Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Segala puji serta syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan
rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ilmu Dan
Kaidah Hadits Tentang Rawi Dan Sanad” untuk memenuhi tugas kelompok mata
kuliah Ulum al-Hadits dengan baik.

Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang karyanya
kami kutip sebagai bahan rujukan. Dan kami memohon maaf jika ada kata-kata atau
pembahasan yang keliru. Kami berharap makalah ini dapat menjadi pelajaran dan
menambah wawasan pembacanya.

Karena keterbatasan ilmu maupun pengalaman, kami menyadari bahwa


makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta
kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik serta saran dari
pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang
lebih baik lagi. Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf.

Bandung, 14 November 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................ 3
A. Ilmu Rijal al-Hadits: Thabaqah dan Tarikh al-Ruwah ................... 3
1. Pengertian Ilmu Rijal al-Hadits ................................................
2. Pengertian Thabaqah ................................................................
3. Pengertian Tarikh al-Ruwah.....................................................
4. Macam-Macam Thabaqah ........................................................
B. Ilmu Jarh wa al-Ta’dil ..................................................................... 4
BAB III PENUTUP .................................................................................... 9
A. Kesimpulan ..................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 10
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Hadits merupakan sumber hukum islam kedua setelah al-Quran yang
sangat penting, oleh sebab itu dalam periwayatanya ulama ahli hadits sangatlah
berhati-hati. dan untuk itu banyak sekali ilmu yang membahas tentang
keshahihan hadits, ada yang berdasar sanad, riwayat maupun matan. hal ini
karena semakin memenuhi syarat dalam periwayatan maka semakin baik
kehujjahanya sebagai sumber hukum islam.
Setelah wafatnya Rasulullah terjadilah beberapa peristiwa yang hampir
menjatuhkan umat islam, yaitu pada masa khulafaurrasyidin. dimana timbul
kekacauan yang di akibatkan oleh beberapa peristiwa.
Setelah masa kekhalifahan selesai dan di gantikan dinasti Ummayah,
timbul beberapa golongan fanatik umat islam yang tentu saja mempunyai
kepentingan didalam kelompoknya sehingga mereka diperkirakan telah banyak
membuat hadist-hadist baru atau disebut juga pemalsuan hadits.
Hal inilah yang mendorong ulama’ muhadisin untuk meneliti hadits
secara luas dan cermat. Untuk itulah ulama’ membagi ilmu hadist menjadi dua,
yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah.
Ilmu hadits riwayah adalah kajian mengenai proses penerimaan,
memelihara, menyampaikan kepada orang lain dan mentadwidkan suatu hadist
dalam suatu kitab hadits. Kajian ini tidak membicarakan adanya matan yang
syadz dan ‘illat, maupun sanad yang bersambung atau tidak dan juga tidak
membicarakan tentang sifat para perawi.
Sedangkan ilmu hadits dirayah terutama ilmu mustholah ialah kajian
ilmu yang meneliti matan, sanad dan rawi hadist.
Selanjutnya cabang ilmu dari keduanya jika dilihat dari segi sanad atau
rawi adalah Ilmu Rijal Al Hadist, Ilmu Thabaqah Ar Ruwat Dan Ilmu Jarh Wa
Ta’dil.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian ilmu rijal al-hadits: thabaqah dan tarikh al-ruwah ?
2. Pengertian ilmu jarh wa al-ta’dil ?
3. Apa saja macam-macam pembagian thabaqah shahabat ?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian ilmu rijal al-hadits: thabaqah dan tarikh al-
ruwah.
2. Untuk mengetahui ilmu jarh wa al-ta’dil.
3. Untuk mengetahui macam-macam pembagian thabaqah shahabat.
BAB II
PEMBAHASAN

A. ILMU RIJAL AL-HADITS: THABAQAH DAN TARIKH AL-RUWAH


1. Pengertian Ilmu Rijal al-Hadits

Ilmu Rijal al-Hadits adalah :


