Anda di halaman 1dari 10

GANGGUAN PENGLIHATAN PADA PASIEN STROKE

(VISUAL IMPAIRMENT IN STROKE PATIENTS)

1. Bagian Neurologi, Universitas Bergen, Bergen, Norwegia.


2. Institut Ilmu Neuro, Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Norwegia, Trondheim, Norweegia.
3. Departemen Neurologi, Rumah Sakit Universitas Haukeland, Bergen, Norwegia.
4. Departemen Neurologi Universitatsklinikum Erlangen, Erlangen, Jerman.
5. Departemen Ophthalmology, UKT, Tubingen, Jerman.

Sekitar 30% pasien stroke menderita gangguan penglihatan pasca stroke.


Hemianopia merupakan gejala yang paling umum terjadi, selain itu juga terdapat gangguan
penglihatan lainnya yang sering terjadi, seperti diplopia, penurunan visus mata, ptosis,
anisokoria, dan nistagmus. Gangguan visual tesebut dapat sembuh secara keseluruhan
maupun parsial, namun kebanyakan pasien menderita cacat permanen. Akan tetapi pada
pasien stroke lebih sering terlihat gangguan fungsi motorik dan bicara dibandingkan dengan
cacat akibat gangguan visual, namun hal tersebut berkorelasi negatif dengan hasil rehabiltasi
dan menyebabkan penurunan fungsional penglihatan dalam kesehariannya. Cacat mata pasca
stroke dapat mengurangi kualitas hidup dan keterbatasan sosial karena kesulitan dalam
berorientasi terhadap kehidupan di sekitarnya. Diagnosis menyeluruh termasuk pemeriksaan
mata lengkap dan follow-up lebih lanjut merupakan hal yang sangat penting untuk memilih
strategi rehabilitasi yang terbaik terhadap pasien dengan gangguan penglihatan.

Pendahuluan
Gangguan penglihatan merupakan suatu gejala dari beberapa penyakit saraf, seperti
stroke, multipel sklerosis, miastenia gravis, dan tumor otak. Meskipun demikian, pada
beberapa penyakit seperti miastenia gravis, gejala visual terkadang tidak tampak atau dapat
menjadi lebih berat dengan pengobatan yang benar; sedangkan pada kebanyakan penyakit
lainnya, derajat gangguan penglihatan cenderung terjadi secara permanen. Hal ini dapat
menjadi konsekuensi serius terhadap pasien, yang berhubungan dengan penurunan kualitas
hidp mereka secara drastis. Oleh karena itu, sangat penting bagi para klinisi untuk fokus
terhadap prosedur rehabilitasi neurovisual yang mungkin memiliki efek yang
menguntungkan.
Kejadian stroke di Norwegia, terhitung sekitar 15 sampai 16000 pasien. Lebih dari
30% pasien stroke tersebut memiliki gangguan penglihatan, dimana kebanyakan dari mereka
1
menderita hemianopia homonim. Angka kejadian akan gangguan visual adalah tinggi pada
pasien dengan stroke pada daerah oksipital, dimana frekuensinya terhitung lebih dari 70%.
Hemianopia merupakan gejala yang paling menonjol pada pasien stroke, tetapi gangguan
visual lainnya seperti diplopia, ptosis, anisokoria, dan nistagmus juga dapat terjadi pada
pasien stroke. Meskipun hemianopia merupakan gejala serius, tetapi gejala tersebut hanya
memberikan poin dua skor pada National Instittute of Health Stroke Scale (NIHSS), dan
dengan demikian sangat sering pengobatan akut trombolisis menjadi tertunda.
Dengan meningkatnya populasi usia tua di Eropa, angka kejadian stroke juga
diperkirakan akan meningkat dan begitu juga dengan jumlah pasien dengan gangguan
penglihatan yang berhubungan dengan stroke. Hal ini sering tidak terrefleksikan pada proses
rehabilitasi, dimana hal yang menjadi fokus utama dalam rehabilitasi tersebut adalah
pengembalian fungsi motorik dan bahasa. Bagaimanapun, akhir-akhir ini pentingnya
menangani masalah visual juga telah mendapatkan perhatian khusus, dan rehabilitasi visual
juga telah banyak ditawarkan.
Pada review artikel ini, akan didiskusikan perbedaan antara gangguan visual dan
okular yang terjadi pasca stroke, yang mempengaruhi kegiatan sehari-hari dan juga
mempengaruhi kualitas hidup (QOL) dan juga memeriksa bukti-bukti yang ada untuk
perbaikan spontan dan pilihan rehabilitasi yang berbeda.

