Anda di halaman 1dari 46

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PADA PASIEN NY.

D
DENGAN APPENDIKTOMI ATAS INDIKASI APPENDIKSITIS
DI INSTALASI KAMAR OPERASI
RSU BUNDA JAKARTA

OLEH :
Ns.SRI RATU SUSANTI, S. Kep.

HIMPUNANAN PERAWAT KAMAR BEDAH INDONESIA


JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukrur penulis panjatkan kehadiran Allah


SWT berkat Rahmat dan Hidayah-nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah kesehatan yang terjadi “Asuhan
Keperawatan perioperatif pada pasien Ny.D dengan appendiktomi
atas indikasi Appendiksitis di Instalasi Kamar Operasi RSU Bunda
Jakarta”
Penulisan makaslah adalah merupakan salah satu tugas dan
persyaratan untuk menyelesaikan tugas pelatihan perawat kamar bedah
makalah ini dengan baik. Maka kesempatan ini ini penulis ingin
mengucapkan terimah kasih kepada :
1. Ibu Hj. Hafni, S.Pd.S.Kep.,selaku penbimbing pelatihan
HIPKABI
2. Ibu Kristanti, AMK selaku trainer RSIA Bunda
3. Ibu Rosmina Sitompul selaku trainer RSU Bunda
4. Ibu Dewa Ayurai, S. Kep., Ns sebagai penguji
5. Seluruh keluarga yang selalu mendorong dan mensupor
dalam mengikuti kegiatan ini
6. Seluruh teman-teman pelatihan bedah dasar angkatan VI
RS Bunda Menteng Jakarta Pusat
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini penulis
merasa masih jauh daripad sempurna, di sana sini masih
banyak kekurangan- kekurangan dan perlu perbaikan, baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat dan
kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk it kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Jakarta, Februari 2019

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan .............................................................................. 5
C. Sistematika Penulisan ....................................................................... 6
BAB II KONSEP DASAR
A. Konsep Dasar Medis ......................................................................... 7
1. Pengertian ................................................................................... 7
2. Anatomi Fisiologi ....................................................................... 8
3. Pemeriksaan Penunjang .............................................................. 9
4. Patofisiologi ................................................................................ 10
5. Tanda Gejala ............................................................................... 12
6. Penatalaksanaan medik ............................................................... 14
7. Patoflodiagram ............................................................................ 15
B. Konsep Dasar Keperawatan .............................................................. 16
BAB III PENGAMATAN KASUS
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian ......................................................................................... 47
B. Diagnosa Keperawatan...................................................................... 48
C. Intervensi ........................................................................................... 49
D. Implementasi ..................................................................................... 50
E. Evaluasi ............................................................................................. 50
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN ............................................................................... 51
B. SARAN ............................................................................................. 52

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi saluran cerna merupakan penyakit yang menyerang
system pencernaan manusia. Penyakit ini tentunya terasa sangat
mengganggu karena tidak jarang menimbulkan sakit dan menghambat
aktivitas. Secara umum infeksi bisa terjadi karena adanya bakteri di dalam
saluran pencernaan akibat makanan atau minuman yang tidak bersih serta
pola makan yang tidak teratur selain itu infeksi bisa terjadi sebagai
indikator awal bahwa ada organ pencernaan yabg tidak bekerja secara
maksimal penyakit-penyakit yang menyeran system pencernaan menurut
Depkes RI tahun 2008 diantaranya yaitu diare dengan angka kejadian 9%
gastristis 6% radang usus buntu atau appendiksitis 7% dari jumlah
penduduk Indonesia sekitar 179.000 orang. Dari sekian banyak kelainan
pada system pencernaan yang tidak kalah pentinganya untuk dipelajari
adalah appendiksitis. (kasus appendiksitis di RS Bunda belum
dikalkulasikan oleh penulis).
Appendiksitis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bacteria,
sumbatan lumen appendiks, heperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor
appendiks, dan berupa erosi mukosa oleh cacing askaris dan E.histolytica,
peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan prngaruh konstipasi
terhadap timbulnya appendiksitis Konstipasi akan menaikan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbul sumbatan fungsional appendiks dan
meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan
mempermudah timbulnya appendiksitis akut. (sjamsuhidajat & De jong,
2011)
World Health Organization (2007) memperkirakan insidens
appendiksitis didunia memcapai 7% dari keseluruhan jumlah penduduk
dunia sedangkan menurut Depkes RI (2008), Di Indonesia jumlah pasien
yang menderita penyakit appendiksitis berjumlah 7 % dari jumlah

1
penduduk Indonesia atau sekitar179.000 orang. Dari hasil survey
kesehatan rumah tangga (SKTR) di Indonesia, appendiksitis akut
merupakan salah satu penyebab dari akut abdomen dan beberapa indikasi
untuk dilakukan operasi kegawatdaruratan abdomen. Insidens
appendiksitis di Indonesia menempati urutan tertiggi di antara kasus
kegawatan abdomen lainnya. Dinkes jawa tengah tahun (2009), jumlah
kasus appendiksitis dilaporkan sebanyak 5.980 dan 177 dianataranya
menyebabkan kematian. Jumlah penderita appendiksitis tertinggi ada
dikota semarang, yakni 970 orang. Hal ini mungkin terakait dengan diet
serat yang kurang pada masyarakat modern (www.
Ilmubedah.info.com,2011)
Bahaya dari appendiksitis adalah perforasi, baik berupa prforsi
bebas maupun perforasi pada appendiks yang telah mengalami
perlengketan dinding sehingga berupa masa yang terdiri atas kumpulan
appendiks sekum dan lekuk usus haus. Perforasi appendiks dapat
berkembang menjadi peritonitis atau abses.perforasi secara umum terjadi
24 jam awitan nyeri. Gejala mencakup deman dengan suhu 37,70 C atau
lebih tinggi,nyeri tekan abdomen yang continue(sjamsuhidajat & De Jong
2011)
Penanganan appendiksitis dapat melalui dua cara yaitu operasi dan
non operasi pada kasus ringan appendiksitis bisa sembuh hanya dengan
pengobatan tetapi untuk appendiksitis yang sudah luas infeksinya maka
harus segera dilakukan operasi appendiktomi. Appendiktomi adalah
pembedahan untuk mencegah terbentuknya abses atau peradangan pada
selaput rongga perut (peritonitis). Hasil akhir operasi pun berbeda
tergantung dari tingkatan keparahan, kompliasi setalah operasi antara lain
pendarahan, perlengketan organ dalam atau infeksi pada daerah operasi
(Doengoes, 2000)
Berdasarakan penelitian yang dilakukan oleh douglas et al terdapat
302 pasien yang terkena suspek appendiksitis setelah pemeriksaan
ultrasonografi dengan angka kegagalan sekitar 9-11% dan 98 % berhasil