‫علم يعرف به رواة الحديث من حيث انهم رواة للحديث‬
“Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitasnya sebagai perawi
hadits”
Ilmu Rijal al-Hadits, dinamakan juga dengan Ilmu Tarikh Ar-Ruwwat (Ilmu
Sejarah Perawi) adalah ilmu yang diketahui dengannya keadaan setiap perawi
hadits, dari segi kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan
darinya, negeri dan tanah air mereka, dan yang selain dari itu yang ada
hubungannya dengan sejarah perawi dan keadaan mereka.
Pertama kali orang yang sibuk memperkenalkan ilmu ini secara ringkas adalah
Al-Bukhari (w.230 H) kemudian Muhammad bin sa’ad (w.230 H) dalam
Thabaqatnya. Kemudian berikutnya Izzuddin Bin al-Atsir(w.630 H) menulis Usud
Al-Ghabah Fi Asma Ash-Shahabah, Ibnu hajar Al-asqalani (w.852 H) yang
menulis Al-Ishabah Fi Tamyiz Ash-shahabah kemudian diringkas oleh as-
suyuthi(w.911 H ) dalam bukunya yang berjudul ‘ayn Al-Ishabah. Al-Wafayat
karya Zabir Muhammad bin Abdullah Ar-rubi (w.379 H).
2. Pengertian Thabaqah

Ilmu thabaqah itu, termasuk bagian dari ilmu rijalul hadis, karena obyek yang
dijadikan pembahasannya ialah rawi-rawi yang menjadi sanad suatu hadis. Hanya
saja masalahnya berbeda. Kalau di dalam ilmu rijalul hadis para rawi dibicarakan
secara umum tentang hal ihwal, biografi, cara-cara menerima dan memberikan Al-
Hadis dan lain sebagainya, maka dalam ilmu thabaqah, penggolongan para perawi
tersebut dalam satu atau beberapa golongan, sesuai dengan alat pengikatnya.
Misalnya rawi-rawi yang sebaya umurnya, digolongkan dalam satu thabaqah dan
para rawi seperguruan, mengikatkan diridalam satu thabaqah.1
Thabaqah secara bahasa berarti hal-hal, martabat-martabat, atau derajat-derajat.
Seperti halnya tarikh, thabaqathjuga adalah bagian dari disiplin ilmu hadits yang

1
Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, (Bandung: PT.Al Ma’arif, 1974), h. 301.
berkenaan dengan keadaan perawi hadits. Namun keadaan yang dimaksud dalam
ilmu thabaqah adalah keadaan yang berupa persamaan para perawi dalam sebuah
urusan. Adapun urusan yang dimaksud, antara lain :
1. Bersamaan hidup dalam satu masa.
2. Bersamaan tentang umur.
3. Bersamaan tentang menerima hadits dari syaikh-syaikhnya.
4. Bersamaan tentang bertemu dengan syaikh-syaikhnya.2
Para ulama membuat ta’rif ilmu thabaqah, ialah:
ِ ‫شت َ ِركُ ِف ْي أ َ ْم ٍر َو‬
.ٍ‫احد‬ ْ َ‫ع ٍة ت‬ ُ ‫ِع ْل ٌم يُ ْبح‬
َ ‫َث ِف ْي ِه ع َْن ك ُِل َج َما‬
“Suatu ilmu pengetahuan yang dalam pokok pembahasannya diarahkan kepada
kelompok orang-orang yang berserikat dalam satu alat pengikat yang sama.”
Misalnya ditinjau dari alat pengikatnya, yaitu penjumpaannya dengan Nabi
(shuhbah), para sahabat termasuk dalam thabaqah pertama, para tabi’in termasuk
dalam thabaqat ketiga dan seterusnya. Dasar penggolongan yang demikian ini,
ialah sabda Rasulullah Saw:
‫ رواه البخارىومسلم‬.‫َخي ُْر ا ْلقُ ُر ْو ِن َق ْر ِنى ث ُ ِم ا َّل ِذ ْينَ َيلُونَ ُه ْم‬
“Sebaik-baik generasi ialah generasiku, kemudian generasi orang-orang yang
mengikutinya dan lalu generasi orang-orang yang mengikutinya dan lalu generasi
orang-orang yang mengikutinya lagi.”3
Dalam pengertian lain, menurut bahasa Thabaqah diartikan kaum yang serupa
atau sebaya. Menurut istilah thabaqat adalah:
.ِ‫سنَاد‬ ِ ْ ‫سنَا ِد أَ ْو فِي‬
ْ ‫اْل‬ ِ ْ ‫س ِن َو‬
ْ ‫اْل‬ َ ‫قَ ْو ٌم ت َ َق‬
ُّ ‫اربُ ْوا ِفى ال‬
Kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam
isnad saja.
Thabaqah adalah kelompok beberapa orang yang hidup dalam satu generasi
atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam
periwayatan saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perhuruan atau satu
guru atau diartikan berdekatan dalam berguru. Jadi para gurunya sebagian
periwayat juga para gurunya sebagian perawi lain. Misalnya thabaqah sahabat,

