Anda di halaman 1dari 3

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pulau Terusan Tengah terletak di selatan Pulau Laut dan berdampingan


dengan Pulau Kunyit. Pulau tersebut memiliki paparan terumbu yang ditemukan di
sisi barat pulau dan diantara Pulau Kunyit dan Pulau Terusan Tengah. Paparan
terumbu sering dikunjungi oleh wisatawan khususnya kelompok backpacker. Tipe
terumbu karang di pulau ini adalah terumbu tepi (fringing reef). Terumbu tepi
merupakan terumbu yang tumbuh dan berkembang di sekitar tepian pulau,
posisinya sejajar dengan garis pantai. Rataan terumbu (reef flat) dan tubir (slope)
berjarak sekitar 50 – 150 meter dari pantai dan luas paparan terumbu sekitar 53,72
ha. Umumnya bentuk pertumbuhan karang yang ditemukan adalah karang massive,
karang sub massive, karang bercabang, karang meja dan karang bentuk lembaran.
Jenis karang yang umum dijumpai adalah Favites, Favia, Porites, Goniopora,
Fungia, Heliopora, Turbinaria, Pocillopora dan Acropora. Sedangkan jenis karang
lunak yang ada di pulau tersebut seperti Sarcophytom, Lobophytum dan Sinularia
(Praktik Lapang Program Studi Ilmu Kelautan, 2016).
Tutupan karang hidup berkisar 23 – 45% atau dalam kondisi rusak hingga
sedang. Kerusakan terumbu karang disebabkan oleh faktor manusia (antropogenik)
dan faktor alam. Faktor manusia contohnya aktivitas nelayan seperti terkena lunas
kapal dan labuh jangkar di paparan terumbu, kegiatan snorkeling dan diving yang
tidak ramah lingkungan. Sedangkan faktor alam seperti terjadinya sedimentasi
karena bentuk pulau yang berbukit dan pantai membentuk sebuah teluk sehingga
terjadinya run off yang besar ketika musim hujan. Selain itu, naiknya suhu air laut
di atas rata-rata normal ketika peristiwa El Nino terjadi yang menyebabkan
pemutihan (bleaching) dan kematian hewan karang. Akumulasi dari peristiwa di
atas mengakibatkan penurunan tutupan karang hidup yang diikuti oleh peningkatan
alga bentik dan sponge sebagai pesaing karang. Dalam jangka waktu yang lama
alga bentik dan sponge menggantikan biomassa karang. Kondisi ini tidak
menguntungkan bagi ikan karang dan biota asosiasi lainnya.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka diperlukan upaya pemulihan
ekosistem terumbu karang melalui kegiatan rehabilitasi. Kegiatan rehabilitasi ini
memerlukan teknologi yang efektif guna memperbaiki kondisi ekosistem terumbu
karang. Salah satu teknologi terkini yang mempercepat pembentukan biomassa dan
laju kalsifikasi ialah teknologi biorock (akresi mineral).
Teknologi biorock merupakan teknologi yang sangat efektif dibandingkan
dengan teknologi lainnya (artificial reef, eco reef dan bio reef tech) dalam hal
mempercepat pertumbuhan karang. Pertumbuhan karang tergambar dari laju
kalsifikasi. Pada kondisi normal laju kalsifikasi ditentukan oleh proses biokimia,
sedangkan pada teknologi biorock laju kalsifikasi ditentukan oleh reaksi
elektrolisis. Reaksi elektrolisis adalah peristiwa penguraian elektrolit dalam sel
elektrolisis oleh arus listrik (DC).
Proses elektrolisis tegangan rendah digunakan untuk mendorong
pembentukan mineral seperti Kalsium Karbonat (CaCO3) dan Magnesium
Hidroksida (Mg(OH)2). Mineral tersebut merupakan struktur dasar karang yang
membantu mempercepat pertumbuhan bibit karang yang ditempelkan pada besi.
Teknologi biorock telah diterapkan di beberapa wilayah perairan Indonesia seperti
Gili Trawangan Nusa Tenggara Barat, Teluk Pemuteran Bali, Tanjung Lesung
Banten dan Pulau Gangga Sulawesi Selatan. Lokasi tersebut telah menjadi destinasi
ekowisata terumbu karang dimana para penyelam scuba, snorkeler dan free dive
baik volunteer maupun scientist berkontribusi dalam memperbanyak struktur
biorock.
Dari beberapa lokasi tersebut, ditemukan perbaikan terumbu karang yang
signifikan dan progresif. Di sisi lain, kunjungan wisatawan meningkat dengan
demikian pendapatan masyarakat meningkat dari usaha sewa perahu, peralatan
selam, penginapan dan sebagainya. Keuntungan lainnya secara fisik adalah
bertambahnya barrier untuk melindungi pantai dari hempasan ombak. Secara
ekologi habitat biorock ini menjadi tempat tinggal/berlindung, memijah, mencari
makan dan daerah asuhan.

1.2. Rumusan Masalah

Kerusakan terumbu karang di Pulau Terusan Tengah disebabkan oleh faktor


manusia dan faktor alam. Faktor manusia contohnya terkena lunas kapal dan labuh
jangkar di sekitar paparan terumbu, kegiatan snorkeling, diving, dan free dive yang
tidak ramah lingkungan. Sedangkan dari faktor alam berupa sedimentasi dan
peningkatan suhu air laut di atas rata-rata normal pada saat peristiwa El Nino.
Berdasarkan permasalah tersebut, maka diperlukan suatu teknologi yang efektif dan
cepat dalam memulihkan ekosistem terumbu karang.

1.3. Tujuan Penulisan

Menemukan teknologi alternatif yang efektif, cepat dalam memulihkan


terumbu karang yang rusak dan dapat memberikan multiple effect yang
menguntungkan secara ekologi, konservasi dan ekonomi.