Anda di halaman 1dari 12

PASAR SUSU DUNIA DAN POSISI INDONESIA

Bambang Ali Nugroho

Staf Pengajar Pada Program Studi Sosial Ekonomi


Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang

ABSTRACT

In 2009, domestic freshmilk production is about 1.3 million litre per day or equivalent
56,000 tons. That amount only capable to cover about 25% of domestic demand. In the last
2010 freshmilk national production will be 1.41 million litre per day or equivalent 62,000 tons.
In 2009, milk consumption per capita per year is 10.3 KG this level is lower than the other
member of Asean countries. Three kind of milk product dominated domestic milk market, i.e.
powder milk (39%), sweetened condensed milk (35%), pasteurized milk (26%). For increasing
domestic milk production, the goverment is necessary to deliver the incentive policy for the
dairy farmers. It is necessary to empower the partnership scheme based on common interest
between dairy farmers, dairy cooperative and milk processing industry. It is necessary to
optimize the performance of external parties that related on milk agribusiness system, i.e.
Union of Dairy Cooperative (GKSI), National Dairy Board (DPN), University and NGO.
That extenal parties could collectively work to improve bargaining position, economic of
scale and economic of scope af all dairy cooperatives in Indonesia. (JIIPB 2010 Vol 20 No
1: 65-76).

Keywords : freshmilk, milk processing industry, dairy cooperative, milk production, milk
consumption, milk trade

RINGKASAN

Pada tahun 2009, produksi susu segar nasional mencapai sekitar 1,3 juta liter per hari
atau setara dengan 56.000 ton. Jumlah tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 25%
kebutuhan susu domestik. Pada tahun 2010 produksi susu segar nasional diprediksi akan
mencapai sekitar 1,41 juta liter per hari atau setara dengan 62.000 ton. Pada tahun 2009
konsumsi susu per kapita per tahun sekitar 10,3 KG, angka ini lebih rendah dibanding negara-
negara lain di kawasan ASEAN. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya promosi dan
sosialisasi gerakan minum susu dan diharapkan tingkat konsumsi susu nasional akan
meningkat sebesar 5% pada tahun 2010. Tiga jenis produk susu yang mendominasi pasar
meliputi susu cair siap minum, susu kental manis dan susu bubuk, dengan pangsa pasar
masing-masing sekitar 26%, 35% dan 39%. Preferensi konsumen saat ini cenderung
mengarah pada jenis susu cair siap minum yag dirasa lebih segar dan alami.
Pemerintah perlu memberikan kebijakan insentif bagi para peternak untuk
meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar. Perlu pemberdayaan kemitraan yang
adil berbasis kepentingan bersama antara peternak, koperasi susu dan industri pengolahan
susu (IPS) sehingga pengembangan agribisnis susu nasional dapat berjalan optimal.
Mengefektifkan kinerja peran pihak-pihak eksternal yang terkait dengan sistem agribisnis
susu nasional, meliputi GKSI, dewan persusuan nasional, perguruan tinggi dan LSM agar
dapat secara kolektif dan berkesinambungan berupaya untuk memperbaiki bargaining
position, economic of scale dan economic of scope dari seluruh koperasi susu segar di
Indonesia.

Kata Kunci : pasar susu, IPS, peternak, koperasi, produksi, konsumsi, perdagangan