2
untuk mengatasi appendiksitis dan penelitian lain yang dilakukan oleh
zelke et al, sekitar 2000 pasien mengatakan bahwa sekitar 6 %
ultrasonografi mendeteksi appendiksitis. Sedangkan berdasarkan survey
yang dilakukan dan 10 besar penyakit yang terdapat di Indonesia
didapatkan masyarakat yang menderita penyakit appendiksitis pada tahun
2006 berjumlah 31,43% pada tahun 2007 masyarakat yang menderita
appendiksitis menurun menjadi 30,55%, sedangkan pada tahun 2008
didapatkan masyarakat yang menderita appendiksitis meningkat menjadi
31,44% dari sejumlah penduduk indonsia ( afkar,2009)
Beberapa faktor dapat membuat appendiksitis dapat kembali terjadi
salah satunya yaitu faktor kebiasaan makan yang renda serat yang dapat
membuat fase menjadi keras dan dapat menumpuk di appendiks yang
menyebabkan appendiks kembali terinflamasi atau menjadi abses. Kita
bisa melakukan pencegahan dengan memakan makanan yabg berserat agar
fasenya tidak keras, pemberian obat cacing teratur tiap 6 bulan menjaga
kebersihan makanan agar tidak banyak mengandung parasit, mengenai
pencegahan tentunya yang paling penting adalah menjaga agar tidak
menjadi pengerasan sisa makanan dalam usus ataupun tidak memakan
makanan yang sulit dicerna sehingga tidak dan berpotensi menjadi cikal
bakal dari penyumbatan tadi. Diet tinggi serat, dalam hal ini kaya akan
sayuran dan buah-buahan akan sengat membantu melancarkan aliran
pergerakan makanan dalam saluran cerna sehingga tidak tertumpuk lama
dan mengeras disamping itu meminun cukup air putih dan tidak menunda
buang air besar juga akan membantu kelancaran pergerakan saluran cerna
secara keseluruhan (Depkes RI,2008)
Perang perawat sangat penting pada saat pre dan post operasi
appendiksitis untuk memberikan asuhan keperawatan dengan pendekatan
bio psiko social kesehatan tentang appendiks dan kultural yang mencakup
aspek promotif melalui peningkatan hidup sehat dengan mengkonsumsi
makanan yang bergizi, istrahat yang cukup dan olaharaga secara teratur.
Aspek preventif melalui pendidikan kesehatan tentang. Appendiksitis,

3
aspek kurati dengan pengeboftan dan aspek rehabilitasi yaitu perawatan
luka post operasi dan pengaturan di rumah. Pasien dapat diberikan diet
pasca bedah selanjutnya.pemberian makanan dengan konsistemsi yang
berbeda disesuaikan dengan kondisi fisik klinis pasien.
Melihat angka kejadian appendiksitis tersebut penulis tertarik
untuk membahas tentang perawatan pada klien perioperaif appendiktomi
dan dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan keperatan
dengan judul ‘ Asuhan Keperawatan perioperatif pada pasien
Ny.Ddengan appendiktomi atas indikasi Appendiksitis di Instalasi Kamar
Operasi RSU Bunda Jakarta”

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Melaporkan hasil studi kasus tentang asuhan keperatan pasien Ny. D
dengan diagnosa appendiksitis yang di rencanakan appendiktomi di
instalasi kamar operasi rumah sakit umum bunda Jakarta
2. Tujun Khusus
a. Melakukan pengkajian pada Ny. D dengan diagnosa appendiksitis
yang di rencanakan appendiktomi
b. Mendiagnosa masalah keperawatan Ny. D dengan diagnosa
appendiksitis yang di rencanakan appendiktomi
c. Merencanakan tindakan keperawatan pada Ny. D dengan diagnosa
appendiksitis yang di rencanakan appendiktomi
d. Melakukan implementasi keperawatan pada Ny. D dengan
diagnosa appendiksitis yang di rencanakan appendiktomi
e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. D dengan diagnosa
appendiksitis yang di rencanakan appendiktomi
f. Melakukan pendokumentasian keperwatan dengan baik dan benar
pada Ny. D dengan diagnosa appendiksitis yang di rencanakan
appendiktomi

4
C. Sistematika Penulisan
Proses pembuatan makalah ini terdiri dari beberapa tahapan
diantaranya
1. Observasi
Mengamati kliensecara langsung untuk memperoleh gamabaran secara
nyata sesuai kondisi klien
2. Wawancara
Mengadakan komunikasi secara langsung pada klien untuk mengetahui
dan melengkapi data tentang keluhan dan permasalahan yang
dirasakan oleh klien
3. Studi Dokumentasi
Dengan mengumpulkan data mengenai keadaan klien berdasarkan
hasil pemeriksaan penunjang dan catatan medis
4. Studi Kepustakaan
Dengan mempelajari literatur keperawatan dan kedokteran yang
berhubungan dengan masalah appendiksitis.

5
BAB II
KONSEP DASAR

A. Konsep Dasar Medis


1. Pengertian
Appendiksitis merupakan penyakit bedah mayor yang paling
sering terjadi.walaupun appendiksitis dapat terjadi pada setiap usia,
paling terjadi pada remaja dan dewasa muda. Angka mortalitas
penyakit ini tinggi sebelum era antibiotik (price & Wilson, 2006)
Appendiksitis adalah inflamasi appendiks vermiformis (kantung
buntu di ujung sekum) (Pierce & Neil, 2007)
Appendiks disebut juga umbai cacing istilah usus buntu yang
dikenal dimasyarakat awam sesungguhnya kurang tepat Karen usus
buntu yang sebenarnya adalah sekun. Organ yang tidak diketahui
fungsi ini sering menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut
appendik memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah
komplikasi yang umumnya berbahaya (samsuhidajat & De Jong, 2011)
Appendiktomi adalah tindakan pembedahanyang dilakukan untuk
memotong jaringan appendiks yang mengalami peradangan
appediktomi (pembedahan untuk mengankat appendiks) dilakukan
sesegerah mungkin untuk menurungkan resiko perforasi.
Appendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum atau spinal
dengan insisi abdomen bawah atau dengan laporoskopi, yang
merupakan metode terbaru yang paling efektif (sjamsuhidajat & De
Jong, 2011)
Penulis dapat menyimpulkan pengertian bahwa appendiksitis
merupakan pandangan pada appendiks baik berupa makanan maupun
infeksi bakteri, sehingga terjadi paradangan pada appendix. Sedangkan
appendiktomi adalah tindakan pembedahan pada appendiks yang
mengalami peradangan
2. Anatomi Fisiologi

6
Appendix adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat
pada secum (bagian awal dari colon). Bentuknya seperti cacing putih.
Secara anatomi appendiks terletak di bagian kanan bawah dari
abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga
taenia coli. Muara appendix berada disebelah postero-medial secum.
Penentuan letak pangkal dan ujung appendix yang normal adalah
sebagai berikut :
a. Garis yang menghubungkan SIAS dan umbilicus. Pangkal appendix
terletak pada 1/3 lateral dari garis ini (titikMcBurney)
b. Diukur dari SIAS dextra sampai SIAS sinistra ujung appendix adalah
pada titik 1/6 lateral dextra.
Seperti halnya pada bagian usus yang lain appendix juga
mempunyai masenterium berupa selapis membran yang melekatkan
appendix pada struktur yang lain pada abdomen. Kedudukan ini
memungkinkan appendix dapat bergerak. Selanjutnya ukuran appendix
dapat lebih panjang daripada normal. Gabungan dari luasnya
mesenterium dengan appendix yang panjang dapat mengakibatkan
appendix bergerak ke belakang colon yang disebut appendix retrocolic.
Appendix dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan simpatis
Fungsi appendix pada manusia belum diketahui secara pasti.
Diduga berhubungan dengan system kekebalan tubuh. Lapisan dalam
appendix menghasilkan lendir. Lendir ini secara normal dialirkan ke
appendix dan secum. Hambatan aliran lendir dimuara appendix
berperan pada pathogenesis appendicitis.
Appendeks menghasilkan lendir 1-2 Ml perhari yang bersifat basa
mengandung amalise, erepsin dan musin. Lendir itu secara normal
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.
Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi
appendiks.

