Anda di halaman 1dari 49

Lampiran II 90

Keputusan Direktur J enderal PP dan PL


Nomor : HK.03.05/ D/ I.4/ 2012
Tanggal : 2012

TUGAS TIM PENYUNTING DAN PENYUSUN PEDOMAN


PENGENDALIAN HEPATITIS VIRUS DI INDONESIA
PEDOMAN PENGENDALIAN
a. Melakukan pengumpulan dan pengelolaan referensi dalam rangka penyu su nan
Pedoman Pengendalian Hepatitis Viru s di
HEPATITIS VIRUS
Indonesia;
b. Melakukan penyusunan rancangan Pedoman Pengendalian
Hepatitis Virus di Indonesia;
c. Menyiapkan dan melaksanakan pembahasan Pedoman
Pengendalian Hepatitis Virus di Indonesia
d. Menyiapkan dan melaksanakan finalisasi penyusunan Pedoman
Pengendalian Hepatitis Virus di Indonesia; dan,
e. Melakukan penyuntingan terhadap Pedoman Pengendalian
Hepatitis Virus di Indonesia

Direktur J enderal PP dan PL

Prof.dr.Tjandra Yoga Adit am a


Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE
NIP: 195509031980121001
DIREKTORAT J ENDERAL PP & PL KEMENTERIAN
KESEHATAN RI TAHUN 2012
11. Dr.dr. Julitasari Sundoro, MSc-PH
12. dr. Rossa Avrina
13. dr. Sukmawati Dunuyaali

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


14. dr. Ignatius Bima Prasetya
15. dr. Anandhara Indriani
16. dr. Karnely Herlena, M.Epid
17. Agus Handito, SKM, M.Epid18. dr. Marolop Binsar Silaen
retariat : 1. Arman Zubair, S.Sos
2. Muhamad Purwanto, SKM

anisasi
fesi : 1. PPHI (Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia)
2. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

Direktur J enderal PP dan PL

Prof.dr.Tjandra Yoga Adit am a


Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE
NIP: 195509031980121001

89

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


Lampiran I Hepatitis m asih m eru pakan m asalah keseh atan m asyarakat di
Keputusan Direktur J enderal PP dan PL Indonesia terutama Hepatitis A sering muncul dalam bentuk Kejadian Luar Biasa
Nomor : HK.03.05/ D/ I.4/ 2012 (KLB) yang sangat meresahkan masyarakat. Sementara Hepatitis B dan C
Tanggal : 2012 seringkali diketahui apabila sudah terjadi sirosis atau kanker hati
(Hepatocarcinoma Celluler). Sesuai dengan resolusi WHA ke 63 tahu n 2010,
Indonesia dan Brazil meru pakan negara yang berinisiatif mengu su lkan atau
SUSUNAN TIM PENYUNTING DAN PENYUSUN PEDOMAN ditetapkannya resolu si WHA tersebut, yang isinya bahwa sudah saatnya negara-
PENGENDALIAN HEPATITIS VIRUS DI INDONESIA negara di dunia mulai melaksanakan pengendalian dan penanggulangan Hepatitis.
Un tu k m en in dak lan ju ti resolu si WHA tersebu t perlu disu su n pedom an Pen
Penasehat : Direktur J enderal PP dan PL gen dalian Hepatitis, sebagai acu an bagi petu gas kesehatan, baik di rumah sakit
maupun di Puskesmas.
Pengarah :
1. Sekretaris Direktorat J enderal PP dan PL
Pu ji s yu k u r k eh a d ira t Alla h SWT b a h wa k a m i tela h d a p a t m en
2. Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsu ng
yelesaikan pen yu su n an Pedom an Pen gen dalian Hepatitis. Pedoman ini disu su
Ketua : n melalu i beberapa tahapan kegiatan seperti penelu su ran referensi, penyu su nan
Kepala Subdit Diare & ISP draf, u ji coba, sem inar dan dibahas dengan para ahli Hepatology yang berasal dari
Ketu a Kom ite Ah li Dia re, Hep a titis d a n ISP, berbagai fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan di Indonesia untuk
Kementerian Kesehatan memperkaya pedoman pengendalian Hepatitis ini.
Ketua Bidang Hepatitis Komite Ahli Diare, Hepatitis dan ISP,
Kementeri Kesehatan. Terim a kasih saya sam paikan kepada sem u a pih ak yan g telah membantu
Penyunting : menyelesaikan penyusunan buku pedoman Pengendalian Hepatitis Viru s ini. Saya
1. Prof.dr.David Handojo Muljono, Ph. D, SpPD
berharap agar bu ku pedoman ini dapat bermanfaat bagi pengendalian penyakit
2. dr. Nyoman Kandun, MPH
Hepatitis di Indonesia.
3. Dr. dr.Rino A. Gani, SpPD – KGEH
4. dr. Irsan Hasan, SpPD – KGEH
5. Dr. dr.Hanifah Oswari SpA (K)
Penyusun : 1. Prof.dr.David Handojo Muljono, Ph. D, SpPD
2. dr. Nyoman Kandun, MPH Direktur J enderal Pengendalian Penyakit dan
3. Prof.dr. Ali Sulaiman, SpPD – KGEH Penyehatan Lingkungan
4. Dr. dr.Rino A. Gani, SpPD – KGEH
5. Dr. dr.Hanifah Oswari SpA (K)
6. dr. Irsan Hasan, SpPD – KGEH
7. drg. Rini Noviani Prof. dr. Tjandra Yoga Adit am a NIP
8. dr. Yullita Evarini Yuzwar, MARS 195509031980121001 sektor, serta para
9. dr. Armaji Kamaludin Syarif pakar/ ah li dan in stan si lain yang relevan.
10. dr. Rini Rohaeni Keempat : Tim bertanggung jawab kepada Direktur J enderal
88 Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan melalu i
Direktu r Pengendalian Penyakit Menu lar Langsu ng serta
KATA PENGANTAR
menyampaikan laporan kegiatan secara berkala setiap 1 (satu)
bulan.

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus i


ma : NIP: 195509031980121001
Segala biaya yang timbul akibat pelaksanaan tugas Tim
dibebankan pada DIPA Direktorat Pengendalian
Penyakit Menular Langsung Tahun Anggaran 2012.
nam : Kep u tu s a n in i m u la i b er la k u p a d a ta n gga l
ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta Pada Tanggal :

Direktur J enderal PP dan PL

87
Prof.dr.Tjandra Yoga Adit am a
Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE
1 5 . Kep u tu s a n Men teri Kes eh a ta n RI Nom or 1 1 4 4 /
ME NKE S / PE R/ VIII/ 2 0 1 0 , ten ta n g
Or ga n is a s i d a n Ta ta Ker ja Kem en ter ia n
Kesehatan RI;

16. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor


1438/ MENKES/ PER/ IX/ 2010, tentang Standar
Pelayanan Kedokteran;

1 7 . Per a tu r a n Men ter i Kes eh a ta n RI Nom or 1501/


MENKES/ PER/ X/ 2010, tentang J enis
Pen ya k it Men u la r ter ten tu ya n g d a p a t
Men im b u lk a n Wa b a h dan Up a ya
Penanggu langan;’

18. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 021/ MENKES/


SK/ I/ 2011, ten tan g Ren can a S tr a tegis Kem en ter ia
n Kes eh a ta n Ta h u n
2010-2014;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KE P UTUS AN DIR E KTUR J E NDE R AL
PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN

ii Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


LINGKUNGAN TENTANG TIM PENYUNTING DAN
P E NYUS UN P E DOMAN P E NGE NDALIAN
HEPATITIS VIRUS DI INDONESIA
Kesatu : Susunan Tim Penyusun dan Penyunting Pedoman
Pen gen dalian Hepatitis Viru s di In don esia in i
terlampir dalam keputusan.
Kedua : Tim sebagaimana dimaksud pada dictum kesatu
memiliki tu gas yang terlampir dalam kepu tu san
ini.
Ketiga : Dalam melaksanakan tugasnya, Tim bekerja sama
dan berkoordinasi dengan lintas program, lintas
86
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................. i


DAFTAR ISI ......................................................................... iii
DAFTAR ISTILAH ................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN ................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................ 1
B. Tujuan ........................................................ 2
C. Sasaran....................................................... 3
D. Dasar Hukum ............................................. 3
E. Kebijakan .................................................... 5
F. Strategi ....................................................... 6
G. Kegiatan ...................................................... 6
BAB II ANALISIS SITUASI .......................................... 9
Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus
Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus
iii
A. Beban Penyakit ........................................... 9
B. Kondisi Lingkungan .................................... 12
C. Perilaku Berisiko ......................................... 12
D. Sosial Ekonomi ........................................... 13
E. Landasan Hukum ....................................... 14
F. Analisis S-W-O-T ......................................... 14
G. Hasil Analisis Situasi .................................. 16
BAB III HEPATITIS AKIBAT VIRUS.............................. 19
A. Hepatitis A ................................................. 19
B. Hepatitis B .................................................. 23
C. Hepatitis C .................................................. 28
D. Hepatitis D .................................................. 32
E. Hepatitis E .................................................. 33
BAB IV SURVEILANS EPIDEMIOLOGI ........................ 37
A. Epidemiologi................................................ 37
1. Hepatitis A ............................................ 37
2. Hepatitis B ............................................ 37
3. Hepatitis C ............................................ 38
4. Hepatitis Delta (D) ................................. 39
5. Hepatitis E ............................................ 39
B. Surveilans Hepatitis .................................... 40
C. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) Hepatitis A 41
D. Kejadian Luar Biasa (KLB)........................... 42
1. Penetapan KLB...................................... 42
2. Penyelidikan Epidemiologi ..................... 43
3. Langkah-langkah Penyelidikan

iv Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


Epidemiologi.......................................... 43 7. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara
Repu blik In don esia Tah u n 1996 Nom or 49,
4. Upaya Penanggulangan KLB ................. 45
Ta m b a h a n Lem b a r a n Nega r a Rep u b lik
5. Pemutusan Rantai Penularan ................ 45 Indonesia Nomor 3637);

BAB V PENGEMBANGAN PROGRAM........................... 47 8. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kes
A. Penapisan Hepatitis B Pada Ibu Hamil ........ 47 eh a ta n (Lem b a r a n Nega r a Rep u b lik Indonesia tahun 1998 Nomor 138, Tambahan
B. Penapisan dan Pencegahan Penularan Hepatitis B pada Lembaran Negara Repu blik Indonesia Nomor
Keluarga atau Orang yang 8781);
Tinggal Serumah dengan Penderita
Hepatitis B .................................................. 49 9. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010, ten ta n g Ren ca n a Pem b a n gu n a n J a n gk a
C. Penapisan dan Pencegahan Penularan Menengah Nasional Tahun 2010-2014;
Hepatitis B pada Tenaga Medis ................... 50
10. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor1457/ MENKES/ SK/ X/ 2003, tentang Standar Pela ya n
D. Penapisan dan Pencegahan Penularan
a n Min im a l Bida n g Kes eh a ta n di Kabu paten/ Kota;
Hepatitis B pda PSK, Orang dengan Pasangan
Seksual Multipel, dan IVDU ........................ 51
11. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
E. Penapisan dan Pencegahan Penularan
1 1 1 6 / ME NKE S / S K/ VIII/ 2 0 0 3 , ten ta n g
Hepatitis B pada Populasi Umum ................ 53
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Su rveilans
F. Profilaksis Pasca Pajanan Hepatitis B.......... 54 Epidemiologi Kesehatan;
G. Terapi Penderita Hepatitis B ........................ 54 12. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor1 4 7 9 / ME NKE S/ SK/ X/ 2 0 0 3 , ten ta n g
H. Aspek Legal pada Hepatitis B ...................... 55 Pen yelen gga ra a n Su rveila n s Ep id em iologi
Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular;
BAB VI PEMANTAUAN DAN EVALUASI ........................ 57
13. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor949/ MENKES/ SK/ VIII/ 2004, tentang Sistem
A. Pemantauan ................................................ 57
Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa;
1. Pengertian ............................................. 57
14. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor206/ MENKES/ SK/ II/ 2008, tentang Komite Ahli
2. Tujuan .................................................. 57 Pen gen d a lia n Pen ya k it In fek s i S a lu r a n Pencernaan;
3. Kegiatan Yang Dipantau ........................ 57
4. Alat Pantau ........................................... 60 85

5. Cara Pemantauan ................................. 60


B. Evaluasi ...................................................... 60
1. Pengertian ............................................. 60

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus v


2. Tujuan .................................................. 60
3. Cara Evaluasi........................................ 61

BAB VII SARANA............................................................ 63


A. Perencanaan Kebutuhan ............................. 63
1. Reagen/Bahan Pemeriksaan Untuk
Penegakan Diagnosis ............................. 63
a. Hepatitis A ..................................... 63
b. Hepatitis B ..................................... 63
c. Hepatitis C ..................................... 65
2. Penyediaan Obat ................................... 65
3. Media KIE ............................................. 66
B. Penganggaran.............................................. 66
1. Pusat..................................................... 66
2. Daerah .................................................. 67

BAB VIII PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM


PENGENDALIAN HEPATITIS .......................... 69
A. Pusat........................................................... 69
B. UPT Pusat (BBTKL, BTKL, KKP)................... 69
C. Propinsi....................................................... 70
D. Kabupaten/Kota ......................................... 70
E. Unit Pelayanan Kesehatan ........................... 70
1. Puskesmas ............................................ 70
2. Rumah Sakit ......................................... 71
3. Klinik dan Praktek Swasta .................... 71
F. Organisasi Profesi ....................................... 71
G. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan
Organisasi Masyarakat Peduli Penyakit

vi Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


Mengingat : 1. Un dan g-u n dan g Repu blik In don esia No.4 Tahun 1984, tentang Wabah Penyakit Hepatitis ..................................................... 71
menular
H. Akademi/Perguruan Tinggi ......................... 72
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 No. 20 Ta m ba h a n Lem
ba ra n Nega ra Republik Indonesia Nomor : 327; KONTRIBUTOR .......................................................... 73

2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang LAMPIRAN


Pem erintah Daerah (Lem baga Negara Tahu n 2004 Nomor 125, Tambahan Form 1 Formulir Penyaringan Penderita Hepatitis
Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Tahap Awal ................................................... 75
Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Pen etapan Peratu ran Pem erin tah Form 2A Formulir Penyaringan Penderita Hepatitis
Pen ggan ti Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Peru bah an atas Un Tahap Lanjutan Diagnosa Klinis Hepatitis
dan g-u n dan g Nom or 32 Ta h u n 2 0 0 4 Ten ta n g Pem erin ta h Da era h dan HBsAg Positif ......................................... 76
(Lem baran Negara Tah u n 2005 Nom or 108 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548);

3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29


Ta h u n 2004 ten ta n g Pra ktek Kedoktera n (Lembaran Negara Repu blik Indonesia Tahu n 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4431);

4. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kes eh a ta n (Lem b a r a n Nega r a Rep u b lik
Indonesia Tahun 2009, Nomor 144 Tambahan
Lem ba ra n Nega ra Repu blik In don es ia
Nomor 5063);

5. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009, tentang Rumah Sakit;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991, ten ta n g Pen a n ggu la n ga n Wa b a h Pen ya k it Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991
Nomor 49, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3447);

84
From 2B Formulir Penyaringan Penderita Hepatitis Tahap Lanjutan
Diagnosa Klinis Bukan
Hepatitis dan HBsAg Positif .......................... 77
Form 3 Formulir Pemantauan Pengobatan Penderita
Hepatitis ....................................................... 78
Form 4 Formulir Pemantauan Hepatitis .................... 79

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus vii


81 KEPUTUSAN DIREKTUR J ENDERAL
DAFTAR PUSTAKA.............................................................
PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN NOMOR : HK.03.05/ III.4/
KEPUTUSAN DIREKTUR J ENDERAL PP DAN PL 1615/ 2012
TENTANG TIM PENYUNTING & PENYUSUN PEDOMAN
TENTANG
PENGENDALIAN HEPATITIS VIRUS DI INDONESIA ......... 83
TIM PENYUNTING DAN PENYUSUN
PEDOMAN PENGENDALIAN HEPATITIS VIRUS DI INDONESIA

DIREKTUR J ENDERAL
PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN,

Menimbang : a. bahwa hingga saat ini Hepatitis A, B, dan C masih menjadi masalah
kesehatan dunia yang serius termasuk di Indonesia karena
berpotensi
m en im b u lk a n d a m p a k m or b id ita s d a n m
oralitas, dan m em erlu kan perh atian dari berbagai pihak,
baik dari pemerintah, lembaga non pemerintah, maupun
masyarakat;

b. bahwa dalam rangka menurunkan angka kes a kita n da n


kem a tia n ka ren a Hepa titis perlu dilaku kan u paya pen
gen dalian yan g k om p r eh en s if, ter in tegr a s i, d a n
berkesinambu ngan;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud


pada huruf a dan b, perlu menyusun Pedoman tentang
Pengendalian Hepatitis Virus di Indonesia;

d. bahwa bersadarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud


pada huruf c, perlu membentuk Tim Penyusun
Rancangan Pedoman Pengendalian Hepatitis Viru s di
Indonesia yang ditetapkan d en ga n Kep u tu s a n Dir ek
tu r J en d er a l
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingku ngan;

83

viii Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


Departem en Keseh atan RI Direktorat J en deral Pem beran tasan Penyakit Menu lar dan Hepat it is
Penyehatan Lingku ngan Tahu n 2004,
VHA : Virus Hepatitis A
Kepu tu san Menteri Kesehatan RI No.1116/ MENKES/ SK/ VIII/ 2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan. VHB : Virus Hepatitis B

