Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG

PENGGANGGU
BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT
BANDUNG

DISUSUN OLEH :

Muhammad Ibrahim
(P21345118050)

2 D3B

Dosen Pengajar : Nurul Qomariyah

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II


KESEHATAN LINGKUNGAN

Jl. Hang Jebat III/F3Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12120


Tlp.021-7397641, 7397643, 7202811 Fax (021)7397769
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Saya panjatkan puja
dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada
saya, sehingga
saya dapat menyelesaikan makalah tentang Etika Profesi.

Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.Untuk itu saya menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata saya berharap semoga makalah tentang Etika Profesi ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta, 18 Desember 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................

DAFTAR ISI......................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................

1.1 Latar Belakang............................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................

1.3 Tujuan ........................................................................................................................

BAB II DASAR TEORI...................................................................................................

BAB Ill PEMBAHASAN.................................................................................................

BAB IV PENUTUP..........................................................................................................

4.1 Kesimpulan..................................................................................................................

4.2 Saran.............................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB l

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

BBKPM Bandung sebagai fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan mampu memberikan


pelayanan kesehatan yang bermutu, setara, dan terjangkau. Pelayanan kesehatan yang
bermutu ditunjang oleh terpeliharanya kesehatan lingkungan di BBKPM Bandung. Area
BBKPM Bandung yang dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya mengakibatkan
keberadaan hama berupa serangga seperti nyamuk, lalat, dan kecoa dan binatang pengerat
(tikus) menjadi hal yang tidak terhindarkan. Pengendalian serangga, tikus dan binatang
penganggu lainnya di BBKPM Bandung yang merupakan upaya untuk mengurangi populasi
serangga, tikus dan binatang penganggu lainnya sehingga keberadaannya tidak menjadi
vektor penularan penyakit. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit terdapat persyaratan mengenai
pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya sebagai berikut :
Kepadatan jentik Aedes sp. yang diamati melalul indeks kontainer harus 0 (nol).

1. Tidak ditemukannya lubang tanpa kawat kasa yang memungkinkan nyamuk masuk ke
dalam ruangan, terutama di ruangan perawatan.
2. Semua ruang di rumah sakit harus bebas dan kecoa, terutama pada dapur, gudang
makanan, dan ruangan steril.
3. Tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan tikus terutama pada daerah bangunan
tertutup (core) rumah sakit.
4. Tidak ditemukan lalat di dalam bangunan tertutup (core) di rumah sakit.
5. Di Iingkungan rumah sakit harus bebas kucing dan anjing.
BAB ll

DASAR TEORI

PENGERTIAN VEKTOR PENYAKIT

Vektor adalah seekor binatang yang membawa bibit penyakit dari seekor binatang atau
seorang manusia kepada binatang atau seorang manusia kepada binatang lainnya atau
manusia lainnya. Sedangkan vektor penyakit yang (sering) disebabkan anthropoda dikenal
sebagai arthopodborne disease atau vectorborne diseasemerupakan arthropoda yang dapat
menularkan, memindahkan atau menjadi sumber penularan penyakit pada manusia Di
Indonesia, penyakit – penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit
endemis pada daerah tertentu, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, kaki gajah,
Chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Disamping itu, ada
penyakit saluran pencernaan seperti disenteri, kolera, demam tipoid dan paratipoid yang
ditularkan secara mekanis oleh lalat rumah.

JENIS – JENIS VEKTOR PENYAKIT


Arthropoda [arthro + pous ] adalah filum dari kerajaan binatang yang terdiri dariorgan yang
mempunyai lubang eksoskeleton bersendi dan keras tungkai bersatu, dantermasuk di
dalamnya kelas Insecta, kelas Arachinida serta kelas Crustacea, yangkebanyakan speciesnya
penting secara medis, sebagai parasit, atau vektor organismeyang dapat menularkan penyakit
pada manusia. Sebagian dari Arthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai
ciri-ciri kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesar jumlahnya
karena hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang.