7
3.Etiologi
Appendicitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen
appendix sehingga terjadi kongseti vaskuler, iskemik nekrosis dan
akibatnya terjadi infeksi. Appendicitis umumnya terjadi karena infeksi
bakteri. Penyebab obstruksi yang paling sering adalah fecolith.
Fecolith ditemukan pada sekitar 20% anak dengan appendicitis.
Penyebab lain dari obstruksi appendiks meliputi: Hiperplasia folikel
lymphoid Carcinoid atau tumor lainnya Benda asing (pin, biji-bijian)
Kadang parasit 1 Penyebab lain yang diduga menimbulkan
Appendicitis adalah ulserasi mukosa appendix oleh parasit E.
histolytica. Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien
appendicitis yaitu7: Bakteri aerob fakultatif Bakteri anaerob
Escherichia coli Viridans streptococci Pseudomonas aeruginosa
Enterococcus Bacteroides fragilis Peptostreptococcus micros Bilophila
species Lactobacillus species
3 Pemeriksaan Penunjang
Menurut (pierce & Neil,2007) pemeriksaan penunjan yang lakukan
antara lain :
a. Diagnosis berdasarkan klinis, namun sel darah putih (hamper
selalu leukositosis) dan CRP (biasanya meningkat) sangat
membantu
b. Ultrasonografi untuk masa appendiks dan jika masih ada
keraguan untuk menyingkirkan kelainan pelvis lainnya
(misalnya kista ovarium)
c. Laparoskopi biasanya digunakan untuk menyingkirkan
kelainan ovarium sebelum dilakukan appendiktomi pada wanita
muda
d. CT scan (heliks) pada pasien usiah lanjut atau dimana
penyebab lain masih mungkin.
4 Patofisiologi

8
Appendiksitis adalah peradangan appendiks yang mengenai semua
lapisan dinding organ tersebut. Patogenesis utamanya diduga
karena adanya obstruksi lumen yang biasanya disebabkan oleh
fekalit (feseskeras yang terutama disebabkan oleh serat).
Penyumbatan pengeluaran secret mucus mengakibatkan terjadinya
pembengkakan, infeksi, dan ulserasi. Peningkatan tekanan
intraluminal dapat menyebabkan terjadinya oklusi arteria
terminalis (end-artery) appendikularis. Bila keadaan ini dibiarkan
berlangsung terus, biasanya mengakibatkan nekrosis, gangrene,
dan perforasi. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa ulsearsi
mukosa berjumlah sekitar 60 % hingga 70 % kasus, lebih sering
daripada sumbatan lumen. Penyebab ulserasi tidak diketahui,
walaupun sampai sekarang diperkirakan disebabkan oleh virus.
Akhir-akhir ini penyebab infeksi yang paling diperkirakan adalah
yersinia enterocotica (Price &Wilson 2006)
Appendiks dapat dimulai mukosa dan kemudian
melibatkan seluruh lapisan dinding appendiks dalam waktu 24-48
jam pertama usaha dengan menutup appendiks dengan omentum,
usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk masa
periappendikuler, yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrate
appendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis berupa abses,
appendiksitis akan sembuh dan massa periappendikuler akan
menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara
lambat ( Sjamsuhidayat & De Jong 2011)
Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh
sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut yang
menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya.
Perlengkatan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperuk
kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut
lagi dan menyatakan sebagai eksaserbasi akut (sjamsuhidajat &
De Jong, 2011)

9
Infiltrate periappendikuler yang sudah berupa abses,
dapat mengalami perforasi. Ketika periappendikuler yang sudah
berupa abses dapat mengalami perforasi. Ketika masa
periappendikuler yang sudah sempurna mengurai diri, maka akan
terjadi penyembuhan, akan tetapi hal ini dapat berulang
menimbulkan keluhan nyeri. Masa appendikuler yang sudah
mengalami perforasi harus segera dilakukan tindakan
appendiktomi ( Sjamsuhidajat, R & De Jong 2011)

10
Pathway

11
5 Tanda Gejala
Pada kasus appendiksitis, gejala awal adalah nyeri atau rasa tidak
enak disekitar umbilicus. Gejala ini umunnya berlangsun lebih
dari 1 atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri bergeser ke kudran
kanan bawah dengan disertai oleh anoreksia, mual,dan muntah.
Dapat juga terjadi nyeri disekitar titik Mc Burney. Kemudian, dapat
timbul spasme otot dan nyeri tak lepas. Biasanya ditemukan
deman ringan dan leukositosis sedang. Apabila terjadi ruptur
appendiks, tanda perforasi dapat berupa nyeri, nyeri tekan dan
spasme. Penyakit ini sering disertai oleh hilangnya rasa nyeri,
secara dramatis untuk sementara. ( Price & Wilson, 2006)
Appendiksitis sering tampil dengan gejala khas yang
didasari oleh terjadinya peradangan mendadak pada umbai
cacing yang memberikan tanda setempat,baik disertai maupun
tidak sertai dengan rangsangan peritoneum local. Gejala klasik
appendiksitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang
merupakan nyeri visceral didaerah epigastrium disertai mual dan
kadang ada muntah umunnya, nafsu makan menurun. Dalam
beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah ketitik Mc
Burney. Disini nyeri dirasa lebih tajam dan lebih jelas katanya
sehingga merupakan nyeri somatic setempat, kadang tidak ada
nyeri epigastrium, tetapi terdapat kontipasi sehingga penderita
merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap
berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Bila
terdapat rangsangan peritoneum, biasnya pasien mengeluh sakit
peruk jika berjalan atau batuk. (Sjamsuhidajat & De Jong, 2011)
Bila appendiks terletak retrosekal retroperitoneal tanda
nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak rangsangan
peritoneal karena appendiks terlindung oleh sekum. Rasa nyeri
lebih kearah peruk kesisi kanan atau nyeri timbul pada saat

