Anda di halaman 1dari 44

Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Pasien Ny.

dengan Rencana Tindakan Laparatomi dengan

Indikasi Mioma Uteri di Kamar Operasi

RSIA Bunda Jakarta

Disusun Oleh :

Ns. Ria Darmiayu Putri, S.Kep

Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia

2019
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada allah SWT yang telah senantiasa
melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada penulis, sehingga penulis mampu
menyelesaikan tugas makalah berjudul : “Asuhan Keperawatan Perioperatif Pada Pasien
Ny. O dengan Rencana Tindakan Laparatomi dengan Indikasi Mioma Uteri di Kamar
Operasi RSIA Bunda Jakarta”.
Penyusunan tugas makalah ini tidak dapat terwujud tanpa adanya bantuan,bimbingan,
serta dukungan dari berbagai pihak. Atas terselesaikannya karya tulis ilmiah ini, maka penulis
tidak melupakan jasa-jasa berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terimah kasih kepada :
1. Ibu Hj. Hafni, S.Pd,. S. Kep. selaku penbimbing pelatihan HIPKABI
2. Ibu Kristanti, AMK selaku trainer RSIA Bunda
3. Ibu Rosmina Sitompul selaku trainer RSU Bunda
4. Ibu Dewa Ayurai, S. Kep., Ns sebagai penguji
5. Seluruh keluarga yang selalu mendorong dan mensupor dalam mengikuti kegiatan ini
6. Seluruh teman-teman pelatihan bedah dasar angkatan VI RS Bunda Menteng Jakarta
Pusat
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih jauh daripad
sempurna, di sana sini masih banyak kekurangan- kekurangan dan perlu perbaikan, baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat dan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk it
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan makalah ini.

Jakarta, Februari 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………… ii


DAFTAR ISI …………………………………………………………………………. iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………....…………………………1
B. Tujuan Penulisan ………………………………………………………………... 2
C. Sistematis Penulisan …………………………………………………………...... 2
BAB II KONSEP DASAR
A. Konsep Dasar Medis ………………………………….…………………………. 3
1. Pengertian ……………………………..…………….……………………… 3
2. Anatomi Fisiologi ……………………………...............………………….... 3
3. Klasifkasi/ Pemeriksaan Penunjang ………………...……………………… 4
4. Patofisiologi …………………………………………………...………….... 5
5. Tanda Gejala ……………………………………………………....………... 6
6. Penatalaksanaan Medik ……………………...………………………....…... 7
7. Laparatomi ………………………………………………………………….. 8
B. Konsep Dasar Keperawatan ………………………………….…....……………. 10
1. Asuhan Keperawatan Perioperatif ….....………………………...…………. 10
a. Perioperatif ……………………………………...…………………….. 10
b. Intraoperative …………………………………………………………... 11
c. Post Operatif …………………………………………………………… 12
BAB III PENGAMATAN KASUS
A. Identifikasi Pasien ………………………………..……………………………… 14
B. Persiapan Intrumen Steril …………………………………………………..……. 14
C. Medical Supply ………………………………………………………………...… 16
D. Basic Equipment ………………………………………………………………..... 16
E. Status Kesehatan Saat Ini ………………………………………………………... 17
F. Riwayat Kesehatan Lalu …………………………………………………….....… 17
G. Pengkajian Fisik …………………………………………………………………. 17

ii
H. Pemeriksaan Penunjang …………….......………………………………………. 19
I. Asuhan Kepeawatan Perioperatif ………..……………………………………... 19
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pre Operatif …………………………………………………………..……........ 28
B. Intra Operatif …………………………………………………………………….....…. 29
C. Post Operatif …………………………………………………………….…....... 29
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………………………………...…… 31
B. Saran ……………………………………………………………………………...…….. 31
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mioma Uteri merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat
yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah fibromioma,
leiomioma, ataupun fibroid (Winktjosastro, 2008). Mioma merupakan sel-sel abnormal yang
jinak, yang tumbuh dari otot dinding rahim. Pada dasarnya mioma tidak berbahaya, namun
mioma dapat menimbulkan gangguan (Bramantyo,2005).
Pada awalnya mioma tumbuh sebagai bibit kecil yang kemudian membesar dalam lapisan
miometrium, yaitu jaringan otot polos pada dinding uterus. Mioma dapat tumbuh satu atau
lebih, mioma memiliki ukuran yang berbeda-beda yang sangat kecil bahkan harus dilihat
dengan menggunakan mikroskop akan tetapi ada pula yang berbobot hingga 30 kg (
Bramantyo, 2005). Bila pada masa menopause tumor yang berasal dari mioma uteri dapat
terus bertambah besar. Kemungkinan degenasari menjadi sarcoma uteri. Apabila dijumpai
pembesaran abdomen sebelum menarche, hal tersebut pasti bukan mioma uteri tetapi kista
ovarium dan kemungkinan akan menjadi ganas (Manuaba,2010). Sebagian besar mioma uteri
ditemukan pada masa reproduksi, karena adanya rasangan estrogen. Dengan demikian mioma
uteri tidak dijumpai sebelum menarche dan akan mengalami pengecilan setelah menopause (
Manuaba,2003).
Mioma uteri sering dijumpai pada wanita usia reproduksi (20-25%). Jarang sekali mioma
ditemukan pada usia kurang dari 20 tahun, paling banyak pada usia 35-45 tahun
(Winktjosastro,2008). Pada usia lebih dari 35 tahun kejadiannya lebih tinggi yaitu 40 %.
Tingginya kejadian mioma uterus antara usia 35-50 tahun menunjukkan adanya hubungan
kejadian mioma uterus dengan estrogen. Pada usia menopause terjadi regresi mioma uterus
karena kedua ovarium sudah tidak menghasilkan estrogen lagi ( Baziad,2008). Menurut Wise
penelitiannya di Amerika serikat periode 1997-2007 melaporkan 5.871 kasus mioma uteri dari
22.120 terjadi pada wanita kulit hitam dengan prevalensi Kejadian mioma uteri di Indonesia
ditemukan 2.39% - 11.7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat di rumah sakit,
penyakit mioma uteri sering ditemukan pada wanita nullipara (belum pernah melahirkan)
ataupun pada wanita kurang subur. Mioma uteri diperkirakan antara 20% sampai 25% terjadi

1
pada wanita berusia diatas 35 tahun (Aspiani, 2017). (Kasus ini di RSIA Bunda belum
dikalkulasikan oleh Penulis)
Berdasarkan data tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah tersebut
menjadi sebuah laporan dengan judul “Asuhan Keperawatan pasien Ny. O dengan Mioma
Uteri yang direncanakan operasi Lapratomi di Kamar Operasi Rumah Sakit Ibu dan Anak
Bunda Jakarta”

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Melaporkan hasil studi kasus tentang Asuhan Keperawatan pasien Ny. O dengan
Mioma Uteri yang direncanakan operasi Lapratomi di Kamar Operasi Rumah Sakit
Ibu dan Anak Bunda Jakarta
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada Ny. O dengan diagnosa Mioma Uteri yang
direncanakan operasi Laparatomi.
b. Mendiagnosa masalah keperawatan pada Ny. O dengan diagnosa Mioma Uteri
yang direncanakan operasi Laparatomi.
c. Merencanakan tindakan keperawatan pada Ny. O dengan diagnosa Mioma Uteri
yang direncakan operasi Laparatomi.
d. Melakukan implementasi keperawatan pada Ny. O dengan diagnosa Mioma Uteri
yang direncakan operasi Laparatomi.
e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. O dengan diagnosa Mioma Uteri yang
direncakan operasi Laparatomi.
f. Melakukan pendokumentasian keperawatan dengan keperawatan dengan baik dan
benar pada Ny. O dengan diagnosa Mioma Uteri yang direncakan operasi
Laparatomi.

