Anda di halaman 1dari 48

Tabel Matriks Sanding RDTR Perkotaan Tanjung Kabupaten Lombok Utara

No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp


1 BAB I Ketentuan Umum
Bagian Kesatu

Pengertian

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud
dengan:
1. Daerah adalah Kabupaten Lombok Utara. 1. Daerah adalah Kabupaten Lombok Utara.
2. Bupati adalah Bupati Lombok Utara. 2. Bupati adalah Bupati Lombok Utara.
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan 3. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan
Perangkat Daerah sebagai unsur Perangkat Daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintah daerah. penyelenggara pemerintah daerah.
4. Kecamatan adalah Kecamatan Tanjung dan Perlu ditambahkan dalam Ranperda
Gangga.
5. Desa adalah desa di wilayah Kawasan Perlu ditambahkan dalam Ranperda
Perkotaan Tanjung, yaitu Tanjung,
Medana, Sokong, Jenggala, Bentek,
Gondang, dan Genggelang.
4. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Perlu ditambahkan dalam Ranperda
Pemerintah adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan
pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
5. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang 6. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang
darat, ruang laut, dan ruang udara, darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai termasuk ruang di dalam bumi sebagai
satu kesatuan wilayah, tempat manusia satu kesatuan wilayah, tempat manusia
dan makhluk lain hidup, melakukan dan makhluk lain hidup, melakukan
kegiatan, dan memelihara kelangsungan kegiatan, dan memelihara kelangsungan
hidupnya. hidupnya.
6. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang 7. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang
dan pola ruang. dan pola ruang.
7. Penataan Ruang adalah suatu sistem 8. Penataan Ruang adalah suatu sistem
proses perencanaan tata ruang, proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian 9. pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang. pemanfaatan ruang.
8. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu 10. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu
proses untuk menentukan struktur proses untuk menentukan struktur ruang
ruang dan pola ruang yang meliputi dan pola ruang yang meliputi penyusunan
penyusunan dan penetapan rencana tata dan penetapan rencana tata ruang.
ruang.
9. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk 11. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk
mewujudkan struktur ruang dan pola mewujudkan struktur ruang dan pola
ruang sesuai dengan rencana tata ruang ruang sesuai dengan rencana tata ruang
melalui penyusunan dan pelaksanaan melalui penyusunan dan pelaksanaan
program beserta pembiayaannya. program beserta pembiayaannya.
10. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah 12. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah
upaya untuk mewujudkan tertib tata upaya untuk mewujudkan tertib tata
ruang. ruang.
11. Rencana Tata Ruang adalah hasil 13. Rencana Tata Ruang adalah hasil
perencanaan tata ruang. perencanaan tata ruang.
12. Rencana Tata Ruang Wilayah 14. Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota yang selanjutnya Kabupaten/Kota yang selanjutnya disebut
disebut RTRW kabupaten/kota adalah RTRW kabupaten/kota adalah rencana
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
rencana tata ruang yang bersifat umum tata ruang yang bersifat umum dari
dari wilayah kabupaten/kota, yang wilayah kabupaten/kota, yang mengacu
mengacu pada Rencana Tata Ruang pada Rencana Tata Ruang Wilayah
Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Nasional, Rencana Tata Ruang
Pulau/Kepulauan, Rencana Tata Ruang Pulau/Kepulauan, Rencana Tata Ruang
Kawasan Strategis Nasional, RTRW Kawasan Strategis Nasional, RTRW
Provinsi, dan Rencana Tata Ruang Provinsi, dan Rencana Tata Ruang
Kawasan Strategis Provinsi. Kawasan Strategis Provinsi.
13. Rencana Detail Tata Ruang yang 15. Rencana Detail Tata Ruang yang
selanjutnya disingkat RDTR adalah selanjutnya disingkat RDTR adalah
rencana secara terperinci tentang tata rencana secara terperinci tentang tata
ruang wilayah kabupaten/kota yang ruang wilayah kabupaten/kota yang
dilengkapi dengan peraturan zonasi dilengkapi dengan peraturan zonasi
kabupaten/kota. kabupaten/kota.
14. Struktur Ruang adalah susunan pusat- 16. Struktur Ruang adalah susunan pusat-
pusat permukiman dan sistem jaringan pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi prasarana dan sarana yang berfungsi
sebagai pendukung kegiatan sosial sebagai pendukung kegiatan sosial
ekonomi masyarakat yang secara ekonomi masyarakat yang secara
hierarkis memiliki hubungan fungsional. hierarkis memiliki hubungan fungsional.
15. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan 17. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan
ruang dalam suatu wilayah yang meliputi ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung peruntukan ruang untuk fungsi lindung
dan peruntukan ruang untuk fungsi budi dan peruntukan ruang untuk fungsi budi
daya. daya.
16. Kawasan Lindung adalah wilayah yang 18. Kawasan Lindung adalah wilayah yang
ditetapkan dengan fungsi utama ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup melindungi kelestarian lingkungan hidup
yang mencakup sumber daya alam dan yang mencakup sumber daya alam dan
sumber daya buatan. sumber daya buatan.
17. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang 19. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang
ditetapkan dengan fungsi utama untuk ditetapkan dengan fungsi utama
dibudidayakan atas dasar kondisi dan 20. untuk dibudi dayakan atas dasar kondisi
potensi sumber daya alam, sumber daya dan potensi sumber daya alam, sumber
manusia, dan sumber daya buatan. daya manusia, dan sumber daya buatan.
18. Wilayah adalah ruang yang merupakan 21. Wilayah adalah ruang yang merupakan
kesatuan geografis beserta segenap unsur kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya terkait yang batas dan sistemnya
ditentukan berdasarkan aspek ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan/atau aspek fungsional. administratif dan/atau aspek fungsional.
19. Bagian Wilayah Perencanaan yang 22. Bagian Wilayah Perencanaan yang
selanjutnya disingkat BWP adalah bagian selanjutnya disingkat BWP adalah bagian
dari kabupaten/kota dan/atau kawasan dari kabupaten/kota dan/atau kawasan
strategis kabupaten/kota yang akan atau strategis kabupaten/kota yang akan atau
perlu disusun RDTRnya, sesuai arahan perlu disusun RDTRnya, sesuai arahan
atau yang ditetapkan di dalam RTRW atau yang ditetapkan di dalam RTRW
kabupaten/kota yang bersangkutan. kabupaten/kota yang bersangkutan.
20. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang 23. Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang
selanjutnya disebut Sub BWP adalah selanjutnya disebut Sub BWP adalah
bagian dari BWP yang dibatasi dengan 24. bagian dari BWP yang dibatasi dengan
batasan fisik dan terdiri dari beberapa batasan fisik dan terdiri dari beberapa
blok. blok.
21. Pusat pelayanan kota merupakan pusat 25. Pusat pelayanan kota merupakan pusat
pelayanan ekonomi, sosial, dan/atau pelayanan ekonomi, sosial, dan/atau
administrasi yang melayani seluruh administrasi yang melayani seluruh
wilayah BWP dan/atau regional. wilayah BWP dan/atau regional.
22. Subpusat pelayanan kota merupakan 26. Subpusat pelayanan kota merupakan
pusat pelayanan ekonomi, sosial, pusat pelayanan ekonomi, sosial,
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
dan/atau administrasi yang melayani sub dan/atau administrasi yang melayani sub
BWP. BWP.
23. Pusat lingkungan kecamatan merupakan 27. Pusat lingkungan kecamatan merupakan
pusat pelayanan ekonomi, sosial pusat pelayanan ekonomi, sosial
dan/atau administrasi lingkungan dan/atau administrasi lingkungan
permukiman kecamatan. permukiman kecamatan.
24. Pusat lingkungan kelurahan merupakan 28. Pusat lingkungan kelurahan merupakan
pusat pelayanan ekonomi, sosial pusat pelayanan ekonomi, sosial
dan/atau administrasi lingkungan dan/atau administrasi lingkungan
permukiman kelurahan. permukiman kelurahan.
25. Pusat lingkungan RW merupakan pusat 29. Pusat lingkungan RW merupakan pusat
pelayanan ekonomi, sosial dan/atau pelayanan ekonomi, sosial dan/atau
administrasi lingkungan permukiman administrasi lingkungan permukiman
rukun warga. rukun warga.
26. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi 30. Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi
sekurang-kurangnya oleh batasan fisik sekurang-kurangnya oleh batasan fisik
yang nyata seperti jaringan jalan, sungai, yang nyata seperti jaringan jalan, sungai,
selokan, saluran irigasi, saluran udara selokan, saluran irigasi, saluran udara
tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau tegangan ekstra tinggi, dan pantai, atau
yang belum nyata seperti rencana yang belum nyata seperti rencana
jaringan jalan dan rencana jaringan jaringan jalan dan rencana jaringan
prasarana lain yang sejenis sesuai prasarana lain yang sejenis sesuai dengan
dengan rencana kota, dan memiliki rencana kota, dan memiliki pengertian
pengertian yang sama dengan blok yang sama dengan blok peruntukan
peruntukan sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010
Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan tentang Penyelenggaraan Penataan
Penataan Ruang. Ruang.
31. Subblok adalah pembagian fisik di dalam
satu blok berdasarkan perbedaan
subzona.
27. Zona adalah kawasan atau area yang 32. Zona adalah kawasan atau area yang
memiliki fungsi dan karakteristik memiliki fungsi dan karakteristik spesifik.
spesifik.
28. Subzona adalah suatu bagian dari zona 33. Subzona adalah suatu bagian dari zona
yang memiliki fungsi dan karakteristik yang memiliki fungsi dan karakteristik
tertentu yang merupakan pendetailan tertentu yang merupakan pendetailan dari
dari fungsi dan karakteristik pada zona fungsi dan karakteristik pada zona yang
yang bersangkutan. bersangkutan.
29. Zona Sempadan Pantai adalah 34. Zona Sempadan Pantai adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan lindung yang bagian dari kawasan lindung yang
mempunyai fungsi pokok sebagai mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan terhadap sempadan pantai. perlindungan terhadap sempadan pantai.
30. Zona Sempadan Sungai adalah 35. Zona Sempadan Sungai adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan lindung yang bagian dari kawasan lindung yang
mempunyai fungsi pokok sebagai mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan, penggunaan, dan perlindungan, penggunaan, dan
pengendalian atas sumber daya yang ada pengendalian atas sumber daya yang ada
pada sungai dapat dilaksanakan sesuai pada sungai dapat dilaksanakan sesuai
dengan tujuannya. dengan tujuannya.
31. Zona Sempadan SUTT adalah adalah 36. Zona Sempadan SUTT adalah adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan lindung yang bagian dari kawasan lindung yang
mempunyai fungsi pokok sebagai mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan dan pengamanan terhadap perlindungan dan pengamanan terhadap
sempadan SUTT. sempadan SUTT.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
32. Zona rawan bencana yang tingkat 37. Zona Rawan Bencana yang tingkat
kerawanan dan probabilitas ancaman kerawanan dan probabilitas ancaman
atau dampak paling tinggi adalah zona atau dampak paling tinggi adalah zona
lindung yang bebas dari aktivitas lindung yang bebas dari aktivitas
permukiman meliputi zona rawan permukiman meliputi zona rawan
bencana gerakan tanah, termasuk tanah bencana gerakan tanah, termasuk tanah
longsor, zona rawan bencana letusan longsor, zona rawan bencana letusan
gunung api dan/atau sempadan patahan gunung api dan/atau sempadan patahan
aktif (active fault) pada kawasan rawan aktif (active fault) pada kawasan rawan
bencana gempa bumi. bencana gempa bumi.
33. Zona Hutan Kota adalah suatu hamparan 38. Zona Hutan Kota adalah suatu hamparan
lahan yang bertumbuhan pohon-pohon lahan yang bertumbuhan pohon-pohon
yang kompak dan rapat di dalam wilayah yang kompak dan rapat di dalam wilayah
perkotaan baik pada tanah Negara perkotaan baik pada tanah Negara
maupun tanah hak, yang ditetapkan maupun tanah hak, yang ditetapkan
sebagai hutan kota oleh pejabat yang sebagai hutan kota oleh pejabat yang
berwenang. berwenang.
34. Zona Taman Kota adalah lahan terbuka 39. Zona Taman Kota adalah lahan terbuka
yang yang berfungsi sosial dan estetik yang yang berfungsi sosial dan estetik
sebagai sarana kegiatan rekreatif, sebagai sarana kegiatan rekreatif, edukasi
edukasi atau kegiatan lain yang atau kegiatan lain yang ditujukan untuk
ditujukan untuk melayani penduduk melayani penduduk satu kota atau bagian
satu kota atau bagian wilayah kota. wilayah kota.
35. Zona Taman Kecamatan adalah taman 40. Zona Taman Kecamatan adalah taman
yang ditujukan untuk melayani yang ditujukan untuk melayani penduduk
penduduk satu kecamatan. satu kecamatan.
36. Zona Taman Kelurahan adalah taman 41. Zona Taman Kelurahan adalah taman
yang ditujukan untuk melayani yang ditujukan untuk melayani penduduk
penduduk satu kelurahan. satu kelurahan.
37. Zona Taman RW adalah taman yang 42. Zona Taman RW adalah taman yang
ditujukan untuk melayani penduduk ditujukan untuk melayani penduduk satu
satu RW, khususnya kegiatan remaja, RW, khususnya kegiatan remaja, kegiatan
kegiatan olahraga masyarakat, serta olahraga masyarakat, serta kegiatan
kegiatan masyarakat lainnya di masyarakat lainnya di lingkungan RW
lingkungan RW tersebut. tersebut.
38. Zona Pemakaman adalah penyediaan 43. Zona Pemakaman adalah penyediaan
ruang terbuka hijau yang berfungsi ruang terbuka hijau yang berfungsi utama
utama sebagai tempat penguburan sebagai tempat penguburan jenazah.
jenazah. Selain itu juga dapat berfungsi Selain itu juga dapat berfungsi sebagai
sebagai daerah resapan air, tempat daerah resapan air, tempat pertumbuhan
pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim
pencipta iklim mikro serta tempat hidup mikro serta tempat hidup burung serta
burung serta fungsi sosial masyarakat di fungsi sosial masyarakat di sekitar seperti
sekitar seperti beristirahat dan sebagai beristirahat dan sebagai sumber
sumber pendapatan. pendapatan.
39. Zona Rumah Kepadatan Tinggi adalah 44. Zona Rumah Kepadatan Tinggi adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan budi daya yang bagian dari kawasan budi daya yang
difungsikan untuk tempat tinggal atau difungsikan untuk tempat tinggal atau
hunian dengan perbandingan yang besar hunian dengan perbandingan yang besar
antara jumlah bangunan rumah dengan antara jumlah bangunan rumah dengan
luas lahan. luas lahan.
40. Zona Rumah Kepadatan Sedang adalah 45. Zona Rumah Kepadatan Sedang adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan budi daya yang bagian dari kawasan budi daya yang
difungsikan untuk tempat tinggal atau difungsikan untuk tempat tinggal atau
hunian dengan perbandingan yang hunian dengan perbandingan yang
hampir seimbang antara jumlah hampir seimbang antara jumlah
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
bangunan rumah dengan luas lahan. bangunan rumah dengan luas lahan.
41. Zona Rumah Kepadatan Rendah adalah 46. Zona Rumah Kepadatan Rendah adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan budi daya yang bagian dari kawasan budi daya yang
difungsikan untuk tempat tinggal atau difungsikan untuk tempat tinggal atau
hunian dengan perbandingan yang kecil hunian dengan perbandingan yang kecil
antara jumlah bangunan rumah dengan antara jumlah bangunan rumah dengan
luas lahan. luas lahan.
42. Zona Perdagangan dan Jasa Skala Kota 47. Zona Perdagangan dan Jasa Skala Kota
adalah peruntukan ruang yang adalah peruntukan ruang yang
merupakan bagian dari kawasan budi merupakan bagian dari kawasan budi
daya yang difungsikan untuk daya yang difungsikan untuk
pengembangan kelompok kegiatan pengembangan kelompok kegiatan
perdagangan dan/atau jasa, tempat perdagangan dan/atau jasa, tempat
bekerja, tempat berusaha, tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan
hiburan dan rekreasi dengan skala dan rekreasi dengan skala pelayanan
pelayanan kota. kota.
43. Zona Perdagangan dan Jasa Skala BWP 48. Zona Perdagangan dan Jasa Skala BWP
adalah peruntukan ruang yang adalah peruntukan ruang yang
merupakan bagian dari kawasan budi merupakan bagian dari kawasan budi
daya yang difungsikan untuk daya yang difungsikan untuk
pengembangan kelompok kegiatan pengembangan kelompok kegiatan
perdagangan dan/atau jasa, tempat perdagangan dan/atau jasa, tempat
bekerja, tempat berusaha, tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan
hiburan dan rekreasi dengan skala dan rekreasi dengan skala pelayanan
pelayanan BWP. BWP.
44. Zona Perdagangan dan Jasa Skala Sub- 49. Zona Perdagangan dan Jasa Skala Sub
BWP adalah peruntukan ruang yang BWP adalah peruntukan ruang yang
merupakan bagian dari kawasan budi merupakan bagian dari kawasan budi
daya yang difungsikan untuk daya yang difungsikan untuk
pengembangan kelompok kegiatan pengembangan kelompok kegiatan
perdagangandan/atau jasa, tempat perdagangan dan/atau jasa, tempat
bekerja, tempat berusaha, tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan
hiburan dan rekreasi dengan skala dan rekreasi dengan skala pelayanan sub
pelayanan sub BWP. BWP.
45. Zona Perkantoran adalah peruntukan 50. Zona Perkantoran adalah peruntukan
ruang yang merupakan bagian dari ruang yang merupakan bagian dari
kawasan budi daya yang difungsikan kawasan budi daya yang difungsikan
untuk pengembangan kegiatan pelayanan untuk pengembangan kegiatan pelayanan
pemerintahan dan tempat pemerintahan dan tempat
bekerja/berusaha, tempat berusaha, bekerja/berusaha, tempat berusaha,
dilengkapi dengan fasilitas umum/sosial dilengkapi dengan fasilitas umum/sosial
pendukungnya. pendukungnya.
51. Zona Sentra Industri Kecil dan Menengah
adalah zona industri dengan modal kecil
dan tenaga kerja yang sedikit dengan
peralatan sederhana. Biasanya
merupakan industri yang dikerjakan per
orang atau rumah tangga, seperti industri
roti, kompor minyak, makanan ringan,
minyak goreng curah dan lain-lain.
46. Zona Sarana Pelayanan Umum Skala 52. Zona Sarana Pelayanan Umum Skala Kota
Kota adalah peruntukan ruang yang adalah peruntukan ruang yang
merupakan bagian dari kawasan budi merupakan bagian dari kawasan budi
daya yang dikembangkan untuk melayani daya yang dikembangkan untuk melayani
penduduk skala kota penduduk skala kota
47. Zona Sarana Pelayanan Umum Skala 53. Zona Sarana Pelayanan Umum Skala
Kecamatan adalah peruntukan ruang Kecamatan adalah peruntukan ruang
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
yang merupakan bagian dari kawasan yang merupakan bagian dari kawasan
budi daya yang dikembangkan untuk budi daya yang dikembangkan untuk
melayani penduduk skala kecamatan melayani penduduk skala kecamatan
48. Zona Sarana Pelayanan Umum Skala 54. Zona Sarana Pelayanan Umum Skala
Kelurahan adalah peruntukan ruang Kelurahan adalah peruntukan ruang yang
yang merupakan bagian dari kawasan merupakan bagian dari kawasan budi
budi daya yang dikembangkan untuk daya yang dikembangkan untuk melayani
melayani penduduk skala kelurahan penduduk skala kelurahan
49. Zona Pertanian adalah peruntukan ruang 55. Zona Pertanian adalah peruntukan ruang
yang dikembangkan untuk menampung yang dikembangkan untuk menampung
kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan yang berhubungan dengan
pengusahaan mengusahakan tanaman pengusahaan mengusahakan tanaman
tertentu, pemberian makanan, tertentu, pemberian makanan,
pengkandangan, dan pemeliharaan pengkandangan, dan pemeliharaan hewan
hewan untuk pribadi atau tujuan untuk pribadi atau tujuan komersial.
komersial.
50. Zona Ruang Terbuka Non Hijau adalah 56. Zona Ruang Terbuka Non Hijau adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan budi daya berupa bagian dari kawasan budi daya berupa
ruang terbuka di wilayah kota atau ruang terbuka di wilayah kota atau
kawasan perkotaan yang tidak termasuk kawasan perkotaan yang tidak termasuk
dalam kategori RTH berupa lahan yang dalam kategori RTH berupa lahan yang
diperkeras maupun berupa badan air. diperkeras maupun berupa badan air.
RTNH juga memiliki fungsi ekologis, RTNH juga memiliki fungsi ekologis,
ekonomis, arsitektural, dan darurat. ekonomis, arsitektural, dan darurat.
51. Zona Tempat Evakuasi Akhir (TEA) 57. Zona Tempat Evakuasi Akhir (TEA) adalah
adalah berupa ruang/bangunan evakuasi berupa ruang/bangunan evakuasi yang
yang merupakan tempat penampungan merupakan tempat penampungan
penduduk di kawasan aman dari penduduk di kawasan aman dari bencana
bencana dan dapat ditempati untuk dan dapat ditempati untuk jangka waktu
jangka waktu tertentu. TEA bisa tertentu. TEA bisa digunakan untuk
digunakan untuk semua jenis bencana. semua jenis bencana.
52. Zona Pembangkit Listrik adalah 58. Zona Pembangkit Listrik adalah
peruntukan ruang yang merupakan peruntukan ruang yang merupakan
bagian dari kawasan budi daya yang bagian dari kawasan budi daya yang
dikembangkan untuk menjamin dikembangkan untuk menjamin
ketersediaan tenaga listrik. ketersediaan tenaga listrik.
53. Zona Pariwisata adalah peruntukan 59. Zona Pariwisata adalah peruntukan ruang
ruang yang merupakan bagian dari yang merupakan bagian dari kawasan
kawasan budi daya yang dikembangkan budi daya yang dikembangkan untuk
untuk mengembangkan kegiatan mengembangkan kegiatan pariwisata baik
pariwisata baik alam, buatan, maupun alam, buatan, maupun budaya.
budaya.
54. Zona Perumahan dan Perdagangan/Jasa 60. Zona Perumahan dan Perdagangan/Jasa
adalah peruntukan lahan budi daya yang adalah peruntukan lahan budi daya yang
terdiri atas daratan dengan batas terdiri atas daratan dengan batas tertentu
tertentu yang berfungsi campuran antara yang berfungsi campuran antara
perumahan dan perdagangan/jasa. perumahan dan perdagangan/jasa.
55. Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota yang 61. Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota yang
selanjutnya disebut PZ kabupaten/kota selanjutnya disebut PZ kabupaten/kota
adalah ketentuan yang mengatur tentang adalah ketentuan yang mengatur tentang
persyaratan pemanfaatan ruang dan persyaratan pemanfaatan ruang dan
ketentuan pengendaliannya dan disusun ketentuan pengendaliannya dan disusun
untuk setiap blok/zona peruntukan yang untuk setiap blok/zona peruntukan yang
penetapan zonanya dalam rencana detail penetapan zonanya dalam rencana detail
tata ruang. tata ruang.
56. Koefisien Dasar Bangunan yang 62. Koefisien Dasar Bangunan yang
selanjutnya disingkat KDB adalah angka selanjutnya disingkat KDB adalah angka
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
persentase perbandingan antara luas persentase perbandingan antara luas
seluruh lantai dasar bangunan gedung seluruh lantai dasar bangunan gedung
dan luas lahan/tanah dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah
perpetakan/daerah perencanaan yang perencanaan yang dikuasai sesuai
dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata ruang dan RTBL.
RTBL.
57. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya 63. Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya
disingkat KDH adalah angka persentase disingkat KDH adalah angka persentase
perbandingan antara luas seluruh ruang perbandingan antara luas seluruh ruang
terbuka di luar bangunan gedung yang terbuka di luar bangunan gedung yang
diperuntukkan bagi diperuntukkan bagi
pertamanan/penghijauan dan luas tanah pertamanan/penghijauan dan luas tanah
perpetakan/daerah perencanaan yang perpetakan/daerah perencanaan yang
dikuasai sesuai rencana tata ruang dan dikuasai sesuai rencana tata ruang dan
RTBL. RTBL.
58. Koefisien Lantai Bangunan yang 64. Koefisien Lantai Bangunan yang
selanjutnya disingkat KLB adalah angka selanjutnya disingkat KLB adalah angka
persentase perbandingan antara luas persentase perbandingan antara luas
seluruh lantai bangunan gedung dan seluruh lantai bangunan gedung dan luas
luas tanah perpetakan/daerah tanah perpetakan/daerah perencanaan
perencanaan yang dikuasai sesuai yang dikuasai sesuai rencana tata ruang
rencana tata ruang dan RTBL. dan RTBL.
59. Garis Sempadan Bangunan yang 65. Garis Sempadan Bangunan yang
selanjutnya disingkat GSB adalah selanjutnya disingkat GSB adalah
sempadan yang membatasi jarak terdekat sempadan yang membatasi jarak terdekat
bangunan terhadap tepi jalan; dihitung bangunan terhadap tepi jalan; dihitung
dari batas terluar saluran air kotor (riol) dari batas terluar saluran air kotor (riol)
sampai batas terluar muka bangunan, sampai batas terluar muka bangunan,
berfungsi sebagai pembatas ruang, atau berfungsi sebagai pembatas ruang, atau
jarak bebas minimum dari bidang terluar jarak bebas minimum dari bidang terluar
suatu massa bangunan terhadap lahan suatu massa bangunan terhadap lahan
yang dikuasai, batas tepi sungai atau yang dikuasai, batas tepi sungai atau
pantai, antara massa bangunan yang lain pantai, antara massa bangunan yang lain
atau rencana saluran, jaringan tegangan atau rencana saluran, jaringan tegangan
tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb
(building line). (building line).
60. Orang adalah orang perseorangan 66. Orang adalah orang perseorangan
dan/atau korporasi. dan/atau korporasi.
61. Masyarakat adalah orang perseorangan, 67. Masyarakat adalah orang perseorangan,
kelompok orang termasuk masyarakat kelompok orang termasuk masyarakat
hukum adat, korporasi, dan/atau hukum adat, korporasi, dan/atau
pemangku kepentingan nonpemerintah pemangku kepentingan nonpemerintah
lain dalam penyelenggaran penataan lain dalam penyelenggaran penataan
ruang. ruang.
62. Peran masyarakat adalah partisipasi aktif 68. Peran masyarakat adalah partisipasi aktif
masyarakat dalam perencanaan tata masyarakat dalam perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang, dan ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang. pengendalian pemanfaatan ruang.
63. Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah, 69. Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah,
yang selanjutnya disebut TKPRD adalah yang selanjutnya disebut TKPRD adalah
badan bersifat ad-hoc yang dibentuk badan bersifat ad-hoc yang dibentuk
untuk mendukung pelaksanaan Undang- untuk mendukung pelaksanaan Undang-
undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang di Kabupaten Lombok Penataan Ruang di Kabupaten Lombok
Utara dan mempunyai fungsi membantu Utara dan mempunyai fungsi membantu
tugas Bupati dalam koordinasi penataan tugas Bupati dalam koordinasi penataan
ruang di daerah. ruang di daerah.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Bagian Kedua
Bagian Wilayah Perencanaan

