Anda di halaman 1dari 17

TUGAS DASAR KESEHATAN REPRODUKSI DAN

KESEHATAN IBU DAN ANAK


CA SERVIKS

Carenina Kurnia Silitonga (161000302) Rudolfo putra (161000249)


Philip Polin Tampubolon (161000275) Fitra nugraha (161000267)
Yenni S Simanungkalit (161000273) M. Ari cahyadi (161000314)
Anggie Nikita Silvia M (161000317) Ajeng Daviana (161000293)
Shinta Gabriel Febriana (161000311) Rhegina octavia (161000261)
Sari Melati Napitupulu (161000269) Cindy Natasya (161000274)
Nathania pamphila (161000284) Jessica Sharon (161000304)
Crissanti Pandiangan (161000243) Eva Yulia (161000256)
Lorianna Butarbutar (161000242) Novea Rodearni (161000247)
Joshua louisendrike T (161000290) Widya Anastasyia (161000241)
Helfrida Sitanggang (161000319) Pandu wiranata (161000260)
Desy C Panjaitan (161000305)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................................. 1
BAB I .............................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 3
1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................................................ 3
1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................................................ 4
BAB II ............................................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ............................................................................................................................ 5
2.1 PENGERTIAN KANKER SERVIKS ........................................................................................... 5
2.2 EPIDEMIOLOGI KANKER SERVIKS ....................................................................................... 5
2.3 PENYEBAB KANKER SERVIKS ............................................................................................... 6
2.4 TANDA DAN GEJALA KANKER SERVIKS ............................................................................... 7
2.5 FAKTOR RISIKO KANKER SERVIKS ...................................................................................... 8
2.6 DIAGNOSA KANKER SERVIKS ............................................................................................. 11
2.7 PENCEGAHAN KANKER SERVIKS........................................................................................ 12
2.8 PROGNOSIS KANKER SERVIKS ........................................................................................... 15
BAB III......................................................................................................................................... 17
PENUTUP .................................................................................................................................... 17
3.1 KESIMPULAN ....................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 18
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari program kesehatan dan
merupakan titik pusat sumber daya manusia mengingat pengaruhnya terhadap setiap orang
dan mencakup banyak aspek kehidupan sejak dalam kandungan sampai pada kematian
(Saifudin, 2003).
Persoalan kesehatan reproduksi bukan hanya mencakup persoalan kesehatan reproduksi
wanita secara sempit dengan mengkaitkan seputar wanita usia subur yang sudah menikah,
namun mencakup pada setiap tahap dalam lingkungan hidup mulai sejak masa kanak-kanak,
remaja, dewasa reproduktif baik menikah maupun tidak hingga pada wanita menopause. Agar
dapat melaksanakan fungsi reproduksi secara sehat setiap wanita hendaknya terbebas dari
kelainan atau penyakit, baik langsung maupun tidak langsung mengenai organ reproduksi.
Salah satu kondisi diataas adalah adanya kanker pada organ reproduksi (Harahap, 2008).
Kanker pada organ reproduksi yang paling banyak terjadi adalah kanker serviks.
Kanker serviks terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang
tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi
beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel- sel tersebut biasanya
memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker
(Ramli, dkk 2002)
Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat
penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila
program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun
dijumpai 500.000 penderita baru diseluruh dunia dan umumnya terjadi di negara berkembang
(Aziz et al, 2006).
Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan perilaku sel epitel
serviks. Insidensi dan mortalitas kanker serviks. Insidensi dan mortalitas kanker serviks di
dunia menempati urutan kedua setelah kanker payudara. Sementara di negara berkembang
masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian kanker pada wanita usia
produktif. Hampir 80% kasus berada dinegara berkembang (Aziz er al,2006).
Di Indonesia, penyakit kanker menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematian,
64% penderitana adalah perempuan yaitu menderita kanker leher rahim dan kanker payudara.
Riset kesehtan antara dasar tahun 2007 menunjukan prevalensi kanker di Indonesia adalah
4,3 per 1000 penduduk, Setiap tahun ditemukan kurang lebih 500.000 kasus baru kanker
serviks dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang. Data yang berhasil dihimpun
oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukan bahwa angkakejadian kanker di
Indonesia sampai saat ini diperkirakan setiap tahunmuncul sekitar 200.000 kasus baru dimana
jenis terbesar kanker tersebutadalah kanker serviks (Ginting, 2012).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian dari Kanker Serviks?
2. Bagaiamana keadaan Epidemiologi Kanker Serviks?
3. Apa saja Penyebab Kanker Serviks?
4. Apa Tanda dan Gejala dari Kanker Serviks?
5. Apa saja Faktor Risiko Kanker Serviks?
6. Bagaimana Diagnosa Kanker Serviks?
7. Bagaimana Pencegahan Kanker Serviks?
8. Apa saja Prognosis Kanker Serviks?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kanker Serviks