Berikut jenis dan klasifikasi vektor yang dapat menularkan penyakit:


Arthropoda yang dibagi menjadi 4 kelas:
1. Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang
2. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu
3. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau
4. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk
PERANAN VEKTOR PENYAKIT
Secara umum, vektor mempunyai peranan yaitu sebagai pengganggu dan penular penyakit.
Vektor yang berperan sebagai pengganggu yaitu nyamuk, kecoa/lipas, lalat, semut, lipan,
kumbang, kutu kepala, kutu busuk, pinjal, dll. Penularan penyakit pada manusia melalui
vektor penyakit berupa serangga dikenal sebagai arthropod-borne diseases atau sering juga
disebut sebagai vector–borne diseases.Agen penyebab penyakit infeksi yang ditularkan pada
manusia yang rentan dapat melalui beberapa cara yaitu:

a. Dari orang ke orang


b. Melalui udara
c. Melalui makanan dan air
d. Melalui hewan
e. Melalui vektor arthropoda

ETIKA PROFESI
Etika profesi adalah suatu ilmu mengenai hak dan kewajiaban yang dilandasi dengan
pendidikan keahlian tertentu. Dasar ini merupakan hal yang diperlukan dalam beretika
profesi. Sehingga tidak terjadi penyimpangan - penyimpangan yang menyebabkan
ketidaksesuain. Profesionalisme sangat penting dalam suatu pekerjaan, bukan hanya loyalitas
tetapi etika profesilah yang sangat penting. Etika sangat penting dalam menyelesaikan suatu
masalah, sehingga bila suatu profesi tanpa etika akan terjadi penyimpangan-penyimpangan
yang mengakibatkan terjadinya ketidakadilan. Ketidakadilan yang dirasakan oleh orang lain
akan mengakibatkan kehilangan kepercayaan yang berdampak sangat buruk, karena
kepercayaan merupakan suatu dasar atau landasan yang dipakai dalam suatu pekerjaan. Kode
etik profesi berfungsi sebagai pelindung dan pengembangan profesi. Dengan adanya kode
etik profesi, masih banyak kita temui pelanggaran-pelanggaran ataupun penyalahgunaan
profesi. Apalagi jika kode etik profesi tidak ada, maka akan semakin banyak terjadi
pelanggaran. Akan semakin banyak terjadi penyalah gunaan profesi.
BAB IIl

PEMBAHASAN

A. Laporan Pengawasan Pest and Rodent Control

Pengendalian serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya di BBKPM Bandung


pada Bulan MARET-Agustus 2016 dilakukan melalui kerjasama dengan pihak ketiga yaitu
PT. Atrindo Asia Global (AAG). Mulai Bulan September Tahun 2016 pelaksanaan
pengendalian vektor atau binatang penganggu dilakukan secara mandiri. Pelaksanaan
pengendalian dilakukan dengan melakukan pemasangan perangkap tikus (perangkap massal),
abatesasi dan pemberantasan nyamuk menggunakan spray anti nyamuk aerosol dan spray anti
nyamuk lotion. Berikut ini hasil penemuan binatang pengganggu yang ditemukan di area
BBKPM Bandung

 Tikus terperangkap : 2 ekor di area genset


 Tikus hidup : area basemen di tempat penyimpanan barang-barang bekas, di bawah
gudang BMN
 Jejak tikus (kotoran tikus) : area genset, selasar samping genset dan pompa air bersih di
dekat ground tank
 Kecoa mati : area basemen (depan gudang farmasi, depan ruang IPAL), tangga sebelah
barat, area IPAL gedung A, bak pengumpul limbah gedung A)

Rekomendasi :
 Menambah penyimpanan perangkap masal di area luar dan dalam BBKPM Bandung

B. Abatesasi
Pelaksanaan pengendalian vektor untuk jentik nyamuk dilakukan dengan penaburan abate
atau penetesan bactivec SL. Abate 1GR dengan bahan aktif temephos 1%. Abate berfungsi
sebagai pengendali larva nyamuk sedangkan Bactivec SL mengandung bahan aktif Bacillus
thuringiensis var.israelensis H-14 sebanyak 0,6% dan Inert Ingredient sebanyak 99,4%.
Berikut ini adalah petunjuk penggunaan abate 1 GR, sebagai berikut:

Tabel 3 Cara penggunaan Abate 1 GR

Penggunaan Abate 1GR


No Jenis Air
100 lt air Cara aplikasi

1. Air bersih (kolam, bak mandi, penampungan


10gr Penaburan
sumber air minum, danau, dsb)

2. Air agak keruh (rawa-rawa, sawah, dsb) 20gr Penaburan

3. Air keruh (air selokan/got, air buangan rumah,


30gr Penaburan
dsb)

Sedangkan petunjuk penggunaan Bactivec SL adalah


- kocok dahulu
- Untuk wadah penampung air penggunaannya 1 ml (20 tetes) untuk 50 liter air
- Untuk area luas : 2 m (40 tetes) - 5 ml (100 tetes) / m2

Lokasi penaburan di lingkup Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung adalah tempat
penampungan air bersih (torn air) sebanyak 2 titik yaitu genangan air di bawah tangga (depan
ruang IPAL) dan septic tank IPAL AOPs.

C. Pemantauan Keberadaan Vektor Penyakit

a. Latar Belakang
Dalam bidang kesehatan, serangga mempunyai arti yang sangat penting karena
peranannya sebagai vektor (perantara) dari berbagai penyakit. Penyakit yang ditularkan oleh
vektor ini antara lain penyakit demam berdarah, malaria, dan filariasis. Ketiga penyakit ini
ditularkan dari orang yang satu ke orang yang lain melalui perantara nyamuk.
Nyamuk seringkali berkembang biak di tempat penampungan air seperti bak mandi,
tempayan, drum, barang bekas, pot tanaman air dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk
mengantisipasi segala dampak yang bisa ditimbulkan nyamuk, masyarakat umum perlu
mengetahui jenis, kehidupan, permasalahan yang disebabkan oleh nyamuk bahkan
pengetahuan mengenai kepadatan jentik nyamuk sebagai langkah awal pencegahan terhadap
dampak buruk akibat serangga (khususnya nyamuk) bagi kesehatan.

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1204 Tahun 2004 tentang Persyaratan


Kesehatan Lingkungan disebutkan bahwa rumah sakit harus melakukan pengendalian
serangga, tikus dan binatang penganggu lainnya sehingga keberadaannya tidak menjadi
vektor penularan penyakit. Salah satu bentuk pengendalian serangga di BBKPM Bandung
adalah dengan melakukan pemantauan/pemeriksaan jentik berkala. Kegiatan pemantauan
jentik nyamuk untuk mengetahui kepadatan jentik merupakan salah satu upaya yang harus
dilakukan guna menurunkan kejadian penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Pemeriksaan
jentik berkala dilaukan pada sarana penampungan air di dalam gedung dan di luar bangunan
gedung BBKPM. Selain itu, dilakukan juga pemantauan keberadaan kecoa dan tikus.

b. Hasil Pemeriksaan

Tabel 4. Hasil pemeriksaan jentik berkala di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat
Bandung bulan Nopember 2016

Lantai/ Tempat Penampungan Keberadaan Keberadaan


Gedung Ruangan No
Lokasi Air Air Jentik
Gedung Pos Satpam 1 Tatakan Dispenser Ya -
A Halaman Toilet Pos Satpam 2 Ember Ya -
Depan Kolam 3 Kolam Ya -
Pot 4 Pot Tidak -
5 Torn Air Backwash Ya -
Area Genangan Air di bawah
Genset dan IPAL 6 Ya -
mesin IPAL
IPAL
Ruang Dahak 7 Saluran Pembuangan Air Tidak -
Sebelah Groundtank dibawah
Genset 8 Ya -
Timur genset
Ground Tank gedung A 9 Groundtank Ya -
Lantai 1 IGD dan Toilet IGD 10 Ember Ya -
11 Tatakan Dispenser Tidak -
12 Kulkas Tidak -
13 Vas Bunga Ya +
Ruang Radiologi 14 Tatakan Dispenser Tidak -
15 Bak Ruang Gelap Tidak -
16 Ember di Toilet Ya -
Lantai/ Tempat Penampungan Keberadaan Keberadaan
Gedung Ruangan No
Lokasi Air Air Jentik

