Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik
atau 90 mmHg diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 4-6 jam pada
wanita yang sebelumnya normotensi. Hipertensi pada kehamilan adalah
hipertensi yang terjadi saat kehamilan berlangsung setelah 20 minggu usia
kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif, tekanan darah
mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg dan
tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal1. Hipertensi pada kehamilan
diklasifikasikan sebagai hipertensi kronis, hipertensi gestasional,
superimpossed preeklamsia, preeklampsia dan eklamsia2.
B. Klasifikasi
Tabel 2.1. Klasifikasi Hipertensi Kehamilan3
Hipertensi Gestasional 1. Terjadi setelah 20 minggu kehamilan
2. Tanpa disertai proteinuria
3. Menghilang dalam 3 bulan postpartum
Preeklamsia 1. Gangguan multi-sistem yang ditandai
dengan hipertensi serta keterlibatan satu
atau lebih sistem organ lain dan / atau
janin
2. Terjadi setelah 20 minggu kehamilan
disertai dengan proteinuria
Hipertensi Kronik 1. Tekanan darah tinggi yang terdeteksi
sebelum usia kehamilan 20 minggu
2. Hipertensi yang timbul sebelum umur
kehamilan 20 minggu atau hipertensi
yang pertama kali didiagnosis setelah
umur kehamilan 20 minggu dan

1
hipertensi menetap sampai 12 minggu
pasca persalinan.
3. Hipertensi yang timbul sebelum
konsepsi atau sebelum 20 minggu tanpa
penyebab yang diketahui
Hipertensi Kronik 1. Seorang wanita dengan hipertensi yang
dengan superimposed sudah ada disertai gejala sistemik
preeklamsia preeklampsia setelah kehamilan 20
minggu
2. Ibu dengan riwayat hipertensi kronik
(sudah ada sebelum usia kehamilan 20
minggu)
3. Tes celup urin menunjukkan proteinuria
>+1 atau trombosit <100.000 sel/uL
pada usia kehamilan > 20 minggu

Eklamsia 1. Preeklamsi yang disertai dengan kejang-


kejang sampai dengan koma.
2. Kejang umum dan/atau koma
3. Ada tanda dan gejala preeklampsia
4. Tidak ada kemungkinan penyebab lain
(misalnya epilepsi, perdarahan
subarakhnoid, dan meningitis)

2
C. Preeklamsia
1. Definisi
Preeklampsia merupakan sindrom hipertensi pada paruh kedua
kehamilan yang sering disertai dengan proteinuria, preeklampsia dapat
dikaitkan dengan banyak tanda dan gejala lain seperti gangguan
penglihatan, sakit kepala, nyeri epigastrium, dan perkembangan edema
yang cepat. Kriteria diagnostik preeklamsia yaitu tekanan darah sistolik
140 mm Hg atau lebih tinggi, atau diastolik 90 mm Hg atau lebih tinggi
setelah 20 minggu kehamilan pada wanita dengan tekanan darah yang
sebelumnya normal. Disarankan bahwa diagnosis hipertensi memerlukan
setidaknya dua penentuan setidaknya 4 jam terpisah4.
2. Faktor resiko
a. Anamnesis:
1) Umur > 40 tahun
2) Nulipara
3) Multipara dengan riwayat preeklampsia sebelumnya
4) Multipara dengan kehamilan oleh pasangan baru
5) Multipara yang jarak kehamilan sebelumnya 10 tahun atau lebih
6) Riwayat preeklampsia pada ibu atau saudara perempuan
7) Kehamilan multipel
8) IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus)
9) Hipertensi kronik
10) Penyakit Ginjal
11) Sindrom antifosfolipid (APS)
12) Kehamilan dengan inseminasi donor sperma, oosit atau embrio
13) Obesitas sebelum hamil
b. Pemeriksaan fisik:
1) Indeks masa tubuh > 35
2) Tekanan darah diastolik > 80 mmHg
3) Proteinuria (dipstick >+l pada 2 kali pemeriksaan berjarak 6 jam
atau secara kuantitatif 300 mg/24 jam)