2
A. Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah Hadits, (Bandung: Diponegoro, 1987), h. 391
3
Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, (Bandung: PT.Al Ma’arif, 1974), h. 301.
thabaqat tabi’in, thabaqat tabi’it tabi’in, dan seterusnya. Kemudian thabaqat
masing-masing ini dibagi-bagi lagi menjadi beberapa thabaqah lagi yang nanti
akan dijelaskan pada pembahasannya.
3. Macam Macam Thabaqah

Ada empat thabaqah yang pokok bagi ruwaat/rijalul (para perawi) hadits, yaitu :
Thobaqah Pertama : Sahabat
Ash-Shahabah merupakan jamak dari Shahabi, dan Shahabi secara bahasa
diambil dari kata Ash- Shuhbah, dan ini digunakan atas setiap orang yang
bershahabat dengan selainnya baik sedikit maupun banyak. Dan Ash-Shahabi
menurut para ahli hadits adalah setiap muslim yang pernah melihat Rasulullah
shallallaahu 'alaihi wasallam meskipun tidak lama pershahabatannya dengan
beliau dan meskipun tidak meriwayatkan dari beliau sedikitpun. Imam Bukhari
berkata dalam Shahihnya,"Barangsiapa yang pernah menemani Nabi shallallaahu
'alaihi wasallam atau melihatnya di antara kaum muslimin, maka dia termasuk dari
shahabat-shahabat beliau".
Ibnu Ash-Shalah berkata,"Telah sampai kepada kami dari Abul- Mudlaffir As-
Sam'ani Al-Marwazi, bahwasannya dia berkata : Para ulama hadits menyebut
istilah shahabat kepada setiap orang yang telah meriwayatkan hadits atau satu kata
dari beliau shallallaahu 'alaihi wasalla, dan mereka memperluas hingga kepada
orang yang pernah melihat beliau meskipun hanya sekali, maka ia termasuk dari
shahabat. Hal ini karena kemuliaan kedudukan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,
dan diberikanlah julukan shahabat terhadap setiap orang yang pernah melihatnya".
Dan dinisbatkan kepada Imam para Tabi'in Sa'id bin Al-Musayyib perkataan :
"Dapat dianggap sebagai shahabat bagi orang yang pernah tinggal bersama
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam setahun atau dua tahun, dan ikut
berperang bersamanya sekali atau dua kali peperangan". Ini yang dihikayatkan
para ulama ushul- fiqh. Akan tetap Al-'Iraqi membantahnya,"Ini toadk benar dari
Ibnul-Musayyib, karena Jarir bin Abdillah Al-Bajali termasuk dari shahabat,
padahal dia masuk Islam pada tahun 10 Hijriyah. Para ulama juga menggolongkan
sebagai shahabat orang yang belum pernah ikut perang bersama beliau, termasuk
ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam wafat sedangkan orang itu masih
kecil dan belum pernah duduk bersamanya".
Ibnu Hajar berkata,"Dan pendapat yang paling benar yang aku pegang,
bahwasannya shahabat adalh seorang mukmin yang pernah berjumpa dengan
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan mati dalam keadaan Islam, termasuk
di dalamnya adalah orang yang pernah duduk bersama beliau baik lama atau
sebentar, baik meriwayatkannya darinya atau tidak, dan orangyang pernah melihat
beliau shallallaahu 'alaihi wasallam walaupun sekali dan belum pernah duduk
dengannya, dan termasuk juga orang yang tidak melihat beliau shallallaahu 'alaihi
wasallam karena ada halangan seperti buta"
(Lihat Shahih Al-Bukhari tentang kutamaan para shahabat, Ulumul-Hadiits oleh
Ibnu Shalah halaman 263 , Al-ba'itsul-Hatsits halaman 179 , Al-Ishabah 1 /4 ,
Fathul-Mughits 4 /29 . dan Tadriibur-Rawi halaman 396).
1) Thobaqah Kedua : At Taabi’un
2) Thobaqah Ketiga : Atbaa’ut Taabi’in