Departem en Keseh atan RI Direktorat J en deral Pem beran tasan Penyakit Menu lar dan VHC : Virus Hepatitis C
Penyehatan Lingku ngan Tahu n 2004, Buku Pedoman Penyelidikan Dan VHD : Virus Hepatitis D
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB).
VHE : Virus Hepatitis E
Kem en terian Keseh atan RI, Direktorat J en deral Pen gen dalian Penyakit dan Penyehatan
Lingku ngan Tahu n 2011, Peratu ran HBsAg : Hepatitis B surface Antigen
Menteri Kesehatan RI No. 1502/ Menkes/ Per/ X/ 2010 tentang HBcAg : Hepatitis B core Antigen
J en is Pen yakit Men u lar Terten tu Yan g Dapat Men im bu lkan Wabah dan Upaya
Penanggulangan HBeAg : Hepatitis B envelope Antigen
LFT : Liver Function Test ( Test Fungsi Hati )
Kem en terian Keseh atan RI, Direktorat J en deral Pen gen dalian Pen ya kit da n Pen yeh a
ta n Lin gku n ga n Ta h u n 2011, Bu ku AST : Asparlate Aminotransferase
Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan
Keracunan Pangan (Pedoman Epidemiologi Penyakit), Edisi Revisi Tahun 2011. ALT : Alanine Aminotransferase
Anti HBs : Antibody to Hepatitis B surface antigen
IgM anti-HBc : Immunoglobulin M. anti to Hepatitis B core
IgG anti-HBc : Immunoglobulin G. anti to Hepatitis B core
Anti-HBe : Antibody to Hepatitis B envelope
HBIG : Hepatitis B Immunoglobulin
HIV : Human Imunodeficiency Virus
Oro-fecal/fecal-oral : Penularan dari tinja ke mulut
Masa Inkubasi : Masa antara masuknya kuman penyakit dan munculnya
gejala
CTPS : Cuci Tangan Pakai Sabun
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
MSM : Man Sex Man (hubungan sex antara laki-laki dengan
laki-laki)
IDUs : Injection Drug Users (Pengguna obat terlarang dengan
cara suntik)
82 KLB : Kejadian Luar Biasa
Morbiditas : Angka Kesakitan
DAFTAR ISTILAH
Mortalitas : Angka Kematian

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus ix


Departem en Keseh atan RI Direktorat J en deral Pem beran tasan
Penyakit Menu lar dan Penyehatan Lingku ngan Tahu n 2004,
Isolasi : Dila k u k a n ter h a d a p p en d er ita , d en ga n Peraturan Menteri Kesehatan RI No.949/ MENKES/ SK/ VIII/
memisahkan penderita dengan orang sehat untuk 2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan
mencegah dan mengurangi terjadinya p en u la ra n b a Dini Kejadian Luar Biasa (KLB).
ik la n gs u n g m a u p u n tid a k langsu ng.
Departem en Keseh atan RI Direktorat J en deral Pem beran tasan
Karantina : Pem batasan kegiatan pen derita, dicu rigai penderita Penyakit Menu lar dan Penyehatan Lingku ngan Tahu n 2004,
atau orang yang telah kontak dengan penderita selama Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1479/ MENKES/ SK/ X/
masa penularan. 2003 ten tan g Pedom an Pen yelen ggaraan Su rveilan s Epidem
SWOT : Str en gth Wea k n es s Op p or tu n ity Th r ea t (Analisa iologi Penyakit Menular Dan Penyakit Tidak Menular Terpadu.
berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang dan
Ancaman)
81
WHA : World Health Assembly
WHD : World Hepatitis Day (Hari Hepatitis Sedunia,
diperingati setiap tanggal 28 J uli).
Insidens rate : Proporsi an tara ju m lah pen derita den gan jumlah
penduduk
DAFTAR PUSTAKA

http://www.who.int/mediacentre/factasheets/fs328/en/index.html. Hepatitis A.

Wurie,IM, Wurie, AT, Gevao,SM. Sero-prevalence of Hepatitis B virus among middle to


high-socio economic antenatal population in Sierra Leone. WAJ M Vol 24
No.1, J anuary – March, 2005.

Yosh ida T et all. Epidem iological In vestigation an d An alysis of Hepatitis A Viru s


Genomes in the Three Cases of Hepatitis of Hep a titis A In fection s Th a t Occu red in
Ap ril-Ma y 2 0 1 0 . J pn.J .Infect. Dis., 64, 2011.

Um id M. Sh a ra p ov US-CDC, h ttp :/ / wwwn c.cd c.gov/ tra vel/ yellowbook/ 2012/


chapter-3-infectious-disease-related-to travel/ Hepatitis-a.htm. Hepatitis A.

Goldstein GS, Th e In flu en ce of Socioecon om ic Factors On Th e Distribution of Hepatitis


In Syracuse N.Y.: Vol.49, No.4, A.J .P.H. Hepatitis A, Fact sheet No 328, May 2008.

Chin J , Kandun IN, Manual Pemberantasan Penyakit Menular, Ed 17 tahun 2000.

x Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara
berkembang di du nia, termasu k di Indonesia. VHB telah menginfeksi
sejumlah 2 milyar orang di dunia dan sekitar 240 juta merupakan pengidap
virus Hepatitis B kronis, penderita
Hepatitis C di du nia diperkirakan 170 ju ta orang dan sekitar 1 .5 0 0 .0 0 0 p
en d u d u k d u n ia m en in gga l s etia p ta h u n n ya disebabkan oleh infeksi
VHB dan VHC. Indonesia meru pakan negara dengan pengidap Hepatitis B
nomor 2 terbesar sesudah Myanmar diantara negara-negara anggota WHO
SEAR (South East
Asian Region). Sekitar 23 juta penduduk Indonesia telah terinfeksi
Hepatitis B dan 2 ju ta orang terinfeksi Hepatitis C. Penyakit Hepatitis A sering
muncul dalam bentuk KLB seperti yang terjadi di beberapa tempat di
Indonesia.
Menurut hasil Riskesdas tahun 2007, hasil pemeriksaan Biomedis dari 10.391
sampel seru m yang diperiksa, prevalensi HBsAg positif 9.4% yang berarti
bahwa diantara 10 pendu du k di Indonesia terdapat seorang penderita
Hepatitis B virus.
Pada tanggal 20 Mei 2010 World Health Assembly (WHA) dalam sida n gn ya
ya n g ke 63 di Gen eva tela h m en yetu ju i u n tu k mengadopsi Resolusi
WHA 63.18 tentang Hepatitis Virus, yang menyerukan semua negara anggota
WHO untuk melaksanakan p en cega h a n d a n p en a n ggu la n ga n h ep a
titis viru s s eca ra komprehensif. Sebagai pemrakarsa resolusi ini adalah tiga
negara anggota WHO, yaitu Indonesia, Brazil dan Colu mbia. Dalam resolusi
ini, ditetapkan tanggal 28 J uli menjadi Hari Hepatitis Sedu nia atau World
Hepatitis Day. Peringatan hari Hepatitis S ed u n ia b er m a k s u d u n tu k m
en in gk a tk a n k ep ed u lia n pemerintah, masyarakat dan semua pihak
terhadap pengendalian p en ya k it Hep a titis . Da la m res olu s i ters eb u t,
WHO a k a n m en yed ia k a n b a n tu a n b a gi n ega r a b er k em b a n g d
a la m

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 1


80
pengembangan strategi nasional, program surveilans yang efektif, pengembangan vaksin dan pengobatan yang efektif.
Memperhatikan pentingnya isu ini dan telah diterimanya resolusi Hepatitis virus oleh WHO, dalam pertemuan WHA ke
63 tersebut di atas, maka diperlu kan kerjasama internasional yang erat diantara negara-negara di du nia dalam u paya
menanggu langi Hepatitis viru s. Indonesia bersama Brazil meru pakan sponsor utama yang berjuang untuk melahirkan
resolusi WHO tersebut sehingga peranan yang penting tersebut dapat dipakai sebagai landasan yang kokoh bagi
terwujudnya Pengembangan Program Pengendalian Hepatitis di Indonesia.
Sebagai salah satu Negara yang menjadi sponsor utama dalam resolusi WHO mengenai Hepatitis, maka Kementerian
Kesehatan perlu m en gem ban gkan Program Pen gen dalian Hepatitis di In d on es ia . Seb a ga i la n gk a h a wa l, Dir
ek tor a t J en d er a l Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP dan PL), m en yu su n bu ku Pedom
an Pen gen dalian Pen yakit Hepatitis yang merupakan panduan bagi petugas kesehatan baik di pu s a t m a u pu n da era
h u n tu k pen gem ba n ga n Progra m
Pengendalian Penyakit Hepatitis.

B. TUJUAN

1. Umum
Tersu su nnya pedom an pengendalian Hepatitis viru s dan terselen ggaran ya kegiatan pen gen dalian Hepatitis dalam
rangka menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat Hepatitis di Indonesia.

2. Khusus
a. Tersedianya panduan bagi penentu kebijakan dalam pelaksanaan dan pengembangan program pengendalian Hepatitis
virus di Indonesia.
b. Tersedianya panduan dalam pelaksanaan deteksi dini Hepatitis di fasilitas kesehatan.

79

2 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


c. Tersedianya panduan dalam meningkatkan pengetahuan petugas dan masyarakat dalam pengendalian
Hepatitis viru s.
d. Tersedianya panduan dalam pelaksanaan surveilans epidem iologi pen ya kit Hepa titis viru s da n
u pa ya pengendaliannya.
e. Tersedianya panduan untuk sistem pencatatan, pelaporan, monitoring dan evaluasi program
pengendalian Hepatitis virus.
f. Tersedianya panduan dalam pengadaan logistik untuk pengendalian Hepatitis virus.
g. Terbentuknya jejaring kerja dalam pengendalian Hepatitis viru s.

C. SASARAN
Sasaran bu ku pedoman ini adalah pemangku kebijakan dan petugas kesehatan di setiap jenjang
pelayanan kesehatan sesuai dengan peran dan fungsinya.

D. DASAR HUKUM
Pelaksanaan Program Pengendalian Penyakit Hepatitis dilakukan atas dasar beberapa landasan
hukum antara lain :
1. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984, tentang Wabah penyakit menular
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 No. 20 Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3273).
2. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah.
3. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
4. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteraan
(Lembaran Negara Repu blik

78

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 3


Indonesia Tahu n 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431).
5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009, Nomor 144 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5063).
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009, tentang Rumah Sakit.
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2009, tentang Perkembangan Kependu du kan dan
Pembangu nan Kelu arga.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991, tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Repu blik In don esia Tah u n 1991 Nom or 49, Tam bah
an Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3447).
9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3637).
10. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran
Nega ra Rep u b lik In d on es ia ta h u n 1 9 9 8 Nom or 1 3 8 , Tam bah an Lem baran Negara Repu blik In don esia
Nom or 8781).
11. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010, tentang RencanaPembangu nan J angka Menengah Nasional Tahu n Tahu
n 2010-2014.
12. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438/MENKES/PER/IX/ 2010, tentang Standar Pelayanan Kedokteran.
13. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1501/MENKES/PER/ X/ 2010, tentang J enis Penyakit Menular tertentu
yang dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.
14. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/MENKES/ SK/X/ 2 0 0 3 , ten ta n g Sta n d a r Pela ya n a n Min
im a l Bid a n g Kesehatan di Kabupaten/ Kota.

77

4 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


15. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1116/MENKES/ SK/VIII/ 2003, ten ta n g Pedom a n
Pen yelen gga ra a n Sis tem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.
16. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1479/MENKES/ SK/X/ 2003, tentang
Penyelenggaraan Su rveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak
Menular.
17. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 949/MENKES/ SK/VIII/ 2004, tentang Sistem
Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa.
18. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor2410/ MENKES/ SK/ XII/ 2011,
tentang Komite Ahli Hepatitis, Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan.
19. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1144/MENKES/PE R/ VIII/ 2 0 1 0 , ten ta n g Or ga
n is a s i d a n Ta ta Ker ja Kementerian Kesehatan RI.
20. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 021/MENKES/SK/I/2011 tentang Rencana Strategis
Kem enterian Kesehatan Tahun 2010-2014.

E. Kebijakan
Kebijakan Program Pengendalian Penyakit Hepatitis virus adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian Hepatitis berdasarkan pada partisipasi dan pemberdayaan masyarakat
serta disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah (local area specific).
2. Pengendalian Hepatitis dilaksanakan melalui pengembangan kemitraan dan jejaring
kerja secara mu lti disiplin, lintas program dan lintas sektor.
3. Pengendalian Hepatitis dilaksanakan secara terpadu baik untuk pencegahan primer
(termasuk didalamnya imunisasi), sekunder, dan tersier.
4. Pengendalian Hepatitis dikelola secara profesional, berkualitas, merata dan
terjangkau oleh masyarakat melalui penguatan seluruh sumber daya.

76

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 5


5. Penguatan sistem surveilans Hepatitis sebagai bahan in form a s i ba gi pen ga m bila n kebija ka n da n pela ks a n a
program.
6. Pelaksanaan kegiatan pengendalian Hepatitis harus dilaku kan secara efektif dan efisien melalu i pengawasan ya n g ter u
s d itin gk a tk a n in ten s ita s d a n k u a lita s n ya dengan pemantapan sistem dan prosedu r, bimbingan dan evalu asi.

F. STRATEGI
1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat (PHBS) sehingga terhindar dari penyakit Hepatitis.
2. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan potensi dan peran serta masyarakat u ntu k penyebar lu asan informasi
kepada masyarakat tentang pengendalian Hepatitis.
3. Mengembangkan kegiatan deteksi dini yang efektif dan efisien terutama bagi masyarakat yang berisiko.
4. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui peningkatan sumber daya m a n
u s ia d a n p en gu a ta n in s titu s i, s erta s ta n d a ris a s i pelayanan.
5. Meningkatkan surveilans epidemiologi Hepatitis di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
6. Mengembangkan jejaring kemitraan secara multi disiplin lin tas program dan lin tas sektor di sem u a jen jan g baik
pemerintah maupun swasta.

G. KEGIATAN
1. Advokasi dan
sosialisasi
kepada
pemangku
kepentingan.
2. Sosialisasi
dan edukasi
tentang
pengendalian
Hepatitis
kepada
petugas
kesehatan
terkait.
3. Promosi
kesehatan kepada masyarakat melalui media komunikasi baik cetak
maupun elektronik.

6 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


75
4. Upaya pencegahan yang melibatkan lintas program, lintas sektor dan
masyarakat.
5. Pen yu s u n a n d a n p en gem b a n ga n p ed om a n tek n ispengendalian
Hepatitis virus.
6. Deteksi dini dan tatalaksana kasus sesuai standar.
7. Surveilans epidemiologi dan bantuan teknis dalampenanggulangan KLB
Hepatitis.
8. Pengelolaan logistik sebagai sarana penunjang program.
9. Pem a n ta u a n d a n eva lu a s i s eca r a b er k a la d a n berkesinambu
ngan.
10. Pengembangan program berbasis riset baik riset operasionalmaupun
riset klinis sebagai acuan kebijakan pengendalian Hepatitis Virus secara
komprehensif.

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 7


74
KONTRIBUTOR

A. TIM PENYUNTING
1. Prof.dr.David Handojo Muljono, Ph. D, SpPD
2. dr. Nyoman Kandun, MPH
3. Dr. dr.Rino A. Gani, SpPD – KGEH
4. dr. Irsan Hasan, SpPD – KGEH
5. Dr. dr.Hanifah Oswari SpA (K)

B. TIM PENYUSUN
1. Prof.dr.David Handojo Muljono, Ph. D, SpPD
2. dr. Nyoman Kandun, MPH
3. Prof.dr. Ali Sulaiman, SpPD – KGEH
4. Dr. dr.Rino A. Gani, SpPD – KGEH
5. Dr. dr.Hanifah Oswari SpA (K)
6. dr. Irsan Hasan, SpPD – KGEH
7. drg. Rini Noviani
8. dr. Yullita Evarini Yuzwar, MARS
9. dr. Armaji Kamaludin Syarif
10. dr. Rini Rohaeni
11. Dr.dr. Julitasari Sundoro, MSc-PH
12. dr. Rossa Avrina
13. dr. Sukmawati Dunuyaali
14. dr. Ignatius Bima Prasetya
15. dr. Anandhara Indriani
16. dr. Karnely Herlena, M.Epid
17. Agus Handito, SKM, M.Epid
18. Arman Zubair, S.Sos
19. Muhamad Purwanto, SKM
20. dr. Marolop Binsar Silaen

C. ORGANISASI PROFESI
1. PPHI (Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia)
2. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia)

8 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


73
dalam sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat untuk peduli dan iku t BAB II ANALISIS SITUASI
berperan aktif dalam m en su kseskan u paya-u paya pengendalian Hepatitis. Dalam rangka melaksanakan pengendalian Hepatitis di Indonesia, ada beberapa hal
yang perlu perhatikan, antara lain kondisi penyakit Hepatitis di m asyarakat saat in
i (epidem iologi, etiologi, kon disi lingkungan di daerah endemis, perilaku
H. AKADEMISI/PERGURUAN TINGGI masyarakat terhadap faktor risiko penyakit dll), peraturan-peraturan yang terkait,
Akadem isi/ pergu ru an tin ggi dih arapkan dapat m en du ku n g u paya sosial ekonomi, pengetahuan para pemangku kepentingan dan masyarakat tentang
pengendalian Hepatitis dengan melaku kan penelitian, seminar ilmiah untuk Hepatitis, sumber daya yang tersedia, sehingga dari kondisi yang ada dapat
meningkatkan pengetahuan petugas dan masyarakat sehingga dapat berperan dikelompokkan setiap unsur dalam bagian-bagian menurut analisis SWOT. Setiap
aktif dalam pengendalian Hepatitis. keadaan yang ada saat ini dikelompokkan dalam bagan termasuk dalam Peluang,
Kekuatan, Kelemahan atau An ca m a n . An a lis is SWOT d ip erlu k a n d a la m
m eren ca n a k a n , m elaksan akan dan m en gevalu asi su atu Kebijakan yan g
akan ditetapkan dalam Pengendalian Hepatitis di Indonesia.