Stroke- Berhubungan Dengan Masalah Visual


Gangguan okular dan visual pada pasien stroke termasuk kelumpuhan pandangan
dan gangguan gerakan mata lainnya, seperti ptosis, anisokoria, penurunan ketajaman
penglihatan, dan cacat lapangan pandang. Untuk hali ini diperlukan pemeriksaan mata secara
menyeluruh. Kondisi okular lainnya seperti katarak, degenerasi makula, retinopati hipertensif
atau diabetes, dan gangguan refraksi dapat mempengaruhi fungsi visual dan harus dievaluasi
secara seksama.

Gangguan Pergerakan Mata


Pada stroke akut, deviasi konjugat mata merupakan suatu keadaan yang diakui
sebagai dampak dari hemisfer yang terkena. Deviasi konjugat mata dapat mengakibatkan
berkurangnya kecepatan gerakan mata (sakadik), yang terutama penting untuk kegiatan
sehari-hari seperti membaca, mobilitas, dan eksplorasi visual. Stroke di batang otak sering
2
dikaitkan dengan gangguan gerakan okular seperti kelumpuhan nervus kranialis infranuklear
(infranuclear cranialis nerve palsy), kelumpuhan tatapan supranuklear (supranuclear gaze
palsy), ophthalmoplegi intranuclear, dan nistagmus atau skew deviation. Manifestasi nyata
dari gejala tersebut adalah karena keterlibatan dari nervus kranialis tiga, empat, dan enam
(termasuk nervus nuklei), merupaka hal umum yang sering terjadi pada stroke batang otak,
dan dapat menyebabkan diplopia dan/atau penglihatan kabur. Pada beberapa kasus dimana
pasien memiliki sedikit gejala, yang terdeteksi pada pemeriksaan secara menyeluruh
hanyalah mata juling.
Gangguan pursuit halus mempengaruhi kemampuan untuk mengikit objek yang
bergerak dan disebabkan karena lesi pada parietal, parieto-oksipital, batang otak, dan
serebral. Gangguan ini memiliki dampak yang besar pada fungsi dinamis visual seperti
orientasi visuospasial dan identifikasi benda bergerak.

Penurunan Ketajaman Penglihatan


Penurunan ketajaman penglihatan meningkatkan resiko untuk jatuh, memberikan
konstribusi terhadap berkurangnya stabilitas postural dan memiliki dampak negatif pada
kualitas hidup secara keseluruhan. Selain itu, terdapat hubungan yang kuat antara penurunan
ketajaman penglihatan dengan penurunan tingkat aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) pada
pasien di rumah jompo secar kognitif.
Meskipun jarang terjadi, keburukan yang paling mendalam dari penurunan
ketajaman penglihatan terlihat pada pasien dengan kebutaan kortikal yang disebabkan oleh
kerusakan bilateral dari korteks visual primer (V1) atau aferen post-chiasma. Keadaan ini
biasanya disertai dengan komplikasi berupa gangguan sensorik, fisik, kognitif, dan perilaku,
dan untuk membuat suatu rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi tersebut merupakan sesuatu
yang paling menantang.
Secara klinis, banyak pasien stroke yang mengalami penurunan ketajaman
penglihatan pada fase awal pasca stroke akibat pengurangan sensitifitas kontras dan streopsis,
gangguan pergerakan mata, kelumpuhan pandangan (tatapan) atau gangguan persepsi.
Namun, dalam populasi umum, terdapat banyak kondisi lain yang menyebabkan penurunan
ketajaman penglihatan, seperti glaukoma,katarak, penyakit retina, degenerasi makula, dan
gangguan refraksi. Baru-baru ini, sebuat studi Cochrane yang meneliti mengenai efek dan
dampak dari intervensi pada hubungan pasien stroke dengan usia tua terhadap masalah
3
penglihatan, gagal mengidentifikasi indikator penting dengan relevansi klinis yang memadai.
Namun, dalam praksis klinis sehari-hari, penting untuk meneliti pasien dengan kondisi seperti
ini – bahkan resep kacamata untuk mengkoreksi gangguan refraksi mungkin sangat
membantu.

