Anda di halaman 1dari 11

27

Peran Kedokteran Keluarga Dalam Palliative Care Pada


Pasien Dengan Life-Limiting Illnesses

Tita Menawati Liansyah


Bagian Family Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala,
Banda Aceh

Pendahuluan
Selama ini peran dokter keluarga didalam pelayanan palliative
care masih dianggap terlalu kecil bahkan dokter layanan primer sering
mengganggap tidak punya peran yang cukup besar (do nothing),
padahal sebenarnya mereka sudah melakukan banyak hal. Di Inggris
sejak tahun 2000 telah dikembangkan pelayanan paliatif care didokter
layanan primer. Disana Dokter Keluarga yang disebut General
Practitioners punya daftar pasien-pasien yang berada di akhir
kehidupan.1,2
Dokter keluarga memegang peranan yang penting dalam
perawatan akhir pasien. Apalagi di Indonesia, seorang dokter masih
dianggap sebagai suatu profesi yang mulia dan dihormati sehingga tak
jarang diikut sertakan kedalam masalah - masalah keluarga, misalnya
dalam menentukan siapa wali dari pasien atau setelah meninggal
mungkin dalam pembagian hak waris, dan masih banyak lagi. Hal
tersebut tentunya sangatlah sulit dihindari.3

334
Sebagai dokter keluarga, dokter berkewajiban menjaga quality of
care selama akhir hidup pasien dengan harapan pasien bisa
mendapatkan quality of dead (kematian yang tenang). Dimana harapan
pasien setelah kematian dia bisa tenang dan tidak meninggalkan masalah-
masalah baru. Dalam sebuah peneliatian di US disebutkan bahwa
berdiskusi dengan pasien tentang end of live care merupakan tanggung
jawab profesional dokter. Dengan diskusi ini mereka menganggap
mereka bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk pasien.4
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:
812/Menkes/SK/VII/2007 tantangan yang kita hadapi pada di hari-hari
kemudian nyata sangat besar. Meningkatnya jumlah pasien dengan
penyakit yang belum dapat disembuhkan baik pada dewasa dan anak
seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif
kronis, cystic fibrosis,stroke, Parkinson, gagal jantung, penyakit genetika
dan penyakit infeksi seperti HIV/ AIDS yang memerlukan palliative
care, disamping kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif.Namun saat ini, pelayanan kesehatan di Indonesia belum
menyentuh kebutuhan pasien dengan penyakit yang sulit disembuhkan
tersebut, terutama pada stadium lanjut dimana prioritas pelayanan tidak
hanya pada penyembuhan tetapi juga perawatan agar mencapai kualitas
hidup yang terbaik bagi pasien dan keluarganya.5
Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya
mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan
berat badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan
psikososial dan spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan
keluarganya. Maka kebutuhan pasien pada stadium lanjut suatu penyakit
tidak hanya pemenuhan atau pengobatan gejala fisik,, namun juga
335
pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual
yang dilakukandengan pendekatan interdisiplin yang dikenal sebagai
palliative care. Masyarakat menganggap palliative care hanya untuk
pasien dalam kondisi terminal yang akan segera meninggal. Namun
konsep baru palliative care menekankan pentingnya integrasi palliative
care lebih dini agar masalah fisik, psikososial dan spiritual dapat diatasi
dengan baik.Palliative care adalah pelayanan kesehatan yang bersifat
holistik dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai profesi dengan dasar
falsafah bahwa setiap pasien berhak mendapatkan perawatan terbaik
sampai akhir hayatnya.6
Rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan palliative care di
Indonesia masih terbatas di 5 lima ibu kota propinsi yaitu Jakarta,
Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Ditinjau dari besarnya
kebutuhan dari pasien, jumlah dokter yang mampu memberikan
pelayanan palliative care juga masih terbatas. Keadaan sarana pelayanan
palliative care di Indonesia masih belum merata sedangkan pasien
memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu, komprehensif
dan holistik, maka diperlukan kebijakan palliative care di Indonesia yang
memberikan arah bagi sarana pelayanan kesehatan untuk
menyelenggarakan pelayanan palliative care.5
Life-Limiting Illnesses
Life-Limiting Illnessesmerupakan penyakit kronis atau suatu
keadaan dimana tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan pengobatan
kuratif dan mengarah pada kematian. Contoh penyakit yang tergolong
dalam Life-Limiting Illnesses yaitu kanker, penderita lansia pasca rawat
inap di RS yang masih memerlukan pelayanan, seperti penderita penyakit
kronik multipatologi (contohnya hipertensi,stroke, diabetes, dan lainnya),
336
kondisi demensia, inkontinensia, ulkus dekubitus, ulkus diabetes, gagal
jantung kongestif, PPOK, Parkinson, Alzheimer, penyakit pada hepar,
gagal ginjal stadium akhir, HIV/AIDS, dan lain sebagainya.7 Pasien
dengan life-limiting illnesses sangat tepat apabila diikutsertakan dalam
program palliative care karena tujuan utama dari palliative care adalah
untuk mengurangi nyeri dan penderitaan serta rasa tidak nyaman yang
diakibatkan oleh penyakit yang dideritanya dan untuk menurunkan
tingkat stress yang dialami oleh pasien dan anggota keluarganya.8
Palliative care
Palliative care adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki
kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang
berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui
pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang
tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial
dan spiritual.6
Kualitas hidup pasien adalah keadaan pasien yang dipersepsikan
terhadap keadaan pasien sesuai konteks budaya dan sistem nilai yang
dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan niatnya. Dimensi dari
kualitas hidup yaitu gejala fisik, kemampuan fungsional (aktivitas),
kesejahteraan keluarga, spiritual, fungsi sosial, kepuasan terhadap
pengobatan (termasuk masalah keuangan), orientasi masa depan,
kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri, fungsi
dalam bekerja. Palliative home care adalah pelayanan palliative care
yang dilakukan di rumah pasien, oleh tenaga paliatif dan atau keluarga
atas bimbingan/ pengawasan tenaga paliatif. Hospis adalah tempat
dimana pasien dengan penyakit stadium terminal yang tidak dapat
dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang harus dilakukan
337
di rumah sakit. Pelayanan yang diberikan tidak seperti di rumah sakit,
tetapi dapat memberikan pelayaan untuk mengendalikan gejala-gejala
yang ada, dengan keadaan seperti di rumah pasien sendiri.(6,9)
Aspek Medikolegal Dalam Perawatan`Paliatif
Pasien harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan
palliative care melaluikomunikasi yang intensif dan berkesinambungan
antara tim palliative care dengan pasien dan keluarganya. Pelaksanaan
informed consent atau persetujuan tindakan kedokteran pada dasarnya
dilakukan sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-
undangan. Meskipun pada umumnya hanya tindakan medis yang
membutuhkan informed consent, tetapi pada palliative care sebaiknya
setiap tindakan yang berisiko dilakukan informed consent. Baik penerima
informasi maupun pemberi persetujuan diutamakan pasien sendiri apabila
ia masih kompeten, dengan saksi anggota keluarga terdekatnya. Waktu
yang cukup agar diberikan kepada pasien untuk berkomunikasi dengan
keluarga terdekatnya. Dalam hal pasien telah tidak kompeten, maka
keluarga terdekatnya melakukannya atas nama pasien. Tim palliative
care sebaiknya mengusahakan untuk memperoleh pesan atau pernyataan
pasien pada saat ia sedang kompeten tentang apa yang harus atau boleh
atau tidak boleh dilakukan terhadapnya apabila kompetensinya kemudian
menurun (advanced directive). Pesan dapat memuat secara eksplisit
tindakan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, atau dapat pula
hanya menunjuk seseorang yang nantinya akan mewakilinya dalam
membuat keputusan pada saat ia tidak kompeten. Pernyataan tersebut
dibuat tertulis dan akan dijadikan panduan utama bagi tim palliative care.
6