A. BEBAN PENYAKIT
Hepat it is A, WHO memperkirakan di dunia setiap tahunnya ada sekitar 1,4
ju ta pen derita Hepatitis A. Di Am erika in siden s Hepatitis A adalah 1 per
100.000 pendu du k, dengan estimasi
21.000 orang (Tahun 2009). Di Eropa insidens Hepatitis A adalah
3,9 per 100.000 penduduk (Publikasi tahun 2008). Di Indonesia, Hepatitis A
sering muncul dalam Kejadian Luar Indonesia (KLB). Tahun 2010 tercatat 6
KLB dengan jumlah penderita 279, jumlah kematian 0, CFR 0 sedangkan
tahun 2011 tercatat 9 KLB, jumlah penderita 550, jumlah kematian 0, CFR 0.
Tahun 2012 sampai bulan J uni, telah terjadi 4 KLB dengan jumlah penderita
204, jumlah kematian 0, CFR 0.
Data lain menunjukkan pada tahun 1998, di Kabupaten Bogor, J awa Barat
telah terjadi KLB Hepatitis A dengan jumlah kasus
74 orang (AR = 1,4%) dan golongan umur terbanyak 19-25 tahun
(AR = 3,4%), di Provinsi J awa Timur yatu di Kabupaten Bondowoso
(Kecam atan Su kosari) dan Kabu paten Malan g (Kecam atan
Wonosari) di 7 desa dengan jumlah kasus 998, tahun 2004 di Kecamatan
Tegal Ampel, Kabupaten Bondowoso, J awa Timur 47 kasus. Tahun 2006 di
Kecamatan Pakem, Kabupaten Bondowoso, J awa Timur 65 kasus.
(Surveilans Prop J awa Timur). Tahun 2008 di Provinsi DIY tercatat 1.160
kasus dengan hasil pemeriksaan anti-HAV positif yaitu di Kodya Yogyakarta
287 kasus, Kabupaten Bantul 48 kasus, Kulon Progo 6 kasus, Gunung Kidul
11 kasus dan Sleman 808 kasus serta KLB di Pulau Panggang dengan 57
72 kasus. Tahun 2009 di Kabupaten Ngawi dengan 146 kasus.

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 9


Hepat it is B prevalensi pengidap Hepatitis B tertinggi ada di 3. Klinik dan Praktek Swasta
Afrika dan Asia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 Secara u m u m kon sep pelayan an di klin ik h am pir sam a dengan
menunjukkan bahwa Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh propinsi di Indonesia pelaksanaan di Puskesmas. Dalam hal tertentu, klinik dapat merujuk
dengan prevalensi sebesar 0,6% (rentang: 0,2%-1,9%). Hasil Riskesdas Biomedis penderita dan spesimen ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat yang
tahun 2007 dengan jumlah sampel 10.391 menunjukkan bahwa persentase HBsAg mempunyai fasilitas memadai.
positif 9,4%. Persentase Hepatitis B tertinggi pada kelompok umur 4549 tahun
(11,92%), umur >60 tahun (10.57%) dan umur 10-14 tah u n (10,02%). HBsAg
positif pada kelom pok laki-laki dan perempuan hampir sama (9,7% dan 9,3%). Hal
ini menunjukkan bah wa 1 dari 10 pen du du k In don esia telah terin feksi viru s F. ORGANISASI PROFESI
Hepatitis B. Organ isasi profesi terkait dih arapkan iku t berperan dalam seluruh proses
Dari data yang telah terkumpul, angka prevalensi HBsAg pada d on or d a r a h d i pengendalian Hepatitis. Mulai dari pengendalian faktor risiko, peningkatan
In d on es ia ta h u n 1 9 8 1 d en ga n m etod e p em er ik s a a n RPHA (Revers e surveilans epidemiologi, penemuan dan tatalaksana penderita, peningkatan
Pa s s ive Ha em a glu tin a tion ) menunjukkan rata-rata 5,2% (rentangan 2,4- imunisasi dan komunikasi, informasi dan edu kasi (KIE), teru tama hasil
9,1%), dan tahun 1993 den ga n m etode pem eriks a a n ELISA ra ta -ra ta 9,4%, kajian/ penelitian yan g dapat diaplikasikan u n tu k m en du ku n g pen gen
rentangan 2,5 -36,1% (Sulaiman et al., 1998). dalian penyakit Hepatitis.

Angka penularan secara vertikal dari ibu pengidap Hepatitis B kepada bayinya
cukup tinggi. Berdasarkan penelitian beberapa rumah sakit di Indonesia, prevalensi G. LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT (LSM) DAN ORGANISASI
HBsAg pada ibu hamil berkisar 2,1—5,2% (Soewignyo, 1992). MASYARAKAT PEDULI PENYAKIT HEPATITIS
Data di RSUP Sanglah, Denpasar menunjukkan bahwa dari hasil uji survei 3.943 LSM dan organisasi kemasyarakatan diharapkan terlibat dalam kegiatan yang
ibu hamil didapatkan hasil 80 ibu hamil dengan HBsAg positif, prevalensi HBsAg terkait dengan pengendalian Hepatitis, terutama
2,03% dan HBeAg positif 50 %. Hasil pemeriksaan HBsAg tali pusat positif 12 %
dari ibu hamil pengidap Hepatitis B (Su rya, 1995). Peneliti lain melaporkan bahwa
71
hasil u ji saring pada 1.800 wanita hamil di Indonesia Dalam hal pengendalian
C. PROVINSI
Hepatitis Puskesmas melakukan:
 Promotif, dengan penyuluhan termasuk pemberdayaan masyarakat Dinas Kesehatan Propinsi bertanggung jawab dalam pelaksanaan
dalam kegiatannya. pengendalian Hepatitis di tingkat propinsi:
 Preventif, dengan melaku kan vaksinasi yaitu program imunisasi
1. Melakukan diseminasi informasi kepada pihak dan instansi terkait di
Hepatitis B pada bayi.
tingkat propinsi.
 Rawat jalan dan rujukan
 Pelaporan 2. Membangun jejaring kerja Hepatitis baik lintas program maupun lintas
sektor di tingkat propinsi.
2. Rumah Sakit 3. Memantau pengelolaan stok logistik Hepatitis untuk tingkat kabu paten/
Ru mah sakit meru pakan u nit pelayanan ru ju kan dengan sarana kota.
pelayanan laboratorium yang dapat mendeteksi dini Hepatitis, baik 4. Melakukan pemantauan terhadap pengendalian Hepatitis di tingkat
rujukan maupun langsung. Rumah sakit di Provinsi diharapkan dapat kabupaten/ kota.
melayani diagnosa, pengobatan dan reh abilitatif atau pelayan an su portif
bagi pen derita Hepatitis. 5. Melakukan rekapitulasi pencatatan dan pelaporan
Hepatitis di tingkat propinsi.

10 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


6. Memberikan umpan balik hasil kegiatan. Hepatitis B berkisar 10-19%, Suryanto Sidik (RS Mintoharjo) pada penderita denga
HIV, 31,6% ko infeksi dengan VHC.
Hepat it is D, dapat terjadi dalam ben tu k su perin feksi dari pengidap kronik virus
D. KABUPATEN/KOTA
Hepatitis B atau simultan dengan infeksi viru s Hepatitis B (ko-in feksi). Pada su
1. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota adalah pelaksana upaya pengendalian atu pen elitian selam a 10 tah u n oleh Sm edie et all, tern yata Hepatitis B den gan
Hepatitis di tingkat kabupaten/ kota. Hepatitis D prognosanya menjadi lebih buruk. Data di Indonesia, dari 72 carier
2. Melakukan pembinaan pada unit pelayanan kesehatan dalam u pa ya pen Hepatitis dari donor darah dan diuji dengan RIA method didapatkan hasil anti-VHD
in gka ta n kin erja pela ksa n a a n pen gen da lia n positif pada dua orang (2,7%). Hepatitis D erat hu bu ngan dengan infeksi VHB,
maka secara la n gsu n g setia p u sa h a pen cega h a n terh a da p Hepa titis B,
Hepatitis mencegah terhadap Hepatitis D juga.
3. Penyediaan, penyimpanan serta pendistribusian logistik Hepatitis.
Hepat it is E, pada tahun 1987 di Indonesia pernah dilaporkan terjadinya KLB
tersangka Hepatitis E di desa Sayan, Tanah Pinoh dan Sokan , Kabu paten Sin tan
g, Propin si Kalim an tan Barat dengan jumlah kasus 2.500 orang. Pada saat
E. UNIT PELAYANAN KESEHATAN
investigasi selama 9 hari ditemukan kasus Hepatitis yang terdiri atas 44 penderita
Dilaksanakan oleh puskesmas, rumah sakit, klinik, laboratorium dan praktek laki-laki berusia 3-50 tahun dan 38 penderita perempuan berusia 6-70 tahun. Pada
swasta. tahun 1991, KLB Hepatitis E kembali terjadi di kecamatan Kayan Hilir yang
menyerang 10 desa dengan jumlah kasus 1.262 orang dan kematian 12 orang. Data
1. Puskesmas lain adalah hasil penelitian pada kasus Hepatitis akut dari penderita rawat inap di
Pu skesmas sebagai u nit pelaksana pelayanan kesehatan primer mempu ru mah sakit, dari 64 kasu s ternyata 16 kasu s positif VHE (25%), (Sulaiman,
nyai fu ngsi promotif, preventif, dan ku ratif. 1993). Data lain yang diperoleh dari KLB yang terjadi di Kabupaten Bawen, J awa
Timur 1992, 2 kasus positif VHE dari 34 sample darah (Sub.Dit Surveilans, 1993).
Laporan dari peneliti lain, 83 sampel darah Hepatitis akut dari beberapa rumah sakit
di J akarta yang diperiksa ditemukan anti VHE positif pada 4 kasus (Legowo D,
70 1994). Bulan J anuari 1998 dilaporkan terjadi KLB Hepatitis di Kabupaten Bogor
d item u k a n 6 1 ib u h a m il (3 ,4 %) d en ga n HBs Ag p os itif (Su paryatmo). dengan jumlah kasus 74 (Attack Rate 1,4%) dan golongan umur terbanyak 19-25
tahun (AR= 3,4%) dan kebanyakan dari kasus adalah mahasiswa IPB, dari gejala
Hepat it is C, berdasarkan h asil Su rveilan s Hepatitis C oleh Direktorat J en deral
klin is yan g dilaporkan m en garah ke Hepatitis E (Surveilans Kabupaten Bogor,
Pen gen dalian Pen yakit dan Pen yeh atan Lingkungan pada tahun 2010-2011 yang
1998).
dilaksanakan di 21 propinsi, 53 rumah sakit, 49 laboratorium dan 26 Unit Transfusi
Darah (UTD) PMI, dengan jumlah 1.825.823 sampel, kasus positif 29.480 orang,
jumlah kasus terbanyak didapatkan pada golongan umur 20-40 tahun sebanyak
B. KONDISI LINGKUNGAN
58,5% sedangkan proporsi menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada
kelompok laki-laki 83% dan 17% pada perempuan. Diantara beberapa jenis penyakit Hepatitis, Hepatitis A dan
Hep a titis E m em p u n ya i m ek a n is m e p en u la ra n oro-feca l (d itu la r
Prevalensi anti-VHC pada beberapa donor di Indonesia berkisar 0,5-3,4%. Preva
k a n m ela lu i m a k a n a n d a n / a ta u m in u m a n ya n g su dah terkontam
len si An ti-VHC pa da viru s Hepa titis Aku t 9,5-20%, preva len s i An ti-VHC pa
inasi tinja (faeces) yang m engandu ng viru s Hepatitis A mau pu n E). Hal ini
da s iros is h a ti berkis a r 30,8-89,2 persen.
sangat berhu bu ngan dengan k on d is i lin gk u n ga n ya n g tid a k b a ik , s
Data ko-infeksi diperoleh dari beberapa penelitian, Rino S Gani (FK-UI, RSCM) ep erti k u ra n gn ya penyediaan air bersih, pembuangan air limbah dan sampah
penderita dengan HIV (IVDU), ko infeksi 80%, pen derita ko in feksi den gan yang tidak saniter, kebersihan perorangan dan sanitasi yang buruk.

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 11


C. PERILAKU BERISIKO1 4. Membangun jejaring kerja dengan lintas program dan lintas sektor baik di
pusat maupun daerah.
Risiko tinggi terhadap Hepatitis A dan Hepatitis E, terdapat pada :
5. Melakukan kajian pengendalian Hepatitis dari kegiatan yang telah ada
 Orang yang mengu nju ngi atau tinggal di negara endemis Hepatitis A dan baik di dalam maupun diluar negeri.
Hepatitis E.
6. Melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan pengendalian
 Tinggal di daerah dengan kondisi lingku ngan yang bu ru k (pen yediaan Hepatitis.
air m in u m dan air bersih , pem bu an gan air
7. Memberikan umpan balik hasil pemantauan dan evaluasi terhadap
BAB VIII pelaksanaan kegiatan pada daerah uji coba dan replikasi.
PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN
DALAM PENGENDALIAN HEPATITIS
B. UPT PUSAT (BBTKL, BTKL, KKP)
1. Sebagai pelaksana teknis pengendalian Hepatitis tingkat pusat di daerah.

A. PUSAT 2. Berkoordinasi dengan Subdit Diare & ISP dalam upaya pengendalian
Hepatitis
1. Membuat pedoman dan rumusan kebijakan teknis pelaksanaan
pengendalian Hepatitis secara berjenjang dari Pu s a t, Din a s Kes eh a ta 3. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Propinsi dan kabu paten / kota
n Pr ovin s i, Din a s Kes eh a ta n Kabupaten/ Kota dan Puskesmas. dalam u paya pen gen dalian Hepatitis di daerah.

2. Penyediaan stock dan pendistribusian logistik Hepatitis pada wilayah


yang membutuhkan. 69
3. Melakukan diseminasi informasi bagi pihak dan instansi terkait di tingkat
pusat dan daerah.
limbah, pengelolaan sampah, pembuangan tinja yang tidak memenuhi
syarat).
 Personal hygiene yang rendah antara lain: penerapan PHBS masih kurang,
cara mengolah makanan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

Risiko tinggi terhadap Hepatitis B, terdapat pada:


 Anak yang dilahirkan dari ibu penderita Hepatitis B.
 Pasangan Penderita Hepatitis B.
 Orang yang sering berganti pasangan sex.
 MSM (Man Sex Man).
 IDUs (Injection Drug User).
 Kontak serumah dengan penderita.

1
The ABC of Hepatitis www.cdc.gov/ Hepatitis

12 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


 Penderita hemodialisis.
 Pekerja kesehatan, petugas laboratorium.
 Berkunjung ke wilayah dengan endemisitas tinggi.

Risiko tinggi terhadap Hepatitis C terdapat pada :


 Pengguna jarum suntik tidak steril (tato, tindik).
 Pengguna obat obatan terlarang dengan cara injeksi.
 Pekerja yang berhubungan dengan darah dan produk darah penderita
VHC.
 Penderita HIV.
 Bayi yang lahir dari ibu penderita VHC.

Risiko tinggi terhadap Hepatitis D terdapat pada :


 Ora n g ya n g kon ta k la n gsu n g den ga n da ra h pen derita
Hepatitis D.

D. SOSIAL EKONOMI
Daerah dengan tingkat sosial ekonomi penduduk yang rendah, m em pu n ya i
s a n ita s i lin gku n ga n ya n g ren da h pu la . Pola penu laran Hepatitis A
dan Hepatitis E yang melalu i oro-fecal san gat dipen garu h i ku alitas san itasi
lin gku n gan setem pat,

68
sehingga pendu du k yang tinggal di daerah endemis dan atau daerah dengan memberikan kontribusi yang n yata pada perkem ban gan pen yakit kron
kualitas sanitasi yang rendah akan mempunyai ris iko lebih bes a r u n tu k m is (salah satu n ya Hepatitis B dan Hepatitis C) menjadi liver cirrhosis.
en derita Hepa titis A m a u pu n Hepa titis E. Stu di ya n g dila ku ka n oleh
FKUI 2 di J a ka rta menunjukkan bahwa tingkat sosial ekonomi rendah
merupakan salah satu faktor risiko Hepatitis B dan Hepatitis C, yang ditandai E. LANDASAN HUKUM
dengan hasil pemeriksaan HBsAg (+) (OR 18.09; 95% CI 2.35139.50). Hal
Landasan hukum yang mendasari kegiatan dalam pengendalian Hepatitis
lain yang dapat diketahui adalah bahwa penduduk kelompok ras chinese
ini lihat Bab I point D.
mempunyai risiko 2.97 lebih tinggi untuk terinfeksi VHB dibandingkan
dengan kelompok ras melayu (OR 2,97 ; 95% CI 1,22-7,83).
Dari suatu studi yang dilakukan di Korea3 dapat diketahui bahwa pada kelom F. ANALISIS S-W-O-T (STRENGTH-WEAKNESS-
pok m asyarakat den gan tin gkat sosial ekon om i menengah dan atas OPPORTUNITYTHREAT)
mempunyai kecenderungan obesitas karena pola makan yang salah. Obesitas

2 3
Sulaiman, Ali Sulaiman, Ali

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 13


Da la m ra n gk a m ela k s a n a k a n Pen gen d a lia n Hep a titis d i 67
Indonesia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah, keku  Lamivu dine,
atan (strength), kelemahan (w eakness), pelu ang (opportunity ) da n a n ca m  Adefovir,
a n (threat), ten ta n g kem u n gkin a n terlaksananya Program Pengendalian  Entecavir,
Hepatitis ini.  Telbivu dine,  Tenofovir.
1. Kekuatan
Sedangkan obat non NA yang diberikan secara parenteral
a. Peraturan perundang-undangan yang mendukung dan m en d a s a r i ter
la k s a n a n ya p r ogr a m Pen gen d a lia n
Interferon alfa-2b yang sudah diganti oleh Peginterferon alfa-
Hepatitis.
2a,
2. Daerah
Un tu k p en ga d a a n logis tik d a p a t m en ggu n a k a n d a n a dari APBD, c. Hepatitis C
atau dan a alokasi kh u su s (DAK) serta dan a tugas perbantuan (TP).
Pegylated interveron + Ribavirin
Interferon konvensional + Ribavirin

3. Media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)


 Poster
 Leaflet
 Benner
 Lembar balik
 TV/ radio Sport
 Kaos
 Topi
 Buku Saku
 Kipas
 Payu ng
 dll

B. PENGANGGARAN

1. Pusat
a. APBN
b. Dekonsentrasi
c. BOK (Bantuan Operasional Kesehatan)
d. BLN (Bantuan Luar Negeri)

14 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


66 5. Banyak orang yang telah terinfeksi kronis, tidak menyadari bah wa
b. Tersedianya sumber daya manusia kesehatan pada semua jenjang dari m ereka m em bu tu h kan peru bah an perilaku (gaya hidup) untuk
pusat sampai daerah. menghindari komplikasi
c. Dukungan organisasi profesi, organisasi international, 6. Banyak petugas kesehatan tidak melakukan skrining pada orang-
dan organisasi masyarakat. orang yang memiliki risiko tinggi atau mereka tidak/ b elu m ta h u b
a ga im a n a p en a ta la k s a n a a n ora n g ya n g terinfeksi.
2. Kelemahan
a. Sistem surveilans Hepatitis belum berjalan baik. 7. Banyak orang yang telah terinfeksi tidak memiliki akses u n tu k m
b. Kualitas Sumber Daya Manusia masih kurang. em ilik i tes , d u k u n ga n s os ia l (a s u ra n s i) d a n pela ya n a n
c. Sarana dan prasarana laboratorium di Pusat Kesehatan Masyarakat untuk pera wa ta n a pa bila tes m en u n ju kka n ya n g bersangkutan
penegakkan diagnosis masih sangat ku rang. terinfeksi.