65
PENDAHULUAN Zealand dan Australia adalah dua
Indonesia memproduksi susu negara produsen susu dunia yang akan
segar relatif sangat sedikit yaitu sekitar melakukan restrukturisasi industri
635.000 ton per tahun, apabila terutama pengembangan investasi
dibandingkan dengan produksi susu untuk menanggapi kenaikan
segar di Australia dan Selandia Baru, permintaan susu tersebut khususnya
masing-masing sekitar 10 juta ton per Asia. Sementara itu, kedua negara itu
tahun. secara terus menerus memperjuangkan
Produksi susu segar di supaya seluruh negara-negara
Indonesia saat ini hanya mampu meniadakan segala hambatan
mencukupi kebutuhan domestik sekitar perdagangan produk susu dunia seperti
35 % dan sisanya (65 %) harus diimpor subsidi dan kuota karena mereka mem-
dari luar negeri. Australia merupakan iliki kepentingan besar bagi pemasaran
pemasok utama produk susu ke susu ke seluruh dunia. Khususnya New
Indonesia, dengan nilai sekitar 126 juta Zealand yang 95 persen produk
US dollar pada tahun 2005, diikuti oleh susunya tergantung pada pasar ekspor
Selandia Baru (107 juta US dollar), dan perdagangan susu menyumbang 20
kemudian masyarakat eropa (102 juta persen dari total perdagangan.
US dollar). Produk utama yang diimpor Informasi di atas
dari Australia ke Indonesia berupa skim memperlihatkan bahwa negara-negara
dan whole milk powder, diikuti dengan maju sedang sibuk memperjuangkan
cheese, whey dan butter. pasar dunia yang bebas sehingga
Mendasarkan pada tingkat mendapat akses pasar ekspor yang luas.
konsumsi susu segar saat di Indonesia, Sementara, Indonesia mempunyai
yaitu sekitar 6 KG per kapita per tahun, tingkat perjuangan yang masih jauh
angka ini merupakan yang terendah di karena Indonesia masih bergelut
antara negara anggota Asean, bahkan dengan masalah-masalah teknologi dan
bila dibandingkan dengan angka budidaya.
konsumsi susu segar di negara maju, Amerika Serikat adalah negara
seperti di Eropa Barat, USA dan besar dunia berikutnya sebagai
Jepang yang mencapai sekitar 200 KG produsen susu terbesar. Dalam
per kapita per tahun maka prospek memperluas pasar hasil ternaknya
adanya peningkatan konsumsi susu khususnya susu, akan mendorong
segar di Indonesia masih sangat dipercepatnya perdagangan susu yang
optimistik. Akan tetapi apabila hal itu bebas karena diperkirakan free trade
terjadi, berarti akan terjadi pula tidak akan mempengaruhi harga susu
peningkatan angka impor produk susu, dalam negeri (Dobson, 2001),
jika kondisi sistem agribisnis susu sementara akses pasar ekspor
segar domestik belum siap menangkap meningkat. Namun beberapa negara
peluang yang ada. penghasil susu dunia seperti di Eropa
Saat ini, pasar dunia sedang Timur tidak akan mudah segera
sangat menggairahkan karena harga memasuki pasar bebas karena mereka
dan permintaan akan berbagai produk menerapkan kuota impor untuk
susu dunia sedang meningkat. New melindungi harga susu dalam negeri.