Pasal 2
(1) Lingkup ruang BWP Kawasan Perkotaan
Kawasan Perkotaan Tanjung merupakan Tidak boleh menggunakan bahasa
Tanjung berdasarkan aspek administratif
ibukota Kabupaten Lombok Utara yang kurang lebih sehingga Perlu diperbaiki
dengan luas kurang lebih 3.570.88 (tiga
memiliki luas wilayah ± 3.570,88 Ha
ribu lima ratus tujuh puluh koma
delapan delapan) hektar, beserta ruang
udara di atasnya dan ruang di dalam
bumi
(2) Batas-batas BWP Kawasan Perkotaan
Tanjung meliputi: Batas wilayah administrasi dari Kawasan
a. Sebelah utara berbatasan dengan Perkotaan Tanjung adalah sebagai berikut:
Selat Lombok dan Laut Bali;  Sebelah Utara : Selat Lombok dan Laut
b. Sebelah timur berbatasan dengan Bali;
Desa Rempek (Kecamatan Gangga);  Sebelah Timur : Desa Rempek (Kecamatan
c. Sebelah selatan berbatasan dengan Gangga);
Desa Tegalmaja, Desa Teniga  Sebelah Selatan : Desa Tegalmaja, Desa
(Kecamatan Tanjung) dan Desa Teniga (Kec. Tanjung), Desa Sambik
Sambik Bangkol (Kecamatan Bangkol (Kec. Gangga);
Gangga); dan
d. Sebelah barat berbatasan dengan
Desa Sigar Penjalin (Kecamatan  Sebalah Barat : Desa Sigar Penjalin (Kec.
Tanjung). Tanjung).
Perlu disesuaikan luasan yang
(3) BWP Kawasan Perkotaan Tanjung terdiri Pembagian BWP Perkotaan Tanjung tercantum didalam Ranperda dan
atas:
Materi Teknis serta dalam materi
a. Sebagian Desa Tanjung, Kecamatan teknis tidak menyebutkan sebagian
Tanjung dengan luas kurang lebih Desa Tanjung 264,84 Ha Desa seperti yang tercantum dalam
822,48 (delapan ratus dua puluh dua Ranperda.
koma empat delapan) hektar;
b. Sebagian Desa Sokong, Kecamatan
Tanjung dengan luas kurang lebih Desa Sokong 822,48 Ha
264,84 (dua ratus enam puluh empat
koma delapan empat) hektar;
c. Sebagian Desa Jenggala, Kecamatan
Tanjung dengan luas kurang lebih
628,51 (enam ratus dua puluh Desa Jenggala 628,51 Ha
delapan koma lima satu) hektar;
d. Sebagian Desa Medana, Kecamatan
Tanjung dengan luas kurang lebih
114,77 (seratus empat belas koma
Desa Medana 114,77 Ha
tujuh tujuh);
e. Sebagian Desa Gondang, Kecamatan
Gangga dengan luas kurang lebih
519,43 (lima ratus sembilan belas
koma empat tiga) hektar; Desa Gondang 692,25 Ha
f. Sebagian Desa Bentek, Kecamatan
Gangga dengan luas kurang lebih
528,6 (lima ratus dua puluh delapan
koma enam) hektar; dan Desa Bentek 519,43 Ha
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
g. Sebagian Desa Genggelang,
Kecamatan Gangga dengan luas
kurang lebih 692,25 (enam ratus
sembilan puluh dua koma dua lima) Desa Genggelang 528,60 Ha
hektar.
(4) BWP Kawasan Perkotaan Tanjung dibagi
Tidak boleh menggunakan bahasa
menjadi 4 (empat) sub BWP yang terdiri
kurang lebih sehingga Perlu diperbaiki
atas:
a. Sub BWP 1, terdiri atas sebagian Pembagian BWP Kawasan Perkotaan Tanjung
Desa Sokong, sebagian Desa
Medana, dan sebagian Desa Tanjung
dengan luas kurang lebih 1.200,47
(seribu dua ratus koma empat tujuh) a. SBWP 1 :Sebagian Desa Tanjung,
hektar; sebagian Desa Medana dan sebagian Desa
Sokong (1.200,47 Ha)
b. Sub BWP 2, terdiri atas sebagian
Desa Jenggala dengan luas kurang
lebih 629,51 (enam ratus dua puluh
sembilan koma lima satu) hektar;
c. Sub BWP 3, terdiri atas sebagian b. SBWP 2 Sebagian Desa Jenggala (629,51
Desa Bentek dan sebagian Desa Ha)
Gondang dengan luas kurang lebih
1.212,34 (seribu dua ratus dua belas
koma tiga empat) hektar; dan
c. SBWP 3 Sebagian Desa Bentek dan
d. Sub BWP 4, terdiri atas sebagian
sebagian Desa Gondang (1.212,34 Ha)
Desa Genggelang dengan luas kurang
lebih 528,56 (lima ratus dua puluh
delapan koma lima enam) hektar.
(5) BWP Kawasan Perkotaan Tanjung dibagi
menjadi 24 (dua puluh empat) blok yang d. SBWP 4 Sebagian Desa Genggelang Tidak boleh menggunakan bahasa
terdiri atas: (528,56 Ha) kurang lebih sehingga Perlu diperbaiki
a. Sub BWP 1, meliputi:
1. Blok 1.1 dengan luas kurang
lebih 56 (lima puluh enam) Pembagian Blok BWP Kawasan Perkotaan
hektar; Tanjung
2. Blok 1.2 dengan luas kurang a. Sub BWP 1
lebih 73,3 (tujuh puluh tiga 1. Blok 1.1 dengan luas 56,0 Ha
koma tiga) hektar;
3. Blok 1.3 dengan luas kurang
lebih 136,5 (seratus tiga puluh
enam koma lima) hektar; 2. Blok 1.2 dengan luas 73,3 Ha
4. Blok 1.4 dengan luas kurang
lebih 103,9 (seratus tiga koma
sembilan) hektar; 3. Blok 1.3 dengan luas 136,5 Ha
5. Blok 1.5 dengan luas kurang
lebih 111,6 (seratus sebelas
koma enam) hektar; 4. Blok 1.4 dengan luas 103,9 Ha
6. Blok 1.6 dengan luas kurang
lebih 125,6 (seratus dua puluh
lima koma enam) hektar; 5. Blok 1.5 dengan luas 111,6 Ha
7. Blok 1.7 dengan luas kurang
lebih 143,8 (seratus empat puluh
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
tiga koma delapan) hektar; 6. Blok 1.6 dengan luas 125,6 Ha
8. Blok 1.8 dengan luas kurang
lebih 90,6 (sembilan puluh koma
enam) hektar;
7. Blok 1.7 dengan luas 143,8 Ha
9. Blok 1.9 dengan luas kurang
lebih 247,5 (dua ratus empat
puluh tujuh koma lima) hektar; 8. Blok 1.8 dengan luas 90,6 Ha
dan
10. Blok 1.10 dengan luas kurang
lebih 111,6 (seratus sebelas
9. Blok 1.9 dengan luas 247,5 Ha
koma enam) hektar.
b. Sub BWP 2, meliputi:
1. Blok 2.1 dengan luas kurang
lebih 73,6 (tujuh puluh tiga
10. Blok 1.10 dengan luas 111,6 Ha
koma enam) hektar;
2. Blok 2.2 dengan luas kurang
lebih 97,4 (sembilan puluh tujuh
koma empat) hektar; b. Sub BWP 2
3. Blok 2.3 dengan luas kurang 1. Blok 2.1 73,6
lebih 213,3 (dua ratus tiga belas
koma tiga) hektar; dan
4. Blok 2.4 dengan luas kurang
lebih 245,2 (dua ratus empat 2. Blok 2.2 dengan luas 97,4 Ha
puluh lima koma dua) hektar.
c. Sub BWP 3, meliputi:
1. Blok 3.1 dengan luas kurang 3. Blok 2.3 dengan luas 213,3 Ha
lebih 119,5 (seratus sembilan
belas koma lima) hektar;
2. Blok 3.2 dengan luas kurang 4. lok 2.4 dengan luas 245,2 Ha
lebih 141,6 (seratus empat puluh
satu koma enam) hektar;
3. Blok 3.3 dengan luas kurang
lebih 269,5 (dua ratus enam c. 3 Sub BWP 3
puluh sembilan koma lima)
hektar; 1. Blok 3.1 dengan luas 119,5 Ha
4. Blok 3.4 dengan luas kurang
lebih 343,6 (tiga ratus empat
puluh tiga koma enam) hektar; 2. Blok 3.2 dengan luas 141,6 Ha
dan
5. Blok 3.5 dengan luas kurang
lebih 338,20 (tiga ratus tiga
puluh delapan koma dua) 3. Blok 3.3 dengan luas 269,5 Ha
hektar.
d. Sub BWP 4, meliputi:
1. Blok 4.1 dengan luas kurang
lebih 90,5 (sembilan puluh koma 4. Blok 3.4 dengan luas 343,6 Ha
lima) hektar;
2. Blok 4.2 dengan luas kurang
lebih 113 (seratus tiga belas)
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
hektar; 5. Blok 3.5 dengan luas 338,2 Ha
3. Blok 4.3 dengan luas kurang
lebih 70,1 (tujuh puluh koma
satu) hektar;
4. Blok 4.4 dengan luas kurang d. 4 Sub BWP 4
lebih 126,3 (seratus dua puluh
enam koma tiga) hektar; dan 1. Blok 4.1 dengan luas 90,5 Ha
5. Blok 4.5 dengan luas kurang
lebih 128,6 (seratus dua puluh
delapan koma enam) hektar.
2. Blok 4.2 dengan luas 113,0 Ha

3. Blok 4.3 dengan luas 70,1 Ha

4. Blok 4.4 dengan luas 126,3 Ha

5. Blok 4.5 dengan luas 128,6 Ha


2 BAB II Tujuan Penataan BWP Tujuan Penataan Kawasan Perkotaan Tujuan Penataan Bagian Wilayah
Tanjung Perencanaan (BWP)
Perumusan tujuan penataan BWP
BAB II
didasarkan pada:
a. Arahan pencapaian sebagaimana TUJUAN PENATAAN KAWASAN PERKOTAAN
ditetapkan dalam RTRW TANJUNG
kabupaten/kota;
Pasal 3
b. Isu strategis BWP, yang antara lain
dapat berupa potensi, masalah, dan Penataan BWP Kawasan Perkotaan Tanjung
urgensi penanganan; dan bertujuan untuk mewujudkan Kawasan “Mewujudkan Kawasan Perkotaan Tanjung
c. Karakteristik BWP. Perkotaan Tanjung menjadi kota Menjadi Kota Berketahanan Berbasis
berketahanan berbasis pertanian dan Pertanian dan Pariwisata yang Berwawasan
Tujuan penataan BWP dirumuskan pariwisata yang berwawasan lingkungan Lingkungan Berkelanjutan”
dengan mempertimbangkan: berkelanjutan.
a. Keseimbangan dan keserasian
antarbagian dari wilayah
kabupaten/kota;
b. Fungsi dan peran BWP;
c. Potensi investasi;
d. Keunggulan dan daya saing BWP;
e. Kondisi sosial dan lingkungan BWP;
f. Peran dan aspirasi masyarakat
dalam pembangunan; dan
g. Prinsip-prinsip yang merupakan
penjabaran dari tujuan tersebut.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
3 Rencana Struktur Ruang Rencana Strutur Ruang Wilayah Rencana Struktur Ruang
BAB III
Rencana struktur ruang, meliputi: RENCANA STRUKTUR RUANG
a. Rencana pengembangan pusat
pelayanan; Bagian Kesatu
b. Rencana jaringan transportasi; dan Umum
c. Rencana jaringan prasarana.
Pasal 4

(1) Rencana struktur ruang Kawasan


Perkotaan Tanjung meliputi: Rencana Struktur Ruang Perkotaan Tanjung
a. Rencana pengembangan pusat terdiri dari:
pelayanan; 1. Rencana Pengembangan Pusat Pelayanan;
b. Rencana jaringan transportasi; dan 2. Rencana Jaringan Transportasi; dan
c. Rencana jaringan prasarana; 3. Rencana Jaringan Prasarana.
(2) Rencana struktur ruang digambarkan Skala Lampiran I menggunakan skala
dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:15.000 tidak sesuai dengan pasal 4
1:5.000 sebagaimana tercantum dalam ayat (2) sehingga perlu disesuaikan.
Lampiran I, yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah
ini.