3. Peluang
a. Adanya program pencegahan yang sudah berjalan yaitu Program Im u n G. HASIL ANALISIS S-W-O-T
isasi (Program Im u n isasi Hepatitis B Nasional) dan Promosi Kesehatan.
Diperlukan :
b. Program pengendalian faktor risiko penyakit (Penyehatan Lingku ngan).
c. Program Surveilans Terpadu Penyakit (STP) di Puskesmas 1. Adanya suatu petunjuk teknis yang mendukung upaya perbaikan
dan Rumah Sakit. pada sistem surveilans Hepatitis yang dibutuhkan.
2. Adanya sosialisasi, advokasi pada pemangku kepentingan baik
4. Ancaman
tingkat pusat maupun daerah.
a. Adanya perubahan iklim secara global yang mempengaruhi agent, seperti
terjadinya mutasi dari jenis virus tertentu. 3. Adanya peningkatan KIE pada masyarakat tentang Hepatitis dan
b. Kualitas kesehatan lingkungan yang tidak merata (ada yang sudah baik faktor risikonya.
tetapi masih banyak yang masih rendah).
4. Adanya pelatihan program pengendalian Hepatitis baik bagi petugas
c. Pengetahuan masyarakat tentang Hepatitis masih kurang
di tingkat pusat maupun di daerah.
d. Perilaku berisiko masih banyak dilakukan oleh masyarakat.
5. Adanya suatu petunjuk teknis yang mendukung upaya tersedian ya
saran a dan prasaran a laboratoriu m u n tu k penegakan diagnosa
Situasi tersebut di atas juga mengacu pada hal-hal antara lain :
Hepatitis di Pusat Kesehatan Masyarakat atau Laboratorium
1. Hepatitis akut dan kronis tidak terlaporkan pada sistem surveilans pendukung Puskesmas.
penyakit menular sehingga tidak diketahui beban yang sesungguhnya
6. Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan dengan upaya
2. Banyak orang secara individu tidak mengetahui bahwa dirin ya term asu perbaikan kualitas air minum, air bersih, pembuangan tinja,
k dalam risiko tin ggi dan bagaim an an a mencegah terinfeksi Pemeriksaan HBV DNA dilakukan dengan metode PCR. - LFT
3. Kelompok risiko tinggi belum mempunyai akses untuk pelayanan (SGPT) : test untuk mengetahui fungsi hati
pencegahan penyakit
Pemeriksaan SGPT menggunakan Blood Analyzer.
4. Banyak orang yang telah terinfeksi dan kronis tetapi tidak mengetahui
bahwa dirinya telah terinfeksi  Bahan dan alat yang digunakan unuk pemeriksaan: tabu ng
reaksi/ vacu ntainer, kapas, alkohol, saru ng tangan, jarum
suntik sekali pakai, torniquet karet, masker, pipet

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 15


berskala/mikropipet, tip mikropipet, sentrifuse/rotator, cryotube, kit HBc), Aquabidest, Gelas Ukur, ELISA reader d a n / E LIS A
ELISA (HBsAg, anti HBs, Anti HBc), Aquabidest, Gelas Ukur, wa s h er , m es in PCR, p r im er , Kit
ELISA reader d a n / E LIS A wa s h er , m es in PCR, p r im er , Kit PCR,Elektroforesis.
PCR,Elektroforesis.
2. Penyediaan Obat
c. Hepatitis C
Untuk penegakkan diagnosa diperlukan : a. Hepatitis A
 Test antibodi HCV Tidak ada obat khusus untuk Hepatitis A
Pemeriksaan dilakukan dengan metode ELISA
 Test RNA HCV b. Hepatitis B
Pemeriksaan dilakukan dengan metode PCR Pada saat ini terdapat 5 macam obat u ntu k Hepatitis kronik yang
 Bahan dan alat yang digunakan unuk pemeriksaan: tabung reaksi/ telah disetu ju i oleh FDA yang term asu k dalam Nucleoside Analog
vacuntainer, kapas, alkohol, sarung tangan, jarum suntik sekali pakai, (NA)
torniquet karet, masker, pipet berskala/mikropipet, tip mikropipet,
sentrifuse/rotator, cryotube, kit ELISA (HBsAg, anti HBs, Anti
65
sekali pakai, sentrifuse, box serum, mikropipet/ pembu angan air limbah dan pengelolaan sampah dengan pipet skala, cryotu be, masker, blood chemistry pa rtisipa si
m a sya ra ka t serta m eliba tka n lin ta s sektor analyzer, ELISA reader, ELISA washer, real time terkait.
PCR, tip mikropipet, rak tabung reaksi, torniquet
7. Perlu
kegiatan deteksi dini pada Hepatitis yang bersifat kronis
karet, rotator.
(Hepatitis B dan C).
Pemeriksaan penapisan dilaku kan dengan metode
8. Perlu
dilakukan kajian-kajian yang bersifat operasional ELISA.
Ba h a n d a n a la t ya n g d igu n a k a n u n u k maupun klinis dalam upaya pengendalian Hepatitis. pemeriksaan : tabung reaksi/ vacuntainer, kapas, alkoh
ol, saru n g tan gan , jaru m su n tik sekali pakai, torniquet karet, masker, pipet berskala/ mikropipet, tip mikropipet, sentrifuse/rotator, cryotube, kit ELISA
(HBsAg, anti HBs, Anti HBc), Aquabidest, Gelas Ukur, ELISA reader dan/ ELISA washer.

2) Pemeriksaan Lanjutan :
Pem eriksa a n in i m eru pa ka n la n ju ta n pem eriksa a n yang
dilaksanakan bagi seseorang dengan HBsAg positif, yaitu :
- HBeAg : test untuk menetukan apakah telah terjadi replikasi
(memperbanyak diri) virus
- Anti HBe: tes untuk mengetahui apakah seseorang telah mempunyai anti
bodi
- HBV DNA : tes untuk mengetahui jumlah virus

16 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


Hepatitis B
- LFT (ALT) : test untuk mengetahui fungsi hati
- Bahan habis pakai : tabung reaksi/ vacuntainer, kapas, alkohol, sarung
tangan, jarum suntik sekali pakai, sentrifuse, box serum, mikropipet/ pipet
skala, cryotube, masker, blood chemistry analyzer, ELISA reader, ELISA
washer, real time PCR, tip mikropipet, rak tabung reaksi, torniquet karet,
rotator.

Pemeriksaan HBeAg, anti Hbe dilakukan dengan metode ELISA.


- HBV DNA : tes untuk mengetahui jumlah virus Hepatitis B

64
BAB VII
SARANA DALAM PENGENDALIAN HEPATITIS

A. PERENCANAAN KEBUTUHAN

1. Reagen/Bahan pemeriksaan untuk penegakan diagnosis:

a. Hepatitis A
 IgM a n ti HAV : u n tu k m en en tu k a n d ia gn os is Hepatitis A. Pemeriksaan dapat dilaku kan dengan Rapid Test Diagnostic (RDT).
Pemeriksaan VHA : u ntu k memeriksa faktor risiko lin gku n ga n teru ta m a a ir ten ta n g a da n ya Viru s Hepatitis A (VHA).
 Bahan dan alat yang digunakan unuk pemeriksaan: Tabung reaksi/ vacuntainer, kapas, alkohol, sarung tangan, masker, jarum suntik sekali pakai, torniquet karet, pipet
berskala/ m ikropipet, tip m ikropipet, Rapid Test Diagnostic (RDT), Sentrifuse/ rotator, botol steril untuk tempat menampung sampel air.

b. Hepatitis B
1) Penapisan dengan test HBsAg test, anti HBs dan anti HBc
 HBs Ag : tes t u n tu k m en en tu ka n s es eora n g pernah terinfeksi virus Hepatitis B.
 Anti HBs : test u ntu k menentu kan seseorang telah m em pu n yai kekebalan terh adap Viru s Hepatitis B.
 Anti HBc : test u ntu k menentu kan seseorang telah mempu nyai kekebalan (adanya replikasi inti sel) terhadap Virus Hepatitis B.
 Bahan habis pakai : tabung reaksi/ vacuntainer, kapas, alkoh ol, saru n g tan gan , jaru m su n tik

63

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 17


2). Angka prevalensi Hepatitis pada kelompok risiko tertentu . HEPATITIS AKIBAT VIRUS
Evaluasi berkala setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali baik m a n a jem
en m a u p u n k lin is d en ga n m en ga d a k a n pertemu an.
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh berbagai s eba b s
eperti ba kteri, viru s , pros es a u toim u n , oba t-oba ta n , perlemakan, alkohol
dan zat berbahaya lainnya.

Bakteri, virus dan parasit merupakan penyebab infeksi terbanyak, diantara


penyebab infeksi tersebut. Infeksi karena virus Hepatitis A, B, C, D atau E
merupakan penyebab tertinggi dibanding penyebab lain n ya, seperti m on on u
cleosis in feksiosa, dem am ku n in g atau sitomegalovirus. Sedangkan penyebab
Hepatitis non virus terutama disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan.

A. HEPATITIS A

1. Etiologi
Penyebab penyakit adalah virus Hepatitis A (VHA), termasuk fam ili
picorn aviridae beru ku ran 27 n an om eter, gen u s hepatovirus yang
dikenal sebagai enterovirus 72, mempunyai 1 serotype dan 4 genotype,
meru pakan RNA viru s. Viru s Hepatitis A bersifat term ostabil, tah an
asam dan tah an terhadap empedu. Virus ini diketahui dapat bertahan
hidup dalam su hu ru angan selama lebih dari 1 bu lan. Pejamu infeksi
VHA hanya terbatas pada manu sia dan beberapa binatang primata. Virus
dapat diperbanyak secara in vitro dalam kultur sel primer monyet kecil
atau secara invivo pada simpanse.

2. Cara Penularan
Virus Hepatitis A ditularkan secara fecal-oral. Virus ini masuk kedalam
saluran pencernaan melalui makanan dan minuman yang tercemar tinja
penderita VHA. Virus kemudian masuk k e h a ti m ela lu i p ered a ra n
d a ra h u n tu k s ela n ju tn ya menginvasi sel-sel hati (hepatosit), dan
melakukan replikasi di hepatosit. J umlah virus yang tinggi dapat
ditemukan dalam tinja penderita sejak 3 hari sebelum muncul gejala
hingga 12 minggu setelah munculnya gejala kuning pada penderita.
62 Ekskresi virus melalui tinja pernah dilaporkan mencapai 6 b u la n p a d a
b a yi d a n a n a k . S eb a gia n b es a r k a s u s kem u n gkin an tidak m
BAB III

18 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


en u lar lagi pada m in ggu pertam a setelah ikteru s. Ekskresi kronis pada 2). Cakupan skrining pada populasi dengan prevalensi tinggi (HBsAg
VHA tidak pernah terlaporkan positif >8 %) dimana telah ditetapkan jumlah/ persentase target
skrining.
Infeksi Hepatitis A sering terjadi dalam bentu k Kejadian Lu ar biasa (KLB)
dengan pola common source, u mu mnya su mber penu laran berasal dari air 3). Cakupan Pelayanan:
minu m yang tercemar, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, a). J umlah penderita Hepatitis B yang diobati.
dan sanitasi yang buruk. Selain itu, walaupun bukan merupakan cara penularan b). Persen tase pen derita Hepatitis B yan g selesai
yang utama, penularan melalui transfusi atau pen ggu n aan jaru m su n tik diobati (succes rate).
bekas pen derita dalam m asa inkubasi juga pernah dilaporkan.
b. Analisa data hasil Pemantauan/Supervisi Untuk mendapatkan
gambaran tentang:
3. Tanda dan Gejala
1). Cakupan penemuan kasus Hepatitis.
Tan da dan gejala awal in feksi viru s Hepatitis A san gat bervariasi dan bersifat
tidak spesifik. Demam, kelelahan, anoreksia (tidak nafsu makan) dan ganggu 2). Cakupan Pelayanan.
an pencernaan (m u al, m u n tah , kem bu n g) dapat ditem u kan pada awal 3). Pengetahuan petugas kesehatan tentang
penyakit. Dalam waktu 1 minggu, beberapa penderita dapat mengalami gejala Pengendalian Hepatitis.
kuning disertai gatal (ikterus), buang air kecil berwarna seperti teh, dan tinja c. Analisa Hasil Kajian Khusus
berwarna pucat. Infeksi pa da a n a k beru s ia diba wa h 5 ta h u n u m u m n
ya tida k memberikan gejala yang jelas dan hanya 10% yang akan memberikan Untuk mendapatkan gambaran:
gejala ikterus. Pada anak yang lebih tua dan dewasa, gejala yang muncul 1). Angka prevalensi Hepatitis pada kelompok usia >15 tahu n.
biasanya lebih berat dan ikterus terjadi pada lebih dari 70% penderita.

4. Masa Inkubasi 61
Masa inkubasi 15-50 hari, rata-rata 28-30 hari. j. Surveilans Epidemiologi
3. Cara Evaluasi  La p ora n Sis tem Terp a d u Pen ya k it (STP) ya n g dila ku ka
Evaluasi dilakukan dengan cara pengumpulan, pengolahan, analisis data yang n setia p bu la n (u n tu k pu skesm a s da n Rumah sakit)
berasal dari hasil pemantauan atau laporan ru tin yang ada di setiap jenjang  SKD KLB, khususnya Hepatitis A dan Hepatitis E (bila ada)
administrasi yaitu Dinas Kesehatan Propinsi, Kabupaten/ Kota, Puskesmas. k. Promosi Kesehatan
Bila dalam evaluasi ditemukan masalah, maka berikan saran pemecahan atau Kegia ta n Ad vok a s i, Bin a s u a s a n a , Ger a k a n pemberdayaan
bimbingan kepada pengelola program Hepatitis, agar kegiatan program masyarakat dan ketersediaan media KIE.
Pengendalian Hepatitis dapat dilaksanakan sesu ai ren can a dan m em berikan
dam pak seperti yan g diharapkan. 4. Alat Pem antau

a. Analisa Data Rutin. Menggunakan formulir isian dan wawancara.

Dari hasil rekapitulasi data rutin di sarana kesehatan, setiap tahun


didapatkan: 5. Cara pem antauan

1). Cakupan penemuan HBsAg positif pada kelompok berisiko yang Pem an tau an dilaku kan den gan m elaku kan wawan cara dengan petugas
melakukan deteksi dini. dan memantau catatan atau laporan yang ada di setiap jenjang
administrasi yaitu Dinas Kesehatan Pr op in s i, Ka b u p a ten / Kota , Pu

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 19


s k es m a s . Bila d a la m pem an tau an ditem u kan m asalah , m aka Perubahan perilaku untuk mencegah Hepatitis A terutama dilakukan dengan
berikan saran pem ecah an atau bim bin gan kepada pen gelola program meningkatkan sanitasi. Petugas kesehatan bisa meningkatkan hal ini dengan
Hep a titis , a ga r k egia ta n p r ogr a m Hep a titis d a p a t dilaksanakan memberikan edukasi yang sesuai, antara lain:
sesuai rencana.
a. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) secara benar pada 5 saat kritis, yaitu:
1. sebelum makan
B. EVALUASI 2. sebelum mengolah dan menghidangkan makanan
3. setelah buang air besar dan air kecil
1. Pengertian 4. setelah mengganti popok bayi 5. sebelum menyusui bayi
Evalu asi adalah su atu kegiatan penilaian terhadap hasil pelaksanaan
program dalam kurun waktu tertentu. b. Pengolahan makanan yang benar, meliputi:
1. Menjaga kebersihan
 Mencu ci tangan sebelu m memasak dan kelu ar
2. Tujuan
dari toilet
Men geta h u i h a s il k egia ta n p en gen d a lia n p en ya k it Hepatitis,  Mencuci alat-alat masak dan alat-alat makan
permasalahan yang ada dan untuk perencanaan kegiatan pada tahun yang  Dapur harus dijaga agar bersih
akan datang. 3. Memisahkan bahan makanan matang dan mentah
 Menggunakan alat yang berbeda untuk keperluan dapur
dan untuk makan
 Menyimpan bahan makanan matang dan mentah di tempat
60 yang berbeda
5. Diagnosis 4. Memasak makanan sampai matang
 Memasak makanan pada su hu minimal 85 0C, terutama
Disamping gejala dan tanda klinis yang kadang tidak muncul, diagnosis
daging, ayam, telur, dan makanan laut
Hepatitis A dapat ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan IgM-antiVHA
 Mem a n a ska n m a ka n a n ya n g su da h m a ta n g
serum penderita.
dengan benar
5. Menyimpan makanan pada suhu aman
6. Pencegahan  J angan menyimpan makanan pada suhu ruangan terlalu
Hepatitis A m em an g serin gkali tidak berbah aya, n am u n lamanya masa lama
penyembu han dapat memberikan keru gian ekon om i da n s os ia l. Pen ya kit  Memasu kan makanan yang ingin disimpan ke dalam
in i ju ga tida k m em iliki pengobatan spesifik yang dapat mengurangi lama lemari pendingin
penyakit, seh in gga dalam pen atalaksan aan Hepatitis A, tin dakan  J an gan m en yim pan m akan an terlalu lam a di lemari
pencegahan adalah yang paling diu tamakan. Pencegahan Hepatitis A dapat pendingin
dilakukan baik dengan pencegahan nonspesifik (perubahan perilaku) maupun 6. Menggunakan air bersih dan bahan makanan yang baik
dengan pencegahan spesifik (imunisasi).  Mem ilih bah an m akan an yan g segar (belu m kadaluarsa)
dan menggunakan air yang bersih
6.1. Pencegahan Non-Spesifik  Mencuci buah dan sayur dengan baik
7. Membuang tinja di jamban yang saniter

20 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


 Menyediakan air bersih di jamban  J umlah penderita yang dirujuk dengan HBsAg positip J umlah
 Mem a stika n sistem pen distribu sia n a ir da n penderita dengan suspek Hepatitis C
pengelolaan limbah berjalan dengan baik  J u mlah penderita yang mendapatkan pengobatan (Hepatitis B dan C)
 J umlah penderita yang perlu dipantau secara berkala.