C. Sistematika Penulisan
Proses pembuatan makalah ini terdiri dari beberapa tahapan, diantaranya:
1. Penentuan Tema
Penulis menentukan masalah di ruangan untuk dijadikan sebagai tema laporan.

2
2. Studi Leteratur
Penulis melakukan kajian pada literature terkait mioma uteri.
3. Pengkajian komprehensif
Penulis melakukan pengajian menyeluruh meliputi, identitas klien, keluhan klien,
riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat psikologis, riwayat
alergi, pemeriksaan Fisik, dan pemeriksaan penunjang.

4. Analisa kasus
Penulis menganalisa masalah keperawatan yang terjadi pada pasien dan
mendiskusikan adanya keterkaitan atau kesenjangan antara teori dan praktik di
lapangan terkait proses keperawatan pada keperawatan pada pasien.
5. Proses pelaksanaan asuhan keperawatan
Penulis melakukan intervensi dan implementasi yang telah ditentukan pada
pasien.
6. Kesimpulan
Penulis menyimpulkan pembahasan masalah yang telah dibuat.

3
BAB II

KONSEP DASAR

A. Konsep Dasar Medis

1. Pengertian
Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga
istilah fibromioma, leiomyoma, ataupun fibroid ( Winktjosastro,2008). Mioma
merupakan sel-sel abnormal yang jinak, yang tumbuh dari otot dinding Rahim.
Pada dasarnya mioma uteri tidak berbahaya namun mioma dapat menimbulkan
gangguan.

2. Anatomi Fisiologi

Gambar 1.1 Anatomi Uterus.

a. Uterus
Bagian dari suatu system reproduksi seorang wanita yang berongga
berbentuk buah pear, tempat dimana seorang bayi tumbuh. Pada wanita
usia produktif, lapisan uterus tumbuh dan menebal setiap bulan untuk
mempersiapkan kehamilan. Jika seorang wanita tidak menjadi hamil,

4
lapisan yang tebal, berdarah mengalir keluar dari tubuh melalui vagina.
Pengeluaran ini disebut menstruasi. Uterus mempunyai 3 macam lapisan
dinding yaitu:
1. Perimetrium
Perimetrium yaitu lapisan yang terluar yang berfungsi sebagai
pelindung uterus.
2. Endometrium
Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah
merah. Bila tidak terjadi pembuahan maka dinding endometrium inilah
yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang.
3. Myometrium
Myometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi
untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke
bentuk semula setiap bulannya.
b. Cervix (Mulut Rahim, servix/leher Rahim)
Bagian bawah yang sempit dari uterus. Leher Rahim atau serviks
merupakan bagian dari alat reproduksi wanita yang terletak di bagian
bawah Rahim. Tugas serviks ini adalah membantu jalannya sperma dari
vagina menuju Rahim dan menghubungkan uterus dengan saluran vagina
dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
c. Tuba Fallopii
Tuba fallopii merupakan saluran memanjang setelah infudibulum yang
bertugas sebagai tempat fertilitas dan jalan sel ovum menuju uterus dengan
bantuan silia pada dindingnya. Panjang tuba fallopii pada manusia adalah
antara 7 hingga 14 cm.
d. Fimbriae
Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian
pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk
menagkap sel ovum yang telah matang yang dikeluarkan oleh ovarium.
e. Ovary atau ovarium

5
Indung telur atau ovarium merupakan kelenjar kelamin yang dimiliki
oleh wanita. Terdapat dua ovarium dalam system reproduksi wanita. Setiap
bulan kedua indung telur ini bergantian menghasilkan sel telur. Ovarium
berfungsi memproduksi sel telur dan mengeluarkan hormon estrogen dan
progesterone.
f. Vagina
vagina adalah saluran berbentuk tabung yang menghubungkan Rahim
ke bagian luar tubuh wanita. Vagina berfungsi sebagai organ ovulasi dan
saluran persalinan ( keluarnyabayi). Sehingga disebut dengan liang
Peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara.

3. Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui sampai saat ini. Tumor ini mungkin
berasal dari sel otot yang normal, dari otot imatur yang ada di dalam miometrium
atau dari sel embrional pada dinding pembuluh darah uterus.

4. Klasifkasi/ Pemeriksaan Penunjang


a. Klasifikasi
Mioma uterus dapat berasal dari serviks uterus hanya 1-3% sisanya adalah
corpus uterus. Pertumbuhan mioma uteri terjadi (Manuaba,2003).
1. Berlapis seperti bawang merah
2. Lokasi bervariasi
a) Subserosa
Apabila tumbuh di bawah lapisan peritoneum dan dapat bertangkai
dan melayang dalam cavum abdomen. Mioma subserosa juga tumbuh
keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus dan
diliputi oleh serosa (Winktjosastro,2008).
b) Intramural
Tumbuh di dalam otot Rahim dapat besar, padat (jaringan ikat
dominan), lunak (jaringan otot Rahim dominan) (Manuaba,2010).

6
Miom terdapat di dinding uterus diantara serabut miomektrium
(Winktjosastro,2008).
c) Submucosa
Berada di bawah lapisan dalam uterus, bertangkai dan dapat
dikeluarkan melalui canalis servikalis serta menonjol ke dalam rongga
uterus (Winktjosastro,2008). Pada miom submukosum yang bertangkai
dapat terjadi putaran tangkai dan mioma tersebut dapat muncul di
vagina atau canalis servicalis yang disebut juga sebagai mioma geburt
(Baziad,2008).

b. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Akibat yang sering terjadi pada mioma uteri adalah anemia. Hal ini
akibat perdarahan uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi.
Namun, pada kasus dengan komplikasi menjadi degenerasi akut atau
infeksi akan ditemukanleukositosis.
2. Imaging
a. Pemeriksaan dengan USG akan didapatkan gambaran massa padat dan
homogeny pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terihat sebagai
massa pada abdomen bawah dan pelvis, dan kadang terlihat tumor
dengan klasifikasi.
b. Histerosalpingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang
tumbuh kearah kavum uteri pada pasien infertil.
c. Urografi intravena digunakan pada kasus massa di pelvis sebab pada
kasus tersebut sering terjadi deviasi ureter atau penekanan dan
anomali sIstem urinarius. Cara ini baik untuk mengetahui posisi,
jumlah ureter dan ginjal.
d. MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi,ukuran,jumlah mioma
uteri.