66
Diperkirakan harga susu dalam negeri TINJAUAN TEORITIS DAN
Eropa Timur akan turun bila kuota EMPIRIS
impor dicabut. Sebaliknya bagi
Australia dan New Zealand, free trade Produksi Susu Segar Domestik
akan membawa kemujuran besar bagi Pada tahun 2009, produksi susu
peternak, karena harga susu yang segar nasional mencapai sekitar 1,3 juta
diekspor diperkirakan akan meningkat liter per hari atau setara dengan 56.000
sekitar 22 s/d 32 persen. ton. Jumlah tersebut hanya mampu
Posisi industri susu Indonesia di memenuhi sekitar 25% kebutuhan susu
mata dunia adalah sebagai negara domestik. Pada tahun 2010 produksi
konsumen produk susu. Tampaknya susu segar nasional diprediksi akan
Indonesia harus menghadapi kenyataan mencapai sekitar 1,41 juta liter per hari
ini untuk bersiap-siap menjadi negara atau setara dengan 62.000 ton. Disatu
importir hasil ternak seperti Jepang, sisi insentif harga akan mendorong
khususnya jika Indonesia tidak segera adanya perbaikan manajemen usaha
membenahi sistem agribisnis sapi perah rakyat yang pada gilirannya
peternakan. Hal ini memberikan isyarat akan meningkatkan kualitas susu segar.
bahwa Indonesia pada saat ini tidak Disisi lain terdapat berbagai
perlu terlalu memikirkan tentang daya permasalahan fundamental yang
saing untuk tujuan ekspor atau menghambat perbaikan produktivitas
substitusi impor karena belum memiliki sapi perah di Indonesia. Permasalahan
kemampuan untuk merealisasikannya. fundamental tersebut antara lain
Buktinya saat ini, setelah krisis meliputi keterbatasan SDM peternak
ekonomi, daya saing susu Indonesia utamanya mind-set, kelangkaan hijauan
sangat kompetitif, karena 30 persen pakan, tingginya harga konsentrat,
lebih murah, namun industri susu kecilnya skala usaha, keterbatasan
nasional tidak dapat melakukan ekspor lahan, lemahnya manajemen usaha,
(dan juga substitusi impor) selain keterbatasan akses ke lembaga
menjaga pasar yang sudah ada. pendanaan, lemahnya penangan
Dalam menghadapi pasar pemerahan dan pasca panen, serta
bebas, upaya yang perlu dilakukan kelangkaan bibit yang berkualitas.
antara lain menghasilkan diversifikasi Berbeda dengan kondisi
produk susu olahan, dan membangun peternak, industri berskala besar
industri susu terpadu yang dapat berkontribusi secara nyata pada sektor
menampung hasil susu rakyat (seperti agribisnis susu nasional. Berbagai
Sekar Tanjung di Jawa Timur), serta investor tersebut tertarik berinvestasi
mengembangkan aliansi strategis pada sektor persusuan karena tingkat
dengan negara-negara lain dalam penjualan produk susu diperkirakan
bidang pemasaran dan produksi melalui akan tumbuh sekitar 5% pada tahun
pengembangan sistem budidaya sapi 2010 seiring dengan pertumbuhan
perah dengan pola cluster development ekonomi nasional.
partnership. Pada tahun 2009 populasi
ternak sapi perah nasional sekitar
320.000 ekor yang tersebar pada

67
berbagai wilayah sentra susu segar di kemasan. Semua itu dilakukan oleh
Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa pihak IPS untuk mengantisipasi relatif
Barat. Usaha budidaya ternak sapi rendahnya daya beli masyarakat.
perah sebagian besar berskala kecil Rataan produksi susu sekitar 10
dan para peternak merupakan anggota s/d 12 liter per ekor per hari, tingkat
koperasi susu segar. Koperasi harga susu segar ditentukan melalui
menampung produksi susu segar dan penentuan kualitasnya. Kualitas susu
selanjutnya akan dipasarkan ke segar diukur kandungan bakteria (total
Industri Pengolahan Susu (IPS). plate count) dengan kisaran antara
500.000 s/d 1.000.000. Pihak IPS akan
Konsumsi Susu Segar Domestik mencampur susu segar domestik
Pada tahun 2009 konsumsi susu dengan kandungan bakteri rendah,
per kapita per tahun sekitar 10,3 KG, dengan susu skim impor untuk
angka ini lebih rendah dibanding memproduksi susu cair full-cream dan
negara-negara lain di kawasan susu bubuk. Sedangkan susu segar
ASEAN. Pemerintah telah melakukan domestik dengan kandungan bakteri
berbagai upaya promosi dan sosialisasi lebih tinggi akan diproses oleh pihak
gerakan minum susu dan diharapkan IPS menjadi susu kental manis.
tingkat konsumsi susu nasional akan Sampai saat ini konsumsi
meningkat sebesar 5% pada tahun masyarakat Indonesia terhadap produk
2010. susu masih tergolong sangat rendah
Tiga jenis produk susu yang bila dibandingkan dengan negara
mendominasi pasar meliputi susu cair berkembang lainnya. Konsumsi susu
siap minum, susu kental manis dan masyarakat Indonesia hanya 8
susu bubuk, dengan pangsa pasar liter/kapita/tahun itu pun sudah
masing-masing sekitar 26%, 35% dan termasuk produk-produk olahan yang
39%. Preferensi konsumen saat ini mengandung susu. Konsumsi susu
cenderung mengarah pada jenis susu negara tetangga seperti Thailand,
cair siap minum yag dirasa lebih segar Malaysia dan Singapura rata-rata
dan alami. mencapai 30 liter/kapita/tahun,
Untuk mengantisipasi relatif sedangkan negara-negara Eropa sudah
rendahnya tingkat daya beli masyarakat mencapai 100 liter/kapita/tahun.
berbagai IPS mengintroduksikan jenis Seiring dengan semakin tingginya
produk susu baru berupa produk susu pendapatan masyarakat dan semakin
cair, misalnya susu asam, yang kadar bertambahnya jumlah penduduk
susunya lebih rendah dibanding produk Indonesia, dapat dipastikan bahwa
susu pada umumnya. Oleh karenanya konsumsi produk-produk susu oleh
pihak BPOM merekomendasikan lebih penduduk Indonesia akan meningkat.
untuk memberi label "minuman berisi
susu" dibanding "minuman susu". Perdagangan Susu Segar
Selain itu pihak IPS juga membuat Dalam peta perdagangan
produk susu dengan kemasan yang internasional produk-produk susu, saat
lebih kecil untuk menjaga agar ini Indonesia berada pada posisi
harganya sekitar Rp 1.000,- per sebagai net-consumer. Sampai saat ini

