Anda di halaman 1dari 14

Referat

Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Kanabis

Disusun oleh:
Albert Chandra Wijaya / 11-2016-215

Dosen Pembimbing:
dr. Sri Woroasih, SpKJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


RSJD DR. Amino Gondohutomo Semarang
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Periode 26 November 2018 – 29 Desember 2018
BAB I
1
PENDAHULUAN
Kanabis atau bahasa awamnya ganja adalah narkoba yang paling sering disalah
gunakan di dunia. Kanabis mendominasi 65% narkoba yang menempati urutan tertinggi
penggunaannya didunia dibanding narkoba lain. (World Drug Report, 2008)
Data Kasus Tindak Pidana Narkoba di Indonesia sebagaimana dilaporkan
Badan Narkotika Nasional (BNN) Tahun 2006 menyebutkan bahwa antara Tahun 2001
sampai dengan Tahun 2005 telah terjadi peningkatan yaitu kasus narkotika dari 1.907 tahun
2001 meningkat menjadi 8.171 tahun 2005, kasus psikotropika dari 1.648 tahun 2001 meningkat menjadi
6.733 tahun 2005 karena berdasarkan Laporan Statistik Diskriptif BNN, jenis NAPZA yang
menjadi masalah utama di masyarakat yang pertama adalah heroin sebesar 29%, kedua
alkohol sebesar 18,2%, dan ketiga adalah ganja sebesar 17,6% (BNN, 2003).
Suatu penelitian tentang kanabis dan kesehatan jiwa menyebutkan bahwa penggunaan
narkoba meningkatkan risiko timbulnya sakit jiwa hingga lebih dari 40%. Para dokter,
sebagaimana meminta pihak-pihak yang berwenang untuk masalah kesehatan, mengingatkan
kaum muda tentang risiko kanabis terhadap mental dan perilaku. Kesimpulan tersebut
berdasarkan tinjauan terhadap 35 penelitian yang meneliti frekuensi skizofrenia, ilusi,
halusinasi, kekacauan pikiran dan sakit kejiwaan lainnya yang dialami para pemakai kanabis.
Pengguna kanabis ternyata 41% lebih mungkin mengalami hal-hal tersebut dibanding
mereka yang tidak pernah menggunakan kanabis. Risikonya relatif bertambah seiring
banyaknya pemakaian. Studi itu juga mengamati resiko depresi, kegelisahan dan kondisi emosional
lainnya, namun belum ada bukti yang pasti untuk mengaitkannya dengan kannabis.
Di Inggris, 40% orang dewasa muda dan remaja pernah memakai ganja,sekitar 14% kasus
kejiwaan kaum muda di Inggris dapat dihindari jika tidak ada pemakaian kanabis. Penelitian
itu dipimpin Theresa Moore dari University of Bristol, dan Stanley Zammit dari Cardiff
University. Dalam penelitian tersebut, kanabis dapat menyebabkan peningkatan risiko
halusinasi, delusi dan psikosis.
Tahun lalu pemerintah Inggris mengklasifikasikan ulang ganja dari kelas C ke obat-obatan kelas B,
sebagian kecil dari kekhawatiran bahwa ganja, terutama varietas yang lebih kuat,
dapat meningkatkan resiko skizoprenia pada anak-anak muda. Namun bukti akan adanya
hubungan antara ganja dan skizoprenia atau psikosis tetap menjadi kontroversial.
Sebuah studi yang baru telah menyatakan bahwa mungkin perlu untuk menghentikan
ribuan pengguna ganja hanya dalam rangka mencegah satu kasus skizoprenia.