Pengertian Kanker serviks adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada leher rahim,
sehingga jaringan di sekitarnya tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya.
Keadaan tersebut biasanya disertai dengan adanya perdarahan dan pengeluaran cairan vagina
yang abnormal, penyakit ini dapat terjadi berulang-ulang (Prayetni, 2007).
Kanker serviks dimulai dengan adanya suatu perubahan dari sel leher rahim normal
menjadi sel abnormal yang kemudian membelah diri tanpa terkendali. Sel leher rahim yang
abnormal ini dapat berkumpul menjadi tumor. Tumor yang terjadi dapat bersifat jinak
ataupun ganas yang akan mengarah ke kanker dan dapat menyebar (Rasjidi. I, 2007). Dari
dua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kanker serviks adalah kanker yang terjadi
pada leher rahim dengan hiperplasi sel jaringan sekitar sampai menjadi sel yang membesar,
menjadi borok/luka yang mengeluarkan cairan yang berbau busuk.
Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel yang tidak normal pada jaringan leher Rahim
(serviks), suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah
rahim yang terletak antara uterus dan vagina (Diananda, 2009). Menurut data Departemen
Kesehatan RI, penyakit kanker serviks saat ini menempati urutan kedua daftar kanker yang
diderita kaum wanita, yang disebabkan oleh infeksi virus HPV (Human Papilloma Virus)
pada saluran reproduksi wanita (Diananda, 2009). Sedangkan menurut (Laras, 2009) kanker
serviks adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada jaringan leher rahim (serviks). Kanker
serviks merupakan kanker primer yang berasal dari serviks (kanker servikalis atau porsio).
Serviks adalah bagian ujung depan rahim yang menjulur ke vagina.

2.2 Epidemiologi Kanker Serviks


Untuk wilayah ASEAN, insidens kanker serviks di Singapore sebesar 25,0 pada ras
Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk. Insidens
dan angka kematian kanker serviks menurun selama beberapa dekade terakhir di AS. Hal ini
karena skrining Pap menjadi lebih populer dan lesi serviks pre-invasif lebih sering dideteksi
daripada kanker invasif. Diperkirakan terdapat 3.700 kematian akibat kanker serviks pada
2006. Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker mulut rahim setiap
tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat laboratorium patologi,
kanker serviks merupakan penyakit kanker yang memiliki jumlah penderita terbanyak di
Indonesia, yaitu lebih kurang 36%. Dari data 17 rumah sakit di Jakarta 1977, kanker
serviks menduduki urutan pertama, yaitu 432 kasus di antara 918 kanker pada perempuan.
Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, frekuensi kanker serviks sebesar 76,2% di antara
kanker ginekologi. Terbanyak pasien datang pada stadium lanjut, yaitu stadium IIB-IVB,
sebanyak 66,4%. Kasus dengan stadium IIIB, yaitu stadium dengan gangguan fungsi
ginjal, sebanyak 37,3% atau lebih dari sepertiga kasus.
Relative survival pada wanita dengan lesi pre-invasif hampir 100%. Relative 1 dan 5
years survival masing- masing sebesar 88% dan 73%. Apabila dideteksi pada stadium awal,
kanker serviks invasif merupakan kanker yang paling berhasil diterapi, dengan 5 YSR
sebesar 92% untuk kanker lokal. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut,
keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber
daya, keterbatasan sarana.

