Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Topik : Penyuluhan hipertensi pada Kader Posbindu

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2019
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F1. PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT

TOPIK :
PENYULUHAN HIPERTENSI

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Agustus 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F1. UPAYA PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
1.1. Kegiatan
 Topik : Hipertensi
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan Hipertensi pada Kader Posbindu

1.2. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Kegiatan penyuluhan ini ditujukan kepada pasien lanjut usia (lansia) yang
datang berobat ke Puskesmas Pasundan Kota Samarinda. Penyakit hipertensi
termasuk salah satu penyakit terbanyak selain penyakit diabetes mellitus yang
diderita oleh pasien yang berusia 40 tahun ke atas hingga lanjut usia. Isi dari
materi berupa definisi, faktor resiko, gejala, dan penatalaksanaan hipertensi pola
diet hipertensi. Narasumber adalah dr. Andhika Wicaksana Saputra, dokter
internship yang bertugas di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

1.3. Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana Saputra TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Penyuluhan Hipertensi
Tujuan Penyuluhan - Meningkatkan pengetahuan masyarakat, mengenai gejala dan
tanda, faktor resiko, pencegahan, penatalaksanaan, serta cara
mengontrol hipertensi melalui pola makan.
- Mencegah terjadinya perluasan penyakit hipertensi serta
komplikasinya.
- Memberikan informasi seputar penyakit-penyakit yang ingin
diketahui oleh warga, antara lain penyakit degeneratif dan
penyakit yang sering diderita oleh warga seperti penyakit
diabetes melitus, osteoartritis, dan lain-lain.
Hari/ Tanggal Rabu, 19 Juni 2019
Waktu 08.00- Selesai.
Tempat Puskesmas Pasundan
Jumlah Peserta 15 Orang

1.4. Monitoring dan Evaluasi


Setelah kegiatan penyuluhan diadakan sesi tanya jawab dengan peserta
penyuluhan. Terdapat pertanyaan mengenai berapa nilai tekanan darah yang
termasuk dalam kategori hipertensi, jadwal makan dan daftar menu makanan yang
dianjurkan bagi penderita hipertensi. Peserta penyuluhan sangat antusias
mengikuti penyuluhan dan sesi tanya jawab yang diadakan karena sebagian besar
penyakit hipertensi sering dialami langsung oleh masyarakat lanjut usia sehingga
diharapkan melalui penyuluhan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
mengenai penyakit hipertensi dan meningkatkan perilaku masyarakat lanjut usia
dalam menjaga pola makan dan pola hidup sehat agar dapat mencegah
perkembangan penyakit hipertensi beserta komplikasinya. Demikian kegiatan
tersebut dilaksanakan sebagai upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan
masyarakat.

Samarinda, Juni 2019

Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

1.5. Dokumentasi Penyuluhan Diabetes Mellitus


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F2. Upaya Kesehatan Lingkungan

Topik : Kunjungan Rumah Sehat

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2019
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

TOPIK :
KUNJUNGAN RUMAH SEHAT

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Agustus 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN
2.1 Kegiatan
 Topik : Kunjungan Rumah Sehat
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan

F3. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Kegiatan ini dilakukan dalam upaya kesehatan lingkungan yang dilakukan
di Telok Lerong RT . Kegiatan ini dilakukan oleh dr. Andhika Wicaksana Saputra
selaku dokter internship yang bertugas di Puskesmas Pasundan Samarinda,
dengan bantuan petugas di puskesmas dan ketua RT setempat. Pada kegiatan ini
dilakukan penyuluhan tentang perilaku hidup sehat , serta pemeriksaan kesehatan
terhadap penerima penyuluhan yang meliputi edukasi, pemeriksaan tekanan darah.
Tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan perilaku hidup sehat
mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan.

F4. Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana, S TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Edukasi perilaku hidup sehat dan pemeriksaan
tekanan darah
Kegiatan yang dilakukan Melakukan edukasi dan penyuluhan tentang perilaku
hidup sehat serta pemeriksaan kesehatan terhadap
penerima penyuluhan yang meliputi pemeriksaan
tekanan darah.
Hari / tanggal Sabtu, 22 Juni 2019
Waktu Pukul 08.00 - selesai
Tempat Telok Lerong RT
F5. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan ini terlaksana dengan bantuan petugas puskesmas baik petugas di
puskesmas pasundan maupun ketua RT setempat. Pada kegiatan ini dilakukan
penyuluhan tentang perilaku hidup sehat dan serta pemeriksaan kesehatan umum,
kesehatan berupa tekanan darah.

