Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH SEMINAR KEPERAWATAN ANAK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. D DENGAN DIAGNOSA MEDIS


GLOBAL DEVELOPMENT DELAYED (GDD) DI RUANG POLI ANAK
DEVISI TUMBUH KEMBANG RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA

Disusun oleh:

Robby Septya Wiguna, S.Kep 131623143032


Hidayat Arifin, S.Kep 131623143077
Kartika Nuraini, S.Kep 131623143015
R.Rr Ulvana Tara Shally Aulia., S.Kep 131623143025
Elisa Yulianti, S.Kep 131623143039
Baiq Riska Indah Nilasari, S.Kep. 131623143011

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATANUNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
makalah Keperawatan Anak yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada An. D
dengan Diagnosa Medis Global Development Delayed (GDD) di Ruang Poli
Anak Devisi Tumbuh Kembang Rsud Dr. Soetomo Surabaya”
Makalah ini disusun khusus untuk memenuhi tugas Praktik Klinik
Keperawatan Anak di RSUD Dr Soetomo tahun ajaran 2017. Pada kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada:
1. Ilya Krisnana, S.Kep., Ns., M. Kep. sebagai dosen Pembimbing Akademik.
2. Wiwik Andayani, S.Kep., Ns. sebagai Pembimbing Klinik
3. Semua pihak yang telah membantu tim penyusun menyelesaikan makalah
ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Akan
tetapi, penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Segala kritik, koreksi, dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan
demi perbaikan di masa mendatang.

Surabaya, Juni 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB 1PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 3
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 3
1.4 Manfaat ....................................................................................................... 3
BAB 2 TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi ........................................................................................................ 4
2.2 Etiologi ........................................................................................................ 5
2.3Faktor Resiko ............................................................................................... 7
2.4Tumbuh kembang Anak ............................................................................... 8
2.5Pemeriksan penunjang .................................................................................. 11
2.6 Penatalaksanaan........................................................................................... 17
2.7Efek pada anak dengan GDD ....................................................................... 18
2.8 Prognosis ..................................................................................................... 21
BAB 3 ASUHAN KEPEARAWATAN KASUS .................................................... 22
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan ................................................................................................. 39
4.2 Saran ........................................................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 41

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan anak merupakan suatu kesatuan yang utuh yang

mengantarkan anak menjadi manusia dewasa dengan fungsi yang optimal. Setiap

anak berkembang dengan kecepatan dan ketepatan yang berbeda. Walaupun ada

perbedaan individual, tetapi secara keseluruhan tahapan perkembangan dapat

diukur dengan patokan yang berlaku (IDAI, 2010). Periode terpenting pertumbuhan

dan perkembangan anak adalah umur dibawah 5 tahun (Menkes JH, 2006 dalam

Suwarba, 2008). Beberapa domain perkembangan tersebut antara lain motorik

halus, motorik kasar, berbahasa/bicara, personal social/interaksi sosial, kognitif,

dan aktivitas sehari-hari.

Global Developmental Delay (GDD) atau keterlambatan perkembangan

global (KPG), merupakan suatu keadaan ditemukannya keterlambatan yang

bermakna lebih atau sama dengan 2 domain perkembangan tersebut.Keterlambatan

bermakna artinya pencapaian kemampuan pasien kurang dari 2 standar deviasi (SD)

dibandingkan dengan rata-rata populasi pada umur yang sesuai. Istilah KPG dipakai

untuk anak umur kurang dari 5 tahun. Pada anak berumur lebih dari 5 tahun saat tes

IQ sudah dapat dilakukan dengan hasil yang akurat, istilah yang dipakai adalah

retardasi mental.Angka kejadian keterlambatan perkembangan secara umum sekitar

10% anak-anak di seluruh dunia. Sedangkan angka kejadian KPG diperkirakan 1%-

3% anak-anak berumur <5 tahun. Etiologi KPG dapat dibedakan menjadi kejadian

prenatal, perinatal, pasca natal, dan idiopatik. Ciri khas KPG biasanya adalah fungsi

intelektual yang lebih rendah daripada anak seusianya disertai hambatan dalam

1
berkomunikasi yang cukup berarti serta keterbatasan kepedulian terhadap diri

sendiri dan keterbatasan kemampuan dalam keamanan diri anak tersebut.

Kejadian Global Delay Developmental (GDD) di Western Indiana selama

periode tahun 1994 – 2004 ditemukan dari 98 (38 %) anak menderita GDD dengan

penyebab paling umum adalah riwayat intrapartum (asfiksia 22 %), dysgenesis otak

(16 %), kelainan kromosom (13 %), sindrom genetik (11 %), psychosocial (11 %),

periventricular leukomalacia (9 %), sindrom fetal alcoholism (6 %). Faktor-faktor

klinis yang mengidentifikasi etiologi dari Global Delay Developmental (GDD)

yakni microcepaly, pemeriksaan kelainan neurologis, fitur dysmorphic dan riwayat

kelainan selama kehamilan atau perinatal (Srour M et all, 2006)

Di Poli Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr Soetomo Surabaya, pada bulan

April 2017 sampai Juni 2017, gangguan yang paling banyak ditemukan adalah

Global Delay Developmental (GDD) atau keterlambatan perkembangan global

(KPG) yaitu sebesar 35,9 %.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Faizi, Arumsari

RD (2013) di Poli Tumbuh Kembang RSUD Dr. Soetomo Surabaya bahwa

keterlambatan perkembangan global (KPG) pada balita di Poli Tumbuh Kembang

RSUD Dr. Soetomo Surabaya dipengaruhi oleh berat badan lahir, penyakit kronis,

status gizi balita, dan urutan anak.

Diharapkan masyarakat dapat menghindari faktor-faktor risiko yang

berhubungan dengan keterlambatan perkembangan global. Tenaga medis

khususnya perawat, diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang

komprehensif pada pasangan yang ingin menikah, ibu hamil, ibu bersalin, bayi dan

balita.

2
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah asuhan keperawatanpada pasien An. D dengan diagnosa

medis Global Delay Development(GDD) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada An. D dengan

diagnosa medis Global Delay Development(GDD) di RSUD Dr. Soetomo

Surabaya.

1.3.2 Tujuan Khusus

1 Mahasiswa dapat memahami konsep dasar Global Delay Development (GDD)

2 Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan pada

pasien dengan Global Delay Development (GDD)

1.4 Manfaat

1 Bagi mahasiswa

Mahasiswa mampu memahami konsep asuhan keperawatan pada pasien

Global Delay Development sehingga menunjang pembelajaran praktik

lapangan keperawatan anak pada program profesi ners.

2 Bagi institusiRSUD Dr. Soetomo Surabaya

Makalah ini dapat dijadikan referensi atau kajian pustaka di RSUD Dr.

Soetomo jika akan dilakukan kegiatan ilmiah lainnya.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Global development delay didefinisikan sebagai suatu keterlambatan yang

signifikan pada 2 atau lebih aspek perkembangan motorik kasar/halus, kognitif,

bicara/bahasa, personal/sosial, atau aktivitas dalam kehidupan sehari-hari

(Tanuwijaya 2002). Keterlambatan yang signifikan bila 2 atau lebih standard

deviasi di bawah rata-rata kondisi normal pada skrining perkembangan atau tes

pemeriksaan.

Istilah Global Developmental Delay dalam beberapa referensi disebut pula

dengan anak berkelainan mental subnormal, retardasi mental, defisit mental, lemah

ingatan, tuna grahita. Semua makna dari istilah tersebut sama, yakni menunjuk

kepada seseorang yang memiliki kecerdasan mental di bawah normal

(Kaplan&Sadock 2010).

Tumbuh yaitu setiap perubahan dari tubuh yang berhubungan dengan

bertambahnya ukuran tubuh baik fisik (anatomis) maupun struktural dalam arti

sebagian atau keseluruhan. Indikator tumbuh meliputi berat badan, tinggi badan,

lingkar kepala, erupsi gigi, pusat osifikasi tulang. Sedangkan perkembangan adalah

bertambahnya kemampuan (skill), struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks,

indikator perkembangan yaitu dengan cara penilaian atau skrinning (Nelson 2000).