Rencana Struktur Ruang : Bagian Kedua


(a) Rencana Pengembangan Pusat Rencana Pengembangan Pusat Pelayanan
Pelayanan :
Pasal 5
(1) Pusat Pelayanan kota/kawasan
perkotaan (1) Rencana pengembangan pusat pelayanan Rencana Pengembangan Pusat Pelayanan :
(2) Sub pusat Pelayanan Kota/ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
kawasan perkotaan ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. Pusat pelayanan kawasan perkotaan a. Pusat Pelayanan Kawasan Perkotaan -
(3) Pusat lingkungan, berupa : (PPK); Pusat Bagian Wilayah Perkotaan
 Pusat lingkungan kecamatan b. Sub pusat pelayanan kawasan b. Sub Pusat Pelayanan Kawasan Perkotaan -
 Pusat lingkungan kelurahan perkotaan (SPPK); dan Pusat Sub BWP
 Pusat rukun warga c. Pusat lingkungan kelurahan. c. Pusat Lingkungan – Pusat Kelurahan

(2) Pusat pelayanan kawasan perkotaan Pusat BWP di Kawasan Perkotaan Tanjung
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Desa Tanjung
huruf a yaitu PPK Tanjung yang terdapat
di Sub BWP 1;
(3) Sub pusat pelayanan kawasan perkotaan Sub Pusat Pelayanan Kawasan Perkotaan :
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b terdiri atas:
a. SPPK Jenggala yang terdapat di Sub a. Pusat Sub BWP Jenggala
BWP 2;
b. SPPK Gondang yang terdapat di Sub b. Pusat Sub BWP Gondang
BWP 3; dan
c. SPPK Genggelang yang terdapat di c. Pusat Sub BWP Genggelang
Sub BWP 4.
(4) Pusat lingkungan kelurahan Pusat Lingkungan – Pusat Kelurahan :
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c terdiri atas:
a. Pusat Lingkungan Sokong yang Desa Sokong dan
terdapat di Sub BWP 1; dan
b. Pusat Lingkungan Bentek yang Desa Bentek.
terdapat di Sub BWP 3.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(b) Rencana Jaringan Transportasi
Bagian Ketiga
(1) Jaringan jalan dan kereta api
sesuai dengan yang termuat Rencana Jaringan Transportasi
dalam RTRW Kabupaten
Pasal 6
(2) Jaringan jalan sistem sekunder di
kawasan perkotaan meliputi : (1) Rencana jaringan transportasi Tidak ada dalam materu teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
 Jalan arteri sekunder sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
 Jalan kolektor sekunder ayat (1) huruf b berupa jaringan
 Jalan lokal sekunder transportasi darat.
(3) Jaringan jalan lingkungan primer (2) Jaringan transportasi darat sebagaimana Rencana Jaringan Transportasi meliputi :
dan lingkungan sekunder dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
(4) Jalur pejalan kaki a. Rencana jaringan jalan; a. Rencana Jaringan Jalan
(5) Jalur sepeda (jika ada) b. Rencana jalur pejalan kaki; b. Rencana Jalur Pejalan Kaki
(6) Jaringan jalan lain yang melputi : c. Rencana jalur sepeda; c. Rencana Jalur Sepeda
 Jalan masuk dan keluar d. Rencana perparkiran; d. Rencana Sistem Perparkiran
terminal barang serta terminal e. Rencana trayek angkutan e. Rencana Trayek Angkutan Penumpang
orang/penumpang sesuai penumpang; dan
ketentuan yang berlaku f. Rencana terminal. f. Rencana Sistem Terminal
terminal tipe A, terminal tipe
B, terminal tipe C dan/atau
pangkalan angkutan umum Paragraf 1
 Jaringan jalan moda Rencana Jaringan Jalan
transportasi umum (jalan
masuk dan keluarnya terminal Pasal 7
barang/orang hingga (1) Rencana jaringan jalan sebagaimana Rencana jaringan jalan meliputi :
pangkalan angkutan dan dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a
halte) terdiri atas:
 Jalan masuk dan keluar a. Rencana pembangunan jaringan jalan a. Rencana Pembangunan Jaringan Jalan
parkir baru; Baru
b. Rencana peningkatan kapasitas b. Rencana Peningkatan Kapasitas Jalan
jaringan jalan;
c. Rencana peningkatan fungsi jalan; dan c. Rencana Peningkatan Fungsi Jalan
d. Rencana pemeliharaan jaringan jalan. d. Rencana Pemeliharaan Jalan

(2) Rencana pembangunan jaringan jalan Rencana Pembangunan Jaringan Jalan Baru:
baru sebagaimana dimaksud pada ayat 1
huruf a terdiri atas:
a. Ruas Jalan Lingkar Utara; a. Rencana pembangunan Jalan Lingkar
b. Ruas Jalan Lingkar Selatan; Selatan
b. Rencana pembangunan Jalan Lingkar
Utara

(3) Rencana peningkatan kapasitas jaringan Rencana Peningkatan Kapasitas Jalan meliputi
jalan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 :
huruf b berupa pelebaran jalan terdiri
atas:
a. Ruas Prawira – Batu Lilir; a. Prawira – Batu Lilir
b. Ruas Jenggala – Kandang Kaok; b. Jenggala – Kandang Kaok
c. Ruas Lading-lading – Kapu; c. Lading-lading – Kapu
d. Ruas Belli – Pekatan; d. Belli – Pekatan
e. Ruas Tanjung – Leong; e. Tanjung – Leong
f. Ruas Tembobor – Pantai Medana; f. Tembobor - Pantai Medana
g. Ruas Tembobor - Teluk Ongkong; g. Tembobor - Teluk Ongkong
h. Ruas Tembobor – Rangsot; h. Tembobor – Rangsot
i. Ruas Cupek – Rangsot; i. Cupek – Rangsot
j. Ruas Cupek – Sire; j. Cupek – Sire
k. Ruas Karang Desa – Karang Jero; k. Karang Desa - Karang Jero
l. Ruas Karang Panasan – Kampung l. Karang Panasan - KP. Baru
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Baru;
m. Ruas Telok Dalem – Orong Ramput; m. Telok Dalem - Orong Ramput
n. Ruas Tanjung – Kandang Kaok; n. Tanjung - Kandang Kaok
o. Ruas Karang Taruna - Karang o. Karang Taruna - Karang Sobor
Sobor;
p. Ruas Telok Dalem – Kopang/Teniga; p. Telok Dalem - Kopang/Teniga
q. Ruas Teluk Dalem – Tembobor; q. Teluk Dalem - Tembobor
r. Ruas Sidutan – Pendua; r. Sidutan – Pendua
s. Ruas Luk – Senjajak; s. Luk – Senjajak
t. Ruas Lekok/Gondang – Lenek; t. Lekok/Gondang – Lenek
u. Ruas Jugil – Sambik Bangkol; u. Jugil – Sambik Bangkol
v. Ruas Gondang – Pantai; v. Gondang – Pantai
w. Ruas Karang Kates – Selelos; w. Karang Kates – Selelos
x. Ruas Lingkungan Gondang; x. Lingkungan Gondang
y. Ruas Kerta – Monggal; y. Kerta – Monggal
z. Belli – Pekatan Sama dengan Ruas jalan di huruf d
z. Ruas Gangga – Selelos; aa. Gangga – Selelos
aa. Ruas Papak – San Kukun; bb. Papak – San Kukun
bb. Ruas Luk – Rempek; cc. Luk – Rempek
cc. Ruas Karang Jurang – Pantai; dd. Karang Jurang – Pantai
dd. Ruas Gondang – Tiu Pupus; ee. Gondang – Tiu Pupus
ee. Jalan Neokalip; ff. Neokalip
ff. Jalan Bhayangkara; gg. Bhayangkara
gg. Jalan Panon; hh. Panon
hh. Jalan Pemda; ii. Pemda
ii. Jalan Gubuk Baru; jj. Gubuk Baru
jj. Jalan GOR; kk. GOR
kk. Jalan Pendidikan; ll. Pendidikan
ll. Jalan Karang Gebang;
mm. Jalan Karang Raden; mm. Karang Raden
nn. Jalan Terusan Kawasan Pusat nn. Terusan Kawasan Pusat Bisnis
Bisnis Montong; Montong
oo. Jalan Terusan Terminal; oo. Terusan Terminal
pp. Jalan Tamasari – Loangsawak; pp. Tamasari - Loangsawak
qq. Jalan Perumahan Lendang Bagian; qq. Perumahan Lendang Bagian
rr. Jalan Karang Panasan; rr. Karang Panasan
ss. Karang Gebang
ss. Jalan Karang Gebang – Orongkelas; tt. Karang Gebang – Orongkelas
tt. Jalan Baru Permukiman Blok 1.A – uu. Jalan Baru Permukiman Blok 1 A-1B
1.B;
uu. Jalan Sorong Jukung; vv. Sorong Jukung
vv. Jalan Karang Lendang – Batu ww. Karang Lendang - Batu Lawang
Lawang;
ww. Jalan Terusan kantor Camat xx. Terusan Kantor Camat Gangga
Gangga; dan
uu. Jalan Terusan Karang Karakas. yy. Terusan Karang Karakas

(4) Rencana peningkatan fungsi jalan Rencana Peningkatan Fungsi Jalan meliputi :
sebagaimana dimaksud pada ayat 1
huruf c terdiri atas:
a. Ruas Jalan Tanjung – Bayan menjadi a. Peningkatan Jalan Arteri Sekunder
arteri sekunder (semula berupa jalan (Jl.Tanjung – Bayan) sepanjang 49,12 km,
kolektor primer sepanjang 49,12 km; dengan lebar antara 9-10 meter
dan
b. Jaringan jalan lingkungan menjadi b. Peningkatan fungsi jaringan jalan
jalan lokal yaitu di Pertigaan lingkungan menjadi jalan lokal yaitu di
Gondang – Bentek – Genggelang. Pertigaan Gondang – Bentek – Genggelang
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(5) Rencana pemeliharaan jaringan jalan Rencana Pemeliharaan Jalan meliputi :
sebagaimana dimaksud pada ayat 1
huruf d berupa perbaikan jaringan jalan
terdiri atas:
a. Ruas Jenggala – Kandang Kaok a. Jenggala – Kandang Kaok sepanjang 2 km;
sepanjang 2 km;
b. Ruas Telok Dalem - Kopang/Teniga b. Telok Dalem - Kopang/Teniga sepanjang
sepanjang 6,2 km; 6,2 km;
c. Ruas Sidutan – Pendua sepanjang c. Sidutan – Pendua Kolektor Sekunder
7,1 km; sepanjang 7,1 km;
d. Ruas Lekok/Gondang – Lenek d. Lekok/Gondang – Lenek sepanjang 2,4
sepanjang 2,4 km; km;
e. Ruas Jugil – Sambik Bangkol e. Jugil – Sambik Bangkol sepanjang 4,3 km;
sepanjang 4,3 km;
f. Ruas Gondang – Pantai sepanjang 1 f. Gondang – Pantai sepanjang 1 km;
km;
g. Ruas Kerta – Monggal sepanjang 9,7 g. Kerta – Monggal sepanjang 9,7 km;
km;
h. Ruas Gangga – Selelos sepanjang h. Gangga – Selelos sepanjang 18,1 km;
18,1 km;
i. Ruas Papak – San Kukun; sepanjang i. Papak – San Kukun sepanjang 5 km
5 km dan
j. Ruas Karang Jurang – Pantai j. Karang Jurang – Pantai sepanjang 1,2 km.
sepanjang 1,2 km.

(6) Rencana jaringan jalan digambarkan Tidak ada Lampiran I.A yang ada
dalam peta dengan tingkat ketelitian Lampiran 1.1 Peta Rencana Jaringan
1:5.000 sebagaimana tercantum dalam Jalan dan Transportasi menggunakan
Lampiran I.A, yang merupakan bagian skala 1:15.000
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah
ini.
Paragraf 2
Rencana Jalur Pejalan Kaki
Pasal 8
Rencana jalur pejalan kaki sebagaimana Rencana jalur pejalan kaki dalam materi
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b teknis sebagai berikut :
berupa pengembangan jalur pedestrian
mengikuti rencana jaringan jalan yang
meliputi :
a. Kawasan terminal di Sub BWP 1 dan 4; a. Kawasan terminal di SBWP 1 dan 4;
b. Kawasan perdagangan dan jasa di Sub b. Kawasan perdagangan dan jasa di SBWP 1;
BWP 1;
c. Kawasan perkantoran pemerintahan di c. Kawasan perkantoran pemerintahan di
Sub BWP 1; SBWP 1;
d. Kawasan sarana pelayanan umum di d. Kawasan sarana pelayanan umum di setiap
setiap Sub BWP; dan SBWP;
e. Jalur pejalan kaki di kawasan pariwisata e. Kawasan pariwisata pantai di setiap SBWP;
pantai di setiap Sub BWP
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Paragraf 3
Rencana Jalur Sepeda
Pasal 9
Rencana jalur sepeda sebagaimana dimaksud Rencana jalur sepeda dalam materi teknis
dalam Pasal 6 ayat (2) huruf c Dialokasikan di sebagai berikut :
sepanjang pesisir pantai yang meliputi :
a. Jalur sepeda di Blok 1.1, Blok 1.2, dan
a. SBWP 1 Blok 1, 2 dan 3;
Blok 1.3;
b. Jalur sepeda di Blok 2.1 dan Blok 2.2;
b. SBWP 2 Blok 1 dan 2;
c. Jalur sepeda di Blok 3.2 dan Blok 3.3;
c. SBWP 3 Blok 2 dan 3;
dan
d. Jalur sepeda di Blok 4.1 dan Blok 4.2.
d. SBWP 4 Blok 1 dan 2.
Rencana trayek angkutan penumpang dalam Perlu dimasukkan dalam Ranperda
Tidak ada dalam Ranperda
materi teknis meliputi :
a. Trayek Tanjung – Gondang;
b. Trayek Tanjung – Gondang – Telaga Maluku
– Rempek;
c. Trayek Tanjung – Lolokrangan – Upak
Mayung;
d. Trayek Tanjung – Gangga – Selelos;
e. Trayek Tanjung – Bandara.