Samarinda, Juni 2019


Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

Dokumentasi Kegiatan
2.5. Dokumentasi Kegiatan kunjungan rumah sehat
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga
Berencana

Topik : Pijat Bayi

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2019
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F3.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA
KELUARGA BERENCANA

TOPIK :
PIJAT BAYI

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Agustus 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F3. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA
KELUARGA BERENCANA
3.1 Kegiatan
 Topik : Pijat Bayi
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan dan Edukasi

3.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Penyuluhan Pijat Bayi dilakukan di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda
oleh dr. Andhika Wicaksana Saputra, dokter internship Puskesmas Pasundan.
Penyuluhan ditujukan kepada ibu-ibu yang memiliki bayi yang datang kontrol dan
berobat di Puskesmas Pasundan Samarinda. Pada ANC terpadu dilakukan
penyuluhan dan edukasi mengenai pijat bayi. Setelah dilakukan penyuluhan dan
edukasi pada ibu-ibu yang memiliki bayi juga akan diberikan kesempatan untuk
memberikan pertanyaan apabila ada informasi yang belum jelas tentang informasi
yang telah diberikan.

3.3 Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana Saputra TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Penyuluhan pijat bayi
Tujuan Kegiatan Penyuluhan dan edukasi pijat bayi ini bertujuan merelaksasikan
otot dan peredaran darah pada bayi serta meningkatkan sentuhan
antara bayi dan ibu.
Hari/ Tanggal Kamis, 20 Juni 2019
Waktu 08.00- Selesai
Tempat Puskesmas Pasundan Samarinda
Jumlah Peserta 10 orang
3.4 Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan ini terlaksana dengan baik dengan bantuan petugas Puskesmas
Pasundan dan kerjasama pasien yang sangat kooperatif. Kegiatan ini meliputi
penyuluhan dan edukasi pijat bayi. Dari hasil penyuluhan dan edukasi pijat bayi
didapatkan kondisi bayi yang sehat. Ibu yang memiliki bayi juga sangat antusias
mengikuti kegiatan ini dan memberikan pertanyaan yang berupa cara dan
bagaimana melakukan pijat bayi yang benar. Demikian tindakan pelayanan
tersebut dilaksanakan sebagai upaya kesehatan ibu dan anak (KIA) serta keluarga
berencana.

Samarinda, Juni 2019


Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:


3.5 Dokumentasi Kegiatan penyuluhan pijat bayi di Puskesmas Pasundan
Samarinda
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Topik : Pemantauan Tumbuh Kembang dan Perbaikan Status Gizi Anak

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2019
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F4. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

TOPIK :
PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG DAN PERRBAIKAN STATUS
GIZI ANAK

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Agustus 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F4. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
4.1 Kegiatan
 Topik : Pemantauan Tumbuh Kembang dan Perbaikan
Status Gizi Anak
 Bentuk Kegiatan : Pemeriksaan keadaan umum, pengukuran berat
badan, tinggi badan, penilaian perkembangan dan
pertumbuhan.

4.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Pemantauan tumbuh kembang dan perbaikan gizi anak dilakukan di
posyandu Kota Samarinda oleh dr. Andhika Wicaksana Saputra, dokter internship
Puskesmas Pasundan. Pemeriksaan dengan bantuan petugas Puskesmas Pasundan
dan Posyandu. Pemantauan tumbuh kembang dan perbaikan gizi ini ditujukan
kepada pasien yang datang berobat ke posyandu dengan tujuan untuk memantau
tumbuh kembang sejak dini pada anak agar segera ditangani apabila mengalami
keterlambatan tumbuh kembang dan meningkatkan status gizi anak yang
mengalami kekurangan gizi yang dapat dilihat berdasarkan Kartu Menuju Sehat
(KMS). Kegiatan ini meliputi pemeriksaan keadaan umum, pengukuran berat
badan, tinggi badan, penilaian perkembangan dan pertumbuhan. Diberikan
edukasi kepada orang tua tentang pentingnya gizi bagi perkembangan dan
pertumbuhan anak sejak usia dini.