Deteksi dini perkembangan anak dilakukan dengan cara pemeriksaan

perkembangan secara berkala, apakah sesuai dengan umur atau telah terjadi

penyimpangan dari perkembangan normal. Tindak lanjut dari skrinning adalah

diagnostik perkembangan, tujuannya untuk menentukan secara tepat tingkat

4
perkembangan anak dan penyebab terjadinya gangguan tersebut(Soetjiningsih

1995).

Perkembangan terlambat umum, mempengaruhi 1-3% populasi.

Perkembangan terlambat didefinisikan sebagai keterhambatan yang signifikan

(lebih dari 2 standar deviasi di bawah rata-rata usia, yang mengacu pada tes

perkembangan) pada 1 atau lebih beberapa pokok perkembangan berikut yaitu:

1. Motorik kasar

2. Penglihatan dan motorik halus

3. Kemampuan komunikasi; pendengaran, bicara, pemahaman dan bahasa

4. Sosial, emosi dan tingkah laku

Perkembangan terhambat dapat dibedakan atas 2 kelompok yaitu global

developmentdelay (terhambat pada 2 atau lebih komponen dan seringnya pada

semua komponen) dan development delay spesifik misalnya motorik, bahasa dan

bicara, terlambat pada satu komponen (IDAI 2011).

2.2 Etiologi

Herediter dan faktor lingkungan mungkin mempunyai peranan dalam etiologi

dari keterlambatan perkembangan umum. Orang tua seharusnya mengetahui secara

cepat apa yang menyebabkan anak mereka mengalami gangguan bertumbuh. Di

dalam beberapa kasus dari global development delay, khususnya pada kasus

tertentu, etiologi tidak dapat disimpulkan sebelum melakukan pemeriksaan secara

lengkap. Diagnosis etiologi sangat penting untuk ditegakkan karena pada beberapa

pasien kejadian didapatkan karena adanya kelainan faktor genetik yang didapatkan

5
dari orang tua. Penyebab global development delay bisa di dapatkan saat prenatal,

perinatal atau faktor postnatal (Maramis 2009).

Global Development Delay dapat bermanifestasi dengan sejumlah besar

gangguan neurodevelopment (dari keterbatasan kemampuan belajar hingga

gangguan neuromuskular). Evaluasi yang penuh ketelitian mengenai investigasi

dapat mengungkapkan penyebab pada 50-70% kasus. Ini meninggalkan minoritas

besar dimana penyebab tidak dapat ditentukan. Ini masih dapat dilakukan

investigasi global development delay berapapun umur anak (khususnya anak

dengan disabilitas yang signifikan dapat tidak terinvestigasi secara adekuat).

Berikut di bawah ini dapat dilihat etiologi dari global development delay tersebut.

Tabel etiologi GDD (diadaptasi dari Forsyth dan Newton 2007)

Penyebab utama dari global development delay ini umumnya kelainan

kromosom dan abnormalitas dari struktur otak. Dari suatu studi yang dilakukan oleh

Sachadeva terhadap pasien global development delay yang paling banyak masih

6
tidak diketahui (28%) dan yang diketahui paling banyak yaitu nutrisi yang rendah

dan prematuritas serta asfiksia saat lahir.

2.3 Faktor Risiko

Faktor risiko untuk perkembangan yang terlambat dapat berasal dari genetik

maupun lingkungan. Anak-anak dengan kelainan genetik seperti sindrom Down

dan sindrom Fragil X memiliki perkembangan yang terlambat yang berhubungan

dengan kondisi mereka (Dorland 2010). Perkembangan juga dapat dipengaruhi oleh

faktor lingkungan yang antara lain :

1. Paparan dari agen berbahaya sebelum atau setelah lahir

2. Nutrisi yang rendah selama dikandung ibu (selama kehamilan)

3. Paparan dari toksin (misalnya obat ) saat utero

4. Infeksi dari ibu ke bayi selama kehamilan (intrauterine) misalnya measles, HIV

5. Kelahiran prematur

6. Nutrisi yang rendah

7. Anak yang terabaikan

Selain itu, beberapa kondisi di bawah ini juga menyebabkan anak berisiko

untuk terjadinya global developmentdelay yaitu:

1. Prematuritas

2. Malformasi serebral

3. Kelainan kromosom

4. Infeksi

5. Gangguan metabolik

6. Hipotiroidisme

7
7. Hidrocefalus

8. Sindrom Rhett

Faktor risiko untuk perkembangan yang terlambat memiliki dampak

kumulatif. Semakin banyak faktor risiko yang ada, semakin besar risiko anak

mengalami perkembangan yang terlambat.

Pendidikan orang tua berpengaruh terhadap perkembangan anak terutama

pendidikan ibu. Pendidikan ibu yang rendah mempunyai risiko untuk terjadinya

keterlambatan perkembangan anak, disebabkan ibu belum tahu cara memberikan

stimulasi perkembangan anaknya (Salehi and colleagues 2004). Ibu dengan

pendidikan lebih tinggi lebih terbuka untuk mendapat informasi dari luar tentang

cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan, dan pendidikan

anak.Pendidikan ibu 63% lebih dari SMU, cukup baik untuk mendidik anak

walaupun tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan gangguan

perkembangan anak.

2.4 Tumbuh Kembang Anak Normal Usia Infant dan Perkembangan Anak

Global Development Delay

Masa anak di bawah lima tahun merupakan periode penting dalam tumbuh

kembang anak karena pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan

mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Seperti diketahui

bahwa tiga tahun pertama merupakan periode keemasan (golden period), yaitu

terjadi optimalisasi proses tumbuh kembang..

Pertumbuhan meliputi peningkatan ukuran tubuh yaitu tinggi badan, berat

badan, lingkar kepala. Perkembangan meliputi peningkatan fungsi-fungsi individu

8
yaitu sensorik, motorik, kognitif, komunikasi, emosi sosial dan kemandirian

(Tanuwijaya, 2002). Dan faktor penentu tumbuh kembang anak adalah genetik dan

proses sejak kehamilan (internal) serta gizi, penyakit, aktivitas fisik, kualitas

pengasuh/keluarga, teman, dan sekolah (eksternal).

2.4.1 Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi (0 – 12 bulan)

Bayi merupakan individu yang berusia 0-12 bulan yang ditandai dengan

pertumbuhan dan perkembangan yang cepat disertai dengan perubahan dalam

kebutuhan zat gizi (Wong 2003).

1. Konsep Pertumbuhan

Pertumbuhan merupakan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran,

atau dimensi tingkat sel, organ, maupun individu yang bisa diukur dengan

berat (gram, pon, kilogram), ukuran panjang (centimeter, meter), usia,

tulang, dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh)

(Adriana 2011). Pertumbuhan merupakan parameter yang terukur

(measured); membesar – mengecil, dan bertambah – berkurangnya

struktur serta meningkat menurunnya aktivitas neurotransmiter. Tumbuh

merupakan ukuran absolut (absolute value). Parameter adalah jumlah,

ukuran, dan identitas (Nurdin 2009)

2. Konsep Perkembangan

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan

fungsi tubuh yang kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan

sebagai hasil dari proses kematangan (Adriana 2011). Kembang

(development) merupakan parameter yang dinilai sebagai ekspresi fungsi

mental dalam bentuk kompetensi kognitif, psikomotor, dan afektif.

9
Kembang merupakan penilaian (assessment) relatif. Kembang merupakan

konsekuensi fungsional dari tubuh (Nurdin 2009).

3. Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif menurut Wong (2008), pada fase

sensorimotor (piaget) bayi, terdapat tiga peristiwa yang terjadi selama fase

ini yang melibatkan antara lain; 1) perpisahan yaitu bayi belajar

memisahkan dirinya sendiri dari benda lain di dalam lingkungan, 2)

penerimaan konsep keberadaan objek atau penyadaran bahwa benda yang

tidak lagi ada dalam area penglihatan sesungguhnya masih ada. Misalnya

ketika bayi mampu mendapatkan benda yang diperhatikannya telah

disembunyikan di bawah bantal atau di belakang kursi. 3) kemampuan

untuk menggunakan simbol dan representasi mental. Dalam hal ini fase

sensorimotor terdiri atas 4 tahap yaitu:

Tahap pertama, dari lahir sampai 1 bulan diidentifikasi dengan

penggunaan refleks bayi. Pada saat lahir, individualitas dan temperamen

bayi diekspresikan dengan refleks fisiologis menghisap, rooting,

menggenggam dan menangis.