2.3 Penyebab Kanker Serviks


Penyebab Kanker serviks tidak diketahui secara pasti. Menurut Prayetni, (2007),
beberapa faktor predisposisi kanker serviks antara lain yaitu:
1. HPV (Human Papilloma Virus) adalah virus penyebab kutil genetalia (kondiloma
akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya
adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56. Sekitar 90-99% jenis kanker serviks disebabkan
oleh HPV. Virus ini bisa ditransfer melalui hubungan seksual dan bisa hadir dalam
berbagai variasi.

2. Tembakau dalam rokok bisa menurunkan system kekebalan tubuh dan mempengaruhi
kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada leher rahim.

3. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini. Semakin muda seorang
perempuan melakukan hubungan seks, maka semakin besar risiko untuk terkena
kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan
hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai risiko 3 kali lebih besar
daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun, selain itu sperma yang
mengandung komplemen histone dapat bereaksi dengan DNA sel leher rahim. Sperma
yang bersifat alkalis dapat menimbulkan hiperplasia dan neoplasia sel leher rahim.
4. Perilaku seksual berganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit
kelamin. Risiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang
mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih.

5. Pemakaian pil KB. Penggunaan kontrasepsi oral dilaporkan meningkatkan insiden NIS
(Neoplasia Intraepitelial Kanker serviks) meskipun tidak langsung. Diduga
mempercepat perkembangan progresivitas lesi. Pemakaian pil KB lebih dari 6 tahun
meningkatkan risiko terjadinya Kanker serviks. Penjelasan yang rasional atas
fenomena ini adalah karena kontrasepsi oral menginduksi eversi epitel kolumnar
sehingga meningkatkan atipia pada wanita, menurunkan kadar asam folat darah
sehingga terjadi perubahan megaloblastik sel epitel leher rahim dan dapat
meningkatkan efek ekspresi onkoprotein virus.

6. Suami yang tidak disirkumsisi. Telah diketahui bahwa frekuensi kanker serviks pada
wanita Yahudi jauh lebih rendah dibandingkan dengan wanita kulit putih lainnya.
Mereka menyangka bahwa persetubuhan dengan laki-laki yang tidak disirkumsisi
lebih banyak menyebabkan Kanker serviks karena hygiene penis tidak terawatt di
mana terdapat kumpulan-kumpulan smegma.

2.4 TANDA DAN GEJALA KANKER SERVIKS


Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar dari
vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal
demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami segera setelah
bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma Kanker
serviks (75%-80%) (Wiknjosastro, 2005).
Pada tahap awal, terjadinya Kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Biasanya
timbul gejala berupa ketidakteraturannya siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan
penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual, post koitus serta latihan
berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk
mukoid. Nyeri dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal.
Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret dari vagina
berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. Perdarahan
pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif.
Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki, hematuria dan gagal
ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter. Perdarahan rektum dapat terjadi karena
penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut (Rasjidi I, 2007). Dari
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa gejala awal kanker serviks tidak tampak, perlahan-
lahan sejalan dengan aktivitas hiperplasi sel maka tanda dan gejala akan meningkat dan pada
akhirnya wanita akan mengetahui kondisi ini pada stadium lanjut dengan leukorea patologis
yang keluar secara berlebihan dan berbau busuk serta kontak berdarah setelah berhubungan
seksual.