4.3 Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana Saputra TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Pemantauan tumbuh kembang dan perbaikan status gizi anak
Tujuan Kegiatan 1. Untuk memperbaiki dan meningkatkan status gizi balita
2. Memantau pertumbuhan anak
3. Memantau perkembangan anak dan deteksi dini
keterlambatan perkembangan pada anak
4. Konseling mengenai pertumbuhan perkembangan anak
Hari / tanggal Sabtu, 22 Juni 2019
Waktu 08.00 – selesai

Tempat Posyandu balita


Jumlah Peserta 24 anak

4.4 Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan ini terlaksana dengan bantuan petugas Puskesmas Pasundan
Samainda khususnya petugas di posyandu balita serta orang tua. Makanan
tambahan yang diberikan berupa biskuit yang diolah sesuai dengan kebutuhan
balita yan membutuhkan tambahan gizi. Dari kegiatan ini didapatkan seluruh anak
tumbuh dan kembangnya baik, tidak ada yang mengalami keterlambatan
perkembangan dan 6 orang anak dengan gizi kurang sehingga perlu diberikan
makanan tambahan.

Samarinda, Agustus 2019

Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:


4.5 Dokumentasi Kegiatan Pemeriksaan Tumbuh Kembang di posyandu
balita
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak


Menular

Topik : Skrining HT dan DM di Posyandu lansia Cempaka

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2019
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F5. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR DAN TIDAK MENULAR

TOPIK :
SKRINING HT DAN DM DI POSYANDU LANSIA CEMPAKA

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Agustus 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F5. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR DAN TIDAK MENULAR
5.1 Kegiatan
 Topik : Skrining HT dan DM diPosyandu Lansia Cempaka
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan, pemeriksaan Gula dan tekanan darah

5.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Kegiatan ini dilakukan oleh dr. Andhika Wicaksana Saputra, dokter
internship Puskesmas Pasundan, petugas Puskesmas Pasundan Samarinda dan
Posyandu Cempaka. Kegiatan di lakukan di posyandu cempaka yang ditujukan
kepada seluruh lansia dan warga sekitar yang belum pernah dilakukan
pemeriksaan dan yang telah didianosa dengan HT dan DM. Melakukan
penyuluhan yang berkaitan dengan Hipertensi dan Diabetes Mellitus agar
masyarakat lebih paham dan mengerti dengan penyakit tersebut.

5.3 Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana Saputra TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Skrining HT dan DM
Tujuan Penyuluhan Untuk memberikan pengetahuan, bahaya dan pencegahan dari
penyakit HT dan DM
Hari/ Tanggal Sabtu, 20 Juli 2019
Waktu 08.00-selesai
Tempat Posyandu lansia Cempaka Samarinda
Jumlah Peserta 35 orang
5.4 Monitoring dan Evaluasi
Setelah dilakukan penyuluhan dan pemeriksaan dilakukan monitoring dan
evaluasi untuk menilai apakah terdapat penderita HT dan DM serta melakukan
tindak lanjut dengan cara memberitahu pada penderita HT dan DM untuk control
ke Puskesmas Pasundan. Demikian kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular.

Samarinda, Agustus 2019


Pendamping, Peserta.

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

DokumentasiPosbindu Kader Puskesmas Pakusari


5.5 Dokumentasi Kegiatan skrining HT dan DM
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F6. Upaya Pengobatan Dasar

Topik : Tinea Corporis

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2019
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F6. UPAYA PENGOBATAN DASAR

TOPIK :
TINEA CORPORIS

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Agustus 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F6. UPAYA PENGOBATAN DASAR
Topik : Tinea Corporis
Bentuk Kegiatan : Laporan Kasus

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dermatofitosis adaalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat
tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku yang
disebabkan oleh jamur golongan dermatofita, yaitu Tricophyton Microsporum,
dan Epidermophyton.
Berdasarkan lokasi anatomi yang terinfeksi, dermatofitosis
diklasifikasikan menjadi :
a. Tinea kapitis : dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala.
b. Tinea barbae : dermatofitosis pada dagu dan rambut.
c. Tinea kruris : dermaatofitosis padaa daerah genitokrural, sekitar anus,
bokong, terkadang hingga perut bagian bawah.
d. Tinea pedis et manum : dermatofitosis pada kaki dan tangan.
e. Tinea unguium : dermatofitosis pada kuku
f. Tinea kruris : dermatofitosis pada kulit tak berambut pada wajah,
lengan, badan, dan tungkai.
Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatofita pada kulit halus ( glabrous
skin) di daerah wajah, leher, badan, lengan, tungkai dan pantat (glutea). Penyakit
ini lebih sering menyerang anak-anak daripada orang dewasa karena umumnya
mereka mendapat infeksi baru pertama kali.
Gejala tinea korporis bervariasi, mulai dari rasa gatal disertai kemerahan,
skuamayang semakin parah dan besar. Gejala tersebut dapat berakhir dengan
peradangan, krusta, papul, vesikel, dan bahkan bulla.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana definisi, etiologi, patofisiologi, diagnosis dan penatalaksanaan
Tinea Corporis ?