BAB II
2
TINJAUAN PUSTAKA

GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT KANABIS

Kanabis adalah nama singkat untuk tanaman rami Cannabis sativa. Semua bagian dari
tanaman mengandung kanabinoid psikoaktif, dimana (T9-tetrahydrocannabinol(T9-THC)
adalah yang paling banyak. Tanaman kanabis biasanya dipotong, dikeringkan,dipotong kecil-
kecil, selanjutnya digulung menjadi rokok (biasanya disebut “joints”),yang selanjutnya
dihisap seperti rokok. Nama yang umum untuk kanabis adalah mariyuana, grass, pot, weed,
tea, dan Mary Jane. Nama lain untuk kanabis yang menggambarkan tipe kanabis dalam
berbagai kekuatan, adalah hemp, chasra, bhang, ganja, dagga, dan sinsemilla. Bentuk kanabis
yang paling poten berasal dari ujung tanaman yang berbunga atau dari eksudat resin yang
dikeringkan dan berwarna cokelat-hitam yang berasal dari daun, yang disebut sebagai hashish
atau hash. Efek euforia dari kanabis telah dikenali selama beribu-ribu tahun. Efek medis yang
potensial dari kanabis sebagai analgesik, antikonvulsan, dan hipnotis telah lama dikenali pada
abad ke-19 dan ke-20. belakangan ini kanabis dan komponen aktifnya yang utama, T9-THC,
telah berhasil digunakan untuk mengobati mual sekunder karena obat terapi kanker dan untuk
menstimulasi nafsu makan pada pasien dengan sindrom imunodefisiensi (AIDS).

Tanaman ini ditemukan hampir disetiap negara tropis. Bahkan beberapa


negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca. Di
Indonesia, kanabis dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya kanabis ditanam
pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya. Hasil panen
kanabis berupa daun berikut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil.
Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting
menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat
yang disebut hasyis.

3
EPIDEMIOLOGI

Kira-kira sepertiga (32,2%) dari populasi yang dilaporkan pernah menggunakan


kanabis satu kali atau lebih selama hidupnya, 9,5% pernah menggunakannya di tahun
terakhir, dan 4,8% pernah menggunakannya di bulan terakhir. Persentasi tersebut
ditranslasikan menjadi 67,4 juta anggota populasi yang pernah menggunakan kanabis di
dalam hidupnya, 19,2 juta dalam tahun terakhir, dan 9,7 juta dalam bulan terakhir. Orang
dewasa yang berusia 26 sampai 34 tahun merupakan kelompok usia yang paling mungkin
pernah menggunakan kanabis, tetapi mereka yang berusia 18 sampai 25 tahun merupakan
yang paling mungkin menggunakan kanabis dalam tahun terakhir atau bulan terakhir.
Pemuda yang berusia 12 sampai 17 tahun merupakan kelompok usia yang paling kecil
kemungkinannya pernah menggunakan kanabis selama hidup, dan orang dewasa yang berusia
35 tahun dan lebih merupakan kelompok usia yang paling kecil kemungkinannya pernah
menggunakan kanabis dalam tahun terakhir dan bulan terakhir.

FARMAKOLOGI

Komponen utama dari kanabis adalah d9-THC; tetapi, tanaman kanabis mengandung
lebih dari 400 zat kimia, yang kira-kira 60 buah diantaranya secara kimiawi berhubungan
dengan d9-THC. Pada manusia d9-THC secara cepat dikonversi menjadi 11-hidroksi-d9-
THC, suatu metabolit yang aktif didalam sistem saraf pusat. Suatu reseptor spesifik untuk
kanabiol telah diidentifikasi, diklon dan dikarakterisasi. Reseptor kanabinoid diikat dengan
protein G inhibitor (Gi), yang berikatan dengan adenilil siklase di dalam pola menginhibisi.