Tahap kedua, reaksi sirkulasi primer. Menandai permulaan

penggantian perilaku refleksif dengan tindakan volunteer. Selama periode

1 – 4 bulan, aktifitas seperti menghisap dan menggenggam menjadi

tindakan yang sadar yang menimbulkan respon tertentu. Permulaan

akomodasi tampak jelas. Bayi menerima dan mengadaptasi reaksi mereka

terhadap lingkungan dan mengenai stimulus yang menghasilkan respon.

10
Sebelumnya bayi akan menangis sampai puting dimasukkan ke dalam

mulut, sekarang mereka menghubungkan puting dengan suara orang tua.

Tahap ketiga, reaksi sirkular sekunder adalah lanjutan dari reaksi

sirkulasi primer dan berlangsung sampai usia bulan, dari menggenggam

dan memegang sekarang menjadi mengguncang dan menarik.

Mengguncang digunakan untuk mendengar suara, tidak hanya sekedar

kepuasan saja. Terjadi tiga proses perilaku pada bayi yaitu imitasi, bermain

dan afek yaitu manifestasi emosi atau perasaan yang dikeluarkan. Selama

6 bulan bayi percaya bahwa benda hanya ada selama mereka dapat

melihatnya secara visual. Keberadaan objek adalah komponen kritis dari

kekuatan hubungan orang tua dan anak, terlihat dalam pembentukan

ansietas terhadap orang asing pada usia 6 – 8 bulan.

Tahap keempat, koordinasi skema kedua dan penerapannya ke

situasi baru. Bayi menggunakan pencapaian perilaku sebelumnya terutama

sebagai dasar untuk menambah keterampilan intelektual dan keterampilan

motorik sehingga memungkinkan eksplorasi lingkungan yang lebih besar.

4. Perkembangan fisik

Perkembangan fisik pada bayi dikategorikan dalam beberapa usia

antara lain yaitu dimana Usia 4 bulan, bayi mulai mengences, refleks moro,

leher tonik dan rooting sudah hilang. Usia 5 bulan, adanya tanda

pertumbuhan gigi, begitu juga dengan berat badan menjadi dua kali lipat

dari berat badan lahir. Usia 6 bulan, kecepatan pertumbuhan mulai

menurun, terjadi pertambahan berat badan 90 – 150 mg perminggu selama

enam bulan kemudian, pertambahan tinggi badan 1,25 cm per bulan

11
selama enam bulan kemudian, mulai tumbuh gigi dengan munculnya dua

gigi seri di sentral bawah serta bayi mulai dapat mengunyah dan

menggigit. Usia 7 bulan, mulai tumbuh gigi seri di sentral atas serta

memperlihatkan pola teratur dalam pola eliminasi urine dan feces di usia

8 bulan (Wong 2008).

5. Perkembangan motorik

Perkembangan motorik bayi menurut Wong (2008) dibedakan

menjadi 2 bagian yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar

terdiri dari, kepala tidak terjuntai ketika ditarik keposisi duduk dan dapat

menyeimbangkan kepala dengan baik, punggung kurang membulat,

lengkung hanya di daerah lumbal, mampu duduk tegak bila ditegakkan,

mampu menaikan kepala dan dada dari permukaan sampai sudut 90

derajat, melakukan posisi simetris yang dominan seperti berguling dari

posisi telentang ke miring. Begitu juga ketika duduk bayi mampu

mempertahankan kepala tetap tegak dan kuat, duduk dengan lebih lama

ketika punggung disangga dengan baik. Ketika posisi prone, bayi

mengambil posisi simetris dengan lengan ekstensi, berguling dari posisi

telungkup ke telentang, dapat mengangkat dada dan abdomen atas dari

permukaan serta menahan berat badan pada satu tangan. Selain itu ketika

supine, bayi memasukkan kakinya ke mulut dan bayi mengangkat kepala

dari permukaan secara spontan. Duduk di kursi tinggi dengan punggung

lurus, ketika dipegang dalam posisi berdiri bayi menahan hampir semua

berat badannya dan tidak lagi memperhatikan tangannya. Duduk condong

kedepan pada kedua tangan, ketika dipegang pada posisi berdiri, bayi

12
berusaha melonjak dengan aktif. Pada usia 8 bulan bayi duduk mantap

tanpa ditopang dan menahan berat badan pada kedus tungkai serta

menyesuaikan postur tubuh untuk mencapai seluruh benda.

Perkembangan motorik halus bayi meliputi menginspeksi dan

memainkan tangan, menarik pakaian dan selimut ke wajah untuk bermain,

mencoba meraih benda dengan tangan namun terlalu jauh, bermain dengan

kerincingan dan jari kaki, dapat membawa benda kemulut. Bayi mampu

menggenggam benda dengan telapak tangan secara sadar, memegangi satu

kubus sambil memperhatikan kubus lainnya. Meraih kembali benda yang

terjatuh, menggenggam kaki dan menariknya ke mulut, memindahkan

benda dari satu tangan ke tangan lainnya, memegang dua kubus lebih lama

dan membantingnya ke atas meja. Pada usia 8 bulan bayi sudah melakukan

genggaman dengan cubitan menggunakan jari telunjuk, jari ke empat dan

kelima, mempertahankan dua kubus dengan memperhatikan kubus ketiga,

membawa benda dengan menarik pada tali dan berusaha untuk tetap

meraih mainan yang diluar jangkauan.

6. Perkembangan bahasa

Komunikasi verbal bermakna bayi pertama kali adalah menangis,

untuk mengekspresikan ketidaksenangannya, mengeluarkan suara yang

parau, kecil dan nyaman selama pemberian makan, berteriak kuat untuk

memperlihatkan kesenangan, “berbicara” cukup banyak ketika di ajak

bicara, jarang menangis selama periode terjaga, berteriak mengeluarkan

suara mendekur dan bercampur huruf konsonan dan tertawa keras, mulai

menirukan suara, menggumam menyerupai ucapan satu suku kata,

13
vokalisasi kepada maianan dan bayangan di cermin, menikmati

mendengarkan suaranya sendiri. Selanjutnya menghasilkan suara vocal

dan merangkai suku kata, berbicara ketika orang lain berbicara,

mendengarkan secara selektif kata – kata yang dikenal, mengucapkan

tanda penekanan dan emosi serta menggabungkan suku kata seperti

“dada”, namun tidak ada maksud di dalamnya (Wong 2008).

7. Perkembangan sosial

Perkembangan sosial bayi pada awalnya dipengaruhi oleh

refleksinya, seperti menggenggam dan pada akhirnya bergantung terutama

pada interaksi antara mereka dengan pemberian asuhan utama. Kelekatan

kepada orang tua. Kelekatan orang tua dan anak yang dimulai sebelum

kelahiran, sangat penting disaat kelahiran. Menangis dan perilaku refleksi

adalah metode untuk memenuhi kebutuhan bayi dalam periode neonatal

dan senyum sosial merupakan langkah awal dalam komunikasi social.

Bermain juga menjadi agen sosialisasi utama dan memberikan stimulus

yang diperlukan untuk belajar dan berinteraksi dengan lingkungan (Wong

2008).

2.4.2 Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak

Menurut (Adriana 2011), faktor – faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan anak adalah:

1. Faktor internal

2. Ras / etnik bangsa

Anak yang dilahirkan dari ras / bangsa Amerika tidak memiliki faktor

herediter ras / bangsa Indonesia atau sebaliknya.

14
3. Keluarga

Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,

pendek, gemuk, atau kurus.

4. Usia

Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun

pertama kehidupan dan masa remaja

5. Jenis kelamin

Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat dari

pada laki – laki, akan tetapi setelah melewati pubertas, pertumbuhan

anak laki – laki akan lebih cepat.

