Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Retensio urine adalah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun


terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut. (Brunner & Suddarth). Retensio
urine adalah sutau keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak punya
kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna (PSIK UNIBRAW).

Urin merupakan hasil dari ekskresi manusia yang dihasilkan dari penyaringan
darah yang dilakukan di ginjal. Urin normal berwarna kekuning-kuningan atau terang
dan transparan.Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme
(seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin
berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses
reabsorbsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke
dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam
kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan
dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui
urinalisis.

Dalam urin bisa terdapat amonia. Amonia adalah suatu produk yang dihasilkan
ketika proses pencernaan protein. Hati memproduksi amonia yang berbahaya terutama
jika fungsi hati juga tidak berjalan dengan baik. Setiap menit akan mengalir sejumlah
1060 ml darah (1/5 cardic out put) menuju ke 2 ginjal melalui arteri renalis. Dari jumlah
tersebut darah yang akan kembali melalui vena renalis sejumlah 1059 ml sedangkan
sisanya sebesar 1 ml akan keluar sebagai urin.

Proses Miksi (Rangsangan Berkemih)

Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang
terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk
merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding
kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh
relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus
dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara
volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya
dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis
dan otak masih utuh. Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi
inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine
(kencing tertahan).
1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :


1. Apa yang dimaksud denganRetensi urine ?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologi Perkemihan ?
3. Apa penyebab dari Retensi urine?
4. Apa saja faktor resiko dari Retensi urine?
5. Bagaimana klasifikasi dari Retensi urine ?
6. Bagaimana patofisiologi dan pathway dari Retensi urine?
7. Apa saja manifestasi klinis dari Retensi urine?
8. Apa komplikasi yang akan ditimbulkan dari Retensi urine ?
9. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Retensi urine ?
10. Bagaimana penatalaksanaan dariRetensi urine?
11. Bagaimana pencegahan dari Retensi urine?

1.3 TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan ini dibedakan menjadi dua yakni :

1. Tujuan Umum
Tujuan penulisan ini secara umum adalah agar mahasiswa dapat memahami
“LANDASAN TEORI “Retensi urine” dan bisa di terapkan dalam praktek
keperawatan nantinya.
2. Tujuan Khusus
Tujuan penulisan dari makalah ini diantaranya sebagai berikut :
a) Memahami tentang pengertian dari Retensi urine
b) MemahamikembalianatomidanfisiologiPerkemihan
c) MemahamitentangetiologidariRetensi urine
d) Memahamitentangfaktor resiko dari Retensi urine
e) MemahamitentangklasifikasidariRetensi urine
f) Memahamitentangpatofisiologi/pathway dariRetensi urine
g) MemahamitentangmanifestasiklinisdariRetensi urine
h) MemahamikomplikasidariRetensi urine
i) MemahamitentangpemerikaandiagnosadariRetensi urine
j) MemahamitentangpenatalaksanaanmedisdariRetensi urine
k) Memahami tentang pencegahan dari Retensi urine
l) Memenuhi tugas matakuliah Sistem perkemihan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN RETENSI URIN

Retensi urine adalah suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan
tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna. Retensio urine
adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesika urinaria. (Kapita Selekta
Kedokteran).

Retensio urine adalah tertahannya urine di dalam kandung kemih, dapat terjadi
secara akut maupun kronis. (Depkes RI Pusdiknakes 1995). Retensio urine adalah
ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan
terhadap hal tersebut.(Brunner & Suddarth). Retensio urine adalah suatu keadaan
penumpukan urine di kandung kemih dan tidak punya kemampuan untuk
mengosongkannya secara sempurna. (PSIK UNIBRAW).

2.2 ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN


Struktur anatomi dan fisiologi system urinaris bagian bawah.

Sistem urinaria bagian bawah terdiri atas buli-buli dan uretra yang keduanya
harus bekerja secara sinergis untuk dapat menjalankan fungsinya dalam menyimpan
(storage) dan mengeluarkan (voiding) urine. Buli-buli merupakan organ berongga yang
terdiri atas mukosa, otot polos destrusor, dan serosa. Pada perbatasan antara buli-buli
dan uretra, terdapat sfingter uretra interna yang terdiri atas otot polos. Sfingter interna ini
selalu tertutup pada saat fase miksi atau pengeluaran (evacuating). Disebelah distal dari
uretra posterior terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot bergaris dari otot
dasar panggul. Sfingters ini membuka pada saat miksi sesuai dengan perintah dari
korteks serebri. (buku dasar-dasar urologi)