2.5 Faktor Resiko Kanker Serviks


Faktor-faktor risiko kanker serviks diantaranya setiap wanita yang telah melakukan
aktivitas seksual, hubungan seks pertama kurang dari 20 tahun, pasangan seksual lebih dari
satu, merokok, kurang menjaga kebersihan alat kelamin, penurunan kekebalan tubuh, kurang
mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan (Ocvyanti, 2009). Menurut (Laras, 2009)
faktor yang paling dominan adalah faktor usia pertama kali berhubungan seksual, antara lain:
a. Faktor usia pertama kali berhubungan seksual
Data ini sesuai dengan penelitian oleh Aziz dan Rauf (2005) yaitu kanker servik sel
skuamosa berhubungan kuat dengan perilaku seksual seperti multipel mitra seks, dan usiasaat
melakukan hubungan seks yang pertama. Resiko menderita kanker servik uteri akan
meningkat lebih dari enam kali bila melakukan kontak seks pertama kali di usia < 20 tahun.
Llewellyn (2001) berpendapat bahwa risiko setiap tahun pada wanita di atas usia 35
tahun adalah 16 per 100.000 dan puncaknya terjadi antara usia 45 dan 55 tahun, dan kini
insidens ini cenderung terjadi pada usia yang lebih muda. Menurut Cahya (2007) kanker ini
banyak di alami pada wanita di usia produktif ( berusia 30 – 40 tahun). Akan tetapi saat ini
terjadi peningkatan pada penderita berusia 20an.
Hal itu terjadi karena semakin banyak remaja usia 20an yang telah melakukan hubungan
seks. Padahal di usia tersebut pertumbuhan sel dalam tubuhnya belum benar-benar matang.
Mulatsih (2008) dan Manuaba (2001) mengatakan bahwa dalam perkawinan usia muda
servik belum seluruhnya tertutup oleh sel skuamosa, sehingga mudah mengalami perlukaan
dan zat-zat kimia yang dibawa sperma.

b. Faktor sering berganti-ganti pasangan


Hal ini dikarenakan kanker servik itu disebabkan oleh sejenis virus penyakit kelamin
yaitu Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa
dan membelah menjadi banyak. Menurut Admin (2009), cara mencegah timbulnya kanker
servik adalah dengan tidak berganti-ganti pasangan dan tidak berhubungan dengan pria yang
suka berganti-ganti pasangan.
Himapid (2008) berpendapat bahwa lebih jauh meningkatnya kejadian tumor pada
wanita monogami yang suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita lain
menimbulkan konsep "Pria Berisiko Tinggi" sebagai vektor dari agen yang dapat
menimbulkan infeksi. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker servik, tetapi
penyakit ini sebaiknya digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS).

c. Faktor riwayat penyakit menular seksual


Menurut Suheimi (2006), penyebab dari kanker servik ini belum dapat dijelaskan
sepenuhnya. Infeksi Human Papillomavirus (HPV) merupakan penyakit menular seksual
(PMS) yang berasosiasi kuat dengan kanker servik dan vulva sehingga HPV merupakan
faktor resiko utama dari kanker servik. Keberadaan HPV terdapat pada 80% kasus kanker
servik. Infeksi HPV menurunkan kemampuan sistem imun melawan infeksi yang akhirnya
dapat meningkatkan kemungkinan perubahan sel- sel pre-kanker menjadi kanker. Himapid
(2008) berpendapat bahwa penyakit kelamin dan keganasan servik keduanya saling berkaitan
secara bebas, dan diduga terdapat korelasi non-kausal antara beberapa penyakit akibat
hubungan seksual dengan kanker serviks. Hal ini didukung dengan adanya pengaruh dari
faktor sering berganti-ganti pasangan dari responden yaitu sedikitnya jumlah responden yang
mempunyai ≥ 2 pasangan sebanyak 7 orang.