6. Genetik

Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak

yang anak menjadi ciri khasnya. Ada beberapa genetik yang

berpengaruh pada tumbuh kembang anak, contohnya seperti kerdil.

7. Kelainan kromosom

Kelaianan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan

pertumbuhan seperti Down syndrome dn Turner syndrome.

8. Faktor eksternal

9. Faktor prenatal

10. Gizi

Nutrisi ibu hamil terutama pada trimester akhir kehamilan akan

mempengaruhi pertumbuhan janin.

11. Mekanis

15
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital

seperti club foot.

12. Toksin

Beberapa obat – obatan seperti aminoprotein atau thalidomide dapat

menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.

13. Endokrin

Diabetes mellitus dapat menyebabkan makrosemia, kardiomegali, dan

hyperplasia adrenal.

14. Radiasi

Paparan radiasi dan sinar rontgent dapat mengakibatkan kelainan pada

janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental, dan

deformitas anggota gerak, kelainan kongental mata, serta kelainan

jantung.

15. Infeksi

Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH dapat

menyebabkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu, tuli,

mikrosefali, retardasi mental, dan kelainan jantung kongenital.

16. Kelainan imunologi

Eritoblastosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah

antara janin dan ibu, sehingga ibu membentuk antobodi terhadap sel

darah merah janin, kemudain melalui plasenta masuk ke dalam

peradaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang

selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan kernikterus yang

akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.

16
17. Anoksia embrio

Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta

menyebabkan pertumbuhan terganggu.

18. Psikologi ibu

Kehamilan yang tidak diinginkan serta perlakuan salah satu atau

kekerasan mental pada ibu hamil dan lain – lain.

19. Faktor persalinan

Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat

menyebabkan kerusakan otak.

20. Faktor pascapersalinan

a. Gizi

b. Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan adekuat.

c. Penyakit kronis atau kelainan kongenital

d. Tuberkulosis, anemia, dan kelanan jantung bawaan mengalami

retardasi pertumbuhan jasmani.

21. Lingkungan fisik dan kimia

Lingkungan yang sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut

hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak

(provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar

matahari, paparan sinar radioaktif dan zat kimia tertentu (Pb, merkuri,

rokok, dan lain – lain) mempunyai dampak negatif terhadap

pertumbuhan anak.

22. Psikologis

17
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak

dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan

akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan

perkembangannya.

23. Endokrin

Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipertiroid akan

menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

24. Sosio ekonomi

Kemiskinan selalu berkaiatan dengan kekurangan makanan serta

kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, hal tersebut

menghambat pertumbuhan.

25. Lingkungan pengasuhan

Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu – anak sangat

mempengarui tumbuh kembang anak.

26. Stimulasi

Perkembangan memerlukan stimulasi atau rangsangan, khususnya

dalam keluarga, misalnya penyediaan minan, sosialisasi anak, serta

keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.

27. Obat – obatan

Pemakaian kortikosteroid dalam jangka panjang akan menghambat

pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang

terhadap susunan syaraf yang menyebabkan terlambatnya produksi

hormone pertumbuhan

18
Tabel 2. Tahapan perkembangan anak umur 0-3 bulan, 3-6 bulan, 6-9 bulan.

2.5 Pemeriksaan penunjang

Adapun cara penegakkan diagnosis penyimpangan tumbuh kembang pada

anak adalah sebagai berikut :

1. Anamnesis : Keluhan orang tua dan riwayat tumbuh kembang (lisan dan

tertulis/kuesioner skrinning perkembangan anak)

Riwayat klinik mesti dikaji secara komprehensif, dan mesti termasuk

pengkajian mengenai prenatal, perinatal dan postnatal. Ibu mesti mesti

ditanyakan mengenai riwayat mengkonsumsi obat-obatan selama

kehamilan dan adanya ancaman keguguran sejak dini. Juga penting

untuk di evaluasi apakah terdapat bukti adanya riwayat ensefalopati

neonatus dan gangguan motorik yang signifikan dengan permasalahan

sebelumnya terkait pada periode perinatal. Dan ini harus dipastikan

apakah anak-anak dengan perkembangan yang terhambat atau

19
mengalami regresi, dan riwayat rinci mengenai keluarga juga perlu

dikaji.

2. Pemeriksaan :

a. Observasi dan pemeriksaan (bentuk muka, tubuh, tindak tanduk anak,

hubungan anak dengan orang tuanya/pengasuhnya, sikap anak

terhadap pemeriksa)

Pemeriksaan fisik yang lengkap mesti dilakukan termasuk : Ukuran

lingkar kepala occipitofrontalis untuk anak-anak dan orang tua, di

ukur dan dilakukan plot.Gambaran dismorfik, stigmata

neurokutaneus, pemeriksaan abdomen untuk adanya organomegali,

tulang belakang(gaya berjalan dan refleks fisiologis maupun

patologis), mata (mungkin memerlukan oftalmologis)

b. Penilaian Pertumbuhan

Plot pada kurva pertumbuhan yang sesuai dengan standard yang

dipakai :

1) PB/U, PB/BB, BB/U. NCHS/CDC 2000

2) BB/U. KMS – WHO

3) Lingkar kepala

4) Lingkar lengan

5) Lingkar dada

c. Penilaian Maturitas

20
Pertumbuhan pubertas (Tanner) : anak perempuan (payudara, haid,

rambut pubis). Anak laki-laki (testis, penis, rambut pubis). Umur

tulang (bone age).

d. Penilaian perkembangan :

Skrinning dengan instrumen KPSP, KMME, CHAT, GPPH, Denver

II, Munchen, bayley, atau lainnya.

3. Pemeriksaan lain yang diperlukan atas indikasi :

1) Radiologi : foto tengkorak, CT scan/MRI

2) Laboratorium : Darah (umum atau hormonal), urine tergantung

penyakit atau kelainan organik yang mendasari.

Pemeriksaan serial perlu dilakukan karena mungkin terdapat

perubahan fenotip seiring dengan berjalannnya waktu. Bila diagnosis

masih belum jelas dari riwayat klinik penyakit dan pemeriksaan fisik,

pemeriksaan penunjang lini pertama mesti dilakukan.

3) Fungsi pendengaran (TDD), Fungsi penglihatan (TDL) dll.

4. Klasifikasi / Diagnosis kerja

Setelah dilakukan skrinning kemudian perlu ditetapkan apakah anak

termasuk kategori normal atau menyimpang (terlambat atau terlalu cepat

dibandingkan dengan standar).Sebagian besar investigasi tampaknya

telah dilakukan pada fase awal kehidupan anak; pemeriksaan medik yang

lebih jauh khususnya investigasi genetik dan teknik neuroimaging dapat

memungkinkan kemungkinan diagnosis yang lebih tepat.

Suatu ilustrasi skematik untuk investigasi yang dapat

dipertimbangkan untuk global development delaydapat dilihat pada

21
gambar di bawah ini. Lebih diharapkan untuk melakukan investigasi

pada lini pertama dan investigasi pada lini kedua yang relevan boleh saja

dilakukan.

Gambar 2. Skematik ilustrasi pertimbangan investigasi untuk global development

delay

2.6 Penatalaksanaan

Keluhan utama terbanyak orang tua membawa anaknya berobat adalah

“belum bisa berjalan dan berbicara”. Hal ini sesuai dengan rata-rata umur pertama

kali didiagnosisglobal development delay yaitu lebih kurang dari 21,8 bulan, berarti

kebanyakan orang tua terlambat mengetahui keterlambatan perkembangan pada

22
anaknya sehingga penanganannya juga terlambat. Keterlambatan perkembangan

harus dideteksi secara dini dan stimulasi sedini mungkin untuk mendapatkan hasil

yang optimal (Little 2003).