4
Reseptor kanabinoid ditemukan dalam konsentrasi yang tertinggi di ganglia basalis
(fungsi kontrol gerakan), hipokampus (fungsi daya tangkap dan ingatan), dan serebelum
(fungsi koordinasi gerak tubuh), dengan konsentrasi yang lebih rendah di korteks serebral
(fungsi-fungsi kognitif yang lebih tinggi). Reseptor tidak ditemukan di batang otak, suatu
kenyataan yang konsisten dengan efek kanabis yang minimal pada fungsi pernafasan dan
jantung. Penelitian pada binatang telah menemukan bahwa kanabinoid mempengaruhi neuron
monoamin dan gamma-aminobutyric acid (GABA). Selain itu, suatu perdebatan tentang
apakah kanabinoid menstimulasi yang disebut pusat kesenangan (reward centers) di otak,
seperti neurondopaminergik dari area tegmental ventralis.
Efek psikologis dan kesehatan yang segera setelah seseorang mengkonsumsi kanabis
adalah euphoria, relaksasi, perubahan persepsi, dan intensifikasi dari pengalaman pancaindra
yang luar biasa, seperti makan, melihat film, dan mendengarkan musik.
Efek kognitifnya meliputi berkurangnya memori jangka pendek, ketrampilan dan reaksi motoriknya
juga mengalami kemunduran.
Efek tidak nyaman yang biasa terjadi dari kanabis adalah gelisah, panik, dan perasaan
tertekan. Pengaruh ini hanya terjadi pada mereka yang belum terbiasa dengan kanabis dan
pasien yang diberikan THC untuk tujuan pengobatan. Bagi mereka yang telah terbiasa dengan
kanabis maka mereka akan menginginkan harapan-harapan yang lebih tinggi lagi
dengan konsumsi yang lebih banyak sehingga menimbulkan efek delusi dan halusinasi.
Tetapi, toleransi terhadap kanabis memang terjadi, dan ketergantungan fisikologi
adalah tidak kuat. Gejala putus kanabis pada manusia adalah terbatas sampai peningkatan
ringan dalam iritabilitas, kegelisahan,insomnia, anoreksia, dan mual ringan; semua gejala
tersebut ditemukan hanya jika seseorang menghentikan kanabis dosis tinggi secara
mendadak.Jika kanabis digunakan seperti rokok, efek euforia tampak dalam beberapa menit,
mencapai puncak dalam kira-kira 30 menit, dan berlangsung 2 sampai 4 jam. Beberapa efek
motorik dan kognitif berlangsung selama 5 sampai 12 jam. Kanabis juga dapat digunakan
peroral jika disiapkan dalam makanan. Kira-kira harus digunakan dua sampai tiga kali lebih
banyak kanabis yang digunakan peroral untuk sama kuatnya dengan kanabis yang digunakan
melalui inhalasi asapnya. Banyak variabel yang mempengaruhi sifat psikoaktif dari kanabis,
termasuk potensi penggunaan kanabis, jalur pemberian, teknik mengisap, efek pirolisis dari
kandungan kanabinoid, dosis, lingkungan, pengalaman masa lalu pemakai, harapan pemakai,
dan kerentanan biologis unik dari pemakai terhadap efek kanabinoid

5
Keracunan secara cepat pada pengguna ganja sangat rendah dan tidak ditemukan
kasus yang fatal dari keracunan akibat penyalahgunaan kanabis pada manusia. Tentu saja ini
juga dipengaruhi oleh cara penggunaan dengan merokok dan ditelan yang mengakibatkan lambatnya
reaksi dalam tubuh, disamping juga ditentukan oleh kandungan THC dari ganja yang
dikonsumsi

GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS

Diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabis dapat ditegakkan
berdasarkan PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia,
Edisi III) dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth
Edition).

Efek fisik yang paling sering dari kanabis adalah dilatasi pembuluh darah konjungtiva
(yaitu, mata merah) dan takikardi ringan. Pada dosis tinggi, hipotensi ortostatik dapat terjadi.
Peningkatan nafsu makan dan mulut kering adalah efek intoksikasi kanabis yang sering.
Belum pernah dicatat secara jelas kasus kematian yang disebabkan oleh intoksikasi kanabis
saja yang mencerminkan tidak adanya efek dari zat pada kecepatan pernafasan. Efek
merugikan potensial yang paling serius dari dari penggunaan kanabis berasal dari inhalasi
hidrokarbon karsinogenik yang sama-sama ditemukan dalam tembakau konvensional, dan
beberapa data menyatakan bahwa penggunaan kanabis yang berat berada dalam resiko
mengalami penyakit pernafasan kronis dan kanker paru-paru.