1.3 Tujuan
Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, diagnosis dan penatalaksanaan
tinea korporis.

1.4 Manfaat
1. Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu
kulit dan kelamin pada khususnya.
2. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter yang sedang mengikuti program
internsip.
3. Sebagai masukan kepada Puskesmas Pasundan demi meningkatkan kualitas
pelayanan.
BAB II

DATA PASIEN

2.1 IDENTITAS PASIEN

No.Registrasi : 02.33/A/2019

Nama : An. N.N

Umur : 8 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pendidikan : Pelajar SD

Alamat : Jl. R.E Martadinata

Tanggal Pemeriksaan : 12 Juni 2019

2.2 ANAMNESA

1. Keluhan Utama : Bercak kemerahan yang melebar disertai rasa gatal


pada perut kiri bawah kurang lenih 2 minggu yang lalu.
2. Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 2 minggu yang lalu, awalnya timbul bercak kemerahan yang terasa
gatal pada perut kiri bawah, gatal semakin bertambah apabila berkeringat.
Apabila terasa gatal, pasien juga sering menggaruk dan bercak tersebut
semakin melebar dan bertambah banyak. Kemudian pasien berobat ke
Puskesmas dan diberikan salep ( pasien lupa nama obatnya ) tapi tidak ada
perubahan. 1 minggu yang lalu, timbul bercak kemerahan baru yang sama
seperti bercak pada perut kiri bawah, bercak terssebut awalnya kecil
kurang lebih sebesar koin 500 rupiah, kelainan ini tidak diawali dengan
muncul bintil-bintil merah, karena terasa gatal pasien menggaruknya, rasa
gatal makin bertambah apabila pasien berkeringat dan saat cuaca panas.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama
4. Riwayat Alergi
Riwayat alergi makanan dan obat tidak ada.
5. Riwayat Atopi
Alergi debu, asma, dan bersin di pagi hari tidak ada.
6. Riwayat Pengobatan
Pasien telah berobat tapi tidak ada perubahan
7. Riwayat Pekerjaan
Pelajar SD. Di sekolah tidak terdapat teman pasien yang mengalami
keluhan sakit yang sama seperti pasien.
8. Riwayat Kebiasaan
Pasien mandi 1-2 kali sehari, memakai sabun batang, handuk dipakai
bersama dengan kakak perempuan, ganti baju setelah mandi dan biasa
berkeringat banyak, pasien juga tidur 1 kamar dengan kakaknya, sprei
diganti tidak tentu (kadang-kadang lebih dari 4 minggu).
9. Riwayat Sosial
Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pasien tinggal di
rumah permanen, lantai tegel, atap seng juga genteng. Kamar 2 buah,
jumlah penghuni 4 orang yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 orang anak, 1
kamar mandi. Sumber air : PAM. Penanganan sampah dengan cara
dibuang di tempat pembuangan sampah. Pasien berasal dari keluarga
menengah ke bawah.
2.3 PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Generalisata

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Tekanan darah = tidak dilakukan
Nadi = 80 x/menit, reguler isi cukup
Respirasi = 20 x/menit
Suhu badan = 36,30C
Kepala : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Mulut : Karies gigi (-)
Leher : Trakea letak tengah, pembesaran KGB (-)

Thorax : Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-),


ictus cordis tidak tampak

Palpasi : Stem fremitus kiri = kanan

Perkusi : Sonor kiri = kanan

Auskultasi :Suara pernapasan bronkovesikuler, Ronkhi


-/-, Wheezing -/-

Abdomen : Inspeksi : Cembung, Striae (+)

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Perkusi : Timpani

Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba, DM (-)

Ekstremitas : Akral hangat, Edema -/-


2.4 Penatalaksanaan

UMUM

Penatalaksanaan umum yaitu dengan memberikan edukasi kepada pasien,


seperti :

- menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya.


- Menganjurkan untuk menjaga lesi tetap kering.
- Menganjurkan untuk menjaga kesehatan badan.
- Menghindari pakaian yang panas dan tidak menyerap keringat,
menggunakan pakaian yang menyerao keringat seperti katun, tidak ketat,
dan diganti setiap hari.
- Menghindari pemakaian handuk dan baju secara bersama-sama
- Menghindari garukan apabila gatal, karena garukan dapat menyebabkan
infeksi.