Etiologi global development delay dapat diidentifikasi paling banyak

adalah disgenesis serebral. Oleh karena itu, dianjurkan pada pasien yang tidak dapat

diidentifikasi etiologinya dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, sebaiknya

dilakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI secara rutin. Sebanyak 25,8% pasien

global development delay tidak diketahui etiologinya, sebagian di antaranya

dicurigai suatu sindrom genetik, tetapi pemeriksaan sitogenetik tidak dapat

dilakukan oleh karena suatu kendala biaya atau sebab lain. Pemeriksaan

sitogenetika juga dianjurkan secara rutin pada pasien yang etiologinya tidak dapat

diidentifikasi dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Kelompok etiologi seperti palsi

sereberal, infeksi TORCH, hipoksik iskemik ensefalopati dan malnutrisi

sebenarnya adalah etiologi yang dapat dicegah.

Pada beberapa literatur, dapat diterapkan terapi ABA (Applied Behavior

Analysis) dalam penyembuhan anak dengan global development delay. Terapi ABA

merupakan suatu bentuk modifikasi perilaku melalui pendekatan perilaku secara

langsung, dengan lebih memfokuskan pada perubahan secara spesifik, baik berupa

interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Terapi yang diberikan adalah

terapi wicara, terapi okupasi, terapi sensori integrasi.

2.7 Prognosis

23
Seorang anak yang dengan global development delay, prognosis kedepannya

ditentukan oleh keadaan anak tersebut pada masa awal kanak-kanaknya. Kelainan

yang ringan bisa jadi terjadi hanya sementara. Anak-anak mungkin akan

didiagnosis sebagai retardasi mental pada awalnya, namun pada tahun-tahun usia

berikutnya, mungkin kelainannya akan dapat lebih dispesifikan, contohnya

gangguan komunikasi dan autism.

24
WOC Global Development Delay

Antenatal Natal Post Natal


- Kelainan genetik - Asfiksi - Pola asuh salah
- Gizi ibu tidak adequat - Trauma lahir - Infeksi
- Infeksi TORCH - Prosedur persalinan - Gangguan syaraf
patologis

Pertumbuhan otak terhambat

Mikrosepali

Perkembangan anak
terganggu

Personal sosial Motorik kasar Motorik halus Bahasa

Perkembangan Perkembangan Perkembangan


motorik kasar motorik halus bahasa
terganggu terganggu terganggu

Tidak bisa duduk Bicara terlambat

MK : Hambatan MK : Hambatan
duduk komunikasi verbal

Gangguan
perkembangan

Orangtua kurang
pengalaman tentang
pola asuh anak
dengan gangguan
perkembangan

MK : Defisiensi
Pengetahuan

25
BAB 3
TINJAUAN KASUS

Tanggal Pengkajian : 12 Juni 2017 Jam : 09.00 WIB


Tanggal MRS : 12 Juni 2017 No. RM : 12.59.28.58
Ruang/Kelas : Poli Tumbuh Kembang Anak Dx Medis : Global
Development Delayed

Identitas Anak Identitas Orang Tua


Nama : An.D Nama Ayah : Tn. H
Tanggal Lahir : 19 Sep 2016 Nama Ibu : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan PekerjaanAyah/Ibu : Petani/Petani
Identitas

Usia : 9 bulan Pendidikan Ayah/Ibu : SMK/SMA


Diagnosa Medis : GDD Agama : Islam
Alamat : Nganjuk, Jatim Suku /Bangsa :
Jawa/Indonesia
Sumber Informasi : Ibu klien Alamat : Nganjuk,
Jatim

26
Keluhan Utama : ibu mengatakan anaknya belum bisa tengkurap dan duduk

Riwayat Penyakit Sekarang : ibu memeriksakan anaknya ke RSUD Soedono Madiun


karena usia 8 bulan anaknya belum bisa tengkurap dan
duduk sedangkan anak lain seusianya sudah mulai belajar
berjalan. Bulan mei 2017 anak dirujuk ke RSUD Soetomo
untuk pemeriksaan lebih lanjut di poli tumbuh kembang.

Riwayat Kesehatan Sebelumnya


Riwayat kesehatan yang lalu :
1. Penyakit yang pernah diderita :
Demam Kejang Batuk Pilek
Riwayat Sakit dan Kesehatan

Mimisan Lain-lain:
2. Operasi : Ya Tidak Tahun -
3. Alergi : Makanan Obat Udara
Debu Lainnya, Sebutkan -
Imunisasi : BCG (Umur 2 bln) Polio 4x (Umur 6 bln)
DPT 3x (Umur 6 bln) Campak(Umur - bln)
Hepatitis 3x (Umur 6 bln)

Riwayat Kesehatan Keluarga


 Penyakit yang pernah diderita keluarga : Keluarga anak tidak ada yang
mengalami riwayat gangguan perkembangan, kakek memiliki penyakit DM,
tidak ada yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung
 Lingkungan rumah dan komunitas : Anak lahir dari pernikahan pertama kedua
orangtuanya, tinggal dengan keluarga ayah, ibu, kakak dan neneknya. Tempat
tinggal di wilayah perkampungan.
 Perilaku yang mempengaruhi kesehatan : Keluarga tidak ada yang minum alkohol,
ayah merokok.
 Persepsi keluarga terhadap penyakit anak :Keluarga merasa cemas dengan keadaan
pertumbuhan dan perkembangan anaknya yang tidak sesuai dengan kelompok
seusianya, Orangtua sering menanyakan apakah keadaan tersebut dapat
disembuhkan atau dilatih seperti anak yang sehat, orangtua kurang pengalaman
dalam perawatan dan pengetahuan tentang pertumbuhan-perkembangan anak.

27
Riwayat Perinatal
Kehamilan ke-2
Selama kehamilan periksa 8 kali ke bidan. Ibu sudah imunisasi TT. Ibu tidak mengalami
sakit seperti demam, hipertensi atau DM selama hamil. Ibu tidak merokok, tidak
mengkonsumsi alkohol.

Riwayat Natal
Anak lahir ditolong oleh bidan, presentasi kepala, spontan, langsung menangis, berat
badan lahir 1800 gram, panjang badan 47 cm, lingkar kepala 30 cm, umur kehamilan 38
minggu.

Nutrisi
 Nafsu makan : Baik Tidak Mual Muntah
 Pola makan : 2X/hari 3X/hari >3X/hari
 Minum : Jenis ASI dan susu formula
 Pantangan makan : Ya Tidak
 Menu makanan : bubur bayi, buah yang dihaluskan, kuning telur rebus
Riwayat Pertumbuhan
 BB saat ini : 5,1 kg, PB : 67 cm, LK : 39 cm, LD : 38 cm, LLA : 11 cm
 BB lahir : 1800 gram, BB sebelum sakit : 5 kg
 Panjang lahir : 47 cm PB/TB saat ini : 67 cm
Riwayat Perkembangan
 Pengkajian Perkembangan (DDST) : tanggal 12 juni 2017
Personal 1 Delay Delay da-da dengan tangan
Sosial
Motorik 1 Delay Delay memegang dengan
halus ibu jari dan jari
2 Caution Caution memindahkan
kubus, mengambil 7 kubus
Bahasa 1 Delay Delay mengoceh papa
mama spesifik
2 Caution Caution mengoceh
papa/mama tidak spesifik,
kombinasi silabel
Motorik 4 Delay Delay berdiri dengan
kasar pegangan, duduk tanpa
pegangan, bangkit kepala
tegak
1 Caution Caution membalik
Hasil : abnormal
Interpretasi : Suspect
 Tahap Perkembangan Psikososial : memberikan respon emosional
terhadap kontak sosial misalnya tertawa dan berteriak
 Tahap Perkembangan Psikoseksual : fase oral

Masalah : Hambatan duduk

28
Observasi dan Pemeriksaan Fisik (ROS : Review of System):
Keadaan Umum : Baik Sedang Lemah

ROS
Kesadaran : composmentis
Tanda vital : Nadi : 110 x/mt Suhu:36,70C RR : 32 x/mt

Bentuk Dada : Normal Tidak, Jenis...............