7
5. Patofisiologi
Awal mulanya terjadi pembentukan tumor adalah terjadinya mutase somatik
dari sel-sel myometrium. Mutasi ini mencakupi rentetan perubahan pada
kromosom, baik secara parsial maupun secara keseluruhan. Aberasi kromosom
ditemukan pada 23-50% dari mioma yang diperiksa dan yang terbanyak 35,6%
ditemukan pada kromosom tujuh. Keberhasilan pengobatan medikamentosa
mioma uterus sangat tergantung apakah telah terjadi perubahan pada kromosom
atau tidak (Baziad,2008).
Enzim 17B-hidroksisteroid dehydrogenase tipe 2 estron diubah menjadi
estradiol. Estradiol merupakan estrogen kuat dan estron merupakan estrogen kuat
dan estrogen lemah ( Baziad,2008). Reseptor estrogen pada mioma lebih banyak
didapati daripada myometrium normal. Menurut Meyer, asal mioma adalah sel
imatur bukan dari selaput otot yang matur. Peningkatan aktivitas enzim aromatase
dan enzim 17 B-hidroksisteroiddehydrogenasetipe 1 menyebabkan mioma uteri
bertambah besar dan defisiensi enzim 17 B-tipe 2 juga menyebabkan
pertumbuhan mioma uterus ( Wintjosastro,2008).

8
Pathway

9
6. Tanda dan gejala
Hampir seluruh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan
ginekologi karena tidak menganggu. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung
pada tempat mioma berada, besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang
terjadi (Winktjosastro,2008). Gejala klinik mioma uteri adalah sebagai berikut:
a. Perdarahan Abnormal
Gangguan yang terjadi pada umumnya adalah hipermenore karena
meluasnya permukaan endometrium dalam proses menstruasi, atrofi
endometrium di atas submukosum, dan gangguan pada kontraksi otot Rahim
(Manuaba,2003) disebabkan karena miometrium tidak dapat berkontraksi
optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut myometrium, sehingga
tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik. Selain itu
dapat pula terjadi menoraghia dan metroraghia (Winktjosatro,2008). Akibat
perdarahan penderita dapat mengeluh anemis karena kekuarangan darah,
pusing, cepat lelah dan terjadi infeksi (Manuaba,2003).
b. Rasa Nyeri
Rasa nyeri timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma,
yang disertai nakrosis setempat dan peradangan ( Winktjosastro,2008).
c. Penekanan pada uterus yang membesar
Gangguan ini tergantung pada besar dan tempat mioma uteri. Penekanan
pada kandung kemih akan menyebabkan poliur, pada uretra akan
menyebabkan retensio urin, pada ureter dapat menyebabkan retensio urin,
pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis pada rectum
dapat menyebabkan obtipasi dan tenesimia pada pembuluh darah limfe di
panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul
(Winktjosastro,2008). Akibat dari mioma yang membesar dapat terjadi
perasaan berat di abdomen bagian bawah dan terasa nyeri karena tertekannya
urat saraf (Manuaba,2003).
d. Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Kehamilan
Kehamilan dengan disertai mioma uteri akan menimbulkan proses saling
mempengaruhi kehamilan sehingga dapat keguguran, persalinan prematuritas,

10
gangguan saat proses persalinan, tertutupnya saluran indung telur yang dapat
menimbulkan infertilitas dan pada kala tiga dapat terjadi gangguan pelepasan
plasenta dan perdarahan( Manuaba,2003).

7. Penatalaksanaan Medik
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan 55 % dari semua mioma uteri
tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun, terutama jika mioma
kecil dan tidak menimbulkan gangguan. Pada wanita yang telat menopause
pertumbuhan mioma dapat terhenti atau lisut. Apabila terlihat adanya suatu
perubahan yang berbahaya dapat terdeteksi dengan cepat agar diadakan tindakan
segera ( Winktjosastro,2008).
a. Tanpa Pengobatan
Pertumbuhan mioma yang masih kecil dan tidak menimbulkan gangguan
tidak diperlukan pengobatan apapun. Apabila jika terjadi pada wanita dalam
usia menopause. Pada wanita yang memasuki usia menopause, jumlah kadar
oksigen mulai berkurang. Sejalan dengan berkurangnya kadar estrogen,
biasanya mioma akan mengecil dengan sendirinya, akan tetapi tetap dalam
pengawasan dan pemantauan dokter minimal 6 bulan sekali (Kasdu, 2005).
b. Obat-Obatan
Pada wanita usia subur, selama mioma masih relative kecil dan tidak
mengganggu dapat dengan menggunakan obat-obatan (kasdu, 2005).
Obat untuk menekan pertumbuhan mioma adalah analogi GnRH (Agonis dan
antagonis). Analogi GnRH bukan untuk menghilangkan mioma tetapi lebih
bersifat untuk memudahkan tindakan operasi dan untuk mengurangi tindakan
histerektomi. Oleh karna itu analog GnRH diberikan sebelum tindakan operasi
dilakukan. Efek maksimal dari analog GnRH baru terlihat setelah tiga bulan.
Pada tiga bulan berikutnya tidak terjadi pengurangan volume mioma yang
berarti.
Setiap mioma memberikan hasil yang berbeda-beda terhadap pembelian
analog GnRH. Makin tinggi kadar reseptor estrogen suatu mioma, makin
tinggi pula respon terhadap analog GnRH. Pemberian analog GnRH

11
menyebabkan terjadinya perubahan degenerative dari mioma, sehngga
sensitifitas mioma menurun. Setelah selesai pemberian analog GnRH, maka
sensitivitas steroid yang tadinya terhambat akan muncul kembali, sehingga
empat bulan setelah pengobatan mioma membesar kembali seperti semula.
Keuntungan pemberian analog preoperative adalah untuk mengurangi
jumlah perdarahan pada tindakan operatif, mudah untuk melepaskan
perlekatan dengan jaringan disekitarnya dan pasca operasi lebih jarang
ditemukan perlekatan (omentum usus). Bila situasi pasiennya yang ada tidak
memungkinkan dilakukan tindakan operasi atau pasien menolak untuk
dilakukan tindakan operasi, maka dapat dicoba pemberian analog GnRH
jangka panjang untuk sekedar menekan pertumbuhan mioma lebih lanjut (
Banziad, 2008).
c. Operatif
Jika mioma menganggu bahkan sampai menghambat terjadinya kehamilan,
perlu dilakukan miomektomi atau operasi pengangkatan mioma. Pada
tindakan ini, mioma akan dilepas dari dinding uterus dan memutus pembuluh-
pembuluh darah yang mensuplai darah kemioma, sedangkan uterus tetap
dipertahankan. Namun, jika mioma telah membesar dan menganggu fungsi
uterus serta organ-organ disekitanya maka, perlu dilakukan histerektomi atau
operasi pengangkatan uterus (Kasdu,2005).
Tindakan miomektomi dapat dilakukan pada mioma geburt dengan cara
ekstirpasi lewat vagina. Pengambilan sarang mioma subserosum akan dapat
dengan mudah dilakukan apabila tumor bertangkai. Apabila miomektomi
dilakukan karena keinginan mempunyai anaak, kemungkinan akan terjadi
kehamilan adalah 30-50 %.
Sebanyak 25-35 % penderita mioma uteri masih memerlukan tindakan
hisresktomi. Histerektomi merupakan tindakan terpilih dan dapat dilakukan
pervaginam maupun perabdominal. Tindakan pervaginam jarang dilakukan
karena uterus harus kecil dari telur angsa serta tidak ada perlekatan di
sekitarnya. Adanya prolapses uteri akan mempermudah tindakan pembedahan.

