
َ َ َ َ ُ ٌ

‫َانب إِ َه‬
‫يل‬ َ ‫أ‬
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada
dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan
baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” (QS.
Luqman : 14-15)
Meskipun status orang tua kafir, namun ia tetap memiliki hak
yang harus ditunaikan. Sang anak sebagai seorang muslim,
tidaklah boleh mencintai orang tuanya yang kafir dengan
sepenuh hati karena adanya kekafiran pada diri orang tuanya.
Tetapi hendaknya ia berbuat baik kepada orang tuanya tersebut
sebagai balas budi atas jasa mereka yang telah merawatnya
sedari lahir. Sepatutnya ia tetap berbakti kepada orang tuanya
dengan batasan yang telah dijelaskan.

5. Diperbolehkan menjalin kerja sama bisnis maupun bertransaksi


dengan mereka. Sebab, ini sebatas urusan dunia dan ada manfaat
yang dapat dipetik oleh umat Islam. Ini sama sekali tidak
menunjukkan adanya jalinan cinta dan kasih sayang dalam
hubungan bisnis semacam ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dahulu juga pernah menggadaikan baju besi beliau kepada
seorang yahudi.

6. Allah Ta’ala memperbolehkan menikahi wanita ahli kitab dengan


syarat wanita tersebut adalah wanita yang menjaga kesucian
dirinya. Namun tidak boleh seorang muslimah menikah dengan
lelaki non-muslim siapapun itu. Allah Ta’ala juga
memperbolehkan umat Islam memakan daging hasil sembelihan
ahli kitab.
Note : Yang dimaksud dengan ahli kitab hanyalah yahudi dan
nasrani. Adapun selain itu (buddha, hindu, dan lainnya), mereka
tergolong orang musyrik non-ahli kitab. Tidak diperbolehkan
memakan daging hasil sembelihan mereka ataupun menikahi
wanitanya.

7. Tidak mengapa menghadiri undangan mereka (dalam acara yang


mubah) serta memakan makanan yang halal

8. Selayaknya tetap berbuat baik kepada tetangga yang kafir,


karena mereka memiliki hak-hak tetangga yang harus ditunaikan

9. Tidak diperbolehkan berbuat zhalim kepada mereka. Allah Ta’ala


berfirman,

ٰ ‫ب لِلت‬ ِ ِ ٍ
‫هقوى‬ ُ ‫َقر‬ ٰ ‫َوال ََي ِرَمنه ُكم َشنَآ ُن قَوم َع‬
َ ‫لى أَّال تَعدلُوا ۚ اعدلوا ُه َو أ‬
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum,
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena
adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al Maa-idah : 8)

Wallaahu a’lam bish shawaab.

(Disarikan dari Syarh Tsalatsatul Ushul milik Dr. Shalih Al Fauzan


yang termuat dalam Jaami’ Syuruh Tsaltsatul Ushul, hal. 76-77)