Pola Napas :
Irama : Teratur Tidak Teratur
Jenis : Dispnoe Kusmaul Ceyne Stokes Lain-
Pernafasan B1 (Braeth)

Lain:
Suara Napas : Vesikuler Stridor Wheezing Ronchi Lainnya
Sesak Napas : Ya Tidak Batuk : Ya Tidak
Retraksi Otot Bantu Napas Ada ICS Supraklavikular
Suprasternal
Tidak Ada
Alat Bantu Pernapasan : Ya Nasal Masker Respirator (lpm)
Tidak
Lain-Lain :

Masalah : tidak ada

Irama Jantung : Reguler Ireguler S1/S2 Tunggal Ya Tidak


Kardiovaskuler B2 (Blood)

Nyeri Dada : Ya Tidak


Bunyi Jantung: Normal Murmur Gallop Lain-
Lain...............
CRT : <3 dt >3 dt
Akral : Hangat Panas Dingin Kering Dingin Basah
Lain-
lain :

Masalah : tidak ada


(Brai
Peng
yara

lihat
Pers

GCS Eye : 4 Verbal : 5 Motorik :6 Total : 15


fan

B3
an

n)
&

29
Reflek Fisiologis : Menghisap Menoleh Mengenggam
Moro
Patella Triceps Biceps Lain-
Lain
Refleks Patologis : Babinsky Budzinsky Kernig Lain-
Lain
Lain-Lain :

Istirahat / Tidur : 14 Jam/Hari Gangguan Tidur: tidak ada


Kebiasaan Sebelum Tidur : Minum Susu Mainan Cerita/Dongeng
Penglihatan (Mata)
Pupil : Isokor Anisokor Lain-Lain :

Sclera/Konjungtiva : Anemis Ikterus Lain-Lain :


Pendengaran/Telinga
Gangguan Pendengaran : Ya Tidak Jelaskan:

Penciuman (Hidung)
Bentuk : Normal Tidak Jelaskan:
Gangguan Penciuman: Ya Tidak Jelaskan:

Masalah : tidak ada


Kebersihan : Bersih Kotor
Urin : Jumlah : 7x/hari Warna : kuning jernih Bau: khas urin
Perkemihan B4 (Bladder)

Alat bantu (kateter dan lain-lain): tidak ada


Kandung Kencing : Membesar Ya Tidak
Nyeri Tekan Ya Tidak
Alat Kelamin : Normal Tidak Normal, Sebutkan....................
Uretra : Normal Hipospadia/Epispadia
Gangguan : Anuria Oliguri Retensi Inkontinensia
Nokturia Lain-lain

Masalah : tidak ada

30
Nafsu makan : Baik Menurun Frekuensi 3x/hari
Porsi makan : Habis Tidak Ket: setengah mangkok
kecil
Mulut dan tenggorokan
Mulut : Bersih Kotor Berbau
Mukosa : Lembab Kering Stomatitis
Pencernaan B5 (Bowel)

Tenggorokan : Sakit /nyeri telan Kesulitan menelan


Pembesaran tonsil Lain-lain
Abdomen
Perut : Tegang Kembung Ascites Nyeri tekan,
lokasi :
Peristaltik : 10 x/menit
Pembesaran hepar : Ya Tidak
Pembesaran lien : Ya Tidak
Buang air besar:3 x/hari
Konsistensi : lembek Bau: khas feses Warna:coklat kekuningan
Lain-lain :

Masalah : tidak ada


Kemampuan pergerakan sendi : Bebas Terbatas
Muskuloskeletal B6 (Bone &

Kekuatan otot: 4 4
4 4
Kulit
Integumen)

Warna kulit : Ikterus Sianotik Kemerahan Pucat Hiperpigmentasi


Turgor : Baik Sedang Jelek
Odema : Ada Tidak ada Lokasi :
Lain-lain :

Masalah : tidak ada

Tyroid : Membesar Ya Tidak


Hiperglikemia : Ya Tidak
Hipoglikemia : Ya Tidak
Endokrin

Luka gangren : Ya Tidak


Lain-lain :

Masalah : tidak ada


Mandi :2 x/hari Sikat gigi : 2 x/hari
Personal

Keramas :1 hari sekali Memotong kuku : 4 hari sekali


Hygiene

Ganti pakaian : 4 x/hari


Masalah : tidak ada

31
a. Ekspresi afek dan emosi : Senang Sedih Menangis
Cemas Marah Diam

Psiko – Sosio- Spiritual


Takut Lain :
b. Hubungan dengan keluarga : Akrab Kurang akrab
c. Dampak hospitalisasi bagi anak :
- Dampak hospitalisasi bagi orang tua : Orangtua menanyakan apakah anankya
dapat disembuhkan atau dilatih seperti anak yang sehat, keluarga kurang pengalaman
dalam perawatan dan pengetahuan tentang perawatan pada anak dengan gangguan
perkembangan

Masalah : Kurang pengetahuan

k. Data Penunjang (Lab, Foto, USG, dll)


- Tanggal : 14 Mei 2017 Hasil HCC-2 mikrosepali
- Tanggal : 26 Mei 2017 Hasil pemeriksaan laboratorium
TSH 1,91 uIU/ml normal 0,64-6,27
FT4 0,64 ng/dl 0,89 – 1,76
Ig M anti CMV 0,03 index
Ig G anti CMV <4 U/ml
Hb 11,9 g/dl 11,0 – 14,7
Hct 36 % 35,2 – 46,7
Plt 633 103/uL 150 - 450
Leukosit 14,72 103/uL 3,37 - 10

Data Perkembangan :
Perkembangan Umur Perkembangan Umur
Tersenyum 4 bulan Menegakkan kepala 7 bulan
Mengambil mainan 6 bulan Tengkurap Belum bisa
Duduk Belum bisa Merangkak Belum bisa
Berdiri Belum bisa Berjalan Belum bisa
Perkembangan gigi Belum tumbuh gigi Perkembangan bicara Brrr, aa
Lainnya : ibu mengatakan anaknya belum bisa mengatakan mama-papa

Masalah : Hambatan komunikasi verbal

Terapi/Tindakan lain :

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

32
ANALISA DATA
DATA ETIOLOGI MASALAH
DS : Pertumbuhan otak Ganggaun
Ibu mengatakan anaknya terlambat perkembangan
belum bisa tengkurap dan ↓ duduk
duduk Mikrosepali

DO : Perkembangan motorik
- Anak tidak bisa duduk terganggu
tanpa dipegangi ↓
- Hasil DDST suspect (ada 2 Tidak bisa duduk
atau lebih keterlambatan
- Kekuata otot 4 4
44
- Hasil HCC-2 mikrosepali

DS : Pertumbuhan otak Gangguan


ibu mengatakan anaknya terlambat perkembangan
belum bisa mengatakan ↓ komunikasi verbal
mama-papa Mikrosepali

DO : Perkembangan bahasa
- Perkembangan bicara anak terganggu
baru bisa mengucapkan
aaa, brrr
- Hasil DDST suspect (ada 2
atau lebih keterlambatan
- Hasil HCC-2 mikrosepali

DS : Pertumbuhan otak Defisiensi


- Orangtua terlambat pengetahuan
menanyakan apakah ↓
anankya dapat Mikrosepali
disembuhkan atau ↓
dilatih seperti anak Perkembangan
yang sehat terganggu
DO : ↓
- Keluarga kurang Perkembangan tidak
pengalaman dalam sesuai usia
perawatan dan ↓
pengetahuan tentang Orangtua kurang
perawatan pada anak terpapar informasi
dengan gangguan
perkembangan
- Pendidikan terakhir
orangtua SMK/SMA

PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN


1. Ganggaun perkembangan duduk berhubungan dengan disfungsi otak
2. Gangguan perkembangan komunikasi verbal berhubungan dengan disfungsi otak
3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi

33
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ganggaun perkembangan duduk berhubungan dengan disfungsi otak
2. Gangguan perkembangan komunikasi verbal berhubungan dengan disfungsi otak
3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi

34
INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC


1 Ganggaun perkembangan duduk Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 30 x 24 jam, 1. Berikan stimulasi kepada anak yang meliputi stimulasi
masalah hambatan duduk dapat teratasi. multisensori (stimulasi auditori, taktil, visual, dan
Kriteria hasil: vestibular)
1. Anak menunjukkan peningkatan perkembangan 2. Ajarkan orang tua untuk melakukan ROM pasif, agar
2. Kekuatan tonus otot anak meningkat 5,5/5,5 tonus otot anak dapat meningkat
3. Anak mampu tengkurap 3. Himbau orang tua untuk selalu memotivasi anak dapat
4. Anak mampu merangkak melakukan pergerakan (miring kanan dan kiri)
5. Anak mampu duduk secara perlahan dengan atau tanpa 4. Himbau orang tua untuk sesekali menengkurapkan anak,
bantuan mendudukkan anak
5. Edukasi orang tua untuk rutin mengontrolkan
perkembangan anaknya tiap bulan di poli tumbuh
kembang
6. Edukasi orang tua untuk sabar dan telaten dalam
merawat dan memberikan stimulasi kepada anak dengan
gangguan perkembangan
7. Kolaborasikan dengan rehab medik jika intervensi yang
diberikan tidak menunjukkan hasil yang bermakna.
8. Monitoring perkembangan anak setiap bulan dengan
DDST.