6.2. Pencegahan Spesifik (Im unisasi)


Pencegahan spesifik Hepatitis A dilakukan dengan imunisasi. Proses ini bisa
bersifat pasif maupun aktif. Imunisasi pasif dilakukan dengan memberikan 59
Imunoglobulin. Tindakan ini dapat m em berikan perlin du n gan segera tetapi e. Penanganan kasus sesuai standar
bersifat sementara. Imunoglobulin diberikan segera setelah kontak atau u ntu k Ta ta la ksa n a kh u su sn ya Hepa titis B, m em erlu ka n serangkaian
pencegahan sebelu m kontak dengan 1 dosis secara intra-m usk ular. Efek proteksi pemeriksaan u ntu k memu tu skan apakah penderita tersebut perlu
dapat dicapai bila Im u n oglobu lin diberikan dalam waktu 2 m in ggu setelah diobati atau belum/ tidak perlu, tetapi cukup dipantau secara berkala.
terpajan.
Yang dapat dilaksanakan di tingkat Puskesmas adalah pem eriksaan
J u mlah penderita yang mendapat pengobatan lengkap (HBeAg
awal u n tu k m en en tu kan apakah oran g ters ebu t pen derita Hepa
negatif dan HBV DNA <10 4 dan dilanjutkan selama 1 tahun).
titis B den ga n m ela ku ka n pemeriksaan laboratorium ( HBsAg),
f. Upaya pencegahan yang melibatkan lintas program, lintas sektor dan dan Puskesmas lebih berperan dalam sistim rujukan. Pemantauan
masyarakat. dilakukan untuk mengetahui :
g. Pengelolaan logistik sebagai sarana penunjang program. Ketersediaan logistik
Hepatitis meliputi k ecu k u p a n a k a n k eb u tu h a n logis tik , p en ga d a 1) Puskesmas
a n , penyimpanan dan distribusi.  Petu gas mampu mendiagnosis Hepatitis klinis dan
merujuk
h. Cakupan penemuan kasus dan prevalensi  Pu s kes m a s m a m pu m ela ku ka n tes s erologi
Dalam kegiatan tatalaksana Hepatitis, hal-hal yang akan dipantau adalah: Hepatitis A, B (Puskesmas Sentinel) 2) Rumah
 Penetapan sasaran skrining penderita Hepatitis virus ya n g d ila ya n i d i Sakit :
Pu s k es m a s d a n m en ja la n i pengobatan lengkap selama 1 tahun.  Petugas mampu mendiagnosa (Hepatitis A, B,C, D dan E)
 J umlah penderita HBsAg positif yang terjaring.  S a r a n a La b or a tor iu m u n tu k tes s er ologi
i. Penyelidikan Epidemiologi saat KLB ( khususnya Hepatitis A, B, C, D dan E 3)
Hepatitis A dan E) Surveilans epidemiologi Hepatitis.
 Penegakkan diagnosis KLB Hepatitis A dan E
 Penanggulangan KLB  Pelaksanaan SKD.
 Pemutusan rantai penularan,  Pencatatan, pelaporan, analisa dan diseminasi data.
 Menegakkan diagnosis  Penanggulangan KLB.
 Mengidentifikasi penyebab KLB  J umlah penderita Hepatitis klinis.
 Men getah u i distribu si pen derita m en u ru t waktu , orang dan tempat,  J umlah penderita dengan IgM VHA positif.
 Mengidentifikasi sumber dan cara penularan,
 Mengidentifikasi populasi rentan Hepatitis B
 J u m lah pen derita Hepatitis viru s (Hepatitis A,B dan C)  J umlah penderita dengan HBsAg positif.
 J u m la h pen derita ya n g diru ju k den ga n su spek  J umlah penderita HBsAg positif yang dirujuk.
Hepatitis A

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 21


 J umlah penderita HBsAg positif yang mendapat 2. Cara Penularan
pengobatan maupun yang tidak. Viru s Hepatitis B dapat ditem u kan pada cairan tu bu h penderita seperti
 J u mlah penderita yang mendapat pengobatan dan drop darah dan produk darah, air liur, cairan serebrospinalis, peritonea, pleural,
out. cairan amniotik, semen, cairan vagin a dan cairan tu bu h lain n ya. Nam
u n tidak semuanya memiliki kadar virus yang infeksius. Secara umum,
penu laran bisa terjadi secara vertikal mau pu n horizontal. Untuk saat ini,
58 penularan VHB yang utama diduga berasal dari hu bu ngan intim dan
Im u nisasi aktif, m em berikan efektifitas yang tinggi pada pen cegah an transm isi perinatal. Transm isi horizontal adalah penularan dari satu
Hepatitis A. Vaksin dibu at dari viru s yan g diinaktivasi (inactivated individu ke individu lainnya. Selain lewat hubungan seksual tidak aman,
vaccine). Vaksin ini relatif aman dan belum ada laporan tentang efek transmisi horizontal Hepatitis B ju ga bisa terjadi lewat penggu naan
samping dari vaksin kecuali nyeri ditempat su ntikan. Vaksin diberikan jarum suntik bekas penderita Hepatitis B, transfusi darah yan g terkon tam
dalam 2 dosis dengan selang 6 – 12 bulan secara intra-muskular didaerah in asi viru s Hepatitis B, pem bu atan tato, penggunaan pisau cukur, sikat
deltoid atau lateral paha. gigi, dan gunting kuku bekas penderita Hepatitis B. Sementara itu,
berpelukan, berjabatan tangan, atau berciuman dengan penderita Hepatitis
7. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar B belum terbukti mampu menularkan virus ini.
a. Pengobatan: tidak spesifik, utamanya meningkatkan daya tahan Penularan secara vertikal adalah penularan yang terjadi pada masa perinatal
tubuh (istirahat dan makan makanan yang bergizi), rawat inap hanya yaitu penularan dari ibu kepada anaknya yang baru lahir, jika seorang ibu hamil
diperlukan bila penderita tidak dapat makan dan minum serta terjadi karier Hepatitis B dan HBeAg positif maka bayi yang di lahirkan 90%
dehidrasi berat kemungkinan akan terinfeksi dan menjadi karier juga. Kemungkinan 25% dari
b. Disinfeksi serentak terhadap bekas cairan tubuh dari jumlah tersebut akan meninggal karena Hepatitis kronik atau kanker hati.
penderita Transmisi perinatal ini terutama banyak terjadi di n egara-negara Tim u r dan
c. Isolasi tidak diperlukan negara berkem bang.
d. Imunisasi pasif pada orang yang terpajan cairan tubuh penderita Infeksi perinatal paling tinggi terjadi selama proses persalinan dan diduga tidak
e. Pencatatan dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku berhubungan dengan proses menyusui
(STP dan SIRS)
3. Tanda dan gejala
B. HEPATITIS B Seseorang yang terinfeksi VHB bisa mengalami Hepatitis B aku t. Pen derita
yan g m en galam i Hepatitis B aku t akan mengalami gejala prodromal yang
1. Etiologi sama dengan Hepatitis akut umumnya, yaitu kelelahan, kurangnya nafsu
Pen yebab pen yakit adalah viru s Hepatitis B (VHB) yan g termasuk makan, mual, muntah, dan nyeri sendi. Gejala-gejala prodromal ini akan
famili Hepadnavirus dan berukuran sangat kecil (42 nm). Virus Hepatitis membaik ketika peradangan hati, yang umumnya ditandai den ga n geja la ku
B merupakan virus DNA dan sampai saat ini terdapat 8 genotip VHB yang n in g tim bu l. Wa la u pu n begitu , 70% penderita Hepatitis akut ternyata
telah teridentifikasi, yaitu genotip A–H. VHB memiliki 3 jenis morfologi tidak mengalami kuning. Sebagian dari penderita Hepatitis B akut lalu akan
dan mampu mengkode 4 jenis antigen, yaitu HBsAg, HBeAg, HBcAg, mengalami k es em b u h a n s p on ta n , s em en ta ra s eb a gia n la gi a k a n
dan HBxAg. Virus Hepatitis B yang menginfeksi manusia bisa ju ga berkem ban g m en jadi Hepatitis B kron ik. Kem u n gkin an
menginfeksi simpanse. Viru s dari Hepadnaviru s bisa juga ditemukan BAB VI
pada bebek, marmut dan tupai tanah, namun virus tersebut tidak bisa
menginfeksi manusia.
PEMANTAUAN DAN EVALUASI
HEPATITIS VIRUS

22 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


A. PEMANTAUAN Hepatitis B. Alasan yang umum yang dikemukakan adalah ketakutan akan risiko
penu laran di tempat kerja dan ketidakmampu an orang yang bersan gku tan u n tu
1. Pengertian k bekerja den gan n orm al. Kedu a h al in i sebenarnya kurang relevan untuk
Pem a n ta u a n a d a la h k egia ta n m en ga m a ti a ta s h a s il p ela k s dijadikan alasan, mengingat infeksi Hepatitis B hanya bisa terjadi melalui kontak
a n a a n k egia ta n Pen gen d a lia n Hep a titis s eca ra berjenjang dan cairan tubuh yang jarang sekali terjadi pada hampir segala jenis pekerjaan dan sifat
berkesinambu ngan (Propinsi, Kabu paten/ Kota dan Puskesmas). Hepatitis B yang tanpa gejala sampai timbul komplikasi. Walaupun begitu,
beberapa penyesuaian juga harus dilakukan pada penderita Hepatitis B. Penderita
2. Tujuan tidak diperbolehkan bekerja dengan pajanan tinggi benda-benda yang bersifat
hepatotoksik (pekerja pabrik cat atau bahan kimia lain). Alasan lain untuk tidak
a. Mengetahui komitmen penentu kebijakan dalam program mempekerjakan penderita Hepatitis B adalah masalah asuransi. Untuk masalah ini,
pengendalian Hepatitis keputusan penerimaan akan dibuat kebija ka n kh u s u s ya n g tida k m eru gika n
b. Memberikan bimbingan dalam pengelolaan program da n m elin du n gi penderita untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara.
Hepatitis virus di wilayah kerja masing-masing. Penderita Hepatitis B juga harus mendapat akses yang seluaslu a s n ya u n tu k pen
c. Memberikan umpan balik atau alternatif pemecahan didika n da la m bida n g a pa pu n . Un tu k menghapu s perbedaan perlaku an pada
masalah yang ditemukan pada saat pemantauan. penderita Hepatitis B, beberapa lan gkah kon kret h aru s segera diam bil. Lan gkah
langkah ini mencakup penyuluhan kepada pihak-pihak pemberi kerja, sekolah,
3. Kegiatan yang dipantau maupun universitas mengenai Hepatitis B, dan k oord in a s i d en ga n p em b u a
a. Advokasi dan sosialisasi kepada pemangku kepentingan. t-p em b u a t k ep u tu s a n u n tu k m elah irkan kebijakan -kebijakan yan g m elin
 Dilakukan secara bertahap du n gi h ak-h ak penderita Hepatitis B di Indonesia.
 Diutamakan daerah yang memiliki komitmen menjadi Hepatitis B kronik ini menurun seiring bertambahnya usia saat
terinfeksi, pada neonatus kemungkinan menjadi kronis mencapai 90% dan
b. Sosialisasi dan edukasi tentang pengendalian pada orang dewasa 5%. Hepatitis kronis umumnya tidak menimbulkan gejala
Hepatitis kepada petugas kesehatan terkait. apa-apa. Sekitar 0,1-0,5% penderita dengan Hepatitis akut akan berkembang
 Pen in gk a ta n p en geta h u a n p etu ga s ten ta n g m en jadi Hepatitis fu lm in an . Pen yebab dan faktor risiko Hepa titis fu lm in
Hepatitis virus a n in i s a m pa i s eka ra n g m a s ih belu m diketahui dengan jelas.
c. Promosi kesehatan kepada masyarakat melalui media
komunikasi baik cetak maupun elektronik. 4. Masa Inkubasi
Penyediaan media KIE
Masa inkubasi VHB berkisar antara 30–180 hari dengan ratarata 60–90 hari.
d. Deteksi dini Lama masa inkubasi tergantung banyaknya virus yang ada dalam tubuh
 Daerah yang telah melakukan kegiatan deteksi dini penderita, cara penularan dan faktor pejamu . J u mlah viru s dan u sia meru
 Petugas mampu laksana deteksi dini pakan faktor penting yang berhu bu ngan dengan keparahan aku t atau kronik
Hepatitis B.
57
menjadi sirosis atau kanker hati, seringkali tidak menunjukkan gejala apapu n dan 5. Diagnosis
tidak mengalami penu ru nan kemampu an b ek er ja . Ma k a p en ya k it Hep a titis Sampai saat ini terdapat beberapa indikator laboratoris yang bisa digunakan
B s eh a r u s n ya tid a k menghambat hak seseorang u ntu k bekerja atau bersekolah. untuk menilai infeksi Hepatitis B. Pada infeksi akut, antibodi terhadap HBcAg
Sayangnya pada prakteknya seringkali didapatkan diskriminasi ter h a d a p or a n adalah yang paling pertama muncul, diikuti dengan munculnya HBsAg dan
g ya n g s u d a h d ik eta h u i m em ilik i s ta tu s Hepa titis B (+). Keba n ya ka n HBeAg serum. Bila pen derita m en galam i kesem bu h an spon tan setelah
dis krim in a s i in i dis eba bka n ku rangnya pengetahu an pu blik mengenai Hepatitis B akut, maka akan terjadi serokonversi HBsAg dan HBeAg, yang

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 23


ditandai kadar kedua penanda tersebut tidak akan dapat terdeteksi lagi di 6.2. Pencegahan Spesifik (Im unisasi)
serum sementara anti-HBs dan anti-HBe justru mulai terdeteksi. Sebaliknya, Bagi oran g yan g tidak diim u n isasi dan terpajan den gan
pada Hepatitis B kronik, HBsAg dan HBeAg akan terus terdeteksi di serum Hepatitis B, pencegahan postexposure beru pa kom binasi HBIG (u ntu k mencapai
penderita. Pada penderita dengan Hepatitis B kronik, DNA VHB sebaikn ya kadar anti-HBs yang tinggi dalam waktu singkat) dan vaksin Hepatitis B (u ntu k
diperiksa u n tu k m em an tau perjalan an penyakit. Pada beberapa jenis virus kekebalan dokter u n tu k eva lu a s i lebih la n ju t. Pen derita ju ga h a ru s
mutan, HBeAg bisa tidak terdeteksi di serum walaupun proses peradangan hati diperiksakan statu s HBeAg, anti-HBe, DNA VHB, SGOT, dan SGPT-nya untuk
masih terjadi dan kadar DNA VHB serum masih tinggi. menentukan tingkat keparahan penyakit dan saat terapi yan g tepat. Pilih an terapi
yan g bisa digu n akan mencakup Interferon, Lamivudin, Adefovir, Telbivudin,
6. Pencegahan Entecavir, atau Tenofovir. Penjelasan mengenai tatalaksana akan diuraikan secara
Seperti pada penyakit infeksi lainnya, pencegahan infeksi Hepatitis B lengkap
bisa beru pa pencegahan non-spesifik mau pu n pencegahan spesifik. pada
buku
56 Standar

6.1. Pencegahan Non-Spesifik Diagnosa dan Terapi.


Pencegahan non-spesifik infeksi Hepatitis B dapat dilakukan dengan menerapkan Selain itu , setiap penderita Hepatitis B ju ga haru s mendapat edu kasi u n tu
pencegahan u niversal yang baik dan dengan melakukan penapisan pada kelompok k m en jaga keseh atan h atin ya dan m en cegah penu laran ke orang lain. Edu
risiko tinggi. Prinsip-prinsip kewaspadaan universal, seperti menggunakan sarung kasi diberikan oleh dokter yang merawat penderita dan harus mencakup hal-
tangan ketika bekerja dengan cairan tubuh penderita, penanganan lim bah jaru m hal berikut:
su ntik yang benar, sterilisasi alat dengan cara yang benar sebelum melakukan  Pen derita h aru s m en gh in dari alkoh ol sam a sekali dan mengurangi
prosedur invasif, dan mencuci tangan sebelum menangani penderita dapat makanan yang memiliki kemungkinan bersifat hepatotoksik.
mengurangi risiko penularan, terutama pada tenaga medis, salah satu kelompok
 Penderita haru s berhati-hati dalam mengkonsu msi jamu , suplemen, atau
yang paling berisiko tertu lar Hepatitis B. Selain itu, penapisan pada kelompok
obat yang dijual bebas.
risiko tinggi (orang yang lahir di daerah dengan endemisitas VHB tinggi, oran g
 Penderita haru s memberitahu kan statu s Hepatitis B-nya apabila berobat
den gan pasan gan seksu al m u ltipel, h om oseksu al, semua wanita hamil,
penderita HIV dan Hepatitis C, pengguna jarum suntik, penderita hemodialisis, ke dokter u ntu k menghindari pemberian terapi yang bersifat
penderita dengan terapi imu nosu presan, serta orang dengan kadar ALT/ AST yang hepatotoksik.
tinggi dan menetap) sebaiknya dilaku kan. Penderita yang terbu kti m enderita  Penderita yang beru sia di atas 40 tahu n haru s menjalani pemeriksaan
Hepatitis B sebaiknya diberi edu kasi p er u b a h a n p er ila k u u n tu k m em u tu USG dan AFP setiap 6 bulan sekali untuk deteksi dini kanker hati.
s r a n ta i in fek s i  Perlu dilakukan imunisasi pada pasangan seksual.
Hepatitis B.  Perlunya penggunaan kondom selama berhubungan seksual dengan
pasangan yang belum diimunisasi.
Edukasi yang bisa diberikan mencakup:
1. Perlu dilakukan imunisasi pada pasangan seksual  Penderita tidak diperbolehkan bertukar sikat gigi atau pun pisau cukur.
2. Perlunya penggunaan kondom selama berhubungan seksual dengan pasangan  Perlunya menutup luka yang terbuka agar darah tidak kontak dengan
yang belum diimunisasi orang lain.
3. Tidak diperbolehkan bertukar sikat gigi ataupun pisau cu ku r  Penderita tidak diperbolehkan mendonorkan darah, organ, atau pu n
4. Menutup luka yang terbuka agar darah tidak kontak dengan orang lain sperma. Terapi secara rinci akan dibahas dalam petunjuk teknis
5. Tidak diperbolehkan mendonorkan darah, organ, ataupun sperma