Kerusakan Lapangan Pandang Penglihatan


Sekitar 20%-60% pasien stroke diperkirakan memiliki kerusakan lapangan pandang
penglihatan permanen atau sementara, sebagian besar hemi- atau qudrantanopia, tetapi
ferkuensi cacat sementara agak sulit untuk dipastikan. Di antaranya, sekitar 70% akan
mempertahankan penglihatan central. Namun, stroke terkait dengan disabilitas (cacat)
menghalangi banyak pasien untuk melakukan uji lapangan pandang perimetrik, yang
memiliki spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi.
Semubh parsial maupun komplit dari gangguan lapang pandang penglihatan dapat
terjadi dan telah dilaporkan pada lebih dari 50% pasien stroke. Dalam kebanyakan kasus,
perbaikan spontan tampaknya terjadi dalam 6 bulan pertama pasca stroke. Baru-baru ini, 32
pasien dengan infark oksipital (87,5% dengan hemianopia homonim dan 12,5% dengan
quadrantropia homonim) diperiksa secara prospektif dengan perimeter otomatis. Secara
keseluruhan terdapat peningkatan, terutama untuk kuadran bawah dan perifer, dalam 6 bulan
pasca stroke akut.
Kebanyakan pasien, yang masih terdapat gangguan lapang pandang penglihatan
substansial pasca stroke, akan mengalami derajat gangguan tertentu. Namun, sebagian besar
pasien stroke sebenarnya tidak menyadari defisit yang terdapat pada meraka. Hal ini memiliki
implikasi negatif terhadap beberapa kegiatan seperto mengemudi, dan dapat menyebabkan
peningkatan resiko terhadap kecelakaan.

Gangguan Penglihatan Lainnya


Pengabaian visula adalah umum dan dapat terjadi bersamaan dengan ganggua lapang
pandang penglihatan, seihingga sulit untuk membuat diferensiasinya. Hal ini biasanya terjadi
pada pasca stroke dengan lesi di daerah lobus temporal kanan atau lobus parietal. Dalam
beberapa kasus, pengabaian (neglect) meningkat secara spontan dan jarang diamati setelah 6
bulan.

4
Pasien juga dapat menderita gangguan penglihatan lebih halus: Dalam sebuah survei
gangguan visual dan okulumotor yang lebih sering terjadi pasca stroke, pasien menunjukkan
masalah dengan persepsi visual-spasial, pengenalan objek dan ruang, sensitifitas kontras,
stereopsis, dan fusi konvergen dan adaptasi gelap dan terang. Gangguan-gangguan ini lebih
sulit untuk didiagnosis, tetapi dapat lebih sering melumpuhkan kegiatan sehari-hari.

Penilaian Terhadap Gangguan Penglihatan


Penilaian gangguan penglihatan pasca stroke merupakan suatu tantangan karena sulit
untuk mendeteksi semua aspek defisit kapasitas penglihatan, sebagian karena kurangnya
kerjasama, alat dan metode yang efektif, dan sebagian lagi dikarenakan penurunan fungsi
kognitif dan motorik yang menyertai serta masalah bahasa dan berbicara. Pekerjaan lebih
lanjut dibutuhkan pada kondisi ini karena jelas bahwa banyak pasien stroke yang mungkin
mendapatkan manfaat dari intervensi awal. Uji ketajaman Cardiff adalah suatu contoh usaha
intervensi, yang merupakan suatu tes ketajaman penglihatan yang ditujukan pada kelompok
umur hard-to-test, yaitu umur 12 bulan-3 tahun, tetapi juga dapat digunakan untuk anak-anak
yang usianya lebih tua dan orang dewasa dengan gangguan intelektual.