2 Ganggaun perkembangan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 30 x 24 jam, 1. Ajarkan orang tua untuk selalu memberikan stimulasi
komunikasi verbal masalah hambatan komunikasi verbal teratasi. auditori atau berbicara kepada anaknya
Kriteria hasil: 2. Himbau orang tua untuk selalu mengajak anak berbicara
1. Anak dapat mengucapkan lebih dari 2 kata disetiap saat
2. Komunikasi anak dapat dipahami 3. Ajarkan orang tua untuk mengajak berbicara anaknya
3. Anak aktif dalam berbicara dengan kata – kata yang mengungkapkan keinginan
4. Anak dapat mengungkapkan keinginannya dengan kata anaknya, missal: “Adek sayang mau makan? Mau
– kata makan? He em?”

35
4. Edukasi orang tua untuk sabar dan telaten dalam
merawat dan memberikan stimulasi kepada anak
dengan gangguan perkembangan
5. Kolaborasikan dengan rehab medik (terapi wicara) jika
intervensi yang diberikan tidak menunjukkan hasil yang
bermakna.
6. Monitoring perkembangan anak setiap bulan dengan
DDST.

3 Defisiensi Pengetahuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam, 1. Ajarkan orang tua untuk dapat menilai perkembangan
masalah defisiensi pengetahuan teratasi. anaknya
Kriteria hasil: 2. Ajarkan orang tua dalam memberikan stimulasi
1. Orang tua mengerti tentang gangguan perkembangan multisensori kepada anaknya yang meliputi stimulasi
yang dialami oleh anaknya auditori, taktil, visual, dan vestibular
2. Orang tua mengerti cara memberikan stimulasi 3. Jelaskan kepada orang tua tentang gangguan
multisensori untuk membantu peningkatan perkembangan yang dialami oleh anaknya
perkembangan anak 4. Jelaskan kepada orang tua tentang proses – proses dan
3. Orang tua mengetahui status perkembangan anaknya penatalaksaan anak dengan gangguan keterlambatan
4. Orang tua mengerti tentang alur proses atau tahap – perkembangan
tahapan penatalaksaan anak dengan gangguan 5. Edukasi orang tua untuk sabar dan telaten dalam
keterlambatan perkembangan merawat dan memberikan stimulasi kepada anak dengan
gangguan perkembangan
6. Edukasi orang tua untuk mengontrolkan anaknya setiap
bulan di poli tumbuh kembang

36
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Hari/Tgl/Shift No. DK Jam Implementasi Paraf Jam Evaluasi (SOAP) Paraf


Senin 1 09.15 1. Memberikan stimulasi kepada anak 10.15 S:
12 Juni 2017 yang meliputi stimulasi multisensori Orang tua mengatakan anaknya sudah 9
Shift Pagi (stimulasi auditori, taktil, visual, dan bulan belum bisa tengkurap apalagi duduk.
(07.00-14.00) vestibular)
 Anak diberikan stimulasi O:
multisensori meliputi stimulasi 1. Anak belum bisa tengkurap
auditori, taktil, visual, dan 2. Kalau anak ditengkurapkan belum bisa
vestibular kembali terlentang
09.17 2. Mengajarkan orang tua untuk 3. Komunikasi anak belum bisa dipahami
melakukan ROM pasif, agar tonus otot 4. Anak terlihat kurang aktif dalam
anak dapat meningkat berbicara
 Orang tua dapat melakukan dengan 5. Anak menangis saat orang tua
baik dan benar mengerti maksud dan maunya
09.20 3. Menghimbau orang tua untuk selalu 6. Orang tua paham dengan edukasi yang
memotivasi anak dapat melakukan diberikan oleh perawat
pergerakan (miring kanan dan kiri)
 Orang tua mengerti A:
09.20 4. Menghimbau orang tua untuk sesekali Masalah belum teratasi
menengkurapkan anak, mendudukkan
anak P:
 Orang mengerti dan dapat Intervensi dilanjutkan no. 1 – 8
melakukan  Rencana rehap medik terapi wicara
09.21 5. Mengedukasi orang tua untuk rutin pada 13 Juni 2017
mengontrolkan perkembangan anaknya  Observasi DDST tiap bulan (10 Juli
tiap bulan di poli tumbuh kembang 2017)
 Orang mengerti dan paham
09.24 6. Mengedukasi orang tua untuk sabar dan
telaten dalam merawat dan memberikan

37
stimulasi kepada anak dengan gangguan
perkembangan
 Orang tua mengerti dengan kondisi
yang dialami orang tuanya, mereka
mengatakan kadang sedih dan
khawatir dengan masa depan
anaknya
09.25 7. Mengkolaborasikan dengan rehab
medik jika intervensi yang diberikan
tidak menunjukkan hasil yang
bermakna.
 Kolaborasi dengan rehab medik
direncanakan (dirujuk) pada
tanggal 13 Juni 2017
09.27 8. Memonitoring perkembangan anak
setiap bulan dengan DDST.
 Direncanakan 10 Juli 2017

Senin 2 09.30 1. Mengajarkan orang tua untuk selalu 10.20 S:


12 Juni 2017 memberikan stimulasi auditori atau Orang tua mengatakan anaknya belum dapat
Shift Pagi berbicara kepada anaknya berbicara atau mengatakan kata – kata, anak
(07.00-14.00)  Orang tua mengerti hanya bergumam, berkata aaaaa,
09.33 2. Menghimbau orang tua untuk selalu mmmaaaaaaa
mengajak anak berbicara disetiap saat
 Orang tua mengerti dan akan lebih O:
sering mengajak anak untuk 1. Belum bisa mengucapkan kata – kata
berbicara 2. Anak hanya bisa begumam dan
09.36 3. Mengajarkan orang tua untuk mengajak berkata aaaaaaaa
berbicara anaknya dengan kata – kata 3. Anak belum bisa duduk
yang mengungkapkan keinginan 4. Tonus otot anak masih lemah 4,4 / 4,4
anaknya, missal: “Adek sayang mau 5. Kemampuan gerak anak kurang aktif
makan? Mau makan? He em?”