Paragraf 4
Rencana Perparkiran
Pasal 10
Rencana perparkiran sebagaimana dimaksud Rencana Sistem Perparkiran dalam materi
dalam Pasal 6 ayat (2) huruf d meliputi : teknis sebagai berikut :
a. Area parkir di Blok 1.2 dan Blok 1.3; a. SBWP 1 di Blok 2 dan 3;
b. Area parkir di Blok 2.2; b. SBWP 2 di Blok 2;
c. Area parkir di Blok 3.3; dan c. SBWP 3 di Blok 3;
d. Area parkir di Blok 4.2. d. SBWP 4 di Blok 2.
Paragraf 5
Rencana Terminal
Pasal 11
Rencana terminal sebagaimana dimaksud Rencana Sistem Terminal dalam materi teknis
dalam Pasal 6 ayat (2) huruf f terdiri atas: meliputi :
a. Pembangunan Terminal baru di Blok 4.2; a. Pengembangan terminal baru di SBWP 4
dan Blok 2 (Blok 4.2)
b. Peningkatan terminal tipe C menjadi b. Terminal Pasar Baru tipe C diarahkan
terminal tipe B di Blok 1.3. untuk dinaikkan statusnya menjadi
Terminal tipe B
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Bagian Keempat
Rencana jaringan Prasarana, meliputi :
1. Rencana Jaringan energy/kelistrikan Rencana Jaringan Prasarana
2. Rencana jaringan Telekomunikasi
Pasal 12
3. Rencana Jaringan Air minum
4. Rencana jaringan Drainase Rencana jaringan prasarana sebagaimana Rencana Jaringan Prasarana dalam materi
5. Rencana Pengelolaan Air Limbah dimaksud pada Pasal 4 ayat (1) huruf c teknis meliputi :
6. Rencana Jaringan Prasarana Lainnya meliputi:
(jalur evakuasi Bencana) a. Rencana jaringan energi/kelistrikan; a. Rencana Jaringan Energi/Kelistrikan
b. Rencana jaringan telekomunikasi; b. Rencana Jaringan Telekomunikasi
c. Rencana jaringan air minum; c. Rencana Jaringan Air Minum
d. Rencana jaringan drainase; d. Rencana Jaringan Drainase
e. Rencana jaringan pengelolaan air limbah; e. Rencana Pengelolaan Air Limbah
f. Rencana jaringan persampahan; dan f. Rencana Pengelolaan Persampahan
g. Rencana jaringan prasarana lainnya. g. Rencana Jaringan Evakuasi Terdapat perebedaan Sub judul yang
ada dalam Raperda dan materi teknis
sehingga harus disesuaikan
Pasal 13
(1) Rencana Jaringan (1) Pengembangan jaringan energi/ Rencana Jaringan Energi/Kelistrikan dalam Perlu dibedakan sesuai dengan yang
Energi/Kelistrikan: kelistrikan sebagaimana dimaksud dalam materi teknis tidak ada pembagian seperti tercantum dalam Raperda terkait
 Jaringan infrastruktur minyak Pasal 12 huruf a meliputi: yang tercantum dalam Raperda. Rencana Jaringan Energi/Kelistrikan.
dan gas bumi : a. jaringan transmisi dan distribusi
a) Jaringan yang menyalurkan tenaga listrik;
minyak dan gas bumi dari b. gardu induk;
fasilitas produksi ke kilang (2) Pengembangan jaringan jaringan
pengolahan dan/atau transmisi dan distribusi listrik Rencana sistem jaringan energi/ kelistrikan di
tenpat penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kawasan Perkotaan Tanjung sampai dengan
b) Jaringan yang menyalurkan huruf a terdiri atas: akhir tahun perencanaan meliputi:
gas bumi dari kilang a. Pengembangan SUTT terdapat di
pengolahan ke konsumen Blok 1.4 dan Blok 1.5; dan a. Pembangunan jaringan primer di
 Jaringan penyalur b. Pengembangan SUTM di setiap Kawasan Perkotaan Tanjung yaitu berupa
ketenagalistrikan : SBWP; dan jalur SUTT yang melewati Blok 1.4 dan
a) Jaringan transmisi dan c. Pengembangan SUTR di setiap Blok 1.5.
distribusi tenaga listrik SBWP. b. Pembangunan jaringan sekunder di
untuk menyalurkan tenaga Kawasan Perkotaan Tanjung yaitu berupa
listrik antarsistem sesuai jalur SUTM dan SUTR yang melalui
dengan RTRW hampir seluruh Kawasan Perkotaan
Kabupaten/kota, berupa : (3) Pengembangan gardu induk sebagaimana Tanjung.
1) Saluran Udara Tegangan dimaksud pada ayat (1) huruf b berupa
Ultra Tinggi (SUTUT) gardu induk Tanjung di Blok 1.5; dan Peningkatan daya listrik pada daerah pusat
2) Saluran Udara Tegangan kegiatan dan daerah pusat pelayanan berupa
Ekstra Tinggi (SUTET) (4) Rencana jaringan energi/kelistrikan penambahan gardu listrik berupa gardu induk
3) Saluran Udara Tegangan digambarkan dalam peta dengan yang berada di Blok 1.5.
Tinggi (SUTT) ketelitian 1:5000 sebagaimana tercantum
4) Saluaran Udara dalam Lampiran I.B yang merupakan Tidak ada Lampiran I.B yang ada
Tegangan Tinggi Arus bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Lampiran 1.2 Peta Rencana Jaringan
Searah (SUTTAS) Daerah ini. Energi dan Kelistrikan dan
5) Saluran Udara Tegangan menggunakan skala 1:15.000 sehingga
Menengah (SUTM) perlu disesuaikan.
6) Saluran Udara
Tengangan Rendah
(SUTR)
7) Saluran Kabel Tegangan
Menengah (SKTM)
8) Saluran
Transmisi/Distribusi
lainnya.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
b) Gardu Listri, Meliputi :
1) Gardu induk yang
berfungsi untuk
menurunkan tegangan
dari jaringan
substransmisi menjadi
tegangan menengah
2) Gardu hubung yang
berfungsi untuk
membagi daya listrik
dari gardu induk
menuju gardu distribusi
3) Gardu Distribusi yang
berfungsi untuk
menurunkan tegangan
primer menjadi tegangan
sekunder
(2) Rencana Jaringan 2.
Paragraf 2
Telekomunikasi (Tetap dan
Bergerak): Rencana Jaringan Telekomunikasi
 Infrastruktur dasar
Pasal 14
telekomunikasi yang berupa
lokasi pusat automatisasi (1) Rencana jaringan telekomunikasi Rencana Jaringan Telekomunikasi dalam
sambung telepon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 materi teknis meliputi :
 Jaringan telekomunikasi telpon huruf b berupa:
kabel yang berupa lokasi a. Pembangunan stasiun telepon a. Untuk pemenuhan kebutuhan STO di Dalam materi teknis menyebutkan
stasiun tetlpon otomat, rumah otomatis (STO) di SBWP 1; Kawasan Perkotaan Tanjung, sampai kawasan perkotaan tanjung
kabel, dan kotak pembagi. tahunakhir perencanaan di kawasan hanya membutuhkan 1 STO namun tidak
 Sistem televisi kabel termasuk dibutuhkan 1 STO untuk kebutuhan ada menyebutkan lokasi
lokasi statsiun transmisi seluruh kawasan. Pembangunan STO seperti yang
 Jaringan telekomunikasi telpon tercantum dalam Raperda sehingga
nirkabel yang berupa lokasi perlu disesuaikan.
menara telekomunikasi
termasuk menara Base b. Pengembangan jaringan mikro Tidak ada dalam materi teknis
Transceiver Station (BTS) digital Tanjung – Sigar Penjalin; dan sehingga perlu dimasukkan
 Jaringan Serta Optik
 Peningkatan pelayanan jaringan c. Pengembangan menara b. Rencana pengembangan menara
komunikasi telekomunikasi (BTS) di Blok 1.1, telekomunikasi direncanakan melalui
Blok 1.3, Blok 1.6, Blok 1.9, Blok pembangunan menara BTS pada lokasi-
2.2, Blok 3.1, Blok 3.2, Blok 3.3, lokasi berikut:
Blok 3.5, dan Blok 4.4. 1) SBWP 1 meliputi Blok 1.1, Blok 1.3,
Blok 1.6, Blok 1.9;
2) SBWP 2 berada di Blok 2.2;
3) SBWP 3 berada di Blok 3.1, Blok 3.2,
Blok 3.3, dan Blok 3.5;
4) SBWP 4 berada di Blok 4.4.
(2) Rencana jaringan telekomunikasi Tidak ada lampiran I.C yang ada
digambarkan dalam peta dengan Lampiran 1.3 Peta Rencana Jaringan
ketelitian 1:5000 sebagaimana Telekomunikasi dan menggunakan
tercantum dalam Lampiran I.C yang skala 1:15.000 sehingga perlu
merupakan bagian tidak terpisahkan disesuaikan.
dari Peraturan Daerah ini.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(3) Rencana Jaringan Air Minum
Paragraf 3
 Jaringan Perpipaan :
a) Unit air baku Rencana Jaringan Air Minum
b) Unit produksi yang berupa
Pasal 15
bangunan pengambil air
baku, dan isntalasi (1) Rencana jaringan air minum Rencana Jaringan Air Minum dalam materi
produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 teknis meliputi :
c) Unit distribusi berupa pipa huruf c terdiri atas:
ternasmisi air baku a. Pengembangan Jaringan perpipaan a. Rencana Pengembangan Jaringan Air Tidak ada pembahasan mengikuti
d) Unit pelayanan yang berupa mengikuti pertumbuhan Bersih Sistem Perpipaan pertumbuhan permukiman formal
pipa unit distribusi hingga permukiman formal dan dan kebijakan pengembangan PDAM
persil/bidang kebijakan pengembangan PDAM ;’ dalam materi teknis sehingga perlu
e) Bangunan penunjang dan disesuaikan.
bangunan pelengkap b. Jaringan non perpipaan berupa
 Jaringan non-Perpipaan: optimalisasi pemanfaatan sumber b. Rencana Pengembangan Jaringan Air
a) Sumur dangkal air baku rumah tangga berupa Bersih Non Perpipaan
b) Sumur pompa sumur dan mata air yang tersebar
c) Bak penampung air hujan di Kawasan Perkotaan Tanjung.
d) Terminal air (2) Pengembangan jaringan perpipaan Tidak ada Lampirn I.D yang ada
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Lampiran 1.4 Peta Rencana Jaringan
huruf a Rencana jaringan air minum Air Bersih dan menggunakan skala
digambarkan dalam peta dengan 1:15.000 sehingga perlu disesuaikan.
ketelitian 1:5000 sebagaimana
tercantum dalam Lampiran I.D yang
merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
e.
Paragraf 4
(4) Rencana Jaringan Drainase :
 Saluran primer Rencana Jaringan Drainase
 Slauran sekunder
Pasal 16
 Saluran teriser
 Saluran lokal (1) Rencana Jaringan drainase Rencana Jaringan Drainase dalam materi
 Bangunan peresapan (kolam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 teknis meliputi :
retensi) huruf d terdiri atas:
 Bangunan tampung (polder) a. Rencana Optimalisasi Saluran a. Rencana optimalisasi saluran drainase
beserta sarana pelengkapnya primer; primer
(sistem pemompaan dan pintu b. Rencana Pengembangan Saluran b. Rencana pengembangan untuk saluran
air) sekunder; dan drainase sekunder
c. Rencana Perbaikan saluran sekunder
c. Rencana Pengembangan Saluran d. Rencana Pengembangan jaringan drainase
tersier; tersier

(2) Rencana Pengembangan saluran primer Rencana optimalisasi saluran drainase primer
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dialokasikan di
huruf a terdiri atas:
a. Sungai Getakgali; a. Sungai Getak gali,
b. Sungai Bengkok; b. Sungai Bengkok,
c. Sungai Lendang Galuh; c. Sungai Lendang Galuh,
d. Sungai Pekatan; d. Sungai Pekatan,
e. Sungai Gondang; e. Sungai Gondang,
f. Sungai Gitak; f. Sungai gitak,
g. Sungai Kali Pucah; g. Sungai Kali Pucah,
h. Sungai Sokong; dan h. Sungai Sokong, dan
i. Sungai Segara. i. Sungai Segara.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(3) Rencana Pengembangan saluran Rencana pengembangan untuk saluran
sekunder sebagaimana dimaksud pada drainase sekunder meliputi :
ayat (1) huruf b terdiri atas: a. Rencana Pembangunan saluran baru
a. Pembangunan saluran baru; dan b. Rencana Perbaikan saluran sekunder
b. Perbaikan saluran yang ada.
(4) Rencana Pembangunan saluran baru Rencana Pembangunan saluran baru, terdiri
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dari :
huruf a berupa pembangunan saluran
terbuka terdiri atas:
a. Koridor Jalan Tanjung – Bayan; a. Koridor jalan Tanjung – Bayan
b. Koridor Jalan Lingkar Utara; dan b. Koridor jalan lingkar utara dan
c. Koridor Jalan Lingkar Selatan. c. Koridor jalan lingkar selatan

(5) Perbaikan saluran sekunder Rencana Perbaikan saluran sekunder:


sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
huruf b terdiri atas:
a. Saluran Prawira – Batu Lilir; a. Saluran Prawira – Batu Lilir;
b. Saluran Jenggala – Kandang Kaok; b. Saluran Jenggala – Kandang Kaok;
c. Saluran Lading-lading – Kapu; c. Saluran Lading-lading – Kapu;
d. Saluran Belli – Pekatan; d. Saluran Belli – Pekatan;
e. Saluran Tanjung – Leong; e. Saluran Tanjung – Leong;
f. Saluran Telok Dalem – Orong f. Saluran Telok Dalem – Orong Ramput;
Ramput;
g. Saluran Tanjung – Kandang Kaok; g. Saluran Tanjung – Kandang Kaok;
h. Saluran Prawira/Karang Taruna – h. Saluran Prawira/Karang Taruna – Karang
Karang Sobor; Sobor;
i. Saluran Telok Dalem - i. Saluran Telok Dalem - Kopang/Teniga;
Kopang/Teniga;
j. Saluran Lekok/Gondang – Lenek; j. Saluran Lekok/Gondang – Lenek;
k. Saluran Jugil – Sambik Bangkol; k. Saluran Jugil – Sambik Bangkol;
l. Saluran Kerta – Monggal; l. Saluran Kerta – Monggal;
m. Saluran Belli – Pekatan; m. Saluran Belli – Pekatan;
n. Saluran Gangga – Selelos; n. Saluran Gangga – Selelos;
o. Saluran Papak – San Kukun; dan o. Saluran Papak – San Kukun; dan
p. Saluran Karang Jurang – Pantai. p. Saluran Karang Jurang – Pantai.

(6) Rencana Pengembangan saluran tersier Rencana Pengembangan jaringan drainase


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersier berupa pengembangan saluran terbuka
huruf c berupa pengembangan saluran atau tertutup dialokasikan di jalan-jalan
terbuka atau tertutup di jalan lingkungan dengan lebar bervariasi antara 1 –
lingkungan. 0,5 meter
(7) Rencana jaringan drainase digambarkan tidak ada lampirn I.E yang ada
dalam peta dengan ketelitian 1:5000 Lampiran 1.5 Peta Rencana Jaringan
sebagaimana tercantum dalam Drainase dan menggunakan skala
Lampiran I.E yang merupakan bagian 1:15.000 sehingga perlu disesuaikan.
tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(5) Rencana Pengelolaan Air Limbah :
Paragraf 5
 Sistem pengelolaan air limbah
(SPAL) setempat : Rencana Jaringan Pengolahan Air Limbah
a) Susbsistem pengelolaan
Pasal 17
setempat
(1) Rencana jaringan pengolahan air
b) Subsistem pengangkutan Rencana Pengelolaan Air Limbah dalam materi
limbah sebagaimana dimaksud dalam
c) Subsistem pengelolahan teknis meliputi :
Pasal 12 huruf e terdiri atas:
lumpur tinja
a. Rencana sistem Pengolahan air
 Sistem pengelolaan air limbah a. Rencana sistem pengelolaan limbah
limbah domestik; dan
(SPAL) terpusat : domestik
b. Rencana sistem Pengolahan air
a) Susbsistem pelayanan yang b. Rencana pengolahan limbah non domestic
limbah non domestik.
terdiri dari atas pipa tinja,
(2) Rencana Pengelolaan air limbah
pipa non tinja bak Rencana sistem pengelolaan limbah domestic
domestik sebagaimana dimaksud pada
perangkap lengkap dan meliputi :
ayat (1) huruf a terdiri atas:
minyak dari dapur, pipa
persil, bak kontrol, dan a. Rencana penanganan limbah domestik Perlu dimasukkan dalam Raperda
lubang inspeksi diarahkan pada penggunaan tangki sesuai yang tercantum dalam materi
b) Subsistem pengumpulan septiktank konvensional baik secara teknis
yang terdiri atas pipa individual maupun secara komunal.
retikulasi, pipa induk, serta b. Pembuatan septiktank komunal Perlu dimasukkan dalam Raperda
sarana dan prasarana direncanakan di setiap blok sesuai yang tercantum dalam materi
pelengkap teknis
a. Program pembuatan sanimas/mck
c) Subsistem pengolahan c. Program pembuatan sanimas/mck ++
diarahkan di semua blok yang ada
terpusat yang terdiri atas diarahkan di semua SBWP yang ada di
di Kawasan Perkotaan Tanjung;
Instalasi Pengelolaan Air Kawasan Perkotaan Tanjung
b. Rencana Pengembangan IPLT
Limbah (IPAL) kota dan IPAL d. Pengembangan Instalasi pengolahan
disetiap Sub BWP
skala Kawasan lumpur tinja (IPLT)
tertentu/permukiman
(3) Pengelolaan air limbah non domestik
(6) Rencana Jaringan Prasarana Rencana pengolahan limbah non domestik Terdapat perbedaan pembahasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Lainnya : meliputi : antara raperda dan materi teknis
huruf b terdiri atas:
Disesuaikan dengan kebutuhan terkait Rencana pengolahan limbah
a. Saluran pembuangan
pengembangan BWP, misalnya a. Pengolahan limbah untuk kegiatan non non domestik sehingga perlu
diprioritaskan pada permukiman
BWP yang berada pada kawasan domestik seperti limbah dari industri, disesuaikan.
padat penduduk dan menggunakan
bencana wajib meyediakan jalur wisata, fasilitas pelayanan umum,
jaringan perpipaan dengan hirarki
evakuasi bencana dan tempat komersial, pemerintahan diarahkan untuk
jaringan primer dan jaringan
evakuasi sementara yang memiliki instalasi pengolahan air limbah
sekunder di setiap SBWP; dan
terintegrasi baik skala (ipal) tersendiri sesuai dengan jenis dan
b. Bangunan pengolahan air limbah
kabupaten/kota, kawasan, karakteristik limbah yang dihasilkan.
terdapat di desa-desa yang secara
maupun lingkungan (jalur b. Untuk pengolahan limbah rumah sakit
teknis memenuhi kriteria.
evakuasi bencana dapat setiap rumah sakit wajib memiliki IPAL
memanfaatkan jaringan prasarana (instalasi pengolahan air limbah) tersendiri,
dan sarana yang sudah ada). sehingga limbah yang dibuang ke badan air
penerima sudah melalui proses pengolahan
terlebih dahulu dengan kualitas effluen
berdasarkan baku mutu limbah yang
disyaratkan Tidak ada lampiran I.F yang ada
(4) Rencana jaringan pengelolaan air
Lampiran 1.6 Peta Rencana
limbah digambarkan dalam peta dengan
Pengolahan Air Limbah dan
ketelitian 1:5000 sebagaimana
menggunakan skala 1:15.000 sehingga
tercantum dalam Lampiran I.F yang
perlu disesuaikan.
merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Paragraf 6
Rencana Jaringan Persampahan
Pasal 18
(1) Rencana jaringan persampahan Rencana Pengelolaan Persampahan dalam
sebagaimana dimaksud dimaksud materi teknis meliputi :
dalam Pasal 12 huruf f terdiri atas:
a. Pengadaan tempat penampungan a. Pengurangan timbulan sampah dengan
sampah sementara (TPS 3-R) di menerapkan Reduce, Reuse dan Recycle (3
setiap blok permukiman; R). Konsep pengelolaan 3 R ini diarahkan di
seluruh Kawasaan Perkotaan Tanjung
terutama untuk zona-zona peruntukan
kegiatan baru yang akan dikembangkan
b. Rencana penyediaan tempat penampungan Perlu dimasukkan dalam Raperda
sementara (TPS) dengan pemilahan sampah sesuai yang tercantum dalam materi
(organik dan non organik) di setiap blok teknis.
permukiman kawasan
b. Pengadaan tempat pengolahan c. Pengembangan TPST di SBWP 2 Blok 2.2
sampah terpadu (TPST) di Blok 2.2 dan SBWP 4 Blok 4.2
dan Blok 4.2; dan
c. Penyediaan kontainer sampah d. Penyediaan kontainer sampah khususnya
khususnya di pasar-pasar yang di pasar-pasar yang membutuhkan sarana
membutuhkan sarana pengumpulan dan pengangkutan sampah.
pengumpulan dan pengangkutan
sampah. Tidak ada lampiran I.G yang ada
(2) Rencana jaringan persampahan Lampiran 1.7 Peta Rencana Jaringan
digambarkan dalam peta dengan Persampahan dan menggunakan skala
ketelitian 1:5000 sebagaimana 1:15.000 sehingga perlu disesuaikan.
tercantum dalam Lampiran I.G yang
merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
Paragraf 6
Rencana Jaringan Prasarana Lainnya
Pasal 19
(1) Rencana jaringan prasarana lainnya Rencana Jaringan Prasarana Lainnya dalam Rencana Jaringan Prasarana Lainnya
sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 materi teknis tidak ada pembagian seperti dalam materi teknis tidak ada
huruf g terdiri atas: yang tercantum dalam Raperda. pembagian seperti yang tercantum
a. Rencana jaringan irigasi; dan dalam Raperda sehingga perlu
b. Rencana jaringan evakuasi disesuaikan.
bencana.
(2) Rencana jaringan irigasi sebagaimana Rencana Jaringan Irigasi dalam materi teknis
dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa meliputi :
pemeliharaan jaringan irigasi terdiri
atas:
a. Pengembangan jaringan irigasi baru a. Pengembangan jaringan irigasi baru untuk
untuk lahan sawah yang belum lahan sawah yang belum terlayani jaringan
terlayani jaringan irigasi teknis; irigasi teknis;
b. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) b. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) Batu
Batu Rakit; Rakit;
c. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) c. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) Bentek;
Bentek;
d. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) d. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) Embung
Embung Lokok Tawah; Lokok Tawah;
e. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) e. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) Lendang
Lendang Jurang; Jurang;
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
f. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) f. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) Rempek;
Rempek; dan dan
g. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) g. Pemeliharaan Daerah Irigasi (DI) Lekok.
Lekok.