68
industri pengolahan susu nasional ditingkatkan dengan cara
masih sangat bergantung pada impor meningkatkan kualitas SDM koperasi
bahan baku susu. Jika kondisi tersebut serta memperkuat networking dengan
tidak dibenahi dengan membangun industri-industri pengolahan. Adaptasi
sebuah sistem agribisnis yang berbasis kelembagaan contract farming akan
peternakan, maka Indonesia akan terus sangat membatu terwujudnya upaya
menjadi negara pengimpor hasil ternak ini.
khususnya susu sapi. Terkait dengan agribisnis susu,
Perkiraan peningkatan pada tahun 1983 Pemerintah telah
konsumsi tersebut merupakan peluang mengeluarkan Surat Keputusan
yang harus dimanfaatkan dengan baik. Bersama (SKB) Tiga Menteri yaitu
Produksi susu segar dan produk- Menteri Pertanian, Menteri
produk derivatnya seharusnya dapat Perindustrian, dan Menteri
ditingkatkan. Kondisi produksi susu Perdagangan dan Koperasi. Dalam
segar Indonesia saat ini, sebagian SKB tersebut industri pengolah susu
besar (90%) dihasilkan oleh usaha diwajibkan menyerap susu segar
rakyat dengan skala usaha 2-3 ekor dalam negeri sebagai pendamping dari
sapi perah per peternak. Skala usaha susu impor untuk bahan baku
ternak sekecil ini jelas kurang industrinya. Proporsi penyerapan susu
ekonomis karena keuntungan yang segar dalam negeri ditetapkan dalam
didapatkan dari hasil penjualan susu bentuk rasio susu yaitu perbandingan
hanya cukup untuk memenuhi antara pemakaian susu segar dalam
sebagian kebutuhan hidup. Dari sisi negeri dan susu impor yang harus
produksi, dengan demikian, dibuktikan dalam bentuk ”bukti serap”
kepemilikan sapi perah per peternak (BUSEP). BUSEP tersebut bertujuan
perlu ditingkatkan. Menurut untuk melindungi peternak dalam
manajemen modern sapi perah, skala negeri dari persaingan terhadap susu
ekonomis bisa dicapai dengan impor. Namun dengan adanya Inpres
kepemilikan minimal 10 ekor sapi per No 4 Tahun 1998 yang merupakan
peternak. bagian dari LoI yang ditetapkan oleh
Dari sisi kelembagaan, IMF, maka ketentuan pemerintah yang
sebagian besar peternak sapi perah membatasi impor susu melalui BUSEP
yang ada di Indonesia merupakan menjadi tidak berlaku lagi, sehingga
anggota koperasi susu. Koperasi susu impor menjadi komoditi bebas
tersebut merupakan lembaga yang masuk. Persoalan di industri hilir pun
bertindak sebagai mediator antara ada, misalnya tarif BM yang tidak
peternak dengan industri pengolahan harmonis antara produk susu (5%)
susu. Koperasi susu sangat dengan bahan baku lain seperti gula
menentukan posisi tawar peternak (35%) dan kemasan (5%-20%). Guna
dalam menentukan jumlah penjualan meningkatkan pangsa pelaku pasar
susu, waktu penjualan, dan harga yang domestik dalam pasar susu segar
akan diterima peternak. Peranan Indonesia, BUSEP perlu diberlakukan
koperasi sebagai mediator perlu kembali dan tarif BM produk susu
dipertahankan. Pelayanannya perlu perlu peninjauan kembali.