12
berjalan karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari
dorsal. (Sjamsuhidajat & De Jong, 2011)
Radang pada appendiks yang terletak di rongga pelvis
dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sogmoid atau
rectum menjadi lebih cepat serta berulang. Jika appendiks tadi
menempel ke kandung kemih dapat terjadi peningkatan frekuensi
kencing akibat rangsangan appendiks terhadap dinding kemih.
(Sjamsuhidajat & De Jong, 2011)
6 Penatalaksaan Medik
Setelah diagnosis appendiks ditegakkan, maka persiapkan untuk
menjalani pembedahaan dan appendiks segera dibuang setiap saat
siang maupun malam. Bila pembedahan dilakukan sebelum terjadi
refture dan tanda peritonitis. Perjalan pasca beda ummunya tampa
sertai penyulit. Pemberian antobiotik biasnya diindikasikan. Waktu
pemulangan pasien bergantung pada seberapa dini penegakan
diagnosis appediksitis, derajat inflamasi, dan penggunaan metode beda
terbuka atau laparoskopi. (Wilson & Price 2006)
Infiltrate periappendikuler yang sudah berupa abses, dapat
mengalami perforasi. Ketika periappendikuler yang sudah berupa
abses dapat mengalami perforasi. Ketika masa periappendikuler
yang sudah sempurna mengurai diri, maka akan terjadi
penyembuhan, akan tetapi hal ini dapat berulang menimbulkan
keluhan nyeri. Masa appendikuler yang sudah mengalami perforasi
harus segera dilakukan tindakan appendiktomi ( Sjamsuhidajat, R
& De Jong 2011)
Appendiktomi bisa dilakukan tindakan pembedahanyang
dilakukan untuk memotong jaringan appendiks yang mengalami
peradangan appediktomi (pembedahan untuk mengankat appendiks)
dilakukan sesegerah mungkin untuk menurungkan resiko perforasi.
Appendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum atau spinal
dengan insisi abdomen bawah atau dengan laporoskopi, yang

13
merupakan metode terbaru yang paling efektif (sjamsuhidajat & De
Jong, 2011)

B. Pengkajian Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
a. Data Dasar
1. Indentitas klien, meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
agama, pekerjaan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnose
medis dan nomor register
2. Riwayat keperawatan
a. Riwayat kesahatan saat ini : Keluhan nyeri pada luka post
appendiktomi, mual, muntah, peningkatan suhu tubuh,
peningkatan leukosit
b. Riwayat kesehatan masa lalu : meliputi penyakit yang
berhubungan dengan penyakit sekarang, riwayat kecelakaan,
riwayat dirawat dirumah sakit dan riwayat pemakaian obat
3. Sistem kardiovaskuler : untuk mengetahui tanda-tanda vital ada
tidaknya distensi jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi
jangtung takikardi dapat ditemukan pada pasien yang dilakukan
appendiktomi karena sirkulasi darah yang tidak teratur
4. System hematologi : untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan
leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan
mimisan spelemogali
5. System gastrointestinal : distensi abdomen dan penurunan atau tidak
adanya bising usus dapat terjadi pada pasien post appendiktom
peristaltik usus menjadi menurun. Dehidrasi disebabkan karena
pembatasan pemberian cairan dalam hal ini pasien dalam keadaan
puasa, pasien mendapatkan cairan hanya malalui infuse. Mual dan
munta terjadi karena mucus yang di produksi mukosa terus menerus
dan meningkatkantekanan gastroinstestinal sehingga terjadi distensi
abdomen yang menimbulkan rasa mual

14
6. System urgenital : ada tidaknya tegangan kandung kemih dan
keluhan sakit pinggang
7. System muskuluskeletal : untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan
dalam pergerakan sakit pada tulan sendi dan pada saat beraktivitas
dapat terjadi karena pasien dalam menjalankan operasi mendapatkan
anastesi.
8. System persyaratan : nyeri pada luka inisi pembedahaan.
9. System kekebalan tubuh : untuk mengetahui ada tidaknya
pembesaran kelenjar geta bening.

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik secara umum dilakukan mulai dari ujung rambut
sampai dengan ujung kaki menggunakan empat teknik, yaitu
inspeksi,palpasi, perkusi, dan aukulasi namun untuk pemeriksaan fisik
abdomen pada klien appendiks memerlukan teknik khusus menurut Price
dan dkk, 2006, & Sjamsuhidajat dkk, 2011 antara lain :
a. Pada palpasi, didapatkan nyeri yang terbatas pada region iliaka kanan
bisa disertai nyeri lepas. Depans muskuler menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum parietal. Nyeri tekan peruk kiri bawah, akan
dirasakan nyeri diperut kanan bawah yang disebut tanda rovsing. Pada
appendiksitis restrosekal atau retroileal, diperlukan palpasi dalam untuk
menentukan adanya rasa nyeri
b. Auskultasi, peristaltic usus dan suara tambahan keras.
c. Palpasi, adanya nyeri tekan, nyeri lepas, terasa adanya benjolan
dikuadran kanan bawah abdomen, nadi cepat, suhu meningkat (38-390
C)
d. Perkusi, mengetuk jari diatas peruk.
e. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah imfeksi dapat
dicapai dengan jari telunjuk, misalkan pada appendiksitis pelvika. Pada
appendiksitis, tanda parut sering meragukan maka kunci diagnosis
adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur

15
f. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan dengan otot psoas lewat
hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul.
Kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang
menempel diotot psoas mayor. Tindakan tersebut menimbulkan nyeri.
g. Uji obturator digunakan untuk melihat bilamana appendiks yang
meradang bersentuhan dengan otot oburator internus yang merupakan
dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul
pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada appendiksitis.

3. Asuhan keperawatan Perioperatif


a. Preopertif
1. Diagnosa Keperawatan
 Kecemasan b.d kurang informasi tentang prosedur pembedahan
da perawatan
 Resiko cedera
2. Intervensi Keperawatan
 Diagnosa 1: Kecemasan b.d kurang tentang prosedur
pembedahan dan keperawatan.
Tujuan dan criteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1 x15 menit, cemas pasien berkurang dengan kriteria:
1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas
2. Mengidentifikasi, mengungkap dan menunjukkan teknik untuk
mengontrol cemas
3. Tanda-tanda vital dalam batas normal
4. Postur tubuh dan ekspresi wajah, bahasa tubu dan tingkat
aktifitas menunjukkan berkurangnya kecemasan
5. Intervensi keperawatan
6. Ukur tanda - tanda vital
7. Berikan posisi nyaman
8. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan dan lama operasi

16
9. Beri kesempatan pasien untuk bertanya
10. Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam dan berdoa
 Disgnosa II : Resiko cedera
Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x15 menit, cedera pada pasien tidak
terjadi dengan criteria hasil :
1. Tidak ada perhiasan, kontak lens, cat kuku, wig, gigi palsu
intervensi keperawatan
2. Cek daerah kulit atau persiapan kulit dan persiapan peruk
(pencukuran)
3. Pasang bed rail
4. Lepas tusuk konde, wig dan tutup kepala jika ada
5. Bersihkan cat kuku
6. Lepas kontak lensa dan diamankan
7. Lepasa protesa (gigi Palsu)
8. Cek site marking area operasi
b. Intraoperatif
1. Pengkajian
Pasien yang sudah mendapat prosedur anestesi akan
memasuki fase intrabeda. Focus tujuan pada fase ini adalah
optimalisasi hasil pembedahan dan penurunan resiko cedera.
Ruang lingkup keperawatan intrabeda dilaksanakan perawat
perioperatif meliputi manejemen pengaturan posisi, optimalisasi
pperng asistem pertama bedah ( pada beberapa kondisi rumah sakit
di Indonesia memperlakukan perawat sebagai asistem pertama/firs
assistant), optimalisasi peran perawat instrumen dan optimalisasi
perang perawat sikulasi.
Perawat instrument mempunyai peran agar proses
pembedahan dapat dilakukan secara efektif dan efesien. Pada
pelaksanaannya perawat instrumen harus memilki keterampilan
psikomotor, keterampilan manual, dan keterampilan interpersonal