Pasal 20
(1) Rencana jaringan evakuasi bencana Rencana Jaringan Evakuasi dalam materi
sebagaimana dimaksud pada pasal 19 teknis meliputi :
ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. Zona rawan bencana Kawasan Perkotaan Perlu dimasukkan pembahasan
Tanjung tentang Zona Rawan Bencana sesuai
yang tercantum dalam materi teknis.
a. Ruang evakuasi bencana; dan b. Ruang evakuasi
b. Jalur evakuasi bencana. c. Jalur Evakuasi

(2) Ruang evakuasi bencana sebagaimana Ruang evakuasi terbagi 2 (dua), yaitu:
dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri
atas:
a. Tempat evakuasi sementara (TES) a. Tempat evakuasi sementara (TES) pada
berupa fasilitas umum skala SBWP 1 berada di Blok 1.3, Blok 1.5, Blok
1.6, Blok 1.7, Blok 1.8, dan Blok 1.9;
lingkungan dan skala desa yang
SBWP 2 berada di Blok 2.3 dan Blok 2.4;
berada dalam jarak aman dari SBWP 3 berada di Blok 3.3, Blok 3.4, dan
lokasi bencana meliputi pada SBWP Blok 3.5; dan SBWP 4 berada di Blok 4.3,
1 berada di Blok 1.3, Blok 1.5, Blok Blok 4.4, Blok 4.5.
1.6, Blok 1.7, Blok 1.8, dan Blok
1.9; SBWP 3 berada di Blok 3.3,
Blok 3.4, dan Blok 3.5; dan SBWP 4
berada di Blok 4.3, Blok 4.4, Blok
4.5.
b. Tempat evakuasi akhir (TEA) b. TEA untuk SBWP 1 dan SBWP 2 diarahkan
meliputi: TEA untuk SBWP 1 dan pada fasilitas kompleks pemerintahan
SBWP 2 diarahkan pada fasilitas kabupaten yang berada di Blok 1.6; dan
SBWP 3 dan SBWP 4 diarahkan pada
kompleks pemerintahan kabupaten
kompleks fasilitas RSUD yang berada di
yang berada di Blok 1.6; dan TEA Blok 3.4.
untuk SBWP 3 dan SBWP 4
diarahkan pada kompleks fasilitas
RSUD yang berada di Blok 3.4.
(3) Jalur evakuasi sebagaimana dimaksud Rencana jalur evakuasi bencana diarahkan
pada ayat (5) huruf b terdiri atas: pada ruas-ruas jalan sebagai berikut:
a. Ruas Jalan Tanjung – Bayan; a. Ruas Jalan Tanjung – Bayan;
b. Ruas Jalan Lingkar Selatan; b. Ruas Jalan Lingkar Selatan;
c. Ruas Karanganyar Atas – c. Ruas Karanganyar Atas – Bengkoang Lauq;
Bengkoang Lauq;
d. Ruas Gubuk Baru – Pengembuk; d. Ruas Gubuk Baru – Pengembuk;
e. Ruas Sorongjukung – Karangjero – e. Ruas Sorongjukung – Karangjero –
Orongnagasari; Orongnagasari;
f. Ruas Karangjero – Karangancak; f. Ruas Karangjero – Karangancak;
g. Ruas Penyambuan – Rendangtinggi; g. Ruas Penyambuan – Rendangtinggi;
h. Ruas Lekok Utara – Karangkates – h. Ruas Lekok Utara – Karangkates –
Gentingpiling; Gentingpiling;
i. Ruas Lekok Utara – Lenek. i. Ruas Lekok Utara – Lenek.
j. Ruas Jalan Pemda – Lendang j. Ruas Jalan Pemda – Lendang Galuh;
Galuh;
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
k. Ruas Jalan Lading-lading; k. Ruas Jalan Lading-lading;
l. Ruas Jalan Karang Panasan – l. Ruas Jalan Karang Panasan – Karangjuet;
Karangjuet;
m. Ruas Pekatan – Batubelah. m. Ruas Pekatan – Batubelah.
(4) Rencana jaringan prasarana lainnya Tidak ada lampiran I.I yang ada
digambarkan dalam peta dengan Lampiran 1.8 Peta Rencana Jaringan
ketelitian 1:5000 sebagaimana Evakuasi Bencana dan menggunakan
tercantum dalam Lampiran I.I yang skala 1:15.000 sehingga perlu
merupakan bagian tidak terpisahkan disesuaikan.
dari Peraturan Daerah ini.
RENCANA POLA RUANG :
(a) Zona Lindung BAB IV
(b) Zona Budidaya RENCANA POLA RUANG
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 13
(1) Rencana pola ruang terdiri atas:
Rencana pola ruang dalam materi teknis
a. Zona lindung; dan
terdiri atas:
b. Zona budi daya.
a. Zona lindung; dan
(2) Rencana pola ruang digambarkan b. Zona budi daya. Lampiran II tentang Rencana Pola
dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : Ruang dan menggunakan skala
5.000 sebagaimana tercantum dalam 1:15.000
Lampiran II yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.

Bagian Kedua
Zona lindung :
Zona Lindung
(a) Zona Hutan Lindung (HL)
(b) Zona yang memberikan perlindungan Paragraf 1
terhadap zona dibawahnya (PB) : Umum
(c) Zona Perlindungan Setempat (PS)
Pasal 14
(d) Zona Ruang Terbuka Hijau Kota
(RTH) Zona lindung sebagaimana dimaksud dalam Zona lindung dalam materi teknis meliputi:
(e) Zona konservasi (KS) : Pasal 21 ayat (1) huruf a meliputi:
(f) Zona Lindung Lainnya. a. Zona perlindungan setempat (PS); dan a. Zona perlindungan setempat (PS); dan
b. Zona ruang terbuka hijau (RTH). b. Zona ruang terbuka hijau (RTH).

Zona Perlindungan Setempat (PS)


Paragraf 2
(a) Zona Sempadan pantai (SP)
Zona Perlindungan Setempat
(b) Zona Sempadan Sungai (SS)
(c) Zona Sekitar Danau atau Waduk (DW) Pasal 15
termasuk situ dan embung
(1) Zona perlindungan setempat
(d) Zona sekitar mata air (MA) Zona perlindungan setempat dalam materi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
teknis meliputi :
huruf a terdiri atas:
a. Subzona sempadan pantai (SP);
a. Subzona sempadan pantai (SP);
b. Subzona sempadan sungai (SS); dan
b. Subzona sempadan sungai (SS);
dan
c. Subzona sempadan SUTT (ST).
c. Subzona sempadan SUTT (ST).
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(2) Subzona sempadan pantai (SP) subzona sempadan pantai di Kawasan Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Perkotaan Tanjung berada di SBWP 1 Blok kurang lebih.
huruf a berada di Blok 1.1, Blok 1.2, 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, SBWP 2 Blok 2.1, Blok
Blok 1.3, Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 3.1, 2.2, SBWP 3 Blok 3.1, Blok 3.2, SBWP 4 Blok
Blok 3.2, Blok 4.1, dan Blok 4.2 dengan 4.1,Blok 4.2. dengan luas total 65,34 Ha
luas kurang lebih 65,34 (enam puluh
lima koma tiga empat) hektar.
(3) Subzona sempadan sungai (SS) subzona sempada sungai di BWP Perkotaan Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Tanjung berada di SBWP 1 Blok 1.1, Blok 1.2, kurang lebih
huruf b berada di Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, Blok
Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, 1.7, Blok 1.8, Blok 1.10, SBWP 2 Blok 2.2,
Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 1.10, Blok 2.2, Blok 2.3, Blok 2.4, SBWP 3 Blok 3.1, Blok 3.2,
Blok 2.3, Blok 2.4, Blok 3.1, Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5, SBWP 4 Blok 4.1,
Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5, Blok 4.1, Blok 4.2, Blok 4.3, Blok 4.4, Blok 4.5 dengan
Blok 4.2, Blok 4.3, Blok 4.4, dan Blok luas total 67,36 Ha
4.5 dengan luas kurang lebih 67,36
(enam puluh tujuh koma tiga enam)
hektar.
(4) Subzona sempadan SUTT (ST) Subzona sempadan SUTT dalam materi teknis Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada di SBWP 1 Blok 1.4,Blok 1.5, Blok 1.6, kurang lebih
huruf c berada di Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.7, Blok 1.8, SBWP 2 Blok 2.3, SBWP 3
Blok 1.6, Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 2.3, Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 3.4, SBWP 4 Blok 4.3,
Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 4.3, Blok 4.4 dengan luas total 19,61 Ha
dan Blok 4.4 dengan luas kurang lebih
19,61 (sembilan belas koma enam satu)
hektar.
Zona Ruang Terbuka Hijau Kota (RTH)
Paragraf 3
(a) Hutan Kota (RTH-1)
(b) Taman kota (RTH-2) Zona Ruang Terbuka Hijau
(c) Taman Kecamatan (RTH-3)
Pasal 16
(d) Taman Kelurahan (RTH-4)
(e) Taman RW (RTH-5) (1) Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH) Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam materi
(f) Taman RT (RTH-6) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 teknis terdiri atas:
(g) Pemakaman (RTH-7) huruf b terdiri atas: a. Subzoba hutan kota (RTH-1);
a. Subzoba hutan kota (RTH-1); b. Subzona taman kota (RTH-2);
b. Subzona taman kota (RTH-2); c. Subzona RTH kecamatan (RTH-3);
c. Subzona RTH kecamatan (RTH-3); d. Subzona RTH kelurahan (RTH-4);
d. Subzona RTH kelurahan (RTH-4); e. Subzona RTH RW (RTH-5); dan
e. Subzona RTH RW (RTH-5); dan f. Subzona pemakaman (RTH-7).
f. Subzona pemakaman (RTH-7).
(2) Subzona hutan kota (RTH-1) Subzona hutan kota (RTH-1) dalam materi Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) teknis berada di SBWP 1 Blok 1.7, Blok 1.9, kurang lebih
huruf a terdapat di Blok 1.7, Blok 1.9, SBWP 3 Blok 3.4, Blok 3.5 dengan luas 320,46
Blok 3,4, dan Blok 3.5 dengan luas Ha
kurang lebih 320,46 (tiga ratus dua
puluh koma empat enam) hektar.
(3) Subzona taman kota (RTH-2) Subzona taman kota (RTH-2) terdapat di Blok Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 2.2 dengan luas sekitar 17,22 ha. kurang lebih
huruf b terdapat di Blok 2.2 dengan
luas kurang lebih 17,22 (tujuh belas
koma dua dua) hektar.
(4) Subzona RTH kecamatan (RTH-3) Subzona RTH kecamatan (RTH-3) terdapat di Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) SBWP 1 Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, kurang lebih
huruf c terdapat di Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 1.10, SBWP 2 Blok
Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.7, Blok 1.8, 2.4, SBWP 3 Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 3.5,
Blok 1.10, Blok 2.4, Blok 3.2, Blok 3.3, SBWP 4 Blok 4.1, Blok 4.3 dengan luas 68,53
Blok 3.5, Blok 4.2, dan Blok 4.3 dengan Ha.
luas kurang lebih 68,53 (enam puluh
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
delapan koma lima tiga) hektar.
(5) Subzona RTH kelurahan (RTH-4) Subzona RTH kelurahan (RTH-4) terdapat di Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) SBWP 1 Blok 1.1, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, kurang lebih
huruf d terdapat di Blok 1.1, Blok 1.3, Blok 1.6, Blok 1.8, Blok 1.9, SBWP 2 Blok 2.2,
Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, Blok 1.8, SBWP 3 Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5,
Blok 1.9, Blok 2.2, Blok 3.2, Blok 3.3, SBWP 4 Blok 4.1, Blok 4.2, Blok 4.3, Blok 4.4
Blok 3.4, Blok 3.5, Blok 4.1, Blok 4.2, dengan luas 22,01 Ha.
Blok 4.3, dan Blok 4.4 dengan luas
kurang lebih 22,01 (dua puluh dua
koma nol satu) hektar.
(6) Subzona RTH RW (RTH-5) sebagaimana Subzona RTH RW (RTH-5) terdapat di SBWP 1 Tidak boleh menggunakan bahasa
dimaksud pada ayat (1) huruf e terdapat Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, kurang lebih
di Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 1.9, Blok 1.10, SBWP
Blok 1.5, Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 1.9, 2 Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, Blok 2.4, SBWP
Blok 1.10, Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, 3 Blok 3.5, SBWP 4 Blok 4.4 dengan luas 5,45
Blok 2.4, Blok 3.5, dan Blok 4.4 dengan Ha
luas kurang lebih 5,45 (lima koma
empat lima) hektar.
(7) Subzona pemakaman (RTH-7) Subzona pemakaman (RTH-7) terdapat di Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) SBWP 1 Blok 1.2, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, kurang lebih
huruf f terdapat di Blok 1.2, Blok 1.4, Blok 1.9, SBWP 2 Blok 2.3, Blok 2.4, SBWP 3
Blok 1.5, Blok 1.6, Blok 1.9, Blok 2.3, Blok 3.1, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5, SBWP 4
Blok 2.4, Blok 3.1, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 4.5 dengan luas 6,07 Ha.
Blok 3.5, dan Blok 4.5 dengan luas
kurang lebih 6,07 (enam koma nol
tujuh) hektar.
Zona konservasi (KS) : Tidak ada zona konservasi di BWP Kawasan
(a) Cagar Alam (KS-1) Perkotaan Tanjung
(b) Suaka Margasatwa (KS-2)
(c) Taman Nasional (KS-3)
(d) Taman Hutan Raya (KS-4)
(e) Taman Wisata Alam (KS-5)
Zona Lindung Lainnya Tidak ada zona lindung lainnya di BWP
Kawasan Perkotaan Tanjung
Zona Budidaya :
Bagian Ketiga
(a) Zona Perumahan (R)
Zona Budi Daya
(b) Zona Perdagangan dan Jasa (K)
(c) Zona Perkantoran (KT) Paragraf 1
(d) Zona Sarana Pelayanan Umum (SPU) Umum
(e) Zona Industri (I)
Pasal 17
(f) Zona Lainnya Pola pemanfaatan ruang kawasan budi daya di
(g) Zona Campuran Zona budi daya sebagaimana dimaksud Kawasan Perkotaan Tanjung terbagi ke dalam
dalam Pasal 21 ayat (1) huruf b terdiri atas: 6 pola pemanfaatan, yaitu:
a. Zona perumahan; 1. Zona Perumahan;
b. Zona perdagangan dan jasa; 2. Zona Perdagangan dan Jasa;
c. Zona perkantoran; 3. Zona Perkantoran;
d. Zona sarana pelayanan umum; 4. Zona Sarana Pelayanan Umum;
5. Zona Industri; Perlu ditambahkan Zona Industri
dalam raperda sesuai yang tercantum
dalam materi teknis
e. Zona pariwisata; 6. Zona Pertanian;
f. Zona pertanian; 7. Zona Pariwisata;
g. Zona peruntukan lainnya; dan 8. Zona Peruntukan Lainnya;
h. Zona campuran. 9. Zona Campuran.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Zona Perumahan (R) : Paragraf 2
(a) Berdasarkan tingkat kepadatan Zona Perumahan
bangunan :
(1) Kepadatan sangat tinggi (R-1) Pasal 18
(2) Kepadatan tinggi (R-2) (1) Zona perumahan sebagaimana dimaksud Zona Perumahan dalam materi teknis terdiri
(3) Kepadatan Sedang (R-3) dalam Pasal 25 huruf a meliputi: atas :
(4) Kepdatan rendah (R-4) a. Subzona perumahan dengan a. Subzona Rumah Kepadatan Tinggi (R-2)
(5) Kepadatan sangat Rendah (R-5) kepadatan tinggi (R-2);
(b) Berdasarkan tingkat b. Subzona perumahan dengan b. Subzona Rumah Kepadatan Sedang (R-3)
kemampuan/keterjangkauan kepadatan sedang (R-3); dan
kepemilikan rumah : c. Subzona perumahan dengan c. Subzona Rumah Kepadatan Rendah (R-4)
(1) Rumah Mewah (Rm) kepadatan rendah (R-4).
(2) Rumah Menengah (Rh) (2) Subzona rumah dengan kepadatan tinggi Subzona Rumah Kepadatan Tinggi di Kawasan Tidak boleh menggunakan bahasa
(3) Rumah Sederhana (Rs) (R-2) sebagaimana dimaksud pada ayat Perkotaan Tanjung berada di SBWP 1 Blok kurang lebih
(4) Rumah sangat sederhana (Ra) (1) huruf a terdapat di Blok 1.6, Blok 2.3, 1.6, SBWP 2 Blok 2.3, Blok 2.4, SBWP 3 Blok
Blok 2.4, Blok 3.4, dan Blok 3.5 dengan 3.4, Blok 3.5 dengan luas 79,98 Ha
luas kurang lebih 79,98 (tujuh pu;uh
sembilan koma sembilan delapan) hektar.
(3) Subzona rumah dengan kepadatan Subzona Rumah Kepadatan Sedang di Tidak boleh menggunakan bahasa
sedang (R-3) sebagaimana dimaksud Kawasan Perkotaan Tanjung berada di SBWP kurang lebih
pada ayat (1) huruf b terdapat di Blok 1 Blok 1.4, Blok 1.5, SBWP 2 Blok 2.3, Blok
1.4, Blok 1.5, Blok 2.3, Blok 2.4, Blok 2.4, SBWP 3 Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok
3.2, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5, Blok 3.5, SBWP 4 Blok 4.1, Blok 4.2, Blok 4.3, Blok
4.1, Blok 4.2, Blok 4.3, dan Blok 4.4 4.4 dengan luas 219,42 Ha
dengan luas kurang lebih 219,42 (dua
ratus sembilan belas koma empat dua)
hektar;
(4) Subzona rumah dengan kepadatan Subzona Rumah Kepadatan Rendah di Tidak boleh menggunakan bahasa
rendah (R-4) sebagaimana dimaksud Kawasan Perkotaan Tanjung berada di SBWP kurang lebih
pada ayat (1) huruf c terdapat di semua 1 Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok
blok dengan luas kurang lebih 570,75 1.5, Blok 1.6, Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 1.9,
(lima ratus tujuh puluh koma tujuh lima) Blok 1.10, SBWP 2 Blok 2.1, Blok 2.2, Blok
hektar. 2.3, Blok 2.4, SBWP 3 Blok 3.1, Blok 3.2, Blok
3.3, Blok 3.4, Blok 3.5, SBWP 4 Blok 4.1, Blok
4.2, Blok 4.3, Blok 4.4, Blok 4.5 dengan luas
570.75 Ha.
Zona Perdagangan dan Jasa (K) :
Paragraf 3
(a) Perdagangan dan Jasa Skala kota (K-
Zona Perdagangan dan Jasa
1)
(b) Perdagangan dan Jasa Skala BWP (K- Pasal 19
2) Sub zona perdagangan dan jasa pada Kawasan
(1) Zona perdagangan dan jasa Pasal 25
(c) Perdagangan dan Jasa Skala Sub Perkotaan Tanjung yaitu:
huruf b terdiri atas:
BWP (K-3) 1. Sub zona perdagangan dan jasa skala
a. Subzona perdagangan dan jasa skala
kota (K-1); kota (K-1)
b. Subzona perdagangan dan jasa skala 2. 2. Sub zona perdagangan dan jasa skala
BWP (K-2); dan BWP (K-2)
c. Subzona perdagangan dan jasa skala 3. 3. Sub zona perdagangan dan jasa skala
sub BWP (K-3). SBWP (K-3)