69
Kekurangan produksi susu rendah. Adanya pemberlakuan standar
segar dalam negeri merupakan bahan baku yang ketat oleh kalangan
peluang besar peternak susu untuk industri pengolah susu mendudukkan
mengembangkan usahanya. Namun peternak sapi perah pada posisi tawar
demikian peternak masih menghadapi (bargaining position) yang rendah.
permasalahan, antara lain yaitu Lebih ekstrim lagi, keberadaan
rendahnya kemampuan budidaya industri pengolah susu ini dapat
khususnya menyangkut kesehatan menyebabkan terbentuknya struktur
ternak dan mutu bibit yang rendah. pasar oligopsoni yang tentunya
Kekurangan tersebut selain menekan peternak. Selain harga susu
mengakibatkan lambatnya yang sangat murah pada struktur pasar
pertumbuhan produksi susu juga tersebut, tekanan yang diterima
berpengaruh terhadap kualitas susu peternak semakin bertambah dengan
yang dihasilkan. Selain itu mulai adanya retribusi yang diberlakukan
sulitnya lahan sebagai sumber rumput oleh kebanyakan Pemda di era
hijauan bagi ternak, tingginya biaya otonomi daerah ini.
transportasi, serta kecilnya skala usaha Bila melihat perkembangan
sebagaimana telah dikemukakan di agribisnis persusuan di negara lain,
atas, juga menjadi penghambat peran koperasi sangatlah besar dalam
perkembangan produksi susu mengembangkan usaha tersebut. Di
domestik. India, misalnya, koperasi susu telah
Dalam hal pemasaran susu dari berkembang sedemikian rupa sehingga
peternak dalam negeri, keberadaan sampai saat ini kurang lebih telah
Inpres No 4/1998 mengakibatkan berjumlah 57.000 unit dengan 6 juta
posisi industri pengolahan susu anggota. Begitu pula di Uruguay,
menjadi jauh lebih kuat dibandingkan dimana para peternak domestiknya
peternak karena industri pengolahan telah mampu memproduksi 90% dari
susu mempunyai pilihan untuk total produksi susu nasional. Besarnya
memenuhi bahan baku yang peran koperasi tersebut belum terlihat
dibutuhkan yaitu susu segar dari dalam di Indonesia. Koperasi susu kita
negeri maupun dari impor. Hal ini mempunyai posisi tawar yang sangat
menyebabkan relatif rendahnya harga lemah ketika berhadapan dengan
susu segar yang diterima oleh industri pengolahan susu, baik dalam
perternak dalam negeri. hal jumlah penjualan susu, waktu
Permasalahan lain yang penjualan, dan harga yang diperoleh.
dihadapi peternak adalah besarnya Masalah penting mengenai
ketergantungan peternak terhadap perkoperasian susu adalah proses
industri pengolahan susu dalam pembentukan koperasi tersebut
memasarkan susu segar yang umumnya bersifat top-down dan
dihasilkannya. Dengan absennya intervensi pemerintah relatif besar
keberpihakan Pemerintah terhadap dalam mengatur organisasi.
peternak, hal ini menimbulkan Pembentukan anggota koperasi
kecenderungan bahwa harga susu bukanlah atas dasar akumulasi modal
segar yang diterima peternak relatif anggota tetapi lebih banyak bersifat