24 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


H. ASPEK LEGAL PADA HEPATITIS B ja n gk a p a n ja n g d a n m en gu ra n gi geja la k lin is ) h a ru s diberikan. Untuk
pajanan perinatal (bayi yang lahir dari ibu dengan Hepatitis B), pemberian HBIG
Pen derita den gan Hepatitis B kron ik, sebelu m berkem ban g 55
single dose, 0,5 mL secara intra muskular di paha harus diberikan segera setelah
persalinan dan diikuti 3 dosis vaksin Hepatitis B (imunisasi), dimu lai pada u sia ku
 Pen geta h u a n ten ta n g ca ra m em erik s a k a n d iri u n tu k statu s rang dari 12 jam setelah persalinan. Pemberian HBIG dan Vaksin Hepatitis B
Hepatitis B dan kemu ngkinan terapi serta jaminan yang ada. dilakukan pada paha yan g berbeda. Un tu k m ereka yan g m en galam i in oku lasi
 Saran untuk tidak mendiskriminasikan orang yang menderita Hepatitis B. langsung atau kontak mukosa langsung dengan cairan tubuh pen derita Hepatitis B,
Perlu juga dilakukan edukasi bahwa penyakit ini tidak menular lewat m aka profilaksis yan g digu n akan adalah HBIG single dose 0,06 mL/ kg BB,
penggunaan alat makan bersama, berja ba t ta n ga n , berciu m a n , a ta u yang diberikan sesegera mungkin. Penderita lalu harus menerima imunisasi
berpelu ka n den ga n penderita Hepatitis B. Hepatitis B, dimulai dari minggu pertama setelah pajanan. Bila pajan an yan g
terjadi adalah kon tak seksu al, m aka pem berian dosis HBIG 0,06 m L/ kg BB h
aru s diberikan sebelum 14 hari setelah pajanan, dan tentu diikuti dengan im u
F. PROFILAKSIS PASCA PAJANAN HEPATITIS B nisasi. Pem berian vaksin Hepatitis B dan HBIG bisa dilakukan pada waktu
bersamaan, namun di lokasi injeksi yang berbeda.
Orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap Hepatitis B atau tidak diketahui
status imunitasnya dan terpajan cairan tubuh penderita Hepatitis B, baik secara Pencegahan spesifik pre-exposure dapat dilaku kan dengan memberikan vaksin
perku tan mau pu n secara s ek s u a l h a r u s m en d a p a tk a n p r ofila k s Hepatitis B pada kelompok risiko tinggi. Vaksin Hepatitis B yang tersedia saat ini
is p a s ca p a ja n a n secepatnya. Pada kasus pajanan pada cairan tubuh merupakan vaksin rekombinan HBsAg yang diproduksi dengan bantuan ragi.
penderita yan g tidak diketah u i statu s HBsAg-n ya, sebaikn ya su m ber Vaksin diberikan sebanyak 4 kali dengan cara injeksi intra muskular (di deltoid,
pajanan diperiksa dahu lu statu s HBsAg-nya. Apabila su mber pajan an tidak bukan gluteus) pada 0, 2,3 dan 4 bulan. (program imunisasi nasional). Indonesia
m en gidap Hepatitis B (HBsAg n egatif), m aka profilaksis pasca pajanan tidak telah memasukkan im u n isasi Hepatitis B dalam program im u n isasi ru tin
diperlukan, namun apabila status HBsAg su mber pajanan (+) atau tidak dapat Nasional pada bayi baru lahir pada tahun 1997.
diketahu i, maka profilaksis wajib diberikan. Profilaksis yang digu nakan Imu nisasi Hepatitis B mampu memberikan perlindu ngan terhadap infeksi
adalah HBIG single dose 0,06 m L/ kg BB, yan g diberikan sesegera mungkin Hepatitis B selama lebih dari 20 tahu n. Keberhasilan imunisasi dinilai dari
(maksimal 48 jam setelah pajanan). Penderita lalu harus menerima imu nisasi terdeteksinya anti-HBs di serum penderita setelah pemberian imunisasi Hepatitis B
Hepatitis B, paling lambat pada minggu pertama setelah pajanan. Bila pajanan lengkap (3-4 kali). Tingkat keberhasilan imunisasi ditentukan oleh faktor usia
yang terjadi adalah kontak seksu al, maka pemberian dosis HBIG 0,06 mL/ kg penderita, dengan lebih dari 95% penderita m en galam i kesu ksesan im u n isasi
BB haru s diberikan sebelu m 14 hari setelah pajanan, dan tentu diiku ti dengan pada bayi, an ak dan remaja, ku rang dari 90% pada u sia 40 tahu n, dan hanya 65-
imunisasi. Pemberian vaksin Hepatitis B dan HBIG bisa dilakukan pada waktu 70% pada usia 60 tahun. Penderita dengan sistem imun yang terganggu juga akan
bersamaan, namun di lokasi injeksi yang berbeda. Statu s HBsAg dan anti-HBs memberikan respons kekebalan yang lebih rendah. Bayi dari ibu dengan HBsAg (-
penderita lalu diperiksa kembali 1 bulan setelah pajanan. Apabila orang yang ) tidak akan terpajan virus Hepatitis B selama proses persalinan, namun risiko bayi
terpajan terbukti memiliki kadar anti-HBs > 10 IU/ L, maka profilaksis pasca tersebut untuk terpajan virus Hepatitis B tetap tin ggi, m en gin gat en dem isitas
pajanan tidak perlu diberikan. pen yakit in i di In don esia. Seperti telah disebu tkan di atas, infeksi viru s Hepatitis
B pada anak memiliki risiko perkembangan kearah Hepatitis B kronis yang lebih
besar. Maka setiap bayi yang lahir di Indonesia diwajibkan imu nisasi Hepatitis B.
G. TERAPI PENDERITA HEPATITIS B Vaksin yang digu nakan adalah vaksin rekombinan yang mengandu ng HBsAg
Penderita dengan HBsAg (+) harus segera dikonsultasikan dengan yang diproduksi ragi.
Vaksin ini diberikan secara intramu sku lar pada saat bayi lahir dan dilanju
54 tkan minimal pada bu lan ke-1 dan ke-6. Nam u n pan du an im u n isasi

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 25


yan g berlaku di In don esia menyarankan pemberian imunisasi pada saat kesehatan dengan melibatkan lintas sektor dan berbasis pada pemberdayaan
bayi lahir, pada bulan ke-2, bulan ke-3, dan bulan ke-4. Pemberian masyarakat baik di pu sat maupun di daerah.
imunisasi dilaku kan oleh ten aga m edis terlatih di m asin g-m asin g
Edukasi yang diberikan harus mencakup hal-hal berikut:
daerah.
 Pen jelasan u m u m m en gen ai pen yebab, cara pen u laran , perjalanan
penyakit, gejala u mu m, terapi, dan komplikasi Hepatitis B.
7. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar
a. Monitoring secara berkala terhadap penderita yang belum Cara-cara pencegahan umum infeksi Hepatitis B, antara lain:
memerlukan pengobatan. o Menghindari kontak cairan tubuh yang tidak aman dengan tidak
b. Pegobatan dengan Interferon, Lamivudin, Adefovir, Telbivudin, melakukan hubungan seksual yang tidak aman dan menggu nakan
Entecavir, atau Tenofovir bagi penderita yang telah memenuhi jaru m su ntik atau alat yang mungkin menimbulkan luka secara
kriteria terapi, dari hasil pemeriksaan DNA VHB, HBeAg dan ALT. bergantian. o Selalu membersihkan dengan baik alat-alat yang mu
ngkin menimbu lkan lu ka pada orang lain, seperti pisau cukur, sikat
c. Disinfeksi terhadap bekas cairan tubuh dari penderita.
gigi, peralatan perawatan kuku, atau alat tato. Lebih baik lagi bila
d. Isolasi tidak diperlukan
alat-alat ini bisa digunakan untuk sekali pakai saja atau hanya
e. Imunisasi pasif pada orang yang terpajan cairan tubuh penderita
digunakan oleh satu orang saja.
f. Pencatatan dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku (STP dan
o Imunisasi dan pemeriksaan kekebalan terhadap
SIRS)
Hepatitis B.

C. HEPATITIS C
53
kelompok berisiko tinggi tertular dan menularkan Hepatitis B. Hal ini
1. Etiologi
disebabkan sifat virus Hepatitis B yang menular lewat kontak dengan cairan
Penyebab penyakit Hepatitis C adalah virus Hepatitis C (VHC) yang tubuh penderita. Penularan pada PSK dan orang yang memiliki pasangan
termasu k famili Flaviviridea genu s Hepaciviru s dan m edis da n m en seksual multipel sebenarnya dapat dicegah den gan m en gu ran gi perilaku
in gga lka n kebia s a a n n ya u n tu k m en cega h penularan Hepatitis B seksu al tersebu t atau menggu nakan kondom. Penu laran pada kelompok
ke orang lain. Kelompok ini juga sebaiknya diedukasi mengenai penyakit IVDU ju ga seben arn ya bisa dicegah den gan m en gh en tikan kebiasaan
lain yang ditularkan lewat cairan tubuh seperti HIV dan Hepatitis C. tersebut atau dengan tidak menggunakan jarum suntik berkalikali secara
bergantian. Penularan pada kelompok ini umumnya disebabkan karen a ren
dah n ya pen getah u an dan kepedu lian tehadap Hepatitis B maka sebaiknya
E. PENAPISAN DAN PENCEGAHAN PENULARAN HEPATITIS B pemberian edu kasi dan pembinaan terhadap kelompok ini perlu dilakukan.
PADA POPULASI UMUM Edukasi yang diberikan harus mencakup hal-hal berikut:
Indonesia termasuk negara endemis tinggi Hepatitis B, sehingga setiap pendu  Pen jelasan u m u m m en gen ai pen yebab, cara pen u laran , perjalanan
du k Indonesia memiliki risiko yang cu ku p besar u n tu k ter in fek s i Hep a penyakit, gejala u mu m, terapi, dan komplikasi Hepatitis B.
titis B. Teta p i k a r en a b er b a ga i pertimbangan, seperti efektivitas,  Konseling untuk meninggalkan gaya hidup berisiko tersebut.
kemampulaksanaan, dan biaya maka pemeriksaan penapisan pada seluruh  Selalu menggunakan kondom apabila berhubungan seksual dengan
populasi umum di Indonesia sampai saat ini belum menjadi rekomendasi. pasangan yang tidak diketahui status HBsAg-nya
Tindakan pencegahan selain imunisasi pada bayi adalah edukasi mengenai  Pada IVDU, dianju rkan u ntu k tidak menggu nakan jaru m s u n tik berka
Hepatitis B dan tin dakan -tin dakan pen cegah an pen u laran Hepatitis B li-ka li da n s eca ra berga n tia n . IVDU ju ga disarankan untuk membuang
segera diberikan pada masyarakat. Edu kasi ini diberikan oleh tenaga jarum suntik bekas di wadah yang tertutup dan tahan tembus.

26 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


Setiap orang yang memiliki pasangan seksual multipel atau PSK dan IVDU Sebagian besar (>90%) kasu s Hepatitis C aku t bersifat asimptomatik.
disarankan u ntu k segera melaku kan pemeriksaan penapisan dan kekebalan Kejadian Hepatitis fulminan juga sangat kecil pada infeksi VHC. Walaupun
Hepatitis B. Apabila orang tersebu t b elu m m em ilik i k ek eb a la n ya n g begitu, sebagian kecil penderita bisa saja mengalami gejala prodromal seperti
m en cu k u p i ter h a d a p pada infeksi virus pada umumnya. Sebagian besar (80%) dari penderita yan g
Hepatitis B, disarankan u ntu k imu nisasi Hepatitis B. Apabila ya n g b er s a m en galam i Hepatitis C aku t in i akan berkem ban g menjadi Hepatitis C
n gk u ta n b elu m p er n a h m en d a p a t im u n is a s i sebelumnya, vaksin kronik yang u mu mnya ju ga bersifat a s im p tom a tik . Sek ita r 2 0 -3 0 %
harus diberikan dari awal sebanyak 3 kali su ntikan pada bu lan 0 (ku nju ngan d a ri ju m la h in i a k a n berkembang menjadi sirosis hati dalam waktu 20-30
pertam a), 1 (satu bu lan kem u dia n ), da n 6 (en a m bu la n kem u dia n ). tahun. Keru sa ka n h a ti in i bersifa t progresif la m ba t seh in gga seringkali
Apa bila ya n g bersangkutan ternyata memiliki status HBsAg (+), maka penderita yang terinfeksi VHC pada u sia lanju t serngkali tidak mengalami
dirujuk ke dokter ah li u n tu k berkon su ltasi m en gen ai kem u n gkin an gangguan hati sama sekali seumur hidu pnya.
terapi penyakitnya dan melanjutkan pemeriksaan status HBeAg, anti-HBe, 4. Masa Inkubasi
DNA HBV, SGOT, dan SGPT-nya. Setiap orang yang memiliki pasangan Masa inkubasi VHC berlangsung selama 15 hari sampai 2 bu lan.
seksual multipel, PSK dan IVDU yang ternyata positif menderita Hepatitis B
agar berkonsultasi dengan tenaga 5. Diagnosis
Baku emas diagnosis Hepatitis C adalah ditemukannya RNA VHC di serum
52 penderita. Namun, mengingat mahal dan tidak paktisn ya pem eriksaan in i,
merupakan virus RNA. Setidaknya 6 genotip dan lebih dari 50 subtipe VHC pem eriksaan an ti-VHC bisa digunakan untuk menapis penderita-penderita
yang berbeda telah ditemukan. yang dicurigai menderita Hepatitis C. Namun, perlu diingat bahwa sebagian
kecil penderita Hepatitis C, terutama mereka yang mengalami penurunan
sistem imun, tidak akan memiliki antibodi antiVHC di darah n ya. Pem
2. Cara penularan eriksaan RNA VHC sen diri h an ya diindikasikan pada penderita yang positif
Cara pen u laran VHC yan g palin g u m u m adalah secara parenteral, yaitu anti-VHC, penderita Hepatitis C kronik yang diterapi (untuk memantau
berkaitan dengan penggu naan bersama jarum suntik yang tidak steril terutama respons terapi), dan penderita dengan gangguan hati kronik dengan anti-VHC
pada pengguna obatobatan terlarang, tato, tindik, penggunaan alat pribadi negatif yang tidak diketahui penyebabnya (terutama p a d a p en d er ita d en
seperti pisau cukur, sikat gigi bersama penderita, transfusi darah, operasi, ga n p en u r u n a n s is tem im u n ). Pemeriksaan genotip VHC juga wajib
transplantasi organ, dan melalui hubungan seksual. VHC adalah penyebab u dilakukan pada semua penderita yang akan menerima terapi antivirus untuk
tama dari Hepatitis yang diderita setelah transfusi darah. Walaupun begitu, menilai lama pengobatan yang diperlukan dan kemungkinan respon terhadap
peraturan yang memperketat pemeriksaan darah bagi donor darah telah terapi.
menurunkan risiko infeksi secara drastis. Penularan dapat terjadi dalam waktu
1 minggu atau lebih setelah timbulnya gejala klinis yang pertama pada 6. Pencegahan
penderita. Oleh k a ren a s a m p a i s a a t in i b elu m ters ed ia va k s in Hep a titis C, m
Penularan vertikal dari ibu ke bayi selama proses kelahiran s a n ga t ja r a n g a k a p en cega h a n n on -s p es ifik leb ih d i prioritaskan dalam membatasi
(s ek ita r 5 -6 %) d a n m en yu s u i tid a k meningkatkan resiko penularan penularan VHC. Darah yang didapat dari donor darah harus diperiksa secara
VHC dari seorang ibu yang terinfeksi ke bayinya. Hepatitis C tidak dapat ketat untuk memastikan darah tersebut bebas VHC. Selain itu, prinsipprinsip
menular melalui jabat tangan, ciuman, dan pelukan. kewaspadan universal juga harus diterapkan secara sempu rna dan konseling u
ntu k memeriksakan diri haru s d ila k s a n a k a n p a d a k elom p ok -k elom
p ok ris ik o tin ggi. Penderita-penderita yang diketahu i menderita Hepatitis C
3. Tanda dan gejala haru s mendapat konseling u ntu k mengu bah perilaku dan untuk memutus
rantai infeksi Hepatitis C.