12
Histerektomi supravaginal hanya dilakukan apabila terdapat kesukaran teknis
dalam mengangkat uterus keseluruhan(Winktjosastro.2008).

8. Laparatomi
Laparatomi yaitu insisi pembedahan melalui pinggang (kurang begitu
tepat), tapi lebih umum pembedahan perut (Harjono.M, 1996). Pembedahan yang
dilakukan pada usus akibat terjadinya perlekatan usus dan biasanya terjadi pada
usus halus (Arif Mansjoer,2000). Ramali Ahmad (2000) mengatakan bahwa
laparotomy yaitu pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi.
Sedangkan menurut Sanusi (1999), Laparatomi adalah insisi pembedahan melalui
dinding perut atau abdomen.
a. Jenis Laparatomi
Menurut Teknik Pembedahan
1. Insisi pada garis tengah abdomen (mid-line incision)
 Paparan bidang pembedahan yang baik
 Dapat diperluas ke cephalad ( ke arah “kranial”)
 Penyembuhan dan kosmetik tidak sebaik insisi transversal
 Dipilih cara ini bila insisi transversal diperkirakan tidak dapat
memberikan paparan bidang pembedahan yang memadai.
2. Insisi pada garis transversal abdomen ( pfannensteil incision)
Sering digunakan pada pembedahan obstetric dan ginekologi.
Keuntungan :
 Jarang terjadi herniasi pasca bedah
 Kosmetik lebih baik
 Kenyaman pasca operasi bagi pasien lebih baik

Kerugian :

 Daerah pemaparan (lapangan operasi) lebih terbatas


 Tehnik relatif lebih sulit
 Peradarahan akibat pemisahan fascia dari lemak lebih banyak
b. Jenis Laparatomi Menurut Indikasi

13
1. Adrenalektomi, pengangkatan salah satu atau kedua kelenjar
adrenalin
2. Apendiktomi, operasi pengangkatan apendiks
3. Gastrektomi, pengangkatan sepertiga distal lambung
(duodenum/jejenum, mengangkat sel-sel penghasil gastrin dalam
bagian sel parietal)
4. Histeresktomi, pengangkatan bagian uterus
5. Kolektomi, eksisi bagian kolom atau seluruh kolon
6. Nefroktomi, operasi pengangkatan ginjal
7. Pakreatomi, pengangkatan pancreas
8. Seksi caesarea, pengangkatan janin dengan membuka dinding
ovarium melalui abdomen
9. Siksetomi, operasi penganagkatan kandung kemih
10. Selfingo ooferektomi, pengangkatan salah satu atau kedua tuba
fallopii dan ovarium

B. Konsep Dasar Keperawatan


1. Asuhan Keperawatan Perioperatif
a. Preoperatif
1. Diagnosa Keperawatan
 Cemas b.d tindakan operatif
 Resiko Cedera
2. Intervensi keperawatan
 Diagnosa I cemas b.d tindakan operatif
Tujuan dan ktiteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan Selama
1x15 menit, cemas pasien dapat teratasi dengan kriteria hasil :
- Pasien tenang
- Ekspresi wajah rileks
- Tanda-tanda vital dalam batas normal

Intervensi keperawatan

14
- Ukur tanda-tanda vital
- Berikan posisi nyaman
- Jelaskan tindakan yang akan dilakukan dan lama operasi
- Beri kesempatan pasien untuk bertanya
- Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam dan berdoa
 Diagnosa II : resiko cedera
Tujuan dan kriteria hasil :setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1x15 menit, cedera pada pasien tidak terjadi, dengan kriteria hasil :
- Ada site marking area operasi
- Tidak ada perhiasan, kontak lens, cat kuku, wig, gigi palsu interevensi
Keperawatan
- Cek daerah kulit atau persiapan perut (pencukuran)
- Pasang bed rail
- Lepas tusuk konde, wig dan tutup kepala jika ada
- Bersihkan cat kuku
- Lepas protesa (gigi palsu)
- Cek site marking area opeasi
b. Intraoperative
1) Pengkajian
Pasien yang sudah mendapat prosedur anestesi akan memasuki fase
intrabedah. Fokus tujuan pada fase ini adalah optimalisasi hasil pembedahan
dan penurunan resiko cedera. Ruang lingkup keperawatan interbedah yang
dilaksanakan perawat periopertif meliputi manajemen pengaturan posisi,
optimalisasi peran asisten pertaa bedah (pada beberapa kondisi di rumah sakit
Indonesia memberlakukan perawat sebagai asisten pertama/first assistant),
optimalisasi peran perawat instrument dan optimalisasi peran perawat
sirkuasi.

Perawat instrument mempunyai peran agar proses pebedahan dapat


dilakukan secara efektif dan efisien. Pada pelaksanaanya, perawat intrumen
harus memiliki keterampilan psikomotor, keterampilan manual, dan

15
keerampilan interperesona yang kuat, yang diperukan untuk mengikuti setiap
jensi pembedahan yang berbeda-beda dan mengadaptasikan antara
keterampila yang dimiliki dengan keinginan dari operator bedah pada setiap
tindakan yang dilakukan dokter bedah dan asisten bedah.

Perawat sirkulasi merupakan penghubung antara zona steril dengan


zona diluarnya. Peran lainya adlah menurunkan resiko ceder intraoperative
dimulai dari pengaturan posisi bedah sampai selesai pembedahan (Bruner &
Suddat, 2002)

2) Diagnosa keperawatan
 Resiko penyebaran infeksi
 Resiko cedera
3) Intervensi keperawatan
 Diagnosa I : resiko penyebaran infeksi
Tujuan dari kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
proses pembedahan, penyebaran infeksi pada pasien tdak terjadi dengan
kriteria hasil:
- TTV dalam batas normal
- Luka operasi bersih
- Leukosit 5000-10000U/L

Intervensi keperawatan

- Lakukan kewaspadaan standar infeksi


- Cek kadaluarsa alat yang dipakai, indikator eksternal dan internal alat
yang disterilkan
- Cuci tangan bedah, memakai jas dan sarung tangan steril
- Pertahankan steruilitas selama porses pembedahan
- Bersihkan daerah yang akan dioperasi dengan antiseptic dan pasang
drapping
- Lakukan pencucian luka operasi sampai bersih
- Tutup luka operasi dengan kassa steril

16
- Kolaborasi pemberian antibiotik
 Diagnose II : Resiko cedera
Tujuan dari kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
proses pembedahan cedera pasien idak terjadi dengan kriteria hasil :
- Intergtitas kulit utuh
- Pemakaian instrument, jarum, pisau, kassa sebelum dan sesudah operasi
lengkap

Intevesi keperawatan

- Pastikan posisi pasien sesuai dengan tindakan


- Cek integritas kulit
- Cek daerah penekanan selama operasi
- Pasang penghantar elekroda
- Hitung jumlah kasa, jarum, bisturi dan instrumen sebelum dan sesudah
operasi
- Lakukan time out
- Lakukan sign out
c. Post Operatif
1) Pengkajian

Fase ostperatife dimulai dari pasien selesai dilakukan anestesi sampai


pasien ditransfer ke Recovery room. Kondisi pasien yang perlu dipantau
adalah kesadaran dan keadaan umum pasien TTV,status pernafasan, status
hidrasi, tanda-tanda syok serta tigkat gelisah pasien.