3
c. Kehamilan pertama oleh pasangan baru
Kehamilan pertama oleh pasangan yang baru dianggap sebagai faktor
risiko, walaupun bukan nulipara karena risiko meningkat pada wanita
yang memiliki paparan rendah terhadap sperma.
d. Jarak antar kehamilan
Studi yang melibatkan 760.901 wanita di Norwegia, memperlihatkan
bahwa wanita multipara dengan jarak kehamilan sebelumnya 10 tahun
atau lebih memiliki risiko preeklampsia hampir sama dengan nulipara.
Risiko preeklampsia semakin meningkat sesuai dengan lamanya
interval dengan kehamilan pertama
e. Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya merupakan faktor
risiko utama meningkat hingga 7 kali lipat
f. Riwayat preeklampsia pada keluarga juga meningkatkan risiko
hampir 3 kali lipat4
D. Patofisiologi
1. Teori Iskemia Plasenta, Radikal bebas, dan Disfungsi endotel
Pada kehamilan normal terjadi invasi trofoblas ke dalam lapisan otot
arteri spiralis yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut,
sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis. Invasi trofoblas juga memasuki
jaringan sekitar arteri spiralis, sehingga jaringan matriks menjadi gembur
dan memudahkan lumen spiralis mengalami distensi dan dilatasi.
Distensi dan vasodilatasi lumen arteri apiralis ini memberi dampak
penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan
peningkatan aliran darah pada utero plasenta. Akibatnya, aliran darah ke
janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat
menjamin pertumbuhna janin dengan baik. Proses ini dinamakan
“remodeling arteri spiralis”. Pada hipertensi kehamilan tidak terjadi
invasi trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks
lainnya, akibatnya arteri spiralis relatif mengalami vasokontriksi
sehingga aliran darah uteroplasenta menurun dan terjadi hipoksia dan
iskemik plasenta. Plasenta yang hipoksia dan iskemik akan menghasilkan

4
radikal bebas hidroksil yang sangat toksis terhadap membran sel
pembuluh darah serta merusak membran sel yang mengandung lemak
tak jenuh menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak akan merusak
endotel pembuluh darah kemudian membran endotel dan menyebabkan
disfungsi endotel. Disfungsi endotel menyebabkan peningkatan
tromboksan, penurunan prostaksiklin, peningkatan endotelin dan
penurunan NO, serta peningkatan permebilitas kapiler2

Gambar 2.2. Proses Plasentasi Abnormal5


2. Teori Adaptasi Kardiovascular
Pada hamil normal pembulu darah refrakter tehadap bahan-bahan
vasopresor. Refrakter berarti pembuluh darah tidak peka tehadap
rangsangan bahan vasopresor, atau dibutuhkan kadar vasopresor yang
lebih tinggi untuk menimbulkan respons vasokonstriksi. Pada kehamilan
normal terjadinya refrakter pembuluh daerah terhadap bahan vasopresor
adalah akibat dilindungi oleh adanya sitensis prostaglandin pada sel
endotel pembuluh darah. Hal ini dibuktikan bahwa daya rafrakter

5
terhadap bahan vasopresor akan hilang bila diberi prostaglandin sintensa
inhibitor (bahan yang menghambat produksi prostaglandin).
Prostaglandin ini di kemudian hari ternyata adalah prostasiklin2.
Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap
bahan vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan
terhadap bahan-bahan vasopresor. Artinya, daya refrakter pembuluh
darah terhadap bahan vasopresor hilang sehingga pembuluh darah
menjadi peka terhadap bahan vasopresor. Banyak peneliti telah
membuktikan bahwa peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan
vasopresor pada hipertensi dalam kehamilan sudah terjadi pada trimester
I (pertama). Peningkatan kepekaan pada kehamilan yang akan menjadi
hipertensi dalam kehamilan, sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua
puluh minggu. Fakta ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya
hipertensi dalam kehamilan2.
3. Teori Genetik
Ibu yang mengalami preeklamsia 26% anak perempuannya akan
mengalami preeklamsia pula sedangkan 8 % anak menantu akan
mengalami preeklamsia2.
4. Defisiensi Gizi
Minyak ikan dapat meningkatkan kadar tromboksan yang akan
menghambat aktivasi trombosit dan mencegah vasokontriksi pembuluh
darah 2.