338
Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim
palliative care dapat melakukan tindakan kedokteran yang diperlukan,
dan informasi dapat diberikan pada kesempatan pertama. Keputusan
dilakukan atau tidak dilakukannya tindakan resusitasi dapat dibuat oleh
pasien yang kompeten atau oleh Tim Palliative care.Informasi tentang
hal ini sebaiknya telah diinformasikan pada saat pasien memasuki atau
memulai palliative care. Pasien yang kompeten memiliki hak untuk tidak
menghendaki resusitasi, sepanjang informasi adekuat yang
dibutuhkannya untuk membuat keputusan telah dipahaminya. Keputusan
tersebut dapat diberikan dalam bentuk pesan (advanced directive) atau
dalam informed consent menjelang ia kehilangan kompetensinya.
Keluarga terdekatnya pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan
tidak resusitasi, kecuali telah dipesankan dalam advanced directive
tertulis. Namun demikian, dalam keadaan tertentu dan atas pertimbangan
tertentu yang layak dan patut, permintaan tertulis oleh seluruh anggota
keluarga terdekat dapat dimintakan penetapan pengadilan untuk
pengesahannya. Tim palliative care dapat membuat keputusan untuk
tidak melakukan resusitasi sesuai dengan pedoman klinis di bidang ini,
yaitu apabila pasien berada dalam tahap terminal dan tindakan resusitasi
diketahui tidak akan menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidupnya
berdasarkan bukti ilmiah pada saat tersebut. 9
Sumber Daya Manusia
Pelaksana palliative care adalah dokter, perawat, pekerja sosial,
psikolog, relawan yang terlatih, serta rohaniawan.Kriteria pelaksana
palliative care adalah telah mengikuti pendidikan/pelatihan palliative
care dan telah mendapat sertifikat. Pelatihan dilaksanakan dengan modul
pelatihan. Penyusunan modul pelatihan dilakukan dengan kerjasama
339
antara para pakar palliative care dengan Departemen Kesehatan (Badan
Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Direktorat
Jenderal Bina Pelayanan Medik). Modul-modul tersebut terdiri dari
modul untuk dokter, modul untuk perawat, modul untuk tenaga kesehatan
lainnya, serta modul untuk tenaga non medis. Pelatih dalam pelatihan
adalah Pakar palliative care dari RS Pendidikan dan Fakultas
Kedokteran. Dalam pelatihan ini Sertifikasi dikeluarkan dari Departemen
Kesehatan Pusat Pelatihan dan Pendidikan Badan PPSDM. Pada tahap
pertama dilakukan sertifikasi pemutihan untuk pelaksana palliative care
di 5 propinsi yaitu Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar
danMakasar. Pada tahap selanjutnya sertifikasi diberikan setelah
mengikuti pelatihan. 6
Tempat dan Organisasi Palliative care
Tempat palliative care antara lain yaitu rumah sakit, untuk pasien
yang harus mendapatkan perawatan yang memerlukan pengawasan ketat,
tindakan khusus atau peralatan khusus. Puskesmas untuk pasien yang
memerlukan pelayanan rawat jalan. Sedangkanrumah singgah/panti
untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus
atau peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah karena masih
memerlukan pengawasan tenaga kesehatan. Palliative carejuga bisa
dilakukan di rumah pasien yaitu untuk pasien yang tidak memerlukan
pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus atau
ketrampilan perawatan yang tidak mungkin dilakukan oleh keluarga. (6,9)
Organisasi palliative care, menurut tempat pelayanan/sarana
kesehatannya adalah : Kelompok Palliative care dibentuk di tingkat
puskesmas. Unit Palliative care dibentuk di rumah sakit kelas D, kelas C
dan kelas B non pendidikan. Instalasi Palliative care dibentuk di Rumah
340
sakit kelas B Pendidikan dan kelas A. Tata kerja organisasi palliative
care bersifat koordinatif dan melibatkan semua unsur terkait. 7
Prinsip dari Palliative Care
Prinsip – prinsip dalam perawatan paliatif antara lain yaitu:10
• Menghargai setiap kehidupan
• Menganggap kematian sebagai proses yang normal.
• Tidak mempercepat atau menunda kematian.
• Menghargai keinginan pasien dalam mengambil keputusan.
• Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
• Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam
perawatan pasien dan Keluarga
• Menghindari tindakan medis yang sia-sia.
• Memberikan dukungan yang diperlukan agar pasien tetap aktif
sesuai dengan kondisinya sampai akhir hayat.
• Memberikan dukungan kepada keluarga dalam masa duka cita.