Implikasi Untuk Kegiatan Sehari-hari


Suatu gangguan lapang pandang penglihatan klasik, baik sebagai hemianopia
homonim atau quadrantanopia dapat secara signifikan mengurangi fungsi visual-spasial,
bahkan jika fungsi makula diawetkan. Pasien dengan masalah orientasi dan navigasi di
lingkungan mereka, seperti mengemudi, membaca, dan menonton TV menjadi sulit dan tidak
mungkin. Hal ini menyebabkan penurunan partisipasi bersosialisasi dan kualitas hidup. Suatu
gangguan lapang pandang penglihatan memiliki korelasi negatif dengan potensial rehabilitasi
pasien dan meningkatkan kebutuhan untuk perawatan institusional.

Penurunan Kemampuan Untuk Membaca


Pada pasien stroke dengan hemianopia homonim, dua faktor penting untuk
kemampuan mereka untuk membaca adalah (1) ukuran bidang visual residu dan (2) sisi dari
gangguan lapang pandang penglihatan. Makular sparing tampaknya menjadi titik kunci
tentang fungsi dan kecepatan dari kecepatan membaca. Ditinjau dari segi sisi gangguan

5
lapang pandang penglihatan, pasien dengan gangguan lapang pandang sisi kanan tampaknya
memiliki lebih banyak masalah dengan membaca dari kiri ke kanan dibandingkan dengan sisi
kiri gangguan lapang pandang penglihatan. Gangguan lapang pandang penglihatan homonim
kiri menyebabkan kesulitan dengan gerakan mata yang dibutuhkan untuk menentukan awal
dari baris baru, sehingga kehilangan kata pertama atau suku kata dari baris. Pada gangguan
lapang pandang penglihatan sisi sebelah kanan homonim, proses scanning antisipatif
paravofeal terganggu, menyebabkan peningkatan jumlah sakadik dan penurunan yang
signifikan dari kecepatan membaca. Hal ini telah dibuktikan dengan Positron Emission
Tomography, dimana hilangnya integrasi proses persepsi dan motorik jelas
didokumentasikan.

Penurunan Kemampuan Untuk Mengemudi


Kemampuan untuk mengemudi atau tidak mengemudi sering menjadi masalah
runcing pada pasien stroke. Penilaian mengenai apakah pasien dapat mengemudi atau tidak,
sering tidak dibahas. Pada pasien stroke dengan gangguan penglihatan, kasusnya mungkin
tampak jelas, karena terdapat persyaratan nasional dan Uni Eropa secara detail yang
dibutuhkan dan lapang pandang visual yang dibutuhkan sebagai izin mengemudi. Namun,
seringkali sulit untuk memilih metode uji yang paling cocok untuk pemeriksaan pasien stroke
dengan gangguan penglihatan. Fokus utama harus berada pada perolehan informasi tentang
kegunaan bidang lapangan pandang dan sejauh mana dan lokalisasi dari penurunan sisanya.
Mengemudi merupakan proses yang rumit, menuntut perhatian dan konsentrasi,
serta kemampuan untuk bertindak cepat, selain itu juga diperlukan fungsi penglihatan yang
memadai. Pasien stroke dengan gangguan penglihatan yang kembali mengemudi, lebih
mungkin untuk menderita gangguan sensitifitas kontras dan penglihatan perifer sebagaimana
berkurangnya lapangan pandang penglihatan, dan lebih rentan untuk terlibat dalam
kecelakaan mobil. Namun, banyak pasien menyadari untuk mengurangi kemampuan
mengemudi mereka, bahkan jika mereka benar-benar memenuhi kriterian untuk mengemudi
kembali, dan menyerah untuk mengemudi.