KHUSUS

Penatalaksnaan khusus yaitu dengan memberikan farmakologi, berupa :

- Sistemik
Ketokonazol tablet dosis 1 x 200 mg, diminum pagi hari sesudah makan
selama 14 hari
Cetirizine tablet dosis 1x10 mg
- Topikal
Krim mikonazol 2x sehari selama 2 minggu dioleskan tipis-tipis pada lesi.

2.6 Prognosis

Quo Ad vitam : Bonam


Quo Ad functionam : Bonam
Quo Ad sanationam : Bonam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Tinea korporis adalah dermatofitosis pada kulit yang tidak berambut
(glabrous kin) kecuali telapak tangan, telapak kaki, dan lipat paha (Verma dan
Heffernan,2008). Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur
dermatofita yaitu Epidermophyton, Mycrosporum dan Trycophyton. Terdapat
lebih dari 40 spesies dermatofita yang berbeda, yang menginfeksi kulit dan salah
satu penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita adalah tinea korporis
(Verma dan Heffernan,2008).

2.2. Etiologi
Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur
dermatofita yaitu Epidermophyton, Mycrosporum dan Trycophyton. Terdapat
lebih dari 40 spesies dermatofita yang berbeda, yang menginfeksi kulit dan salah
satu penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita adalah tinea korporis
(Verma dan Heffernan,2008).

2.3 Epidemiologi
Prevalensi infeksi jamur superfisial di seluruh dunia diperkirakan
menyerang 20-25% populasi dunia dan merupakan salah satu bentuk infeksi kulit
tersering (Rezvani dan Sefidgar,2010). Penyakit ini tersebar di seluruh dunia yang
dapat menyerang semua ras dan kelompok umur sehingga infeksi jamur
superfisial ini relatif sering terkena pada negara tropis (iklim panas dan
kelembaban yang tinggi)
dan sering terjadi eksaserbasi (Havlickova et al,2008). Penyebab tinea korporis
berbeda-beda di setiap negara, seperti di Amerika Serikat penyebab terseringnya
adalah Tricophyton rubrum, Trycophyton mentagrophytes, Microsporum canis
dan Trycophyton tonsurans. Di Afrika penyebab tersering tinea korporis adalah
Tricophyton rubrum dan Tricophyton mentagrophytes, sedangkan di Eropa
penyebab terseringnya adalah Tricophyton rubrum, sementara di Asia penyebab
terseringnya adalah Tricophyton rubrum, Tricophyton mentagropytes dan
Tricophyton violaceum (Verma dan Heffernan,2008).
Dilaporkan penyebab dermatofitosis yang dapat dibiakkan di Jakarta adalah T.
rubrum 57,6%, E. floccosum 17,5%, M. canis 9,2%, T.mentagrophytes var.
granulare 9,0%, M. gypseum 3,2%, T. concentricum 0,5% (Made,2001). Di RSU
Adam malik/Dokter Pirngadi Medan spesies jamur penyebab adalah dermatofita
yaitu: T.rubrum 43%, E.floccosum 12,1%, T.mentagrophytes 4,4%, dan M.canis
2%,serta nondermatofita 18,5%, ragi 19,1% (C. albicans 17,3%, Candida lain
1,8%) (Made,2001).

2.4 Klasifikasi Ekologi


Menurut Arnold et al (1990) berdasarkan pada pejamunya, jamur
penyebab dermatofita diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, dimana pembagian
ini juga mempengaruhi cara penularan penyakit akibat dermatofita ini.
Pengelompokannya yaitu:
• Geofilik yaitu transmisi dari tanah ke manusia
• Zoofilik yaitu transmisi dari hewan ke manusia, contoh Trycophyton simii
(monyet), Trycophyton mentagrophytes (tikus), Microsporum canis (kucing),
Trycophyton equinum (kuda) dan Microsporum nannum (babi).
• Antrofilik yaitu transmisi dari manusia ke manusia.

