Anda di halaman 1dari 15

Saya cukup tercengang saat melihat data dari BNN untuk tersangka narkoba berdasarkan jenis

pekerjaan pada Tahun 2008 sampai 2012 menunjukkan jumlah sangat signifikan, PNS tercatat
1.318, Polri/TNI 1.365, Tani 4.645, Buruh 18.321 Orang. Merupakan jumlah yang sangat besar
dan memengaruhi produktivitas pekerja dalam segala sektor usaha.

Para pekerja yang tersangkut kasus narkoba bermacam-macam pemicunya. Seperti pelarian dari
masalah, gaya hidup, mencari penghasilan tambahan secara instant dan sekadar ingin coba-coba.
Kondisi pekerjaan yang mereka anggap jenuh bisa saja pelariannya adalah narkoba. Saat kondisi
mereka sedang labil, didatangi teman atau pihak yang tak bertanggung jawab yanag memberi
narkoba, suatu kondisi yang empuk bagi pengedar. Pada awalnya dikasih gratis dan diskon tetapi
seterusnya harus membeli. Sampai terjadinya kecanduan. Jika para pekerja di berbagai sektor
sudah kecanduan narkotika dan obat-obat terlarang, bukan hal yang tidak mungkin, produktivitas
mereka akan terganggu. Sehingga pekerjaannya akan terhambat.

Apa saja yang dapat memengaruhi penurunan produktivitas para pekerja tersebut? Pertama,
untuk kalangan mahasiswa yang merupakan calon sumber daya manusia sudah rusak duluan
karena pengaruh narkoba. Sehingga berkurang regenerasi untuk meneruskan apa yang harus
dikaryakan para mahasiswa jika sudah lulus nanti dalam segala sektor.

Untuk kalangann pekerja seperti Pengacara, TNI/Polri jika terkena kasus narkoba, bagaimana
dapat menegakkan hukum secara kuat jika alat negara seperti ini juga menjadi oknum. Segala hal
di masyarakat yang harus dilindunginya malah terbengkalai. Segala masalah akan tertunda dan
menggantung karena gangguan narkoba ini. Berbagai masalah yang menggantung akan berakibat
terhambatnya sebuah keputusan yang dapat memengaruhi produktivitas.

Sedangkan Petani, jika tersandung kasus narkoba, akan lebih parah lagi. Produktivitas padi dan
kualitas panen akan terhambat, karena petani mengalami gangguan fisik akibat narkoba serta
tersandung hukum dan proses rehabilitasi yang memakan waktulama.

Buruh dan karyawan swasta jika tersangkut kasus naroba, akan menghambat produktivitas
karyanya di suatu perusahaan tempatnya bekerja. Berapa banyak buruh yang menjadi malas dan
tak dapat lagi konsentrasi untuk bekerja karena pengaruh narkoba ini sehingga produk yang
dihasilkan suatu perusahaan sedikit dan nilai jualnya kurang.
Akibat dari pengaruh narkoba pada poin-poin diatas adalah akan terjadinya penundaan
produktivitas karena pekerja di masing-masing sektor sebagian terpengaruh narkoba yang
menjadikan fisik dan mentalnya terganggu.. Baik kesehatan maupun psikologisnya. Kebanyakan
mereka rata-rata akan menjadi malas, temperamen dan kacau pikirannya, jadi mana bisa bekerja
dalam kondisi seperti itu?

Saya cukup tercengang saat melihat data dari BNN untuk tersangka narkoba berdasarkan jenis
pekerjaan pada Tahun 2008 sampai 2012 menunjukkan jumlah sangat signifikan, PNS tercatat
1.318, Polri/TNI 1.365, Tani 4.645, Buruh 18.321 Orang. Merupakan jumlah yang sangat besar
dan memengaruhi produktivitas pekerja dalam segala sektor usaha.

Para pekerja yang tersangkut kasus narkoba bermacam-macam pemicunya. Seperti pelarian dari
masalah, gaya hidup, mencari penghasilan tambahan secara instant dan sekadar ingin coba-coba.
Kondisi pekerjaan yang mereka anggap jenuh bisa saja pelariannya adalah narkoba. Saat kondisi
mereka sedang labil, didatangi teman atau pihak yang tak bertanggung jawab yanag memberi
narkoba, suatu kondisi yang empuk bagi pengedar. Pada awalnya dikasih gratis dan diskon tetapi
seterusnya harus membeli. Sampai terjadinya kecanduan. Jika para pekerja di berbagai sektor
sudah kecanduan narkotika dan obat-obat terlarang, bukan hal yang tidak mungkin, produktivitas
mereka akan terganggu. Sehingga pekerjaannya akan terhambat.

Apa saja yang dapat memengaruhi penurunan produktivitas para pekerja tersebut? Pertama,
untuk kalangan mahasiswa yang merupakan calon sumber daya manusia sudah rusak duluan
karena pengaruh narkoba. Sehingga berkurang regenerasi untuk meneruskan apa yang harus
dikaryakan para mahasiswa jika sudah lulus nanti dalam segala sektor.

Untuk kalangann pekerja seperti Pengacara, TNI/Polri jika terkena kasus narkoba, bagaimana
dapat menegakkan hukum secara kuat jika alat negara seperti ini juga menjadi oknum. Segala hal
di masyarakat yang harus dilindunginya malah terbengkalai. Segala masalah akan tertunda dan
menggantung karena gangguan narkoba ini. Berbagai masalah yang menggantung akan berakibat
terhambatnya sebuah keputusan yang dapat memengaruhi produktivitas.
Sedangkan Petani, jika tersandung kasus narkoba, akan lebih parah lagi. Produktivitas padi dan
kualitas panen akan terhambat, karena petani mengalami gangguan fisik akibat narkoba serta
tersandung hukum dan proses rehabilitasi yang memakan waktulama.

Buruh dan karyawan swasta jika tersangkut kasus naroba, akan menghambat produktivitas
karyanya di suatu perusahaan tempatnya bekerja. Berapa banyak buruh yang menjadi malas dan
tak dapat lagi konsentrasi untuk bekerja karena pengaruh narkoba ini sehingga produk yang
dihasilkan suatu perusahaan sedikit dan nilai jualnya kurang.