6
Penurunan Kualitas Hidup
Pasien dengan gangguan lapang pandang penglihatan homonim pasca stroke
dilaporkan memiliki skor rendah dalam kesehatan yang berhubungan dengan kualitas hidup
(QOL) dibandingkan dengan kontrol kesehatan. Mereka juga telah dilaporkan memiliki skor
yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang menderita penyakit mata lainnya.
Penurunan kualitas hidupa pada pasien stroke dengan gangguan penglihatan tampaknya
terkait dengan gangguan lapang pandang penglihatan dan sisi lokalisasi dari kerusakan
(kanan/kiri). Faktor penting lainnya adalah penurunan waktu reaksi visuo-spasial dan
ketajaman penglihatan. Secara keseluruhan, stroke- terkait dengan gangguan penglihatan
tampaknya menjadi faktor resiko untuk penurunan kualitas hidup dalam dirinya sendiri,
terkait dengan kecacatan itu sendiri maupun isolasi sosial.

Stroke- Terkait Gangguan Penglihatan- Strategi Latihan Ulangan dan Rehabilitasi


Rehabilitsi neurovisual masih kurang sering ditawarkan dibandingkan dengan terapi
wicara dan terapi motorik. Ada, namun, diperlukan peningkatan kesadaran akan perlunya itu.
Rehabilitasi neurovisual berfokus pada tiga strategi mayor: Restitusi, kompensasi, dan/atau
substitusi. Restitusi, sebagian besar ditargetkan pada gangguan lapang pandang penglihatan,
merupakan pendekatan yang paling menarik, berfokus pada pemanfaatan wilayah yang
digambarkan sebagai “area penglihatan residual”. Ini berarti bahwa ada sektor-sektor dari
lapangan pandang yang tidak berfungsi secara normal., tetapi beberapa kapasitas penglihatan
otak telah selamat dari cedera iskemik. Sebuah usaha telah dilakukan untuk mengidentifikasi
area ini dengan menggunakan perimetes resolusi tinggi.
Hipotesis ini kemudian diulang pada area-area stimulasi, dapat mengembalikan
fungsi, dan program komersial khusus telah dikembangkan untuk tujuan ini. Saat ini, terdapat
keternatasan bukti untuk mendukung penggunaan pelatihan scanning untuk pasien dengan
gangguan lapang pandang penglihatan. Namun, strategi yang menarik, didasari atas wawasan
yang baruke dalam plastisitas dari sistem saraf pusat, pada area penglihatan terkait, diikuti
suatu lesi sentral.
Untuk belajar mengkompensasi (menggunakan head turning lebih aktif) dan
mengganti (alat bantu melihat, meningkatka kontras pada layar PC/TV) juga penting bagi
pasien stroke dengan gangguan lapang pandang penglihatan, dan saat ini, hal tersebut
merupakan strategi utama rehabilitasi untuk gangguan pergerakan mata. Meskipun tidak
7
terdapat cukup bukti tentang efek tersebut, namun banyak pasien merasa berguna
mempelajari teknik kompensasi tersebut untuk mengatasi kesulitan membaca, dan untuk
membantu menemukan solusi untuk meningkatkan kualitas hidup (dengan penyesuaian layar
PC dan bantuan membaca).
Kesimpulan utama adalah, bagaimanapun, bahwa untuk pasien yang tidak
mengalami penyembuhan komplit atau tidak mengalami penyembuhan atas gangguan
penglihatan sama sekali, adalah penting untuk belajar mengatasi defisit fungsi penglihatan
mereka dan membuat keluarga dan lingkungan untuk menghargai mereka.

Kesimpulan
Gangguan penglihatan merupakan gangguan yang sering terjadi pada pasien-pasien
stroke, dan merupakan suatu faktor utama dalam hal fungsional sehari-hari yang juga
menentukan kualitas hidup. Seperti ditunjukkan dalam artikel ini, ada potensi untuk
penyembuhan dan rehabilitasi , meningkatkan hasil pada pasien-pasien stroke dengan
masalah penglihatan. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang
masalah penglihatan yang berada dalam kondisi akut, untuk mendiagnosa tingkat gangguan
penglihatan dan untuk membangun suatu hubungan untuk pemeriksaan lebih lanjut sebagai
dasar untuk dimasukkan dalam program rehabilitasi penglihatan yang spesifik. Msekipun
efek sistematos dari terapi penyembuhan penglihatan masih belum begitu adekuat, tidak ada
keraguan akan keuntungan pasien untuk mempelajari strategi penyembuhan ini.