Pada fase pengisian, terjadi relaksasi otot destrusor dan pada fase pengeluaran
urine terjadi kontraksi otot detrusor. Selama pengisian urine, buli-buli mampu untuk
melakukan akomodasi yaitu meningkatkan volumenya dengan mempertahankan
tekanannya dibawah 15 cm H2O, sampai volumenya cukup besar. (buku dasar-dasar
urologi )
2.3 ETIOLOGI

A. Penyebab retensi urin pada pria


Penyebab Penyakit
Obstruktif Benigna prostat hiperplasia
Kanker prostat
Striktur uretra
Tumor kandung kemih
Konstipasi
Neurogenik Cidera medula spinalis
Diabetes mellitus
Sklerosis multiple
Penyakit parkinson
Infeksi Prostatitis
Herpes uretra
Abses periuretra
Distensi bladder General anestesi
Pembedahan bladder atau prostat
Intake cairan berlebihan terutama etil alkohol
Nyeri post operasi
Obat – obatan Epidural anestesi
Antikolininergik : Atropin, Benztropin, Antihistamin,
fenotiazin, antidepresan siklik, ipratropium
Agonis beta : Isopreteranol, terbutalin
Relaksan otot detrusor : Nifedipin, Dicyclomine,
hyoscyamin oxybutynin, diazepam, NSAID, Estrogen
Narkotik : Morfin, Hidromorfon.
Sumber : Newman (2011)

B. Penyebab retensi urin pada wanita


Penyebab Penyakit
Anatomi Prolaps organ pelvic
Tumor
Konstipasi
Neurgenik Cidera medula spinalis
Diabetes mellitus
Sklerosis multiple
Penyakit parkinson
Cidera otak
Pembedahan Nyeri post pembedahan
General anestesi
Post lumbar laminectomy
Post Incontinence surgery
Infeksi Genital Herpes
Infeksi saluran kemih
Obat – obatan Epidural anestesi
Antikolininergik : Atropin, Benztropin, Antihistamin,
fenotiazin, antidepresan siklik, ipratropium
Agonis beta : Isopreteranol, terbutalin
Relaksan otot detrusor : Nifedipin, Dicyclomine,
hyoscyamin oxybutynin, diazepam, NSAID, Estrogen
Narkotik : Morfin, Hidromorfon.
Sumber : Newman (2011)

2.4 KLASIFIKASI RETENSI URINE

1. Retensi urin akut


Retensi urin yang akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba-tiba dan disertai rasa
sakit meskipun buli-buli terisi penuh. Berbeda dengan kronis, tidak ada rasa sakit
karena urin sedikit demi sedikit tertimbun. Kondisi yang terkait adalah tidak dapat
berkemih sama sekali, kandung kemih penuh, terjadi tiba-tiba, disertai rasa nyeri, dan
keadaan ini termasuk kedaruratan dalam urologi. Kalau tidak dapat berkemih sama
sekali segera dipasang kateter

3. Retensi urin kronik


Retensi urin kronik adalah retensi urin ‘tanpa rasa nyeri’ yang disebabkan oleh
peningkatan volume residu urin yang bertahap. Hal ini dapat disebabkan karena
pembesaran prostat, pembesaran sedikit2 lama2 ga bisa kencing. Bisa kencing sedikit
tapi bukan karena keinginannya sendiri tapi keluar sendiri karena tekanan lebih tinggi
daripada tekanan sfingternya. Kondisi yang terkait adalah masih dapat berkemih,
namun tidak lancar , sulit memulai berkemih (hesitancy), tidak dapat mengosongkan
kandung kemih dengan sempurna (tidak lampias). Retensi urin kronik tidak
mengancam nyawa, namun dapat menyebabkan permasalahan medis yang serius di
kemudian hari.
Perhatikan bahwa pada retensi urin akut, laki-laki lebih banyak daripada wanita
dengan perbandingan 3/1000 : 3/100000. Berdasarkan data juga dapat dilihat bahwa
dengan bertambahnya umur pada laki-laki, kejadian retensi urin juga akan semakin
meningkat.