17
yang kuat, yang diperlukan untuk mengikuti setiap jensi
pembedahan yang berbeda-beda dan mengadaptasikan antara
keterampilan yang dimiliki dengan keinginan dari operator bedah
pada setiap tindakan yang dilakukan dokter beda dan asistem beda.
Perawat sirkulasi merupakan penghubung antara zona steril
dengan zona diluarnya. Perang lainnya adalah menurungkan resiko
cedera intraoperatif dimulai dari pengaturan posisi beda sampai
selesai pembedahan (Bruner & Suddat 2002)
2. Diagnosa keperawatan
 Resiko penyebaran infeksi b.d kerusakan jaringan dan
peningkatan paparan lingkungan
 Resiko cedera b.d kelemahan fisik efek anesti
3. Intervensi keperawatan
 Diagnosa 1 : resiko penyebaran infeksi
Tujuan dan criteria hasil : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama proses pembedahan, penyebaran infeksi
pada pasien tidak terjadi criteria hasil:
 TTv batas normal
 Luka operasi bersih
 Leukosit 5000o-1000 U/L
 Intervensi Keperawatan
 Lakukan kewaspadaan standar infeksi
 Cek kadaluarsa alat yang dipakai, indikator
eksternal dan internal alat yang disterilkan
 Cuci tangan beda, pemakai jas dan sarung tangan
steril
 Pertahankan sterilitas selama proses pembedahan
 Bersihkan daerah yang akan dioperasi dengan
antiseptic dan pasang drapping
 Lakukan pencucian luka operasi sampai bersih
 Tutup luka operasi dengan kassa steril

18
 Kolaborasi pemberian antibiotic

 Diagnosa II : Resiko cedera


Tujuan dan criteria hasil : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama proses pembedahan cedera pasien
tidak terjadi dengan criteria hasil :
 Integritas kulit utuh
 Pemakaian instrument, jarum, pisau, kassa sebelum
dan sesudah operasi lengkap
Intervensi Keperawatan
 Pastikan posisi pasien sesuai dengan tindakan
 Cek integritas kulit
 Cek daerah penekanan selama operasi
 Pasang penghantar elektroda
 Hitung jumlah kassa, jarum,bisturi, dan instrument
sebelumnya dan sesudah operasi
 Lakukan time out
 Lakukan sign out
c. Postoperatif
1. Pengkajian
Fase postoperatif dimulai dari pasien selesai dilakukan
anesti sampai pasien ditransfer ke rescovery Room. Kondisi
pasien yang dipantau adalah kesadaran dan keadaan umum
pasien TTV, status pernapasan, status hidrasi, tanda-tanda
syok serta tingkat gelisa pasien

2. Diagnosa keperawatan
 Nyeri akut b.d kerusakan jaringan akibat pembedahan
 Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan dan peningkatan
paparan lingkungan
3. Intervensi keperawatan

19
 Diagnosa I : nyeri akut b.d keruskan jaringan akibat
pembedahan .
Tujuan dan criteria hasil : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x15 menit, berkurang dengan criteria
hasil :
 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan teknik nonfarkologi untuk mengurangi
nyeri, mencari bantuan )
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang 0-1
 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi,
dan tanda nyeri)
 Mengatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
 Tanda vital rentang normal
 Tidak mengalami gangguan tidur
 Intervensi keperawatan
 Lakukan pengkajian nyeri secara komprensif termasuk
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi
 Obserpasi reaksi non verbal
 Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi, nafas
dalam,relaksasi, kompres hangat/dingin
 Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri
 Ajurkan pasien untuk istrahat
 Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidak
nyamanan dari prosedur
 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
analgesic pertama kali

20
 Diagnosa II : Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan dan
peningkatan paparan lingkungan
Tujuan dan criteria hasil : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x15 menit resiko infeksi tidak terjadi
dengan criteria hasil :
 Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
 Menunjuk kemampuan untuk mencegah timbulnya
infeksi
 Jumlah leukosit dalam batas normal
 Menunjukkan prilaku hidup sehat
 Status imun, gastrointestinal, genitourinaria, dalam
batas normal
Intervensi Keperawatan :
 Pertahankan teknik aseptic
 Batas pengunjuk bila perlu
 Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindkan
keperawatan
 Lakukan perawatan luka pasca operasi sesuai
indikasi dengan teknil aseptic
 Gunakan kateter intermitten untuk menurunkan
infrksi kandung kencing
 Tingkatkan antake nutrisi
 Berikan terapi antibiotic
 Monitor tanda gejala infeksi, pantau WBC
 Infeksi kulit dan membrane mukosa terhadap
kemerahan panas, drainase
 Dorong masukan cairan
 Ajarakan pasien dan keluarga tanda gejala
infeksi

21
BAB III
PENGAMATAN KASUS

A. Identitas pasien
1. Nama : Ny. D
2. Umur : 41 tahun
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Alamat : JL. Jaya
Kusuma III,Makassar, Jakarta Timur
5. Status perkawinan : Menikah
6. Agama : Islam
7. Keluarga terdekat dapat dihubungi : Suami
8. Diagnosa preoperasi :Appendiksitis
9. Tindakan :Appendiktomi
10. Anastesi :Spinal
11. Tanggal masuk rumah sakit : 14-2-2019
12. Tanggal operasi :15-2-2019

B. Status Kesehatan Saat ini


1. Status Keluhan saat ini
Klien mengeluh nyeri pada perut kanan bawah menjalar hingga
panggung disertai mual terasa nyeri saat ditekan

2. Status Kesehatan masa Lalu


a. Penyakit yang perna dialami
Klien tidak pernah mengalami masalah kesehatan yang
mengharuskan dirawat di rumah sakit
b. Pernah Dirawat
Klien tidak pernah dirawat sebelumnya
c. Alergi
Riwayat elergi (-)

22
3. Riwayat penyakit keluarga
Berdasarkan data yang diperoleh klien tidak memilik riwayat penyakit
keturunan apapun seperti penyakit jantung, heprtensi, kanker,diabetes
mellitus dan lain-lain
4. Diagnosa Medis
Klien direncanakan dilakukan tindakan beda apendiktomi dengan
indikasi appendiksitis
5. Pola Kebutuhan Dasar
a. Pola Persepsi dan Kesehatan dsn Manejen
Ny. D mengatakan sudah mengetahui menderita penyakit
appendiksitis sejak 2 bulan yang lalu. Ny D terbiasa
memeriksakan penyakitnya pada petugas medis dan memcritahkan
keluhan yang muncul pada petugas medis

b. Pola Nutrisi
Klien mengatakan tidak mengalami penurunan nafsu makan.
6. Pola Eliminasi
Klien mengatakan tidak ada penurunan maupun peningkatan BAB
maupun BAK
7. Pola Aktivitas dan Latihan
Klien mengatakan mampu melakukan aktivitas seperti biasa
8. Pola Persepsi
Klien mengatakan tidak ada gangguan pada panca inderanya
penglihatan, pendengaran, dan pengecapan masih berfungsi dengan
baik.
9. Pola Tidur dan Istarahat
Klien mengatakan bisa beristrahat dengan baik
10. Pola Seksual dan Reproduksi
Ny. D sudah memiliki 2 orang anak. Klien mengatakan tidak ada
keluhan pada system reproduksinya.
11. Pola Manejemen dan Koping Stres

23
Ny. D mengatakan setiap kali ada masalah klien membicarakan dan
mencari selusi dengan keluarganya terutama dengan istrinya
12. Pola Nilai dan Keyakinan
Klien meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa dan menjalankan ibadah
sesuai dengan ajaran yang anutnya.

13. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital : Td:140/80mmHg,N-
98x/menit, RR 22 x/menit, S:380 C
Berat badan/ tinggi badan : 62kg/168 cm
Mata anemis : tidak
Batuk : tidak
Gigi palsu : tidak
Sesak napas

:
tidak
Kepala : Normochepal
Mata : Normal
THT : Normal
Gigi/ lidah : Normal
Leher : Normal, tiroid (-)
Toraks : Simetris statis
Abdomen : Supel, nyeri ulu hati (-)
Extreminitas : Hangat
Kulit : Normal
Kelenjar getah bening : (-)
Genetalia ekstrena : Normal
14. Pemeriksaan Lain-lain

24
Tuberkulosis : (-)
Batuk : (-)
Deman : (-)
Penyakit lainnya : (-)
Mendapat tranfusi darah : (-)
Kejang : (-)
Merokok : (-)
Alcohol : (-)
Obat-obatan : (-)

C. Pemeriksaan Penunjang

Hemoglobin : 10,7 g/dl


Hematokrit : 32 %
Eritrosit : 3,6 juta/µL
Leukosit : 14.600/µL
Trombosit : 183.000//µL
Bt : 1,5 menit
Ct : 10 menit

D. Asuhan Keperawatan
1. Asuhan Keperawatan Pre Operasi
a. Persiapan kamar operasi meliputi:
1) Meja operasi : baik
2) Lampu operasi : baik
3) Mesin suction : baik
4) Meja instrumen : baik
5) Meja mayo : baik

25
6) Sampah infeksius : baik
7) Sampah non infeksius : baik
8) Safety box : baik
9) Trolly : baik
10) Mesin diatermi : baik
11) Mesin anestesi : baik
12) Penyangga tangan : baik
13) Tiang buffer : baik
14) Tiang infus : baik
b. Persiapan cuci tangan bedah
1) Air mengalir
2) Sikat
3) Cairan antiseptik clorheksidin 4%
4) APD lengkap (topi, google, masker, apron, sepatu bot/sendal yang
tertutup)

c. Persiapan Intrumen dan linen Steril meliputi :


1. Linen steril
a. Jas operasi (disposable) :3
b. Penutup meja mayo :2
c. Penutup meja intrumen :4
d. Laken besar bawah :1
e. Laken besar atas :1
f. Laken samping :2
g. Dok bolong :1
2. Waskom steril
a. Kom besar :2
b. Kom kecil :2

26
c. Bengkok :1
d. Selang suction :1
e. Kanul suction :1
3. Intrumen Steril (set microsurgery)
a. Doek klem :6
b. Pean :4
c. Elis klem :2
d. Krome halus :3
e. Krome besar :2
f. Koher :4
g. Nalhpuder besar :2
h. Nalhpuder keci :1
i. Gunting jaringan :1
j. Gunting benang :1
k. Bebchok :2
l. Kanul suction :1
m. Scapel no 4 :1
n. Pinset anatomis panjang :1
o. Pinset anatomis pendek :1
p. Kom kecil :1
q. Nearbeken :1
r. Double hak :1
s. O hakn :1
4. Medical Supply meliputih :
a. Spuit disp 10 cc :1
b. Spuit disp 5 cc :1
c. Spuit disp 1 cc :1
d. Spinel needle no 27 :1
e. Kassa steril polo s :1
f. Draim catheter no. 12 :1
g. Uring bag :1

27
h. Jelly catheter :1
i. Bisturi no. 520 :1
j. Sarung tangan no. 520 :3
k. Sarung tangan no. 7 :2
l. Sofratule :1
m. Betadine 10% :3
n. Hibiscube : 30 cc
o. Fetanil :1
p. NaCI500 :3
q. Venvlon no.18 :1
r. IV dresin :1
s. Swab alcohol :3
t. Lidocain :1
u. Diatermi plate :1
v. Electosugical pencil :1
w. Vicril no. 1 :2
x. Chromiccugut no.22 :1
y. T-mono no. 3/0 :1
d. Persiapan pasien Pre-Operasi
1) Mengecek status atau identitas pasien (lengkap)
2) Pasien diterima di ruang penerimaan, pakaian diganti
dengan baju operasi
3) Memakai topi operasi
4) Memastikan perhiasan, gigi palsu/implan dan kutek telah
dibuka semua
5) Mengecek gelang pasien (ada)
6) Mengecek ada alergi/tidak (tidak ada alergi)
7) Memasang infus pasien di tangan kiri dengan cairan
Gelafusal 500 ml
8) Melakukan skin test untuk antibiotik Foricef I gr.
9) Memberikan suntikan IV Omevel (perawat anastesi)

28
10) Memberikan suntikan IV Ondavel 8 mg (perawat anastesi)
11) Memasukkan pasien ke ruang OK

e. Analisa Data Pre-Operasi


No Data Fokus Masalah Etiologi

l. DS: Pasien mengatakan Ansietas Proses


cemas karena ini pembedahan
pengalaman pertama
dilakukan tindakan
operasi
DO:
1. Pasien tampak gelisah
2. Nadi : 849 x / menit,
Suhu 38 C,
Pemafasan : 22 x /
menit,
3. Tensi darah : 140 / 90
mmHg
4. Pasien tampak
mengelus memegang
tangan ibunya
Diagnosa Keperawatan:
Ansietas berhubungan dengan proses pembedahan

2. Asuhan Keperawatan Intra Operatif


a. Prosedur operasi:
1) Melakukan cuci tangan bedah
2) Memakai jas dan sarung tangan secara tertutup
3) Memasang linen mayo dan alas duk
4) Menata instrumen