70
pemberian kredit ternak sapi dalam sebagai lembaga ekonomi dalam
rangka kemitraan dengan bantuan menjalankan manajemen tanpa
modal dari pemerintah. Status anggota pengawasan yang ketat oleh anggota,
koperasi hanya berfungsi pada saat justru sebaliknya koperasi cenderung
menjual susu segar dan pembayaran berkuasa mengatur anggota.
iuran wajib dan iuran pokok. Koperasi

Tabel 1. Tingkat harga susu segar (2008)


Grade susu segar Harga (Rp) USD
Grade 1 (TS 12% & TPC 0 – 250.000 per ml) 2.700 per kg 282 per ton
Grade 2 (TS 12% & TPC 250.000 – 500.000 per ml) 2.500 per kg 261 per ton
Grade 2 (TS 12% & TPC 500.000 – 1.000.000 per ml) 2.400 per kg 250 per ton
Sumber : GKSI (2008)
Tingkat harga susu segar pada tahun 2009 diperkirakan akan
ditentukan berdasarkan kondisi kualitas turun menjadi US$ 1.625.
susu, meliputi kandungan Total Solid Diprediksikan di tahun-tahun
(TS) dan kandungan bakteri atau Total mendatang harga akan meningkat
Plate Count (TPC). Pada tahun 2008 kembali. Untuk masa mendatang,
tingkat harga susu segar berkisar antara permintaan akan susu segar maupun
Rp 2.400,- s/d Rp 2.700,- per KG. produk turunannya diperkirakan terus
Harga bahan baku susu impor meningkat seirama dengan
mengalami fluktuasi yang tinggi akhir- pertambahan populasi, pertumbuhan
akhir ini. Harga Skim Milk Powder per ekonomi, perbaikan tingkat
ton tahun 2006 sebesar US$ 3.188, pendidikan, kesadaran gizi dan
tahun 2007 sebesar US$ 4.204, tahun perubahan gaya hidup.
2008 turun menjadi US$ 2.200, dan

Gambar 1. Perkembangan harga susu segar dunia dan dalam negeri


(Sumber : Priyanti, A dan Saptati, R A 2008)

71
Perkembangan tingkat harga dalam negeri. Pada tahun 2008 tingkat
susu dunia dengan dalam negeri harga susu dunia sekitar Rp 5.196,- per
menunjukkan bahwa sejak tahun 1999 liter sedangkan tingkat harga susu
sampai dengan 2008, tingkat harga dalam negeri sekitar Rp 3.200,- per
susu dunia selalu lebih tinggi dibanding liter.

Gambar 2. Perkembangan rasio harga susu segar domestik dengan dunia


(Sumber : Priyanti, A dan Saptati, R A 2008)

Pada periode antara tahun 1999 bernilai dibawah angka satu, hanya
sampai dengan 2008, rasio antara harga rasio pada tahun 2001 yang mendekati
susu dunia dengan dalam negeri selalu angka satu (0,91).

Tabel 2. Nilai import produk susu (dairy) Indonesia menurut negara asal (juta US
dollar)
Negara Asal 1995 2005 Pertumbuhan Market share
(% per tahun) (%)
Australia 56,00 126,00 13,89 24,00
New Zealand 52,00 107,00 11,75 21,00
EU 116,00 102,00 -1,34 20,00
USA 15,00 62,00 34,81 12,00
Sumber : UN Statistical Database (2007)
*)market share tahun 2005