d. Faktor kontrasepsi
Kontrasepsi merupakan suatu alat untuk mengontrol kehamilan. Umumnya, KB dan
pemakaian metode kontrasepsi digunakan untuk membatasi jumlah anak yang lahir atau
merenggangkan waktu kelahiran mereka. Strategi KB yang terdiri dari berbagai cara dan
tingkat kefektifan digunakan di seluruh dunia dan telah dipraktekkan selama ribuan tahun.
Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih termasuk keamanan (misalnya perlindungan dari
penyakit menular seksual dan HIV, serta menghindari efek samping KB), keefektifan,
kenyamanan, biaya, penerimaan pribadi dan sikap pasangan. Semua metode KB memiliki
keuntungan dan kerugian (Fenny, 2000).
Pil kontrasepsi oral terdiri dari dua hormon buatan yang sama dengan estrogen dan
progesteron. Pengkonsumsian pil KB lebih dari 5 tahun secara rutin ternyata memberikan
efek buruk pada rahim. Infeksi pada rahim akibat konsumsi besar-besaran pil KB secara rutin
dan lama, memungkinkan seorang wanita menderita kanker rahim (Yunita, 2009). Menurut
penelitian Aziz, kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 4 kali
dapat meningkatkan resiko 1,5-2,5 kali. Sedangkan menurut Himapid (2008), WHO
melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat
sesuai dengan lamanya pemakaian. Kontrasepsi AKDR atau IUD merupakan suatu metode
kontrasepsi dengan cara memasukkan alat kecil yang terbuat dari palstik ke dalam uterus
melalui vagina dan dibiarkan di tempatnya (Pillitteri, 2002). Penggunaan metode kontrasepsi
barrier (penghalang), terutama yang menggunakan kombinasi mekanik dan hormon
memperlihatkan penurunan angka kejadian kanker leher rahim yang diperkirakan karena
penurunan paparan terhadap agen penyebab infeksi. Pemakaian AKDR akan berpengaruh
terhadap servik yaitu bermula dari adanya erosi di servik yang kemudian menjadi infeksi
yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker
servik (Manuaba, 2001).

e. Faktor paritas
Pada penelitian ini faktor paritas tidak memberikan pengaruh positif terhadap kejadian
kanker servik. Hal tersebut disebabkan karena banyak responden yang jarang mengalami
persalinan. Apabila seseorang banyak mengalami persalinan maka dapat menyebabkan jalan
lahir menjadi longgar. Selain itu robekan selaput di servik menyebabkan terbukanya jaringan,
sehingga mempunyai kesempatan untuk terkontaminasi oleh virus yang meyebabkan infeksi.
Bakteri tersebut ada karena kondisi higiene vagina yang tidak terawat.

f. Faktor merokok
Pada penelitian ini tidak ada responden yang menjadi seorang perokok aktif. Haltersebut
dikarenakan dalam kehidupan sosial tempat tinggal ibu-ibu tidak ada kaum wanita yang
merokok, sehingga hal tersebut tidak mempengaruhi.

2.6 Diagnosa Kanker Serviks


Pencegahan memiliki arti yang sama dengan deteksi dini atau pencegahan sekunder,
yaitu pemeriksaan atau tes yang dilakukan pada orang yang belum menunjukkan adanya
gejala penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat atau masih berada pada
stadium praklinik. Program pemeriksaan/skrining yang dianjurkan untuk kanker serviks
(WHO): skrining pada setiap wanita minimal satu kali pada usia 35-40 tahun. Jika fasilitas
tersedia, lakukan tiap 10 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Jika fasilitas tersedia lebih,
lakukan tiap 5 tahun pada wanita usia 35-55 tahun. Ideal atau optimal, lakukan tiap 3 tahun
pada wanita usia 25-60 tahun.