E. Penegakkan Diagnosis

Tabel 2.2. Penegakkan Diagnosis Preeklamsia4

6
Kriteria Minimal Preeklampsia Kriteria Preeklampsia berat

Tekanan darah sekurang-kurangnya Hipertensi : Tekanan darah


140 mmHg sistolik atau 90 mmHg sekurang-kurangnya 160
diastolik pada dua kali pemeriksaan mmHg sistolik atau 110
berjarak 15 menit menggunakan mmHg diastolik pada dua
lengan yang sama kali pemeriksaan berjarak
15 menit menggunakan
lengan yang sama

Protein urin : Protein urin melebihi 300 mg dalam 24 jam atau tes
urin dipstik positif 1
Jika tidak didapatkan protein urin, hipertensi dapat diikuti salah
satu dibawah ini :
1. Trombositopeni :Trombosit < 100.000 / mikroliter
2. Gangguan ginjal :Kreatinin serum diatas 1,1 mg/dL atau
didapatkan peningkatan kadar kreatinin serum dari
sebelumnya pada kondisi dimana tidak ada kelainan
ginjal lainnya.
3. Gangguan Liver :Peningkatan konsentrasi transaminase
2 kali normal dan atau adanya nyeri di daerah epigastrik
/ regio kanan atas abdomen
4. Edema Paru
5. Gejala Neurologis :Stroke, nyeri kepala, gangguan visus
6. Gangguan Sirkulasi Uteroplasenta :Oligohidramnion,
Fetal Growth Restriction (FGR) atau didapatkan adanya
absent or reversed end diastolic velocity (ARDV)

F. Tatalaksana
1. Rawat Jalan

7
a. Evaluasi janin meliputi jumlah tendangan harian, ultrasonografi untuk
menentukan pertumbuhan janin setiap 3 minggu, dan penilaian
volume cairan amniotik setidaknya sekali seminggu. Selain itu, NST
sekali seminggu untuk pasien dengan hipertensi gestasional dan NST
dua kali seminggu untuk pasien dengan preeklampsia tanpa gambaran
berat. Kehadiran NST nonreaktif membutuhkan pengujian BPP.
b. Pada saat kunjungan klinik untuk pemeriksaan antenatal, tekanan
darah harus dinilai 2 kali dalam seminggu
c. Evaluasi proteinuria pada setiap kunjungan antenatal, tetapi setelah
diagnosis preeklampsia, evaluasi tambahan proteinuria tidak lagi
diperlukan.
d. Evaluasi laboratorium maternal termasuk tes CBC dan enzim hati dan
kadar kreatinin serum setidaknya sekali seminggu. Frekuensi tes ini
dapat dimodifikasi berdasarkan temuan klinis berikutnya
e. Pasien diinstruksikan untuk melakukan diet teratur
f. Setelah terdiagnosis setiap kunjungan berikutnya, pasien
diinstruksikan untuk melaporkan gejala preeklampsia berat (sakit
kepala berat, perubahan visual, nyeri epigastrium, dan sesak napas).
Pasien juga disarankan untuk segera datang ke rumah sakit jika
terdapat nyeri perut, kontraksi, peradangan vagina, pecahnya
ketuban, atau penurunan gerakan janin3

2. Rawat Inap
a. Indikasi Rawat Inap

8
1) Hamil 37 minggu atau lebih dari kehamilan jika diduga plasenta
abruptio
2) 34 minggu atau lebih dari usia kehamilan, ditambah hal-hal
berikut:
 Ketuban pecah
 Perkiraan ultrasonografi berat janin kurang dari persentil kelima
 Oligohidramnion
 Peningkatan konsentrasi enzim hati
 Trombositopenia
3) Tekanan Darah sistolik 160 mm Hg atau lebih tinggi atau diastolik
110 mm Hg atau lebih tinggi pada pengukuran berulang
4) Gangguan Pertumbuhan Janin3
b. Magnesium Sulfat
Dosis loading magnesium sulfat 4 g selama 5 – 10 menit, dilanjutkan
dengan dosis pemeliharaan 1-2 g/jam selama 24 jam post partum atau
setelah kejang terakhir, kecuali terdapat alasan tertentu untuk
melanjutkan pemberian magnesium sulfat. Pemantauan produksi urin,
refleks patella, frekuensi napas dan saturasi oksigen penting dilakukan
saat memberikan magnesium sulfat. Efek samping seperti rasa
hangat, flushing, nausea atau muntah, kelemahan otot, ngantuk, dan
iritasi dari lokasi injeksi. Tanda dan gejala tertentu seperti sakit
kepala, perubahan kondisi mental, penglihatan kabur, skotoma,
klonus, dan nyeri perut kuadran kanan atas dianggap sebagai gejala
akan kejang dan harus dipertimbangkan untuk memulai terapi
magnesium sulfat4
c. Antihipertensi
Pemberian antihipertensi pada tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg
atau diastolik ≥ 90 mmHg pada wanita dengan hipertensi gestasional
(dengan atau tanpa proteinuria), hipertensi kronik superimposed,
hipertensi gestasional, hipertensi dengan gejala atau kerusakan organ
subklinis pada usia kehamilan berapa pun.