Banyak laporan menyatakan bahwa penggunaan kanabis jangka panjang berhubungan


dengan atrofi serebral, kerentanan kejang, kerusakan kromosom, defek kelahiran, gangguan
reaktivitas kekebalan, perubahan konsentrasi testosteron, dan disregulasi siklus menstruasi;

6
tetapi, laporan tersebut belum secara pasti ditegakkan, dan hubungan antara efek tersebut
dengan penggunaan kanabis tidak pasti.

DSM-IV menuliskan gangguan berhubungan dengan kanabis tetapi mempunyai


kriteria spesifik dalam bagian gangguan berhubungan dengan kanabis hanya untuk
intoksikasi kanabis. Kriteria diagnostik untuk gangguan berhubungan dengan kanabis lainnya
ditemukan didalam bagian DSM IV yang memusatkan pada gejala fenomenologi utama
sebagai contoh, gangguan psikotik akibat kanabis, dengan waham, di dalam bagian DSM-IV
tentang gangguan psikotik akibat zat.

Ketergantungan Kanabis dan Penyalahgunaan Kanabis


DSM-IV memasukkan diagnosis ketergantungan kanabis dan penyalahgunaan
kanabis. Data eksperimental dengan jelas menunjukkan toleransi terhadap banyak
efek kanabis; tetapi, data kurang mendukung adanya ketergantungan fisik.
Ketergantungan psikologis pada pemakaian kanabis terjadi pada pemakai jangka panjang.

Intoksikasi Kanabis
Pengaruh subjektif dari intoksikasi kanabis bervariasi dari satu individu ke individu
yang lain, menetapkan pada tingginya variable farmakokinetik dosis cara pemberian, latar
belakang pengalaman dan harapan, dan kerentanan individu terhadap efek psikotis tertentu.
DSM-IV meresmikan kriteria diagnostik untuk intoksikasi kanabis. Kriteria
diagnostik menyebutkan bahwa diagnosis dapat diperkuat dengan kalimat ´dengan gangguan
persepsi´. Secara khas, intoksikasi dicirikan oleh periode awal “high” yang digambarkan
sebagai perasaan kesejahteraan dan kebahagiaan. Tanda dan gejala intoksikasi ini berupa
euphoria diikuti periode mengantuk atau sedasi. Intoksikasi kanabis sering kali meninggikan
kepekaan pemakai terhadap stimuli eksternal, mengungkapkan perincian yang baru, membuat
warna-warna tampak lebih terang dari pada sebelumnya dan perlambatan waktu secara
subjektif. Persepsi waktu berubah, pendegaran dan penglihatan terganggu. Efek subjektif dari
intoksikasi sering berupa reaksi disosiasi.
Pada dosis tinggi, pemakai mungkin juga merasakan depersonalisasi dan derealisasi
serta bisa mempengaruhi tingkat kesadaran, dimana lebih jelas pengaruhnya terhadap
penilaian kognitif. Keterampilan motorik terganggu oleh pemakaian kanabis, dan gangguan
pada keterampilan motorik tetap ada setelah efek euforia dan subjektif telah menghilang.
Selama 8 sampai 12 jam setelah menggunakan kanabis, pemakai mengalami suatu gangguan

7
keterampilan motorik yang mengganggu operasi kendaraan bermotor dan mesin mesin berat
lainnya. Kanabis membangkitkan delirium organik toksis yang menetap lama
dikarakteristikkan sebagai kebingungan dengan proses fikir yang kacau, afek yang labil,
waham dan halusinasi pernah dilaporkan.

Delirium Intoksikasi Kanabis


Delirium Intoksikasi Kanabis adalah suatu diagnosis DSM-IV. Delirium yang
berhubungan dengan intoksikasi kanabis ditandai oleh gangguan kognitif dan tugas kinerja
yang jelas. Bahkan dosis kecil kanabis menyebabkan gangguan daya ingat, waktu reaksi,
persepsi, koordinasi motorik, dan pemusatan perhatian. Dosis tinggi yang juga menggangu
tingkat kesadaran pemakai mempunyai efek nyata pada pengukuran kognitif tersebut.