2.5 Patogenesa
Elemen kecil dari jamur disebut hifa, berupa benang-benang filament
terdiri dari sel-sel yang mempunyai dinding. Dinding sel jamur merupakan
karakteristik utama yang membedakan jamur, karena banyak mengandung
substrat nitrogen disebut dengan chitin. Struktur bagian dalam (organela) terdiri
dari nukleus, mitokondria, ribosom, retikulum endoplasma, lisosom, apparatus
golgi dan sentriol dengan fungsi dan peranannya masing-masing. Benang-benang
hifa bila bercabang dan membentuk anyaman disebut miselium (Ryan,2004).
Dermatofita berkembang biak dengan cara fragmentasi atau membentuk spora,
baik seksual maupun aseksual. Spora adalah suatu alat reproduksi yang dibentuk
hifa, besarnya antara 1-3µ, biasanya bentuknya bulat, segi empat, kerucut atau
lonjong. Spora dalam pertumbuhannya makin lama makin besar dan memanjang
membentuk hifa. terdapat 2 macam spora yaitu spora seksual (gabungan dari dua
hifa) dan spora aseksual (dibentuk oleh hifa tanpa penggabungan) (Hay dan
Moore,2004). Infeksi Dermatofita diawali dengan perlekatan jamur atau elemen
jamur yang dapat tumbuh dan berkembang pada stratum korneum. Pada saat
perlekatan, jamur dermatofita harus tahan terhadap rintangan seperti sinar
ultraviolet, variasi temperatur dan kelembaban, kompetensi dengan flora normal,
spingosin dan asam lemak. Kerusakan stratum korneum, tempat yang tertutup dan
maserasi memudahkan masuknya jamur ke epidermis (Verma dan
Heffernan,2008). Masuknya dermatofita ke epidermis menyebabkan respon imun
pejamu baik respon imun nonspesifik maupun respon imun spesifik. Respon imun
nonspesifik merupakan pertahanan lini pertama melawan infeksi jamur.
Mekanisme ini dapat dipengaruhi faktor umum, seperti gizi, keadaan hormonal,
usia, dan faktor khusus seperti penghalang mekanik dari kulit dan mukosa, sekresi
permukaan dan respons. radang. Respons radang merupakan mekanisme
pertahanan nonspesifik terpenting yang dirangsang oleh penetrasi elemen jamur.
Terdapat 2 unsur reaksi radang, yaitu pertama produksi sejumlah komponen kimia
yang larut dan bersifat toksik terhadap invasi organisme. Komponen kimia ini
antara lain ialah lisozim,sitokin,interferon,komplemen, dan protein fase akut.
Unsur kedua merupakan elemen seluler,seperti netrofil, dan makrofag, dengan
fungsi utama fagositosis, mencerna, dan merusak partikel asing. Makrofag juga
terlibat dalam respons imun yang spesifik. Sel-sel lain yang termasuk respons
radang nonspesifik ialah basophil, sel mast, eosinophil, trombosit dan sel NK
(natural killer). Neutrofil mempunyai peranan utama dalam pertahanan melawan
infeksi jamur (Cholis,2001). Imunitas spesifik membentuk lini kedua pertahanan
melawan jamur setelah jamur mengalahkan pertahanan nonspesifik. Limfosit T
dan limfosit B merupakan sel yang berperan penting pada pertahanan tubuh
spesifik. Sel-sel ini mempunyai mekanisme termasuk pengenalan dan mengingat
organism asing, sehingga terjadi amplifikasi dari kerja dan kemampuannya untuk
merspons secara cepat terhadap adanya presentasi dengan memproduksi antibodi,
sedangkan limfosit T berperan dalam respons seluler terhadap infeksi. Imunitas
seluler sangat penting pada infeksi jamur. Kedua mekanisme ini dicetuskan oleh
adanya kontak antara limfosit dengan antigen (Cholis,2001).

2.6 Gambaran Klinis


Gambaran klinis dimulai dengan lesi bulat atau lonjong dengan tepi yang
aktif dengan perkembangan kearah luar, bercak-bercak bisa melebar dan akhirnya
memberi gambaran yang polisiklik,arsinar,dan sirsinar. Pada bagian pinggir
ditemukan lesi yang aktif yang ditandai dengan eritema, adanya papul atau
vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang. Tinea korporis
yang menahun, tanda-tanda aktif menjadi hilang dan selanjutnya hanya
meninggalkan daerah hiperpigmentasi saja (Verma dan Heffernan,2008). Gejala
subyektif yaitu gatal, dan terutama jika berkeringat dan kadang-kadang terlihat
erosi dan krusta akibat garukan (Fransisca,2000). Tinea korporis biasanya terjadi
setelah kontak dengan individu atau dengan binatang piaraan yang terinfeksi,
tetapi kadang terjadi karena kontak dengan mamalia liar atau tanah yang
terkontaminasi. Penyebaran juga mungkin terjadi melalui benda misalnya pakaian,
perabot dan sebagainya (M.Goedadi dan H.Suwito,2001).