a. Deteksi Dini Kanker Serviks


Dalam penanggulangan kanker serviks, deteksi dini adalah cara pencegahan yang paling
ef tes Pap (Pap Smear), Pap net, servikografi, Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), tes HPV,
kolposkopi dan sitologi berbasis cairan (Thin-Layer Pap Smear Preparation) (Laras, 2009).
Namun metode yang sekarang ini sering digunakan adalah Tes Pap (Pap Smear) dan Inspeksi
Visual Asetat (IVA). Tes Pap memiliki sensitivitas 51% dan spesifisitas 98%. Sensitifitas
adalah probabilitas bahwa seseorang menderita penyakit dapat diidentifikasi dengan benar
melalui uji klinis. Spesifisitas adalah probabilitas bahwa seseorang tidak berpenyakit akan
secara tepat teridentifikasi melalui uji klinis (Kumala dkk, 1998). Selain itu pemeriksaan Pap
Smear masih memerlukan penunjang laboratorium sitologi dan dokter ahli patologi yang
relatif memerlukan waktu dan biaya besar. Sedangkan IVA memiliki sensitivitas sampai 96%
dan spesifisitas 97% untuk program yang dilaksanakan oleh tenaga medis yang terlatih. Hal
ini menunjukkan bahwa IVA memiliki spesifisitas yang hampir sama dengan sitologi serviks
(Pap smear) sehingga dapat menjadi metode skrining yang efektif pada negara berkembang
seperti di Indonesia (Laras, 2009). Deteksi dini kanker serviks yang sering digunakan di
Indonesia yaitu:
1. Pap Smear
Pap Smear adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari serviks dan
kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang
terjadi dari sel tersebut. Tujuannya untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia.
Metode ini digunakan sebagai salah satu metode skrining kanker serviks. Tes ini
ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicolau. Perubahan sel-sel serviks yang
terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil
sebelum sel- sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker. Pap Smear dapat
dilakukan oleh Bidan atau Dokter Ahli Kandungan dengan menggunakan alat yang
dinamakan spekulum (Diananda, 2009). Menurut Anna (2008), indikasi Pap Smear,
yaitu:
1. Wanita yang berusia antara 18-70 tahun dan sudah menikah
2. Wanita yang menikah di usia dini dan melakukan senggama di bawah 20
tahun
3. Wanita yang melahirkan lebih dari 3 kali
4. Wanita yang memakai alat kontrasepsi lebih dari 5 tahun terutama IUD dan
kontrasepsi hormonal
5. Wanita yang mengalami perdarahan setiap hubungan seksual dan mengalami
keputihan atau gatal pada vagina
6. Wanita multipartner seks

2. IVA Tes
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) tes adalah tes visual dengan menggunakan larutan
asam cuka (asam asetat 3-5%) dan larutan iodium lugol pada serviks dan melihat
perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya untuk melihat adanya
sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker serviks.
Pemeriksaan ini tidak direkomendasikan pada wanita pasca menopause, karena daerah
zona transisional seringkali terletak di kanalis servikalis dan tidak tampak dengan
pemeriksaan inspekulo (Laras, 2009).
Tes kanker atau prakanker dianjurkan bagi semua wanita berusia 30 sampai 45 tahun.
Kanker serviks menempati angka tertinggi di antara wanita berusia 40 hingga 50 tahun,
sehingga tes harus dilakukan pada usia dimana lesi prakanker lebih mungkin terdeteksi,
biasanya 10 sampai 20 tahun lebih awal. Wanita yang memiliki faktor risiko juga
merupakan kelompok yang paling penting untuk mendapat pelayanan tes (Laras, 2009).
Tes IVA dapat dilakukan kapan saja dalam siklus menstruasi, termasuk saat menstruasi,
pada masa kehamilan dan saat asuhan nifas atau pasca keguguran (Laras, 2009).

2.7 Pencegahan Kanker Serviks


Tidak dapat dipungkiri cara terbaik untuk mencegah kanker serviks saat ini adalah
dengan screening gynaecological dan jika dibutuhkan dilengkapi dengan treatment yang
terkait dengan kondisi prakanker. Namun demikian, dengan adanya biaya dan rumitnya
proses screening dan treatment, cara ini hanya memberikan manfaat yang sedikit di negara-
negara yang membutuhkan penanganan. Beberapa hal lain yang dapat dilakukan dalam usaha
pencegahan terjadinya kanker serviks antara lain:
a. Vaksin HPV
Sebuah studi menyatakan bahwa kombinasi vaksinasi HPV dan skrining dapat
memberikan manfaat yang besar dalam pencegahan penyakit ini. Vaksin HPV dapat
berguna dan cost-effective untuk mengurangi kejadian kanker serviks dan kondisi pra-
kanker, khususnya pada kasus yang ringan. Vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis dapat
melindungi tubuh dalam melawan kanker yang disebabkan oleh HPV (tipe 16 dan 18).
Salah satu vaksin dapat membantu menangkal timbulnya kutil di daerah genital yang
diakibatkan oleh HPV 6 dan 11, juga HPV 16 dan 18. Manfaat tersebut telah diuji
pada uji klinis stahap III dan harus dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Keyakinan
hasil uji klinis tahap III ini menunjukan bahwa vaksin-vaksin tersebut dapat membantu
menangkal infeksi HPV dari tipe-tipe diatas dan mencegah lesi pra- kanker pada
wanita yang belum terinfeksi HPV sebelumnya.