(2) Subzona perdagangan jasa skala kota (K- Subzona Perdagangan dan Jasa Skala Kota Tidak boleh menggunakan bahasa
1) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada di SBWP 1 Blok 1.2, Blok 1.5 dengan kurang lebih
huruf a terdapat di Blok 1.2 dan Blok 1.5 luas 3,12 Ha.
dengan luas kurang lebih 3,12 (tiga
koma satu dua) hektar.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(3) Subzona perdagangan jasa skala BWP (K- Subzona Perdagangan dan Jasa Skala BWP Tidak boleh menggunakan bahasa
2) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada di SBWP 1 Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, kurang lebih
huruf b terdapat di Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, SBWP 2 Blok 2.1,
Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, Blok 2.2, Blok 2.3, SBWP 3 Blok 3.2, Blok 3.4,
Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, Blok 3.2, Blok 3.5, SBWP 4 Blok 4.1, Blok 4.3 dengan
Blok 3.4, Blok 3.5, Blok 4.1, dan Blok 4.3 luas 80,24 Ha
dengan luas kurang lebih 80,24 (delapan
puluh koma dua empat) hektar.
(4) Subzona perdagangan jasa skala sub Subzona Perdagangan dan Jasa Skala Sub Tidak boleh menggunakan bahasa
BWP (K-3) sebagaimana dimaksud pada BWP di Kawasan Perkotaan Tanjung berada di kurang lebih
ayat (1) huruf c terdapat di Blok 1.1, Blok SBWP 1 Blok 1.1, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.7,
1.4, Blok 1.5, Blok 1.7, Blok 1.10, Blok Blok 1.10, SBWP 3 Blok 3.1, Blok 3.2, Blok
3.1, Blok 3.2, Blok 3.3, dan Blok 3.4 3.3, Blok 3.4 dengan luas 56,53 Ha.
dengan luas kurang lebih 56,53 (lima
puluh enam koma lima tiga) hektar.
Zona Perkantoran (KT)
Paragraf 4
Zona Perkantoran
Pasal 20
(1) Zona perkantoran sebagaimana
Zona perkantoran hanya terdiri dari subzona
dimaksud dalam Pasal 25 huruf c terdiri
perkantoran pemerintah.
atas subzona perkantoran pemerintah.
(2) Subzona perkantoran pemerintah Subzona Perkantoran Pemerintah di Kawasan Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Perkotaan Tanjung berada di SBWP 1 Blok kurang lebih
terdapat di Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5,
Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, Blok 2.1, Blok 1.6, SBWP 2 Blok 2.1, SBWP 3 Blok 3.2,
Blok 3.2, Blok 3.4, Blok 4.1, Blok 4.3, Blok 3.4, SBWP 4 Blok 4.1, Blok 4.3, Blok 4.4
dan Blok 4.4 dengan luas kurang lebih dengan luas 36,26
36,26 (tiga puluh enam koma dua enam)
hektar.
Zona Sarana Pelayanan Umum (SPU) :
Paragraf 5
(a) Sarana Pelayanan Umum Skala Kota
Zona Sarana Pelayanan Umum
(SPU-1)
(b) Sarana Pelayanan Umum Skala Pasal 21
Kecamatan (SPU-2)
(1) Zona sarana pelayanan umum
(c) Sarana Pelayanan Umum Skala Zona sarana pelayanan umum yanga ada
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25
Lingkungan (SPU-3) dalam materi teknis meliputi :
huruf d terdiri atas:
(d) Sarana Pelayanan Umum Skala RW a. Subzona sarana pelayanan umum skala
a. Subzona sarana pelayanan umum
(SPU-4) kota
skala kota (SPU-1);
b. Subzona sarana pelayanan umum skala
b. Subzona sarana pelayanan umum
kecamatan; dan
skala kecamatan (SPU-2); dan
c. Subzona sarana pelayanan umum skala
c. Subzona sarana pelayanan umum
kelurahan
skala kelurahan (SPU-3).
(2) Subzona sarana pelayanan umum skala Subzona Sarana Pelayanan Umum Skala Kota Tidak boleh menggunakan bahasa
kota (SPU-1) sebagaimana dimaksud berada di SBWP 1 Blok 1.2, Blok 1.3, SBWP 2 kurang lebih
pada ayat (1) huruf a terdapat di Blok Blok 2.3, SBWP 3 Blok 3.2, Blok 3.5 seluas
1.2, Blok 1.3, Blok 2.3, Blok 3.2, dan 4,98 Ha
Blok 3.5 dengan luas kurang lebih 4,98
(empat koma sembilan delapan) hektar.
(3) Subzona sarana pelayanan umum skala Subzona Sarana Pelayanan Umum Skala Tidak boleh menggunakan bahasa
kecamatan (SPU-2) sebagaimana Kecamatan berada di SPU-2.1 Blok 1.1, Blok kurang lebih dan perlu disesuaikan
dimaksud pada ayat (1) huruf b 1.3, Blok 1.5, Blok 2.3, Blok 3.2, Blok 3.4, muatan antara Raperda dan Materi
terdapat di Blok 1.1, Blok 1.3, Blok 1.5, SPU-2.5 Blok 3.1 seluas 8,04 Ha. teknis terkait nomenklatur lokasi SPU-
Blok 2.3, Blok 3.1, Blok 3.2, dan Blok 2.
3.4 dengan luas kurang lebih 8,04
(delapan koma nol empat) hektar.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(4) Subzona sarana pelayanan umum skala Subzona Sarana Pelayanan Umum Skala Tidak boleh menggunakan bahasa
kelurahan (SPU-3) sebagaimana Kelurahan di Kawasan Perkotaan Tanjung kurang lebih dan perlu disesuaikan
dimaksud pada ayat (1) huruf c terdapat berada di SPU-3.1 Blok 1.3, Blok 1.4, Blok muatan antara Raperda dan Materi
di Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, 1.5, Blok 1.6, Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 2.1, teknis terkait nomenklatur lokasi SPU-
Blok 1.5, Blok 1.6, Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 2.3, Blok 2.4, Blok 3.1, Blok 3.2, Blok 3.
Blok 1.9, Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5, Blok 4.1, Blok 4.2,
Blok 2.4, Blok 3.1, Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 4.4, Blok 4.5, SPU-3.3 Blok 1.6, Blok
Blok 3.4, Blok 3.5, Blok 4.1, Blok 4.2, 2.1, Blok 3.2, Blok 3.5, Blok 4.2, Blok 4.5,
Blok 4.3, Blok 4.4, dan Blok 4,5 dengan SPU-3.5 Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok
luas kurang lebih 21,24 (dua puluh 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, Blok 1.7, Blok 1.8,
satu koma dua empat) hektar. Blok 1.9, Blok 2.2, Blok 2.3, Blok 2.4, Blok
3.1, Blok 3.2, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5,
Blok 4.1, Blok 4.2, Blok 4.3, Blok 4.4, Blok
4.5 dengan luas 21,24 Ha.
Paragraf 6
Zona Pariwisata
Pasal 22
(1) Zona pariwisata sebagaimana dimaksud Rencana subzona wisata alam (W-1) berupa Tidak boleh menggunakan bahasa
dalam Pasal 25 huruf e berupa subzona wisata pesisir pantai kurang lebih
wisata alam (W-1).
(2) Subzona wisata alam (W-1) Subzona Wisata Alam di Kawasan Perkotaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Tanjung berada di SBWP 1 Blok 1.1, Blok 1.2,
terdapat di Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.3, SBWP 2 Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3,
Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, Blok 3.1, SBWP 3 Blok 3.1, Blok 3.2, SBWP 4 Blok 4.1,
Blok 3.2, Blok 4.1, dan Blok 4.2 dengan Blok 4.2 seluas 154,31 Ha.
luas kurang lebih 154,31 (seratus lima
puluh empat koma tiga sstu) hektar.

Paragraf 7
Zona Pertanian
Pasal 23
(1) Zona pertanian sebagaimana dimaksud Zona Pertanian dalam materi teknis meliputi : Dalam Pedoman Penyusunan RDTR
dalam Pasal 25 huruf f terdiri atas: (Permen ATR/BPN Zona Pertanian
d. Subzona pertanian tanaman a. Subzona Pertanian Tanaman Pangan (P-1) masuk dalam Zona Lainnya) sehingga
pangan (P-1); dan perlu disesuaikan SIstematika
e. Subzona pertanian perkebunan (P- b. Subzona Pertanian Perkebunan (P-3) Penyusunan sesuai aturan yang
3). berlaku.
Untuk zona pertanian Tanaman
Pangan belum dijelaskan secara rinci
apakah didalam zona tersebut masuk
LP2B perlu ditambahkan lagi.
Untuk kegiatan zona perkebunan
belum dijelaskan jenis perkebunan
apa saja yang ada disana sehingga
perlu ditambahkan.

(2) Subzona pertanian tanaman pangan Subzona Pertanian Tanaman Pangan dalam Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) materii teknis berada di SBWP 1 Blok 1.1, kurang lebih
huruf a terdapat di Blok 1.1, Blok 1.2, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok
Blok 1.3, Blok 1.4, Blok 1.5, Blok 1.6, 1.6, Blok 1.9, SBWP 2 Blok 2.1, Blok 2.2, Blok
Blok 1.9, Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, 2.3, Blok 2.4, SBWP 3 Blok 3.1, Blok 3.2, Blok
Blok 2.4, Blok 3.1, Blok 3.2, Blok 3.3, 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5, SBWP 4 Blok 4.3, Blok
Blok 3.4, Blok 3.5, Blok 4.3, Blok 4.4, 4.4, Blok 4.5 dengan luas 762,90 Ha.
dan Blok 4.5 dengan luas kurang lebih
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
762,9 (tujuh ratus enam puluh dua
koma sembilan) hektar.
(3) Subzona pertanian perkebunan Subzona Pertanian Perkebunan di Kawasan Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Perkotaan Tanjung dalam materi teknis berada kurang lebih
huruf b terdapat di Blok 1.5, Blok 1.6, di SBWP 1 Blok 1.5, Blok 1.6, Blok 1.7, Blok
Blok 1.7, Blok 1.8, Blok 1.9, Blok 1.10, 1.8, Blok 1.9, Blok 1.10, SBWP 2 Blok 2.3,
Blok 2.3, Blok 2.4, Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 2.4, SBWP 3 Blok 3.3, Blok 3.4, Blok 3.5,
Blok 3.5, dan Blok 4.5 dengan luas SBWP 4 Blok 4.5 seluas 574,46 Ha.
kurang lebih 574,46 (lima ratus tujuh
puluh empat koma empat enam).
Zona Industri : Tidak ada dalam Raperda Disebutkan dalam Pola pemanfaatan ruang Perlu disesuaikan muatan yang ada
(a) Kawasan Industri (I-1) kawasan budi daya di Kawasan Perkotaan dalam Raperda dan materi teknis
(b) Sentra Industri Kecil Menengah Tanjung terbagi ke dalam 6 pola pemanfaatan, sehingga perlu di croscek kembali.
(SIKM) yaitu:
1. Zona Perumahan;
2. Zona Perdagangan dan Jasa;
3. Zona Perkantoran;
4. Zona Sarana Pelayanan Umum;
5. Zona Industri;
6. Zona Pertanian;
7. Zona Pariwisata;
8. Zona Peruntukan Lainnya;
9. Zona Campuran.
Namun tidak ada pembahasan tentang zona
industri.
Zona Lainnya
Paragraf 8
Dapat berupa petanian, pertambangan,
pertanahanan dan keamanan, Instalasi Zona Peruntukan Lainnya
Pengelolaan Air Limbah (IPAL), Tempat
Pasal 24
Pemrosesan Akhir (TPA), Pengembangan
Nuklir, Pembangkit Listrik, dan/atau (1) Zona peruntukan lainnya sebagaimana Zona peruntukan lainnya di Kawasan
Pariwisata. dimaksud dalam Pasal 25 huruf g Perkotaan Tanjung antara lain meliputi :
Khusus zona pertanian, luasan dan terdiri atas:
sebaran lahan pertanian pangan a. Subzona ruang terbuka non hijau a. Sub Zona Ruang Terbuka Non
berkelanjutan (LP2B) dengan mengacu (PL-2); Hijau/RTNH (PL-2)
pada Kawasan Pertanian Pangan b. Subzona tempat evakuasi akhir b. Sub Zona Tempat Evakuasi Akhir (PL-4)
Berkelanjutan (KP2B) yang ditetapkan (TEA) (PL-4); dan
dalam peraturan daerah tentang RTRW. c. Subzona pembangkit listrik (PL-8). c. Sub Zona Pembangkit Listrik (PL-8)

(2) Subzona ruang terbuka non hijau (PL-2) RTNH di Kawasan Perkotaan Tanjung Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) direncanakan berada di Blok 1.3 dengan luas kurang lebih dan terdapat selisih
huruf a terdapat di Blok 1.3, Blok 1.7, 1,18 ha; Blok 1.7 dengan luas sekitar 2,53 ha; jumlah luas yang ada dalam Raperda
Blok 2.3, Blok 3.2, dan Blok 3.4 dengan Blok 2.3 dengan luas 0,15 ha; Blok 3.2 dengan dan Materi teknis sehingga perlu
luas kurang lebih 8,45 (delapan koma luas sekitar 3.54 ha; dan Blok 3.4 dengan luas dicroscek kembali.
empat lima) hektar. sekitar 1,07 ha. Dengan luas total 8.47 Ha.

(3) Subzona tempat evakuasi akhir (PL-4) TEA direncanakan di Kawasan Perkotaan Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Tanjung dengan luasan sebesar 1,22 yang kurang lebih dan terdapat perbedaan
huruf c terdapat di Blok 1.8 dan Blok berada di Blok 1.6 dan Blok 3.4. lokasi untuk TEA yaitu dalam Raperda
3.4 dengan luas kurang lebih 1,22 blok 1.8 dan dalam materi teknis blok
(satu koma dua dua) hektar. 1.6 sehingga perlu disesuaikan dan
dicroscek kembali.

(4) Subzona pembangkit listrik (PL-8) Rencana subzona pembangkit listrik di Tidak boleh menggunakan bahasa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kawasan Perkotaan Tanjung adalah berada di kurang lebih
huruf d terdapat di Blok 1.5 dengan Blok 1.5 dengan luas sekitar 1,43 Ha.
luas kurang lebih 1,43 (satu koma
empat tiga) hektar.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Paragraf 9
Zona Campuran (C) :
(a) Perumahan dan Perdagangan/Jasa Zona Campuran
(b) Perumahan dan Perkantoran
Pasal 25
Perdagangan/Jasa dan Perkantoran.
(1) Zona campuran sebagaimana dimaksud Zona campuran ini hanya terdiri dari sub zona
dalam Pasal 25 huruf h berupa subzona perumahan dan perdagangan/jasa (C1)
campuran perumahan dan
perdagangan/jasa (C-1).
(2) Subzona campuran perumahan dan
Subzona Campuran Perumahan dan Tidak boleh menggunakan bahasa
perdagangan/jasa (C-1) sebagaimana
Perdagangan/jasa di Kawasan Perkotaan kurang lebih dan dalam materi teknis
dimaksud pada ayat (1) terdapat di Blok
Tanjung berada di SBWP 1 Blok 1.1, Blok 1.2, untuk luas Subzona Campuran
1.1, Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 1.8, Blok
Blok 1.3, Blok 1.8, Blok 1.10, SBWP 2 Blok Perumahan dan Perdagangan/jasa
1.10, Blok 2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, Blok
2.1, Blok 2.2, Blok 2.3, Blok 2.4, SBWP 3 Blok terdapat dua yaitu 74,6 Ha dan 101,57
2.4, Blok 3.1, Blok 3.2, Blok 4.1, Blok
3.1, Blok 3.2, SBWP 4 Blok 4.1, Blok 4.2, Blok Ha. Sehingga perlu di croscek kembali.
4.2, Blok 4.3, dan Blok 4.4 dengan luas
4.3, Blok 4.4 seluas 101,57 Ha.
kurang lebih 101,57 (seratus satu
koma lima tujuh) hektar.
PENETAPAN SUB BWP YANG
DIPRIORITASKAN
Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan
Pasal 26
harus memuat sekurang-kurangnya:
a. Lokasi (1) Sub BWP yang diprioritaskan Dasar penyusunan RTBL dan rencana teknis
Lokasi Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya merupakan dasar pembangunan sektoral
penanganannya digambarkan dalam penyusunan RTBL yang akan
peta. Lokasi tersebut dapat meliputi ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
seluruh wilayah Sub BWP yang (2) Rencana Penetapan Sub BWP yang Lampiran 3 Peta SBWP Prioritas Lampiran 3 Peta SBWP Prioritas dan
ditentukan, atau dapat juga meliputi diprioritaskan penanganannya, menggunakan skala 1:15.000 sehingga
sebagian saja dari wilayah Sub BWP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perlu disesuaikan.
tersebut. Batas delineasi lokasi BWP digambarkan dalam peta dengan tingkat
yang diprioritaskan penanganannya ketelitian 1 : 5.000 sebagaimana
ditetapkan dengan tercantum dalam Lampiran III yang
mempertimbangkan merupakan bagian tidak terpisahkan
1. Batas fisik, seperti blok dan dari Peraturan Daerah ini.
subblok
2. Fungsi kawasan, seperti zona
Pasal 27
dan subzona
3. Wilayah administratif, seperti (1) Rencana penetapan Sub BWP prioritas Tema Penanganan SBWP Prioritas meliputi :
RT, RT, desa/kelurahan, dan di Kawasan Perkotaan Tanjung
kecamatan meliputi:
4. Penetuan secara kultural a. Rencana pengembangan kawasan a. Kawasan Pusat Perkantoran
tradisional, seperti kampung, perkantoran; Pemerintahan
desa adat, gampong, dan nagari b. Rencana pengembangan kawasan b. Kawasan Perdagangan dan Jasa
5. Kesatuan karakteristik tematik, perdagangan dan jasa skala kota;
seperti kawasan kota lama, c. Rencana pengembangan kawasan c. Kawasan Pariwisata (Wisata Pantai)
lingkungan sentra perindustrian pariwisata; dan
rakyat, kawasan sentra d. Rencana pengembangan sarana d. Kawasan Pelayanan Umum
pendidikan, kawasan pelayanan umum.
perkampungan tertentu, dan (2) Rencana pengembangan kawasan Rencana Kawasan Pusat Perkantoran Dalam materi teknis tidak ada
kawasan permukiman perkantoran sebagaimana dimaksud Pemerintahan berada di Blok 1.6. menyebutkan luasa untuk Rencana
tradisional; dan pada ayat (1) huruf a terdapat di Blok Kawasan Pusat Perkantoran
6. Jenis kawasan seperti kawan 1.6. dengan luas 6,2 ha. Pemerintahan sehingga perlu
baru yang berkembang cepat, disesuaikan dan croscek kembali.
kawasan terbangun yang
memerlukan penataan, kawasan
dilestarikan, kawasan rawan
bencana, dan kawasan
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
gabungan atau campuran. (3) Rencana pengembangan kawasan Rencana Penataan Pusat Perdagangan dan Dalam materi teknis tidak
b. Tema Penanganannya perdagangan dan jasa skala kota Jasa di sepanjang Jalan Nasional Tanjung menyebutkan lokasi detail seperti yang
Tema penanganannya adalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Raperda sehingga
program utama untuk setiap lokasi. huruf b terdapat di Blok 1.2 dan Blok perlu disesuaikan.
Tema penanganan Sub BWP yang 1.5.
diprioritaskan penanganannya (4) Rencana pengembangan kawasan Rencana Pengembangan dan Penataan Koridor Dalam materi teknis tidak
terdiri atas : pariwisata sebagaimana dimaksud pada Kawasan Pesisir Pantai, RTH dan rekreasi di menyebutkan lokasi detail seperti yang
1. Perbaikan prasarana, dan ayat (1) huruf c terdapat di Blok 1.1, jalur Jalan Lingkar utara. tercantum dalam Raperda sehingga
blok/kawasan, contohnya Blok 1.2, Blok 1.3, Blok 4.1, dan Blok perlu disesuaikan.
melalui penataan lingkungan 4.2.
permukiman kumuh (perbaikan (5) Rencana pengembangan sarana Rencana Penataan dan Pengembangan Sarana Dalam materi teknis tidak
kampung), dan pelayanan umum sebagaimana Pelayanan Umum di Sub BWP 4 menyebutkan lokasi detail seperti yang
penataanlingkungan dimaksud pada ayat (1) huruf d tercantum dalam Raperda sehingga
permukiman nelayan; terdapat di Blok 4.3. perlu disesuaikan.
2. Pengembangan kembali
prasarana, sarana, dan (6) Rencana penanganan Sub BWP Tidak ada dalam materi teknis Perlu ditambahkan dalam materi
blok/kawasan, contohnya Prioritas dilakukan melalui penataan teknsi sesuai yang tercantum dalam
melalui peremajaan kawasan, lingkungan dan perbaikan sarana dan Raperda.
pengembangan kawasan prasarana.
terpadu, serta rehabilitasi dan
rekontruksi kawasan
pascabencana
3. Pembangunan baru prasarana,
sarana, dan blok/kawasan,
contohnya melalui
pembangunan kawasan
perumahan umum (public
housing) yang dibangun oleh
pemerintah dan swasta,
pembangunan kawasan terpadu,
pembangunan desa agropolitan,
pembangunan kawasan
perbatasan;
4. Pelestarian/perlindungan
blok/kawasan, contohnya
melalui pelestarian kawasan,
konservasi kawasan, revitalisasi
kawasan.
Ketentuan Pemanfaatan Ruang
Ketentuan pemanfaatan ruang berfungsi
Pasal 28
sebagai:
(a) dasar pemerintah dan masyarakat (1) Ketentuan pemanfaatan ruang RDTR Ketentuan pemanfaatan ruang RDTR,
dalam pemrograman investasi Kawasan Perkotaan Tanjung disusun berdasarkan Rencana struktur
pengembangan BWP; berpedoman pada rencana struktur ruang kawasan, rencana pola ruang kawasan
(b) arahan untuk sektor dalam ruang, rencana pola ruang, dan rencana dan Prioritas pengembangan kota dan
penyusunan program; penetapan SBWP yang diprioritaskan kawasan.
(c) Dasar estimasi kebutuhan penanganannya.
pembiayaan dalam jangka waktu 5 (2) Pemanfaatan ruang dilaksanakan Ketentuan pemanfaatan ruang RDTR,
(lima) tahunan dan penyusunan melalui penyusunan dan pelaksanaan disusun berdasarkan Ketersediaan sumber
program tahunan untuk setiap jangka program pemanfaatan ruang beserta daya dan sumber dana pembangunan;
5 (lima) tahun; dan perkiraan pendanaannya.
(d) acuan bagi masyarakat dalam
melakukan investasi.
(3) Perkiraan pendanaan program
pemanfaatan ruang disusun sesuai
dengan ketentuan peraturan
Ketentuan pemanfaatan ruang disusun
perundang-undangan.
berdasarkan:
(a) rencana pola ruang dan rencana
struktur ruang;
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(b) ketersediaan sumber daya dan
Pasal 29
sumber dana pembangunan;
(c) kesepakatan para pemangku (4) Pendanaan program pemanfaatan ruang Sumber pendanaan, yang dapat berasal dari
kepentingan dan kebijakan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten,
ditetapkan; dan Belanja Negara, Anggaran dan/atau masyarakat maupun sektor swasta.
(d) masukan dan kesepakatan dengan Pendapatan dan Belanja Daerah,
para investor; dan investasi swasta dan kerja sama
(e) prioritas pengembangan BWP dan pendanaan.
pentahapan rencana pelaksanaan
program yang sesuai dengan Rencana (5) Kerja sama pendanaan dilaksanakan Tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) sesuai dengan ketentuan peraturan
daerah dan Rencana Pembangunan perundang-undangan.
Jangka Menengah (RPJM) daerah,
serta rencana terpadu dan program
(6) Program pemanfaatan ruang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
investasi infrastruktur jangka
ayat (2) disusun berdasarkan indikasi
menengah (RPI2JM).
program utama lima tahunan yang
ditetapkan dalam Lampiran IV yang
Ketentuan pemanfaatan ruang disusun
merupakan bagian tidak terpisahkan
dengan kriteria:
dari Peraturan Daerah ini.
(a) mendukung perwujudan rencana pola
ruang dan rencana penyediaan
prasarana perkotaan di BWP serta
perwujudan Sub BWP yang
diprioritaskan penanganannya;
(b) mendukung program penataan ruang
wilayah kabupaten/kota;
(c) realistis, objektif, terukur, dan dapat
dilaksanakan dalam jangka waktu
perencanaan;
(d) konsisten dan berkesinambungan
terhadap program yang disusun, baik
dalam jangka waktu tahunan
maupun lima tahunan; dan
(e) terjaganya sinkronisasi antar program
dalam satu kerangka program
terpadu pengembangan wilayah
kabupaten/kota.