Toilet Pasien Wanita 17 Ember Ya -


Toilet Pasien Laki-laki 18 Ember Ya -
Poli Asma PPOK 19 Tatakan Dispenser Tidak -
IPAL Biologi 20 Bak Pengumpul Ya -
21 Bak Pengendapan Ya +
22 Bak Akhir Ya +
Poli Spesialis 23 Vas Tanaman Ya -
Poli Anak 24 Tatakan Dispenser Tidak -
25 Vas Tanaman Ya -
26 Vas Tanaman Ya -
Laboratorium 27 Tatakan Dispenser Tidak -
Lab. Ruang Media 28 Kulkas Tidak -
Lab. R. Kimia 29 Kulkas Tidak -
Lantai 2
Lab. R. Mikrobiologi 30 Kulkas Tidak -
Konseling Gizi 31 Talang luar ya +
Penyuluhan 32 Vas Tanaman Ya -
Toilet Pasien Laki-laki 33 Ember Ya -
Toilet Pasien Perempuan 34 Ember Ya -
Toilet Karyawan 35 Ember Ya -
Toilet Karyawan 36 Ember Ya -
Toilet Pasien 37 Ember Ya -
Ruang Tunggu Perawat 38 Vas Tanaman Ya -
R. Fisioterapi 39 Tatakan Dispenser Tidak -
40 Vas Tanaman 1 Ya -
R. Dokter 41 Tatakan Dispenser Tidak -
Lantai 3 42 Kulkas Tidak -
Ruang Perawatan 43 Tatakan Dispenser Tidak -
44 Vas Tanaman Tidak -
Toilet Ruang Perawatan
45 Ember Ya -
1
Toilet Ruang Perawatan
46 Ember Ya -
2
Balkon Depan 47 Talang Tidak -
48 tandon Air 1 Ya -
Lantai 4 49 tandon Air 2 Ya -
50 Ember Ya -
Balkon Belakang 51 Tong Besar Tidak -
Gedung Basemen Basemen 52 Selokan Barat Ya -
B 53 Selokan Timur Ya -
54 Selokan Buntu Utara Ya +
55 Selokan Selatan Ya -
56 Sumpit Barat Ya -
57 Sumpit Timur Ya -
Lantai/ Tempat Penampungan Keberadaan Keberadaan
Gedung Ruangan No
Lokasi Air Air Jentik

58 Sumpit Utara Ya -
59 Ground Tank 1 Ya +
60 Ground Tank 2 Ya -
Dapur 61 Kulkas Tidak -
IPS-KL 62 Tatakan Dispenser Tidak -
IPAL AOPs 63 Septic Tank Ya +
64 Bak Ekualisasi Ya -
65 Torn Air Backwash Ya -
Laundry 66 Bak Air Tidak -
Bawah Tangga 67 Ruang Bawah Tangga Ya +
Ruang Tata Usaha 68 Tatakan Dispenser Tidak -
Ruang Kepala BBKPM 69 Kulkas Tidak -
Ruang Kepala Bag TU 70 Kulkas Tidak -
Apotik 71 Tatakan Dispenser Tidak -
Lantai 1 72 Kulkas Tidak -
Gedung B Rekam Medis 73 Tatakan Dispenser Tidak -
Ruang ADM Poli
74 Tatakan Dispenser Tidak -
DOTS/Umum
Genangan di bawah
Halaman Sebelah Barat 75 Ya -
compresor AC
Dak Lantai Dak Lantai 2 76 Torn Air Tidak -
2 77 Genangan Air Ya -
Rekapitulasi Hasil Pemeriksaan
Jumlah Kontainer : 77
Jumlah Kontainer Berair : 46
Jumlah Kontainer Positif :
7
Jentik
Jumlah Lokasi Diperiksa : 49
Jumlah Lokasi Positif :
7
Jentik
: 12 => DF = 3
House Index
%
: 15 => DF = 5
Container Index
%
: 14 => DF = 3
Breteau Index
%
Density Figure : 3,67