Akibat dari pengaruh narkoba pada poin-poin diatas adalah akan terjadinya penundaan
produktivitas karena pekerja di masing-masing sektor sebagian terpengaruh narkoba yang
menjadikan fisik dan mentalnya terganggu.. Baik kesehatan maupun psikologisnya. Kebanyakan
mereka rata-rata akan menjadi malas, temperamen dan kacau pikirannya, jadi mana bisa bekerja
dalam kondisi seperti itu?

Sedangkan untuk masyarakat umum sendiri, jika salah satu atau beberapa anggota keluarganya
tersandung kasus narkoba, akan membutuhkan biaya ekstra, jika anggota keluarganya yang
terkena narkoba sedang sakaw, mereka akan memaksa minta uang untuk dibelikan barang haram
tersebut untuk memenuhi kebutuhannya disaat sakaw. Jika tidak dikasih, biasanya akan
menghalalkan segala cara dengan mencuri barang-barang yang ada di rumah untuk dijual dan
dibelikan barang haram tersebut. Dari mulai perhiasan dan barang-barang lainnya. Ada keluarga
teman saya yang adiknya kecanduan narkoba, sampai berani menjual tabung gas yang ada di
dapur karena tak punya uang lagi untuk memenuhi kebutuhannya disaat sakaw. Otomatis,
perilaku tersebut akan sangat merusak kondisi ekonomi keluarga.

Ketika mereka yang tengah kecanduan narkoba ingin berobat dan rehabilitasi, jika kurang
informasi tentang proses rehabilitasi gratis, mereka akan menjalankan mana saja prosesnya yang
mudah walau dengan biaya yang sangat besar. Sehingga pengeluaran terbesar yang dikeluarkan
oleh keluarga adalah alokasi untuk biaya tersebut. Mencakup tempat, obat-obatan dan berbagai
konseling. Masih mending jika keluarga korban narkoba tersebut keluarga mampu, jika
kekurangan, akan berdampak pada terganggunya kebutuhan hidup mereka.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang dampaknya sangat melebar pada kerugian
masyarakat yang menjadi korbannya, tak hanya dalam mengganggu kesehatan, tapi merambah
pada kerugian ekonomi juga. Terbukti karena akibat pengaruh narkoba membuat orang menjadi
malas, temperamen, tidak berpikir logis dan cenderung melakukan tindakan yang tidak
sepatutnya.

Sebagai solusi, ada baiknya penyuluhan anti narkoba dilakukan juga ke berbagai perusahaan
karena disana terdapat banyak pekerja yang memerlukan wawasan bahayanya penyalahgunaan
narkoba. Tak semua pekerja sempat memperoleh informasi tentang bahaya penyalahgunaan
narkoba. Waktu terbatas yang mereka karena sebagian besar dipergunakan untuk kerja dan kerja,
adapun waktu luang mereka manfaatkan untuk kebersamaan bersama keluarga, aktualisasi diri
dan lain-lain. Jarang yang bisa menyempatkan mengakses berita tentang bahaya penyalahgunaan
narkoba seccara spesifik.

Sedangkan untuk memahami bahaya penyalahgunnaan narkoba diperlukan waktu yang cukup
untuk memahami dan mencernanya dari pakar atau narasumber yang kompeten. Sehingga saat
dijelaskan dari A sampai Z mereka akan memahami lebih dalam dan berpikir lebih jauh lagi saat
ingin mencoba-coba memakainya.

Dalam mewujudkan program Indonesia Bergegas dari Badan Narkotika Nasional untuk
Indonesia yang bebas narkoba di Tahun 2015, seluruh elemen masyarakat harus turun untuk
upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Termasuk di kalangan
pekerja yang merupakan salah satu penentu fondasi perekonomian. Karena jika salah satu
fondasi ekonomi hancur disebabkan pembuat karyanya mengalami gangguan kesehatan, bukan
hal mustahil kemerosotan ekonomi akan terjadi.

Kalangan pekerja jangan disepelekan untuk dianggap tidak penting diberikan penyuluhan,
mereka sangat perlu mengetahui hal ini, selain uuntuk dirinya sendiri juga untuk mereka bagikan
lagi informasinya pada anggota keluarganya masing-masing. Untuk perekonomian yang kuat
maka sumber daya manusianya juga harus dilindungi, salah saatunya dengan mencegah dari
bahaya penyalahgunaan narkoba dikalangan pekerja berbagai profesi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen


Anang Iskandar menyatakan bahwa ancaman peredaran dan
penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah memasuki kategori gawat
darurat. Sepanjang tahun 2014, estimasi kerugian ekonomi akibat narkoba
mencapai angka yang fantastis, yakni Rp 63 triliun.

"Jumlah tersebut naik sekitar dua kali lipat dibandingkan tahun 2008, atau
naik 31 persen dari tahun 2011," kata Anang, dalam acara peringatan Hari
Anti-Narkotika Internasional, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (26/6/2015).
Anang menjelaskan, kerugian ekonomi akibat narkoba itu berasal dari
kerugian pribadi Rp 56,1 triliun, dan kerugian sosial Rp 6,9 triliun. Kerugian
pribadi mencakup biaya konsumsi narkoba, sedangkan untuk kerugian sosial
sekitar 78 persen merupakan biaya akibat kematian karena
menyalahgunakan narkoba.

"Angka kematian akibat penyalahgunaan narkoba mencapai 12.044 orang per


tahunnya," ucap Anang.

Ia menuturkan, kondisi darurat narkoba di Indonesia memaksa seluruh


komponen bangsa untuk berperan nyata dalam upaya pencegahan dan
penanganannya. BNN kesulitan menangani masalah ini tanpa ada bantuan
dari lembaga atau kelompok masyarakat lainnya.