29
5) Melakukan penghitungan kassa dan instrumen dihadapan sirkuler
6) Melakukan time out
7) Melakukan aseptik pada daerah operasi menggunakan betadine
10% menggunakan kassa yang dijepit di sponge holder
8) Dilakukan drapping
9) Dokter operator mengetes pengaruh anastesi dengan pinset sirugis
10) Insisi panenstel dengan menggunakan bisturi
11) Dinding perut dibuka lapis demi lapis dimulai kutis dan subkutis
dengan pisau, perdarahan dirawatdengan couter, dilanjutkan fasia
dengan gunting dan pinset cirugis dibantu dengan hak gigi dan o-
hak, selanjutnya peritonium dibuka dengan pisau dan pen tumpul
dilanjutkan dengan gunting lalu dipasang l-hak, Memasang baghass
12) Eksplorasi:
a) Perlekatan omentum usus buntu
b) Dilakukan pemotongan eppendik,pangkal eppendik di olesi
betadin
c) Kemudian dijahit dengan silk 3/0
13) Luka dicuci dengan NaCl 0,9%
14) Diyakini tidak ada perdarahan, menghitung kasa dan alat (kassa
dan alat lengkap)
15) Rongga abdomen di tutup lapis demi lapis
16) Peritoneum dijahit dengan vicril no. 3/0 menggunakan nalpoeder,
pinset anatomis dan gunting benang.
17) Fasia dijahit dengan vicril no. 3/0
18) Subkutis dijahit dengan vicril no. 3/0
19) Kulit dijahit subkutikuler dengan premilen 3/0
20) Luka jahitan dibersihkan dengan kassa basah lalu di keringkan
dengan kassa kering
21) Kemudian luka ditutup dengan Sofratule dilapisi dengan kassa dan
ditutup lagi dengan Tegaderm pad besar
22) Operasi selesai

30
23) Drapping di buka
24) Jas,sarung tangan,apron di buka
25) Perawat melakukan dekontaminasi alat
26) Perawatan selanjutnya dilakukan oleh perawat anastesi
27) Pasien dipindahkan ke ruang RR oleh perawat anastesi
b. Evaluasi
1) Operasi dimulai pukul 05.30 WIB
2) Operasi selesai pukul 07.05 WIB
3) Alat dan kassa lengkap
4) Jumlah perdarahan 150 cc
5) Urine 200 cc warna kuning
6) TTV selama operasi berlangsung:
a) Nadi : 86 x/menit
b) Suhu : 36 0 C
c) Pernafasan : 22 x/menit
d) Tensi darah : 140/90 mmHg
e) SpO2 : 100 %

c. Analisa Data
NO Data Fokus Masalah Etiologi

1. DS: - Resiko pola Anestesi


DO: nafas tidak regional
1. Klien tampak efektif
tegang
2. Klien tampak lebih
banyak diam
3. TTV : TD: 120/80
mmHg N:
98x/menit
4. Wajah tampak

31
tegang

Diagnosa Keperawatan :
Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan Anestesi Umum
2. S: - Masalah Insisi
O: kecemasan operasi
1. Klien tampak rileks teratasi
dan tenang dari
sebelumnya
2. TTV
:TD:120/80mmHg,
N-98x/menit,
RR:18 x/menit,
S:360 C
Diagnosa Keperawatan : kerusakan penyebaran infeksi berhubungan
dengan Insisi operasi
3. DS: - resiko leukosit
DO: penyebaran post operasi
 Indikator eksternal infeksi belum
bagus, indikator internal teratasi
bagus
 TD :111/77mHg, SpO2
100%, N :88 x/menit,

32
RR: 16x/menit
 Sterilisasi terjaga selama
operasi
 Luka operasi dibersihkan
dengan betadine
 Luka operasi bersih,
ditutup dengan sufratule
dan kassa steril serta
hypaviser
Diagnosa Keperawatan .
Resiko cedera berhubungan dengan penyebaran infeksi belum teratasi
dan leukosit post operasi

3. Asuhan Keperawatan Post Operasi


a. Pengkajian
Pasien tiba di RR pukul 07 :50 WIB dengan post anestesi spinal,
kesadaran CM,GCS 15, N : 78x/menit, RR : 14x/menit,saturasi O2
100% turgor kulit baik, CRT<2 detik, akral dingin.
Jam TD (mmHg) sp02 N RR Pemberian cairan Obat
dan parenteral
08.30 119/75 100 75 16 Ring-as 500 cc

09.00 125/82 100 72 16 Tamoliv 100 cc

09.30 125/74 100 74 16

10.00 120/82 100 82 18

10.30 115/65 100 88 17

11.00 121/79 100 73 18

11.30 117/65 100 72 18

12.00 122/65 100 78 18

33
12.30 118/74 100 81 18

13.00 140/90 99 86 22

13.30 130/90 100 84 18

14.00 140/90 100 86 20

14.30 140/90 99 85 21 Pasien persiapan pindah


ruang
15.00 140/90 100 83 23

15.30 130/90 100 82 20

14.30 140/90 100 86 22

15.00 140/90 90 86 22

1) Intruksi post-operasi:
a) Lametik
b) Lanfix
c) Xephicym
d) Vitakhol
e) maltofer
f) farmadol tab 2x500 mg
g) Profenid Supp (bila masih nyeri)
h) Pemasangan oksigen 2 L/menit nasal kanul
i) Pemasangan oksimetri
j) Pantau perdarahan
k) Pantau urine
l) Pantau TTV setiap 15 menit selatna 3 jam

b. Analisa Data
NO Data Fokus Masalah Etiologi

34
1. DS: Pasien mengatakan Nyeri Agen cedera fisik
nyeri pada luka operasi (Luka operasi)
DO:
1. Observasi TTV
2. Obsevasi
kesadaran dan
keadaan umum
pasien
3. Monitor intake
dan output pasien
4. Lakukan fall
prevention :
pasang bed rail,
kunci roda bed,
berikan tanda
resiko jatuh
Diagnosa Keperawatan :
Nyeri berhubungan dengan pasca pembedahan
2. DS:- Resiko infeksi Luka
DO: operasi
klien mengatakan
sesekali nyeri
dilakukan operasi
apabila bergerak
pasien mengatakan
nyeri pada area
insisi
nyeri seperti diiris – iris
benda tajam
daerah abdomen bekas

35
luka insisi

Diagnosa Keperawatan
Resiko infeksi berhubungan dengan Luka operasi
3. DS: - Resiko pola efek anestesi
DO: nafas tidak umum
1. Klien tampak efektif
meringis kesakitan
ketika bergerak
2. Klien tampak berhati-
hati
3. Klien tampak diberik
an injeksi kotorolak
80 mg
4. TTV :
TD : 119/75mmhg
N : 75 x/menit
RR : 16 x/menit
SpO2: 100%
Diagnosa Keperawatan :
Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan Sisa efek anestesi

36
BAB IV
PEMBAHASAN

Appendiksitis merupakan infeksi yang disebabkan oleh


bacteria, sumbatan lumen appendiks, hyperplasia jaringan limfe,
fekalit, tumor appendiks,dan berupa erosi mukosa oleh cacing
askari dan E. histolyca, perang kebiasaan makan makanan renda
serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendiksitis.
Konstipasi akan menaikan tekanan intarsekal, yang berakibat
timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan
mempermudah timbulnya appendiksitis akut (Sjamsuhidajat & De
Jong, 2011)
Asuhan keperawatan pada Ny. D dengan tindakan operasi
appendiktomi yang telah dilakukan pada tanggal 27 april 2017 Jam
06 :30 WIB, dalam kenyataan ditemukan beberap kesenjangan
antara teori dan tinjauan kasus. Adapun kesenjangan tersebut
antara lain :

A. Pengakajian
Pada tinjauan kasus, saat pengkajian klien dengan appendikstis
ditemukan tanda dan gejala yang sama yaitu klien mengeluh nyeri
pada perut kanan bagian bawah menjalar hingga panggung disertai,
mual terasa nyeri saat ditekan.