Gangguan Psikotik Akibat Kanabis


Gangguan Psikotik Akibat Kanabis adalah didiagnosis dengan adanya psikosis akibat
kanabis. Gangguan psikotik akibat kanabis jarang terjadi, tetapi ide paranoid sementara
adalah lebih sering. Dosis tinggi kanabis membangkitkan gejala psikotik singkat seperti
waham kejar atau halusinasi pendengaran dan penglihatan, khususnya orang dengan
gangguan psikiatrik yang mendasarinya. Psikosis yang jelas agak sering di negara-negara di
mana orang-orangnya mempunyai jalur untuk mendapatkan kanabis dengan potensi yang
tinggi.
Penggunaan kanabis jarang disertai dengan pengalaman khayalan buruk, yang sering
kali menyertai intoksikasi halusinogen. Jika gangguan psikotik akibat kanabis memang
terjadi, keadaan ini mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian yang telah ada
sebelumnya pada orang yang terkena.

Gangguan Kecemasan Akibat Kanabis


Gangguan Kecemasan Akibat Kanabis (cannabis-induced anxiety disorder) adalah
suatu diagnosis umum untuk intoksikasi kanabis akut, dimana banyak orang mengalami
keadaan kecemasan singkat yang sering kali dicetuskan oleh pikiran paranoid. Dalam
keadaan tersebut, serangan panik dapat diinduksi, didasarkan pada rasa takut yang tidak jelas
dan tidak terorganisir. Beberapa pengguna kanabis melaporkan pengalaman ada kalanya tidak
menyenangkan, paling banyak sering menggambarkan sebagai reaksi cemas dari intensitas
ringan sampai sedang.

8
Tampaknya gejala kecemasan berhubungan dengan dosis dan merupakan efek
merugikan yang paling sering terhadap pemakaian sedang kanabis yang diisap seperti rokok.
Pemakai yang tidak berpengalaman lebih mungkin mengalami gejala kecemasan
dibandingkan pemakai yang berpengalaman.

Gangguan Berhubungan Kanabis yang Tidak Ditentukan


DSM-IV tidak secara resmi mengenali gangguan mood akibat kanabis (cannabis
induced mood disorder); dengan demikian, gangguan tersebut diklasifikasikan sebagai
gangguan akibat berhubungan yang tidak ditentukan (NOS; not other-wise specified).
Intoksikasi kanabis dapat disertai dengan gejala depresif, walaupun gejala tersebut
dapat mengarahkan pemakaian kanabis jangka panjang. Tetapi, hipomania, adalah gejala
yang sering pada intoksikasi kanabis.
DSM-IV juga tidak secara resmi mengenali gangguan tidur akibat kanabis atau
disfungsi seksual akibat kanabis; dengan demikian, keduanya diklasifikasikan sebagai
gangguan berhubungan kanabis yang tidak ditentukan (NOS). Jika ditemukan gejala
gangguan tidur maupun gejala disfungsi seksual dan berhubungan dengan penggunaan
kanabis, gejala tersebut hampir selalu menghilang dalam beberapa hari atau satu minggu
setelah menghentikan pemakaian kanabis.

Kilas balik (flash back)


Kelainan persepsi yang menetap setelah penggunaan kanabis tidak secara resmi
diklasifikasikan di dalam DSM-IV, walaupun terdapat laporan kasus orang yang mengalami
sensasi berhubungan dengan intoksikasi kanabis setelah efek jangka pendek dari substansi
telah menghilang. Perdebatan tentang apakah flash back berhubungan dengan penggunaan
kanabis saja atau apakah berhubungan dengan penggunaan bersama dengan halusinogen atau
kanabis dicampur dengan phencyclidine (PCP).