Daftar Pustaka

1. ALLEN CMC, HARRISON MJG, WADE DT. The management of acute stroke.
Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press, 1989. viii, 215 pp.
2. PAMBAKIAN AL, KENNARD C. Can visual function be restored in patients with
homonymous hemianopia? Br J Ophthalmol 1997;81:324–8.
3. SUCHOFF IB, KAPOOR N, CIUFFREDA KJ, RUTNER D, HAN E, CRAIG S. The
frequency of occurrence, types, and characteristics of visual field defects in acquired brain
injury: a retrospective analysis. Optometry 2008;79:259–65.
4. PAPAGEORGIOU E, HARDIESS G, SCHAEFFEL F et al. Assessment of vision-related
quality of life in patients with homonymous visual field defects. Graefes Arch Clin Exp
Ophthalmol 2007;245:1749–58.
5. TRAUZETTEL-KLOSINSKI S. Current methods of visual rehabilitation. Dtsch Arztebl
Int 2011;108:871–8.
6. STRBIAN D, SOINNE L, SAIRANEN T et al. Intravenous thrombolysis in ischemic
stroke patients with isolated homonymous hemianopia. Acta Neurol Scand 2012;126:17–9.
8
7. SIMON JE, MORGAN SC, PEXMAN JH, HILL MD, BUCHAN AM. CT assessment of
conjugate eye deviation in acute stroke. Neurology 2003;60:135–7.
8. FOWLER MS, WADE DT, RICHARDSON AJ, STEIN JF. Squints and diplopia seen
after brain damage. J Neurol 1996;243:86–90.
9. ROWE F. The profile of strabismus in stroke survivors. Eye (Lond) 2010;24:682–5.
10. KERKHOFF G. Neurovisual rehabilitation: recent developments and future directions. J
Neurol Neurosurg Psychiatry 2000;68:691–706.
11. CORRIVEAU H, HEBERT R, RAICHE M, PRINCE F. Evaluation of postural stability
in the elderly with stroke. Arch Phys Med Rehabil 2004;85:1095–101.
12. MARX MS, WERNER P, COHEN-MANSFIELD J, FELDMAN R. The relationship
between low vision and performance of activities of daily living in nursing home residents. J
Am Geriatr Soc 1992;40:1018–20.
13. GABER TA. Rehabilitation of cortical blindness secondary to stroke. Neurorehabilitation
2010;27:321–5.
14. POLLOCK A, HAZELTON C, HENDERSON CA et al. Interventions for age-related
visual problems in patients with stroke. Cochrane Database Syst Rev 2012;3:CD008390.
15. LOTERY AJ, WIGGAM MI, JACKSON AJ et al. Correctable visual impairment in
stroke rehabilitation patients. Age Ageing 2000;29:221–2.
16. POLLOCK A, HAZELTON C, HENDERSON CA et al. Interventions for visual field
defects in patients with stroke. Cochrane Database Syst Rev 2011;10:CD008388.
17. TOWNEND BS, STURM JW, PETSOGLOU C, O’LEARY B, WHYTE S, CRIMMINS
D. Perimetric homonymous visual field loss post-stroke. J Clin Neurosci 2007;14:754–6.
18. SAND KM, THOMASSEN L, NÆSS H, RØDAHL E, HOFF JM. Management of visual
field defects in stroke patients – a retrospective audit. Cerebrovasc Dis Extra 2012;1:17–23.
19. MESSING B, GANSHIRT H. Follow-up of Visual-Field Defects with Vascular Damage
of the Geniculostriate Visual Pathway. Neuro-Ophthalmology 1987;7:231–42.
20. TIEL K, KOLMEL HW. Patterns of Recovery from Homonymous Hemianopia
Subsequent to Infarction in the Distribution of the Posterior Cerebral-Artery. Neuro-
Ophthalmology 1991;11:33–9.
21. CELEBISOY M, CELEBISOY N, BAYAM E, KOSE T. Recovery of visual-field defects
after occipital lobe infarction: a perimetric study. J Neurol Neurosurg Psychiatry
2011;82:695–702.
22. MIDELFART A, MIDELFART E, BRODTKORB E. Visual field defects in patients
taking vigabatrin. Acta Ophthalmol Scand 2000;78:580–4.
23. GILHOTRA JS, MITCHELL P, HEALEY PR, CUMMING RG, CURRIE J.
Homonymous visual field defects and stroke in an older population. Stroke 2002;33:2417–20.
24. JONES SA, SHINTON RA. Improving outcome in stroke patients with visual problems.
Age Ageing 2006;35:560–5.
25. SUNDERLAND A, WADE DT, LANGTON HEWER R. The natural history of visual
neglect after stroke. Indications from two methods of assessment. Int Disabil Stud 1987;9:55
9.
26. JOHANSEN A, WHITE S, WARAISCH P. Screening for visual impairment in older
people: validation of the Cardiff Acuity Test. Arch Gerontol Geriatr 2003;36:289–93.
27. ZHANG X, KEDAR S, LYNN MJ, NEWMAN NJ, BIOUSSE V. Natural history of
homonymous hemianopia. Neurology 2006;66:901–5.
28. TRAUZETTEL-KLOSINSKI S, REINHARD J. The vertical field border in hemianopia
and its significance for fixation and reading. Invest Ophthalmol Vis Sci 1998;39:2177–86.