Data BNN mengungkapkan, target penyelamatan penyalah guna narkoba


sampai tahun 2020 hanya sekitar 300.000 jiwa. Sedangkan analisa yang
dilakukan bersama Puslitkes Universitas Indonesia jumlah penyalah guna
narkoba di Indonesia pada 2020 bisa meningkat sampai 5 juta jiwa.

Target nasional rehabilitasi pada 2015 sebesar 100.000. Hingga 19 Juni


2015, BNN telah merehabilitasi 9.047 pecandu dan penyalah guna narkoba.

Program rehabilitasi tersebar di empat balai rehabilitasi BNN, Sekolah


Kepolisian Negara, lembaga pemasyarakatan, RSUD, RS/klinik swasta,
puskesmas, dan panti rehabilitasi masyarakat dengan bantuan BNN.

Selain BNN, Kementerian Kesehatan juga telah berhasil merehabilitasi


pecandu dan penyalahguna narkoba sebanyak 4.126 orang, dan Kementerian
Sosial merehabilitasi 3.161 oranf.

"Penyalahgunaan narkoba terbukti telah merusak dan menjadi ancaman


nyata yang membutuhkan penanganan serius dan mendesak," ucap Anang.

Disekitar kita saat ini, banyak sekali zat-zat adiktif yang negatif dan sangat berbahaya bagi
tubuh. Dikenal dengan sebutan narkotika dan obat-obatan terlarang. Dulu, narkoba hanya
dipakai secara terbatas oleh beberapa komunitas manusia di berbagai negara. Tapi kini,
narkoba telah menyebar dalam spektrum yang kian meluas. Para era modern dan
kapitalisme mutakhir, narkoba telah menjadi problem bagi umat manusia diberbagai
belahan bumi. Narkoba yang bisa mengobrak-abrik nalar yang cerah, merusak jiwa dan
raga, tak pelak bisa mengancam hari depan umat manusia.
PEMBAHASAN
A. Macam-macam Narkoba, Pengaruh dan Efek Penggunaannya
1. Cannabis (ganja, cimeng, mariyuana, hashis, rumput, grass)
Ganja bahan aktifnya tetrahidrocanabinol yang dapat membuat hilang kesadaran atau fly / teler.
Efek penggunaan Ganja :
 Gelisah
 Lemas dan ingin tidur terus
 Perasaan gembira dan selalu tertawa untuk hal yang tidak lucu
 Nafsu makan besar
 Persepsi tentang benda berubah
Akibat jangka panjang
- Gangguan memori otak / pelupa
- Sulit berfikir dan konsentrasi
- Suka bengong
2. Ecstasy (inex, kancing)
Tergolong jenis zat psikotropika
Jenisnya antara lain : apel, alladin, elektric, gober, butterfly, dan lain-lain.
Bahan ecstasy sering dicampur dengan zat-zat kimia berbahaya seperti insektisida dan pil KB
Pengaruh menggunakan ecstasy
 Energik – Tidak bisa diam
 Mata sayu – Over acting
 Pusat – Susah tidur
 Berkeringat
Efek penggunaan ecstasy
 Syaraf otak rusak
 Dehidrasi
 Gangguan lever
 Tulang dan gigi keropos
 Tidak nafsu makan
 Waktu tidur terganggu (jet lag)
 Syaraf mata rusak
 Paranoid
3. Shabu-shabu (ubas, ss, mecin)
Nama aslinya methamphetamine. Berbentuk kristal seperti gula atau bumbu penyedap masakan.
Jenisnya antara lain gold river, coconut, dan kristal.
Efek yang ditimbulkan :
 Menjadi bersemangat
 Paranoid
 Gelisah
 Tidak bisa diam
 Tidak ingin makan
 Tidak bisa tidur
 Otak sulit berfikir dan konsentrasi
 Kesehatan terganggu karena menyerang fungsi lever dan darah.
4. Putaw (PT, bedak, putih)
Putaw adalah sejenis heroin dengan kadar lebih rendah (heroin kelas lima atau enam). Zat ini berasal
dari sari bunga opium. Putaw terdiri dari beberapa jenis antara lain banan dan snow whitee.
Bentuknya seperti bedak dan dijual dalam bentuk paket gram atau paketan gauw.
Efek pemakaian putaw
 Mata menjadi sayu – Menjadi pendiam
 Mengantuk – Mata berair
 Pucat – Badan menjadi kurus / mual-mual
 Bicara tidak jelas – Sulit berfikir
 Tidak dapat konsentrasi – Pemarah dan temperamental
 Cadel – Pandai berbohong
 Hidung gatal – Plin-plan
 Menyebabkan kelumpuhan – Kematian bila overdosis
 Terkena gangguan darah dan darah
Sakaw atau sakit karena putau terjadi apabila si pecandu “putus” menggunakan putaw. Sebenarnya
sakaw salah satu bentuk detoksifikasi alamiah yaitu membiarkan si pecandu melewati masa sakaw
tanpa obat. Selain diberikan motivasi dan didampingi.
Gejala yang ditimbulkan :
 Mual-mual
 Mata dan hidung berair
 Sakit perut / diare
 Tulang terasa ngilu
 Badan berkeringat
 Selalu kedinginan
5. Bahan adiktif lainnya seperti :
Lem aica aibon, thinner, bensin, spritus, jamur kotoran kerbau dan kecubung.
Penyalahgunaan narkoba selain merugikan kesehatan diri sendiri juga berdampak negatif terhadap
kehidupan ekonomi dan sosial seseorang. Penyalahgunaan narkoba dapat merusak ekonomi karena
sifat obat yang membuat ketergantungan, dimana tubuh pengguna selalu meminta tambahan dosis
dan dengan harga obat-obatan jenis narkoba yang tergolong relatif mahal maka hal tersebut secara
ekonomis sangat merugikan. Ekonomi keluarga bisa bangkrut bilamana keluarga tidak mampu lagi
membiayai ketergantungan anggotanya terhadap narkoba, bahkan hal ini bisa berdampak buruk yaitu
bisa menimbulkan persoalan kriminalitas seperti pencurian, penodongan bahkan perampokan.
Keharmonisan keluarga pun bisa terganggu manakala salah seorang atau beberapa orang anggota
keluarga menjadi pecandu. Sifat obat yang merusak secara fisik maupun psikis akan berdampak
kepada ketidaknyamanan hubungan sosial dalam keluarga. Penyalahguna narkoba juga menimbulkan
keresahan dalam masyarakat. Perilaku pengguna yang tidak terkontrol dapat mengganggu ketertiban
