Anda di halaman 1dari 4

Pekan ASI Sedunia Tahun 2009 “Menyusui: Sebuah Respon yang Sangat Penting dalam

Situasi Darurat”
SIARAN PERS
Endang Moerniati
http://www.menegpp.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=166:pekan-
asi-sedunia-tahun-2009-menyusui-sebuah-respon-yang-sangat-penting-dalam-situasi-
darurat&catid=37:media-massa&Itemid=87
Rabu, 19 Agustus 2009 14:04
Tema Peringatan Pekan ASI Sedunia Tahun 2009 adalah ”Breastfeeding: A Vital
Emergency Response” yang diterjemahkan menjadi “Menyusui : Sebuah Respon yang
Sangat Penting dalam Situasi Darurat”. Peringatan Pekan ASI sedunia dimaksudkan
untuk meningkatkan komitmen dan dukungan kita terhadap keberhasilan ibu dalam
menyusui bayinya secara ekslusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga anak berusia 2
tahun meskipun dalam situasi darurat sekalipun.
Tema ini mengandung makna bahwa dalam situasi darurat, ibu harus senantiasa didukung
untuk tetap dapat menyusui bayinya. Seiring dengan makin meningkatnya frekuensi
terjadinya bencana tanpa memandang lokasi di negara kita, maka perlulah kita melakukan
persiapan dini termasuk dalam hal upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak dengan
kampanye pentingnya pemberian ASI dan pemberian dukungan penuh bagi ibu untuk
tetap menyusui bayinya sehingga bayi terhindar dari kecacatan dan kematian. Inilah
pentingnya respon terhadap sitausi kritis dan darurat untuk keberhasilan ibu dalam
menyusui.
Indonesia adalah negara yang rentan akan terjadinya bencana. Karena itu, upaya persiapan
dalam menghadapi bencana harus disiagakan setiap waktu termasuk siap siaga terhadap
penanganan masalah kesehatan ibu dan bayi. Upaya tersebut mencakup masalah
pemberian ASI Ekslusif yang secara ilmiah terbukti sangat bermanfaat baik bagi ibu dan
bayinya. Data dalam sebuah penelitian setelah gempa di Yogyakarta tahun 2006
menunjukan bahwa 75% dari seluruh bayi di Yogyakarta menerima bantuan susu formula,
sehingga angka kejadian diare meningkat secara signifikan pada anak-anak tersebut.
Masih rendahnya penggunaan ASI di Indonesia khususnya dalam situasi darurat adalah
karena: (1) Faktor social budaya; (2) Kurangnya pengetahuan masyarakat akan
pentingnya tetap memberikan ASI dalam situasi darurat; (3) Jajaran kesehatan yang belum
sepenuhnya mendukung penggunaan ASI saat terjadi situasi darurat; (4) Gencarnya
bantuan susu formula yang masuk; (5) Kurangnya pengetahuan dan komitmen pemberi
bantuan dan penerima bantuan akan pentingnya tetap menyusui dalam situasi darurat; dan
(6) Kurangnya dukungan dari masyarakat termasuk dalam hal memberikan tempat dan
kesempatan bagi ibu menyusui berupa shelter khusus untuk memerah ASI nya.
Sebagai gambaran data pemberian ASI berdasarkan SDKI 2007, Angka Cakupan ASI
Ekslusif 6 bulan di Indonesia hanya 32,3% (SDKI 2007), masih jauh dari rata-rata dunia,
yaitu 38%. Sementara itu, saat ini jumlah bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula
meningkat dari 16,7% pada tahun 2002 menjadi 27,9% pada tahun 2007 (SDKI 2007).
Dalam situasi apapun, hampir semua ibu dapat menyusui bila dibantu untuk memperoleh
rasa percaya diri, rasa aman, rasa tenang serta diberi informasi mengenai tehnik menyusui
yang benar serta adanya shelter/ tempat dan prioritas mendapatkan air bersih untuk ibu
dan anaknya saat situasi darurat terjadi. Untuk itu, sejalan dengan Tema Pekan ASI
Sedunia tahun 2009 ini, yang mengangkat pentingnya dukungan bagi ibu tetap menyusui
dalam situasi darurat, sehingga dalam situasi darurat setiap dukungan yang diberikan pada
ibu mampu meningkatkan keberhasilan ibu untuk tetap menyusui bayinya.
Akhirnya melalui Peringatan Pekan ASI Sedunia tahun 2009, Saya menghimbau untuk
selalu memperkuat dan mengimplementasikan komitmen dan tekad yang kuat dari para
semua pihak baik Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif maupun pihak swasta, lembaga
donor dan lembaga social kemasyarakatan untuk bersama-sama memberikan dukungan
bagi ibu untuk tetap menyusui dalam situasi darurat dan mengupayakan peningkatan
pemberian ASI Ekslusif 6 bulan dan dlanjutkan Pemberian ASI dengan makanan
pendamping ASI yang berkualitas hingga anak berumur 2 tahun dengan baik dan benar.
Yang pada akhirnya Peningkatan Pemberian ASI utamanya ASI ekslusif 6 bulan menjadi
titik awal dalam upaya peningkatan Sumber Daya Manusia yang berkualitas.
Akhirnya semoga segala upaya dan kerja keras yang kita lakukan dalam rangka
Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia mendapatkan ridho dari Tuhan yang Maha
Kuasa dan akan membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kesadaran Masyarakat Memberi ASI
Memprihatinkan