2.7 Pemeriksaan Laboratorium


Selain dari gejala khas tinea korporis, diagnosis harus dibantu dengan
pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan mikroskopis, kultur,
pemeriksaan lampu wood, biopsi dan histopatologi, pemeriksaan serologi, dan
pemeriksaan dengan menggunakan PCR (Hay dan Moore,2004). Pemeriksaan
mikroskopis dilakukan dengan membuat preparat langsung dari kerokan kulit,
kemudian sediaan dituangi larutan KOH 10%. Sesudah 15 menit atau sesudah
dipanaskan dengan api kecil, dilihat di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini
memberikan hasil positif hifa ditemukan hifa (benang-benang) yang bersepta atau
bercabang, selain itu tampak juga spora berupa bola kecil sebesar 1-3µ (Hay dan
Moore,2004). Kultur dilakukan dalam media agar sabaroud pada suhu kamar (25-
30⁰C),kemudian satu minggu dilihat dan dinilai apakah ada pertumbuhan jamur.
Spesies jamur dapat ditentukan melalui bentuk koloni, bentuk hifa dan bentuk
spora (Hay dan Moore,2004). Pemeriksaan lampu wood adalah pemeriksaan yang
menggunakan sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 365 nm. Sinar ini tidak
dapat dilihat. Bila sinar ini diarahkan ke kulit yang mengalami infeksi oleh jamur
dermatofita tertentu, sinar ini akan berubah menjadi dapat dilihat dengan memberi
warna (fluoresensi). Beberapa jamur yang memberikan fluoresensi yaitu M.canis,
M.audouini, M.ferrugineum dan T.schoenleinii. (Hay dan Moore2004).

2.8 Diagnosa Banding


Ada beberapa diagnosis banding tinea korporis, antara lain eritema anulare
sentrifugum, eksema numular, granuloma anulare, psoriasis, dermatitis seboroik,
pitiriasis rosea, liken planus dan dermatitis kontak (Verma dan Heffernan,2008).

2.9 Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan
laboratorium yaitu mikroskopis langsung dan kultur (Verma dan Heffernan,2008).

2.10 Pengobatan
Pengobatan infeksi jamur dibedakan menjadi pengobatan non
medikamentosa dan pengobatan medikamentosa.

2.10.1 Non Medikamentosa


Menurut Badan POM RI (2011), dikatakan bahwa penatalaksanaan non
medikamentosa adalah sebagai berikut:
a. Gunakan handuk tersendiri untuk mengeringkan bagian yang terkena infeksi
atau bagian yang terinfeksi dikeringkan terakhir untuk mencegah penyebaran
infeksi ke bagian tubuh lainnya.
b. Jangan mengunakan handuk, baju, atau benda lainnya secara bergantian dengan
orang yang terinfeksi.
c. Cuci handuk dan baju yang terkontaminasi jamur dengan air panas untuk
mencegah penyebaran jamur tersebut.
d. Bersihkan kulit setiap hari menggunakan sabun dan air untuk menghilangkan
sisa-sisa kotoran agar jamur tidak mudah tumbuh.
e. Jika memungkinkan hindari penggunaan baju dan sepatu yang dapat
menyebabkan kulit selalu basah seperti bahan wool dan bahan sintetis yang dapat
menghambat sirkulasi udara.
f. Sebelum menggunakan sepatu, sebaiknya dilap terlebih dahulu dan bersihkan
debu-debu yang menempel pada sepatu.
g. Hindari kontak langsung dengan orang yang mengalami infeksi jamur.
Gunakan sandal yang terbuat dari bahan kayu dan karet