9
Metildopa, agonis reseptor alfa yang bekerja di sistem saraf pusat,
adalah obat antihipertensi yang paling sering digunakan untuk wanita
hamil dengan hipertensi kronis. Metildopa biasanya dimulai pada
dosis 250-500 mg per oral 2 atau 3 kali sehari, dengan dosis
maksimum 3 g per hari. Efek obat maksimal dicapai 4-6 jam setelah
obat masuk dan menetap selama 10-12 jam sebelum diekskresikan
lewat ginjal. Alternatif lain penggunaan metildopa adalah intra vena
250-500 mg tiap 6 jam sampai maksimum 1 g tiap 6 jam untuk krisis
hipertensi. Metildopa dapat melalui plasenta pada jumlah tertentu dan
disekresikan di ASI. Efek samping pada ibu antara lain letargi, mulut
kering, mengantuk, depresi, hipertensi postural, anemia hemolitik dan
drug-induced hepatitis.
Nifedipin merupakan Calcium channel blocker yang bekerja pada otot
polos arteriolar dan menyebabkan vasodilatasi dengan menghambat
masuknya kalsium ke dalam sel. Dosis nifedipine yang
direkomendasikan adalah 10 mg kapsul oral, diulang tiap 15 – 30
menit, dengan dosis maksimum 30 mg4
d. Kortikosteroid
Pemberian kortikosteroid antenatal berhubungan dengan penurunan
mortalitas janin dan neonatal, RDS, kebutuhan ventilasi
mekanik/CPAP, kebutuhan surfaktan dan perdarahan
serebrovaskular, necrotizing enterocolitis serta gangguan
pekembangan neurologis. Kortikosteroid diberikan pada usia
kehamilan ≤ 34 minggu4

e. Indikasi Terminasi Kehamilan

Tabel 2.4. Indikasi Terminasi Kehamilan4


Data Maternal Data Janin

10
Hipertensi berat tidak terkontrol Usia kehamilan 34 minggu
Gejala preeklamsia berat yang tidak Pertumbuhan janin terhambat
berkurang (nyeri kepala, pandangan
kabur, dll)
Penurunan fungsi ginjal progresif Oligohidramnion persisten
Trombositopenia persisten atau Profil biofisik <4
HELLP sindrom
Edema Paru Deselerasi variabel dan lambat
pada NST
Eklamsia Kematian janin
Solusio plasenta
Persalinan atau ketuban pecah

f. Alogaritma Penatalaksanaan

11
Gambar 2.3. Alogaritma Tatalaksana Preeklamsia4

12
Gambar 2.4. Alogaritma Tatalaksana Preeklamsia4

G. Pencegahan
a. Pencegahan Primer
1) Istirahat
Istirahat di rumah 4 jam/hari bermakna menurunkan risiko
preeklampsia dibandingkan tanpa pembatasan aktivitas. Istirahat
dirumah 15 menit 2x/hari ditambah suplementasi nutrisi juga
menurunkan risiko preeklampsia
2) Restriksi garam (20 – 50 mmol/hari) dibandingkan diet normal tidak
ada perbedaan dalam mencegah preeklampsia

13
3) Penggunaan aspirin dosis rendah (60-80 mg) dalam mencegah
terjadinya preeklampsia. Apirin dosis rendah sebagai prevensi
preeklampsia sebaiknya mulai digunakan sebelum usia kehamilan
20 minggu
4) Suplementasi kalsium minimal 1 g/hari direkomendasikan terutama
pada wanita dengan asupan kalsium yang rendah Penggunaan aspirin
dosis rendah dan suplemen kalsium (minimal 1g/hari)
direkomendasikan sebagai prevensi preeklampsia pada wanita
dengan risiko tinggi terjadinya preeklampsia
5) Pemberian vitamin C dan E dosis tinggi tidak menurunkan risiko
hipertensi dalam kehamilan, preeklampsia dan eklampsia, serta berat
lahir bayi rendah, bayi kecil masa kehamilan atau kematian
perinatal4