2) Diagnosa Keperawatan`
 Ketidak efektifan besihan jalan nafas b.d sputum dalam jumlah berlebih
 Resiko cedera
3) Intervensi Keperawatan
 Diagnose I : Ketidakefektifan besihan jalan nafas b.d sputum dalam jumlah
berlebih

17
Tujuan dan kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1x15 menit ketidak efektifan bersihan jalan nafas tidak terjadi dengan
kriteria hasil :
- TTV dalam batas normal
- Tidak ada sianosis
- Saturasi oksigen dalam batas normal
- Tidak ada penumpukan lendir dalam jalan nafas

Intervensi Keperawatan

- Observasi TV setiap 15 menit


- Monitor keefektifan jalan nafas
- Berikan posisi nyaman
- Pasang gudel sesuai indikasi
- Kaloborasi pemberian oksigen

 Diagnosa II : Resiko cedera


Tujuan dari kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1x15 menit cedera tidak akanterjadi dengan hasil :
- Integritas kulit utuh
- Pasien tidak gelisah

Intervensi keperawatan

- Cek daerah penekanan selama operasi


- Cek integritas kulit
- Pasang sabuk atau tali pengaman

18
BAB III

PENGAMATAN KASUS

Tanggal masuk rumah sakit : 19/02/19


Tanggal pengkajian : 20/02/19 (05.30 WIB)
A. Identitas Pasien
1. Nama : Ny. O
2. Tanggal Lahir : 24 Februari 1976
3. Umur : 43 Tahun
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Alamat : Jln. PGT No.05 Halim,
JakartaTimur
6. Status Perkawinan : Menikah
7. Agama : Islam
8. Keluarga terdekat yang dapat dihubungi : Suami
9. Diagnosa prioperasi : Mioma Uteri
10. Rencana Tindakan : Laparatomi
11. Anastesi : Umum
B. Status Kesehatan

a. Status Kesehatan Saat Ini


Klien mengatakan nyeri perut dirasakan sekitar 2 minggu yang lalu, sejak itu klien
memeriksakannya ke dokter RSIA bunda jakarta dan dianjurkan untuk dirawat. Pada
saat pengkajian didapatkan data bahwa klien menderita mioma uteri.
b. Status Kesehatan Masa Lalu
1) Penyakit yang pernah dialami
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit dan kalau sakit itujuga cuman
demam dan nyeri biasa biasa dan tidak dirawat.
2) Pernah dirawat

19
Pasien mengatakan belum pernah dirawat dan apa lagi dilakukan operasi buka
perut (Laparatomi).

3) Riwayat alergi
Riwayat alergi (-)
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan belum pernah ada dari keluarganya yang menderita penyakit
mioma uteri.
5) Diagnosa Medis dan Therapy
Mioma Uteri. Pasien direncanakan dilakukan tindakan Laparatomi dan diberikan
antibiotik broadced I gram, I jam sebelum operasi dimulai.
6) Data sosial dan spiritual
1) Pola fikir dan persepsi
Klien mengatakan BAB-nya berdarah, dan menanyakan "apakah ada
hubungan BAB-nya yang berdarah dengan penyakit kistanya?" Klien
tampak benanya dan ingin tahu tentang penyakitnya, dengan serius klien
memegang tangan perawat dan mengerutkan dahi saat benanya.
2) Persepsi diri
Hal yang difikirkan klien saat ini adalah penyakit mioma yang muncul
untuk kedua kalinya, klien menanyakan juga apa mungkin dapat dioperasi
lagi dengan tenggang waktu hanya 1 tahun, sementara ini klien dalam
keadaan anemia dan akan melakukan pemeriksaan mioma lebih lanjut
setelah anemianya teratasi.
3) Konsep diri
Body Image : klien tidak malu terhadap perubahan tubuhnya
Peran : klien sebagai istri dan ibu dari 2 orang anak Ideal diri : klien ingin
menjadi ibu yang sehat untuk anaknya
ri : klien adalah seorang ibu rumah tangga
Harga diri : klien merasa cemas dengan penyakitnya
4) Hubungan / komunikasi

20
5) Klien berbicara jelas, berbahasa indonesia, relevan, mampu
mengekspresikan, dan mampu mengełti orang lain. Klien tinggal satu
rumah dengan suami dan anak-anaknya. Suami klien memegang peranan
penting dalam keluarga. Motivasi dari suami adalah dukungan moril dan
materi. Tidak ada kesulitan klien dalam keluarga.
6) Sistem nilai kepercayaan
Klien sering melakukan sholat 5 waktu di rumah, saat ini klien dan
keluarga sering berdo'a untuk kesembuhan Ny. O
Pemeriksaan (Data Objektif)
a. Kesadaran : Composmentis
b. TTV :
Nadi : 86 x/menit
Suhu : 36,50C
Pernafasan : 20 x/menit
Tensi : 140/90 mmHg
7) Pengkajian fisik
1. Kepala : Kepala tampak simetris, rambut klien bersih, klien mengatakan sering
pusing jika terbangun terlalu cepat.
2. Mata : konjunctiva anemis, penglihatan klien masih nampak jelas.
3. Telinga : Telinga klien tanpak kotor pada sebelah kiri, pendengaran masih jelas.
4. Hidung : Hidung klien bersih dan simetris, klien memiliki penciuman yang normal.
5. Mulut : Mukosa bibir lembab, gigi terdapat karies & kotor. Ompong pada gigi
taring kanan sebanyak 2-3 buah.
6. Leher : tidak ada pembengkakan & pembesaran kelenjar tiroid.
7. Thorax : Simetris, suara nafas vesikuler, iramajantung reguler.
8. Abdomen : Bentuk asimetris, terdapat benjolan di abdomen dekstra, nyeri tekan
pada abdomen kiri bawah, Bising usus 5x / menit. Kandung kemih tidak teraba.
9. Genital luar : Tidak ada varises, tidak ada odema, tidak ada kista, terdapat
pengeluaran pervaginam dengan warna merah terang seperti ada gumpalan, bau
sedikit amis, banyaknya darah 2 — 4x mengganti celana dalam.