Pelayanan Paliatif pada Kedokteran Keluarga


Mayoritas pasien dengan end live care merasa mereka ingin
berdiskusi tentang akhir kehidupan mereka dan mereka juga
menginginkan diskusi yang lebih awal sebelum jatuh ke dalam kondisi
yang kurang baik sehingga sudah tidak bisa berpikir dengan logis.
Namun, tenaga kesehatan kadang masih merasa enggan untuk berdiskusi
dalam waktu yang masih dini takut merusak harapan mereka. Di US
pasien berhak menentukan nasibnya sendiri dan diatur dengan Undang-
Undang, dimana professional kesehatan wajib memberikan informasi
mengenai penyakitnya sehingga pasien bisa mengambil keputusan.5

341
Tantangan kita adalah bagaimana kita mulai melakukan
diskusi end of live care. Kita harus bisa menentukan waktu yang tepat
untuk itu. Diskusi end of live care merupakan hak dari pasien namun
demikian kita juga harus menghormati jika pasien enggan untuk
berdiskusi. Kita harus bisa menjelaskan kondisi pasien tetap memberikan
dorongan hidup tapi tidak memberikan harapan palsu. Tantangan kadang
kala datang dari keluarga pasien menolak diskusi yang beralasan untuk
menghindarkan orang yang dicintainya dari percakapan yang kurang
menyenangkan. Bahkan di masyarakat seringkali penyakit yang diderita
pasien disembunyikan oleh keluarganya padahal dengan demikian sama
saja merenggut hak pasien untuk melakukan hal-hal yang ingin dia
lakukan di akhir kehidupannya ataupun mengutarakan harapan-
harapannya dimana waktu yang tersisa akan sangat berharga.
Komunikasi end of live care pada bulan-bulan terakhir pasien sangatlah
penting dan berharga. Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien
dengan kanker membahas pilihan terapi mereka sejak dini ternyata bisa
mengurangi tingkat stress mereka. Beberapa study menunjukkan bahwa
mereka lebih memilih jujur dan terbuka dan mendiskusikan end of live
care. Dalam diskusi ini sangatlah penting pasien mengambil keputusan
dan hendaknya bisa didokumentasikan misalnya seperti menunjuk wali
siapa yang berhak mengambil keputusan akan dirinya apabila sudah jatuh
dalam kondisi koma ini yang biasanya kita sebut advance directive.11
Sebagai Dokter Keluarga tentunya sudah tau posisi kita ada
dimana, dimana kita diharapkan memandang individu sebagai suatu
kesatuan bio-psiko- sosial – kultural, bahkan dalam kondisi ini sudut
pandang secara spiritual juga menjadi sangatlah penting. Keluarga bisa