H. Komplikasi

Wanita dengan riwayat preeklampsia memiliki risiko penyakit


kardiovaskular, 4x peningkatan risiko hipertensi dan 2x risiko penyakit
jantung iskemik, stroke dan DVT di masa yang akan datang. Risiko
kematian pada wanita dengan riwayat preeklampsia lebih tinggi, termasuk
yang disebabkan oleh penyakit serebrovaskular4

14
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien datang dari poli pukul 12.30 hamil ke-2 aterm dengan keluhan
tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi sudah dirasakan sejak 1 bulan yang lalu
serta pasien memiliki riwayat mondok 1 minggu yang lalu dengan keluhan yang
sama dan sudah selesai mendapatkan injeksi dexamethason . Berdasarkan hasil
pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, kesadaran compos
mentis, pengukuran tanda vital meliputi tekanan darah 150/110, RR 20x/menit,
Nadi 80x/menit, serta suhu 36,5 ℃. . Kemudian pasien dilakukan pemeriksaan
penunjang berupa protein urin +1. Hasil pemeriksaan daalam vulva/vagina tenang,
pembukaan 1 jari, porsio tebal lunak, KK (+), kepala masih tinggi, STLD (-).
Berdasarkan hasil anamnesis , pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
pasien mengalami preeklamsia. Hal ini sesuai dengan teori bahwa preeklamsia
merupakan hipertensi dalam kehamilan yang muncul setelah usia kehamilan 20
minggu dengan tekanan darah sekurang-kurangnya sistolik 140 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg atau lebih disertai dengan adanya protein urin +1 untuk
preeklamsia dengan gejala minimal. Tekanan darah sekurang-kurangnya 160
mmHg dan diastolik 110 mmHg dan disertai protein urin +1. Berdasarkan teori
yang ada pasien tergolong mengalami preeklamsia berat. Terapi yang diberikan
untuk Ny. E yaitu pertama dilakukan informed consent untuk melakukan terminasi
kehamilan dengan menggunakan kateter balon, diberikan dopamet 3x 250 mg,
adalat 1x30 mg serta drip oksitosin.

Usia kehamilan Ny. E aterm dengan preeklamsi berat merupakan indikasi


untuk dilakukan termanasi kahamilan, hal ini sesuai dengan alogaritma
penalataksanaan preeklamsia berat yaitu jika kehamilan sudah lebih dari 37 minggu
atau kehamilan ≥ 34 minggu dengan salah satu gejala seperti ketuban pecah, solusio
plasenta, gangguan pertumbuhan janin, serta perburukan kondisi janin maupun ibu
maka segera dilakukan terminasi. Metode terminasi kehamilan jika belum masuk
dalam persalinan bisa dilakukan induksi persalinan. Induksi persalinan merupakan

15
stimulasi kontraksi sebelum mulai terjadi persalinan spontan, dengan atau tanpa
rupture membrane6. Indikasi dilakukan induksi persalinan yaitu ketuban pecah dini,
kehamilan lewat waktu, oligohidramnion, korioamnionitis, preeklampsi berat,
hipertensi akibat kehamilan, intrauterine fetal death (IUFD) dan pertumbuhan janin
terhambat (PJT), insufisiensi plasenta, perdarahan antepartum, dan umbilical
abnormal arteri doppler7. Sedangkan kontraindikasi dilakukan induksi persalinan
yaitu Disproporsi sefalopelvik (CPD), plasenta previa, gamelli, polihidramnion,
riwayat sectio caesar klasik, malpresentasi atau kelainan letak, gawat janin, vasa
previa, hidrosefalus, dan infeksi herpes genital aktif 6. Syarat dilakukan induksi
persalinan yaitu tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD), serviks uteri sudah
matang, yakni serviks sudah mendatar dan menipis, hal ini dapat dinilai
menggunakan tabel skor Bishop, Presentasi harus kepala, atau tidak terdapat
kelainan letak janin, sebaiknya kepala janin sudah mulai turun kedalam rongga
panggul8 Metode induksi persalinan farmakologis dan mekanis. Metode
farmakologis diantaranya yaitu pemberian prostaglandin E2 (dinoprostone,
cervidil, dan prepidil), prostaglandin E1 (Misoprostol atau cytotec), dan donor nitrit
oksida. Sedangkan yang termasuk kedalam metode mekanis yakni kateter
transservikal (kateter foley), ekstra amnionik salin infusion (EASI), dilator servikal
higroskopik, dan stripping membrane6. Metode induksi yang dilakukan pada Ny. E
yaitu metode mekanis keteter volly. Kateter foley merupakan alternatif yang efektif
disamping pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks dan induksi
persalinan. Akan tetapi tindakan ini tidak boleh digunakan pada ibu yang
mengalami servisitis, vaginitis, pecah ketuban, dan terdapat riwayat perdarahan.
Kateter foley diletakkan atau dipasang melalui kanalis servikalis (os seviks interna)
di dalam segmen bawah uterus (dapat diisi sampai 100 ml). Tekanan kearah bawah
yang diciptakan dengan menempelkan kateter pada paha dapat menyebabkan
pematangan serviks. Modifikasi cara ini, yang disebut dengan extra-amnionic saline
infusion (EASI), cara ini terdiri dari infuse salin kontinu melalui kateter ke dalam
ruang antara os serviks interna dan membran plasenta. Teknik ini telah dilaporkan
memberikan perbaikan yang signifikan pada skor bishop dan mengurangi waktu
induksi ke persalinan6.