21
10. Ekstremitas : Tangan kanan & kiri berkuku panjang karena 1 minggu ini klien
tidak memotong kuku. Terpasang infus (transfusi darah) untuk menambah Hb
dengan kolfke-3.
11. Kulit : Warna kulit tidak ada kehitaman turgor kulit elastis, seluruh tubuh lengket
karena klien belum mandi.
C. Pemeriksaan Penunjang
1. Hasil laboratorium
 Tanggal 11 Febuari 2019
Hemoglobin : 11,7 g/dl
Hematocrit : 34 %
Eritrosit : 4,6 juta/ µL
Leukosit : 5.400/ µL
Trombosit : 312.000/ µL
Bt : 1,5 menit , Ct : 10 menit
2. Hasil USG : Terdapat masa pada uterus diduga mioma uteri
D. Asuhan Keperawatan
1. Asuhan Keperawatan Intra Operatif

a. Persiapan kamar operasi meliputi:


1) Meja operasi : baik
2) Lampu operasi : baik
3) Mesin suction : baik
4) Meja instrumen : baik
5) Meja mayo : baik
6) Sampah infeksius : baik
7) Sampah non infeksius : baik
8) Safety box : baik
9) Trolly : baik
10) Mesin diatermi : baik
11) Mesin anestesi : baik
12) Penyangga tangan : baik
13) Tiang buffer : baik

22
14) Tiang infus : baik
b. Persiapan cuci tangan bedah
1) Air mengalir
2) Sikat
3) Cairan antiseptik clorheksidin 4%
4) APD lengkap (topi, google, masker, apron, sepatu bot/sendal yang tertutup)
c. Persiapan Instrumen dan linen Steril meliputi:
1) Linen Steril
a) Jas operasi disposable :3
b) Penutup meja mayo :2
c) Pentup meja instrumen :4
d) Laken besar bawah :1
e) Laken besar atas :1
f) Laken samping :2
g) Doek bolong :1
2) Waskom Steril
a) Kom besar :2
b) Kom kecil :2
c) Bengkok :1
d) Selang suction :1
e) Kanul suction :1
3) Instrumen Steril (set microsurgery)
a) Doek klem :6
b) Pean :4
c) Elis klem :4
d) Tenakulum :2
e) Otsner :2
f) Krome halus :6
g) Krom kasar :6
h) Krome 900 :2
i) Koher :4

23
j) Nald voeder besar :2
k) Nald voeder kecil :1
l) Gunting jaringan :2
m) Gunting benang besar :1
n) Gunting benang kecil :1
o) Gunting cantik :1
p) Krome kuat :6
q) Penster klem :4
r) Bebchok :2
s) Klem ovarium :2
t) Mikulik :4
u) Miom bor :2
v) Klem uterus :2
w) Kanul suction :1
x) Scapel no 4 :1
y) Pinset cirurgis panjang :2
z) Pinset cirurgis pendek :2
a. Pinset anatomis panjang :1
b. Pinset anatomis pendek :2
aa) Kom sedang :1
bb) Kom kecil :2
cc) Nearbeken :1
dd) Spatel Iidah :1
ee) Spekulum L pendek :1
ff) Spekulum L sedang :1
gg) Spekulum L panjang :1
hh) Retraktor :1
ii) O hak :1
jj) Hak segitiga :1
kk) Hak gigi 4 :1
4) Medical Supply meliputi:

24
a) Spuit disp 1O cc :1
b) Spuit disp 5 cc :1
c) Spuit disp I CC :1
d) Spinal needle no 27 :1
e) Kassa steril polos :5
f) Drain Catheter no. 12 :1
g) Urine bag :1
h) Jelly Catheter :1
i) Bisturi no. 20 :1
j) Sarung tangan 7.5 :3
k) Sarung tangan 7 :2
l) Sofratule :1
m) Tegaderm pad besar :1
n) Betadine 10% :3
o) Hibiscrube : 30 cc
p) Fentanil :1
q) NaC1 500 :3
r) Venvlon no 18 :1
s) IV dresing :1
t) Swab alcohol :3
u) Lidocain :1
v) Diatermi plate :1
w) Electosurgical pencil :1
x) Vicril no 1 :2
y) Chromic cugut no 2/0 :1
z) T-Mono no 3/0 :1
d. Persiapan pasien Pre-Operasi
1) Mengecek status atau identitas pasien (lengkap)
2) Pasien diterima di ruang penerimaan, pakaian diganti dengan baju operasi
3) Memakai topi operasi
4) Memastikan perhiasan, gigi palsu/implan dan kutek telah dilepas semua

25
5) Mengecek gelang pasien (ada)
6) Mengecek ada alergi/tidak (tidak ada alergi)
7) Memasang infus pasien di tangan kiri dengan cairan Gelafusal 500 ml
8) Melakukan skin test untuk antibiotik Broadced I gr.
9) Memberikan suntikan IV Omevel (perawat anastesi)
10) Memberikan suntikan IV Ondavel 8 mg (perawat anastesi)
11) Memasukkan pasien ke ruang OK
ii. Analisa Data Pre-Operasi
No Data Fokus Masalah Etiologi

l. DS: Pasien mengatakan Ansietas Proses


cemas karena ini pembedahan
pengalaman pertama
dilakukan tindakan
operasi
DO:
1. Pasien tampak gelisah
2. Nadi : 86 x / menit,
Suhu 36,5C,
Pemafasan : 20 x /
menit, Tensi darah :
140 / 90 mmHg
3. Pasien tampak
mengelus memegang
tangan ibunya
Diagnosa Keperawatan:
Ansietas berhubungan dengan proses pembedahan
1. Asuhan Keperawatan Intra Operasi
a. Persiapan pasien di ruang OK:
1) Klien disiapkan dimeja operasi dialas menggunakan underpad/alas.
2) Klien diberikan tindakan regional anestesi.
3) Klien diposisikan supine dan dipasangkan patien plate pada paha klien.

26
4) Klien di pasang penyangga tangan dan penutup bagian atas klien.
b. Prosedur operasi:
1) Memakai alat pelindung diri (topi, google, masker, apron, sepatu boot).
2) Melakukan cuci tangan bedah
3) Masuk ruang operasi, mengeringkan tangan dengan handuk atau lap yang telah
disediakan.
4) Memakai jas dan memakai handscoon secara tertutup
5) Memasang linen mayo dan alas duk.
6) Menata instrumen, atur instrumen di meja mayo sesuai kebutuhan
7) Melakukan penghitungan kassa dan instrumen dihadapan sirkuler
8) Melakukan time out
9) Melakukan aseptik pada daerah operasi dengan betadine 10% menggunakan kassa
yang dijepit di sponge holder
10) Draping area operasi (under pad, duk bawah, duk atas, duk samping, duk klem 6
buah).
11) Pemasangan selang suction dan chouter ( cek selang suction dan chouter berfungsi
atau tidak).
12) Insisi pfannensteil dengan menggunakan bisturi no.20
13) Dinding perut dibuka lapis demi lapis dimulai dari kutis dan subkutis dengan
pisau, perdarahan dirawat dengan couter, dilanjutkan fascia dengan gunting dan
pinset cirugis dibantu dengan hak gigi dan o-hak, jepit fascia dengan klem kocher,
selanjutnya peritonium dibuka dengan pisau dan pean ujung tumpul dilanjutkan
dengan gunting lalu dipasang l-hak, Memasang baghass
14) Eksplorasi:
a) Perlekatan omentum usus
b) Ovarium kanan dan kiri tampak normal
c) Kedua Tuba Fallopii normal
d) Dilakukan Fiksasi pada Uterus dengan Folly chateter dilanjutkan dengan
miomektomi, (dilakukan pemeriksaan patologi)
e) Kemudian dijahit dengan vicryl no 1
15) Luka dicuci dengan NaCl 0,9%