342
menangani keluhan-keluhan secara fisik yang mungkin muncul pasien
hendaknya dibuat merasa nyaman walaupun dia sakit.6,12
Secara Psikologis pasien – pasien dalam kondisi seperti ini
sangat membutuhkan dukungan secara, salah satunya dengan cara
berdiskusi dan bersedia mendengarkan. Cobalah untuk memberikan
kesempatan pasien untuk bisa mengespresikan ketakutan dan
kekawatiran tentang kematian, bagaimana dia akan meninggalkan
keluarga yang dicintanya jadi bersikaplah untuk mendengar. Begitu pula
dengan dukungan sosial dan spiritual misalnya dorong pasien untuk
berdoa sesuai dengan keyakinannya dan tanyakan apakah ada sesuatu
yang bisa anda lakukan. 12
Dukungan sosial pada keluarga juga sangatlah penting karena
merawat orang sakit menyebabkan kelelahan secara fisik dan emosional
menyebabkan stess, depresi dan kecemasan.Setelah melihat fakta-fakta
tersebut diatas kita bisa melihat peran Dokter Keluarga dalam perawatan
akhir pasien ini. Tentunya peran aktif dalam proses ini sangatlah
diperlukan sebagai wujud tanggung jawab professional kita khusunya
sebagai Dokter Keluarga yang diharapkan sebagai ujung tombak dalam
pelayanan kesehatan.10
Kesimpulan

Palliative careadalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki


kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang
berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui
pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang
tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial
dan spiritual. Akhir dari hidup adalah salah satu saat yang paling penting

343
dalam hubungan dokter-pasien. Edukasi yang sesuai dan pengalaman
dalam perawatan paliatif tidak hanya akan memberikan pengetahuan
yang diperlukan untuk membantu meringankan rasa sakit dan
penderitaan, tetapi juga akan menginspirasi dokter keluarga untuk
berpartisipasi dalam kelangsungan end of care.
Daftar Pustaka
1. Danasari. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. PDKI. Jakarta.
2008.
2. Lubis, Firman. Dokter Keluarga Sebagai Tulang Punggung dalam
Sistem Pelayanan Kesehatan. Departemen Ilmu Kedokteran
Komunitas. Maj Kedokteran Indonesia, Volume: 58, Nomor: 2,
Pebruari 2008
3. Qomariah. Sekilas Kedokteran Keluarga. FK-Yarsi. Jakarta. 2000.
4. Wonodirekso, Sugito. Sistem Pelayanan Dokter Keluarga
Meningkatkan Kadar Kesejawatan dan Profesionalisme.
Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia. Majalah Kedokteran
Indonesia, Volume: 59, Nomor: 1, Januari 2009
5. KEPMENKES RI NOMOR: 812/ MENKES/SK/VII/2007 Tentang
Kebijakan Perawatan Palliative Menteri Kesehatan Republik
Indonesia
6. Doyle, Hanks and Macdonald. Oxford Textbook of Palliative
Medicine. Oxford Medical Publications (OUP) 3rd ed. 2003
7. Compassion Care Hospice. Life-Limiting Illnesses. Diakses pada
29 September 2015 darihttp://cchlv.com/home/ life-limiting
illnesses/. 2013.
8. UPMC. The Difference between Palliative and Hospice
Care.UPMC Palliative and Supportive Institute. 2013.
9. Nur ,Cemy. Palliative Care pada Penderita Penyakit Terminal.
GASTER, Vol. 7 No. 1; 2010
10. Ferrell, B.R. & Coyle, N. (Eds.).Textbook of palliative nursing, 2nd
ed. New York, NY: Oxford University Press. 2007.
11. Booth S, Edmonds P, Kendall M. Palliative Care in the Acute
Hospital Setting. New York, NY: Oxford University Press; 2010.
12. White,PG,2002 , Word Hospice Palliative Care The Loss of Child
Day, Pediatric Heart Network, www.hospiceinternational.com,
diambil pada tanggal 29September 2015.

344