B. Diagnosa Keperawatan
Dari beberapa diagnosa yang terdapat pada tinjauan teori,
semuanya muncul pada Ny. D
Diagnosa yang muncul pada Ny. D adalah sebagai berikut :
a. Kecemasan berhubungan dengan kurang informasi tentang
prosedur pembedahan yang dilakukan,

37
Diagnosa ini muncul karena Ny. D terhadap proses
perawatan merasa cemas. Hal ini ditunjukkan beberapa respon
verbal klien yang mrnujukkan bahwa klien cemas terhadap
tindakan bedah yang akan dilakukan dan takut jika terjadi hal-
hal yang membahayakan kesehatannya selama operasi
dilakukan
b. Resiko infeksi b.d berusaha jaringan dan peningkatan paparan
lingkungan diagnosa ini muncul pada Ny. D karena pasien pada
saat prabedah juga menunjukkan angkah lebih dari batas
normal.
c. Resiko cidera berhubungan dengan efek anastesi
Diagnosa ini muncul karena selama pembedahan di meja
operasi tubuh pasien terpapar dengan alat-alat keras yang
beresiko memberikan cidera pada tubuh pasien.
d. Nyeri akut berhubungan dengan kontuinitas jaringan pasca
bedah.
Diagnosa muncul karena Ny. D setelah operasi
mengungkapkan secara verbal jika terasa nyeri pada peruk
yang terkena insisi, terlihat klien tampak meringis dan
menahan rasa sakit.

C. Intervensi
Perencanaan pada kasus nyata mengacu pada tinjauan
keperawatan, namun pada beberapa diagnosa mengalami
perubahan dan pengurangan intervensi karena disesuaikan dengan
kondisi dan respon yang muncul pada klien.

D. Implementasi
Semua tindakan yang direncanakan sudah dapat
dilaksanakan, hanya saja untuk tindakan yang masih
sebagian teratasi belom dapat dilakukan karena

38
keterbatasan waktu. Implementasi pre operatif dengan
kecemasan dilakukan dengan menggunakan teknik nafas
dalam. Implementasi pada saat intraoperatif dengan resiko
cidera yang dilakukan dengan memasang plate dengan
benar dan menggunakan teknik yang benar dalam
menggunakan instrument. Implementasi pada saat post
operatif adalah mengkolaborasikan dengan dokter
pemberian obat analgesit katase tablet 25 mg dan cravit
tablet 500 mg.

E. Evaluasi
Evaluasi dari setiap tahap operasi untuk diagnosa
keperawatan saat pre operasi dengan kecemasan teratasi.
Resiko penyebaran inveksi belom teratasi saat intra operatif
diagnosa resiko cedera teratasi. Saat post operasi dengan
diagnosa nyeri akut belum teratasi.

39
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Appendiksitis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bacteria
sumbatan lumen appendiks, hyperplasia jaringan limfe, fekalit , tumor,
appendiks, dan beberapa erosi mukosa oleh cacing askaris dan E.
histolytica perang kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh
konstipasi terhadap timbulnya appendiksitis. Kelainan ini mucul 7 % dari
jumlah penduduk Indonesia. Appendiktomi adalah pembedahan untuk
mengangkat appendiks yang meradang. Pembedahan segera dilakukan
untuk mencegah terbentuknya abses atau peradangan pada selaput rongga
parut (peritonitis)
Pada Ny. D semua tindakan yang direncanakan sudah dilakukan. Hanya
saja untuk diagnosa nyeri masalah belum teratasi karena keterbatasan
waktu. Klien bisa meneruskan terapi obat analgesit dan terapi obat lain di
ruangan rawatan ataupun dirumah, serta mengikuti saran dokteruntuk
control ulang jika klien sudah berangsur pulih

B. Saran
Berdasarkan kasus yang diambil penulis dengan judul Asuhan
Keperawatan Perioperatif pada Pasien Ny. D dengan Tindakan
Appendiktomi dengan Indikasi. Appendiksitis di Intilasi Kamar Operasi
RSU Bunda Jakarta demi kebaikan selanjutnya maka penulis
menyarankan kepada:
1. Intilasi pelayanan kesehatan diharapkan mampu meningkatan kinerja
perawat dan tenaga medis yang lain sehingga mampu meningkatkan
asuhan keperawatan pada pasien dengan tindakan perioperatif lapa
ratomi

40
2. Tenaga kesehatan khususnya perawat diharapkan untuk melanjutkan
asuhan keperawatan yang sudah dikelolah oleh penulis yang bertujuan
untuk pemulihan kesehatan pasien .
3. Pasien dan keluarga pasien diharapkan mampu mengenali atau
mengetahui bagaimana tanda dan gejala infeksi dan mampu tertib
dalam mengkonsumsi terapi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
4. Perawat harus berhati-hati dalam menggunakan alat dan kebersihannya
serta meningkatkan kualitas diri dalam mengembangkan teknik yang
dimiliki

41
DAFTAR PUSTAKA

Afkar, Muh, (2009), Laporan Kasus Pendahuluan Appendikstis.


Http://Www.Library.Upnjv.Ac.Id%2Fddf/.(Diakses Tanggal 14
Februari 2014 Jam 13:00)

Carpenito, L, J.,(2000), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, EGC:


Jakarta
Doengoes, Marlyn E, Dkk., (2000), Rencana Asuhan Keperawatan
: Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien, Edisi 3. EGC : Jakarta

Grace, Pierce A., And Neil R. Borley., (2007), At A G lance Ilmu


Bedah. Edisi 3. Elangga : Jakarta. Hal : 107

Hardhi, Amin., (2013) , Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC –NOC. Edisi
Revisi, EGC : Jakarta . Hal 33

Hidaya, A. Aziz Alimul., (2008), Pengantar Ilmu Keperawatan


Anak. Edisi 2, Selemba Medika : Jakarta. Hal 48

Netty., (2011), Presentase Kejadian Appendiksitis Di Indonesia .


Http://Www. Ilmuibedah.Info.Com/.(Diakses Tanggal 14 Februari
2014 Jam 11:00)

Price, Sylvia A., And Lorraine M Wilson ., (2006), Patofisiologi


Konsep Klisnis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. EGC : Jakarta. Hal
448-449

42
Potter, P.A., And Perry, A.G., (2005), Buku Ajar Fundamental
Keperawatan. EGC: Jakarta

Sjamsuhidajat, R., And Win De Jong., (2009), Buku Ajar Ilmu


Bedah. Edisi Revisi. EGC : Jakarta. Hal 755-761

Wilkinson, Judith M., And Nancy R Ahern., (2012), Buku Saku


Diagnosis Keperawatan . Edisi 9. EGC : Jakarta

Mual Fort de entri

Muntah
Nyeri
(akut) 43 Resti infeksi

Resti kekurangn
volume