dan keamanan masyarakat. Terlebih jika dikaitkan dengan timbulnya berbagai penyakit yang
menyertainya seperti Hepatitis, HIV/AIDS, bahkan kematian.
Hal tersebut lebih jauh bisa menyebabkan hancurnya suatu negara, oleh karena itu negara melarang
narkoba. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, menyatakan :
 Pasal 45 : Pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan
 Pasal 36 : Orang tua atau wali pecandu yang belum cukup umur bila sengaja tidak melaporkan
diancam kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak satu juta rupiah.
 Pasal 88 : Pecandu narkotika yang telah dewasa sengaja tidak melapor diancam kurungan
paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak dua juta rupiah, sedang bagi keluarganya
paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak satu juta rupiah.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, menyatakan :
 Pasal 37 ayat (1) : Pengguna psikotropika yang menderita syndrome ketergantungan
berkewajiban ikut serta dalam pengobatan atau perawatan
 Pasal 64 ayat (1) barang siapa : a. menghalang-halangi penderita syndrome ketergantungan
untuk menjalani pengobatan dan/atau perawatan pada fasilitas rehabilitasi sebagaimana
dimaksudkan dalam pasal 37, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak 20 juta rupiah.
Bahaya yang timbul dari penyalahgunaan narkoba ini secara umum sebagai berikut :
Aspek fisik
- Gagal ginjal
- Perlemakan hati, pengkerutan hati, kanker hati
- Radang paru-paru, radang selaput paru, TBC paru
- Rentan terhadap berbagai penyakit hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV/AIDS
- Cacat janin
- Impotensi
- Gangguan menstruasi
- Pucat akibat kurang darah (anemia)
- Penyakit lupa ingatan/pikun
- Kerusakan otak
- Pendarahan lambung
- Radang pankreas
- Radang syaraf
- Mudah memar
- Gangguan fungsi jantung
- Menyebabkan kematian
Aspek psikologis
 Emosi tidak terkendali
 Curiga berlebihan sampai pada tingkat Waham (tidak sejalan antara pikiran dan kenyataan)
 Selalu berbohong
 Tidak merasa aman
 Tidak mampu mengambil keputusan yang wajar
 Tidak memiliki tanggung jawab
 Kecemasan yang berlebihan dan depresi
 Ketakutan yang luar biasa
 Hilang ingatan (gila)
Aspek sosial
 Hubungan dengan keluarga, guru, dan teman serta lingkungannya terganggu
 Mengganggu ketertiban umum
 Selalu menghindari kontak dengan orang lain
 Merasa dikucilkan atau menarik diri dari lingkungan positif
 Tidak peduli dengan norma dan nilai yang ada
 Melakukan hubungan seks secara bebas
 Tidak peduli dengan norma dan nilai yang ada
 Melakukan tindakan kekerasan, baik fisik, psikis maupun seksual
 Mencuri.
Penyalahgunaan narkoba umumnya terjadi pada kaum remaja yang tinggal di perkotaan.
Mereka biasanya mempunyai sifat kosmopolit, relatif tidak cepat menikah karena harus
menempuh masa belajar hingga jenjang universitas, bahkan hingga memperoleh pekerjaan
dianggap layak. Pada masa itulah mereka hidup dalam pancaroba; antara kanak-kanak dan
kedewasaan, baik fisik, mental, maupun sosio-kulturalnya. Ia hidup antara kebebasan dan
ketergantungan kepada orang tuanya; mereka ada dalam pembentukan nilai-nilainya
sendiri serta sikapnya, baik sikap keagamaan, maupun sikap kultural dan sosialnya.
Remaja sedang mencari identitas sikapnya terhadap lingkungan dan sesamanya. Dalam
kondisi yang serba mendua itulah seringkali remaja tergelincir ke jalur kenakalan, yang
disebut juvenile delinquency. Pada masa itu banyak remaja yang melakukan kenakalan,
pelanggaran hukum, bahkan tindak kriminal. Motivasinya ialah karena ingin mendapatkan
perhatian “status sosial”, dan penghargaan atas eksistensi dirinya.
Dengan kata lain, kenakalan remaja merupakan bentuk pernyataan eksistensi diri di
tengah-tengah lingkungan dan masyarakatnya, bukan kenakalan semata. Salah satu
penyimpangan perilaku ini adalah perilaku seksual. Sementara salah satu bentuk
pelanggaran hukum ialah meminum minuman keras, obat terlarang hingga ganja dan zat
adiktif lainnya.
Adapun faktor lain yang beresiko tinggi sehingga remaja dapat menggunakan narkoba,
diantaranya :
 Keluarga yang kacau balau, terutama adanya orang tua yang menjadi penyalahguna narkoba
atau menderita sakit mental
 Orang tua dan anak kurang saling memberi kasih sayang dan pengasuhan
 Anal/remaja yang sangat pemalu
 Anak yang bertingkah laku agresif
 Gagal dalam mengikuti pelajaran di sekolah
 Miskin ketrampilan sosial
 Bergabung dengan kelompok sebaya yang berperilaku menyimpang
 Tidak bisa berkomunikasi dengan orang tua
 Tidak berada dalam pengawasan orang tua
 Suka mencari sensasi
 Dikucilkan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya
 Tidak mau mengikuti aturan / norma / tata tertib
 Rencah penghayatan spiritualnya.
Ciri-ciri penyalahguna narkoba
Perubahan fisik dan lingkungan sehari-hari
 Jalan sempoyongan, bicara pelo, tampak terkantuk-kantuk
 Kamar tidak mau diperiksa atau selalu dikunci
 Sering didatangi atau menerima telepon orang-orang yang tidak dikenal
 Ditemukan obat-obatan, kertas timah, jarum suntik, korek api di kamar/di dalam tas.
 Terdapat tanda-tanda bekas suntikan atau sayatan
 Sering kehilangan uang/barang di rumah
Perubahan psikologis
- Malas belajar