2.5 MANIFESTASI KLINIS

Pada retensi urin akut di tandai dengan nyeri, sensasi kandung kemih yang penuh dan
distensi kandung keimih yan ringan. Pada retensi kronik ditandai dengan gejala iritasi
kandung kemih ( frekuensi,disuria,volume sedikit) atau tanpa nyeri retensi yang nyata.
Adaun tanda dan gejala dari pnyakit retensi urin ini adalah :
1. Di awali dengan urin mengalir lambat
2. Terjadi poliuria yang makin lama makin parah karena pengosongan kandung kemih
tidak efisien.
3. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
4. Terasa ada tekanan, kadang trasa nyeri dan kadang ingin BAK
5. Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc

Tanda klinis retensi:


1. Ketidak nyamanan daerah pubis
2. Distensi vesika urinia.
3. Ketidak sanggupan untuk berkemih.
4. Ketidak seimbangan jumlah urin yang di keluarkan dengan asupannya.
Retensi urine dapat menimbulkan infeksi yang bisa terjadi akibat distensi
kandung kemih yang berlebihan gangguan suplai darahpada dinding kandu kemih
dan proliferasi bakteri. Gangguan fungsi renal juga dapat terjadi, khususnya bila
terdapat obstruksi saluran kemih.

2.6 FATOFISIOLOGI

Secara garis besar penyebab retensi dapat dapat diklasifikasi menjadi 5 jenis yaitu :
1. Obstruksi
2. Infeksi
3. Farmakologi
4. Neurologi
5. Faktor trauma

Obstruksi pada saluran kemih bawah dapat terjadi akibat faktor intrinsik atau faktor
ekstrinsik. Faktor intrinsik berasal dari sistem saluran kemih dan bagian yang
mengelilinginya seperti pembesaran prostat jinak, tumor buli-buli, striktur uretra,
phimosis, paraphimosis, dan lainnya. Sedangkan faktor ekstrinsik, sumbatan berasal dari
sistem organ lain, contohnya jika terdapat massa di saluran cerna yang menekan leher
buli-buli, sehingga membuat retensi urine. Dari semua penyebab, yang terbanyak adalah
akibat pembesaran prostat jinak. Penyebab kedua akibat infeksi yang menghasilkan
peradangan, kemudian terjadilah edema yang menutup lumen saluran uretra. Reaksi
radang paling sering terjadi adalah prostatitis akut, yaitu peradangan pada kelenjar prostat
dan menimbulkan pembengkakan pada kelenjar tersebut. Penyebab lainnya adalah
uretritis, infeksi herpes genitalia, vulvovaginitis, dan lain-lain. 3 Medikasi yang
menggunakan bahan anti kolinergik, seperti trisiklik antidepresan, dapat membuat retensi
urine dengan cara menurunkan kontraksi otot detrusor pada bulibuli.
Obat-obat simpatomimetik, seperti dekongestan oral, juga dapat menyebabkan retensi
urine dengan meningkatkan tonus alpha-adrenergik pada prostat dan leher bulibuli.
Dalam studi terbaru obat anti radang non steroid ternyata berperan dalam pengurangan
kontraksi otot detrusor lewat inhibisi mediator prostaglandin. Banyak obat lain yang dapat
menyebabkan retensi urine.
Secara neurologi retensi urine dapat terjadi karena adanya lesi pada saraf perifer,
otak, atau sumsum tulang belakang. Lesi ini bisa menyebabkan kelemahan otot detrusor
dan inkoordinasi otot detrusor dengan sfingter pada uretra.
Penyebab terakhir adalah akibat 5 trauma atau komplikasi pasca bedah. Trauma
langsung yang paling sering adalah straddle injury, yaitu cedera dengan kaki
mengangkang, biasanya pada anak-anak yang naik sepeda dan kakinya terpeleset dari
pedalnya, sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai sepeda.

2.7 KOMPLIKASI
1. Urolitiasis atau nefrolitiasis
Nefrolitiasis adalah adanya batu pada atau kalkulus dalam velvis renal, sedangkan
urolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam sistem urinarius. Urolithiasis
mengacu pada adanya batu (kalkuli) ditraktus urinarius. Batu terbentuk dari traktus
urinarius ketika konsentrasi subtansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat,
dan asam urat meningkat.
2. Pielonefritis
Pielonefritis adalah radang pada ginjal dan saluran kemih bagian atas. Sebagian besar
kasus pielonefritis adalah komplikasi dari infeksi kandung kemih (sistitis). Bakteri
masuk ke dalam tubuh dari kulit di sekitar uretra, kemudian bergerak dari uretra ke
kandung kemih. Kadang-kadang, penyebaran bakteri berlanjut dari kandung kemih
dan uretra sampai ke ureter dan salah satu atau kedua ginjal. Infeksi ginjal yang
dihasilkan disebut pielonefritis.
3. Hydronefrosis
4. Pendarahan
5. Ekstravasasi urine
2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Adapun pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan pada retensio urine adalah
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan specimen urine.
2. Pengambilan: steril, random, midstream.
3. Penagmbilan umum: pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa, Hb, KEton, Nitrit.
4. Sistoskopy, IVP