Peraturan Zonasi Peraturan Zonasi Peraturan Zonasi

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 30
(1) Peraturan zonasi berfungsi sebagai: Tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
a. Perangkat operasional tentang fungsi peraturan zonasi sesuai
pengendalian pemanfaatan dengan yang tercantum dalam
ruang; Raperda.
b. Acuan dalam pemberian izin
pemanfaatan ruang, termasuk
di dalamnya air right
development dan pemanfaatan
ruang di bawah tanah;
c. Acuan dalam pemberian insentif
dan disinsentif;
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
d. Acuan dalam pengenaan sanksi;
dan
e. Rujukan teknis dalam
pengembangan atau
pemanfaatan lahan dan
penetapan lokasi investasi.
(2) Peraturan zonasi terdiri atas: Peraturan zonasi dalam materi teknis meliputi
:
a. Aturan dasar (materi wajib); dan a. Aturan Dasar
b. Teknik pengaturan zonasi (materi b. Teknik Pengaturan Zonasi
pilihan).
(3) Aturan dasar (materi wajib) Aturan Dasar dalam materi teknis meliputi :
sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf a meliputi:
a. Ketentuan kegiatan dan a. Ketentuan kegiatan dan penggunaan
penggunaan lahan; lahan;
b. Ketentuan intensitas b. Ketentuan intensitas pemanfaatan
pemanfaatan ruang; ruang;
c. Ketentuan tata bangunan; c. Ketentuan tata bangunan;
d. Ketentuan prasarana dan sarana d. Ketentuan prasarana dan sarana
minimal; minimal;
e. Ketentuan khusus; e. Ketentuan khusus;
f. Standar teknis; dan f. Standar teknis; dan
g. Ketentuan pelaksanaan. g. Ketentuan pelaksanaan.

(4) Teknik pengaturan zonasi Teknik pengaturan zonasi dalam materi


sebagaimana dimaksud pada ayat teknis meliputi :
(2) huruf b terdiri atas: a. Transfer of Development Right (a); dan
a. Transfer of Development Right b. Overlay Zone (b).
(TDR); dan
b. Overlay Zone.
(5) Ketentuan peraturan zonasi
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sebagaimana tercantum dalam
Lampiran V yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Bagian Kedua
Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan
dan
Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang

Pasal 31
(1) Ketentuan kegiatan dan penggunaan Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan
lahan serta ketentuan intensitas serta ketentuan intensitas pemanfaatan ruang
pemanfaatan ruang, sebagaimana dalam materi teknis terdiri atas :
dimaksud pada Pasal 38 ayat (3) huruf
a dan b terdiri atas:
a. Ketentuan kegiatan dan intensitas a. Ketentuan kegiatan dan intensitas
pemanfaatan ruang zona lindung; pemanfaatan ruang zona lindung; dan
dan
b. Ketentuan kegiatan dan intensitas b. Ketentuan kegiatan dan intensitas
pemanfaatan ruang zona budi pemanfaatan ruang zona budi daya.
daya.
(2) Ketentuan kegiatan dan intensitas Ketentuan kegiatan dan intensitas
pemanfaatan ruang (KKIPR) zona pemanfaatan ruang (KKIPR) zona lindung
lindung, sebagaimana dimaksud pada dalam materi teknis meliputi :
ayat (1), terdiri atas:
a. KKIPR subzona sempadan pantai a. KKIPR subzona sempadan pantai (SP);
(SP);
b. KKIPR subzona sempadan sungai b. KKIPR subzona sempadan sungai (SS);
(SS);
c. KKIPR subzona sempadan SUTT c. KKIPR subzona sempadan SUTT (ST);
(ST);
d. KKIPR subzona hutan kota (RTH- d. KKIPR subzona hutan kota (RTH-1);
1);
e. KKIPR subzona taman kota (RTH- e. KKIPR subzona taman kota (RTH-2);
2);
f. KKIPR subzona taman kecamatan f. KKIPR subzona taman kecamatan
(RTH-3); (RTH-3);
g. KKIPR subzona taman kelurahan g. KKIPR subzona taman kelurahan (RTH-
(RTH-4); 4);
h. KKIPR subzona taman RW (RTH- h. KKIPR subzona taman RW (RTH-5); dan
5); dan
i. KKIPR subzona pemakaman (RTH- i. KKIPR subzona pemakaman (RTH-7).
7).
(3) Ketentuan kegiatan dan intensitas Ketentuan kegiatan dan intensitas
pemanfaatan ruang (KKIPR) zona budi pemanfaatan ruang (KKIPR) zona budi daya,
daya, sebagaimana dimaksud pada ayat dalam materi teknis terdiri atas:
(1), terdiri atas:
a. KKIPR subzona rumah kepadatan a) KKIPR subzona rumah kepadatan tinggi
tinggi (R-2); (R-2);
b. KKIPR subzona rumah kepadatan b) KKIPR subzona rumah kepadatan sedang
sedang (R-3); (R-3);
c. KKIPR subzona rumah kepadatan c) KKIPR subzona rumah kepadatan rendah
rendah (R-4); (R-4);
d. KKIPR subzona perdagangan dan d) KKIPR subzona perdagangan dan jasa
jasa skala kota (K-1); skala kota (K-1);
e. KKIPR subzona perdagangan dan e) KKIPR subzona perdagangan dan jasa
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
jasa skala BWP (K-2); skala BWP (K-2);
f. KKIPR subzona perdagangan dan f) KKIPR subzona perdagangan dan jasa
jasa skala sub BWP (K-3); skala sub BWP (K-3);
g. KKIPR subzona perkantoran g) KKIPR subzona perkantoran
pemerintahan (KT-1); pemerintahan (KT-1);
h. KKIPR subzona sarana pelayanan h) KKIPR subzona sarana pelayanan umum
umum skala kota (SPU-1); skala kota (SPU-1);
i. KKIPR subzona sarana i) KKIPR Subzona SPU Skala BWP (SPU- Perbedaan nomenklatur antara
pelayanan umum skala 2); Raperda dan materi teknis tentang
kecamatan (SPU-2); SPU-2 sehingga perlu disesuaikan

j. KKIPR subzona sarana j) KKIPR subzona sarana pelayanan Perbedaan nomenklatur antara
pelayanan umum skala umum skala Sub BWP (SPU-3); Raperda dan materi teknis tentang
kelurahan (SPU-3); SPU-3 sehingga perlu disesuaikan
k. KKIPR subzona pertanian tanaman k) KKIPR subzona pertanian tanaman
pangan (P-1); pangan (P-1);
l. KKIPR subzona pertanian l) KKIPR subzona pertanian perkebunan
perkebunan (P-3); (P-3);
m. KKIPR subzona wisata alam (W-1); m) KKIPR subzona wisata alam (W-1);
n. KKIPR subzona peruntukan lain n) KKIPR subzona peruntukan lain RTNH Tidak adala materi teknis sehingga
RTNH (PL-2); (PL-2); perlu ditambahkan

o. KKIPR subzona peruntukan lain o) KKIPR subzona peruntukan lain tempat Tidak adala materi teknis sehingga
tempat evakuasi akhir (PL-4); evakuasi akhir (PL-4); perlu ditambahkan

p. KKIPR subzona peruntukan lain p) KKIPR subzona peruntukan lain Tidak adala materi teknis sehingga
pembangkit listrik (PL-8); pembangkit listrik (PL-8); perlu ditambahkan
q. KKIPR subzona campuran q) KKIPR subzona campuran perumahan
perumahan dan perdagangan/jasa dan perdagangan/jasa (C-1).
(C-1).
(4) Ketentuan kegiatan dan intensitas
Tidak ada Lampiran V.1 yang ada lampiran V
pemanfaatan ruang sebagaimana
tentang Peraturan Zonasi
dimaksud pada ayat (1) sebagaimana
tercantum dalam Lampiran V.1 yang
merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Ketiga
Ketentuan Tata Bangunan
Pasal 32
(1) Ketentuan tata bangunan sebagaimana Ketentuan tata bangunan dalam materi teknis
dimaksud pada Pasal 38 ayat (3) huruf c meliputi :
terdiri atas:
a. Ketinggian bangunan; a. Ketinggian Bangunan (TB) Maksimum
b. Garis sempadan bangunan; b. Garis Sempadan Bangunan (GSB)
c. Jarak bebas antar bangunan; c. Jarak Bebas Antar Bangunan
d. Jarak bebas samping dan jarak d. Jarak Bebas Samping (JBS) dan Jarak
bebas belakang; dan Bebas Belakang (JBB)
e. Tampilan bangunan. e. Ketentuan Tampilan Bangunan
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(2) Ketinggian bangunan sebagaimana Ketinggian Bangunan (TB) Maksimum terdiri
dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas :
atas:
a. Zona perumahan maksimal 3 1. Perumahan Maksimal 3 lantai
lantai;
b. Zona perdagangan dan jasa 2. Perdagangan dan Jasa Maksimal 3 lantai
maksimal 3 lantai;
c. Zona perkantoran maksimal 3 3. Perkantoran Maksimal 3 lantai
lantai;
d. Zona sarana pelayanan umum 4. Sarana Pelayanan Umum Maksimal 3
maksimal 3 lantai; lantai
5. Sentra Industri Kecil Menengah Perlu dimasukkan dalam Raperda
Maksimal 3 lantai
6. Pergudangan Maksimal 3 lantai Perlu dimasukkan dalam Raperda

7. Pariwisata Maksimal 3 lantai Perlu dimasukkan dalam Raperda


e. Zona campuran maksimal 3 lantai. 8. Campuran Maksimal 3 lantai

(3) Garis sempadan bangunan


Ketentuan lebar garis sempadan depan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bangunan sesuai dengan klasifikasi jalan
huruf b terdiri atas:
adalah sebagai berikut:
a. GSB jalan nasional ditetapkan 25
a. Jalan Nasional: GSB 25 meter,
(dua puluh lima) meter;
b. GSB jalan provinsi ditetapkan 15 b. Jalan Provinsi: GSB 15 meter,
(lima belas) meter;
c. GSB jalan kabupaten ditetapkan 10 c. Jalan Kabupaten: GSB 10 meter,
(sepuluh) meter;
d. GSB jalan di perkotaan ditetapkan d. Jalan di Perkotaan: GSB 10 meter, dan
10 (sepuluh) meter; dan
e. GSB jalan di perdesaan ditetapkan e. Jalan di Perdesaan: GSB 7 meter.
7 (tujuh) meter.
(4) Jarak bebas antar bangunan Jarak bebas antar bangunan di Kawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Perkotaan Tanjung ditetapkan berdasarkan
huruf c terdiri atas: a. pertimbangan garis sempadan samping
a. Ditentukan sebesar 2 kali garis dan belakang bangunan (2x garis
sempadan belakang dan/atau sempadan belakang dan/atau sempadan
sempadan samping bangunan; atau samping bangunan)
b. Ditentukan minimal setengah tinggi
bangunan gedung tersebut. b. ketentuan jarak antara bangunan gedung
minimal setengah tinggi bangunan
gedung tersebut
(5) Jarak bebas samping dan jarak bebas
belakang sebagaimana dimaksud pada Garis sempadan samping dan belakang
ayat (1) huruf d terdiri atas: bangunan untuk kawasan perkotaan di
Kawasan Perkotaan Tanjung diatur dengan
ketentuan:
a. Pada peruntukan perumahan 1) Pada peruntukan perumahan tunggal
tunggal diterapkan garis sempadan diterapkan garis sempadan samping
samping kedua sisi minimal selebar kedua sisi minimal selebar 2 meter
2 meter dengan pertimbangan dengan pertimbangan akses masuk dan
akses masuk dan cucuran atap cucuran atap serta sempadan belakang
serta sempadan belakang minimal 2 minimal 2 meter.
meter;
b. Pada peruntukan perumahan kopel 2) Pada peruntukan perumahan kopel
diterapkan garis sempadan diterapkan garis sempadan samping salah
samping salah satu sisi minimal satu sisi minimal selebar 1,5 meter
selebar 1,5 meter dengan dengan pertimbangan akses udara dan
pertimbangan akses udara dan penyinaran masuk dan cucuran atap
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
penyinaran masuk dan cucuran serta sempadan belakang minimal 2
atap serta sempadan belakang meter.
minimal 2 meter;
c. Pada peruntukan perumahan deret 3) Pada peruntukan perumahan deret tidak
tidak diterapkan garis sempadan diterapkan garis sempadan samping pada
samping pada kedua sisi atau GSB kedua sisi atau GSB 0 meter, sedangkan
0 meter, sedangkan sempadan sempadan belakang minimal 2 meter.
belakang minimal 2 meter;
d. Untuk peruntukan perdagangan 4) Untuk peruntukan perdagangan non ruko
non ruko diterapkan ketentuan tipe diterapkan ketentuan tipe A.
A;
e. Untuk peruntukan perdagangan 5) Untuk peruntukan perdagangan
berbentuk ruko tanpa GSB berbentuk ruko tanpa GSB samping,
samping, sedangkan GSB belakang sedangkan GSB belakang digantikan
digantikan dengan ketentuan dengan ketentuan rencana gang
rencana gang kebakaran selebar 3 kebakaran selebar 3 meter.
meter;
f. Pada peruntukan lain seperti 6) Pada peruntukan lain seperti bangunan
bangunan umum diterapkan garis umum diterapkan garis sempadan
sempadan samping kedua sisi samping kedua sisi minimal selebar 2
minimal selebar 2 meter untuk meter untuk pencahayaan dan udara
pencahayaan dan udara serta serta sempadan belakang minimal 2
sempadan belakang minimal 2 meter.
meter;
g. Pada bangunan industri diterapkan 7) Pada bangunan Industri diterapkan garis
garis sempadan samping kedua sisi sempadan samping kedua sisi minimal
minimal selebar 3 meter untuk selebar 3 meter untuk keamanan bahaya
keamanan bahaya kebakaran serta kebakaran serta sempadan belakang
sempadan belakang minimal 3 minimal 3 meter.
meter;
h. Garis sempadan untuk bangunan 8) Garis sempadan untuk bangunan yang
yang dibangun di bawah dibangun di bawah permukaan tanah
permukaan tanah maksimum maksimum berimpit dengan garis
berimpit dengan garis sempadan sempadan pagar, tidak diperbolehkan
pagar, tidak diperbolehkan melewati batas pekarangan.
melewati batas pekarangan;
i. Apabila garis sempadan bangunan 9) Apabila garis sempadan bangunan gedung
gedung ditetapkan berimpit dengan ditetapkan berimpit dengan garis
garis sempadan pagar, cucuran sempadan pagar, cucuran atap atau
atap atau suatu tritis/overstack suatu tritis/overstack harus diberi talang
harus diberi talang dan pipa talang dan pipa talang harus disalurkan sampai
harus disalurkan sampai ke tanah; ke tanah.
j. Garis sempadan untuk bangunan 10) Garis sempadan untuk bangunan yang
yang dibangun di bawah dibangun di bawah permukaan tanah
permukaan tanah harus harus mempertimbangkan jaringan
mempertimbangkan jaringan utilitas yang ada atau yang akan
utilitas yang ada atau yang akan dibangun, atau paling jauh setengah dari
dibangun, atau paling jauh jarak GSB dengan GSJ.
setengah dari jarak GSB dengan
GSJ; dan
k. Bangunan pada ketinggian 3 (tiga) 11) Bangunan pada ketinggian 3 (tiga) lantai
lantai atau lebih GSB samping dan atau lebih GSB samping dan belakang
belakang harus berjarak minimum harus berjarak minimum 1,50 m (satu
1,50 m (satu koma lima puluh koma lima puluh meter) untuk dinding
meter) untuk dinding masif dan 3 m masif dan 3 m (tiga meter) untuk dinding
(tiga meter) untuk dinding dengan dengan bukaan.
bukaan.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(6) Tampilan bangunan sebagaimana yang untuk tampilan bangunan pada Kawasan
dimaksud pada ayat (1) huruf e Perkotaan Tanjung mengarah pada bangunan
dianjurkan untuk mengacu dan bergaya tradisional Lombok, yaitu dipengaruhi
mengambil inspirasi dari kearifan lokal oleh adat budaya Suku Sasak
budaya yang berlaku seperti Budaya
Sasak Lombok, bangunan yang dapat
mengurangi kerentanan bencana seperti
kontruksi yang kuat untuk daerah
rawan tsunami dan gempa bumi,
khusus untuk bangunan publik dan
sarana komersial serta bangunan
pemerintahan diwajibkan berfungsi
sebagai escape building saat terjadi
bencana.
Bagian Keempat
Ketentuan Prasarana dan Sarana Minimal

Pasal 33
(1) Ketentuan prasarana dan sarana Ketentuan prasarana dan sarana minimal
minimal sebagaimana dimaksud dalam dalam materi teknis meliputi :
Pasal 38 ayat (3) huruf d, meliputi:
a. Jaringan jalan dan a. Jaringan jalan dan kelengkapannya
kelengkapannya;
b. Jaringan utilitas; b. Jaringan utilitas
c. Pertimbangan parker
c. Prasarana parkir; dan
d. Prasarana minimal lainnya. Tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
sesuai yang tercantum dalam Raperda
terkait Prasarana minimal lainnya.