Interpretasi : tingkat kepadatan sedang dan risiko penularan sedang

c. Pembahasan
Pemeriksaan jentik nyamuk berkala Bulan Nopember 2016 di lingkungan gedung
BBKPM Bandung dilakukan di dalam gedung dan di luar gedung pada 49 lokasi. Metode
pemeriksaan dilakukan dengan visual. Jumlah kontainer yang diperiksa adalah sebanyak 46
buah. Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan jentik pada 7 kontainer di 6 lokasi di
BBKPM Bandung. Kontainer yang berjentik langsung diberikan tindakan berupa pemberian
bubuk abate dan membersihkan dan mengeringkan tatakan dispenser. Dengan pemberian
abate diharapkan akan mematikan jentik nyamuk. Hasil pemeriksaan jentik secara lengkap
dapat pada laporan bagian B.
Hasil pemeriksaan jentik nyamuk kemudian diolah untuk menghitung kepadatan
jentik nyamuk dengan ukuran house index (HI), dan container index (CI), breteau index (BI)
dan density figure. Hasil perhitungan kepadatan jentik nyamuk adalah sebagai berikut : HI =
12 persen, CI = 15 persen, BI = 16 persen, dan DF 3,67. Dalam Keputusan Menteri
Kesehatan No.1204 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit terdapat
persyaratan kepadatan jentik yang diamati melalui indeks kontainer harus 0 (nol).
Berdasarkan hasil pemeriksaan didapatkan indeks kontainer 17 persen yang berarti tidak
memenuhi persyaratan tersebut. Nilai DF sebesar 3,67 dapat diinterpretasikan tingkat
kepadatan nyamuk sedang dan risiko penularan penyakit sedang.
Tindakan pengendalian yang dilakukan adalah penetesan bakteri pemberantas jentik
nyamuk yaitu Bactivec SL ke kontainer-kontainer penampungan air terutama torn/tandon air
bersih dan ground tank serta kontainer air yang terdapat jentik, melakukan treatment yang
dilakukan oleh pihak ketiga berupa fogging dan baiting secara rutin setiap 2 minggu sekali,
menjaga kebersihan lingkungan jangan sampai ada tumpukan- tumpukan barang yang
berpotensi menjadi sarang nyamuk, membersihkan gorden, menyingkirkan barang-barang
yang dapat menjadi tempat penampungan air hujan seperti kaleng, plastik, sampah dan
lubang pada tanah yang dapat menjadi penampungan air alamiah, selalu mengganti air di
dalam vas tanaman, dan membersihkan dudukan (tatakan) dispenser air dan kulkas.
Permasalahan

- Selokan air di area basemen kurang miring ke arah sumpit sehingga aliran air menjadi
lambat dan air menjadi tergenang yang juga berpotensi menjadi tempat perindukan
nyamuk
- Di area genset sudah disimpan perangkap tikus yang diberi umpan sebagai bentuk
treatment oleh pihak ketika tetapi masih ditemukan tikus berkeliaran di area genset
- Pemusnahan air menggenang di area BBKPM Bandung dan abatesasi secara rutin
BAB lV

PENUTUP

SARAN

Membersihkan secara berkala selokan air di area basemen dengan cara dikeruk
lumpurnya

KESIMPULAN

Tindakan pengendalian yang dilakukan adalah penetesan bakteri pemberantas jentik nyamuk
yaitu Bactivec SL ke kontainer-kontainer penampungan air terutama torn/tandon air bersih
dan ground tank serta kontainer air yang terdapat jentik, melakukan treatment yang dilakukan
oleh pihak ketiga berupa fogging dan baiting secara rutin setiap 2 minggu sekali, menjaga
kebersihan lingkungan jangan sampai ada tumpukan- tumpukan barang yang berpotensi
menjadi sarang nyamuk, membersihkan gorden, menyingkirkan barang-barang yang dapat
menjadi tempat penampungan air hujan seperti kaleng, plastik, sampah dan lubang pada
tanah yang dapat menjadi penampungan air alamiah, selalu mengganti air
DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/142349307/Vektor-Penyakit