27
16) Diyakini tidak ada perdarahan, menghitung kassa dan alat (kassa dan alat lengkap)
17) Rongga abdomen di tutup lapis demi lapis
18) Peritoneum dijepit dengan mikulik, dijahit dengan chromic no. 2/0 menggunakan
Nald poeder, pinset anatomis, pean, dan gunting benang.
19) Fasia dijahit dengan vicril no. 1
20) Subkutis dijahit dengan chromic no. 2/0
21) Kulit dijahit subkutikuler dengan monocryl 3/0
22) Luka jahitan dibersihkan dengan kassa yang dibasahi NaCl lalu di keringkan
dengan kassa kering
23) Kemudian luka ditutup dengan Sofratule dilapisi dengan kassa dan ditutup lagi
dengan Tegaderm pad besar
24) Drapping dibuka
25) Jas, sarung tangan dan apron dibuka
26) perawat melakukan dekontaminasi alat
27) Perawatan selanjutnya dilakukan oleh perawat anastesi
28) Pasien dipindahkan ke ruang RR oleh perawat anastesi
c. Evaluasi
1) Operasi dimulai pukul 06.30 WIB
2) Operasi selesai pukul 08.30 WIB
3) Alat dan kassa lengkap
4) Jumlah perdarahan 200 cc
5) Urine 500 cc warna kuning
6) TTV selama operasi berlangsung:
a) Nadi : 76 x/menit
b) Suhu : 36,00 C
c) Pernafasan : 22 x/menit
d) Tensi darah : 110/70 mmHg
e) SpO2 : 100 %

28
d. Analisa Data
NO Data Fokus Masalah Etiologi

1. DS: - Resiko pola Anestesi


DO: nafas tidak regional
1. Pasien tampak terpasang efektif
selang oksigen nasal
kanul
2. Pasien tampak terpasang
elektroda
3. Pasien tampak posisi
supine
4. Kesadaran pasien dalam
pengaruh obat anastesi
5. Pernafasan : 22 x/menit
6. Nadi : 76 x/menit
Diagnosa Keperawatan :
Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan Anestesi Umum
2. DS: - kerusakan Insisi
DO: integritas kulit operasi
1. Insisi luka operasi pada
abdomen
Diagnosa Keperawatan : kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Insisi operasi

29
3. DS: - Resiko cedera Elektro
DO: surgery
1. Pasien tampak terpasang
plate di paha
2. Penggunaan kauter

Diagnosa Keperawatan .
Resiko cedera berhubungan dengan penggunaan elektro surgery

3. Asuhan Keperawatan Post Operasi


a. Pengkajian
1) Pasien dipindahkan ke ruang recovery room pada pukul 08.30 WIB.
2) Kesadaran pasien belum pulih benar karena pasien masih ada efek anestesi.
3) Kulit teraba hangat, tidak tampak sianosis, konjungtiva tidak anemis.
4) Pasien terpasang elektroda, pulse oxymetri, dan tensimeter. Terpasang oksigen 2
L/menit. Tampak terpasang kateter 100 cc warna kuning.
5) Dari luka operasi tidak tampak pendarahan (kasa pembalut luka bersih)
6) Tanda vital pasien
Jam TD (mmHg) sp02 N RR Pemberian cairan Obat
dan parenteral
07.05 110/70 100 76 22 Ring-as 500 cc

07.15 120/70 99 76 22 Tamoliv 100 cc

07.30 110/70 100 74 18

07.45 110/70 100 76 20

08.00 110/70 100 75 21

08.15 120/70 99 73 23

08.30 130/70 99 72 20

08.45 120/70 100 86 22

30
09.00 110/60 100 86 22

09.15 120/90 99 86 22

09.30 130/80 100 84 18

09.45 130/80 100 86 20

10.00 130/80 99 85 21 Pasien persiapan pindah


ruang
10.15 130/80 100 83 23

10.30 130/80 100 82 20

10.45 130/80 100 86 22

11.00 130/90 90 86 22

7) Terapi post-operasi dari dokter:


a) Lametik
b) Lanfix
c) Xephicym
d) Vitakhol
e) maltofer
f) farmadol tab 500 mg
g) Profenid Supp (bila masih nyeri)
h) Pemasangan oksigen 2 L/menit nasal kanul
i) Pemasangan oksimetri
j) Pantau perdarahan
k) Pantau urine
l) Pantau TTV setiap 15 menit selatna 3 jam
b. Analisa Data
NO Data Fokus Masalah Etiologi

31
1. DS: Pasien mengatakan Nyeri Agen cedera fisik
nyeri pada luka operasi (Luka operasi)
DO:
1. Pasien tampak meringis
kesakitan 2. Skala nyeri 4
2. TTV : TD: 130/70
mmHg, N: 82 x/mnt, P:
18x/mnt, Sp02: 100%
Diagnosa Keperawatan :
Nyeri berhubungan dengan pasca pembedahan
2. DS:- Resiko infeksi Luka
DO: operasi
1. Pasien terpasang kateter
urine
2. Pasien tampak terpasang
infus pada tangan kanan
3. Terdapat luka jahitan
yang tertutup dengan
tegaderm pad
Diagnosa Keperawatan
Resiko infeksi berhubungan dengan Luka operasi
3. DS: - Resiko pola efek anestesi
DO: nafas tidak umum
1. Pasien tampak terpasang efektif
selang oksigen
2. Pasien tampak terpasang
oksimetri
3. Nadi : 86 X / menit,
Suhu: 36,30C,
Pemafasan: 22 X / menit,

32
Tensi dara: 140 /90
mmHg, sp02: 100 %

Diagnosa Keperawatan :
Resiko pola nafas tidak efektifberhubungan dengan Sisa efek anestesi

33
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas adanya kesenjangan ataupun ketertarikan antara
teori dan kasus pada kasus Ny. O dengan diagnose medis Mioma Uteri di Rumah Sakit Ibu dan
Anak Bunda Jakarta. Pembahasan ini disusun sesuai tahap-tahap perioperatif.

1. Pre Operatif
Ny. O sebagai pasien pada laporan kasus ini didiagnosa dengan Mioma Uteri. Pada
saat pengkajian sebelum dilakukan operasi, pasien tampak tegang. Selain itu data
objektif yang ditemukan adalah ekspresi wajah pasien yang datar. Hal tersebut
menunjukkan bahwa klien mengalami masalah keperawatan yaitu ansietas. Meski
demikian, hasil pemekrisaan nadi dan frekuensi pernafasan klien yaitu 89x/menit dan
20x/menit, akral dingin.
Rencana keperawatan dengan diagnosa ansietas disusun berdasarkan NIC (Nursing
Intervention Classification), yaitu:
1. Ukur TTV
2. Beri posisi nyaman
3. Ajarkan teknik distraksi
4. Lakukan Sign In
Target yang diharapkan dari rencana intervensi tersebut adalah ansietas berkurang dengan
kriteria hasil: 1. Pasien tampak tenang
2. TTV dalam batas normal
3. Ekspresi wajah rileks
Setelah rencana tersusun selanjutnya adalah mengimplementasikan rencana
tersebut. Semua rencana keperawatan berhasil diimplementasikan yaitu:
1. Mengukur
2. Memberikan posisi nyaman
3. Melakukan teknik distraksi
4. Melakukan sign in

34
Evaluasi dari implementasi tersebu adalah ansietas teratasi dengan evaluasi
objektif ditemukan sesuai dengan target atau kriteria hasil rencana intervensi, yaitu
ekspresi wajah klien tenang setelah diajak berbincang oleh perawat, TTV dalam rentang
normal yaitu frekuensi nadi 89/menit, frekuensi pernafasan 20x/menit, tensi, dan suhu