2.10.2 Medikamentosa
Pengobatan tinea korporis terdiri dari pengobatan lokal dan pengobatan
sistemik. Pada tinea korporis dengan lesi terbatas,cukup diberikan obat topikal.
Lama pengobatan bervariasi antara 1-4 minggu bergantung jenis obat. Obat oral
atau kombinasi obat oral dan topikal diperlukan pada lesi yang luas atau kronik
rekurens. Anti jamur topikal yang dapat diberikan yaitu derivate imidazole,
toksiklat, haloprogin dan tolnaftat. Pengobatan lokal infeksi jamur pada lesi yang
meradang disertai vesikel dan eksudat terlebih dahulu dilakukan dengan kompres
basah secara terbuka (Vermam dan Heffernan,2008). Pada keadaan inflamasi
menonjol dan rasa gatal berat, kombinasi antijamur dengan kortikosteroid jangka
pendek akan mempercepat perbaikan klinis dan mengurangi keluhan pasien
(Verma dan Heffernan,2008).
1. Pengobatan Topikal
Pengobatan topikal merupakan pilihan utama. Efektivitas obat topikal dipengaruhi
oleh mekanisme kerja,viskositas, hidrofobisitas dan asiditas formulasi obat
tersebut. Selain obat-obat klasik, obat-obat derivate imidazole dan alilamin dapat
digunakan untuk mengatasi masalah tinea korporis ini. Efektivitas obat yang
termasuk golongan imidaol kurang lebih sama. Pemberian obat dianjurkan selama
3-4 minggu atau sampai hasil kultur negative. Selanjutnya dianjurkan juga untuk
meneruskan pengobatan selama 7-10 hari setelah penyembuhan klinis dan
mikologis dengan maksud mengurangi kekambuhan (Verma dan Heffernan,2008).
2. Pengobatan Sistemik
Menurut Verma dan Heffernan (2008), pengobatan sistemik yang dapat diberikan
pada tinea korporis adalah:
• Griseofulvin
Griseofulvin merupakan obat sistemik pilihan pertama. Dosis untuk anak-anak
15-20 mg/kgBB/hari, sedangkan dewasa 500-1000 mg/hari
• Ketokonazol
Ketokonazol digunakan untuk mengobati tinea korporis yang resisten terhadap
griseofulvin atau terapi topikal. Dosisnya adalah 200 mg/hari selama 3 minggu.
• Obat-obat yang relative baru seperti itrakonazol serta terbinafin dikatakan cukuo
memuaskan untuk pengobatan tinea korporis.

2.11 Pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2010), pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia
terhadap objek melalui indra yang dimilikinya.Yang sekadar menjawab
pertanyaan “what”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya.
Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Secara garis
besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
2. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekadar
dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara
benar tentang objek yang diketahui tersebut.
3.Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada
situasi yang lain.
4.Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan / atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa
pengetahuan seseorang itu sudah sampai tingkat analisis adalah apabila orang
tersebut telah membedakan atau memisahkan, mengelompokkan, membuat
diagram terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
5.Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
6.Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang
berlaku di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

1. Handoko, R. Skabies. In : Djuanda, A. Hamzah, N. Aisah, S. Ilmu Penyakit


Kulit Dan Kelamin Edisi Kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2009 : 119-122

2. Makatutu, H. Penyakit Kulit Oleh Parasit Dan Insekta. In : Harahap, M.


Penyakit Kulit. Jakarta : PT Gramedia. 1990 : 100-104

3. Sungkar S. Skabies. Jakarta : Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.


1995 : 1-25

4. Beggs, J. dkk. Scabies Prevention And Control Manual. USA : Michigan


Department Of Community Health. 2005 : 4-6, 10

5. Murtiastutik D. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual : Skabies. Edisi 1.


Surabaya : Airlangga University Press. 2005 : 202-208

6. Setyaningrum, T. Listiawan, M. Zulkarnain, I. Kadar Imunoglobulin E-


Spesifik Terhadap Tungau Debu Rumah Pada Penderita Skabies Nonatopi
Anak. Berkala Ilmu Kesehatan Dan Kelamin 2007 : 19 : 100

7. Ma’rufi, I. Keman, S. Notobroto, H. Faktor Sanitasi Lingkungan Yang


Berperan Terhadap Prevalensi Penyakit Scabies Studi Pada Santri di Pondok
Pesantren Kabupaten Lamongan. Jurnal Kesehatan Lingkungan 2005 : 2 : 11-
17

8. Chosidow, O. Scabies. The New England Journal Of Medicine 2006 : 1718-


1727

9. Department Of Public Health. Scabies. USA : Department Of Public Health


Division Of Communicable Disease Control. 2008 : 1-3
10. McCarthy, J. Kemp, D. Walton, S. Currie, B. Review Scabies : More Than
Just An Irritation. Postgrad Medical Journal 2004 : 80 : 382-386

11. Cox, N. Permethrin Treatment In Scabies Infestasion : Important Of Correct


Formulation. British Medical Journals 2000 : 320 : 37-38

12. Fox, G. Itching And Rash In A Boy And His Grandmother. The Journal Of
Family Practice 2006 : 55 : para. 26-27, 30

13. Johnston, G. Sladden, M. Scabies : Diagnosis And Treatment. British


Medical Journal 2005 : 331 : 619-622

14. Leone, P. Scabies And Pediculosis : An Update Of Treatment Regiments And


General Review. Oxford Journals 2007 : 44 : 154-159