16
Pukul 13.45 Ny. E diberikan dopamet. Obat antihipertensi yang aman
digunakan bagi ibu hamil yaitu golongan metildopa. Metildopa merupakan agonis
reseptor alfa yang bekerja di sistem saraf pusat, adalah obat antihipertensi yang
paling sering digunakan untuk wanita hamil dengan hipertensi kronis. Digunakan
sejak tahun 1960, metildopa mempunyai safety margin yang luas (paling aman).
Walaupun metildopa bekerja terutama pada sistem saraf pusat, namun juga
memiliki sedikit efek perifer yang akan menurunkan tonus simpatis dan tekanan
darah arteri. Frekuensi nadi, cardiac output, dan aliran darah ginjal relatif tidak
terpengaruh. Efek samping pada ibu antara lain letargi, mulut kering, mengantuk,
depresi, hipertensi postural, anemia hemolitik dan drug-induced hepatitis."
Metildopa biasanya dimulai pada dosis 250-500 mg per oral 2 atau 3 kali sehari,
dengan dosis maksimum 3 g per hari. Efek obat maksimal dicapai 4-6 jam setelah
obat masuk dan menetap selama 10-12 jam sebelum diekskresikan lewat ginjal.
Nama dagang metildopa merupakan dopamet4.
Pukul 14.00 didapatkan hasil pemeriksaan tekanan darah 160/110 mmHg .
Pasien dilakukan pemassangan volly kateter pada jam 15.00. Pukul 19.15
didapatkan hasil pemeriksaan tekanan darah 160/100 mmHg DJJ 147x/ menit, HIS
jarang, pemeriksaan dalam dengan hasil balon telah lepas, terdapat pembukaan 3-4
cm, porsio tebal lunak, KK (+), kepala masih tinggi, STLD (+), kemudian dilakukan
observasi pembukaan. Pukul 19.45 diberikan adalat 1x30 mg.
Pukul 20.00 didapatkan hasil anamnesis tidak terdapat keluhan seperti
pusing, pandangan kabur, nyeri ulu hati dan hasil pemeriksaan meliputi keadaan
umum cukup, tekanan darah 160/100 mmHg, HIS jarang, DJJ 1152x/menit Pukul
22.00 dilakukan pemeriksaan dalam dengan hasil pembukaan 4cm, porsio tebal
lunak, KK (+), kepala turun hodges 1, STLD (+) dilakukan observasi selama 2 jam
jika pembukaan tetap maka dilakukan drip oksitosin. Drip oksitosin merupakan
metode induksi secara farmakologis dengan tujuan untuk menghasilkan aktifitas
uterus yang cukup serta perubahan serviks dan penurunan janin. Oksitosin
diberikan dengan menggunakan protokol dosis rendah (1 – 4 mU/menit) atau dosis
tinggi (6 – 40) mU/menit)6. Oksitosin digunakan secara hati-hati karena gawat janin
dapat terjadi dari hiperstimulasi. Walaupun jarang, rupture uteri dapat pula terjadi,