- Mudah tersinggung
- Sulit berkonsentrasi
Perubahan perilaku sosial
 Menghindari kontak mata langsung
 Berbohong atau memanipulasi keadaan
 Kurang disiplin
 Bengong atau linglung
 Suka membolos
 Mengabaikan kegiatan ibadah
 Menarik diri dari aktivitas bersama keluarga
 Sering menyendiri atau bersembunyi di kamar mandi, di gudang atau tempat-tempat tertutup.
B. Narkoba dan Agama
Narkotika dan minuman keras telah lama dikenal umat manusia. Tapi sebenarnya lebih
banyak madharatnya daripada manfaatnya. Untuk itu, hampir semua agama besar
melarang umat manusia untuk mengkonsumsi narkotika dan minuman keras (dalam bentuk
yang lebih luas lagi adalah narkoba)
Dalam wacana Islam, ada beberapa ayat al-Qur’an dan hadits yang melarang manusia
untuk mengkonsumsi minuman keras dan hal-hal yang memabukkan. Pada orde yang lebih
mutakhir, minuman keras dan hal-hal yang memabukkan bisa juga dianalogikan sebagai
narkoba. Waktu Islam lahir dari terik padang pasir lewat Nabi Muhammad, zat berbahaya
yang paling populer memang baru minuman keras (khamar). Dalam perkembangan dunia
Islam, khamar kemudian bergesekan, bermetamorfosa dan beranak pinak dalam bentuk
yang makin canggih, yang kemudian lazim disebut narkotika atau lebih luas lagi narkoba.
Untuk itu, dalam analoginya, larangan mengonsumsi minuman keras dan hal-hal yang
memabukkan, adalah sama dengan larangan mengonsumsi narkoba. Ada dua surat al-
Qur’an dan dua hadits yang coba dilansir disini, yang terjemahannya kira-kira begini :
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS Al-Maidah :
90)
Kemudian ayat yang kedua:
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di
antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan
itu)”. (QS Al-Maidah : 91)
Perbuatan setan adalah hal-hal yang mengarah pada keburukan, kegelapan, dan sisi-sisi
destruktif manusia. Ini semua bisa dipicu dari khamar (narkoba) dan judi karena bisa
membius nalar yang sehat dan jernih. Khamar (narkoba) dan judi sangat dekat dengan
dunia kejahatan dan kekerasan, maka menurut al-Qur’an khamar (narkoba) dan judi
potensial memicu permusuhan dan kebencian antar sesama manusia. Khamar dan judi
juga bisa memalingkan seseorang dari Allah dan shalat.
Selain dua ayat al-Qur’an di atas, juga ada hadits yang melarang khamar/minuman keras
(baca : narkoba), yaitu :
“Malaikat Jibril datang kepadaku, lalu berkata, ‘Hai Muhammad, Allah melaknat minuman
keras, pembuatnya, orang-orang yang membantu membuatnya, peminumnya, penerima
dan penyimpannya, penjualnya, pembelinya, penyuguhnya, dan orang yang mau disuguhi”.
(HR. Ahmad bin Hambal dari Ibnu Abbas)
Kemudian hadits yang kedua :
“Setiap zat, bahan atau minuman yang dapat memabukkan dan melemahkan adalah
khamar, dan setiap khamar haram”. (HR. Abdullah bin Umar).
Jelas dari hadits di atas, khamar (narkoba) bisa memerosokkan seseorang ke derajat yang
rendah dan hina karena dapat memabukkan dan melemahkan. Untuk itu, khamar (dalam
bentuk yang lebih luas adalah narkoba) dilarang dan diharamkan. Sementara itu, orang
yang terlibat dalam penyalahgunaan khamar (narkoba) dilaknat oleh Allah, entah itu
pembuatnya, pemakainya, penjualnya, pembelinya, penyuguhnya, dan orang yang mau
disuguhi.
Bukan hanya agama Islam, beberapa agama lain juga mewanti-wanti (memberi peringatan
yang sungguh-sungguh) kepada para pemeluknya atau secara lebih umum umat manusia,
untuk menjauhi narkoba.
C. Pencegahan Dan Solusi Penyalahgunaan Narkoba
Faktor yang dapat mencegah remaja menggunakan narkoba :
 Ikatan yang kuat di dalam keluarga
 Pengawasan orang tua yang didasarkan pada aturan tingkah laku yang jelas dan pelibatan
orang tua dalam kehidupan anak/remaja
 Keberhasilan di sekolah
 Ikatan yang kuat di dalam institusi pro-sosial seperti keluarga, sekolah, dan organisasi-
organisasi keagamaan.
 Menerima norma kebiasaan tentang larangan penggunaan narkoba.
 Keluarga harus dapat menciptakan komunikasi yang lebih baik
 Disiplin, tegas dan konsisten dengan aturan yang dibuat
 Berperan aktif dalam kehidupan anak-anak
 Memonitor aktivitas mereka
 Mengetahui dengan siapa anak/remaja bergaul
 Mengerti masalah dan apa yang menjadi perhatian mereka
 Orang tua harus menjadi panutan
 Orang tua menjadi teman diskusi
 Orang tua menjadi tempat bertanya
 Mampu mengembangkan tradisi keluarga dan nilai-nilai keagamaan
 Menggali potensi anak untuk dikembangkan melalui berbagai macam kegiatan.
Solusi yang dapat dilakukan ketika ada anggota keluarga yang menggunakan narkoba :
 Berusaha tenang, kendalikan emosi, jangan marah dan tersinggung
 Jangan tunda masalah, hadapi kenyataan, adakan dialog terbuka dengan anak
 Dengarkan anak, beri dorongan non verbal. Jangan memberi ceramah/nasehat berlebih
 Hargai kejujuran
 Jujur terhadap diri sendiri, jangan merasa benar sendiri
 Tingkatkan hubungan dalam keluarga, rencanakan membuat kegiatan bersama-sama keluarga
 Cari pertolongan, cari bantuan pihak ketiga yang paham dalam menangani narkoba atau tenaga
profesional, puskesmas, rumah sakit, panti/tempat rehabilitasi.
 Pendekatan kepada orang tua teman anak pemakai narkoba, ungkapkan dengan hati-hati dan
ajak mereka bekerja sama menghadapi masalah.