b. Penggunaan kondom
Para ahli sebenarnya sudah lama meyakininya, tetapi kini mereka punya bukti
pendukung bahwa kondom benar-benar mengurangi risiko penularan virus penyebab
kutil kelamin (genital warts) dan banyak kasus kanker leher rahim. Hasil pengkajian
atas 82 orang yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine
memperlihatkan bahwa wanita yang mengaku pasangannya selalu menggunakan
kondom saat berhubungan seksual kemungkinannya 70% lebih kecil untuk terkena
infeksi human papilloma virus (HPV) dibanding wanita yang pasangannya sangat
jarang (tak sampai 5% dari seluruh jumlah hubungan seks) menggunakan kondom.
Hasil penelitian memperlihatkan efektivitas penggunaan kondom di Indonesia masih
tergolong rendah. Dari survey Demografi Kesehatan Indonesia pada 2003 (BPS-
BKKBN) diketahui bahwa ternyata penggunaan kondom pada pasangan usia subur di
Negara ini masih sekitar 0,9%.

c. Sirkumsisi pada pria


Sebuah studi menunjukkan bahwa sirkumsisi pada pria berhubungan dengan
penurunan risiko infeksi HPV pada penis dan pada kasus seorang pria dengan riwayat
multiple sexual partners, terjadi penurunan risiko kanker serviks pada pasangan
wanita mereka yang sekarang.

d. Tidak merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai
rokok/sigaret atau dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclicaromatic
hydrocarbon heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada
getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-
bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat
menjadi ko-karsinogen infeksi virus.
e. Nutrisi
Banyak sayur dan buah mengandung bahan-bahan anti-oksidan dan berkhasiat
mencegah kanker misalnya alpukat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang,
bayam, tomat. Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi asam folat (folic acid),
vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol dihubungkan dengan peningkatan risiko
kanker serviks. Vitamin E, vitamin C dan beta karoten mempunyai khasiat antioksidan
yang kuat. Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal
bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Vitamin E banyak
terdapat dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacang- kacangan).
Vitamin C banyak terdapat dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.

Ada beberapa pencegahan lainnya, antara lain:


1. Pencegahan Primer
a. Menunda Onset Aktivitas Seksual
Menunda aktivitas seksual sampai usia 20 tahun dan berhubungan secara
monogami akan mengurangi risiko kanker serviks secara signifikan.

b. Penggunaan Kontrasepsi Barier


Dokter merekomendasikan kontrasepsi metode barier (kondom, diafragma, dan
spermisida) yang berperan untuk proteksi terhadap agen virus. Penggunaan
lateks lebih dianjurkan daripada kondom yang dibuat dari kulit kambing.

c. Penggunaan Vaksinasi HPV


Vaksinasi HPV yang diberikan kepada pasien bisa mengurangi infeksi Human
Papiloma Virus, karena mempunyai kemampuan proteksi > 90%. Tujuan dari
vaksin propilaktik dan vaksin pencegah adalah untuk mencegah
perkembangan infeksi HPV dan rangkaian dari event yang mengarah ke kanker
serviks. Kebanyakan vaksin adalah berdasarkan respons humoral dengan
penghasilan antibodi yang menghan- curkan virus sebelum ia menjadi
intraseluler. Masa depan dari vaksin propilatik HPV sangat menjanjikan, namun
penerimaan seluruh populasi heterogenous dengan tahap pendidikan berbeda dan
kepercayaan kultur berbeda tetap dipersoalkan. Sebagai tambahan, prevelansi
tinggi infeksi HPV mengindikasikan bahwa akan butuh beberapa dekade untuk
program imunisasi yang sukses dalam usaha mengurangi insiden kanker serviks.