Table urinalitis

No Pemeriksaa Normal Abnormal


. n

Warna Kekuning-kuningan Merah : Menunjukan hematuri (kemungikan


obstruksi urin kalkulus, renalis tumor,
kegagalan ginjal )

Kejernihan Jernih Keruh : Terdapatkotoran, sendimenbakteri


(infeksiurinaria)

Bobotjenis 1.003-100351 Biasanyamenunjukan intake cairan semakin


sedikit iritan cairan semakin tinggi bobot
jenis

Bila bobot jenih tetap rendah (1.010-1.014)


di duga terdapat penyakit ginjal.

Protein 0-8 mg/dl Protein uria dapat terjadi karena diet tinggi
protein dan karena banyak gerakan
(terutama yang lam )

Gula 0 Terlihat pada penyakit renal

Eritrosit 0-4 Cedera jaringan ginjal

Leukosit 0-5 Infeksi saluran kemih

Cast/silinde 0 Infeksi saluran ginjal, penyakit renal


r

PH 4.6-6.8 ( rata-rata 6.0 ) Alkali bila dibiarkan atau pada infeksi


saluran Kemih, tingkat asam meningkat
pada asidosistubulusrenalis

Keton 0 Keton uria terjadi karena kelaparan dan


ketoasidosis diabetic

2.9 PENATALAKSANAAN

Bila diagnosis retensi urin sudah ditegakkan secara benar, penatalaksanaan


ditetapkan
berdasarkan masalah yang berkaitan dengan penyebab retensi urinnya.
Pilihannya adalah

1. Kateterisasi
2. Sistostomi suprapubik
3. Pungsi suprapubik
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

3.1 PEMERIKSAAN FISIK & ANAMNESA

1. Anamnesa
Data yang perlu didapatkan adalah mengenai :
a. Riwayat retensi urin sebelumnya
b. Pengkajian mengenai disfungsi bladder, Lama waktu pasien mengalami rentesi
urin, infeksi saluran kemih atau inkontinensia.
c. Kaji riwayat lower urinary tract syndrom seperti urgensi, frekuensi, nokturia,
nokturnal euneresia, disuria dan hesitansi.
d. Kaji mengenai reflek keinginan berkemih pasien, disadari ataukah tidak?
e. Kaji apakah pasien dapat menjelaskan mengenai aliran urin saat berkemih,
apakah harus mengedan dulu, apakah aliran urinnya tersendat- sendat, menetes ?
f. Kaji apakah pasien merasakan nyeri saat berkemih?
g. Kaji riwayat penggunaan obat- obatan sebelumnya yang diidentifikasi dapat
menyebabkan retensi urin seperti atropin,

2. General
Kaji status dehidrasi pada pasien seperti mulut kering, kelemahan dan
kelelahan, penurunan urin output, sakit kepala penurunan berat badan dan
penurunan kesadaran. Hal lain yang harus dikaji adalah gejala gagal jantung
kongestive yang mengindikasikan ada masalah pada pendistribusian cairan yang
menyebabkan terjadinya nokturia dan nokturnal enuresis.

3. Pemeriksaan Abdomen
a. Kaji massa, pembesaran abdomen, perasaan kembung atau tidak nyaman
b. Palpasi dan perkusi pada area suprapubic untuk menemukan PVR volume.
Suara dullnes pada area umbilikus menunjukkan perkiraan terdapat sisa
residual urin sebesar 500 cc dan akan meningkat menjadi 1000 cc bila suara
dullnes ditemukan saat perkusi setinggi umbilikus. Palpasi dalam pada bladder
tidak dianjurkan karena akan semakin menambah perasaan tidak nyaman pada
perut dan merangsang reflek vagal. Sebagai pemeriksaan tambahan dapat
dilakukan USG Abdomen.

4. Pemeriksaan genitalia eksternal


a. Kaji refleks bulbocavernosis pada pria
b. Meatus perlu diperiksa untuk melihat adanya stenosis dan penis
c. Pada wanita, juga perlu dilakukan pemeriksaan pelvis

5. Pemeriksaan rektal
a. Perlu dilakukan digital rectal untuk memeriksa sfingter
b. Pada pria, pemeriksaan ini untuk memeriksa pembesaran prostat dan striktur
uretra yang mungkin dapat di palpasi melalui temuan kulit skrotal atau kulit
perineal yang menegang sebagai tanda terjadinya penebalan uretra.