Indonesia mengimpor produk New Zealand, EU dan USA, dengan


susu utamanya berasal dari Australia, pangsa pasar pada tahun 2005

72
berturut-turut sebesar 24%, 21%, 20% saja masalahnya di Indonesia, usaha
dan 12%, dengan nilai total impor sapi perah terkonsentrasi di Pulau
sekitar 307 juta US dollar. Jawa yang hanya sekitar 7% dari
Rataan angka pertumbuhan wilayah Indonesia dan menampung
produksi susu antara tahun 1970 s/d sekitar 60% populasi penduduk
2004, di Thailand, South Korea dan nasional. Oleh karenanya untuk
Indonesia berturut-turut sekitar mengejar pertumbuhan produksi susu
711,26% ; 126,26% dan 12,61%. yang tinggi maka perlu diupayakan
Tingkat pertumbuhan produksi susu di pengembangan usaha ternak sapi
Indonesia relatif sangat lambat, perah di Luar Jawa. Hanya
bahkan antara tahun 1990 s/d 2004 masalahnya, IPS dan konsumen
mengalami penurunan drastis. Apabila terkonsentrasi di Pulau Jawa, untuk itu
kita lihat potensi SDA yang ada maka arah pengembangan di Luar Jawa
mestinya angka pertumbuhan produksi lebih difokuskan pada produksi bahan
Indonesia bisa mendekati atau sama baku bagi IPS di Pulau Jawa.
dengan negara seperti Thailand, hanya

Tabel 3. Produksi Susu di beberapa negara (juta ton)


rataan
1970 1980 1990 2000 2004
pertb/thn (%)
China 1959,00 2928,00 7037,00 12374,00 22865,00 32,34
Pertb (%) 49,46 140,33 75,84 84,78
India 22040,00 31200,00 55675,00 80563,00 91000,00 9,48
Pertb (%) 41,56 78,45 44,70 12,96
Indonesia 174,00 246,00 598,00 786,00 898,00 12,61
Pertb (%) 41,38 143,09 31,44 14,25
Japan 4761,00 6505,00 8190,00 8497,00 8350,00 2,28
Pertb (%) 36,63 25,90 3,75 -1,73
Malaysia 32,00 37,00 39,00 37,00 45,00 1,23
Pertb (%) 15,63 5,41 -5,13 21,62
Philippines 25,00 30,00 20,00 10,00 12,00 -1,58
Pertb (%) 20,00 -33,33 -50,00 20,00
South Korea 54,00 455,00 1754,00 2257,00 2304,00 126,26
Pertb (%) 742,59 285,49 28,68 2,08
Thailand 3,50 30,00 130,00 520,00 825,00 711,26
Pertb (%) 757,14 333,33 300,00 58,65
Vietnam 24,00 41,00 60,00 84,00 165,00 17,80
Pertb (%) 70,83 46,34 40,00 96,43
Source: FAO 2005.

Industri persusuan nasional mencapai 10,47 kg/kapita/tahun,


belum berkembang secara optimal masih jauh dibawah negara ASEAN
karena selama ini belum merupakan yaitu Philipina 20 kg/kapita/tahun,
industri prioritas, dan belum ada Malaysia 20 kg/kapita/tahun, Thailand
pengembangan secara holistic. 20-25 kg/kapita/tahun, dan Singapura
Konsumsi susu nasional baru 32 kg/kapita/tahun.

73
Gambar 3. Konsumsi susu segar dalam kg per kapita per tahun (2009)

Nilai impor produk olahan asal meningkat terus karena sampai dengan
susu segar ke Indonesia pada tahun saat ini produksi susu segar dalam
1995 adalah sekitar 240 juta US dollar, negeri hanya mampu mencukupi
angka tersebut mengalami peningkatan sekitar 35 % kebutuhan domestik
menjadi sekitar 480 juta US dollar sedangkan sisanya sekitar 65 % masih
pada tahun 2005. Angka tersebut akan diimpor.

Gambar 4 : Nilai import berbagai produk pertanian ke Indonesia (dalam juta US


dollar)
Sumber : UN Statistical Database (2007b)

Negara pemasok berbagai meliputi Australia, USA, Thailand,


produk pertanian ke Indonesia Eropean Union dan Cina.