Sindrom Amotivasional
Sindrom berhubungan kanabis lain yang kontroversial adalah sindrom amotivasional.
Perdebatan adalah tentang apakah sindrom ini berhubungan dengan penggunaan kanabis
atau apakah mencerminkan sifat karakterologis pada sekelompok orang, tidak tergantung
pada penggunaan kanabis. Biasanya, sindrom amotivasional telah dihubungkan dengan
pemakaian kanabis jangka panjang dan berat dan ditandai oleh ketidakmauan seseorang

9
melakukan suatu tugas di sekolah, pada pekerjaan, atau tiap situasi yang memerlukan
pemusatan perhatian yang lama.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan urin untuk kanabis dan zat lainnya telah umum pada beberapa keadaan
seperti program pengobatan dan tempat penempatan tenaga kerja. Kebanyakan laboratorium
menggunakan Enzym-Multiplied Immunoassay Technique (EMIT), meskipun Radio
Immunoassay (RIA) adalah yang paling sering digunakan. Kedua tes diatas relatif sensitif
dan tidak mahal. Membantu sebagai penyaringan (screening) awal karena jauh dari
sempurna. Perbandingan terbaru menunjukkan ketidaksesuaian pada positif palsu dan
negatif palsu meskipun penyaringan dan kondisi laboratorium dalam penerapan yang
terbaik.
Untuk mengkonfirmasi tes, digunakan Chromatography-Mas Spectroscopy (GC-MS).
Kanabis dan metabolitnya dapat dideteksi di urin pada nilai cut off 100 ng/ml pada 42-72 jam
setelah efek psikologis menurun. Karena metabolit kanabinoid adalah larut lemak, menetap
di cairan tubuh dalam periode yang agak lama dan diekskresikan secara perlahan. Uji saring
untuk kanabinoid pada individu yang menggunakan kanabis secara ringan dapat memberikan
hasil positif untuk 7-10 hari dan pada pengguna kanabis berat dapat memberikan nilai positif
2-4 minggu.

DIAGNOSIS
Diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabis dapat ditegakkan
berdasarkan PPDGJ-III (pedoman Penggologan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia,
Edisi III) dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth
Edition).

DIAGNOSIS BANDING
1. Gangguan mental primer
2. Gangguan distimik

PENATALAKSANAAN DAN REHABILITASI


10
Pengobatan pemakaian kanabis terletak pada prinsip yang sama dengan pengobatan
penyalahgunaan substansi lain abstinensia dan dukungan. Abstinensia dapat dicapai melalui
intervensi langsung, seperti perawatan di rumah sakit, atau melalui monitoring ketat atas
dasar rawat jalan dengan menggunakan skrining obat dalam urin, yang dapat mendeteksi
kanabis selama tiga hari sampai empat minggu setelah pemakaian. Dukungan dapat dicapai
dengan menggunakan psikoterapi individual, keluarga, dan kelompok. Pendidikan harus
merupakan inti untuk program abstinensia dan dukungan, karena pasien yang tidak mengerti
alasan intelektual untuk mengatasi masalah penyalahgunaan substansi menunjukkan sedikit
motivasi untuk berhenti. Untuk beberapa pasien suatu obat antiansietas mungkin berguna
untuk menghilangkan gejala putus zat jangka pendek. Untuk pasien lain penggunaan kanabis
mungkin berhubungan dengan gangguan depresi dasar yang mungkin berespons dengan
terapi antidepresan spesifik.

PROGNOSIS
Ketergantungan kanabis terjadi perlahan, yang mana mereka akan mengembangkan
pola peningkatan dosis dan frekuensi penggunaan. Efek yang menyenangkan dari kanabis
sering berkurang pada penggunaan berat secara teratur.
Sejarah gangguan tingkah laku pada masa anak, remaja, dan gangguan kepribadian
antisosial adalah faktor resiko untuk berkembangnya gangguan terkait zat, termasuk
gangguan terkait kanabis. Sedikit data yang tersedia pada perjalanan efek jangka panjang dari
ketergantungan dan penyalahgunaan kanabis.