PENDAHULUAN
Untuk membangun masyarakat yang sejahtera khususnya di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dilandasi dengan membangun manusia bermoral serta beretika, karena hal tersebut adalah tugas
mulia yang harus dilaksanakan untuk bisa terhindar dari kerusakan dan hilangnya nilai luhur
kebudayaan dan menjadikan PNS sebagai sosok manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan
kepribadian bangsa yaitu manusia Indonesia yang bermoral berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
dengan memperhatikan :
(1) Modernisasi dan Pembangunan. Dampak Positif : Dampak dari modernisasi dan
pembangunan adalah semata-mata untuk kemajuan dalam pembangunan yang dilakukan secara
menyeluruh diseluruh wilayah tanah air mulai dari sabang sampai merauke. Dampak negatif:
Masyarakat kontemporer dalam berbagai realitas baru kehidupan ,sehingga manusia sering merasa
: Kenyamanan , Keterpesonaan, Kesempurnaan penampilan serta Kebebasan hasrat. Disamping
itu menyebabkan : hilangnya realitas masa lalu, kearifan-kearifan masa lampau yang justru lebih
berharga seperti kebersamaan, keindahan, semangat spiritualitas, moralitas, Etika serta komunitas.
(2) Masyarakat Kontemporer dalam Proses Modernisasi. Masyaqrakat kontemporer dalam
modernisasi sering Hanyut dalam sirkulasi komoditi hampir keseluruh sudut kehidupan, al: sirkulasi
seksualitas serta pengumbaran hawa nafsu melalui pergaulan bebas. Saat ini telah menjajah hampir
setiap sudut ruang kehidupan dan lenyaplah dimensi rahasia, fantasi, moral etika menjadi kehidupan
yang serba bebas tanpa batas yang justru dapat menjerumuskan masyarakat ke dalam peredaran
dan penyalahgunaan narkoba
(3) Program Aksi dalam Kegiatan Edukasi. Dipandang perlu menyelenggarakan program aksi
yang berisi kegiatan edukasi bagi remaja dan masyarakat tentang pengetahuan, pencegahan
peredaran, dan penyalahgunaan narkoba. Untuk mengatasi hal tersebut sudah saatnya pemerintah
bertindak untuk melaksanakan program aksi.
(4) Fenomena. Seorang aparat yang kecanduan narkoba, dihawatirkan akan menempuh jalan
pintas untuk mendapatkan uang melalui cara-cara kotor seperti korupsi. Darwis (Ketua Jurusan
Sosiologi Fakultas Sospol Unhas) mengemukakan, seorang pejabat publik yang tersangkut kasus
narkoba berakibat pada kualitas pelayanan publik. “Bisa jadi dia emosional sehingga bertindak
brutal saat melayani masyarakat,” ujarnya. Karena itu, lanjut dia, tidak boleh ada ampun bagi
pajabat publik yang tersangkut narkoba. Besarnya ancaman dari data yang ada pada laporan akhir
2006 mencapai 4000 orang di Bali diestimasikan darahnya mengandung HIV. Di seluruh dunia 26
juta orang telah meninggal akibat AIDS, dan 4,3 juta orang telah terinveksi HIV di tahun
2006.Secara fenomena penularan terutama akibat perilaku yang beresiko diantar pengguna spuit
NAPZA dan diantara pelanggan dan PSK.
(5) AKIBAT. Akibat dari permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan narkoba efeknya terhadap
individu Pegawai Negeri Sipil adalah : Prestasi kerja merosot, Hubungan terhadap keluarga
memburuk, Konflik dan tindak kekerasan, Kecelakaan lalu lintas,Daya tahan/imunitas menjadi
rapuh dll.
(6) Permasalahan yang timbul dari penyalahgunaan Narkoba : (1) Mengapa seseorang Mudah
Menyalahgunakan Narkoba ?; (2) Apa saja Ciri-ciri Penyalahguna Narkoba ?; (3) Apa saja
Dampaknya terhadap institusi, Keamanan,Politik, Sosial dan yang lain ? (4) Bagaiman Cara
Penanggulangan Peredaran Narkoba ?; (5) Bagaimana Strategi Penanganannya ?
(7) Tujuan dari Penanganan Masalah Narkoba. Penanganan masalah narkoba bertujuan untuk :
(1) Menghindari pegawai dari peredaran dan penyalahgunaan Narkoba, (2) Untuk mengetahui ciri-
ciri penyalahguna Narkoba, (3) Untuk mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan bila
menyalahgunakan Narkoba, (4) Untuk mensosialisaikan program aksi anti penyalahgunaan Narkoba
dan pencegahan HIV / AIDS.
(8) Hasil Yang Diharapkan dari Penanganan Masalah Narkoba. Penanganan masalah narkoba
diharapkan dapat menghasilkan, seperti : (1)Tersosialisasikannya pelaksanaan kegiatan
pencegahan perdaran dan penyalahgunaan Narkoba, (2) Tumbuhnya organisasi untuk
melaksanakan program kegiatan pencegahan peredaran Narkoba baik di lembaga institusi maupun
di masyarakat, (3) Terlaksananya gerakan aksi dalam pencegahan peredaran dan penyalahgunaan
Narkoba
PENGERTIAN NARKOBA. Definisi secara umum narkoba : (1) Narkoba adalah zat, baik alamiah
maupun buatan yang bisa digunakan dengan berbagai cara, yaitu ditelan, diminum, dihisap, dihirup,
disuntikan, (2) Zat-zat ini mempengaruhi otak dan khususnya sistem saraf pusat yang mengontrol
sebagian besar fungsi motorik dan psikologis tubuh sehingga mengakibatkan perubahan dalam cara
berpikir, perasaan, dan perilaku seseorang.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA : Faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan narkoba adalah : (1) Faktor Individu yakni yang