Tingkat kesadaran masyarakat untuk memberikan air susu ibu (ASI)


kepada bayinya masih sangat memprihatinkan. Yang lebih
menyedihkan, peningkatan pemakaian susu formula sampai tiga kali
lipat.Pernyataan itu disampaikan Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan (Menneg PP) Meutia Hatta Swasono dalam sambutannya
ketika membuka seminar Dukung Ibu untuk Mendapatkan Emas di
Bekasi, kemarin. Seminar itu diselenggarakan dalam rangka
memperingati Pekan ASI Sedunia tahun 2008.

Dia mengemukakan, yang menjadi permasalahan utama rendahnya


penggunaan ASI di Indonesia ada beberapa faktor. Di antaranya,
faktor sosial budaya, kurangnya pengetahuan akan pentingnya ASI,
serta jajaran kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung.
Kurangnya dukungan institusi, dikatakan Meutia, mempunyai
kontribusi cukup besar terhadap rendahnya para ibu memberikan ASI
kepada bayinya.

Karena itu, dia mengimbau agar tiap instansi mempunyai tempat yang
disebut pojok ASI. Tempat itu bisa digunakan bagi para ibu yang
menyusui. Demikian pula di tempat-tempat umum yang kerap
dikunjungi kaum perempuan, hendaknya sudah mulai disediakan
fasilitas untuk menyusui. "Seperti di mal-mal, bandara, atau stasiun,"
ujarnya.

Faktor lain, yang berpengaruh pada rendahnya pemberian ASI


eksklusif 6 bulan, ialah rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat
ASI bagi bayi serta manfaat menyusui bagi ibu. Di samping juga
kurangnya dukungan dari para suami agar istri mau menyusui bayinya.

Pasalnya, keberhasilan ibu menyusui bayinya, kata Menneg PP, tidak


terlepas dari dukungan yang terus-menerus dari suami, di samping
dari pihak keluarga dan petugas kesehatan serta masyarakat dalam
dunia kerja perempuan. Menurut dia, motivasi ibu untuk menyusui
akan bangkit kalau memperoleh rasa percaya diri dan mendapat
informasi tentang menyusui yang benar. Karena itu, sejalan dengan
tema Pekan ASI Sedunia tahun 2008, betapa penting dukungan bagi
ibu untuk menyusui. "Dukungan itu tentunya bertujuan untuk
meningkatkan pemberian ASI," ujarnya.

Apalagi, kata Menneg PP, kesepakatan global yang ditetapkan World


Health Organization (WHO) 2003, pemberian ASI eksklusif harus
segera dimulai satu jam setelah bayi dilahirkan sampai usia bayi
mencapai 6 bulan. Ini karena ASI merupakan makanan terbaik dan
paling cocok untuk bayi.

ASI dapat menjamin pertumbuhan bayi menjadi manusia yang


berkualitas.