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 27


Edukasi yang bisa diberikan mencakup: Apabila oran g tersebu t belu m m em iliki kekebalan terh adap Hepatitis B,
1. Tidak diperbolehkan bertukar sikat gigi ataupun pisau cu ku r. disarankan pemberian imunisasi Hepatitis B. Apabila ya n g b er s a n gk u ta
 Menutupi semua luka dan abrasi dengan penutup tahan air. n b elu m p er n a h m en d a p a t im u n is a s i sebelumnya, vaksin harus
 Membersihkan tumpahan darah dan cairan tubuh lainnya secara segera diberikan dari awal sebanyak 3 kali suntikan. Apabila yang bersangkutan
dan hati-hati. ternyata memiliki status HBsAg (+), maka segera dirujuk ke dokter untuk
 Menggu nakan sistem yang aman u ntu k penanganan dan pembuangan berkonsultasi lebih lanjut.
limbah.
 Menggunakan prinsip sekali pakai untuk alat-alat yang bisa digu nakan
sekali pakai (jaru m su ntik, scalpel, atau kasa) atau melakukan sterilisasi C. PENAPISAN DAN PENCEGAHAN PENULARAN HEPATITIS B PADA
yang adekuat untuk setiap alat yang mungkin kontak dengan cairan tubuh TENAGA MEDIS
penderita dan akan dipakai kembali (alat-alat hecting, set partus, atau alat Tenaga medis merupakan salah satu kelompok paling berisiko tertular
bedah lainnya). Hepatitis B karena dalam melaksanakan pekerjaannya terjadi kontak dengan
Mengingat tingginya risiko penularan Hepatitis B pada tenaga medis, setiap cairan tubuh penderita. Petugas medis bila tidak menerapkan prinsip-prinsip
tenaga medis ju ga diwajibkan u ntu k menjalani pemeriksaan penapisan pencegahan universal yang baik, hal ini bisa memacu penularan virus antar
Hepatitis B dengan disertai pemeriksaan status kekebalan. Metode penapisan penderita atau ke dirin ya sen diri. Data dari berbagai literatu r ju ga telah m
HBsAg bisa menggunakan pemeriksaan tes cepat sederhana/ rapid test. em bu ktikan bah wa seju m lah besar pen derita Hepatitis B merupakan tenaga
Tenaga medis yang memiliki satus HBsAg (-) dan kekebalan kurang terhadap medis.
Hepatitis B wajib menjalani imunisasi Hepatitis B. Apabila tenaga medis/ Un tu k m en cega h p en u la r a n Hep a titis B d a r i p en d er ita (pencegahan
paramedis yang bersangkutan belum pernah mendapat im u n is a s i s ebelu m prim er), setiap tenaga m edis diwajibkan u ntu k menerapkan prinsip-prinsip
n ya , va ks in h a ru s diberika n da ri a wa l sebanyak 3 kali su ntikan pada bu pencegahan universal. Edukasi dan kontrol penerapan prinsip-prinsip
lan 0 (pada saat datang), su ntikan ke 2 satu bu lan kemu dian dan su ntikan ke pencegahan universal harus dilakukan oleh penanggung jawab pusat pelayanan
3 pada bulan ke 6. kesehatan tem pat ten aga m edis tersebu t bekerja dan dikoordin asikan dengan
Tenaga medis yang terdiagnosis memiliki status HBsAg (+) harus d ir u ju k k Dinas Kesehatan setempat.
e d ok ter a h li u n tu k b er k on s u lta s i m en gen a i kem u n gkin an terapi Prinsip-prinsip ini mencakup:
pen yakitn ya. Pen derita ju ga sebaikn ya diperiksa status HBeAg, anti-HBe,  Mencuci tangan setiap sesudah melakukan kontak langsung dengan
DNA HBV, SGOT, dan SGPTnya secara periodik sebagai u paya memantau penderita.
perkembangan penyakitnya. Sementara tenaga medis, paramedis dan tenaga  Tidak melakukan recapping jarum suntik dengan 2 tangan.
keseh atan yan g m em iliki statu s HBsAg (-) perlu m elaku kan imu nisasi.  Prosedur yang aman untuk mengumpulkan dan membuang jarum dan
benda tajam lainnya dengan menggunakan kotak yang tahan tembus dan
D. PENAPISAN DAN PENCEGAHAN PENULARAN HEPATITIS B tahan cairan.
PADA PSK, ORANG DENGAN PASANGAN SEKSUAL MULTIPEL,  Mengenakan saru ng tangan u ntu k setiap kontak dengan cairan tubuh,
DAN IVDU kulit yang tidak intak, dan mukosa.
 Mengenakan masker, pelindung mata, dan gaw n (dan kadang apron
Kelompok Pekerja Sex Komersil (PSK), orang dengan pasangan seksual plastik) bila ada kemu ngkinan cipratan darah atau cairan tubuh lainnya.
multipel, dan Intra Venous Drug User (IVDU) merupakan
50
51 2. Menutup luka yang terbuka agar darah tidak tersentuh orang lain.

28 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


3. Penderita yang menggunakan obat-obatan terlarang injeksi sebaiknya Penyebab Hepatitis D adalah virus hepatitis delta (VHD) yang ditemukan
diminta berhenti, dan bila tidak bisa, penderita diminta tidak pertama kali pada tahun 1977, berukuran 35-37 nm dan mempunyai
menggunakan jarum suntik dan alat-alat lain yang berhu bu ngan dengan antigen internal yang khas yaitu antigen delta. Virus ini merupakan virus
darah secara bergantian dan untuk membuang jarum bekas ke tempat RNA dengan defek, artinya virus ini tidak mampu bereplikasi secara
khusus yang mencegah orang lain tertusuk secara tidak sengaja. sempurna tanpa batuan virus lain, yaitu virus Hepatitis B. Hal ini
4. Tidak diperbolehkan mendonorkan darah, organ, ataupun sperma. dikarenakan VHD tidak mampu mensintesis protein selubungnya sendiri
5. Penderita perlu diberitahu bahwa risiko penularan VHC lewat hubungan dan bergantung ada protein yang disintesis VHB, termasuk HBsAg. Maka
seksual sebenarnya cukup rendah dan p en ggu n a a n b a r ier u n tu k p dari itu, infeksi VHD hanya bisa terjadi pada penderita yang juga
a s a n ga n m on oga m y sebetu lnya tidak begitu diperlu kan, namu n terinfeksi VHB pada saat bersamaan atau sudah terinfeksi kronik oleh
penderita dengan pasangan multipel sebaiknya disarankan untuk VHB. Genom VHD terdiri dari 1.700 pasangan basa yang merupakan
menghentikan kebiasaan tersebut. jumlah pasangan basa terkecil untuk virus pada hewan.

7. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar 2. Cara penularan


a. Pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan memberikan Pegyla ted in ter VHD ditularkan dengan cara yang sama denganVHB, yaitu lewat pajanan
fer on a lfa d a n Rib a vir in . La m a pemberian terapi ditentukan terhadap caian tubuh penderita Hepatitis D. Cara pen u laran yan g palin
berdasarkan genotip virus, pada gen otip 1 dan 4 diberikan selam a 48 m g u tam a didu ga m elalu i jalu r parenteral.
in ggu , sementara pada genotip 2 dan 3 diberikan selama 24 minggu.
Pemantauan jumlah virus perlu dilakukan untuk melihat respons terhadap 3. Tanda dan gejala
terapi dengan interferon.
Perja la n a n pen ya kit Hepa titis D m en giku ti perja la n a n penyakit
b. Disinfeksi terhadap bekas cairan tubuh dari penderita.
Hepatitis B. Artinya, bila Hepatitis B yang diderita penderita bersifat aku
c. Isolasi tidak diperlukan
t dan lalu sembu h, VHD ju ga akan hilang seluruhnya. Namun bila VHD
d. Pencegahan sekunder dan tersier bila seseorang terpajan cairan tubuh
menginfeksi penderita yang sudah menderita Hepatitis B kronik, maka
penderita Hepatitis C dapat berupa:
penderita tersebu t ju ga akan menderita Hepatitis D kronik. Gejala infeksi
1) Edukasi dan konseling untuk mendapatkan pilihan pengobatan yang
Hepatitis D sama persis dengan Hepatitis B, namun kehadiran virus ini
tepat.
terbukti mempercepat proses fibrosis pada hati, meningkatkan risiko
2) Imunisasi Hepatitis A dan B untuk mencegah terjadinya ko-infeksi
kanker hati, dan mempercepat dekompensasi pada keadaan sirosis hati.
dengan Hepatitis A dan B.
B. PENAPISAN DAN PENCEGAHAN PENULARAN HEPATITIS B
3) Pemeriksaan secara berkala untuk memantau kemungkinan
PADA KELUARGA ATAU ORANG YANG TINGGAL SERUMAH
perkembangan penyakitnya.
DENGAN PENDERITA HEPATITIS B
4) Apabila terbukti positif terinfeksi Hepatitis C, maka p en d erita h a
ru s d itera p i s es u a i jen is gen otip viru s. Kelu arga atau orang yang tinggal seru mah dengan penderita Hepatitis B
e. Pencatatan dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku (STP dan merupakan salah satu kelompok yang paling berisiko tertular Hepatitis B.
SIRS). Pemakaian alat-alat rumah tangga bersama, seperti gunting kuku, pisau cukur,
atau sikat gigi terbukti bisa menjadi su mber penu laran Hepatitis B. Kelu arga
atau orang yan g tin ggal seru m ah den gan pen derita Hepatitis B h aru s
D. HEPATITIS D mendapatkan edukasi yang memadai untuk meminimalisir risiko penu laran.
Edukasi yang diberikan harus mencakup hal-hal berikut:
1. Etiologi
 Pen jelasan u m u m m en gen ai pen yebab, cara pen u laran , perjalanan
penyakit, gejala u mu m, terapi, dan komplikasi Hepatitis B.

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 29


 Cara-cara pencegahan umum infeksi Hepatitis B, antara lain: diperiksakan status, anti-HBe, DNA VHB, dan ALTnya. Ibu yang positif Hepatitis
o Menghindari kontak cairan tubuh yang tidak aman dengan tidak B disarankan untuk tetap menyusui bayinya.
melakukan hubungan seksual yang tidak aman dan menggu nakan
Apabila ibu yang akan melahirkan memiliki statu s HBsAg (+) dan HBeAg (-), m
jaru m su ntik atau alat yang mungkin menimbulkan luka secara
aka persalin an ibu tersebu t wajib dilakukan/ didampingi oleh tenaga medis yang
bergantian.
terlatih. Sesuai an ju ran program im u n isasi, bayi segera m en dapatkan im u n
o Selalu membersihkan dengan baik alat-alat yang mu ngkin menimbu
isasi HB0, sedan gkan ibu n ya sebaikn ya m en dapat konseling dari dokter ahli
lkan lu ka pada orang lain, seperti pisau cukur, sikat gigi, peralatan
Penyakit Dalam atau dokter yang telah dilatih tentang Hepatitis B virus.
perawatan kuku, atau alat tato. Lebih baik lagi bila alat-alat ini bisa
4. Masa Inkubasi
digunakan untuk sekali pakai saja atau hanya digunakan oleh satu
orang saja. Rata-rata 2-8 minggu
 Pengetahuan tentang di mana dan cara memeriksakan diri u n tu k statu s
Hepatitis B dan kem u n gkin an terapi serta jaminan yang ada. 5. Diagnosis
 Saran untuk tidak mendiskriminasikan orang yang menderita Hepatitis B. Semu a penderita Hepatitis B sebaiknya dihimbau u ntu k m en jalan i pem
Perlu juga dilakukan edukasi bahwa penyakit ini tidak menular lewat eriksaan Hepatitis D. Pem eriksaan awal dilakukan dengan mencari anti-HDV
penggunaan alat makan bersama, berja ba t ta n ga n , berciu m a n , a ta u di serum. Apabila positif, pem eriksaan dilan ju tkan den gan m em eriksa RNA
berpelu ka n den ga n penderita Hepatitis B. VHD. Penderita yang RNA VHD-nya positif saja yang dianjurkan u ntu k
Setiap anggota keluarga atau orang yang tinggal serumah dengan pen derita menjalani terapi Hepatitis D. Perlu diingat bahwa karena infeksi VHD m em
Hepatitis B ju ga h aru s disaran kan u n tu k segera melakukan pemeriksaan iliki cara penu laran yang sam a dengan VHB, VHC, dan HIV, maka
penapisan dan kekebalan Hepatitis B. pemeriksaan untuk virusvirus ini juga perlu dilakukan.

6. Pencegahan
49 Mengingat infeksi VHD hanya bisa terjadi pada orang dengan Hepatitis B, m
kehamilannya. Hal ini dimaksudkan agar ibu, keluarga, dan tenaga medis memiliki aka pen cegah an in feksi VHD sam a persis dengan pencegahan infeksi VHB.
kesempatan untuk mempersiapkan tindakan yang diperlukan apabila ibu memiliki Imunisasi terhadap VHB telah terbu kti efektif m en ekan prevalen si Hepatitis
status HBsAg (+). Pelayanan pemeriksaan penapisan Hepatitis B ini dapat dila ks D di beberapa daerah di Eropa.
a n a ka n da n dis edia ka n pa da s a ra n a pela ya n a n kesehatan oleh tenaga
kesehatan yang telah dilatih. 7. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar
Apabila ibu yang akan melahirkan memiliki statu s HBsAg (+) dan HBeAg (+), m a. Pengobatan : sampai saat ini hanya terapi berbasis In terferon yan g terbu
aka persalin an ibu tersebu t wajib dilakukan/ didampingi oleh tenaga medis yang kti cu ku p efektif sebagai terapi
terlatih. Bayi ya n g la h ir da ri ibu den ga n HBs Ag (+) da n HBeAg (+) disarankan Hepatitis D
segera mendapat su ntikan HBIG 0,5 mL dan vaksin Hepatitis B. Kedu a su ntikan b. Disinfeksi terhadap bekas cairan tubuh dari penderita.
ini diberikan segera setelah bayi dilahirkan (kurang dari usia 12 jam). Pemberian c. Isolasi tidak diperlukan
imunisasi selanjutnya sesuai Program Imunisasi Hepatitis B Nasion al (pada bu lan d. Imunisasi pasif terhadap Hepatitis B pada orang yang
ke-2, 3 dan 4). Selan ju tn ya perlu diketahu i statu s HBsAg dan anti HBsnya pada
saat bayi berusia 9-12 bulan.
Ibu dengan HBsAg (+) dan HBeAg (+) harus dirujuk ke dokter ah li u n tu k berkon
su ltasi m en gen ai kem u n gkin an terapi penyakitnya. Penderita juga sebaiknya

30 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


e. Pencatatan dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku
(STP dan SIRS)
2. Imunisasi pada anak yang lahir dari ibu HBsAg (-)

Seorang bayi yang lahir dari ibu dengan statu s HBsAg (-) E. HEPATITIS E m a ka wa jib m en giku ti Progra m Im u n
isa si Hepa titis B
Na sion a l ka ren a In don esia m eru pa ka n n ega ra den ga n 1. Etiologi
endemisitas tinggi.
Penyebab Hepatitis E adalah virus Hepatitis E (VHE), sebuah viru s RNA berbentu k sferis. VHE term asu k dalam fam ili

48
terpajan cairan tubuh penderita 4. Masa Inkubasi
Hepeviridiea genu s Hepeviru s. Viru s ini awalnya disebu t sebagai penyebab Masa inkubasi Hepatitis E berkisar antara 15-64 hari, dengan rata-rata masa
enterically transmitted non-A non-B Hepatitis (ET-NANB). Ba ru pa da ta h u inkubasi bervariasi antara 26-42 hari pada KLB yang berbeda.
n 1983 viru s in i berh a s il diidentifikasi dan dinamai virus Hepatitis E.
BAB V
PENGEMBANGAN PROGRAM HEPATITIS B
2. Cara penularan
VHE ditu larkan melalu i jalu r fecal oral. Air minu m yang tercem ar tin ja m
eru pakan m edia pen u laran yan g palin g umum. Penularan secara perkutan
dan perinatal juga pernah ter d ok u m en ta s i. Ber b a ga i p en elitia n ter b a Penanganan Hepatitis B di Indonesia adalah masalah yang ru mit d a n m em b u tu
r u ju ga menunjukkan kemungkinan transmisi secara zoonotic dari babi, rusa, h k a n k oord in a s i d a ri b a n ya k p ih a k . Su litn ya penanganan ini antara lain
dan hewan-hewan pengerat. disebabkan karena tingginya prevalensi Hepatitis B di Indonesia, sifat virus
Hepatitis B yang sangat infeksius, dan ku rangnya pengetahu an dan kepedu lian
masyarakat tentang Hepatitis B. Penanganan Hepatitis B di Indonesia secara umum
3. Tanda dan gejala dapat dibagi menjadi upaya memutus rantai penularan virus Hepatitis B dan
Infeksi Hepatitis E selalu bersifat akut dan gejala infeksi ini bervariasi dari su penanganan secara tepat penderita Hepatitis B. Pemu tu san rantai penu laran viru
bklinis sampai fu lminan. Kemu ngkinan Hepatitis fulminan karena infeksi s Hepatitis B bisa dilaku kan secara vertikal maupun horizontal. Penanganan
VHE saat ini tercatat 0,53%. Kemungkinan ini terutama meningkat pada ibu penderita Hepatitis B secara tepat, selain berguna untuk menekan angka kejadian
hamil di mana angka kematian mencapai 20%. Gejala yang mungkin muncul sirosis dan kanker h a ti, ju ga bergu n a u n tu k m en cega h pen u la ra n den ga n
pada Hepatitis E akut tidak berbeda dengan Hepatitis akut lainnya, yaitu lemas, ca ra mengurangi tingkat infeksiusitas penderita.
penurunan nafsu makan, demam, nyeri perut, mual, muntah, dan kuning. Bila
dibandingkan dengan Hepatitis A, Hepatitis E akut cenderung lebih parah
secara klinis, dengan risiko koagulopati dan kolestasis terjadi pada kurang A. PENAPISAN HEPATITIS B PADA IBU HAMIL
lebih 50% penderita.
1. Penanganan anak dan ibu dengan HBsAg (+)
Ma s a pen u la ra n Hepa titis E ya n g pa s ti m a s ih belu m diketahui, namun
DNA VHE dapat ditemukan dalam tinja penderita sejak awal penyakit dan bisa Di n egara berkem ban g, term asu k In don esia, pen u laran virus Hepatitis
bertahan sampai 1-6 minggu setelah gejala mulai muncul. B secara vertikal masih memegang peranan penting dalam penyebaran

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 31


virus Hepatitis B. Selain itu, 90% anak yang tertular secara vertikal dari 46
ibu dengan HBsAg (+) akan berkem ban g m en galam i Hepatitis B kron 5. Diagnosis
is. Maka pen cegah an pen u laran secara vertikal m eru pakan salah satu Dia gn os is ditega kka n den ga n ditem u ka n n ya a n tibodi terhadap VHE
aspek yan g palin g pen tin g dalam m em u tu s ran tai penularan Hepatitis atau RNA VHE di serum atau feses penderita. Antibodi yang bisa dideteksi
B. saat ini mencaku p IgM, IgG, dan IgA.
Langkah awal pencegahan penularan secara vertikal adalah dengan
mengetahui status HBsAg ibu hamil. Langkah ini bisa dilakukan dengan
6. Pencegahan
melakukan penapisan HBsAg pada setiap ibu h am il. Metode pen apisan
HBsAg bisa m en ggu n akan pemeriksaan cepat (rapid test). Penapisan Sa m p a i s a a t in i va k s in terh a d a p VHE m a s ih b elu m d item u k a n
ini sebaiknya diikuti oleh s em u a wa n ita h a m il p a d a tr im es ter p , s eh in gga p en cega h a n Hep a titis E leb ih d itek a n k a n p a d a u p a ya
er ta m a -u p a ya p en in gk a ta n h igien e lingku ngan. Tindakan-tindakan yang bisa
diambil ku rang leb ih s eru p a d en ga n p en cega h a n n on -s p es ifik u n
tu k
47 Hepatitis A.
b. Apabila tidak teridentifikasi sama sekali sumber penu larannya maka Studi pada populasi telah menunjukkan bahwa orang- orang yang pernah
u ntu k sementara semu a popu lasi berisiko makan makanan yang menderita Hepatitis E sebelumnya cenderung tid a k ter k en a la gi p a d a wa
dibawa dari rumah saja. b a h b er ik u tn ya . Ha l in i menunjukkan bahwa kekebalan terhadap Hepatitis
c. Rebus air minum sampai mendidih dan setiap kali m en gh a n ga tk E yang didapat dari in feksi sebelu m n ya kem u n gkin an berlaku untuk
a n m a k a n a n d ip a n a s k a n s a m p a i minimal 85 derajat seumur hidup.
celcius selama 1 menit.
d. Pemberian imunisasi pada saat terjadinya KLB adalah pem beria n 7. Penanganan Penderita, Kontak dan Lingkungan sekitar
Im u n oglobu lin (IG) pa da popu la si ya n g diperkirakan sudah
terpapar dengan virus Hepatitis A, misalnya satu kantin sebagai a. Pengobatan: tidak spesifik, utamanya meningkatkan daya tahan tubuh
sumber penularan bersama, tetapi pemberian imunisasi ini sangat (istirahat dan makan makanan yang bergizi), rawat inap hanya diperlukan
mahal dan tidak menjadi program pemerintah. Pemberian imunisasi bila penderita tidak dapat makan dan minum serta terjadi dehidrasi berat
aktif pada saat KLB tidak dianjurkan. b. Disinfeksi serentak terhadap bekas cairan tubuh dari
penderita
Bebera pa Nega ra (Argen tin a , Ch in a , Is ra el, da n USA) memberikan
c. Isolasi tidak diperlukan
imunisasi Hepatitis A pada program imunisasi rutin. Di negara lain
d. Pencatatan dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku
merekomendasikan pemberian vaksinasi pada orang-orang yang tinggal
(STP dan SIRS)
di daerah endemis tinggi atau pada orang yang akan berkunjung ke daerah
4. Upaya Penanggulangan KLB
endemis.