(2) Ketentuan prasarana dan sarana Tidak ada dalam materi teknis Tidak jelas tercantum dalam lampiran
minimal sebagaimana dimaksud pada berapa. Sehingga perlu dicroscek
ayat (1), sebagaimana tercantum dalam kembali.
lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kelima
Ketentuan Khusus
Pasal 34
(1) Ketentuan khusus sebagaimana Tidak ada dalam materi teknis Perlu ditambahkan dalam materi
dimaksud dalam Pasal 38 ayat (3) huruf teknis sesuai dengan yang tercantum
e, merupakan aturan tambahan yang dalam Raperda.
ditampalkan (overlay) di atas aturan
dasar karena adanya hal-hal khusus
yang memerlukan aturan tersendiri
karena belum diatur di dalam aturan
dasar.
(2) Ketentuan khusus sebagaimana Ketentuan khusus dalam materi teknis
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: meliputi :
a. Kawasan rawan bencana a. Ketentuan Khusus Peraturan Zonasi di
gempabumi; KRB Gempabumi
b. Kawasan rawan bencana tsunami; b. Ketentuan Khusus Peraturan Zonasi di
KRB Tsunami
c. Kawasan rawan bencana gerakan c. Ketentuan Khusus Peraturan Zonasi di
tanah;
KRB Gerakan Tanah
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
d. Kawasan rawan bencana banjir; d. Ketentuan Khusus Peraturan Zonasi di
e. Lahan Pertanian Pangan KRB Banjir
Berkelanjutan (LP2B); dan e. Pengaturan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan
f. Tempat evakuasi bencana (TES dan
f. Pengaturan Tempat evakuasi sementara
TEA).
dan Tempat Evakuasi Akhir
Bagian Keenam
Standar Teknis
Pasal 35
(1) Standar teknis pemanfaatan ruang Standar teknis dalam materi teknis meliputi :
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38
ayat (3) huruf f terdiri atas:
a. Standar perparkiran; dan a. Perparkiran
b. Standar prasarana terminal. b. Prasarana Terminal

(2) Standar perparkiran sebagaimana Standar parkir dalam materi teknis terdiri atas
dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri :
atas:
a) Letak dan Dimensi Parkir Perlu dimasukkan dalam Raperda
sesuai yang tercantum dalam materi
teknis

a. Parkir di halaman; b) Parkir di halaman


b. Parkir dalam bangunan; dan c) Parkir Dalam Bangunan
c. Parkir pada jalur jalan. d) Parkir Pada Jalur Jalan

(3) Standar prasarana terminal Standar prasarana terminal dalam materi


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) teknis meliputi :
huruf b terdiri atas:
d. Penetapan lokasi terminal; a. Penetapan lokasi terminal
e. Fasilitas pendukung utama; dan b. Fasilitas pendukung utama
f. Fasilitas penunjang. c. Fasilitas penunjang
(4) Ketentuan standar teknis pemanfaatan
ruang sebagaimana dimaksud pada ayat Perlu diperjelas lampiran V- berapa
(1), sebagaimana tercantum dalam untuk ketentuan standar teknis
Lampiran V yang merupakan bagian pemanfaatan ruang.
tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
Bagian Ketujuh
Ketentuan Pelaksanaan
Pasal 36
(1) Ketentuan pelaksanaan sebagaimana Ketentuan pelaksanaan dalam materi teknis
dimaksud pada Pasal 38 ayat (3) huruf meliputi :
g terdiri atas:
a. Variansi pemanfaatan ruang; a. Variansi Pemanfatan Ruang
b. Insentif disinsentif; dan b. Insentif dan Disinsentif
c. Penggunaan lahan yang tidak c. Penggunaan Lahan yang Tidak Sesuai
sesuai.
(2) Variansi pemanfaatan ruang Variansi pemanfaatan ruang dalam materi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) teknis meliputi :
huruf a terdiri atas:
a. Non – conforming use; dan a. Non-conforming use
b. Interim/temporary use. b. Interim/Temporary Use
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
(3) Insentif disinsentif sebagaimana Insentif disinsentif dalam materi teknis
dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri meliputi :
atas:
a. Insentif diberikan apabila a. Insentif merupakan perangkat atau upaya
pemanfaatan ruang sesuai dengan untuk memberikan imbalan terhadap
rencana struktur ruang, rencana pelaksanaan kegiatan yang sejalan
pola ruang, dan ketentuan umum dengan rencana tata ruang
peraturan zonasi yang diatur dalam
Peraturan Daerah ini.
b. Disinsentif dikenakan terhadap b. Disinsentif merupakan perangkat untuk
pemanfaatan ruang yang perlu mencegah, membatasi pertumbuhan, atau
dicegah, dibatasi, atau dikurangi mengurangi kegiatan yang tidak sejalan
keberadaannya berdasarkan dengan rencana tata ruang
ketentuan dalam Peraturan Daerah
ini.
c. Ketentuan lebih lanjut mengenai c. Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk
tata cara pemberian insentif dan tata cara pemberian insentif dan
disinsentif diatur dengan Peraturan disinsentif diatur dengan peraturan
Bupati. pemerintah.
(4) Penggunaan lahan yang tidak sesuai Penggunaan ruang yang tidak sesuai dengan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peruntukan ruang harus memperoleh izin
huruf c harus mendapatkan izin dari secara khusus dari Bupati, selanjutnya Bupati
Bupati setelah mendapatkan dapat memberikan izin pemanfaatan lahan
rekomendasi dari instansi terkait. yang berbeda dengan aturan zonasi setelah
memperoleh rekomendasi dari instansi terkait
Bagian Kedelapan
Ketentuan Perizinan
Pasal 37
(1) Ketentuan perizinan merupakan acuan Pasal 37 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
bagi pejabat yang berwenang dalam sesuai dengan yang tercantum dalam
pemberian izin pemanfaatan ruang Raperda
berdasarkan rencana struktur dan pola
ruang yang ditetapkan dalam Peraturan
Daerah ini.
(2) Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh
pejabat yang berwenang sesuai dengan
kewenangannya.
(3) Pemberian izin pemanfaatan ruang
dilakukan menurut prosedur sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(4) Mekanisme perizinan diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Bupati.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Bagian Kesembilan
Ketentuan Sanksi
Pasal 38
Pasal 38 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
(1) Ketentuan sanksi sebagaimana sesuai dengan yang tercantum dalam
dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) huruf Raperda
d merupakan acuan bagi Pemerintah
Daerah dalam pengenaan sanksi
administratif kepada pelanggar
pemanfaatan ruang.
(2) Pengenaan sanksi dilakukan terhadap:
a. Pemanfaatan ruang yang tidak
sesuai dengan rencana struktur
ruang dan pola ruang;
b. Pelanggaran ketentuan umum
peraturan zonasi;
c. Pemanfaatan ruang tanpa izin
pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan rencana
tata ruang wilayah Kabupaten;
d. Pemanfaatan ruang tidak sesuai
dengan izin pemanfaatan ruang
yang diterbitkan berdasarkan
rencana tata ruang wilayah
Kabupaten;
e. Pelanggaran ketentuan yang
ditetapkan dalam persyaratan izin
pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan rencana
tata ruang wilayah Kabupaten;
f. Pemanfaatan ruang yang
menghalangi akses terhadap
kawasan yang oleh peraturan
perundang-undangan dinyatakan
sebagai milik umum; dan/atau
(3) Pemanfaatan ruang dengan izin yang
diperoleh melalui prosedur yang tidak
benar.
Pasal 39
(1) Terhadap pelanggaran sebagaimana Pasal 39 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
dimaksud dalam Pasal 46 ayat (2) sesuai dengan yang tercantum dalam
huruf a, huruf b, huruf d, huruf e, Raperda
huruf f, dan huruf g dikenakan sanksi
administratif berupa:
a. Peringatan tertulis;
b. Penghentian sementara kegiatan;
c. Penghentian sementara pelayanan
umum;
d. Penutupan lokasi;
e. Pencabutan izin;
f. Pembatalan izin;
g. Pembongkaran bangunan;
h. Pemulihan fungsi ruang; dan/atau
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
i. Denda administratif.
(2) Terhadap pelanggaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 ayat (2) huruf
c dikenakan sanksi administratif
berupa:
a. Peringatan tertulis;
b. Penghentian sementara kegiatan;
c. Penghentian sementara pelayanan
umum;
d. Penutupan lokasi;
e. Pembongkaran bangunan;
f. Pemulihan fungsi ruang; dan/atau
g. Denda administratif.
Pasal 40
Setiap orang yang melakukan pelanggaran Pasal 40 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
terhadap rencana tata ruang yang telah sesuai dengan yang tercantum dalam
ditetapkan dapat dikenakan sanksi pidana Raperda
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB VIII
KELEMBAGAAN
Pasal 41
Pasal 41 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
(1) Dalam rangka koordinasi penataan sesuai dengan yang tercantum dalam
ruang dan kerjasama antar wilayah, Raperda
dibentuk Tim Koordinasi Penataan
Ruang Daerah.
(2) Tugas, susunan organisasi, dan tata
kerja Tim Koordinasi Penataan Ruang
Daerah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Keputusan
Bupati.

BAB IX
HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN
MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu
Hak Masyarakat
Pasal 42 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Pasal 42
sesuai dengan yang tercantum dalam
Dalam kegiatan mewujudkan Raperda
Penataan ruang wilayah,
masyarakat berhak:
a. Mengetahui rencana tata ruang;
b. Menikmati pertambahan nilai ruang
sebagai akibat penataan ruang;
c. Memperoleh penggantian yang layak
atas kerugian yang timbul akibat
pelaksanaan kegiatan pembangunan
yang sesuai dengan rencana tata ruang;
d. Mengajukan keberatan kepada pejabat
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
berwenang terhadap pembangunan
yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang di wilayahnya;
e. Mengajukan tuntutan pembatalan izin
dan penghentian pembangunan yang
tidak sesuai dengan rencana tata ruang
kepada pejabat berwenang; dan
f. Mengajukan gugatan ganti kerugian
kepada pemerintah dan/atau pemegang
izin apabila kegiatan pembangunan
yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang menimbulkan kerugian.
Bagian Kedua
Kewajiban Masyarakat
Pasal 43
Dalam pemanfaatan ruang, setiap orang Pasal 43 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
wajib: sesuai dengan yang tercantum dalam
Raperda
a. Menaati rencana tata ruang yang telah
ditetapkan;
b. Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin
pemanfaatan ruang dari pejabat yang
berwenang;
c. Mematuhi ketentuan yang ditetapkan
dalam persyaratan izin pemanfaatan
ruang; dan
d. Memberikan akses terhadap kawasan
yang oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan dinyatakan
sebagai milik umum.

Pasal 44 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Pasal 44 sesuai dengan yang tercantum dalam
(1) Pelaksanaan kewajiban masyarakat Raperda
dalam penataan ruang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 51 dilaksanakan
dengan mematuhi dan menerapkan
kriteria, kaidah, baku mutu, dan
aturan-aturan penataan ruang yang
ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
(2) Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang
yang dilakukan masyarakat secara
turun temurun dapat diterapkan
sepanjang memperhatikan faktor-faktor
daya dukung lingkungan, estetika
lingkungan, lokasi, dan struktur
pemanfaatan ruang serta dapat
menjamin pemanfaatan ruang yang
serasi, selaras, dan seimbang.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Bagian Ketiga
Peran Masyarakat
Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Pasal 45
Pasal 45 tidak ada dalam materi teknis sesuai dengan yang tercantum dalam
Peran masyarakat dalam penataan ruang di Raperda
Daerah dilakukan antara lain melalui:
a. Partisipasi dalam penyusunan rencana
tata ruang;
b. Partisipasi dalam pemanfaatan ruang;
dan
c. Partisipasi dalam pengendalian
pemanfaatan ruang.

Pasal 46 Pasal 46 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
sesuai dengan yang tercantum dalam
Bentuk peran masyarakat pada tahap Raperda
penyusunan rencana tata ruang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 53 huruf a dapat
berupa:
a. Memberikan masukan mengenai:
1. Persiapan penyusunan rencana
tata ruang;
2. Penentuan arah pengembangan
wilayah atau kawasan;
3. Pengidentifikasian potensi dan
masalah wilayah atau kawasan;
4. Perumusan konsepsi rencana tata
ruang; dan/atau
5. Penetapan rencana tata ruang.
b. Melakukan kerja sama dengan
Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau
sesama unsur masyarakat dalam
perencanaan tata ruang.

Pasal 47 Pasal 47 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Bentuk peran masyarakat dalam sesuai dengan yang tercantum dalam
pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud Raperda
dalam Pasal 53 huruf b dapat berupa:
a. Masukan mengenai kebijakan
pemanfaatan ruang;
b. Kerja sama dengan Pemerintah,
pemerintah daerah, dan/atau sesama
unsur masyarakat dalam pemanfaatan
ruang;
c. Kegiatan memanfaatkan ruang yang
sesuai dengan kearifan lokal dan rencana
tata ruang yang telah ditetapkan;
d. Peningkatan efisiensi, efektivitas, dan
keserasian dalam pemanfaatan ruang
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
darat, ruang laut, ruang udara, dan
ruang di dalam bumi
e. Dengan memperhatikan kearifan lokal
serta sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
f. Kegiatan menjaga kepentingan
pertahanan dan keamanan serta
memelihara dan meningkatkan
kelestarian fungsi lingkungan hidup dan
sumber daya alam; dan
g. Kegiatan investasi dalam pemanfaatan
ruang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 48 Pasal 48 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
sesuai dengan yang tercantum dalam
Bentuk peran masyarakat dalam
Raperda
pengendalian pemanfaatan ruang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf
c dapat berupa:
a. Masukan terkait arahan dan/atau
peraturan zonasi, perizinan, pemberian
insentif dan disinsentif serta pengenaan
sanksi;
b. Keikutsertaan dalam memantau dan
mengawasi;
c. Pelaksanaan rencana tata ruang yang
telah ditetapkan;
d. Pelaporan kepada instansi dan/atau
pejabat yang berwenang dalam hal
menemukan dugaan penyimpangan atau
pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang
yang melanggar rencana tata ruang yang
telah ditetapkan; dan
e. Pengajuan keberatan terhadap
keputusan pejabat yang berwenang
terhadap pembangunan yang dianggap
tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

Pasal 49 Pasal 49 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
(1) Peran masyarakat di bidang penataan sesuai dengan yang tercantum dalam
ruang dapat disampaikan secara Raperda
langsung dan/atau tertulis;
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat
disampaikan kepadda Bupati; dan
(3) Peran masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) juga dapat
disampaikan melalui unit kerja terkait
yang ditunjuk oleh Bupati.
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
Pasal 50 Pasal 50 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
sesuai dengan yang tercantum dalam
Dalam rangka meningkatkan peran
Raperda
masyarakat, pemerintah daerah membangun
sistem informasi dan dokumentasi penataan
ruang yang dapat diakses dengan mudah oleh
masyarakat.

Pasal 51
Pasal 51 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Pelaksanaan tata cara peran masyarakat sesuai dengan yang tercantum dalam
dalam penataan ruang dilaksanakan sesuai Raperda
dengan ketentuan perundang-undangan.

BAB X
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 52
Pasal 52 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
(1) Jangka waktu Rencana Detail Tata sesuai dengan yang tercantum dalam
Ruang Kawasan Pekotaan Tanjung Raperda
adalah 20 (dua puluh) tahun dan dapat
ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5
(lima) tahun.
(2) Dalam kondisi lingkungan strategis
tertentu yang berkaitan dengan bencana
alam skala besar dan/atau perubahan
batas teritorial wilayah yang ditetapkan
dengan peraturan perundang-undangan,
Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perkotaan Tanjung dapat ditinjau
kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5
(lima) tahun.
(3) Peraturan Daerah tentang Rencana
Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Tanjung Tahun 2020-2040 dilengkapi
dengan Rencana dan Album Peta yang
merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 53 Pasal 53 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
sesuai dengan yang tercantum dalam
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini,
Raperda
maka:
a. Izin pemanfaatan ruang yang telah
dikeluarkan dan telah sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini tetap
berlaku sesuai dengan masa berlakunya;
b. Izin pemanfaatan ruang yang telah
dikeluarkan tetapi tidak sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku
ketentuan:
No. Permen 16 Tahun 2018 Ranperda Materi Teknis Ket. Shp
1. Untuk yang belum dilaksanakan
pembangunannya, izin tersebut
disesuaikan dengan fungsi kawasan
berdasarkan Peraturan Daerah ini;
2. Untuk yang sudah dilaksanakan
pembangunannya, dilakukan
penyesuaian dengan masa transisi
berdasarkan ketentuan perundang-
undangan; dan
3. Untuk yang sudah dilaksanakan
pembangunannya dan tidak
memungkinkan untuk dilakukan
penyesuaian dengan fungsi kawasan
berdasarkan Peraturan Daerah ini,
izin yang telah diterbitkan dapat
dibatalkan dan terhadap kerugian
yang timbul sebagai akibat
pembatalan izin tersebut dapat
diberikan penggantian yang layak;
c. Pemanfaatan ruang di Daerah yang
diselenggarakan tanpa izin dan
bertentangan dengan ketentuan
Peraturan Daerah ini, akan ditertibkan
dan disesuaikan dengan Peraturan
Daerah ini;
d. Pemanfaatan ruang yang sesuai dengan
ketetentuan Peraturan Daerah ini, agar
dipercepat untuk mendapatkan izin yang
diperlukan.

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 54
Pasal 54 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai sesuai dengan yang tercantum dalam
berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Raperda
Lombok Utara Nomor 3 Tahun 2004 tentang
Rencana Detail Tata Ruang Perkotaan
Tanjung, dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 55 Pasal 55 tidak ada dalam materi teknis Perlu dimasukkan dalam materi teknis
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada sesuai dengan yang tercantum dalam
tanggal diundangkan. Raperda
Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Daerah Kabupaten Lombok
Utara.