berkaitan dengan adanya tuntutan perasaan ingin tahu dan ingin mencoba, ingin untuk dapat
diterima teman, ingin mendapatkan perhatian dan disukai, ingin tampil beda atau agar dapat
dipandang keren, mencari kenikmatan hidup sesaat tanpa memikirkan akibat buruk masa yang akan
datang dsbnya; (2) Faktor Lingkungan yakni yang terkait adanya peluang atau kesempatan,
lingkungan keluarga yang tidak sehat , lingkungan yang rawan narkoba bahwa menggunakan
narkoba adalah keren dan lumrah; (3) Faktor Harga Diri, ada kalanya seseorang menganggap harga
dirinya sangat tinggi sampai terjebak narkoba (pesta-pesta seperti pesta narkoba, harga diri remaja
yang bersangkutan terpukul karena ia sendiri tidak memakai narkoba. Maka ia pun akan
mengkonsumsi narkoba secara tetap); (4) Faktor lainnya seperti; ketidak tahuan akan narkoba dan
akibat buruknya, enggan, masa bodo (tidak perduli), dipandang belum merupakan ancaman yang
serius, dll.
CIRI-CIRI PENYALAHGUNA NARKOBA. Ciri-ciri seseorang terpapar narkoba dapat dilihat dari
adanya perubahan fisik dan lingkungan sehari-hari : (1)Berbicara pelo, tampak sering terkantuk-
kantuk, jalan sempoyongan,(2) Sering didatangi dan sering menerima telepon,(3) Ditemukan obat-
obtan, kertas timah, jarum suntik, korek api didalam kamar/didalam tas, (4) Terdapat tanda-tanda
bekas suntikan atau sayatan, (5) Sering kehilangan uang dirumah,dll.Disamping ciri-ciri yang
dijabarkan diatas sebelumnya timbul gejala dini bagi penyalahguna narkoba antara lain : (1) Susah
untuk diajak berkomunikasi, (2) Mulai sulit untuk diajak terlibat dalam kegiatan keluarga, (3) Mulai
pulang terlambat tanpa alasan yang jelas, (4) Mudah tersinggung, (5) Mulai berani bolos/mangkir
kerja,dll.
DAMPAK PENYALAHGUNAAN NARKOBA. Dampak penyalahgunaan narkoba dapat terjadi di
beberapa aspek kehidupan, diantaranya :
Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap organisasi pemerintah, diantaranya dapat: (1)
Menurunnya produktivitas kerja, (2) Meningkatnya korupsi, (3) Menurunnya mutu kinerja, (4)
Menurunnya tingkat kehadiran secara kualitatif dan kuantitatif;
Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap aspek keamanan dan politik adalah : (1)
Meningkatkanya kriminalitas, (2) Terjadinya deskriminasi di masyarakat, akan berdampak dibidang
keamanan dan ketertiban masyarakat. Hal ini jelas akan berakibat luas pada segi pembangunan
yang akhirnya akan memberi dampak dalam bidang politik. (3) Dampak negatif penyalahgunaan
narkoba pada kondisi sosial, ekonomi, kesehatan, budaya dan agama yang merupakan sendi-sendi
vital kehidupan suatu Negara yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama pertahanan
kemanan (IPOLEKSOSBUDHANKAM). Hal demikian menyebabkan terjadinya ketidakstabilan politik
dan kemelut politik yang panjang dan tentunya akan menghambat laju pembangunan nasional.
Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap aspek ekonomi adalah : (1) Secara mikro,
Penyalahgunaan narkoba menghabiskan biaya besar yang membebani keluarga yang
bersangkutan; (2) Secara makro, menimbulkan kerugian yang amat sangat besar bagi bangsa dan
Negara seperti rendahnya mutu atau hancurnya SDM generasi bangsa.
Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap aspek Yuridis: a) Tindak Pidana Narkoba :Sanksi
bagi pelaku penyalahgunaan Narkotika sesuai UU No. 22 Th. 1997, diklasifikasikan sebagai berikut:
(1) Sebagai pengguna: dikenakan ketentuan pidana pasal 78 dengan pidana 4 tahun, (2) Sebagai
pengedar : dikenakan ketentuan pidana pasal 81 dengan ancaman hukuman paling lama 20
tahun/seumur hidup/mati + denda, (3) Sebagai produsen: dikenakan ketentuan pidana pasal
80dengan ancaman hukuman paling lama 20 tahun/seumur hidup/mati + denda. b) Tindak Pidana
Psikotropika: Sanksi bagi pelaku penyalahgunaan Psikotropika menurut UU No. 5 tahun
1997adalah sabagai berikut: (1) Sebagai pengguna: dikenakan ketentuan pasal 59 dan 62 dengan
ancaman hukuman minimal 4 tahun , maksimal 15 tahun + denda, (2) Sebagai pengedar :
dikenakan ketentuan pasal 59 dan 60 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun + denda,
(3) Sebagai produsen : dikenakan ketentuan pasal 80, dengan ancaman hukuman maksimal 15
tahun + denda.
Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap medis, antara lain
:(1) Kesehatan ”Penyalahgunaan narkoba akan berdampak pada gangguan kesehatan yang
bersifat kompleks diantaranya : merusak organ tubuh seperti jantung, ginjal, susunan saraf pusat,
paru-paru bahkan sampai pada kematian”, (2) Mental ”Merubah sikap dan perilaku secara drastis,
karena gangguan persepsi daya pikir, kreasi dan emosi sehingga perilaku menjadi menyimpang
dan tidak mampu hidup secara wajar”.
Dampak Sosial. a) Terhadap pribadi, seperti : (1) Merubah kepribadian secara drastis, pemurung,
pemarah dan tidak takut dengan siapapun, (2) timbul sikap masa bodoh, lupa sekolah (membolos),