3) Thobaqah Keempat : Taba’ul Atbaa’
Tingkatan-tingkatan thobaqot yang ada dalam ilmu-ilmu hadis itu terbagi atas
beberapa bagian diantaranya :
1. Thobaqot yang pertama : para shahabat (‫)الصحابة‬
2. Thobaqot yang kedua : thobaqot kibar tabi’in (‫)كبار التابعين‬, seperti sa’id bin al-
musayyib, dan begitu pula para mukhodhrom. Mukhodhrom (‫ )المخضرم‬: orang
yang hidup pada zaman jahiliyyah dan islam, akan tetapi ia tidak pernah
melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman.
Misalnya : seseorang masuk islam pada zaman rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, akan tetapi ia tidak pernah bertemu rasulullah karena jauhnya jarak
atau udzur yang lain. Atau seseorang yang hidup sezaman dengan rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ia belum masuk islam melainkan
setelah wafatnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Thobaqot ketiga : thobaqot pertengahan dari tabi’in (‫)الطبقة الوسطى من التابعين‬,
seperti al-hasan (al-bashri, pent) dan ibnu sirin, dan mereka adalah (berada
pada) thobaqot yang meriwayatkan dari sejumlah shahabat nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam.
4. Thobaqot keempat : tabi’in kecil (‫)صغار التابعين‬, mereka merupakan thobaqot
yang sesudah thobaqot yang sebelumnya (thobaqot ke-3). Kebanyakan
riwayat mereka adalah dari kibar tabi’in (thobaqot ke-1). Rowi yang dalam
thobaqot ini contohnya adalah az-zuhri dan qotadah.
5. Thobaqot kelima : thobaqot yang paling kecil dari tabi’in ( ‫الطبقة الصغرى من‬
‫)التابعين‬, mereka adalah yang lebih kecil dari yang thobaqot-thobaqot tabi’in
yang sebelumnya. Dan mereka adalah termasuk tabi’in, mereka melihat
seorang atau beberapa orang shahabat. Contoh thobaqot ini adalah musa bin
‘uqbah dan al-a’masy.
6. Thobaqot keenam : thobaqot yang sezaman dengan thobaqot ke-5 ( ‫عاصروا‬
‫)الخامسة‬, akan tetapi tidak tetap khobar bahwa mereka pernah bertemu seorang
shahabat seperti ibnu juraij.
7. Thobaqot ketujuh : thobaqot kibar tabi’ut tabi’in (‫)كبار أتباع التابعين‬, seperti
malik dan ats-tsauri.
8. Thobaqot kedelapan : thobaqot tabi’u tabi’in pertengahan ( ‫الوسطى من أتباع‬
‫)التابعين‬, seperti ibnu ‘uyainah dan ibnu ‘ulaiyyah.
9. Thobaqot kesembilan : thobaqot yang kecil dari tabi’ut tabi’in ( ‫الصغرى من أتباع‬
‫)التابعين‬, seperti yazid bin harun, asy-syafi’i, abu dawud ath-thoyalisi, dan
abdurrozzaq.
10. Thobaqot kesepuluh : thobaqot tertinggi yang mengambil haditsnya dari
tabi’ut taabi’in (‫ )كبار اْلخذين عن تبع اْلتباع‬yang mereka tidak bertemu dengan
tabi’in, seperti ahmad bin hanbal.
11. Thobaqot kesebelas : thobaqot pertengahan dari rowi yang mengambil hadits
dari tabi’ut tabi’in (‫)الوسطى من اْلخذين عن تبع اْلتباع‬, seperti adz-dzuhli dan al-
bukhori.
12. Thobaqot keduabelas : thobaqot yang rendah dari rowi yang mengambil hadits
dari tabi’ut tabi’in (‫)صغار اْلخذين عن تبع اْلتباع‬, seperti at-tirmidzi dan para imam
yang enam lainnya yang tertinggal sedikit dari wafatnya para tabi’ut tabi’in,
seperti sebagian para syaikh-nya an-nasa’i.4
Adapun ulama yang membagi thabaqah shahabah kepada lima thabaqah, tersusun
sebagai berikut:
1. Ahli Badar.
2. Mereka yang masuk Islam lebih dulu, berhijrah ke Habsyi dan menyaksian
pertemuan-pertemuan sesudahnya.
3. Mereka yang ikut perang Khandaq.
4. Wanita-wanita yang masuk Islam, setelah mekah terkalahkan dan sesudahnya.
5. Anak-anak.5