38
 Orang tua mengerti 6. Orang tua paham dengan edukasi yang
diberikan oleh perawat
09.24 4. Mengedukasi orang tua untuk sabar dan
telaten dalam merawat dan memberikan A:
stimulasi kepada anak dengan Masalah belum teratasi
gangguan perkembangan
 Orang tua mengerti, dan akan lebih P:
sabar dan telaten dalam merawat Intervensi dilanjutkan no. 1 – 8
anaknya  Rencana rehap medik pada 19 Juni
09.25 5. Mengkolaborasikan dengan rehab 2017
medik (terapi wicara) jika intervensi  Observasi DDST tiap bulan (10 Juli
yang diberikan tidak menunjukkan hasil 2017)
yang bermakna.
 Direncakan konsul rehap medik
pada 19 Juni 2017
09.27 6. Memonitoring perkembangan anak
setiap bulan dengan DDST.
 Direncanakan pada 10 Juli 2017

Senin 3 09.30 1. Ajarkan orang tua untuk dapat menilai 10.30 S:


12 Juni 2017 perkembangan anaknya Orang tua mengatakan mengarakan kini
Shift Pagi  Orang tua awalnya terlihat sudah mengerti dengan gangguan
(07.00-14.00) bingung, tetapi secara perlahan keterlambatan perkembangan yang dialami
mulai mengerti cara memamtau oleh anaknya, mengerti cara memberikan
perkembangan anaknya dengan stimulasi multisensori, mengetahui cara
DDST memantau perkembangan anaknya, serta
2. Ajarkan orang tua dalam memberikan mengetahui tentang tapan dalam
09.38 stimulasi multisensori kepada anaknya penatalaksanaan anak dengan gangguan
yang meliputi stimulasi auditori, taktil, keterlambatan perkembangan
visual, dan vestibular
 Orang tua mengerti dan dapat O:
melakukan stimulasi multisensori 1. Orang tua tampak mengerti dan paham

39
09.42 3. Jelaskan kepada orang tua tentang
gangguan perkembangan yang dialami A:
oleh anaknya Masalah teratasi
 Orang tua mengerti
09.45 4. Jelaskan kepada orang tua tentang P:
proses – proses dan penatalaksaan anak Intervensi dihentikan
dengan gangguan keterlambatan
perkembangan
 Orang tua kini mengerti dengan
tahapan penatalaksanaan anak
dengan gangguan keterlambatan
perkembangan
09.50 5. Edukasi orang tua untuk sabar dan
telaten dalam merawat dan memberikan
stimulasi kepada anak dengan
gangguan perkembangan
 Orang tua mengerti
09.55 6. Edukasi orang tua untuk
mengontrolkan anaknya setiap bulan di
poli tumbuh kembang
 Orang tua mengerti dan akan rutin
mengontrolkan anaknya

40
41
42
43
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan studi kasus diatas dapat disimpulkan bahwa :
An.D dengan diagnosa medis Global Development Delay, ditemukan tiga diagnosa
keperawatan yaitu hambatan duduk, hambatan komunikasi verbal dan defisiensi
pengetahuan. Tindakan keperawatan yang dilakukan antara lain: hambatan duduk:
memberikan stimulasi kepada anak yang meliputi stimulasi multisensori (stimulasi
auditori, taktil, visual, dan vestibular), mengajarkan orang tua untuk melakukan
ROM pasif, agar tonus otot anak dapat meningkat, menghimbau orang tua untuk
selalu memotivasi anak dapat melakukan pergerakan (miring kanan dan kiri),
menghimbau orang tua untuk sesekali menengkurapkan anak, mendudukkan anak,
mengedukasi orang tua untuk rutin mengontrolkan perkembangan anaknya tiap
bulan di poli tumbuh kembang, mengedukasi orang tua untuk sabar dan telaten
dalam merawat dan memberikan stimulasi kepada anak dengan gangguan
perkembangan, mengkolaborasikan dengan rehab medik jika intervensi yang
diberikan tidak menunjukkan hasil yang bermakna. Hambatan komunikasi verbal
: Mengajarkan orang tua untuk selalu memberikan stimulasi auditori atau berbicara
kepada anaknya, menghimbau orang tua untuk selalu mengajak anak berbicara
disetiap saat, mengajarkan orang tua untuk mengajak berbicara anaknya dengan kata
– kata yang mengungkapkan keinginan anaknya, missal: “Adek sayang mau makan?
Mau makan? He em?”, mengedukasi orang tua untuk sabar dan telaten dalam
merawat dan memberikan stimulasi kepada anak dengan gangguan perkembangan,
mengkolaborasikan dengan rehab medik (terapi wicara) jika intervensi yang
diberikan tidak menunjukkan hasil yang bermakna, memonitoring perkembangan
anak setiap bulan dengan DDST. Defisiensi pengetahuan : Mengajarkan orang tua
untuk dapat menilai perkembangan anaknya dengan menggunakan DDST,
mengajarkan orang tua dalam memberikan stimulasi multisensori kepada anaknya
yang meliputi stimulasi auditori, taktil, visual, dan vestibular, menjelaskan kepada
orang tua tentang gangguan perkembangan yang dialami oleh anaknya, menjelaskan
kepada orang tua tentang proses – proses dan penatalaksaan anak dengan gangguan

44
keterlambatan perkembangan, meberi edukasi orang tua untuk sabar dan telaten
dalam merawat dan memberikan stimulasi kepada anak dengan gangguan
perkembangan, memberi edukasi orang tua untuk mengontrolkan anaknya setiap
bulan di poli tumbuh kembang. Evaluasi keperawatan pada An.D yaitu, Hambatan
duduk dan hambatan komunikasi verbal belum teratasi sehingga perlu dilanjutkan
intervensi untuk pertemuan selanjutnya, sedangkan dan defisiensi pengetahuan
teratasi.

4.2 Saran
1. Orangtua pasien diharapkan dapat lebih sabar dan telaten serta lebih cermat
dalam mengamati perkembangan anaknya.
2. Tenaga medis khususnya perawat, diharapkan dapat memberikan asuhan
keperawatan yang komprehensif pada pasangan yang ingin menikah, ibu hamil,
ibu bersalin, bayi dan balita agar mampu melakukan pencegahan dini terhadap
kejadian GDD ini.

45
Daftar Pustaka

AlHorany, A.K., Hassan, S.A; and Bataineh, M.Z., 2013. Do Mothers of Autistic
Children are at Higher Risk of Depression? A Systematic Review of
Literature.Life Science Journal
Depkes., 2011.
MariKenalidanPeduliterhadapAnakAutisme.http://www.buk.depkes.go.id/inde
x.php?option=com_content&view=article&id=385:mari-kenali-dan-peduli-
terhadap-anak-autisme&catid=1:latest-ne ws. html. Diakses pada 15 juni 2017.
Dorland, W.A, Newman., 2010. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC
Efendi, M., 2009., Perspektif Anak Berkelainan dalam Pengantar Psikopedagogik Anak
Berkelainan. Penerbit PT Bumi Aksara
Hawari, D,2011. Depresi dalamManajemenStress, Kecemasan, Depresi. Jakarta: FKUI
IDAI, 2011. Keterlambatan Perkembangan Umum Dalam Pedoman Pelayanan Medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia jilid II. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia
Johnson, C.P; Myers, S.M; and the Council on Children With Disabilities., 2007.
Identification and Evaluation of Children With Autism Spectrum
Disorders.Pediatrics.Vol.120.No.51.http://pediatrics.aappublications.Org/conte
nt/120 /5/ 1183.full. Diakses pada 15 Juni 2017.
Kaplan, H.I., Sadock, B.J. 2010. Global delayed development dalam Sinopsis Psikiatri.
Tangerang : Binarupa Aksara
Little, L., 2003. Maternal stress, maternal discipline, and Peer victimization of
children with Asperger-Spectrum disorders, building ecological framework.
Lumbantobing, S.M., 2001., Anak dengan Mental Terbelakang. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Maramis, W.F.,2009. Retardasi Mental dalam Catatan Ilmu Kedokteran JiwaEdisi
kedua. Surabaya : pusat penerbitan dan percetakan UNAIR
Nelson, 2000., Keterlambatan perkembangan umum dalam Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta : buku kedokteran EGC.
Sadock, BJ., Sadock, V.A. dan Kaplan & Sadock’s.,2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis.
Ed 2. Jakarta : EGC
Salehi and colleagues., 2004. Review of Depression in Children with Disorders,
Thought and Behaviour Quarterly, Vol.10, No. 37-38.
Soetjiningsih., 1995. Tumbuh Kembang Anak.Jakarta : EGC
Sherr EH, Shevell MI. Mental retardation and global developmental delay. Dalam:
Swaiman KF, Ashwal S, Ferriero DM, penyunting. Pediatric neurology,
principles and practice. Edisi ke-4. Philadelphia: Mosby; 2006.h.799-20.
Tanuwijaya S. 2002. Kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Dalam: Narendra M,
Sularyo S, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh IGN, penyunting. Buku ajar tumbuh
kembang anak dan remaja, edisi ke-1. Jakarta: Sagung Seto.

46