(3) semangat belajar dan bekerja menurun bahkan dapat seperti orang gila, (4) tidak ragu
melakukan seks bebas karena lupa dengan norma-norma, (5) tidak segan-segan menyiksa diri
untuk menghilangkan rasa nyeri atau menghilangkan sifat ketergantungan obat bius, (6) pemalas
bahkan hidup santai; b) Terhadap keluarga, seperti : (1) tidak segan-segan untuk mencuri uang
ataupun menjual barang dirumah untuk membeli narkob, (2) tidak menghargai harta milik dirumah,
seperti memakai kendaraan sembrono, hingga rusak bahkan sampai hancur, (3) Mengecewakan
harapan keluarga, keluarga merasa malu di masyarakat; c) Terhadap kehidupan sosial : (1)
Berbuat tidak senonoh (jahil/tidak sopan) terhadap orang lain, (2) Tidak segan mengambil milik
tetangga untuk membeli narkoba, (3) Menganggu ketertiban umum seperti menganggu lalulintas, (4)
Menimbulkan bahaya bagi ketentraman dan keselamatan umum, misalnya tidak menyesal bila
melakukan kesalahan.
CARA PENANGGULANGAN. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam penanggulangan
NARKOBA, diantaranya : a) HARM REDUCTION (Pengurangan Dampak Buruk) adalah upaya
pengurangan dampak buruk akibat penyalahgunaan narkoba yang meliputi berbagai aspek mulai
dari pengurangan iklan rokok hingga mempopulerkan program vaksinasi hepatitis dan penyebaran
virus HIV/AIDS bagi kalangan pengguna suntikan (IDU). Pengurangan dampak buruk akibat
penyalahgunaan narkoba lebih pada tujuan pragmatis jangka pendek dari pada tujuan idealis jangka
panjang.b)SUPPLY CONTROL (Pengawasan Jalur Edar Gelap Narkoba) adalah upaya untuk
mencegah pemasokan narkoba yang lebih mengutamakan langkah-langkah penegakan hukum
terutama menyasar kepada pembuatan dan perdagangan narkoba. Dalam upaya mencegah
pemasok narkoba illegal berhubungan dengan tahapan yang harus dilalui narkoba tersebut dalam
proses pembuatan dan peredarannya hingga sampai ke tangan konsumen.c) DEMAND
REDUCTION (Pengurangan Permintaan akan Narkoba) adalah upaya untuk mengurangi,
menekan, atau menghilangkan permintaan narkoba yang harus dilakukan dengan pemahaman yang
mendalam dan harus dengan pragmatis dalam menentukan pilihan. Strateginya meliputi pendidikan,
penyediaan alternative kegiatan serta meliputi juga terapi terhadap pengguna narkoba untuk
mengurangi konsumsi narkoba mereka.
STRATEGI PENANGANAN. Secara prinsip penanggulangan penyalahgunaan Narkoba akan lebih
baik dan efektif jika dilakukan sejak dini (upaya preventif) secara simultan dan holistic, yaitu sinergi
peran keluarga/orang tua, masyarakat termasuk pemuda, aparat kepolisian dan individu pemakai
yang bersangkutan. Strategi penanaganan tersebut dapat dilakukan dengan :
Pendeteksian terhadap personal : (1) Perhatikan perubahan pada diri personal (bohong, bengong,
bolos, bego dan bodoh); (2) Perhatikan prestasi, aspirasi dan masalah yang ada diinstitusi; (3)
Perhatikan kegiatan religius dan harga diri personal; (4) Perhatikan perubahan emosi dan hubungan
personal di institusi, di keluarga dan masyarakat;
Pendekatan psikologis.Supaya pendekatan bisa berjalan efektif dan efisien perlu diberhatikan
berbagai faktor dalam pendekatan psikologis , diantaranya : (a) Faktor Individu : (1) Ciptakan
hubungan yang akrab dalam keluarga, (2) Ciptakan kesadaran bahwa keberhasilan dan kegagalan
merupakan usaha sendiri, orang lain hanya fasilitator, (3) Libatkan secara intensif personal yang
bersangkutan terhadap aktivitas keagamaan; (b) Faktor Keluarga ; (1) Ciptakan kedamaian dan
keharmonisan dalam keluarga, (2) Hilangkan jarak antara di antara anggota keluarga dengan
membangun suasana demokratis dan simpatik, (3) Ciptakan komunikasi yang sehat, komunikatif
dan produktif; (c) Faktor sesama PNS, organisasi dan lingkungan : (1) perhatikan kinerjanya dan
terus memberi semangat, (2) cermati latar belakang dan perilaku teman-teman terdekat PNS yang
bersangkutan, (3) cermati jika ada perubahan kebiasaan PNS yang bersangkutan dari biasanya, (4)
lakukan pengawasan terhadap fasilitas yang digunakan, jika ada hal yang aneh; (d) Faktor
Pendidikan ; (1) Pendidikan formal, seperti Pendidikan SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, (2)
Pendidikan non-formal, seperti melalui program kesetaraan, life skill, dll , (3) Pendidikan informal :
Pendidikan dalam keluarga melalui penanaman nilai-nilai moral dan etika, spiritual dsb.
KESIMPULAN. Dari apa yang sudah dipaparkan diatas dapat disimpulkan : (1) Faktor-faktor yang
dapat menyebabkan terjadinya penyalahgunaan narkoba antara lain, faktor individu, faktor
lingkungan dan faktor harga diri; (2) Ciri-ciri penyalahguna narkoba antara lain akan melakukan
apapun untuk memperoleh narkoba, jika tidak mendapatkan narkoba akan bertindak sangat brutal
bahkan sampai seperti orang gila; (3) Penyalahgunaan narkoba berdampak pada berbagai aspek
antara lain pendidikan, ekonomi, keamanan, sosial, yuridis dan lain sebagainya.