4
al-Maktabah asy-Syamilah v.2
5
Manhaj Dzawi’n Nadhar. At-Turmusy. Hlm. 221; Ulumul Hadits, Prof.Tm. hasbi Ash-Shiddieqy.
B. ILMU JAHR WA AL-TA’DIL
1. Pengertian Ilmu Jahr wa al-Ta’dil

Kata Al-Jarh (‫ )الجرح‬merupakan bentuk dari kata Jaraha-Yajrahu ( - ‫جرح‬


‫ )يجرح‬atau Jariha-Yajrahu (‫ يجرح‬- ‫ )جرح‬yang berarti cacat atau luka,6 atau
seseorang membuat luka pada tubuh orang lain yang ditandai dengan
mengalirnya darah dari luka itu.7 Sedangkan kata Al-Ta’dil (‫ )التعديل‬merupakan
akar kata dari ‘Addala-Yu’addilu (‫ يعدل‬- ‫ )عدل‬yang berarti mengadilkan,
menyucikan, atau menyamakan.8 Dengan demikian, ilmu Al-Jarh wa
Ta’dil secara etimologis berarti ilmu tentang kecacatan dan keadilan perawi
hadis.

Secara terminologis, Muhammad ‘Ajjaj Al-Khatib mendefinisikan Al-


Jarh sebagai berikut:
‫ظهور وصف في الراوي يثلم عدالته او يخل بحفطه و ضبته مما يتر تب عليه سقوط روايته او ضعفه‬
‫و ردها‬
“Nampaknya suatu sifat pada seorang perawi yang dapat merusak nilai
keadilannya atau melamahkan nilai hafalan dan ingatan, yang karena sebab
tersebut gugurlah periwayatannya atau ia dipandang lemah dan tertolak”.9
Sedangkan Al-Ta’dil didefinisikan sebagai berikut:
‫تز كية الراوي الحكم عليه بانه عدل او ضابط‬
“Membersihkan seorang rawi dan menetapkannya bahwa ia adalah seorang
yang adil atau dhabit”.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kajian ‘Ilmu Jarh
wa Ta’dil terfokus pada penelitian terhadap perawi hadis, sehingga diantara
mereka dapat dibedakan antara perawi yang mempunyai sifat-sifat keadilan
atau kedhabit-an dan yang tidak memilikinya. Dengan tidak memiliki kedua