11
BAB III
KESIMPULAN

Kanabis adalah nama singkat untuk tanaman rami Cannabis sativa. Semua bagian dari
tanaman mengandung kanabinoid psikoaktif, dimana D9-tetrahydrocannabinol ( D9-THC)
adalah yang paling banyak. Nama yang umum untuk kanabis adalah mariyuana, grass, pot,
weed, tea, dan Mary Jane. Prevalensi seumur hidup dari penyalahgunaan zat sekitar 20%.
Reseptor kanabinoid ditemukan dalam konsentrasi yang tertinggi di ganglia basalis,
hipokampus, dan serebelum, dengan konsentrasi yang lebih rendah di korteks serebral.
Reseptor tidak ditemukan di batang otak, suatu kenyataan yang konsisten dengan efek
kanabis yang minimal pada fungsi pernafasan dan jantung. Efek fisik yang paling sering dari
kanabis adalah dilatasi pembuluh darah konjungtiva (mata merah) dan takikardi ringan. Pada
dosis tinggi, hipotensi ortostatik dapat terjadi.peningkatan nafsu makan dan mulut kering.
Intoksikasi kanabis dosis tinggi, pemakai mungkin juga merasakan depersonalisasi dan
derealisasi. Keterampilan motorik terganggu oleh pemakaian kanabis, dan gangguan pada
keterampilan motorik tetap ada setelah efek euforia dan subjektif telah menghilang. Delirium
yang berhubungan dengan intoksikasi kanabis ditandai oleh gangguan kognitif dan tugas
kinerja yang jelas. Bahkan dosis kecil kanabis menyebabkan gangguan daya ingat, waktu
reaksi, persepsi, koordinasi motorik, dan pemusatan perhatian. Gangguan psikotik akibat
kanabis jarang terjadi, tetapi ide paranoid sementara adalah lebih sering. Jika gangguan
psikotik akibat kanabis memang terjadi, keadaan ini mungkin berhubungan dengan gangguan
kepribadian yang telah ada sebelumnya pada orang yang terkena. Gangguan Kecemasan
Akibat Kanabis adalah suatu diagnosis umum untuk intoksikasi kanabis akut, dimana banyak
orang mengalami keadaan kecemasan singkat yang sering kali dicetuskan oleh pikiran
paranoid. Kategori gangguan berhubungan kanabis yang tidak ditentukan ini adalah untuk
gangguan yang berhubungan dengan pemakaian kanabis yang tidak dapat diklasifikasikan
sebagai ketergantungan kanabis, penyalahgunaan kanabis, intoksikasi kanabis, delirium
intoksikasi kanabis, gangguan psikotik akibat kanabis, atau gangguan kecemasan akibat
kanabis. Kanabis dan metabolitnya dapat dideteksi di urin pada nilai cut off 100 ng/ml pada
42-72 jam. Uji saring untuk kanabinoid pada pengguna kanabis ringan dapat memberikan
hasil positif untuk 7-10 hari dan pada pengguna kanabis berat dapat memberikan nilai positif
2-4 minggu. Perawatan di rumah sakit, atau melalui monitoring ketat atas dasar rawat jalan
dengan menggunakan skrining obat dalam urin. Dukungan dapat dicapai dengan
menggunakan psikoterapi individual, keluarga, dan kelompok.
12
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

13
1. Kaplan H I and Saddock BJ, Sinopsis Psikiatri: ed saddock BJ. Vol. 1. 6 th Edition.
USA. William and Wilkins, 2010: 640-646
2. Kaplan H I and Saddock BJ, Comprehensive Textbook of Psychiatry: ed saddock BJ.
Vol.1. 6th Edition. USA. William and Wilkins, 1995: 810-816.
3. Kusumawardani, dkk. Buku Ajar Psikiatri : ed Elvira, Hadisukanto. FKUI, 2010. 142-
143.
4. Camellia V, Gangguan Sehubungan Kanabis. Tersedia di
http://http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3396/1/10E00568.pdf. diunduh
pada 7 Maret 2012
5. Cannabis Related Disorder. Tersedia di http://www.minddisorders.com/Br-
Del/Cannabis-and-related-disorders.html. diunduh pada 7 Maret 2012.
6. Cannabis and Mental Health. Tersedia di
http://www.rcpsych.ac.uk/mentalhealthinfo/problems/alcoholanddrugs/cannabis.aspx.
diunduh pada 7 Maret 2012

14