17
lebih-lebih pada multipara. Untuk itu senantiasa lakukan observasi yang ketat pada
ibu yang mendapat oksitosin. Drip oksitosin dilakukan pada pukul 22.15 5 IU/menit
dengan kecepatan 8 tetes. Pukul 05.00 dilakukan pemeriksaaan dalam terdapat
pembukaan 4 cm, porsio tebal lunak, kepala masih tinggi, KK (+), STLD (+). Pukul
06.30 diberikan dopamet 250mg . Pukul 07.00 drip oksitosin pada RL 500 ml habis.
Kemudian pukul 08.00 tekanan darah 140/110 mmHg, HIS 2-3 dalam 10 menit
dengan durasi 25 detik, DJJ 130x/ menit, hasil pemeriksaan dalam terdapat
pembukaan 5 cm, KK (+), porsio tebal lunak, kepala turun hodges 1, STLD (+) dan
pukul 08.30 dilanjukan drip oksitosin flabot kedua.

Gambar 3.1. Dosis Oksitosin

Pukul 09.00 dilakukan pemeriksaan dalam pembukaan sudah lengkap , KK


(+) dilakukam amniotomi dengan tujuan untuk mempercepat persalinan. Pukul
09.10 bayi bayi perempuan spontan dengan BB 2900, PB 47,5 cm, LK 22cm, LD
31 cm, LILA 9 cm, HR 154x/menit, RR 52x/menit, SpO2 90%. Plasenta lahir
spontan lengkap utuh eksplorasi bersih, PPV 250 cc, Tekanan darah Post partum
145/95 mmHg. Pukul 14.05 didapatkan hasil pemeriksaan tekanan darah 150/110
mmHg dan diberikan dopamet 250 mg pada pukul 14.30 kemudian pasien diberikan
program meliputi amoksisilin 3x500 mg yang berfungsi untuk mencegah infeksi,
asam mefenamat 3x500mg merupakan analgesik golongan non opioid yang
berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri dan bekerja di perifer sehingga tidak
mempengaruhi kesadaran dan tidak menimbulkan ketergantungan mekanisme kerja

18
obat ini yaitu menghambat kerja enzim siklooksigenase sehingga pembentukan
asam arakidonat menjadi prostaglandin terhambat, hemafort, dopamet 3x250 mg.
Pasien pulang pada tanggal 29/9/2018 dengan tekanan darah 120/70 mmHg.

BAB IV
KESIMPULAN

A. KESIMPULAN
1. Preeklamsia merupakan sindrom hipertensi yang terjadi setelah 20 minggu
kehamilan yang sering disertai dengan proteinuria, preeklampsia dapat

19
dikaitkan dengan banyak tanda dan gejala lain seperti gangguan
penglihatan, sakit kepala, nyeri epigastrium, dan perkembangan edema yang
cepat.
2. Preeklamsia diklasifikasikan menjadi dua yaitu preeklamsia dengan gejala
minimal dan preeklamsia berat
3. Ny.E mengalami preeklamsia berat karena tekanan darah 150/100 disertai
dengan proteinuria +1
4. Penatalaksanaan yang diberikan terhadap Ny. E sesuai dengan Teori yaitu
di berikan kortikosteroid untuk pematangan paru janin, diberikan
antihipertensi, dan dilakukan terminasi kehamilan karena usia kehamilan
Ny. E Aterm. Ny.E tidak ditatalaksana menggunakan MgSO4 .

DAFTAR PUSTAKA

Junaidi, Iskandar.(2010). Hipertensi Pengenalan, Pencegahan, dan Pengobatan.


Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer.

Prawirohardjo, Sarwono. (2014). Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo.


Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

20
Karakilic, I. & Karakılıç, E. (2016) Hypertension in Pregnancy. 4, 1–5.

POGI. (2016). Diagnosis dan Tatalaksana Preeklamsia. Himpunan Kedokteran


Feto Maternal POGI.

Powe CE, Levine RJ, Karumanchi A. (2014). Preeclampsia, a disease of the


maternal endothelium : the role of antiangiogenic factors and implications
for later cardiovascular disease. American Heart Association Journals

Cunningham G. (2013). Hipertensi dalam kehamilan dalam : Obstetri Williams


Edisi 23 Vol 1. Jakarta : EGC

Medforth, J., et al. (2013). Kebidanan Oxford dari bidan untuk bidan. Jakarta : EGC

Oxorn H. (2010). Ilmu Kebidanan : Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yogyakarta


: Yayasan Essentika Medica.

21