9
29. TRAUZETTEL-KLOSINSKI S, BRENDLER K. Eye movements in reading with
hemianopic field defects: the significance of clinical parameters. Graefes Arch Clin Exp
Ophthalmol 1998;236:91–102.
30. LEFF AP, SCOTT SK, CREWES H et al. Impaired reading in patients with right
hemianopia. Ann Neurol 2000;47:171–8.
31. WHITE JH, MILLER B, MAGIN P, ATTIA J, STURM J, POLLACK M. Access and
participation in the community: a prospective qualitative study of driving post-stroke. Disabil
Rehabil 2012;34:831–8.
32. BRON AM, VISWANATHAN AC, THELEN U et al. International vision requirements
for driver licensing and disability pensions: using a milestone approach in characterization of
progressive eye disease. Clin Ophthalmol 2010;4:1361–9.
33. FISK GD, OWSLEY C, MENNEMEIER M. Vision, attention, and self-reported driving
behaviors in community-dwelling stroke survivors. Arch Phys Med Rehabil 2002;83:469–77.
34. MCGWIN G Jr, CHAPMAN V, OWSLEY C. Visual risk factors for driving difficulty
among older drivers. Accid Anal Prev 2000;32:735–44.
35. WAGENBRETH C, FRANKE GH, SABEL BA, GALL C. [Impairments of vision- and
health-related quality of life in stroke patients with homonymous visual field defects depend
on severity of visual function loss]. Klin Monatsbl Augenheilkd. 2010;227:138–48.
Beeintrachtigung der seh- und gesundheitsbezogenen Lebensqualitat bei
Schlaganfallpatientenmit homonymen Gesichtsfelddefekten in Abhangigkeit von der
Schwere des visuellen Funktionsverlustes.
36. GALL C, MUELLER I, GUDLIN J et al. Vision- and healthrelated quality of life before
and after vision restoration training in cerebrally damaged patients. Restor Neurol Neuros
2008;26:341–53.
37. SABEL BA, KASTEN E. Restoration of vision by training ofresidual functions. Curr
Opin Ophthalmol 2000;11:430–6.
38. SABEL BA. Residual vision and plasticity after visual systemdamage. Restor Neurol
Neuros 1999;15:73–9.
39. POLLOCK A, HAZELTON C, HENDERSON CA et al. Interventions for disorders of
eye movement in patients with stroke. Cochrane Database Syst Rev 2011;10:CD008389.

10