32 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


5. Pemutusan Rantai Penularan
Apa bila s u m ber pen u la ra n tela h teriden tifika s i m a ka perba ika n s a n
ita s i da n pen ga m a n a n m a ka n a n s egera dilakukan dengan ketat, serta
sumber penularan dimaksud diisolasi sampai diyakini tidak mengandung virus.
Apabila su m ber pen u laran adalah air m aka dilaku kan kaporisasi :
a. Apabila belum teridentifikasi sumber penularannya dengan jelas maka
perbaikan sanitasi dan pengamanan m akan an segera ditegakkan den gan
ketat terh adap semu a kantin dan jajanan yang berhu bu ngan dengan
populasi berisiko.

45

c) Siapa yang terkena (jenis kelamin dan usia)  Tentukan cara pencegahan dimasa akan dating

4) Rumuskan dugaan sementara 7) Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi


Kem u n gkin an pen yebab, su m ber in feksi, distribu si penderita tersebut:
(pattern of disease).  Pendahu lu an
 Latar belakang
5) Rencana penyelidikan epidemiologi Ren can a pen yelidikan epidem  Hasil penyelidikan epidemiologi
iologi yan g lebih detail dengan melakukan wawancara :  Analisis data dan kesimpulan
 Tentukan data yang diperlukan (jumlah kasus dan populasi  Tindakan penanggulangan  Saran rekomendasi
berisiko)
 Gunakan check list
 Laku kan pen gam bilan data den gan sam pel yan g cukup
(minimal 30% dari jumlah kasus)
6) Lakukan tindakan penanggulangan
 Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif
 Lakukan surveilans terhadap penyakit dan faktor lain yang
berhubungan

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 33


44 orang dewasa. Penularan Hepatitis B terutama terjadi selama masa kehamilan
BAB IV dari ibu dengan Hepatitis B ke anak (penyebaran perinatal).

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI Pa d a n ega ra d en ga n en d em is ita s Hep a titis B ren d a h (prevalensi


HBsAg kurang dari 2%), sebagian besar infeksi terjadi pada dewasa m u da,
kh u su sn ya pada kelom pok berisiko.
Tingkat prevalensi Hepatitis B di Indonesia sangat bervariasi yaitu berkisar
Hepatitis viru s aku t m en em pati u ru tan pertam a dari berbagai penyakit hati di dari 2,5% di daerah Ban jarm asin h in gga 25,61% di Ku pan g, seh in gga In
selu ru h du nia. Penyakit tersebu t dengan gejala sisan ya m eru pakan pen yebab don esia term asu k dalam kelompok negara dengan endemisitas sedang hingga
kem atian 1-2 ju ta oran g setiap tahunnya. Beberapa episode Hepatitis mucul tinggi.
dengan klinis anikterik, tidak nyata atau subklinis. Surveilans epidemiologi
Sebelum kebijakan skrining terhadap darah donor ditetapkan, penderita yang
Hepatitis dengan fokus pada kasus akut dan bergejala mulai dilaksanakan di
menerima darah dari donor carrier Hepatitis B mempunyai risiko tinggi
negaranegara Eropa. Saat ini, belum ada sistem pencatatan yang baik akibat belum
tertular penyakit ini. Namun saat ini sebagian besar negara di du nia
terbentuknya jejaring epidemiologi untuk Hepatitis. Data dari Ru m ah Sakit (SIRS)
menyediakan fasilitas skrin in g u n tu k HBsAg terh adap darah don or sebelu
baik rawat jalan m au pu n rawat in ap lebih ditujukan pada kasus akut dan Hepatitis
m diberikan kepada penderita yang memerlukan.
yang bergejala.
3. Hepatitis C
A. EPIDEMIOLOGI
Penularan VHC yang paling sering adalah melalui parenteral yaitu pajanan
1. Hepatitis A dengan darah dan produ knya. Oleh karena itu , p r eva len s i Hep a titis C s a
n ga t d ip en ga r u h i oleh penggunaan jarum suntik bersama di kalangan
Di Indonesia, virus Hepatitis A masih merupakan penyebab Hepatitis
pecandu obat terlaran g dan pen ggu n aan jaru m su n tik tidak steril di
akut yang dirawat di rumah sakit (39,8-68,3%).
pelayanan kesehatan. Selain itu, penularan dapat pula terjadi melalui infeksi
Pada n egara berkem ban g, sebagian besar oran g dewasa su dah memiliki seksual dan maternal-neonatal (efisiensi dan freku ensi rendah). Menu ru t
kekebalan terhadap Hepatitis A sehingga wabah Hepatitis A jarang WHO, 2-3% pendu du k du nia (130-170 juta) terinfeksi oleh VHC. Di Eropa
terjadi. Hal ini terlihat pada lebih dari 75% anak dari berbagai benua Asia, dan Amerika, Afrika, Asia Tenggara, prevalensi Hepatitis C berkisar antara
Afrika, dan India menunjukkan sudah adanya antibodi anti-HAV pada 0,5% hingga 2,4%. Data yang tersedia untuk Hepatitis C lebih
usia 5 tahun. Pada daerah dengan sanitasi lingkungan yang rendah, infeksi menggambarkan hasil skrining dan tes laboratorium daripada su rveilans
terhadap virus ini umumnya terjadi pada anak-anak hingga dewasa mu da. epidemilogi. Di Indonesia, prevalensi anti-HCV donor darah di beberapa
Penyakit ini u mu mnya menyerang anak-anak sekolah dan dewasa muda tempat menunjukkan angka antara 0,05% hingga 3,37%.
dengan jalur penularan melalui fecal-oral. berwarna pekat seperti teh, sampai ikterus (kekuningan) yang terlih at pada ku
lit dan m ata, dapat didu ku n g den gan ditem u kan n ya IgM an ti VHA pada
2. Hepatitis B beberapa kasu s yan g diperiksa. KLB Hepatitis (suspek A atau E) dilaporkan
Hepatitis B tersebar di seluruh dunia, WHO memperkirakan lebih dari 2 dengan menggunakan format W1 secara berjenjang.
milyar orang terinfeksi HBV (termasuk 240 juta dengan infeksi kronis).
Setiap tahu n diperkirakan sekitar 1.000.000 orang meninggal akibat 2. Penyelidikan Epidemiologi
infeksi HBV. Tujuan penyelidikan epidemiologi:
Pada negara dengan VHB endemis tinggi (prevalensi HBsAg berkisar di atas a. Menegakkan diagnosis KLB Hepatitis A atau E.
8%), in feksi dapat terjadi pada sem u a golongan usia. Prevalensi terjadinya
infeksi Hepatitis B kronik pada anak-anak jauh lebih tinggi dibandingkan pada

34 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


b. Mengetahui penyebaran kasus menurut waktu (minggu), wilayah b. Peningkatan jumlah kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga)
geografi (RT/ RW, desa, dan kecamatan), umur dan variabel lainnya yang kurun waktu dalam jam, hari, atau minggu berturut-turut menurut
diperlukan misalnya sekolah dan tempat kerja. jenis penyakitnya.
c. Mengetahui sumber dan cara penularan. c. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan
d. Mengetahui situasi KLB pada saat penyelidikan epidemiologi dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau
dilaksanakan serta perkiraan peningkatan dan penyebaran KLB. minggu menurut jenis penyakitnya.
d. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bu la n m en u n
3. Langkah-langkah Penyelidikan Epidemiologi ju kka n ken a ika n du a ka li a ta u lebih dibandingkan dengan angka
rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
1) Konfimasi / penegakan diagnosis
a) Definisi kasus e. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun
b) Klasifikasi kasus (suspek atau konfirm) menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih d ib a n d in gk a n d en ga
c) Pemeriksaan laboratorium : n r a ta -r a ta ju m la h k eja d ia n kesakitan per bulan pada tahun
 Penderita (IgM HAV) sebelumnya.
Laboratorium rujukan : Badan Litbangkes f. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1
Lingkungan: air minum, air bersih La b or a tor iu m r u ju k a n (satu ) ku ru n waktu terten tu m en u n ju kkan kenaikan 50% (lima
: BBTKL J a k a r ta , Surabaya, Yogyakarta, dan BTKL Medan. pulu persen) atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasu s
su atu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
2) Menentukan apakah peristiwa itu suatu KLB atau bukan a) Bandingkan
informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang g. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada 1
KLB. (satu) periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih
b) Bandingkan dengan insiden penyakit pada minggu/ bulan/ tahun dibandingkan satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang
sebelumnya. sama.

3) Hubungan adanya KLB dengan faktor waktu, tempat, dan orang Apabila terdapat seju m lah pen derita dalam satu daerah den gan gejala
a) Kapan mulai sakit (waktu) dem am , sakit kepala, lelah , n afsu m akan menurun, gangguan
b) Di mana mereka mendapat infeksi (tempat) pencernaan, mual, muntah, air kencing

43
D. KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) 42
4. Hepatitis D
1. Penetapan KLB Diperkirakan terdapat 10 ju ta pendu du k terinfeksi viru s Hepatitis D dan pada
Penetapan KLB berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan penderita Hepatitis B lebih berisiko terkena Hepatitis D. Hepatitis D dapat
Repu blik Indonesia Nomor 1501/ MENKES/ PER/ X/ 2010. Suatu daerah muncul secara endemis atau dalam bentuk KLB pada populasi yang
dapat ditetapkan dalam keadaan KLB, apabila memenuhi salah satu mempunyai risiko tinggi terinfeksi VHB, misalnya pada popu lasi Hepatitis B
kriteria sebagai berikut : endemis (seperti di Ru sia, Romania, Italia bagian selatan, Afrika dan Am erika
Selatan ), m ereka adalah pen derita hemophilia, pecan du obat terlaran g dan
a. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana
lain n ya, karen a mereka sering kontak dengan darah. Mengingat bahwa
dimaksudkan dalam Pasal 4 yang sebelumnya tidak ada atau tidak
infeksi
dikenal pada suatu daerah tertentu.

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 35


VHD m em b u tu h k a n ter ja d in ya in fek s i VHB s eca r a bersamaan, 4. Rekapitulasi laporan bulanan Hepatitis diperoleh dari register harian.
maka bila ada penurunan carrier HBsAg infeksi VHD ju ga m en u ru n , s ep Laporan dilaporkan secara berjenjang dari puskesmas ke dinas kesehatan
erti ya n g terja d i d i d a era h Mediterania (Yu nani, Italia, Spanyol) dan kabupaten, dinas kesehatan provinsi dan pu sat (Su bdit Diare & ISP).
sebagian besar negara di dunia. (Format laporan terlampir).
5. Rekapitulasi laporan bulanan dari dinas kesehatan kabupaten dan provinsi
5. Hepatitis E ditambahkan dengan laporan dari rumah sakit (HBsAg positif) dan
Hepatitis klinis.
Hepatitis E (VHE) merupakan penyebab utama Hepatitis nonA non-B enterik
di seluruh dunia. KLB Hepatitis E dan kasus sporadis telah terjadi di wilayah 6. Laporan bulanan Hepatitis klinis dari puskesmas dan RS direkapitu lasi
yang sangat luas terutama di negara yang sanitasi lingkungannya kurang baik. dan dian alisis di tin gkat kabu paten / kota menurut :
Beberapa tahu n belakangan ini dengan adanya kemaju an teknologi a. Variabel umur dan jenis kelamin
pemeriksaan serologis untuk mendeteksi IgM dan IgG anti VHE maka peta Setiap kasus digolongan berdasarkan jenis kelamin dan usia.
distribusi infeksi VHE dapat diketahui dengan jelas, misalnya di daerah yang Penggolongan usia yaitu 0 - 7 hari, 8-28 hari, < 1 tahun, 1-4 tahun,
selama ini endemis ternyata prevalensinya lebih rendah (3%-26%), sedangkan 5-9 tahun, 10-14 tahun, 15-19 tahun, 20-44 tahun, 45-54 tahun, 55-
di daerah non endemis seperti Amerika Serikat ternyata frekuensinya lebih 59 tahun, 60-69 tahun, > 70 tahun.
tinggi dari yang diduga (1%-3%).
Di sebagian negara endemis tinggi, infeksi VHE > 50%. Angka tertinggi b. Variabel rawat jalan, rawat inap dan kematian (khusus rumah sakit)
distribusi penyakit adalah pada anak muda sampai dengan u sia Khu su s laporan ru mah sakit dikelompokkan menu ru t
pertengahan(15-40) tahu n. Walau pu n infeksi sering terjadi pada anak tetapi ra wa t ja la n d a n ra wa t in a p . Va ria b el ra wa t in a p ditambahkan
biasanya asimtomatis atau menyebabkan sakit yang ringan tanpa jaundice dengan total kematian.
(anicteric) seh in gga pen yakit in i tidak terdiagn osis. VHE teru tam a
ditularkan melalui fekal-oral, air minum yang tercemar tinja merupakan media
penularan yang paling sering terjadi. C. SISTEM KEWASPADAAN DINI (SKD) HEPATITIS A
B. SURVEILANS HEPATITIS
Sistem kewaspadaan dini meru pakan kewaspadaan terhadap penyakit potensi
Kegiatan Su rveilans Epidemiologi Hepatitis A dan Hepatitis B b er d a s a r k Kejadian Luar Biasa (KLB) beserta faktor-faktor yang mempengaru hi dengan
a n p a d a Kep u tu s a n Men ter i Kes eh a ta n RI Nom or . 1 4 7 9 / ME NKE menerapkan teknologi su rveilans epidem iologi dan dim an faatkan u n tu k m
S / S K/ X/ 2 0 0 3 ten ta n g Ped om a n en in gkatkan sikap ta n gga p , k es ia p s ia ga a n , u p a ya -u p a ya d a n tin
Pen yelen ggaraan Sistem Su rveilan s Epidem iologi Pen yakit Menular dan d a k a n pen an ggu lan gan kejadian lu ar biasa yan g cepat dan tepat
Penyakit Tidak Menular Terpadu dengan beberapa tambahan sesuai dengan (PERMENKES Nomor 949/ MENKES/ SK/ VIII/ 2004 Tahun 2004 tentang
kebutuhan Program. Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa).
Secara umum surveilans epidemiologi Hepatitis : Di a n ta ra s em u a viru s Hep a titis , viru s ya n g b erp oten s i menimbulkan
KLB adalah virus Hepatitis A dan E. Terjadinya KLB Hepa titis A lebih s erin
1. Register harian penderita Hepatitis klinis dibuat di puskesmas oleh
g dis eba bka n oleh kera cu n a n makanan. Oleh karena itu, SKD-KLB
pengelola program. (Format register terlampir)
terutama ditujukan pada upaya pengamanan pangan. Pada daerah dengan
2. Sistem pelaporan mingguan Hepatitis klinis menggunakan format W2, pengamanan pangan yang baik tetapi berada pada wilayah rentan Hepatitis A
diisi pada kolom ‘lain-lain’. maka akan sering terjadi KLB Hepatitis A.
3. Sistem pelaporan Hepatitis klinis menggunakan laporan Sistem Terpadu Apa bila dida pa tka n sekelom pok ora n g (clus ter) m en derita Hepatitis A
Penyakit (STP) yang dilakukan setiap bulan. maka kewaspadaan akan munculnya kasus-kasus berikutnya sampai kurang

36 Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus


lebih 2 bulan sejak kasus pertama perlu ditingkatkan. J ika serangan KLB
berlangsung lebih dari 2 bu lan m aka telah terjadi beberapa su m ber pen u
laran atau serangan bersifat propagated source.
Data yang ada menunjukkan bahwa KLB Hepatitis A sering terjadi pada
musim tertentu sehingga pemantauan adanya KLB Hepatitis A perlu dilakukan
dengan cermat oleh dinas kesehatan provinsi dan Kementerian Kesehatan.
Apabila terdapat kecenderu ngan peningkatan serangan KLB Hepatitis A pada
su atu kawasan terten tu , m aka din as keseh atan provin si atau Kem en terian
Kesehatan perlu menginformasikan peringatan kewaspadaan KLB Hepatitis A
pada semua unit kesehatan di wilayah tersebut.

41

Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus Pedoman Pengendalian Hepatitis Virus 37