6 Anis Ibrahim, Al-Mu’jam Al Wasith, (Kairo: TPN, 1972) dikutip dari: Abduh Almanar, Studi Ilmu Hadis, (Jakarta:
gaung Persada Press, 2011), hal. 110
7 Ajjaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadis Ulumuhu wa Mushthalahuhu, (Beirut: Darul Fikr, 1989) dikutip dari: Abduh

Almanar, Studi Ilmu Hadis, (Jakarta: gaung Persada Press, 2011), hal. 111
8 Anis Ibrahim, Al-Mu’jam Al Wasith, (Kairo: TPN, 1972) dikutip dari: Abduh Almanar, Studi Ilmu

Hadis, (Jakarta: gaung Persada Press, 2011), hal. 110


9 Ajjaj Al-Khathib, Ushul Al-Hadis Ulumuhu wa Mushthalahuhu, (Beirut: Darul Fikr, 1989) dikutip dari: Abduh

Almanar, Studi Ilmu Hadis, (Jakarta: gaung Persada Press, 2011), hal. 111
sifat-sifat itu, maka hal tersebut merupakan indicator akan kecacatan perawi
dan secara otomatis periwayatannya tertolak. Sebaliknya bagi perawi yang
memiliki kedua sifat-sifat di atas, secara otomatis pula ia terhindar dari
kecacatan dan berimplikasi bahwa hadis yang diriwayatkannya dapat
diterima.

Tentang kriteria keadilan atau ke-dhabit-an perawi, Al-Khatib Al-


Baghdadi, misalnya menyebutkan sebagai berikut: Keadilan dan ke-dhabit-an
meliputi (1) Al-shodiq, kejujuran, (2) Al-Syarifah bi Thalab Al-Hadis, terkenal
dalam pencarian hadits, (3) Tark Al-Bida’, jauh dari praktek Bid’ah, dan (4)
Ijtinab Al-Kabair, bukan pelaku dosa-dosa besar.10

10
Al-Baghdadi, Al-Kifayah fi ilmi Al-Riwayah, (India: Dairatul al-Ma’arif al-Utsmaniyah, 1988)
dikutip dari: Abduh Almanar, Studi Ilmu Hadis, (Jakarta: gaung Persada Press, 2011), hal. 112
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Ilmu Rijalul Hadits yaitu ilmu yang membahas para rawi hadits, baik dari
kalangan sahabat, tabi’in, maupun dari generasi-generasi sesudahnya. Dengan kata
lain Ilmu Rijalul Hadits merupakan ilmu yang membahas tentang kehidupan dan
atau sejarah hidup para periwayat hadits dari semua generasi pada setiap
thabaqahnya.
Ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil merupakan cabang-cabang ilmu hadits yang
membahas tentang para periwayat hadits, supaya dapat diketahui cacat dan
tidaknya, adil dan tidaknya seorang periwayat hadits, sehingga dapat diterima
riwayatnya atau bahkan ditolak riwayatnya secara keseluruhan.
Hubungan antara Ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil dengan Ilmu Rijalul Hadits
merupakan cabang ilmu hadits yang sama pentingnya dalam menentukan
kebenaran suatu hadits serta saling berkaitan satu dengan yang lainnya, bahkan
bisa dikatan ilmu al-jarh wa at-ta’dil merupakan bagian dari ilmu rijalul hadits,
begitupun sebaliknya. Hal ini dapat dilihat dari kesamaan pembahasannya yaitu
tentang periwayat hadits yang masuk dalam sanad hadits.
DAFTAR PUSTAKA
Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, (Bandung: PT.Al Ma’arif, 1974), h.
301.
http://tafsirhaditsuinsgdbdgangkatan2009.blogspot.com/2014/02/ilmu-rijalil-hadits-
tarikh-al.html
http://akulahakuhadifreedom.blogspot.com/2016/12/ilmu-thabaqah-ar-ruwah.html
http://novarmandahari12.blogspot.com/2013/06/a-pengertian-ilmu-al-jarh-wa-al-
tadil.html