2. Intra Operatif
Operasi Ny. O dimulai pada pukul 06.30 WIB dan selesai pada pukul 08.30 WIB.
Metode operasinya adalah Laparatomi dengan anestesi umum yang dimulai pada pukul
06.45 WIB. Hasil pengkajian pada Intra Operatif adalah pasien akan dilakukan operasi
laparatomi, terpasang IV line pada tangan kanan. Dengan demikian diagnosa
keperawatan yang muncul adalah resiko penyebaran infeksi dan resiko cedera.
Rencana keperawatan pada klie dengan diagnosa resiko penyebaran infeksi adalah
:
1. Lakukan kewaspadaan stndar infeksi
2. Cek kadaluarsa alat yang digunakan serta indikatornya
3. Cuci tangan bedah, memakai jas dan sarung tanagan yang steril
4. Bersihkan daerah yang akan diopersai dengan antiseptic dan pasang drapping
5. Lakukan pencucian luka operasi sampai bersih
Sedangkan rencana keperawatan diagnosa resiko cedera adalah:
1. Disediakan lingkungan aman
2. Hindarkan lingkungan yang berbahaya
3. Sediakan tempat tidur yang aman
4. Pastikan posisi yang sesuai dengan tindakan operasi dengan tujuan resiko cedera
teratasi dibuktikan dengan klien terbebas dari cedera.
Rencana intervensi pada diagnosa ini telah diimplementasikan pada klien dengan
evaluasi posisi pasien supine, tempat tidur bersih, pintu ruang OK ditutup. Dari hasil
evaluasi maka dapat dianalisa bahwa resiko cedera teratasi.
3. Post Operatif
Operasi pada Ny. O selesai pada pukul 08.30 WIB. Selanjutnya, pasien masuk ke
RR sebelum masuk ke ruang rawat. Pada pengkajian dengan pemeriksaan fisik
ditemukan kesadaran pasien CM, frekuensi N :78x/menit, RR : 14x/menit, SpO2 :
100%, TD : 117/72mmHg. Masalah keperawatan yang muncul pada pasien post operasi.

35
Setelah diagnosa gangguan rasa nyaman nyeri ditegakkan, maka selanjutnya
adalah penyusunan intervensi keperawatan yaitu meliputi:
1. Ukur TTV setiap 30 menit
2. Berikan posisi nyaman
3. Ajarkan teknik relaksasi
4. Kolaborasi pemberian O2
5. Kaji skala nyeri
6. Kolaborasi pemberian analgetik

Sedangkan target yang diharapkan atau tujuan dari intervensi tersebut adalah gangguan
rasa nyaman nyeri teratasi dengan kriteria hasil :

1. TTV dalam batas normal


2. Tidak ada sianosis
3. Saturasi O2 dalam batas normal
4. Skala nyeri berkurang

Tindakkan keperawatan yang elahdilakukan pada post operasi Ny. O adalah :

1. Mengukur TTV pasien setiap 30 menit


2. Memberikan posisi nyaman
3. Berkolaborasi pemberin O2
4. Mengajarkan teknik relaksasi
5. Mengkaji skala nyeri
6. Kolaborasi pemberian analgetik

Dari tindakan-tindakan tersebut analisa yang didapatkan pada klie adalah gangguan rasa
nyaman nyeri teratasi. Hal yang mendukung analisa tersebut adalah N : 78x RR : 14x
SpO2 : 100% TD : 117/72mmHg, posisi pasien supine, O2 nasal canul diberikan 2 lpm,

36
saturasi O2 100%, pasien mengatakan nyeri bekurang dengan relaksasi, skala nyeri
sedang dengan skala 6, pemberian obat sesuai instruksi dokter.

37
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Mioma Uteri merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan pada wanita.
Mioma Uteri merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat
yang menumpangnya.
Kasus pre, intra, dan post operasi mioma uteri harus dilakukan penatalaksanaan
efektif sedini mungkin untuk menghindari terjadi komplikasi dan pembedahan.
Dari asuhan keperawatan Ny. O dengan pre dan post operasi mioma uteri penulis
melakukan tindakan dan menemukan diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny. O
yaitu ansietas, resiko cedera, resiko penyebaran infeksi dan gangguan rasa nyaman
nyeri.
Dari keempat diagnose tersebut diatas, dilakukan tindakan sesuai intervensi
dengan kriteria waktu yang telah ditentukan tiap-tiap diagnosa. Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama pasien di ruang Instalasi Kamar Operasi kemudian
diperoleh dua masalah teratasi dan dua masalah belum teratasi.

B. Saran
Berdasarkan kasus yang diambil penulis dengan judul Asuhan Keperawatan
Perioperatif pada pasien Ny. O dengan Rencana tindakan Laparatomi dengan indikasi
Mioma Uteri di Instalasi Kamar Operasi RSIA Bunda Jakarta demi kebaikan
selanjutnya maka penulis menyarankan kepada :
1. Instalasi pelayanan kesehatan diharapkan mampu meningkatkan kinerja perawat dan
tenaga medis yang lain sehingga mampu meningkatkan asuhan keperawatan pada
pasien dengan tindakan perioperatif laparatomi.
2. Tenaga kesehatan khususnya perawat diharapkan untuk melanjutkan asuhan
keperawatan yang sudah dikelola oleh penulis yang bertujuan untuk pemulihan
kesehatan pasien.

38
3. Pasien dan keluarga pasien diharapkan mampu mengenali atau mengetahui
bagaimana tanda dan gejala infeksi dan mampu mematuhi dalam mengkonsumsi
terapi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.

39
DAFTAR PUSTAKA

Burke TW, MotTis M. Secondary cytoreduction operations, in ovarian cancer, ed by


Rubai SC and Sutton GP, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia USA,
2001.

DeChemey AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. Current Diagnosis & Treatment
Obstetrics & Gynecology. 10th ed. New York: McGraw-Hill; 2007.

Doenchoelter, Johan H (1988). Ginekologi Greenhill. Terjemahan Chandra Sanusi.


Edisi 120. EGC. Jakarta.

Hidayat A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik Analisa
Data. Salemba Medika. Jakarta.

Katz VL. Benign Gynecologic Lesions : Vulva, Vagina, Cervix, Uterus, Oviduct,
Ovary. In: Katz VL, Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, editors.
Comprehensive Gynecology. 5th ed. Philadelphia; Elsevier: 2007.

Media Aesculapius. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1. Media


Aesculapius. FKUI.

Pemoll's & ML. Transverse Lie In : Benson & Pernoll handbook of Obstetrics &
Ginecology, 10th ed. Mcgraw-Hill International Edition, America, 1994.

Priharjo Robert. 2007. Pengkajian Fisik Keperawatan. Edisi 2. EGC. Jakarta.

Sastrawinata, Sulaiman. dkk. 2004. 11mu Kesehatan Reproduksi: Obstetri


Patoiogi.Edisi 2. Jakafia: EGC

Sindroma ovarium polikistik. Hadibroto, Budi R. Departemen Ostetri dan Ginekologi


Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2005.

unningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Obstetli
Williams. Edisi ke-21. Vol. 2. Jakarta: ECG; 2009.

Wiknjosastro, H. 2007. 11mu Kebidanan. Edisi ke-9. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

40