74
Gambar 5 : Nilai import berbagai produk pertanian ke Indonesia menurut negara asal
(dalam juta US dollar)
Sumber : UN Statistical Database (2007b)

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Perlu pemberdayaan kemitraan


KEBIJAKAN yang adil berbasis kepentingan
Untuk menjaga agar susu segar bersama antara peternak, koperasi susu
yang dihasilkan peternak domestik dan industri pengolahan susu (IPS)
dapat diperdagangkan secara adil sehingga pengembangan agribisnis
(frendly market mechanism), maka susu nasional dapat berjalan optimal.
perlu dilakukan berbagai intervensi, Hal itu dapat dilakukan melalui
meliputi: peningkatan peran pemerintah sebagai
Pemerintah perlu memberikan regulator dan fasilitator dalam sistem
kebijakan insentif bagi para peternak agribisnis susu nasional. Selama ini
untuk meningkatkan produktivitas dan peran tersebut belum sepenuhnya
kualitas susu segar. Daya saing susu dilakukan secara optimal, sehingga
yang dihasilkan peternak hanya akan posisi tawar peternak sebagai
dapat ditingkatkan apabila produsen susu segar sangat lemah
produktivitas dan kualitas peternak dibandingkan dengan posisi tawar
ditingkatkan. Kebijakan insentif dapat koperasi dan IPS bahkan terdapat
berupa antara lain dalam bentuk kecenderungan adanya praktek
pelatihan dan penyuluhan budidaya oligopsoni maupun monopsoni.
sapi perah yang baik agar mind-set Mengefektifkan kinerja peran
peternak terhadap pentingnya menjaga pihak-pihak eksternal yang terkait
kualitas produk dapat terwujud, dengan sistem agribisnis susu
fasilitasi penyediaan bibit sapi perah nasional, meliputi GKSI, dewan
unggul, akses pemanfaatan lahan, persusuan nasional, perguruan tinggi
akses sumber modal usaha, serta dan LSM agar dapat secara kolektif
pengembangan beragam industri dan berkesinambungan berupaya
pengolahan susu segar ditingkat untuk memperbaiki bargaining
koperasi agar tercipta perluasan pasar position, economic of scale dan
produk susu. economic of scope dari seluruh
koperasi susu segar di Indonesia.

75
DAFTAR PUSTAKA Dairy Australia 2005 Industri
Ackerman W, Smith A and Peterson S Peternakan Sapi Perah
2005. “Nestlé S.A.: One Small Indonesia. Analisa SWOT.
Step, One Giant Leap,” Equity Stanton, Emms & Sia.
Research: Switzerland, Goldberg R A 2005 Nestlé’s Milk
Citigroup Smith Barney. District Model: Economic
Andri KB and Shiratake Y 2003 Development For A Value-
Existence, Types And Added Food Chain And
Opportunities Of Contract Improved Nutrition. Global
Farming In East Java. Bulletin Research Group.
Faculty of Agriculture, Saga Sulastri E and Maharjan K L 2002
University, Japan. No 88: 43- Role of Dairy Cooperative
55. Services on Dairy Development
Priyanti, A dan Saptati, R A 2008. in Indonesia. A Case Study of
Dampak Harga Susu Dunia Daerah Istimewa Yogyakarta
Terhadap Harga Susu Dalam Province. Journal of
Negeri Tingkat Peternak : International Development and
Kasus Koperasi Peternak Sapi Cooperation, Vol.9, No.1,
Bandung Utara di Jawa Barat. 2002, pp. 17–39
Chowdhury S, Gulati A and Gumbira- USDA Foreign Agricultural Service
Said E 2005. High Value 2008 Indonesia Dairy And
Products, Supermarkets And Products Annual 2008. GAIN
Vertical Arrangements In Report ID8028.
Indonesia. IFPRI Market, USDA Foreign Agricultural Service
Trade And Institution Division. 2009 Indonesia Dairy And
MTID Discussion Paper No 83. Products Annual 2009. GAIN
Direktorat Jenderal Peternakan Report ID9032.
Departemen Pertanian and

76