2. Pencegahan Sekunder
a. Pencegahan Sekunder – Pasien Dengan Risiko Sedang
Hasil tes Pap yang negatif sebanyak tiga kali berturut-turut dengan selisih waktu
antara pemeriksaan satu tahun dan atas petunjuk dokter sangat dianjurkan. Untuk
pasien (atau partner hubungan seksual yang level aktivitasnya tidak diketahui),
dianjurkan untuk melakukan tes Pap tiap tahun.

b. Pencegahan Sekunder – Pasien Dengan Risiko Tinggi


Pasien yang memulai hubungan seksual saat usia <18 tahun dan wanita yang
mempunyai banyak partner (multipel partner) seharusnya melakukan tes Pap
tiap tahun, dimulai dari onset seksual intercourse aktif. Interval sekarang ini
dapat diturunkan menjadi setiap 6 bulan untuk pasien dengan risiko khusus,
seperti mereka yang mempunyai riwayat penyakit seksual berulang.

2.8 Prognosis
Prognosis kanker serviks tergantung dari stadium penyakit. Umumnya, 5- years
survival rate untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira
50%, dan untuk stadium IV kurang dari 30%.
a. Stadium 0
100penderita dalam stadium ini akan sembuh.
b. Stadium 1
Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi 2, IA dan IB. dari semua wanita yang
terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate sebesar 95%. Untuk
stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai 90%.
c. Stadium 2
Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B dari semua wanita yang
terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate sebesar 70 - 90%. Untuk
stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai 65%.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kanker serviks adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada leher rahim, sehingga
jaringan di sekitarnya tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya. Keadaan
tersebut biasanya disertai dengan adanya perdarahan dan pengeluaran cairan vagina yang
abnormal, penyakit ini dapat terjadi berulang-ulang. Di Indonesia diperkirakan ditemukan
40 ribu kasus baru kanker mulut rahim setiap tahunnya. beberapa faktor predisposisi
kanker serviks antara lain yaitu:
1) HPV (Human Papilloma Virus)
2) Tembakau dalam rokok
3) Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini
4) Perilaku seksual berganti pasangan seks
5) Pemakaian pil KB
6) Suami yang tidak disirkumsisi
Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar
dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Faktor-
faktor risiko kanker serviks diantaranya setiap wanita yang telah melakukan
aktivitas seksual, hubungan seks pertama kurang dari 20 tahun, pasangan seksual lebih dari
satu merokok dan sebagainya. Deteksi dini kanker serviks yang sering digunakan di
Indonesia yaitu:
1) Pap Smear
2) IVA Tes
Tidak dapat dipungkiri cara terbaik untuk mencegah kanker serviks saat ini adalah dengan
screening gynaecological dan jika dibutuhkan dilengkapi dengan treatment yang terkait
dengan kondisi prakanker. Prognosis kanker serviks tergantung dari stadium penyakit.
Umumnya, 5- years survival rate untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%,
stadium III kira - kira 50%, dan untuk stadium IV kurang dari 30%.
DAFTAR PUSTAKA

Nuranna L. 2005, Penanggulangan Kanker Serviks Yang Sahih dan Andal Dengan Model
Proaktif-VO (Proaktif, Koordinatif Dengan Skrining IVA dan Terapi Krio). [Disertasi].
Program Pasca Sarjana FKUI. Jakarta.

Rasjidi I, Sulistyanto H. Vaksin Human Papilloma Virus dan Eradikasi Kanker Mulut
Rahim. Jakarta: Sagung Seto; 2007.

Darmawati, Kanker Serviks wanita usia subur, diambil dari:

http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/INJ/article/viewFile/6342/5209

https://www.scribd.com/doc/182798284/Bab-III-Jurnal-CA-Serviks-pdf

Boyd, NF. Guide to Studies of Diagnostic Tests, Prognosis and Treatment. New York:
McGraw Hill Inc; 1992. h. 379 – 85.