6. Pemeriksaan Bladder
Pemeriksaan PVR dilakukan dengan menggunakan tindakan kateterisasi atau
USG. Nilai PVR normal setiap individu bervariasi yaitu dari 75 – 100 ml. Dimana
kapasitas normal bladder adalah sekitar 400 – 500 ml. Pemeriksaan lanjutan perlu
dilakukan bila pada pasien ditemukan nilai PVR lebih dari 200 cc atau 25 % dari
kapasitas kandung kemihnya. Pada pemeriksaan fisik , massa yang teraba di atas
simpisis pubis yang menghilang setelah pemasangan kateter uretra memberi kesan
ke arah distensi buli .

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

3.4.1 Nyeri b/d agen cidera biologis

3.4.2 gangguan eliminasi urine b/d retensi urine


3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN

N Diagnosa kep. Tujuan dan kriteria hasil Intervensi (NIC)


O (NOC)

1. Nyeri akut b/d agen a. Mengenali faktor a. Lakukan pengkajian nyeri


cidera biologis. penyebab Mengenali secara komprehensif
onset (lamanya sakit) termasuk lokasi,
b. Menggunakan metode karakteristik, durasi,
pencegahan frekuensi
c. Menggunakan metode b. Observasi reaksi non verbal
non analgetik untuk dari ketidak nyamanan
mengurangi nyeri c. Kaji kultur yang
d. Menggunakan mempengaruhi respon nyeri
Analgetik sesuai d. Evaluasi pengalaman nyeri
kebutuhan masa lampau
e. Mencari bantuan e. Evaluasi bersama pasien dan
tenaga kesehatan tim kesehatan lain tentang
f. Melaporkan Gejala ketidakefektifan kontrol
Pada tenaga kesehatan nyeri masa lampau
g. Menggunakan Sumber- f. kontrol lingkungan yang
sumber yang tersedia dapat mempengaruhi nyeri
h. Mengenali gejala- seperti suhu ruangan,
gejala nyeri pencahayaan dan kebisingan
i. Mencatat Pengalaman kurangi faktor presipitasi
nyeri g. Pilih dan lakukan
j. Melaporkan nyeri penanganan
sudah terkontrol nyeri(Farmakologi,non
farmakologi dan
interpersonal)

2 Gangguan eliminasi NOC : a. Kaji secara verbal dan


urine b/d retensi nonverbal respon klien
urine a. Symptom severity terhadap tubuhnya
b. Urinary elimination b. Kaji ulang frekuensi
Kriteriahasil : mengkritik dirinya
c. Bimbing pasien untuk
a. Pengosongan bladder mencari penyebab perubahan
Secara sempurna tubuhnya
b. Urin terbebas dari d. Dorong klien
partikel mengungkapkan perasaannya
c. Balance cairan selama (identifikasi kebiasaan positif
24 jam dari kehidupan klien untuk
b. Urin dapat keluar tanpa meningkatkan harga diri
kesakitan klien)
e. Identifikasi arti pengurangan
melalui pemakaian alat bantu
(dengan menggunakan
kateterakan mengurangi
dampak mengompol, tubuh
bau pesing)
f. Jelaskan tentang pengobatan,
perawatan, kemajuan dan
prognosis penyakit (tawarkan
bantuan dari profesional lain
sprtpsikolog, ahli konseling
seksual)

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dan hasil analisa dari bab I sampai pada bab III dapat
disimpulkan bahwa Retensio urine adalah ketidakmampuan melakukan urinasi meskipun
terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut atau tertahanya urine didalam
kandung kemih.

Klien dengan retensio urine dapat terjadi karena berbagai factor seperti:
a. Vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang,
b. pembesaran porstat
c. kelainan patologi urethra.

Oleh karena itu perlu dilakukan perawatan dan Penatalaksanaan pada kasus retensio urine
dengan cara :
a. Kateterisasi urethra.
b. Dilatasi urethra dengan boudy.
c. Drainage suprapubik.

4.2 SARAN

Sebagai seorang perawat, sudah menjadi kewajiban untuk memberikan tindakan


perawatan dalam asuhan keperawatan yang diarahkan kepada pembentukan tingkat
kenyamanan pasien, manajemen rasa sakit dan keamanan. Perawat harus mampu
mamahami faktor psikologis dan emosional yang berhubungan dengan diagnosa penyakit,
dan perawat juga harus terus mendukung pasien dan keluarga dalam menjalani proses
penyakitnya.